Gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah

GAYA BAHASA PERBANDINGAN
DALAM KUMPULAN CERPEN SAKSI MATA KARYA SENO
GUMIRA AJIDARMA
SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah
Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)

Oleh
M. Agus Kuswanto
NIM 1110013000110

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

LEMBAR PENGESAHAN
GAYA BAHASA PERBANDINGAN
DALAM KUMPULAN CERPEN SAKSI MATA KARYA SENO
GUMIRA AJIDARMA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI
SEKOLAH

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)

Oleh
M. Agus Kuswanto
NIM 1110013000110

Di bawah Bimbingan

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

ABSTRAK
M. AGUS KUSWANTO, 1110013000110, “Gaya Bahasa Perbandingan dalam
Kumpulan Cerpen Saksi Mata Karya Seno Gumira Ajidarma serta Implikasinya
terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah”, Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dosen Pembimbing: Makyun Subuki, M.
Hum.2015.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan; 1) Gaya bahasa perbandingan
yang digunakan Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan cerpennya Saksi Mata; 2)
Implikasi dari hasil gaya bahasa tersebut terhadap pembelajaran bahasa dan sastra
Indonesia.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif
melalui pendekatan deskriptif, sedangkan paradigma yang digunakan adalah
paradigma stilistika. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik simak catat
yakni membaca kumpulan cerpen Saksi Mata, kemudian mencatat hasil temuan gaya
bahasa perbandingan dalam kumpulan cerpen tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa perbandingan
berupa majas simile yang terdapat dalam keseluruhan kumpulan cerpen Saksi Mata
dapat memberikan gambaran seolah-olah semua kejadian dalam cerita yang tadinya
bersifat abstrak atau tidak nyata menjadi seperti benar-benar terjadi. Perumpamaan
yang digunakan Seno dalam kumpulan cerpen Saksi Mata ini menggambarkan tragedi
pembantaian di Timor-Timor. Gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan cerpen
Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma dapat diimplikasikan ke dalam
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia kelas X semester 1 dengan kompetensi
dasar menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan seharihari.
Kata Kunci: Cerita Pendek, Gaya Bahasa Perbandingan, Saksi Mata.

ABSTRACT
M. AGUS KUSWANTO, 1110013000110, "Comparison Language Stylein a set of
Saksi Mata short stories of Seno Gumira Ajidarma work and its Implications towards
Learning Indonesian Language and Literature", Department of Education Indonesian
Language and Literature, Faculty of Tarbiyah and Teachers Training, Syarif
Hidayatullah State Islamic University Jakarta, Supervisor: Makyun Subuki, M. Hum.
2015.
The purpose of this study is to describe; 1) Comparison language style which is used
by Seno Gumira Ajidarma in the short story collection of Saksi Mata; 2) The
implications of the results of comparison language style towards learning Indonesian
language and literature.
The method used in this study is a qualitative descriptive approach, while the
paradigm used is the paradigm Stylistics. Research technique used is simak catat a
short story collection of Saksi Mata then record the results in the comparison
language style of the short story collection.
Based on the results of this study concluded that stylistic comparisons simile form of
figure of speech contained in the overall is short story collection of Saksi Mata can
draw a picture if all the abstract events in the story to be like really happened. Seno
metaphors used in the short story colletion of Saksi Mata describes the massacres in
Timor-Timor. Comparison language style in short story collection of Saksi Mata by
Seno GumiraAjidarma can be implicated in learning Indonesian language and
literature 10th grade 1st semester students with the basic competence to analyze the
linkages of intrinsic elements of a short story with everyday life.

Keywords: Short Story, Comparison Language Style, Saksi Mata.

ii

KATA PENGANTAR
Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan waktu
yang telah direncanakan. Selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda
Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir
zaman.
Skripsi berjudul “Gaya Bahasa Perbandingan dalam Kumpulan Cerpen Saksi
Mata Karya Seno Gumira Ajidarma Serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah” disusun guna memenuhi persyaratan
memperoleh gelar sarjana pendidikan (S. Pd) pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari berbagai hambatan, namun dapat
dilalui berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Dr. Nurlena Rifa‟i, M.A., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Dra. Hindun, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang selalu memberikan
kemudahan dan bimbingan kepada penulis;
3. Dona Aji Karunia Putra, M.A. selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang selalu
memberikan semangat.

iii

4. Makyun Subuki, M. Hum selaku penasehat akademik sekaligus Pembimbing
Skripsi yang selalu memberikan bimbingan dan arahan selama perkuliahan
serta dalam penyusunan skripsi;
5. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan ilmu pengetahuan
selama perkuliahan;
6. Ayahanda Suparno dan Luluk Mukhayaroh selaku orangtua penulis yang
senantiasa mendoakan, memberikan motivasi dan arahan, serta menjadi
penasihat terbaik selama perkuliahan hingga proses penyelesaian skripsi ini.
Tidak lupa juga Ibunda Siti Alimah (Almh) yang semasa hidupnya banyak
memberikan pelajaran berharga kepada penulis.
7. Adik-adik tercinta, Ainur Rokhim, Nur Khabibatul Lailiah, M. Khoirul
Anwar, dan M. Faiz Mahbubillah yang selalu memberikan semangat dan
mewarnai hari-hari penulis.
8. Nenek tercinta H. Sunah yang selalu memberikan doa, nasihat, dan bimbingan
kepada penulis selama perkuliahan hingga proses penyelesaian skripsi ini;
9. Drs. Moh. Yasin, M. Pd., dan Susilawati yang selalu memberikan arahan,
motivasi, dan materi selama perkuliahan hingga proses penyelesaian skripsi
ini;
10. Teman-teman PBSI angkatan 2010, khususnya PBSI C yang telah menjadi
teman belajar selama perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini dan
menjadikan suasana di dalam dan luar kelas lebih indah;
11. Teman-teman Sabilussalam angkatan 2012, Hilman Tohari, Arif Azami, dan
lainnya yang pernah menjadi bagian dari keluarga penulis dan telah
memberikan ilmu kepada penulis;

iv

12. Ninik Siti Khodijah dan Wawan Hernadi Indrianto yang memberikan doa,
nasihat, dan arahan kepada penulis selama perkuliahan hingga proses
penyelesaian skripsi ini;
13. Maisyatul Wasiah, Nurul Aliyah, Rica Dalie, Titiek Muryani, Rizka Argafani,
Nurfayerni yang telah menjadi teman berbagi cerita kepada penulis selama
perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini;
14. Teman kosan H. Misun, M. Indra Kusuma dan Nur Wakhidurrohman yang
telah menjadi keluarga penulis selama menetap di Ciputat dan banyak
memberikan bantuan kepada penulis;
15. Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih
atas partisipasi dalam penyelesaian skripsi ini;
Semoga semua bantuan, bimbingan, ilmu, dan doa yang telah diberikan
mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat
bermanfaat dan memberi sumbangsih bagi penelitian di bidang sastra serta bagi
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Penulis juga berharap adanya saran dan
kritik membangun terhadap karya tulis ini.

Jakarta, November 2014

Penulis

v

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN MUNAQASAH
SURAT PERNYATAN KARYA SENDIRI
ABSTRAK ...............................................................................................................

i

ABSTRACT .............................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ..............................................................................................

iii

DAFTAR ISI ............................................................................................................

vi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................................................................................

1

B. Identifikasi Masalah .......................................................................................

3

C. Pembatasan Masalah ......................................................................................

3

D. Perumusan Masalah .......................................................................................

4

E. Tujuan Penelitian............................................................................................

4

F. Manfaat Penelitian .........................................................................................

4

G. Metodologi Penelitian ....................................................................................

5

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN
A. Hakikat Gaya................................................................................................

9

1. Stilistika ...................................................................................................

9

2. Pengertian Gaya .......................................................................................

10

3. Pengertian Majas ......................................................................................

11

4. Majas Perbandingan .................................................................................

11

vi

B. Hakikat Cerpen ............................................................................................

14

1. Asal Mula Cerpen ....................................................................................

14

2. Pengertian Cerpen ....................................................................................

14

3. Karakteristik Cerpen ................................................................................

15

4. Unsur Intrinsik Cerpen .............................................................................

16

C. Pembelajaran Sastra di Sekolah .................................................................

22

D. Penelitian Yang Relevan ..............................................................................

24

BAB III HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data .............................................................................................

30

B. Analisis Data ................................................................................................

30

C. Implikasi Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia ..........

61

BAB IV PENUTUP
A. Simpulan ........................................................................................................

64

B. Saran ..............................................................................................................

65

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan sebuah ungkapan perasaan seseorang terhadap
apa yang dialaminya. Bahasa juga bersifat komunikatif yang berfungsi
sebagai alat komunikasi antara individu yang satu dengan yang lain.
Penggunaan bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam
kehidupan sosial sehari-hari. Tanpa adanya bahasa, maka komunikasi
sosial tidak akan berjalan dengan baik. Dalam hal ini, bahasa sangat
berperan dalam menyampaikan gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang.
Bahasa itu unik, artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang
tidak dimiliki oleh yang lain. Lalu, kalau bahasa dikatakan bersifat unik,
maka artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak
dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi,
sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem
lainnya.1
Melalui sistem, bahasa membentuk sebuah lambang atau simbol
yang mengandung banyak pemaknaan terhadap setiap apa yang diucapkan
oleh masing-masing individu. Setiap individu memiliki keterampilan
berbahasa, seberapapun tingkat atau kualitas keterampilan tersebut. Saat
berkomunikasi itulah seseorang menggunakan keterampilan berbahasa
yang dimilikinya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin jelaslah
maksud yang ingin diungkapkannya. Setiap individu juga memiliki
keterampilan berbahasa secara optimal, namun ada pula yang sangat lemah
keterampilan berbahasanya. Oleh karena itu, diperlukan adanya latihan
untuk menunjang keoptimalan berbahasa setiap individu.
Berkenaan dengan peran bahasa sebagai ungkapan perasaan atau
pikiran seseorang, maka tak jarang seseorang mengutarakan berbagai
macam perasaannya melalui bahasa. Ungkapan perasaan itu dapat berupa
1

Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 51

1

2

kata-kata atau kalimat yang memiliki makna tersendiri. Kata atau kalimat
yang diungkapkan tersebut sangat berbeda bentuknya satu dengan yang
lain. Oleh karena itu, setiap seseorang mempunyai gaya penulisan dan ciri
khas tersendiri dalam mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan.
Salah satu pengolahan bahasa yang digunakan seseorang adalah
gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan cara seseorang mengungkapkan
pikiran dan perasaanya melalui bahasa yang khas, yang memperlihatkan
jiwa dan kepribadian pemakaian bahasa. Gaya bahasa memungkinkan
seseorang dapat menilai watak, pribadi, dan kemampuan seorang
pengarang. Gaya bahasa dapat menambah intensitas perasaan pengarang
serta menambah ketajaman penyampaian sikap pengarang.
Gaya bahasa juga mencakup berbagai figur bahasa antara lain
metafor, simile, antitesis, hiperbola, dan paradoks. Pada umumnya gaya
bahasa adalah semacam bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa
digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau
objek. Dengan menggunakan gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi
lebih segar dan berkesan. Gaya bahasa juga mencakup arti kata, citra,
perumpamaan, serta simbol dan alegori.2
Gaya bahasa yang juga identik dengan gaya khas seseorang dapat
digambarkan melalui lisan atau tulisan. Gaya bahasa yang diungkapkan
seseorang melalui lisan seperti cara berkomunikasi sehari-hari, yang dapat
menunjukkan karakter setiap individu, sedangkan gaya bahasa yang
diungkapkan dengan tulisan dapat dituangkan melalui cerita atau
pemaparan naratif.
Salah satu penggunaan gaya bahasa melalui tulisan adalah seperti
yang digambarkan Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan cerpennya
Saksi Mata. Dalam kumpulan cerpen Saksi Mata tersebut, Seno banyak
menggunakan berbagai macam gaya bahasa yang menunjukkan kekhasan
sosok Seno Gumira Ajidarma. Gaya bahasa tersebut adalah berupa
2

Albertine Minderop, Metode Karakterisasi Telaah Fiksi, (Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 2005), h. 51-52

3

penggunaan majas perbandingan yang terdiri atas simile, metafora,
personifikasi,

dan

perbandingan

dalam

depersonifikasi.
kumpulan

Dengan

cerpen

penggunaan

tersebut,

Seno

majas
berusaha

membandingkan dan menganalogikan dua hal yang berbeda makna, tetapi
memiliki kesamaan yang dapat dihubungkan satu sama lain.
Berdasarkan uraian di atas, timbul ketertarikan peneliti untuk
mengetahui secara mendalam mengenai penggunaan gaya bahasa dalam
kumpulan cerpen. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengangkat
permasalahan dari fakta di atas menjadi sebuah skripsi yang berjudul Gaya
Bahasa Perbandingan dalam Kumpulan Cerpen Saksi Mata Karya Seno
Gumira Ajidarma serta Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia di Sekolah.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat
diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut.
1. Kurangnya pengetahuan siswa mengenai penggunaan gaya bahasa
dalam karya sastra, khususnya cerpen.
2. Secara keseluruhan, kumpulan cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira
Ajidarma menarik untuk dikaji karena di dalamnya sangat banyak
menggunakan unsur gaya bahasa (majas), sehingga perlunya
pemahaman lebih mendalam mengenai cerita tersebut.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi yang telah diuraikan di atas, maka untuk
menghindari pembahasan yang terlalu luas peneliti tidak akan membahas
mengenai gaya (style) penulis, atau pun diksi. Namun, peneliti akan
memfokuskan pembahasan pada penggunaan gaya bahasa berupa majas
perbandingan (majas simile) yang terdapat dalam kumpulan cerpen Saksi
Mata karya Seno Gumira Ajidarma tersebut. Oleh karena itu, peneliti
dapat mengangkat permasalahan tersebut menjadi sebuah skripsi yang

4

berjudul Gaya Bahasa Perbandingan dalam Kumpulan Cerpen Saksi Mata
Karya Seno Gumira Ajidarma serta Implikasinya terhadap Pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah.

D. Perumusan Masalah
Untuk mencapai hasil penelitian yang maksimal dan terarah, maka
diperlukan perumusan masalah dalam sebuah penelitian. Adapun
perumusan masalah dama penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagaimana penggunaan gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan
cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma?
2. Bagaimana implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra di
sekolah?

E. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui penggunaan gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan
cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma
2. Mengetahui implikasi penggunaan majas perbandingan tersebut dalam
pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah

F. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat menambah khazanah
keilmuan dalam pengajaran di bidang bahasa dan sastra Indonesia,
khususnya mengenai penggunaan gaya bahasa perbandingan dan
pembelajaran sastra.
b. Manfaat Praktis, antara lain:
1. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat menjadi jawaban dari
masalah yang dirumuskan. Selain itu, dapat menjadikan motivasi
bagi penulis untuk mengadakan penelitian lain yang lebih baik.
2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai bahan
rujukan untuk mengadakan penelitian mengenai kajian tentang

5

gaya bahasa (majas) tidak hanya dalam kajian ilmu sastra, tetapi
juga dalam bidang-bidang ilmu yang lain.
3. Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu bahan
acuan dalam pembelajaran bahasa dan sastra, khususnya mengenai
majas perbandingan dalam cerpen.
4. Bagi institusi, hasil penelitian ini sebagai sumbangan penelitian
mengenai majas perbandingan. Dan diharapkan dapat menjadi
pedoman atau acuan dalam pembelajaran bahasa dan sastra
Indonesia.

G. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian merupakan cara pemecahan masalah
penelitian yang dilaksanakan secara terencana dan cermat dengan maksud
mendapatkan fakta dan simpulan agar dapat memahami, menjelaskan,
meramalkan, dan mengendalikan keadaan.3 Berkut ini bagan yang
digunakan dalam metodologi penelitian ini:

Metodologi Penelitian

Paradigma

Metode

Stilistika

Kualitatif
dengan
Analisis isi

Teknik

Simak

Majas (figure
of speech)

3

Syamsudin dan Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian Pendidikan Bahasa,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 14

Catat

6

1. Paradigma Penelitian
Paradigma adalah cara pandang umum seseorang (peneliti)
terhadap fenomena atau realitas. Dengan kata lain, paradigma adalah
cara kita melihat suatu realitas, misalnya fenomena berbahasa.4 Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan aspek stilistika karena peneliti
berusaha mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa yang berwujud
majas perbandingan yang terdapat dalam kumpulan cerpen Saksi Mata
karya Seno Gumira Ajidarma.

2. Metode Penelitian
Metode adalah cara menerapkan teknik yang digunakan dalam
penelitian. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
teknik simak, yakni yang berusaha menyimak penggunaan bahasa
dalam kumpulan cerpen Saksi Mata. Setelah menyimak penggunaan
bahasa, peneliti menggunakan teknik catat untuk mencatat dan
menandai kalimat yang mengandung gaya bahasa perbandingan yang
ada dalam kumpulan cerpen tersebut.
Selanjutnya, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah kualitatif, yakni memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan
menyajikannya dalam bentuk deskripsi. Metode kualitatif memberikan
perhatian terhadap data alamiah, data dalam hubungannya dengan
kontens keberadaannya.5
Metode penelitian kualitatif yang digunakan penulis yaitu
analisis isi. Menurut teori Ratna, metode analisis isi ini menekankan
pada isi pesan. Oleh karena itulah, metode analisis isi dilakukan dalam
dokumen-dokumen yang padat isi. Dalam karya sastra, misalnya,
dilakukan untuk meneliti gaya tulisan seorang pengarang.6

4

Muhammad, Metode Penelitian Bahasa, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), h. 14
Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2007), h. 46
6
Ibid., h. 49
5

7

Jadi, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
analisis isi yang berusaha menjelaskan setiap majas perbandingan yang
terdapat dalam dokumen, yang dalam hal ini adalah kumpulan cerpen
Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma.

3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik

pengumpulan

data

dalam

penelitian

ini

adalah

menggunakan teknik simak karena cara yang digunakan untuk
memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa.7
Selanjutnya, dalam teknik catat ini dapat dilakukan dengan
menggunakan teknik catat sebagai gandengan teknik simak bebas libat
cakap, yaitu mencatat beberapa bentuk yang relevan bagi penelitiannya
dari penggunaan bahasa secara tertulis tersebut.8
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak
catat, yaitu dengan cara data tersebut dibaca dan diteliti, kemudian
pengumpulan data dilakukan dengan menandai dan mencatat kalimat
atau hal yang mengandung majas perbandingan dalam kumpulan
cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma.
Dalam menjalankan teknik, diperlukan adanya data. Data itu
diperoleh dari berbagai macam sumber yang terdiri dari sumber data
primer dan sumber data sekunder. Berikut adalah sumber data yang
digunakan dalam penelitian ini.

a. Sumber Data Primer
Sumber data primer merupakan sumber data yang diambil
langsung dari karya sastra itu sendiri. Sumber data primer dalam
penelitian ini adalah gaya bahasa perbandingan yang terdapat
dalam kumpulan cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma
yang diterbitkan oleh Bentang tahun 2010.
7

Mahsun, Metode Penelitian Bahasa: Tahapan, Strategi, dan Tekniknya, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2011), h.92
8
Ibid., h. 93-94

8

b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah kajian lain atau hasil penelitian
lain yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini dari beberapa
aspek untuk melihat persamaan dan perbedaan. Sumber data
sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber lain
atau berupa hasil penelitian tentang jenis gaya dan fungsinya dalam
kumpulan cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma.

4. Objek Penelitian
Objek adalah sesuatu yang diteliti. Dalam hal ini berupa bahasa
dalam sebuah karya sastra. Objek dalam penelitian ini adalah
penggunaan majas perbandingan yang terdapat dalam kumpulan
cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma.

5. Prosedur Penelitian
a. Membaca kumpulan cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira
Ajidarma
b. Mencermati kumpulan cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira
Ajidarma yang di dalamnya terdapat gaya bahasa perbandingan.
c. Menandai kata atau kalimat yang termasuk ke dalam gaya bahasa
perbandingan.
d. Menganalisis gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan cerpen
Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma.
e. Memberikan simpulan tentang jenis gaya bahasa perbandingan
yang ada dalam kumpulan cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira
Ajidarma.

BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

A. Hakikat Gaya Bahasa
1. Stilistika
Secara etimologis stylitics berkaitan dengan style (bahasa
inggris). Style artinya gaya, sedangkan stylistics, dengan demikian
dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya.1Menurut Ratna,
stilistika adalah ilmu yang berkaitan dengan gaya dan gaya bahasa.
Tetapi pada umumnya lebih banyak mengacu pada gaya bahasa. Jadi,
dalam pengertian yang paling luas, stilistika sebagai ilmu tentang gaya,
meliputi berbagai cara yang dilakukan dalam kegiatan manusia.2
Selanjutnya, Peter Barry mengungkapkan bahwa stilistika adalah
pendekatan kritis yang menggunakan metode dan temuan ilmu
linguistic dalam analisis teks sastra.Yang dimaksud linguistik di sini
lebih pada kajian ilmiah tentang bahasa dan struktur-strukturnya,
ketimbang pembelajaran bahasa-bahasa individu.3
Atar Semi juga mengungkapkan bahwa pendekata stilistika
beranggapan bahwa kemampuan sastrawan mengeksploitasi bahasa
dalam segala dimensi merupakan suatu puncak kreativitas yang dinilai
sebagai akibat. Aplikasi dari pendekatan ini tidak hanya tertuju pada
analisis pemakaian gaya bahasa yang indah dan menarik, tetapi juga
terhadap keandalan penulis dalam mengekspresikan gagasan lewat
bahasa secara kreatif.4
Jadi secara umum stilistika adalah kajian tentang gaya bahasa
yang digunakan dalam karya sastra. Gaya bahasa di sini mencakup

1

Jabrohim, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Hanindita Graha Widya, 2002),

h. 163
2

Nyoman Kutha Ratna, Stilistika: Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan
Budaya,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 167
3
Peter Barry. Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya. (Yogyakarta: Jalasutra,
2010), h. 235
4
Atar Semi, Metode Penelitian Sastra, (Bandung: Angkasa, 2012), h. 104

9

10

penggunaan berbagai macam bahasa di dalam sebuah karya sastra yang
menghasilkan pemaknaan baik dari kata, kalimat, atau wacana yang
digunakan pengarang.

2. Pengertian Gaya
Istilah gaya diangkat dari istilah style yang berasal dari bahasa
Latin stilus dan mengandung arti leksikal „alat untuk menulis‟.5Gaya
bahasa atau style adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa
secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau
pemakai bahasa.6 Menurut Nikolas Coupland, stylistic analysis is the
analysis of how style resource are put to work ceratively. Analiysing
linguistic style again needs to include an aesthetic dimension.7
Dengan kata lain, gaya adalah pribadi pengarang itu sendiri.
Wahyudi dalam bukunya berpendapat bahwa gaya adalah cara seorang
pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media
bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna
dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi
pembaca.
Ada tiga masalah yang erat hubungannya dengan pembicaraan
masalah gaya. Pertama, masalah media berupa kata dan kalimat.
Kedua, masalah hubungan gaya dengan makna dan keindahan.
Terakhir, seluk-beluk ekspresi pengarangnya sendiri yang akan
berhubungan erat dengan masalah individual kepengarangan, maupun
konteks sosial-masyarakat yang melatarbelakanginya.
Dari beberapa pengertian tentang gaya di atas, dapat diambil
kesimpulan bahwa gaya bahasa atau gaya seorang dengan yang lain
jelas berbeda, baik dari segi komposisi bahasa, struktur kalimat, dan
penggunaan ejaan.
5

Aminuddin, Pengantar Apresiasi Karya Sastra, (Bandung: Sinar Baru, 1987), h. 72
Abdul Chaer, Bahasa Jurnalistik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 87
7
Nikolas Coupland, Style: Language Variation and Identity, (New York: Cambridge
University Press, 2007), h. 3
6

11

3. Pengertian Majas
Pada hakikatnya majas (figure of speech) adalah suatu bentuk
pernyataan dengan cara memakai sesuatu untuk mengatakan tentang
sesuatu yang lain. Pemakaian sesuatu untuk sesuatu yang lain sering
kali (jika tidak boleh dikatakan: selalu) berupa pengedepanan suatu ide
secara tidak langsung melalui analogi. Dengan demikian, di samping
mampu mengonkretkan dan menghidupkan bahasa, majas juga sering
lebih ringkas daripada padanannya yang terungkap dalam kata biasa.8
Majas, kiasan, atau „figure of speech‟ adalah bahasa kias, bahasa
indah yang dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek
dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan sutau benda
atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Pendek
kata, penggunaan majas tertentu dapat merubah serta menimbulkan
nilai rasa atau konotasi tertentu.9
Sementara itu, Nurgiantoro mengatakan bahwa pemajasan (figure
of

speech)

merupakan

teknik

pengungkapan

bahasa,

penggayabahasaan, yang maknanya tak menunjuk pada makna harfiah
kata-kata

yang mendukungnya, melainkan pada makna yang

ditambahkan, makna yang tersirat. Jadi ia merupakan gaya yang
sengaja mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa
kias.10

4. Majas Perbandingan
Dilihat dari jenisnya, majas (yang secara salah kaprah sering pula
disebut gaya bahasa, perhiasan bahasa, atau bahasa kiasan itu) dapat
dikelompok dalam tiga golongan; (1) majas perbandingan, (2) majas
pertentangan, dan (3) majas pertautan. Namun, dalam praktiknya tidak

8

Agus Sri Danardana, Anomali Bahasa, (Pekanbaru: Palagan Press, 2011), h. 12-13
Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Semantik, (Bandung: Angkasa, 1993), h. 112
10
Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 2013) h. 297
9

12

jarang orang menggunakan dua-tiga majas sekaligus dalam sebuah
tuturan.11
Menurut Henry Guntur Tarigan, ragam majas dibagi menjadi
empat macam: 1) Majas perbandingan yang meliputi perumpamaan
(simile), metafora, pesonifikasi, 2) Majas pertentangan yang meliputi
hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, paralipsisi, zeugma,
3) Majas pertautan yang meliputi metonimia, sinekdoke, kilata (alusi),
eufimisme, ellipsis, inversi, gradasi. 4) Majas perulangan yang
meliputi aliterasi, antanaklasis, kiasmus, repetisi. Dalam hal ini,
penulis akan memfokuskan pada majas perbandingan yang digunakan
oleh Tarigan. Berikut penjelasannya:
1. Simile (perumpamaan)
Yang dimaksud dengan perumpamaan di sini adalah
padanan kata simile dalam bahasa Inggris. Kata simile berasal dari
bahasa latinyang bermakna „seperti‟. Perumpamaan adalah
perbandingan dua hal yang pada hakekatnya berlainan dan yang
sengaja kita anggap sama. Perbandingan itu secara eksplisit
dijelaskan oleh pemakaian kata seperti, sebagai, ibarat, umpama,
baka, laksana, dan sejenisnya.12Dalam penuturan bentuk ini,
sesuatu yang disebut pertama dinyatakan mempuyai persamaan
sifat dengan sesuatu yang disebut belakangan.13Contoh: Wajahnya
laksana bulan purnama, rumahnya ramai bak pasar malam.

2. Metafora
Tarigan berpendapat bahwa metafora adalah sejenis gaya
bahasa perbandingan yang paling singkat, padat, tersusun rapi. Di
dalamnya terlihat dua gagasan: yang satu adalah suatu kenyataan,
sesuatu yang dipikirkan, yang menjadi obyek; dan yang satu lagi
merupakan pembanding terhadap kenyataan tadi; dan kita
11

Sri Danardana, Op. Cit., h. 12-13
Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Gaya Bahasa, (Bandung: Angkasa 1986), h. 9-10
13
Nurgiantoro,Op. Cit.,h. 400
12

13

menggantikan yang belakang itu menjadi yang terdahulu
tadi.14Contoh:

Ayah

menjaditulang

punggung

keluarga,

perpustakaan adalah gudang ilmu.

3. Personifikasi
Nurgiantoro berpendapat bahwa personifikasi merupakan
bentuk pemajasan yang member sifat-sifat benda mati dengan sifatsifat kemanusiaan.Artinya, sifat yang diberikan itu sebenarnya
hanya dimiliki oleh manusia.Maka majas ini juga disebut sebagai
majas pengorangan, sesuatu yang diorangkan, seperti halnya orang.
Sifat-sifat itu dapat berupa ciri fisik, sifat karakter, tingkah laku
verbal dan nonverbal, berpikir, berperasaan, bersikap, dan lain-lain
yang

hanya

manusia

melakukannya..benda-benda

yang
laian

memiliki
yang

bersifat

atau

dapat

nonhuman,

termasuk makhluk-makhluk tertentu, binatang, dan fakta alam yang
lain tidak memilikinya.15Contoh: Pohon nyiur melambai-lambai,
ombak yang memakan manusia itu.

4. Depersonifikasi
Gaya bahasa depersonifikasi atau pembendaan adalah
kebalikan dari gaya bahasa personifikasi atau penginsanan. Kalau
personifikasi, menginsankan atau memanusiakan benda-benda,
maka depersonifikasi justru membendakan manusia atau insan.
Biasanya gaya bahasa depersonifikasi ini terdapat dalam kalimat
pengandaian yang secara eksplisit memanfaatkan kata kalau dan
sejenisnya sebagai penjelas gagasan atau harapan.16 Contoh: Kalau
dikau menjadi bunga, maka Aku kumbangnya, Andai kamu
menjadi langit, maka dia menjadi tanah.

14

Tarigan, Op. Cit., h. 15
Nurgiantoro, Op. Cit., h. 401-402
16
Tarigan, Op. Cit., h. 21

15

14

B. Hakikat Cerpen
1. Asal Mula Cerita Pendek Indonesia
Genre cerita pendek di Indonesia, secara resmi diakui baru
muncul pada tahun1930-an. Muhammad Kasim mengumpulkan
cerpen-cerpennya dalam buku Teman Duduk pada tahun 1936,
kemudian Suman Hs. Menerbitkan cerpennya pada tahun 1938 dengan
judul Kawan Bergelut. Keduanya diterbitkan oleh penerbit pemerintah
colonial, Balai Pustaka.Sementara itu genre cerpen ini telah ditemukan
lebih tua dalam bahasa Sunda, yakni dengan terbitnya buku kumpulan
cerpen pengarang G.S. yang berjudul Dogdog Pangrewong (Selingan
Belaka) pada tahun 1930.17

2. Pengertian Cerpen
Cerpen (cerita pendek sebagai genre fiksi) adalah rangkaian
peristiwa yang terjalin menjadi satu yang di dalamnya terjadi konflik
antartokoh atau dalam diri tokoh itu sendiri dalam latar dan
alur.Peristiwa dalam cerita berwujud hubungan antartokoh, tempat,
dan waktu yang membentuk satu kesatuan.18
Selanjutnya Ellery Sedgwik dalam Tarigan mengatakan bahwa
“cerita pendek adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu
kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa
pembaca. Cerita pendek tidak boleh dipenuhi dengan hal-hal yang
tidak perlu atau “a short-story must not be cluttered up with
irrelevance”.
Dari beberapa pendapat tentang pengertian cerpen di atas, dapat
diambil kesimpulan bahwa cerita pendek adalah cerita yang
panjangnya minimal 4-5 halaman dan habis dibaca sekali duduk. Di

17

Jakob Sumarjo, Kesustraan Melayu-Rendah Masa Awal, (Yogyakarta: Galang Press,
2004), h. 103
18
Heru Kurniawan dan Sutardi, Penulisan Sastra Kreatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2012), h. 59

15

dalam cerpen juga harus terdapat tokoh, penokohan, dan inti dari cerita
(tidak berbelit-belit ceritanya).

3. Karakteristik Cerpen
Tarigan membagi ciri-ciri khas cerpen sebagai berikut:
a. Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif.
b. Unsur-unsur utama cerita pendek adalah adegan, tokoh, dan gerak.
c. Bahasa cerita pendek haruslah tajam, sugestif, dan menarik
perhatian.
d. Cerita pendek harus mngandung interpretasi pengarang tentang
konsepsinya mengenai kehidupan, baik seara langsung maupun
tidak langsung.
e. Sebuah cerita pendek harus menimbulkan suatu efek dalam pikiran
pembaca.
f. Cerita pendek harus menimbulkan perasaan pada pembaca bahwa
jalan ceritalah yang pertama menarik perasaan, dan baru kemudian
menarik pikiran.
g. Cerita pendek mengandung detail-detail dan insiden-insiden yang
dipilih dengan sengaja, dan yang bisa menimbulkan pertanyaanpertanyaan dalam pikiran pembaca.
h. Dalam sebuah cerita pendek, sebuah insiden yang terutama
menguasai jalan cerita.
i. Cerita pendek harus mempunyai seorang pelaku utama.
j. Cerita pendek harus mempunyai satu efek atau kesan yane
menarik.
k. Cerita pendek bergantung pada satu situasi.
l. Cerita pendek memberikan impresi tunggal.
m. Cerita pendek memberikan suatu kebulatan efek.
n. Cerita pendek menyajikan satu emosi.

16

o. Jumlah kata-kata yag terdapat dalam cerita pendek biasanya di
bawah 10.000 kata, tidak boleh lebih dari 10.000 kata (atau kirakira 33 halaman kuarto spasi rangkap.19
Dari beberapa pendapat tentang ciri-ciri atau karakteristik cerpen,
maka dapat disimpulkan bahwa ciri utama cerpen adalah padat dan
singkat, terdapat tokoh dan penokohan yang jelas, serta bahasa yang
digunakan menarik.

C. Unsur-unsur Intrinsik Cerpen
Prosa fiksi yang terdiri dari cerpen dan novel, keduanya
mempunyai unsur-unsur pembangun yang sama. Unsur-unsur itu meliputi
tokoh, penokohan, alur, sudut pandang, dan amanat. Oleh karena itu,
cerpen dan novel dapat dianalisis menggunakan unsur-unsur yang sama.
Berikut akan dipaparkan penjelasan mengenai unsur intrinsik cerpen.
1. Tema
Istilah tema menurut Scharbach berasal dari bahasa Latin yang
berarti „tempat meletakkan suatu perangkat‟.Disebut demkian karena
tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehinga berperanan juga
sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang
diciptakannya.20
Brooks dan Warren dalam Tarigan mengatakan bahwa tema
adalah dasar atau makna suatu cerita atau novel. Sementara Brooks,
Purser, dan Warren dalam buku lain mengatakan bahwa tema adalah
pandangan hidup tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan
atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun
dasar atau gagasan utama dari suatu karya sastra.21
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa tema
adalah gagasan atau ide yang mendasari suatu cerita.Ide atau gagasan

19

Tarigan, Op Cit., h. 180-181
Aminuddin, Op. Cit., h. 91
21
Tarigan, Op. Cit., h. 125

20

17

tersebut digunakan oleh pengarang untuk membuat atau menuliskan
sebuah cerita agar pembaca dapat mengetahui inti cerita tersebut.

2. Tokoh dan Perwatakan
Aminuddin dalam Siswanto mengatakan bahwa tokoh adalah
pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga
peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan cara sastrawan
menampilkan tokoh disebut penokohan.Tokoh dalam karya rekaan
selalu mempunyai sifat, sikap, tingkah laku atau watak-watak
tertentu.Pemberian watak pada tokoh suatu karya oleh sastrawan
disebut perwatakan.22
Lubis dalam Tarigan mengemukakan bahwa ada beberapacara
yang dapat dipergunakan oleh pengarang unuk melukiskan rupa,
watak, atau pribadi para tokoh tersebut, antara lain:
a. Physical description (melukiskan bentuk lahir dari pelakon)
b. Portrayal of thought stream or of conscious thought (melukiskan
jalan pikiran pelakon atau apa yang terlintas dalam pikirannya)
c. Reaction to events (melukiskan bagaimana reaksi pelakon itu
terhadap kejadian-kejadian)
d. Direct author analysis (pengarang dengan langsung menganalisis
watak pelakon)
e. Discussion of environment (pengarang melukiskan keadaan sekitar
pelakon )
f. Reaction of others about/ to character (pengarang melukiskan
bagaimana pandangan-pandangan pelakon lan dalam suatu cerita
terhadap pelakon utama itu)
g. Conversation of other about character (pelakon-pelakon lainnya
dalam suatu cerita memperbincangkan keadaan pelakon utama,

22

143

Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: Grasindo, 2008), h. 142-

18

dengan demikian maka secara tidak langsung pembaca dapat kesan
tentang segala sesuatu yang mengenai pelakon utama itu).23

3. Plot atau alur
Pengertian alur dalam cerpen atau dalam karya fiksi adalah
rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa
sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam
suatu cerita.24Secara umum, alur merupakan rangkaian peristiwaperistiwa dalam sebuah cerita.25
Selanjutnya, Abrams dalam Siswanto mengatakan bahwa alur
ialah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa
sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku
dalam suatu cerita.Sudjiman juga mengungkapkan dalam Siswanto
bahwa alur sebagai jalinan peristiwa di dalam karya sastra untuk
mencapai efek tertentu.Jalinannya dapat diwujudkan oleh hubungan
temporal (waktu) dan oleh ubungan kausal (sebab akibat).26
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa alur
adalah rangkaian cerita yang terjalin secara utuh dan padu yang
dibentuk melalui tahapan-tahapan cerita.
Aminuddin dalam Siswanto membagi tahapan-tahapan peristiwa
dalam cerita sebagai berikut.
1. Pengenalan adalah tahap peristiwa dalam suatu cerita rekaan atau
drama yang memperkenalkan tokoh-tokoh atau latar cerita. Yang
dikenalkan dari tokoh ini misalnya nama, asal, ciri fisik, dan
sifatnya.
2. Konflik atau tikaian adalah ketegangan atau pertentangan antara
dua

kepentingan

atau

kekuatan

di

dalam

cerita

rekaan.

Pertentangan ini dapat terjadi dlam diri satu tokoh, antara dua
23

Tarigan, Op. Cit., h. 133-134
Aminuddin, Op. Cit., h. 83
25
Robert Stanton, Teori Fiksi Robert Stanton, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 26
26
Siswanto, Op. Cit., h. 159

24

19

tokoh, antara tokoh dan masyarakat atau lingkungannya, antara
tokoh dan alam, serta antara tokoh dan tuhan. Ada konflik lahir dan
konflik batin.
3. Komplikasi atau rumitan adalah bagian tengah alur cerita rekaan
atau drama yang mengembangkan tikaian. Dalam tahap ini, konflik
terjadi semakin tajam karena berbagai sebab dan berbagai
kepentingan yang berbeda dari setiap tokoh.
4. Klimaks adalah bagian alur cerita rekaan yang melukiskan puncak
ketegangan, terutama dipandang dari segi tanggapan emosional
pembaca. Klimaks merupakan puncak rumitan yang diikuti oleh
krisis atau titik balik.
5. Krisis adalah bagian alur yang mengawali penyelesaian. Saat
dalam alur yang ditandai oleh perubahan alur cerita menuju
selesainya cerita.
6. Leraian adalah bagian struktur alur sesudah tercapai klimaks. Pada
tahap

ini

peristiwa-peristiwa

yang

terjadi

menunjukkan

perkembangan lakuan ke arah selesaian.
7. Selesaian adalah tahap akhir suatu cerita rekaan. Dalam tahap ini
semua masalah dapat diuraikan, kesalahpahaman dijelaskan, dan
rahasia dibuka.27

4. Latar (Setting)
Latar

atau

setting

yang

disebut

juga

sebagai

landas

tumpu.Abrams dalam Aminuddin mengemukakan latar cerita adalah
tempat umum (general locale), waktu kesejarahan (historical time),
dan kebiasaan masyarakat (social circumstances) dalam setiap episode
atau bagian-bagian tempat.28Berikut ini akan dijelaskan unsur-unsur
latar.

27
28

Siswanto, Loc. Cit.,
Siswanto, Op. Cit., h. 149

20

1. Latar tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa
yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang
dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama
tertentu, inisial tertenttu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas.
2. Latar waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan”
terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya
fiksi.Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan
waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan
dengan peristiwa sejarah.Pengetahuan dan persepsi pembaca
terhadap waktu sejarah itu kemudian dipergunakan untuk mencoba
masuk ke dalam suasana cerita.Pembaca berusaha memahami dan
menikmati cerita berdasarkan acuan waktu yang diketahuinya yang
berasal dari luar cerita yang bersangkutan.
3. Latar sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan
dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yng
diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial
masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup
kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiasat, tradisi,
keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lainlain

yang

tergolong

latar

spiritual

seperti

dikemukakan

sebelumnya. Selain itu, latar sosial juga berhubungan dengan status
sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah,
atas.29

29

Nurgiantoro, Op. Cit., h. 227-234

21

5. Sudut Pandang
Sudut pandang/ titik pandang adalah tempat sasrtrawan
memandang ceritanya.Dari tempat itulah sastrawan bercerita tentang
tokoh, peristiwa, tempat, waktu, dengan gayanya sendiri.30Seorang
pencerita dapat dikatakan sebaga pencerita akuan apabila pencerita
tersebut dalam bercerita menggunakan kata ganti orang pertama: aku
atau saya. Pencerita akuan dapat menjadi salah seorang pelaku atau
disebut narrator acting. Sebagai narrator acting, ia bisa mengetahui
semua gerak fisik maupun psikisnya. Narrator acting yang demikian
ini biasanya bertindak sebagai pelaku utama yang serba tahu.Tidak
semua narrator acting sebagai pencerita yang serba tahu.Terdapat
kemungkinan narrator acting ini hanya mengetahui gerak-gerik fisik
dari para pelaku yang bertindak sebagai pelaku bawahan.
Di samping bertindak sebagai pencerita yang terlibat atau
narrator acting, seorang pencerita juga bisa bertindak sebagai
pengamat.Pencerita

semacam

ini

biasanya

disebut

pencerita

diaan.Pencerita diaan dalam bercerita biasanya menggunakan kata
ganti orang ketiga. Adapun penunjuk kebahasaan yang digunakan
biasanya: dia, ia, atau mereka.
Narrator pengamat ini dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
narrator pengamat yag serba tahu dan narrator pengamat terbatas atau
objektif. Narrator pengamat serba tahu merupakan suatu teknik
penceritaan dengan cara pencerita menuturkan ceritanya melalui satu
atau lebih tokoh-tokohnya.Sedangkan narrator pengamat terbatas
adalah pengarang menuturkan ceritanya melalui kesan-kesan atau
impresi dari satu tokoh. Pengetahuan pencerita tentang apa yang terjadi
dalam cerita terbatas pada apa yang dapat dilihat, didengar melalui
gerak fisik saja.31

30

Siswanto, Op. Cit., h. 151
Endah Tri Priyatni, Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis,(Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), h. 115-116
31

22

6. Amanat
Nilai-nilai yang ada di dalam cerita rekaan bisa dilihat dari diri
sastrawan dan pembacanya.Dari sudut sastrawan, nilai ini bisa disebut
amanat.Amanat gagasan yang mendasari karya sastra; pesan yang
ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar.Di
dalam karya sastra modern, amanat ini biasanya tersirat; di dalam
karya sastra lama pada umumnya amanat tersurat.32

D. Pembelajaran Sastra di Sekolah
Pendidikan sastra adalah pendidikan yang mencoba untuk
mengembangkan kompetensi apresiasi sastra, kritik sastra, dan proses
kreatif sastra. Kompetensi apresiasi yang diasah dalam pendidikan ini
adalah kemampuan menikmati dan menghargai karya sastra.Dengan
pendidikan semacam ini, peserta didik diajak untuk langsung membaca,
memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung.
Pendidikan sastra yang mengapresiasi prosa rekaan akan
mengembangkan kompetensi anak untuk memahami dan menghargai
keindahan karya sastra yang tercermin pada setiap unsur prosa rekaan
dengan secara langsung membaca karya sastranya.33Dan salah satu
pembelajaran prosa rekaan adalah pembelajaran cerpen di sekolah.
Pengajaran sastra akan membantu pendidikan secara utuh apabila
cakupannya meliputi 4 manfaat, yaitu: membantu keterampilan berbahasa,
meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan
menunjung pembentukan watak.
1. Membantu keterampilan berbahasa
Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti
akan membantu siswa berlatih keterampilan membaca, dan mungkin
ditambah sedikit keterampilan menyimak, wicara, dan menulis yang
masing-masing erat hubungannya. Dalam pengajaran sastra, siswa
32
33

Siswanto, Op. Cit., h. 162
Ibid., h. 168-169

23

dapat melatih keterampilan menyimak dengan mendengarkan suatu
karya yang dibacakan oleh guru, teman, atau lewat pita rekaman.
2. Meningkatkan pengetahuan budaya
Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam
dengan keseluruhannya.Apabila kita dapat merangsang siswa-siswa
untuk memahami fakta-fakta dalam karya sastra, lama-kelamaan siswa
itu akan sampai pada realisasi bahwa fakta-fakta itu sendiri tidak lebih
penting disbanding dengan keterkaitannya satu sama lain sehingga
dapat saling menopang dan memperjelas apa yang ingin disampaikan
lewat karya sastra itu.
3. Mengembangkan cipta dan rasa
Dalam

hal

pengajaran

sastra,

kecakapan

yang

perlu

dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra; yang bersifat
penalaran; yang bersifat afektif; dan yang bersifat sosial; serta dapat
ditambah lagi yang bersifat religius. Karya sastra, sebenarnya dapat
memberikan peluang-peluang untuk mengembangkan kecakapankecakapan semacam itu. Oleh karena itu, dapatlah ditegaskan,
pengajara sastra yang dilakukan dengan benar akan dapat menyediakan
kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan tersebut
lebih dari apa yang disediakan oleh mata pelajaran yang lain, sehingga
pengajaran sastra tersebut dapat lebih mendekati arah dan tujuan
pengajaran dalam arti yang sesungguhnya.
4. Menunjang pembentukan watak
Dalam nilai pengajaran sastra, ada dua tuntutan yang dapat
diungkapkan sehubungan watak.Pertama, pengajaran sastra hendaknya
mampu membina perasaan yang lebih tajam.Dibanding pelajaranpelajaran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk
mengantar kita mengenal seluruh rangkaian kemungkinan hidup
manusia seperti kebahagiaan, kebebasan, kesetiaan, kebanggaan diri
sampai

pada

kelemahan,

perceraian, dan kematian.

kekalahan,

keputusasaan,

kebencian,

24

Tuntutan kedua sehubungan dengan pembinaan watak ini adalah
bahwa pengajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam
usaha mengembangkan berbagai kualitas kepribadian siswa yang
antara lain meliputi ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan
penciptaan.34
Pembelajaran cerpen selalu diajarkan di sekolah baik tingkat dasar,
menengah, atau tingkat atas.Bahkan di perguruan tinggi pun, pembelajaran
cerpen masih diterapkan.Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran karya
sastra di semua jenjang sangat dibutuhkan guna meningkatkan kreativitas
dan keterampilan siswa dalam kegiatan berbahasa dan bersastra.
Berhubungan dengan pengajaran cerpen di sekolah, hendaknya
seorang guru memiliki metode atau teknik yang digunakan agar siswa
mampu

mencapai

kompetensi

yang

diinginkan.Rahmanto

mengungkapkan, salah satu metode yang dapat digunakan adalah
membaca ekstensif yang cocok untuk berbagai bahan bacaan sepert

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3884 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1034 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 927 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 623 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 777 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1323 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1222 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 808 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1093 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1322 23