Total Nilai Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya

4.4.4. Total Nilai Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya


Setelah menilai setiap komponen aspek analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya ekologi, sosial ekonomi, dan sejarah spiritual budaya, dihasilkan
total akumulasi nilai setiap nagari tersebut Tabel 11. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang adalah nagari dengan nilai
karakteristik lanskap budaya tertinggi, Maninjau dan Duo Koto dengan nilai rendah, sedangkan enam nagari lainnya dengan nilai sedang.
Tabel 11. Penilaian Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya
NAGARI ASPEK
TOTAL SEJARAH,
SPIRITUAL BUDAYA
SOSIAL EKONOMI
EKOLOGI MANINJAU
2 1
1 4 RENDAH BAYUA
2 2
1 5 SEDANG SUNGAI BATANG
3 3
3 9 TINGGI PANINJAUAN
2 2
3 7 SEDANG KOTO KACIAK
2 2
3 7 SEDANG KOTO GADANG
1 3
3 7 SEDANG KOTO MALINTANG
1 3
3 7 SEDANG DUO KOTO
2 1
1 4 RENDAH TANJUNG SANI
2 3
2 7 SEDANG
Sungai Batang merupakan nagari madani atau sentra budaya religi yang juga dikenal secara nasional karena di nagari ini banyak lahir tokoh-tokoh Islam yang
cukup berpengaruh secara nasional. Peran kontrol dari wali nagari dan elemen lembaga adat setempat cukup berpengaruh terhadap perkembangan pada aspek-
aspek yang mempengaruhinya. Maninjau adalah pusat, gerbang utama, dan ibukota kecamatan, seharusnya
nagari ini adalah nagari paling terurbanisasi tetapi dengan fungsi kota tersebut Maninjau tetap menjaga orientasi pengembangannya sebagai pusat wisata yang
harus berkelanjutan. Duo Koto merupakan nagari yang cukup berkembang sebagai salah satu nagari produsen padi sawah dan palawija karena dilalui jalur
primer jalan provinsi yang menghubungkan Kota Bukittinggi, Lubuk Basung, dan Kabupaten Padang Pariaman, tetapi ternyata masih terdapat cukup banyak situs
sejarah budaya di nagari ini. . Orientasi perkembangan budaya masyarakat pada
kelompok nagari ini adalah ekonomis praktis. Hal ini menyebabkan eksploitasi berlebihan dalam berbagai aktivitas pertanian dan perikanan. Penggunaan
pestisida dan pupuk kimia berlebihan pada lahan produksi pertanian, pemberian pakan ikan yang berlebihan juga dilakukan pada lahan produksi perikanan. Hal
tersebut adalah sebagian indikator bahwa masyarakat telah meninggalkan nilai- nilai budaya dalam memanfaatkan alam.
Bayua adalah wilayah yang didominasi oleh lahan budidaya pertanian tetapi tetap memiliki perkampungan tradisional dan beberapa situs bersejarah budaya
yang dijaga dan dilestarikan. Nagari Paninjauan, Koto Kaciak, memiliki kesamaan karakter budaya dari aktivitas masyarakat dalam pola penggunaan lahannya.
Sebagai nagari berkembang, peran lembaga adat dan kemasyarakatan dua nagari ini cukup baik dalam upaya melestarikan dan menjaga kegiatan-kegiatan adat
kemasyarakatan. Tetapi pada nagari ini tidak terdapat bangunan-bangunan atau situs sejarah budaya yang cukup serius dijaga atau dilestarikan. pengaruh
urbanisasi juga terlihat dengan jelas pada pemukiman masyarakat, hampir seluruh bangunan-bangunan pemukiman terpengaruh gaya modernisasi urban. Koto
Gadang dan Koto Malintang merupakan pusat lahan produksi pertanian. Perputaran ekonomi juga cukup tinggi nagari ini karena jalur sirkulasi primer
melewatinya. Nagari Tanjung Sani cukup tertinggal pengaruh perkembangan, karena aksesibilitas dan letaknya cukup terisolir, karakter budaya pada nagari ini
cukup besar dipengaruhi aspek fisik dan biofosik daerahnya, wilayah datar yang sangat sempit dan terbatas membuat masyarakat lebih dekat dengan danau,
ancaman longsor membuat masyarakat lebih waspada, cukup kompak dan peduli terhadap alam sekitarnya, hubungan historis perkembangan nagari ini dengan
salah satu daerah di nagari Sungai Batang membuat karakter visual lanskap budayanya memiliki kesamaan.
4.5. Analisis Keberlanjutan 4.5.1.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru