ANALISIS IMPOR KENDARAAN BERMOTOR DARI JEPANG KE INDONESIA.

(1)

ANALISIS IMPOR KENDARAAN BERMOTOR

DARI JEPANG KE INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Jurusan Ilmu ekonomi

Oleh :

REYSAN KHARISMADA

0611010065 / FE / IE

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR


(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’ alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama peneliti panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT serta sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah melimpahkan berkah, rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi yang peneliti susun dengan judul “ANALISIS IMPOR KENDARAAN BERMOTOR DARI JEPANG KE INDONESIA” ini dapat terselesaikan.

Skripsi peneliti ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Peneliti menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini sering kali menghadapi hambatan dan keterbatasan dalam berbagai hal. Namun, tanpa bantuan bimbingan, motivasi, saran dan dorongan yang telah diberikan berbagai pihak, peneliti tidak akan dapat menyelesaikan skripsi ini sebagaimana mestinya. Untuk itu dalam kesempatan ini peneliti menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan banyak bantuan berupa sarana fasilitas perijinan guna pelaksanaan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur.


(3)

3. Bapak Drs. EC. Marseto, DS, Msi selaku Dosen Pembimbing Utama dan selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah banyak meluangkan waktunya dalam memberikan suatu bimbingan, pengarahan, dorongan, masukan-masukan, dan saran dengan tidak bosan-bosannya kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Ayahanda, Ibunda, beserta keluarga tercinta yang telah memberikan motivasi, do’a, semangat dan dorongan moral serta spiritualnya yang telah tulus kepada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.

5. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen serta staf karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur yang telah dengan ikhlas memberikan banyak ilmu pengetahuannya selama masa perkuliahan dan pelayanan akademik bagi peneliti.

6. Bapak-bapak dan ibu-ibu staf instansi Departemen Perindustrian dan Perdagangan Surabaya, Badan Pusat Statistik cabang Surabaya, dan Bank Indonesia cabang Surabaya, yang telah memberikan banyak informasi dan data-data yang dibutuhkan untuk mengadakan penelitian dalam penyusunan skripsi ini.

7. Seluruh mahasiswa dari Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, serta semua pihak yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu yang selalu memotivasi, membantu, dan mendukung peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.


(4)

Semoga Allah SWT berkenan dan memberikan balasan, limpahan rahmat, serta karunia-Nya, atas segala amal kebaikan serta bantuan yang telah diberikan.

Akhir kata, besar harapan bagi peneliti semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca, baik sebagai bahan kajian maupun sebagai salah satu sumber informasi dan bagi pihak-pihak lain yang membutuhkan.

Wassalamu’ alaikum Wr. Wb

Surabaya, September 2010


(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iv

DAFTER TABEL vii

DAFTAR GAMBAR viii

DAFTAR LAMPIRAN ix

ABSTRAKSI x

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Perumusan Masalah 3

1.3. Tujuan Penelitian 3

1.4. Manfaat Penelitian 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu 5

2.1.1. Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu 11

2.2. Landasan Teori 11

2.2.1. Pengertian Perdagangan Internasional 11 2.2.1.1. Penyebab Timbulnya Perdagangan

Internasional 12 2.2.1.2. Keuntungan Perdagangan Internasional 13


(6)

2.2.1.3. Teori Perdagangan Internasional 14 2.2.2. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika 17 2.2.3. Pendapatan Nasional 22 2.2.4. Pengertian Pendapatan Perkapita 22 2.2.4.1. Perhitungan Pendapatan Perkapita 23

2.2.5. Inflasi 24

2.2.6. Jumlah penduduk 28

2.3. Kerangka Pikir 30

2.4. Hipotesis 33

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 34

3.2. Teknik Penentuan Sampel 34

3.3. Teknik Pengumpulan Data 35

3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis 35

3.4.1. Teknik Analisis 35

3.4.2. Uji Hipotesis 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Obyek Penelitian 42

4.1.1. Kondisi Geografis 42

4.1.2. Kependudukan 42


(7)

4.2.1. Perkembangan Impor Kendaraan Bermotor 43 4.2.2. Perkembangan Kurs Valas Asing 44 4.2.3. Perkembangan Pendapatan Perkapita 45

4.2.4. Perkembangan Inflasi 46

4.2.5. Perkembangan Jumlah Penduduk 47 4.3. Hasil Analisis Asumsi Regresi Klasik ( BLUE/Best Linier

Unbiased Estimator ) 48

4.3.1. Analisis dan Pengujian Hipotesis 53 4.3.2. Uji Hipotesis Secara Parsial 54

4.3.3. Pembahasan 61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 63

5.2. Saran 64

DAFTAR PUSTAKA


(8)

DAFTAR TABEL

1. Impor Motor dan Impor Mobil 1993-2007 44

2. Perkembangan Kurs Valas Tahun 1993-2007 45

3. Perkembangan Pendapatan Perkapita Tahun 1993-2007 46

4. Perkembangan Inflasi Tahun 1993-2007 47

5. Perkembangan Jumlah Penduduk Tahun 1993-2007 48

6. Tes Multikolinier 51

7. Tes Heterokedastisitas dengan Korelasi Rank Spearman 52

8. Analisis Varian ( Anova ) 54

9. Hasil

Analisis Variabel Kurs Valuta Asing (X1), Pendapatan Perkapita (X2), Inflasi (X3), dan Jumlah Penduduk (X4)


(9)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Teori Proporsi Faktor Produksi 14

Gambar 2. Fixed exchange rate 20

Gambar 3. Flexible exchange rate 21

Gambar 4. Floating exchange rate 21

Gambar 5. Proses Demand Pull Inflation 25

Gambar 6. Proses Cost Push Inflation 26

Gambar 7. Kerangka Pikir Analisis Impor Kendaraan Bermotor

Dari Jepang ke Indonesia 32

Gambar 8. Kurva Distribusi/Penerimaan Hipotesis Secara Simultan 38 Gambar 9. Kurva Distribusi Penolakan/Penerimaan Hipotesis Secara

Simultan 39

Gambar 10. Daerah Keputusan Uji Durbin Watson 40

Gambar 11. Kurva Statistik Durbin Watson 50

Gambar 12. Distribusi Kriteria Penerimaan/Penolakan Hipotesis Secara

Simultan atau Keseluruhan 55

Gambar 13. Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Faktor Kurs Valuta Asing (X1) terhadap Impor

Kendaraan Bermotor (Y) 57

Gambar 14. Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial faktor Pendapatan Perkapita (X2) terhadap Impor

Kendaraan Bermotor (Y) 58

Gambar 15. Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Tingkat

Inflasi (X3) terhadap Impor Kendaraan Bermotor (Y) 59 Gambar 16. Kurva Distribusi Hasil Analisis secara Parsial Jumlah


(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Tabulasi Data Variabel Terikat dan Variabel Bebas Tahun 1993-2007 Lampiran 2 Hasil Uji Hipotesis Secara Simultan Impor Kendaraan Bermotor Lampiran 3 Hasil Uji Hipotesis Secara Parsial Impor Kendaraan Bermotor Lampiran 4 Hasil Uji Heterokedastisitas Impor Kendaraan Bermotor Lampiran 8 Tabel Uji Hipotesis Nilai F

Lampiran 9 Tabel Uji Hipotesis Nilai t Lampiran 10 Tabel Durbin-Watson


(11)

ANALISIS IMPOR KENDARAAN BERMOTOR DARI JEPANG KE INDONESIA

Oleh :

REYSAN KHARISMADA

ABSTRAKSI

Ekspor impor mempunyai potensi permintaan bermotor dengan urutan kedua sesudah komoditi hasil kayu, sehingga kendaraan bermotor perlu dikembangkan agar dapat diimpor. Pengekspor kendaraan bermotor terbesar di Indonesia adalah negara Jepang, menurut data yang ada impor kendaraan bermotor beberapa tahun ini mengalami penurunan dan kenaikan nilai ekspornya. Kendaraan bermotor dari negara Jepang merupakan kendaraan yang paling dominan dan diminati oleh penduduk Indonesia. Hal ini tampak dari banyaknya dijumpai di jalan-jalan seluruh pelosok tanah air orang-orang yang mengendarai kendaraan bermotor buatan negara Jepang misalnya merk Yamaha, Honda, Suzuki untuk sepeda motor, lalu Toyota, Honda, dan Suzuki untuk mobil. Atas dasar pemikiran tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah nilai tukar rupiah terhadap dollar (US), pendapatan perkapita, inflasi, Jumlah penduduk dan harga impor secara simultan dan parsial berpengaruh terhadap impor kendaraan bermotor dari Jepang ke Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data skunder yang diperoleh Badan Pusat Statistik Jawa Timur mulai tahun 1993-2007, data tersebut dianalisa dengan menggunakan analisis regresi linier berganda melalui uji-F dan uji-t dengan asumsi klasik BLUE.

Dari pengujian F diperoleh hasil besarnya nilai F hitung lebih besar dari F tabel dengan taraf signifikan kurang dari 0.05, hal ini berarti variabel – variabel bebas diteliti secara simultan mampu berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat, baik pada impor motor maupun impor mobil. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan diduga nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, pendapatan perkapita dan inflasi berpengaruh secara simultan terhadap impor motor dan impor mobil telah terbukti kebenarannya. Dari hasil pengujian terhadap impor motor (Y1) dilihat dari t-tabel kurang dari 0,05 yang dilakukan pada variabel nilai tukar rupiah (X1) yaitu 0,038 berpengaruh terhadap impor kendaraan bermotor, pendapatan perkapita (X2) yaitu 0,623 tidak berpengaruh terhadap impor kendaraan bermotor, inflasi (X3) yaitu 0,442 tidak berpengarug terhadap impor kendaraan bermotor, jumlah penduduk (X4) yaitu 0,795, tidak berpengaruh terhadap impor motor (Y1).


(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada saat ini Indonesia bekerja sama dalam bidang ekspor impor baik dari bidang Agrikultur atau pertanian sampai dengan mesin-mesin dan elektronik. Dalam transaksi ekspor impor, maka peran pemerintah sangatlah besar, baik dalam segi stabilitas dan keamanan negara yang berdampak langsung pada sistem perekonomian moneter di Indonesia maupun peran langsung dalam proses transaksi yang dilakukan oleh investor. Oleh sebab itu pemerintah telah urut andil dengan menentukan kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengn transaksi ekspor impor ini. Kebijaksanaan pemerintah dalam menetapkan kurs mata uangnya tergantung dari sistem kurs yang dianut oleh masing-masing negara. Indonesia yang menganut sistem kurs mengambang terkendali (floating managed exchange rates) sejak 15 November 1978 sangat memperhitungkan kebijaksanaan pemerintah dalam menetapkan kurs mata uang dan sepenuhnya menyerahkan pada mekanisme pasar. Berbeda dengan dollar Amerika yang mengambangkan mata uangnya secara bebas (floating exchange rates), sehingga harga mata uangnya sangat tergantung pada kondisi penawaran dan permintaan dipasar valuta asing. (Anonim, 1909 : 56)

Kebijaksanaan mengenai hambatan perdagangan (trade barriers) juga sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan masing-masing negara. Kelompok kerjasama ekonomi yang terjalin diantara negara merupakan upaya untuk


(13)

membuat kesepakatan yang menjembatani setiap kepentingan negara anggotanya sehingga yang terwujud adalah kebaikan bagi smua negara (win-wn approach). Ada 3 komponen utama dalam laporan suatu neraca transaksi berjalan yaitu : ekspor, impor dan jasa. Penelitian ini ditunjukan untuk mengkaji pengaruh faktor – faktor makro ekonomi fundamental sepeti tingkat inflasi terhadap komponen ekspor dan impor neraca transaksi berjalan antara Indonesia dengan negara lain.

Ekspor impor memiliki potensi permintaan kendaraan bermotor dengan urutan kedua sesudah komoditi hasil kayu, sehingga kendaraan bermotor perlu dikembangkan agar dapat diimpor. Menurut data yang ada impor kendaraan bermotor selama beberapa tahun ini mengalami penurunan dan kenaikan volume nilai ekspornya.

Kendaraan bermotor buatan luar negri sangat diminati oleh banyak penduduk Indonesia. Hal ini tampak dari banyaknya dijumpai dijalan – jalan seluruh pelosok tanah air. Khususnya kendaraan bermotor buatan negara Jepang seperti Honda, Suzuki, Yamaha, kawasaki, dan Toyota. Didukung harga dan kualitas yang baik tak ayal lagi bahwa kendaraan bermotor buatan Jepang merupakan salah satu pilihan warga Indonesia sebagai sarana transportasi.


(14)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Apakah nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika, pendapatan perkapita, inflasi, dan jumlah penduduk berpengaruh terhadap impor kendaraan bermotor dari Jepang ke Indonesia?

b. Apakah inflasi merupakan indikator paling dominan terhadap impor kendaraan bermotor dari Jepang ke Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui pengaruh simultan dan parsial indikator nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika, pendapatan perkapita, Inflasi, dan jumlah penduduk terhadap impor kendaraan bermotor dari Jepang ke Indonesia. b. Untuk mengetahui indikator yang paling dominan mempengaruhi impor

kendaraan bermotor dari Jepang ke Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah :

a. Mengkonfirmasikan kepada segenap pihak yang berkepentingan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan neraca transaksi berjalan. b. Memberikan sumbangan yang bermakna pada bidang Manajemen


(15)

 

c. Memberikan informasi yang berguna bagi penelitian-penelitian berikutnya yang berkaitan dengan penelitian ini.


(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian terdahulu

1. Lestari (1999 : 81) Dengan judul “Faktor-faktor yang mempengaruhi Ekspor Teh ke Dollar Amerika”. Kesimpulan yang dihasilkan adalah sebagai berikut :

1. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan analisis uji F untuk koefisien regresi secara simultan diperoleh nilai F hitung (6,521) > F tabel sebesar (4,35), maka Hi ditolak dan Ho diterima, berarti secara bersama-sama harga rata-rata teh Indonesia ke Dollar Amerika (X1), Gross Domestic Product Amerika Serikat (X2), kurs dollar Dollar Amerika terhadap rupiah selama periode tahun 1988-1998 (X3) dapat mempengaruhi besar kecilnya nilai ekspor teh Indonesia ke Dollar Amerika.

2. t hitung untuk harga rata-rata teh Indonesia ke Dollar Amerika (X1) sebesar (3,004) >t-tabel sebesar (2,365), maka harga rata-rata teh Indonesia ke Dollar Amerika (X1) dapat mempengaruhi besar kecilnya nilai ekspor teh Indonesia ke Dollar Amerika.

3. t hitung untuk Gross Domestic Product Amerika Serkat (X2), sebesar (3,405) > t-tabel sebesar (2,365), maka Gross Domestic Product Amerika Serikat (X2) dapat mempengaruhi besar kecilnya nilai ekspor teh Indonesia ke Dollar Amerika. 4. t hitung untuk kurs Dollar Amerika terhadap rupiah selama periode tahun

1988-1998 (X3) sebesar (3,390) > t-tabel sebesar (2,365), maka kurs dollar Amerika terhadap rupiah selama periode tahun 1988-1998 (X3) dapat mempengaruhi besar kecilnya nilai ekspor teh ke Dollar Amerika.


(17)

5. Kenaikan harga dapat mendorong produksi teh pada jangka pendek melalui pengolahan yang lebih insentif dari fasilitas yang sudah ada. Akan tetapi, dampak pokok dari kenaikan harga tidak akan dialami sebelum sebagian besar dari tanaman baru mulai berubah karena proses penyesuaian cukup lama, produksi teh cenderung menjadi inelastis akan harga pada jangka pendek. Pada jangka panjang penawaran cenderung meningkat karena harga mulai naik.

2. Hariastuti (1999 : 73) Dengan judul “Faktor-faktor yang mempengaruhi Ekspor Kopi Jawa Timur ke Dollar Amerika”. Kesimpulan yang dihasilkan adalah sebagai berikut :

1. Beradasarkan perhitungan dengan menggunakan analisis uji F untuk koefisien regesi secara simultan diperoleh nilai F hitung (29,318) > Ftabel (4,76), maka Hi ditolak dan Ho diterima, berarti secara bersama-sama nilai tukar rupiah terhadap dollar (X1), Gross Domestic Product Amerika Serikat (X2) dan harga rata-rata ekspor (X3) dapat mempengaruhi besar kecilnya volume ekspor kopi di Jawa Timur ke Dollar Amerika (Y)

2. t hitung nilai tukar rupiah terhadap dollar (X1) sebesar (3,114) dan t-tabel sebesar (2,447) menunjukan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dollar (X1) berpengaruh terhadap kecilnya volume ekspor kopi di Jawa Timur ke Dollar Amerika(Y). Hal ini menunjukan bahwa jika X1 meningkat maka volume ekspor kopi Jawa Timur ke Dollar Amerika akan menigkat.

3. t hitung Gross Domestic Product Amerika Serikat (X2) sebesar (2,877) dan t-tabel sebesar (2,447) menunjukan bahwa Gross Domestic Product Amerika Serikat (X2) berpengaruh terhadap kecilnya volume ekspor di Jawa Timur ke Dollar Amerika(Y). Hal ini menunjukan bahwa jika X2 meningkat maka volume ekspor kopi di Jawa timur ke Dollar Amerika akan meningkat.


(18)

4. t hitung harga rata-rata ekspor (X3) sebesar (2,658) dan t-tabel sebesar (2,447) menunjukan bahwa harga rata-rata ekspor(X3) berpengaruh terhadap kecilnya volume ekspor kopi di Jawa Timur ke Dollar Amerika(Y). Hali ini menunjukan bahwa jika X2 meningkat maka volume ekspor kopi Jawa Timur ke Dollar Amerika akan meningkat.

5. Nilai tukar rupiah terhadap dollar (X1), pengukurannya didasarkan pada nilai tetap 1US$ yang dinilai dengan nilai tukar rupiah pada tahun bersangkutan. Gross Domestic Product Amerika Serikat (X2) adalah pendapatan nasional Dollar Amerika yang diketahui berdasarkan produksi barang dan jasa yang dihasilkan dengan cara menentukan dan menjumlahkan nilai produksi barang dan jasa yang diciptakan oleh setiap sektor produksi. Harga rata-rata ekspo(X3) adalah harga rata-rata ekspor kopi di Jawa Timur yang berlaku saat transaksi dasar harga FOB. 6. Volume ekspor kopi di Jawa Timur ke Dollar Amerika adalah jumlah kopi yang

diekspor Jawa Timur ke Dollar Amerika selama periode tahun 1988-1997 mengalami perkembangan yang sangat baik, kenaikan yang tajam terjadi pada tahun 1990 yaitu sebesar 80,43%. Ini terjadi karena pada tahun tersebut permintaan kopi iji dari Dollar Amerika meningkat sedangkan pada tahun 1991 terjadi penurunan yang tajam sebesar 38,03%. Hal ini disebabkan karena permintaan dari negara pengimpor menurun. Kenaikan nilai mata uang dollar Amerika terhadap rupiah sangat mempengaruhi besarnya volume ekspor kopi di Jawa Timur apalagi nilai ekspornya diukur dengan US$.

3. Jumiati (2002 : 69) dengan judul “Analisis penawaran – permintaan dan ekspor teh Indonesia (supply demand analyses and export of Indonesia Tea)”. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian tersebut antara lain adalah sebagai berikut:


(19)

1) Perubahan penawaran teh Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh perubahan harga pucuk teh sebesar 0,332 atau 33,2% dan jumlah penawaran teh tahun lalu 0,263 atau 26,3% sedangkan harga teh domestik dan harga kopi domestik tidak berpengaruh terhadap perusahaan penawaran teh. Hal ini menunjukan bahwa produksi teh lebih diorentasikan untuk ekspor dari pada untuk konsumsi domestik karena rendahnya tingkatnya konsumsi dan harga domsetik. Sehingga lebih menguntungkan bagi produsen untuk memasarkan hasil produksinya keluar negeri. Harga kopi tidak berpengaruh terhadap perubahan penawaran teh karena untuk beralih produksi teh keproduksi kopi dibutuhkan waktu yang cukup lama.

2) Permintaan teh domestik dipengaruhi secara nyata oleh perubahan harga kopi sebesar 0,623 atau 62,3%, tingkat pendapatan sebesar 0,870 atau 87%, jumlah penduduk 0,618 atau 61,8% dan jumlah permintaan tahun lalu 0,440 atau 44%. Hal ini menunjukan bahwa kopi dan teh merupakan komoditi subtitusi walaupun tidak sempurna, sedangkan peningkatan pendapatan penduduk akan meningkatkan permintaan teh, hal ini menunjukan bahwa konsumsi domestik masih memungkinkan untuk ditingkatkan dengan upaya seperti promosi yang intensif untuk mengenalkan pada masyarakat tentang pentingnya teh bagi kesehatan dan perbaikan mutu teh. Disamping itu dalam mengkonsumsi teh, konsumen tidak terlalu memperhatikan masalah harga. Hal ini terlihat dari tidak signifikansinya hubungan antara teh domestik dengan permintaan teh.

3) Ekspor teh Indonesia dipengaruhi oleh perubahan harga ekspor (FOB) dengan estimasi 0,258 atau 25,8% dan nilai tukar (exchange rate) dengan estimasi -2,281 dan jangka pendek. Kondisi ini menunjukan bahwa Indonesia masih belum mampu untuk memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan ekspornya. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan jumlah ekspor yang masih jauh dibawah harga kenaikan harga


(20)

ekspor dan naiknya nilai tukar yang tidak dapat dimanfaatkan untuk dapat meningkatkan ekspornya. Ini menunjukan bahwa mutu teh Indonesia masih rendah sehingga kurang dapat bersaing dengan negara lain serta elastisnya penawaran dan permintaan teh Indonesia yang merupakan ciri umum dari produksi pertanian.

4) Perubahan harga kopi domestik dan pendapatan penduduk menyebabkan penurunan jumlah ekspor teh Indonesia. Hal ini terjadi karena naiknya harga kopi menyebabkan konsumen beralih untuk mengkonsumsi teh lebih banyak, demikian juga naiknya pendapatan penduduk menyebabkan permintaan teh meningkat sehingga naiknya permintaan teh domestik akan menyebabkan turunnya ekspor teh. Sedangkan meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan naiknya jumlah penduduk akan menurunkan permintaan teh domestik sehingga ekspor akan meningkat. Namun perilaku ini sulit untuk dimengerti dan tidak sesuai dengan teori.

4. Suwarno dan Martha (2002 : 68) dengan judul “Usaha peningkatan ekspor udang di kabupaten gresik”. Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

1) Diperoleh nilai F-hitung sebesar 7,221 > F-tabel sebesar 4,76 maka Ho ditolak dan H1 diterima, yang artinya bahwa secara keseluruhan variabel bebas yaitu luas lahan, harga udang, fasilitas kredit berpengaruh secara nyata terhadap variabel terikat yaitu ekspor udang.

2) Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,78311 atau 78,311% yang berarti variabel bebas X1,X2 dan X3 dapat menjelaskan variabel terikat Y sebesar 78,31%

3) Hasil Analisis untuk luas lahan diketahui t- hitung sebesar 6,875 > t- tabel sebesar 2,449 maka Ho ditolak pada signifikan 5% sehingga dapat dikatakan bahwa secara parsial luas lahan berpengaruh terhadap ekspor udang.


(21)

4) Pengaruh harga udang terhadap ekspor udang dari analisis diperoleh nilai t-hitung sebesar 4,401 > t-tabel sebesar 2,449 maka Ho ditolak pada signifikan 5% sehingga dapat dikatakan bahwa secara parsial harga udang berpengaruh terhadap ekspor udang.

5) Fasilitas kredit terhadap ekspor udang dari analisis diperoleh nilai t- hitung sebesar 2,240 < t-tabel sebesar 2,449 maka Ho diterima pada signifikan 5% sehingga dapat dikatakan bahwa secara parsial fasilitas kredit tidak berpengaruh terhadap ekspor udang. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena petani tambak tidak mempergunakan kredit tersebut untuk mengembangkan produksinya atau perluasan lahan tambaknya, namun digunakan untuk keperluan lain yang bersifat konsumtif.

5. Fahlevi (2003 : 86) dengan judul “Analisis Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Ekspor Kayu Lapis Jatim Ke”. Kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut :

1) Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan analisis uji F untuk koefisien regresi secara simultan diperoleh nilai F hitung (37,216) > Ftabel (4,76), maka Hi ditolak dan Ho diterima, berarti secara bersama-sama volume produksi (X1). Kurs dollar Amerika terhadap Rupiah (X2) dan harga rata-rata (X3) terhadap nilai ekspor kayu lapis Jawa Timur ke

2) Nilai t hitung volume produksi (X1) sebesar 4,414 dan t-tabel (2,447) yang menunjukan bahwa volume produksi (X1) mempunyai pengaruh terhadap nilai ekspor kayu lapis Jawa Timur ke. Hal ini menunjukan bahwa variabel bebas volume produksi tidak naik berarti nilai ekspor kayu lapis di Jawa Timur tidak naik.

3) Nilai t hitung kurs dollar Dollar Amerika terhadap Rupiah (X2) sebesar -6,137 dan t-tabel (2,447) yang menunjukan bahwa kurs dollar Dollar Amerika terhadap


(22)

Rupiah (X2) mempunyai pengaruh ngatif terhadap nilai ekspor kayu lapis Jawa Timur ke. Hal ini menunjukan bahwa kurs dollar Amerika terhadap rupah nai, berarti nilai ekspor kayu lapis Jawa Timur juga naik. Sebaliknya jika nilai kurs dollar Amerika turun maka nilai ekspor kayu lapis di Jawa Timur juga turun. 4) Nilai t hitung harga rata-rata (X3) sebesar 0,515 dan t-tabel (2,447) yang

menunjukan bahwa harga rata-rata (X3) tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai ekspor kayu lapis Jawa Timur ke. Hal ini menunjukan jika harga ekspor tidak naik maka nilai ekspor kayu lapis di Jawa Timur juga tidak akan naik.

5) Berdasarkan hasil penelitian variabel bebas yang paling dominan berpengaruh terhadap nilai ekspor kayu lapis Jawa Timur ke yaitu variabel Dollar terhadap Rupiah (X2) sebesar 86,3%. Dengan naiknya kurs Dollar akan meningkatkan penawaran pihak eksportir.

Persamaan penelitian penulis dengan beberapa dari penelitian terdahulu adalah sama-sama meneliti tentang perdagangan Internasional. Sedangkan perbedaannya adalah variabel terikat yaitu impor sepeda motor dan mobil dari Jepang dan variabel bebas yang diteliti adalah nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika, pendapatan perkapita dan inflasi.

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Pengertian Perdagangan Internasional

Perdagangan atau pertukaran dalam ilmu ekonomi diartikan secara khusus sebagai proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela dari masing-masing pihak. Perdagangan hanya akan terjadi apabila terdapat keuntungan atau manfaat dan pihak lain yang merasa tidak dirugikan (Dumairy, 1997 : 8).


(23)

Perdagangan internasional adalah transaksi dagang diantara para subyek ekonomi negara yang satu dengan subyek ekonomi negara yang lebih baik mengemasi barang atau jasa ( Sobri, 1986 )

Dalam teori Adam Smith, dasar pemikiran teori ini adalah perdagangan internasional akan terjadi jika setiap Negara yang terlibat mendapatkan keuntungan mutlak dari perdagangan tersebut, dan keuntungan mutlak tersebut terjadi karena adanya perbedaan yang sifatnya juga mutlak, yakni perbedaan biaya produksi antar Negara untuk jenis barang yang sama. (Tambunan, 2004 : 56)

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perdagangan internasional merupakan proses tukar menukar barang dan jasa yang dilakukan secara sukarela dan menguntungkan masing-masing pihak mempunyai kebebasan untuk menentukan untung rugi dari pertukaran dari sudut kepentingan masing-masing dan kemudian menentukan apakah kedua belah pihak mau melakukan pertukaran.

2.2.1.1 Penyebab Timbulnya Perdagangan Internasional

Secara garis besar hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya perdagangan, baik yang dilakukan oleh suatu daerah dalam wilayah suatu Negara maupun yang dilakukan oleh suatu Negara dengan Negara lain adalah sebagai berikut :

a. Adanya perbedaan kelangkaan.

Kebutuhan manusia pada umumnya tidak terbatas, baik jenis maupun jumlahnya. Dengan adanya perbedaan kebutuhan ini dapat menyebabkan adanya permintaan terhadap suatu jenis barang maupun jasa yang berbeda antara daerah satu dengan daerah yang lain. Hal ini berlaku untuk suatu daerah maupun suatu Negara. Akibat dari timbulnya tingkat kelangkaan maka suatu daerah maupun


(24)

suatu Negara akan dihadapkan pada “problem of choice” untuk memenuhi kebutuhannya.

b. Adanya perbedaan faktor produksi

Dengan adanya perbedaan dalam hal kepemilikan faktor produksi maka suatu daerah maupun suatu Negara akan mengalami perbedaan tingkat kemakmuran pada daerahnya. Hal seperti ini yang menyebabkan suatu daerah maupun suatu Negara mengadakan hubungan perdagangan dengan daerah maupun Negara lain untuk memenuhi kebutuhannya.

c. Perbedaan komparatif dari harga suatu barang

Dengan adanya perbedaan komparatif dari harga suatu barang ataupun output yang dihasilkan oleh suatu daerah atau Negara maka dari itulah yang akan menimbulkan terjadinya perdagangan. Harga komparatif adalah perbedaan dari tingkat harga dari barang A dengan barang B yang ada pada suatu daerah atau Negara dibandingkan dengan harga dari barang A dengan barang B yang ada pada suatu daerah atau negara lain. (Tambunan, 2004 : 47).

2.2.1.2 Keuntungan Perdagangan Internasional

Disamping itu terdapat beberapa faktor keuntungan yang menjadi pendorong bagi semua Negara di dunia untuk melakukan perdagangan luar negeri. Dari faktor-faktor tersebut empat yang terpenting menurut (Sukirno, 2002 : 344), antara lain :

a. Memperoleh barang yang tidak dapat dihasilkan di dalam negeri. b. Mengimpor teknologi yang lebih modern dari Negara lain. c. Memperluas pasar produk-produk dalam negeri.


(25)

2.2.1.3 Teori Perdagangan Internasional

1. The Propotional Factors Theory Dari Heckscher-Ohlin

Dalam perdagangan internasional ada salah satu teori yang menguatkan tentang penjelasan perdagangan internasional. Teori ini dikemukakan oleh Eli Heckscher dan Bertil Ohlin, yang lebih dikenal dengan Teori Heckscher-Ohlin. Oleh karena teori ini sangat menekankan saling keterkaitan antara perbedaan proporsi faktor-faktor produksi antar Negara dan perbedaan proporsi penggunaannya dalam memproduksi berbagai macam barang, maka teori ini disebut juga teori proporsi faktor produksi. (factor-proportion theory). (Krugman dan Obstfeld, 2000 : 84)

Menurut Tambunan (2004 : 66-68), produk yang berbeda membutuhkan jumlah yang berbeda dari faktor produksi tersebut. Perbedaan tersebut disebabkan oleh teknologi yang menentukan cara mengkombinasikan faktor-faktor produksi yang berbeda untuk membuat suatu produk.

Gambar 1

Teori Proporsi Faktor Produksi

Sumber : Tambunan. 2004, Globalisasi dan Perdagangan Internasional, Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor, hal. : 67


(26)

Gambar di atas menjelaskan bahwa suatu produk dengan proporsi faktornya. Ada dua jenis produk yaitu A dan B, serta dua macam faktor produksi yaitu tenaga kerja (TK) dan modal (K). Untuk membuat 1 unit barang A membutuhkan 4 TK dan 1 K, sedangkan untuk membuat B diperlukan 4 TK dan 2K. Oleh sebab itu, A membutuhkan lebih banyak TK per satu unit K relatif terhadap B. A dapat diklasifikasikan sebagai barang padat karya dan B sebagai barang padat modal. Proporsi faktor adalah suatu ukuran relatif dan hanya ditentukan pada basis dari apa yang dibutuhkan oleh A relatif terhadap B, bukan terhadap jumlah spesifik dari TK dan K. Harga dari faktor produksi yang menentukan perbedaan biaya produksi, dan harga dari faktor produksi ditentukan oleh ketersediaan dari faktor tersebut. Dalam teori ini TK dan K adalah dua faktor produksi yang independen. Artinya, sifat dan relasi antara TK dan K adalah subtitusi. Salah satu asumsi dari Teori H-O adalah bahwa faktor produksi tidak bisa bergerak antar Negara. Oleh karena itu, kekayaan suatu Negara atas faktor-faktor produksi menentukan biaya relatif dari faktor-faktor tersebut dibandingkan dengan Negara lain. Alasan terjadinya perdagangan antar Negara menurut Teori H-O adalah perbedaan kondisi penawaran dalam negeri antar Negara. Negara-Negara mempunyai cita rasa dan preferensi yang sama, kualitas faktor produksi yang sama, penggunaan teknologi yang sama tetapi berbeda dalam ketersediaan faktor-faktor produksi. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan dalam harga relatif dari faktor produksi antar Negara. Tiap Negara akan berspesialisasi pada jenis barang tertentu dan mengekspornya yang bahan baku atau faktor produksi utamanya berlimpah atau harganya murah di Negara tersebut dan mengimpor barang-barang yang bahan baku atau faktor produksi utamanya langka atau mahal. Dalam teori ini ada berbagai kelemahan, yaitu tenaga kerja dianggap


(27)

sebagai faktor yang paling homogen dan dominan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa tenaga kerja bervariasi menurut jenisnya dan derajat pendidikannya. (Tambunan, 2004 : 66-68).

2. Opportunity Cost Theory Dari G. Herberler.

Teori opportunity cost dari G. Herberler menjelaskan bahwa terjadinya bisnis internasional disebabkan adanya spesialisasi dan perbedaan harga suatu produk karena terdapat perbedaan kemampuan produksi dan perbedaan selera konsumen.

Dalam hal ini, bisnis internasional dapat terjadi antara dua negara karena hal-hal sebagai berikut .

a. Kemampuan produksi sama, tetapi selera konsumen berbeda.

Bila kemampuan produksi sama maka supply relatif sama akhirnya harga barang sejenis akan sama pula di dua negara atau perusahaan. Misalnya supply

barang A dan B di negara I dan II , sedangkan selera berbeda di dua negara. Contohnya barang A lebih diminati di negara I dan barang B lebih diminati di negara II. Hal ini menyebabkan barang A lebih mahal di negara I dan harga barang B lebih mahal di negara II. Keadaan ini akan menyebabkan terjadi bisnis internasional.

b. Kemampuan produksi berbeda, tetapi selera konsumen sama.

Bila kemampuan produksi berbeda maka supply akan berbeda, akhirnya harga barang sejenis akan berbeda pula di dua negara atau perusahaan. Misalnya supply barang A di negara I banyak dan barang B di negara II banyak. Sedangkan selera sama di dua negara baik untuk barang A maupun barang B di kedua negara. Hal ini menyebabkan harga barang A akan lebih murah dan barang Bakan lebih mahal di negara I dan sebaliknya, harga barang B lebih murah dan barang A akan lebih mahal di negara II. Keadaan ini akan menyebabkan terjadinya perdagangan internasional.


(28)

c. Kemampuan produksi maupun selera konsumen berbeda

Bila kemampuan produksi berbeda,maka supply akan berbeda,akhirnya harga barang sejenis akan berbeda pula di dua negara atau perusahaan. Misalnya, supply barang A di negara I banyak dan barang B di negara II banyak sedangkan selera atau permintaan konsumen berbeda di dua negara. Misalnya, barang A lebih disukai di negara II dan barang B lebih di sukai di negara I. Hal ini menyebabkan harga barang A akan lebih mahal di negara II dan sebaliknya harga barang B akan lebih mahal di negara I. Keadaan seperti ini akan menyebabkan terjadinya perdagangan internasional.(Hamdy,2004:45).

2.2.2 Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika

Sebelum masuk pada teori nilai tukar terlebih daulu perlu diketahui pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan nilai tukar. Pada dasarnya yang dimaksud nilai tukar adalah nilai suatu barang jika dipandang dari sudut barang-barang lain yang dapat ditukar dengannya, oleh karena pada pembahasan masalah ini titik beratnya adalah nilai tukar uang. Pengertian barang pada definisi nilai tukar diatas dapat disubtitusikan dengan uang, jadi dengan kata lain nilai tukar mata uang atau exchange rate adalah mata uang nasional tertentu dibandingkan dengan mata uang lain.

Menurut Salvatore (1992:116) menyatakan bahwa kurs mata uang asing (foreign exchange rate) adalah harga dalam negri dari mata uang luar negri (asing). Dengan adanya valuta asing dapat dihubungkan dengan 3 sistem dan kebijaksanaan tentang kurs mata uang asing yaitu :

a. Sistem nilai tukar tetap (fixed value system)

Dalam sistem dan kebijaksanaan nilai tukar tetap, pemerintah atau otoritas moneter negara yang bersangkutan turut campur tangan secara aktif dalam bursa


(29)

valuta asing dengan membeli atau menjual mata uang dalam negri atau valuta asing bilamana kurs mata uangnya menyimpang dari nilai tertentu yang talah ditetapkan, misalnya jika relatif terdapat kelebihan penawaran rupiah pada tingkat kurs tetap itu, maka Bank Indonesia harus membeli mata uang rupiah. Hal ini dilakukan dengan menawarkan valuta asing tersebut dengan kurs tetap tersebut. Sebaliknya jika terjadi kelebihan permintaan rupiah tersebut dengan membeli valuta asing pada kurs yang telah ditetapkan, oleh karena itu pergeseran dalam permintaan dan penawaran valuta asing atau mata uang dalam negeri dapat menyebabkan fluktuasi dalam besarnya dana yang tersedia, bukan fluktuasi kursnya.

b. Sistem nilai tukar mengambang bebas.

Apabila suatu negara memakai sistem nilai tukar mengambang bebas, bank sentral tidaklah campur tangan secara aktif didalam bursa valuta asing. Disini nilai tukar suatu mata uang relatif terhadap mata uang negara lain ditentukan sepenuhnya oleh permintaan dan penawaran yang berlangsung didalam bursa valuta asing, contohnya jika terjadi kenaikan penawaran mata uang rupiah secara relatif sehingga timbulnya pertambahan permintaan terhadap mata uang asing. Hal ini cenderung terjadi penurunan nilai, depresiasi mata uang rupiah, sebaliknya jika permintaan terhadap mata uang rupiah relatif tinggi maka cenderung terjadi kenaikan nilai (apresiasi) mata uang rupiah, akibatnya kurs kurs valuta asing cenderung bergerak kearah nilai keseimbangan tertentu. Dengan demikian kurs valuta asing merupakan refleksi dari perkembangan aktivitas perorangan atau subyek ekonomi atau bank sentral luar negeri, tetapi bukan akibat tindakan langsung yang diatur oleh bank sentral di dalam negri.


(30)

Bila suatu negara memakai sistem nilai tukar mengambang terkendali, maka disamping dipengaruhi oleh pasar terdapat juga campur tangan bank sentral didalam bursa valuta asing. Bila antar bank menganggap gerakan dari kurs valuta asing tidak sesuai dengan yang diinginkan atas dasarperhitungan dan pertimbangan, misalnya bila BI tidak perlu mengambil tindakan dan kurs mata uang dibiarkan bergerak kearah nilai keseimbangan baru. Demikian pula bila Bank Indonesia ingin memakai gerakan kurs secara perlahan kearah nilai keseimbangan baru, sebaliknya bila BI tidak menghendaki perubahan maka langsung ikut campur tangan dalam bursa valuta asing untuk mempertahankan kurs tertentu yang telah ditetapkan.

Kurs didefinisikan sebagai jumlah atau harga mata uang domestik dari mata uang asing/luar negeri. Dari definisi ini betapa pentingnya kurs dalam melakukan transaksi impor (Salvatore, 1994:141). Harga yang berlaku adalah sesuai negara yang mengadakan transaksi. Masing-masing negara menggunakan nilai kurs yang berbeda namun kebanyakan yang digunakan sebagai acuan adalah kurs USD dan YEN, dimana kedua negara tersebut yang aktif mengadakan perdagangan dan mata uang tersebut adalah sebagai mata uang yang diakui internasional.

d. Keseimbangan kurs

Pada umunya kurs ditentukan oleh perpotongan kurva permintaan pasar dan penawaran dari mata uang asing tersebut. Permintaan valuta asing terutama timbul bila kita mengimpor barang-barang dan jasa dari luar negeri atau melakukan transaksi investasi dengan pinjaman mata uang asing. Sedangkan penawaran valuta asing timbul bila kita mengimpor barang dan jasa atau menerima investasi dengan menggunakan mata uang asing.


(31)

e. Dinamika kurs

Selama dua dasawarsa terakhir berlangsung gejolak kurs yang sangat tajam dan terciptanya nilai mata uang yang tidak sesuai dengan yang diharuskan. Kecenderungan kurs mengalami overshooting mengacu kepada kecenderungan kurs mengalami depresiasi dan apresiasi seketika/mendadak melampaui tingkat ekuilibrium jangka panjangnya dan selanjutnya sebagian selebihnya berangsur-angsur normal.

f. bebrapa faktor yang mempengaruhi kurs mata uang asing

faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan nilai tukar mata uang asing begitu bervariasi, namun yang perlu dikaji adalah faktor-faktor utama yang cukup besar pengaruhnya atas tingginya kurs valas terhadap mata uang domestik. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah : tingkat relatif terhadap negara lain, laju pertumbuhan riil relatif terhadap negara lain, tingkat bunga trelatif terhadap negara lain, faktor spekulasi, kestabilan politik ekonomi dan moneter.

g. Macam-macam kurs valuta asing.

Macam-macam kurs valuta asing antara lain sebagai berikut :

1) Fixed exchange rate adalah kurs yang berlaku tetap untuk jangka waktu yang panjang.


(32)

2) Stable exchange rate adalah kurs yang berlaku tetap untuk suatu periode neraca pembayaran (biasanya 1 tahun).

3) Flexible exchange rate adalah kurs yang sewaktu-waktu dapat berubah baik kepentingan pemerintah maupun kekuatan pasar.

Gambar 3 : Flexible exchange rate

4) Floating exchange rate adalah kurs yang mengambang dimana kurs yang lama dihapus, sedangkan yang baru belum ditentukan.


(33)

5) Fluctuating exchange rate adalah kurs yang berlaku bebas menurut kekuatan pasar (Boediono, 1991:99-101).

2.2.3. Pendapatan Nasional

Pendapatan Nasional sampai saat ini masih tetap sebagai pilar penyanggah polemik ekonomi, artinya kearah peningkatan pendapatan nasional itulah hampir semua kebijaksanaan dibidang perekonomian difokuskan. (Rosyidi, 1996 : 98).

Pengertian pendapatan nasional bermacam-macam, antara lain :

b. Pendapatan nasional adalah pendapatan agregate dari pada tenaga kerja dan hak milik yang timbul dari pada produksi yang berlangsung (current Producent) barang-barang dan jasa-jasa perekonomian yang bersangkutan (Winardi, 1993:74). c. Pendapatan nasional merupakan nilai produksi barang dan jasa yang

diciptakan dalam suatu perekonomian di dalam masa satu tahun (Sukirno, 1995:17) d. Konsumsi bukanlah satu-satunya unsur di dalam pendapatan nasional. Para

ahli ekonomi menyukai produk nasional bruto (Gross National Product) sebagai alat pengukur pokok kegiatan perekonomian. Sedangkan definisi dari produk nasional broto adalah nilai semua barang dan jasa yang tiap tahun dihasilkan oleh bangsa yang bersangkutan, diukur menurut harga pasar (Rosyidi, 1996:102).

Berdasarkan beberapa pengertian pendapatan nasional di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendapatan nasional adalah nilai semua barang dan jasa yang tiap tahun dihasilkan oleh bangsa yang bersangkutan, di ukur menurut harga pasar.

2.2.4. Pengertian Pendapatan Perkapita

Pendapatan perkapita adalah pendapatan nasional pada tahun tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada tahun ini, jadi kesimpulannya bahwa pendapatan perkapita disini


(34)

merupakan pendapatan rata-rata penduduk disuatu negara. Apabila semakin kecil, maka akan menunjukan adanya penurunan tingkat kemakmuran.

Menurut Sukirno (2002:417) pengertian pendapatan per kapita adalah pendapatan rata-rata penduduk, oleh sebab itu untuk memperoleh pendapatan perkapita pada suatu tahun, yang harus dilakukan adalah membagi pendapatan nasional pada tahun itu dengan jumlah penduduk pada tahun yang sama.

Jadi dapat disimpulkan dari pengertian pendapatan perkapita adalah rata-rata penduduk yaitu menyangkut semua penduduk, baik anak-anak maupun dewasa. Apabila jumlah penduduk suatu negara selalu bertambah melebihi kenaikan pendapatan nasional maka pendapatan perkapitanya menjadi rendah, demikian sebaliknya apabila jumlah penduduk suatu negara lebih kecil dari kenaikan pendapatannasional, maka pendapatan perkapitanya menjadi tinggi.

Dengan adanya pendapatan perkapita dapat diketahui bahwa makin tinggi pendapatan perkapita suatu negara, maka makin kecil peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan kerja, akan tetapi sebaliknya sektor industri makin pentinf peranannya dalam menampung tenaga kerja (Sukirno, 2002:21).

Dalam hal ini pendapatan perkapita dihasilkan dari produk domestik bruto dibagi jumlah penduduk. Apabila jumlah yang pasti pesat akan mengakibatkan jumlah pengangguran yang tinggi sehingga pendapatan perkapita menjadi rendah dan apabila laju pertumbuhan penduduk dapat ditekan, maka diharapkan juga akan meningkat, sehingga dapat mendudung pembangunan dan terciptanya tujuan negara.

2.2.4.1 Perhitungan Pendapatan Perkapita

Dalam menghitung pendapatan perkapita ada dua macam penghitungan dapat dilakukan yaitu berdasarkan : (Sukirno, 2002:417)


(35)

1. Harga yang berlaku

Perhitungan menurut harga yang berlaku penting untuk memberikan gambaran mengenai kemampuan rata-rata dari penduduk negara itu membeli barang-barang. Data ini juga penting sebagai bahan perbandingan dalam menunjukan perbedaan tingkat kemakmuran disuatu negara dengan negara-negara lain.

2. Harga tetap.

Data pendapatan perkapita menurut harga tetap perlu dihitung untuk menunjukan perkembangan tingkat kemakmuran pada suatu negara.

Menurut Sukirno (2002:417) perhitungan pendapatan perkapita adalah membagi pendapatan nasional pada tahun itu dengan jumlah penduduk pada tahun yang sama.

Perkapita PDB = 2.2.5. Inflasi

Definisi inflasi menurut Rahardja dan Manurung (2004 : 319), adalah gejala kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus-menerus, dari definisi ini ada tiga komponen yang dipenuhi agar dapat dikatakan inflasi yaitu kenaikan harga, bersifat umum, berlangsung terus-menerus.

Yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan tahunan dalam tingkat harga umum yang diukur berdasarkan indek harga konsumen atau indek harga lainnya. (Samuelson dan Nordhaus, 2004 : 485).

Kesimpulan dari pengertian diatas adalah kenaikan yang terjadi hanya sekali saja (meskipun dengan presentase yang cukup besar) bukanlah merupakan inflasi.


(36)

kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain.

Menurut Sukirno (2004 : 333), teori kuantitas membedakan sumber terjadinya inflasi dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Inflasi tekanan permintaan (demand pull inflation)

Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai barang bertambah terlalu kuat yang mengakibatkan tingkat harga umum naik.

Gambar 5 : Proses Demand Pull Inflation

Sumber : Sukirno. 2004, Teori Pengantar Ekonomi Makro, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. : 334

Sebagaimana dalam gambar perekonomian dimulai pada P1 dan tingkat output riil dimana (P1,Q1) berada pada perpotongan antara kurva permintaan D1 dan kurva penawaran S. Kurva permintaan bergeser keluar D2 penggeseran seperti itu dapat berasal dari faktor kelebihan pengeluaran permintaan.

Pergeseran kurva permintaan menaikkan output riil (dari Q1 ke Q2) dan tingkat harga (dari P1 ke P2) maka inilah yang disebut demand pull inflation (inflasi


(37)

tarikan permintaan) yang disebabkan penggeseran kurva permintaan menarik keatas tingkat harga dan menyebabkan inflasi.

2. Inflasi dorongan penawaran (cost push inflation)

Inflasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi, biasanya ditandai dengan kenaikan harga barang serta turunnya produksi. Misalnya kenaikan harga barang baku yang didatangkan dari luar negeri dan kenaikan harga BBM.

Gambar 6 : Proses Cost Push Inflation

Sumber : Sukirno. 2004, Teori Pengantar Ekonomi Makro, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. : 335

Pada gambar diatas telah disajikan kurva penawaran bergeser dari S1 ke S2, harga tertentu naik dan menyebabkan inflasi dorongan biaya. Naiknya harga dan turunnya output sering kali diberi nama “stagnasi inflasi”.

Dampak yang ditimbulkan dari inflasi diantaranya :

1. Kenaikan harga-harga menimbulkan dampak terhadap perdagangan. Kenaikan harga barang tersebut menyebabkan barang-barang Negara itu tidak dapat


(38)

bersaing di pasar internasional. Menyebabkan ekspor menjadi menurun dan diikuti pula oleh impor yang bertambah, menyebabkan ketidakseimbangan dalam aliran mata uang asing.

2. Biaya yang terus-menerus naik akan menyebabkan kegiatan produksi menjadi tidak menguntungkan.

3. Inflasi akan menurunkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan tetap.

4. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang. (Sukirno, 2004 : 339)

Menurut Sukirno (2000 : 340), cara mengatasi inflasi dapat dilakukan melalui beberapa kebijaksanaan antara lain :

a. Kebijakan Moneter

Sasaran kebijakan moneter dicapai melalui jumlah uang yang beredar. Uang diatur oleh bank sentral melalui cadangan minimum yang dinaikkan agar jumlah uang menjadi lebih kecil sehingga dapat menekan laju inflasi.

b. Kebijakan Fiskal

Menyangkut pengaturan tentang pemerintah serta perpajakan yang secara langsung dapat mempengaruhi harga kebijaksanaan fiskal yang berupa pengurangan, pengeluaran pemerintah serta kenaikan pajak akan dapat mengurangi permintaan total sehingga inflasi dapat ditekan.

c. Kebijakan segi penawaran

Pemerintah melakukan langkah-langkah yang menurunkan biaya produksi perusahaan-perusahaan. Misalnya dengan mengurangi pajak ke atas bahan mentah atau menetapkan harga barang mentah.


(39)

Inflasi mempunyai pengaruh yang besar terhadap perekonomian suatu Negara. Agar inflasi dapat digunakan sebagai satu tolak ukur perekonomian secara umum, karena angka inflasi ini mencerminkan kondisi stabilitas perekonomian suatu Negara. Angka laju inflasi yang tinggi menunjukkan bahwa suatu perekonomian mengalami gangguan, baik berupa ekspor yang menurun karena turunnya daya saing, menurunnya tabungan dan investasi maupun gangguan-gangguan lainnya. Pada saat tingkat inflasi tinggi, maka kondisi perekonomian menjadi lesu. Hal ini secara otomatis akan berpengaruh terhadap kegairahan usaha diberbagai bidang. Pelaksanaan investasi menjadi terlambat, sehingga produksi nasional akan menurun. Menurunnya produksi secara nasional dapat mengakibatkan penurunan pendapatan nasional. Turunnya pendapatan nasional suatu negara menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi suatu Negara tersebut mengalami penurunan. Oleh karena itu, pada saat tingkat inflasi tinggi, maka pemerintah harus cepat tanggap dalam menentukan kebijakan dalam pengendalian tingkat inflasi. (Sukirno, 2004 : 345-352)

2.2.6. Jumlah Penduduk

      Diluar ilmu ekonomi , maka cabang ilmu pengetahuan yang paling banyak menarik perhatian ahli ekonomi adalah ilmu tentang kependudukan. Ketertarikan para ahli ilmu ekonomi terhadap masalah kependudukan karena penduduk itulah yang melakukan produksi maupun konsumsi. Penduduk itulah subyek ekonomi, jumlah serta mutu (kuantitas serta kualitas) penduduk suatu negeri merupakan unsure penentu yang paling penting bagi kemampuan memproduksi serta standar hidup (living standart) suatu Negara.Namun demikian ,sebab yang paling utama mengapa penduduk ini merupakan sumber tenaga kerja, human resources, disamping itu juga factor produksi


(40)

Hal ini juga dikarenakan penduduk itulah yang menjadi subjek ekonomi ,maka penduduklah yang akan dapat menentukan perkembangan perekonomian suatu negara atau daerah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk,serta mutu penduduk suatu negara atau merupakan unsur penentu, yang paling penting bagi kemampuan memproduksi serta standar hidup suatu negara atau daerah. (Rosyidi,2004:87 - 88)

Teori Penduduk Menurut Malthus dan Teori Upah : Apabila para pekerja menerima upah yang baik,sehingga mereka merasa bahwa upah mereka lebih dari sekedar cukup untuk hidup, maka mereka tidak akan ragu untuk menambah jumlah anak – anak mereka. Jumlah ini, secara keseluruhan akan meningkat terus sehingga akhirnya kemampuan untuk memberi kecukupan kepada anak –anak sampai kepada batasnya, dan tidak kurang, yang tidak sampai lagi mencukupi nafkah keluargannya sekalipun untuk kebutuhan minimal saja.(Rosyidi,2004:88).

Pertumbuhan penduduk adalah merupakan ke seimbangan yang di namis antara kekuatan yang menambah dan kekutan yang mengurangi jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk di akibatkan oleh empat komponen yaitu: kelahiran, kematian, migrasi masuk dan migrasi keluar.Apabila suatu daerah di huni oleh sejumlah penduduk maka segera timbulah masalah – masalah kependudukan di dalamnya.sebab karena penduduk ingin mengambil makanan dari daerah yang di tepatinya, sedangkan daerah itu tergantung pada sumber–sumber yang dikandungnnya dan harus memenuhi kebutuhan pendududuknya. Dan sebaliknya, apabila suatu daerah menderita over population, maka penduduk dapat memanfaatkan tanah ataupun modalnya seefisien mungkin, namun dengan demikian karena penduduk terlalu banyak maka hasil yang diterima setiap orang pun akan menjadi sangat kecil.yang dimaksud dengan maximum population adalah jumlah penduduk maksimum yang dapat di hidupi oleh suatu daerah tertentu, menurut tingkat hidup yang berlaku di daerah tersebut serta kebutuhan akan


(41)

barang – barang primer secara minimal.Keadaan optimum population adalah batas antara overpopulation: jumlah penduduk yang kurang dari optimum adalah under population, sedangkan jumlah penduduk yang melebihinya adalah over population.Dari pengertian tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa apabila jumlah penduduk bertambah hingga melewati atau melebihi kapasitas penduduk, maka itu berati tingkat maxsimum sudah terlewati, dan daerah itu tidah dapat lagi menjamin atau mencukupi kebutuhan pendudunya sekalipun hanya kebutuhan minimalnya, (2004: 87-91).

Penduduk merupakan unsur penting dalam kegiatan ekonomi dan usaha untuk membangun suatu perekonomian, dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan kegiatan ekonomi, penduduk memegang peranan yang penting karena penduduk merupakan tenaga kerja, tenaga ahli, pimpinan perusahaan dan tenaga usahawan yang diperlukan untuk menciptakan kegiatan ekonomi.Penduduk yang bertambah dari waktu ke waktu akan memperbesar jumlah tenaga kerja dan pertambahan tersebut kemungkinan untuk menambah produksi. Di samping itu sebagai akibat pendidikan, latihan dan pengalaman kerja yang menyebabkan kemahiran penduduk akan bertambah lagi, maka produktifitas akan bertambah ini selanjutnya menimbulkan pertambahan produksi yang lebih cepat daripada pertambahan tenaga kerja, apabila penduduk bertambah dengan sendirinya luas pasar akan bertambah pula,karena peranannya ini muka perkembangan penduduk akan menimbulkan dorongan kepada pertambahan produksi dan tingkat kegiatan ekonomi. (Rosyidi, 1994 :85- 90).

2.3. Kerangka Pikir

Mengingat bahwa impor sangat tergantung oleh kondisi perekonomian dan kualitas daripada komoditi yang dihasilkan, maka perlu diketahui faktor-faktor yang berpengaruh


(42)

terhadap perkembangan impor sepeda motor dan mobil dari ke Indonesia, diantaranya adalah :

a. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika terhadap rupiah adalah perbandingan nilai mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang rupiah. Kurs valuta asing akan berpengaruh terhadap inpor, hal ini disebabkan karena kurs valuta asing dapat mempengaruhi tingkat harga jual untuk suatu produk diluar negeri. Apabila kurs valuta asing turun maka negara-negara pengekspor akan mempunyai kekuatan yang lebih untuk melakukan impor sehingga impor dari negara-negara pengekspor mengalami kenaikan.

b. Pendapatan Perkapita

Total pendapatan perkapita adalah pendapatan nasional pada tahun tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada tahun itu, jadi kesimpulannya bahwa pendapatan perkapita disini merupakan pendapatan rata-rata penduduk disuatu negara. Apabila pendapatan perkapita semakin kecil, maka akan menunjukan adanya penurunan tingkat kemakmuran (Sukirno, 1996:417). Saat ini negara pengimpor kendaraan bermotor terbesar adalah dari negara. Hal ini disebabkan negara merasa bahwa Indonesia merupakan pasar konsumtif dengan tingkat pendapatan nasional yang rata-rata. Tingkat kemakmuran yang dapat dilihat dari pendapatan perkapita penduduk Indonesia menunjang tingkat kemampuan penduduk untuk membeli kendaraan bermotor khususnya yang berasal dari negara. Seperti contoh adalah kendaraan bermotor merek Honda, Suzuki, Toyota, Yamaha.

c. Inflasi

Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum disuatu negara. Keadaan ini dapat menurunkan nilai mata uang negara tersebut. Disatu pihak kenaikan harga-harga itu


(43)

akan menyebabkan penduduk negara itu semakin banyak mengimpor dari negara lain. Oleh karenanya permintaan keatas valuta asing bertambah. Dilain pihak, ekspor negara itu bertambah mahal dan ini akan mengurangi permintaan dan selanjutnya akan menurunkan penawaran (Sukirno, 1996:262).

d. Jumlah penduduk

Penduduk adalah manusia yang memegang peranan penting dalam kegiatan ekonomi.Karena jumlah penduduk yang terlalu banyak dan perkembangan penduduk yang pesat ( tingkat pertambahan penduduk relatif laju ).Jumlah penduduk merupakan faktor yang penting sebagai wajib pajak.Penduduk sebagai sumber daya manusia yang sebagai subyek dan obyek dari pada pembangunan daerah. Apabila jumlah penduduk meningkat, maka akan berpengaruh juga terhadap tingkat valuta asing . (Rosyidi,1994:84-85).

Gambar 7 : Kerangka Pikir Analisis Impor Kendaraan Bermotor Dari Jepang ke Indonesia

Harga jual sepeda  motor dan mobil  (dalam rupiah) Nilai tukar rupiah 

terhadap Dollar  Amerika (X1) 

   

  

Inflasi (X3)  Nilai Valuta Asing Daya beli 

masyarakat  Pendapatan 

Perkapita (X2) 

Impor kendaraan  bermotor (Y1) 


(44)

33 

 

Dalam hal ini dapat di jelaskan bahwa jika nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika naik maka akan menyebabkan turunnya harga jual kendaraan bermotor. Pendapatan perkapita yang naik dalam setiap daerah menyebabkan naiknya minat daya beli masyarakat untuk kendaraan bermotor. Inflasi yang naik juga berdampak naiknya nilai valuta asing terhadap impor kendaraan bermotor. Dan Jumlah Penduduk yang naik akan berdampak pada naiknya nilai permintaan akan impor kendaraan bermotor.

2.4 Hipotesis

a. Diduga Nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika (X1), pendapatan perkapita (X2), Inflasi (X3), dan jumlah penduduk (X4) secara simultan dan parsial berpengaruh terhadap impor kendaraan bermotor (Y1) dari Jepang ke Indonesia. b. Diduga Inflasi merupakan indikator paling dominan terhadap impor kendaraan


(45)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

1) Nilai tukar ruiah terhadap Dollar Amerika Serikat adalah perbandingan nilai tukar antara mata uang rupiah terhadap mata uang dollar Amerika. Satuan pengukuran yang digunakan adalah dalam satuan rupiah (Rp).

2) Pendapatan perkapita adalah pendapatan nasional pada tahun tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada tahun itu,jadi kesimpulannya bahwa pendapatan perkapita disini merupakan pendapatan rata-rata penduduk, dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).

3) Inflasi (X3) adalah proses kenaikan harga barang dalam negri yang terus-menerus naik selama periode tertentu. Perhitungan dihitung dari perubahan indeks harga konsumen. Satuan pengukuran yang dipergunakan menggunakan persen (%/tahun). 4) Jumlah penduduk (X4) tingkat jumlah penduduk yang bergantung terhadap

perekonomian Indonesia.

5) Impor kendaraan bermotor dari Jepang ke Indonesia (Y1), adalah total impor kendaraan bermotor dari Jepang ke Indonesia yang dinyatakan dalam satuan unit US$

3.2. Teknik Penentuan Sampel

a. Populasi yang dipergunakan dalam penelitian berikut ini adalah seluruh data yang berkaitan dengan impor sepeda motor dan mobil di Indonesia pada tahun 1993 – 2007.


(46)

b. Sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data tentang nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, pendapatan perkapita, inflasi, dan Harga impor sepeda motor dan mobil dari ke Indonesia periode tahun 1993 – 2007.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperlukan untuk mendukung penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari badan pusat statistik Surabaya.

Pengumpulan dapat dilakukan dengan cara melakukan studi kepustakaan dan studi lapangan. Data yang diperoleh dihasilkan dari studi-studi literatur serta data-data sekunder yang didapat dari instansi-instansi terkait dengan penelitian, dalam hal ini Badan Statistik Surabaya.

3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis 3.4.1. Teknik Analisis

Dalam menguji hipotesis pengaruh, Nilai tukar rupiah terhadap Dollar, Pendapatan Perkapita, iflasi, dan Jumlah Penduduk terhadap impor kendaraan bermotor, maka dilakukan analisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Melakukan analisis regresi untuk menentukan arah dan besarnya pengaruh Nilai tukar

rupiah terhadap dollar, Pendapatan perkapita, inflasi, dan jumlah penduduk terhadap impor kendaraan bermotor, menggunakan model matematika sebagai berikut:

Y = f (X, X2, X3 X4)………(Supranto, 2001 : 25)

Dimana :

Y1 = Impor kendaraan bermotor

X1 = Nilai tukar rupiah terhadap dollar

X2 = Pendapata perkapita


(47)

X4 = Jumlah Penduduk

Bentuk dasar tersebut kemudian dapat ditentukan model yang lebih akurat. Model tersebut adalah regresi berganda penerapan beberapa model baik linier maupun non linier.

Y = 0 + 1 X, 2 X2, 3 X3, + 4 X4 +  ..…………(Sulaiman, 2004 : 80)

Dimana :

Y1 = Impor kendaraan bermotor

0 = Konstanta

1-3 = Koefisien regresi

X1 = Nilai tukar rupiah terhadap dollar

X2 = Pendapatan perkapita

X3 = Inflasi

X4 = Jumlah penduduk

 = Variabel pengganggu

Adapun untuk mengetahui apakah model analisis tersebut cukup layak digunakan dalam pembuktian selanjutnya dan untuk mengetahui sampai sejauh mana variabel-variabel

bebas mampu menjelaskan variabel terikat, maka perlu untuk mengetahui nilai R2 (koefisien

determinasi) dengan menggunakan formula sebagai berikut: Dimana :

R2 =

Total J

gresi Re J

K

K ..……….…(Sulaiman, 2004 : 86)


(48)

R2 = Koefisien determinasi JK = Jumlah kuadrat

3.4.2. Uji Hipotesis

a. Melakukan uji F untuk melihat significant tidaknya pengaruh variabel-variabel bebas

secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Dengan langkah pengujian sebagai berikut:

1. Merumuskan Hipotesis

H0 : 1 = 2 = 3 = 0 …. tidak ada pengaruh/tidak signifikan

H0 : 123  0 …. ada pengaruh/tidak signifikan

2. Menentukan Level of Significant (a) sebesar 5%.

3. Menghitung nilai Fhitung dengan Ftabel dengan ketentuan sebagai berikut:

derajat bebas pembilang adalah k dan derajat bebas penyebut adalah (n – k – 1) dengan confident interval sebesar 95%.

Keterangan:

n = jumlah sample

k = jumlah parameter regresi

a) Apabila Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak Hi diterima, artinya secara simultan

variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat.

b) Apabila Fhitung < Ftabel maka Ho diterima Hi ditolak, artinya secara simultan


(49)

Gambar 8. Kurva Distribusi/Penerimaan Hipotesis Secara Simultan

Ho ditolak Ho diterima

T tabel

Sumber : Supranto, 2001, Ekonometrik, Buku Satu, FEUI, Jakarta hal. 152.

b. Melakukan uji untuk menguji tingkat significant pengaruh beberapa variabel secara

parsial. Dengan menggunakan langkah-langkah:

1. Merumuskan hipotesis

H0 : 1 = 2 = 3 = 0 …. tidak ada pengaruh

H0 : 123  0 …. ada pengaruh

2. Menentukan Level of Significant (a) sebesar 5%.

3. Menghitung nilai thitung dengan menggunakan persamaan:

) ( Se t

1 1 hitung

 ……….….. (Sulaiman, 2004 : 87)

Dengan keterangan:

1 = Koefisien regresi variabel

Se = Standart Error koefisien regresi

4. Membandingkan thitung > ttabel Ho ditolak dan Hi diterima, yang artinya 95%

kaidah keputusannya adalah:

a) Bila thitung > ttabel maka Ho ditolak Hi diterima, yang artinya ada pengaruh

antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

b) Bila thitung < ttabel maka Ho diterima dan Hi ditolak, yang artinya tidak ada


(50)

Gambar 9. Kurva Distribusi Penolakan/Penerimaan Hipotesis Secara Simultan

Daerah Permintaan Ho Daerah Penolakan

(Ho)

Daerah Penolakan

(Ho)

ttabel

- ttabel

Sumber : Supranto, 2001, Ekonometrika, Buku Satu, FEUI, Jakarta hal. 152.

c. Uji BLUE (Best Linier Unbiased Estimator)

Persamaan regresi harus bersifat BLUE artinya pengambilan melalui uji F dan uji t tidak boleh bisa. Tetapi untuk melaksanakan operasi Regresi linier tersebut diperlukan asumsi yang harus dipenuhi:

a. Tidak terjadi auto korelasi.

b. Tidak terjadi heterokedastisitas.

c. Tidak terjadi multikolinearitas.

1. Autokorelasi

Autokorelasi didefinisikan sebagai korelasi yang antara anggota observasi yang terletak berderetan secara dalam bentuk waktu (jika datanya time series) atau korelasi antara tempat yang berderetan atau berdekatan kalau datanya cross sectional. (Gujarati, 1995 : 201).


(51)

       t N

1 t 2 t N t 2 t 2 1 t t e ) e e ( d Keterangan:

d : Nilai Durbin Watson

et : Residual pada waktu ke – t

et – 1 : Residual pada waktu ke t – 1 (satu periode sebelumnya)

n : Banyaknya data

Gambar 10. Daerah Keputusan Uji Durbin Watson

Daerah Keragu-raguan Daerah Keragu-raguan Ada Autokorelasi Negatif Ada Autokorelasi

Positif Tidak ada

Autokorelasi Positif dan Negatif

0  dL  dU  2 4‐dU 4‐dL 4 

Sumber: Gujarati, 1995, Basic Ekonometrik Edisi ke-3, Hal. 216.

2. Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah adanya hubungan yang sempurna antara sempurna antara semua atau beberapa variabel eksplanatori dalam model regresi yang dikemukakan (Gujarati, 1995 : 157)


(52)

41 

 

a) Kolineriti sering ditandai dengan nilai R2 yang tinggi.

b) Koefisien korelasi sederhana tinggi.

c) Nilai Fhitung tinggi (signifikan).

3. Heterokedastisitas

Pada regresi linier nilai residual tidak boleh ada hubungan dengan variabel bebas. Hal ini bisa diketahui berdasarkan pengujian korelasi Rank Spearman antara residual dengan seluruh variabel bebas.

Rumus rank Spearman adalah :

) 1 N ( N

d 6 1

r 2

2 i 8

 

……… (Gujarati 1995 : 177).

Dimana :

di = Perbedaan rank antara residual dengan variabel bebas ke-1

N = Banyaknya data r8 = rank Spearman


(53)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Obyek Penelitian 4.1.1. Kondisi Geografis

Indonesia adalah Negara kesatuan yang berbentuk Republik yang terletak 6° Lintang Utara dan 11° Lintang Selatan dan antara 94° Bujur Timur dan 141° Bujur Timur. Indonesia juga merupakan Negara berkembang yang terletak di antara dua samudra, samudra pasifik dan samudra Hindis dan berbatasan dengan samudera Indonesia utara, sebelah timur berbatasan dengan Papua Nugini dan sebelah barat berbatasan dengan samudera Indonesia

Sejak tahun 2001 Indonesia dibagi menjadi 30 Propinsi dengan 4 tambahan propinsi, yaitu kepulauan Bangka Belitung, Banten, Gorontalo dan Maluku Utara terdiri dari 268 kabupaten 85 kotamadya 4.424 kecamatan dan 68.819 desa. Indonesia merupakan Negara bahari dengan luas lautnya sekitar 7,9 juta Km (Termasuk daerah Zone Economic Eclusive ) atau 81 % dari luas keselurahan. Daratan Indonesia mempunyai luas lebih dari 1,9 juta Km dan mempunyai puluhan atau mungkin ratusan gunung merapi dan sungai.

4.1.2. Kependudukan

Dilihat dari jumlah penduduk Indonesia termasuk Negara dengan penduduk keempat di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2000 sebesar 206,3 juta jiwa. Jumlah ini mencakup penduduk bertempat tinggal tetap sebesar 205,8 juta dan penduduk tidak


(54)

bertempat tinggal tetap sebesar 421.399 jiwa. Laju pertumbuhan 1,49 % pertahun selama periode 2000-2001. jumlah penduduk yang begiti besar dan terus bertambah setiap tahunnya tidak diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk. Hasil sensus penduduk 2002 menentukan sekitar 61 % penduduk tinggal di pulau Jawa gambaran ini menunjukan daya dukung lingkungan yang kurang seimbang di propinsi – propinsi di jawa.

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian

Deskripsi hasil penelitian ini memberikan gambaran tentang data- data serta perkembangan Impor Motor, dan Impor Mobil sehingga dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi terhadap perkembangan Kurs Valuta Asing, Pendapatan Perkapita, Inflasi, dan Jumlah Penduduk.

4.2.1. Perkembangan Impor Kendaraan Bermotor

Perkembangan Kendaraan Bermotor, dari tahun ke tahun mengalami fluktuatif. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1 yang menjelaskan bahwa pada tahun 1993 sampai 2007, Impor Kendaraan Bermotor terbesar pada tahun 1997 sebesar 596.678.510 US$ dan Impor Kendaraan Bermotor yang terendah yaitu pada tahun 1998 sebesar 163.385.110 US$, Perkembangan Impor Kendaraan Bermotor terbesar terjadi pada tahun 2007 sebesar 72,27 % dan terendah sebesar -72,61 % terjadi pada tahun 1998.


(55)

Tabel.1. Impor Kendaraan Bermotor 1993-2007

Tahun Impor K.Bermotor

(US$)

Perkembangan (%)

1993 429342018 -

1994 481089178 12,05

1995 595373994 23,75

1996 720857455 21,07

1997 596678510 - 17,22

1998 163385110 - 72,61

1999 226739047 38,77

2000 267215560 17,85

2001 394242288 47,53

2002 326546187 - 17,17

2003 256853052 - 21,34

2004 285841544 11,28

2005 359261103 25,68

2006 255054982 - 29,00

2007 439397158 72,27

Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Timur ( diolah ).

4.2.2. Perkembangan Kurs Valas Asing

Perkembangan Kurs Valuta Asing dari tahun ke tahun mengalami fluktuatif. Hal ini dapat dilihat pada tabel 2 yang menjelaskan bahwa pada tahun 1993 sampai 2007, Perkembangan terbesar Kurs Valuta Asing pada tahun 1997 sebesar 95,13 % dan terendah sebesar – 14,03 % terjadi pada tahun 2002, Kurs Valuta Asing terbesar pada tahun 2001 sebesar Rp.10.400 hal ini disebabkan karena adanya kenaikan harga minyak mentah dunia sehingga harga BBM dalam negeri juga mengalami meningkat dan Kurs Valuta Asing yang terendah yaitu pada tahun 1993 sebesar Rp.2110.


(56)

Tabel.2. Perkembangan Kurs Valas Tahun 1993-2007

Tahun Kurs Valas ( Rupiah ) Perkembangan

( % )

1993 2110 -

1994 2200 4.26

1995 2308 4.90

1996 2383 3.24

1997 4650 95.13

1998 8025 72.58

1999 7100 - 11.52

2000 9595 35.14

2001 10400 8.38

2002 8940 - 14.03

2003 8465 - 5.31

2004 9290 9.74

2005 9830 5.81

2006 9020 - 8.24

2007 9419 4.42

Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Timur( diolah )

4.2.3. Perkembangan Pendapatan Perkapita

Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa perkembangan Pendapatan Perkapita setiap tahunnya mengalami naik turun yang tidak tentu besarnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 3 yang menjelaskan bahwa pada tahun 1993 sampai 2007, Perkembangan terbesar Pendapatan Perkapita pada tahun 2001 sebesar 241,72 % hal ini disebabkan karena pada tahun 1993 sampai 2000 memakai harga konstan 1993 dan tahun 2001 memakai data harga konstan 2000 sehingga mengalami peningkatan yang tinggi dan terendah sebesar -12,62 % terjadi pada tahun 1998, hal ini disebabkan pada tahun 1998 terjadi krisis ekonomi sehingga banyak sekali pengusaha yang gulung tikar dan investasi yang menurun. Pendapatan Perkapita terbesar pada tahun 2007 sebesar Rp. 7.089.350. dan Pendapatan Perkapita yang terendah yaitu pada tahun 1993 sebesar Rp. 1.490.297.


(57)

Tabel.3. Perkembangan Pendapatan Perkapita Tahun 1993-2007

Tahun Pendapatan Perkapita ( Rupiah ) Perkembangan ( % )

1993 1.490.297 -

1994 1.579.610 5,99

1995 1.590.483 0,68

1996 1.622.939 2,04

1997 1.889.701 16,43

1998 1.651.051 - 12,62

1999 1.658.898 0,47

2000 1.793.294 8,10

2001 6.128.196 241,72

2002 6.238.784 1,80

2003 6.332.862 1,50

2004 6.704.898 5,87

2005 6.734.844 0,44

2006 6.801.391 0,98

2007 7.089.350 4,23

Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Timur ( diolah )

4.2.4. Perkembangan Inflasi

Berdasarkan tabel 4 dapat dijelaskan bahwa perkembangan Tingkat Inflasi setiap tahunnya mengalami fluktuatif yang tidak tentu besarnya. Perkembangan Tingkat Inflasi, yang tertinggi terjadi pada tahun 1998 sebesar 66,58 % ini dikarenakan adanya krisis yang melanda bangsa Indonesia dan pada umumnya kenaikan tingkat inflasi terjadi dari kenaikan harga barang – barang yang tidak dikendalikan Pemerintah dan adanya kenaikan harga BBM. tetapi pada tahun 1999 terjadi perkembangan terendah sebesar - 75,62 %. Hal ini bisa dilihat dari nilai Tingkat Inflasi di tahun 1998 sebesar 77,63 % menjadi 2,01 % atau turun sebesar - 75,62 %.


(58)

Tabel.4. Perkembangan Inflasi Tahun 1993-2007

Tahun Inflasi

( % )

Perkembangan ( % )

1993 9,77 -

1994 9,24 - 0,53

1995 8,64 - 0,60

1996 6,47 - 2,17

1997 11,05 4,58

1998 77,63 66,58

1999 2,01 - 75,62

2000 9,35 7,34

2001 12,55 3,20

2002 10,03 - 2,52

2003 5,06 - 4,97

2004 6,40 1,34

2005 17,11 10,71

2006 6,60 - 10,51

2007 6,59 - 0,01

Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Timur( diolah )

4.2.5. Perkembangan Jumlah Penduduk

Perkembangan Jumlah Penduduk dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5 yang menjelaskan bahwa pada tahun 1993 sampai 2007, Perkembangan terbesar Jumlah Penduduk pada tahun 2004 sebesar 2.78 % dan terendah sebesar -0,67 % terjadi pada tahun 2000, Jumlah Penduduk terbesar pada tahun 2007 sebesar 225642,0 ribu jiwa dan Jumlah Penduduk yang terendah yaitu pada tahun 1993 sebesar 189135,6 ribu jiwa.


(59)

Tabel.5. Perkembangan Jumlah Penduduk Tahun 1993-2007

Tahun Jumlah Penduduk

(Ribu Jiwa)

Perkembangan ( % )

1993 189135,6 -

1994 192216,5 1,62

1995 195283,2 1,59

1996 198320,0 1,55

1997 201353,1 1,52

1998 204392,5 1,50

1999 206517,0 1,03

2000 205132,0 - 0,67

2001 206835,0 0,83

2002 209468,0 1,27

2003 211956,0 1,18

2004 217854,0 2,78

2005 219852,0 0,91

2006 222192,0 1,06

2007 225642,0 1,55

Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Timur( diolah )

4.3. Hasil Analisis Asumsi Regresi Klasik (BLUE / Best Linier Unbiased Estimator).

Agar dapat diperoleh hasil estimasi yang BLUE (Best Linier Unbiased

Estimator) atau perkiraan linier tidak bias yang terbaik maka estimasi tersebut harus memenuhi beberapa asumsi yang berkaitan. Apabila salah satu asumsi tersebut dilanggar, maka persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE, sehingga pengambilan keputusan melalui uji F dan uji t menjadi bias. Dalam hal ini harus dihindarkan terjadinya kasus-kasus sebagai berikut :

1. Autokorelasi

Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai “korelasi antara data observasi yang diurutkan berdasarkan urut waktu (data time series) atau data yang diambil pada waktu tertentu (data cross-sectional)” (Gujarati, 1995:201). Untuk mengujji variabel-variabel yang diteliti apakah terjadi autokorelasi atau


(60)

tidak dapat digunakan uji Durbin Watson, yaitu dengan cara membandingkan nilai Durbin Watson yang dihitung dengan nilai Durbin Watson (dL dan du) dalam tabel. Distribusi penetuan keputusan dimulai dari 0 (nol) sampai 4 (empat).

Kaidah keputusan dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Jika d lebih Makanan dan Minuman daripada dL atau lebih besar daripada

(4-dL), maka hipotesis nol ditolak yang berarti terdapat autokorelasi.

2. Jika d teletak antara dU dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima yang

berarti tidak ada autokorelasi.

3. Jika nilai d terletak antara dL dan dU atau antara (4-dL) dan (4-dU) maka

uji Durbin-Watson tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti, untuk nilai-nilai ini tidak dapat disimpulkan ada tidaknya autokorelasi di antara faktor-faktor penganggu.

Untuk mengetahui ada tidaknya gejala autokorelasi dalam model penelitian maka perlu dilihat nilai DW tabel. Diketahui jumlah variabel bebas adalah 4 (k=4) dan banyaknya data adalah (n=15) sehingga diperoleh nilai DW tabel adalah sebesar dL = 0,688 dan dU = 1,977.


(61)

Gambar 11. Kurva Statistik Durbin Watson

Daerah Daerah Daerah Daerah

Kritis Ketidak- Terima Ho Ketidak- Kritis pastian pastian

Tolak Tidak ada Tolak Ho autokorelasi Ho

0 dL= 0,688 dU = 1,977 (4-dU) = 3,023 (4-dL) = 3,023 d

1,538

Sumber : Lampiran 2 dan 7

Berdasarkan hasil analisis, maka dalam model regresi ini tidak terjadi gejala autokorelasi karena nilai DW tes yang diperoleh adalah sebesar 1,538 berada pada daerah antara dL dan dU yang berarti berada dalam daerah ketidak pastian.

2. Multikolinier

Multikolinieritas berarti ada hubungan linier yang “sempurna” atau pasti di antara beberapa atau semua variabel independen dari model regresi.

Dari dugaan adanya multikolinieritas tersebut maka perlu adanya pembuktian secara statistik ada atau tidaknya gejala multikolinier dengan cara

menghitung Variance Inflation Factor (VIF). VIF menyatakan tingkat

“pembengkakan” varians. Apabila VIF lebih besar dari 10, hal ini berarti terdapat multikolinier pada persamaan regresi linier.


(62)

Adapun hasil yang diperoleh setelah diadakan pengujian analisis regresi linier berganda diketahui bahwa dari keempat variabel yang dianalisis dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6 : Tes Multikolinier TOLERANCE VIF Ketentuan KETERANGAN

0,269 3,717 ≤ 10 Tidak terjadi Multikolinier

0,235 4,259 ≤10 Tidak terjadi Multikolinier

0,784 1,276 ≤10 Tidak terjadi Multikolinier

0,187 5,348 ≤10 Tidak terjadi Multikolinier

Sumber : Lampiran 3

3. Heterokedastisitas

Pada regresi linier nilai residual tidak boleh ada hubungan dengan variabel bebas (X). Hal ini bisa diidentifikasikan dengan menghitung korelasi rank spearman antara residual dengan seluruh variabel bebas. Pembuktian adanya heterokedastisitas dilihat pada tabel dibawah ini.


(63)

Tabel 7. Tes Heterokedastisitas dengan Korelasi Rank Spearman Korelasi

Residual Simpangan

Baku

Spearman's rho Residual Simpangan Baku Koefisien Korelasi 1000

Sig. (2-tailed) -

N 15

Kurs Valuta Asing (X1) Koefisien Korelasi .318

Sig. (2-tailed) .248

N 15

Pendapatan Perkapita (X2) Koefisien Korelasi .143

Sig. (2-tailed) .612

N 15

Tingkat Inflasi (X3) Koefisien Korelasi .375

Sig. (2-tailed) .168

N 15

Jumlah Penduduk (X4) Koefisien Korelasi .036

Sig. (2-tailed) .899

N 15

Sumber : Lampiran 4.

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh tingkat signifikansi koefisien

korelasi rank spearman untuk variabel bebas X1 sebesar 0,248; X2 sebesar

0,612; X3 sebesar 0,168 dan X4 sebesar 0,899 terhadap residual lebih besar

dari 0,05 (tidak signifikan) sehingga tidak mempunyai korelasi yang berarti antara nilai residual dengan variabel yang menjelaskan. Jadi dapat disimpulkan persamaan tersebut tidak terjadi heterokedastisitas.

Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan diatas dapat disimpulkan bahwa pada model penelitian ini tidak terjadi pelanggaran asumsi klasik.


(1)

Berdasarkan pehitungan diperoleh t-hitung sebesar 0,267 < t tabel sebesar 2,228 maka Ho di terima dan Ha di tolak, pada level signifikan 5 %, sehingga secara parsial Faktor Jumlah Penduduk (X4) tidak

berpengaruh secara nyata positif terhadap Impor Kendaraan Bermotor (Y). hal ini didukung juga dengan nilai signifikansi dari Jumlah Penduduk (X4)

sebesar 0,795 yang lebih besar dari 0,05.

Nilai r2 parsial untuk variabel Jumlah Penduduk sebesar 0,007 yang artinya Jumlah Penduduk (X4) secara parsial mampu menjelaskan

variabel terikat Impor Kendaraan Bermotor (Y) sebesar 50,1 %, sedangkan sisanya 42,9 % tidak mampu dijelaskan oleh variabel tersebut.

Kemudian untuk mengetahui variabel mana yang berpengaruh paling dominan empat variabel bebas terhadap Impor Kendaraan Bermotor di Indonesia : Kurs Valuta Asing (X1), Pendapatan Perkapita (X2),

Tingkat Inflasi (X3), dan Jumlah Penduduk (X4) dapat diketahui dengan

melihat koefisien determinasi parsial yang paling besar, dimana dalam perhitungan ditunjukkan oleh variabel Kurs Valuta Asing dengan koefisien determinasi parsial (r2) sebesar 0,364 atau sebesar 36,4 %.

4.3.3. Pembahasan

Dengan melihat hasil regresi yang didapat maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk Impor Kendaraan Bermotor :

Kurs Valuta Asing berpengaruh secara nyata (signifikan) terhadap Impor Kendaraan Bermotor. Hal ini disebabkan karena naik turunnya Kurs Valuta Asing


(2)

akan mempengaruhi nilai harga kendaraan bermotor yang di promosikan dealer terhadap konsumen.

Pendapatan Perkapita tidak berpengaruh secara nyata (tidak signifikan) terhadap Impor Kendaraan Bermotor. Hal ini disebabkan karena naik turunnya pendapatan perkapita tidak mempengaruhi konsumen yang membeli kendaraan bermotor dari negara Jepang di karenakan penduduk di Indonesia telah fanatik merk dari Jepang dari pada dari negara Cina maupun dari negara eropa.

Tingkat Inflasi tidak berpengaruh nyata (tidak signifikan) terhadap Impor Kendaraan Bermotor. Hal ini disebabkan karena naik turunnya inflasi tidak berpengaruh terhadap pembelian kendaraan bermotor dari negara jepang hal ini disebabkan kemudahan-kemudahan yang diberikan kepada konsumen untuk membeli motor dengan berbagai cara yakni dengan memberikan uang muka didalam membeli motor, banyak lising yang masuk di Indonesia sehingga mempermudah untuk membeli motor, persyaratan untuk membeli juga tidak begitu sulit sehingga banyak konsumen yang membeli kendaraan bermotor.

Jumlah Penduduk tidak berpengaruh nyata (tidak signifikan) terhadap Impor Kendaraan Bermotor . Hal ini disebabkan karena jumlah penduduk di Indonesia fanatik dengan merk kendaraan bermotor dari Jepang dan semakin mudahnya untuk membeli kendaraan bermotor sehingga penduduk lebih mudah untuk mendapatkan kendaraan bermotor.


(3)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan pada bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Setelah dilakukan uji statistik untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel bebas Kurs Valuta Asing (X1), Pendapatan Perkapita (X2), Tingkat

Inflasi (X3) dan Jumlah Penduduk (X4) terhadap variabel terikatnya Impor

Kendaraan Bermotor (Y) yang berati bahwa secara keseluruhan faktor-faktor variabel bebas berpengaruh secara simultan dan nyata terhadap Impor Kendaraan Bermotor.

2. Pengujian secara parsial atau individu Kurs Valuta Asing (X1) terhadap Impor

Kendaraan Bermotor (Y) berpengaruh secara nyata dan negatif terhadap Impor Kendaraan Bermotor (Y). Hal ini disebabkan karena naik turunnya Kurs Valuta Asing akan mempengaruhi nilai harga kendaraan bermotor yang di promosikan dealer terhadap konsumen.

3. Pengujian secara parsial atau individu Pendapatan Perkapita (X2) terhadap Impor

Kendaraan Bermotor (Y) tidak berpengaruh secara nyata positif terhadap Impor Kendaraan Bermotor (Y). Hal ini disebabkan naik turunnya pendapatan perkapita tidak mempengaruhi konsumen yang membeli kendaraan bermotor dari negara Jepang di karenakan penduduk di Indonesia telah fanatik merk dari Jepang dari pada dari negara Cina maupun dari negara eropa.


(4)

64

4. Pengujian secara parsial atau individu Tingkat Inflasi (X3) terhadap Impor

Kendaraan Bermotor (Y) tidak berpengaruh secara nyata negatif terhadap Impor Kendaraan Bermotor (Y). Hal ini disebabakan karena naik turunnya inflasi tidak berpengaruh terhadap pembelian kendaraan bermotor dari negara jepang hal ini disebabkan kemudahan-kemudahan yang diberikan kepada konsumen untuk membeli motor dengan berbagai cara yakni dengan memberikan uang muka didalam membeli motor, banyak lising yang masuk di Indonesia sehingga mempermudah untuk membeli motor, persyaratan untuk membeli juga tidak begitu sulit sehingga banyak konsumen yang membeli kendaraan bermotor.

5. Pengujian secara parsial atau individu Jumlah Penduduk (X4) terhadap Impor

Kendaraan Bermotor (Y) tidak berpengaruh secara nyata terhadap Impor Kendaraan Bermotor (Y). Hal ini disebabkan karena jumlah penduduk di Indonesia fanatik dengan merk kendaraan bermotor dari Jepang dan semakin mudahnya untuk membeli kendaraan bermotor sehingga penduduk lebih mudah untuk mendapatkan kendaraan bermotor.

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka berikut ini diketahui beberapa saran sebagai bahan pertimbangan sebagai berikut :

1. Pemerintah dapat mengambil dan menentukan kebijakan yang akan ditempuh terutama yang terkait dengan peningkatan impor motor dan mobil.

2. Pemerintah membuat kebijakaan moneter agar menjaga perkembangan ekonomi makro tetap stabil agar banyak investor yang masuk untuk menanamkan modalnya.


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1998, “Indikator Perdagangan Internasional”, Badan Pusat Statistik.

Boediono, 1995, “Ekonomi Moneter”, Penerbit BPFE, Yogyakarta

Gujarati, 1995, “Basic Econometric, Third Edition, Mc Graw-Hill, Inc.

Rosyidi, 1997, “Pengantar Teori Ekonomi, Pendekatan Kepada Teori Mikro

dan Makro” Penerbit rajawali Pers, Jakarta. Hal.295

Sukirno, 1994, “Ekonomi Pembangunan : Proses Masalah dan Dasar

Kebijaksanaan.” Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia,

Jakarta.

Sukirno, 1995, “Pengantar Teori Ekonom”, edisi kedua, Raka Erafindo Persada, PT, Jakarta.

Supranto, 2001, “Ekonometrik”, Buku Satu, FEUI, Jakarta.

Sudjana, 1999, “Statistik Ekonomi dan Niaga”, Penerbit Tarsito, Bandung.

Lestari, 1999, “Faktor-faktor yang mempengaruhi Ekspor Teh ke Amerika

Serikat”, Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa

Timur.

Harsiastuti, 1999, “Faktor-faktor yang mempengaruhi Ekspor Kopi Indonesia

ke Amerika Serikat”. Universitas Pembangunan Nasional

“VETERAN” Jawa Timur.

Jumiati, 2002, “Analisis penawaran – permintaan dan ekspor sepeda motor

Indonesia, suplly demand analyses and export of Indonesia Tea”,

Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur.


(6)

Suwarno dan Martha, 2002, “Usaha Peningkatan ekspor udang di kabupaten

gresik”, Jurnal Penelitian Ilmu Ekonomi, Vol. 2 No. 4, September

2002.

Fahlevi, 2003, “Analisis Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Ekspor

Kayu Lapis Jatim ke Jepang”, Universitas Pembangunan Nasional