PELAKSANAAN MEDIASI DALAM PERKARA PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA BANTUL

1

PELAKSANAAN MEDIASI DALAM PERKARA PERCERAIAN DI
PENGADILAN AGAMA BANTUL

SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Strata Satu (S.1) Dalam Ilmu Hukum

Oleh:
VANISA EVANIDA
20120610255

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

2

i
SKRIPSI

PELAKSANAAN MEDIASI DALAM PERKARA PERCERAIAN DI
PENGADILAN AGAMA BANTUL

Diajukan Oleh :
Nama

:

NIM

:

Vanisa Evanida
20120610255

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

ii
HALAMAN PERSETUJUAN
PELAKSANAAN MEDIASI DALAM PERKARA PERCERAIAN DI PENGADILAN
AGAMA BANTUL

Diajukan Oleh :
Nama

:

Vanisa Evanida

NIM

:

20120610255

Telah disetujui oleh dosen pembimbing pada tanggal

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Dr. Leli Joko S., S.H., M.Hum
NIK. 19681023199303153015

Prihati Yuliarlin,S.H., M.Hum
NIK. 19630602198812153007

iii
HALAMAN PENGESAHAN
SKRIPSI
PELAKSANAAN MEDIASI DALAM PERKARA PERCERAIAN DI PENGADILAN
AGAMA BANTUL
Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penelaah pada
Tanggal............................................
Yang terdiri dari :
Ketua

Wiratmanto, S.H., M.Hum
NIK. 19570801198710153002

Anggota

Anggota

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Dr. Leli Joko S., S.H., M.Hum
NIK. 19681023199303153015

Prihati Yuliarlin,S.H., M.Hum
NIK. 19630602198812153007

Mengesahkan
Dekan Fakultas Hukum
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Dr.Trisno Raharjo, S.H., M.Hum
NIK. 19710409199702 153 028

iv
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim....
Alhamdulillah... Dengan mengucapkan puji syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah
SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Beliaulah pembawa rahmat bagi seluruh umat.
Adalah suatu kebanggaan tersendiri, jika suatu tugas dapat terselesaikan dengan
sebaik-baiknya. Bagi penulis, penyusunan skripsi ini merupakan tugas yang tidak ringan.
Penulis sadar banyak hambatan yang menghadang dalam proses penyusunan skripsi ini,
dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis sendiri. Kalaupun akhirnya skripsi ini dapat
terselesaikan, tentunya karena banyak pihak yang telah membantu dalam penyusunan
skripsi ini.
Atas bantuan dan dorongan baik berupa moril dan materiil kepada penulis, maka penulis
ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, seraya berdoa kepada Allah
semoga memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk mereka semua
(jazakumullah ahsanal jaza).
Tiada kata yang pantas penulis ungkapkan kepada semua pihak yang telah membantu
proses penyusunan skripsi ini, kecuali ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Trisno Raharjo, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
2. Bapak Dr. Leli Joko S., S.H., M.Hum selaku ketua program studi Fakultas Hukum
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

v
3. Bapak Wiratmanto, SH.,M.Hum selaku dosen penguji skripsi penulis.
4. Bapak Dr. Leli Joko S., SH., M.Hum dan Ibu Prihati Yuliarlin, S.H., M.Hum selaku dosen
pembimbing yang senantiasa memberikan saran dan koreksi kepada penulis.
5. Bapak Maman yang dengan kesukarelaannya selalu memberikan informasi yang sangat
membantu penulis.
6. Segenap civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta baik
dosen dan segenap staf Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
7. Ketua Pengadilan Agama Bantul beserta seluruh staf-stafnya yang telah mengizinkan
penulis dalam melakukan penelitian. Khususnya kepada Ibu Latifah Setyawati.,
S.H.,M.Hum selaku Hakim pembimbing di Pengadilan Agama Bantul dan Bapak Akhmad
Fatkhurohman.,S.H selaku Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bantul yang telah
berkenan memberikan waktu dan ilmunya untuk memberikan informasi dalam penelitian
kepada penulis.
8. Kedua orang tua penulis, mama dan ayah yang senantiasa memberi kasih sayang dan
semangat, sehingga membuat penulis tetap tegar dalam menyongsong masa depan.
Terutama untuk mama yang selalu memberi semangat dan motivasi kepada penulis dalam
menyelesaikan penulisan skripsi ini. Terima kasih untuk segalanya, semoga Allah SWT
membalas dengan surga. Amin.
9. Suami dan anak penulis yang selalu membuat penulis semangat dalam menyongsong masa
depan, semoga keluarga kita sakinnah mawadah warahmah.
10. Kepada Dr. Achamad Arief Budiman., M.Ag selaku paman penulis yang menjadi inspirasi
penulis dan tak henti-hentinya memberikan motivasi kepada penulis.
11. Kepada para sahabat yang senantiasa mendukung penulis dalam keadaan apapun.

vi
12. Kepada keluarga besar penulis yang telah memberikan support kepada penulis pada saat
penulisan skripsi ini.
13. Kepada semua pihak yang telah membantu penulis dan memberi semangat penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Atas jasa-jasa dan keikhlasan yang mereka berikan, penulis hanya dapat memohon
doa semoga mendapat balasan yang lebih baik serta mendapat kesuksesan baik di dunia
maupun di akhirat.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh
karena itu penulis mengharap saran dan kritik yang konstruktif demi kebaikan skripsi ini.
Walaupun demikian, penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Amiin....

Yogyakarta,

2016

Penulis

Vanisa Evanida

vii

MOTTO

”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah SWT supaya kamu mendapat
rahmat” (Q.S. Al-Hujurat: 10)

viii

PERSEMBAHAN

Sembah sujud syukur kepada Allah SWT dengan segala puji bagi-Nya, hasil
pemikiran penulis yang sangat sederhana ini penulis persembahkan untuk :
1. Kedua orang tua tercinta, mama Titik Elya Muna dan ayah Fatah Yani.
2.

Adik tersayang Muhammad Devano Elfath Asyila.

3.

Dr. Achmad Arief Budiman., M.Ag selaku paman penulis.

4.

Suami penulis Andrianto Kusuma.

5.

Anak tersayang Elleanena Mecca Kusuma.

6.

Almamaterku tercinta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

ix
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ”apasajakah yang menjadi hambatan
dalam proses mediasi perkara peerceraian di Pengadilan Agama Bantul dan bagaimana
pelaksanaan mediasi dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Bantul”.
Penelitian yang digunakan penulis adalah yuridis normatif yaitu merupakan
pendekatan yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teoriteeori, konsep-konsep, asas-asas hukum serata peraturan perundang-undangan yang
berhubungan dengan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan di Pengadilan Agama Bantul,
Yoyakarta. Dalam penelitian tersebut penulis menggunakan data sekunder yang terdiri
dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Analisa data dilaksanakan secara
deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksaaan mediasi di Pengadilan Agama
Bantul telah sesuai dengan apa yang diatur dalam perma, tetapi tingkat keberhasilan
mediasi perkara perceraian sangatlah rendah karena adanya faktor-faktor yang menjadi
penghambat dalam mediasi perkara perceraian di Pengadilan Agama Bantul diantaranya
adalah banyaknya kasus yang masuk di Pengadilan Agama Bantul sehingga menghambat
proses mediasi, kurangnya pemahaman para pihak tentang pentingnya melakukan mediasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi dan
pertimbangan hakim dalam memediasikan setiap perkara perceraian, agar hakim lebih
semaksimal mungkin dalam melakukan proses mediasi, bukan hanya sebatas formalitas
saja. Demi untuk meningkatkan keberhasilan mediasi dalam perkara perceraian.
Kata Kunci : Mediasi Perceraian, Pengadilan Agama Bantul.

x
PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN SKRIPSI

Bismillahirrahmanirrahim
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

: Vanisa Evanida

NIM

: 20120610255

Judul Skripsi

: PELAKSANAAN MEDIASI DALAM PERKARA PERCERAIAN DI
PENGADILAN AGAMA BANTUL

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan skripsi ini berdasarkan hasil penelitian,
pemikiran, dan pemaparan asli dari saya sendiri. Demikian juga skripsi ini tidak satupun
berisi pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang
dijadikan bahan rujukan.

Yogyakarta,
Yang menyatakan

Vanisa Evanida

2016

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...........................................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN.............................................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................................iii
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………….iv
HALAMAN MOTTO…………………………………………………………………….vii
HALAMAN PERSEMBAHAN…………………………………………………………viii
ABSTRAK………………………………………………………………………………...ix
PERNYATAAN…………………………………………………………………..………..x
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………....xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Pendahuluan……………………………………………………………………………1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Perkawinan dan Perceraian…………………………………….….11
1. Pengertian Dan Dasar Hukum Perkawinan……………………………………….11
2. Rukun Dan Syarat Sahnya Perkawinan…………………………………………..13
3. Pengertian Dan Dasar Hukum Perceraian……………………………………...…20
4. Akibat Hukum Perceraian…………………………………………………...……22
B. Tinjauan Tentang Mediasi Di Indonesia……………………………………………...27
1. Sejarah Munculnya Mediasi Di Indonesia………………………………………..27
2. Latar Belakang Diberlakukannya Mediasi
Dalam Proses Perkara Di Pengadilan……………………………………………..28
3. Perbedaan Perma No.1 Tahun 2008 Dengan Perma No 1 Tahun 2016
Tentang Prosedur Mediasi Di Pengadilan ………………...……………………...31
4. Perdamaian Dalam Prespektif Islam……………………………………………...34
5. Mediasi Dalam Peradilan…………………………………………………………42

xii
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian…………………………………………………………………..62
B. Bahan Penelitian………………………………………………………………....62
C. Teknik Pengumpulan Data………………………………………………………62
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
A. Hambatan Dalam Pelaksanaan Mediasi Perkara
Perceraian Di Pengadilan Agama Bantul…………………………………………...65
B. Pelaksanaan Mediasi Dalam Perkara Perceraian di
Pengadilan Agama Bantul…………………………………………………………..70
C. Analisis Terhadap Pelaksanaan Mediasi Dalam Perkara Perceraian
Di Pengadilan Agama Bantul……………………………………………………….78
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………………………….88
B. Saran………………………………………………………………………………...90
C. Penutup……………………………………………………………………………...91
DAFTAR PUSTAKA

1
BAB I
PENDAHULUAN

Segala sesuatu yang disyariatkan Islam pastilah mempunyai tujuan, sekurangkurangnya mengandung hikmah tertentu, tak terkecuali perkawinan.Perkawinan adalah
ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita yang diharapkan didalamnya tercipta
rasa sakinah, mawadah dan rahmah.Untuk mencapai hal tersebut diperlukan adanya
saling pengertian dan saling memahami kepentingan kedua belah pihak, terutama lagi
yang terkait dengan hak dan kewajiban.
Dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin
antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan
membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa.1
Islam

sangat

memperhatikan

terwujudnya

tujuan

dalam

pernikahan,

menjadikannya sebagai fondasi bagi tegaknya bangunan kehidupan rumah tangga.Tujuan
pernikahan itu untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah mawadah dan
rahmah (tentram, cinta dan kasih sayang)2.Untuk mencapai hal tersebut diperlukan
adanya saling pengertian dan saling memahami kepentingan kedua belah pihak, terutama
lagi yang terkait dengan hak dan kewajiban.
Tujuan perkawinan ialah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.Kerjasama
yang baik antara suami dan isteri dalam hal menjalankan hak dan kewajiban masingmasing pihak sangat diperlukukan dalam mewujudkan tujuan dari suatu perkawinan. Hak

1
2

Undang-Undang Pokok Perkawinan No. 1 Tahun 1974, Surabaya: Arkola, 2007, h. 5.
Pasal 3, Kompilasi Hukum Islam Republik Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2007, h. 11

2
adalah sesuatu yang seharusnya diterima seseorang setelah ia memenuhi kewajibannya,
sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang seharusnya dilaksanakan oleh seseorang untuk
mendapatkan hak. Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkani
Ketuhanan Yang Maha Esa dijamin oleh Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945.Setiap
orang dalam lingkup rumah tangga dalam melaksanakan hak dan kewajibannya harus
didasari oleh agama.hal ini perlu terus ditumbuhkembangkan dalam rangka membangun
keutuhan rumah tangga, dalam mewujudkan hal tersebut sangat tergantung pada setiap
orang dalam lingkup rumah tangga, terutama kadar kualitas perilaku dan pengendalian
diri setiap orang dalam lingkup rumah tangga tersebut.
Keutuhan dan kerukunan rumah tangga dapat terganggu jika kualitas dan
pengendalian diri tidak dapat dikontrol, yang pada akhirnya dapat terjadi permasalahan
dalam rumah tangga sehingga timbul ketidaknyamanan terhadap orang yang berada
dalam lingkup rumah tangga tersebut.
Dalam kehidupan rumah tangga sering kita jumpai orang (suami-isteri) mengeluh
dan mengadu kepada orang lain ataupun kepada keluarganya, karena akibat tidak
terpenuhinnya hak yang harus diperoleh atau tidak dilaksanakanya kewajiban dari salah
satu pihak atau karena alasan lain, yang dapat berakibat timbulnya suatu perselisihan
diantara keduanya (suami istri) tersebut. Dan tidak mustahil dari perselisihan itu akan
berbuntut pada putusnya ikatan perkawinan (perceraian). Bila hubungan perkawinan ini
tidak dapat lagi dipertahankan dan kalau dilanjutkan juga akan menghadapi kehancuran
dan kemudaratan, maka Islam membuka pintu untuk terjadinya perceraian.Dalam hal ini
Islam membenarkan putusnya perkawinan (percerian) sebagai langkah terakhir dari usaha
melanjutkan rumah tangga, dalam arti apabila hubungan perkawinan tetap dilanjutkan,

3
maka kemudharatanlah yang akan terjadi. Putusnya perkawinan (perceraian) dengan
begitu adalah suatu jalan yang baik.3Sehingga perceraian adalah pilihan halal dalam
mengatasi perselisihan dalam rumah tangga yang tidak dapat didamaikan.
Perceraian atau talak dalam hukum Islam pada prinsipnya dilarang, hal ini dapat
dilihat dari isyarat Rasulullah SAW, bahwa talak atau perceraian adalah perbuatan yang
halal yang paling dibenci Allah.

‫ اب ض الحا ال ال ه عز ج الطا‬:‫عن ابي عمر النبي صل ه عليه سل قال‬
4

(‫صححه‬

‫الح‬

‫ا‬

‫) ر اب‬

Artinya: “dari Ibnu Umar, bahwa Rosulullah SAW bersabda: “perbuatan halal yang
sangat dibenci Allah Azza Wajalla adalah talak”.
Oleh karena itu isyarat tesebut menunjukkan bahwa talak atau perceraian
merupakan alternatif terakhir sebagai “pintu darurat” yang boleh ditempuh manakala
bahtera kehidupan rumah tangga tidak dapat lagi dipertahankan keutuhan dan
kesinambungannya.Sifatnya sebagai alternatif terakhir, Islam menunjukkan agar sebelum
terjadinya peceraian, ditempuh usaha-usaha perdamaian antara kedua belah pihak, karena
ikatan perkawinan adalah ikatan yang paling suci dan kokoh.
Menurut Dirjen Badilag, Wahyu Widiana, kondisi yang sudah parah tersebut
dalam bahasa psikologi perceraian menunjukkan bahwa masing-masing pasangan telah
memasuki tahapan re-entry, yakni suatu tahapan dimana masing-masing pasangan suami
isteri telah menurunkan tensi ketegangan soal hubungan perkawinan dan lebih melihat
kedepan bagaimana menjalani hidup tanpa terikat dalam hubungan suami isteri lagi

3

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia: Antara Figh Munakahat Dan UndangUndang Perkawinan, Jakarta: Kencana, 2007, h. 190.
4
Abu dawud Sulaiman, Sunan Abu Dawud, Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah 1996, h. 120.

4
dengan pasangan.5 Bagi mereka, dalam tahapan psikologis ini, hubungan perkawinan
adalah masa lalu yang tidak mungkin akan dapat dikembalikan seperti semula. Melihat
realitas yang seperti itu, boleh jadi masing-masing pasangan telah melewati kondisikondisi traumatic dalam hubungan dan lingkungan, sehingga mengupayakan untuk
memediasi dalam konteks berbaikan lagi akan menjadi kontra produktif.
Kewajiban hakim dalam mendamaikan pihak-pihak yang berperkara adalah
sejalan dengan tuntutan ajaran Islam.Ajaran Islam memerintahkan agar menyelesaikan
setiap perselisihan yang terjadi diantara manusia diselesaikan dengan jalan perdamaian
(islah).Ketentuan ini sejalan dengan firman Allah SWT. Dalam surat Al-Hujurat ayat 10
yang berbunyi:

‫رحم‬

‫اق اهل ل‬

‫ي‬

‫ف صلح ا بين‬

‫ما الم من‬

Artinya:Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat.6
Umar bin Khatab mengemukakan, bahwa menyelesaikan suatu perkara
berdasarkan putusan hakim sungguh tidak menyenangkan dan dapat menimbulkan
perselisihan dan pertengkaran yang berlanjut, oleh karena itu sebaiknya dihindari.
Bagi Peradilan Agama yang menangani banyak perkara-perkara orang islam
dimana salah satunya adalah perkara perceraian. Penyelesaian perkara di Pengadilan
Agama (PA) melalui jalan perdamaian merupakan harapan semua pihak.Berdasarkan
hukum acara yang berlaku, perdamaian selalu di upayakan di setiap kali
persidangan.Bahkan pada sidang pertama, suami istri harus hadir secara pribadi tidak
5

www.badilag.net. M. Nur, Mediasi Keluarga dan Tantangannya Bagi Pengadilan
Agama
6
DepagRI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, Kudus: Menara Kudus, h. 516.

5
boleh diwakilkan.Hakim sebelum memeriksa perkara lebih lanjut wajib berusaha
mendamaikannya, dengan memberi nasehat-nasehat. Namun karena keadaan hubungan
suami isteri yang berperkara di pengadilan sudah sangat parah, hati mereka sudah pecah,
maka upaya perdamaian yang dilakukan selama ini pun tidak banyak membawa hasil.
Maka yang menjadi pembahasan disini adalah tentang problema yang dihadapi dalam
asas perdamaian perkara perceraian di Pengadilan Agama Bantul.Karena asas perdamaian
ini sangat banyak menguntungkan dalam setiap penyelesaian sengketa.Baik oleh pihak
yang berperkara maupun oleh pengadilan itu sendiri.Disini peran hakim sangat
diperlukan dalam penerapan perdamaian tersebut.
Hakim sebagai pejabat pelaksana kekuasaan kehakiman mempunyai tugas untuk
menegakkan Hukum Perdata Islam yang menjadi wewenangnya dengan cara diatur dalam
Hukum Acara Pengadilan Agama dan diantara tugas pokok dari hakim adalah
mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa, sebagaimana diatur dalam pasal 65 UU
No.7 tahun 1989 yang berbunyi:
“Perceraian hanya dapat dilaksanakan di depan sidang pengadilan setelah
pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan para
pihak”.
Dan juga pasal 82 ayat 1 dalam UU yang sama berbunyi:
“Pada sidang pemeriksaan gugatan perceraian hakim berusaha mendamaikan
kedua belah pihak”

6
Karena perdamaian itu lebih baik daripada putusan yang dipaksakan.Apalagi
dalam perkara perceraian,7 lebih-lebih jika sudah ada anak, maka hakim harus lebih
sungguh-sungguh dalam upaya perdamaian.8
Tahap pertama yang dilakukan hakim dalam menyidangkan suatu perkara yang
diajukan kepadanya adalah mengadakan perdamaian kepada pihak-pihak yang
bersengketa.Peran mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa itu lebih utama dari pada
fungsi hakim yang menjatuhkan putusan terhadap setiap pekara yang diadilinya.Apabila
perdamaian dapat dilaksanakan, maka hal ini jauh lebih baik dalam mengakhiri suatu
sengketa.Usaha untuk mendamaikan pihak-pihak yang berperkara merupakan prioritas
utama dan dipandang adil dalam mengakhiri suatu perkara, sebab mendamaikan itu dapat
berakhir dengan tidak terdapat siapa yang kalah dan siapa yang menang, tetap
terwujudnya kekeluargaan dan kerukunan. Dan jika tidak berhasil didamaikan oleh
hakim, maka barulah proses pemeriksaan perkara dilanjutkan.9
Lembaga perdamaian merupakan salah satu lembaga

yang sampai sekarang

dalam praktek pengadilan telah banyak memberi keuntungan baik bagi hakim maupun
bagi pihak yang berperkara. Keuntungan bagi hakim dengan adanya perdamaian itu para
pihak yang bersengketa telah ikut menunjang terlaksananya asas cepat, sederhana dan
biaya ringan.Keuntungan bagi pihak yang besengketa dengan terjadinya perdamaian itu
berarti telah menghemat ongkos perkara, mempercepat penyelesaian dan menghindari

7

Perkawinan di Indonesia telah diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1974.dalam UU tersebut mengandung
prinsip-prinsip yang bertujuan untuk menjamin cita-cita luhur perkawinan yaitu, membentuk keluarga,
rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan prinsip-prinsip tersebut
adalah: 1. Asas suka rela, 2. Partisipasi keluarga, 3. Dipersulitnya proses perceraian, 4. Pembatasan
poligami yang ketat, 5. Kematangan calon mempelai, dan 6. Perbaikan derajat kaum wanita. Ahmad Rofiq,
Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995, h. 56-57.
8
Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, h. 32.
9
Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama, Jakarta: Kencana, h.
151.

7
putusan yang bertentangan. Apabila penyelesaian perkara berakhir dengan perdamaian
maka akan menambah jalinan hubungan antara pihak-pihak yang bersengketa, hubungan
yang sudah retak dapat terjalin kembali seperti sediakala, malah mungkin akan lebih akab
persaudaannya.10
Perdamaian pada perkara perdata umumnya, diatur dalam pasal 134 HIR dan
pasal 154 R.Bg menerangkan pada setiap permulaan persidangan, sebelum pemeriksaan
perkara, hakim diwajibkan mengusahakan perdamaian antara pihak-pihak yang
berperkara.Jika dapat dicapai perdamaian, maka pada hari itu juga dibuatkan akta
perdamaian.Dan kedua belah pihak dihukum untuk menaati persetujuan yang telah
disepakati terhadap putusan perdamaian itu tidak dapat diajukan banding kepengadilan
tingkat tinggi.11
Misalkan dalam kasus perceraian, usaha hakim dalam mendamaikan pihak-pihak
yang berperkara dapat dilakukan disetiap sidang pemeriksaan dan setiap proses
persidangan. Apabila usaha perdamaian telah dilakukan oleh hakim semaksimal mungkin
tetapi tidak berhasil maka barulah hakim menjatuhkan putusan cerai.
Perdamaian persengketaan perceraian mempunyai nilai luhur tersendiri.Dengan
tercapainya perdamaian antara suami istri dalam sengketa perceraian, bukan keutuhan
rumah tangga saja yang dapat diselamatkan, tetapi juga pemeliharaan anak dapat
dilaksanakan sebagaimana mestinya.Memperlihatkan itu semua, maka mendamaikan
perceraian adalah suatu perbuatan yang terpuji dan diutamakan.Agar fungsi perdamaian
itu dapat terlaksana secara efektif dan optimal, maka sedapat mungkin hakim menemukan
hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya persengketaan.Terutama atas alasan perselisihan

10
11

Ibid, h. 152.
Mukti Arto, Op.Cit., h. 95.

8
dan pertentangan.Karena seringkali terjadi perselisihan timbul karena hal yang sangat
sepele.
Mendamaikan para pihak sebelum putusan dijatuhkan dalam hal perceraian
bersifat imperarif (memaksa).Usaha mendamaikan merupakan beban yang diwajibkan
oleh hukum kepada para hakim dalam setiap pemeriksaan, mengadili dan memutuskan
perkara perceraian. Sifat imperative upaya mendamaikan terutama dalam sengketa
perceraian atas alasan perselisihan dan pertengkaran.Oleh karena itu, upaya
mendamaikan harus dilakukan secara optimal oleh para hakim.
Mendamaikan para pihak ini dapat dilakukan pada sidang pemeriksaan.Hakim
wajib menghadirkan para keluarga atau tetangga dekat para pihak untuk didengarkan
keterangannya

dan

diminta

bantuan

mereka

agar

para

pihak

dapat

rukun

kembali.Perdamaian dapat terjadi pada tingkat pertama, banding dan kasasi.
Untuk menangani perkara perdata yang masuk ke pengadilan, telah dikeluarkan
Peraturan Mahkamah Agung (Perma) No.2 tahun 2003, yang telah direvisi dan diganti
oleh Perma No.1 tahun 2008 tentang prosedur mediasi di pengadilan dan pada tanggal 3
Februari 2016 telah ditetapkan menjadi Perma No.1 tahun 2016 dengan mengenai perkara
yang sama yaitu tentang prosedur mediasi di pengadilan. Perma ini dilatarbelakangi
adanya penumpukan perkara dilingkungan peradilan terutama dalam perkara kasasi,
mediasi ini dianggap instrumen efektif sebagai proses penyelesaian sengketa yang lebih
cepat, murah serta dapat memberikan akses yang lebih besar kepada para pihak dalam
rangka untuk menemukan penyelesaian perkara secara damai yang lebih memuaskan dan
memenuhi rasa keadilan.

9
Hasil wawancara ketika pra penelitian dengan salah satu panitera di Pengadilan
Agama Bantul bahwa penerapan mediasi ini sangat membantu dalam penyelesaian
perkara perdata terutama perceraian, dalam perkara perceraian keberhasilan mediasi tidak
harus kedua belah pihak yang bersengketa (suami-istri) dapat rukun kembali yaitu tetep
meneruskan perkawinan tanpa adanya perceraian. Tetapi keberhasilan mediasi dalam
perkara perceraian itu dapat dinilai dari para pihak yang tidak berhasil dalam proses
mediasi (adanya perceraian) tetapi dalam kehidupan kedua belah pihak selanjutnya dalam
kondisi rukun, damai, tidak adanya saling bermusuhan antara para pihak. Disini harus
melihat kondisi para pihak, bila perkawinan itu dilanjutkan dan yang ada hanyalah
perselisihan yang berkelanjutan, lebih baik perkawinan tersebut diputus untuk
menghindari kemadharatan dan menggapai kemaslahatan dalam kehidupan selanjutnya.
Dari latar belakang di atas maka penulis akan mengkajinya dalam sebuah skripsi
yang berjudul “Pelaksanaan Mediasi Dalam Perkara Perceraian Di Pengadilan
Agama Bantul”
Berdasarkan dari kerangka berfikir dan latar belakang masalah diatas, dan untuk
memberikan arah yang jelas dalam penelitian ini, maka perlu adanya rumusan masalah
yang memfokuskan penelitian ini. Adapun rumusan masalahnya adalah :apa yang
menjadi hambatan dalam pelaksanaan mediasi perkara perceraian di Pengadilan Agama
Bantuldan bagaimana pelaksanaan mediasi dalam perkara perceraian di Pengadilan
Agama Bantul?
Adapun tujuan atau signifikansi dari penelitian skripsi tersebut, diantaranya
adalah untuk mengetahui atau mengkaji lebih jauh tentang apa yang menjadi hambatan
dalam proses mediasi perkara perceraian di Pengadilan Agama Bantul

dan untuk

10
mengetahui atau mengkaji lebih jauh tentang bagaimana pelaksanaan mediasi dalam
perkara perceraian di Pengadilan Agama Bantul.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Perkawinan dan Perceraian
1. Pengertian dan Dasar Hukum Perkawinan
a. Pengertian perkawinan
Perkawinan berasal dari kata ‫ ح‬yang artinya “ berhimpun ” dan kata ‫ج‬

yang

berarti “ pasangan ” dan kata ini menjadi istilah pokok dalam Al Qur‟an untuk menunjuk
pada perkawinan, kemudian dalam berbagai bentuknya kata nakaha ditamukan 23 kali,
sementara kata zawaja ditemukan tidak kurang dari 80 kali dalam Al Qur‟an. Dengan
demikian, secara bahasa perkawinan di simpulkan yaitu berkumpulnya dua insan yang
semula berpisah atau sendiri-sendiri, berhimpunmenjadi satu kesatuan yang utuh dalam
suatu ikatan.1
Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 1, perkawinan adalah ikatan
lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan
membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa.2
Adapun pengertian perkawinan dari Kompilasi Hukum Islam (KHI) adalah
akad yang sangat kuat atau untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya
merupakan ibadah.

1

http://ganjaran-ngelmu.blogspot.co.id/2012/12/pengertian-dan-dasar-hukum-perkawinan.html,diakses
tanggal 23 Agustus 2016
2
Undang-Undang Pokok Perkawinan No. 1 Tahun 1974, Surabaya: Arkola, 2007, h. 5.

2
b. Dasar hukum perkawinan
Menurut Fiqh Munakahat, ada dua dalil yang menjadi dasar hukum
perkawinan. Pertama, adalah Dalil Al-Qur‟an.Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa
Ayat 3 sebagai berikut :3
“ Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap anak yatim, maka kawanilah
perempuan-perempuan lain yang kamu senangi, dua, tiga atau empat dan jika kamu
takut tidak akan berlaku adil cukup sayu orang.” (An-Nisa :3).
Dalam ayat ini memerintahkan kepada orang laki-laki yang sudah mampu untuk
melaksanakan nikah, yang dimaksud adil dalam ayat ini adalah adil didalam memberikan
istri berupa pakaian, tempat tinggal dan lain-lain yang bersifat lahiriah. Ayat ini juga
menerangkan bahwa islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu.
Menurut surat Al A‟raaf ayat 189 yang berbunyi :
“ Dialah yang menciptakan kamu dari suatu zat dan daripadanya Dia menciptakan
istrinya agar Dia merasa senang.”(Al A’raaf :189)
Sehingga perkawinan adalah menciptakan kehidupan keluarga antar suami istri dan anakanak serta orang tua agar tercapai suatu kehidupan yang aman dan tentram (Sakinah),
pergaulan yang saling mencintai (Mawaddah) dan saling menyantuni (Rohmah.4
Kedua, adalah Dalil As-Sunnah.Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‟ud dari
Rasulullah yang bersabda.
“Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian memiliki kemampuan, maka nikahlah,
karena itu dapat lebih baik menahan pandangan dan menjaga kehormatan. Dan siapa
yang tidak memiliki kemampuan itu, hendaklah ia selalu berpuasa, sebab puasa itu
merupakan kendali baginya. (H.R.Bukhari-Muslim)5

3

Prof.Dr.Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia : Antara Fiqh Munakahat dan
Undang-Undang Perkawinan, Jakarta : Kencana 2009, h.35
4
Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, h. 3-4
5
Syekh Muhammad Sholeh Al Utsain, Syekh Abdul Aziz Ibn Muhammad Dawud, Pernikahan Islami :
Dasar Hidup Berumah Tangga, Surabaya : Risalah Gusti 1991, h.29

3
Menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 197, Landasan hukum
terdapat dalam Pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Perkawinan yang rumusannya :6
Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya

itu.Tiap-tiap

perkawinan

dicatat

menurut

peraturan-peraturan,

perundang-undangan yang berlaku.
Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI), dasar perkawinan dalam
Pasal 2 dan 3 disebutkan bahwa :
Perkawinan menurut Hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau
mitsaaqan ghaliizhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan
ibadah.Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah,
mawwadah, dan warahmah.7
2. Rukun dan Syarat sahnya Perkawinan
Pada pelaksanaan perkawinan, calon mempelai harus memenuhi rukun dan
syarat perkawinan. Rukun perkawinan adalah hakekat dari perkawinan itu sendiri, jadi
tanpa adanya salah satu rukun maka perkawinan tidak mungkin dilaksanakan. Sedangkan
yang dimaksud dengan syarat perkawinan adalah sesuatu yang harus ada dalam
perkawinan tetapi tidak termasuk hakekat perkawinan.Kalau salah satu syarat-syarat
perkawinan tidak terpenuhi maka perkawinan itu tidak sah.8
Terkait dengan rukun dan syarat sahnya suatu perkawinan telah disebutkan
didalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), antara lain :9

6

Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, h.50
http://hukum.unsrat.ac.id/ma/kompilasi.pdf, diakses tanggal 23 Agustus 2016
8
http://handarsubhandi.blogspot.co.id/2015/05/rukun-dan-syarat-sah-perkawinan.html, diakses tanggal 23
Agustus 2016
9
https://mihwanuddin.wordpress.com/2011/03/17/rukun-dan-syarat-pernikahan-menurut-khi-kompilasihukum-islam/ diakses tanggal 23 Agustus 2016
7

4
a. Shighat (ijab-kabul), akad nikah menurut KHI dalam pasal 1 bagian c akad nikah
ialah: rangkaian ijab yang diucapkan oleh wali dan Kabul yang diucapkan oleh
mempelai pria atau wakilnya disaksikan oleh 2 orang saksi. Dalam Kompilasi Hukum
Islam (KHI) sudah diatur ketentuan untuk pelaksanaan akad nikah yang dituangkan
dalam beberapa pasal, diantaranya :
Pasal 27 :
1).

Ijab dan Qabul antara wali dan calon mempelai pria harus jelas beruntun dan

tidak berselang waktu.
pasal 28 :
1)

Akad nikah dilaksanakan sendiri secara pribadi oleh wali nikah yang

bersangkutan. Wali nikah dapat mewakilkan pada orang lain.
Pasal 29 :
(1) Yang berhak mengucapkan Qabul ialah calon mempelai pria secara pribadi.
(2) Dalam hal-hal tertentu ucapan Qabul nikah dapat dilakukan pada pria lain dengan
ketentuan calon mempelai pria memberi kuasa yang tegas secara tertulis bahwa
penerimaan wakil atas akad nikah itu adalah untuk mempelai pria.10
b.

Kedua calon mempelai, sifat-sifat calon mempelai yang baik seperti yang
digambarkan oleh nabi Muhammad ialah

‫ن ح ال مراء ارب ع ل مال ا ل ح س ب ا جمال ا ل دي ن ا‬

Syaikh Kamil Muhammad „Uwaidah, Fiqh Wanita, terjemahan Abdul Ghoffar, Jakarta : Pustaka AlKautsar, h.404
10

5
“Nikahilah seorang wanita yang mempunyai ciri-ciri empat dari hartanya, dari
keturunannya , dari dari kecantikannya, dari agamanya. Diriwayatkan oleh Bukhari“.

Syarat-syarat calon suami lainnya adalah:
1. Tidak dalam keadaan ihrom, meskipun diwakilkan.
2. Kehendak sendiri
3. Mengetahui nama, nasab, orang, serta keberadaan wanita yang akan dinikahi.
4. Jelas laki-laki
Syarat-syarat calon istri:
1. Tidak dalam keadaan ihrom
2. Tidak bersuami
3. Tidak dalam keadaan iddah (masa penantian)
4. Wanita.11
Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 15 ayat 1 menyatakan bahwa untuk
kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon
mempelai yang telah mencapai umur yang telah ditetapkan dalam Pasal 7 UndangUndang No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yakni calon suami berumur 19 tahun dan
calon istri sekurangnya berumur 16 tahun.Sedangkan dalam pasal 16 ayat 1 menyatakan
bahwa perkawinan didasarkan atas persetujuan calon mempelai.
c. Wali, Wali adalah rukun dari beberapa rukun pernikahan yang lima, dan tidak sah nikah
tanpa wali laki-laki.
Dalam KHI pasal 19 menyatakan wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang
harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya.
11

EM. Yusmar, Wanita dan Nikah Menurut Urgensinya, Kediri : Pustaka „Azm, h.16

6
Dalam hadis nabi :

‫ب ا‬

‫اح غ ير ال ك ف‬

‫اح اا ب ل ي شاهد عدل ما ك ا من‬

‫ا‬

“Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.Jika ada pernikahan
tanpa itu maka pernikahan itu dianggap batal.” (HR. Ibnu Hiban)
Syarat-syarat wali :
1.

Islam

2.

Sudah baligh

3.

Berakal sehat

4.

Merdeka

5.

Laki-laki

6.

Adil

7.

Sedang tidak melakukan ihram

Yang diprioritaskan menjadi wali:
1.

Bapak.

2.

Kakek dari jalur Bapak

3.

Saudara laki-laki kandung

4.

Saudara laki-laki tunggal bapak

5.

Kemenakan laki-laki (anak laki-lakinya saudara laki-laki sekandung)

6.

Kemenakan laki-laki (anak laki-laki saudara laki-laki bapak)

7.

Paman dari jalur bapak

8.

Sepupu laki-laki anak paman

9.

Hakim bila sudah tidak ada wali –wali tersebut dari jalur nasab.

7
Wali nikah itu sendiri terdiri dari wali nasab dan wali hakim.Pada Pasal 21
dibahas empat kelompok wali nasab yang pembahasanya sama dengan fikih Islam
seperti pertama, kelompok kerabat laki-laki garis lurus keatas. Kedua, kelompok kerabat
saudara laki-laki saudara kandung, seayah dan keturunan laki-laki mereka. Ketiga,
kelompok kerbat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara seayah dan
keturunan laki-laki mereka.Kelompok saudara laki-laki kandung kakek, saudara laki-laki
seayah kakek dan keturunan laki-laki mereka.
Wali dapat di pindah oleh hakim bila:
1. Jika terjadi pertentangan antar wali.
2. Jika tidak adanya wali, ketidak adanya di sini yang dimaksud adalah benar-benar
tidak ada satu kerabat pun, atau karena jauhnya tempat sang wali sedangkan wanita
sudah mendapatkan suami yang kufu‟.
Menyangkut dengan wali hakim dinyatakan pada pasal 23 yang berbunyi:
1. Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau
tidak mungkin menghadiri atau tidak diketahui tempat tinggal atau ghaibnya atau
„adhalnya atau enggan.
2. Dalam hal wali „adhal atau enggan maka wali hakim baru dapat bertindak sebagai
wali nikah setelah ada putusan pengadilan agama tentang wali tersebut.12
d. Saksi, Dalam pasal 24 ayat 1 KHI menyatakan saksi dalam perkawinan merupakan rukun
pelaksanaan akad nikah.Dalam pasal 26 saksi harus hadir dan menyaksikan secara
langsung akad nikah serta menandatangani akta pada waktu dan ditempat akad nikah
dilangsungkan.
12

Nuruddin dan Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta : Prenada Media, h.73

8
Syarat-syarat saksi :
1.

Islam

2. Baligh
3.

Berakal

4. Mendengarkan langsung perkataan Ijab-Qabul
5. Dua orang laki-laki dan yang terpenting adil.
Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 24 ayat 2 menyebutkan bahwa setiap perkawinan
harus disaksikan 2 orang saksi.
Menurut Pasal 6 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
menyebutkan syarat-syarat perkawinan sebagai berikut :

1. Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
2. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (duapuluh
satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.

3. Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam
keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dimaksud ayat (2) pasal
ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu
menyatakan kehendaknya.

4. Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu
untuk menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali, orang yang
memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan
lurus keatas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan
kehendaknya.

9
5. Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang yang disebut dalam ayat (2), (3)
dan (4) pasal ini, atau salah seorang atau lebih diantara mereka tidak menyatakan
pendapatnya, maka Pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang akan
melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut dapat memberikan izin
setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut dalam ayat (2), (3) dan (4) pasal
ini.

6. Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) pasal ini berlaku sepanjang hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak
menentukan lain.

Sedangkan pada Pasal 7 disebutkan :

1. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas)
tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

2. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada
Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun
pihak wanita.

3. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut
dalam Pasal 6 ayat (3) dan (4) Undang-undang ini, berlaku juga dalam hal permintaan
dispensasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (6).

10
3. Pengertian dan Dasar Hukum Perceraian
a. Pengertian perceraian
Perceraian secara terminologi berasal dari kata dasar cerai yang berarti pisah,
kemudian mendapat awalan per yang berfungsi pembentuk kata benda abstrak kemudian
menjadi perceraian yang berarti hasil dari perbuatan cerai.Sehingga secara bahasa berarti
putusnya hubungan suami isteri, talak, hidup perpisahan antara suami isteri selagi keduaduanya masih hidup.
Didalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada Pasal 38
dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada Pasal 113 menyatakan bahwa percerain itu
merupakan salah satu sebab putusnya perkawinan. Jadi secara yuridis perceraian berarti
putusnya perkawinan, yang mengakibatkkan putusnya hubungan sebagai suami istri.13
Menurut istilah agama talak dari kata “ithlaq” yang artinya melepaskan atau
meninggalkan.Talak berarti melepaskan ikatan perkawinan atau bubarnya hubungan
perkawinan.Cerai talak adalah cerai yang dijatuhkam oleh suami terhadap istrinya
sehingga perkawinan mereka menjadi putus.Seorang suami yang bermaksud menceraikan
istrinya harus terlebih dahulu mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama yang
berkedudukan di wilayah tempat tinggalnya.Sedangkan cerai gugat adalah cerai yang
didasarkan atas adanya gugatan yang diajukan oleh isteri kepada suaminya dengan
maksud untuk memutus perkawinan.Seorang istri yang bermaksud bercerai dari suaminya
harus lebih dulu mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama.
Menurut definisi-definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa perceraian adalah
putusnya hubungan suami istri atau putusnya perkawinan selagi mereka masih hidup,
yang dapat terjadi dengan talak (cerai talak) atau khuluk (cerai gugat).
13

Muhammad Syaifudin, Hukum Perceraian, Palembang : Sinar Gravika, 2012, h.15

11
b. Dasar hukum perceraian
Dasar hukum perceraiam pada Undang-Undang Perkawinan terdapat dalam Bab
VIII tentang Putusnya Perkawinan Serta Akibatnya dalam Pasal 38 dan Pasal 39
sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pad Bab XVI tentang putusnya
Perkawinan Pasal 113 dan Pasal 128.
Selain dalam aturan-aturan yang dikodifikasi, para ahli fiqih juga memiliki
pendapat yang berbeda mengenai hukum perceraian menurut Islam, pendapat yang paling
benar ialah pendapat dari golongan Hanafi dan Hambali.Mereka mengatakan “terlarang”
kecuali karena alasan yang benar. Adapun alasannya yaitu :
Rasulullah SAW bersabda :
“Allah melaknat tiap-tiap orang yang suka merasai dan bercerai.”
Dalam sabda Rasulullah diatas beliau mengatakan bahwa Allah melaknat tiap orang
yang suka merasai (suka kawin) dan bercerai, hal ini disebabkan karena bercerai itu kufur
terhadap nikmat Allah SWT. sedangkan kawin adalah suatu nikmat dan kufur terhadap
nikmat hukumnya adalah haram. Talak haram yaitu talak tanpa adanya alasan, karena
merugikan bagi suami dan istri serta tidak ada kemaslahatan yang mau dicapai dengan
perbuatan talaknya itu, oleh sebab itu talaknya menjadi haram.Jadi perceraian itu tidak
akan menjadi halal kecuali karena suatu yang darurat. Darurat memperbolehkan cerai bila
suami meragukan kebersihan tingkah laku istri, atau sudah tidak punya cinta lagi.
Golongan Hambali lebih menjelaskannya secra terperinci dengan baik, yang
ringkasnya sebagai berikut :
“ Talak itu adakalanya wajib, adakalanya haram, adakalanya mubah da nada kalanya
sunnah”

12
Menurut Sayyid Sabiq, talak wajib yaitu talak yang dijatuhkan oleh pihak hakam
(penengah), karena perpecahan antara suami istri sudah berat. Hal ini terjadi jika hakam
berpendapat bahwa talaklah jalan satu-satunya untuk menghentikan perpecahan
4. Akibat Hukum Perceraian
a. Akibat hukum perceraian dalam Undang-Undang Perkawinan
Perceraian mempunyai akibat hukum yang luas, baik dalam lapangan Hukum
Keluarga maupun dalam Hukum Kebendaan serta Hukum Perjanjian.14
Akibat pokok dari perceraian adalah bekas suami dan bekas istri, kemudian hidup
sendiri-sendiri secara terpisah.
Dalam pemutusan perkawinan dengan melalui Pengadilan, tentu akan
menimbulkan akibat hukum diantara suami-istri yang bercerai tersebut, dan terhadap
anak serta harta dalam perkawinan yang merupakan hasil yang diperoleh mereka berdua
selama perkawinan. Adanya putusnya hubungan perkawinan karena perceraian maka
akan menimbulkan berbagai kewajiban yang dibebankan kepada suami-istri masingmasing terhadapnya.
Seperti yang terdapat di dalam Pasal 41 Undang-Undang Perkawinan, disebutkan bahwa
akibat hukum yang terjadi karena perceraian adalah sebagai berikut:
a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya,
semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai
penguasaan anak-anak, pengadilan memberi keputusannya.
b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan
yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataannya tidak dapat

14

Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, Jakarta : Indonesia Legal Centre Publishing
2002, h.2

13
memenuhi kewajiban tersebut, maka pengadilan dapat menentukan bahwa ibu
ikut memikul biaya tersebut.
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya
penghidupan dan atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri. Oleh
karena itu, dampak atau akibat dari putusnya hubungan perkawinan karena
perceraian, telah jelas diatur dalam Undang-Undang Perkawinan.
b. Akibat Hukum Perceraian Terhadap Hubungan Suami-Istri
Meskipun diantara suami-istri yang telah menjalin perjanjian suci, namun tidak
menutup

kemungkinan

bagi

suami-istri

tersebut

mengalami

pertikaian

yang

menyebabkan perceraian dalam sebuah rumah tangga.Hubungan suami-istri terputus jika
terjadi putusnya hubungan perkawinan.
Seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya, tidak boleh melaksanakan atau
melangsungkan perkawinan sebelum masa iddahnya habis atau berakhir, yakni selama 4
(empat) bulan 10 (sepuluh) hari atau 130 (seratus tiga puluh) hari.Apabila perkawinan
putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih berdatang bulan ditetapkan 3
(tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari dan bagi yang tidak
berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari.serta apabila ketika pada saat
istrinya sedang hamil, maka jangka waktu bagi istri untuk dapat kawin lagi adalah sampai
dengan ia melahirkan anaknya.15Hal tersebut dilakukan untuk memastikan apakah si-istri
itu sedang hamil atau tidak. Seorang suami yang telah bercerai dengan istrinya dan akan
menikah lagi dengan wanita lain ia boleh langsung menikah, karena laki-laki tidak
mempunyai masa iddah.

15

Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974
Tentang Perkawinan.

14

c. Akibat Hukum Perceraian Terhadap Anak
Menurut Undang-Undang Perkawinan meskipun telah terjadi perceraian, bukan
berarti kewajiban suami istri sebagai ayah dan ibu terhadap anak di bawah umur
berakhir.Suami yang menjatuhkan talak pada istrinya wajib membayar nafkah untuk
anak-anaknya, yaitu belanja untuk memelihara dan keperluan pendidikan anak-anaknya
itu sesuai dengan kedudukan suami.Kewajiban memberi nafkah anak harus terus-menerus
dilakukan sampai anak-anak tersebut baliq dan berakal serta mempunyai penghasilan
sendiri.
Baik bekas suami maupun bekas istri tetap berkewajiban memelihara dan
mendidik anak-anaknya berdasarkan kepentingan anak.Suami dan istri bersama
bertanggung jawab atas segala biaya pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya.Apabila
suami tidak mampu, maka pengadilan dapat menetapkan bahwa ibu yang memikul biaya
anak-anak.
d. Akibat Hukum Perceraian Terhadap Harta Bersama
Akibat lain dari perceraian adalah menyangkut masalah harta benda perkawinan
khususnya mengenai harta bersama seperti yang ditentukan dalam Pasal 37 UndangUndang Perkawinan, bahwa bila perkawinan putus karena perceraian, maka harta
bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Menurut penjelasan resmi pasal
tersebut, yang dimaksud dengan hukumnya masing-masing adalah hukum agama, hukum
adat dan hukum lain-lainnya.Memperhatikan pada Pasal 37 dan penjelasan resmi atas
pasal tersebut undang-undang ini tidak memberikan keseragaman hukum positif tentang
bagaimana harta bersama apabila terjadi perceraian.

15
Tentang yang dimaksud pasal ini dengan kata “Diatur”, tiada lain dari pembagian
harta bersama apabila terjadi perceraian. Maka sesuai dengan cara pembagian, Undangundang menyerahkannya kepada “Hukum yang hidup” dalam lingkungan masyarakat
dimana perkawinan dan rumah tangga itu berada. Kalau kita kembali pada Penjelasan
Pasal 37 maka Undang-Undang memberi jalan pembagian :
1. Dilakukan berdasar hukum agama jika hukum agama itu merupakan kesadaranhukum
yang hidup dalam mengatur tata cara perceraian;
2. Aturan pembagiannya akan dilakukan menurut hukum adat, jika hukum tersebut
merupakan kesadaran hukum yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang
bersangkutan;
3. Atau hukum-hukum lainnya.
Harta bawaan atau harta asal dari suami atau istri tetap berada ditangan pihak
masing-masing.Apabila bekas suami atau bekas istri tidak melaksanakan hal tersebut
diatas, maka mereka dapat digugat melalui pengadilan negeri ditempat kediaman
tergugat, agar hal tersebut dapat dilaksanakan.
Mengenai penyelesaian harta bersama karena perceraian, suami-istri yang
bergama Islam menurut Hukum Islam, sedangkan bagi suami-istri non-Islam menurut
Hukum Perdata.16
e.

Terhadap Nafkah
Menurut pendapat umum sampai sekarang biaya istri yang telah ditalak oleh

suaminya tidak menjadi tanggungan suaminya lagi, terutama dalam perceraian itu si-istri
yang bersalah. Namun dalam hal istri tidak bersalah, maka paling tinggi yang
16

Mohd. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Suatu Analisis Dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
dan Kompilasi Hukum Islam, Cet. 2, Jakarta: Bumi Aksara, April 1999, h. 2, mengutip Prof. Dr. Hazairin., S.
H., Hukum Kekeluargaan Indonesia, Jakarta: Tintamas, 1961, h. 189.

16
diperolehnya mengenai biaya hidupnya ialah pembiayaan hidup selama ia masih dalam
masa iddah yang lebih kurang selama 90 (sembilan puluh) hari. Tetapi sesudah masa
iddah, suami tidak perlu lagi membiayai bekas istrinya lagi. Bahkan sesudah masa iddah,
bekas istri itu harus keluar dari rumahsuaminya andaikata ia masih hidup di rumah yang
disediakan

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1618 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 416 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 376 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 237 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 345 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 488 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 429 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 277 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 511 23