Inokulasi Bakteri dan Fungi Mikoriza Arbuskula pada Semai Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq) di Media Tanah Ultisol

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangan jumlah penduduk Indonesia yang semakin meningkat
menyebabkan semakin tingginya permintaan produk hasil hutan. Banyak produk
hasil hutan yang digunakan secara luas dalam masyarakat, sehingga industri
perkayuan sangat membutuhkan bahan baku untuk memenuhi permintaan
konsumen. Menurut Nurrochmat (2010) permintaan kayu bulat domestik tahun
2010 diperkirakan mencapai hampir 10 juta m3 ditambah dengan defisit aktual
saat ini. Dari hasil perhitungan berbagai sumber diperkirakan defisit penawaran
kayu bulat (permintaan didasarkan pada kapasitas terpasang industri) saat ini
sekitar 30 juta m3, sehingga dengan prediksi pertambahan gap diatas (10 juta m3)
maka gap riil pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 40 juta m3 (domestik).
Defisit kayu bulat untuk permintaan ekspor juga cenderung semakin membesar
hingga mencapai lebih dari 5 juta m3 pada tahun 2010. Demikian juga dengan
pemasaran ekspor kayu lapis, semakin lama defisit penawaran akan semakin
membesar dan gap penawaran-permintaan ekspor kayu lapis diperkirakan
mencapai sekitar 6 juta m3 pada tahun 2010.
Dengan kondisi tersebut, tekanan terhadap hutan alam terus meningkat.
Kerusakan hutan saat ini diperkirakan terus meningkat drastis. Dalam membangun
HTI, HR, maupun HTR perlu adanya pertimbangan tentang jenis tanaman yang
akan dikembangkan yaitu tanaman jenis-jenis cepat tumbuh (fast growing
species).
Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) merupakan jenis tanaman yang
sedang dikembangkan karena jenis ini termasuk jenis cepat tumbuh dengan daur
yang relatif singkat dengan riap tahunan yang relatif tinggi sebesar 7 cm/tahun
sampai tanaman berumur 6-8 tahun, dan akan menurun menjadi 3 cm/tahun
sampai tanaman berumur 20 tahun. Rata-rata riap volume/tahun adalah 10-26
m³/tahun (Soerianegara dan Lemmens 1994). Jabon juga merupakan jenis asli
Indonesia (indigenous) yang bernilai ekonomis tinggi dan memiliki pangsa pasar

2

yang baik, serta mempunyai kualitas yang tidak kalah bersaing dengan jenis-jenis
lain, misalnya untuk bahan baku venir dan kayu lapis.
Indonesia banyak memiliki lahan marginal yang didominasi oleh tanah
Podsolik Merah Kuning (Ultisol) cukup luas dengan kadar kemasaman yang
tinggi sehingga kelarutan kation-kation Al, Fe, dan Mn tinggi menyebabkan unsur
fosfor (P) kurang tersedia bagi tanaman serta kandungan unsur hara makro dan
mikro, seperti N, K, Ca, Mg, dan Mo yang rendah (Notohadiprawiro 1983).
Problema tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tinggi sehingga menjadi racun
tanaman dan menyebabkan fiksasi P, unsur hara rendah, diperlukan tindakan
pengapuran dan pemupukan (Hardjowigeno 2003). Tetapi menurut Howeler dan
Cadavid (1976) pemberian kapur lebih dalam dari 30 cm sulit untuk dilakukan
sehingga kemasaman subsoil masih dapat menghambat perkembangan sistem
perakaran. Oleh sebab itu diperlukan alternatif lain, seperti pembuatan bibit yang
mampu beradaptasi pada tanah masam dengan menggunakan mikroorganisme.
Salah satu mikroorganisme yang dapat membantu adalah mikoriza.
Mikoriza adalah bentuk simbiosis mutualisme antara fungi dengan akar tanaman.
Fungi memperoleh karbohidrat dari tanaman, yaitu dari hasil fotosintesis,
sedangkan tanaman mendapatkan unsur hara khususnya fosfat dari fungi. Fungi
Mikoriza Arbuskula (FMA) adalah fungi yang bersimbiosis dengan akar
tumbuhan. Simbiosis ini mempunyai peran penting dalam pengambilan unsur hara
dari dalam tanah, terutama fosfat, sehingga pertumbuhan tanaman dapat
diperbaiki (Gunawan 1984).
Selama ini penelitian mengenai mikoriza hanya terfokus pada kemampuan
mikoriza dalam menstimulasi pertumbuhan tanaman dengan cepat tanpa
memperhatikan adanya faktor lain yang mempengaruhi mikoriza untuk dapat
meningkatkan pertumbuhan tanaman maupun untuk menjamin kualitas dari
inokulum FMA itu sendiri. Faktor tersebut diketahui berupa mikroorganisme yang
dapat bersimbiosis dengan spora mikoriza yaitu bakteri. Bakteri tersebut dikenal
dengan nama Mycorrhizal Helper Bacteria (MHBs) yang dapat bersimbiosis
dengan FMA dan mempunyai kemampuan menstimulir perkembangan FMA
(biostimulan) serta mampu berfungsi sebagai biofungisida yang dapat menekan
tumbuhnya patogen pada proses produksi inokulum FMA (Budi 2006). MHBs

3

merupakan bentuk endosimbiotik pada spora mikoriza yang dapat bersifat obligat
maupun fakultatif. Isolat MHBs diperoleh dengan cara mengisolasinya dari spora
mikoriza. Berdasarkan penelitian Nunang (2011) Bacillus subtilis dan
Enterobacter hormaechei berpotensi menjadi MHB. Bakteri-bakteri tersebut
ditetapkan menjadi MHB karena bakteri hasil isolasi spora FMA Gigaspora sp.
dan Glomus sp. (endofit) mampu menstimulir perkembangan hifa FMA secara in
vitro pada tanaman sorgum, mempunyai kemampuan menghasilkan enzim
hidrolitik dan sifat antagonis terhadap patogen tular tanah.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan isolat bakteri (B.
subtilis dan E. hormaechei) dan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dalam
mempengaruhi pertumbuhan tanaman jabon (Anthocephalus cadamba Miq.).
1.3 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dalam rangka
peningkatkan pertumbuhan dan kualitas bibit jabon melalui aplikasi FMA dan
MHB (B. subtilis dan E. hormaechei).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.)
Jenis A. cadamba Miq. ini bersinonim dengan A.chinensis Lamk. dan A.

indicus A. Rich. Jabon (A. cadamba Miq.) merupakan pohon yang dapat mencapai
tinggi sampai 45 meter, mempunyai batang yang lurus dan silindris dengan batang
bebas cabang lebih dari 25 meter. Diameter batang dapat mencapai 100–160 cm,
batang berbanir dengan tinggi banir hingga 2 meter dan lebar sampai 60 cm.
Jabon mempunyai daun tunggal dengan ujung daun berbentuk runcing sampai
meruncing serta berdaun penumpu (Soerianegara dan Lemmens 1994).
Pohon jabon merupakan jenis pohon yang dapat digunakan untuk pohon
ornamental dan naungan atau untuk reforestasi dan agroforestri, sedangkan
kayunya dapat digunakan untuk berbagai macam kegunaan, diantaranya adalah
untuk korek api, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, venir, kayu
lapis, pulp dan kertas, kayu lamina, serta konstruksi darurat yang ringan
(Martawijaya et al. 1992), obat tradisional (daun dan kulit kayu), serta bunga dan
buahnya dapat dimakan (Soerianegara dan Lemmens 1994).

2.2 Mikoriza
Mikoriza merupakan asosiasi simbiotik antara akar tanaman dengan fungi.
Asosiasi antara akar tanaman dengan fungi ini memberikan manfaat yang sangat
baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat fungi tersebut tumbuh
dan berkembang biak. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem
perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga
tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan
kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar (2001) dalam Christina 2010).
Mikoriza merupakan salah satu dari jenis fungi. Fungi merupakan tumbuhan
tingkat rendah yang tidak mempunyai zat hijau daun sehingga bersifat heterotrof,
terdiri dari satu sel atau banyak sel dan mampu berkembang biak secara generatif
dan vegetatif. Pada dasarnya asosiasi mikoriza terbentuk sebagai hasil hubungan
simbiosis mutualisme antara fungi pembentuk mikoriza dengan perakaran

5

tanaman. Akar tanaman mengeluarkan cairan karbohidrat dan dimanfaatkan oleh
fungi pembentuk mikoriza sebagai sumber energi. Fungi pembentuk mikoriza
membantu penyerapan berbagai unsur hara dan air kepada akar yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan tanaman (Fakuara 1988).

2.2.1 Tipe-tipe mikoriza
Mikoriza secara umum terbagi atas 2 (dua) golongan, yaitu ektomikoriza
dan endomikoriza. Pembagian ini didasarkan pada tempat mikoriza bersimbiosis
pada akar. Ektomikoriza merupakan mikoriza yang menginfeksi permukaan luar
tanaman dan di antara sel-sel apeks akar, sedangkan endomikoriza merupakan
mikoriza yang menginfeksi bagian dalam akar tanaman di dalam dan di antara selsel apeks akar (Wikipedia 2006).
Menurut Fakuara (1990) berdasarkan infeksinya serta bentuk dan tidak
terbentuknya selubung hifa dapat dibedakan tiga bentuk mikoriza, yaitu:
1.

Ektomikoriza yaitu mikoriza yang pada permukaan luar akar terbentuk
selubung jalinan hifa fungi.

2.

Endomikoriza yaitu fungi pembentuk mikoriza berkembang hanya dalam selsel korteks akar dan tidak terbentuk selubung hifa pada akar.

3.

Ektendomikoriza yaitu struktur yang memiliki kedua ciri-ciri tersebut.
Adanya fungi di sel-sel korteks dan juga terbentuknya hifa pada permukaan
akar.

2.2.2 Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA)
Fungi Mikoriza Arbuskula adalah salah satu tipe fungi mikoriza dan
termasuk ke dalam golongan endomikoriza, yaitu fungi pembentuk mikoriza yang
berkembang di dalam sel-sel akar, tidak membentuk mantel hifa pada permukaan
akar maupun jala Hartig dalam jaringan epidermis dan korteks akar, dan
mempunyai organ berupa arbuskula. Beberapa genus FMA juga memiliki organ
yang disebut vesikula (Smith dan Read 1997).
FMA ialah simbion obligat yang artinya fungi tersebut tidak bisa
dikulturkan tanpa adanya akar tanaman sebagai inang (Smith dan Read 1997).
Peranan FMA untuk tanaman adalah : (1) perbaikan nutrisi tanaman dan

6

peningkatan pertumbuhan, (2) sebagai pelindung hayati (bio-protection), (3)
meningkatkan resistensi tanaman terhadap kekeringan, (4) terlibat dalam siklus
biogeokimia, (5) sinergis dengan mikroorganisme lain, dan (6) mempertahankan
keanekaragaman tumbuhan (Setiadi 2006). Kapasitas pengambilan hara dapat
ditingkatkan jika terjadi kolonisasi mikoriza pada akar karena waktu hidup akar
yang dikolonisasi FMA menjadi lebih panjang, ukuran percabangan serta diameter
akar diperbesar dan luas permukaan absorpsi akan diperluas (Delvian 2003).
Abbott dan Robson (1992) dalam Christina (2010) mengatakan alasan mengapa
FMA dapat meningkatkan penyerapan hara dalam tanah yaitu karena FMA dapat
mengurangi jarak bagi hara untuk memasuki akar tanaman, meningkatkan ratarata penyerapan hara dan konsentrasi hara pada permukaan penyerapan, dan
merubah secara kimia sifat-sifat hara sehingga memudahkan penyerapannya ke
dalam akar tanaman.
Semua FMA tidak mempunyai sifat morfologi dan fisiologi yang sama oleh
karena itu sangat penting untuk mengetahui identitasnya. Walaupun fungi ini
mempunyai sebaran inang yang sangat luas, fungi ini mempunyai pengaruh yang
spesifik juga terhadap jenis tanaman yang terinfeksi. Disamping itu fungi ini juga
mempunyai pengaruh yang bervariasi pada kultivar dalam satu jenis tanaman dan
dapat pula berbeda pengaruh terhadap tanaman dalam ekosistem dan jenis tanah
yang berbeda serta dalam jenis tanah yang sama tapi berbeda sifat biologinya,
kimia, dan fisiknya (Brundrett et al. 1996).
Menurut Fakuara (1988), bahwa infeksi FMA dipengaruhi oleh berbagai
faktor meliputi: pemupukan, nutrisi tanaman, pestisida, intensitas cahaya, musim
dan kelembaban tanah, pH, kepadatan inokulum, dan kerentanan tanaman.
Efektivitas FMA tergantung pada kesesuaian antara faktor jenis FMA, tanaman,
dan tanah, serta interaksi ketiga faktor tersebut.
2.3 “Mycorrhiza Helper Bacteria” (MHB)
Proses simbiosis antara fungi mikoriza dan akar tanaman dipengaruhi oleh
berbagai macam mikroorganisme yang hidup di sekitar perakaran tanaman di
dalam tanah (rhizospere), khususnya oleh bakteri (Garbaye 1994). Bakteri yang
meningkatkan perkembangan mikoriza disebut Mychorrizal Helper Bacteria

7

(MHB). MHB mempunyai kemampuan menstimulir perkembangan FMA dan
mempunyai fungsi sebagai fungisida sehingga dapat menekan tumbuhnya bibit
penyakit pada produksi inokulum FMA. Penelitian ultrastruktur dengan
menggunakan mikroskop elektron telah membuktikan adanya bakteri-bakteri yang
terdapat pada hifa dan mantel ektomikoriza, dinding spora dan sporokarp FMA.
Bakteri ini termasuk dalam golongan Burkholderia yang merupakan golongan
bakteri pengikat nitrogen.
Penambahan MHB pada inokulum fungi dapat meningkatkan keberhasilan
inokulasi. Mamatha et al. (2002) mengatakan bahwa efek dari inokulasi tanah
dengan FMA dan MHB telah diteliti pada tanaman Mulberry dan Papaya yang
sudah diujicobakan di lapangan. Inokulasi Bacillus coagulans meningkatkan
permukaan mikoriza dalam inokulasi tanaman-FMA, ini mungkin termasuk dalam
golongan MHB.
Isolat-isolat

bakteri

yang

mempunyai

kemampuan

meningkatkan

perkembangan mikoriza, pada pengujian lanjutan mempunyai kemampuan juga
terhadap penghambatan perkembangan patogen akar baik secara in vitro maupun
in vivo. Dengan demikian MHB berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai agen
biofungisida dan sekaligus biostimulan (Budi 2006).
Secara keseluruhan formasi MHB sangat mungkin sekali bersama-sama
dalam mekanisme simbiosis mikoriza dan bakteri di dalam tanah sekitar perakaran
tanaman, simbiosis ini selalu ditemukan setiap waktu, walaupun dalam situasi dan
kondisi yang sangat berbeda dan pada tanaman dengan kombinasi mikoriza yang
sangat beraneka ragam (Garbaye dan Duponnois 1991).

2.4 Podsolik Merah Kuning (Ultisol)
Ultisol hanya ditemukan di daerah-daerah dengan suhu rata-rata lebih dari
8ºC. Ultisol adalah tanah dengan horison argilik atau kandik bersifat masam
dengan kejenuhan basa rendah (Hardjowigeno 2003).
Podsolik Merah Kuning adalah tanah yang sangat tercuci, lapisan atas
berwarna abu-abu muda sampai kekuningan, lapisan bawah merah atau kuning,
terdapat akumulasi liat hingga tekstur relatif berat, struktur gumpal, permeabilitas
rendah, stabilitas agregat rendah, bahan organik rendah, kejenuhan basa rendah,

8

ph rendah 4,2–4,8. Horison eluviasi tidak terlalu jelas (Hardjowigeno 2003).
Dikatakan juga dalam Hardjowigeno (2003) bahwa bahan induk podsolik merah
kuning kadang-kadang mempunyai karatan kuning, merah dan abu-abu. Bahan
induk adalah batuan endapan bersilika, napal, batu pasir, batu liat. Ditemukan
pada ketinggian antara 50–350 m, iklim tropika basah dengan curah hujan antara
2500–3500 mm (Hardjowigeno 2003).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca Departemen
Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, mulai bulan Januari
2012 sampai dengan Maret 2012.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah saringan bertingkat, refrigerator, neraca
analitik, cawan Petri, labu Erlenmeyer, inkubator, gelas ukur, sendok pengaduk,
pipet, pinset spora, jarum ose, Laminar Air Flow Cabinet, bunsen, hot plate,
autoklaf, sentrifus, pengaduk magnet, gelas kultur, mesin shaker, gunting, oven,
mikroskop stereo, mikroskop binokuler, tabung film, preparat slide, plastik, dan
alat hitung, sprayer, bak kecambah, kantong polibag, alat penyiram, kamera,
mistar, kaliper, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan untuk media tanaman digunakan tanah podsolik
merah kuning. Untuk perlakuan digunakan isolat bakteri yang berasal dari isolasi
bakteri pada spora Gigaspora sp. (B. subtilis) dan Glomus sp. (E. hormaechei),
inokulum fungi mikoriza Gigaspora sp. Untuk perbanyakan bakteri, bahan yang
dibutuhkan adalah alkohol 75%, alumunium foil, kapas, tisu, kertas label, Nutrient
Broth (tanpa agar) 10%, NaCl 0,7%, dan air steril. Untuk bahan yang digunakan
dalam pewarnaan dan pengamatan infeksi akar yaitu aquades, KOH 2,5%, HCl
2%, Tryphan blue, glycerin, dan cat kuku.

3.3 Metode Pelaksanaan Penelitian
3.3.1 Persiapan media
Media yang digunakan adalah tanah podsolik merah kuning. Sebelum
dimasukkan ke dalam polibag, tanah dikeringkan dan diayak menggunakan
saringan kemudian disangrai terlebih dahulu agar steril. Tanah steril dimasukkan
ke dalam polibag berukuran 10 cm x 15 cm dan polibag diberi label sesuai dengan
perlakuan.

10

3.3.2 Persiapan Awal Isolat Bakteri
3.3.2.1 Pembuatan Media Nutrien Agar
Media nutrien agar dibuat dengan melarutkan bahan nutrien agar sebanyak
28 g

ke dalam 1 L aquades pada gelas ukur dengan kapasitas 1 L. Untuk

mempercepat pelarutan, gelas ukur tersebut diletakkan di atas pengaduk magnet.
Setelah larut, lalu dituang ke labu Erlenmeyer, kemudian mulut erlenmeyer
disumbat dengan kapas yang selanjutnya ditutup dengan alumunium foil
kemudian disterilisasi dengan autoklaf (suhu 1210C dengan tekanan 1 atm).
3.3.2.2 Penyiapan Media Nutrien Agar Pada Cawan Petri
Cawan Petri yang steril digunakan sebagai wadah untuk media nutrien agar.
Penuangan media dilakukan di dalam laminar air flow cabinet. Setiap cawan Petri
berisi kurang lebih 10 ml. Setelah media membeku cawan Petri dibalik kemudian
ditutup agar uap air tidak menetes ke agar untuk menghindari kontaminasi.

3.3.2.3 Peremajaan Bakteri
Koloni bakteri pada cawan Petri hasil isolasi bakteri dari spora Gigaspora
sp. dan Glomus sp. dipindahkan ke dalam cawan Petri lain yang telah terisi oleh
media nutrien agar dengan menggunakan jarum ose. Pemindahan koloni bakteri
dilakukan dengan metode pengolesan secara zig zag, lalu diinkubasi ke dalam
inkubator pada suhu 30 0C.

3.3.2.4 Perbanyakan isolat bakteri
Media nutrient broth adalah media yang digunakan untuk perbanyakan
isolat bakteri, untuk membuat media 1 L dibutuhkan 13 g nutrient broth. Media
tersebut dilarutkan dalam gelas ukur dengan bantuan pengaduk magnet hingga
media benar-benar larut. Kemudian dimasukan ke dalam labu Erlenmeyer.
Erlenmeyer yang berisi media Nutrient Broth dibungkus bagian lehernya dengan
alumunium foil untuk disterilisasi dengan cara dimasukkan dalam autoklaf dengan
suhu 121°C dan tekanan 1 atm selama 20 menit. Setelah disterilkan dalam
autoklaf, media diangkat dan jika sudah dingin, isolat bakteri diinokulasikan ke
dalam media Nutrient Broth dengan menggunakan jarum ose. Perbanyakan isolat

11

dilakukan di dalam Laminar Air Flow Cabinet untuk menghindari kontaminasi.
Media yang sudah diinokulasi bakteri kemudian diletakkan di atas shaker 80 rpm
selama 48 jam. Pertumbuhan bakteri dapat diketahui dengan melihat keruhnya
media Nutrient Broth pada Erlenmeyer.

3.3.2.5 Pembuatan larutan isolat bakteri
Media cair hasil perbanyakan bakteri yang sudah keruh dituangkan ke dalam
tabung sentrifus. Sebelumnya, tabung sentrifus dibilas dengan aquades steril
terlebih dahulu, hal ini dilakukan agar tabung sentrifus dalam keadaan steril.
Setelah dituang, media cair hasil perbanyakan diendapkan dengan cara
disentrifugasi agar bakteri mengendap di dasar tabung selama 3 menit dengan
kecepatan maksimal. Kemudian cairan perbanyakan bakteri dibuang dan bakteri
yang mengendap di dasar tabung diambil dan dilarutkan dengan air yang steril.

3.3.3 Isolasi Spora Mikoriza
Untuk mendapatkan spora dilakukan isolasi melalui teknik penyaringan
basah bertingkat. Spora yang tersaring dimasukan pada cawan Petri lalu diamati di
bawah mikroskop stereo, kemudian dipisahkan dengan pinset spora dari kototankotoran yang ikut tersaring, sehingga dihasilkan spora murni dalam tabung film
yang telah berisi aquades. Satu tabung film berisi minimal 50 spora untuk 1
tanaman.

3.3.4 Inokulasi mikoriza dan inokulasi bakteri
Spora mikoriza dan bakteri diinokulasikan Dengan membuat 4 lubang
sekitar batang semai sampai terlihat akarnya, larutan isolat bakteri dimasukkan
dengan menggunakan mikro pipet sebanyak 1 ml, begitu pula dengan anakan yang
mendapat perlakuan mikoriza, 1 tabung yang berisi 50 spora Gigaspora sp.
dimasukkan dalam lubang mengenai akar semai, kemudian lubang ditutup
kembali dengan media sapih. Begitu pula dengan perlakuan kombinasi antara
mikoriza dengan bakteri, penginokulasian isolat bakteri dan spora Gigaspora sp.
dimasukkan dalam lubang yang sama.

12

3.3.5 Pemeliharaan
Untuk pemeliharaan dilakukan penyiraman dengan air biasa sebanyak dua
kali dalam sehari (pagi dan sore) tergantung kondisi media. Jika media dalam
kondisi basah atau lembab maka cukup disiram sekali saja (pagi atau sore). Untuk
pengendalian hama dilakukan secara manual dengan mematikan hama.

3.3.6 Pengamatan parameter dan pengumpulan data
Dalam pengamatan, parameter yang diamati adalah : (1) tinggi tanaman (2)
diameter tanaman (3) biomassa akar dan pucuk (4) perhitungan IMB (Indeks
Mutu Bibit) (5) NPA (6) persentase infeksi akar.

3.3.6.1 Tinggi bibit
Pengukuran tinggi bibit dilakukan setiap 1 minggu sekali selama 2 bulan.
Tinggi bibit diukur mulai dari titik bekas kotiledon sampai titik tumbuh tunas
yang paling muda/titik tertinggi (meristem apikal) pada batang. Nilai tersebut
dinyatakan dalam satuan centimeter (cm).

3.3.6.2 Diameter batang
Pengukuran diameter dilakukan setiap 1 bulan sekali selama 2 bulan.
Diameter diukur mulai dari 1,5 cm di atas permukaan media dengan
menggunakan alat kaliper digital. Nilai tersebut dinyatakan dalam satuan
milimeter (mm).

3.3.6.3 Pengukuran biomassa akar dan pucuk
Biomassa akar dan pucuk dihitung dengan rumus biomassa yaitu :
Biomassa = (Berat basah - berat kering)/berat basat x 100 %

3.3.6.4 Nisbah Pucuk Akar (NPA)
Nilai ini menggambarkan perbandingan antara berat kering bagian pucuk
dengan bagian akar bibit.

13

3.3.6.5 Indeks Mutu Bibit (IMB)
Menurut Lackey dan Alm (1982) dalam Hendromono (1987), Indeks Mutu
Bibit dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
IMB = A + B
C/D + A/B
Keterangan : IMB

.

= Indeks Mutu Bibit

A

= Bobot kering pucuk (g)

B

= Bobot kering akar (g)

C

= Tinggi tanaman (cm)

D

= Diameter tanaman (mm)

Bibit baik dan mampu bertahan di lapangan jika memiliki nilai IMB (Q) > 0.09
(Dickson et al. 1960).

3.3.6.6 Persentase infeksi akar
Identifikasi persentase infeksi akar dilakukan dengan cara mengambil
contoh akar yang muda (serabut) secara acak dari polibag kemudian dilakukan
proses pembersihan dan pewarnaan akar. Infeksi akar ditandai dengan adanya
hifa, arbuskula dan vesikel atau salah satu dari organ tersebut Menurut Setiadi et
al.(1992), pengukuran persen infeksi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Akar diambil, dicuci dengan air biasa untuk melepaskan semua miselium
luar. Bagian akar muda (serabut) diambil dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi
atau tabung film bekas dan direndam dalam larutan KOH 2,5%, dibiarkan selama
semalam atau akar sampai berwarna kuning bersih. Setelah akar berwarna kuning
bersih, larutan KOH 2,5% dibuang dan akar dibilas dengan air. Setelah itu
direndam dengan larutan H2O2 2% selama 5 menit, lalu larutan H2O2 2% dibuang
dan akar dibilas dengan air, kemudian akar direndam dengan HCl 2 % selama 10
menit, tanpa di oven.
Setelah 10 menit akar tidak dicuci lagi dan langsung diganti dengan larutan
staining

(gliserin dan aquades dengan perbandingan 7:3), ditambah dengan

Trypan blue 0,05% (0,2 g dalam 1 L), kemudian dibiarkan semalam. Larutan
staining dibuang dan diganti dengan larutan distaining (larutan staining tanpa
Trypan blue yaitu gliserin dan aquades dengan perbandingan 1:1) selama

14

semalam. Akar kemudian dipotong-potong sepanjang 1 cm, lalu disusun pada
gelas objek (1 gelas objek untuk 10 potong akar). Untuk setiap tanaman sampel
dibuat tiga preparat. Selanjutnya diamati dengan mikroskop stereo.
Amati potongan akar pada kaca preparat untuk setiap bidang pandang.
Bidang pandang yang terinfeksi ditunjukan dengan adanya tanda-tanda seperti
hifa, arbuskula maupun vesikula. Persentase akar terinfeksi dihitung dengan
rumus :
∑ bidang pandang yang terinfeksi
% Terinfeksi =

∑ keseluruhan bidang pandang

x 100 %

3.3.7 Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan pola faktorial teridiri dari 2 faktor.
Faktor yang pertama adalah pemberian mikoriza (M) yang terdiri dari 2 taraf yaitu
M0 = Tanpa mikoriza Gigaspora sp.
M1 = pemberian mikoriza Gigaspora sp.
Faktor kedua adalah pemberian bakteri (B) yang terdiri dari 3 taraf yaitu
B0 = tanpa bakteri
B1 = pemberian isolat bakteri B. subtilis
B2 = pemberian isolat bakteri E. hormaechei
Dengan demikian terdapat 6 kombinasi perlakuan dengan 5 kali ulangan sehingga
jumlah total tanaman seluruhnya adalah 30 tanaman.
Model rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah :
Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk
Keterangan :
Yijk

= Nilai pengamatan pada faktor pemberian mikoriza ke-i dan faktor
pemberian bakteri ke-j pada ulangan ke-k

µ

= Nilai rata-rata umum

αi

= Nilai pengaruh faktor pemberian mikoriza ke-i

βj

= Nilai pengaruh faktor pemberian bakteri ke-j

εijkl

= Nilai galat dari unit percobaan faktor pemberian mikoriza ke-i dan
faktor pemberian bakteri ke-j pada ulangan ke-k

15

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap peubah
yang diamati, dilakukan analisis keragaman yang diperoleh dari pengolahan data
dengan menggunakan prog SAS. Kemudian bila pengaruh yang diberikan
menunjukan perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjut Duncan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Pengaruh Mikoriza, Bakteri dan Kombinasinya terhadap parameter
pertumbuhan semai jabon
Hasil analisis sidik ragam terhadap parameter pertumbuhan semai jabon
pada Tabel 1, menunjukkan bahwa interaksi antara mikoriza dan bakteri
memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan semai jabon. Hasil
analisis sidik ragam dapat dilihat secara lengkap pada Tabel 1.
Tabel 1 Hasil analisis sidik ragam pengaruh inokulasi mikoriza, bakteri dan
interaksinya terhadap parameter pertumbuhan semai jabon
Parameter

FMA
Tinggi
0,26
Diameter
14,19
Biomassa akar
6,54
Biomassa pucuk
38,91
NPA
38,68
IMB
2,73
% infeksi
224,75
tn : tidak nyata; * : nyata (p

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Inokulasi Bakteri dan Fungi Mikoriza Arbuskula pada Semai Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq) di Media Tanah Ultisol