Uji Toksisitas Subkronik Ekstrak Etanol Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Menggunakan Mencit Jantan

UJI TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL
DAUN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
MENGGUNAKAN MENCIT JANTAN

SKRIPSI

OLEH:
Yetri Wahyuni
NIM 131524025

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

UJI TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL
DAUN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
MENGGUNAKAN MENCIT JANTAN

SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh
Gelar Sarjana Farmasi pada Fakuktas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
YETRI WAHYUNI
NIM 131524025

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

PENGESAHAN SKRIPSI

UJI TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL DAUN
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
MENGGUNAKAN MENCIT JANTAN
OLEH:
YETRI WAHYUNI
NIM 131524025
Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi
Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
Pada Tanggal : 28 Agustus 2015
Disetujui Oleh:
Pembimbing I,

Panitia Penguji,

Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt.
NIP 195709091985112001

Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.
NIP195301011983031004

Pembimbing II,

Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt.
NIP 195709091985112001

Dr. Poppy Anjelisa Z. Hsb, M.Si., Apt.
NIP 197506102005012003

Drs. Saiful Bahri, M.S., Apt.
NIP 195208241983031001

Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt.
NIP 195304031983032001
Medan, September 2015
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Pejabat Dekan,

Dr. Masfria, M.S., Apt.
NIP 195707231986012001

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini,
serta shalawat beriring salam untuk Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri
tauladan dalam kehidupan. Skripsi ini disusun untuk melengkapi salah satu syarat
mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera
Utara, dengan judul “Uji Toksisitas Subkronik Ekstrak Etanol Daun Kelapa Sawit
(Elaeis guineensis Jacq.) Menggunakan Mencit Jantan ”.
Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada, Ibu Dr. Masfria, M.S., Apt. selaku
Pejabat Dekan Fakultas Farmasi USU Medan, yang telah memberikan fasilitas
sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan. Ibu Dr. Marline Nainggolan,
M.S., Aptselaku pembimbing I, serta Ibu Dr. Poppy Anjelisa Z. Hasibuan, M.Si.,
Apt. selaku pembimbing II yang telah membimbing dan memberikan petunjuk
serta saran-saran selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. Bapak Prof. Dr.
Urip Harahap, Apt., Bapak Drs. Saiful Bahri, M.S., Apt., dan Ibu Dra. Aswita
Hafni Lubis, M.si., Apt. selaku dosen pengujiyang telah memberikan kritik, saran
dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Bapak Drs. Ismail,
M.Si., Apt selaku pembimbing akademik dan Bapak, Ibu staf pengajar Fakultas
Farmasi USU yang telah mendidik selama perkuliahan.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus tiada terhingga kepada
Ayahanda Subakir Effendy dan Ibunda Istikharoh yang telah memberikan cinta

iv

dan kasih sayang yang tidak ternilai dengan apapun, pengorbanan baik materi
maupun motivasi serta doa yang tulus yang tidak pernah berhenti. Kakak- kakak
dan adikku tersayang serta seluruh keluarga yang selalu mendoakan dan
memberikan semangat.
Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada teman-teman
ekstensi farmasi angkatan 2013, dan sahabat-sahabatku yang telah memberikan
bantuan dan semangat tak terhingga.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih
jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis
menerima kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya, penulis
berharap semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Medan, Agustus 2015
Penulis,

Yetri Wahyuni
NIM 131524025

v

UJI TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL
DAUN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
MENGGUNAKAN MENCIT JANTAN
ABSTRAK
Penggunaan tanaman berkhasiat obat telah lama dikenal dan banyak
digunakan secara turun temurun oleh masyarakat karena dinilai lebih aman
dibandingkan dengan obat modern.Daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
dapat digunakan sebagai obat penyembuhan luka, antimikroba, antioksidan,
antidiabetes, antihipertensi dan hepatoprotektor. Penelitian uji toksisitas subkronik
daun kelapa sawit belum diketahui.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui keamanan dari penggunaan daun kelapa sawit dalam jangka waktu
tertentu.
Serbuk simplisia dimaserasi dengan pelarut etanol 80% kemudian
diuapkan denganrotary evaporator40 – 50oC dandilakukan freeze dryer -40oC
selanjutnya ekstrak yang diperoleh diuji toksisitas subkronik terhadap kelompok
kontrol dan uji selama 28 hari, sedangkan untuk kelompok uji reversibel 42 hari.
Penelitian ini menggunakan mencit sebanyak 30 ekor yang dibagi menjadi 6
kelompok, yaitu kelompok (Na CMC 0,5%), kelompok uji diberi ekstrak etanol
daun kelapa sawit dengan variasi dosis 500, 1000, 2000 mg/kg BB, kelompok
satelit kontrol (Na CMC 0,5%), dan kelompok satelit dosis tinggi (dosis 2000
mg/kg BB). Pada akhir pengujian diukur kadar enzim ALT (Alanin
Aminotransferase)dan diamati gambaran histopatologi hati mencit.
Hasil uji toksisitas subkronik menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun
kelapa sawit sampai dosis 2000 mg/kg BB tidak menyebabkan kematian, tidak
mempengaruhi perilaku fisik, jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi,
berat badan, berat organ relatif, serta makropatologi hati. Hasil pengamatan enzim
ALT (Alanin Aminotransferase)dan histopatologi hati ekstrak etanol daun kelapa
sawit dosis 500 mg/kg BB tidak meningkatkan kadar enzimALT (Alanin
Aminotransferase)dengan nilai p = 0,123 (p > 0,05) dan tidak menyebabkan
kerusakan pada sel hati, sedangkan dosis 1000 dan 2000 mg/kg BB meningkatkan
kadar enzim Alanin Aminotransferase (ALT) dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05), serta
menyebabkan kerusakan pada sel hati yaitu terjadi kongesti pada vena sentral juga
sinusoid dan adanya sel nekrosis berupa kariopiknosis. Tetapi efek toksik yang
terjadi bersifat reversibel setelah pemberian ekstrak dihentikan.Ekstrak etanol
daun kelapa sawit (EEDKS) aman digunakan pada dosis 500 mg/kg BB.

Kata Kunci: Daun kelapa sawit, uji toksisitas subkronik mencit

vi

THE SUBCHRONIC TOXICITY TEST OF ETHANOLIC
EXTRACTPALMLEAVES(Elaeis guineensis Jacq.)
USING MALE MICE
ABSTRACT

Medicinal plants have been known and used mostly by people and they are
more safe than modern medicine. One of them is palm leaves which is used as an
injury healing, antimicrobial, antioxidant, antidiabetic, antihypertensive and
hepatoprotector. However, subchronic toxicity of palm leaves haven’tbeen
known.The purpose ofthis research wasto determine the safetyofpalm leavesat a
certain periode.
Simplicia of palm leaves was macerated with ethanol 80% and evaporated
using rotary evaporator at temperature 40 – 50oC and freeze dried at temperature
-40oC then the extract was tested to kontrol group for 28 days and to satellite
group for 42 days to know the subchronic toxicity. This research was using 30
mice which were divided into 6 treatment groups, they are the kontrol group
(group 1) (Na CMC 0.5%), group 2,3,4 (ethanol extract of palm leaves dose 500,
1000, 2000 mg/kg BW), satellite group consist to group 5 (Na CMC 0.5%),and
group 6 (ethanol extract of oil palm leaves high dose 2000 mg/kg BW). At the
final test, the serum ALT (Alanine Aminotransferase) level was measured and the
liver histopathology of mice was observed.
The result of Subchronic toxicity showed that the ethanol extract of palm
leaves dose until 2000 mg/kg bw didn’t lead mortality, didn’t affect the physical
behavior, the total consumed food and drink, body weight, relative organ weight
and liver macropathology of mice. The result showed thatethanol extract of palm
leaves didn’t affect ALT (Alanine Aminotransferase) levels at dose 500 mg/kg
BW with p = 0.123 (p > 0.05) and didn’t lead the demage of liver cells. While the
ethanol extract of palm leaves dose 1000 and 2000 mg/kg BW with a value of p =
0.000 (p < 0.05) lead the demage of liver cells central venous and sinusoid
bleeding and liver necrosis. But these effect were reversible after the extract
discontinued. Ethanol extract of palm leaves is safe to be used at 500 mg/kg BW.

Keywords: Oil palm leaves, subchronic toxicity

vii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................

i

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................

ii

KATA PENGANTAR ............................................................................

iii

ABSTRAK ...............................................................................................

v

ABSTRACT .............................................................................................

vi

DAFTAR ISI ............................................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR ...............................................................................

xi

DAFTAR TABEL ....................................................................................

xii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................

xiii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................

1

1.1 Latar Belakang ......................................................................

1

1.2 Perumusan Masalah ...............................................................

3

1.3 Hipotesis ................................................................................

3

1.4 Tujuan Penelitian ...................................................................

4

1.5 Manfaat Penelitian .................................................................

4

1.6 Kerangka Pikir Penelitian ......................................................

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................

6

2.1 Uraian Tumbuhan Kelapa Sawit ..........................................

6

2.1.1 Habitat .........................................................................

6

2.1.2 Morfologi ....................................................................

6

2.1.3 Nama daerah ..............................................................

7

viii

2.1.4 Sistematika tumbuhan .................................................

7

2.1.5 Kandungan kimia .........................................................

7

2.1.6 Khasiat tumbuhan .........................................................

7

2.2 Metode Ekstraksi ...................................................................

8

2.3 Toksisitas ..............................................................................

10

2.3.1 Toksisitas umum .........................................................

10

2.3.1.1 Toksisitas akut ................................................

10

2.3.1.2 Toksisitas subkronik .......................................

12

2.3.1.3 Toksisitas kronik .............................................

13

2.3.2 Toksisitas khusus .........................................................

13

2.3.2.1 Uji teratogenik ................................................

13

2.3.2.2 Uji mutagenik .................................................

14

2.3.2.3 Uji karsinogenik ..............................................

14

2.4 Hati ......................................................................................

14

2.4.1 Anatomi hati ...............................................................

14

2.4.2 Gambaran histopatologi hati .......................................

15

2.4.3 Pemeriksaan fungsi hati ..............................................

17

BAB III METODE PENELITIAN............................................................

18

3.1 Alat dan Bahan .....................................................................

18

3.1.1 Alat-alat .....................................................................

18

3.1.2 Bahan-bahan ..............................................................

18

3.2 Penyiapan Sampel ...............................................................

19

3.2.1 Pengumpulan bahan tumbuhan ..................................

19

3.2.2 Identifikasi tumbuhan ................................................

19

ix

3.2.3 Pengolahan bahan tumbuhan .....................................

19

3.3 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Kelapa Sawit .................

19

3.4 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol
Daun Kelapa Sawit ............................................................

20

3.4.1 Penetapan kadar air ....................................................

20

3.4.2 Penetapan kadar sari yang larut dalam air ................

21

3.4.3 Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol ...........

21

3.4.4 Penetapan kadar abu total .........................................

21

3.4.5 Penetapan kadar abu tidak larut dalam asam ............

22

3.4.6 Pemeriksaan karakterisasi ekstrak etanol daun
kelapa sawit ..............................................................

22

3.5 Pengujian Efek Toksisitas Subkronik .................................

22

3.5.1 Pemeriksaan fungsi hati .............................................

24

3.5.2 Pengamatan makropatologi organ ............................

24

3.5.3 Penimbangan organ ...................................................

24

3.5.4 Pemeriksaan histopatologi ........................................

24

3.6 Analisis Data .......................................................................

26

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................

27

4.1 Hasil Identifikasi Sampel .....................................................

27

4.2 Hasil Ekstraksi Serbuk Daun Kelapa Sawit ........................

27

4.3 Hasil Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun
Kelapa Sawit ......................................................................

27

4.4 Uji Toksisitas Subkronik Ekstrak Etanol Daun Kelapa
Sawit (EEDKS) ..................................................................

28

4.4.1 Hasil pengamatan terhadap perilaku fisik hewan ......

28

4.4.2 Hasil pengamatan konsumsi makanan dan

x

minuman hewan uji setelah pemberian EEDKS ..........

29

4.3.3 Hasil pengamatan berat badan mencit setelah
pemberian EEDKS ....................................................

31

4.5 Hasil Pengamatan Kadar ALT (Alanin Aminotransferase)
Mencit .................................................................................

32

4.6 Hasil Penimbangan Bobot Relatif Organ Hati, Jantung,
dan Ginjal Mencit ..................................................................

34

4.7 Hasil Pengamatan Makropatologi Organ Hati ....................

35

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................

40

4.1 Kesimpulan ..........................................................................

40

4.2 Saran ....................................................................................

40

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................

41

LAMPIRAN .............................................................................................

45

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1.1

Kerangka pikir penelitian ...........................................................

5

2.1

Gambar skematis struktur hati ..................................................

16

4.1

Grafik kadar ALT mencit uji toksisitas subkronik EEDKS ......

33

4.2

Makropatologi hati mencit yang diberi Na-CMC 0,5% dan
EEDKS ......................................................................................

36

Hasil gambaran histopatologi hati mencit yang diberi NaCMC 0,5% ................................................................................

36

Hasil gambaran histopatologi hati mencit yang diberi EEDKS
dosis 500 dan 1000 mg/kg BB ..................................................

37

4.3

4.4

4.5

Hasil gambaran histopatologi hati mencit yang diberi EEDKS
dosis 2000 mg/kg BB ................................................................

xii

37

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1 Kategori penggolongan sediaan uji ..............................................

11

4.1 Hasil karakterisasi simplisia dan ekstrak ......................................

27

4.2 Hasil pengamatan gejala toksik terhadap perilaku fisik hewan .....

29

4.3 Hasil konsumsi makanan rata-rata hewan uji setelah diberi
EEDKS .........................................................................................

30

4.4 Hasil konsumsi minuman rata-rata hewan uji setelah diberi
EEDKS .........................................................................................

30

4.5 Hasil berat badan mencit rata-rata setelah diberikan EEDKS ......

31

4.6 Hasil pengukuran kadar ALT rata-rata mencit setelah diberikan
EEDKS ...........................................................................................

32

4.7 Hasil penimbangan bobot relatif organ hati, jantung, dan ginjal
mencit ..............................................................................................

34

4.8

35

Hasil pengamatan makropatologi organ hati mencit ...................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran
1.

Halaman

Hasil identifikasi tumbuhan kelapa sawit (Elaeis guineensis
Jacq.) ..........................................................................................

45

2.

Tumbuhan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) .................

46

3.

Gambar helai daunkelapa sawit dan simplisia daun kelapa
sawit ...........................................................................................

47

Gambarkandang mencit yang dilengkapi tempat makan dan
minum ........................................................................................

48

5.

Gambar hati setelah dipotong .................................................

48

6.

Bagan alur penelitian ..............................................................

49

7.

Bagan pengerjaan uji toksisitas subkronik pada mencit .........

50

8.
Perhitungan volume pemberian EEDKS dosis 500, 1000,
dan 2000 mg/kg BB .........................................................................

51

4.

9.

Perhitungan hasil karakterisasi serbuk simplisia dan ekstrak
etanoldaunkelapasawit ............................................................

52

Rekomendasi persetujuan etik penelitian kesehatan ...............

57

Hasil pemeriksaan kadarALT(Alanin Aminotransferase )/
SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transferase) .....................................

58

10.
11.

12.

Cara kerja Reagen kit ALT .....................................................

59

13.

Hasil analisis statistik jumlah konsumsi makanan mencit
pada minggu ke-1,2,3,4,5,6 .....................................................

61

Hasil analisis statistik jumlah konsumsi minuman mencit
pada minggu ke-1,2,3,4,5,6 .....................................................

64

Hasil analisis statistik berat badan mencit pada hari
ke- 1,7,14,21,28,35,42 ..............................................................

67

Hasil analisis statistik kadar ALT mencit ...............................

70

14.

15.

16.

xiv

17.

Hasil analisis statistik berat relatif organ hati, ginjal, dan
Jantung ...................................................................................

71

HasilHasil pengamatan data konsumsi makanan dan
minuman ....................................................................................

73

19.

Hasil pengamatan data berat badan mencit ...........................

83

20.

Hasilpengamatan data bobot organ relatif .............................

90

21.

Gambar makropatologi hati mencit .......................................

92

18.

xv

UJI TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL
DAUN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
MENGGUNAKAN MENCIT JANTAN
ABSTRAK
Penggunaan tanaman berkhasiat obat telah lama dikenal dan banyak
digunakan secara turun temurun oleh masyarakat karena dinilai lebih aman
dibandingkan dengan obat modern.Daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
dapat digunakan sebagai obat penyembuhan luka, antimikroba, antioksidan,
antidiabetes, antihipertensi dan hepatoprotektor. Penelitian uji toksisitas subkronik
daun kelapa sawit belum diketahui.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui keamanan dari penggunaan daun kelapa sawit dalam jangka waktu
tertentu.
Serbuk simplisia dimaserasi dengan pelarut etanol 80% kemudian
diuapkan denganrotary evaporator40 – 50oC dandilakukan freeze dryer -40oC
selanjutnya ekstrak yang diperoleh diuji toksisitas subkronik terhadap kelompok
kontrol dan uji selama 28 hari, sedangkan untuk kelompok uji reversibel 42 hari.
Penelitian ini menggunakan mencit sebanyak 30 ekor yang dibagi menjadi 6
kelompok, yaitu kelompok (Na CMC 0,5%), kelompok uji diberi ekstrak etanol
daun kelapa sawit dengan variasi dosis 500, 1000, 2000 mg/kg BB, kelompok
satelit kontrol (Na CMC 0,5%), dan kelompok satelit dosis tinggi (dosis 2000
mg/kg BB). Pada akhir pengujian diukur kadar enzim ALT (Alanin
Aminotransferase)dan diamati gambaran histopatologi hati mencit.
Hasil uji toksisitas subkronik menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun
kelapa sawit sampai dosis 2000 mg/kg BB tidak menyebabkan kematian, tidak
mempengaruhi perilaku fisik, jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi,
berat badan, berat organ relatif, serta makropatologi hati. Hasil pengamatan enzim
ALT (Alanin Aminotransferase)dan histopatologi hati ekstrak etanol daun kelapa
sawit dosis 500 mg/kg BB tidak meningkatkan kadar enzimALT (Alanin
Aminotransferase)dengan nilai p = 0,123 (p > 0,05) dan tidak menyebabkan
kerusakan pada sel hati, sedangkan dosis 1000 dan 2000 mg/kg BB meningkatkan
kadar enzim Alanin Aminotransferase (ALT) dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05), serta
menyebabkan kerusakan pada sel hati yaitu terjadi kongesti pada vena sentral juga
sinusoid dan adanya sel nekrosis berupa kariopiknosis. Tetapi efek toksik yang
terjadi bersifat reversibel setelah pemberian ekstrak dihentikan.Ekstrak etanol
daun kelapa sawit (EEDKS) aman digunakan pada dosis 500 mg/kg BB.

Kata Kunci: Daun kelapa sawit, uji toksisitas subkronik mencit

vi

THE SUBCHRONIC TOXICITY TEST OF ETHANOLIC
EXTRACTPALMLEAVES(Elaeis guineensis Jacq.)
USING MALE MICE
ABSTRACT

Medicinal plants have been known and used mostly by people and they are
more safe than modern medicine. One of them is palm leaves which is used as an
injury healing, antimicrobial, antioxidant, antidiabetic, antihypertensive and
hepatoprotector. However, subchronic toxicity of palm leaves haven’tbeen
known.The purpose ofthis research wasto determine the safetyofpalm leavesat a
certain periode.
Simplicia of palm leaves was macerated with ethanol 80% and evaporated
using rotary evaporator at temperature 40 – 50oC and freeze dried at temperature
-40oC then the extract was tested to kontrol group for 28 days and to satellite
group for 42 days to know the subchronic toxicity. This research was using 30
mice which were divided into 6 treatment groups, they are the kontrol group
(group 1) (Na CMC 0.5%), group 2,3,4 (ethanol extract of palm leaves dose 500,
1000, 2000 mg/kg BW), satellite group consist to group 5 (Na CMC 0.5%),and
group 6 (ethanol extract of oil palm leaves high dose 2000 mg/kg BW). At the
final test, the serum ALT (Alanine Aminotransferase) level was measured and the
liver histopathology of mice was observed.
The result of Subchronic toxicity showed that the ethanol extract of palm
leaves dose until 2000 mg/kg bw didn’t lead mortality, didn’t affect the physical
behavior, the total consumed food and drink, body weight, relative organ weight
and liver macropathology of mice. The result showed thatethanol extract of palm
leaves didn’t affect ALT (Alanine Aminotransferase) levels at dose 500 mg/kg
BW with p = 0.123 (p > 0.05) and didn’t lead the demage of liver cells. While the
ethanol extract of palm leaves dose 1000 and 2000 mg/kg BW with a value of p =
0.000 (p < 0.05) lead the demage of liver cells central venous and sinusoid
bleeding and liver necrosis. But these effect were reversible after the extract
discontinued. Ethanol extract of palm leaves is safe to be used at 500 mg/kg BW.

Keywords: Oil palm leaves, subchronic toxicity

vii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menurut perkiraan badan kesehatan dunia 80% dari enam miliar penduduk

di dunia telah menggunakan obat-obatan berasal dari hewan dan tumbuhan
(WHO, 2003).Obat tradisional dapat digunakan dalam pemeliharaan kesehatan,
pencegahan dan pengobatan penyakit terutama untuk penyakit kronis (WHO,
2013).Toksisitas adalah kemampuan suatu zat kimia dalam menimbulkan
kerusakan pada organisme baik saat digunakan atau saat berada dalam
lingkungan.Secara umum toksisitas dibedakan menjadi toksisitas akut, sub kronik
dan kronik (Priyanto, 2009).
Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat adalah daun
kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), family Arecaceae yaitu sebagai obat
penyembuhan luka (Hasibuan, 2014), antioksidan dan antimikroba (Yin, dkk.,
2013; Sasidharan, dkk., 2009), antidiabetes (Tan, dkk., 2011; Al-Sharafi dan AlDawah, 2013), antihipertensi (Juliana, 2011),dan hepatoprotektor (Vijayarathna,
dkk., 2009). Daun kelapa sawit mengandung senyawa polifenol yang tinggi
(terutama flavonoid, karotenoid, dan katekhin) (Runnie, dkk., 2003). Dan
alkaloid,

flavonoid,

glikosida,

saponin,

steroid/triterpenoid

dan

tanin

(Sreenivasan, 2010; Bate’e, 2014; Hasibuan, 2014).Pengujian tentang toksisitas
perlu dilakukan agar penggunaannya aman. Pengujian toksisitas akut ekstrak
etanol daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang menyatakan tidak
memberikan efek toksik (Anyanji, dkk., 2013), dan dinilai aman untuk

1

penggunaan komersial (Syahmi, dkk., 2010). Ekstrak etanol daun kelapa sawit
telah dilakukan uji toksisitas akut (Anyanji, dkk., 2013) sehingga pada penelitian
ini dilakukan uji toksisitas subkronik.
Uji toksisitas subkronik merupakan suatu pengujian untuk mendeteksi efek
toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji dengan dosis berulang yang
diberikan secara oral pada hewan uji selama 28 atau 90 hari (OECD, 2008).
Prinsip uji toksisitas subkronik yaitu, sediaan uji dalam beberapa tingkat dosis
diberikan setiap hari pada beberapa kelompok hewan uji.Selama waktu pemberian
sediaan uji, hewan harus diamati setiap hari untuk menentukan adanya toksisitas
(BPOM RI, 2011). Tujuan uji toksisitas subkronik adalah untuk memperoleh
informasi adanya efek toksik setelah pemaparan sediaan uji untuk mengetahui
dosis yang tidak menimbulkan efek toksik, untuk memperoleh informasi adanya
efek toksik zat yang tidak terdeteksi pada uji toksisitas akut (OECD, 2008), selain
itu uji tersebut digunakan untuk mengetahui adanya efek toksisitas setelah
pemberian sediaan uji secara berulang dalam jangka waktu tertentu, dan
mempelajari adanya efek reversibilitas zat tersebut (BPOM RI, 2011).
Salah satu parameter pengamatan uji toksisitas subkronik adalah
pengamatan fungsi hati dengan parameter biokimia pemeriksaan terhadap kadar
ALT (Alanin Aminotransferase ) (Casarett dan Doull’s, 2008). Hati adalah organ
terbesar dan secara metabolisme paling kompleks di dalam tubuh.Organ ini
terlibat dalam metabolisme zat makanan serta sebagian besar obat dan toksin.Hati
merupakan organ utama tempat biotransformasi zat-zat kimia dan hati juga
memiliki kapasitas yang lebih tinggi untuk mengikat zat-zat kimia (Lu, 1994).

2

Berdasarkan uraian di atas, maka penting dilakukan uji toksisitas subkronik
terhadap ekstrak etanol daun kelapa sawit (EEDKS).Daun kelapa sawit
mempunyai potensi cukup tinggi untuk dijadikan sebagai pelayanan farmasi
sehingga perlu dibuktikan keamanannya.Oleh karena itu perlu dilakukan
pengujian dari daun kelapa sawit berupa uji toksisitas subkronik.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut:
a.

apakah ekstrak etanol daun kelapa sawit dapat menyebabkan gejala toksik
mencit jantan?

b.

apakahekstrak etanol daun kelapa sawit dapat meningkatkan kadar enzim
ALT (Alanin Aminotransferase) mencit jantan?

c.

apakahekstrak etanol daun kelapa sawitmenyebabkan efek toksik pada organ
hati mencit jantan?

d.

apakah ekstrak etanol daun kelapa sawitbersifat reversibel setelah pemberian
ekstrak dihentikan pada mencit jantan?

1.3 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian ini
adalah:
a.

ekstrak etanol daun kelapa sawit menyebabkan gejala toksik mencit jantan.

b.

ekstrak etanol daun kelapa sawit meningkatkan kadar enzim ALT (Alanin
Aminotransferase ) mencit jantan.

3

c.

ekstrak etanol daun kelapa sawit menyebabkan efek toksik pada organ hati
mencit jantan.

d.

ekstrak etanol daun kelapa sawit bersifat reversibel setelah pemberian ekstrak
dihentikan.

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek toksik ekstrak etanol
daun kelapa sawit setelah pemberian selama 28 hari pada mencit, serta untuk
mengetahui efek reversibel setelah pemberian ekstrak dihentikan.

1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dapat memberikan
informasi tentang keamanan penggunaan ekstrak etanol daun kelapa sawit.

1.6 Kerangka Pikir Penelitian
Penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu ekstrak etanol daun kelapa sawit
dosis 500, 1000, 2000 mg/kg BB dan waktu pengujian sebagai variabel bebas,
efek toksik, kadar ALT, makropatologi organ, gambaran histopatologi hati
sebagai variabel terikat, parameternya meliputi kematian, perilaku fisik, konsumsi
makan dan minum, berat organ relatif, kadar mencit normal, warna, permukaan,
konsistensi, kariolisis, karioreksis dan kariopiknosis. Kerangka pikir penelitian
dapat dilihat pada Gambar 1.1

4

Variabel bebas

Variabel terikat

Simplisia daun
kelapa sawit
(Elaeis
guineensis
Jacq.)
Efek toksik

1. Kematian hewan
2. Perilaku fisik
3. Konsumsi makan
dan minum
4. Berat organ relatif

Kadar ALT

Kadar mencit normal
17 – 77 U/L

Ekstrak etanol
daun kelapa
sawit
(EEDKS)

Kelompok kontrol :
- Na CMC 0,5 %
Kelompok uji
- Dosis 500 mg/kg BB
- Dosis 1000 mg/kg BB
- Dosis 2000 mg/kg BB
Kelompok satelit
- Na CMC 0,5 %
(Satelit kontrol)
- Dosis 2000 mg/kg BB
(Satelit dosis tinggi)

Parameter

Makropatologi
organ

Waktu pengujian
28 hari dan 42 hari

Gambaran
histopatologi
hati

Gambar 1.1 Kerangka pikir penelitian.

5

1. Warna
2. Permukaan
3. Konsistensi

1. Kariolisis
2. Kariopiknosis
3. Karioreksis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan Kelapa Sawit
2.1.1 Habitat
Habitat asli kelapa sawit adalah di hutan dekat dengan sungai di Guinea
Savanna Afrika Barat yang kering.Tumbuhan ini dapat tumbuh baik pada daerah
di luar habitat aslinya.Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur
Sumatra, Jawa dan Sulawesi (Adlin, 2008).
2.1.2. Morfologi
Ciri-ciri morfologi tumbuhan kelapa sawit yaitu merupakan pohon yang
tingginya dapat mencapai 24 meter, mempunyai akar serabut.Daunnya tersusun
majemuk menyirip, berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda.
Batang tanaman diselimuti berkas pelepah hingga umur 12 tahun dan kemudian
pelepah yang menggering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip
dengan kelapa (Sastrosayono, 2008). Daun kelapa sawit terdiri dari beberapa
bagian yaitu kumpulan anak daun (leaflets) yang mempunyai helaian (lamina) dan
tulang anak daun (midrib), rachis yang merupakan tempat anak daun melekat,
tangkai daun (petiole) yang merupakan bagian antara daun dan batang, selundang
daun (sheath) yang berfungsi sebagai pelindung dari kuncup dan memberi
kekuatan pada batang. Bunga kelapa sawit merupakan bunga yang majemuk yang
terdiri dari kumpulan spikelet dan tersusun dalam infloresen yang berbentuk spiral
(Pahan, 2006).

6

2.1.3. Nama daerah
Nama daerah dari tumbuhan kelapa sawit adalah afrikaanse oliepalm
(Belanda), oelpalme (Jerman), oilpalm (Inggris), kelapa bali (Melayu), salak
minyak (Sunda), dan kelapa sawit (Jawa) (Heyne, 1987).
2.1.4Sistematika tumbuhan
Menurut herbarium medanense (2013), sistematika kelapa sawit sebagai
berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Arecales

Famili

: Arecaceae

Genus

: Elaeis

Spesies

: Elaeis guineensis Jacq.

Nama lokal

: Kelapa sawit

2.1.5 Kandungan kimia
Daun

kelapa

sawit

mengandung

alkaloid,

flavonoid,

glikosida,

steroid/triterpenoid, saponin dan tanin (Sreenivasan, 2010; Bate’e, 2014;
Hasibuan, 2014).
2.1.6 Khasiat tumbuhan
Semua bagian tumbuhan ini memiliki manfaat, daunnya merupakan obat
tradisional untuk kanker, sakit kepala dan rematik.Ekstrak daun dan jus dari
tangkai daun muda dapat mengobati luka (Balick, 1996).Daging buahnya
digunakan untuk memasak, membuat sabun, krim, dan kosmetik lainnya.Kayunya

7

sebagai bahan bangunan rumah, getah digunakan sebagai pencahar (Chong, dkk.,
2008). Akar digunakan untuk mengobati sakit kepala di Nigeria.Bubuk akar
ditambahkan keminuman sebagai obat untuk bronkitis (Sreenivasan, 2010). Daun
mempunyai senyawa polifenol tinggi yang efektif sebagai antioksidan (Yin, dkk.,
2013; Runnie, dkk., 2003).

2.2 Metode Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Dengan
diketahui senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan
pelarut dengan cara ekstraksi yang tepat (Depkes RI, 1995).Ekstrak adalah
sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau
hewani menurut cara dan pelarut yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari
langsung (Depkes RI, 1979).
Menurut Departemen Kesehatan RI (2000), beberapa metode ekstraksi
dengan menggunakan pelarut yaitu:
a. Cara dingin
i. Maserasi adalah proses penyarian simplisia dengan cara perendaman
menggunakan pelarut dengan sesekali pengadukan pada suhu kamar.
Penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan terhadap maserat pertama
dan seterusnya disebut remaserasi. Maserasi dilakukan dengan cara masukkan
10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok
ke dalam bejana, tuangi dengan 75 bagian cairan penyari, tutup, biarkan selama
5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, serkai, peras, cuci ampas

8

dengan cairan penyari secukupnya sehingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan
ke dalam bejana tertutup, biarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya
selama 2 hari. Enap tuangkan dan saring (Depkes RI, 1979).
ii.

Perkolasi adalah proses penyarian simplisia dengan pelarut yang selalu

baru sampai terjadi penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada
temperatur kamar. Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan,
tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/ penampungan
ekstrak) terus menerus sampai diperoleh perkolat yang jumlahnya 1 – 5 kali
bahan.
b. Cara panas
i. Refluks adalah proses penyarian simplisia dengan menggunakan alat pada
temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas
yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
ii. Digesti adalah proses penyarian dengan pengadukan kontinu pada temperatur
lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada
temperatur 40 – 50oC.
iii. Sokletasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut yang selalu
baru, dilakukan menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinu
dengan pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
iv. Infundasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada
temperatur 90oC selama 15 menit.
v. Dekoktasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada
temperatur 90oC selama 30 menit.

9

2.3 Toksisitas
Toksisitas adalah kemampuan suatu zat kimia dalam menimbulkan
kerusakan pada organisme baik saat digunakan atau saat berada dalam lingkungan
(Priyanto, 2009).Uji toksisitas adalah suatu uji untuk mendeteksi efek toksik suatu
zat pada sistem biologi dan untuk memperoleh data dosis-respon yang khas dari
sediaan uji.Data yang diperoleh dapat digunakan untuk memberi informasi
mengenai derajatbahaya sediaan uji tersebut bila terjadi pemaparan pada manusia,
sehingga dapat ditentukan dosis penggunaannya demi keamanan manusia (OECD,
2008).
Obat sebelum dipasarkan atau digunakan harus menjalani serangkaian uji
untuk memastikan efektivitas dan keamanannya (Priyanto, 2009).Umumnya uji
toksisitas terdiri atas dua jenis, yaitu toksisitas umum (akut, subkronik dan kronik)
dan toksisitas khusus (teratogenik, mutagenik dan karsinogenik) (Priyanto, 2009;
Lu, 1994).
2.3.1 Toksisitas umum
2.3.1.1 Toksisitas akut
Uji toksisitas akut adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek toksik
yang muncul dalam waktu singkat setelah pemberian sediaan uji yang diberikan
secara oral dalam dosis tunggal, atau dosis berulang yang diberikan dalam waktu
24 jam (BPOM RI, 2011).
Prinsip uji toksisitas akut oral yaitu, sediaan uji dalam beberapa tingkat
dosis yang diberikan pada beberapa kelompok hewan uji kemudian dilakukan
pengamatan terhadap adanya efek toksik dan kematian sebagai parameter akhir
(BPOM RI, 2011).

10

Tujuan toksisitas akut adalah untuk mendeteksi toksisitas dari suatu zat,
untuk memperoleh informasi awal yang dapat digunakan untuk merancang uji
toksisitas selanjutnya serta untuk menentukan LD50(potensi ketoksikan) akut dari
suatu senyawa (Priyanto, 2009; BPOM RI, 2011).
LD50 didefinisikan sebagai “dosis tunggal suatu bahan yang secara statistik
diharapkan akan membunuh 50% hewan coba”.Pengujian ini juga dapat
menunjukkan organ sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik spesifiknya,
serta memberikan petunjuk tentang dosis yang sebaiknya digunakan dalam
pengujian yang lebih lama (Lu, 1994).LD50 adalah dosis perkiraan ketika suatu zat
diberikan langsung kepada hewan uji, menghasilkan kematian 50% dari populasi
di bawah kondisi yang ditentukan dari tes (Hudgson dan Levi, 2004).
Nilai LD50 sangat berguna untuk hal-hal sebagai berikut:
a. Klasifikasi lazim zat kimia sesuai dengan toksisitas relatifnya yang dapat
dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Kategori penggolongan sediaan uji
Kategori

LD50
5 mg/kg atau kurang
5-50 mg/kg
50-500 mg/kg
0,5-5 g/kg
5-15 g/kg
>15 g/kg

Supertoksik
Amat sangat toksik
Sangat toksik
Toksik sedang
Toksik ringan
Praktis tidak toksik

b. Evaluasi dampak keracunan yang tidak sengaja; perencanaan penelitian
toksisitas subkronik dan kronik pada hewan, memberikan informasi tentang
mekanisme toksisitas, pengaruh umur, seks, faktor lingkungan dan variasi
respons antar spesies dan antar strain hewan; memberikan informasi tentang
reaktivitas suatu populasi hewan (Lu, 1994).

11

2.3.1.2 Toksisitas subkronik
Uji toksisitas subkronik adalah suatu pengujian untuk mengetahui efek
toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji dengan dosis yang diberikan
secara oral pada hewan uji, biasanya setiap hari atau lima hari dalam seminggu
selama 28 hari (BPOM RI, 2011).
Tujuan toksisitas subkronik oral adalah untuk memperoleh informasi
adanya efek toksik zat yang tidak terdeteksi pada uji toksisitas akut, informasi
kemungkinan adanya efek toksik setelah pemaparan sediaan uji secara berulang
dalam jangka waktu tertentu (OECD, 2008), untuk memberikan informasi dosis
yang tidak menimbulkan efek toksik dan mempelajari adanya efek reversibilitas
zat tersebut (BPOM RI, 2011).
Prinsip uji toksisitas subkronik oral adalah sediaan uji dalam beberapa
tingkat dosis diberikan setiap hari pada beberapa kelompok hewan uji dengan satu
dosis per kelompok selama 28 atau 90 hari (OECD, 2008), bila diperlukan
ditambahkan kelompok satelit untuk melihat adanya efek yang bersifat reversibel
(BPOM RI, 2011).
Studi subkronik dapat dilakukan pada tikus dan mencit dengan rute
pemberian yang lazim yaitu oral.Sekurang-kurangnya digunakan tiga kelompok
dosis yang berbeda, 1 kelompok kontrol dan 2 kelompok satelit (kelompok dosis
tinggi dan kelompok kontrol).Dosis sediaan uji yang paling tinggi harus
menimbulkan efek toksik tetapi tidak menimbulkan kematian atau gejala toksik
yang berat, dosis menengah menimbulkan gejala toksik yang lebih ringan
sedangkan dosis yang paling rendah tidak menimbulkan gejala toksik (BPOM RI,
2011).

12

Parameter efek toksik adalah mortalitas, pertambahan berat badan, berat
organ relatif, konsumsi makanan dan minuman, uji laboratorium klinik, serta
gambaran histopatologi organ.Berat badan dan konsumsi makanan diukur setiap
minggu.Berkurangnya pertambahan berat badan merupakan indeks efek toksik
yang sederhana namun sensitif.Konsumsi makanan juga merupakan indikator
yang berguna, konsumsi makanan yang nyata berkurang dapat menimbulkan efek
yang mirip manifestasi toksik suatu zat (BPOM RI, 2011).Uji laboratorium klinik
biasanya

mencakup

pemeriksaan

hematologi,

biokimia

klinis

dan

histopatologi.Disamping itu, berat relatif organ harus diukur karena merupakan
indikator yang berguna bagi toksisitas (Lu, 1994).
2.3.1.2 Toksisitas kronik
Uji toksisitas kronis dilakukan dengan memberikan senyawa uji berulangulang selama masa hidup hewan uji atau sebagian besar masa hidupnya (Priyanto,
2009). Prinsip toksisitas kronik oral pada umumnya sama dengan uji toksisitas
subkronik, hanya pada toksisitas kronik sediaan uji yang diberikan lebih lama
yaitu tidak kurang dari 12 bulan (BPOM RI, 2011).
2.3.2 Toksisitas khusus
2.3.2.1 Uji teratogenik
Uji teratogenik adalah suatu pengujian untuk memperoleh informasi
adanya abnormalitas fetus yang terjadi karena pemberian suatu zat dalam masa
perkembangan embrio (Priyanto, 2009).
Prinsip pengujian ini senyawa uji dalam beberapa tingkat dosis diberikan
kepada beberapa kelompok hewan hamil selama paling sedikit masa
organogenesis

dari

kehamilan,

satu

13

dosis

untuk

satu

kelompok.Sesaat

sebelumwaktu melahirkan, uterus diambil dan dilakukan evaluasi terhadap fetus
(OECD, 2008).
2.3.2.2 Uji mutagenik
Uji mutagenik adalah uji yang dilakukan untuk memperoleh informasi
mengenai kemungkinan terjadinya efek mutagenik suatu senyawa.Efek mutagenik
merupakan efek yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sifat genetika sel
tubuh makhluk hidup (Loomis, 1978).
2.3.2.3 Uji karsinogenik
Uji karsinogenik adalah uji yang dilakukan untuk memperoleh informasi
mengenai efek korsinogenik suatu senyawa pada hewan percobaan (Lu, 1994) dan
untuk mengetahui apakah zat jika dipakai dalam jangka panjang akan dapat
menimbulkan kanker (Priyanto, 2009).

2.4Hati
2.4.1 Anatomi hati
Hati adalah organ terbesar di tubuh dengan berat 1,5 kg, organ ini terletak
dalam rongga perut di bawah diafragma. Hati merupakan organ tempat
pengolahan dan penyimpanan nutrient yang diserap dari usus halus untuk dipakai
oleh bagian tubuh lainnya.Seluruh materi yang diserap melalui usus tiba di hati
melalui vena porta.Pada bagian bawah permukaan hati terdapat pembuluh darah
masuk (vena porta dan arteri hepatika), duktus hepatikus kiri dan kanan yang
keluar dari organ ini di daerah yang disebut portal hepatis (Junqueira dan
Carneiro, 2003).Hati terdiri dari dua lobus utama, yakni lobus kanan dan kiri yang
masing-masing

14

terdiri dari dua segmen. Lobus kanan dibagi menjadi segmen anterior dan
posterior.Lobus kiri dibagi menjadi segmen medial dan lateral.
Menurut Syaifuddin (2006) fungsi hati adalah sebagai berikut:
a. Mengubah zat makanan yang diabsorpsi dan yang di simpan di suatu tempat
dalam tubuh, dikeluarkan sesuai dengan pemakaiannya dalam jaringan.
b. Mengubah zat buangan dan bahan racun untuk diekskresi dalam empedu dan
urin.
c. Menghasilkan enzim glikogenik glukosa menjadi glikogen.
d. Sekresi empedu, garam empedu di buat di hati, dibentuk dalam system
retikuloendotelium, dialirkan ke empedu.
e. Pembentukan ureum, hati menerima asam amino diubah menjadi ureum,
dikeluarkan dari darah oleh ginjal dalam bentuk urin.
f. Menyiapkan lemak untuk pemecahan terakhir asam karbonat dan air.
2.4.2. Gambaran histopatologi hati
Komponen struktur utama dari hati adalah sel hati atau hepatosit.Hepatosit
tersusun berupa lempeng-lempeng yang saling berhubungan dan bercabang
membentuk anyaman tiga dimensi (Junqueira dan Carneiro, 2003).
Hati mendapat aliran darah ganda.Vena porta membawa darah dari usus dan
organ tertentu, sedangkan arteri hepatika membawa darah bersih yang
mengandung oksigen.Vena porta dan arteri hepatika bercabang-cabang menuju
lobus, disebut arteri atau vena interlobaris, seterusnya bercabang-cabang
membentuk arteri dan vena interlobularis yang terdapat di daerah portal.Vena
interlobularis memiliki cabang kecil, kadang-kadang disebut vena pembagi yang

15

merupakan sumbu asinus hati.Venula pendek berasal dari vena pembagi dan
berakhir langsung pada sinusoid (Delman dan Brown, 1992). Vena sentral
merupakan sebuah pembuluh vena yang dikelilingi oleh sel endotel yang tersusun
rapat, terletak dipusat lobulus dengan hepatosit yang tersusun secara radier kearah
vena sentral (Price, 1997), berperan pada proses sirkulasi dimana vena sentral
menerima darah dari sinusoid-sinusoid yaitu 25% dari arteri hepatika dan 75%
dari vena porta (Underwood, 1997).
Sinusoid merupakan pembuluh darah kapiler yang mengisi lobulus, yang
membawa darah dari arteri dan vena interlobularis masuk ke sinusoid dan menuju
vena sentralis.Susunan percabangan ini menjamin hepatosit memiliki permukaan
yang berhadapan dengan sinusoid yang hanya dibatasi oleh ruang perisinusoid
yaitu ruang sempit diantara sinusoid dan sel-sel hati.Ruang demikian tidak tampak
dalam biopsy hati manusia atau hati hewan uji (Delman dan Brown, 1992;
Junqueira dan Carneiro, 2003).Gambar skematis struktur hati dapat dilihat pada
Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Gambar Skematis Struktur Hati (Junqueira dan Carneiro, 2003).

16

2.4.3 Pemeriksaan fungsi hati
Tujuan pemeriksaan fungsi hati adalah untuk mengetahui ketidaknormalan
fungsi hati yang dilakukan dengan menentukan kadar enzim yang terlibat di dalam
proses metabolisme hati. Penetapan aktivitas enzim dalam serum yang saat ini
banyak dilakukan di laboratorium klinik sebagai test rutin untuk keperluan
diagnosa kerusakan hati, antara lain penentuan kadar enzim transminase yaitu
Serum Glutamat Oksaloasetat Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamat Piruvat
Transaminase (SGPT) (Kang, dkk., 2008).
Transminase merupakan jenis enzim intraseluler yang terlibat dalam
metabolisme karbohidrat dan asam amino.Enzim transminase terdapat di dalam
sel-sel beberapa organ seperti jantung, hati, ginjal, dan pankreas.SGOT terdapat
dalam jantung, otot rangka, otak, dan ginjal sedangkan SGPT terdapat dalam sel
hati (Widmann, 1995).
Kadar SGPT dan SGOT meningkat pada hampir semua penyakit hati.Kadar
yang tertinggi ditemukan dalam hubungannya dengan keadaan yang menyebabkan
nekrosis hati yang luas.Ketika sel hati mengalami kerusakan, enzim tersebut
bearada dalam darah, sehingga dapat diukur kadarnya.Hal ini disebabkan karena
kerusakan pada struktur dan fungsi membran sel hati. Apabila kerusakan yang
ditimbulkan pada hati, kadar SGPT lebih dini dan lebih cepat meningkat dari
kadar SGOT (Widmann, 1995).

17

BAB III
METODE PENELITIAN
Metode

penelitian

ini

dilakukan

secara

eksperimental

meliputi

pengumpulan, pengolahan bahan, pembuatan ekstrak etanol daun kelapa sawit,
pemeriksaan karakterisasi simplisia dan ekstrak, penyiapan hewan percobaan dan
pengujian efek toksisitas. Data hasil penelitian dianalisis dengan metode One Way
Analysis of Variance (ANOVA).

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat gelas
laboratorium (beaker glass, labu tentukur, gelas ukur, gelas arloji),lumpang dan
alu, spatula, blender (national),rotary evaporator (Heidolph WB 2000), kandang
mencit, tempat makan dan

minum mencit, lemari pengering, neraca listrik

(vibra), neraca hewan (Presica), pinset, oral sonde, microtube, sentrifuse (velocity
18 R), mikroskop digital (Boeco germany), spektrofotometer UV(Shimadzu), spuit
(one med).
3.1.2 Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan
tumbuhan, helai daun kelapa sawit.Bahan kimia yang digunakan adalah akuades,
etanol 96%,formalin 37%, Hematoxylin, eosin,Na-CMC (natrium-Carboxy
Methyl Cellulose),natrium klorida 0,9%,paraffin, dan xylol.

18

3.2 Penyiapan Sampel
3.2.1 Pengumpulan bahan tumbuhan
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kelapa sawit
yang diambil dariPT. Perkebunan Nusantara II Jalan Pasar 13 Km. 10 Tanjung
Morawa Kabupaten DeliSerdang, Sumatera Utara. Pengambilan sampel dilakukan
secara purposif tanpa membandingkan dengan sampel yang sama dari daerah lain
(Bate’e, 2014).
3.2.2 Identifikasi tumbuhan
Identifikasi tumbuhan dilakukan di Laboratorium Herbarium Medanense,
Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Sumatera Utara (Bate’e, 2014).
3.2.3 Pengolahan bahan tumbuhan
Pengolahan daun kelapa sawit dilakukan terhadap daun yang dewasa
berwarna hijau, yaitu daun dipisahkan dari tulang daunnya sehingga yang dipakai
yaitu helai daunnya, dicuci bersih, ditiriskan, ditimbang, lalu dikeringkan di dalam
lemari pengering pada suhu 40 – 50°C.selanjutnya sampel dihaluskan atau
diserbukan menggunakan blender, dimasukkan kedalam wadah plastik yang
tertutup rapat dan disimpan di dalam suhu kamar.

3.3 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Kelapa Sawit
Serbuk simplisia diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut
etanol. Sebanyak 1,2 kg serbuk simplisia dimasukkan kedalam suatu bejana,
dituangi dengan 9 L (75 bagian) etanol, ditutup. dibiarkan selama 5 hari
terlindung dari cahaya sambil sering diaduk lalu disaring. Ampas dicuci dengan

19

pelarut etanol secukupnya hingga diperoleh 3 L (100 bagian).Pindahkan maserat
ke dalam bejana tertutup, dibiarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya selama
2 hari, enap tuangkan (Depkes RI, 1979).Pemekatan ekstrak dilakukan dengan alat
ro

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3875 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23