2015 Panduan Penyusunan Rencana Strategis Pengembangan Sekolah

(1)

Penyusunan Rencana Strategis

Pengembangan Sekolah (SDP)

PANDUAN TEKNIS

SED-TVET


(2)

(3)

(4)

BAB I PENDAHULUAN

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional.

Sebagai bagian dari sistem pendidikan menengah kejuruan, SMK memiliki tujuan khusus, antara lain: 1) Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi

lowongan pekerjaan yang ada sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian yang dipilihnya,

2) Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja dan mengembangkan sikap professional dalam bidang keahlian yang diminatinya,

3) Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni agar mampu mengembangkan diri di kemudian hari secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi,

4) Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan program keahlian yang dipilih.

Dalam melaksanakan proses pendidikan kejuruan, SMK diharapkan selalu selaras secara simbiosis dengan dunia usaha dan dunia industri, karena pendidikan kejuruan harus mampu menyiapkan peserta didik agar mampu menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri dan menjadi tenaga kerja yang memiliki kemampuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Keselarasan antara pendidikan kejuruan dengan DU/DI merupakan salah satu bentuk dalam proses penjaminan mutu bagi pendidikan kejuruan.

Penjaminan mutu pendidikan didefinisikan sebagai kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah daerah, pemerintah dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Pada prinsipnya, peningkatan mutu pendidikan bagi SMK bermanfaat untuk:

1. Alat kontrol bagi satuan pendidikan untuk mengetahui apakah sudah ada upaya peningkatan mutu sesuai acuan nasional. Bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah, mutu kinerja penyelenggaraan pendidikan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).

2. Evaluasi dari semua program yang sudah berjalan.

3. Kajian mutu yang menjadi pijakan untuk perencanaan pengembangan program peningkatan mutu secara berkelanjutan

4. Bahan dasar pertimbangan penyusunan program pada renstra SMK 5. Memastikan perencanaan pengembangan sekolah tepat sasaran


(5)

Sistem mutu ini bekerja secara siklus (terus menerus, mengulang) dalam bentuk perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas lembaga agar sesuai dengan standar menuju pada keunggulan. Dengan terbentuknya penjaminan mutu SMK, terjadilah internalisasi mutu pada seluruh aktivitas, sehingga penting bagi sebuah sistem lembaga pendidikan untuk merencanakan dan bergerak maju menuju keunggulan. Hal ini menegaskan bahwa mutu bukanlah fenomena statis, tetapi hal yang dinamis, demikian pula target keunggulan.

Mutu dalam konteks pendidikan mengacu pada masukan, proses dan hasil pendidikan. Antara masukan, proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan, sebagaimana tampak pada gambar berikut:

Proses Perbaikan Berkesinambungan pada Sistem Pendidikan di SMK

Secara operasional, definisi penjaminan mutu adalah serangkaian proses dan sistem yang terkait untuk mengumpulkan, menganalisa dan melaporkan data mutu tentang kinerja, staf, program, lembaga dan produk “MK dala hal i i lulusa . A alisa e ge ai pe ilaian kinerja tersebut akan menjadi dasar untuk peningkatan kualitas proses pendidikan, oleh karena itu penilaian harus berdasarkan fakta dan data.

Untuk itu SMK perlu mendapatkan informasi mengenai penilaian dari para pihak yang selama ini terlibat pada proses pendidikan atau pihak yang mempekerjakan lulusan SMK sebagai hasil pendidikan. Informasi mengenai kinerja SMK dari pihak eksternal dapat diperoleh melalui setidaknya tiga kegiatan, antara lain survei kepuasan perusahaan pengguna lulusan SMK, survei penelusuran tamatan dan penilaian perusahaan terhadap siswa prakerin. Sementara penilaian internal dapat diperoleh melalui


(6)

survei kepuasan guru dan pegawai, siswa dan orang tua siswa. Secara singkat berbagai penilaian yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi diri tampak sebagai berikut:

Informasi dari Dunia Usaha dan Dunia Industri untuk Penyelarasan Pendidikan dengan Pasar Kerja

Aspek Variabel yang perlu diketahui Nara Sumber

Informasi Survei

Pelaksana Survei E kste rn al

Keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan Industri Pengguna Lulusan SMK Survei Kepuasan Perusahaan Pengguna Lulusan SMK BKK, Pokja Humas Kinerja/Kompetensi lulusan

(aktual VS ideal) Peluang Penempatan di Perusahaan

Keterserapan lulusan

Lulusan Survei Penelusuran

Tamatan BKK

Masukan lulusan thd SMK Kinerja siswa saat Praktek Kerja Industri

Industri tempat prakerin

Penilaian Perusahaan bagi Siswa Prakerin Pokja Prakerin & KI In te rn al Isi Guru, Siswa/orang tua Siswa dan Komite Sekolah

Survei Kepuasan Guru dan Pegawai

Survei Kepuasan Siswa/ Orang Tua Siswa

Wakil Manajemen

Mutu Proses

Pendidikan dan Tenaga Kependidikan

Sarana dan Prasarana Pengelolaan

Pembiayaan Pendidikan Penilaian

Melalui peningkatan mutu pendidikan, setiap satuan pendidikan mengevaluasi kinerja, pencapaian sekolah, dan merumuskan rekomendasi secara tepat sesuai dengan data (bukti fisik) dan berdasarkan tahapan pengembangan pencapaian indikator setiap komponen dalam SNP. Berdasarkan penilaian dan rekomendasi ini, SMK dapat menyusun rencana peningkatan dan pengembangan mutu sekolah dan sumber keuangan. Rencana peningkatan dan pengembangan mutu tersebut terdokumentasi pada Rencana Program Pengembangan Sekolah (School Development Plan). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa SDP memiliki hubungan yang sangat erat dengan budaya mutu.

Penyusunan SDP dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah yang terdiri dari antara lain kepala sekolah, manajemen, perwakilan guru dan perwakilan pegawai atau pihak lain yang dianggap perlu terlibat. Tim Pengembang Sekolah perlu diangkat dan ditetapkan secara resmi oleh Kepala Sekolah melalui Surat Keputusan (SK). Pengesahan sebagai anggota TPS diharapkan akan menunjang kinerja TPS secara sistematis dan berkelanjutan. Tidak ada ketentuan mengenai jumlah anggota TPS dan jangka waktu berlakunya SK, mengingat hal ini sangat berkaitan erat dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah. Hal penting yang harus dipertimbangkan dalam memiliki anggota TPS adalah komitmen dan kerjasama yang baik dalam pengembangan sekolah.


(7)

Sekalipun penyusunan SDP dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah, namun demikian pelaksanaan kegiatan program pengembangan sekolah yang tercantum di dalam SDP bukanlah tanggung jawab tim pengembang sekolah semata, malinkan tanggung jawab SELURUH warga sekolah/ civitas akademika. Untuk memastikan tumbuhnya rasa tanggung jawab seluruh warga sekolah, pada proses penyusunan SDP, tim pengembang sekolah perlu melibatkan pihak-pihak yang akan bertanggung jawab dan terlibat pada pelaksanaan kegiatan. Lebih lanjut, SDP perlu disosialisasikan kepada SELURUH warga sekolah. Panduan Teknis Penyusunan Rencana Strategis Pengembangan Sekolah ini disusun untuk membimbing Tim Pengembang Sekolah dalam melakukan setiap tahapan pada proses penyusunan Rencana Strategis Pengembangan Sekolah (SDP).

Panduan Teknis ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan dokumen Te plate Re a a Progra Pe ge a ga “ekolah (School Development Plan). Panduan teknis ini menitikberatkan penjelasan pada proses perencanaan (PLANNING), seda gka Te plate “DP le ih memfokuskan penjelasan pada format yang dianjurkan untuk digunakan pada penulisan SDP (PLAN).


(8)

BAB II

PROGRAM PENGEMBANGAN SEKOLAH

Sebagaimana telah disebutkan pada bab sebelumnya, acuan mutu kinerja penyelenggaraan pendidikan adalah Standar Nasional Pendidikan. Indikator dan komponen dari masing-masing SNP yang belum dicapai oleh satuan pendidikan perlu dijadikan sebagai program pengembangan/peningkatan mutu yang diprioritaskan. Sebagaimana diketahui, Standar Nasional Pendidikan terdiri dari:

 Standar isi1

Standar isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu

Standar ini tersebut memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulu, tingkat satuan pendidikan, dan kalendar pendidikan

 Standar kompetensi lulusan2

Standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik

Standar kompetensi lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran

 Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan3

Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik yang dimaksudkan di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundangan-undangan yang berlaku

 Standar Pengelolaan4

Standar Pengelolaan terdiri dari 3 (tiga) bagian, yakni standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan standar pengelolaan oleh Pemerintah.

 Standar Penilaian5

Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah. 1 http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=103 2http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=63 3 http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=107 4 http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=111 5http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=245


(9)

 Standar Sarana dan Prasarana6

Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/ tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

 Standar proses7

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Selain itu, dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan.

Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien

 Standar biaya8

Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi dan biaya personal.

Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia dan modal kerja tetap.

Biaya personal sebagaimana dimaksud pada di atas meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

Biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi:

 Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji

 Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai dan

 Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi dan lain sebagainya.

6 http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=109 7 http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=105 8http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=113


(10)

Dalam penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah, beberapa standar yang dekat dikelompokkan menjadi satu kategori. Adapun pengelompokan standar tampak sebagai berikut:

Komponen Pengembangan SMK Rujukan 8 SNP

Peningkatan kualitas belajar mengajar

Standar Isi Standar Proses

Standar Penilaian Pendidikan

Standar Pendidikan & Tenaga Kependidikan

Lulusan SMK Standar Kompetensi Lulusan

Manajemen SMK Standar Pengelolaan

Standar Pembiayaan Pendidikan Peningkatan kualitas & daya guna sarpras Standar Sarana dan Prasarana

… dapat dita bahka … dapat dita bahka

Komponen pengembangan tersebut di atas merupakan komponen minimum, di mana SMK dapat menambahkan komponen pengembangan lain yang dianggap penting yang belum masuk ke dalam komponen pengembangan tersebut, misalnya:

1. Pelaksanaan teaching factory sebagai metode didaktik

2. Meningkatkan kelembagaan sekolah melalui peningkatan layanan kepada siswa, masyarakat dan industri serta peningkatan kualitas guru kejuruan

3. Sebagai pusat belajar bagi industri dan masyarakat sekitar sehingga meningkatnya partisipasi masyarakat yang menggunakan fasilitas sekolah

4. Penguatan hubungan sekolah dengan industri 5. Peningkatan Kewirausahaan


(11)

BAB III

PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS PENGEMBANGAN SEKOLAH (SDP)

Dalam menyusun Rencana Strategis Pengembangan (SDP) setidaknya sekolah perlu melakukan empat tahap, yaitu penetapan tujuan/ target pengembangan sekolah, analisa internal kondisi sekolah saat ini, penetapan isu utama dan penyusunan program pengembangan. Tahapan tersebut tampak sebagai berikut:

Bagian ketiga ini akan menjelaskan secara rinci setiap tahapan tersebut.

1.1. Penetapan tujuan/ target pengembangan sekolah:

Tahap penetapan tujuan/ target pengembangan sekolah terdiri dua bagian, yaitu: 1. Penyusunan visi dan misi


(12)

3.1.1. Penyusunan Visi dan Misi

Visi sekolah harus dapat menjelaskan kondisi (mutu, peran, fungsi) masa depan yang diinginkan (expected future) sekolah berdasarkan aspirasi dan idealisme sekolah, nilai-nilai dan filosofi dasar yang dianut dalam berkehidupan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, visi harus disusun bersama-sama antara sekolah dan semua stakeholder yang berkepentingan antara lain: komite sekolah, pengawas, dan pemangku kepentingan/pihak terkait lainnya

Visi bukanlah fakta, melainkan gambaran pandangan ideal masa depan yang ingin diwujudkan. Visi semestinya memberikan arahan, mendorong anggota organisasi untuk menunjukkan kinerja yang baik, menimbulkan inspirasi dan siap menghadapi tantangan, menjembatani masa kini dan masa yang akan datang, serta memberikan gambaran yang realistik dan kredibel dengan masa depan yang menarik. Visi tidak bersifat statis dan tidak untuk selamanya.

Perhatikan contoh Visi Sekolah berikut ini:

UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMTAQ DAN IPTEK, BERPERILAKU YANG SEHAT, BERBUDAYA LINGKUNGAN SERTA BERWAWASAN NASIONAL DAN GLOBAL

MENJADI SMK UNGGUL MENGHASILKAN TENAGA PROFESIONAL YANG BERIMAN DAN BERTAQWA MEMENUHI STANDAR NASIONAL DAN INTERNASIONAL

Visi ditulis dengan kalimat yang tegas, secara langsung menggambarkan cita-cita sekolah. Untuk itu, perlu dihindari kata-kata yang kurang bermakna, berulang atau memiliki arti yang sama. Kalimat visi sebaiknya tidak terlalu panjang dan dapat dipahami maknanya oleh warga sekolah.

Selanjutnya, Misi sekolah adalah rumusan tugas pokok (mandat) yang diemban dan fungsi sekolah sebagai suatu institusi pendidikan menengah kejuruan. Deskripsi misi harus dapat menjawab kenapa sekolah tersebut ada (exist). Misi secara spesifik menyatakan cara-cara yang hendak ditempuh untuk mewujudkan visi sekolah, sehingga pencapaian misi secara sistematis dan dalam tahapan waktu yang jelas menjadi acuan pokok bagaimana sekolah akan menuju visi yang telah ditetapkan tersebut. Oleh


(13)

karena itu, visi dan misi harus menjadi satu kesatuan dan digunakan sebagai kerangka acuan utama dalam menyusun dan melaksanakan program-program pengembangan sekolah.

Perhatikan contoh Misi Sekolah berikut ini:

1. Membentuk peserta didik yang terdidik dan terlatih kompetensi terstandar keterampilan jabatan kerja

2. Meraih kompetensi dan etos kerja melalui peningkatan produktivitas di Dunia Usaha berasaskan saling menguntungkan

3. Menyiapkan diklat berbasis kompetensi kecakapan hidup dan kewirausahaan didasari pengembangan diri yang berkelanjutan

4. Membentuk sikap dan perilaku peserta didik yang berakar pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia

5. Memberdayakan sekolah berbasis kerjasama dan pelayanan prima yang sinergi menuju kemandirian sekolah

3.1.2. Penetapan Tujuan Umum

Setelah menetapkan visi dan misi, sekolah perlu menetapkan tujuan umum (kondisi ideal) yang ingin dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan. Tujuan umum haruslah penting, ketika terealisasi akan memberikan banyak manfaat, sehingga sekolah tidak menyia-nyiakan waktu dan tenaga untuk mencapainya. Tujuan umum sebaiknya memenuhi kriteria SMART, yaitu:

1. Khusus (spesifik)

Tujuan yang khusus cenderung jelas, sehingga akan lebih mudah dicapai karena warga sekolah benar-benar mengenali apa yang diinginkan. Tujuan yang jelas harus memenuhi syarat 5W 1H, yaitu WHAT (apa tujuannya), WHERE (di mana), WHEN (kapan dicapai), WHY (urgensi tujuan tersebut) dan WHO (pihak-pihak terkait pencapaian tujuan tersebut) dan HOW (proses dan cara).

Kegagalan pencapaian tujuan sering kali terjadi karena tujuan masih terlalu umum, sehingga mengambang dan multi tafsir. Motivasi pencapaian tujuan sering kali cepat lenyap seiring dengan berjalannya waktu.

2. Dapat diukur (measurable)

Agar sekolah dapat menganalisa proses pencapaian tujuan serta mengetahui apakah tujuan tersebut telah tercapai atau belum, sekolah perlu menetapkan kriteria yang dapat diukur dan dievaluasi.


(14)

Pengukuran dan evaluasi harus dapat dilakukan dalam proses perencanaan tujuan, di tengah perjalanan pencapaian tujuan dan ketika mencapai tujuan tersebut.

Mengevaluasi tujuan sebelum memulai perjalanan memungkinkan manajemen sekolah menganalisa kembali apakah ada kekurangan atau kesalahan pada tujuan tersebut. Mengevaluasi tujuan di tengah perjalanan membantu manajemen sekolah untuk mengetahui beberapa pencapaian atau penyimpangan yang terjadi selama proses pencapaian tujuan. Sementara itu, mengevaluasi tujuan ketika tujuan telah dicapai memungkinkan manajemen sekolah menganalisa kembali mengenai makna dari tujuan tersebut. Tujuan harus mudah diukur agar mengetahui di mana posisi sekolah terkini dan seberapa jauh jarak yang tersisa antara diri sekolah dengan tujuan yang diharapkan.

3. Dapat dicapai (achievable/attainable)

Tujuan yang baik adalah tujuan yang dapat dicapai. Tujuan yang tidak dapat dicapai adalah mimpi/ khayalan. Mimpi sebenarnya dapat berubah menjadi tujuan yang dapat dicapai, apabila sekolah memiliki cara yang tepat untuk merealisasikannya. Jadi, yang terpenting bukan terletak pada seberapa besar/tingginya tujuan tersebut, namun seberapa besar kemungkinan sekolah untuk mencapainya dengan strategi yang sekolah miliki.

4. Realistis (Realistic)

Hampir sama dengan achievable, tujuan yang realistis adalah tujuan yang besar kemungkinan untuk dicapai. Tujuan yang tidak realistis adalah tujuan yang tidak ditemukan solusi atau langkah-langkah yang tepat dalam mencapainya.

5. Terbatas waktu (Time bound)

Tujuan yang baik adalah tujuan memiliki batas waktu pencapaian. Apabila sekolah tidak menetapkan tenggat waktu, terkadang tujuan tidak terselesaikan dengan cepat. Dalam kasus SMK, disarankan waktu yang digunakan sebagai batas pencapaian adalah lima tahun.


(15)

Bagi sekolah yang merupakan satuan pendidikan, tujuan yang ditetapkan sebaiknya terkait dengan kondisi ideal output utama sekolah, yaitu lulusan SMK. Kondisi ideal apa yang diharapkan sekolah terjadi pada lulusan SMK mereka.

Banyak hal yang dapat ditetapkan oleh sekolah sebagai tujuan yang ingin dicapai, misalnya: 1. Keterserapan lulusan SMK di industri:

a. Seberapa tinggi tingkat keterserapan: 50%? 70%? Atau 100%?

b. Bagaimana kondisi pekerjaan tersebut: relevan dengan kompetensi keahlian yang dipelajari di SMK? Bagaimana status kontrak kerjanya?

2. Kompetensi lulusan SMK di pasar kerja:

a. Apakah kompetensi lulusan SMK sesuai dengan kebutuhan industri? b. Apakah industri puas dengan kompetensi lulusan?

c. Seberapa puas industri dengan kompetensi lulusan?

3.2.Analisa Internal Kondisi Sekolah Saat ini

Setelah menetapkan tujuan/ target pengembangan, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam menyusun rencana pengembangan sekolah (SDP) adalah melakukan analisa kondisi aktual sekolah.

Dengan melakukan analisa internal kondisi aktual sekolah, manajemen sekolah dapat mengetahui di mana posisi SMK saat ini dan seberapa besar kesenjangan yang ada antara kondisi ideal (tujuan yang ingin dicapai dalam waktu lima tahun) dengan kondisi aktual (posisi SMK saat ini). Di samping itu, dengan melakukan analisa kondisi sekolah saat ini, manajemen sekolah akan mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki serta peluang yang dapat dimanfaatkan untuk pencapaian tujuan atau sebaliknya ancaman yang dapat menghalangi pencapaian tujuan. Setidaknya, terdapat dua metode analisa internal kondisi sekolah saat ini yang dapat digunakan, yaitu:

1. Analisa kesenjangan (ideal VS aktual)

2. Analisa SWOT (Strength VS Weakness, Opportunities VS Threaths)

Manajemen sekolah bebas memilih salah satu metode analisa mana yang dilakukan yang sesuai dengan kondisi sekolah, yang terpenting adalah analisa internal kondisi sekolah harus dilakukan berdasar pada


(16)

data empirik dan bersifat obyektif, bukan berdasarkan perasaan atau asumsi. Namun pada dokumen ini da doku e Pe yusu a Re a a “trategis Pe ge a ga “ekolah “DP da Te plate Re a a Program Pengembanga “ekolah penjelasan dititikberatkan pada analisa kesenjangan, mengingat analisa kesenjangan lebih mudah.

Data empirik tersebut dapat diperoleh melalui beberapa kegiatan yang secara rutin dilakukan oleh sekolah untuk mengevaluasi kondisi aktual, antara lain:

1. Evaluasi Diri Sekolah 2. Survei Siswa

3. Survei Guru/ Pegawai

4. Survei Kepuasan Perusahaan Pengguna Alumni 5. Survei Penelusuran Tamatan

Dalam melakukan analisa kuantitatif dan kualitatif tersebut, sekolah sebaiknya menggunakan data selama 3 (tiga) tahun terakhir. Tentukan angka rata-rata atau trend/ kecenderungan yang menggambarkan kondisi saat iini yang selanjutnya dapat menjadi data baseline dalam menentukan langkah pengembangan ke depan.

3.2.1. Analisa Kesenjangan

Analisa Kesenjangan merupakan salah satu instrumen perencanaan strategis yang klasik, yang mampu memberikan gambaran seberapa jauh kondisi aktual sekolah dari kondisi ideal yang diharapkan. Dalam melakukan analisa kesenjangan, sekolah dapat menggunakan kondisi aktual sekolah berdasarkan 8 standar nasional pendidikan sebagai acuan. Acuan ini juga akan menjadi dasar bagi pengembangan, monitoring dan evaluasi berkelanjutan.

Sekolah akan membandingkan kondisi ideal dengan kondisi aktual dari setiap aspek Standar Nasional Pendidikan. Apabila terdapat kesenjangan, sekolah perlu memikirkan rekomendasi perkembangan yang bertujuan untuk memperkecil kesenjangan tersebut.

Dengan demikian secara menyeluruh sekolah melakukan analisis kesenjangan dengan membandingkan antara kondisi aktual sekolah dengan kondisi ideal yang diharapkan sekolah. Sekolah dapat


(17)

menggunakan template softcopy Analisa Kesenjangan yang ada pada CD Pe yusu a Re a a “trategis Pe ge a ga “ekolah “DP

3.2.2. Analisa SWOT (Strength VS Weakness, Opportunity VS Threath)

Analisa SWOT merupakan instrumen perencanaan strategis yang klasik, yang mampu memperkirakan cara terbaik dalam melaksanakan strategi. Instrumen ini dapat membantu para perencana mengenai apa yang dapat dicapai dan hal apa yang perlu diperhatikan.

Analisa SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan serta peluang di dalam organisasi (internal), dan secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan serta tantangan dari luar organisasi (eksternal).

Dalam melakukan analisis lingkungan eksternal dan internal, sekolah harus menempatkan profil lembaga berdasarkan 8 standar nasional pendidikan sebagai acuan dalam menganalisis. Acuan ini juga akan menjadi dasar bagi pengembangan, monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Dengan demikian secara menyeluruh sekolah melakukan analisis terhadap tantangan serta peluang dan kekuatan serta kelemahan.

3.2.2.1.Analisis Eksternal

Analisis eksternal berisi tentang potensi lingkungan eksternal (industri potensial, pemerintah daerah, masyarakat sekitar) yang kemudian dapat digunakan sebagai landasan mengenai peluang-peluang yang dimiliki oleh sekolah untuk berkembang. Dalam analisis ini sekolah juga diharapkan dapat menguraikan perkembangan kebijakan pemerintah (baik pusat maupun daerah) yang berhubungan langsung dengan upaya sekolah dalam mengembangkan diri menjadi sekolah rujuan dalam konteks peningkatan mutu SDM, inovasi teknologi atau kreativitas seni dan kewirausahaan di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

3.2.2.2.Analisis Internal

Analisis Internal berisi informasi tentang kondisi nyata sekolah saat ini, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya, kegiatan akademik dan non-akademik, maupun upaya peningkatan mutu.


(18)

Hasil analisis ini kemudian dibandingkan dengan analisis lingkungan eksternal sehingga sekolah dapat dengan mudah mengetahui kekuatan atau kelemahan yang dimiliki dalam upaya memanfaatkan peluang yang ada.

Secara sistematis langkah-langkah yang dilakukan pada saat analisis SWOT sebagai berikut: 1. Urutkan kondisi eksternal yang ada dalam bentuk Tantangan (T) dan Peluang (O)

2. Urutkan kondisi internal yang dimiliki oleh sekolah dalam bentuk Kekuatan (S) dan Kelemahan (W) 3. Hubungkan hal-hal yang telah diurutkan untuk setiap komponen TWOS, yaitu antara S-T, S-O, W-T

dan W-O. Dari hubungan antara komponen-komponen tersebut maka turunkan program pegembangan yang dianggap cukup strategis untuk dilaksanakan sedemikian sehingga peningkatan pengakuan internasional dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan.

Salah satu matriks yang dapat digunakan pada saat analisis SWOT tampak sebagai berikut:

Peluang Eksternal (O) . ………. . ………. . ………. . ………. Tantangan Eksternal (T)

. ………. . ………. . ………. 4. ……….

Kekuatan Internal (S) . ………. . ………. . ………. . ………. Kelemahan Internal (W)

. ………. 2. ………. . ………. . ……….

Strategi Pengembangan S-T

Menggunakan Kekuatan Internal untuk mengurangi Tantangan Eksternal

Strategi Pengembangan S-O

Menggunakan Kekuatan Internal untuk mencapai Peluang Eksternal yang ada

Strategi Pengembangan W-T

Mengurangi Kelemahan Internal dan menghindari Tantangan Eksternal

Strategi Pengembangan W-O

Mengurangi Kelemahan Internal dengan meman-faatkan Peluang Eksternal yang ada


(19)

3.3.Penetapan Isu Utama/ Prioritas:

Setelah melakukan analisa kesenjangan dan analisa SWOT, sekolah dapat mengetahui secara obyektif kondisi aktual sekolah yang terjadi saat ini dan seberapa posisi tersebut dari kondisi ideal yang diharapkan terjadi. Bukan tidak mungkin kesenjangan tersebut sangat besar, sehingga diperlukan pula banyak upaya/program pengembangan yang bertujuan mempersempit kesenjangan tersebut. Namun demikian perlu juga diingat bahwa sekolah memiliki sumber daya yang tidak tak terbatas. Untuk itu, sekolah perlu menetapkan program pengembangan yang perlu diprioritaskan atau diutamakan. Setelah menetapkan isu utama, sekolah perlu memetakan hubungan antara program pengembangan.

3.3.1. Penetapan Isu Utama

Penetapan isu utama perlu dilakukan mengingat sekolah memiliki sumber daya yang tidak tak terbatas, untuk itu sekolah perlu memikirkan program pengembangan apa saja yang perlu dilakukan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang.

Isu utama perlu diseleksi berdasarkan tingkat relevansinya terhadap pencapaian tujuan. Dalam menetapkan isu utama/ prioritas sebaiknya sekolah memperhatikan komponen pengembangan untuk memastikan bahwa intervensi program pengembangan bersifat menyeluruh dan akan mengarah pada pencapaian tujuan. Dalam melakukan penetapan isu utama, sekolah perlu memikirkan bahwa:

1. Isu tersebut memiliki daya ungkit paling besar dalam mendorong pencapaian tujuan jangka menengah (5 tahun ke depan) atau sebaliknya

2. Isu tersebut dapat menghalangi tercapainya tujuan jangkat menengah (5 tahun ke depan) Sekolah melihat kembali analisa kesenjangan yang telah dibuat. Dari sekian banyak program pengembangan yang perlu dilakukan untuk memperkecil kesenjangan antara kondisi AKTUAL dengan kondisi IDEAL, program pengembangan mana saja yang dapat mendorong pencapaian tujuan jangka menengah.

Dalam menetapkan isu utama/ program pengembangan yang diprioritaskan, sekolah perlu mengingat sumber daya yang mereka miliki dan waktu yang terbatas, dalam hal ini lima tahun. Apabila isu utama/program pengembangan masih terlalu banyak, sekolah perlu mengulang langkah penetapan isu


(20)

utama tersebut, sehingga program pengembangan sesuai dengan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah.

3.3.2. Strategy map

Setelah sekolah menetapkan isu-isu utama yang menjadi prioritas, sekolah perlu membuat peta strategi/strategy map, yaitu sebuah diagram yang menunjukkan keterkaitan/hubungan antar isu-isu utama serta hubungan antara isu-isu utama dengan tujuan yang ingin dicapai. Strategy map merupakan visualisasi yang mempermudah pemahaman hubungan antar isu utama. Beberapa isu akan mendukung pencapaian isu lain. Bukan tidak mungkin suatu isu baru dapat tercapai, bila isu lain telah tercapai terlebih dahulu. Dengan bantuan strategy map, sekolah dapat mengetahui isu utama apa yang harus dilakukan terlebih dahulu. Strategy map memiliki karakteristik sebagai berikut:

 Semua informasi strategy map berada dalam satu diagram sehingga mempermudah melihat hubungan antar isu utama

 Isu-isu utama yang dibuat mengacu pada komponen pengembangan

 Setiap isu utama sebaiknya berhubungan

 Garis panah menunjukkan hubungan sebab akibat.


(21)

3.4.Penyusunan Program Pengembangan

Pada tahap sebelumnya, sekolah telah menetapkan program pengembangan yang diprioritaskan yang akan dilakukan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun dan hubungan antar program pengembangan (strategy map). Langkah selanjutnya dalam penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah adalah penetapan target dan indikator serta penyusunan rencana kerja sekolah.

3.4.1. Penetapan Target dan Indikator

Pada tahap sebelumnya, sekolah sudah menetapkan tujuan yang ingin dicapai dalam kurun waktu 5 tahun ke depan dan isu utama yang perlu dikembangkan untuk memastikan pencapaian tujuan. Sekolah perlu menetapkan target dan indikator pencapaian dalam kurun waktu 5 tahun mendatang untuk memonitor perkembangan pencapaian tujuan. Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan pada tahap penetapan target dan indikator adalah:

1. Menuliskan program pengembangan yang sudah ditetapkan sebagai prioritas oleh Tim Pengembang Sekolah. Beberapa program pengembangan tersebut perlu dikelompokkan ke dalam komponen pengembangan yang satu rumpun, sehingga di dalam satu komponen pengembangan bisa terdapat beberapa program pengembangan.

Rumpun komponen pengembangan terdiri dari:

Komponen Pengembangan 8 SNP

Peningkatan kualitas belajar mengajar

Standar Isi Standar Proses

Standar Penilaian Pendidikan Standar Pendidikan & Tenaga Kependidikan

Lulusan SMK Standar Kompetensi Lulusan

Manajemen SMK Standar Pengelolaan

Standar Pembiayaan Pendidikan Peningkatan kualitas & daya guna sarpras Standar Sarana dan Prasarana


(22)

2. Untuk setiap program pengembangan, sekolah perlu menetapkan indikator. Indikator adalah aspek/kondisi yang dapat mengidikasikan pencapaian tujuan tersebut. Sama seperti tujuan, indikator haruslah SMART (spesific, measureable, achievable, realistic, time bound). Hal-hal yang perlu dijadikan indikator adalah hal-hal yang sudah ditetapkan sebagai isu utama oleh sekolah pada tahap sebelumnya.

3. Untuk setiap indikator, sekolah harus menuliskan nilai dasar (baseline), yaitu kondisi aktual sekolah saat itu untuk indikator yang bersangkutan.

4. Tim Pengembang Sekolah menetapkan target yang ingin dicapai setiap tahunnya (Th1-Th5) untuk setiap indikator. Satuan indikator pada nilai dasar hingga nilai target tahun kelima harus sama. Misalnya dalam % (persen) atau satuan lainnya.

5. Untuk setiap program pengembangan, Tim Pengembang Sekolah perlu menetapkan penanggung jawab program. Para penanggung jawab tersebut tidak terbatas pada pihak-pihak di luar Tim Pengembang Sekolah saja, namun bisa pula warga sekolah lainnya yang memiliki komitmen.

6. Untuk setiap program pengembangan, perlu ditetapkan waktu mulai dan selesai.

Template target dan indikator seperti di bawah ini terdapat pada Te plate “ hool De elop e t Pla hala a …


(23)

3.4.2. Penyusunan Rencana Kerja Sekolah

Rencana kerja sekolah dikembangkan berdasarkan target dan indikator yang sudah ditetapkan sebelumnya, sehingga keduanya berhubungan erat. Pada template keduanya, hubungan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Penyusunan rencana kerja sekolah bertujuan agar sekolah dapat mengetahui secara rinci kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang harus dilakukan agar tujuan dan sasaran pengembangan sekolah dapat dicapai. Rencana Kerja Sekolah juga menjamin bahwa semua program dan kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan sekolah sudah memperhitungkan harapan-harapan pemangku kepentingan dan kondisi nyata sekolah. Oleh sebab itu, proses penyusunan RKS perlu melibatkan semua pemangku kepentingan, terutama para penanggung jawab program pengembangan.


(24)

Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan pada tahap penyusunan rencana kerja sekolah adalah: 1. Tetapkan kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan untuk program pengembangan tertentu yang

telah ditentukan sebelumnya pada perumusan target dan indikator. Sebuah program pengembangan dapat terdiri atas beberapa kegiatan.

2. Untuk setiap kegiatan, tetapkan waktu kapan dimulai dan kapan harus selesai. Rentang waktu untuk setiap kegiatan harus sesuai dengan rentang waktu yang telah direncanakan untuk program pengembangan.

3. Tim Pengembang Sekolah menetapkan penanggung jawab untuk setiap kegiatan. Penanggung jawab kegiatan bisa berbeda dengan penanggung jawab program pengembangan, sehingga di dalam satu program pengembangan dimungkinkan terdapat beberapa penanggung jawab kegiatan.

4. Untuk setiap kegiatan, Tim Pengembang Sekolah menetapkan besaran anggaran dan sumber asal dana. Tujuan penyusunan jadwal kegiatan ini untuk mempermudah pelaksana dalam menentukan urutan kegiatan dan mengatur penggunaan sumberdaya dan dana yang dimiliki SMK sehingga alur kegiatan dan keuangan SMK dapat dikontrol lebih efektif.

Template Re a a Kerja Sekolah seperti di a ah i i terdapat pada Te plate “ hool De elop e t Pla hala a …

Template TARGET DAN INDIKATOR PROGRAM PENGEMBANGAN SMK

Dengan selesainya langkah ini, maka Rencana Kerja telah selesai karena SMK telah memiliki Rencana Pengembangan Sekolah yang lengkap, yaitu: Komponen Pengembangan, Program, Kegiatan, dan Jadwal pelaksanaan sesuai prioritas kebutuhan dan sumberdaya sekolah.


(25)

BAB IV MONITORING

Mutu yang berkelanjutan perlu dipantau (monitoring) dan dievaluasi. Monitoring dan evaluasi dapat dilakukan baik oleh pihak internal maupun eksternal. Hal ini untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri seperti halnya melihat diri pada cermin. Evaluasi diri akan menjadi indikator untuk perbaikan mutu berkelanjutan dan sebuah langkah awal untuk meyakinkan mutu.

Setelah rencana strategis pengembangan sekolah berhasil disusun, sekolah perlu melaksanakan apa yang telah direncanakan untuk menjamin pencapaian target yang telah ditetapkan. Kegiatan yang tidak kalah penting dalam proses pelaksanaan rencana adalah pemantauan/ monitoring kegiatan.

Monitoring merupakan suatu kegiatan rutin yang perlu dilakukan secara berkesinambungan/ terus menerus, setidaknya tiga atau empat kali dalam setahun. Monitoring dilakukan sebagai upaya untuk memantau hasil yang dicapai, apakah sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.

Monitoring harus mampu memberikan isyarat dini (early warning) bagi manajemen sekolah. Jika terjadi penyimpangan dari target yang telah ditetapkan sebelumnya, maka segera diadakan perbaikan, agar semua target yang telah ditetapkan dapat dicapai pada waktunya. Monitoring bukanlah suatu kegiatan untuk mencari kesalahan, tetapi justru membantu untuk melakukan tindakan perbaikan secara terus menerus.

Inti utama dari kegiatan monitoring selain melihat hambatan yang terjadi, juga merancang corrective action, yaitu tindakan perbaikan yang perlu dilakukan untuk memastikan pencapaian target yang telah ditetapkan.

File Monitoring terdiri atas beberapa lembar/ sheet. Setiap lembar tersebut mewakili monitoring untuk pelaksanaan program pengembangan dalam satu tahun. Lembar/ sheet monitoring tampak sebagai berikut:


(26)

Template/ kerangka acuan mencakup beberapa aspek, yaitu:

Komponen Pengembangan : Cukup jelas. Komponen pengembangan yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Indikator : Cukup jelas. Kondisi/ aspek yang mampu merefleksikan pencapaian target.

Nilai Dasar : Status pencapaian sebelum kegiatan/ program pengembangan dilaksanakan. Pada rencana strategis pengembangan sekolah 5 tahunan, nilai dasar tahun pertama adalah nilai indikator untuk tahun sebelumnya. Sementara nilai dasar tahun kedua adalah nilai pencapaian untuk indikator pada tahun pertama dan seterusnya. Target : Nilai untuk indikator yang diharapkan dapat tercapai pada tahun

tersebut. Sekolah perlu merujuk pada target dan indikator yang telah ditetapkan sebelumnya. (Lihat File Target dan Indikator).

Capaian (%) : Prosentase pencapaian target. Mengingat monitoring perlu dilakukan secara berkesinambungan, dalam hal ini 3 hinggal 4 kali dalam setahun, maka kolom capaian terdiri atas 4 kolom, yakni caturwulan 1 hingga caturwulan 3.

Prosentase yang dituliskan dalam kolom caturwulan 1 hingga caturwulan 3 merupakan prosentase terhadap target tahun tersebut. Misalnya pada tahun tersebut ditargetkan sekolah melaksanakan teaching factory dengan tingkat kualitas implementasi mencapai 50%, maka prosentase pada kolom Triwulan 1 hingga 3 harus dibandingkan dengan angka target tahun ini, yakni 50%.


(27)

Contoh:

Caturwulan 1 kualitas implementasi teaching factory mencapai 30% Caturwulan 2 kualitas implementasi teaching factory mencapai 40% Caturwulan 3 kualitas implementasi teaching factory mencapai 50% Maka pada kolom capaian ditulis sebagai berikut:

CW 1 – 60% (30%/50%) CW 2 – 80% (40%/50%) CW 3 – 100% (50%/50%)

Keterangan : Setiap kali melakukan monitoring, SMK perlu membandingkan pencapaian di setiap triwulan dengan target di akhir tahun. Apakah target akan dapat tercapai?

Apabila sekolah menilai target tidak akan dapat tercapai, SMK perlu menuliskan hambatan atau tantangan tersebut. Kondisi itu perlu ditulis pada kolom Keterangan.

Rencana Aksi Perbaikan : Apabila terdapat hambatan atau tantangan, SMK perlu merencanakan kegiatan korektif yang dapat memperbaiki kondisi tersebut dan menjamin pencapaian target di tahun tersebut.

Penanggung Jawab : Individu atau tim yang bertanggung jawab atas pelaksanaan aksi perbaikan.


(28)

BAB V PENUTUP

Panduan teknis Penyusunan Rencana Strategis Pengembangan Sekolah (School Development Plan) ini telah disusun untuk memberikan kerangka pemikiran yang efektif, efisien dan sistematis. Hal tersebut diharapkan dapat mempermudah sekolah dalam menyusun rencana strategis yang akan dilakukan untuk pengembangan sekolah.

Panduan teknis ini merupakan satu kesatuan dengan Template / Kerangka Acuan Rencana Strategis Pengembangan Sekolah (School Development Plan) yang telah disediakan. Template tersebut dimaksudkan untuk mempermudah para pemangku kepentingan (stakeholder) baik dari luar maupun dari internal sekolah sendiri dalam memahami dan memberikan penilaian atas program pengembangan yang akan dilakukan oleh sekolah.


(1)

3.4.2. Penyusunan Rencana Kerja Sekolah

Rencana kerja sekolah dikembangkan berdasarkan target dan indikator yang sudah ditetapkan sebelumnya, sehingga keduanya berhubungan erat. Pada template keduanya, hubungan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Penyusunan rencana kerja sekolah bertujuan agar sekolah dapat mengetahui secara rinci kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang harus dilakukan agar tujuan dan sasaran pengembangan sekolah dapat dicapai. Rencana Kerja Sekolah juga menjamin bahwa semua program dan kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan sekolah sudah memperhitungkan harapan-harapan pemangku kepentingan dan kondisi nyata sekolah. Oleh sebab itu, proses penyusunan RKS perlu melibatkan semua pemangku kepentingan, terutama para penanggung jawab program pengembangan.


(2)

Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan pada tahap penyusunan rencana kerja sekolah adalah: 1. Tetapkan kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan untuk program pengembangan tertentu yang

telah ditentukan sebelumnya pada perumusan target dan indikator. Sebuah program pengembangan dapat terdiri atas beberapa kegiatan.

2. Untuk setiap kegiatan, tetapkan waktu kapan dimulai dan kapan harus selesai. Rentang waktu untuk setiap kegiatan harus sesuai dengan rentang waktu yang telah direncanakan untuk program pengembangan.

3. Tim Pengembang Sekolah menetapkan penanggung jawab untuk setiap kegiatan. Penanggung jawab kegiatan bisa berbeda dengan penanggung jawab program pengembangan, sehingga di dalam satu program pengembangan dimungkinkan terdapat beberapa penanggung jawab kegiatan.

4. Untuk setiap kegiatan, Tim Pengembang Sekolah menetapkan besaran anggaran dan sumber asal dana. Tujuan penyusunan jadwal kegiatan ini untuk mempermudah pelaksana dalam menentukan urutan kegiatan dan mengatur penggunaan sumberdaya dan dana yang dimiliki SMK sehingga alur kegiatan dan keuangan SMK dapat dikontrol lebih efektif.

Template Re a a Kerja Sekolah seperti di a ah i i terdapat pada Te plate “ hool De elop e t Pla hala a …

Template TARGET DAN INDIKATOR PROGRAM PENGEMBANGAN SMK

Dengan selesainya langkah ini, maka Rencana Kerja telah selesai karena SMK telah memiliki Rencana Pengembangan Sekolah yang lengkap, yaitu: Komponen Pengembangan, Program, Kegiatan, dan Jadwal pelaksanaan sesuai prioritas kebutuhan dan sumberdaya sekolah.


(3)

BAB IV MONITORING

Mutu yang berkelanjutan perlu dipantau (monitoring) dan dievaluasi. Monitoring dan evaluasi dapat dilakukan baik oleh pihak internal maupun eksternal. Hal ini untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri seperti halnya melihat diri pada cermin. Evaluasi diri akan menjadi indikator untuk perbaikan mutu berkelanjutan dan sebuah langkah awal untuk meyakinkan mutu.

Setelah rencana strategis pengembangan sekolah berhasil disusun, sekolah perlu melaksanakan apa yang telah direncanakan untuk menjamin pencapaian target yang telah ditetapkan. Kegiatan yang tidak kalah penting dalam proses pelaksanaan rencana adalah pemantauan/ monitoring kegiatan.

Monitoring merupakan suatu kegiatan rutin yang perlu dilakukan secara berkesinambungan/ terus menerus, setidaknya tiga atau empat kali dalam setahun. Monitoring dilakukan sebagai upaya untuk memantau hasil yang dicapai, apakah sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.

Monitoring harus mampu memberikan isyarat dini (early warning) bagi manajemen sekolah. Jika terjadi penyimpangan dari target yang telah ditetapkan sebelumnya, maka segera diadakan perbaikan, agar semua target yang telah ditetapkan dapat dicapai pada waktunya. Monitoring bukanlah suatu kegiatan untuk mencari kesalahan, tetapi justru membantu untuk melakukan tindakan perbaikan secara terus menerus.

Inti utama dari kegiatan monitoring selain melihat hambatan yang terjadi, juga merancang corrective action, yaitu tindakan perbaikan yang perlu dilakukan untuk memastikan pencapaian target yang telah ditetapkan.

File Monitoring terdiri atas beberapa lembar/ sheet. Setiap lembar tersebut mewakili monitoring untuk pelaksanaan program pengembangan dalam satu tahun. Lembar/ sheet monitoring tampak sebagai berikut:


(4)

Template/ kerangka acuan mencakup beberapa aspek, yaitu:

Komponen Pengembangan : Cukup jelas. Komponen pengembangan yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Indikator : Cukup jelas. Kondisi/ aspek yang mampu merefleksikan pencapaian target.

Nilai Dasar : Status pencapaian sebelum kegiatan/ program pengembangan dilaksanakan. Pada rencana strategis pengembangan sekolah 5 tahunan, nilai dasar tahun pertama adalah nilai indikator untuk tahun sebelumnya. Sementara nilai dasar tahun kedua adalah nilai pencapaian untuk indikator pada tahun pertama dan seterusnya. Target : Nilai untuk indikator yang diharapkan dapat tercapai pada tahun

tersebut. Sekolah perlu merujuk pada target dan indikator yang telah ditetapkan sebelumnya. (Lihat File Target dan Indikator).

Capaian (%) : Prosentase pencapaian target. Mengingat monitoring perlu dilakukan secara berkesinambungan, dalam hal ini 3 hinggal 4 kali dalam setahun, maka kolom capaian terdiri atas 4 kolom, yakni caturwulan 1 hingga caturwulan 3.

Prosentase yang dituliskan dalam kolom caturwulan 1 hingga caturwulan 3 merupakan prosentase terhadap target tahun tersebut. Misalnya pada tahun tersebut ditargetkan sekolah melaksanakan teaching factory dengan tingkat kualitas implementasi mencapai 50%, maka prosentase pada kolom Triwulan 1 hingga 3 harus dibandingkan dengan angka target tahun ini, yakni 50%.


(5)

Contoh:

Caturwulan 1 kualitas implementasi teaching factory mencapai 30% Caturwulan 2 kualitas implementasi teaching factory mencapai 40% Caturwulan 3 kualitas implementasi teaching factory mencapai 50% Maka pada kolom capaian ditulis sebagai berikut:

CW 1 – 60% (30%/50%) CW 2 – 80% (40%/50%) CW 3 – 100% (50%/50%)

Keterangan : Setiap kali melakukan monitoring, SMK perlu membandingkan pencapaian di setiap triwulan dengan target di akhir tahun. Apakah target akan dapat tercapai?

Apabila sekolah menilai target tidak akan dapat tercapai, SMK perlu menuliskan hambatan atau tantangan tersebut. Kondisi itu perlu ditulis pada kolom Keterangan.

Rencana Aksi Perbaikan : Apabila terdapat hambatan atau tantangan, SMK perlu merencanakan kegiatan korektif yang dapat memperbaiki kondisi tersebut dan menjamin pencapaian target di tahun tersebut.

Penanggung Jawab : Individu atau tim yang bertanggung jawab atas pelaksanaan aksi perbaikan.


(6)

BAB V PENUTUP

Panduan teknis Penyusunan Rencana Strategis Pengembangan Sekolah (School Development Plan) ini telah disusun untuk memberikan kerangka pemikiran yang efektif, efisien dan sistematis. Hal tersebut diharapkan dapat mempermudah sekolah dalam menyusun rencana strategis yang akan dilakukan untuk pengembangan sekolah.

Panduan teknis ini merupakan satu kesatuan dengan Template / Kerangka Acuan Rencana Strategis Pengembangan Sekolah (School Development Plan) yang telah disediakan. Template tersebut dimaksudkan untuk mempermudah para pemangku kepentingan (stakeholder) baik dari luar maupun dari internal sekolah sendiri dalam memahami dan memberikan penilaian atas program pengembangan yang akan dilakukan oleh sekolah.