IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KELAS OLAHRAGA DI SMA NEGERI 1 SEWON.

(1)

i

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KELAS OLAHRAGA DI SMA NEGERI 1 SEWON

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Alfiriani Rusmita Sukardi NIM 12110244007

PROGRAM STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN JURUSAN FILSAFAT DAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


(2)

(3)

(4)

(5)

v MOTTO

"I hated every minute of training, but I said, 'Don't quit. Suffer now and live the rest of your life as a champion."


(6)

vi

PERSEMBAHAN

Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan kehadirat-Nya yang telah memberikan nikmat serta anugerah-Nya, karya ini saya persembahkan untuk :

1. Orang tua saya yang tercinta, Ayahanda Sukardi dan Ibunda Jemanem yang selalu mencurahkan seluruh kasih sayang, cinta, doa serta dukungan sehingga penulis berhasil menyusun karya tulis ini.


(7)

vii

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KELAS OLAHRAGA DI SMA NEGERI 1 SEWON

Oleh

Alfiriani Rusmita Sukardi NIM 12110244007

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang implementasi kebijakan kelas olahraga di SMA Negeri 1 Sewon, yang isinya tentang tujuan Kelas Bakat Istimewa Olahraga (K-BIO), program K-BIO, Faktor pendukung K-BIO dan Faktor penghambat K-BIO.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa (atlit), pelatih dan kepala sekolah. Setingpenelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Sewon. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif atau berkaitan satu sama lain hingga data yang diperoleh jenuh, yaitu dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, dan penyajian data. Keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Kebijakan Kelas Olahraga diamanatkan oleh Dinas Pendidikan dan Olahraga Propinsi DIY . 2) Implementasi kebijakan kelas olahraga sebagai berikut; a) Jam pelajaran olahraga K-BIO dimulai pada jam pertama hingga jam ketiga pada hari selasa dan kamis. b) Penerimaan siswa K-BIO SMA Negeri 1 Sewon selain Nilai UN, dilakukan tes khusus tentang cabang olahraga yang dikuasai siswa; tes kesehatan dan tes kebugaran; tes fisik; tes wawancara.

Kata kunci: Implementasi Kebijakan, Kebijakan Kelas Olahraga, Kelas Olahraga di SMA


(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis masih diberikan kesempatan, kekuatan dan kemampuan untuk

menyelesaikan proses penyusunan skripsi yang berjudul “Implementasi Kebijakan

Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon” ini dengan baik dan lancar. Skripsi ini adalah salah satu syarat untuk memenuhi gelar sarjana pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak dapat terwujud tanpa adanya kerja sama dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, atas segala kebijakan dan kebijaksanaanya memberikan kemudahan dalam kegiatan penyusunan belajar di kampus.

2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, yang telah memberikan kemudahan dalam penyusunan skripsi ini.

3. Ketua Jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan, Program Studi Kebijakan Pendidikan, yang telah memberi semangat dan kelancaran dalam pembuatan skripsi ini.

4. Prof. Dr. Farida Hanum, M.Si., selaku dosen pembimbing yang telah berkenan memberikan bimbingan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan skripsi ini dengan baik.

5. Dr. Mami Hajaroh, M.Pd., selaku pembimbing akademik yang telah membimbing akademik dari awal hingga akhir proses studi.

6. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakartayang telah memberikan pengalaman serta ilmu yang bermanfaat.

7. Bapak Drs. Marsudiyana, selaku kepala sekolah SMA Negeri 1 Sewon yang telah memberikan izin dan kemudahan selama proses penelitian.

8. Kedua orangtuaku yang telah memberikan doa, semangat, kasih sayang, serta dukungannya.


(9)

ix

9. Sahabat-sahabatku yang selalu mendukung dan memberikan semangat. 10.Kerabat Program Studi Kebijakan Pendidikan angkatan 2012.

Semoga semangat, motivasi, bantuan, bimbingan, dan dukungan yang telah diberikan mendapat balasan setimpal dari Allah SWT. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Yogyakarta, 25 Oktober 2016

Penulis


(10)

x

DAFTAR ISI

hal

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR BAGAN ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Batasan Masalah ... 8

D. Rumusan Masalah ... 8

E. Tujuan Penelitian ... 9

F. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN TEORI A. Kebijakan Pendidikan ... 11

1. Pengertian Kebijakan Pendidikan ... 11

2. Aspek-aspek yang tercakup dalam kebijakan pendidikan ... 12

3. Implementasi Kebijakan Pendidikan ... 16

B. Kebijakan Kelas Olahraga ... 18


(11)

xi

D. Penelitian yang relevan ... 29

E. Kerangka berfikir ... 33

F. Pertanyaan penelitian ... 34

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 36

B. Seting Penelitian ... 36

C. Subjek dan Objek Penelitian ... 37

D. Teknik Pengumpulan Data ... 37

1. Observasi... 37

2. Wawancara ... 38

3. Dokumentasi ... 38

E. Instrumen Penelitian ... 38

1. Pedoman Observasi ... 39

2. Pedoman Wawancara ... 40

3. Pedoman Dokumentasi ... 41

F. Teknik Analisis Data ... 41

1. Reduksi Data (Data Reduction) ... 41

2. Penyajian Data (Data Display) ... 42

3. Verifikasi (Clonclusing Drawing) ... 42

G. Keabsahan Data... 43

1. Triangulasi Sumber ... 43

2. Triangulasi Teknik ... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil SMA Negeri 1 Sewon ... 45

1. Visi Misi SMA Negeri 1 Sewon ... 45

2. Sejarah SMA Negeri 1 Sewon ... 47

3. Lokasi SMA Negeri 1 Sewon ... 49

4. Sumber Daya SMA Negeri 1 Sewon ... 51

a. Peserta didik ... 51

b. Pendidik dan Tenaga Kependidikan... 53


(12)

xii

B. Profil Kelas Olahraga ... 59

1. Tujuan kelas olahraga ... 59

2. Sejarah kelas olahraga... 61

3. Dasar Hukum ... 63

C. Hasil Penelitian ... 64

1. Kebijakan Kelas Olahraga ... 64

2. Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga ... 70

a. Jam pelajaran olahraga K-BIO ... 70

b. Jam pelajaran umum ... 74

c. Prosedur Penerimaan siswa K-BIO ... 75

3. Faktor Pendukung Implementasi Kebijakan K-BIO ... 78

4. Faktor Penghambat Implementasi Kebijakan K-BIO ... 79

D. Pembahasan ... 81

1. Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon ... 81

2. Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga ... 82

3. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga... 87

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 88

B. Saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 91


(13)

xiii

DAFTAR BAGAN

hal Bagan 1. Kerangka Berfikir ... 33 Bagan 2. Model “Miles and Huberman” ... 43


(14)

xiv

DAFTAR TABEL

hal

Tabel 1. Kisi-kisi pedoman observasi ... 39

Tabel 2. Kisi-kisi pedoman wawancara ... 40

Tabel 3. Kisi- kisi pedoman dokumentasi ... 41

Tabel 4. Jumlah Siswa tahun 2013/2014 hingga 2015/2016 ... 52

Tabel 5. Hasil UN tahun pelajaran 2015/2016 program MIPA ... 53


(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

hal

Gambar 1. Kelas Voli Putra ... 98

Gambar 2. Kelas Sepak Bola ... 98

Gambar 3. Kelas Basket ... 98

Gambar 4. Briefing Pelatih ... 98

Gambar 5. Tes Kebugaran Putri ... 98

Gambar 6. Tes Kebugaran Putra ... 98

Gambar 7. Tes Sit Up ... 99

Gambar 8. Tes Push Up ... 99

Gambar 9. Tes Kesehatan ... 99

Gambar 10. Mengukur Tinggi Badan ... 99

Gambar 11. Tes Cabang Olahraga ... 99


(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

hal

Lampiran 1. Catatan Lapangan ... 91

Lampiran 2. Foto Kegiatan K-BIO ... 97

Lampiran 3. Reduksi data Hasil Wawancara ... 99

Lampiran 4. Transkip Wawancara ... 105

Lampiran 5. Daftar Siswa Berprestasi ... 122

Lampiran 6. Struktur Kurikulum K-BIO ... 127

Lampiran 7. Prosedur PPDB K-BIO ... 130

Lampiran 8. Piagam Penghargaan Cabor Basket ... 131

Lampiran 9. Piagam Penghargaan Cabor Voli Putra ... 132

Lampiran 10. Piagam Penghargaan Cabor Sepak Bola ... 133

Lampiran 11. Daftar Guru SMA Negeri 1 Sewon ... 134

Lampiran 12. Kalender akademik 2015/2016 SMA N 1 Sewon ... 135

Lampiran 13. Jadwal Pelajaran 2015/2016 SMA N 1 Sewon... 139

Lampiran 14. Surat Permohonan Izin Observasi dari Fakultas Ilmu Pendidikan UNY ... 143

Lampiran 15. Surat Permohonan Izin Penelitian dari Fakultas Ilmu Pendidikan UNY ... 144

Lampiran 16. Surat Izin Melakukan Penelitian dari BAPPEDA Bantul ... 145

Lampiran 17. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian dari SMA Negeri 1 Sewon ... 146


(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada hakekatnya suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus menerus. (Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, 2007)

Dasar pendidikan adalah landasan tempat berpijak atau sandaran dari pada dilakukannya suatu perbuatan. Dengan demikian, yang dijadikan landasan atau sandaran suatu perbuatan itu sudah ada dan mempunyai kekuatan hukum. Oleh karenanya tidaklah dapat dibenarkan pertanggungjawaban suatu tindakan/usaha yang berpijak pada landasan yang dicari-cari alasannya untuk kepentingan diri atau golongan. Ki Hajar Dewantara (Soeganda, 1981) kemukakan pendapat Ki Hajar Dewantara, merumuskan pengertian, “Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya (curtureel nasional) dan ditujukan untuk keperluan peri-kehidupan (maatschap pelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia”

Tugas pendidikan yang terutama memberi bimbingan agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berlangsung secara wajar dan optimal. Agar tindakan pendidikan yang dilaksanakan dapat berhasil guna dan berdaya guna, maka pendidik harus mempunyai pengetahuan tentang hukum dasar


(18)

2

perkembangan kejiwaan manusia yang terdiri dari: Tiap anak memiliki sifat kepribadian yang unik. Pada setiap anak sifat khas yang dimiliki oleh dirinya sendiri dan tidak dimiliki oleh anak yang lain. Sifat kepribadian tiap-tiap anak terbentuk karena peranan tiga faktor yaitu faktor keturunan/heriditas, faktor lingkungan/invironment, dan faktor diri/self.

Dalam pendidikan terdiri dari pendidikan formal, non formal dan informal. Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah formal pada umumnya. Pendidikan non formal adalah pendidikan yang diselenggarakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan Informal merupakan jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.

Pendidikan olahraga dalam pendidikan formal merupakan bagian dari proses dan pencapaian tujuan pembangunan nasional sehingga keberadaan dan peranan olahraga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara harus ditempatkan pada kedudukan yang jelas dalam sistem hukum nasional (UU Nomor 3 tahun 2005). Pendidikan tidak hanya berfokus pada bidang akademik saja, tetapi juga dalam bidang non fisik seperti bidang keolahragaan. Hal ini dikarenakan bakat dan minat seorang anak tidak hanya dalam bidang akademik saja tetapi juga dalam bidang non akademik. Untuk mengapresiasi hal tersebut maka SMA Negeri 1 Sewon membuka kelas khusus olahraga untuk para siswa yang berbakat untuk mengembangkan potensi dalam bidang olahraga.

Menurut Sumaryanto (2010: 4) Penyelenggaraan Pendidikan Khusus bagi Peserta didik bakat Istimewa (PDBI) olahraga bertujuan untuk: Memberikan


(19)

3

kesempatan kepada PDBI olahraga untuk mengikuti program pendidikan sesuai dengan potensi keterampilan yang dimilikinya; Memenuhi hak asasi PDBI olahraga sesuai kebutuhan pendidikan bagi dirinya; Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran bagi PDBI olahraga; Membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; Membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketrampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Membangun olahraga berarti membangun sebuah peradaban masyarakat yang mengedepankan keunggulan objektif, kompetitif dan sportivitas. Dengan demikian, memajukan masa depan olahraga tidak dapat ditempuh dengan hanya sekadar memperjuangkan usaha instan mencetak medali kemenangan. Membangun olahraga berarti membangun segala sesuatu yang terkait dengan dimensi lengkap keunggulan masyarakat. Keunggulan tersebut hanya dapat dicapai melalui usaha keras, diantaranya dengan menguasai iptek olahraga.

Salah satu aspek yang paling mendasar adalah usaha sistematis untuk membangun partisipasi masyarakat dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga. Membumikan nilai positif iptek olahraga hanya dapat dilakukan dengan mendorong terjadinya partisipasi masyarakat yang cinta olahraga dan melek iptek. Gerakan Sport for All (Olahraga untuk semua orang) yang telah dirintis mulai tahun 1980-an di Indonesia sudah seharusnya


(20)

4

diimplementasikan lebih baik lagi ke depan. Gerakan nasional yang melahirkan panji olahraga: “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” tersebut harus mampu membumi dan mengakar hingga mengkondisikan terbentuknya budaya penguasaan iptek olahraga di masyarakat.

Gerakan Sport for All di Indonesia lebih dikenal dengan “Gerakan Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”. Gerakan tersebut secara resmi pertama kali dilontarkan oleh Presiden RI di depan sidang DPR RI pada tanggal 15 Agustus 1983. Pada awalnya, gerakan tersebut dapat disambut dan dilaksanakan oleh masyarakat secara baik. Hal demikian dapat terjadi karena secara bersamaan pemerintah juga membentuk Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (sekarang menjadi Kementrian Pemuda dan Olahraga). Kementrian tersebut yang kemudian merancang implementasi gerakan memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat di seluruh Indonesia. Pada tahun yang sama pemerintah juga menetapkan tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional (Haornas)

Motivasi merupakan keterampilan mental yang bersifat mendasar yang perlu dimiliki oleh atlit. Oleh karena itu, motivasi yang harus dimiliki atlit adalah motivasi berprestasi, sebab atlit yang memiliki motivasi berprestasi akan berpacu dengan keunggulan baik keunggulan diri sendiri, keunggulan oranglain, bahkan untuk mencapai kesempurnaan dalam menjalankan tugas latihan maupun kompetisi. Dasar pemikiran tersebut harus dijadikan pegangan bahwa motivasi berprestasi sangat efektif dimiliki atlit dalam setiap aktivitas. Motivasi memegang peranan penting untuk membantu menentukan berhasil tidaknya atlit dalam proses


(21)

5

latihan maupun pertandingan. Oleh karena itu, para atlit harus menunjukkan motivasi yang tinggi dalam segala aktivitasnya terutama selama latihan dan pertandingan. Jika atlit memiliki kemauan kuat untuk sukses, 50 persen kesuksesan ada ditangan. Apabila ditambah berjuang lebih keras lagi secara nyata, kesuksesan 100 persen akan menjadi milik atlit yang bersangkutan (Wongso, 2010).

Kelas olahraga di SMA Negeri 1 Sewon memberikan warna tersendiri bagi sekolah tersebut. Hal ini dapat dilihat dengan berbagai tropi yang diterima oleh sekolah dalam bidang olahraga secara rutin baik tingkat daerah maupun nasional. Siswa kelas olahraga juga mengikuti proses kegiatan belajar mengajar reguler setiap hari diluar jam pelajaran olahraga sehingga siswa mengikuti dua kelas yang berbeda. Hal tersebut membuat siswa menjadi kurang fokus dalam kegiatan belajar mengajar reguler karena mereka lebih memilih kelas olahraga daripada pelajaran reguler yang disediakan oleh sekolah. Selain itu siswa kelas olahraga juga kurang mampu berkompetisi dalam bidang akademik dengan kelas reguler di sekolah sehingga secara akademik mereka kurang diperhitungkan.

Sekolah dan orangtua harus saling bersinergi untuk mendidik anak secara keseluruhan. Dengan adanya kerjasama itu, orangtua dan sekolah akan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari guru dalam hal mendidik anak dan sekolah mampu bekerja sama sebaik-baiknya dengan keluarga untuk memaksimalkan serta memotivasi siswa supaya dapat melaksanakan kelas olahraga dan kelas reguler secara seimbang.


(22)

6

Persoalan membangun olahraga nasional tidak sekadar mengarah pada cara-cara khusus dan instan untuk sebuah prestasi pada cabang olahraga tertentu. Membangun olahraga adalah membangun seluruh sendi keunggulan bangsa, karena membangun olahraga itu sebenarnya adalah membangun karakter kolektif yang menyadarkan pada nilai keunggulan dan daya saing. Dengan demikian, prestasi olahraga yang membanggakan sebenarnya hanya merupakan manifestasi dari sebuah racikan besar keunggulan masyarakat. Dalam sebuah masyarakat yang memiliki karakter “mentalitas budaya prestasi”, maka akan menjadi sebuah prakondisi lahirnya individu dan memiliki karakter mentalitas budaya prestasilah yang akan selalu melahirkan dan memelihara karya-karya prestasi, termasuk karya prestasi olahraga”. Ironisnya, justru itulah yang selama ini kurang teraapresiasi secara memadai dalam masyarakat kita. Beanrkah keterpurukan masyarakat itu ibarat permainan yoyo yang dilempar karena masyarakat kurang memiliki

karakter “mentalitas budaya prestasi?” (Komarudin, 2015).

Selain itu kebijakan kelas olahraga sudah diatur dalam UU Nomor 3 tahun 2005 dan masyarakat belum memahami bagaimana memasyarakatkan olahraga. Sekolah umum pada umumnya masih sedikit yang mengembangkan implementasi kebijakan kelas olahraga sebagai upaya untuk memasyarakatkan olahraga dikarenakan kurang memahami bagaimana mengembangkan potensi olahraga pada peserta didik mereka sehingga masih sedikit sekolah umum baik di tingkat pertama (SMP) maupun menengah atas (SMA) untuk mengimplementasikan kebijakan kelas olahraga secara menyeluruh.


(23)

7

Umumnya sekolah yang memiliki kelas olahraga dapat mendorong siswa-siswanya berprestasi sangat baik dalam bidang olahraga. Terbukti dengan berbagai kompetisi olahraga baik tingkat daerah dan tingkat nasional yang diikuti oleh SMA Negeri 1 Sewon berhasil memperoleh juara dan setiap tahun prestasi tersebut selalu meningkat. Hal ini dikarenakan komitmen bersama antara siswa, pelatih, dan sekolah yang ingin menjadikan sekolah menjadi lebih baik dan motivasi atlit untuk berkembang serta mengembangkan potensi dalam dirinya. Selain itu sekolah juga sangat mendukung kegiatan kelas olahraga dengan cara memberikan sarana dan prasarana sesuai kebutuhan atlit dan pelatih. Selain itu bagaimana dampak dari implementasi kelas olahraga di SMA Negeri 1 Sewon secara akademik terutama siswa kelas olahraga. Hal tersebutlah yang akan digali dan dideskripsikan oleh penelitian ini, artinya penelitian ini akan meneliti Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon, Bantul.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diurai, maka identifikasi masalah yaitu:

1. Sekolah reguler (umum) kurang mampu mengembangkan anak-anak yang berbakat istimewa dalam bidang olahraga.

2. Sekolah umum belum banyak berperan untuk menghasilkan calon atlit Olahraga.

3. Kebijakan Kelas Olahraga kurang dipahami oleh masyarakat dan orangtua siswa


(24)

8

4. Belum banyak sekolah yang memiliki fasilitas untuk bisa membuka kelas olahraga.

5. Beberapa daerah sudah memiliki sekolah yang ada kelas olahraga, tetapi belum banyak diketahui oleh masyarakat.

6. Kebijakan tentang kelas olahraga di sekolah umum telah ditetapkan sejak tahun 2005, tetapi belum banyak sekolah yang mengimplementasikannya. C. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi dan difokuskan pada Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang Masalah, maka Rumusan Masalah yaitu: 1. Bagaimana Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1

Sewon?

2. Program-program apakah yang dilaksanakan dalam mengimplementasikan Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon?

E. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian yaitu:

1. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Implementasi Kebijaka Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon.

2. Untuk mengetahui program-program apa saja yang dilakukan sekolah dalam mengimplementasikan Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon.


(25)

9 F. Manfaat

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan wacana yang berkaitan dengan kebijakan pendidikan serta implementasinya.

2. Manfaat Praktis

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan sebagai berikut :

a. Bagi Sekolah

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk sekolah terutama kepada Kepala Sekolah, Pelatih, dan Staff Sekolah untuk mengembangkan potensi para atlit/siswa berprestasi dalam bidang olahraga dan mampu memberikan warna untuk sekolah. b. Bagi Dinas Pendidikan

Memberikan informasi secara jelas tentang Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon dan sebagai contoh model sekolah kelas olahraga di Kabupaten Bantul.

c. Bagi Siswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membuat para siswa lebih termotivasi dalam mengembangkan potensi diri terutama dalam bidang olahraga.


(26)

10 BAB II KAJIAN TEORI

A. Kebijakan Pendidikan

1. Pengertian Kebijakan Pendidikan

Kebijakan Pendidikan adalah Kebijakan Publik di bidang pendidikan. Sebagaimana dikemukakan oleh Mark Olsen, John Codd, dan Anne-Mariw

O’Neil, Kebijakan Pendidikan merupakan kunci bagi keunggulan, bahkan

eksistensi, bagi negara-negara dalam persaingan global, sehingga kebijakan pendidikan perlu mendapatkan prioritas utama dalam era globalisasi. Salah satu argumen utamanya adalah bahwa globalisasi membawa nilai demokrasi. Demokrasi yang memberikan hasil adalah demokrasi yang didukung oleh pendidikan.

Menurut Margaret E. Goertz (Riant Nugroho, 2008) mengemukakan bahwa kebijakan pendidikan berkenaan dengan efisiensi dan efektivitas anggaran pendidikan. Isu ini menjadi penting dengan meningkatnya kritisisme publik terhadap biaya pendidikan.

Kebijakan pendidikan harus lahir dari hakikat manusia dan hakikat dari proses pendidikan yang melibatkan berbagai konstituantenya yaitu anak, pendidik, serta hubungan intrapersonal di dalam suatu masyarakat yang berbudaya karena nilai-nilai etika. Kebijakan pendidikan yang mengabaikan nilai-nilai konstituantenya merupakan kebijakan pendidikan yang tidak mengakui dan menghormati akan hakikat manusia. Kebijakan pendidikan


(27)

11

tersebut merupakan kebijakan pendidikan yang keliru alias tidak berdasarkan ilmu pendidikan yang benar.

2. Aspek-aspek yang tercakup dalam Kebijakan Pendidikan

1. Kebijakan pendidikan merupakan suatu keseluruhan deliberasi mengenai hakikat manusia sebagai makhluk yang menjadi-manusia dalam lingkungan kemanusiaan. Proses pendidikan sebagai proses pemanusiaan terjadi dalam lingkungan alam serta lingkungan sosialnya. Oleh sebab itu, kebijakan pendidikan merupakan penjabaran dari visi dan misi dari pendidikan dalam masyarakat tertentu.

2. Kebijakan pendidikan dilahirkan dari ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis yaitu kesatuan antara teori dan praktik pendidikan. Oleh sebab itu kebijakan pendidikan meliputi proses analisis kebijakan, perumusan kebijakan, pelaksanaan dan evaluasi.

3. Kebijakan pendidikan haruslah mempunyai validitas dalam perkembangan pribadi serta masyarakat yang memiliki pendidikan itu. Bagi perkembangan individu, validitas kebijakan pendidikan tampak dalam sumbangannya bagi proses pemerdekaan individu dalam pengembangan pribadinya. Validitas sosial dari kebijakan pendidikan tampak dalam sumbangannya bagi perkembangan pribadi individu yang kreatif sehingga dapat mentransformasikan masyarakat serta kebudayaannya.

4. Keterbukaan (openness). Proses pendidikan sebagai proses pemanusiaan terjadi dalam interaksi sosial. Hal ini berarti bahwa pendidikan


(28)

12

merupakan milik masyarakat. Apabila pendidikan itu merupakan milik masyarakat maka suara masyarakat dalam berbagai tingkat perumusan, pelaksanaan dan evaluasi kebijakan pendidikan perlu mendengar suara atau saran-saran dari masyarakat. Hanya dalam masyarakat demokratis yang memiliki keterbukaan dalam kebijakan pendidikan sehingga memberikan manfaat untuk masyarakat.

5. Kebijakan pendidikan didukung oleh riset dan pengembangan. Suatu kebijakan pendidikan bukanlah suatu yang abstrak tetapi yang dapat diimplementasikan. Suatu kebijakan pendidikan merupakan pilihan dari berbagai alternatif kebijakan sehingga perlu dilihat output dari kebijakan tersebut dalam praktik. Melalui riset dan pengembangan melalui eksperimen, maka berbagai kebijakan pendidikan dapat diuji validitasnya sehingga kebijakan pendidikan tersebut dapat direvisi dan dimantapkan. Dengan demikian, suatu kebijakan pendidikan akan terus berkembang memperbaiki diri dalam suatu siklus yang terus menerus.

6. Analisis kebijakan. Dewasa ini analisis kebijakan telah berkembang dengan pesat demikian pula dengan analisis kebijakan pendidikan. Dalam masyarakat modern dewasa ini, pendidikan bukan hanya milik pribadi atau keluarga atau milik masyarakat lokal, tetapi telah merupakan milik masyarakat dan seluruh warga negara. Oleh karena itu kebijakan pendidikan dalam masyarakat modern merupakan bagian dari kebijakan publik.


(29)

13

7. Kebijakan pendidikan ditujukan pada kebutuhan peserta didik. Dalam dunia modern, pendidikan merupakan rebutan partai-partai politik. Kebijakan pendidikan seharusnya diarahkan pada terbentuknya para intelektual organik yang menjadi agen-agen pembaruan dalam masyarakatnya, dalam masyarakat bangsanya dan bukan dalam masyarakat sektarial.

8. Kebijakan pendidikan diarahkan pada terbentuknya masyarakat demokratis. Arkeologi proses pendidikan menunjukkan bahwa proses pendidikan terjadi dalam situasi dialogis. Dari situasi dialogis tersebut pribadi peserta didik semakin berdiri sendiri sehingga tugas pendidik adalah menuntunnya dari belakang (Tut Wuri Handayani) dan pada akhirnya peserta didik akan berdiri sendiri dan mengembangkan pribadinya sebagai pribadi yang kreatif pendukung dan pelaku dalam perubahan masyarakatnya. Ini adalah cikal bakal masyarakat demokratis yang didukung oleh para anggotanya yang bebas dan bertanggungjawab dalam kemajuan masyarakat karena sumbangan pribadi-pribadi yang kreatif dan bertanggung jawab dan didukung oleh masyarakatnya yang menfasilitasi berkembangnya pribadi yang bertanggung jawab itu.

9. Kebijakan pendidikan berkaitan dengan penjabaran misi pendidikan dalam pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Apabila visi pendidikan mencakup rumusan-rumusan yang umum dan abstrak, maka misi pendidikan lebih terarah pada pencapaian tujuan-tujuan pendidikan yang kongkret (stretch goals). Penentuan stretch goals dalam kebijakan


(30)

14

pendidikan bukan berarti mengukung proses pendidikan ke arah yang telah ditentukan. Oleh sebab itu, setiap kebijakan pendidikan haruslah ditopang oleh riset dan pengembangan agar dalam kesamaan arah yang ditentukan oleh stretch goals tersebut memberi peluang kepada peserta didik untuk berkreasi dan bagi lembaga pendidikan untuk berinovasi. Hal ini berarti bahwa lembaga pendidikan (sekolah, universitas) adalah lembaga- lembaga yang otonom, dalam arti memiliki tujuan yang sama namun pencapaian tujuan tersebut tergantung kepada kondisi dan kemampuan lembaga penyelenggaraannya. Dengan demikian, kebijakan pedidikan merupakan hal yang dinamis yang terus menerus berubah namun terarah dengan jelas.

10.Kebijakan pendidikan harus berdasarkan efisiensi. Kebijakan pendidikan bukan semata-mata berupa rumusan verbal mengenai tingkah laku dalam pelaksanaan praksis pendidikan. Kebijakan pendidikan harus dilaksanakan dalam masyarakat, dalam lembaga-lembaga pendidikan. 11.Kebijakan pendidikan bukan berdasar pada kekuasaan tetapi kepada

kebutuhan peserta didik. Kekuasaan pendidikan dalam konteks masyarakat demokratis bukannya untuk menguasai peserta didik, tetapi kekuasaan untuk memfasilitasi tumbuh kembangnya peserta didik sebagai anggota masyarakat yang kreatif dan produktif.

12.Kebijakan pendidikan bukan berdasarkan intuisi atau kebijaksanaan yang irasional. Proses pendidikan merupakan proses pelaksanaan kekuasaan yang intuitif dalam proses pendidikan itu sendiri. Dalam era globalisasi


(31)

15

dewasa ini yang didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan, kebijakan pendidikan intuitif tidak lagi mendapatkan tempatnya.

13.Kejelasan tujuan akan melahirkan kebijakan pendidikan yang tepat. Kebijakan pendidikan yang kurang jelas arahnya akan mengorbankan kepentingan peserta didik. Proses pendidikan adalah proses yang menghormati kebebasan peserta didik. Ujian atau evaluasi pendidikan nasional seharusnya dapat memberikan input bagi verifikasi serta penyesuaian kebijakan-kebijakan pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

14.Kebijakan pendidikan diarahkan bagi pemenuhan kebutuhan peserta didik dan bukan kepuasan birokrat.

3. Implementasi Kebijakan Pendidikan

Implementasi menurut kamus Webster diartikan sebagai to provide the means for carrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); to give practical effect to (menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu). Sehingga implementasi kebijakan merupakan proses menjalankan keputusan kebijakan. Sedangkan Van Meter dan Van Horn mendefinisikan implementasi kebijakan sebagai keseluruhan tindakan yang dilakukan oleh individu-individu/pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan kepada pencapaian tujuan kebijakan yang telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam proses implementasi mencakup tugas-tugas “membentuk suatu ikatan yang memungkinkan arah suatu kebijakan dapat direalisasikan sebagai hasil dari aktivitas pemerintah”.


(32)

16

Implementasi kebijakan pada dasarnya merupakan aktivitas mengoperasikan sebuah program. Ada tiga pilar aktivitas dalam mengoperasikan program, yaitu: (a) pengorganisasian, (b) interpretasi, dan (c) aplikasi. Ketiga aktivitas tersebut juga berlaku dalam implementasi kebijakan pendidikan. Dalam implementasi kebijakan pendidikan tidak menjadi monopoli birokrasi pendidikan yang secara hirarkhis berjenjang dari jajaran kantor Kementrian Pendidikan Nasional (Pusat) sampai jajaran paling bawah yaitu Cabang Dinas Pendidikan (Kecamatan). Pemerintah, masyarakat dan sekolah secara ideal bisa bersama-sama saling membahu dalam bekerja dan melaksanakan tugas implementasi kebijakan pendidikan tadi.

Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan

Suatu implementasi kebijakan akan menghasilkan keberhasilan yang diharapkan oleh pembuat kebijakan dan kelompok yang menjadi sasaran kebijakan tersebut. Arif Rohman (2009: 147) menyatakan, bahwa ada tiga faktor yang yang dapat menentukan kegagalan dan keberhasilan dalam inplementasi kebijakan yaitu:

a. Faktor yang terletak pada rumusan kebijakan yang telah dibuat oleh para pengambil keputusan, menyangkut kalimatnya jelas atau tidak, sasarannya tepat atau tidak, mudah dipahami atau tidak, mudah diinterpretasikan atau tidak, dan terlalu sulit dilaksanakan atau tidak.

b. Faktor yang terletak pada personil pelaksana, yakni yang menyangkut tingkat pendidikan, pengalaman, motivasi, komitmen, kesetiaan, kinerja, kepercayaan diri, kebiasaan-kebiasaan, serta kemampuan kerjasama dari para


(33)

17

pelaku pelaksana kebijakan. Termasuk dalam personil pelaksana adalah latar belakang budaya, bahasa, serta ideologi kepartaian masingmasing.semua itu akan sangat mempengaruhi cara kerja mereka secara kolektif dalam menjalankan misi implementasi kebijakan.

c. Faktor yang terletak pada sistem organisasi pelaksana, yakni menyangkut jaringan sistem, hirarki kewenangan masing-masing peran, model distribusi pekerjaan, gaya kepemimpinan dari pemimpin organisasinya, aturan main organisasi, target masing-masing tahap yang ditetapkan, model monitoring yang biasa dipakai, serta evaluasi yang dipilih.

B. Kebijakan Kelas Olahraga

Olahraga sebagai kata majemuk berasal dari kata olah dan raga. Olah artinya upaya untuk mengubah atau mematangkan, seperti olah tanah yang berarti menyiapkan tanah yang ditanami. Arti yang lain adalah upaya untuk menyempurnakan, seperti dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Interpretasi lain adalah bahwa kata olah merupakan perubahan bunyi dari ulah, jadi ulah raga. ulah artinya perbuatan, tindakan atau tingkah (laku) hingga ulah raga dapat disamakan dengan aktivitas fisik.

Timbulnya kerancuan di lapangan adalah karena kata olahraga sudah lama dipakai untuk padanan kata asing sport. Sport sendiri sebenarnya hanya merupakan sebagian dari isi pengertian olahraga. Ia berasal dari kata disportare, bahasa Inggris Kuno, yang berarti bersenang-senang, pengisi waktu luang dari kaum ningrat Inggris. Di halaman istana-istana kecil yang banyak bertebaran di negara tersebut. Kaum ningrat biasa ber-disportare.


(34)

18

Disportare Inggris Kuno ini kemudian tumbuh terus menjadi kegiatan sport seperti keadaannya sekarang yaitu competitive sport yang bersifat formal terorganisir dalam wadah yang disebut asosiasi. Dari kata asosiasi (association) inilah pula timbul kata soccer untuk sepakbola. Di Malaysia sport diterjemahkan menjadi sukan, terjemahan yang mungkin lebih mendekati aslinya.

Sekolah, menurut Dewey bukan merupakan suatu lembaga yang mempunyai tujuan tersendiri tetapi mempunyai multitujuan sebagai lembaga sosial dan berhubungan dengan masyarakatnya di mana dia merupakan bagian di dalamnya. Sekolah adalah suatu komunitas dan guru sekolah merupakan bagian dari masyarakat, oleh sebab itu pintu-pintu sekolah terbuka untuk masyarakat. Kurikulum bukannya merupakan sesuatu yang telah dideskripsikan sebelumnya tetapi merupakan pengalaman, minat, kebutuhan dan masalah dari peserta didik sendiri.

Sekolah dan kemajuan sosial (social progress) pendidikan merupakan suatu metode fundamental untuk mengadakan perubahan serta kemajuan. Hal ini disebabkan karena pendidikan adalah pengaturan dari proses untuk mengambil bagian dari kesadaran sosial dan merupakan penyesuaian dari perkembangan pribadi tadi di dalam rekonstruksi sosial. Dalam lembaga sekolah terjadi rekonsiliasi antara cita-cita individu dan cita-cita lembaga sekolah. Tugas masyarakat mengenai pendidikannya merupakan tugas sosial. Masyarakat menyusun undang-undang dan hukuman, namun melalui


(35)

19

pendidikan masyarakat dapat menyusun peraturan-peraturan yang mengarahkan peserta didik menjadi anggota masyarakatnya yang konstruktif. Kelas olahraga merupakan suatu kelas yang terdiri dari kegiatan-kegiatan olahraga dari berbagai cabang olahraga yang dilakukan di suatu lingkup sekolah, siswa mendapatkan pembinaan dan latihan khusus oleh masing-masing pelatih di tiap-tiap cabang. Sehingga kelas olahraga dapat dijadikan suatu wahana untuk pembinaan kegiatan kesiswaan dalam bidang olahraga di sekolah untuk menghasilkan atlit yang handal dan profesional baik dalam tingkat daerah, nasional maupun tingkat internasinal.

Tujuan dari kegiatan kelas olahraga (Kemdiknas, 2010: 5) adalah sebagai berikut:

1.Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam bidang olahraga.

2.Meningkatkan kemampuan sekolah dalam pembinaan dan pengembangan kegiatan olahraga di sekolah.

3.Meningkatkan mutu akademis dan prestasi siswa di dalam bidang olahraga. 4.Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.

5.Meningkatkan kemampuan berkompetisi secara sportif atau fair play. 6.Meningkatkan mutu pendidikan sebagai bagian dari pembangunan karakter. C. Kepelatihan Olahraga

Melatih adalah coaching yang sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas atau latihan yang bermakna luas. Jadi melatih pada hakekatnya adalah suatu proses kegiatan untuk membantu orang lain (atlit) mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dalam usahanya mencapai tujuan


(36)

20

tertentu. Dengan kata lain, bahwa intervensi latihan, atlit dipacu untuk memperbaiki sistem organisme tubuhnya, perbaikan fungsinya secara optimal dalam rangka mencapai performa yang baik serta keunggulan dalam cabang olahraganya.

Pelatih harus memahami bahwa latihan yang sistematis merupakan konsep yang kompleks. Pelatihlah yang harus merencanakan ini semua secara cermat. Itulah sebabnya pelatih harus selalu tampil dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti aspek psikologis, fisiologis dan sosial dalam sekuens pelatihannya. Pengetahuan dan keterampilan menjabarkan aspek-aspek tersebut dalam praktik pelatihan merupakan tuntutan yang harus dilakukan pelatih. Pada dasarnya coaching menjangkau peran sebagai melatih, mengajar, mendidik, memberikan petunjuk dan arahan bagi atlit untuk mencapai kesempurnaan penampilannya. Bahkan konsekuensi melatih juga memberikan pemahaman dan bantuan untuk kebutuhan bagi para atlitnya. Oleh karena itu, pelatih selalu saja dipacu untuk mengembangkan diri, cermat dan peduli terhadap pembinaan keharmonisan dan pergaulan sosial para atlitnya.

Proses melatih merupakan strategi yang sarat dengan kepandaian untuk merangkai berbagai isu-isu pelatihan agar atlit termotivasi untuk terlibat dalam suasana latihan yang bergairah, tekun, dan bersemangat. Dalam kaitan ini aspek membangkitkan semangat berlatih merupakan keterampilan khusus yang harus dimiliki oleh setiap pelatih. Dalam proses latihan, pelatih harus terampil pula memberikan pemahaman tentang


(37)

nilai-21

nilai spiritual, pembinaan sikap dan perilaku yang terpuji agar dalam diri atlit tercemin sikap ketulusan, kesucian moral yang utuh, di samping tetap memperhatikan kesempurnaan penampilan dan kemampuan fisik atlitnya.

Oleh karena itu, harus disadari betul bahwa melatih adalah suatu proses membantu atlit untuk memperbaiki atau meningkatkan penampilannya, prestasinya dengan tetap memberikan perhatian pada perbaikan kebugaran jasmaninya dan mental spiritualnya. Dengan kata lain, bahwa melatih juga membantu atlit untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, ketangkasan, keterampilan, dan perbaikan sikap dan perilaku. Pelatih akan merasa puas dan bangga hati manakala atlitnya dapat tampil dalam arena pertandingan/kejuaraan dengan karakter dan sifat-sifat terpuji disertai usaha keras untuk mencapai prestasi dan keunggulan. Biasanya tampilan ini dapat terlihat pada gerakan-gerakan dan aktivitas gerak atlit tersebut, yang dilakukan dengan baik, lebih efisien, harmonis dengan koordinasi gerak yang tepat.

Kunci keberhasilan pelatihan olahraga akan tergambar pada kemampuan dan keterampilan pelatih mengaplikasikan semua bentuk/materi latihan yang sudah dirancang sebelumnya dengan sistematis. Penerapan latihan yang sistematis, penuh variasi, bersinambung merupakan faktor yang dapat menjawab tantangan pelatihan itu. Dalam hubungan ini aspek pendekatan psikologis, merupakan pergaulan sosial yang harmonis dan merupakan upaya strategi pelatihan yang harus dicermati oleh setiap pelatih. Faktor peningkatan kebugaran jasmani, penampilan fisik atlit sangat


(38)

22

gampang terlihat pada seorang atlit. Orang lain akan begitu gampang memberikan penilaian, baik yang bersifat positif maupun negatif, hanya dengan melihat “kondisi fisik dan penampilan” atlit di lapangan. Kesalahan dan kekurangan yang tampak pada aspek individual skill, pelatih harus berusaha merekam dengan seksama pula. Oleh karena kesalahan teknik yang berulang-ulang yang dilakukan oleh seorang atlit, tanpa adanya upaya pelatih untuk memperbaikinya, kelak atlit tersebut prestasinya akan mandek, bahkan mengalami penurunan prestasi.

Sesuai dengan UU No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional Bagian Kedua Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Pendidikan

Pasal 25

(1)Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dan diarahkan sebagai satu kesatuan yang sistemis dan berkesinambungan dengan sistem pendidikan nasional.

(2)Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan melalui proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru/dosen olahraga yang berkualifikasi dan memiliki sertifikat kompetensi serta didukung prasarana dan sarana olahraga yang memadai.

(3)Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan pada semua jenjang pendidikan memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan olahraga sesuai dengan bakat dan minat.


(39)

23

(4)Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dengan memperhatikan potensi, kemampuan, minat, dan bakat peserta didik secara menyeluruh, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. (5)Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan secara teratur, bertahap, dan berkesinambungan dengan memperhatikan taraf pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.

(6)Untuk menumbuhkembangkan prestasi olahraga di lembaga pendidikan, pada setiap jalur pendidikan dapat dibentuk unit kegiatan olahraga, kelas olahraga, pusat pembinaan dan pelatihan, sekolah olahraga, serta diselenggarakannya kompetisi olahraga yang berjenjang dan berkelanjutan. (7)Unit kegiatan olahraga, kelas olahraga, pusat pembinaan dan pelatihan, atau sekolah olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (6) disertai pelatih atau pembimbing olahraga yang memiliki sertifikat kompetensi dari induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan dan/atau instansi pemerintah. (8)Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dapat memanfaatkan olahraga rekreasi yang bersifat tradisional sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran.

Proses pendidikan sebagai pengembangan kepribadian mencakup upaya yang sangat luas. Terdapat banyak teori mengenai kepribadian, strukturnya, pengembangannya, tujuannya dan sebagainya sehingga proses pendidikan sebagai pengembangan kepribadian mencakup berbagai upaya


(40)

24

yang luas sehingga kehilangan fokusnya. Setiap masyarakat meminta sumbangan yang berbeda-beda dari msing-masing pribadi yang sesuai bakat dan kemampuannya. Tujuannya adalah benar bahwa manusia itu haruslah mengembangkan kepribadiannya di dalam pengertian etis sehingga dia terbagi bukan hanya dapat berkembang tetapi juga dapat menyumbangkan sesuatu yang berharga untuk masyarakatnya. Barangkali yang lebih tepat adalah pengembangan kepribadian seseorang sesuai dengan bakat yang dimilikinya sehingga dengan bakat itu dia dapat menyumbangkan secara optimal kemampuannya untuk diri sendiri maupun masyarakat bangsanya.

Pengembangan kepribadian bukan hanya berarti perkembangan kepribadian dalam arti personal tetapi perkembangan kepribadian yang menyangkut aspek-aspek personal dan sosial. Perkembangan keduanya harus seimbang, saling mengisi sehingga terjadi simbiosis antara kepribadian yang berkembang dan manfaat yang diperoleh masyarakat dari perkembangan kepribadian itu.

Kenyataan bahwa tidak ada manusia atau pribadi yang sempurna. Manusia diciptakan dan dilahirkan dengan dikaruniai bakat yang berbeda-beda. Tidak ada dua manusia yang sama meskipun kembar satu sel pun melahirkan dua pribadi yang berbeda. Keragaman manusia merupakan tanda kemerdekaan manusia. Apabila semua manusia di dunia ini sama maka tidak akan ada kreativitas dan kemajuan. Manusia hanyalah sekadar robot-robot dari suatu mesin raksasa. Kenyataannya manusia diciptakan menurut


(41)

25

harkatnya masing-masing. Oleh sebab itu, dia bertanggung jawab untuk mengembangkannya bagi dirinya sendiri dan sesamanya.

Atlit yang kurang memiliki kesadaran, sering kali ditunjukkan dengan produk dan proses yang dicapai tidak memuaskan. Keterlibatan dalam proses latihan sangat memprihatinkan, dan atlit tidak sadar dengan perannya sendiri sebagai atlit. Oleh karena itu, atlit harus didorong untuk mengikuti apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Kesadaran diri merupakan bagian penting untuk mencapai penampilan puncak dalam olahraga. Kesadaran merupakan langkah awal dalam menetapkan tujuan, meregulasi diri, mengembangkan keterampilan, mengelola stres dan mengelola masalah psikologis lainnya.

Untuk memahami kesadaran diri (self awareness), penulis mendefinisikan menurut beberapa ahli, diantaranya Kartono & Gulo (2000:441) mendefinisikan kesadaran diri merupakan kondisi pembiasaan terhadap perasaan-perasaan dan emosi-emosi sendiri. Selain itu, Lubis (2012) menjelaskan bahwa kesadaran diri adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya. Proses berupa refleksi dimana seseorang secara sadar memikirkan hal-hal yang ia alami berikut emosi-emosi mengenai pengalaman tersebut. Dengan kata lain, kesadaran diri merupakan keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut.


(42)

26

Model kepercayaan diri dalam olahraga dirancang untuk memberikan kerangka bermakna untuk memperluas kajian mengenai kepercayaan diri dalam olahraga. Kepercayaan diri dalam olahraga didefinisikan sebagai tingkat keyakinan yang dimiliki seseorang berkaitan dengan kemampuan mereka untuk meraih sukses dalam olahraga. Kepercayaan diri dalam olahraga merupakan konseptualisasi yang lebih general dibandingkan dengan kepercayaan diri (2001:556).

Pemikiran yang dilakukan oleh atlit bisa positif dan negatif. Kedua pemikiran tersebut memberikan pengaruh terhadap penampilannya. Pemikiran positif dan positif memberikan pengaruh terhadap penampilan atlit. Oleh karena itu, pelatih harus mengarahkan pemikiran atau ungkapan atlit supaya tetap positif, karena pemikiran atau ungkapan atlit yang positif memberikan dampak positif terhadap pencapaian prestasi yang ingin dicapai. Rushall (2008: 8.20) menjelaskan bahwa ungkapan positif harus sering digunakan untuk memotivasi diri,mengatasi beban latihan, mengevaluasi tujuan, serta mempertahankan pendekatan positif dalam performa kompetitif. Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Prestasi

Pasal 27

(1)Pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi dilaksanakan dan diarahkan untuk mencapai prestasi olahraga pada tingkat daerah, nasional, dan internasional.


(43)

27

(2)Pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh induk organisasi cabang olahraga, baik pada tingkat pusat maupun pada tingkat daerah.

(3)Pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh pelatih yang memiliki kualifikasi dan sertifikat kompetensi yang dapat dibantu oleh tenaga keolahragaan dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(4)Pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi dilaksanakan dengan memberdayakan perkumpulan olahraga, menumbuhkembangkan sentra pembinaan olahraga yang bersifat nasional dan daerah, dan menyelenggarakan kompetisi secara berjenjang dan berkelanjutan.

(5)Pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) melibatkan olahragawan muda potensial dari hasil pemantauan, pemanduan, dan pengembangan bakat sebagai proses regenerasi.

D. Penelitian yang Relevan

1. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muthia Umi Setyoningrum (2013)

dengan judul “Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di Sekolah Menengah

Atas (SMA) Kota Yogyakarta” menunjukan bahwa Implementasi kebijakan kelas olahraga masih mengalami kebingungan dalam pengelolaannya karena sekolah belum memiliki pedoman pelaksanaan kelas olahraga. Kegiatan latihan sudah berjalan dengan baik walaupun pelatih mengalami kesulitan dalam pembuatan program latihan karena waktu latihan yang sedikit dan


(44)

28

jadwal kompetisi yang kurang terorganisasi. Kegiatan akademik belum berjalan baik karena belum memiliki kurikulum khusus kelas olahraga dan kurangnya kemampuan dan motivasi akademik siswa. Sarana prasarana olahraga dan fasilitas yang diberikan kepada siswa masih sangat kurang dan belum sesuai standar. Monitoring dan evaluasi tidak optimal karena kurangnya komunikasi antara sekolah, pemerintah, pelatih, dan guru.Kendala yang dihadapi meliputi: belum adanya pedoman pelaksana dankurikulum khusus kelas olahraga, kurangnya dukungan dana dan saranaprasarana dari pemerintah, kurangnya motivasi belajar dan kedisiplinan siswa,dan kurangnya komunikasi antara pelatih, guru, sekolah, dan pemerintah.

2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Nugroho (2013) dengan judul “

Sistem Pembinaan Prestasi Kelas Olahraga Cabang Olahraga Atletik SMP D.I.Yogyakarta ” menunjukan bahwa; 1) Sistem pembinaan prestasi kelas khusus olahraga di DIY berdasarkan indikator sarana dan prasarana secara detail menurut kabupaten/kota, diketahui bahwa Kota Yogyakarta masih lemah dalam indikator ini dibandingkan kabupaten yang lain yakni sebesar 55,36%, kemudian secara berturut-turut Kabupaten Bantul sebesar 58,93%, Kabupaten Sleman sebesar 58,93%,Kabupaten Gunung Kidul sebesar 61,61%, dan Kabupaten Kulon Progo sebesar 62,5%. Setelah ditelaah pada tingkat sekolah diketahui juga bahwa sekolah yang masih lemah di propinsi DIY adalah SMPN 2 Galur di Kabupaten Kulon Progo sebesar 42,86%. 2) Sistem pembinaan prestasi kelas khusus olahraga di DIY berdasarkan indikator organisasi secara detail menurut kabupaten/kota, diketahui bahwa


(45)

29

Kota Yogyakarta masih lemah dalam indikator ini dibandingkan kabupaten yang lain yakni sebesar 68,75%, kemudian secara berturut-turut Kabupaten Bantul sebesar 70,83%, Kabupaten Sleman sebesar 71,88%,Kabupaten Gunung Kidul sebesar 79,17%, dan Kabupaten Kulon Progo sebesar 85,42%. Setelah ditelaah pada tingkat sekolah diketahui juga bahwa sekolah yang masih lemah di propinsi DIY adalahSMPN 1 Kretek di Kabupaten Bantul sebesar 66,67%. 3) Sistem pembinaan prestasi kelas khusus olahraga di DIY berdasarkan indikator pendanaan secara detail menurut kabupaten/kota, diketahui bahwa Kabupaten Bantul masih lemah dalam indikator ini dibandingkan kabupaten yang lain yakni sebesar 65,18%, kemudian secara berturut-turut Kabupaten Gunung Kidul sebesar 68,75%, Kabupaten Sleman sebesar 69,64%, Kota Yogyakarta sebesar 71,43%, dan Kabupaten Kulon Progo sebesar 75%. Setelah ditelaah pada tingkat sekolah diketahui juga bahwa sekolah yang masih lemah di propinsi DIY adalah SMPN 1 Kretek di Kabupaten Bantul sebesar 62,5%. 4) Sistem pembinaan prestasi kelas khusus olahraga di DIY berdasarkan indikator SDM secara detail menurut kabupaten/kota, diketahui bahwa Kabupaten Gunung Kidul dan Kota Yogyakarta masih lemah dalam indikator ini dibandingkan kabupaten yang lain yakni sebesar 79,55%, kemudian secara berturut-turut Kabupaten Sleman sebesar 81,25%, Kabupaten Bantul sebesar 82,39%, dan Kabupaten Kulon Progo sebesar 85,23%. Setelah ditelaah pada tingkat sekolah diketahui juga bahwa sekolah yang masih lemah di propinsi DIY adalah SMPN 1 Playen di Kabupaten Gunung Kidul sebesar 75%. 5) Sistem pembinaan prestasi kelas


(46)

30

khusus olahraga di DIY berdasarkan indikator latihan secara detail menurut kabupaten/kota, diketahui bahwa Kota Yogyakarta masih lemah dalam indikator ini dibandingkan kota/kabupaten yang lain yakni sebesar 73,21%, kemudian secara berturut-turut Kabupaten Bantul sebesar 78,57%, Kabupaten Gunung Kidul sebesar 82,14%, Kabupaten Sleman sebesar 86,46%, dan Kabupaten Kulon Progo sebesar 87,5%. Setelah ditelaah pada tingkat sekolah diketahui juga bahwa sekolah yang masih lemah di propinsi DIY adalah SMPN 1 Kalasan di Kabupaten Sleman sebesar 71,43%.

3. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Andi Setiawan (2014) dengan judul “ Perbedaan Sikap Sosial Antara Siswa Kelas VIII Olahraga Dengan Siswa Kelas VIII Reguler DI SMP NEGERI 2 Tempel Sleman” menunjukan bahwa dapatdiketahui sikap sosial siswa kelas VIII reguler di SMP Negeri 2 Tempel dari indikatordisiplin reratanya sebesar 107,75. Dari hasil analisis dapat diketahui sikap sosial siswa kelas VIII reguler di SMP Negeri 2 Tempel dari indikator tanggung jawab reratanya sebesar 107,43. Dari hasil analisis dapat diketahui sikap sosial siswa kelas VIII reguler di SMP Negeri 2 Tempel dari indikator sportivitas reratanya sebesar 93,33. Dari hasil analisis dapat diketahui sikap sosial siswa kelas VIII reguler di SMP Negeri 2 Tempel dari indikator kerjasama reratanya sebesar 109,00. Dari hasil analisis dapat diketahui sikap sosial siswa kelas VIII reguler di SMP Negeri 2 Tempel dari indikator interaksi sosial reratanya sebesar 108,23. Dari data di atas dapat diketahui bahwa sikap sosial siswa kelas VIII olahraga yang rerata tertinggi terdapat di indikator sikap kerjasama sebesar 109,00 dan rerata terendah


(47)

31

terdapat di indikator sikap sportivitas sebesar 93,33. Sikap sosial siswa kelas VIII olahraga lebih baik dari pada sikap sosial siswa kelas VIII Reguler. Perbedaan sikap sosial ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang secara pendidikan membedakan antara kedua kelompok kelas tersebut.Pengaruh tersebut berasal dari kebiasaan kehidupan dan pergaulan mereka di kelompok masing-masing. Siswa kelas olahraga lebih banyak mendapat bimbingan dan arahan baik dari guru maupun dari pelatihnya melalui latihan dan pertandingan yang mereka lakukan. Di dalam latihan dan pertandingan siswa diajarkan menjadi seseorang yang memiliki sikap disiplin, kerja keras, mampu bekerja sama, bertanggung jawab, saling menghargai, sportivitas serta mampu berinteraksi dengan baik. Hal ini yang menyebabkan terjadinya perbedaan sikap sosial antara siswa kelas VIII olahraga dengan siswa kelas VIII reguler.

E. Kerangka Berfikir

Undang-Undang ini mengatur secara tegas mengenai hak dan kewajiban serta kewenangan dan tanggung jawab semua pihak (Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat) serta koordinasi yang sinergis secara vertikal antara pusat dan daerah dan secara horizontal antara lembaga terkait baik pada tingkat pusat maupun pada tingkat daerah dalam rangka pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan keolahragaan nasional. ( UU. Nomor 3 tahun 2005).

Dengan adanya undang-undang diatas maka dapat digambarkan dalam bagan berikut:


(48)

32

Bagan I. Kerangka Berfikir F. Pertanyaan Penelitian

Untuk kepala Sekolah

1. Bagaimana Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon?

2. Bagaimana Peran Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal Kabupaten Bantul dalam Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon?

3. Apakah Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY berperan dalam Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon?

4. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dari Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon?

DINAS PENDIDIKAN KEBIJAKAN DINAS PENDIDIKAN TENTANG KELAS OLAHRAGA SEKOLAH SMA NEGERI 1 SEWON

KELAS OLAHRAGA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN SEKOLAH TENTANG KELAS OLAHRAGA PROGRAM-PROGRAM UNTUK KELAS OLAHRAGA


(49)

33 Untuk Pelatih

1. Bagaimana kesiapan anda sebagai pelatih dalam menyusun program di kelas olahraga?

2. Apakah program yang dijalankan di kelas olahraga berbeda dengan kepelatihan di klub olahraga lainnya?

3. Apa saja kendala yang sering dijumpai selama kegiatan kepelatihan berlangsung?

4. Bagaimana cara memotivasi para atlit agar mampu berlatih secara maksimal sehingga diharapkan mampu meraih kejuaraan?

5. Bagaimana partisipasi atlit dan sekolah dalam menghadapi kompetisi baik tingkat daerah maupun nasional?

Untuk Siswa/Atlit

1. Bagaimana kesiapan anda sebagai atlit dalam mengikuti pelatihan di kelas olahraga?

2. Apakah ada program pelatihan lain di luar jam pelajaran kelas olahraga? 3. Apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat dalam program

kepelatihan olahraga baik di jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran? 4. Bagaimana cara siswa memotivasi diri sendiri untuk menghadapi

kompetisi yang sedang atau akan diselenggarakan?

5. Bagaimana persiapan siswa dalam menghadapi berbagai tingkatan kompetisi yang diselenggarakan sekolah maupun pihak terkait?


(50)

34 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Dalam penelitian ini akan menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang digunakan untuk menemukan, menggambarkan, meneliti, serta menjelaskan bagaimana kondisi serta kualitas sumber daya manusia yang ada di SMA Negeri 1 Sewon. Menurut (Sugiono, 2009:15), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisime, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber dan data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi (gabungan) analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna daripada generalisasi.

B. Seting Penelitian

Seting penelitian ini adalah kelas X dan kelas XI dari K-BIO di SMA Negeri 1 Sewon. Penelitian ini dilaksanakan dari selama bulan April sampai Juni 2016. Proses penelitian diawali dengan mengurus perijinan, kemudian dilakukan observasi langsung ke sekolah dengan mengamati siswa kelas olahraga, sehingga data yang diperoleh memenuhi data yang dibutuhkan sesuai dengan fokus masalah yang diteliti.


(51)

35 C. Subjek dan Objek Penelitian

a. Subjek: subjek penelitian ini adalah adalah para pelatih K-BIO, warga sekolah SMA Negeri 1 Sewon yang terdiri dari 1 (satu) Kepala Sekolah, 3 (tiga) pelatih, serta siswa kelas X K-BIO 1 (satu) siswa dan siswa kelas XI K-BIO 2 (dua) siswa.

b. Objek: Objek penelitian ini adalah Kebijakan dan Implementasi Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon yang meliputi kegiatan latihan olahraga; proses belajar mengajar K-BIO

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian skripsi ialah meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi.

1. Teknik observasi

Teknik observasi ialah usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur berstandar atau pengamatan secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek yang diteliti. Dalam penelitian ini observasi yang digunakan ialah observasi partisipasi aktif yaitu mengamati kejadian, gerak atau proses dari data lapangan dan ikut serta kegiatan-kegiatan di dalamnya. Observasi aktif dilakukan dalam pengamatan ketika siswa mengikuti kegiatan kepelatihan dan setelah mengikuti kegiatan kepelatihan yaitu berupa hasil bagaimana mereka mengembangkan bakat dalam dirinya. (Sugiyono, 2013).


(52)

36 2. Teknik wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, dengan orang lain untuk mengetahui suatu kejadian, kegiatan, perasaan dan lain-lain. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam yaitu wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan minat siswa dalam mengembangkan potensi dalam bidang olahraga di kelas olahraga. 3. Teknik dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah pengumpulan data dari sumber non insani yang terdiri dari dokumen dan rekaman. Dalam penelitian ini dokumen yang digunakan ialah hasil tingkat kepuasan siswa dalam mengikuti kelas olahraga dan tingkat keberhasilan kepelatihan olahraga yang dilaksanakan sekolah.

E. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti sendiri merupakan instrumen yang utama dimana peneliti sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penafsir data dan pelapor hasil penelitian. Selain itu digunakan pedoman wawancara, pedoman observasi dan dokumentasi, untuk memperoleh data yang dibutuhkan.

1. Pedoman Observasi

Pedoman observasi adalah berupa butir-butir pertanyaan secara garis besar terhadap hal-hal yang akan di observasi, kemudian diperinci dan dikembangkan selama pelaksanaan penelitian dengan tujuan untuk


(53)

37

mendapatkan data yang fleksibel, lengkap dan akurat. Dalam pengumpulan data ini, peneliti menggunakan alat bantu berupa kamera dan alat perekam gambar. Adapun kisi-kisi pedoman observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Kisi-Kisi Pedoman Observasi

No Aspek yang diamati Indikator yang dicari 1. Implementasi Kebijakan Kelas

Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon

a. Ketercapaian program kelas olahraga di SMA Negeri 1 Sewon

2. Hubungan antara pelatih-atlit dan siswa reguler-siswa K-BIO

a. Interaksi antara pelatih dan siswa dalam proses pembelajaran dan pelatihan olahraga

b. Antusias siswa-siswi kelas olahraga dalam menerima pelajaran pelatihan olahraga c. Antusias siswa-siswi kelas

olahraga dalam menerima pelajaran akademik (mata pelajaran)

2. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara berisi tentang pertanyaan-pertanyaan secara garis besar yang kemudian dalam pelaksanaan wawancara dapat dikembangkan secara mendalam untuk mendapatkan suatu gambaran subjek dan pemaparan gejala yang tampak sebagai suatu fenomena. Dalam pengumpulan data ini, peneliti menggunakan alat bantu berupa buku catatan, kamera, dan alat perekam suara (recorder). Adapun kisi-kisi pedoman wawancara dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.


(54)

38 Tabel 2. Kisi-Kisi Pedoman Wawancara

No Aspek yang dikaji Indikator yang dicari Sumber data 1. Implementasi

Kebijakan Kelas Olahraga

Ketercapaian program dari Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon.

a. Kepala Sekolah b. Pelatih

Olahraga c. Siswa/Atlit 2. Partisipasi Pelatih

dan Siswa dalam Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga

a. Program kepelatihan olahraga di SMA Negeri 1 Sewon

b. Peran sekolah dalam Implementasi Kebijakan Sekolah

c. Ketercapaian program kepelatihan olahraga d. Partisipasi siswa dalam

kegiatan kepelatihan e. Motivasi siswa dalam

mengikuti program kepelatihan

f. Monitoring dan Evaluasi 3. Kendala yang

dialamai selama kegiatan

kepelatihan

a. Internal b. Eksternal

3. Pedoman Dokumentasi

Data dokumen yang diperlukan di dalam penelitian ini adalah data-data dalam bentuk catatan, data-data tertulis, laporan, arsip, foto-foto, rekaman yang berhubungan dengan segala hal yang mengungkap tentang perumusan kebijakan yang ada di Dikpora. Adapun kisi-kisi pedoman kajian dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.


(55)

39 Tabel 3. Kisi-Kisi Pedoman Dokumentasi

No Aspek yang dikaji Indikator yang dicari Sumber data 1. Profil SMA Negeri

1 Sewon

a. Sejarah Sekolah

b. Letak geografis sekolah c. Struktur organisasi

sekolah

d. Sarana dan prasarana sekolah

a. Dokumen/ arsip b. Foto-foto

2. Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon

a. Kebijakan Sekolah yang berupa SK

b. Struktur organisasi kelas olahraga.

c. Program pelatihan kelas olahraga.

d. Fokus ketercapaian kelas olahraga.

F. Analisis Data

Analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangusng secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh (Miles and Huberman 1984). Aktivitas dalam analisis data yaitu:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data merupakan kegiatan merangkum, memilih hal-hal yang pokok, menfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telh direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan memeprmudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya., dan mencarinya bila diperlukan. Dapat dikatakan bahwa reduksi data merupakan langkah untuk mengelompokkan data aseusia kategori dan merangkum data yang telah diperoleh.


(56)

40

Setelah melakukan reduksi data, langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data biasanya dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sebagainya. Dengan mendisplaykan data, akan mempermudah untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami tersebut.

3. Verifikasi (Conclusing Drawing/Verifikasi)

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan dapat berubah apabila ditemukan bukti-bukti yang kuat dan valid pada tahap pengumpulan data selanjutnya. Namun jika kesimpulan yang dikemukakan didukung oleh data atau bukti yang valid, maka kesimpulan yang dikemukakan adalah kesimpulan yang kredibel.

Teknik analisis data ini digunakan untuk mengetahui Implementasi Kebijakan Kelas Olahraga di SMA Negeri 1 Sewon. Berikut adalah bagan proses analisis data menurut Miles and Huberman :


(57)

41 G. Keabsahan Data

Bagan II. Model Interaktif

Adanya keabsahan data ini diperlukan agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan. Hasil penelitian akan bergantung pada data yang dikumpulkan, sehingga data yang diambil harus teruji keabsahannya.

Dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi sumber yaitu dari kepala sekolah, guru, pelatih dan siswa. Selain itu digunakan triangulasi teknik yaitu teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik dokumentasi.

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data dari berbagai sumber. Triangulasi sumber ini untuk mengamati implementasi kebijakan kelas olahraga di SMA Negeri 1 Sewon, maka pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan kepada Kepala Sekolah, Pelatih, Guru dan Siswa. Data dari sumber kemudian dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana spesifik dari sumber data tersebut. Data yang telah dianalisis menghasilkan kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan sumber data tersebut.


(58)

42

Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Triangulasi teknik ini untuk mengamati program-program apa saja yang ada di kelas olahraga SMA Negeri 1 Sewon Teknik yang digunakan yaitu teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Bila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain untuk memastikan data mana yang dianggap benar. Atau mungkin semuanya benar, karena sudut pandangnya berbeda-beda.


(59)

43 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil SMA N 1 Sewon

1. Visi dan Misi SMA N 1 Sewon

Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Sewon merupakan salah satu sekolah unggulan terakreditasi “A” dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Kabupaten Bantul.

Visi: “BERPRESTASI BERKARAKTER BERBUDAYA DAN RELIGIUS”

Misi:

1. Menyelenggarakan pembelajaran yang efektif dan inovatif 2. Melengkapi sarana pembelajaran dengan tehnologi informatika

3. Mempersiapkan siswa dalam berbagai event baik di bidang akademik maupun non akademik

4. Meningkatkan jiwa nasionalisme yang kuat dan bermartabat berdasarkan Pancasila

5. Meningkatkan semangat rela berkorban

6. Meningkatkan olah hati, olah pikir, olah raga, olah rasa, dan olah karsa 7. Memperluas jaringan kerjasama dengan lembaga lain

8. Menciptakan budaya membaca dengan didukung perpustakaan yang berkualitas

9. Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif : aman, nyaman, tertib, disiplin, sehat kekeluargaan dan penuh tanggung jawab.


(60)

44

10.Menanamkan dan meningkatkan pengamalan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam mewujudkan visi dan misi tersebut maka SMA Negeri 1 Sewon juga memiliki Kode Etik Siswa yang diletakkan di dekat kelas siswa. Standar Etika Siswa adalah standar perilaku yang baik yang mencerminkan ketinggian akhlak dan ketaatan terhadap norma-norma etik yang hidup dalam masyarakat meliputi:

1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan yang dianut.

2. Menghargai ilmu pengetahuan, teknologi, sastra dan seni. 3. Menjunjung tinggi kebudayaan nasional.

4. Menjaga kewibawaan dan nama baik sekolah.

5. Secara aktif ikut memelihara sarana dan prasarana sekolah serta menjaga kebersihan, ketertiban dan keamanan.

6. Menjaga integritas pribadi sebagai warga sekolah. 7. Mentaati Peraturan dan Tata Tertib Sekolah. 8. Berpenampilan rapi dan sopan.

9. Berperilaku ramah dan menjaga sopan santun terhadap orang lain. 10.Menghormati orang lain tanpa membedakan suku, agama, ras dan

status sosial.

11.Taat terhadap norma hukum dan norma lainnya yang hidup ditengah masyarakat.


(61)

45

13.Bertanggungjawab dalam perbuatannya.

14.Menghindari perbuatan yang tidak bermanfaat dan atau bertentangan dengan norma hukum dan norma lainnya yang hidup ditengah masyarakat.

15.Berupaya dengan sungguh-sungguh menambah ilmu pengetahuan. 2. Sejarah SMA N 1 Sewon

Pada awalnya SMAN 1 Sewon merupakan 3 Rombongan Belajar yang ditempatkan di SMAN 5 Yogyakarta dan kemudian menempati lokasi yang berada di Jalan Parangtritis 5 Bantul Yogyakarta. Lokasi SMAN 1 Sewon sangat strategis dan tidak jauh dari jalur lingkar selatan. SMAN 1 Sewon berdiri secara resmi pada tangal 11 September 1983. SMAN 1 Sewon didirikan dengan nomor registrasi 301040102032 dan NSPN nomor 20400371. Pada saat awal berdiri, SMAN 1 Sewon dipimpin oleh Drs. Suwardi, B.A. dan sampai saat ini telah sembilan kepala sekolah yang pernah memimpin SMAN 1 Sewon. Berikut adalah nama-nama kepala sekolah yang pernah memimpin SMAN 1 Sewon :

1. Drs. Suwardi, BA. ( 1-7-1983 s.d 31-1-1984 ) 2. R. Ay. Tri Martini ( 1-2-1984 s.d 27-4-1991 ) 3. Drs. Sapardi Th. ( 28-4-1991 s.d 8-8-1993 ) 4. Drs. Sunarto ( 9-8-1993 s.d 12-9-1993 ) 5. Drs. Panut S. ( 13-9-1993 s.d 27-7-1997 ) 6. Drs. H. Mashadi AR. ( 28-7-1997 s.d 22-3-2001 ) 7. Drs. Hartono ( 23-3-2001 s.d 30-6-2005 )


(62)

46

8. Drs. Suharja, MPd. ( 1-7-2005 s.d 31-1-2009 ) 9. Drs. Sartono, MPd. ( 1-2-2009 s.d 2013 ) 10.Drs. Marsudiyana ( 2013 s.d Sekarang ) 3. Lokasi SMA N 1 Sewon

SMA Negeri 1 Sewon merupakan Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Bantul yang memiliki KBIO (Kelas Bakat Istimewa Olahraga) yang berlokasi di Jalan Parangtritis 5 Bangunharjo, Sewon, Bantul yang memasukkan kurikulum kelas olahraga dengan kelas reguler pada jam pelajaran. Lokasi SMA Negeri 1 Sewon berada di selatan samsat pembantu sewon. Di sebelah barat sekolah adalah Jalan Parangtritis dimana jalan tersebut merupakan jalan utama untuk masyarakat menuju ke pantai selatan. Di sebelah selatan SMA N 1 Sewon merupakan tempat pengujian kendaraan motor milik Dinas Perhubungan. Di sebelah utara sekolah adalah Koramil 04/729 Sewon dan berbatasan langsung dengan jalan menuju Desa Wojo, Bangunharjo, Sewon, Bantul. Sebelah timur sekolah merupakan area persawahan produktif masyarakat setempat.

Pintu gerbang SMA Negeri 1 Sewon terlihat luas dan menghadap ke arah jalan raya. Hal ini memudahkan akses keluar masuk bagi warga sekolah dan tamu yang datang ke sekolah tanpa mengurangi keamanan dan kenyamanan yang ada di SMA Negeri 1 Sewon. Walaupun terletak persis di pinggir jalan raya, kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 1 Sewon sangat nyaman. Hal ini dikarenakan gerbang depan dibuat tinggi untuk kenyamanan siswa. Selain itu di bagian depan sekolah adalah ruang tamu,


(63)

47

ruang guru dan sebagian ruang kelas untuk kelas reguler. Selebihnya kelas terletak di timur lapangan upacara bendera dan voli sehingga kenyamanan siswa tetap terjaga dan suara kendaraan tidak mengganggu konsentrasi siswa selama berada di sekolah.

Ketika memasuki pintu gerbang SMA Negeri 1 Sewon akan terlihat bangunan berlantai 2 dengan lobi yang luas dipenuhi dengan tropi piala kejuaraan dari siswa baik akademik maupun non akademik serta tropi penghargaan dari berbagai lembaga. Namun setelah melewati lobi, terdapat lapangan yang sangat luas yang digunakan untuk upacara dan kelas voli maupun pelajaran olahraga voli. Gedung SMA N 1 Sewon memiliki lapangan di tengah gedung sekolah yang terdiri dari lapangan upacara dan lapangan voli. Lapangan yang berada di belakang sekolah yaitu lapangan sepakbola dan lapangan basket. Lapangan yang berada di dalam gedung serbaguna biasanya digunakan untuk bulu tangkis, karate, taekwondo dan silat. Pada tahun 2016 untuk memenuhi kebutuhan para guru, SMA Negeri 1 Sewon melakukan renovasi untuk memberikan kenyamanan kepada guru sehingga kinerja guru menjadi maksimal.

SMA Negeri 1 Sewon memiliki 28 rombongan belajar yang terdiri dari 5 Rombel jurusan MIA dan 4 Rombel jurusan 4 IIS pada setiap angkatan. Kelas reguler yaitu MIA 1-5 dan IIS 1-2, sedangkan untuk KBIO adalah IIS 3 dan IIS 4 di setiap angkatan. Pada tahun 2013/2014 memiliki 6 Rombel IPA dan 4 Rombel IPS.


(64)

48 4. Sumber daya SMA N 1 Sewon

SMA Negeri 1 Sewon merupakan satu-satunya SMA di Kabupaten Bantul yang menerapkan K-BIO di sekolahnya dan telah memiliki Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 0651 tahun 2012 tentang Pemberian ijin operasional bagi sekolah penyelenggara pendidikan cerdas/bakat istimewa (CI/BI) untuk SD/SMP/SMA. K-BIO adalah Kelas Bakat Istimewa Olahraga yang diimplementasikan maksimal oleh sekolah dan memiliki sarana dan prasarana pendukung serta kelas khusus olahraga ini diampu oleh pelatih profesional di bidangnya. Selain K-BIO, SMA Negeri 1 Sewon juga mempunyai banyak prestasi baik di bidang seni, akademik, sains, teknologi, dan sebagainya sebagai upaya sekolah untuk mengembangkan potensi siswanya.

a. Peserta Didik

Peserta didik merupakan komponen utama sekolah dalam menjalankan fungsinya serta menjadi tolok ukur keberhasilan sekolah tersebut. Sekolah memiliki tugas untuk mengembangkan potensi serta bakat dan minat yang dimiliki setiap siswa. Dengan demikian peserta didik diberikan kesempatan dari sekolah untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Berikut peserta didik SMA Negeri 1 Sewon dalam tabel dibawah ini:


(65)

49

Tabel 4. Jumlah Siswa Perkelas Tahun Pelajaran 2013/2014 hingga 2015/2016

Tahun Total

IPA/MIA IPS/IIS

∑IPA

/MIA

∑IPS

/IIS

ROMBEL

L P L P

IPA /MI A

IPS/ IIS 2013/2014 845 192 276 197 179 468 377 15 12 2014/2015 851 212 283 189 176 495 357 16 12 2015/2016 849 202 312 152 183 574 345 16 12

Sumber: Dokumen SMA Negeri 1 Sewon

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa yang diterima di SMA Negeri 1 Sewon berkurang. Hal ini dikarenakan sekolah ingin memaksimalkan seta mempertahankan kualitas dan mutu sekolah sehingga tiap tahunnya sekolah memperketat kuota PPDB tiap tahunnya. Hal ini juga diimbangi dengan prestasi yang diraih sekolah semakin meningkat tiap tahunnya. SMA Negeri 1 Sewon memiliki 10 Rombel yang terdiri dari 6 rombel IPA dan 4 Rombel IPS. Namun pada tahun berikutnya berkurang menjadi 5 Rombel IIA dan 4 Rombel IIS. Pada Penerimaan Peserta Didik Baru 2016/2017 juga membuka 5 Rombel IIA dan 4 Rombel IIS. K-BIO memiliki kelas khusus yaitu kelas X IIS3, X IIS4, XI IIS3, XI IIS4, XII IPS3, dan XII IPS4. Selebihnya (X MIA 1-5, X IIS 1-2, XI MIA 1-5, XI IIS 1-2, XII IPA 1-6, XII IPS 1-2) adalah kelas reguler. Kualitas lulusan peserta didik SMA Negeri 1 Sewon ditunjukkan dengan tabel berikut ini:


(66)

50

Tabel 5. Hasil UN tahun pelajaran 2015/2016 program MIPA

MAPEL/ Ket B.Indonesia B.Inggris Matematika Fisika Kimia Biologi

Tertinggi 90 88 85 90 100 90

Terendah 62 34 20 25 12,5 35

Rata-rata 76,71 58,59 54,07 53,66 61,10 57,73

Sumber: Dokumen Kurikulum SMA Negeri 1 Sewon

Tabel 6. Hasil UN tahun pelajaran 2015/2016 program IPS

MAPEL/

Ket B.Indonesia B.Inggris Matematika Ekonomi Sosiologi Geografi

Tertinggi 86 76 90 87,5 80 92

Terendah 46 32 17,5 32,5 36 32

Rata-rata 73,39 54,83 58,78 87,5 61,93 73,79

Sumber: Dokumen Kurikulum SMA Negeri 1 Sewon

Dari tahun ke tahun SMA Negeri 1 Sewon telah berhasil meluluskan siswanya dengan presentase 100% pada tiap tahunnya. Selain itu SMA Negeri 1 Sewon berhasil membimbing siswanya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi seperti UGM, UNY, AMIKOM, AKPER, UNAIR, UST, POLRI, dan sebagainya.

b. Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Pendidik dan tenaga kependidikan memberikan peranan penting dalam pengembangan mutu dan kualitas sekolah. Hal ini dikarenakan pendidik dan tenaga kependidikan berperan langsung dan berinteraksi langsung kepada siswa dan orangtua siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar serta kegiatan administratif sekolah.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas tenaga pendidik dan kepegawaian adalah lulusan minimal


(67)

51

strata satu (S1). Pada tahun 2015 (data terlampir) ini menunjukkan bahwa tenaga pendidik di SMA Negeri 1 Sewon adalah 66 guru dengan berbagai bidang mata pelajaran sesuai dengan kompetensi guru tersebut. Jumlah untuk guru untuk pendidikan S0 adalah 3 orang, dan untuk guru berpendidikan Diploma hanya 1 orang saja. Kemudian untuk guru berpendidikan S1 sebanyak 57 guru dan untuk guru berpendidikan S2 berjumlah 5 guru. Semua guru adalah guru aktif yang mengajar di SMA Negeri 1 Sewon. Seluruh guru merupakan guru yang berkompeten dalam bidangnya masing-masing. Misalnya pada pendidikan keagamaan merupakan guru yang kompeten dalam bidangnya masing-masing. Kebutuhan guru agama disesuaikan dengan kepercayaan siswa di SMA Negeri 1 Sewon yaitu Agama Islam, Katholik, Kristen, dan Hindu. Guru berpendidikan D3 adalah guru Bahasa Indonesia, guru berpendidikan S0 adalah Bimbingan Khusus, Pendidikan Agama Islam, dan Pendidikan Agama Katholik. Guru berpendidikan S2 adalah guru Biologi, Sejarah, 2 guru PKn, dan Bahasa Indonesia. Guru mata pelajaran sudah sesuai dengan kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing guru dan sesuai dengan bidang keahlian dari tiap guru. Dari 66 guru tersebut 13 guru belum memiliki NIP.


(68)

52

Selain itu tenaga kepegawaian atau Tata Usaha (TU) merupakan hal yang penting di sekolah dalam hal administratif dan manajemen sekolah. Jumlah tenaga kepegawaian PNS sejumlah 12 orang dan 9 orang sebagai Tenaga Honorer Kepegawaian Tata Usaha SMA Negeri 1 Sewon.. Selain itu sekolah memiliki 3 Laboran dan 3 Pustakawan.

c. Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana sekolah memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di SMA Negeri 1 Sewon. Hal ini bertujuan agar kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler serta kegiatan pendukung lainnya dapat terlaksana dengan baik guna meningkatkan integritas sekolah. Dengan luas lahan 4000m² membuat SMA Negeri 1 Sewon mempunyai sarana untuk mengembangkan sekolah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya pembangunan gedung baru untuk kebutuhan kantor guru untuk memaksimalkan kualitas guru di sekolah.

Sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah antara lain: Koperasi siswa terletak pintu gerbang di sayap utara SMA Negeri 1 Sewon sebelum parkiran siswa. Selain itu, SMA Negeri 1 Sewon memiliki 2 kantin sekolah, Gedung Serbaguna, Taman, UKS, Lab Komputer, Perpustakaan, Kantor Guru, Kantor TU, Kantor Kepala Sekolah, Ruang


(69)

53

Kelas, Toilet Guru, Toilet Siswa, Lapangan Upacara, Ruang Osis, Lobi, Lapangan Voli, Lapangan Basket, Lapangan Sepak Bola dan ruang terbuka hijau yang masih sangat potensional. Berikut merupakan kondisi sarana dan prasarana di SMA Negeri 1 Sewon:

Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1 Sewon sudah digunakan sesuai dengan fungsinya. Ruang kelas X berada di depan atau di selatan Lobi sekolah. Untuk kelas XI dan XI berada di sebelah timur lapangan upacara dan lapangan voli yang biasanya digunakan untuk kelas olahraga voli putra. Untuk koperasi siswa, tempat parkir siswa, gedung serbaguna, Ruang BK, taman, Laboratorium IPA, Laboratorium Komputer dan Laboratorium Multimedia. kantin berada di sayap utara sekolah. Di sayap selatan merupakan deretan ruang kelas yang memanjang dan di timur lapangan terdapat ruang kelas, UKS serta perpustakaan. Sedangkan di belakang sekolah terdapat lahan kosong, lapangan sepak bola, lapangan basket, mushola, ruang OSIS, gudang, ruang kelas dan rumah penjaga sekolah.

Ruang perpustakaan SMA Negeri 1 Sewon memiliki akses Free Wi-Fi yang memudahkan siswa untuk memperoleh berbagai informasi akademik dari internet. Selain itu ruang perpustakaan menggunakan sistem IT dan pelayanan yang ramah membuat para siswa merasa nyaman ketika berada


(70)

54

di sekolah dan sering dijadikan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar untuk siswa. Terlebih ruang perpustakaan sangat rapi dan sesuai dengan nomor urut buku. Selain itu koleksi ilmiah dan fiksi di perpustakaan juga sudah memadai dalam memenuhi kebutuhan siswa.

Ruang PSB (Pusat Sumber Belajar) untuk mengakses beragam soal bagi siswa dilengkapi dengan perangkat komputer dan akses internet serta fasilitas multimedia yang memadai. Bimbingan Konseling yang memiliki 5 pembimbing memiliki fungsi menyediakan bimbingan kepribadian, sosial, karir dan belajar untuk para siswa. Ekstrakurikuler sebagai ajang menampung hobi dan berekspresi yaitu teater, sinematografi, KIR (Karya Ilmiah Remaja). Fasilitas medis UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) merupakan elemen wajib di sekolah. Siswa yang tergabung dalam PMR selalu sigap terhadap tindakan medis yang dibutuhkan. Selain itu berbagai sarana dan prasarana pendukung lainnya seperti Tempat parkir yang memadai, sekolah yang sehat, tempat ibadah yang nyaman, koperasi untuk menyediakan kebutuhan belajar, kantin yang nyaman dan menyediakan menu sehat. Selain itu SMA Negeri 1 Sewon menjunjung nilai-nilai budaya, siswa dikenalkan dengan muatan lokal untuk ajang pengenalan dunia seni dan budaya seputar batik dan kelas tari klasik maupun


(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)