Studi Budidaya Lily Potong (Lilium Spp.) di Kebun Cibodas PT. Puri Sekar Asri Lembang-Bandung, Jawa Barat.

STUDI BUDIDAYA LILY POTONG (Lilium Spp.)
DI KEBUN CIBODAS PT. PURI SEKAR ASRI
LEMBANG-BANDUNG, JAWA BARAT

ISTIR SYADAH
A24070141

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

STUDI BUDIDAYA LILY POTONG (Lilium Spp.)
DI KEBUN CIBODAS PT. PURI SEKAR ASRI
LEMBANG-BANDUNG, JAWA BARAT
Cultivation Study of Lily Cut Flower at Cibodas Field
PT. Puri Sekar Asri, Lembang, Bandung, West Java
Istir Syadah 1, Desta Wirnas2, Surjono Hadi Sutjahjo2
Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB
2
Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB
1

Abstract
Lily as cut flower is one of ornamental plant which has high price in Indonesia. High demand of lily cut flower in domestic
market must be followed by good agriculture practices to decrease the lost product. The internship was implemented at PT. Puri Sekar
Asri, Lembang, Bandung which supplies lily as cut flower. The purposes of this internship were to know, learn and analyze the harvest
and postharvest management of lily cut flower that carried out in Cibodas field and also to increase the basic knowledge and skills of the
author related to the cultivation, harvest and postharvest handling on lily cut flower. Through the observations of five lily varieties which
were cultivated in Cibodas field, Crystal Blanca variety was the most widely cultivated variety. The development of lilies were based on
each characteristic of the variety and its growing environment. Cool storage could be extending the vaselife of lily cut flower for 5 days.
Exact Harvest and postharvest standardization and practices have not been fully implemented by workers at the company .it can be seen
from the very high presentage of harvesting error at Acapulco dan Rio Negro variety which can reach over 50% and high presentage
grading errors at Lake Carey variety which can reach 40%.
Keywords : Lilium spp., harvest, postharvest, vaselife

RINGKASAN

ISTIR SYADAH. Studi Budidaya Lily Potong (Lilium Spp.) di Kebun
Cibodas PT. Puri Sekar Asri Lembang-Bandung, Jawa Barat. (Dibimbing
oleh DESTA WIRNAS dan SURJONO HADI SUTJAHJO).
Kegiatan magang dilaksanakan selama empat bulan di kebun budidaya
Cibodas PT. Puri Sekar Asri dimulai pada bulan Maret hingga Juli 2011. Kegiatan
yang dilakukan penulis selama magang adalah bekerja sebagai karyawan harian
selama satu bulan, pendamping kepala bagian selama satu bulan dan pendamping
manajer kebun selama dua bulan. Kegiatan magang ini bertujuan untuk
mempelajari teknik budidaya lily khususnya aspek panen dan pasca panen bunga
potong lily secara langsung di PT. Puri Sekar Asri serta untuk meningkatkan
kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan mahasiswa dalam kegiatan budidaya,
pengelolaan produksi maupun aspek manajerial usaha bunga potong lily.
Kebun produksi bunga potong PT. Puri Sekar Asri terletak di Desa
Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Letak
geografis PT. Puri Sekar Asri berada pada titik koordinat 6 o 48’42” LS-107o 37’3”
BT. Kebun produksi Cibodas terletak pada ketinggian 1260 m di atas permukaan
laut (dpl). Kantor pusat PT. Puri Sekar Asri beralamat di Jl. Pangkalanjati, Pondok
Labu, Jakarta Selatan, sedangkan kebun produksi bunga potong terletak di Desa
Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Suhu
harian rata-rata Desa Cibodas adalah 15 oC - 24 oC dan kelembaban relatif harian
rata-rata 82%. Jenis tanah yang terdapat di kebun produksi Cibodas adalah
Andosol. Kebun produksi Cibodas dikelola oleh 1 orang manajer divisi kebun, 3
orang kepala bagian subdivisi, 3 orang tenaga kerja pria dan 5 orang tenaga kerja
wanita.
Kegiatan budidaya bunga potong lily secara keseluruhan dilaksanakan di
kebun budidaya Cibodas yang dimulai dari penanaman hingga pascapanen. Umbi
yang ditanam di kebun merupakan umbi siap tanam dan diimpor langsung dari
perusahaan bulb grower bernama jan de wit en zonen bv di Belanda. Produksi lily
di kebun produksi Cibodas dilakukan pada screenhouse dan umbi ditanam di

dalam bedengan. Jangka waktu dari penanaman hingga panen adalah sekitar 11-13
minggu tergantung pada jenis lily yang ditanam.
Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan terhadap pertumbuhan
tanaman lily (vegetative dan generatif), pemanenan (kriteria panen, persentase
hasil panen dan persentase kesalahan panen), pasca panen (kriteria grading,
persentase grade dan persentase kesalahan grade) dan vase life bunga potong lily.
Pengamatan dilakukan pada lima varietas lily yang ditanam yaitu Acapulco,
Conca D’or, Rio Negro, Lake Carey dan Crystal Blanca.
Umbi lily ditanam pada bedengan berukuran ± 30 x 1 m dengan jarak
tanam ± 20 x 15 cm. Media tanam yang digunakan berupa campuran antara tanah
dengan pupuk dasar (kotoran ayam, sekam dan kotoran sapi). Kegiatan
pemeliharaan yang dilakukan adalah penyiraman, pemupukan, pengendalian
gulma, pengendalian hama dan penyakit serta pinching.
Perbedaan pertumbuhan antar varietas lily yang ditanam disebabkan oleh
perbedaan karakteristik masing-masing varietas. Kondisi screenhouse yang masih
dalam tahap perbaikan menyebabkan perlindungan tanaman lily dari lingkungan
kurang optimal sehingga mempengaruhi kondisi fisik tanaman lily. Penerapan
standar perusahaan baik saat panen maupun saat grading belum diterapkan
dengan baik. Hal ini terlihat dari persentase kesalahan panen sebesar 84 % pada
varietas Acapulco dan persentase kesalahan grading sebesar 40 % pada varietas
Lake Carey. Kurangnya jumlah pekerja yang memenuhi kualifikasi pada kegiatan
panen dan pasca panen serta pengawasan terhadap proses panen maupun pasca
panen merupakan kendala utama yang sedang dihadapi perusahaan, sehingga
diperlukannya evaluasi serta pengawasan yang lebih ketat pada proses panen
maupun pasca panen bunga lily potong.

STUDI BUDIDAYA LILY POTONG (Lilium Spp.)
DI KEBUN CIBODAS PT. PURI SEKAR ASRI
LEMBANG-BANDUNG, JAWA BARAT

Skripsi sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

ISTIR SYADAH
A24070141

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul : STUDI BUDIDAYA LILY POTONG (Lilium Spp.) DI

KEBUN CIBODAS PT. PURI SEKAR ASRI LEMBANGBANDUNG, JAWA BARAT.
Nama : ISTIR SYADAH
NIM

: A24070141

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I

Dr. Desta Wirnas, SP. M.Si.
NIP. 19701228 200003 2 001

Dosen Pembimbing II

Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, M.S.
NIP. 19600204 198503 1 003

Mengetahui,
Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc. Agr.
NIP. 19611101 198703 1 003

Tanggal disetujui :

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pontianak, Kalimantan Barat pada 1 Juni 1989 yang
merupakan anak ketiga dari Hj. Dra. Roswati A.W. dan H. A. Hasan Gaffar.
Tahun 2001 penulis lulus pendidikan Sekolah Dasar di MINT Bawamai
Pontianak, kemudian pada tahun 2004 penulis menyelesaikan studi di MTs.
Assalaam Sukoharjo, Jawa Tengah. Tahun 2007 penulis menyelesaikan studi di
SMA Assalaam Sukoharjo, Jawa Tengah. Penulis diterima di Institut Pertanian
Bogor (IPB) dengan Program Studi Agronomi dan Hortikultura melalui jalur
Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2007.
Penulis aktif dalam kegiatan Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA)
Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Barat (KPMKB) pada tahun 2007
hingga 2010. Penulis juga mengikuti beberapa kepanitiaan di dalam organisasi
seperti Gebyar Pertanian, Agrosportment dan Festival Tanaman. Penulis
melaksanakan kegiatan magang untuk penulisan skripsi selama empat bulan pada
bulan Maret hingga Juli 2011 di kebun budidaya Cibodas PT. Puri Sekar Asri,
Lembang-Bandung, Jawa Barat.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat
dan hidayah-Nya penulis diberi kemudahan dan kelancaran sehingga dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi magang yang berjudul “Studi
Budidaya Lily Potong (Lilium Spp.) di Kebun Cibodas PT. Puri Sekar Asri
Lembang-Bandung, Jawa Barat” merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar

Sarjana Pertanian pada

Departemen Agronomi dan

Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyelsaian skripsi ini. Secara khusus penulis mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Dr. Desta Wirnas, SP. MSi. dan Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, MS.
selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bantuan, bimbingan,
ilmu dan pengarahan selama penyelesaian skripsi.
2. Dr. Ir. Faiza C. Suwarno, MS. selaku pembimbing akademik yang telah
membantu dan membimbing penulis selama masa perkuliahan.
3. Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, MSc. Agr. selaku dosen penguji yang telah
memberikan saran dan masukan yang bermanfaat dalam penyusunan
skripsi ini.
4. Ayah, Mamak, Didi, Kak La, Kak Long, Bang Agus dan seluruh keluarga
besar Abdul Wahab dan Abdul Gaffar yang telah memberikan perhatian,
kasih sayang dan dukungan yang tidak pernah habis kepada penulis.
5. Seluruh staf PT. Puri Sekar Asri dan pekerja di kebun budidaya Cibodas
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan
kegiatan magang dan membantu penulis selama pelaksanaan magang
berlangsung.
6. AGH 44 terutama Ephie, Okti, Tahu, Ita, Eva, Lilies, Dita, Lia Juwita,
Galuh, Ipeh, Anne Syifa, Gina, Benny, Kosmas yang telah menjadi
sahabat setia serta memberikan dukungan dan motivasi penuh bagi
penulis.

7. Sahabat dan juga teman-teman di PADASUKA, Ulanda, Eka, Muty,
Merry, Molly, Mprit, Elvi, Euis, Atin dan Elli yang telah memberikan
motivasi dan dukungan kepada penulis.
Semoga skripsi ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi
semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Januari 2012
Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ....................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR ...............................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................

x

PENDAHULUAN ...................................................................................
Latar Belakang .............................................................................
Tujuan ..........................................................................................

1
1
2

TINJAUAN PUSTAKA............................................................................
Botani............................................................................................
Syarat Tumbuh ..............................................................................
Budidaya .......................................................................................
.......... Pemanenan ....................................................................................
Pasca Panen ...................................................................................

3
3
5
7
14
15

METODOLOGI .......................................................................................
Waktu dan Tempat .......................................................................
Metode Pelaksanaan .....................................................................
Pengamatan dan Pengumpulan Data .............................................
Analisis Data dan Informasi . .........................................................

20
20
20
22
23

KEADAAN UMUM .................................................................................
Letak Geografis dan Wilayah Administratif ...................................
Keadaan Iklim dan Tanah ..............................................................
Luas Areal dan Tata Guna Lahan ...................................................
Keadaan Tanaman dan Produksi ....................................................
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan.......................................

25
25
25
26
27
29

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG ..............................................
Aspek Teknis .................................................................................
Teknik Budidaya ................................................................
Persiapan Lahan .................................................................
Persiapan Tanam ................................................................
Penanaman .........................................................................
Pemeliharaan......................................................................
Panen .................................................................................
Pasca Panen .......................................................................
Karakteristik Tanaman Lily ................................................
Aspek Manajerial ..........................................................................
Karyawan Harian ...............................................................
Pendamping Kepala Bagian Subdivisi ................................
Asisten Manajer Divisi Produksi ........................................

33
33
33
34
36
38
39
48
50
57
59
59
60
60

HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................
Pertumbuhan Tanaman Lily ...........................................................

62
62

Panen ............................................................................................
Pasca Panen ...................................................................................
Vaselife .........................................................................................

68
74
79

KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................
Kesimpulan ...................................................................................
Saran .............................................................................................

81
81
82

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................

83

LAMPIRAN .............................................................................................

85

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Data Penanaman Umbi Lily Selama Tiga Bulan (Februari-Mei

2011) .............................................................................................

28

2. Jenis dan Komposisi Pupuk Cair yang Digunakan di Kebun
Produksi Cibodas ..........................................................................

42

3. Jenis dan Komposisi Pestisida yang Digunakan di Kebun
Produksi Cibodas ...........................................................................

44

4. Standar Panen yang Digunakan sebagai Acuan Pemanenan ............

49

5. Standar Grading Lily yang Digunakan di Kebun Produksi .............

52

6. Tinggi dan Jumlah Daun berbagai Varietas Lily pada
Pengamatan Terakhir .....................................................................

63

7. Panjang Kuntum dan Diameter Kuntum berbagai Varietas Lily
pada Pengamatan Terakhir .............................................................

64

8. Jumlah Kuntum berbagai Varietas Lily ..........................................

67

9. Persentase Panen terhadap Populasi Tanam berbagai Varietas
Lily ................................................................................................

70

10. Standar Panen dan Persentase Kesalahan Panen Aktual Lily
Potong di Kebun Produksi Cibodas ................................................

74

11. Persentase Grade pada berbagai Varietas Lily di Kebun
Produksi Cibodas ...........................................................................

76

12. Standar Grading Lily Potong di Kebun Produksi Cibodas ..............

77

13. Persentase Kesalahan Grading Aktual Lily Potong di Kebun
Produksi Cibodas ...........................................................................

78

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1. Alur Penanganan Pasca Panen Bunga Potong..................................

16

2. Peta Lokasi Kebun Produksi Cibodas PT. Puri Sekar Asri ...............

25

3. Perusahaan Bulb Grower yang Memasok Umbi Lily di PT. Puri
Sekar Asri .......................................................................................

33

4. Umbi Lily dalam Peti Kemas yang Diimpor dari Perusahaan Bulb
Grower di Belanda ..........................................................................

34

5. Pembersihan dan Pengolahan Lahan untuk Persiapan Tanam Lily ...

34

6. (a) Lokasi Pencampuran Pupuk Dasar dan (b) Pengalokasian Pupuk
Dasar ..............................................................................................

35

7. Kegiatan Penyiraman pada Pengolahan Lahan Lanjutan ..................

36

8. Shading Net ....................................................................................

37

9. Papan Keterangan Tanam ...............................................................

37

10. (a) Kegiatan Penanaman dan (b) Supporting Net .............................

38

11. (a) Kegiatan Penyiraman yang Dilakukan Karyawan dan
(b) Shower yang Digunakan pada Ujung Selang ..............................

40

12. Sumber Air Irigasi Kebun Produksi Cibodas ...................................

40

13. Sprinkler .........................................................................................

41

14. Kegiatan Pemupukan ......................................................................

42

15. Aplikasi Pupuk Cair ........................................................................

43

16. (a) Aplikasi Pestisida dan (b) Mesin Compressor ............................

45

17. (a) Lily yang Terserang Aphid, (b) Lily yang Terserang Siput,
(c) Lily yang Terserang Ulat dan (d) Hama Ulat pada Lily ..............

46

18. (a) Penyakit Pythium pada Tanaman Lily dan (b) Penyakit
Fusarium pada Tanaman Lily .........................................................

47

19. Kegiatan Pemanenan Lily di Kebun Produksi Cibodas ....................

48

20. (a) Kuntum Layak Panen pada Lily Jenis Acapulco, (b) Crystal
Blanca, (c) Rio Negro, (d) Conca D’or dan (e) Lake Carey .............

49

21. Kegiatan Sortasi Hasil Panen Lily ...................................................

51

22. Kegiatan Grading pada Lily ............................................................

52

23. Kegiatan Pengemasan dan Pembagian Pesanan pada Lily ...............

53

24. (a) Pengemasan dengan Menggunakan Kardus dan (b) Pengemasan
dengan Memanfaatkan Peti Kemas Umbi ........................................

54

25. (a) Alat Transportasi Berupa Mobil Boks Perusahaan dan (b) Mobil
Paket...............................................................................................

55

26. Kegiatan Penjemuran Lily...............................................................

56

27. (a) Penyimpanan Lily di Ruang Pendingin dan (b) Alat
Pendingin/Cooler ............................................................................

57

28. Penampilan Bunga pada berbagai Varietas Lily ..............................

58

29. Umur Tanaman berbagai Varietas Lily di Kebun Produksi Cibodas

68

30. Produksi Lily Potong Tahun 2010 ...................................................

69

31. Scoring Indeks Warna Kematangan Kuntum Lily Potong di Kebun
Produksi Cibodas ............................................................................

72

32. Kerusakan pada Lily Akibat Kegiatan Panen dan Pasca Panen ........

77

33. Lama Vaselife berbagai Varietas Lily pada Cool Storage dan Suhu
Ruang .............................................................................................

80

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1. Jurnal Harian Magang Penulis di Kebun Produksi PT. Puri
Sekar Asri, Desa Cibodas, Lembang, Bandung, Jawa Barat ...........

86

2. Volume Curah Hujan dan Jumlah Hari Hujan Desa Cibodas,
Lembang, Bandung Tahun 2006-2010 ..........................................

88

3. Data Suhu (oC), Kelembaban/RH, Curah Hujan Desa Cibodas,
Lembang, Bandung Tahun 2011 ...................................................

89

4. Lay Out Tata Guna Lahan Kebun Produksi Cibodas .......................

95

5. Struktur Organisasi PT. Puri Sekar Asri .........................................

96

6. Jenis Umbi, Ukuran Umbi dan Jumlah Umbi dalam Peti Kemas ....

97

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bunga potong merupakan komoditi yang khas dan dijual dalam keadaan
segar. Keunggulan bunga potong adalah bentuk dan warnanya yang secara artistik
mampu menarik calon konsumen (Longdong, 2009). Bunga potong lily adalah
salah satu komoditas tanaman hias yang memiliki nilai jual cukup tinggi karena
memiliki bentuk yang indah, bau yang harum serta warna yang bermacam-macam
(Marlina, 2009). Harga bunga lily per tangkai di pasar domestik rata-rata jauh
lebih tinggi dibandingkan harga bunga potong lainnya (Haryani,1994). Tidak
hanya di Indonesia, di Eropa bunga lily juga termasuk bunga potong yang
mempunyai pasar tertinggi bersama-sama dengan mawar, tulip, krisan, dan
gerbera (Nainggolan 1995).
Sampai dengan tahun 1996, permintaan bunga potong lily dalam negeri
mencapai 10 juta tangkai per tahun atau sekitar delapan milyar rupiah. Permintaan
tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan perbaikan ekonomi dan
pembangunan pariwisata nasional (Yursak, 2003). Menurut data dari Direktorat
budidaya tanaman hias, ekspor bunga potong di Indonesia pada 2004 senilai USD
1.538.245 dengan negara tujuan Jepang, Korea Selatan, Singapura, Australia dan
USA. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peluang dan potensi bagi bunga potong
lily untuk diekspor ke luar negeri.
Terdapat tiga jenis lily yang dibudidayakan di Indonesia yaitu Asiatic
hibrida, Oriental Hibrida dan Lilium longiflorum atau biasa disebut dengan Easter
Lily. Jenis lily yang paling cocok ditanam di Indonesia adalah jenis Oriental
Hibrida. Lily jenis ini juga lebih disukai konsumen karena bunganya indah dan
wangi (Direktorat Tanaman Hias, 2005).
Ketersediaan dan kualitas bunga potong lily merupakan faktor penting
sebagai bunga potong yang diminati. Hal ini tidak terlepas dari teknik pemanenan
dan penanganan pasca panen yang dilakukan perusahaan budidaya bunga lily
potong tersebut. Teknik panen dan penanganan pasca panen yang tepat pada
bunga lily potong akan mengurangi kehilangan hasil, meningkatkan mutu dan

2

kualitas serta nilai jual karena bunga lily merupakan komoditas hortikultura yang
bersifat mudah rusak.
PT. Puri Sekar Asri merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di
bidang florikultur terutama produksi berbagai jenis bunga potong. Salah satu
komoditas utama yang diproduksi PT. Puri Sekar Asri adalah bunga lily potong.
Pemilihan lokasi magang di PT. Puri Sekar Asri dilakukan untuk mempelajari dan
mengetahui pengusahaan bunga potong lily di perusahaan tersebut.
Tujuan
Tujuan dilaksanakannya kegiatan magang di kebun budidaya PT. Puri
Sekar Asri adalah :
1. Mempelajari teknik budidaya lily khususnya aspek panen dan pasca panen
bunga potong lily secara langsung di PT. Puri Sekar Asri.
2. Meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan mahasiswa
dalam kegiatan budidaya, pengelolaan produksi maupun aspek manajerial
usaha bunga potong lily.

3

TINJAUAN PUSTAKA
Botani
Tanaman lily (Lilium Spp.) merupakan tanaman yang dikenal sebagai
bunga potong dan sering digunakan dalam rangkaian bunga maupun dekorasi
ruangan. Lily dapat tumbuh secara optimal pada dataran tinggi antara 400-1500 m
di atas permukaan laut. Klasifikasi botani tanaman lily adalah sebagai berikut :
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiosperma

Kelas

: Monocotyledone

Ordo

: Liliales

Famili

: Liliaceae

Genus

: Lilium

Spesies

: Lilium spp.
Easter Lily Lilium (Lilium longiflorum) pertama kali dijelaskan secara

botani oleh Carl Peter Thunberg pada tahun 1794. Easter Lily merupakan tanaman
asli dari kepulauan tropis Liukiu yang termasuk ke dalam deretan kepulauan
Okinawa dan Oshima serta Kawanabe. Menurut sebuah legenda Easter Lily tiba di
Bermuda setelah sebuah badai menghancurkan kapal yang bepergian dari Asia
Timur ke Inggris. Kapal yang sudah rusak tersebut mendarat di Bermuda, dan
seorang penumpang misionaris meninggalkan beberapa umbi yang telah
dikumpulkannya di Thailand kepada seorang penghuni pulau sebagai bayaran atas
penerimaannya selama kapal diperbaiki. Ketika tanaman Lily telah tumbuh subur
di Bermuda, seorang penanam bunga dari Philadelphia membawa umbi lily untuk
ditanam di greenhouse miliknya. Kejadian ini mengenalkan Easter Lily pada
Amerika (Miller, 1992).
Secara tradisional lily dikelompokkan pada hibrida-hibrida Asiatic,
Oriental, dan Longiflorum dengan karakteristik spesifiknya masing-masing yang
positif maupun negatif. Hibrida Asiatic dikenal dengan banyaknya pilihan warna,
biasanya berbunga banyak dan umbinya lebih kecil dibandingkan dengan umbi
dari hibrida Oriental. Sebaliknya bunga-bunga dari hibrida Asiatic berukuran
lebih kecil dan kurang eksotis bila dibandingkan dengan kedua jenis lainnya.

4

Selain itu beberapa diantara hasil persilangan hibrida Asiatic rentan terhadap
penyakit daun terbakar. Hibrida Oriental menghasilkan bunga-bunga yang lebih
besar dengan bentuk yang lebih indah dan wangi yang lebih kuat. Hibrida Oriental
tidak membutuhkan banyak cahaya namun masa produksinya lebih lama, variasi
warna yang terbatas serta rentan terhadap berbagai macam penyakit. Hibrida
Longiflorum dapat dibedakan dari ukurannya yang besar dan bentuk kelopaknya.
Kebutuhan udara dingin hibrida Longiflorum terbatas serta memiliki karakteristik
kekuatan batang yang baik, namun hibrida Longiflorum memiliki keterbatasan
pilihan warna yang ada serta sangat rentan terhadap virus.
Teknik

persilangan

baru

telah

ditemukan

untuk

memungkinkan

persilangan hibrida dari satu kelompok dengan kelompok hibrida lainnya. Tujuan
persilangan ini adalah untuk mengkombinasi karakter-karakter positif seperti
ketahanan terhadap penyakit yang merupakan ciri khas dari suatu kelompok.
Persilangan ini telah menghasilkan kelompok baru pada lily. Tiap kelompok
menunjukkan bentuk, warna, serta perbaikan baru dalam segala aspek. Kelompokkelompok yang dihasilkan dari persilangan tersebut adalah hibrida Longiflorum
Asiatic (LA), Oriental Trumpet (OT), Longiflorum Oriental (LO), dan Oriental
Asiatic (OA). Hibrida LA merupakan persilangan antara hibrida Longiflorum
dengan hibrida Asiatic dan dimulai pada tahun 1970. Hibrida OT merupakan
persilangan antara hibrida Oriental dengan lily terompet dan dimulai pada tahun
1980. Hibrida LO merupakan persilangan antara hibrida Longiflorum dengan
hibrida Oriental dan dimulai pada tahun 1990. Hibrida OA merupakan persilangan
antara hibrida Oriental dengan hibrida Asiatic dan dimulai pada tahun 1995
(International Flower Bulb Center, 2005).
Lily merupakan tanaman berumbi sejati (bulb), umbi tanaman lily
berbentuk cawan yang dikelilingi oleh sisik (scale) yang berfungsi sebagai
cadangan makanan berisi zat tepung, gula dan protein. Scale menyerupai
lembaran yang berdaging tipis dan dapat dipisahkan dengan mudah dan dapat
ditumbuhkan menjadi tunas dan tanaman baru (Crocket, 1973).
Saat tanaman berbunga, bagian tanaman yang berada di atas permukaan
tanah terdiri dari batang, daun dan bunga, sedangkan bagian tanaman yang
terdapat di bawah permukaan tanah terdiri dari akar batang dan akar basal, sisik

5

dalam dan sisik luar serta calon umbi baru pada tengah umbi. Hampir semua jenis
lily memiliki petal dan sepal yang berbentuk hampir serupa. Bunga lily memiliki
enam benang sari yang terdiri dari anther dan filamen serta satu putik yang terdiri
dari stigma, style dan ovary (Miller, 1992).
Syarat Tumbuh
Panjang Hari dan Intensitas Cahaya
Lily merupakan tanaman hari panjang yang hanya akan berbunga apabila
periode gelap yang dialaminya berada di bawah periode kritis (12 jam). Jumlah
jam penyinaran yang diterima tanaman lily dalam jangka waktu 24 jam
mempengaruhi pertumbuhan bunganya. Di negara subtropis untuk meningkatkan
pertumbuhan bunga maka dilakukan tambahan penyinaran pada hari-hari pendek
guna memperpanjang hari yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis. Penyinaran
tambahan (perpanjangan fotosintesis sampai 16 jam) dilakukan pada saat tunas
sudah mulai muncul 50 %. Perlakuan ini dihentikan setelah 6 minggu atau ketika
tunas bunga mulai terlihat. Penyinaran tambahan dapat dilakukan dengan
menggunakan lampu cahaya berkapasitas 20 Watt/m2 untuk menyinari tanaman
sebelum atau sesudah adanya cahaya matahari alami. Lily yang dihasilkan dengan
kondisi cahaya yang kurang akan tumbuh terlalu tinggi dan batang menjadi
lunglai. Tanaman lily juga mengalami pertambahan pertumbuhan vegetatif
tanaman dibawah periode hari panjang (16 jam). Perlakuan hari panjang pada
tanaman lily selama 10 hari meningkatkan pertambahan tinggi tanaman sebanyak
19-21 % (Miller, 1992).
Lily jenis hibrida Oriental yang membutuhkan lebih dari 100 hari untuk
panen memberikan respon paling baik pada perlakuan penyinaran tambahan
tersebut. Penambahan penyinaran merupakan cara yang baik untuk mempercepat
pemasaran hasil panen di musim semi, namun perlakuan ini akan menyebabkan
ukuran tangkai bunga lebih pendek dan persentase gugurnya bunga menjadi
sedikit tinggi (International Flower Bulb Center, 2005).
Lily memerlukan intensitas cahaya matahari yang penuh. Kekurangan
cahaya akan meningkatkan panjang batang namun akan mengurangi jumlah

6

kuntum bunga per tangkainya. Lily sangat sensitif terhadap cahaya rendah
terutama ketika batang baru mencapai 10 cm. Cahaya yang kurang dari 50% pada
saat itu akan berpengaruh secara serius terhadap inisiasi bunga (Rimando,2001).
Suhu
Hasil panen yang berkualitas tinggi dapat diperoleh dengan memastikan
pengakaran yang benar pada umbi. Suhu di bawah 10-12 oC selama 2-3 minggu
setelah penanaman akan menghasilkan pengakaran yang baik. Suhu awal tanam
yang rendah akan memperpanjang fase vegetatif namun suhu yang tinggi diatas
15

o

C akan menurunkan kualitas produksi. Suhu greenhouse yang paling

menguntungkan setelah pengakaran bagi lily jenis hibrida Oriental dan hibrida
Oriental Trumpet (OT) adalah 15 oC pada malam hari dan 17 oC pada siang hari.
Tambahan sinar matahari juga penting bagi pertumbuhan lily, oleh karena itu
tidak menjadi masalah apabila suhu pada siang hari hingga 20-25 oC. Hibrida OT
memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap suhu tinggi hingga 25 oC. Fluktuasi
suhu melebihi 10-12 oC antara siang dan malam harus dihindari untuk mencegah
terjadinya malformasi pada kuntum bunga. Suhu dibawah 12

o

C dapat

menyebabkan daun menguning dan kuntum gugur, namun suhu yang tinggi akan
menyebabkan tanaman menjadi pendek, berkurangnya jumlah bunga serta
meningkatnya resiko terkena penyakit dan kelainan fisiologis (International
Flower Bulb Center, 2005).
Suhu merupakan faktor penting yang mengatur pembungaan pada lily.
Sebelum terjadi inisiasi bunga yaitu selama inisiasi pertumbuhan batang,
perlakuan suhu rendah (vernalisasi) minimum penting untuk dilakukan. Meskipun
suhu sampai dengan 20 ºC telah dikenal sebagai suhu vernalisasi, namun suhu
optimum dan yang digunakan secara komersial digunakan adalah perlakuan suhu
rendah 5ºC selama 6-8 minggu. Umbi yang tidak divernalisasi masih bisa
berbunga tetapi perkembangannya lambat dan akan menunda antesis. Di negara
yang tidak memiliki musim dingin (Indonesia), para petani biasanya membeli
umbi dari pemasok yang sudah memberikan perlakuan vernalisasi pada umbi
sebelum umbi dikirimkan, namun tidak menutup kemungkinan petani sendiri yang
melakukan vernalisasi (Rimando.2001).

7

Kelembaban Relatif
Kelembaban relatif di dalam greenhouse harus terjaga tetap pada tingkat
70-80 %. Fluktuasi tajam pada RH harus dihindari dan diusahakan perubahan RH
berjalan secara perlahan dan bertahap. Perubahan RH yang terlalu cepat akan
menyebabkan stres pada tanaman dan mengakibatkan daun menjadi terbakar dan
kering. Pelaksanaan prosedur penanaman yang baik sejalan dengan perlindungan
cahaya yang cukup, ventilasi yang tepat dan pengairan yang benar harus
dijalankan untuk menghindarinya.
Ketika kondisi yang sangat panas atau dingin, RH di luar greenhouse
sangat rendah maka disarankan untuk tidak membuka ventilasi terlalu lebar.
Pengaturan ventilasi yang baik dilakukan pagi-pagi sekali ketika RH di luar
greenhouse sedang tinggi. Pemberian air terlalu banyak pada siang hari ketika RH
di dalam greenhouse rendah tidak diizinkan. Penyiraman juga disarankan untuk
dilakukan pada waktu terbaik yaitu pada pagi hari. Penggunaan layar pelindung
panas juga dapat mengendalikan suhu, RH dan intensitas cahaya dalam
greenhouse. Saat intensitas cahaya matahari tinggi yaitu pada bulan-bulan musim
panas pada negara subtropis dapat digunakan pelindung panas untuk menurunkan
intensitas cahaya sampai 70% selama 2-3 minggu pertama. Setelah 2-3 minggu
penggunaan pelindung panas maka intensitas cahaya yang dapat dikurangi
menurun hingga tidak lebih dari 50 %. Hal ini berlaku untuk penanaman jenis lily
apapun (International Flower Bulb Center, 2005).
Budidaya
Teknik Budidaya
Lily sebagai bunga potong secara komersial diperbanyak melalui umbi,
sedangkan lily untuk produksi umbi diperbanyak melalui bagian vegetatif
tanaman yaitu sisik (scale), calon umbi (bulblet) yang tumbuh pada batang bawah
tanaman serta kultur jaringan. Budidaya lily melalui benih hanya dilakukan untuk
keperluan persilangan dan pengembangan jenis baru (Miller, 1992).
Memproduksi lily sebagai bunga potong biasanya dilakukan pada tanah
petak di dalam rumah tanaman yang dinaungi kaca, plastik atau pelindung

8

lainnya. Hal ini akan mengurangi masalah sehubungan dengan kondisi iklim yang
tidak menguntungkan sehingga dapat memproduksi lily sepanjang tahun.
Menanam lily di lapangan hanya dapat dilakukan di daerah yang iklimnya
menunjang selama proses penanaman. Selain penanaman di tanah petak, terdapat
berbagai sistem penanaman antara lain penanaman pada peti kemas yang bisa
dilakukan di Nederland dan negara lainnya. Penggunaan kotak sebagai wadah
tanam dilakukan sebagai pengendalian terhadap penyakit karena penggunaan
substrat segar yang mempunyai struktur yang baik sebagai media tanam. Selain
itu penanaman menggunakan peti kemas memungkinkan untuk mengintegrasikan
penanaman menjadi sistem yang lebih bertanggung jawab pada lingkungan.
Sistem penanaman lainnya adalah penanaman lily di tempat terbuka untuk
penanaman setahun atau multi-tahun. Penanaman dalam pot juga dapat dilakukan
pada lily. Lily yang ditanam di dalam pot digunakan sebagai tanaman hias bukan
sebagai tanaman potong (International Flower Bulb Center, 2005).
Media Tumbuh
Lily dapat ditanam pada berbagai jenis tanah, namun harus tetap berhatihati untuk memastikan struktur tanah yang baik dan kemampuan menyerap air
selama tahap pertumbuhan tanaman terutama lapisan tanah paling atas. Tanah
berlumpur dan berat tidak cocok untuk pertumbuhan tanaman hibrida Oriental.
Bagi lily jenis lainnya tanah ini masih bisa digunakan dengan mencampurkan
subsrat pada lapisan yang mengandung humus di kedalaman 40-50 cm. Hal ini
akan memperbaiki penyerapan udara dan memungkinkan penyerapan cairan pada
lapisan tanah lapisan atas. Tanah yang berat biasanya akan mengurangi tinggi
tanaman. Adanya kecukupan oksigen pada tanah merupakan hal yang penting
untuk sistem akar yang sehat. Penambahan bahan-bahan organik pada tanah akan
meningkatkan mutu struktur tanah sekaligus keseimbangan air, penyerapan pupuk
dan aerasi pada tanah. Pemberian bahan-bahan organik seperti jerami-sekam,
pupuk sapi yang telah didekomposisikan selama 1 tahun, gambut hitam, dan kulit
pohon yang sudah menjadi kompos sangat dianjurkan pada tanah yang akan
digunakan untuk menanam lily terutama pada tanah yang berat. Bahan-bahan
organik tersebut dapat dicampurkan pada 50 cm lapisan teratas tanah.

9

Tingkat pH pada lapisan tanah harus terjaga dengan baik karena
mempengaruhi perkembangan akar dan penyerapan nutrisi pada akar. Tanah
dengan pH sangat rendah akan menyerap terlalu banyak Mg, Al, Fe, sedangkan
tanah dengan pH terlalu tinggi akan mempersulit tanah menyerap fosfor, Mg dan
Fe. Lily dengan jenis hibrida Asiatic LA dan Longiflorum akan tumbuh optimum
pada pH 6-7, sedangkan untuk hibrida Oriental OA, LO dan OT akan tumbuh
optimum pada 5-6.5. Suhu tanah sebelum penanaman yang optimum untuk
pemunculan akar adalah 10-12 oC bagi semua jenis lily (International Flower Bulb
Center, 2005).
Penanaman
Umbi yang ditanam pada greenhouse biasanya digolongkan menurut
ukuran umbi. Umbi yang berukuran besar akan memproduksi bunga dalam jumlah
yang lebih banyak dan berbunga lebih awal dibandingkan dengan umbi yang
berukuran lebih kecil. Umbi ditanam sedalam 8-15 cm di bedengan, pot atau
polybag. Penanaman umbi yang terlalu dangkal akan memperlambat pembungaan
hingga 5 hari (Rimando,2001).
Setiap jenis lily memiliki kerapatan tanam yang berbeda karena ukuran
umbi maupun hasil panen yang akan dihasilkan berbeda. Kerapatan tanam juga
tergantung pada lama masa tanam dan jenis tanah yang digunakan. Penanaman
yang dilakukan ketika tersedia cahaya banyak maka kerapatan tanaman dapat
ditingkatkan sedangan penanaman pada waktu gelap atau dalam kondisi
penyinaran yang rendah maka kerapatan tanam perlu dikurangi. Pada umbi yang
berukuran 16/18 kerapatan tanam pada jenis hibrida Oriental berdaun kecil adalah
40-50 umbi/m2, hibrida Oriental berdaun besar 35-45 umbi/m2, hibrida
Longiflorum 35-45 umbi/m2 dan hibrida Asiatic 40-50 umbi/m2.
Penyerapan air, oksigen dan nutrisi tanaman 3 minggu pertama setelah
tanam tergantung pada akar. Oleh karena itu perlu untuk memastikan akar sudah
tumbuh minimal 5 cm, tidak berpenyakit dan tidak kekurangan air pada saat
tanam. Tunas batang akan tumbuh di bagian atas umbi namun masih di dalam
tanah selama 3 minggu awal setelah penanaman. Tunas batang tersebut akan
menggantikan tugas akar untuk mendistribusikan 90 % kebutuhan air dan nutrisi

10

tanaman. Selama musim panas penanaman dilakukan pada pagi hari. Umbi yang
akan ditanam harus dijaga agar tidak kering oleh karena itu umbi dikeluarkan
sedikit demi sedikit ke lokasi penanaman. Umbi yang mengering akan
menurunkan kualitas bunga. Umbi lily ditanam pada tanah yang lembab serta
kedalaman yang cukup ±10 cm dari atas permukaan tanah (International Flower
Bulb Center, 2005).
Pengairan
Penanaman umbi pada tanah yang kering sangat tidak dianjurkan. Tanah
yang akan digunakan harus dibasahi terlebih dahulu beberapa hari sebelum
penanaman sehingga pertumbuhan akar dapat segera terjadi. Lahan disiram
kembali setelah dilakukan penanaman untuk menghindari perusakan struktur
tanah dan memastikan tersedianya air untuk umbi agar akar basal dan akar batang
dapat tumbuh secepatnya. Air juga harus dipastikan menyentuh akar basal karena
calon batang pada beberapa jenis umbi tidak hanya tumbuh ke atas tetapi juga
tumbuh ke bawah. Kekurangan air akan menyebabkan pertumbuhan berjalan
lambat, tidak merata, batang tumbuh pendek dan tunas bunga cepat mengering.
Terlalu banyak air juga harus dihindari karena akan mengurangi oksigen yang
diperlukan akar sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Akar yang
melemah akan rentan terkena terhadap pythium dan pythophtora. Tanah yang
terlalu basah pada saat pertumbuhan batang akan membuat batang menjadi lemah
karena sel pertumbuhan yang meledak. Jumlah air yang harus disediakan
tergantung pada jenis tanah, iklim greenhouse, jenis lily, tahap perkembangan
tanaman serta tingkat kepekatan garam pada tanah. Pemakaian air dapat mencapai
8-9liter/m2/hari pada masa kering. Pengairan dengan menggunakan air hujan lebih
disarankan sebagai pengganti air sumur. Air sumur terkadang mengandung
kalsium

karbonat,

magnesium

karbonat

atau

besi.

Elemen-elemen

ini

meninggalkan bintik-bintik pada daun. Selain itu, air sumur mengandung garam
terbentuk dari ikatan antara logam Na, Ca, Mg dengan ion klorida.
Hal terpenting pada sistem irigasi adalah kemampuan mendistribusikan air
secara seragam dan air yang digunakan tidak merusak struktur tanah. Ukuran
tetesan air hendaknya tidak terlalu besar dan tidak melakukan penyiraman terlalu

11

banyak sekaligus untuk menghindari kerusakan struktur tanah. Penggunaan
sprinkler yang diletakkan di atas tanaman memberikan distribusi yang baik
sekaligus menjadi cara untuk membasuh tanaman. Waktu terbaik untuk mengairi
tanaman adalah pada pagi hari sebelum atau saat matahari terbit (International
Flower Bulb Center, 2005).
Sistem irigasi secara drip dan trickle semi-otomatis cocok untuk budidaya
di greenhouse. Fluktuasi tingkat kelembaban sangat berbahaya sama seperti
kekeringan pada tanah yang dapat menyebabkan kehilangan bunga. Sementara itu,
tanah yang terlalu basah dapat menyebabkan akar terserang fungi dan cendawan
(Rimando,2001).
Pemupukan
Tanaman lily sangat peka terhadap garam. Kandungan garam yang tinggi
akan menghasilkan akar yang keras, mudah pecah dan berwarna kuning sampai
coklat, serta mengurangi kemampuan akar untuk menyerap air sehingga akan
mengurangi tinggi tanaman. Kandungan garam pada tanah ditentukan oleh
kandungan garam pada pupuk kandang atau buatan. Ion-ion yang bertanggung
jawab dalam proses salinasi tanah yaitu Na+, K+, Ca2+, Mg2+, dan Cl-, kandungan
garam pada air irigasi yang terbentuk dari ikatan antara logam Na, Ca, Mg dengan
ion klorida, dan nutrisi yang terdapat pada tanah. Tanah yang akan ditanami
diperiksa terlebih dahulu 6 minggu sebelum penanaman untuk mengetahui
kandungan garamnya. EC tanah tidak boleh melebihi 1.0, sedangkan klorin tidak
boleh melebihi 1.5 mmol/liter. Jika EC maupun klorin melebihi batas tersebut
maka sebelum dilakukan penanaman tanah hendaknya diaduk-aduk terlebih
dahulu dengan air yang memiliki kandungan EC kurang dari 0.5. Hal ini
dilakukan agar pemupukan dapat diaplikasikan tanpa kekhawatiran adanya
peningkatan kadar garam pada tanah yang merusak panen. Penggunaan pupuk
organik dan buatan harus dilakukan secara hati-hati karena dapat mengakibatkan
kelebihan garam.
Lily membutuhkan nutrisi baru untuk menghasilkan bunga, terutama pada
tiga minggu pertama setelah tanam. Terlalu banyak pemberian pupuk lebih
merusak tanaman dibandingkan kekurangan pupuk. Selama tiga minggu pertama

12

setelah penanaman, perkembangan akar telah terjadi. Nutrisi tambahan diberikan
secara bergantian untuk mencegah kerusakan pada tanaman akibat kadar garam.
Hal ini berkaitan dengan banyaknya kalsium nitrat dan potassium nitrat yang
diberikan pada 3 minggu pertama setelah tanam. Aplikasi pupuk yaitu Ca(No)
dengan komposisi 15.5% N, 26.3% CaO sebanyak 1 kg/100 m2 dan KNO dengan
komposisi 13.7% N, 46.2% KO dengan jumlah 1 kg/100 m2. Penambahan segala
bentuk magnesium sulfat 0.15-0.20 kg/100 m2 tergantung pada pengamatan di
lapang apakah terjadi pemudaran warna pada bunga-bunga yang terletak di
bawah. Pelaksanaan pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan sprinkler
putar pada tanaman yang kering. Untuk menghindari daun terbakar maka aplikasi
ini harus diikuti dengan penyemprotan air yang merata pada tanaman setelahnya
(International Flower Bulb Center, 2005).
Lily sangat tidak toleran terhadap kelebihan pupuk dan salinitas yang
tinggi, oleh karena itu lakukan pemupukan seperlunya. Kelebihan pupuk dan
salinitas yang tinggi dapat menyebabkan pelukaan pada akar tanaman,
menghambat pertumbuhan tanaman selanjutnya dan mengurangi jumlah kuntum
bunga. Karena lily merupakan tanaman yang “heavy-feeder”, pemupukan yang
cukup pada awal perkembangan tanaman amat penting dan pemupukan haruslah
dimulai dengan tambahan pupuk lengkap ketika batang setinggi 2-5 cm
(Rimando, 2001).
Pemeliharaan
Penggunaan sistem penunjang tanaman terkadang dibutuhkan tergantung
dari masa penanaman dan jenis tanaman. Panen yang dihasilkan pada musim
dingin selalu membutuhkan penunjang. Tanaman yang memiliki tinggi 80-100 cm
juga membutuhkan penunjang. Apabila panen melibatkan pencabutan atau
pemotongan batang maka penunjang dibutuhkan untuk menjaga supaya tanaman
disekelilingnya tidak rebah. Cara yang biasa digunakan untuk menunjang tanaman
adalah dengan menggunakan kawat yang dibentuk menjadi kotak-kotak lebar.
Kawat ini kemudian dinaikkan seiring dengan petumbuhan tanaman. Kawat
penunjang seperti ini juga dapat digunakan untuk menetukan jarak tanam.

13

Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida tidak dianjurkan
terkecuali dalam keadaan mendesak. Jauh lebih baik untuk menyingkirkan gulma
secara mekanis atau melakukan sterilisasi sebelum tanam melalui penguapan atau
menggenangi lahan. Penggunaan herbisida selalu mengahadirkan resiko rusaknya
tanaman. gulma kecil dapat dikendalikan dengan menyemprotkan herbisida yang
sesuai setelah tunas muncul ke permukaan tanah tetapi sebelum daun membuka
secara signifikan. Jika ditemukan banyak jenis rumput tahunan tumbuh maka
pengendalian jangan dilakukan dengan satu jenis herbisida tetapi dari kombinasi
dari herbisida-herbisida. Penyemprotan harus selalu dilakukan menjelang senja
pada tanaman yang kering dengan menggunakan 5 liter air/100 m2. Keesokan
paginya tanaman dicuci melalui kegiatan pengairan (International Flower Bulb
Center, 2005).
Perlindungan tanaman dari penyakit dapat dilakukan dengan melakukan
perawatan terhadap tanah. Tanah yang ditanami harus bebas dari patogen dengan
menjada kondisi optimum tanaman selama penanaman atau dengan melakukan
rotasi tanaman. Apabila masih ditemukan patogen maka dianjurkan untuk
melakukan perawatan tanah yaitu penguapan, penggenangan dan solarisasi
setahun sekali. Jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur dan sering ditemukan
pada lily adalah busuk umbi, bercak pada batang, botrytis, penicillium,
phytophthora, pythium, sclerothium, dan rhizoctonia, sedangkan hama yang
sering ditemukan pada lily adalah nematode daun dan aphids. Pengendalian
terhadap jamur dan hama ini dilakukan dengan menyemprotkan fungisida dan
insektisida seminggu sekali sebelum terjadi pembungaan dan pastikan tidak
meninggalkan residu.
Umur Tanaman
Lamanya waktu yang dibutuhkan bagi tanaman lily mulai dari penanaman
hingga panen tergantung pada jenis lily yang ditanam, musim pada saat
penanaman (daerah subtropis), lama perlakuan vernalisasi pada umbi dan suhu
greenhouse. Jumlah hari tergantung dari suhu optimum pada siang atau malam
hari. Umur tanaman lily jenis hibrida Oriental pada musim semi adalah 90-135
hari, pada musim panas adalah 75-100 hari dan pada musim gugur adalah 80-120

14

hari. Umur tanaman lily jenis hibrida OT pada musim semi adalah 90-125 hari,
pada musim panas 60-90 hari dan pada musim gugur 90-110 hari.
Pemanenan
Pemanenan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan
komoditas pada tingkat kematangan yang tepat dengan kerusakan dan kehilangan
hasil yang sedikit serta dilakukan secepat mungkin (Santoso dan Purwoko, 1995).
Bunga potong yang merupakan komoditas hortikultura adalah bagian dari
keseluruhan tanaman yang hidup dan masih melakukan aktivitas metabolisme.
Setelah bunga dipotong dari tanamannya, maka bunga beserta tangkainya akan
terpisah

dari

sumber-sumber

alami

yang

diperlukan

dalam

proses

metabolismenya. Jika proses ini terus berlanjut maka bunga potong akan layu dan
mati lebih dini. Bunga potong harus diberi tambahan karbohidrat berupa
gula/sukrosa tepat setelah bunga dipotong dari tanamannya untuk mengurangi
proses metabolisme. Sukrosa merupakan bentuk yang paling efisien untuk
tanaman dan mudah ditransportasikan dalam sel-sel tanaman (Wiryanto,1993).
Pemanenan bunga potong dengan tingkat mekar secara komersial
bervariasi pada bunga yang berbeda-beda (tergantung komoditas dan varietas).
Hal ini dipengaruhi oleh musim, kondisi lingkungan, jarak ke tujuan distribusi,
dan kebutuhan konsumen. Umumnya bunga dipotong atau dipanen pada tahap
lebih awal dan akan membuka penuh serta berkembang dengan kualitas yang baik
di vas bunga. Pemotongan bunga pada saat kuncup lebih disukai untuk
mengurangi kerusakan karena temperatur yang tinggi dan pengaruh gas etilen,
namun terdapat beberapa bunga yang tidak dapat mekar jika dipotong atau
dipanen saat masih kuncup (Halevy dan Mayak, 1979). Saat panen yang tepat bagi
bunga potong lily adalah ketika kuntum terbawah sudah menunjukkan warnanya
(Rimando, 2001).
Kegiatan panen hanya dilakukan ketika bunga sudah cukup matang tetapi
belum terlalu matang agar bunga lily mekar dan menarik. Tahap panen paling
cepat berbeda-beda untuk tiap jenis lily, tergantung pada jumlah kuntum yang
dihasilkan dalam satu batang. Satu batang lily yang menghasilkan lebih dari 10
kuntum dapat dipanen apabila terdapat minimal 3 kuntum menunjukkan

15

warnanya. Satu batang lily yang menghasilkan 5-10 kuntum dapat dipanen apabila
terdapat minimal 2 kuntum menunjukkan warnanya. Satu batang lily yang
menghasilkan kuntum kurang dari 5 dapat dipanen apabila terdapat minimal 1
kuntum menunjukkan warnanya. Pemanenan yang dilakukan sebelum itu akan
menghasilkan bunga yang tidak bagus, warnanya agak pudar dan tidak semua
kuntum akan mekar. Pemanenan yang terlalu matang juga akan menyebabkan
masalah pada pascapanen dan distribusi termasuk noda yang disebabkan oleh
serbuk sari, memar pada petal dan kuntum yang membuka sebagai akibat dari
pencemaran etilen yang disebabkan oleh bunga-bunga yang sudah mekar. Jika
diperlukan maka pemotongan terhadap bunga yang telah mekar dapat dilakukan.
Pemanenan lebih baik dilakukan dengan memotong batang dibandingkan dengan
mencabutnya dari tanah. Pencabutan menyebabkan gangguan pada akar-akar
tanaman lainnya, terlebih jika kawat penunjang tidak digunakan maka pencabutan
dapat merobohkan tanaman lainnya. Batang pada jenis hibrida Oriental dan
Longiflorum tidak dapat dicabut karena perkembangan akarnya yang kuat.
Pemanenan lily lebih dianjurkan pada pagi hari untuk membatasi pengawetan dan
untuk membatasi tanaman dalam keadaan kering maksimal selama 30 menit pada
tanaman selama di greenhouse (International Flower Bulb Center, 2005).
Pasca Panen
Komoditas hortikultura merupakan komoditas yang dimanfaatkan dalam
keadaan segar sehingga mudah rusak (Ha

Dokumen yang terkait

Dokumen baru