Karakteristik Habitat dan Populasi Tarsius (Tarsius fuscus Fischer 1804) di Resort Balocci Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Sulawesi Selatan

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Tarsius adalah salah satu genus primata yang setiap spesiesnya tersebar

secara endemik di pulau Sulawesi dari Kepulauan Sangihe di sebelah utara,
hingga Pulau Selayar. Genus ini berasal dari famili Tarsiidae, satu-satunya famili
yang bertahan dari ordo Tarsiiformes. Tarsius dikenal dengan sebutan binatang
hantu, yang hidup nokturnal atau aktif di malam hari, dengan bentuk wajah seperti
monyet kecil bermata merah, besar dan bulat yang digunakan untuk melihat pada
malam hari (Dephut 1978).
Tarsius adalah satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan
Binatang Liar Tahun 1931 dan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999. Satwa ini
termasuk Appendiks II dalam Convention on International Trade in Endangered
Species (CITES 2003) dan termasuk vulnerable dalam Red List yang dikeluarkan
oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN 2011).
Jenis ini banyak diburu untuk diperdagangkan karena keunikan dan
manfaatnya yang dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit tertentu.
Selain perburuan, degradasi habitat dan fragmentasi habitat akibat pembangunan,
pembalakan kayu, pembukaan lahan untuk pertanian dan eksplorasi bahan
tambang, juga menjadi ancaman bagi kelestarian jenis ini. Oleh karena itu, perlu
dilakukan suatu usaha konservasi untuk mempertahankan keberadaan jenis tarsius
di alam sekaligus untuk mempertahankan sumber keragaman hayati tetap lestari
dan populasi tarsius di alam tidak terganggu. Salah satunya dengan melakukan
penelitian dari berbagai aspek, misalnya aspek ekologi yang meliputi habitat dan
populasi.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) terletak di
Kabupaten Maros dan Pangkep Sulawesi Selatan. Keunikan dari taman nasional
ini adalah sebagian besar kawasannya merupakan ekosistem karst yang memiliki
potensi sumberdaya alam hayati dan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang
tinggi dan endemik. Daerah ini juga merupakan salah satu lokasi penemuan tarius.
Berdasarkan kecocokan morfologi dan sebaran diketahui spesies tarsius yang

2

berada di daerah ini adalah Tarsius fuscus Fischer 1804 (Groves dan Shekelle
2010).
Beberapa penelitian mengenai ekologi tarsius telah dilakukan di TN Babul,
baik oleh peneliti dari dalam maupun luar negeri. Akan tetapi, penelitian tersebut
dilakukan di daerah Pattunuang dan Bantimurung, Kabupaten Maros. Sedangkan
penelitian yang dilakukan di Resort Balocci yang terletak di Kabupaten Pangkep
sampai saat ini belum pernah dilakukan. Menurut Gursky (2008), status tarsius
dapat berubah dari vulnerable menjadi Endangered apabila penelitian tentang
tarsius terus dilakukan karena sampai saat ini data mengenai tarsius masih kurang.
Oleh karena itu, penelitian mengenai keberadaan tarsius terutama mengenai
karakteristik habitat dan populasi tarsius perlu dilakukan di tempat ini. Data hasil
penelitian tarsius di tempat ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi pihak Taman
Nasional dalam pengelolaan satwa ini secara berkelanjutan.
1.2.

Tujuan
Tujuan dilaksanakannya penelitian antara lain adalah :

1.

Mengidentifikasi karakteristik habitat Tarsius fuscus yang mencakup
kondisi fisik, komposisi vegetasi dan ketersediaan pakan di Resort
Balocci, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

2.

Mengetahui jumlah populasi dan sebaran Tarsius fuscus di Resort Balocci,
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

1.3.

Manfaat
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan penyusunan kebijakan

pengelolaan di Taman Nasional Bantimurung khususnya yang terkait dengan
pengelolaan dan tambahan informasi ilmiah mengenai Tarsius fuscus dalam
mendukung dan melestarikan keberadaan populasi tarsius.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Taksonomi
Tarsius adalah suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae, primata

endemik yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Filipina (Dephut
1978). Genus ini memiliki beberapa spesies diantaranya yaitu Tarsius bancanus
yang ditemukan di Sumatera dan Kalimantan, Tarsius syrichta yang ditemukan di
Filipina (Wirdateti dan Dahrudin 2006). Di Sulawesi terdapat 11 jenis tarsius,
yaitu T. tarsier, T. fuscus, T. sangirensis, T. pumilus, T. dentatus, T. pelengensis,
T. lariang, T. tumpara, T. wallacei dan 2 jenis yang diketahui dari jenis berbeda
tetapi belum diberi nama (Groves dan Shekelle 2010).
Namun dalam perkembangannya, Groves dan Shekelle (2010) merevisi
taksonomi genus tarsius dan mengklasifikasinya menjadi 3 genus, yaitu Tarsius,
Chephalopacus dan Carlito sehingga hanya spesies yang berada di Pulau Sulawesi
dan sekitarnya yang menjadi bagian dari genus Tarsius. Sementara, spesies yang
berada di Kalimantan dan Sumatera, yaitu Tarsius bancanus menjadi bagian dari
genus Chephalopacus dan namanya berganti menjadi Chephalopacus bancanus.
Begitu juga dengan Tarsius syrichta yang berada di Filipina menjadi bagian dari
genus Carlito dan berganti nama menjadi Carlito syrichta. Selain itu, Groves dan
Shekelle (2010) juga membatasi penyebaran Tarsius tarsier. Pada awalnya T.
tarsier menyebar dari kepulauan Selayar hingga Semenanjung Barat Daya Pulau
Sulawesi, namun setelah revisi tersebut jenis ini hanya tersebar di Kepulauan
Selayar. Sedangkan tarsius yang berada di Semenanjung Barat Daya Sulawesi kini
disebut sebagai Tarsius fuscus. Perubahan ini didasarkan pada perbedaan
morfologi dan jumlah kromosom tiap jenis. Berikut adalah peta distribusi genus
dan spesies Tarsiidae menurut Groves dan Shekelle (2010).

4

Gambar 1 Peta Distribusi Genus dan Spesies Tarsiidae
(Groves dan Shekelle 2010).
Klasifikasi Tarsius fuscus menurut Groves dan Shekelle 2010 adalah
sebagai berikut:
Ordo

: Primata

Subordo

: Haplorrhini

Infraordo

: Tarsiiformes

Famili

: Tarsiidae (Gray 1852)

Genus

: Tarsius (Storr 1780)

Species

: Tarsius fuscus, Fischer 1804

2.2.

Morfologi
Tarsius memiliki rambut tebal dan halus yang menutupi tubuhnya. Warna

rambut bervariasi, tergantung dari jenis, yaitu merah tua, coklat hingga keabuabuan. Tarsius yang berasal dari Sulawesi memiliki ciri khas bila dibandingkan
dengan jenis lain yaitu adanya rambut warna putih di belakang telinga dan rambut

5

penutupnya berwarna abu-abu. Panjang tubuh 85 - 160 mm, dan panjang ekornya
135 - 275 mm. Berat tubuh tarsius jantan dewasa sekitar 75 - 165 g. Panjang kaki
jauh lebih panjang bila dibandingkan dengan panjang tangan bahkan panjang
tubuh secara total. Hal ini berkaitan dengan cara bergeraknya, yaitu meloncat
(Supriatna dan Wahyono 2000).
Niemitz dan Verlag (1984) menyatakan bahwa tarsius memiliki
keistimewaan pada mata karena penglihatan pada malam hari lebih tajam. Organ
mata pada tarsius merupakan organ terbesar dibanding organ kepala lainnya.
Kepala dapat berputar sampai dengan 180°.
Bagian bawah jari-jari tangan dan kaki tarsius terdapat tonjolan atau
bantalan yang memungkinkan tarsius untuk melekat pada berbagai permukaan
saat melompat di tempat yang licin. Tarsius memiliki kaki belakang yang
panjangnya dua kali lipat panjang badan dan kepala untuk memberikan kekuatan
melompat karena sebagian besar gerakan tarsius adalah melompat secara vertikal
(Wharton 1974). Berikut perbedaan ukuran badan, warna rambut, serta panjang
dan bentuk ekor tarsius di Sulawesi.

Gambar 2 Perbedaan morfologi jenis-jenis tarsius yang terdapat di Sulawesi
(Shekelle et al. 2008).

6

Pada Gambar 2 terlihat bahwa terdapat dua jenis tarsius yang memiliki
nama yang hampir sama yaitu Selayar tarsier dan tarsier. Perbedaan yang dimiliki
oleh kedua jenis tarsius tersebut adalah rambut pada ekor tarsier lebih lebat
daripada Selayar tarsier. Setelah revisi yang dilakukan Groves dan Shekelle
(2010), Tarsius tarsier berganti nama menjadi Tarsius fuscus sedangkan Selayar
tarsier menggunakan nama Tarsius tarsier. Perbedaan morfologi lainnya dari
kedua spesies ini adalah kaki belakang T. fuscus lebih pendek dibandingkan T.
tarsier, warna bulu T. fuscus juga lebih coklat kemerahan dan hanya sedikit
bagian yang berwarna abu-abu, panjang ekor T. tarsier adalah 221% dari panjang
seluruh tubuh dan kepala. Menurut Musser dan Dagosto (1988), panjang ekor T.
fuscus adalah 143 - 166% dari panjang seluruh tubuh dan kepala.
2.3.

Habitat dan Penyebaran
Tarsius banyak ditemukan di luar hutan lindung atau area perbatasan hutan

antara hutan primer dengan hutan sekunder, hutan sekunder dengan perkebunan
masyarakat serta areal perladangan atau pertanian. Sedangkan pohon tidur atau
sarang tarsius umumnya ditemukan di sekitar hutan sekunder dan perladangan
dengan vegetasi yang rapat (Sinaga et al. 2009). Sedangkan menurut Napier dan
Napier (1986), habitat tarsius adalah berbagai tipe hutan yaitu hutan hujan tropis,
semak berduri, hutan bakau dan ladang penduduk. Selain itu, tarsius juga dapat
hidup di hutan primer yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae dan
perkebunan karet (Niemitz dan Verlag 1984)
Pohon tidur merupakan pusat kehidupan bagi tarsius dan terdapat paling
sedikit satu pohon tempat tidur dalam satu wilayah kawanan (Kinnaird 1997).
Pohon tidur atau sarang tarsius lebih banyak menempati jenis-jenis pohon
Bambusa sp., Ficus sp., Imperata cylindrica, Arenga pinnata dan Hibiscus
tiliaceus (Sinaga et al. 2009). Menurut Widyastuti (1993), kelompok tarsius di
hutan primer lebih sering memilih tempat tidur di rongga-rongga pohon yang
berlubang terutama pohon Ficus sp., pandan hutan, bambu, dan umumnya jenis
berongga, terlindung dari sinar matahari dan agak gelap. Sinaga et al. (2009)
menambahkan bahwa ketinggian pohon tidur atau sarang tarsius adalah antara 020 m di atas permukaan tanah serta lebih tergantung pada jenis tumbuhan dan
kondisi habitatnya.

7

Kawasan hutan Pattunuang (dahulunya merupakan Taman Wisata Alam
sebelum diintegrasikan menjadi taman nasional) di sepanjang hutan riparian
Bisseang Labboro (Bislab) dan Gua Pattunuang, mulai dari HM 1000 sampai HM
2500 termasuk lokasi yang bagus untuk pengamatan tarsius (Mustari dan
Kurniawan 2009).
2.4.

Populasi
Menurut Shekelle et al.(2008) sampai saat ini telah ditemukan 16 populasi

tarsius di Sulawesi yang kemungkinan dapat menjadi spesies tersendiri dan baru
lima spesies di antaranya yang sudah mempunyai nama yaitu T. spectrum, T.
sangirensis, T. pumillus, T. pelengensis dan T. dianae. Sebelas spesies lainnya
masih perlu pemberian nama untuk keperluan konservasi. Wirdateti dan Dahrudin
(2006) menyatakan bahwa setiap sarang tarsius terdapat 3-6 individu dengan
komposisi anak, remaja dan induk atau dalam bentuk keluarga.
Daerah Bislap sampai Gua Pattunuang (HM 1000-HM 2500), mengikuti
aliran sungai ke arah hulu, tercatat sedikitnya 6 kelompok, atau minimal 12 ekor
tarsius dengan jumlah 2 ekor setiap kelompok (Mustari dan Kurniawan 2009).
Selain itu, tercatat 3 kelompok tarsius di Kampung Pute dan 1 kelompok tarsius di
Pappang.
Pola hidup tarsius selalu membentuk suatu unit sosial yang meliputi
sepasang individu dewasa bersifat monogami dan tinggal bersama keturunannya
dalam suatu teritorial. Sifat ini akan mempercepat pemusnahan spesies karena
mereka akan sukar beradaptasi dengan kelompok lain apabila terjadi perusakan
habitat dan hutan. Unit sosial Tarsius spectrum pada umumnya membentuk
pasangan sebanyak 80% (monogamus) dan hanya sekitar 20% saja yang bersifat
multi male-multi female (beberapa jantan atau betina dalam suatu kelompok)
(Supriatna dan Wahyono 2000).
2.5.

Perilaku
Tarsius mengeluarkan suara yang khas untuk berkomunikasi antar spesies

(Niemitz dan Verlag 1984). Gursky (1999) menambahkan tarsius memiliki
komunikasi vocal sebagai siulan kepada kelompok yang tidak dikenal atau
sebagai tanda bila ada gangguan, komunikasi calling concerts dan family
choruses.

8

Terdapat tujuh nada panggil yang dikeluarkan tarsius, baik sebagai alarm
call untuk memanggil anggota kelompoknya keluar dan kembali ke sarang,
teritorial call, fear call, threat call, nada-nada yang dikeluarkan induk maupun
anak dalam masa pengasuhan, nada-nada yang dikeluarkan oleh jantan dan betina
dalam mencari pasangan. Beberapa nada panggil tersebut memiliki frekuensi yang
tinggi sehingga berada di luar jangkauan atau tangkapan manusia. Sinaga et al.
(2009) menyebutkan bahwa dalam kondisi normal suara tarsius dapat terdengar
dari jarak yang cukup jauh dan saling bersahut-sahutan antara satu kelompok
dengan kelompok yang lain atau antar individu dalam satu kelompok.
2.6.

Status Konservasi
Sejak tahun 1931, tarsius sudah dilindungi berdasarkan Peraturan

Perlindungan Binatang Liar No. 266 tahun 1931, diperkuat dengan Undangundang No. 5 tahun 1990, serta Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.
301/Kpts-II/1991 yang dikeluarkan tanggal 10 Juni 1991. Tarsius juga termasuk
dalam daftar hewan yang dilarang untuk diperdagangkan dalam daftar Appendix II
CITES. Meskipun demikian International Union for Conservation of Nature
(IUCN) masih memasukkan beberapa species tarsius dalam kategori data
deficient (kurang data). Hal ini berarti masih diperlukan data penelitian untuk
melengkapi data tersebut sehingga dapat ditingkatkan statusnya (Yustian 2006)
Kategori terbaru IUCN Red List of Threatened Species 2008 telah
memasukkan tarsius dalam kategori Critically Endangered (kritis) untuk spesies
tarsius yang baru diidentifikasi, yaitu T. tumpara di Pulau Siau. Hal ini
disebabkan karena spesies ini berada di suatu pulau yang memiliki kepadatan
penduduk yang tinggi dan mempunyai kebiasaan untuk mengkonsumsi tarsius.
Selain itu, pulau tersebut juga memiliki gunung berapi aktif yaitu Gunung
Karengetang yang mengancam keberadaan spesies di alam. Dua spesies lain yang
dikategorikan endangered dan terancam di alam dalam waktu dekat adalah T.
pelengensis, dan T. sangirensis. Adapun spesies yang dikategorikan vulnerable
(rentan punah) adalah T. tarsier dan T. dentatus, sedangkan dua spesies yang
masih dalam kategori kurang data adalah T. pumillus dan T. lariang. Walaupun
sering terjadi perkawinan dan kelahiran, tetapi kemampuan hidup anak sangat

9

kecil, sehingga dapat dikatakan bahwa belum ada penangkaran yang aktif dalam
memelihara populasi untuk semua jenis tarsius (Gursky 1999).
Status T. fusucus sampai saat ini masih tergolong dalam vulnerable dalam
Red List yang dikeluarkan oleh IUCN 2011. Akan tetapi status ini dapat berubah
apabila penelitian mengenai tarsius terus dilakukan dan populasi jenis ini dapat
diperkirakan maka tidak menutup kemungkinan statusnya akan meningkat
menjadi Endangered (Gursky 2008)

BAB III
KONDISI UMUM LOKASI
3.1.

Sejarah Kawasan
Kawasan hutan Bantimurung Bulusaraung yang terletak di wilayah

administratif Kabupaten Maros dan Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan ditunjuk
sebagai Taman Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Republik
Indonesia Nomor : SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Lokasi ini
ditunjuk berdasarkan pertimbangan keunikan ekosistemnya. Sebagian besar
kawasan berupa ekosistem karst yang memiliki potensi sumberdaya alam hayati
dengan keanekaragaman yang tinggi. Selain itu juga karena keunikan dan
kekhasan gejala alam dengan fenomena alam yang indah berupa adanya berbagai
jenis flora dan fauna endemik, langka dan unik; serta untuk keperluan
perlindungan sistem tata air beberapa sungai besar dan kecil di Provinsi Sulawesi
Selatan. Kawasan Karst Maros-Pangkep merupakan bentang alam karst terluas
kedua di dunia setelah bentang alam karst yang ada di China bagian Selatan.
Sebelum berubah fungsi menjadi Taman Nasional, kawasan ini berfungsi
sebagai cagar alam seluas ± 10.282,65 Ha, taman wisata alam seluas ± 1.624,25
Ha, hutan lindung seluas ± 21.343,10 Ha, hutan produksi tetap seluas ± 10.355 Ha
serta hutan produksi terbatas seluas ± 145 Ha. Alih fungsi kawasan-kawasan
tersebut menjadi taman nasional didasarkan atas pertimbangan bahwa kawasan
tersebut merupakan ekosistem karst yang memiliki keanekaragaman hayati yang
tinggi dengan jenis-jenis flora dan fauna endemik, unik dan langka, keunikan
fenomena alam yang khas dan indah serta ditujukan untuk perlindungan sistem
tata air.
3.2.

Letak Kawasan
TN Babul adalah kawasan konservasi alam yang terletak di Kabupaten

Maros dan Kabupaten Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan, yang memiliki luas ±
43.750 ha dengan letak geografis 4°33’-5°02’ LS dan 119°38’-119°57’ BT. TN
Babul terletak di wilayah Kabupaten Maros-Pangkep dengan batas-batas wilayah
sebagai berikut :


Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Barru dan Bone



Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bone

11



Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros



Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Pangkep

Gambar 3 Peta Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
(Sumber : Dokumentasi TN Babul)
3.3.

Kondisi Fisik
Keadaan topografi lapangan pada kawasan TN Babul adalah mulai

daratan, perbukitan dan pegunungan. Daerah daratan dicirikan oleh bentuk
topografi datar, relief rendah dan tekstur topografi halus. Daerah perbukitan dapat
dikelompokkan ke dalam perbukitan intrusi, perbukitan sediment dan perbukitan
karst. Daerah pegunungan terletak di bagian utara, tengah dengan puncak tertinggi
adalah Gunung Bulusaraung setinggi 1.300 mdpl.
Kawasan TN Babul tersusun atas beberapa geologi. Formasi yang
didasarkan pada ciri-ciri litologi dan dominasi batuan tersebut antara lain adalah
Formasi Balang Baru, Formasi Mallawa, Formasi Tonasa dan Formasi Camba.
Pada bukit kapur Maros-Pangkep terdapat dua jenis tanah yang kaya akan kalsium
dan magnesium, yaitu Rendolis dan Eutripepts.

12

Iklim Bantimurung termasuk tipe iklim C (Schmidth-Ferguson) dengan
iklim basah berlangsung selama delapan bulan, yaitu Oktober - Mei, bulan kering
selama tiga bulan, yaitu Juli - September dan bulan lembap berlangsung pada
bulan Juni. Suhu udara rata-rata berkisar 26,5 - 27,8 °C dan kelembaban udara
berkisar 66 - 87% (Mustari 2007). Kecepatan angin rata-rata 3 knot dan
maksimum 20 knot.
3.4.

Kondisi Biologi
Kawasan

hutan

pada

Kelompok Hutan

Bantimurung-Bulusaraung

merupakan ekosistem karst Maros - Pangkep. Kawasan ini memiliki berbagai
jenis flora, antara lain bintangur (Calophyllum sp.), beringin (Ficus sp.), nyatoh
(Palaquium obtusifolium), lontar (Borassus flabellifer) dan kayu hitam (Diospyros
celebica).
Berbagai jenis satwaliar yang khas dan endemik Sulawesi dapat ditemukan
di TN Babul, diantaranya yaitu monyet hitam (Macaca maura), kuskus sulawesi
(Strigocuscus celebensis), kuskus beruang (Ailurops ursinus) dan musang
sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii). Jenis mamalia lain yang ditemukan
diantaranya yaitu rusa timor (Rusa timorensis) serta berbagai jenis kelelawar buah
maupun kelelawar goa.
Jenis burung yang ditemukan diantaranya yaitu julang sulawesi
(Rhyticeros cassidix), kangkareng sulawesi (Penelopides exarhatus), kakatua
jambul-kuning (Cacatua sulphurea), punai (Treron sp.), serta ayam hutan (Gallus
gallus). Berbagai jenis reptili yang ada yaitu ular sanca (Python reticulatus), ular
daun, biawak (Varanus salvator) dan kadal terbang. Selain itu, terdapat berbagai
jenis kupu-kupu, diantara jenis yang terkenal adalah Papilio blumei, Papilio
satapses, Troides halipton, Troides Helena dan Graphium androcles.
3.5.

Keadaan Sosial - Ekonomi dan Budaya
Kawasan TN Babul berada di dalam tiga wilayah administrasi kabupaten,

10 wilayah administrasi kecamatan dan 40 wilayah administrasi kelurahan/desa.
Masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional selain bekerja sebagai
petani, peternak dan pedagang, sebagian juga menggantungkan hidupnya dari
hasil hutan. Akan tetapi, umumnya masyarakat menggantungkan hidupnya pada
usaha persawahan dan pertanian lahan kering.

13

Masyarakat sekitar kawasan TN Babul didominasi oleh etnis Bugis dan
Makassar. Dalam komunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Bugis dan
Makassar, akan tetapi keduanya dapat saling berkomunikasi dan saling mengerti
kedua jenis bahasa tersebut. Adat istiadat yang mereka laksanakan dalam
kehidupan sehari-hari pun sangat dipengaruhi oleh kedua etnis tersebut. Mayoritas
masyarakat kawasan ini menganut agama Islam.
3.6.

Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Lokasi pengamatan yaitu desa Tompobulu, merupakan salah satu wilayah

yang terdapat di Resort Balocci, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN)
Wilayah I Pangkep, TN Babul. Keberadaan tarsius diidentifikasi tersebar di lokasi
ini, baik daerah yang merupakan pemukiman penduduk dan di dalam wilayah
hutan sekunder. Tompobulu yang terletak di kaki Gunung Bulusaraung
merupakan daerah yang memiliki aksesibilats relatif mudah. Lokasi ini dapat
ditempuh dengan menggunakan transportasi darat kendaraan roda dua ataupun
roda empat dengan waktu kira-kira 3 jam dari Kota Makassar.
Desa Tompobulu telah dicanangkan sebagai salah satu desa konservasi.
Selain itu, desa ini juga merupakan salah satu daerah tujuan ekowisata yang
banyak dikunjungi oleh turis lokal dan mancanegara karena merupakan gerbang
masuk menuju puncak Bulusaraung yang merupakan puncak tertinggi di TN
Babul. Masyarakat desa Tompobulu didominasi oleh etnis Bugis Pangkep tetapi,
dalam keseharian mereka menggunakan bahasa campuran bugis dan makassar
yang biasa disebut bahasa Dentong.

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1.

Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

yang terfokus di Desa Tompobulu dan kawasan hutan sekitarnya. Penelitian
dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2011.
4.2.

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Kompas

6. Kalkulator

2. Meteran

7. Kamera

3. Tambang Plastik

8. GPS (Global Positioning System)

4. Tali Rafia

9. ArcMap GIS 10

5. Alat tulis

10. Termometer Dry-wet

Sedangkan objek yang digunakan adalah tarsius yang hidup di Kawasan
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung beserta semua komponen yang ada di
habitatnya.
4.3.

Cara Pengumpulan Data

4.3.1. Studi literatur
Data sekunder diperoleh dengan cara melakukan studi literatur yang
diambil dari berbagai sumber bacaan. Data sekunder juga diperoleh dari instansi
yang terkait dengan Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Data
sekunder ini digunakan sebagai data pendukung, landasan teori dan dasar
penulisan hasil penelitian.
4.3.2. Karakteristik habitat
Habitat memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai penyedia makanan, air, dan
perlindungan bagi satwaliar. Habitat berfungsi pula sebagai tempat berkembang
biak satwaliar. Pengumpulan data mengenai karakteristik habitat meliputi aspek
fisik yaitu, ketinggian tempat, suhu dan kelembaban udara, jarak dari pemukiman.
Sedangkan data mengenai tutupan vegetasi dilakukan dengan analisis vegetasi.

15

4.3.2.1. Komponen fisik
Komponen fisik habitat tarsius dilakukan dengan mengamati dan
mengukur data sebagai berikut:
a. Ketinggian tempat. Pengukuran ketinggian tempat di lokasi penelitian
dilakukan dengan menggunakan GPS
b. Suhu dan kelembaban udara. Pengukuran suhu udara dan kelembaban setiap
hari pengamatan dengan menggunakan termometer dry-wet. Pengukuran
suhu dan kelembaban ini dilakukan antara pukul 05.30 – 06.00 WITA.
4.3.2.2. Analisis Vegetasi
Data komposisi dan struktur vegetasi dilakukan dengan melakukan analisis
vegetasi yang menggunakan metode petak tunggal (Indriyanto, 2006). Dalam
metode petak tunggal, hanya dibuat satu petak contoh yang akan mewakili suatu
tegakan hutan atau suatu komunitas tumbuhan lokasi ditemukan kelompok tarsius.
Ukuran minimum petak contoh dapat ditentukan dengan menggunakan kurva
spesies area. Luas minimum petak contoh itu, ditetapkan dengan dasar bahwa
penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah spesies lebih dari
5%.
Metode ini tidak memerlukan perhitungan frekuensi dan frekuensi relatif
karena hanya ada satu petak contoh dalam analisis vegetasinya, sehingga INP
(Indeks Nilai Penting) diperoleh dari penjumlahan kerapatan relatif dan penutupan
relatif. Menurut Indriyanto (2006), petak contoh berbentuk persegi panjang lebih
efektif daripada petak contoh berbentuk bujur sangkar.
Tahapan kegiatan analisis vegetasi dilakukan dengan cara :
a. Penentuan lokasi sarang tidur tarsius. Penentuan lokasi ini dilakukan dengan
beberapa tahapan yaitu mendengarkan suara tarsius pada pagi hari lalu
mencium bau urin tarsius untuk memastikan lokasi tersebut adalah sarang
tarsius.
b. Pembuatan petak awal berukuran 20 × 50 m atau seluas 0,1 hektar. Petak ini
kemudian diperbesar sehingga penambahan luasnya tidak menyebabkan
kenaikan jumlah spesies lebih dari 5%.

16

c. Data yang diambil dalam plot tersebut adalah semua tingkatan tumbuhan
yang ada di dalamnya, yaitu

pancang, tiang dan pohon dengan uraian

sebagai berikut:
1. Pancang: permudaan dengan tinggi 1,5 m sampai anakan berdiameter
kurang dari 10 cm.
2. Tiang : pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
3. Pohon: pohon dewasa berdiameter 20 cm atau lebih.
Jenis data yang dicatat dalam pengamatan vegetasi adalah jenis tumbuhan,
jumlah individu setiap jenis, diameter batang setinggi dada, tinggi bebas cabang
dan tinggi total. Untuk vegetasi tingkat pertumbuhan semai dan pancang,
pengamatan hanya dilakukan terhadap jenis tumbuhan dan jumlah individu setiap
jenis. Pengukuran dimensi diameter batang, tinggi bebas cabang, tinggi total,
diameter tajuk dan jarak antar tajuk hanya dilakukan terhadap vegetasi pada
tingkat pertumbuhan tiang dan pohon.
4.3.2.3. Serangga
Serangga merupakan sumber pakan utama tarsius. Pengumpulan data
serangga menggunakan metode perangkap cahaya (light trap) dilakukan dengan
menggantung lampu petromaks di depan kain putih berukuran 2 × 1 m yang
dipasang pada petak pengamatan. Pengumpulan serangga ini dilakukan selama
120 menit dimulai pada pukul 18.30 - 20.30 WITA. Pengulangan dilakukan
selama 3 kali. Serangga kemudian dimasukkan ke dalam botol berisi alkohol yang
dipisahkan berdasarkan petak pengamatan. Setelah itu, serangga diidentifikasi di
Laboratorium Taksonomi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Gambar 4 Metode Light trap.

17

4.3.3. Populasi
Pengambilan data populasi dilakukan secara sensus dengan metode
Concentration Count atau metode titik konsentrasi. Titik konsentrasi ditempatkan
pada lokasi yang diduga sebagai tempat dengan perjumpaan satwa yang tinggi.
Pada penelitian ini, titik diambil di sarang tidur tarsius. Penentuan sarang tidur ini
dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Melakukan survei dengan mendengarkan suara tarsius pada pagi hari
lalu menentukan lokasi asal suara.
2. Mencari lokasi asal suara tarsius. Umumnya sarang tidur tarsius berupa
pohon yang rimbun.
3. Mencium bau urin yang ditinggalkan tarsius. Menurut Rowe et al.
(1996), salah satu ciri penandaan keberadaan tarsius berasal dari urine
yang memiliki bau khas sehingga manusia pun bisa mendeteksinya.
Pengamatan dilakukan pada saat tarsius meninggalkan lokasi tidurnya,
yaitu sebelum matahari terbenam antara pukul 16.30 - 18.00 WITA dan pada saat
tarsius kembali ke tempat tidurnya, yaitu sebelum matahari terbit antara pukul
05.00 - 07.00 WITA. Semua pengamatan tersebut dilakukan dengan tiga kali
pengulangan untuk setiap kelompok agar mendapatkan hasil yang lebih akurat.
4.3.4. Sebaran kelompok
Data sebaran geografis tarsius menurut lokasi tempat tidur dilakukan
dengan menandai daerah yang menjadi sarang tarsius dengan menggunakan GPS
lalu dianalisis dengan menggunaka software ArcMap GIS 10.
4.4.

Analisis Data

4.4.1. Karakteristik Habitat
4.4.1.1. Komponen Fisik
Komponen fisik habitat tarsius yang dianalisis terdiri dari ketinggian
tempat, suhu dan kelembaban udara serta jarak dari pemukiman. Komponen
tersebut dianalisis secara deskriptif dari hasil identifikasi, pengamatan dan
pengukuran serta kondisi sesungguhnya di lapangan.

18

4.4.1.2. Analisis vegetasi
Data hasil pengamatan tumbuhan yang dikumpulkan dari lapangan
digunakan untuk menghitung frekuensi, kerapatan, dominansi dan indeks nilai
penting suatu jenis tumbuhan. Nilai-nilai tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk
nilai mutlak maupun nilai relatif dengan persamaan sebagai berikut :
Kerapatan (K)

=

Kerapatan Relatif

=

Dominansi (D)

=

Dominansi Relatif (DR)
Indeks Nilai Penting (INP)

=D

Indeks Nilai Penting (INP)

= KR (semai dan pancang)

Luas bidang dasar ke-i

= 4 . �.��

× 100%
× 100%
D

× 100%

= KR + DR (pohon dan tiang)

Untuk mengetahui keragaman jenis tumbuhan digunakan indeks
persamaan Shanon-Wiener yaitu:


dengan pi =ni/N

�′ = − � �� ln ��
�=

Keterangan :
H’

= Indeks keragaman jenis Shannon-Wiener

ni

= jumlah individu atau nilai penting jenis ke-i

N

= total individu atau nilai penting seluruh jenis
Kesamaan komposisi tiap vegetasi dihitung dengan Indeks of Similarity

(IS) dengan persamaan sebagai berikut:
IS =

2�
× 100%
+

Keterangan :
IS

= Indeks kesamaan komunitas

W

= jumlah nilai yang sama dan nilai yang terendah dari jenis-jenis yang
terdapat dalam dua tegakan yang dibandingkan.

a

= jumlah nilai kuantitatif dari semua yang terdapat pada tegakan pertama.

19

b

= jumlah nilai kuantitatif semua jenis yang terdapat pada tegakan kedua.

4.4.1.3. Karakteristik sarang
Setelah melakukan analisis vegetasi disekitar sarang tarsius dilakukan juga
analisis deskriptif terhadap jenis tumbuhan yang diduga menjadi lokasi tidur
tarsius.
4.4.1.4. Serangga
Keanekaragaman jenis serangga dihitung dengan menggunakan indeks
keragaman Shannon-Wiener (Ludwig dan Reynolds 1988) :


�′ = − � �� ln ��
�=

Keterangan :

H’= indeks keragaman Shannon-Wiener
Pi = proporsi jumlah individu ke-i (ni/N)
ni = banyaknya individu spesies ke-i
N = total individu seluruh jenis

4.4.2. Populasi
Perhitungan ukuran populasi tarsius dengan metode titik konsentrasi dapat
menggunakan persamaan sebagai berikut:

Pi =

∑x

i

n

P = ∑ Pi
Keterangan:
= ukuran populasi di lokasi konsentrasi ke-i (individu)
= jumlah individu yang dijumpai pada pengamatan ke-i
= total populasi di seluruh areal penelitian
= jumlah ulangan pengamatan
Sedangkan untuk kepadatan populasi diperlukan data mengenai luas areal
pengamatan yang dilakukan dengan analisis program ArcMap GIS 10 dengan
menghubungkan garis terluar wilayah pengamatan. Kepadatan populasi
didapatkan dengan membagi jumlah individu yang ditemukan dengan luas areal
pengamatan.

20

4.4.3. Sebaran
Data sebaran tarsius menurut lokasi tempat tidur yang telah ditandai di
GPS, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan software ArcMap GIS 10.
4.4.4. Analisis deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan untuk data-data kualitatif yang tidak
dilakukan pengukuran secra kuantitatif. Data mengenai karakter pohon sarang
akan disajikan dalam bentuk diagram dan grafik yang akan dibahas secara
deskriptif.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.

Karakteristik Habitat
Habitat adalah suatu lingkungan dengan kondisi tertentu yang dapat

mendukung kehidupan suatu spesies secara normal. Menurut Odum (1993),
habitat merupakan suatu kawasan berhutan maupun tidak berhutan yang menjadi
tempat ditemukannya organisme tertentu. Sehingga, setiap habitat satwaliar akan
didukung oleh komponen biotik dan abiotik yang disesuaikan dengan kebutuhan
satwaliar tersebut, seperti air, udara, iklim, vegetasi, mikro dan makrofauna juga
manusia (Alikodra 2002). Begitu juga dengan tarsius yang ditemukan di TN
Babul. Secara umum habitat tarsius tersebut berada di area hutan sekunder,
perbatasan hutan sekunder dengan perkebunan atau perladangan dan di sekitar
kawasan perumahan penduduk.
5.1.1. Komponen fisik
Komponen fisik yang diukur dalam penelitian ini terdiri dari suhu dan
kelembaban udara, ketinggian tempat serta jarak dari pemukiman. Penelitian
dilakukan pada bulan Mei – Juli 2011 saat sedang terjadinya musim peralihan dari
musim hujan ke musim kemarau. Berikut data curah hujan yang diperoleh dari
Badan Meteorolgi dan Geofisika wilayah IV Makassar.
Tabel 1 Data curah hujan Balocci, Pangkep
Bulan
Mei
Juni
Juli
Sumber: BMG wilayah IV Makassar

Curah Hujan (mm)
305
9
-

Hari Hujan (hari)
14
1
-

Lokasi penelitian yang berada di sekitar tebing dan masih dipengaruhi
angin laut membuat lokasi penelitian sesekali diterpa angin yang cukup kencang
dan terkadang disertai dengan hujan pada malam hari. Kisaran suhu harian selama
penelitian adalah 21 – 24 °C dengan kelembaban antara 67 - 91%. Kelembaban
tertinggi terjadi pada bulan Mei yang mencapai 91%. Sedangkan intensitas hujan
tertinggi pada saat penelitian juga terjadi pada bulan Mei dan terjadi pada siang
sampai malam hari. Intensitas hujan paling rendah pada bulan Juli. Kelembaban
terendah terjadi pada akhir bulan Juni, yaitu 67%. Akan tetapi, pada bulan ini
sering terjadi angin yang cukup kencang. Perbedaan kelembaban ini dapat

22

dipengaruhi juga oleh lokasi pengambilan sampel suhu dan kelembaban. Pada
bulan Mei sampai pertengahan Juni pengukuran suhu dilakukan di hutan
sekunder, sedangkan pada akhir Juni sampai bulan Juli pengambilan sampel suhu
dilakukan di sekitar perumahan warga.
Berdasarkan hasil pengamatan, tampak adanya pengaruh komponen fisik
terhadap perilaku tarsius misalnya saja pada bulan Mei saat intensitas hujan lebih
tinggi, tarsius memilih berada di pucuk-pucuk pohon dan bersembunyi di antara
batang pohon yang lebih tinggi karena kondisi tanah yang basah. Sedangkan pada
akhir Juni ketika awal musim kemarau dan sering terjadi angin kencang, tarsius
memilih membuat sarang di lubang - lubang bawah tanah yang berada di bawah
rumpun bambu dikarenakan bobot dan ukuran tubuh tarsius yang tidak dapat
menahan angin kencang di puncak pohon. Sarang yang dibuat di bawah tanah ini
dapat melindungi tarsius dari terpaan angin. Hal ini juga sesuai dengan hasil
wawancara dengan masyarakat setempat bahwa pada musim kemarau tarsius lebih
memilih membuat sarang berupa terowongan bawah tanah. Ketika memasuki
musim kemarau vokalisasi tarsius lebih sering terdengar daripada saat musim
hujan. Hal ini terkait dengan sumberdaya pakan yang lebih sedikit pada saat
musim kemarau sehingga waktu tarsius keluar untuk mencari pakan lebih lama.
Menurut Gursky (2000), pada musim kemarau sumberdaya pakan lebih sedikit
sehingga tarsius membutuhkan waktu lebih banyak untuk mencari makan
dibandingkan pada saat musim hujan. Berdasarkan ukuran suhu tarsius paling

frekuensi

banyak ditemukan pada saat suhu udara berada pada 22 °C (Gambar 5).
80
70
60
50
40
30
20
10
0
21

22

23

24

suhu

Gambar 5 Frekuensi perjumpaan tarsius pada setiap ukuran suhu.

23

Pengamatan

di

lapangan

menunjukkan

bahwa

ketinggian

lokasi

ditemukannya tarsius berada pada kisaran 497-618 mdpl. Sedangkan tarsius yang
berada di sekitar desa ditemukan pada ketinggian 616-725 mdpl. Ketinggian ini
masih berada pada kisaran ketinggian habitat tarsius menurut Wirdateti dan
Dahrudin (2006) yang menyatakan bahwa tarsius mendiami hutan sekunder dan
lahan perkebunan dari dataran rendah sampai ketinggian 1.300 mdpl. Pada
penelitian ini, jumlah tarsius terbanyak ditemukan pada ketinggian 600-700 mdpl

>700

Ketinggian (mdpl)

Ketinggian (mdpl)

(Gambar 5).

600 - 700
500 - 600
700
600 -700
500 - 600

30

(a)

< 500
0

2

4
6
∑ individu

8

(b)

Gambar 6 Jumlah penemuan tarsius berdasarkan ketinggian. (a) Jumlah penemuan
Individu; (b) Jumlah Penemuan kelompok.
5.1.2. Komposisi Vegetasi
Vegetasi adalah salah satu komponen habitat yang memiliki arti penting
bagi kehidupan tarsius karena pada lokasi ini tarsius melakukan pergerakan baik
mencari makan, bermain, istirahat dan bersosialisasi. Selama pergerakannya
tarsius membutuhkan cabang dengan diameter kecil (

Dokumen yang terkait

Dokumen baru