Uji Aktivitas Antioksidan Minyak Serat Mesokarp Buah Kalapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq)

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINYAK SERAT MESOKARP BUAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
SKRIPSI
OLEH: MICHIO ANATAKI PANDIANGAN
NIM 111501060
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINYAK SERAT MESOKARP BUAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
OLEH: MICHIO ANATAKI PANDIANGAN
NIM 111501060
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015

PENGESAHAN SKRIPSI

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINYAK SERAT MESOKARP BUAH KALAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq)

OLEH: MICHIO ANATAKI PANDIANGAN
NIM 111501060

Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Medan, 4 Agustus 2015

Disetujui Oleh: Pembimbing I,

Panitia Penguji,

Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt. NIP 195709091985112001

Prof. Dr. rer. nat. E. De Lux Putra S,U.,Apt. NIP 195306191983031001

Pembimbing II,

Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt. NIP 195709091985112001

Dr. Ir. Donald Siahaan

Dra. Tuty Roida Pardede, M.Si., Apt. NIP 195401101980032001

Drs. Suryadi Achmad, M.Sc., Apt. NIP 195109081985031002

Medan, Agustus 2015 Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pejabat Dekan,

Dr. Masfria, M.S., Apt. NIP 195707231986012001

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat, kasih dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Uji Aktivitas Antioksidan Minyak Serat Mesokarp Buah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacg)”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada Ibu Dr. Marfria, M.S., Apt., selaku Pejabat Dekan Fakultas Farmasi yang telah memberikan fasilitas kepada penulis selama perkuliahan di Fakultas Farmasi, kepada Ibu Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt., selaku Wakil Dekan I Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan pengarahan dan kemudahan untuk menyelesaikan skripsi ini, kepada Ibu Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt., dan Dr. Ir. Donald Siahaan, selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan, waktu dan nasehat selama penelitian sehingga selesainya penyusunan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. rer. nat, Effendy De Lux Putra, S.U., Apt., selaku penasehat akademis dan ketua penguji yang telah memberikan bimbingan, saran dan arahan kepada penulis serta Ibu Dra. Tuty Roida Pardede, M.Si., Apt., Bapak Drs. Suryadi Achmad, M.Sc., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Kepada Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik selama perkuliahan. Kepada Bapak Ahmad Gazaly Sofwan, S.Farm., M.Si., Apt., yang telah memberikan saran dan

arahan kepada penulis selama proses penelitian serta Bapak dan Ibu staf peneliti di Laboratoriun Pusat Penelitian Kelapa Sawit yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama penulis melakukan penelitian.
Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tiada terhingga kepada ayahanda tercinta D. Pandiangan dan Ibunda tercinta M. Sinaga, yang tiada hentinya berkorban dengan ikhlas bagi kesuksesan penulis, juga kepada abang, kakak, dan adikku yang selalu setia memberi doa, dukungan dan motivasi selama melakukan penelitian.
Penulis menyadari skripsi ini masih belum sempurna, oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaannya. Harapan saya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan kefarmasian.
Medan, Agustus 2015 Penulis
Michio Anataki Pandiangan NIM 111501060

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINYAK SERAT MESOKARP BUAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
Abstrak
Serat mesokarp buah kelapa sawit memiliki kandungan minyak dan karoten yang sangat tinggi. Kandungan karoten yang tinggi di dalam minyak dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan. Pusat penelitian kelapa sawit telah mengembangkan proses ekstraksi karoten untuk meningkatkan konsentrasinya. Variasi proses dalam ekstraksi karoten dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk menguji aktivitas antioksidan serat mesokarp buah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacg).
Karoten dari minyak serat mesokarp dapat diperoleh dengan tahapan proses ekstraksi yaitu menggunakan pelarut n-heksan, dilanjutkan proses transesterifikasi, lalu proses solvolitik misellisasi dan terakhir proses saponifikasi. Konsentrasi karoten yang diperoleh dari setiap tahapan proses ekstraksi dianalisis menggunakan Spektrofotometer UV-visibel pada panjang gelombang 440 nm. Aktivitas antioksidan ekstrak serat mesokarp dari setiap proses ekstraksi ditentukan menggunakan 2,2’-diphenyl-1-picrylhidrazyl (DPPH) sebagai radikal bebas dengan mengukur absorbansi DPPH pada panjang gelombang 515 nm dengan waktu 60 menit setelah penambahan pelarut metanol. Kemampuan antioksidan diukur sebagai penurunan absorbansi larutan DPPH setelah penambahan ekstrak serat mesokarp dari setiap proses ekstraksi dengan menggunakan antioksidan pembanding vitamin C dan Crude Palm Oil (CPO).
Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi karoten meningkat seiring dengan tingkatan proses ekstraksi. Konsentrasi karoten pada ekstrak minyak mencapai 3835 ppm, meningkat menjadi 6514 ppm pada tahap transesterifikasi, meningkat kembali menjadi 24.400 ppm pada tahap solvolitik misellisasi. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak minyak memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat dalam meredam radikal bebas DPPH dibandingkan transesterifikasi dan solvolitik misellisasi. Nilai Inhibitory Concentration (IC50) untuk ekstrak minyak sebesar 6,9 ppm; transesterifikasi sebesar 16,1 ppm; dan solvolitik misellisasi sebesar 19,9 ppm. Vitamin C dan Crude Palm Oil yang digunakan sebagai pembanding (kontrol) menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 1,29 ppm dan 4,6 ppm.
Kata Kunci: Minyak Kelapa Sawit, Karoten, transesterifikasi, solvolitik misellisasi, saponifikasi, 2,2’-diphenyl-1-picrylhidrazyl

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit (Elaeis guineensis
Jacq.) terbesar di dunia sejak 2007 yang cenderung meningkat. Produksi Crude Palm Oil (CPO) pada 2013 mencapai 26,2 juta ton (Antara, 2013). Jumlah produksi ini akan terus meningkat seiring dengan perkembangan areal yang telah mendekati 10 juta ha. Produksi CPO akan melewati angka 40 juta pada 2020 sehingga Indonesia akan menguasai lebih separuh produksi minyak kelapa sawit dunia (FAO, 2010).
Pabrik kelapa sawit (PKS) sebagai industri penghasil CPO hanya menghasilkan 25-30% produk utama yaitu 20-23% CPO dan 5-7% inti sawit (kernel), sisanya lebih dari 3 kali produksi CPO atau sebanyak 70-75% dari bahan baku olah tandan buah segar adalah residu pengolahan berupa limbah (Naibaho, 1998), selebihnya berupa limbah lumpur (sludge) 29,4%, limbah serat mesokarp 17,9%, limbah tandan kosong 23,4% (Yacob, et al., 2006).
Serat mesokarp hasil pengepresan masih mengandung 5-6% residu minyak dengan 4000-6000 ppm karoten, komponen minor lain seperti vitamin E 24003500 ppm dan sterol 4500-8500 ppm (Choo, et al., 1996), serta kandungan minyak tandan kosong sekitar 1,9-2%. Ekstraksi minyak dari serat tersebut berpotensi untuk memperoleh tambahan minyak sawit yang mengandung karoten tinggi dengan jumlah secara nasional sekitar 2 juta ton/tahun (asumsi produksi tandan buah 120 juta ton/tahun).

Radikal bebas merupakan salah satu bentuk senyawa oksigen reaktif, yang secara umum diketahui sebagai senyawa yang memiliki elektron yang tidak berpasangan. Tingginya radikal bebas dalam tubuh dapat memicu munculnya berbagai penyakit degeneratif. Oleh sebab itu, tubuh kita memerlukan suatu substansi penting, yakni antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dan meredam dampak negatifnya (Winarsi, 2007).
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif. Akibatnya, kerusakan sel dapat dihambat (Winarsi, 2007). Berdasarkan sumbernya, antioksidan dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu antioksidan alami dan antioksidan sintesis (Trilaksani, 2003). Antioksidan alami banyak ditemukan pada tanaman seperti biji-bijian, buah, dan sayur-sayuran yang mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan (Prakash, 2001). Antioksidan alami antara lain turunan fenol, koumarin, hidroksi sinamat, tokoferol, difenol, flavonoid, dihidroflavon, kathekin, asam askorbat (Cahyadi, 2006). Antioksidan sintesis antara lain butil hidroksianol, butil hidroksiltoluen, propil gallat, etoksiquin (Cahyadi, 2006). Namun adanya kekhwatiran terhadap efek samping antioksidan sintetik menjadikan antioksidan alami menjadi alternatif yang terpilih.
Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antioksidan alami adalah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacg), karena tanaman ini mengandung antioksidan golongan karotenoid dan vitamin E (tokotrienol dan tokoferol). Karotenoid provitamin A merupakan senyawa antioksidan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh (Haila, 1999). Selain sebagai provitamin A, karoten pun memiliki sejumlah aktivitas biologis penting seperti fotoproteksi, antioksidan,

antikanker, antiinflamasi, serta antiobesitas. Selain berfungsi untuk menunjang kesehatan, karoten dari limbah sawit juga berpotensi sebagai pewarna pangan bahkan kosmetik (Mahfud, et al., 1991).
1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah pada penelitian
ini adalah : a. Apakah terdapat perbedaan kandungan senyawa kimia antara ekstrak minyak
serat mesokarp (MSM), ekstrak dari transesterifikasi dan solvolitik misellisasi? b. Apakah terdapat perbedaan aktivitas antioksidan antara ekstrak MSM, ekstrak dari transesterifikasi, solvolitik misellisasi dibanding dengan vitamin C dan crude palm oil (CPO) ?
1.3 Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka hipotesis pada penelitian ini
adalah: a. Terdapat perbedaan kandungan senyawa kimia antara ekstrak MSM, ekstrak
dari transesterifikasi dan solvolitik misellisasi. b. Terdapat perbedaan aktivitas antioksidan antara ekstrak MSM, ekstrak dari
transesterifikasi, solvolitik misellisasi dengan vitamin C dan CPO.
1.4 Tujuan Penelitian Adapaun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Untuk mengetahui perbedaan kandungan senyawa kimia antara ekstrak MSM, ekstra dari transesterifikasi dan solvolitik misellisasi.
b. Untuk mengetahui perbedaan aktivitas antioksidan antara ekstrak MSM, ekstrak dari transesterifikasi, solvolitik misellisasi dengan vitamin C dan CPO.
1.5 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada
masyarakat tentang aktivitas antioksidan dari serat mesokarp buah kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Tumbuhan Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah tanaman berkeping
satu yang termasuk dalam famili Palmae. Nama genus Elaeis berasal dari bahasa yunani Elaoin atau minyak sedangkan nama spesies guineensis berasal dari kata Guinea, yaitu tempat di mana seorang ahli bernama Jacquin menemukan tanaman kelapa sawit pertama kali di pantai Guinea. Salah satu dari beberapa tanaman golongan palm yang dapat menghasilkan minyak adalah kelapa sawit (Elais guinensis Jacq). Tanaman Elaeis guineensis Jacq ini juga dikenal dengan nama: kelapa sawit (Melayu), kelapa sewu (Jawa) (Fauzi, et al., 2004).
Tumbuhan ini tumbuh dengan baik pada daerah beriklim tropis dengan curah hujan 2000 mm/tahun dengan kisaran 22-23 C serta ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Masa berbuah tanaman ini setelah berumur 2,5 tahun dan pemanenan didasarkan pada saat kadar minyak mesokarp mencapai tingkat kematangan dengan ciri-ciri buah yang lepas atau jatuh sekurang-kurangnya 5-10 buah per tandan dan secara umum batas usia ekonomis kelapa sawit berkisar 25 tahun, dan dapat berkurang bergantung dari tingkat pemeliharaan yang dilakukan termasuk cara pemanenan (Ketaren, 1986).
Tanaman kelapa sawit normal yang telah berbuah akan menghasilkan kirakira 20-22 tandan/tahun dan semakin tua produktivitasnya menurun menjadi 1214 tandan/tahun. Pada tahun-tahun pertama tanaman kelapa sawit berbuah dengan berat tandannya berkisar antara 3-6 kg/tandan. Tanaman semakin tua, berat tandannya juga semakin bertambah, yaitu antara 25-35 kg/tandan.

2.1.1 Sistematika tumbuhan

Menurut Fauzi, et al (2004), sistematika tumbuhan kelapa sawit adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Arecales

Famili

: Arecaceae

Genus

: Elaeis

Spesies

: Elaeis guineensis Jacq.

Nama lokal : Kelapa sawit

2.1.2 Morfologi tumbuhan

Pohon kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan pohon yang besar

yang tingginya dapat mencapai 30 m, batangnya berbentuk silidris dan

berdiameter 40-60 cm, tidak bercabang, arah tumbuh tegak lurus, dan termasuk

dalam tanaman menahun. Pohon kelapa sawit memiliki akar serabut dan pelepah

daun yang memilili bulu-bulu halus dengan panjang pelepah mencapai 9 m serta

daun berwarna hijau dengan panjang mencapai 1,20 m, jumlah anak daun dalam

satu pelepah mencapai 120-160 pasang. Pohon kelapa sawit memiliki bunga dan

buah yang merupakan bagian generatifnya dan juga memiliki biji yang terdiri dari

cangkang dan inti (Fauzi, et al., 2004).

2.1.3 Kandungan kimia buah kelapa sawit

Minyak sawit mentah (CPO) dihasilkan dari mesokarp buah kelapa sawit

atau daging buah kelapa sawit, sedangakan minyak yang dihasilkan dari inti

kelapa sawit disebut minyak inti sawit (MIS). Perbedaan kedua jenis minyak ini terutama terletak pada kandungan karotenoidnya (Fauzi, et al., 2004).
Choo, et al., (1996) menjelaskan bahwa komponen utama buah kelapa sawit adalah trigliserida (94%), sedangkan sisanya berupa asam lemak bebas (3-5%) dan komponen minor (1%) yang terdiri atas karotenoid (500-700 ppm), tokoferol (600-700 ppm), tokotrienol (600-700 ppm), sterol (326-527 ppm), fosfolipid (5130 ppm), sgualen (200-500 ppm) serta alkohol alifatik (100-200 ppm).
2.2 Simplisia dan Ekstrak 2.2.1 Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat dan belum mengalami pengolahan apapun, kecuali dikatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibedakan atas nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan (Depkes RI, 2000). 2.2.2 Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat yang telah ditetapkan (Depkes RI, 2000).
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan zat aktif dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dapat dibagi ke dalam beberapa cara, yaitu:

1. Maserasi Adalah ekstraksi simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi yang seimbang antara bahan dan pelarut (Depkes RI, 2000).
2. Perkolasi Adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna, umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap masarasi dan tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus-menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) (Depkes RI, 2000).
3. Refluks Adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali (Depkes RI, 2000)..
4. Soklet Adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000).
5. Digesti Adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan (kamar), yaitu secara umum

dilakukan pada temperatur 40-50ºC (Depkes RI, 2000). 6. Infus
Adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-98ºC) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Depkes RI, 2000). 7. Dekoktasi Adalah ekstraksi yang memiliki prinsip yang sama dengan metode infus, tetapi memiliki waktu ekstraksi yang lebih lama≥ (30ºC) dan temperatur sampai titik didih air (Depkes RI, 2000).
2.3 Radikal Bebas Istilah radikal bebas merujuk ke atom atau gugus atom apa saja yang
memiliki satu atau lebih elektron tak berpasangan. Karena jumlah elektron ganjil, maka tidak semua elektron dapat berpasangan. Mesikpun suatu radikal bebas tidak bermuatan positif atau negatif, spesi semacam ini sangat reaktif karena adanya elektron yang tidak berpasangan. Suatu radikal bebas biasanya dijumpai sebagai zat-antara yang tak dapat diisolasi usia pendek, sangat reaktif, dan berenergi tinggi. Pada bidang kimia organik, reaksi radikal bebas umumnya digunakan dalam halogenasi hidrokarbon dan pirolisis (Fessenden dan Fessenden, 1986).
Sifat radikal bebas yang tidak stabil menyebabkan reaksi menerima atau memberikan elektron dengan molekul sekitarnya. Kebanyakan molekul ini bukan radikal bebas melainkan makromolekul biologi seperti lipid, protein, asam nukleat dan karbohidrat. Dengan reaksi ini timbullah reaksi radikal bebas beruntun yaitu terbentuknya radikal bebas baru yang bereaksi lagi dengan makromolekul lain

(Weisburger, 2004). Senyawa oksigen reaktif (SOR) berperan dalam berbagai proses biologis alami di dalam tubuh. SOR berasal dari oksigen (O2). Berbagai proses metabolisme dalam tubuh, seperti pada rantai pernapasan , reperfusi, dan proses oksidasi asam lemak, oksigen berperan sebagai akseptor terakhir dari elektron. Secara fisiologis tubuh menghasilkan SOR, namun apabila radikal bebas atau oksidan dihasilkan secara berlebihan oleh tubuh, maka bahan tersebut akan bersifat toksik dan merusak berbagai komponen dalam tubuh, seperti DNA, lipid dan enzim. Sel tubuh dapat rusak bahkan mati sebagai akibat dari keberadaan spesies oksigen reaktif yang tidak terkendali di dalam tubuh (Ionita, 2005 ).
Golongan senyawa oksigen reaktif antara lain adalah hidroksil (OH-), superoksida (O2-), peroksidal (RO-2), asam hipoklorit (HOCl) dan hidrogen peroksida (H2O2) (Ionita, 2005). Secara umum (Froment dan Bischoff, 1979), reaksi pembentukan radikal bebas melalui 3 tahapan reaksi berikut : a. Tahap inisiasi
RH + initiator → R˙ + H˙ R˙ → R˙ + O2 → ROO˙ b. Tahap propagasi R˙ + O2 → ROO˙ ROO˙ +RH → ROOH + R˙ c. Tahap terminasi R˙ + R˙ → RR R˙ + ROO˙ → ROOR Tahap inisiasi adalah tahap awal pembentukan radikal-radikal bebas, sedangkan propagasi merupakan sederatan reaksi terbentuknya radikal baru akibat

reaksi antara suatu radikal dengan senyawa lain. Pada hakikatnya, pembentukan awal beberapa radikal bebas akan mengakibatkan perkembangbiakan radikalradikal bebas baru dalam suatu reaksi pengabdian-diri (self-perpetuating) yang disebut sebagai reaksi rantai. Tahap terakhir atau terminasi adalah reaksi memusnahkan radikal bebas atau mengubah radikal bebas menjadi stabil dan tak reaktif (Fessenden dan Fessenden, 1986).
2.4 Antioksidan Antioksidan adalah zat yang dalam kadar rendah bila dibandingkan dengan
bahan yang dapat dioksidasi, dapat memperlambat atau menghambat oksidasi bahan tersebut secara signifikan (Halliwell, 2002). Senyawa ini memiliki berat molekul kecil, tetapi mampu menginaktivasi berkembangnya reaksi oksidasi, dengan cara mencegah terbentuknya radikal atau dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif (Winarsi, 2007). Menurut Kumalaningsih (2006), antioksidan tubuh dikelompokkan menjadi 3 yakni: 1. Antioksidan primer yang berfungsi untuk mencegah pembentuk senyawa
radikal baru karena dapat merubah radikal bebas yang ada menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya, sebelum radikal bebas ini sempat bereaksi. Contohnya adalah enzim superoksida dismutase (SOD) yang berfungsi sebagai pelindung hancurnya sel-sel dalam tubuh karena radikal bebas. 2. Antioksidan sekunder merupakan senyawa yang berfungsi menangkap senyawa serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Contohnya adalah vitamin E, vitamin C, β-karoten yang dapat diperoleh dari buah-buahan.

3. Antioksidan tersier merupakan senyawa yang memperbaiki kerusakan sel-sel dan jaringan yang disebabkan radikal bebas. Contohnya enzim metionin sulfoksidan reduktase untuk memperbaiki DNA pada inti sel. Khasiat antioksidan untuk mencegah berbagai penyakit akibat pengaruh
oksidatif akan lebih efektif jika kita mengkonsumsi sayur-sayuran dan buahbuahan yang kaya akan antioksidan daripada menggunakan antioksidan tungggal. Efek antioksidan dari sayur-sayuran dan buah-buahan, lebih efektif daripada suplemen antioksidan yang diisolasi. Hal ini mungkin dikarenakan oleh adanya komponen lain dan interaksinya dalam sayur-sayuran dan buah-buahan yang berperan secara positif (Silalahi, 2006).
Senyawa antioksidan alami tumbuhan umumnya adalah senyawa fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, kumarin, tokoferol, dan asam-asam organik. Senyawa polifenolik dapat bereaksi sebagai pereduksi, penangkap radikal bebas (Kumalaningsih, 2006). 2.4.1 Karoten
Karoten dikenal juga sebagai pigmen warna jingga. Kandungannya dalam minyak sawit mencapai 0,005-0,18% dan dari setiap ton minyak mengandung kurang lebih 240 g karoten. Berdasarkan hasil penelitian, karoten dapat dimanfaatkan sebagai obat kanker paru-paru dan payudara. Selain sebagai obat antikanker, karoten juga merupakan sumber provitamin A yang cukup potensial. Karoten terdiri dari 36% alfakaroten dan 54% betakaroten dan tersimpan dalam daging buah kelapa sawit dan komponen minor (10%) yang terdiri atas tokoferol, tokotrienol, sterol, fosfolipid, sgualen, serta alkohol alifatik (Gupta dan Ghosh, 2013).

Beta karoten mempunyai 11 ikatan rangkap dua dan karbon-karbon terkonjugasi bersama-sama. Beta karoten berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh, selain itu juga berfungsi dalam membantu tumbuh kembang sistem penglihatan. Sebagai antioksidan, beta karoten sumber utama vitamin A yang sebagian besar ada di dalam tumbuhan seperti wortel, brokoli, kentang dan tomat.
Gambar 2.1 Rumus bangun beta karoten Secara kimia, karoten adalah terpena yang disintesis secara biokimia dari delapan satuan isoprene. Dia ada di dalam dua bentuk utama yang diberi karakter yunani: α-karoten dan β-karoten. Beta karoten terdiri dari dua group retinil, dan dipecah dalam mukosa dari usus halus kecil oleh beta karoten dioksigenase menjadi retinol, sebuah bentuk dari vitamin A. Karoten dapat disimpan dalam hati dan diubah menjadi vitamin A sesuai kebutuhan dan membuatnya menjadi provitamin A (Gupta dan Ghosh, 2013). 2.4.2 Tokoferol Unsur ini dikenal sebagai antioksidan alam dan sebagai sumber vitamin E. Kandungan tokoferol dalam CPO berkisar 600-1000 ppm, dalam olein 800-1000

ppm, dan dalam stearin hanya 250-530 ppm. Minyak sawit yang bermutu baik mengandung tokoferol berkisar antara 500-800 ppm (Silalahi, 2006).
Tokoferol merupakan salah satu antioksidan yang terdapat dalam tumbuhan. Beberapa tokoferol ada yang terdapat di alam, salah satunya α-tokoferol yang merupakan senyawa paling aktif secara biologis (Silalahi, 2006). Makanan yang paling banyak mengandung tokoferol adalah minyak nabati, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Aktivitas antioksidan dari α-tokoferol berfungi mencegah dan melindungi sel tubuh dari kerusakan, sehingga dapat memperlambat penuaan, mencegah kanker dan aterosklerosis (Silalahi, 2006) Struktur α-tokoferol dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2.2 Rumus bangun α- tokoferol 2.4.3 Vitamin C
Vitamin C berhasil di isolasi untuk pertama kalinya pada tahun 1928 oleh Albert Szent-Györgyi. Penemuan ini terjadi dikarenakan keinginan dari Albert untuk mencoba mengidentifikasi suatu komponen yang mengikat oksigen dan dapat mencegah kerusakan buah (Iqbal, et al., 2004).
Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 176,13 dengan rumus bangun C6H8O6, dengan titik lebur 190-192°C. Asam askorbat mengandung tidak kurang dari 99,0% C6H8O6. Pemerian: serbuk atau hablur putih atau agak kuning, tidak berbau, rasa asam, oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap, dalam larutan cepat teroksidasi. Kelarutan: mudah larut

dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam benzen P. Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya. Vitamin C mengandung khasiat sebagai antiskorbut (Ditjen POM, 1995).
Gambar 2.3 Rumus bangun vitamin C Vitamin C berperan dalam mengurangi resiko hipertensi dan jantung koroner, mencegah kanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi virus dan bakteri, berperan dalam pembentukan kolagen serta produksi neurotransmitter dan hormon tertentu dalam tubuh (Walingo, 2005). Asam askorbat apabila terkena pengaruh oksigen, zat-zat pengoksidasi lemah, atau oleh pengaruh enzim asam askorbat oksidase, akan mempermudah senyawa ini mengalami oksidasi menjadi asam dehidroaskorbat, karena memiliki sifat mudah teroksidasi, asam askorbat digunakan sebagai antioksidan (Iqbal, et al., 2004).
2.5 Spektrofotometri UV-Visible Prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis berdasarkan penyerapan cahaya atau
energi radiasi oleh suatu larutan. Jumlah cahaya atau energi radiasi yang diserap memungkinkan pengukuran jumlah zat penyerap dalam larutan secara kuantitatif (Triyati, 1985). Panjang gelombang untuk sinar ultraviolet antara 200 - 400 nm

sedangkan panjang gelombang untuk sinar tampak/visible antara 400 - 750 nm (Gandjar dan Rohman, 2012).
Metode spektrofotometri ultra-violet dan sinar tampak (visible) telah banyak diterapkan untuk penetapan senyawa - senyawa organik yang umumnya dipergunakan untuk penentuan senyawa dalam jumlah yang sangat kecil. Dalam suatu larutan, gugus molekul yang dapat mengabsorpsi cahaya dinamakan gugus kromofor. Molekul - molekul yang hanya mengandung satu gugus kromofor dapat mengalami perubahan pada panjang gelombang. Molekul yang mengandung dua gugus kromofor atau lebih akan mengabsorpsi cahaya pada panjang gelombang yang hampir sama dengan molekul yang hanya mempunyai satu gugus kromofor tertentu, tetapi intensitas absorpsinya adalah sebanding dengan jumlah kromofor yang ada (Gandjar dan Rohman, 2012).
Spektrofotometer pada dasarnya terdiri dari sumber sinar, monokromator, sel untuk zat yang diperiksa, detektor, penguat arus dan alat ukur atau pencatat. Spektrofotometri serapan merupakan metode pengukuran serapan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu yang diserap zat (Depkes RI, 1979).
2.6 Kromatografi Gas Kromatografi gas digunakan untuk memisahkan komponen campuran kimia
dalam suatu bahan, berdasarkan perbedaan polaritas campuran. Fase gerak akan membawa campuran sampel menuju kolom dan campuran ini akan berinteraksi dengan fase diam. Setiap komponen yang terdapat dalam campuran berinteraksi dengan kecepatan yang berbeda dimana interaksi komponen dengan fase diam

dengan waktu yang paling cepat akan keluar pertama dari kolom dan yang paling lambat akan keluar paling akhir (Gandjar dan Rohman, 2012).
Kromatografi gas merupakan metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan beraga, mulai dari beberapa detik untuk campuran sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen. Komponen campuran dapat diidentifikasikan dengan waktu tambat (waktu retensi) yang khas pada kondisi yang tepat. Waktu tambat adalah waktu yang menunjukkan berapa lama suatu senyawa tertahan dalam kolom. Bagian utama dari kromatografi gas adalah gas pembawa, sistem injeksi, kolom, fase diam, suhu, dan detektor (Gandjar dan Rohman, 2012).
2.7 Penentuan Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH Pada tahun 1922, Goldschmidt dan Renn menemukan senyawa berwarna
ungu radikal bebas stabil DPPH. DPPH berwarna sangat ungu seperti KMnO4 dan tidak larut dalam air (Ionita, 2005).
Gambar 2.4 Rumus bangun DPPH Metode DPPH adalah sebuah metode yang sederhana yang dapat digunakan untuk menguji kemampuan antioksidan yang terkandung dalam makanan. Metode DPPH dapat digunakan untuk sampel yang padat dan juga dalam bentuk larutan. Prinsipnya dimana elektron ganjil pada molekul DPPH

memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 517 nm yang berwarna ungu. Warna ini akan berubah dari ungu menjadi kuning lemah apabila elektron ganjil tersebut berpasangan dengan atom hidrogen yang disumbangkan senyawa antioksidan. Perubahan warna ini berdasarkan reaksi kesetimbangan kimia (Prakash, et al., 2001).
Parameter yang dipakai untuk menunjukan aktivitas antioksidan adalah harga konsentrasi efisien atau efficient concentration (EC50) atau Inhibition Concentration (IC50) yaitu konsentrasi suatu zat antioksidan yang dapat menyebabkan 50% DPPH kehilangan karakter radikal atau konsentrasi suatu zat antioksidan yang memberikan % penghambatan 50%. Zat yang mempunyai aktivitas antioksidan tinggi, akan mempunyai harga EC50 atau IC50 yang rendah (Molyneux, 2004). 2.7.1 Pelarut
Metode ini akan bekerja dengan baik menggunakan pelarut metanol atau etanol dan kedua pelarut ini tidak mempengaruhi dalam reaksi antara sampel uji sebagai antioksidan dengan DPPH sebagai radikal bebas (Molyneux, 2004). 2.7.2 Pengukuran Absorbansi – Panjang Gelombang
Panjang gelombang maksimum (λ maks) yang digunakan dalam pengukuran uji sampel uji sangat bervariasi. Menurut beberapa literatur panjang gelombang maksimum untuk DPPH antara lain 515-520 nm, bagaimanapun dalam praktiknya hasil pengukuran yang memberikan peak maksimum itulah panjang gelombangnya yaitu sekitar panjang gelombang yang disebutkan diatas. (Molyneux, 2004).

2.8 Transesterifikasi Reaksi transesrifikasi merupakan proses reaksi penyempurnaan dari
pembuatan biodiesel. Pada reaktor transesterifikasi, minyak dan lemak yang belum tereaksi pada proses esterifikasi dikonversikan menjadi biodiesel pada tahap ini. Bahan baku tambahan berupa katalis basa dan metanol dimasukkan ke dalam reaktor ini. Kondisi reaktor dipertahankan pada tekanan 1 atm dan temperatur 70 C (Prihandana, et al., 2006).
Katalis yang digunakan adalah NaOH karena lebih murah dibanding KOH, dan volume katalis ditentukan berdasarkan metode titrasi yang kisaran 1,3-1,5% dari volume minyak. Lamanya waktu operasi tergantung pada mutu minyak. Minyak yang bermutu rendah membutuhkan waktu operasi yang relatif lebih lama (2 kali lipat) dibanding waktu yang dibutuhkan untuk memproses minyak bermutu standar (Prihandana, et al., 2006). Tahapan proses transesterifikasi adalah sebagai berikut:
Gambar 2.5 Tahapan proses transesterifikasi Faktor utama yang mempengaruhi rendemen ester yang dihasilkan pada reaksi transesterifikasi adalah rasio molar antara trigliserida dan alkohol, jenis katalis yang digunakan, suhu reaksi, waktu retensi, kandungan air, dan kandungan asam lemak bebas pada bahan baku yang dapat menghambat reaksi. Faktor lain

yang mempengaruhi adalah jenis alkohol yang digunakan pada reaksi. Pada proses transesterifikasi, selain menghasilkan biodiesel, hasil sampingannya adalah gliserol. Gliserol ini dapat dimanfaatkan dalam pembuatan sabun, dan berperan sebagai pelembab (moistourising) ( Hambali, et al., 2006).
2.9 Solvolitik Misellisasi Modifikasi proses penjemputan karotenoid melalui rute ester tengah
dikembangkan, dimana penjumputan karotenoid melalui rute ester lebih efektif dibandingkan rute CPO. Beberapa penelitian yang menggunakan rute ester antara lain ekstraksi pelarut atau solvolitik misellisasi (SM) (Lamria dan Siahaan, 2006). Prinsip SM adalah pemisahan dua komponen melalui pembentukan misella antara karotenoid dan ester oleh pelarut mayor dan minor. Pelarut mayor bersifat non polar dan pelarut minor bersifat polar. Beberapa penelitian melaporkan bahwa alkohol berantai pendek, seperti metanol dan etanol paling efektif berperan sebagai pelarut mayor (Rivani, et al, 2009).
Ketika pelarut mayor dicampurkan secara berlebih ke ester maka akan terbentuk misella karotenoid yang menyebar pada lapisan ester. Misela karotenoid terbentuk karena sebagian besar asam lemak dalam ester terlarut dalam pelarut mayor menjadi bagian hidrofilik. Sebagian asam lemak lainnya akan tetap berikatan dengan ester dan membentuk bagian hidrofobik, kemudian pelarut air ditambahkan untuk mengurangi kelarutan metanol terhadap ester. Akibatnya, misela karotenoid hidrofobik akan bergabung dan tersuspensi menjadi lapisan kaya karotenoid (Lamria dan Siahaan, 2006). Kelebihan proses SM dibanding proses lain adalah lebih sederhana, mudan dan efektif.

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil dan Mutu (Paham)
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, di Jalan Brigjend Katamso No. 51 Kampung Baru Medan.
3.2 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan tahapan
penelitian meliputi pengumpulan dan pengolahan serat mesokarp kelapa sawit, pembuatan ekstrak minyak serat mesokarp (MSM), ekstrak dari transesterifikasi dan solvolitik misellisasi, karakterisasi sampel serta penentuan aktivitas antioksidan dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH).
3.3 Alat dan Bahan 3.3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas laboratorium, alat pengepres, alat sentrifuse, alat fortex, kromatografi gas (GC14B, Shimadzu), magnetic stirer, mikro pipet, neraca analitik, perangkat alat ekstraksi, penangas air, oven, rotari evaporator, spektrofotometer UV-Vis (model 1700, Shimadzu), stopwatch. 3.3.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah limbah serat mesokarp kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). Bahan kimia berkualitas pro analisis yaitu

1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH), BF3, etanol, heksan, iso-oktan, kloroform, KOH, metanol, NaOH, NaCl, penoftalein (PP). Akuades, vitamin C dan CPO sebagai pembanding.
3.4 Penyiapan Bahan Penyiapan bahan penelitian meliputi pengambilan bahan serat mesokarp
kelapa sawit dan pengolahannya. 3.4.1 Pengambilan bahan penelitian
Pengambilan bahan penelitian dilakukan secara purposif, yaitu tanpa membandingkan dengan bahan dari tempat lain. Sampel yang digunakan adalah limbah serat mesokarp buah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang diambil dari pabrik kelapa sawit PTPN IV Pabatu di Serdang Bedagai, Sumatera Utara. 3.4.2 Pengolahan sampel
Limbah serat mesokarp buah kelapa sawit diambil dari hasil proses pengempaan (screw press) pada PKS lalu dikeringkan. Sampel ditimbang dan direndam dalam pelarut heksan.
3.5 Pembuatan Pereaksi 3.5.1 Pembuatan larutan DPPH 200 ppm (0,5 mM)
Sebanyak 19,7 mg DPPH ditimbang, kemudian dilarutkan dalam metanol hingga volume 100 ml (Zuhra, et al., 2008). 3.5.2 Pembuatan penoftalein 1%
Ditimbang 1 g serbuk PP, dimasukan dalam botol reagen 150 ml, kemudian ditambahkan etanol 95% sebanyak 100 ml (Ditjen POM, 1995).

3.5.3 Pembuatan larutan NaOH metanolik 0,5 N Ditimbang NaOH sebanyak 20 g kemudian masukan ke dalam labu
tentukur 1 L, lalu tambahkan metanol hingga larut sempurna dengan magnetik stirer dan cukupkan sampai garis tanda (Ditjen POM, 1995). 3.5.4 Pembuatan larutan NaCl jenuh
Ditimbang 36 g NaCl, masukkan ke dalam labu tentukur 100 ml lalu tambahkan akuades hingga garis tanda kemudian diaduk sampai jenuh sempurna (Ditjen POM, 1995). 3.5.5 Pembuatan KOH 0,1 N (larutan standar)
Ditimbang 0,1 g asam oksalat kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan tambahkan akuades 25 ml. Selanjutnya tambahkan 2-3 tetes indikator PP, lalu dititrasi dengan KOH 0,1 N yang akan distandarisasi sampai merah jambu (Ditjen POM, 1995).
Perhitungan: Normalitas larutan KOH
3.6 Pembuatan Ekstrak 3.6.1 Pembuatan ekstrak MSM
Pembuatan ekstrak MSM dilakukan berdasarkan metode yang telah dikembangkan oleh PPKS. Caranya: serat mesokarp yang telah dikeringkan sebanyak 20 kg dimaserasi dengan pelarut n-heksan (1:4) di dalam wadah berwarna gelap, ditutup dan disimpan pada suhu kamar selama 1 hari, sambil sering diaduk. Kemudian disaring, ampasnya dimaserasi kembali dengan n-heksan selama 1 hari menggunakan prosedur yang sama. Seluruh maserat dipekatkan dengan bantuan alat rotary evaporator pada temperature ±40 oC. Selanjutnya

disentrifuse dengan putaran 8 rpm untuk memisahkan minyak dengan lemak. Diambil lapisan atas dan diperoleh ekstrak MSM, kemudian dianalisa kadar karotennya secara spektrofotometer UV-Visibel (AOCS, 1989). 3.6.2 Pembuatan ekstrak dari transesterifikasi
Ekstrak MSM ditimbang sebanyak 1 L lalu dimasukan ke dalam labu cabang tiga, kemudian ditambahkan larutan NaOH metanolik. Campuran tersebut dihomogenkan dengan alat stirer selama 2 jam pada suhu 70-80oC. Setelah homogen dipindahkan ke dalam corong pisah, lalu didiamkan selama 24 jam sampai memisah. Ambil lapisan atas, kemudian dicuci dengan air hangat, pencucian dilakukan berulang-ulang sampai diperoleh lapisan bawah yang jernih. Diambil lapisan atas dan diperoleh ekstrak tansesterifikasi, kemudian di analisa kadar karotennya secara spektrofotometer UV-Visibel (AOCS, 1989). 3.6.3 Pembuatan ekstrak dari solvolitik misellisasi
Sebanyak 100 ml ekstrak dari transesterifikasi dimasukkan ke dalam beaker glass, lalu ditambahkan metanol sebanyak 500 ml, kemudian dihomogenkan dengan alat stirer selama 10 menit. Larutan tersebut dipindahkan ke dalam corong pisah, didiamkan selama 1 jam sampai memisah sempurna. Diambil lapisan bawah dan diperoleh ekstrak solvolitik misellisasi, kemudian di analisa kadar karotennya secara spektrofotometer UV-Visibel. Dilakukan pengulangan sampai tiga kali (Panjaitan, et al., 2009)
3.7 Pemeriksaan Karakteristik 3.7.1 Penetapan kadar air serat mesokarp
Serat mesokarp ditimbang sebanyak 10 g ke dalam wadah yang sudah ditara. Selanjutnya dipanaskan di dalam oven pada suhu 110°C selama 3 jam,

kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang setiap 30 menit pada periode pengeringan sampai diperoleh berat konstan. 3.7.2 Penetapan kadar air ekstrak MSM
Ekstrak MSM ditimbang sebanyak 5 g ke dalam cawan yang sudah ditara, kemudian panaskan dalam oven pada suhu 110°C selama 3 jam. Masukkan ke dalam desikator sampai dingin, lalu timbang. Ulangi pemanasan dalam oven selama 30 menit dengan metode yang sama sampai diperoleh selisih berat antara 2 penimbangan berturut-turut tidak melebihi 0,02% (SNI 01-2901-2006). 3.7.3 Analisa asam lemak bebas (ALB)
Ekstrak MSM ditimbang sebanyak 1 gr ke dalam erlenmeyer , kemudian ditambahkan alkohol netral (sudah distandarisasi) sebanyak 50 ml. Tambahkan indikator PP sebanyak 2-3 tetes, kemudian dititrasi dengan KOH yang distandarisasi sampai terbentuk warna merah muda yang bertahan selama lebih kurang 30 detik (SNI 01-2901-2006). 3.7.4 Penetapan komposisi asam lemak secara kromatografi gas (GC)
Ekstrak transesterifikasi ditimbang sebanyak 0,025 g ke dalam tabung, lalu tambahkan 1,5 ml NaOH metanolik 0,5 N. Dipanaskan dalam penangas air pada suhu 100ºC selama 5 menit, kemudian didinginkan pada suhu kamar, ditambahkan BF3 2 ml dan dihomogenkan dengan fortex selama 1-2 menit dan dipanaskan kembali pada suhu 100ºC selama 30 menit. Kemudian ditambahkan iso-oktan sebanyak 2,5 ml dan dihomogenkan dengan fortex kembali selama 1 menit. Tambahkan NaCl jenuh sebanyak 5 ml, ditutup kemudian dihomogenkan dengan fortex. Ambil lapisan atas dan dimasukkan dalam vial, kemudian diinjeksikan ke alat GC sebanyak 1 µl.

3.7.5 Analisa kadar karoten Ektrak MSM ditimbang 0,0400 g ke dalam labu tentukur 10 ml, lalu
ditambahkan heksan sampai garis tanda (LIB I). Kemudian diambil 100 µl LIB I ke dalam labu tentukur 10 ml dan diencerkan dengan heksan sampai garis tanda. Diukur absorbansinya pada panjang gelombang (λ) = 446 nm. Pekerjaan yang sama dilakukan terhadap ekstrak dari transesterifikasi dan solvolitik misellisasi (AOCS, 1989).

Kadar karoten

Keterangan:

V A 383 W

= Volume Karoten yang telah diencerkan = Asobrbansi = BM karoten dalam lemak = berat sampel yang ditimbang

3.8 Pengujian Kemampuan Antioksidan dengan Spektrofotometri Visibel

3.8.1 Prinsip metode penangkapan radikal bebas DPPH

Kemampuan sampel uji dalam meredam oksidasi DPPH (1-1-diphenyl-2-

picryl-hidrazyl) sebagai radikal bebas dalam larutan metanol (sehingga terjadi

peredaman warna ungu DPPH) dengan nilai IC50 (konsentrasi sampel uji yang mampu meredam radikal bebas sebesar 50%) digunakan sebagai parameter untuk

menentukan aktivitas antioksidan sampel uji tersebut (Sihombing, et al., 2009).

3.8.2 Pembuatan larutan blanko

Larutan DPPH 0,5 mM dipipet sebanyak 5 ml, kemudian dimasukkan ke

dalam labu tentukur 25 ml, dicukupkan volumenya dengan metanol sampai garis

tanda (konsentrasi 40 µg/ml) (Molyneux, 2004).

3.8.3 Penentuan panjang gelombang absorbansi maksimum DPPH

Larutan DPPH konsentrasi 40 ppm dihomogenkan dan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 515 - 520 nm (Marxen, et al., 2007). 3.8.4 Pembuatan larutan induk sampel uji
Sebanyak 250 µl sampel uji (kandungan karoten ekstrak MSM 3835 µg/ml; transesterifikasi 6514 µg/ml; solvolitik misellisasi 24400 µg/ml) dipipet kemudian dilarutkan dalam labu tentukur 25 ml dengan heksan, lalu volumenya dicukupkan dengan heksan sampai garis tanda (konsentrasi MSM 38,35 µg/ml; hasil transesterifikasi 65,14 µg/ml; hasil solvolitik misellisasi 244,00 µg/ml). 3.8.5 Pembuatan larutan uji 3.8.5.1 Pembuatan larutan uji ekstrak MSM
Larutan induk dipipet sebanyak 522 µl; 1040 µl; 1560 µl; 2080 µl, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 2, 4, 6 dan 8 µg/ml), ke dalam masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml kloroform, lalu dikocok. Setelah itu, ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 µg/ml) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan di tempat yang gelap selama 60 menit, lalu diukur serapannya pada spektrofotometer UV-Visibel. 3.8.5.2 Pembuatan larutan uji ekstrak dari transesterifikasi
Larutan induk dipipet sebanyak 307 µl; 614 µl; 921 µl; 1230 µl, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 2, 4, 6 dan 8 µg/ml), ke dalam masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 µg/ml) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan di tempat yang gelap selama 60 menit, lalu diukur serapannya pada spektrofotometer UV-Visibel .

3.8.5.3 Pembuatan larutan uji ekstrak dari solvolitik misellisasi Larutan induk dipipet sebanyak 82 µl; 164 µl; 246 µl; 328 µl, kemudian
dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 2, 4, 6 dan 8 µg/ml), ke dalam masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml kloroform, lalu dikocok. Setelah itu, ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 µg/ml) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan di tempat yang gelap selama 60 menit, lalu diukur serapannya pada spektrofotometer UV-Visibel. 3.8.6 Pembuatan larutan induk vitamin C
Sebanyak 10 mg vitamin C ditimbang kemudian dilarutkan ke dalam labu tentukur 10 ml dengan metanol lalu dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 1000 µg/ml). 3.8.7 Pembuatan larutan vitamin C
Larutan induk dipipet sebanyak 10 µl, 20 µl, 30 µl, 40 µl kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 1 µg/ml, 2 µg/ml, 3 µg/ml, 4 µg/ml), kemudian dalam masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 µg/ml) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan ditempat yang gelap selama 60 menit, lalu diukur serapannya pada spektrofotometer UVVisibel. 3.8.8 Pembuatan larutan induk CPO
Jumlah karoten CPO adalah 550 ppm. Sebanyak 2,5 ml CPO dipipet kemudian dilarutkan dalam labu tentukur 25 ml dengan heksan lalu volumenya dicukupkan dengan heksan sampai garis tanda (konsentrasi 55 µg/ml).

3.8.9 Pembuatan larutan CPO Larutan induk dipipet sebanyak 363 µl; 727 µl; 1090 µl; 1450 µl, kemudian
dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 2, 4, 6 dan 8 µg/ml), ke dalam masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml kloroform, lalu dikocok. Selanjutnya ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 µg/ml) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan ditempat yang gelap selama 60 menit, lalu diukur serapannya pada spektrofotometer UV-Visibel.
3.9 Penentuan Persen Peredaman Kemampuan antioksidan diukur sebagai penurunan absorbansi larutan
DPPH (peredaman warna ungu DPPH) akibat adanya penambahan larutan uji. Nilai absorbansi larutan DPPH sebelum dan sesudah penambahan larutan uji tersebut dihitung sebagai persen peredaman (Molyneux, 2004).

% Peredaman =

x 100%

Keterangan : Akontrol = Absorbansi larutan uji yang tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi larutan uji yang mengandung sampel

3.10 Penentuan nilai Inhibitory Concentration (IC50) Nilai IC50 merupakan bilangan yang menunjukkan konsentrasi sampel uji
dan pembanding (µg/ml) yang memberikan peredaman DPPH sebesar 50% (mampu menghambat/ meredam proses oksidasi sebsar 50%). Nilai 0% berarti tidak mempunyai aktivitas antioksidan, sedangkan nilai 100% berarti peredaman total dan pengujian perlu dilanjutkan dengan pengenceran larutan uji untuk

melihat batas konsentrasi aktivitasnya. Hasil perhitungan dimasukkan ke dalam persamaan regresi dengan konsentrasi ekstrak (µg/ml) sebagai absis (sumbu X) dan nilai % peredaman (antioksidan) sebagai ordinatnya (sumbu Y) (Molyneux, 2004). Rumus meentukan nilai IC50 :

Y=a+bX

Keterangan:

Y = variabel terikat (IC50) X = variabel bebas (Konsentrasi ekstrak) a = intersep b = koefisien regresi/slop

Secara spesifik, suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50 µg/ml, kuat untuk IC50 bernilai 50-100 µg/ml, sedang jika IC50 bernilai 100-150 µg/ml, dan lemah jika IC50 bernilai 151-200 µg/ml (Molyneux, 2004).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 1. Hasil analisis kandungan karoten secara spektrofotometri dari ektrak MSM,
transesterifikasi, dan solvolitik misellisasi berturut-turut adalah 3835 ppm, 6514 ppm, 24400 ppm. Selain karoten juga terdapat vitamin E dimana ekstrak MSM mengandung σ-tokotrienol 11,30%, γ-tokotrienol 41,21%, α-tokotrienol 11,71%, σ-tokopherol 6,61%, α-tokopherol 29,17%, pada ekstrak transesterifikasi mengandung σ-tokotrienol 60,86%, γ-tokotrienol 33,,21%, αtokotrienol 0%, σ-tokopherol 3,78%, α-tokopherol 2,15%, dan pada ekstrak solvolitik misellisasi mengandung σ-tokotrienol 36,15%, γ-tokotrienol 57,05%, α-tokotrienol 0%, σ-tokopherol 5,64%, α-tokopherol 1,02%, 2. Hasil aktivitas antioksidan vitamin C dan CPO lebih kuat dari ketiga ekstrak tersebut. Hasil aktivitas antioksidan yang dapat meredam radikal bebas DPPH dengan nilai IC50 pada ekstrak MSM, transesterifikasi dan solvolitik misellisasi secara berturut-turut sebesar 6,9 ppm; 16,12 ppm; dan 19,9 ppm sedangkan pada vitamin C dan CPO sebesar 1,29 ppm dan 4,6 ppm.
5.2 Saran Disarankan peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian mengenai
pemanfaatan ekstrak dari setiap proses ekstraksi sebagai bahan dasar pembuatan sediaan farmasi, misalnya kream dan gel serta melakukan analisa makroskopik dari serat mesokap buah kelapa sawit.

DAFTAR PUSTAKA
Antara. (2013). Produksi CPO Indonesia 2013 dibawah prediksi. (http://www.antaranews.com/berita/407357/produksi cpo indonesia 2013 di bawah prediksi). Diakses 15 januari 2014.
AOCS. (1989). Official Methods and Recommended Practices of the American Oil Chemists Society, 4th ed, American Oil Chemists Society. Champaign, IL.
Cahyadi, W. (2006). Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: PT Bumi Aksara, Indonesia. Hal 120-121.
Choo, Y. M., Yap, S. C., Ooi, C. K., Ma, A. N., Goh, S. H., dan Soon-Hock Ong, A. (1996). Recovered Oil from Palm Pressed Fibre. A Good Source of Natural Carotenoid, Vitamin E and Sterol. Journal Amer Oil Chem. Soc. 5(73): 599-602.
Depkes RI. (1979). Materia Medika Indonesia. Jilid III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal 155-171.
Depkes RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal 1, 9-12, 17.
Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal 567.
Fauzi, Y., Widyastuti, Y. E., Satyawibawa, I., Hartono, R. (2004). Kelapa Sawit. Bogor: Penebar Swadaya. Hal 22-50.
FAO. (2010). Food and Agricultural Commodities Production Statistics. Food and Agricultural Policy Research: Indonesia and Production Indices. (faostat.fao.org).
Fessenden, R. J., dan Fessenden, J. S. (1986). Organic Chemistry: Diterjemahkan oleh Pudjaatmakan, A.H. Kimia Organik. Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbir Erlangga. Hal 223-224.
Froment, G. F., dan Bischoff, K. B. (1979). Chemical Reactor Analysis and Design. Canada: John Wiley and Sons. Hal 31-32.
Gandjar, I. G., dan Rohman, A. (2012). Kimia Farmasi Analisis. Cetakan Kesembilan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 120, 164, 166, 222, 253.
Gubta, S. S., dan Ghosh, M. (2013). In Vitro Antioxidant Evaluation of Alfa and Beta Carotene, Isolated from Crude Palm Oil. Journal of Analytical Methods in Chemistry. (2013): 1-10.

Hai