PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang


Budaya dan lanskap Indonesia saat ini adalah gabungan dari berbagai interaksi warisan alam, budaya, dan sejarah yang sangat beragam. Pembentuk
keragaman ini tidak hanya dari akar budaya lokal atau nasional, tetapi juga dari dinamisnya intrusi beragam etnis pendatang dari berbagai negara yang membawa
trend budayanya masing-masing. Kekayaan ini menyumbangkan berbagai karakter dari berbagai aspek khususnya nilai karakter lanskap budaya. Suatu
kebudayaan dari masyarakat atau komunitas lokal akan semakin sulit diidentifikasi karakternya apabila terjadi penurunan nilai budaya atau sejarah dan
juga nilai fisik alami yang terkandung, mengingat interaksi antar beragam kelompok manusia dan lanskap semakin intensif dan beragam bentuknya. Oleh
karena hal di atas, penting untuk dilakukan kajian mengenai interaksi manusia dan lanskap, yang selanjutnya disebut sebagai lanskap budaya, sebagai bahan dasar
pengembangan berkelanjutan dan upaya pelestarian dari berbagai nilai yang terkandung didalamnya.
Danau Maninjau di Sumatera Barat merupakan danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut. Luas Danau Maninjau sekitar
99,5 km² atau 9950 Ha, dengan kedalaman rata-rata 157 m, volume air 10.4 km³, dan keliling 66 km. Danau Maninjau berbentuk cekungan yang dikelilingi oleh
bukit-bukit yang tersusun seperti dinding. Kekayaan yang tersimpan di alam Maninjau beserta danaunya membuat hubungan antara manusia dan alam semakin
dekat. Lahan subur, iklim yang nyaman, sumber makanan dan air yang berlimpah, serta banyak kekayaan lainnya. Kebutuhan akan sumber daya alam di sini pada
awalnya terbentuk hanya atas alasan bertahan hidup, tetapi perkembangan zaman membuat pola hidup terus berkembang dan membentuk beragam alasan lainnya.
Hal tersebut membentuk beragam karakter lanskap budaya yang tumbuh dan berkembang di lingkar Danau Maninjau hingga saat ini.
Asal-muasal masyarakat Maninjau berasal dari perantau yang turun dari puncak Gunung Marapi. Masyarakat ini merupakan sebagian dari suku Minang
yang sampai ke Puncak Lawang di atas Maninjau. Sebelum memanfaatkan kekayaan alam dan memulai hidup di sekitar Danau Maninjau, mereka meninjau
kelayakan kekayaan alam dengan hati-hati dan sangat bijak. Filosofi dasar „Alam
takambang jadi guru ‟ dipegang dan diaplikasikan dengan baik dalam bertindak.
Mereka meninjau cukup lama dari bukit-bukit yang tinggi di batas luar Maninjau, meninjau alam di bawah apakah akan layak dihuni dan tidak membahayakan
kehidupannya. Hanya lahan-lahan yang cukup datar dipilih sebagai lahan budidaya. Hutan primer di bukit-bukit terjal yang mengelilingi danau dijaga agar
tidak terjadi longsor. Sumber protein dari danau telah cukup melimpah dengan beragam spesies endemik akan meledak populasinya pada waktu-waktu tertentu,
sehingga dapat dengan mudah dipanen tanpa perlu budidaya atau interaksi intensif pada danau, sehingga kejernihan danau tetap terjaga. Ekosistem darat dan danau
saling mendukung. Pola budaya yang sangat berbeda terasa saat ini. Masyakat di lingkar Danau
Manin jau saat ini tampaknya sudah jauh meninggalkan akar budaya „meninjau
alam‟ yang dulu dilakukan oleh para pendahulu. Intensitas interaksi derajat pengubahan lanskap alami oleh masyarakat terhadap lanskap lingkar Danau
Maninjau semakin tinggi dari masa ke masa. Pemukiman dan lahan-lahan budidaya dikembangkan pada lahan-lahan curam bekas hutan yang menyangga
tebing dan pada bibir danau. Interaksi langsung tidak hanya dilakukan di daratan tetapi juga pada danau, dengan budidaya sistem jala apung atau keramba yang
semakin intensif dilakukan. Hal ini mengakibatkan akumulasi unsur hara berlebihan pada air danau dan menyaingi populasi spesies endemik Danau
Maninjau. Inilah potret lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau saat ini dan keberlanjutannya sangat mengkhawatirkan. Permasalahan tersebut sangat
mempengaruhi pola sosial dan ekonomi masyarakat. Alam sebagai tempat hidup dan bepijak bagi manusia akan semakin sempit. Daya dukung lingkungan alam
semakin menurun, jika tidak ada kesadaran, kontrol, dan perhatian pada aspek- aspek yang mempengaruhi keberlanjutannya.
Kekhawatiran terhadap keberlanjutan lanskap budaya di masa yang akan datang adalah latar belakang kajian lanskap budaya di wilayah lingkar Danau
Maninjau ini. Sangat penting untuk mengetahui berbagai karakter dan menilai keberlanjutan lanskap budaya yang terbentuk dan berkembang sebagai dasar
pedoman atau rekomendasi pemerintah, masyarakat, dan semua pihak terkait
dalam menentukan arah perencanaan dan pengembangan lanskap lingkar Danau Maninjau secara berkelanjutan.

1.2. Tujuan


Tujuan penelitian ini adalah: 1.
Mengidentifikasi unit lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau, 2.
Menganalisis keberlanjutan lanskap budaya tersebut, 3.
Menyusun rekomendasi pengembangan dan pelestarian lanskap di lingkar Danau Maninjau yang berkelanjutan.

1.3. Manfaat


Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah: 1.
Menjadi bahan masukan dan rekomendasi bagi Pemerintah Kabupaten Agam, atau pemerintah setempat, beserta pihak-pihak yang terkait dalam
merencanakan, mengembangkan, dan mengelola lanskap Danau Maninjau 2.
Sebagai informasi yang melengkapi pengetahuan dan menambah wawasan tentang lanskap badaya Danau Maninjau dan membuka kesadaran untuk
menjaga atau memelihara keberlanjutannya.

1.4. Kerangka Pikir


Lanskap alami Danau Maninjau, suatu dasar ekologis suatu ekosistem yang akan berkembang didalamnya, tidak akan pernah lepas dari sentuhan-sentuhan
manusia dengan aspek-aspek sosial ekonomi dan budaya spiritual yang dibawanya. Aspek ekologis, sosial-ekonomi, dan spiritual budaya merupakan tiga
pilar keberlanjutan yang juga dijadikan dasar oleh Global Ecovillage Network GEN sebagai acuan dalam metode Penilaian Keberlanjutan Masyarakat yang
umumnya dikenal dengan Community Sustainability Assessment CSA. Hasil interaksi antara manusia dan alam ini disebut sebagai lanskap budaya. Lanskap
budaya Danau Maninjau seiring perkembangan zaman dan pertumbuhannya akan terus membawa dampak terhadap keberlanjutannya. Dampak yang paling
berpengaruh dalam hal ini adalah penurunan kualitas budaya dan juga kualitas fisik lanskapnya. Hal tersebut akan menjadi dasar kajian pada penelitian ini. Hasil
analisis atau kajian ini berupa rekomendasi dasar pertimbangan pengembangan,
pelestarian, dan juga pengelolaan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau yang berkelanjutan Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Budaya


Dokumen yang terkait

Dokumen baru