Budidaya Cacing Oligochaeta dengan Padat Penebaran Berbeda pada Sistem Sirkulasi dengan Pergantian Air

(1)

ABSTRACT

WIWIK HILDAYANTI. Oligochaeta worm cultivation with stocking density in closed system.Supervised by IIS DIATIN and YANI HADIROSEYANI

Oligochaeta worm contain protein of 65%, fat 15%, and carbohydrate 14%, therefore very well when given to the fish larvae during nursery period. But, the availability of oligochaeta worm are very limited especially in Belitung which has 10 hatchery. So that, it needs oligocheta worm cultivation to meet the demand. The research used closed system which mean wasted water from. The purpose of this research to determine the best stocking denstiy of oligochaeta worm between 2600,3600, and 4600 indvidual/m2 with the system based on the biomass, growth rate,and economic efficiency. The research was perfomed in April until August 2011 at the Balai Benih Ikan Air Tawar Belitung Timur. The medium used are a mixture of fine mud and chicken manure. The worm was spread and fermentation manure chicken fertilized added every day about 1 kg/m2. The worm was cultured during 60 days and took as samples every 10 days. The observation indicated that the maintanence of oligocaeta worm with closed system produced the level of ammonia contain was higher and dissolve oxygen contai was lower than using opened system. In this condition, the worm was able to survived even thought feeding habit and reproduction is inhibited. Highest population and biomass occured on 50th day with stocking density 4600 individual/m2 as much as 255091.61 individual/m2 and 1275.46 g/m2. Highest biomass growth rate occured in 4600 individual/m2 as much as 25.05 g/m2/day. Stocking density 4600 individual/m2 got the profit as much as Rp 5 828 525, R/C ratio 1.04, PP for 6.13 years, BEP (Rupiah) Rp 154 585 260 and BEP (units) 937 kg, and HPP Rp 72 389.


(2)

ABSTRAK

WIWIK HILDAYANTI. Budidaya cacing oligochaeta dengan padat penebaran berbeda pada sistem sirkulasi dengan pergantian air. Dibimbing oleh IIS DIATIN dan YANI HADIROSEYANI

Cacing oligocaheta mengandung protein sebesar 65%, lemak 15% dan karbohidrat 14%, oleh karena itu sangat baik bila diberikan pada larva ikan pada saat pemeliharaan. Namun ketersediaan cacing oligochaeta sangat terbatas di daerah Belitung yang mempunyai 10 hatchery. Oleh karena itu perlu dilakukan pembudidayaan cacing oligochaeta untuk memenuhi permintaan. Penelitian ini menggunakan sistem sirkulasi yang bearti air buangan dari bak pemeliharaan dipakai kembali, supaya kokon bisa masuk kembali ke bak pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan menentukan padat penebaran cacing oligochaeta yang terbaik antara 2600 individu/m2, 3600 individu/m2 dan 4600 individu/m2 dengan sistem sirkulasi berdasarkan biomassa, laju pertambahan biomassa harian dan analisis usaha. Penelitian dilaksanakan April hingga Agustus 2011 bertempat di Balai Benih Ikan Air Tawar Belitung Timur. Media yang digunakan adalah campuran lumpur halus dan kotoran ayam. Cacing ditebar dan diberi pupuk kotoran ayam hasil fermentasi setiap hari sebesar 1 kg/m2/hari. Cacing dipelihara selama 60 hari dan dilakukan pengambilan contoh setiap 10 hari sekali. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemeliharaan cacing oligochaeta dengan sistem sirkulasi menghasilkan nilai TAN yang lebih tinggi sedangkan kandungan oksigen terlarut yang lebih rendah dibandingkan dengan sistem terbuka. Pada kondisi tadi cacing masih mampu bertahan hidup meskipun aktivitas makan dan reproduksi terhambat. Puncak populasi dan biomassa tertinggi dicapai pada hari ke-50 dengan padat penebaran 4600 individu/m2 sebanyak 255091.61 individu/m2 dan 1275.46 g/m2. Laju pertambahan biomassa harian tertinggi diperoleh pada perlakuan 4600 individu/m2 sebesar 25.05 g/m2/hari. Perlakuan padat penebaran 4600 individu/m2 memperoleh keuntungan sebesar Rp 5 828 525, R/C rasio sebesar 1.04, PP selama 6.13 tahun, BEP (Rp) sebesar Rp 154 585 260 dan BEP (unit) sebesar 937 kg, serta HPP sebesar Rp 72 389.


(3)

I.

PENDAHULUAN

Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2012 mematok target produksi perikanan budidaya sebesar 9,4 juta ton. Target itu mengalami kenaikan 38 persen dari total capaian produksi tahun 2011 sebesar 6,8 juta ton (Bahermansyah 2012). Seiring dengan kenaikan target produksi, permintaan terhadap pakan pun ikut meningkat. Pemberian pakan dalam pemeliharaan larva merupakan kegiatan yang paling menentukan keberhasilan suatu pembenihan ikan. Hal ini disebabkan sifat larva yang merupakan stadia paling kritis dalam siklus hidup ikan, sehingga pemeliharaan larva merupakan kegiatan yang paling sulit. Beberapa faktor yang menyebabkan pemeliharaan larva memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi dalam pembenihan ikan antara lain tubuh dan bukaan mulut larva kecil sehingga pemberian pakan larva dan pengelolaan lingkungan relatif sulit, kemudian larva membutuhkan pakan alami dan belum ada pakan buatan yang bisa menandingi pakan alami (Effendi 2004). Salah satu jenis pakan alami yang diberikan adalah cacing oligochaeta atau yang biasa disebut cacing sutra.

Cacing oligochaeta menurut Pennak (1978) termasuk ke dalam filum Annelida dan subkelas Oligochaeta. Cacing oligochaeta diberikan pada larva maupun ikan hias karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu sebesar 65%, lemak 15% dan karbohidrat sebesar 14%. Kelebihan cacing oligochaeta selain proteinnya yang tinggi, juga memiliki tingkat kelangsungan hidup yang reatif tinggi, siklus hidup yang relatif pendek, tahan terhadap lingkungan yang beroksigen terlarut rendah dan bisa dikembangbiakkan dalam subsrat organik (Marian dan Pandian 1984).

Selama ini, sebagian besar cacing oligochaeta diperoleh dari hasil tangkapan alam. Hal tersebut cukup beresiko dikarenakan berpotensi membawa parasit ataupun penyakit ke dalam lingkungan budidaya dan ketersediaannya pun menjadi berfluktuasi tergantung musim, sedangkan kegiatan pembenihan harus berlangsung setiap saat. Begitu pula dengan ketersediaan cacing oligochaeta di Belitung yang relatif terbatas. Penyebab dari rendahnya ketersediaan tersebut diantaranya yaitu jumlah cacing yang tersedia di alam relatif sedikit, relatif sulit


(4)

dalam hal transportasi untuk jarak yang sangat jauh bila dikirim dari luar pulau, masih minimnya pengetahuan masyarakat Belitung dalam membudidayakan cacing dan manfaat dari cacing oligochaeta tersebut. Permintaan terhadap pakan alami cukup tinggi dilihat dari jumlah hatchery yang ada di Belitung yaitu sebanyak 10 buah baik milik rumah tangga perikanan, perusahahaan perikanan maupun milik pemerintah (BPS 2010). Selain untuk memenuhi tingginya permintaan, budidaya cacing oligocaheta juga merupakan peluang usaha yang cukup menjanjikan dikarenakan pesaing yang belum ada dan tingginya harga jual yaitu berkisar antara Rp 75 000 – Rp 100 000 per kg. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga dari daerah lain, seperti di Jakarta yang harganya Rp 20 000 per kilo, Yogyakarta harganya Rp 35 000 per kilo dan Rp 12 000 per kilo untuk daerah Bogor (Masturo 2011).

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu dilakukan penelitian penentuan padat penebaran cacing oligochaeta. Padat penebaran cacing adalah jumlah cacing yang ditebarkan per satuan luas atau volume. Menurut Effendi (2004), padat penebaran akan menentukan tingkat intensitas pemeliharaan. Semakin tinggi padat penebaran yang bearti semakin banyak jumlah atau biomassa per satuan luas maka semakin intens tingkat pemeliharaannya. Pada padat penebaran yang tinggi, kebutuhan oksigen dan pakan juga besar, serta buangan metabolisme seperti feses, NH3 dan CO2 juga banyak.

Sistem budidaya yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan sistem sirkulasi yang artinya air yang keluar dari bak pemeliharaan ditampung di bak penampungan air, kemudan air tersebut dialirkan kembali ke bak pemeliharaan. Tujuan dari penggunaan sistem sirkulasi pada penelitian ini adalah agar kokon cacing oligocaheta yang terhanyut keluar bak pemeliharaan bisa masuk kembali ke bak pemeliharaan, begitu pula dengan pupuk yang belum sempat termanfaatkan bisa dimanfaatkan kembali dengan adanya sistem sirkulasi. Oleh karena itu, pada penelitian ini tidak menggunakan filtrasi yang berfungsi sebagai penyerap dan perombak senyawa nitrogenus yang bersifat racun (ammonia dan nitrit) menjadi senyawa tidak beracun (nitrat) dengan bantuan mikroorganisme. Air yang berada di bak penampungan akan diganti setiap dua hari sekali sebanyak


(5)

2/3 dari volume air yang ada, hal tersebut berfungsi untuk menjaga kualitas air yang masuk ke bak pemeliharaan.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan padat penebaran cacing oligochaeta yang terbaik antara 2600 individu/m2, 3600 individu/m2 dan 4600 individu/m2 dengan sistem sirkulasi berdasarkan biomassa, laju pertambahan biomassa harian dan efesiensi ekonomi.


(6)

II. METODOLOGI

2.1 Lokasi dan Waktu

Penelitian dilakukan di Balai Benih Ikan Air Tawar (BBIAT), Kecamatan Mempaya, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung. Waktu penelitian dimulai dari April hingga Agustus 2011.

2.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian antara lain : bak pemeliharaan berukuran 100 cm × 25 cm × 20 cm sebanyak 9 unit, plastik hitam untuk melapisi bak, termometer, DO meter, pH meter, spektrofotometer, timbangan dan terpal. Bahan yang digunakan adalah lumpur halus, kotoran ayam kering, Effective Microorganisms (EM4), gula dan bibit cacing oligochaeta.

2.3 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan padat penebaran yaitu padat penebaran 2600 individu/m2, 3600 individu/m2 dan 4600 individu/m2, masing-masing diulang sebanyak tiga kali.

Data yang diperoleh kemudian ditabulasi dan dianalisisis menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan SPSS yang meliputi Analisis Ragam (ANOVA) dengan uji F pada selang kepercayaan 95% digunakan untuk menentukan ada tidaknya pengaruh perlakuan padat penebaran terhadap pertambahan biomassa dan populasi cacing oligochaeta. Apabila hasil berbeda nyata maka dilakukan uji lanjut menggunakan uji Tukey. Model statistik yang digunakan sesuai dengan Steel dan Torrie (1993) yaitu :

Y ij = µ + σ i + ε ij Keterangan :

Yij = Hasil pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = Nilai tengah dari pengamatan

σi = Pengaruh aditif perlakuan ke-i


(7)

Pengujian perlakuan dapat dilakukan dengan kriteria uji sebagai berikut : Jika Fhitung ≥ Ftabel  tolak H0

Fhitung < Ftabel  terima H0

Hipotesis yang digunakan dalam pengujian tersebut adalah:

H0 : perlakuan berupa padat penebaran berbeda tidak memberikan pengaruh terhadap biomassa dan populasi cacing oligochaeta.

H1 : perlakuan berupa padat penebaran berbeda memberikan pengaruh terhadap biomassa dan populasi cacing oligochaeta.

Parameter yang di ukur selama penelitian adalah biomassa dan populasi, sedangkan parameter penunjang yang di amati adalah kualitas air yang terdiri atas oksigen terlarut, pH, Total Ammonia Nitrogen (TAN) dan suhu.

2.4 Tahapan Penelitian

Pada penelitian ini terdapat sembilan unit percobaan yang berupa bak. Tiga bak ditebar cacing oligochaeta sebanyak 2600 individu/m2, tiga bak ditebar cacing oligochaeta sebanyak 3600 individu/m2 dan tiga bak lainnya ditebar cacing oligochaeta sebanyak 4600 individu/m2. Adapun tahapan kerjanya sebagai berikut:

2.4. 1 Persiapan

2.4.1.1 Bak Pemeliharaan

Bak pemeliharaan yang digunakan berupa kotak kayu berukuran 100 cm × 25 cm × 20 cm sebanyak 9 unit. Bak dilapisi plastik berwarna hitam untuk mencegah terjadinya kebocoran dan memberikan suasana lingkungan yang mendukung bagi budidaya cacing oligochaeta seperti yang dilakukan oleh Chumaidi et al. (1988). Bentuk bak pemeliharaan cacing oligochaeta yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.


(8)

Gambar 1 Bak pemeliharaan cacing oligochaeta

2.4.1.2Media Pemeliharaan

Media pemeliharaan yang digunakan adalah campuran kotoran ayam kering (50%) dan lumpur halus (50%) sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuherman (1987). Lumpur yang digunakan sebagai media diambil dari kolam budidaya ikan, selanjutnya lumpur dijemur di bawah sinar matahari hingga kering. Kemudian lumpur dihaluskan dan disaring menggunakan saringan dengan ukuran mata jaring 0,8 mm.

2.4.1.3 Cacing Uji

Bibit cacing oligochaeta yang digunakan pada penelitian di dominasi oleh subkelas oligochaeta, bibit tersebut berasal dari pertani ikan lele dumbo di daerah Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung. Cacing yang digunakan berukuran 2-3 cm dengan bobot rata-rata 4-5 mg. Adapun dugaan cacing yang digunakan pada penelitian dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.


(9)

Gambar 2 Tubifex tubifex (Anonim 2010) a), Tubifex tubifex (Anonim 2007) b), Branchiura sowerbyi (Anonim 2006) c) dan Limnodrilus hoffmeisteri (Anonim 2009) d)

2.4.1.4 Fermentasi Pupuk

Pupuk yang digunakan adalah kotoran ayam yang berasal dari peternakan ayam pedaging, Manggar. Kotoran ayam tersebut difermentasi dengan menggunakan Effective Microorganisms (EM4) yang berfungsi sebagai aktivator fermentasi gula pasir dan air. Proses pembuatan fermentasi pupuk yaitu kotoran ayam sebanyak 10 kg dikeringkan selama 6 jam, kemudian dicampur dengan larutan aktivator yang terbuat dari ¼ sendok makan gula pasir, 4 mℓEM4dan 300 mℓ air. Campuran kotoran ayam dan larutan aktivator yang telah dibuat didiamkan di dalam wadah tertutup selama 5 hari. Setelah 5 hari, kotoran ayam

yang sudah terfermentasi dijemur dengan bantuan sinar matahari hingga kering (Fadillah 2004).

2.4.2 Metode Budidaya 2.4.2.1 Persiapan

Persiapan awal yang dilakukan sebelum dilakuakan penebaran adalah disiapkan media budidaya berupa kotoran ayam kering dan lumpur halus kering dengan perbandingan 1:1, lalu dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan sambil diaduk supaya tercampur merata hingga mencapai ketinggian 6 cm. Selanjutnya, dilakukan pengisian air setinggi 2 cm dan dibiarkan selama 10 hari supaya pupuk awal pada media dapat terurai oleh bakteri sehingga bakteri tersebut dapat menjadi makanan awal bagi cacing oligochaeta.

c d


(10)

2.4.2.2 Penebaran

Cacing ditebar ke dalam bak pemeliharaan setelah 10 hari penggenangan. Perlakuan padat penebaran pada penelitian ini diambil berdasarkan penelitian Oplinger et al., (2011) yang melakukan budidaya cacing oligochaeta dengan padat penebaran 2600 individu/m2 dan padat penebaran 3600 individu/m2 yang dilakukan oleh Simamora (1992), sehingga diperoleh interval perlakuan padat penebaran 2600 individu/m2, 3600 individu/m2 dan 4600 individu/m2.

2.4.2.3 Pemberian Pupuk

Pupuk kotoran ayam hasil fermentasi diberikan setiap hari sebanyak satu kali dengan dosis 1 kg/m2/hari selama 60 hari pemeliharaan sesuai dengan penelitian yang dilakukan Fadillah (2004).

2.4.2.4 Pengelolaan Air

Air yang digunakan selama penelitian bersumber dari air pegunungan. Sebelum dialirkan ke bak pemeliharaan air ditampung terlebih dahulu di tandon penampungan air untuk mengendapkan lumpur dan kotoran lain. Kemudian, pada setiap bak pemeliharaan dialirkan air dengan debit 1000 mℓ/menit untuk bak seluas 0,25 m2 sesuai yang dilakukan oleh Chumaidi et al. (1988). Air yang masuk ke dalam bak pemeliharaan diatur dengan menggunakan klep pada selang pemasukan, selanjutnya air yang keluar dari bak pemeliharaan akan ditampung di bak penampungan dan dialirkan kembali ke bak pemeliharaan (Lampiran 1). Supaya kualitas air terjaga maka setiap dua hari sekali air di bak penampungan diganti sebanyak ⅔ dari volume air bak penampungan tersebut. Konstruksi bak pemeliharaan budidaya cacing oligochaeta pada penelitian ini yang menggunakan sistem sirkulasi dengan pergantian air dapat dilihat pada Gambar 3.


(11)

Gambar 3 Konstruksi bak pemeliharaan cacing oligochaeta

2.5 Pengambilan Data

Peubah yang diukur pada penelitian ini adalah populasi, biomassa dan kualitas air. Pengambilan data dilakukan setiap 10 hari sekali selama 60 hari pemeliharaan. Hal ini dikarenakan dari telur hingga meninggalkan kokon lamanya 10 – 12 hari dan cacing yang keluar dari kokon tersebut menghasilkan kokon untuk pertama kalinya setelah 40 – 45 hari (Kasiorek 1974)

2.5.1 Pertambahan Populasi (individu/m2/) dan Biomassa (g/m2)

Pengambilan data dilakukan dengan cara pipa paralon berdiameter 3 cm dengan luas permukaan lubang 7.07 cm2 dibenamkan ke dalam substrat lalu diangkat. Substrat yang terambil ditampung di serok dan dicuci di air mengalir sampai airnya tidak keruh, kemudian disebar di atas kaca yang berukuran 25 cm × 20 cm. Cacing kemudian dipisahkan dari substrat dengan menggunakan jarum bedah. Cacing yang terkumpul ditimbang menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 2 digit di belakang koma dalam satuan gram.

2.5.2 Laju Pertambahan Biomassa Harian (g/m2/hari)

Laju pertambahan biomassa harian (Yield) menurut Hepher (1978) dihitung dengan menggunakan rumus :


(12)

Yield =

Keterangan : Yield = Laju pertambahan biomassa harian (g/m2/hari) Bt = Biomassa pada hari ke-t (g/m2)

B0 = Biomassa pada hari ke-0 (g/m2)

t = Waktu pengamatan pada hari ke-t (hari)

2.5.3 Parameter Kualitas Air

Parameter kualitas air yang diukur adalah parameter fisika dan kimia. Parameter fisika yang diukur adalah suhu yang dilakukan setiap pagi, sedangkan parameter kimia yang diukur adalah oksigen terlarut, pH dan TAN (Total Ammonia Nitrogen) yang diukur setiap 10 hari sekali selama 60 hari pemeliharaan. Pengambilan sampel air untuk mengamati nilai oksigen terlarut, pH, dan TAN diambil dari tiga titik yaitu inlet, tengah dan outlet pada setiap bak pemeliharaan. Adapun alat yang digunakan untuk mengukur kualitas air disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Parameter kualitas air, satuan dan alat ukur

Parameter Satuan Alat Ukur

Suhu oC Termometer

Oksigen terlarut Ppm DO meter

pH - pH meter

TAN Ppm Spektrofotometer

2.6 Analisis Usaha

Analisis usaha dilakukan untuk mengukur apakah usaha tersebut layak atau tidak untuk dilaksanakan. Perhitungan meliputi biaya-biaya yang harus dikeluarkan serta keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan produk berdasarkan skala usaha serta teknologi yang digunakan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh dari usaha yang dilakukan dalam satu tahun.

Penerimaan adalah hasil kali antara produk yang dihasilkan dengan harga jual dari produk tersebut. Penerimaan bergantung pada harga cacing dan jumlah


(13)

cacing yang terjual. Penerimaan dapat dihitung dengan rumus Nurmalina et al., (2009) :

TR = Q x P

Keterangan : TR = Total Revenue (total penerimaan)

Q = Quantity (bobot biomassa cacing oligochaeta yang dijual) P = Price (harga cacing oligochaeta per kg)

Keuntungan diperoleh pada saat penerimaan dikurangi dengan biaya pengeluaran yang dilakukan selama masa pemeliharaan, dihitung dengan menggunakan rumus Nurmalina et al., (2009) :

π = TR – TC Keterangan : π = Keuntungan

TR = Total Revenue (total penerimaan) TC = Total Cost (total pengeluaran)

Analisis Revenue of Cost (R/C) merupakan salah satu kriteria kelayakan yang biasa digunakan dalam analisis bisnis. Baik manfaat maupun biaya adalah nilai kotor, penggunaan kriteria ini akan lebih menggambarkan pengaruh dari adanya tambahan biaya terhadap tambahan manfaat yang diterima. Secara matematis rasio R/C dapat dirumuskan sebagai berikut Nurmalina et al., (2009) :

R/C ratio = ∑

Keterangan : ∑TR = Total Revenue (total penerimaan) ∑TC = Total Cost (total pengeluaran)

Analisis Payback period (PP) merupakan metode yang berguna untuk mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali. Bisnis dengan payback period yang singkat atau cepat pengembaliannya termasuk kemungkinan besar yang akan dipilih. Payback period dapat dirumuskan sebagai berikut Nurmalina et al., (2009):

PP = Keterangan : PP = Payback periodI (tahun)

I = Besar biaya investasi

Ab = manfaat bersih yang diperoleh pada setiap tahunnya Analisis Break Even Point (BEP) merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha


(14)

mencapai titik impas, yaitu tidak untung dan tidak rugi. Usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP lebih rendah daripada harga yang berlaku saat ini. BEP Rp dan BEP kg dapat dihitung menggunakan rumus menurut Martin et al., (1991):

BEP (Rp) =

BEP (kg) =

Keterangan : TFC = Total Fix Cost (biaya tetap)

TVC = Total Variable Cost (biaya variabel) P = Price (harga per kg)

TR = Total Revenue (penerimaan) P = Harga jual (Rp 100 000)

Harga Pokok Produksi (HPP) merupakan nilai atau biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi 1 unit produk (Rahardi et al., 1998). HPP dihitung menggunakan rumus berikut :

HPP = ∑

Keterangan : ∑ TC = Total Cost (total pengeluaran)


(15)

0 150 300 450 600 750 900 1050 1200 1350

0 10 20 30 40 50 60

B

iom

as

sa

(g)

Masa pemeliharaan (hari)

2600 ind/m2 3600 ind/m2 4600 ind/m2

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah pertambahan biomassa, pertambahan populasi, laju pertumbuhan biomassa, kualitas air dan analisis usaha.

3.1.1 Pertambahan Biomassa Cacing Oligochaeta

Data hasil pengamatan pertambahan biomassa cacing oligochaeta selama 60 hari pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 2 yang diplotkan pada grafik seperti terlihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Pertambahan biomassa (g/m2) selama 60 hari pemeliharaan dengan padat penebaran berbeda

Berdasarkan Gambar 2 di atas puncak biomassa yang diperoleh perlakuan 2600 individu/m2 adalah 411.26 g/m2 dan puncak biomassa yang diperoleh perlakuan 3600 individu/m2 adalah 739.95 g/m2, keduanya dicapai pada hari ke-40 masa pemeliharaan. Kemudian puncak biomassa yang diperoleh perlakuan 4600 individu/m2 adalah 1275.46 g/m2 yang dicapai pada hari ke-50 masa pemeliharaan.

Hasil analisis sidik ragam biomassa cacing oligochaeta pada hari ke-40 dan ke-50 dari ketiga perlakuan padat penebaran yang berbeda dengan selang


(16)

2.61±0.057 2.85±0.179 2.96±0.063 2.55±0.076 2.66±0.036 3.10±0.092 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5

2600 ind/m2 3600 ind/m2 4600 ind/m2

B iom as sa (l og g/ m 2) Perlakuan Hari ke-40 Hari ke-50

a

a

ab

a

b

b

kepercayaan 95% (p<0.05) dapat dilihat pada lampiran 3 yang diplotkan pada histogram seperti pada Gambar 5.

Keterangan : Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 5 Histogram pertambahan biomassa (log g/m2) cacing oligochaeta pada

hari ke-40 dan ke-50

Hasil analisis sidik ragam ANOVA yang dilakukan pada hari ke-40, menunjukkan bahwa padat penebaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertambahan biomassa cacing oligochaeta. Berdasarkan hasil uji lanjut Tukey yang dilakukan dapat diketahui bahwa padat penebaran 2600 individu/m2 signifikan dengan padat penebaran 4600 individu/m2. Begitu pula dengan hasil analisis sidik ragam ANOVA pada hari ke-50 yang menunjukkan bahwa padat penebaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertambahan biomassa cacing oligochaeta. Uji lanjut Tukey membuktikan bahwa padat penebaran 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 signifikan dengan padat penebaran 4600 individu/m2.

3.1.2 Pertambahan Populasi Cacing Oligochaeta

Hasil perhitungan populasi cacing oligochaeta selama 60 hari pemeliharaan dapat dilihat pada lampiran 4 dan diplotkan pada grafik seperti terlihat pada Gambar 6.


(17)

0 30000 60000 90000 120000 150000 180000 210000 240000 270000

0 10 20 30 40 50 60

P op u la si ( in d ivi d u /m 2)

Masa pemeliharaan (hari)

2600 ind/m2 3600 ind/m2 4600 ind/m2 4,92±0,057 5,17±0,179 5,26±0,063 4,85±0,076 4,96±0,036 5,41±0,092 0 1 2 3 4 5 6

2600 ind/m2 3600 ind/m2 4600 ind/m2

P op u las i (l og i n d ivi d u /m 2) Perlakuan Hari ke-40 Hari ke-50

a

ab

b

Gambar 6 Pertambahan populasi cacing oligochaeta selama 60 hari pemeliharaan dengan padat penebaran berbeda

Berdasarkan Gambar 6, terlihat bahwa pola pertambahan populasi dan biomassa cacing oligochaeta sama yaitu puncak populasi tertinggi diperoleh di hari ke-50 pada perlakuan 4600 individu/m2 yakni sebesar 255091.61 individu/m2 dan puncak populasi terendah diperoleh pada padat tebar 2600 individu/m2 sebesar 82252.10 individu/m2 yang dicapai pada hari ke-40.

Hasil analisis sidik ragam populasi cacing oligochaeta pada hari ke-40 dan ke-50 dengan selang kepercayaan 95% (p<0.05) dapat dilihat pada lampiran 5 yang diplotkan pada histogram seperti terlihat pada Gambar 7.

Keterangan : Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% Gambar 7 Histogram pertambahan populasi (log individu/m2) cacing

oligochaeta pada hari ke-40 dan ke-50


(18)

-5 0 5 10 15 20 25 30

0 10 20 30 40 50 60

B iom a ss a ( g/ m 2/h a r i)

Masa pemeliharaan (hari)

2600 ind/m2 3600 ind/m2 4600 ind/m2

Hasil analisis sidik ragam ANOVA yang dilakuakan pada hari ke-40 menunjukkan bahwa padat penebaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertambahan populasi cacing oligochaeta. Hasil uji lanjut Tukey yang dilakukan membuktikan bahwa padat penebaran 2600 individu/m2 signifikan dengan padat penebaran 4600 individu/m2. Kemudian, hasil analisis sidik ragam ANOVA pada hari ke-50 juga menunjukkan bahwa padat penebaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertambahan populasi cacing oligochaeta. Berdasarkan hasil uji lanjut Tukey terbukti bahwa padat penebaran 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 signifikan dengan padat penebaran 4600 individu/m2.

3.1.3 Laju Pertambahan Biomassa Harian

Perhitungan laju pertambahan biomassa harian cacing oligochaeta selama 60 hari pemeliharaan dapat dilihat di Lampiran 6 dan diplotkan pada grafik seperti terlihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Laju pertambahan biomassa cacing oligochaeta (g/m2/hari) selama 60 hari pemeliharaan dengan padat penebaran berbeda

Berdasarkan Gambar 6 di atas terlihat laju pertambahan biomassa harian cacing oligochaeta pada padat penebaran 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 mengalami peningkatan di hari ke-40 masing-masing bernilai 9.96 g/m2/hari dan 18.05 g/m2/hari, kemudian mengalami penurunan pada hari ke-50. Peningkatan


(19)

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5

0 10 20 30 40 50 60

O k si ge n t er lar u t (p p m )

Masa pemeliharaan (hari)

Padat tebar 2600 ind/m2 Padat tebar 3600 ind/m2 Padat tebar 4600 ind/m2 yang paling tinggi terjadi pada perlakuan padat tebar 4600 individu/m2 yaitu sebesar 25.05 g/m2/hari di hari ke-50.

3.1.4 Kondisi Lingkungan Budidaya

Parameter kualitas air yang diamati selama 60 hari pemeliharaan meliputi DO, suhu, pH dan TAN. Kisaran nilai kualitas air yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Kisaran nilai beberapa parameter kualitas air pada bak pemeliharaan

Parameter uji Padat tebar (individu/m 2

) Kisaran

optimal Sumber

2600 3600 4600

DO (ppm) 2.42-3.18 2.29-3.27 2.15-3.22 2.5-7 Poddubnaya (1980) Suhu (oC) 24.8-26.5 24.8-26.5 24.7-26.6 20-25 Nascimento dan

Alves (2009) pH 6.53-6.72 6.53-6.78 6.26-6.79 5.5-7.5 Witley (1967) TAN (ppm) 0.904-2.226 0.898-2.221 0.903-2.652 <3.8 Angel dan Pilar

(2004)

Berdasarkan Tabel 2 di atas, terlihat bahwa kisaran kandungan oksigen terlarut dari ketiga perlakuan berada di bawah kisaran optimal, namun kadar oksigen terlarut tersebut masih di atas 2 ppm sehingga cacing oligochaeta masih dapat bertahan hidup. Nilai suhu, pH dan TAN untuk semua perlakuan padat tebar yang dipelihara selama 60 hari berada di kisaran optimal untuk pertumbuhan cacing oligochaeta.

Data hasil pengamatan kandungan oksigen terlarut dapat dilihat di Lampiran 7a dan diplotkan pada grafik seperti terlihat pada gambar 9.


(20)

0 5 10 15 20 25 30

0 10 20 30 40 50 60

S u h u ( ºC )

Masa pemeliharaan (hari)

Padat tebar 2600 ind/m2 Padat tebar 3600 ind/m2 Padat tebar 4600 ind/m2

0 1 2 3 4 5 6 7 8

0 10 20 30 40 50 60

p

H

Masa pemeliharaan (hari)

Padat tebar 2600 ind/m2 Padat tebar 3600 ind/m2 Padat tebar 4600 ind/m2 Berdasarkan Gambar 9 di atas, terlihat bahwa konsentrasi oksigen terlarut berfluktuasi per satuan waktu. Nilai oksigen terlarut pada awal pemeliharaan berada di atas 3 ppm, sedangkan nilai kandungan oksigen terlarut pada akhir pemeliharaan menurun dengan tingkat kepadatan 2600, 3600 dan 4600 individu/m2 berturut-turut sebesar 2.74 ppm, 2.70 ppm dan 2.77 ppm.

Data hasil pengamatan nilai suhu selama 60 hari masa pemeliharaan cacing oligochaeta dapat dilihat pada Lampiran 7b yang diplotkan pada grafik seperti terlihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Perubahan nilai suhu selama 60 hari masa pemeliharaan

Gambar 10 di atas menunjukkan bahwa nilai suhu berfluktuasi per satuan waktu. Nilai suhu pada awal pemeliharaan berkisar 24.5 oC, sedangkan nilai akhir selama masa pemeliharaan pada tingkat kepadatan 2600, 3600 dan 4600 individu/m2 berturut-turut sebesar 25.5 oC, 25.5 oC dan 25.6 oC.

Data hasil pengamatan nilai pH selama 60 hari masa pemeliharaan cacing oligochaeta dapat dilihat pada Lampiran 7c dan diplotkan pada grafik seperti terlihat pada Gambar 11.


(21)

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3

0 10 20 30 40 50 60

T

A

N

(

p

p

m

)

Masa pemeliharaan (hari)

Padat tebar 2600 ind/m2 Padat tebar 3600 ind/m2 Padat tebar 4600 ind/m2 Berdasarkan Gambar 11 di atas, selama 60 hari pemeliharaan nilai pH yang diperoleh berfluktuasi per satuan waktu. Nilai pada awal pemeliharaan berkisar 6.7 dan pada akhir pemeliharaan diperoleh nilai pH pada setiap tingkat kepadatan 2600, 3600 dan 4600 individu/m2 berturut-turut sebesar 6.56, 6.70 dan 6.62.

Data hasil pengamatan kandungan Totan Ammonia Nitrogen (TAN) selama 60 hari masa pemeliharaan cacing oligochaeta dapat dilihat pada Lampiran 7d dan diplotkan pada grafik seperti terlihat pada Gambar 12.

Gambar 12 Perubahan kandungan TAN selama 60 hari masa pemeliharaan

Berdasarkan gambar 12 terlihat bahwa konsentrasi TAN pada awal pemeliharaan bernilai 0.9 ppm dan meningkat pada hari ke-10 dan ke-20. Namun pada akhir pemeliharaan nilai kandungan TAN menurun untuk padat tebar 2600, 3600 dan 4600 individu/m2 berturut-turut sebesar 0.784 ppm, 0.830 ppm dan 0.938 ppm.

3.1.5 Analisis Usaha

Analisis usaha budidaya cacing oligochaeta dari ketiga perlakuan yang dihitung dalam jangka waktu satu tahun ditunjukkan pada Tabel 3, dengan asumsi yang digunakan sebagai berikut :

a. Biaya yang dikeluarkan terdiri atas biaya investasi dan biaya operasional yang dikeluarkan pada tahun pertama. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap yang dikeluarkan antara lain teknisi,


(22)

papan, plastik hitam, paku 2 dim, pemeliharaan alat, BBM dan lahan, sedangkan yang termasuk biaya variabel yaitu kotoran ayam, lumpur halus, EM4, gula pasir, kantong plastik, bahan bakar bensin dan bibit cacing oligochaeta,

b. Budidaya dengan padat penebaran 2.600 individu/m2 dan 3.600 individu/m2 terdiri atas 9 siklus dalam jangka waktu satu tahun, siklus pertama waktu yang dibutuhkan adalah 55 hari (15 hari persiapan dan 40 hari pemeliharaan) dan siklus selanjutnya hanya 40 hari (pemeliharaan). Budidaya dengan padat penebaran 4600 individu/m2 terdiri atas 7 siklus dalam jangka waktu satu tahun, siklus pertama waktu yang dibutuhkan adalah 65 hari (15 hari persiapan dan 50 hari pemeliharaan) dan siklus selanjutnya hanya 50 hari (pemeliharaan) (Lamiran 8),

c. Bak pemeliharaan cacing oligochaeta berupa kotak kayu berukuran 100 cm × 25 cm × 20 cm sehingga luas dari satu bak pemeliharaan adalah 0,25 m2, d. Bak pemeliharaan yang digunakan pada analisis usaha penelitian ini sebanyak

1000 unit. Asumsi tersebut diambil dari nilai perhitungan BEP pada perlakuan padat penebaran 4600 individu/m2. Perlakuan padat penebaran 4600 individu/m2 dijadikan acuan karena pada padat penebaran 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 menghasilkan biomassa yang sangat rendah sehingga untuk mendapatkan keuntungan membutuhkan biaya yang sangat besar namun keuntungan yang diperoleh sangat kecil. Perhitungan penentuan jumlah bak pemeliharaan yang digunakan dapat dilihat pada lampiran 9.

e. Lahan yang digunakan seluas 3900 m2 dengan luas efektif 3000 m2, f. Bobot rata-rata cacing oligochaeta untuk setiap perlakuan adalah 0.005 g, g. Jumlah cacing yang ditebar untuk perlakuan padat penebaran 2600

individu/m2 adalah 13 g/m2 atau sebanyak 3.25 g/bak pemeliharaan. Jumlah cacing yang ditebar untuk perlakuan padat penebaran 3600 individu/m2 adalah 18 g/m2 atau sebanyak 4.5 g/bak pemeliharaan. Jumlah cacing yang ditebar untuk perlakuan padat penebaran 2600 individu/m2 adalah 23 g/m2 atau sebanyak 5.75 g/bak pemeliharaan.


(23)

h. Pada siklus kedua dan berikutnya cacing oligochaeta yang dipanen sebanyak 90 % dari biomassa yang diproduksi dan 10 % lagi digunakan sebagai bibit untuk siklus berikutnya.

i. Biaya tenaga kerja untuk teknsi sebesar Rp 1 200 000 per bulan dengan pertimbangan pengerjaan yang dilakukan yaitu memelihara cacing, memberi pupuk, dan panen,

j. Keuntungan yang diperoleh menjadi hak dari pemilik dan pemilik juga terjun langsung pada saat kegiatan berlangsung,

k. Harga bibit cacing oligochaeta per kilo yaitu Rp 75 000/kg, dan l. Harga jual cacing oligochaeta per kilo yaitu Rp 75 000/kg.

Biaya yang dikeluarkan untuk budidaya daya cacing oligochaeta dengan kepadatan yang berbeda dapat dilihat pada Lampiran 9 dan hasil perhitungan dari biaya investasi, biaya tetap, biaya variabel, penerimaan, keuntungan, R/C ratio, payback period (PP), harga pokok produksi (HPP) dan break even point (BEP) dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Analisis usaha budidaya cacing oligochaeta pada sistem sirkulasi air

Uraian Padat penebaran (individu/m 2

)

2.600 3.600 4.600

Biaya investasi (Rp) 35 710 500 35 710 500 35 710 500 Biaya Tetap (Rp) 70 487 350 70 487 350 70 287 350 Biaya variabel (Rp) 103 295 250 104 139 000 91 288 250 Biaya total (Rp) 173 782 600 174 626 350 161 575 600 Penerimaan/tahun (Rp) 69 400 125 124 866 563 167 404 125 Keuntungan (Rp) -104 382 475 -49 759 788 5 828 525

R/C rasio 0.40 0.72 1.04

PP (tahun) -0.34 -0.72 6.13

BEP (Rp) -144 322 551 424 628 467 154 585 260

BEP (kg) 940 940 937

HPP (Rp/kg) 187 805 104 888 72 389

Berdasarkan data hasil perhitungan analisis usaha dengan asumsi 1000 unit bak pemeliharaan terlihat bahwa pada perlakuan padat penebaran 2600 individu/m2 mengalami kerugian sebesar Rp 104 382 475. Berdasarkan perhitungan R/C ratio nilai yang diperoleh sebesar 0.40, bearti setiap pengeluaran biaya produksi sebesar Rp 1 maka akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 0.40. Sedangkan nilai BEP produksi sebesar 940 kg, menunjukkan bahwa titik impas


(24)

940 kg. Apabila ingin mendapatkan keuntungan maka harus memproduksi lebih dari 940 kg. Nilai HPP yang diperoleh sebesar Rp 187 805 yang artinya agar usaha tidak rugi maka harus menjual cacing oligochaeta dengan harga lebih dari Rp 187 805 per kg.

Perlakuan padat penebaran 3600 individu/m2 juga mengalami kerugian, sama halnya dengan perlakuan padat penebaran 2600 individu/m2, kerugian yang diperoleh sebesar Rp 49 759 788. Nilai R/C ratio yang dihasilkan sebesar 0.72, yang bearti setiap 1 rupiah yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 0.72. Nilai BEP yang diperoleh sebesar Rp 424 628 467 dan 940 kg, apabila ingin mendapatkan keuntungan maka penerimaan yang diperoleh harus lebih dari Rp 424 628 467 dan 940 kg. Nilai HPP yang diperoleh dari hasil perhitungan sebesar Rp 104 888, sehingga cacing harus dijual dengan harga lebih dari harga tersebut supaya usaha yang dijalankan tidak rugi.

Perlakuan padat penebaran 4600 individu/m2 dengan asumsi 1000 unit bak pemeliharaan memperoleh keuntungan sebesar Rp 5 828 525 per tahun. Nilai R/C ratio yang dihasilkan sebesar 1.04, yang bearti setiap 1 rupiah yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1.04. Waktu yang dibutuhkan oleh perlakuan 4600 individu/m2 untuk pengembalian modal yang sudah ditanam adalah selama 6.13 tahun. Nilai BEP (Rp) atau batas nilai produksi dalam suatu usaha untuk mencapai titik impas dari perlakuan padat penebaran 4600 individu/m2 adalah sebesar Rp 154 585 260 dan BEP (kg) sebesar 937 kg, oleh karena itu apabila ingin mendapatkan keuntungan maka penerimaan dan jumlah produksi yang dihasilkan harus lebih dari Rp 154 585 260 dan 937 kg. Nilai HPP yang diperoleh dari perlakuan 4600 individu/m2 adalah sebesar Rp 72 389 per kg, sehingga bisa dikatakan bahwa pada perlakuan padat penebaran 4600 individu/m2 layak untuk dijalankan karena nilai HHP yang diperoleh lebih rendah dari harga jual yang ditetapkan yaitu sebesar Rp 75 000 per kg.

3.2 Pembahasan

Cacing oligochaeta termasuk ke dalam filum Annelida, kelas Clitellata, kemudian dibagi lagi menjadi tiga subkelas, yaitu Oligochaeta, Branchiobdella dan Hirudinoidea. Cacing oligochaeta terdapat lebih dari 3100 spesies,


(25)

kebanyakan terdapat di air tawar, beberapa di laut, air payau dan darat. Jenis akuatik umumnya terdapat pada daerah dangkal yang kurang dari 1 meter, beberapa membuat lubang dalam lumpur, ada pula yang membuat selubung menetap atau berpindah-pindah. Melimpahnya jenis oligochaeta tertentu dapat dipakai sebagai petunjuk adanya pencemaran organik di perairan (Widigdo et al. 2005).

Secara fungsional dan ekologi, oligochaeta dibagi menjadi 2 tipe, yaitu microdrile dan megadrile. Microdrile merupakan spesies akuatik, berukuran 1-30 mm, dinding tubuh tipis dan agak transparan. Megadrile merupakan spesies darat, dinding tubuh tebal, umumnya panjang antara 5-30 cm, bahkan Megascolides di Australia dapat mencapai 3 meter. Pada umumnya jumlah ruas cacing oligochaeta tidak tetap, bervariasi sekitar 25%. Jumlah ruas atau somit pada cacing dewasa antara 115-200 buah, dan pada spesies dari famili Haplotaxidae sampai 500 buah. Ruas pertama adalah peristomium yang mengandung mulut dan ruas terakhir terdapat anus (Widigdo et al. 2005).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan selama 60 hari pemeliharaan, pola pertambahan biomassa dan populasi cacing oligochaeta pada perlakuan padat penebaran 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 mencapai puncak yang sama yaitu pada hari ke-40 masing-masing sebesar 411.26 g/m2 dan 82252 individu/m2 untuk padat tebar 2600 individu/m2 dan 739.95 g/m2 dan 147991 individu/m2 untuk padat tebar 3600 individu/m2. Puncak populasi terjadi pada hari ke-40 dikarenakan cacing oligochaeta yang ditebar merupakan cacing dewasa yang siap kawin, dilihat dari panjang dan berat cacing yang ditebar. Hal ini didukung oleh Pophenco (1967) yang menyatakan bahwa cacing Tubifex sp. dewasa yang siap kawin berukuran sekitar 3 cm dengan bobot tubuh antara 2 -5 mg. Kasiorek (1970) juga mengemukakan bahwa telur Tubifex sp. meninggalkan kokonnya selama 10-12 hari dan setelah menetas akan tumbuh secara intensif selama 30 hari, sehingga diperoleh puncak di hari ke-40. Cacing oligochaeta yang mengeluarkan kokon akan mengeluarkan kokon kembali setiap dua minggu sekali. Anak cacing akan menghasilkan kokon untuk pertama kali pada usia sekitar 40 – 45 hari (Kasiorek 1974). Gambar 13 di bawah ini merupakan contoh kokon dari Limnodrilus hoffmeisteri.


(26)

Gambar 13 Kokon Limnodrilus hoffmeisteri (Anonim 2009)

Penurunan populasi terjadi pada hari ke-50 dikarenakan tingginya populasi pada hari ke-40, menyebabkan adanya persaingan mendapatkan makanan. Hal tersebut diduga karena dosis pupuk yang diberikan setiap harinya sama yaitu 1 kg/m2/hari, sedangkan populasi bertambah setiap minggunya. Pemupukan yang dilakukan dalam pemeliharaan cacing oligochaeta bertujuan untuk menambah kandungan nutrien. Unsur nutrien terpenting di dalam pemupukan adalah N-organik berbentuk partikel di perairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri. Penelitian ini menggunakan pupuk yang difermentasi menggunakan aktifator EM4 yang berfungsi meningkatkan kandungan N dan C yang terkandung dalam bahan organik, hal ini mengacu pada penelitian yang dilakukan Fadillah (2004).

Penelitian yang dilakukan Fadillah (2004) menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri yang didapat lebih rendah daripada Febriati (2004) yang melakukan pemupukan dengan kotoran ayam kering tanpa fermentasi. Kelimpahan bakteri rata-rata yang diperoleh Fadillah (2004) mencapai 104-105 sedangkan Febrianti (2004) mencapai 106-105. Perbedaan kelimpahan tersebut terkait dengan populasi cacing yang dicapai pada masing-masing penelitian. Rendahnya kelimpahan bakteri Fadillah (2004) diikuti dengan tingginya populasi dan biomassa yang dicapai yakni sebesar 661447 individu/m2 dan 1719.59 g/m2. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar cacing memanfaatkan bakteri sebagai sumber makanannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Widigdo et al. (2005), yang menyatakan bahwa cacing oligochaeta memakan bakteri, ganggang filamen, diatom dan detritus, sehingga populasi bakteri yang ada pada meia pemeliharaan akan mempengaruhi pertambahan cacing oligochaeta.


(27)

Penurunan pupulasi pada pemeliharaan juga disebabkan karena induk yang sudah dewasa tidak lagi menghasilkan individu baru, cacing yang masih muda belum mampu bereproduksi dan adanya kematian cacing yang sudah mencapai usia tua. Hal ini dibuktikan berdasarkan pengamatan secara visual, dimana cacing dewasa sudah tidak terlihat pada bak pemeliharaan dan pada saat sampling hari ke-50 tidak ditemukan adanya cacing dewasa. Penurunan biomassa berkaitan dengan penurunan populasi, dimana setelah populasi tertinggi dicapai jumlah individu dewasa mulai berkurang karena adanya kematian sedangkan individu muda belum mampu bereproduksi sehingga setelah titik tertinggi tercapai individu yang terdapat dalam wadah pemeliharaan sebagian besar adalah individu baru.

Pada pemeliharaan dengan perlakuan padat penebaran 4600 individu/m2 puncak populasi dan biomassa terjadi pada hari ke-50 sebesar 1275.46 g/m2 dan 255092 individu/m2 dan menurun pada hari ke-60. Perbedaan tinggi puncak populasi dan biomassa antar perlakuan dikarenakan pada padat penebaran 4600 individu/m2 memiliki nilai rata-rata kandungan oksigen terlarut yang rendah pada awal pemeliharaan (Lampiran 7a). Rendahnya oksigen terlarut tersebut dikarenakan jumlah dari padat penebaran 4600 individu/m2 lebih tinggi dibandingkan kedua perlakuan yang lain sehingga persaingan untuk mendapatkan oksigen juga lebih besar. Persaingan mendapatkan oksigen tersebut juga tidak hanya antar cacing yang dipelihara tetapi juga bersaing dengan bakteri karena proses dekomposisi membutuhkan oksigen. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Hariyadi dkk (1992) yang menyatakan bahwa proses dekomposisi tidak terjadi secara sekaligus tetapi bertahap bergantung kepada kadar bahan organik yang diuraikan, hanya 10-12 % bahan organik yang dapat diuraikan pada setiap tahap. Proses untuk mencapai sekitar 96 % bahan organik terurai diperlukan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 20 hari dan pada hari ke-5 diperkirakan 75 % bahan organik telah terurai. Pada temperatur 20 °C proses dekomposisi berjalan optimum dan sekitar 75 % bahan organik telah terdekomposisi. Rendahnya kandungan oksigen terlarut tersebut mempengaruhi aktivitas makan dan reproduksi dari cacing oligochaeta, yang diikuti dengan tingginya kandungan TAN.


(28)

Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian yang menggunakan padat penebaran yang sama tetapi menggunakan sistem yang berbeda yaitu sistem terbuka, penelitian ini memperoleh biomassa dan populasi lebih rendah. Penelitian dengan sistem terbuka memperoleh puncak populasi dan biomassa tertinggi pada perlakuan 4600 individu/m2 yaitu sebesar 447904 individu/m2 dan 2239.52 g/m2, yang terjadi pada hari ke-40 (Febriani 24 Oktober 2011, komunikasi pribadi). Perbedaan pertambahan populasi, pertambahan biomassa dan puncak dari populasi dan biomassa tersebut terjadi diduga karena pada sistem terbuka, faktor lain seperti kualitas air yang terdiri atas kandungan oksigen terlarut dan kandungan TAN lebih mendukung untuk reproduksi dan aktivitas makan.

Laju pertambahan biomassa tertinggi pada penelitian ini sebesar 25.05 g/m2/hari pada perlakuan padat tebar 4600 individu/m2 yang dicapai pada hari ke-50. Nilai ini lebih kecil bila dibandingkan pada penelitian dengan menggunakan sistem terbuka yaitu sebesar 55.41 g/m2/hari, begitu pula halnya dengan penelitian Fadillah (2004) yaitu sebesar 42.94 gr/m2/hari yang sama-sama memberikan pupuk kotoran ayam hasil fermentasi namun sistem yang digunakan berbeda. Perbedaan laju pertambahan biomassa harian dipengaruhi oleh biomassa yang dapat dicapai pada setiap penelitian. Hal ini membuktikan bahwa budidaya cacing oligochaeta pada sistem sirkulasi dengan pergantian air menghasilkan laju pertambahan biomassa yang lebih rendah dibandingkan dengan budidaya cacing oligochaeta dengan sistem terbuka.

Berdasarkan hasil uji lanjut Tukey yang dilakukan pada hari ke-40 untuk pertambahan biomassa dan populasi, perlakuan 2600 individu/m2 signifikan dengan perlakuan 4600 individu/m2, hal ini dikarenakan biomassa dan populasi yang diperoleh dari kedua perlakuan tersebut memiliki nilai yang berbeda jauh. Begitu pula dengan hasil uji lanjut Tukey pada hari ke-50 untuk pertambahan biomassa dan populasi, yang menunjukkan perlakuan 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 signifikan dengan perlakuan 4600 individu/m2. Hasil tersebut terjadi dikarenakan pada perlakuan 4600 memiliki padat penebaran awal yang lebih tinggi sehingga peluang untuk kawinnya cacing oligochaeta lebih tinggi sehingga menghasilkan populasi dan biomassa yang tinggi pula bila dibandingkan dengan kedua perlakuan lainnya.


(29)

Pada awal pemeliharaan kandungan oksigen terlarut untuk ketiga perlakuan berada di atas 3 ppm, namun pada hari ke-10 terjadi penurunan dan nilai rata-rata yang paling rendah terjadi pada padat tebar 4600 individu/m2 yaitu 2.15 ppm (Lampiran 7a). Nilai kandungan oksigen terlarut pada awal pemeliharaan lebih tinggi dibandingkan hari selanjutnya, diduga karena populasi cacing oligochaeta masih rendah sehingga pemanfaatan terhadap oksigen terlarut juga masih rendah, begitu pula dengan proses oksidasi bahan organik oleh mikroorganisme yang juga masih rendah. Penurunan kandungan oksigen terlarut yang terjadi pada ke-10 disebabkan oleh adanya aktifitas bakteri dalam merombak bahan makanan organik karena proses dekomposisi membutuhkan oksigen selain itu oksigen yang rendah juga disebabkan oleh respirasi cacing oligochaeta yang dipelihara akibat peningkatan populasi cacing tersebut.

Kandungan oksigen terlarut rata-rata yang didapatkan pada hari ke-10 nilainya kurang dari 2.5 ppm. Kondisi tersebut bisa menyebabkan menurunnya aktivitas makan maupun reproduksi cacing oligochaeta sehingga proses pembentukan zat-zat gizi di dalam tubuh jadi ikut menurun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Marian dan Pandian (1984), yang menyatakan bahwa kebutuhan oksigen terlarut Tubifex tubifex bagi perkembangan embrio berkisar antara 2.5 – 7 ppm dan apabila oksigen terlarut kurang dari 2 ppm akan mengakibatkan aktivitas makan dan reproduksinya menurun. Meskipun oksigen terlarut selama penelitian berkisar antara 1.84 – 3.83 ppm, namun kisaran tersebut masih mampu mendukung kehidupan tubifisid, hal ini dikarenakan cacing masih dapat bertahan hidup pada kondisi yang anaerob (tanpa oksigen). Akan tetapi kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas makan dan reproduksi cacing yang dipelihara, karena cacing tubifisid akan menggunakan energinya untuk menggoyang-goyangkan bagian posterior tubuhnya agar memperoleh oksigen untuk pernapasan (Pennak 1978). Hal ini juga didukung oleh pernyataan Vincentius (1992), yang menyatakan bahwa tubifisid memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi terhadap kandungan oksigen terlarut dalam air. Kondisi tersebut dibuktikan dengan adanya perbedaan puncak populasi dari ketiga perlakuan yaitu pada perlakuan 4600 individu/m2 yang terjadi pada hari ke-50 sedangkan dua perlakuan lainnya mencapai puncak populasi pada hari ke-40. Pada peneitian ini tidak menggunakan


(30)

aerasi yang berfungsi untuk mempertahankan konsentrasi oksigen terlarut, dikarenakan tempat melakukan penelitian tidak tersedia pembangkit listrik. Oleh karena itu untuk mempertahankan kualitas air, air yang ada di bak penampungan diganti setiap dua hari sekali sebanyak 2/3 dari volume air yang ada.

Suhu air selama penelitian berkisar antara 24.3 oC – 26.7 oC, dengan rincian pada padat tebar 2600 individu/m2 suhu berkisar antara 24.5oC – 26.6 oC, pada padat tebar 3600 individu/m2 suhu berkisar antara 24.4oC – 26.6oC dan pada padat tebar 4600 individu/m2 antara 24.3oC – 26.7oC (Lampiran 7b). Perubahan suhu pada media budidaya dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan pada saat penelitian dilakukan. Secara keseluruhan, perubahan suhu terjadi secara seragam untuk ketiga perlakuan selama 60 hari pemeliharaan dan berada dalam kisaran yang layak bagi pertumbuhan cacing oligochaeta.

Kondisi suhu air selama penelitian masih berada dalam batas kelayakan bagi produksi cacing oligochaeta, hal ini sesuai dengan Kosiorek (1974) yang menyatakan bahwa Tubifex tubifex menghasilkan kokon pada kisaran suhu 0 oC – 30 oC dengan suhu optimum berkisar antara 20 oC – 25 oC yang diperkuat juga oleh pernyataan Marian dan Pandian (1984) bahwa Tubifex sp. dapat bereproduksi pada kisaran suhu 0.5 oC – 30 oC. Walaupun kisaran suhu selama penelitian ada yang berada di luar kisaran optimum bagi tubifisid, tetapi secara umum kisaran suhu masih dapat mendukung bagi kehidupan cacing oligochaeta. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Pennak (1978) yang menyatakan bahwa suhu bukan merupakan faktor pembatas bagi oligochaeta akuatik.

Terlihat juga dari Gambar 10 di atas, suhu saat pengambilan contoh menunjukkan bahwa pada hari pengamatan ke-10 dan ke-50 terjadi sedikit peningkatan suhu untuk ketiga perlakuan. Perubahan suhu yang terjadi dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing sutra. Hal ini sesuai dengan pendapat Aston (1968) bahwa peningkatan suhu dapat mempengaruhi kecepatan pertumbuhan terutama pertumbuhan cacing dewasa dan pertumbuhan jumlah kokon yang dikeluarkan oleh Tubifisid.

Kisaran nilai pH yang diperoleh selama 60 hari penelitian dari ketiga perlakuan adalah 6.40 – 6.93, dengan rincian pada padat tebar 2600 ind/m2 suhu berkisar antara 6.43 – 6.83, pada padat tebar 3600 ind/m2 suhu berkisar antara


(31)

6.43 – 6.9 dan pada padat tebar 4600 ind/m2 antara 6.4 – 6.93 (Lampiran 7c). Kisaran nilai pH tersebut masih dalam batas kelayakan hidup cacing oligochaeta. Hal ini didasarkan pada pendapat Whitley (1968), bahwa batas nilai pH untuk kelayakan hidup Tubifisid adalah 5.5 – 7.,5.

Nilai pH air pada media budidaya selama masa pemeliharaan tersebut bisa berada di atas maupun di bawah nilai pH air pada awal pemeliharaan yang bernilai 6.57-6.93. Hal ini disebabkan nilai pH air yang diperoleh tergantung dari reaksi-reaksi kimia yang ada di air, sesuai dengan pernyataan Spotte (1970) yang menyatakan bahwa reaksi kimia yang menghasilkan [H+] akan menurunkan pH dan reaksi yang menghasilkan [OH+] akan meningkatkan pH. Kisaran pH yang diperoleh selama penelitian berlangsung masih dapat mendukung kehidupan cacing oligochaeta, diperkuat oleh pernyataan Whitley (1968) yang mengemukakan bahwa kisaran pH yang baik untuk tubifisid adalah 7.0 – 9.0 dan pada kisaran 6.0 – 8.0 tubifisid masih dapat bertahan hidup.

Total Ammonia Nitrogen merupakan jumlah ammonia tidak terionisasi dan ion ammonium. Ammonia yang tidak terionisasi sangat toksik dan tetapi ion ammonium relatif tidak toksik. Kisaran kandungan TAN selama penelitian berlangsung dari ketiga perlakuan adalah 0.509 – 2.623 ppm. Berdasarkan Gambar 11 terlihat bahwa pada padat tebar 4600 individu/m2 mempunyai nilai kandungan paling tinggi dibandingkan dengan kedua perlakuan lainnya.

Kandungan TAN pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan pada penelitian yang dilakukan oleh Fadillah (2004) yaitu <0.001 – 0.037, yang juga sama-sama memberikan pupuk harian kotoran ayam hasil fermentasi. Akan tetapi sistem yang digunakan selama penelitian berlangsung berbeda, yaitu pada penelitian Fadillah (2004) menggunakan sistem terbuka sedangkan penelitian ini menggunakan sistem sirkulasi. Oleh karena itu meskipun dilakukan pengaliran air secara kontinu, air tersebut tidak mampu mencuci substrat dan menghanyutkan unsur-unsur toksik air yang keluar dari wadah budidaya karena air yang keluar tersebut akan masuk kembali. Akan tetapi, seiring dengan lamanya masa pemeliharaan kandungan TAN semakin menurun. Hal ini dikarenakan adanya pergantian air setiap dua hari sekali pada bak penampungan air meskipun


(32)

kandungan TAN tersebut masih tetap tinggi yaitu berkisar 0.620-1.145 ppm pada akhir masa pemeliharaan.

Fiastri (1987) menyatakan bahwa kehidupan Tubifex tubifex akan terganggu bila kandungan TAN lebih dari 2.70 ppm. Chumaidi (1989) juga menambahkan bahwa Tubifex tidak ditemukan pada media dengan kandungan TAN lebih dari 3.80 ppm. Sehingga kisaran TAN yang dihasilkan selama masa pemeliharaan berlangsung yang berkisar 0.509 – 2.623 ppm masih mampu mendukung kehidupan cacing oligochaeta.

Keuntungan terbesar diperoleh pada perlakuan 4600 individu/m2, karena total penerimaannya lebih besar dari biaya total yang dikeluarkan. Besarnya penerimaan yang didapatkan dari hasil penjualan cacing oligochaeta ditentukan oleh padat penebaran. Semakin tinggi padat penebaran, maka penerimaan meningkat karena jumlah cacing yang dihasilkan semakin banyak. Sedangkan pada perlakuan 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 memperoleh kerugian, hal tersebut dikarenakan total penerimaannya lebih kecil dibandingkan dengan biaya total yang dikeluarkan. Kerugian yang terjadi pada perlakuan 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 tidak hanya disebabkan oleh total penerimaan yang rendah karena jumlah cacing yang dihasilkan sedikit, tetapi juga disebabkan oleh biaya variabel yang dikeluarkan berbeda dari ketiga perlakuan tersebut. Perbedaan biaya variabel yang dikeluarkan dari ketiga perlakuan disebabkan oleh jumlah siklus yang dilakukan berbeda setiap tahunnya dan jumlah bibit yang ditebar juga berbeda. Perbedaan jumlah siklus dipengaruhi oleh lamanya puncak biomassa yang terjadi pada setiap perlakuan.

Perlakuan 4600 individu/m2 memperoleh nilai R/C ratio lebih dari satu, hal tersebut dikarenakan perbandingan total penerimaan yang diperoleh lebih besar dari total biaya total yang dikeluarkan, sehingga bisa menghasilkan keuntungan. Sedangkan pada perlakuan 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 total penerimaan lebih kecil dari total biaya yang dikeluarkan sehingga nilai R/C ratio yang dihasilkan kurang dari satu dan tidak mendapatkan keuntungan. Periode pengembalian modal investasi yang ditanam pada perlakuan 4600 individu/m2 ditentukan oleh keuntungan yang didapat. Semakin besar keuntungan yang diperoleh maka modal investasi yang sudah ditanam akan semakin cepat kembali.


(33)

Pada perlakuan 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 periode pengembalian modal investasi tidak bisa diketahui, hal tersebut dikarenakan pada kedua perlakuan mengalami kerugian.

Nilai BEP yang diperoleh lebih rendah dari nilai penerimaan yang diperoleh pada perlakuan 4600 individu/m2 sehingga bisa menghasilkan keuntungan. Sedangkan pada perlakuan 3600 individu/m2 nilai BEP yang diperoleh lebih tinggi dari nilai penerimaan sehingga tidak mendapatkan keuntungan, begitu pula dengan perlakuan 2600 individu/m2 nilai BEP nya yang bernilai negatif. Nilai HPP yang diperoleh pada perlakuan 4600 individu/m2 bernilai lebih rendah dari nilai jual yang ditetapkan sehingga menghasilkan keuntungan, hal tersebut dipengaruhi oleh jumlah cacing yang dihasilkan. Sedangkan pada perlakuan 2600 individu/m2 dan 3600 individu/m2 nilai HPP lebih besar dari nilai jual yang ditetapkan, hal tersebut dikarenakan jumlah cacing yang dihasilkan sedikit.

Hasil perhitungan analisis usaha dari ketiga perlakuan dengan asumsi 1000 bak, yang paling layak untuk diajalankan adalah pada perlakuan padat penebaran 4600 individu/m2. Hal ini dilihat dari nilai keuntungan yang besar, nilai R/C rasio yang tinggi, waktu pengembalian investasi yang lebih cepat, nilai BEP (Rp) dan BEP (Kg) yang lebih rendah serta nilai HPP yang lebih rendah dari harga jual yang ditetapkan.


(34)

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan biomassa yang diperoleh selama penelitian, maka padat penebaran cacing oligocaheta yang terbaik adalah 4600 individu/m2, diikuti dengan padat tebar 3600 individu/m2 dan terakhir 2600 individu/m2. Padat penebaran cacing oligocaheta yang terbaik berdasarkan indikator laju pertambahannya berturut-turut adalah 4600 individu/m2, 3600 individu/m2 dan 2600 individu/m2. Padat penebaran berdasarkan analisis usaha padat tebar 4600 individu/m2 lebih layak dijalankan dibandingkan dengan kedua perlakuan lainnya.

4.2 Saran

Disarankan pada penelitian selanjutnya untuk menambahkan aerasi yang berfungsi untuk mempertahankan konsentrasi oksigen terlarut dan filtrasi yang berfungsi sebagai penyerap dan perombak senyawa nitrogenus yang bersifat racun (ammonia dan nitrit) menjadi senyawa tidak beracun (nitrat) dengan bantuan mikroorganisme agar bisa memperbaiki kualiatas air sehingga bisa meningkatkan jumlah produksi cacing oligochaeta.


(35)

BUDIDAYA CACING OLIGOCHAETA DENGAN PADAT

PENEBARAN BERBEDA PADA SISTEM SIRKULASI

DENGAN PERGANTIAN AIR

WIWIK HILDAYANTI

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012


(36)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI

DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

BUDIDAYA CACING OLIGOCHAETA DENGAN PADAT

PENEBARAN

BERBEDA

PADA

SISTEM

SIRKULASI

DENGAN PERGANTIAN AIR

adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2012

WIWIK HILDAYANTI C14070051


(37)

ABSTRAK

WIWIK HILDAYANTI. Budidaya cacing oligochaeta dengan padat penebaran berbeda pada sistem sirkulasi dengan pergantian air. Dibimbing oleh IIS DIATIN dan YANI HADIROSEYANI

Cacing oligocaheta mengandung protein sebesar 65%, lemak 15% dan karbohidrat 14%, oleh karena itu sangat baik bila diberikan pada larva ikan pada saat pemeliharaan. Namun ketersediaan cacing oligochaeta sangat terbatas di daerah Belitung yang mempunyai 10 hatchery. Oleh karena itu perlu dilakukan pembudidayaan cacing oligochaeta untuk memenuhi permintaan. Penelitian ini menggunakan sistem sirkulasi yang bearti air buangan dari bak pemeliharaan dipakai kembali, supaya kokon bisa masuk kembali ke bak pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan menentukan padat penebaran cacing oligochaeta yang terbaik antara 2600 individu/m2, 3600 individu/m2 dan 4600 individu/m2 dengan sistem sirkulasi berdasarkan biomassa, laju pertambahan biomassa harian dan analisis usaha. Penelitian dilaksanakan April hingga Agustus 2011 bertempat di Balai Benih Ikan Air Tawar Belitung Timur. Media yang digunakan adalah campuran lumpur halus dan kotoran ayam. Cacing ditebar dan diberi pupuk kotoran ayam hasil fermentasi setiap hari sebesar 1 kg/m2/hari. Cacing dipelihara selama 60 hari dan dilakukan pengambilan contoh setiap 10 hari sekali. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemeliharaan cacing oligochaeta dengan sistem sirkulasi menghasilkan nilai TAN yang lebih tinggi sedangkan kandungan oksigen terlarut yang lebih rendah dibandingkan dengan sistem terbuka. Pada kondisi tadi cacing masih mampu bertahan hidup meskipun aktivitas makan dan reproduksi terhambat. Puncak populasi dan biomassa tertinggi dicapai pada hari ke-50 dengan padat penebaran 4600 individu/m2 sebanyak 255091.61 individu/m2 dan 1275.46 g/m2. Laju pertambahan biomassa harian tertinggi diperoleh pada perlakuan 4600 individu/m2 sebesar 25.05 g/m2/hari. Perlakuan padat penebaran 4600 individu/m2 memperoleh keuntungan sebesar Rp 5 828 525, R/C rasio sebesar 1.04, PP selama 6.13 tahun, BEP (Rp) sebesar Rp 154 585 260 dan BEP (unit) sebesar 937 kg, serta HPP sebesar Rp 72 389.


(38)

ABSTRACT

WIWIK HILDAYANTI. Oligochaeta worm cultivation with stocking density in closed system.Supervised by IIS DIATIN and YANI HADIROSEYANI

Oligochaeta worm contain protein of 65%, fat 15%, and carbohydrate 14%, therefore very well when given to the fish larvae during nursery period. But, the availability of oligochaeta worm are very limited especially in Belitung which has 10 hatchery. So that, it needs oligocheta worm cultivation to meet the demand. The research used closed system which mean wasted water from. The purpose of this research to determine the best stocking denstiy of oligochaeta worm between 2600,3600, and 4600 indvidual/m2 with the system based on the biomass, growth rate,and economic efficiency. The research was perfomed in April until August 2011 at the Balai Benih Ikan Air Tawar Belitung Timur. The medium used are a mixture of fine mud and chicken manure. The worm was spread and fermentation manure chicken fertilized added every day about 1 kg/m2. The worm was cultured during 60 days and took as samples every 10 days. The observation indicated that the maintanence of oligocaeta worm with closed system produced the level of ammonia contain was higher and dissolve oxygen contai was lower than using opened system. In this condition, the worm was able to survived even thought feeding habit and reproduction is inhibited. Highest population and biomass occured on 50th day with stocking density 4600 individual/m2 as much as 255091.61 individual/m2 and 1275.46 g/m2. Highest biomass growth rate occured in 4600 individual/m2 as much as 25.05 g/m2/day. Stocking density 4600 individual/m2 got the profit as much as Rp 5 828 525, R/C ratio 1.04, PP for 6.13 years, BEP (Rupiah) Rp 154 585 260 and BEP (units) 937 kg, and HPP Rp 72 389.


(39)

BUDIDAYA CACING OLIGOCHAETA DENGAN PADAT

PENEBARAN BERBEDA PADA SISTEM SIRKULASI

DENGAN PERGANTIAN AIR

WIWIK HILDAYANTI

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya

Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012


(40)

Judul Skripsi : Budidaya Cacing Oligochaeta dengan Padat Penebaran Berbeda pada Sistem Sirkulasi dengan Pergantian Air

Nama Mahasiwa : Wiwik Hildayanti Nomor Pokok : C14070051

Disetujui

Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Iis Diatin, MM Ir. Yani Hadiroseyani, MM NIP. 196309081990022001 NIP. 196001311986032002

Diketahui

Ketua Departemen Budidaya Perairan

Dr. Odang Carman NIP. 195912221986011001


(41)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Budidaya Cacing Oligochaeta dengan Padat Penebaran Berbeda pada Sistem Sirkulasi dengan Pergantian Air” ini sebagai salah satu prasyarat dalam memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai bulan Agustus 2011 bertempat di Balai Benih Ikan Air Tawar (BBIAT) Manggar, Belitung Timur.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing skripsi Ir. Iis Diatin, MM dan Ir. Yani Hadiroseyani, MM, atas bimbingan yang diberikan kepada penulis. Di samping itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Mustofa, S.Pt selaku pimpinan BBIAT Belitung Timur yang telah memperkenankan penulis untuk penelitian di BBIAT Belitung Timur. Rasa terima kasih juga disampailan kepada Ayahanda, Ibunda dan Abang (Riyo Qomar Hasan, S.Kep), atas doa serta dukungannya. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Dr. Kukuh Nirmala selaku dosen penguji skripsi atasan arahan dan masukkannya untuk penyelesaian skripsi ini. Disamping itu, penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Pri Handoko S.STP, Bapak Basran, bang Jo, Ibu Rukini, rekan sepenelitian Mirna Febriani, teman satu bimbingan (Tika, Lora, Koi, Dimas), Ima, Wiwit, Miftah, Dewi, Desi, Fredi, teman-teman Asrama “Tanjong Tinggi”, COMB44T dan SISTEK’ers yang sudah menjadi sahabat terbaik penulis, serta yang terkasih Muhammad Fendi yang selalu ada dan mendukung terselesaikannya skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat.

Bogor, Maret 2012


(42)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Manggar, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada tanggal 22 Februari 1990. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Hamdani dan Ibu Dra. Yusnidar. Penulis menempuh pendidikan TK pada tahun 1992 hingga tahun 1995 di TK PGRI, dilanjutkan pendidikan dasar pada tahun 1995 di SDN 4 Manggar dan lulus pada tahun 2001. Menamatkan pendidikan menengah pertama pada tahun 2001 hingga tahun 2004 di SMPN 2 Manggar serta menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Manggar pada tahun 2004 hingga tahun 2007. Kemudian pada tahun yang sama, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Selama mengikuti perkuliahan, penulis tergabung dalam Ikatan Keluarga Pelajar Belitung (IKPB) dari tahun 2007 hingga sekarang. Selain itu, penulis pernah magang di Balai Benih Ikan Air tawar (BBIAT) Belitung Timur. Penulis melakukan penelitian dan menyusun skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, dengan judul ”Budidaya Cacing Oligochaeta dengan Padat Penebaran Berbeda pada Sistem Sirkulasi dengan Pergantian Air” dibimbing oleh Ir. Iis Diatin, MM dan Ir. Yani Hadiroseyani, MM.


(43)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL... 2 DAFTAR GAMBAR... 3 DAFTAR LAMPIRAN... 4 I. PENDAHULUAN... 1 II. METODOLOGI... 4

2.1 Lokasi dan Waktu... 4 2.2 Alat dan Bahan... 4 2.3 Rancangan Penelitian... 4 2.4 Tahapan Penelitian... 5 2.4.1 Persiapan... 5 2.4.1.1 Bak Pemeliharaan... 5 2.4.1.2 Media Pemeliharaan... 6 2.4.1.3 Cacing Uji... 6 2.4.1.4 Fermentasi Pupuk... 7 2.4.2 Metode Budidaya... 7 2.4.2.1 Persiapan... 7 2.4.2.2 Penebaran... 8 2.4.2.3 Pemberian Pupuk... 8 2.4.2.4 Pengelolaan Air... 8 2.5 Pengambilan Data... 9 2.5.1 Pertambahan Populasi (individu/m2/) dan Biomassa (g/m2).. 9 2.5.2 Laju Pertambahan Biomassa Harian (g/m2/hari)... 9 2.5.3 Parameter Kualitas Air... 10 2.6 Analisis Usaha... 10

III. HASIL DAN PEMBAHASAN... 13

3.1 Hasil... 13 3.1.1 Pertambahan Biomassa Cacing Oligochaeta... 13 3.1.2 Pertambahan Populasi Cacing Oligochaeta... 14 3.1.3 Laju Pertambahan Biomassa... 16 3.1.4 Kondisi Lingkungan Budidaya... 17 3.1.5 Analisis Usaha... 19 3.2 Pembahasan... 23

IV. KESIMPULAN DAN SARAN... 32

4.1 Kesimpulan... 32 4.2 Saran ... . 32

DAFTAR PUSTAKA... 33 LAMPIRAN... 36


(44)

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Parameter kualitas air, satuan dan alat ukur ... 10

2. Kisaran nilai beberapa parameter kualitas air pada bak

pemeliharaan ... 17


(45)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Bak pemeliharaan cacing oligochaeta... ... 6

2. Tubifex tubifex (Anonim 2010) a), Tubifex tubifex (Anonim 2007) b), Branchiura sowerbyi (Anonim 2006) c) dan Limnodrilus hoffmeisteri (Anonim 2009) d)... 7

3. Konstruksi bak pemeliharaan cacing oligochaeta 9

4. Pertambahan biomassa (g/m2) selama 60 hari pemeliharaan dengan

padat penebaran berbeda... 13

5. Pertambahan biomassa (log g/m2) cacing oligochaeta pada

hari ke-40 dan ke-50... 14

6. Pertambahan populasi cacing oligochaeta selama 60 hari pemeliharaan dengan padat penebaran berbeda... 15

7. Pertambahan populasi (log individu/m2) cacing oligochaeta

pada hari ke-40 dan ke-50 ... 15

8. Laju pertambahan biomassa cacing oligochaeta (g/m2/hari) selama 60

hari pemeliharaan dengan padat penebaran berbeda... 16

9. Perubahan kandungan oksigen terlarut selama 60 hari pemeliharaan ... 17

10. Perubahan nilai suhu selama 60 hari masa pemeliharaan... 18

11. Perubahan kandungan nilai pH selama 60 hari masa pemeliharaan... 18

12. Perubahan kandungan TAN selama 60 hari masa pemeliharaan... 19


(46)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Konstruksi budidaya cacing oligochaeta sistem tertutup ... 37

2. Data biomassa cacing oligochaeta selama pemeliharaan (g/m2) ... 38

3. Analisis statistik tingkat pertambahan biomassa cacing oligochaeta pada hari ke-40 dan ke-50 ... 39

4. Data populasi cacing oligochaeta selama pemeliharaan (individu/m2) ... 40

5. Analisis statistik tingkat pertambahan populasi cacing oligochaeta pada hari ke-40 dan ke-50... 41

6. Laju pertambahan biomassa harian (g/m2/hari) cacing oligochaeta selama pemeliharaan ... 42

7. Data kualitas air selama pemeliharan ... 43

8. Penjadwalan budidaya cacing oligochaeta dalam 1 tahun ... 45


(47)

I.

PENDAHULUAN

Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2012 mematok target produksi perikanan budidaya sebesar 9,4 juta ton. Target itu mengalami kenaikan 38 persen dari total capaian produksi tahun 2011 sebesar 6,8 juta ton (Bahermansyah 2012). Seiring dengan kenaikan target produksi, permintaan terhadap pakan pun ikut meningkat. Pemberian pakan dalam pemeliharaan larva merupakan kegiatan yang paling menentukan keberhasilan suatu pembenihan ikan. Hal ini disebabkan sifat larva yang merupakan stadia paling kritis dalam siklus hidup ikan, sehingga pemeliharaan larva merupakan kegiatan yang paling sulit. Beberapa faktor yang menyebabkan pemeliharaan larva memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi dalam pembenihan ikan antara lain tubuh dan bukaan mulut larva kecil sehingga pemberian pakan larva dan pengelolaan lingkungan relatif sulit, kemudian larva membutuhkan pakan alami dan belum ada pakan buatan yang bisa menandingi pakan alami (Effendi 2004). Salah satu jenis pakan alami yang diberikan adalah cacing oligochaeta atau yang biasa disebut cacing sutra.

Cacing oligochaeta menurut Pennak (1978) termasuk ke dalam filum Annelida dan subkelas Oligochaeta. Cacing oligochaeta diberikan pada larva maupun ikan hias karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu sebesar 65%, lemak 15% dan karbohidrat sebesar 14%. Kelebihan cacing oligochaeta selain proteinnya yang tinggi, juga memiliki tingkat kelangsungan hidup yang reatif tinggi, siklus hidup yang relatif pendek, tahan terhadap lingkungan yang beroksigen terlarut rendah dan bisa dikembangbiakkan dalam subsrat organik (Marian dan Pandian 1984).

Selama ini, sebagian besar cacing oligochaeta diperoleh dari hasil tangkapan alam. Hal tersebut cukup beresiko dikarenakan berpotensi membawa parasit ataupun penyakit ke dalam lingkungan budidaya dan ketersediaannya pun menjadi berfluktuasi tergantung musim, sedangkan kegiatan pembenihan harus berlangsung setiap saat. Begitu pula dengan ketersediaan cacing oligochaeta di Belitung yang relatif terbatas. Penyebab dari rendahnya ketersediaan tersebut diantaranya yaitu jumlah cacing yang tersedia di alam relatif sedikit, relatif sulit


(48)

dalam hal transportasi untuk jarak yang sangat jauh bila dikirim dari luar pulau, masih minimnya pengetahuan masyarakat Belitung dalam membudidayakan cacing dan manfaat dari cacing oligochaeta tersebut. Permintaan terhadap pakan alami cukup tinggi dilihat dari jumlah hatchery yang ada di Belitung yaitu sebanyak 10 buah baik milik rumah tangga perikanan, perusahahaan perikanan maupun milik pemerintah (BPS 2010). Selain untuk memenuhi tingginya permintaan, budidaya cacing oligocaheta juga merupakan peluang usaha yang cukup menjanjikan dikarenakan pesaing yang belum ada dan tingginya harga jual yaitu berkisar antara Rp 75 000 – Rp 100 000 per kg. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga dari daerah lain, seperti di Jakarta yang harganya Rp 20 000 per kilo, Yogyakarta harganya Rp 35 000 per kilo dan Rp 12 000 per kilo untuk daerah Bogor (Masturo 2011).

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu dilakukan penelitian penentuan padat penebaran cacing oligochaeta. Padat penebaran cacing adalah jumlah cacing yang ditebarkan per satuan luas atau volume. Menurut Effendi (2004), padat penebaran akan menentukan tingkat intensitas pemeliharaan. Semakin tinggi padat penebaran yang bearti semakin banyak jumlah atau biomassa per satuan luas maka semakin intens tingkat pemeliharaannya. Pada padat penebaran yang tinggi, kebutuhan oksigen dan pakan juga besar, serta buangan metabolisme seperti feses, NH3 dan CO2 juga banyak.

Sistem budidaya yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan sistem sirkulasi yang artinya air yang keluar dari bak pemeliharaan ditampung di bak penampungan air, kemudan air tersebut dialirkan kembali ke bak pemeliharaan. Tujuan dari penggunaan sistem sirkulasi pada penelitian ini adalah agar kokon cacing oligocaheta yang terhanyut keluar bak pemeliharaan bisa masuk kembali ke bak pemeliharaan, begitu pula dengan pupuk yang belum sempat termanfaatkan bisa dimanfaatkan kembali dengan adanya sistem sirkulasi. Oleh karena itu, pada penelitian ini tidak menggunakan filtrasi yang berfungsi sebagai penyerap dan perombak senyawa nitrogenus yang bersifat racun (ammonia dan nitrit) menjadi senyawa tidak beracun (nitrat) dengan bantuan mikroorganisme. Air yang berada di bak penampungan akan diganti setiap dua hari sekali sebanyak


(49)

2/3 dari volume air yang ada, hal tersebut berfungsi untuk menjaga kualitas air yang masuk ke bak pemeliharaan.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan padat penebaran cacing oligochaeta yang terbaik antara 2600 individu/m2, 3600 individu/m2 dan 4600 individu/m2 dengan sistem sirkulasi berdasarkan biomassa, laju pertambahan biomassa harian dan efesiensi ekonomi.


(50)

II. METODOLOGI

2.1 Lokasi dan Waktu

Penelitian dilakukan di Balai Benih Ikan Air Tawar (BBIAT), Kecamatan Mempaya, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung. Waktu penelitian dimulai dari April hingga Agustus 2011.

2.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian antara lain : bak pemeliharaan berukuran 100 cm × 25 cm × 20 cm sebanyak 9 unit, plastik hitam untuk melapisi bak, termometer, DO meter, pH meter, spektrofotometer, timbangan dan terpal. Bahan yang digunakan adalah lumpur halus, kotoran ayam kering, Effective Microorganisms (EM4), gula dan bibit cacing oligochaeta.

2.3 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan padat penebaran yaitu padat penebaran 2600 individu/m2, 3600 individu/m2 dan 4600 individu/m2, masing-masing diulang sebanyak tiga kali.

Data yang diperoleh kemudian ditabulasi dan dianalisisis menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan SPSS yang meliputi Analisis Ragam (ANOVA) dengan uji F pada selang kepercayaan 95% digunakan untuk menentukan ada tidaknya pengaruh perlakuan padat penebaran terhadap pertambahan biomassa dan populasi cacing oligochaeta. Apabila hasil berbeda nyata maka dilakukan uji lanjut menggunakan uji Tukey. Model statistik yang digunakan sesuai dengan Steel dan Torrie (1993) yaitu :

Y ij = µ + σ i + ε ij Keterangan :

Yij = Hasil pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = Nilai tengah dari pengamatan

σi = Pengaruh aditif perlakuan ke-i


(51)

Pengujian perlakuan dapat dilakukan dengan kriteria uji sebagai berikut : Jika Fhitung ≥ Ftabel  tolak H0

Fhitung < Ftabel  terima H0

Hipotesis yang digunakan dalam pengujian tersebut adalah:

H0 : perlakuan berupa padat penebaran berbeda tidak memberikan pengaruh terhadap biomassa dan populasi cacing oligochaeta.

H1 : perlakuan berupa padat penebaran berbeda memberikan pengaruh terhadap biomassa dan populasi cacing oligochaeta.

Parameter yang di ukur selama penelitian adalah biomassa dan populasi, sedangkan parameter penunjang yang di amati adalah kualitas air yang terdiri atas oksigen terlarut, pH, Total Ammonia Nitrogen (TAN) dan suhu.

2.4 Tahapan Penelitian

Pada penelitian ini terdapat sembilan unit percobaan yang berupa bak. Tiga bak ditebar cacing oligochaeta sebanyak 2600 individu/m2, tiga bak ditebar cacing oligochaeta sebanyak 3600 individu/m2 dan tiga bak lainnya ditebar cacing oligochaeta sebanyak 4600 individu/m2. Adapun tahapan kerjanya sebagai berikut:

2.4. 1 Persiapan

2.4.1.1 Bak Pemeliharaan

Bak pemeliharaan yang digunakan berupa kotak kayu berukuran 100 cm × 25 cm × 20 cm sebanyak 9 unit. Bak dilapisi plastik berwarna hitam untuk mencegah terjadinya kebocoran dan memberikan suasana lingkungan yang mendukung bagi budidaya cacing oligochaeta seperti yang dilakukan oleh Chumaidi et al. (1988). Bentuk bak pemeliharaan cacing oligochaeta yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.


(52)

Gambar 1 Bak pemeliharaan cacing oligochaeta

2.4.1.2Media Pemeliharaan

Media pemeliharaan yang digunakan adalah campuran kotoran ayam kering (50%) dan lumpur halus (50%) sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuherman (1987). Lumpur yang digunakan sebagai media diambil dari kolam budidaya ikan, selanjutnya lumpur dijemur di bawah sinar matahari hingga kering. Kemudian lumpur dihaluskan dan disaring menggunakan saringan dengan ukuran mata jaring 0,8 mm.

2.4.1.3 Cacing Uji

Bibit cacing oligochaeta yang digunakan pada penelitian di dominasi oleh subkelas oligochaeta, bibit tersebut berasal dari pertani ikan lele dumbo di daerah Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung. Cacing yang digunakan berukuran 2-3 cm dengan bobot rata-rata 4-5 mg. Adapun dugaan cacing yang digunakan pada penelitian dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.


(1)

Lampiran 9c, Uraian biaya operasional untuk perlakuan padat penebaran 3600 individu/m

2

No. Komponen Jumlah Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah biaya persiklus (Rp) Jumlah biaya 1 tahun (Rp)

I. Biaya tetap

1. Penyusutan 1 tahun 12 051 620 12 051 620

2. Teknisi 2 orang 1 200 000 28 800 000

3. Papan 60 lembar 20 000 2 400 000

4. Plastik hitam 63 pak 15 000 1 875 000

5. Paku 2 dim 20 kg 12 000 480 000

6. Pemeliharaan Alat 1 siklus 50 000 450 000

7. BBM 1 siklus 50 000 450 000

8. Lahan 12 bulan 2 000 000 24 000 000

Total 70 487 350

II. Biaya variabel

Siklus 1

1. Kotoran ayam

a. Media pemeliharaan 6000 kg 500 3 000 000

b. Pupuk 10000 kg 500 5 000 000

2. Lumpur halus 7.5 kg 5 000 37 500

3. EM4 4 L 17 000 68 000

4. Gula pasir 3.75 kg 12 000 45 000

5. Kantong plastik 3.0 bungkus 21 000 63 000

6. Bibit cacing sutra 4.5 kg 75 000 337 500

7. Bensin 1144 L 5 000 5 720 000


(2)

Siklus 2 sampai 9

No. Komponen Jumlah Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah biaya persiklus (Rp) Jumlah biaya 1 tahun (Rp)

1. Pupuk kotoran ayam 10000 kg 500 5 000 000

2. EM4 4 L 17 000 68 000

3. Gula pasir 3.75 kg 12 000 45 000

4. Kantong plastik 3 Bungkus 21 000 63 000

5. Bensin 1144 L 5 000 5 720 000

Total 11 233 500

Total biaya untuk siklus 2 sampai 9 89 868 000

Total biaya variabel 104 139 000

Total biaya operasional 174 626 350

Asumsi panen cacing oligochaeta pada padat penebaran 3600 individu/m

2

No Uraian Jumlah Satuan

1. Biomassa/siklus/1000 bak/m2 739.95 kg

2. Biomassa panen/siklus/0,25 m2 184.9875 kg

3. Biomassa panen/tahun 1664.8875 kg

4. Harga/kg 7500 Rupiah

5. Penerimaan/siklus 13 874 063 Rupiah


(3)

Hasil analisis usaha budidaya cacing oligochaeta pada padat penebaran 3600 individu/m

2

No. Uraian Hasil Satuan

1. Biaya total (Rp) 174 626 350 rupiah

2. Keuntungan (Rp) -49 759 788 rupiah

3. R/C Rasio 0.72

4. PP (tahun) -0.72 tahun

5. BEP (Rp) 424 628 467 rupiah

6. BEP(kg) 940 kg


(4)

Lampiran 9d, Uraian biaya operasional untuk perlakuan padat penebaran 4600 individu/m

2

No. Komponen Jumlah Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah biaya persiklus (Rp) Jumlah biaya 1 tahun (Rp)

I. Biaya tetap

1. Penyusutan 1 tahun 12 051 620 12 051 620

2. Teknisi 2 orang 1 200 000 28 800 000

3. Papan 60 lembar 20 000 2 400 000

4. Plastik hitam 63 pak 15 000 1 875 000

5. Paku 2 dim 20 kg 12 000 480 000

6. Pemeliharaan Alat 1 siklus 50 000 350 000

7. BBM 1 siklus 50 000 350 000

8. Lahan 12 bulan 2 000 000 24 000 0000

Total 70 287 350

II. Biaya variabel

Siklus 1

1. Kotoran ayam

a. Media pemeliharaan 6000 kg 500 3 000 000

b. Pupuk 10000 kg 500 5 000 000

2. Lumpur halus 7.5 kg 5 000 37 500

3. EM4 4 L 17 000 68 000

4. Gula pasir 3.75 kg 12 000 45 000

5. Kantong plastik 3.0 bungkus 21 000 63 000

6. Bibit cacing sutra 5.75 kg 75 000 431 250

7. Bensin 1400 L 5 000 7 000 000


(5)

Siklus 2 sampai 7

No. Komponen Jumlah Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah biaya persiklus (Rp) Jumlah biaya 1 tahun (Rp)

1. Pupuk kotoran ayam 10000 kg 500 5 000 000

2. EM4 4 L 17 000 68 000

3. Gula pasir 3.75 kg 12 000 45 000

4. Kantong plastik 3 Bungkus 21 000 63 000

5. Bensin 1400 L 5 000 7 000 000

Total 12 607 250

Total untuk siklus 2 sampai 7 75 643 500

Total biaya variabel 91 288 250

Total biaya operasional 161 575 600

Asumsi panen cacing oligochaeta pada padat penebaran 4600 individu/m

2

No Uraian Jumlah Satuan

1. Biomassa/siklus/1000 bak/m2 1275.46 kg

2. Biomassa panen/siklus/0,25 m2 318.865 kg

3. Biomassa panen/tahun 2232.055 kg

4. Harga/kg 75 000 Rupiah

5. Penerimaan/siklus 23 914 875 Rupiah


(6)

Hasil analisis usaha budidaya cacing oligochaeta pada padat penebaran 4600 individu/m

2

No. Uraian Hasil Satuan

1. Biaya total 161 575 600 rupiah

2. Keuntungan 5 828 525 rupiah

3. R/C Rasio 1.04

4. PP 6.13 tahun

5. BEP 154 585 260 rupiah

6. BEP 937 kg