Penggunaan gaya bahasa pada kumpulan cerpen hujan kepagian karya Nugroho Notosusanto dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA

PENGGUNAAN GAYA BAHASA PADA KUMPULAN CERPEN
HUJAN KEPAGIAN KARYA NUGROHO NOTOSUSANTO DAN
IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA DI SMA

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
(S.Pd.)

Oleh
Meizar Fatkhul Izza
NIM 1110013000043

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

ABSTRAK

Meizar Fatkhul Izza, 1110013000043, “Penggunaan Gaya Bahasa
pada Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto dan
Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia”. Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dosen Pembimbing: Rosida
Erowati, M.Hum., September 2014.
Penelitian ini beranjak dari rumusan masalah sebagai berikut: 1. Gaya
bahasa apa sajakah yang terdapat dalam kumpulan cerpen Hujan Kepagian karya
Nugroho Notosusanto? 2. Apa makna gaya bahasa yang terdapat dalam kumpulan
cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto? 3. Bagaimana implikasi
penggunaan gaya bahasa yang terdapat dalam kumpulan cerpen Hujan Kepagian
karya Nugroho Notosusanto terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mendeskripsikan data
yang berupa gaya bahasa dalam kumpulan cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho
Notosusanto. Teknik penelitian yang digunakan adalah analisis dokumen yaitu
kumpulan cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto dan studi pustaka
untuk mencari dan mengumpulkan data dari kepustakaan yang berupa buku-buku
yang berkaitan dengan objek penelitian yaitu gaya bahasa.
Hasil penelitian menemukan delapan jenis gaya bahasa dari lima puluh
lima gaya bahasa, antara lain gaya bahasa 1) Perumpamaan, 2) Personifikasi, 3)
Antitesis, 4) Hiperbola,5) Metonimia, 6) Sinekdoke, 7) Epizeukis, 8) Anadilopsis.
Gaya bahasa yang digunakan Nugroho Notosusanto maknanya terkesan
menekankan dan menguatkan. Gaya bahasa yang terdapat dalam kumpulan cerpen
Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto dapat diimplikasikan pada
pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA kelas XI, dengan Standar
Kompetensi memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan
cerpen. Siswa mampu mengidentifikasi gaya bahasa dan mengaitkan makna gaya
bahasa dengan kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci: Cerita Pendek, Gaya Bahasa, Hujan Kepagian.
i

ABSTRACT

Meizar Fatkhul Izza, 1110013000043, "The usage of language style
in the Short Story Collection of Hujan Kepagian,Nugroho Notosusanto and
its implication in Indonesian Language Learning and Literature". Indonesia
Language and Literature Education Departemen, Faculty of Tarbiya and
Teaching, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta. Advisor: Rosida
Erowati , M. Hum, September 2014 .
This research based on the formulation of the problem as follows : 1.
What are the language style in the short story collection of Hujan Kepagian? 2.
What is the meaning of the language style in the short story collection of Hujan
Kepagian? How is the implication of the usage of language style in Hujan
Kepagian in Indonesian Language Learning and Literature.
This study used qualitative method to describe the data about language
style in the short story collection of Hujan Kepagian. The technique of the study
used document analysis about language style in the short story collection of Hujan
Kepagian and literature review to find and collect the data from the books that is
related with the object of the study; language style.
The results of the study is finding eight language styles of fifty-five
language styles, such as : language style, 1 ) Parable , 2 ) Personification , 3 )
antithesis , 4 ) Hyperbole , 5 ) metonymy , 6 ) Sinekdoke , 7 ) Epizeukis , 8 )
Anadilopsis . Style of language used Nugroho Notosusanto meaning impressed
emphasize and strengthen. The language style in short story collection of Hujan
Kepagian can be implicated in Indonesian Language and Literature Learning in
Senior High School XI, the competence standard in literature discourse
understanding through reading poetry and short stories. The students are able to
identify the language stylesand associate the language styles with daily life .

Keywords: Short Story, Style, Hujan Kepagian

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji dan syukur senantiasa atas limpahan rahmat,
nikmat, dan hidayah serta inayah Allah Swt. penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini. Salawat serta salam senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Agung,
khotamulanbiya, Nabi Muhammad saw. yang telah membawa umatnya keluar dari
zaman jahiliyah ke zaman yang terang benderang.
Penyusunan skripsi ini diselesaikan dengan baik karena adanya bantuan
dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Dra. Mahmudah Fitriyah, ZA selaku penasihat Akademik yang selalu
memberikan nasihat-nasihat yang berguna bagi penulis. Dra. Hindun M,
Pd. Novi Diah Haryanti, M.Hum. dan Ahmad Bahtiar, M.Hum. juga para
dosen lainnya yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan yang
berguna kepada penulis.
3. Rosida Erowati, M.Hum. selaku dosen pembimbing yang telah
meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan
pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
4. Ucapan yang paling istimewa untuk kedua orang tua, Buntomo, S.pd dan
Siti Royanah, serta adik yang tercinta Dwi Rizqi Amalia atas segala
bentuk cintanya yang tak pernah ada batasnya kepada Ananda.
5. KH. Drs. Misbahul Anam Attijani selaku orang tua yang selalu memberi
motivasi moral dan materil.
6. Ucapan terima kasih untuk Raras Oktaviany, seseorang yang selama ini
menjadi patahan hidup dalam kehidupan penulis. Terima kasih untuk
cinta, semangat, motivasi, dan semua hal yang sudah dilakukan untuk
penulis.

iii

7. Ucapan spesial untuk orang-orang hebat di sekeliling penulis, Dimas
Albiyan, Fahrudin Mualim, Puguh Apria Rantau, Aris Fadilah dan segenap
keluarga Kemangilodi Sastra Indonesia. Terima kasih untuk kebersamaan
kita selama ini. Semoga kesuksesan senantiasa menyertai kita semua.
8. Sahabat-sahabat Pojok Seni Tarbiyah (Postar) yang selalu mendukung,
memotivasi, serta mendengarkan keluh-kesah penulis.
9. Teman-teman angkatan 2010, khususnya Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia, serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
per satu, terima kasih atas dukungan dan bantuannya selama ini kepada
penulis.
10. Para tutor dan staf Homeschooling Kak Seto Pusat yang telah memberi
semangat dan bantuan moral dan materil.
Penulis berdoa dan berharap semoga semua pihak yang telah membantu
dengan kebaikan dan ketulusan selalu mendapat balasan dari Allah Swt. Penulis
pun sadar masih banyak sekali kekurangan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat
baik bagi penulis maupun bagi seluruh pembacanya.

Jakarta, 21 September 2014

Penulis

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK.... ..................................................................................................

i

ABSTRACT ....................................................................................................

iii

KATA PENGANTAR.. ..................................................................................

iv

DAFTAR ISI ...................................................................................................

vi

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah. ......................................................................

1

B. Identifikasi Masalah.. ...........................................................................

3

C. Pembatasan Masalah ............................................................................

3

D. Rumusan Masalah.. ..............................................................................

4

E. Tujuan Penelitian.. ...............................................................................

4

F. Manfaat Penelitian ...............................................................................

4

G. Metode Penelitian………………………………………………………

6

BAB II LANDASAN TEORI.......................................................................

9

A. Hakikat Gaya Bahasa ...........................................................................

9

1. Pengertian Gaya Bahasa………………………………………….

9

2. Jenis Gaya Bahasa………………………………………………..

10

B. Hakikat Cerpen.....................................................................................

25

1. Pengertian Cerpen.. ..........................................................................

25

2. Ciri-Ciri Cerpen ...............................................................................

27

C. Penelitian yang Relevan .......................................................................

30

D. Pembelajaran Sastra .............................................................................

31

BAB III PROFIL NUGROHO NOTOSUSANTO ......................................

34

A. Biografi Nugroho Notosusanto ............................................................

34

B. Karya Nugroho Notosusanto ................................................................

38

C. Pemikiran Nugroho Notosusanto .........................................................

42

v

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN CERPEN HUJAN KEPAGIAN 46
A. Deskripsi Data ......................................................................................

46

1. Penggunaan Gaya Bahasa untuk Menyampaikan Intrinsik Cerpen
Senyum dan Cerpen Bayi dalam Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian
Karya Nugroho Notosusanto………………………………………...46
B. Gaya Bahasa yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian...71
C. Analisis Gaya Bahasa dalam Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian………98
D. Makna Gaya Bahasa dalam Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian……….100
E. Implikasi terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia .......... ...102
BAB V PENUTUP .......................................................................................... 104
A. Simpulan .............................................................................................. 104
B. Saran ..................................................................................................... 105
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra dapat digunakan seseorang untuk menyampaikan

ide pikirannya.

Dalam perkembangannya, sastra memiliki peranan penting dalam perkembangan
zaman. Sastra dapat mempersatukan suku-suku di suatu negara dan bahkan
menyatukan bangsa-bangsa yang ada di dunia. Penggunaan bahasa sastra juga
ditentukan oleh faktor-faktor nonlinguistik atau luar bahasa, antara lain faktor sosial
yang merupakan

faktor

yang

berpengaruh dalam sastra

bahasa. Pandangan

demikian memang cukup beralasan karena pada dasarnya sastra adalah bagian dari
suatu sistem sosial.
Bahasa pengarang memiliki ciri khas yang membedakan bahasa satu dengan
bahasa yang lain. Bahasa memiliki bentuk dalam membedakanya. Proses saling
mempengaruhi antar bahasa yang satu dengan bahasa yang lain tidak bisa
dihindarkan. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa bahasa adalah simbol
yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk berinteraksi.
Gaya bahasa merupakan bagian dari pilihan

kata atau diksi.

Diksi

merupakan penentuan kata yang tepat sesuai dengan tata bahasanya. Gaya bahasa
sendiri merupakan optimalisasi atas kekayaan bahasa yang dimiliki oleh seseorang
baik itu dari hasil tulisan ataupun hasil tuturan. Gaya bahasa menentukan keindahan
dalam wacana secara imajinatif.
Gaya bahasa merupakan hal yang sangat menarik di dalam karya sastra
khususnya dalam cerpen. Gaya bahasa juga sebagai perantara bagi pengarang untuk
menyampaikan gagasan yang sesuai dengan tujuannya. Gaya bahasa mempunyai
keterkaitan dengan sebuah karya sastra. Dalam hal ini mempunyai keterkaitan dengan
cerpen. Gaya bahasa digunakan penulis untuk mengungkapkan ide-idenya. Pengarang
menggunakan bahasa secara tepat bertujuan untuk mempengaruhi pembaca agar

1

2

menjadi suatu ciri dalam karyanya. Wacana memiliki banyak gaya dalam cerpen.
Pengarang menggunakan gaya bahasa agar terkesan memberikan keindahan dalam
karyanya. Selain itu, gaya bahasa dapat diartikan sebagai media untuk menyampaikan
isi dalam sebuah cerpen.
Sejak zaman dahulu, telah banyak sastrawan yang menggunakan karya sastra
untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di zamannya hidup. Karyakarya sastra tersebut bersifat abadi, sehingga di kemudian hari orang-orang yang ada
pada zaman yang jauh setelah karya sastra tersebut ditulis, tetap bisa mengetahui
gambaran sejarah peristiwa yang tertuang dalam karya sastra tersebut. Sastra dan
sejarah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Di Indonesia lahir banyak sastrawan yang mampu menuliskan sejarah
peristiwa perjalanan Bangsa Indonesia dalam karyanya. Di antaranya merupakan
orang-orang yang berlatarbelakang jurnalis, aktivis, bahkan

politikus. Mereka

melalui karya sastra yang ditulisnya mampu mencerminkan sejarah perjalanan
bangsanya, juga melakukan kritik sosial, penyebaran gagasan untuk kemerdekaan,
perlawanan terhadap penguasa, penjajahan, penindasan, dan ketidakadilan.
Dalam sejarah sastra Indonesia, nama Nugroho Notosusanto dikenal sebagai
sastrawan yang berlatarbelakang tentara. Karyanya banyak menceritakan tentang
sejarah perjalanan bangsa. Tidak sedikit dari karya sastra yang menampilkan kisahkisah di sekitar revolusi. Karya sastra yang mencerminkan sejarah perjalanan bangsa,
misalnya karya Nugroho Notosusanto yaitu, kumpulan cerpen Hujan Kepagian.
Kumpulan

cerpen

Hujan

Kepagian

Nugroho

Notosusanto

berhasil

mencerminkan peristiwa yang dialaminya dengan gaya bahasa yang khas.
Penggunaan gaya bahasa ini sangat menarik dan menggugah hati. Penggunaan gaya
bahasanya mampu memperjelas makna yang ingin disampaikan pengarang.
Berdasarkan latar belakang tersebut, Penggunaan Gaya Bahasa dalam
Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian Karya Nugroho Notosusanto menarik untuk
diteliti. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka penulis berpendapat bahwa perlu

3

dilakukannya sebuah penelitian terhadap penggunaan gaya bahasa dalam kumpulan
cerpen Hujan Kepagian yang berisikan cerpen-cerpen karya Nugroho Notosusanto.
Dalam menganalisis cerpen Hujan Kepagian peneliti membatasi pada
menurut Tarigan. Dengan melakukan kajian gaya bahasa tersebut, kita dapat melihat
gambaran dengan jelas kondisi yang digambarkan oleh Nugroho Notosusanto dalam
cerpen-cerpennya tersebut. Judul dari penelitian ini adalah “Penggunaan Gaya
Bahasa dalam Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian Karya Nugroho Notosusanto dan
Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia”.
B. Identifikasi Masalah
Pengkajian dalam kumpulan cerpen Hujan Kepagian

karya Nugroho

Notosusanto ini terdapat beberapa pokok permasalahan antara lain:
1. Gaya bahasa yang terdapat dalam kumpulan cerpen Hujan Kepagian karya
Nugroho Notosusanto.
2. Makna gaya bahasa yang digunakan dalam kumpulan cerpen Hujan Kepagian
karya Nugroho Notosusanto.
3. Belum adanya implikasi tentang kajian pembahasan penggunaan gaya bahasa
dalam kumpulan cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto pada
pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
C. Pembatasan Masalah
Kegiatan analisis sebuah karya sastra tidak harus meliputi semua aspek
yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Penulis membatasi masalah yang
akan diteliti. Penulis mengambil masalah yang berkaitan dengan penggunaan
gaya bahasa atau majas dalam cerpen Senyum dan cerpen Bayi yang ada dalam
kumpulan cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto dan Makna gaya
bahasa yang digunakan dalam cerpen Senyum dan cerpen Bayi dalam kumpulan
cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto.

4

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah mengenai gaya bahasa yang akan
dianalisis, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Gaya bahasa apa saja yang ada dalam kumpulan cerpen Hujan kepagian
karya Nugroho Notosusanto?
2. Apakah

makna gaya bahasa yang digunakan dalam kumpulan cerpen

Hujan kepagian karya Nugroho Notosusanto?
3. Bagaimana implikasi penggunaan gaya bahasa dalam kumpulan cerpen
Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto pada pembelajaran bahasa dan
sastra Indonesia di SMA.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan gaya bahasa yang ada dalam kumpulan cerpen Hujan
Kepagian karya Nugroho Notosusanto.
2. Mendeskripsikan makna gaya bahasa yang digunakan dalam kumpulan
cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto.
3. Mendeskripsikan implikasi penggunaan gaya bahasa dalam kumpulan
cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto pada pembelajaran
bahasa dan sastra Indonesia di SMA
F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat

teoretis, hasil penelitian ini dapat menambah

keilmuan dalam

pengajaran

bidang

bahasa

dan

khususnya tentang gaya bahasa dan pembelajaran sastra.

khasanah

sastra Indonesia,

5

2. Manfaat praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa
pihak, antara lain.
a. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menjadi jawaban dari masalah yang
dirumuskan. Selain

itu, dengan

selesainya

penelitian

ini diharapkan

dapat menjadi motivasi bagi peneliti untuk semakin aktif dan kreatif
menyumbangkan hasil karya ilmiah bagi dunia sastra dan pendidikan.
b. Bagi Guru
Hasil penelitian ini memberikan
pendekatan struktural
pembelajaran

genetik

gambaran bagi

untuk

dijadikan

guru tentang

pedoman

dalam

sastra yang menarik, kreatif, dan inovatif.

c. Bagi Pembaca
Hasil
memahami

penelitian

ini

bagi

pembaca

diharapkan

isi kumpulan cerpen Hujan Kepagian

manfaat

darinya.

dalam

memilih

Selain itu, diharapkan
bahan

dan

pembaca

dapat

lebih

mengambil
semakin

jeli

bacaan dengan memilih cerpen-cerpen yang

mengandung pesan moral yang baik dan dapat menggunakan hasil penelitian
ini untuk sarana pembinaan watak diri pribadi.
d. Bagi Institusi
Hasil penelitian ini memberikan gambaran mengenai gaya bahasa
untuk dijadikan acuan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia serta
diharapkan agar institusi semakin jeli dalam memilih bahan bacaan khususnya
cerpen untuk media pembinaan kepribadian.

6

G. Metode Penelitian
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang peneliti dalam
memilih metode yang digunakan, seperti jenis data yang akan diteliti serta
kerangka berpikir yang menyertainya sehingga tujuan peneliti bisa tercapai.
Metode penelitian ini adalah kualitatif. Melalui metode ini, peneliti dilibatkan
langsung dalam situasi yang sedang dipelajari. Analisis metode kualitatif ini
memfokuskan
penempatan

pada
data

penunjukkan
pada

makna,

konteksnya

deskripsi,

masing-masing

penjernihan,
dan

dan

seringkali

menggambarkannya dalam bentuk kata-kata daripada dalam bentuk angkaangka. Format desain penelitian kualitatif secara teoretis berbeda dengan format
penelitian kuantitatif, namun perbedaannya terletak pada kesulitan di dalam
membuat desain penelitian kualitatif itu sendiri karena umumnya penelitian
kualitatif yang tidak berpola.1 Menurut Moleong, penelitian kualitatif yaitu:
“penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan,
dan sebagainya secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk katakata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode alamiah.”2
1. Objek Penelitian
Sesuai tujuan penelitian, yang menjadi objek penelitian ini adalah gaya
bahasa dalam cerpen Senyum dan Bayi dalam kumpulan cerpen Hujan Kepagian
karya Nugroho Notosusanto.
2. Data dan Sumber Data Penelitian
a. Data
Data penelitian ini berupa kutipan-kutipan kata, kalimat, dan wacana yang
terdapat dalam cerpen

Senyum dan Bayi pada kumpulan cerpen Hujan

1

Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi,Eekonomi,Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial
Lainnya (Jakarta: Kencana, 2007), h.67
2

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 6

7

Kepagian karya Nugroho Notosusanto yang di dalamnya terkandung gagasan
mengenai unsur-unsur cerita.
b. Sumber Data
Sumber data penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu sumber data primer dan
sumber data sekunder.
1) Sumber Data Primer
Sumber data primer dalam penelitian ini adalah cerpen Senyum dan Bayi
dalam kumpulan cerpen Hujan Kepagian karya Nugroho Notosusanto
diterbitkan pada tahun 1990 oleh Balai Pustaka.
2) Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder dalam penelitian ini yaitu buku maupun artikel yang
berkaitan dengan penelitian-penelitian dan karya-karya Nugroho Notosusanto.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Membaca buku kumpulan cerpen Hujan Kepagian khususnya cerpen Senyum
dan Bayi secara berulang.
b. Mencatat kalimat-kalimat yang menyatakan penggunaan gaya bahasa.
c. Mengurutkan kalimat-kalimat yang menyatakan penggunaan gaya bahasa yang
diteliti.
d. Menentukan kalimat-kalimat yang sesuai dengan penggunaan gaya bahasa yang
diteliti.
e. Menyimpulkan kalimat-kalimat yang sesuai dengan penggunaan gaya bahasa
yang diteliti.
f. Menyimpulkan makna gaya bahasa yang diteliti

4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model
analisis mengalir yang meliputi tiga komponen, yaitu reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan.
a. Reduksi data

8

Pada langkah ini data yang diperoleh dicatat dalam uraian yang
terperinci. Data-data yang dipilih hanya data yang berkaitan dengan masalah
yang akan dianalisis, yaitu gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen Senyum dan
Bayi pada kumpulan cerpen Hujan Kepagian.

b. Penyajian data
Pada langkah ini, data-data yang sudah ditetapkan kemudian disusun
secara teratur dan terperinci agar mudah dipahami. Data-data tersebut kemudian
dianalisis sehingga diperoleh deskripsi mengenai gaya bahasa yang digunakan.
c. Penarikan simpulan
Pada tahap ini dibuat kesimpulan mengenai hasil dari data yang
diperoleh sejak awal penelitian. Penarikan kesimpulan memuat hasil data
berupa gaya bahasa apa saja yang digunakan pengarang dan apa makna gaya
bahasa digunakan pengarang dalam buku kumpulan cerpen Hujan Kepagian.

BAB II

KAJIAN TEORETIS
A. Hakikat Gaya Bahasa
1. Pengertian Gaya Bahasa
Soepomo Poedjosoedarmoe dalam Made Sukada membicarakan gaya
bahasa sebagai salah satu variasi bahasa, yaitu termasuk ragam, yang ditandai
oleh suasana indah1. Thrall dan Hibbard dalam Made Sukada menekankan
gaya bahasa sebagai cara pengaturan kata-kata, untuk menyatakan
individualitas penulis, ide, dan maksud dalam pikirannya.2 Menurut Abrams
dalam Burhan Nurgiyantoro gaya bahasa adalah cara pengucapan bahasa
dalam prosa, atau bagaimana seseorang pengarang mengungkapkan sesuatu
yang akan dikemukakan3. Gaya bahasa dapat memperkaya makna sehingga
dapat menggapai pesan yang diinginkan secara lebih intensif hanya dengan
sedikit kata.
Dale dalam Tarigan berpendapat bahwa gaya bahasa adalah bahasa
indah

yang

digunakan

untuk

meningkatkan

efek

dengan

jalan

memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan
benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa
tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu.4 Sementara
itu, Keraf membatasi gaya bahasa sebagai cara mengungkapkan pikiran
melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian
penulis (pemakai bahasa).5
1

Made Sukada, Pembinaan Kritik Sastra Indonesia Masalah Sistematika Analisa Struktur Fiksi
(Bandung: Angkasa, 1987), h.84
2

Ibid

3

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
2005), h.276
4
5

Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Gaya Bahasa, (Bandung: Angkasa, 1985), h. 5
Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 113

9

10

Keraf berpendapat bahwa gaya bahasa harus memiliki sendi sebagai
syarat bahasa yang baik. Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung
tiga unsur berikut, yaitu kejujuran, sopan-santun, dan menarik.6 Kejujuran
dalam bahasa berarti mengikuti aturan-aturan serta kaidah-kaidah yang baik
dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah,
serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang
ketidakjujuran. Ukuran sopan-santun dalam bahasa dilihat dari kejelasan dan
kesingkatan kata atau kalimat yang digunakan. Sebuah gaya bahasa harus
pula menarik. Gaya bahasa dalam bentuk tulisan atau lisan yang digunakan
dalam karangan bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran dari
pengarang. Sebuah gaya bahasa yang menarik dapat diketahui melalui
beberapa hal berikut, yaitu variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik,
tenaga hidup, dan penuh daya imajinasi.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
gaya bahasa adalah ciri khas pengarang dalam menuangkan ide atau gagasan
ke dalam tulisan atau karyanya melalui bahasa yang khas dan indah.

2. Jenis Gaya Bahasa
Tarigan membagi jenis gaya bahasa menjadi empat jenis, yaitu (1)
gaya bahasa perbandingan, meliputi perumpamaan, metafora, personifikasi,
depersonifikasi, alegori, antitesis, pleonasme dan tautologi, perifrasis,
antisipasi atau prolepsis, serta koreksio atau epanortosis, (2) gaya bahasa
pertentangan, meliputi hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia,
paralepsis, zeugma dan silepsis, satire, inuendo, antifrasis, paradoks, klimaks,
antiklimaks, apostrof, anastrof atau inversi, apofasis atau preterisio, histeron
proteron, hipalase, sinisme, serta sarkasme, (3) gaya bahasa pertautan,
meliputi

metonimia,

sinekdoke,

alusi,

eufemisme,

eponim,

epitet,

antonomasia, erotesis, paralelisme, elipsis, gradasi, asindeton, serta
polisindeton, dan (4) gaya bahasa perulangan, meliputi aliterasi, asonansi,

6

Ibid

11

antanaklasis, kiasmus, epizeukis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke,
mesodilopsis, epanalepsis, serta anadiplosis.7
Keraf membagi jenis gaya bahasa ke dalam empat kelompok, yaitu (1)
berdasarkan pilihan kata, yang terdiri atas gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak
resmi, dan gaya bahasa percakapan, (2) berdasarkan nada, yang terdiri atas
gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga, serta gaya menengah, (3)
berdasarkan struktur kalimat, yang terdiri atas klimaks, antiklimaks,
paralelisme, antitesis, dan repetisi, (4) berdasarkan langsung tidaknya makna,
yang terdiri atas gaya bahasa retoris, meliputi aliterasi, asonansi, anastrof,
apofasis atau preterisio, apostrof, asindeton, polisindeton, kiasmus, elipsis,
eufimismus, litotes, histeron proteron, pleonasme dan tautologi, perifrasis,
prolepsis atau antisipasi, erotesis atau pertanyaan retoris, silepsis dan zeugma,
koreksio atau epanortosis, hiperbol, paradoks, serta oksimoron, dan gaya
bahasa kiasan, meliputi

persamaan atau

simile, metafora,

alegori,

personifikasi, alusi, eponim, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomasia,
hipalase, ironi, sinisme, sarkasme, satire, inuendo, antifrasis, serta pun atau
paronomasia.8
Sementara itu, Ratih Mihardja dalam Buku Pintar Sastra Indonesia
membagi jenis gaya bahasa ke dalam empat kelompok, yaitu (1) Majas
Perbandingan, meliputi alegori, alusio, simile, metafora, antropomorfisme,
sinestesia, antonomasia,aptronim, metonimia, hipokorisme, litotes, Hiperbola,
personifikasi, depersonifikasi, parsprototo, totum pro parte, eufimisme,
disfemisme, fable, parable, perifrase, eponim, simbolik, (2) majas sindiran,
meliputi ironi, sarkasme, sinisme, satire, innuendo, (3) majas penegasan
meliputi, apofasis, pleonasme, repetisi, pararima, aliterasi, paralelisme,
tautologi, sigmatisme, antanaklasis, klimaks, antiklimaks, inverse, retoris,
ellipsis, koreksio, polisindenton, asindenton, interupsi, ekskalamasio,
enumerasio, preterito, alonim, kolokasi, silepsis, zeugma, (4) majas
pertentangan meliputi, paradox, oksimoron, antitesis, kontradiksi interminus,
7
8

Henry Guntur Tarigan, op.cit., h. 6
Ibid., h. 115-145

12

anakronisme.9 Damayanti dalam Buku Pintar Sastra Indonesia membagi jenis
gaya bahasa ke dalam empat kelompok, yaitu (1) gaya bahasa perulangan,
meliputi aliterasi, asonansi, antanaklasis, kiasmus, epizeukis, tautotes,
anafora, epistrofa, simploke, mesodilopsis, epanalepsis, dan anadiplosis, (2)
gaya bahasa perbandingan, meliputi perumpamaan, metafora, personifikasi,
depersonifikasi, alegori, antitesis, pleonasme dan tautologi, perifrasis,
antisipasi, dan koreksio, (3) gaya bahasa pertentangan, meliputi hiperbola,
litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, zeugma dan silepsis, satire, inuendo,
antifrasis, paradoks, klimaks, antiklimaks, apostrof, anastrof, apofasis,
histeron proteron, hipalase, sinisme, dan sarkasme, (4) gaya bahasa pertautan,
meliputi metonimia, sinekdoke, alusio, eufimisme, eponim, antonomasia,
epitet, erotesis, paralelisme, elipsis, gradasi, asindeton, dan polisindeton.10
Sedangkan Semi membedakan jenis gaya bahasa berdasarkan persamaan
(metafora), meliputi alegori, personifikasi, hiperbola, litotes, dan eufemisme,
serta berdasarkan hubungan (metonimia), meliputi sinekdoke pars prototo,
sinekdoke totem proparte, ironi, inversi, repetisi, koreksi, klimaks,
antiklimaks, antitesis, pertanyaan retoris, alusio, paralelisme, sarkasme,
simbolik, pleonasme, paradoks, proterito, asindeton, dan polisindeton.11
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis cenderung mengacu
pada pendapat Tarigan bahwa jenis gaya bahasa dapat dibagi dalam empat
jenis, yaitu (1) gaya bahasa perbandingan, (2) gaya bahasa pertentangan, (3)
gaya bahasa pertautan, dan (4) gaya bahasa perulangan. Adapun penjelasan
masing-masing jenis gaya bahasa di atas adalah sebagai berikut.

a. Gaya Bahasa Perbandingan
Gaya bahasa perbandingan adalah gaya bahasa yang bermaksud
membandingkan dua hal yang dianggap mirip atau memiliki kesamaan sifat

9

Ratih Mihardja, Buku Pintar Sastra Indonesia (Jakarta: Laskar Aksara), h. 28-39

10
11

D. Damayanti, Buku Pintar Sastra Indonesia, (Yogyakarta: Araska, 2013), h. 43-61
M. Atar Semi, Anatomi Sastra, (Padang: Angkasa Raya, 1988), h. 50-56

13

(bentuk). Gaya bahasa yang termasuk ke dalam jenis gaya bahasa
perbandingan di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Perumpamaan
Perumpamaan atau simile adalah perbandingan dua hal yang pada
hakikatnya berlainan dan yang sengaja kita anggap sama.12 Contoh: kedua
kakak beradik itu bagaikan pinang dibelah dua wajahnya.
2) Metafora
Tarigan berpendapat bahwa metafora adalah sejenis gaya bahasa
perbandingan yang paling singkat, padat, tersusun rapi. 13 Contoh: Dio
mata keranjang.
3) Personifikasi
Tarigan berpendapat bahwa personifikasi ialah jenis majas yang
melekatkan sifat-sifat insani kepada benda yang tidak bernyawa dan ide
yang abstrak.14 Contoh: Bulan tersenyum senang.
4) Depersonifikasi
Gaya bahasa depersonifikasi atau pembendaan adalah kebalikan dari gaya
bahasa

personifikasi

atau

penginsanan.15

Apabila

personifikasi

menginsankan atau memanusiakan benda-benda, maka depersonifikasi
justru membendakan manusia atau insan. Contoh: kalau dikau menjadi
samudra, maka daku menjadi bahtera.
5) Alegori
Alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambang-lambang. Alegori
biasanya mengandung sifat-sifat moral atau spiritual manusia. Biasanya
alegori merupakan cerita-cerita yang panjang dan rumit dengan maksud
dan tujuan yang terselubung namun bagi pembaca yang jeli justru jelas dan
nyata.16 Contoh: fabel kancil dan buaya.
12

Henry Guntur Tarigan, op.cit., h. 9
Ibid., h. 15
14
Ibid., h. 17
15
Ibid., h. 21
13

16

Ibid., h. 24

14

6) Antitesis
Ducrot & Todorov dalam Tarigan berpendapat bahwa antitesis adalah
sejenis gaya bahasa yang mengadakan komparasi atau perbandingan antara
dua antonim yaitu kata-kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang
bertentangan.17 Contoh: dia bergembira-ria atas kegagalanku dalam ujian
ini.

7) Pleonasme dan Tautologi
Menurut Poerwadarminta dalam Tarigan, pleonasme adalah pemakaian
kata yang mubazir (berlebihan) yang sebenarnya tidak perlu. 18 Contoh:
saya telah mencatat kejadian itu dengan tangan saya sendiri.
8) Perifrasis
Perifrasis adalah sejenis gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme.
Namun pada gaya bahasa perifrasis, kata-kata yang berlebihan itu dapat
diganti dengan sebuah kata saja.19 Contoh: ayahanda telah tidur dengan
tenang dan beristirahat dengan damai buat selama-lamanya (maksudnya
meninggal).
9) Antisipasi atau Prolepsis
Kata antisipasi berasal dari bahasa Latin „anticipatio‟ yang berarti
„mendahului‟ atau „penetapan yang mendahului tentang sesuatu yang
masih akan dikerjakan atau akan terjadi‟.20 Contoh: kami sangat gembira,
minggu depan kami memperoleh hadiah dari Bapak Bupati.
10) Koreksio atau Epanortosis
Koreksio atau epanortosis adalah gaya bahasa yang berwujud mula-mula
ingin menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memeriksa dan memperbaiki

17

Ibid., h. 27
Ibid., h. 29
19
Ibid., h. 31
20
Ibid., h. 33
18

15

mana-mana yang salah.21 Contoh: dia benar-benar mencintai Neng Tetty,
eh bukan, Neng Terry.

b. Gaya Bahasa Pertentangan
Gaya bahasa pertentangan adalah gaya bahasa yang maknanya
bertentangan dengan kata-kata yang digunakan. Gaya bahasa yang termasuk
ke dalam jenis gaya bahasa pertentangan di antaranya sebagai berikut:
1) Hiperbola
Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang
berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya dengan maksud
memberi

penekanan

memperhebat,

pada

meningkatkan

suatu
kesan

pernyataan
dan

atau

situasi

pengaruhnya.22

untuk
Contoh:

tendangannya membelah cakrawala.
2) Litotes
Litotes adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang
dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan sebenarnya, misalnya untuk
merendahkan diri.23 Contoh: kemenangan kami ini tidak ada artinya sama
sekali.
3) Ironi
Ironi ialah majas yang menyatakan makna yang bertentangan, dengan
maksud berolok-olok.24 Contoh: tepat waktu sekali kamu, dari sepuluh
pagi baru datang.
4) Oksimoron
Keraf dalam Tarigan berpendapat bahwa oksimoron adalah gaya bahasa
yang mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang
berlawanan dalam frase yang sama.25 Contoh: olahraga mendaki gunung
memang sangat menarik hati walaupun sangat berbahaya.
21

Ibid., 34
Ibid., h. 55
23
Ibid., h. 58
24
Ibid., h. 61
25
Ibid., h. 63

22

16

5) Paronomasia
Paronomasia adalah gaya bahasa yang berisi penjajaran kata-kata yang
sama bunyinya tetapi artinya berbeda.26 Contoh: oh adinda sayang, akan
kutanam bunga tanjung di pantai tanjung hatimu.
6) Paralipsis
Paralipsis adalah gaya bahasa yang merupakan suatu formula yang
digunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seseorang tidak
mengatakan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri.27 Contoh: tidak
ada orang yang menyenangi kamu (maaf) yang saya maksud membenci
kamu di desa ini.
7) Zeugma dan Silepsis
Zeugma dan silepsis adalah gaya bahasa yang mempergunakan dua
konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua
atau lebih kata lain yang pada hakikatnya hanya sebuah saja yang
mempunyai hubungan dengan kata yang pertama.28 Dalam zeugma
terdapat gabungan gramatikal dua buah kata yang mengandung ciri-ciri
semantik yang bertentangan, contoh: paman saya nyata sekali bersifat
sosial dan egois. Sedangkan dalam silepsis, konstruksi yang digunakan itu
secara gramatikal benar, tetapi secara semantic salah, contoh: wanita itu
kehilangan harta dan kehormatannya.
8) Satire
Keraf dalam Tarigan berpendapat bahwa satire adalah ungkapan yang
menertawakan atau menolak sesuatu. Satire mengandung kritik tentang
kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan
secara etis maupun estetis.29 Contoh: jemu aku dengan bicaramu.

26

Ibid., h. 64
Ibid., h. 66
28
Ibid., h. 68
29
Ibid., h. 70
27

17

9) Inuendo
Inuendo adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran dengan
mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Gaya bahasa ini menyatakan
kritik dengan sugesti yang tidak langsung dan tampaknya tidak
menyakitkan hati kalau ditinjau sekilas.30 Contoh: dia berhasil masuk
sekolah negeri dengan sedikit menyuap.
10) Antifrasis
Antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan sebuah kata
dengan makna kebalikannya. Antifrasis akan dapat diketahui dan dipahami
dengan jelas bila pembaca atau penyimak dihadapkan pada kenyataan
bahwa yang dikatakan itu adalah sebaliknya.31 Contoh: lihat! Mahasiswa
paling rajin baru datang. (maksudnya terlambat)
11) Paradoks
Keraf dalam Tarigan berpendapat bahwa paradoks adalah semacam gaya
bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta
yang ada.32 Contoh: di dalam keramaian aku masihmerasa sepi.
12) Klimaks
Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan
pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasangagasan sebelumnya.33 Contoh: untuk bisa terwujud terampil dalam
pengajaran bahasa Indonesia, harus menguasai keterampilan menyimak,
keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis.
13) Antiklimaks
Antiklimaks adalah kebalikan dari gaya bahasa klimaks. Antiklimaks
merupakan suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan yang diurutkan dari
yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting.34 Contoh:
jangankan sejuta, seratus, atau sepuluh, serupiahpun aku tak punya.
30

Ibid., h. 73
Ibid., h. 75
32
Ibid., h. 77
33
Ibid., h. 79
34
Ibid., h. 80
31

18

14) Apostrof
Apostrof adalah sejenis gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari
yang hadir kepada yang tidak hadir.35 Contoh: wahai roh-roh nenek
moyang kami yang berada di negeri atas, tengah, dan bawah, lindungilah
desa kami ini.
15) Anastrof atau Inversi
Menurut Keraf dalam Tarigan, anastrof atau inversi adalah semacam gaya
retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam
kalimat. Dengan kata lain perubahan urutan subjek-predikat menjadi
predikat-subjek.36 Contoh: pergi merantaulah dia ke negeri sebrang tanpa
meninggalkan apa-apa.
16) Apofasis atau Preterisio
Apofasis atau preterisio adalah gaya bahasa yang digunakan oleh penulis,
pengarang, atau pembicara untuk menegaskan sesuatu tetapi tampaknya
menyangkalnya.37 Contoh: saya tidak ingin menyingkapkan dalam rapat
ini bahwa putrimu itu telah berbadan dua.
17) Histeron Proteron
Keraf dalam Tarigan berpendapat bahwa histeron proteron adalah
semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis
atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.38 Contoh: kalau kamu lulus ujian
SMP nanti, maka kamu akan menduduki jabatan yang tinggi di kantor ini.
18) Hipalase
Hipalase menurut Keraf dalam Tarigan adalah sejenis gaya bahasa yang
merupakan kebalikan dari suatu hubungan alamiah antara dua komponen
gagasan.39 Contoh: aku menarik sebuah kendaraan yang resah. (yang resah
adalah aku, bukan kendaraan)

35

Ibid., h. 83
Ibid., h. 84
37
Ibid., h. 86
38
Ibid., h. 87
39
Ibid., h. 89
36

19

19) Sinisme
Sinisme adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk
kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan
hati.40 Sinisme lebih kasar dari ironi. Contoh: kamu memang yang paling
tampan di bumi, yang mampu memperistri semua gadis di muka bumi.
20) Sarkasme
Menurut Poerwadarminta dalam Tarigan, sarkasme adalah sejenis gaya
bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakiti
hati. Ciri utama sarkasme adalah selalu mengandung kepahitan dan celaan
yang getir, menyakiti hati, dan kurang enak di dengar. 41 Contoh: Mulutmu
harimaumu, lihat kelakuan dirimu sendiri sebelum menilai orang lain!

c. Gaya Bahasa Pertautan
Gaya bahasa pertautan adalah gaya bahasa yang maknanya saling
bertautan dengan kata-kata yang digunakan. Gaya bahasa yang termasuk ke
dalam jenis gaya bahasa pertautan di antaranya sebagai berikut:
1) Metonimia
Metonimia adalah sejenis gaya bahasa yang mempergunakan nama sesuatu
barang bagi sesuatu yang lain berkaitan erat dengannya. 42 Contoh:
Keluarga kami selalu minum Aqua.
2) Sinekdoke
Moeliono dalam Tarigan berpendapat bahwa sinekdoke ialah majas yang
menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya atau
sebaliknya.43 contoh: (1) pars pro toto: sudah lama dia tidak kelihatan
batang hidungnya. (2) totem pro parte: SMA Negeri 1 Tangerang menang
dalam pertandingan bulu tangkis melawan SMA Negeri 2 Tangerang.
40

Ibid., h. 91
Ibid., h. 92
42
Ibid., h. 121
43
Ibid., h. 123
41

20

3) Alusi
Alusi atau kilatan adalah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak
langsung ke suatu peristiwa atau tokoh berdasarkan anggapan adanya
pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca serta
adanya kemampuan para pembaca untuk menangkap pengacuan itu.44
contoh: apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi? (kilatan yang mengacu
ke pemberontakan kaum komunis).
4) Eufemisme
Eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan
yang dirasakan kasar yang dianggap merugikan atau yang tidak
menyenangkan.45 Contoh: tunaaksara pengganti buta huruf.
5) Eponim
Eponim adalah semacam gaya bahasa yang mengandung nama seseorang
yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu
dipakai untuk menyatakan sifat itu.46 contoh: Hercules menyatakan
kekuatan.
6) Epitet
Epitet adalah semacam gaya bahasa yang mengandung acuan yang
menyatakan suatu sifat atau ciri yang khas dari seseorang atau sesuatu
hal.47 Contoh: lonceng pagi bersahut-sahutan menyongsong mentari yang
menerangi alam. (lonceng pagi = ayam jantan).
7) Antonomasia
Antonomasia adalah gaya bahasa yang merupakan penggunaan gelar resmi
atau jabatan sebagai pengganti nama diri.48 Contoh: Gubernur DKI Jakarta
akan meresmikan pembukaan jalan layang di Jakarta Pusat minggu depan.

44

Ibid., h. 124
Ibid., h. 125
46
Ibid., h. 127
47
Ibid., h. 128
48
Ibid., h. 129
45

21

8) Erotesis
Erotesis adalah sejenis gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang
digunakan dalam tulisan atau pidato yang bertujuan untuk mencapai efek
yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar serta sama sekali tidak
menuntut suatu jawaban.49 Contoh: apakah sudah wajar bila kesalahan
atau kegagalan itu ditimpakan seluruhnya kepada guru?
9) Paralelisme
Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai
kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki
fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.50 Contoh: baik
kaum pria maupun kaum wanita mempunyai hak dan kewajiban yang
sama secara hukum.
10) Elipsis
Elipsis adalah gaya bahasa yang berupa penghilangan salah satu atau
beberapa unsure penting dalam konstruksi sintaksis yang lengkap.51
Contoh: mereka ke Jakarta minggu lalu. (penghilangan predikat pergi atau
berangkat)
11) Gradasi
Gradasi adalah gaya bahasa yang mengandung suatu rangkaian atau urutan
paling sedikit tiga kata atau istilah yang secara sintaksis bersamaan yang
mempunyai suatu atau beberapa ciri semantic secara umum dan yang di
antaranya paling sedikit suatu ciri diulang-ulang dengan perubahanperubahan yang bersifat kuantitatif.52 Contoh: aku mempersembahkan
cintaku padamu, cinta yang bersih dan suci, suci murni tanpa noda, noda
yang selalu kujauhi dalam hidup ini, hidup yang berpedomankan perintah
Tuhan, Tuhan pencipta alam semesta yang kupuja selama hidupku.

49

Ibid., h. 130
Ibid., h. 131
51
Ibid., h. 133
52
Ibid., h. 134
50

22

12) Asindeton
Asindeton adalah semacam gaya bahasa yang berupa acuan padat dan
mampat di mana beberapa kata, frase, atau klausa yang sederajat tidak
dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk tersebut biasanya
dipisahkan oleh tanda koma.

53

Contoh: ayah, ibu, anak, merupakan inti

suatu keluarga.
13) Polisindeton
Polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asindeton.
Dalam polisindeton, berapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan
dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.54 Contoh:
akhirnya saya menemuinya kemudian memegang tangannya dan
memeluknya karena begitu rindunya.

d. Gaya Bahasa Perulangan
Gaya bahasa perulangan atau repetisi adalah gaya bahasa yang
mengandung perulangan bunyi, suku kata, kata, frase, ataupun bagian kalimat
yang dianggap penting untuk member penekanan dalam sebuah konteks yang
sesuai. Gaya bahasa yang termasuk ke dalam jenis gaya bahasa perulangan di
antaranya sebagai berikut:
1) Aliterasi
Keraf dalam Tarigan berpendapat bahwa aliterasi adalah semacam gaya
bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya
digunakan dalam puisi, kadang-kadang dalam prosa, untuk perhiasan atau
untuk penekanan.55 Contoh: dalam malam kelam aku tenggelam.
2) Asonansi
Asonansi adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan
vokal yang sama. Biasanya dipakai dalam karya puisi ataupun dalam prosa

53

Ibid., h. 136
Ibid., h. 137
55
Ibid., h. 175
54

23

untuk memperoleh efek penekanan atau menyelamatkan keindahan.56
Contoh: ini muka penuh luka siapa punya.
3) Antanaklasis
Antanaklasis adalah gaya bahasa yang mengandung ulangan kata yang
sama dengan makna yang berbeda.57 Contoh: saya selalu membawa buah
tangan untuk buah hati saya, jika saya pulang dari luar kota.
4) Kiasmus
Menurut Ducrot dan Todorov dalam Tarigan, kiasmus adalah gaya bahasa
yang berisikan perulangan dan sekaligus pula merupakan inversi hubungan
antara dua kata dalam satu kalimat.58 Contoh: yang kaya merasa dirinya
miskin, sedangkan yang miskin justru merasa dirinya kaya.
5) Epizeukis
Epizeukis adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung, yaitu
kata yang ditekankan atau yang dipentingkan diulang beberapa kali
berturut-turut.59 Contoh: ingat, kamu harus bertobat, bertobat, sekali lagi
bertobat agar dosa-dosamu diampuni oleh Tuhan.
6) Tautotes
Keraf dalam Tarigan berpendapat bahwa tautotes adalah gaya bahasa
perulangan atau repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah
konstruksi.60 Contoh: aku menuduh kamu, kamu menuduh aku, aku dan
kamu saling menuduh, kamu dan aku berseteru.
7) Anafora
Anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama
pada

setiap

baris

atau

setiap

kalimat.61

Contoh:

kaulah

yang

menginginkanku jadi pendampingmu, kaulah yang mengajakku untuk
bersamamu, tapi kaulah yang menghancurkan hatiku berkeping-keping.

56

Ibid., h. 176
Ibid., h. 179
58
Ibid., h. 180
59
Ibid., h. 182
60
Ibid., h. 183
61
Ibid., h. 184
57

24

8) Epistrofa
Epistrofa adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan
kata atau frase pada akhir baris atau kalimat berurutan.62 Contoh:
Bahasa resmi adalah bahasa Indonesia.
Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia.
Bahasa kebanggaan adalah bahasa Indonesia.
9) Simploke
Keraf dalam Tarigan berpendapat bahwa simploke adalah sejenis gaya
bahasa repetisi yang berupa perulangan pada awal dan akhir beberapa
baris atau kalimat berturut-turut.63 Contoh:
Ibu bilang saya pemalas. Saya bilang biar saja.
Ibu bilang saya lamban. Saya bilang biar saja.
Ibu bilang saya manja. Saya bilang biar saja.
10) Mesodilopsis
Mesodilopsis adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud
perulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau beberapa kalimat
berurutan.64 Contoh:
Para pendidik harus meningkatkan kecerdasan bangsa.
Para dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat.
Para polisi harus meningkatkan keamanan umum.
11) Epanalepsis
Epanalepsis adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan
kata pertama dari baris, kalusa, atau kalimat menjadi terakhir.65 Contoh:
saya akan tetap berusaha mencapai cita-cita saya.

62

Ibid., h. 186
Ibid., h. 187
64
Ibid., h. 188
65
Ibid., h. 190
63

25

12) Anadiplosis
Anadiplosis adalah sejenis gaya bahasa repetisi di mana kata atau frase
terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frase pertama dari
klausa atau kalimat berikutnya.66 Contoh:
Dalam raga ada darah
Dalam darah ada tenaga
Dalam tenaga ada daya
Dalam daya ada segala
B. Hakikat Cerpen
1. Pengertian Cerpen
Cerpen merupakan karya sastra nonilmiah yang berbentuk prosa
naratif. Cerpen sesuai dengan namanya, adalah cerita yang pendek. Akan
tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya, tak
ada kesepakatan di antara para pengarang dan para ahli. Edgar Allan Poe
mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam
sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam, suatu hal
yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel.67 Kelebihan cerpen
yang khas adalah kemampuannya mengemukakan lebih banyak, secara
implisit dari sekedar apa yang diceritakannya.68
Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan, cerita pendek adalah
akronim dari cerita pendek..69 Sedangkan Nugroho Notosusanto berpendapat
bahwa cerita pendek adalah cerita yang panjangnya di sekitar 5000 kata atau
kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada
dirinya sendiri.70
66

Ibid., h. 191

67

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi (Yogyakarta: Gajah Mada University Press,
2005), h. 10
68
Ibid., h. 11
69

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2008, cet. Keempat), h. 264
70
Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra (Bandung: Angkasa, 1993), h. 176

26

Pendapat lain diungkapkan oleh Kosasih bahwa cerita pendek
(cerpen) merupakan cerita yang menurut wujud fisiknya berbentuk pendek.
Cerita pendek merupakan cerita yang habis dibaca sekitar sepuluh menit atau
setengah jam. Jumlah katanya sekitar 500-5000 kata. Oleh karena itu, cerita
pendek pada umumnya bertema sederhana, jumlah tokohnya terbatas, jalan
ceritanya sederhana, dan latarnya meliputi ruang lingkup yang terbatas.71
Sementara Ellery Sedgwick dalam Tarigan mengatakan bahwa cerita pendek
adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang
memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca. Cerita pendek tidak
boleh dipenuhi dengan hal-hal yang tidak perlu.72
Selanjutny

Dokumen yang terkait

Analisis Perbandingan Alur pada Lima Cerpen Karya Dewi Dee Lestari dan Film Rectoverso serta Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA

2 35 186

Gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah

19 175 84

Gaya bahasa kumpulan puisi hujan bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Pertama

4 14 113

Masalah Sosial dalam kumpulan cerpen mata yang enak dipandang karya Ahmad Tohari dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia

7 128 101

Kebudayaan Tionghoa dalam novel dimsum terakhir karya Clarang dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia Di SMA

0 7 158

Penggunaan diksi dalam media sosial facebook dan implikasinya dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA

2 25 124

KONFLIK DALAM CERPEN PADA KUMPULAN CERPEN LAKI-LAKI PEMANGGUL GONI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

5 63 47

Potret Sejarah Revolusi Indonesia dalam Kumpulan Cerpen Perempuan Karya Mochtar Lubis dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

6 81 167

Kritik Sosial dalam Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA

4 25 93

Analisis Cerpen “Senyum” dalam Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian Karya Nugroho Notosusanto (Sebuah Alternatif Materi Pembelajaran Sastra)

2 22 10

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23