Jumiati 2002 : 69 dengan judul “Analisis penawaran – permintaan dan ekspor teh

4. t hitung harga rata-rata ekspor X3 sebesar 2,658 dan t-tabel sebesar 2,447 menunjukan bahwa harga rata-rata eksporX3 berpengaruh terhadap kecilnya volume ekspor kopi di Jawa Timur ke Dollar AmerikaY. Hali ini menunjukan bahwa jika X2 meningkat maka volume ekspor kopi Jawa Timur ke Dollar Amerika akan meningkat. 5. Nilai tukar rupiah terhadap dollar X1, pengukurannya didasarkan pada nilai tetap 1US yang dinilai dengan nilai tukar rupiah pada tahun bersangkutan. Gross Domestic Product Amerika Serikat X2 adalah pendapatan nasional Dollar Amerika yang diketahui berdasarkan produksi barang dan jasa yang dihasilkan dengan cara menentukan dan menjumlahkan nilai produksi barang dan jasa yang diciptakan oleh setiap sektor produksi. Harga rata-rata ekspoX3 adalah harga rata-rata ekspor kopi di Jawa Timur yang berlaku saat transaksi dasar harga FOB. 6. Volume ekspor kopi di Jawa Timur ke Dollar Amerika adalah jumlah kopi yang diekspor Jawa Timur ke Dollar Amerika selama periode tahun 1988-1997 mengalami perkembangan yang sangat baik, kenaikan yang tajam terjadi pada tahun 1990 yaitu sebesar 80,43. Ini terjadi karena pada tahun tersebut permintaan kopi iji dari Dollar Amerika meningkat sedangkan pada tahun 1991 terjadi penurunan yang tajam sebesar 38,03. Hal ini disebabkan karena permintaan dari negara pengimpor menurun. Kenaikan nilai mata uang dollar Amerika terhadap rupiah sangat mempengaruhi besarnya volume ekspor kopi di Jawa Timur apalagi nilai ekspornya diukur dengan US.

3. Jumiati 2002 : 69 dengan judul “Analisis penawaran – permintaan dan ekspor teh

Indonesia supply demand analyses and export of Indonesia Tea”. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian tersebut antara lain adalah sebagai berikut: Hak Cipta © milik UPN Veteran Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. 1 Perubahan penawaran teh Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh perubahan harga pucuk teh sebesar 0,332 atau 33,2 dan jumlah penawaran teh tahun lalu 0,263 atau 26,3 sedangkan harga teh domestik dan harga kopi domestik tidak berpengaruh terhadap perusahaan penawaran teh. Hal ini menunjukan bahwa produksi teh lebih diorentasikan untuk ekspor dari pada untuk konsumsi domestik karena rendahnya tingkatnya konsumsi dan harga domsetik. Sehingga lebih menguntungkan bagi produsen untuk memasarkan hasil produksinya keluar negeri. Harga kopi tidak berpengaruh terhadap perubahan penawaran teh karena untuk beralih produksi teh keproduksi kopi dibutuhkan waktu yang cukup lama. 2 Permintaan teh domestik dipengaruhi secara nyata oleh perubahan harga kopi sebesar 0,623 atau 62,3, tingkat pendapatan sebesar 0,870 atau 87, jumlah penduduk 0,618 atau 61,8 dan jumlah permintaan tahun lalu 0,440 atau 44. Hal ini menunjukan bahwa kopi dan teh merupakan komoditi subtitusi walaupun tidak sempurna, sedangkan peningkatan pendapatan penduduk akan meningkatkan permintaan teh, hal ini menunjukan bahwa konsumsi domestik masih memungkinkan untuk ditingkatkan dengan upaya seperti promosi yang intensif untuk mengenalkan pada masyarakat tentang pentingnya teh bagi kesehatan dan perbaikan mutu teh. Disamping itu dalam mengkonsumsi teh, konsumen tidak terlalu memperhatikan masalah harga. Hal ini terlihat dari tidak signifikansinya hubungan antara teh domestik dengan permintaan teh. 3 Ekspor teh Indonesia dipengaruhi oleh perubahan harga ekspor FOB dengan estimasi 0,258 atau 25,8 dan nilai tukar exchange rate dengan estimasi -2,281 dan jangka pendek. Kondisi ini menunjukan bahwa Indonesia masih belum mampu untuk memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan ekspornya. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan jumlah ekspor yang masih jauh dibawah harga kenaikan harga Hak Cipta © milik UPN Veteran Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. ekspor dan naiknya nilai tukar yang tidak dapat dimanfaatkan untuk dapat meningkatkan ekspornya. Ini menunjukan bahwa mutu teh Indonesia masih rendah sehingga kurang dapat bersaing dengan negara lain serta elastisnya penawaran dan permintaan teh Indonesia yang merupakan ciri umum dari produksi pertanian. 4 Perubahan harga kopi domestik dan pendapatan penduduk menyebabkan penurunan jumlah ekspor teh Indonesia. Hal ini terjadi karena naiknya harga kopi menyebabkan konsumen beralih untuk mengkonsumsi teh lebih banyak, demikian juga naiknya pendapatan penduduk menyebabkan permintaan teh meningkat sehingga naiknya permintaan teh domestik akan menyebabkan turunnya ekspor teh. Sedangkan meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan naiknya jumlah penduduk akan menurunkan permintaan teh domestik sehingga ekspor akan meningkat. Namun perilaku ini sulit untuk dimengerti dan tidak sesuai dengan teori.

4. Suwarno dan Martha 2002 : 68 dengan judul “Usaha peningkatan ekspor udang di