Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Bunga Krisan (Crysantimum Sp) Di Kota Medan

(1)

(2)

Lampiran 1. Data Karakteristik Responden Bunga Krisan

No Nama JenisKelamin Usia PendidikanTerakhir Pekerjaan

1 Ahmad Zaki Laki-laki 49-54 S-1 PNS

2 Winny Perempuan 21-25 S-1 Dokter

3 Pandapotan Laki-laki 21-25 S-1 Wirausaha

4 YozieDharmawan Laki-laki 21-25 S-1 Wirausaha

5 M.RizkaNovandy Laki-laki 31-35 S-1 Wirausaha

6 Asman Laki-laki 31-35 S-1 Wirausaha

7 Budi Bramantara Laki-laki 21-25 S-1 Jobseeker

8 Karnoyo Laki-laki 21-25 SMA Wirausaha

9 M. Cahyadi Laki-laki 21-25 S-1 Wirausaha

10 RizkyAulia Laki-laki 21-25 SMA Mahasiswa

11 Hugo Febrian S. Laki-laki 16-20 SMA Mahasiswa

12 Michael Laki-laki 21-25 S-1 Wirausaha

13 AdliRifqiAlkaSrg Laki-laki 21-25 SMA Mahasiswa

14 FahmiSihombing Laki-laki 21-25 S-1 Wirausaha

15 ChaidirAzhariTjg Laki-laki 21-25 SMA Wirausaha

16 MarshitaSiahaan Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

17 Suci Perempuan 21-25 S-1 Jobseeker

18 ChintyaGultom Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

19 Dear Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

20 Silvana Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

21 khairunisanurhidayah Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

22 DinastyPermana Laki-laki 16-20 SMA Mahasiswa

23 HafniJayanti Perempuan 21-25 SMA Mahasiswa

24 HusnulKhotimah Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

25 Detya R.P. Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

26 Deasy Agatha Perempuan 21-25 SMA Mahasiswa

27 Apri Yogi Laki-laki 21-25 SMA Mahasiswa

28 KoniArmandani Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

29 ElsyNovita Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

30 Tiara Ayudana Olivia

Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

31 SitiHartati Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

32 RanaAdilaPulungan Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

33 Ayu Perempuan 21-25 SMA Mahasiswa

34 Yantono Laki-laki 21-25 S-1 PegawaiSwasta

35 Sari Perempuan 26-30 S-1 IbuRumahTangga

36 Noviarny Perempuan 21-25 S-1 Mahasiswa

37 Lara Veronika Perempuan 21-25 S-1 Mahasiswa

38 Juwita Sari Manulanhg

Perempuan 21-25 S-1 Wirausaha


(3)

40 InggridAstuti Perempuan 26-30 S-1 PegawaiSwasta

41 Cindy Geovany Perempuan 21-25 S-1 PegawaiSwasta

42 PutriCindraMasayu Perempuan 31-35 S-1 PegawaiSwasta 43 Hena Al-Humairo Perempuan 36-40 SMA IbuRumahTangga

44 GlaretYola Perempuan 21-25 SMA Mahasiswa

45 HarfahNur Has Perempuan 21-25 S-1 PNS

46 SaviraBudiarny Perempuan 16-20 SMA Mahasiswa

47 NirmaAprida Perempuan 49-54 S-1 Wirausaha

48 AyubLubis Laki-laki 21-25 S-2 Advokat

49 Baginda Umar Lubis Laki-laki 26-30 S-2 Advokat

50 Khairulikhwan Laki-laki 21-25 S-1 Wirausaha

51 DasmadeSaragih Laki-laki 21-25 S-1 Advokat

52 FinkaAdisti Perempuan 21-25 S-1 Jobseeker

53 NidyaDiani Perempuan 26-30 S-1 PNS

54 FaqitaIqlima Perempuan 26-30 S-1 PegawaiSwasta


(4)

Tipe Warna Tampilan Kesegaran Ukuran Harga

(Rp/Tangkai) Kemasan Status Card id Standar Merah Kuncup Tidak tahan

lama

Besar > Rp. 3.000 Plastik Design 1

Spray Kuning Kuncup Tidak tahan lama

Besar > Rp. 3.000 Kertas Design 2

Standar Kuning Mekar Tahan lama Kecil > Rp. 3.000 Koran Design 3 Spray Putih Kuncup Tidak tahan

lama

Kecil < Rp. 3.000 Plastik Design 4

Standar Kuning Kuncup Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Plastik Design 5 Spray Putih Kuncup Tahan lama Kecil > Rp. 3.000 Plastik Design 6 Standar Putih Mekar Tidak tahan

lama

Besar > Rp. 3.000 Plastik Design 7

Spray Putih Mekar Tidak tahan lama

Besar > Rp. 3.000 Koran Design 8

Spray Merah Kuncup Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Koran Design 9 Standar Putih Mekar Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Plastik Design 10

Spray Kuning Mekar Tidak tahan lama


(5)

Lampiran 2. Atribut Bunga Krisan

Standar Putih Kuncup Tidak tahan lama

Sedang < Rp. 3.000 Koran Design 12

Spray Putih Mekar Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Kertas Design 13 Standar Putih Kuncup Tahan lama Sedang > Rp. 3.000 Kertas Design 14 Spray Merah Mekar Tahan lama Sedang > Rp. 3.000 Plastik Design 15 Standar Merah Mekar Tidak tahan

lama

Kecil < Rp. 3.000 Kertas Design 16

Standar Kuning Mekar Tahan lama Sedang > Rp. 3.000 Plastik Holdout 17 Standar Putih Kuncup Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Plastik Holdout 18 Spray Kuning Kuncup Tahan lama Sedang > Rp. 3.000 Plastik Holdout 19


(6)

(7)

(8)

No. Responden

STIMULI

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

1 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

2 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3

3 3 3 4 2 4 3 3 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 4 3

4 3 3 2 3 3 2 3 3 4 4 4 2 4 2 4 3 3 3 3

5 3 4 3 3 2 3 4 4 3 2 4 3 3 3 4 4 4 2 4

6 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3

7 3 2 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3

8 5 4 2 3 3 3 4 4 2 3 4 3 2 3 4 2 4 3 3

9 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 3

10 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

11 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4

12 4 3 4 2 4 4 5 4 3 5 3 3 4 4 4 3 5 4 4

13 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4

14 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3

15 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 3 3

16 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 3 4

17 3 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3

18 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

19 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 2 3 3 3

20 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 4 3 3 4 3 3 2

21 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 4 4 3

22 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3


(9)

24 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 2 3 3

25 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 3 4 3 3

26 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 2 5 4 4 3 4 4 4

27 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3

28 3 3 4 3 4 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4

29 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4

30 3 3 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3

31 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3

32 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3

33 4 4 4 4 5 4 5 4 4 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4

34 3 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

35 3 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4

36 3 4 4 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4

37 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4

38 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 2

39 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

40 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3

41 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

42 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

43 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

44 3 3 3 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4

45 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4

46 4 4 5 4 4 5 4 4 5 5 4 4 5 5 5 4 5 5 5

47 3 3 5 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 4 4


(10)

49 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

50 3 2 2 3 2 2 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3 2

51 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4

52 3 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 5 4 4 4 4 4 3

53 3 3 3 2 3 3 3 3 3 4 3 2 4 3 4 3 4 3 3

54 3 2 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3


(11)

Lampiran 4. Hasil Analisis Conjoint Overall Statistics

Utilities

Utility Estimate Std. Error

TIPE STANDART -.006 .007

SPRAY .006 .007

WARNA PUTIH .046 .009

MERAH .028 .010

KUNING -.074 .010

TAMPILAN MEKAR .162 .007

KUNCUP -.162 .007

KESEGARAN TAHAN LAMA .126 .007

TIDAK TAHAN LAMA -.126 .007

UKURAN BESAR .060 .009

SEDANG -.014 .010

KECIL -.045 .010

HARGA <Rp. 3.000,- .014 .007

>Rp. 3.000,- -.014 .007

KEMASAN PLASTIK .053 .009

KORAN -.077 .010

KERTAS .025 .010

(Constant) 3.429 .008

Importance Values

TIPE 1.312

WARNA 12.336

TAMPILAN 33.333 KESEGARAN 25.984 UKURAN 10.761

HARGA 2.887

KEMASAN 13.386 Averaged Importance Score

Correlationsa

Value Sig.

Pearson's R .998 .000

Kendall's tau .945 .000

Kendall's tau for

Holdouts 1.000 .045


(12)

Lampiran 5. Atribut dan level bunga krisan

No Atribut Subatribut

1. Tipe 1. Standard

2. Spray

2. Warna 1. Krisan putih

2. Krisan merah 3. Krisan kuning

3. Tampilan Bunga 1. Mekar

2. Kuncup

4. Kesegaran 1. Tahan lama

2. Tidak tahan lama

5. Ukuran bunga 1. Besar

2. Sedang 3. Kecil

6. Kemasan 1. Plastik

2. Koran 3. Kertas

7. Harga berdasarkan ukuran 1. < Rp. 3.000/tangkai 2. > Rp. 3.000/tangkai


(13)

DAFTAR PUSTAKA

Amirullah. 2002. Perilaku Konsumen. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Jakarta: Graha Ilmu.

Badan Pusat Statistik. 2015. Statistik Tanaman Hortikultura Sumatera Utara Tahun 2014. Medan

Badan Pusat Statistik Kota Medan. 2016. Kecamatan Medan Baru Dalam Angka 2016. Medan

Green, Paul E. dan Krieger, Abba M. 1991, Segmenting Markets with Conjoint Analysis. Journal of Marketing, Vol. 55 (October), hal. 20-31

Hair, J. F. Wiliam C. Black, Barry J. Babin dan R.L. Tatham.2006 Multivariate Data Analysis, Sixth Edition. New Jersey: Pearson Education

Inc.

Kotler, P. 2007. Manajemen Pemasaran, Jilid 1 Edisi Keduabelas. Jakarta: PT Indeks.

Kotler, P. dan Gary, A, 2008. Manajemen Pemasaran, Edisi ke Sebelas Jilid Kedua. Jakarta: Jakaintermedia.

Kotler, P dan Keller, Kevin L. 2012. Marketing Management 14th Edition. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Lamb, W. C, Joseph F. Hair dan Carl M. 2000. Pemasaran Buku 1. Jakarta: PT. Salemba Emba Patria.

Orme, Bryan. 2010. Sample Size Issues for Conjoint Analysis Studies. Sawtooth Software Research Paper. Sequim, WA: Sawtooth Software Inc.

Purwanto, Arie W. dan Tri, M. 2009. Krisan Bunga Seribu Warna. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Ratnasari, J. 2007. Galeri Tanaman Hias Bunga. Jakarta: Penerbit Swadaya Rukmana, R. Dan A. E. Mulyana. 1997. Krisan. Seri bunga potong. Yogyakarta:

Penerbit kanisius.

Santoso, S. 2012. Aplikasi SPSS pada Statistik Multivariat. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Swastha, I. dan Irawan. 2008. Manajemen Pemasaran Modern.Yogyakarta: Penerbit Liberty.


(14)

Simamora, 2005. Analisis Multivariat Pemasaran. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Simamora, B. 2008. Panduan Riset Perilaku Konsumen.Cetakan Ketiga.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Sumarwan, U. 2004. Perilaku Konsumen, Teori, dan Penerapannya dalam Pemasaran. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tjiptono, Fandy. 2008. Strategi Pemasaran. Edisi 3. Yogyakarta: ANDI.

Ujang Sumarwan. 2003. Perilaku Konsumen Teori & Penerapannya Dalam Pemasaran. Cetakan Pertama. Jakarta: Ghalia Indonesia


(15)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penentuan Lokasi Penelitian

Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive yakni ditetapkan secara sengaja dengan mempertimbangkan tujuan dari penelitian. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kota Medan tepatnya di Pasar Pringgan, Pasar Sore Padang Bulan dan Pasar Simpang Limun karena letak pasar tersebut dekat dengan akses terdekat dari Kabupaten Tanah Karo yang merupakan sentra produksi bunga krisan dan di pasar tersebut terdapat beberapa outlet penjualan bunga krisan. Kota Medan merupakan salah satu kota metropolitan dan jumlah penduduknya paling besar dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera Utara. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan semakin besarnya jumlah penduduk maka tingkat konsumsi pada daerah tersebut juga semakin besar

Tabel 3.1 Data Penjual Bunga Krisan di Kota Medan

Pasar Jumlah Penjual Bunga Krisan

Pringgan 5

Sore 2

Simpang Limun 2


(16)

3.2Metode Penentuan Sampel

Jumlah populasi konsumen yang membeli bunga krisan di Kota Medan tidak dapat diketahui secara pasti sehingga penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara nonprobability sampling yakni dengan teknik judgement dan accidental sampling. Judgement sampling dilakukan untuk memilih responden yang tepat sebagai sumber informasi berdasarkan kriteria tertentu yaitu responden yang gemar membeli bunga krisan. Sedangkan accidental sampling dilakukan dengan memilih responden secara spontan atau yang kebetulan ditemui di lokasi penelitian/tempat transaksi/outlet bunga krisan.

Menurut Hair, et al. (2006) dalam analisis conjoint ukuran sampel yang dipertimbangkan berkisar antara lima puluh sampai dua ratus yang dianggap sudah cukup memadai. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 55 responden yang dianggap telah mewakili populasi konsumen bunga krisan di Kota Medan yang didapat dengan menggunakan formula Menurut Orme (2010) di bawah ini :

Jumlah Sampel Minimum = [ (jumlah level – jumlah atribut) + 1] x 5

3.3Metode Pengumpulan Data

Data dari penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Data primer tersebut terdiri dari data langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian yang diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara secara langsung terhadap responden. Pertanyaan dari kuesioner menggunakan pertanyaan terstruktur.


(17)

Sedangkan data sekunder didapat dari sumber lainnya atau instansi terkait yaitu seperti dari buku, penelitian, internet, dan Badan Pusat Statistik (BPS) berupa data produksi Bunga Krisan di Kota Medan.

3.4Metode Analisis Data

Analisis conjoint merupakan teknik yang digunakan untuk mengetahui bagaimana preferensi konsumen terhadap barang atau jasa. Analisis didasarkan pada pemikiran kosumen dalam mengevaluasi nilai dari sebuah objek terhadap kombinasi atributnya masing-masing (Hair, et al, 2006).

Pada dasarnya tujuan analisis conjoint adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi seseorang terhadap suatu objek yang terdiri dari atas satu/banyak bagian. Hasil utama conjoint analysis adalah suatu bentuk (desain) produk barang / jasa / objek tertentu yang diinginkan oleh sebagian besar responden (Santoso, 2012). Proses dasar conjoint analysis:

1. Menentukan Perancangan Atribut dan Level

Menentukan faktor sebagai atribut spesifik kemudian level sebagai bagian dari faktor sebuah objek. Dalam analisis ini, perancangan atribut yang berpengaruh merupakan bagian dari mengidentifikasi atribut dengan tingkatan, masing-masing dipergunakan untuk membuat stimuli. Penentuan atribut dan level bunga krisan ditentukan berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa produsen dan beberapa konsumen ketika pra- survey serta literatur yang terkait. Dari atribut dan subatribut yang telah dibuat diperoleh jumlah atribut Bunga krisan sebanyak tujuh faktor dan terdapat 17 subatribut/ level /taraf yang dapat dilihat pada tabel 2.2.2 uraian penjelasan tentang atribut dan level.


(18)

1. Mendesain Stimuli

Membuat kombinasi level produk (stimuli), tindakan ini dilakukan setelah menentukan atribut dan subatribut bunga krisan. Untuk perancangan kombinasi subatribut atau level terdapat dua pendekatan yang sering digunakan, yaitu kombinasi berpasangan (pairwise comparison) dan kombinasi lengkap (full profile). Metode pairwise–comparison merupakan metode evaluasi dua faktor sedangkan metode full–profile merupakan metode evaluasi banyak faktor.

Pada penelitian ini memakai metode full–profile dimana seluruh aspek diperhatikan sekaligus sehingga deskripsi dari konsep tersebut lebih realistis. Pada pengukuran ini untuk memudahkan responden dalam mengevaluasi semua stimuli digunakan fractional factorial design yang merupakan teknik untuk mereduksi jumlah stimuli dimana diperoleh stimuli yang hanya mengukur efek utamanya saja.

Dalam penelitian ini bentuk stimuli yang bisa dibentuk yaitu tipe, warna, tampilan bunga, kesegaran, ukuran bunga, kemasan, dan harga. Kemungkinan stimuli dari atribut dan level di penelitian preferensi konsumen bunga yaitu 2x3x2x2x3x2x3= 432 stimuli. Oleh karena jumlah stimuli terlalu banyak untuk dievaluasi oleh responden maka digunakan teknik fractional factorial design melalui konsep SPSS untuk membantu mereduksi stimuli dari 432 kemungkinan stimuli tersebut agar tidak semua kombinasi harus dianalisis lebih lanjut.


(19)

Dengan memakai prosedur orthogonal pada SPSS maka stimuli yang berjumlah 432 tadi disederhanakan jumlahnya agar tidak semua kombinasi harus dianalisis. Hasil dari orthogonal design ini yaitu stimuli yang berjumlah 19 dimana 16 stimuli berstatus design sedangkan 3 stimuli merupakan holdout sample yang digunakan sebagai penguji hasil apakah proses conjoint yang menggunakan sampel tersebut bisa selaras jika digunakan pada populasi. Berikut ini stimuli hasil orthogonal design pada SPSS:

Tabel 3.4.a Atribut Bunga Krisan

Tipe Warna Tampilan Kesegaran Ukuran Harga

(Rp/Tangkai) Kemasan Status Card id Standart Merah Kuncup Tidak tahan lama Besar > Rp. 3.000 Plastik Design 1

Spray Kuning Kuncup Tidak tahan lama Besar > Rp. 3.000 Kertas Design 2 Standart Kuning Mekar Tahan lama Kecil > Rp. 3.000 Koran Design 3 Spray Putih Kuncup Tidak tahan lama Kecil < Rp. 3.000 Plastik Design 4 Standart Kuning Kuncup Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Plastik Design 5 Spray Putih Kuncup Tahan lama Kecil > Rp. 3.000 Plastik Design 6 Standart Putih Mekar Tidak tahan lama Besar > Rp. 3.000 Plastik Design 7 Spray Putih Mekar Tidak tahan lama Besar > Rp. 3.000 Koran Design 8 Spray Merah Kuncup Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Koran Design 9 Standart Putih Mekar Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Plastik Design 10

Spray Kuning Mekar Tidak tahan lama Sedang < Rp. 3.000 Plastik Design 11 Standart Putih Kuncup Tidak tahan lama Sedang < Rp. 3.000 Koran Design 12 Spray Putih Mekar Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Kertas Design 13 Standart Putih Kuncup Tahan lama Sedang > Rp. 3.000 Kertas Design 14 Spray Merah Mekar Tahan lama Sedang > Rp. 3.000 Plastik Design 15 Standart Merah Mekar Tidak tahan lama Kecil < Rp. 3.000 Kertas Design 16 Standart Kuning Mekar Tahan lama Sedang > Rp. 3.000 Plastik Holdout 17 Standart Putih Kuncup Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Plastik Holdout 18


(20)

Spray Kuning Kuncup Tahan lama Sedang > Rp. 3.000 Plastik Holdout 19

Sumber: Data diolah, 2016

Maksud dari tabel di atas yaitu pada stimuli satu kombinasi bunga krisan yang mungkin menjadi preferensi konsumen adalah bunga krisan standart, warna merah, tampilan kuncup, kesegaran tidak tahan lama, ukuran besar, kemasan plastik, harga >Rp.3.000/tangkai. Demikian juga pada stimuli dua, yaitu bunga krisan spray, warna kuning, tampilan kuncup, kesegaran tidak tahan lama, ukuran besar, kemasan kertas, harga >Rp. 3.000/tangkai, begitu seterusnya sampai pada stimuli yang ke-19.

2. Mengumpulkan pendapat responden terhadap setiap stimuli yang ada.

Responden akan memberikan rating terhadap stimuli yang ada. Penilaian rating menggunakan skala ordinal yang terukur berupa skala likert dengan angka 1= sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = cukup suka, 4 = suka, 5 = sangat suka. Dari stimuli yang terbentuk, proses kemudian dilanjutkan dengan proses conjoint. Pendapat setiap responden ini disebut sebagai utility yang dinyatakan dengan angka dan menjadi dasar perhitungan conjoint.

Tabel 3.4.b Pemberian Rating pada Stimuli Bunga krisan

Tipe Bunga Warna krisan Tampilan krisan Kesegaran krisan Ukuran Bunga Harga Krisan (Rp/Bks) Kemasan

Krisan Status

Card ID Standart Merah Kuncup Tidak tahan

lama

Besar > Rp. 3.000 Plastik Design 1 Spray Kuning Kuncup Tidak tahan

lama

Besar > Rp. 3.000 Kertas Design 2 Standart Kuning Mekar Tahan lama Kecil > Rp. 3.000 Koran Design 3


(21)

Spray Putih Kuncup Tidak tahan lama

Kecil < Rp. 3.000 Plastik Design 4 Standart Kuning Kuncup Tahan lama Besar < Rp. 3.000 Plastik Design 5

Spray Kuning Kuncup Tahan lama Sedang > Rp. 3.000 Plastik Holdout 19

Sumber: Data diolah, 2016

Rating diisi oleh konsumen bunga krisan yang menjadi responden dalam penelitian ini dan ditulis sesuai dengan selera mereka masing –masing dengan menggunakan skala likert dari nilai 1-5. Dari hasil penelitian terhadap stimuli tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses conjoint.

3. Melakukan proses conjoint dengan masukan data yang ada

Hasil penilaian rating oleh responden diolah dengan analisis conjoint dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil analisis conjoint secara keseluruhan dilihat dari overall statistic pada SPSS subfile summary. Hasil analisis ini diperoleh untuk memperkirakan atribut bunga krisan yang diinginkan oleh responden berdasarkan penilaian terhadap stimuli tersebut yang disertakan dalam kuisioner sebelumnya.

4. Interpretasi Hasil Analisis

Output yang dihasilkan dari proses analisis conjoint berupa nilai utility yaitu suatu perbandingan antara nilai kegunaan dengan tiap-tiap taraf atributnya, importance values yaitu suatu nilai perbandingan antara nilai kepentingan dengan tiap-tiap atribut bunga krisan serta nilai korelasi


(22)

Pearson dan Kendall’s Tau untuk mengetahui seberapa tinggi predictive accuracy-nya.

Menurut Santoso (2012), interpretasi hasilnya adalah untuk nilai utility, yaitu nilai yang paling besar menjadi kombinasi stimuli yang disukai oleh konsumen. Untuk nilai kepentingan (importance values) yaitu nilai yang terbesar menunjukkan atribut bunga krisan yang paling penting serta untuk uji keakuratan dilihat dari korelasi Pearson’s dan Kendall’s Tau. Uji keakuratannya (predictive accuracy):

H0 : tidak adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan

preferensi aktual atau tidak ada uji keakuratan yang tinggi pada proses conjoint.

H1 : adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan

perferensi aktual atau ada uji keakuratan yang tinggi pada proses conjoint.

Sign. < 0,05 maka H0 ditolak

Sign. > 0,05 maka H0 diterima

Jika Sign. < 0,05 maka ada predictive accuracy yang tinggi pada proses conjoint.

Tabel 3.4.c. Hasil Analisis Conjoint pada Bunga Krisan

No. Atribut Level/Taraf

Nilai Kegunaan (Utility Values) Nilai Kepentingan Relatif (%) (Importance values)

1 Tipe Standart

Spray

-a1 a2

b1

2 Warna Krisan putih

Krisan merah Krisan kuning a1 a2 -a3 b2


(23)

3 Tampilan Bunga Mekar Kuncup a1 -a2 b3

4 Kesegaran Tahan lama

Tidak tahan lama

a1 -a2

b4

5 Ukuran bunga Besar

Sedang Kecil a1 -a2 -a3 b5

6 Harga (Rp/tangkai) <Rp.3.000/tangkai >Rp.3.000/tangkai

a1 -a2

b6

7 Kemasan Plastik

Koran Kertas a1 -a2 a3 b7

Sumber: Analisis Data Primer, 2016

Sementara itu untuk mengetahui apakah proses conjoint yang menggunakan sampel tersebut bisa selaras jika digunakan pada populasi maka hasil conjoint diuji dengan sejumlah holdout stimuli. Holdout stimuli adalah stimuli yang dibuat SPSS sebagai penguji hasil yang didapat nanti. Jika nilai signifikansi holdout stimuli 0,000 (kurang dari 0,05) maka dapat dikatakan bahwa proses conjoint yang menggunakan sampel tersebut bisa selaras jika digunakan pada populasi.

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan atas pengertian dalam penelitian ini, maka diberikan beberapa defenisi dan batasan operasional.

3.5.1 Definisi

1. Konsumen bunga krisan adalah sampel yang melakukan pembelian bunga krisan dipasar tradisional maupun outline

2. Preferensi konsumen dapat berarti kesukaan, pilihan atau sesuatu hal yang lebih disukai konsumen. Preferensi ini terbentuk dari persepsi konsumen terhadap produk ( respon mental terhadap suatu produk).


(24)

3. Preferensi aktual adalah penilaian konsumen yang ada di lapangan.

4. Preferensi estimasi adalah penilaian konsumen berdasarkan hasil perhitungan conjoint.

5. Stimuli merupakan kombinasi dari taraf atau level atribut.

6. Taraf/level/sub-atribut adalah nilai/gambaran dari atribut bunga krisan yang lebih khusus dan spesifik.

7. Atribut merupakan variabel yang melingkupi bunga krisan meliput i karateristik yang dimiliki dan ditentukan untuk dipilih oleh konsumen sebagai pertimbangan dalam membeli bunga krisan.

8. Subatribut ialah nilai atau gambaran dari atribut bunga krisan yang lebih khusus dan spesifik.

9. Analisis conjoint ialah teknik yang digunakan secara khusus untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen terhadap suatu produk atau jasa dan untuk membantu mendapatkan kombinasi atau komposisi atribut-atribut suatu produk atau jasa baik baru maupun lama yang paling disukai konsumen. 10. Nilai kegunaan adalah setiap pendapat responden yang dinyatakan dengan

angka dan menjadi dasar dalam analisis conjoint.

11. Nilai kepentingan atribut adalah tingkat kepentingan yang diperoleh secara keseluruhan dari tahapan analisis conjoint yang menjelaskan tingkat preferensi konsumen terhadap kesukaan dan minat pada suatu atribut produk yang telah ditentukan.

3.5.2 Batasan Operasional

1. Penelitian dilakukan di Kota Medan


(25)

3. Sampel penelitian ialah konsumen yang membeli bunga krisan yang kebetulan ada/dijumpai di lokasi penelitian.

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK

SAMPEL

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian 4.1.1 Letak dan Kondisi Geografis

Kota Medan terletak antara 3º.27’ - 3º.47’ Lintang Utara dan 98º.35’ - 98º.44’ Bujur Timur dengan ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan merupakan pusat pemerintahan di Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan. Perbatasan wilayahnya adalah :

1. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang, 2. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang, 3. Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka, dan


(26)

4. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang.

Kota Medan merupakan salah satudari 30 Daerah Tingkat I di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km². Kota ini merupakan pusat pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli.

Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum menurut Stasiun BBMKG Wilayah I pada tahun 2015 yaitu 21,2°C dan suhu maksimum yaitu 35,1°C. Kelembaban udara di wilayah Kota Medan rata-rata 81-82% dan kecepatan angin rata-rata sebesar 2,3 m/sec, sedangkan rata-rata total laju penguapan tiap bulannya 108,2 mm. Hari hujan di Kota Medan pada tahun 2015 per bulan 14 hari dengan rata-rata curah hujan menurut Stasiun Sampali per bulannya 141 mm.

Pada tahun 2015, penduduk Kota Medan mencapai 2.210.624 jiwa. Dibandingkan hasil Proyeksi Penduduk 2014, terjadi penambahan penduduk sebesar 19.484 jiwa (0,89%). Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin Menurut Kecamatan di Kota Medan tahun 2015 diperlihatkan pada tabel 4.1.1 berikut:

Tabel 4.1.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Menurut Kecamatan Di Kota Medan Tahun 2015

No. Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah

1. Medan Tuntungan 42.288 43.325 85.613

2. Medan Johor 65.207 66.805 132.012

3. Medan Amplas 61.176 62.674 123.850

4. Medan Denai 72.147 73.914 146.061

5. Medan Area 48.897 50.095 98.992

6. Medan Kota 36.769 37.670 74.439


(27)

8. Medan Polonia 27.636 28.313 55.949

9. Medan Baru 20.025 20.515 40.540

10. Medan Selayang 52.433 53.717 106.150

11. Medan Sunggal 57.192 58.593 115.785

12. Medan Helvetia 74.448 76.273 150.721

13. Medan Petisah 31.303 32.071 63.374

14. Medan Barat 35.902 36.781 72.683

15. Medan Timur 55.036 56.384 111.420

16. Medan Perjuangan 47.361 48.521 95.882

17. Medan Tembung 67.759 69.419 137.178

18. Medan Deli 89.632 91.828 181.460

19. Medan Labuhan 58.025 59.447 117.472

20. Medan Marelan 80.125 82.115 162.267

21. Medan Belawan 48.463 49.650 98.113

Jumlah 1.091.937 1.118.687 2.210.624

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Medan 2016

Pada penelitian mengenai preferensi konsumen bunga krisan lokasinya berada di kecamatan yaitu Kecamatan Medan Baru dan Medan Amplas.

4.1.2 Jumlah Outlet Bunga Krisan di Kota Medan

Berikut Jumlah outlet bunga krisan di Kecamatan Medan Baru dan Medan Amplas.

Tabel 4.1.2 Data Penjual Bunga Krisan di Kota Medan

Pasar Jumlah Penjual Bunga Krisan

Pringgan 5

Sore 2

SimpangLimun 2

Sumber: Analisis Data primer, 2016

4.2 Karakteristik Sampel

Responden dalam penelitian ini ialah konsumen yang menyukai dan sedang membeli bunga krisan dimana berdomisili di Kota Medan. Berdasarkan penelitian, konsumen yang menjadi sampel penelitian ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


(28)

1. Jenis Kelamin Responden

Berdasarkan penelitian, diperoleh persentasi responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 21 orang (38%) dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 34 orang (62%).

Gambar 2. Diagram Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Sumber :Analisis Data Primer, 2016

2. Usia Responden

Jumlah usia responden yang berusia rentang 16–20 tahun sebanyak 15 orang (27%), usia 21–25 tahun sebanyak 28 orang (51%), usia 26–30 tahun sebanyak 5 orang (9%), usia 31–35 tahun sebanyak 4 orang (7%), usia 36–40 tahun sebanyak 1 orang (2%), usia 41–45 sebanyak 0 orang (0)%, usia 46–50 tahun sebanyak 1 orang (2%) dan pada usia ≥ 51 tahun sebanyak 1 orang (2%).

38% 62%

JENIS KELAMIN

laki laki perempuan


(29)

Gambar 3. Diagram Responden Berdasarkan Usia Sumber : Analisis Data Primer, 2016

2. Pendidikan Terakhir

Berdasarkan penelitian, diperoleh responden dengan pendidikan akhir SMA/SMK sebanyak 26 orang (47%), responden dengan pendidikan akhir S-1 sebanyak 27 orang (49%), dan responden dengan pendidikan akhir S-2/S-3 sebanyak 2 orang (4%).

Gambar 4. Diagram Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Sumber :Analisis Data Primer, 2016

3. Status Pekerjaan

27% 51% 9% 7% 2% 0% 2% 2% 4%

USIA

16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 ≥51 47% 49% 4%

PENDIDIKAN TERAKHIR

SMA/SMK S-1 S-2/S-3


(30)

Berdasarkan penelitian, diperoleh responden yang berstatus mahasiswa sebanyak 25 orang (45%), responden yang berstatus jobseeker sebanyak 3 orang (6%), responden yang berstatus pegawai swasta sebanyak 5 orang (9%), responden yang berstatus PNS sebanyak 3 orang (6%), responden yang berstatus wirausaha sebanyak 12 orang (22%), responden yang berstatus advokat sebanyak 3 orang (5%), responden yang berstatus dokter sebanyak 1 orang (2%), dan persentasi responden yang berstatus ibu rumah tangga sebanyak 3 orang (5%).

Gambar 5. Diagram Responden Berdasarkan Status Pekerjaan Sumber : Analisis Data Primer, 2016

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Analisis

Berikut ini hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan proses analisis conjoint. Hasil dari penelitian ini dapat dilihat dari overall statistics pada SPSS.

Tabel 5.1.1. Hasil Analisis Conjoint pada Bunga Krisan

45%

6% 9%

6% 22%

5%2% 5%

PEKERJAAN

MAHASISWA JOBSEEKER PEGAWAI SWASTA PNS

WIRAUSAHA ADVOKAT DOKTER


(31)

No Atribut Level / Sub-atribut Nilai Kegunaan (Utility Values) Nilai Kepentingan Relatif (%) (Importance Values)

1. Tipe 1. Standart -.006

1.312%

2. Spray .006

2. Warna 1. Putih .046

12.336%

2. Merah .028

3. Kuning -.074

3. Tampilan 1. Mekar .162

33.333%

2. Kuncup -.162

4. Kesegaran 1. Tahan Lama .126

25.984% 2. Tidak Tahan lama -.126

5. Ukuran 1. Besar .060

10.761%

2. Sedang -.014

3. Kecil -.045

6. Harga 1. <Rp.3000,- .014

2.887% 2. >Rp. 3.000,- -.014

7. Kemasan 1. Plastik .053

13.386%

2. Koran -.077

3. Kertas .025

Sumber: Data diolah, 2016

Selain hasil analisis conjoint untuk melihat atribut bunga krisan yang menjadi preferensi konsumen seperti tabel di atas, di bawah ini juga ditampilkan hasil dari nilai korelasi pada proses conjoint terhadap bunga krisan. Nilai korelasi digunakan untuk mengetahui tingkat keakuratan prediksi pada proses conjoint. Tabel 5.1.2. Nilai Korelasi Hasil Proses Conjoint

Value Sig.

Pearson's R .998 .000

Kendall's tau .945 .000

Kendall's tau for Holdouts 1.000 .045


(32)

5.2 Pembahasan

5.2.1. Preferensi Konsumen terhadap Kombinasi Atribut Bunga Krisan Bunga krisan yang menjadi preferensi konsumen dapat dilihat dari nilai kegunaan (utility values) yang paling besar diantara level / taraf pada masing – masing atribut. Berdasarkan hasil penelitian bunga krisan yang disukai oleh konsumen yaitu ditinjau dari :

1. Tipe Bunga

Tipe bunga krisan preferensi konsumen ialah bunga krisan dengan tipe spray, karena tipe spray memiliki ukuran yang lebih kecil dan terdapat banyak tangkai dan bunganya pun banyak dibandingkan tipe standart yang hanya memiliki satu bunga. Hasil ini dapat dilihat di Tabel 5.1.1 dimana pada atribut tipe spray memiliki nilai kegunaan (utility values) terbesar dibandingkan dengan tipe standart yaitu sebesar 0,006. Berikut ini grafik nilai kegunaan atribut tipe bunga krisan pada analisis conjoint:


(33)

Gambar 6. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Taraf Atribut Tipe Sumber : Data diolah, 2016

2. Warna Bunga

Warna bunga krisan preferensi konsumen adalah bunga krisan dengan warna putih. Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.1 dimana pada atribut warna putih memiliki nilai kegunaan (utility values) terbesar di antara warna yang lain yaitu sebesar 0,046. Berikut ini grafik nilai kegunaan atribut warna bunga krisan pada analisis conjoint :


(34)

Gambar 7. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Taraf Atribut Warna Sumber :Data diolah, 2016

3. Tampilan Bunga

Tampilan bunga krisan preferensi konsumen adalah bunga krisan dengan tampilan mekar, karena bunga krisan yang mekar terlihat lebih cantik oleh konsumen. Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.1 dimana pada atribut tampilan bunga yang mekar memiliki nilai kegunaan (utility values) terbesar dibandingkan dengan tampilan bunga yang kuncup yaitu sebesar 0,162. Berikut ini grafik nilai kegunaan atribut tampilan bunga krisan pada analisis conjoint :


(35)

Gambar 8. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Taraf Atribut Tampilan Sumber :Data Diolah, 2016

4. Kesegaran

Kesegaran bunga krisan merupakan salah satu atribut penting bagi konsumen. Preferensi konsumen adalah bunga krisan dengan kesegaran yang tahan lama yaitu 1 minggu setelah bunga krisan dibeli. Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.1 dimana pada atribut kesegaran yang tahan lama memiliki nilai kegunaan (utility values) terbesar dibandingkan dengan kesegaran yang tidak tahan lama yaitu sebesar 0,126. Berikut ini grafik nilai kegunaan atribut kesegaran bunga krisan pada analisis conjoint :


(36)

Gambar 9. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Taraf Atribut Kesegaran

Sumber : Data diolah, 2016

5. Ukuran

Ukuran bunga krisan preferensi konsumen adalah bunga krisan dengan ukuran yang besar karena lebih indah dilihat. Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.1 dimana pada atribut ukuran bunga yang besar memiliki nilai kegunaan (utility values) terbesar di antara ukuran bunga yang lain yaitu sebesar 0,060. Berikut ini grafik nilai kegunaan atribut ukuran bunga krisan pada analisis conjoint :


(37)

Gambar 10. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Taraf Atribut Ukuran Bunga

Sumber : Data diolah, 2016

6. Harga

Harga bunga krisan preferensi konsumen adalah harga dengan <Rp. 3.000/tangkai karena lebih murah. Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.1 dimana atribut harga <Rp. 3.000/tangkai memiliki nilai kegunaan (utility values) terbesar dibandingkan dengan harga >Rp. 3.000/tangkai yaitu sebesar 0,014. Berikut ini grafik nilai kegunaan atribut harga bunga krisan pada analisis conjoint :


(38)

Gambar 11. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Taraf Atribut Harga Sumber :Data Diolah, 2016

7. Kemasan

Kemasan bunga krisan preferensi konsumen adalah dibungkus menggunakan plastik dikarenakan lebih menarik daripada kemasan yang lainnya. Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.1 dimana pada atribut kemasan plastik memiliki nilai kegunaan (utility values) terbesar di antara kemasan yang lain yaitu sebesar 0,053. Berikut ini grafik nilai kegunan atribut kemasan bunga krisan pada analisis conjoint :


(39)

Gambar 12. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Taraf Atribut Kemasan

Sumber :Data diolah, 2016

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui nilai utilitas keseluruhan level per atributnya. Bunga krisan yang menjadi preferensi konsumen adalah dengan tipe spray, bewarna putih, tampilan bunga mekar, kesegaran yang tahan lama, ukuran bunga besar, harga bunga <Rp. 3.000/tangkai dan dikemas dengan plastik.

5.2.2. Urutan Atribut Bunga Krisan menurut Preferensi Konsumen

Berdasarkan hasil analisis conjoint diketahui bahwa urutan atribut bunga krisan yang paling penting menurut konsumen pertama adalah atribut tampilan dengan tingkat kepentingan sebesar 33,333%, atribut kedua adalah kesegaran dengan tingkat kepentingan sebesar 25,984%, atribut ketiga adalah kemasan dengan tingkat kepentingan 13.386%, atribut keempat adalah warna dengan tingkat


(40)

kepentingan 12,336%, atribut kelima adalah ukuran bunga dengan tingkat kepentingan sebesar 10,761%, atribut keenam adalah atribut harga dengan tingkat kepentingan sebesar 2,887% dan atribut ketujuh adalah atribut tipe dengan tingkat kepentingan sebesar 1,312%.

Tabel 5.2.2. Nilai Kepentingan (importance values) Atribut Bunga Krisan Importance Values

TIPE 1.312

WARNA 12.336

TAMPILAN 33.333

KESEGARAN 25.984

UKURAN 10.761

HARGA 2.887

KEMASAN 13.386

Averaged Importance Score Sumber :Data diolah, 2016

Dari tabel 5.2.2, atribut tampilan, kesegaran, dan kemasan merupakan atribut yang paling dipertimbangkan konsumen dalam melakukan pembelian. Terlihat bahwa atribut tampilan memiliki nilai kepentingan tertinggi, Atribut tampilan merupakan atribut yang paling dipertimbangkan konsumen sebelum melakukan pembelian. Tampilan bunga krisan sangat penting bagi konsumen dalam pengambilan keputusan untuk membeli bunga krisan karena tampilan bunga krisan yang mekar memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen. Konsumen juga menyarankan kepada produsen bunga krisan untuk dapat berinovasi dalam menampilkan bunga krisan dengan tampilan bunga yang lebih menarik lagi.

Atribut kesegaran merupakan atribut kedua yang menjadi bahan pertimbangan konsumen. Oleh karena itu sebelum konsumen melakukan pembelian bunga krisan maka konsumen terlebih dahulu melihat dan menanyakan ketahanan


(41)

kesegaran bunga krisan yang akan dibeli. Umumnya kesegaran bunga krisan dapat bertahan dalam 1 minggu. Konsumen yang membeli bunga krisan dapat menikmati keindahan bunga yang segar dalam waktu 1 minggu dan disarankan oleh produsen untuk disimpan diruangan yang bersuhu rendah.

Atribut kemasan merupakan atribut ketiga yang paling dipertimbangkan konsumen dalam melakukan pembelian. Plastik merupakan kemasan yang paling banyak digunakan untuk membungkus bunga krisan karena dapat memperindah bunga krisan yang akan dibeli konsumen. Konsumen juga menginginkan plastik yang digunakan produsen untuk mengemas bunga krisan memiliki berbagai macam motif maupun warna.

5.2.3. Tingkat Keakuratan Prediksi Model Hasil Analisis Conjoint

Untuk mengetahui tingkat keakuratan prediksi model hasil analisis conjoint dapat dilihat melalui nilai korelasi Pearson’s R dan Kendall’s Tau.

Tabel 5.2.3. Nilai Korelasi Hasil Proses Conjoint Correlationsa

Value Sig.

Pearson's R .998 .000

Kendall's tau .945 .000

Kendall's tau for Holdouts 1.000 .045 a. Correlations between observed and estimated preferences Sumber : Data diolah, 2016

Uji keakuratannya (predictive accuracy):

H0 : tidak adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi


(42)

H1 : adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi

aktual atau ada uji keakuratan yang tinggi pada proses conjoint. Sign. < 0,05 maka H0 ditolak

Sign. > 0,05 maka H0 diterima

Pada tabel 5.2.3 terlihat angka korelasi yang dihasilkan tinggi baik ada nilai korelasi Pearson’s R (0,998) maupun Kendall’s Tau (0,945) yang menunjukan keakuratan proses conjoint. Berdasarkan nilai signifikansi Pearson’s R dan Kendall’s Tau yang sama – sama bernilai 0.000 dimana 0,000 ˂ 0,05 maka H 0

ditolak sehingga interpretasinya adalah adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi aktual, atau ada predictive accuracy yang tinggi pada proses conjoint.

Begitu juga nilai korelasi Kendall’s Tau for Holdouts dimana Holdouts merupakan stimuli penguji hasil yang didapat dari proses conjoint yang bernilai 0,045 dan nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 (sign ˂ 0,05) maka dapat dikatakan bahwa proses conjoint yang menggunakan sampel tersebut selaras jika digunakan pada populasi konsumen bunga krisan. Ini berarti bahwa bunga krisan yang menjadi sampel dapat menggambarkan preferensi konsumen secara keseluruhan (populasi). Berdasarkan penjelasan tentang nilai korelasi Pearson’s dan Kendall’s Tau, maka Hipotesis Terjawab.


(43)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari analisis conjoint yang telah dilakukan mengenai preferensi konsumen pada bunga krisan dapat disimpulkan :

1. Kombinasi bunga krisan yang menjadi preferensi konsumen adalah tipe spray, bewarna putih, tampilan bunga mekar, kesegaran yang tahan lama, ukuran bunga besar, harga bunga <Rp. 3.000/tangkai dan dikemas dengan plastik. 2. Dalam memilih bunga krisan faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian

konsumen yaitu dimulai dari yang terpenting atribut pertama adalah tampilan dengan tingkat kepentingan sebesar 33,333%, atribut kedua adalah kesegaran dengan tingkat kepentingan sebesar 25,984%, atribut ketiga adalah kemasan dengan tingkat kepentingan 13.386%, atribut keempat adalah warna dengan tingkat kepentingan 12,336%, atribut kelima adalah ukuran bunga dengan tingkat kepentingan sebesar 10,761%, atribut keenam adalah atribut harga dengan tingkat kepentingan sebesar 2,887% dan atribut ketujuh adalah atribut tipe dengan tingkat kepentingan sebesar 1,312%.

3. Berdasarkan nilai korelasinya dapat diketahui bahwa :

a. Nilai Korelasi Pearson’s 0,000 (sign.< 0,05) dan Nilai Kendall’s Tau 0,000 (sign < 0,05). Interpretasinya adalah adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi aktual, atau ada predictive accuracy yang tinggi pada proses conjoint.

b. Nilai Korelasi Kendall’s Tau for Holdouts 0,045 (sign < 0,05) dapat dikatakan bahwa proses conjoint yang menggunakan sampel tersebut bisa


(44)

selaras jika digunakan pada populasi konsumen bunga krisan. Ini berarti bahwa bunga krisan yang menjadi preferensi konsumen sampel dapat menggambarkan preferensi konsumen secara keseluruhan.

6.2 Saran

1. Kepada Pelaku Usaha outlet yang menjual bunga krisan. Pelaku Usaha diharapkan dapat memasarkan dan menjual bunga krisan menyerupai preferensi konsumen sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar dan menarik minat konsumen.

2. Kepada Petani bunga krisan diharapkan dapat memproduksi bunga krisan yang sesuai dengan preferensi konsumen sehingga mampu memberikan kepuasan kepada konsumen yang membeli dan menjaga kualitas dari bunga krisan yang akan dijual ke pasar.

3. Kepada Peneliti Selanjutnya. Peneliti selanjutnya disarankan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai berbagai aspek yang terkait dengan atribut atau level bunga krisan dengan strata konsumen yang berbeda di pasar.


(45)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Bunga Krisan

Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. Morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East.

Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis pada tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial.

Krisan atau disebut juga seruni (Chrysanthemum sp.) adalah tanaman yang tergolong dalam famili Composiate yang berasal dari Cina. Tanaman krisan biasa dibudidayakan untuk menghasilkan bunga potong. Namun, seiring perkembangan jaman, krisan juga dijadikan sebagai tanaman pot hias yang kini banyak diminati oleh banyak masyarakat.


(46)

Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. Morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial (Rukmana dan Mulyana, 1997).

Tanaman krisan yang kini banyak dibudidayakan, merupakan tanaman hasil persilangan kompleks dari berbagai varietas yang telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Banyaknya varietas tanaman bunga krisan yang telah beredar dipasaran serta perkembangan teknologi pertanian yang pesat akan memunculkan varietas-varietas baru tanaman krisan. Tanaman krisan sangat diminati oleh masyarakat. Krisan selain dapat dimanfaatkan sebagai bunga potong, juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias pada pot. Permintaan yang besar akan tanaman krisan di pasaran memungkinkan bahwa pembudidayaan tanaman krisan dapat dijadikan lapangan pekerjaan yang menguntungkan. Agar tercapainya keuntungan dalam pembudidayaan tanaman krisan maka diperlukan teknologi pembudidayaan yang baik pula. Untuk tercapainya bibit unggul dalam pembudidayaan tanaman krisan serta pengoptimalisasian hasil panen tanaman krisan, maka dilakukan pengamatan dalam pertumbuhan tanaman krisan.


(47)

2.1.2 Pemasaran

Pemasaran sebagai salah satu bagian dari ilmu manejemen yang merupakan kegiatan utama yang memegang peranan penting dalam kegiatan usaha, disamping kegiatan-kegiatan lainnya seperti kegiatan pembelanjaan, produksi serta personalia. Hal ini disebabkan karena kegiatan pokok yang harus dilakukan oleh para pengusaha dalam operasinya adalah pemasaran guna mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, mengembangkan usaha serta memperoleh laba.

Kotler dan Armstrong (2008) menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang dengan individu-individu dan kelompok-kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan mereka inginkan, dengan menciptakan dan saling menukar produk-produk dan nilai-nilai satu sama lain.

Kotler (2007) menyatakan bahwa konsep-konsep utama yang digunakan dalam pemasaran adalah segmentasi, targeting, positioning, kebutuhan, keinginan, permintaan, penawaran, brand, nilai dan kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan dan jejaring, jalur pemasaran, rantai distribusi (supply chain), persaingan, lingkungan pemasaran, serta program pemasaran.

Pemasaran adalah suatu system keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial (Stanton dalam Swastha dan Irawan, 2008).

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah kegiatan yang sangat kompleks dan tidak hanya menyangkut upaya menawarkan


(48)

suatu produk kepada konsumen tetapi juga menyangkut proses yang terjadi sebelum barang tersebut ditawarkan kepada konsumen sampai pada dampak setelah konsumen mengkonsumsi suatu produk.

2.1.3 Perilaku Konsumen

Pandangan tradisional suatu perusahaan adalah orang yang membeli dan menggunakan produknya. Konsumen tersebut merupakan orang yang berinteraksi dengan perusahaan setelah proses menghasilkan produk. Sedangkan pihak-pihak yang berinteraksi dengan perusahaan sebelum tahap proses menghasilkan produk dipandang sebagai pemasok.

Perilaku konsumen akan dipengaruhi oleh persepsi konsumen terhadap perekonomian dan pendapatan konsumen. Salah satu hasil penelitian yang dilakukan Katona dalam Sumarwan (2003) menunjukkan bahwa konsumen yang memiliki persepsi yang baik mengenai pendapatan pada masa datang ternyata cenderung melakukan pembelian barang-barang tahan lama melalui kredit. Ini membuktikan bahwa konsumen berani melakukan pembelian melalui kredit karena mereka merasa yakin bahwa pendapatan masa datang akan bisa melunasi kredit tersebut.

Perilaku konsumen sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.


(49)

Simamora (2008), menyatakan bahwa perilaku konsumen sebagai perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun rumah tangga, yang membeli produk untuk konsumsi personal.

Menurut Kotler dan Keller (2012), menjelaskan bahwa perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor budaya, faktor sosial, faktor kepribadian, dan faktor psikologis.

Selanjutnya menurut Amirullah (2002), perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan aktivitas individu secara fisik yang melibatkan dalam mengevaluasi, memperoleh, dan menggunakan atau dapat mempergunakan barang-barang dan jasa.

Definisi perilaku konsumen di atas menekankan bahwa ada dua elemen penting dari arti perilaku konsumen yaitu proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik, yang semua ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan serta mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa ekonomis

2.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Konsumen

Menurut Kotler & Keller (2012), perilaku konsumen juga akan dipengaruhi oleh faktor pribadi yang terdiri dari usia & siklus hidup, pekerjaan, gaya hidup, kepribadian & konsep diri, situasi ekonomi.

1. Usia & siklus hidup

Setiap orang membeli barang dan jasa yang berbeda-beda sepanjang hidupnya. Mereka makan makanan bayi pada masa awal hidupnya, makan berbagai makanan selama masa pertumbuhan menuju kedewasaan, serta diet khusus


(50)

dalam waktu-waktu tertentu. Selera terhadap pakaian, hiburan, dan barang-barang lain juga berhubungan dengan usia.

2. Pekerjaan

Keadaan ekonomi seseorang adalah terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya), tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang), kemampuan untuk meminjam dan sikap terhadap mengeluarkan lawan menabung.

3. Gaya Hidup

Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang terungkap. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya.

4. Kepribadian dan Konsep Diri

Kepribadian adalah ciri bawaan psikologi manusia yang terbedakan yang menghasilkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap rangsangan lingkungannya.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Karakteristik Konsumen yang Berhubungan Dengan Keputusan Membeli

Menurut Kotler (2007) karateristik konsumen dapat disebut sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pembelian sebagai berikut:


(51)

Memahami usia konsumen adalah penting, karena konsumen yang berbeda usia akan mengkonsumsi produk dan jasa yang berbeda. Perbedaan usia juga akan mengakibatkan perbedaan selera dan kesukaan terhadap merek. Dari sisi pemasaran, semua penduduk berapa pun usianya adalah konsumen.

b. Pekerjaan

Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang mereka beli. Pemasar, berusaha mengidentifikasi kelompok pekerjaan yang mempunyai minat di atas rata-rata pada produk dan jasa mereka.

c. Gaya Hidup

Pola kehidupan sesorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yag berbeda.

2.2.2 Atribut Produk

Atribut produk merupakan unsur-unsur yang terkandung dalam suatu produk yang dianggap penting oleh konsumen yang dijadikan keputusan konsumen untuk membeli produk tersebut atau tidak. Jenis atribut produk ini didasarkan atas produk yang ada seperti warna, rasa, kemasan, harga dan atribut lainnya. Setelah atribut ditentukan dilakukan estimasi yang nantinya akan diperoleh peringkat maupun nilai atribut yang diinginkan konsumen agar dapat memutuskan untuk membeli produk (Tjiptono, 2008).

Tingkat kepentingan dan nilai dari setiap atribut yang diperoleh dapat digunakan oleh produsen untuk dapat mengembangkan produknya baik dari segi kualitas


(52)

maupun kuantitas. Pada bunga krisan ini atribut yang melekat adalah warna, tipe, tampilan bunga, kemasan, kesegaran, ukuran, dan harga.

Tabel 2.2.2 Uraian Penjelasan Tentang Atribut dan Level

Sumber: Analisis Data Primer, 2016

2.2.3 Analisis Conjoint (Considered Jointly)

Analisis Conjoint adalah teknik multivariat yang digunakan secara khusus untuk mengetahui bagaimana preferensi konsumen terhadap suatu produk atau jasa dan untuk membantu mendapatkan kombinasi atau kandungan atribut-atribut suatu produk atau jasa baik baru maupun lama yang paling disukai konsumen. Atribut merupakan elemen–elemen yang terdapat pada suatu produk yang berfungsi mendeskripsikan karakter produk tersebut (Hair et al., 2006).

No Atribut Subatribut Uraian Penjelasan

1. Tipe 1. Standart

2. Spray

1.Tipe Standart memiliki 1 kuntum bunga

2.Tipe spray memiliki banyak kuntum bunga

2. Warna 1. Krisan putih 2. Krisan merah 3. Krisan kuning

1.Warna Bunga 2.Warna Bunga 3.Warna Bunga

3 Tampilan 1. Mekar

2. Kuncup

1.Kelopak bunga yang terbuka 2.Kelopak bunga yang tertutup 4 Kesegaran 1. Tahan lama

2. Tidak tahan lama

1.1 Minggu 2. < 1 Minggu

5 Ukuran 1. Besar

2. Sedang 3. Kecil

1.± 7 cm 2.± 4 cm 3.± 2 cm 6 Harga 1. <Rp. 3.000/tangkai

2. >Rp. 3.000/tangkai

1.Harga Bunga 2.Harga Bunga 7 Kemasan 1. Plastik

2. Koran 3. Kertas

1.Kemasan Bunga 2.Kemasan Bunga 3.Kemasan Bunga


(53)

Dalam pemasaran, analisis conjoint merupakan teknik yang sangat baik untuk menjawab dua pertanyaan. Pertama, bagaimana tingkat kepentingan sekumpulan atribut merek? Kedua, dalam pengembangan produk baru, model produk mana yang paling disukai konsumen?. Analisis conjoint tergolong metode tidak langsung (indirect methode). Kesimpulan diambil berdasarkan respons subjek terhadap perubahan sejumlah atribut. Karena itu, perlu dipastikan terlebih dahulu apa saja atribut suatu produk atau merek (Simamora, 2005).

Model Analisis Conjoint

U (X) = ∑ ∑ ������� Dimana :

U (X) = keseluruhan utilitas dari alternatif aij = j = 1,2 ki dari i atribut ( l = 1,2,.... m) ki = no level pada atribut i

m = no atribut

Xij = 1 apabila level j dari atribut ; dan 0 kalau tidak dipilih Pentingnya atribut dinyatakan dalam :

Ii = {max (aij) – min (aij)} , untuk masing – masing i

Pentingnya atribut ini dinormalkan dalam kaitannya dengan kepentingan relatif dengan atribut yang lain, Wi:

Wi= �� ���� Sehingga,

� �� =�

� �


(54)

Model yang dipergunakan adalah:

U = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 Dimana:

X1, X2 = variabel dummy untuk atribut 1 X3, X4 = variabel dummy untuk atribut 2 X5, X6 = variabel dummy untuk atribut 3

Manfaat dari penggunaan analisis conjoint ini sangat diperlukan oleh produsen agar dapat mencari solusi kompromi yang optimal dalam merancang atau mengembangkan suatu produk. Menurut Green & Krieger (1991) analisis ini dapat juga dimanfaatkan untuk:

1. Merancang harga

2. Memprediksi tingkat penjualan atau penggunaan produk (market share), uji coba konsep produk baru.

3. Segmentasi preferensi 4. Merancang strategi promosi

Pada dasarnya, tujuan analisis conjoint adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi seseorang terhadap suatu objek yang terdiri atas satu / banyak bagian. Hasil utama conjoint analysis adalah suatu bentuk (desain) produk barang / jasa / objek tertentu yang diinginkan oleh sebagian besar responden.

Proses dasar conjoint analysis:

1. Menentukan Perancangan Atribut dan Level

Menentukan faktor sebagai atribut spesifik kemudian level sebagai bagian-dari faktor sebuah objek. Dalam analisis ini, perancangan atribut yang berpengaruh


(55)

merupakan bagian dari mengidentifikasi atribut dengan tingkatan, masing-masing dipergunakan untuk membuat stimuli.

2. Mendesain Stimuli

Kombinasi antara faktor dengan level disebut satu stimuli. Ada dua cara merancang kombinasi taraf atribut yaitu pendekatan kombinasi berpasangan dan kombinasi lengkap.

3. Mengumpulkan pendapat responden terhadap setiap stimuli yang ada.

Responden akan memberikan rating terhadap stimuli yang ada. Penilaian rating menggunakan skala ordinal yang terukur berupa skala likert dengan angka 1= sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = cukup suka, 4 = suka, 5 = sangat suka. Dari stimuli yang terbentuk, proses kemudian dilanjutkan dengan proses conjoint . Pendapat setiap responden ini disebut sebagai utility yang dinyatakan dengan angka dan menjadi dasar perhitungan conjoint.

4. Melakukan proses conjoint dengan masukan data yang ada

Dari pendapat responden atas sekian stimuli yang telah dikumpulkan dilakukan proses conjoint dengan bantuan perangkat lunak SPSS untuk memprediksi kombinasi atribut bunga krisan yang diinginkan responden. Output yang dihasilkan dari proses analisis conjoint berupa nilai utility dan nilai kepentingan. Nilai utility merupakan nilai yang menunjukkan kecenderungan pemilihan konsumen terhadap kombinasi stimuli yang disukai. Nilai kepentingan merupakan


(56)

nilai yang menunjukkan atribut bunga krisan yang paling penting sehingga mendasari konsumen untuk membeli bunga krisan.

5. Uji Keakuratan

Dari hasil conjoint yakni untuk mengukur tingkat ketepatan prediksi dari hasil analisis dimana hasil conjoint tidak berbeda jauh dengan pendapat responden yang sebenarnya. Tingkat uji keakuratan dicerminkan dengan adanya korelasi yang tinggi dan siginifikan antara hasil estimasi dengan aktual. Sementara itu untuk menguji hasil conjoint dilakukan dengan sejumlah holdout sample sebagai penguji hasil apakah proses conjoint yang menggunakan sampel tersebut bisa selaras jika digunakan pada populasi.

Menurut Orme (2010) untuk menentukan jumlah sampel minimum bisa memakai formula sebagai berikut :

Jumlah Sampel Minimum = [ (jumlah level – jumlah atribut) + 1] x 5

Asumsi pada analisis conjoint berbeda dengan analisis multivariat lainnya, proses conjoint tidak membutuhkan uji asumsi seperti normalitas, homoskedastisitas, dan lainnya (Santoso, 2012).

Dalam evaluasi model, hasil analisis conjoint ini untuk akurasi baik individu maupun agregat. Tujuan keduanya ialah memastikan seberapa konsisten model memprediksi preferensi yang diberikan responden. Untuk memeriksa kecocokan model keseluruhan dapat digunakan nilai korelasinya. Semakin tinggi korelasinya semakin cocok atau semakin baik modelnya. Untuk data ranking dilihat korelasi antara rangking aktual dan prediksi dengan Tau Kendall, sedangkan data rating digunakan korelasi Pearson (Hair,et al, 2006).


(57)

2.3Penelitian Terdahulu

Dela Agustina Sarumaha (100304015) dengan judul skrispsi “Analisis Conjoint Terhadap Preferensi Konsumen Produk Minyak Goreng Kelapa Sawit di Kota Medan”. Hasil penelitian menjelaskan bahwa preferensi konsumen berfokus pada hasil stimuli kombinasi terbaik berdasarkan nilai kegunaan dari perhitungan yang di dapat, dan tingkat kepentingan atribut di dalamnya. Hasil kombinasi terbaik diperoleh yakni kombinasi kejernihan minyak yang bening, warna minyak kuning keemasan, proses pemanasan minyak cepat panas, proses penirisan minyak cepat tiris, kemasan dalam bentuk plastic (refill), informasi gizi jelas tertera pada produk, ukuran produk 2L, harga produk Rp.20.000-Rp.30.000, promosi diketahui dari media elektronik dan tempat pembelian di pasar modern (minimarket). Tingkat kepentingan konsumen terhadap atribut ditunjukkan pada tingkat kepentingan atribut yang berpengaruh yakni warna minyak (15,75%), harga minyak (13,30%), kemasan minyak (10,89%), tempat pembelian (10,80%), ukuran minyak (10,37%), promosi (10,30%), kejernihan (10,05%), proses pemanasan (6,23%), informasi gizi (6,15%) dan proses penirisan (6,12%).

Ester Septiani Pasaribu (100304032) dengan judul skripsi “Analisis Conjoint terhadap Preferensi Konsumen Pada Buah Durian (Durio zibethinus Murr.) di Kota Medan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen memilih buah durian dengan spesifikasi bobot buah 3 – 5 kg, bentuk buah bulat telur, warna kulit buah hijau kekuningan, warna daging buah kuning tua / tembaga, tekstur daging buah pulen (lembut dan kering), cita rasa manis legit, dan aroma sedang. Spesifikasi buah durian seperti yang diinginkan oleh konsumen tersebut kurang


(58)

lebih sama dengan spesifikasi yang dimiliki oleh durian yang berasal dari Sidikalang. Urutan atribut buah durian yang dianggap penting oleh konsumen yaitu pertama cita rasa (23,24%), warna daging buah (18,208 %), tekstur daging buah (16,208 %), bentuk buah (13,583 %), warna kulit buah (12,530 %), bobot buah (10,635 %), serta aroma (5,739 %). Nilai korelasi Pearson’s dan Kendall’s Tau 0,000 (<0,05) interpretasinya adalah adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi aktual, atau ada predictive accuracy yang tinggi pada proses conjoint. Nilai korelasi Kendall’s Tau for Holdouts dimana Holdouts merupakan stimuli penguji hasil yang didapat dari proses conjoint bernilai 0,025 (sign.< 0,05) artinya bahwa buah durian yang menjadi preferensi konsumen sampel dapat menggambarkan preferensi konsumen secara keseluruhan (populasi).

2.4Kerangka Pemikiran

Dalam membuat keputusan pembelian bunga krisan, konsumen dihadapkan pada sikap pemilihan/preferensi terhadap bunga krisan yang akan dibeli. Pada bunga krisan melekat karakteristik yang dalam penelitian ini disebut dengan atribut bunga krisan. Selera konsumen ini dipengaruhi oleh atribut-atribut yang melekat pada bunga krisan tersebut. Atribut yang diidentifikasi mempengaruhi preferensi konsumen yaitu dari segi tipe (spray atau standart), warna (warna yang ada pada bunga krisan), tampilan bunga (kuncup atau mekar), kesegaran (daya tahan), ukuran (besar, sedang dan kecil), harga serta kemasan (plastik, koran dan kertas).

Dalam memasarkan bunga krisan ini perlu adanya kejelian dari produsen untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap bunga krisan yang menjadi seleranya sehingga produk mereka laku di pasaran. Preferensi konsumen terhadap bunga


(59)

krisan ini dianalisis dengan analisis conjoint, yaitu suatu teknik statistik multivariate yang berguna dalam menganalisis preferensi konsumen. Konsumen memilih bunga krisan berdasarkan kombinasi atribut–atribut yang ada pada bunga krisan menurut seleranya. Selera konsumen inilah yang akan mempengaruhi preferensi konsumen sehingga pada akhirnya konsumen pun memutuskan untuk melakukan pembelian terhadap bunga krisan. Berdasarkan penjelasan di atas,

maka kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat dalam skema berikut yang terdapat pada Gambar 1.

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Bunga Krisan

Atribut Bunga Krisan: 1. Tipe

2. Warna

3. Tampilan Bunga 4. Kesegaran 5. Ukuran Bunga 6. Harga

7. Kemasan

Kegiatan Pemasaran

Preferensi konsumen pada bunga krisan

Teknik Multivariate Dengan Analisis

Conjoint

Keputusan pembelian konsumen

Pendapat Konsumen


(60)

Keterangan:

= Menyatakan Hubungan = Menyatakan Pengaruh

2.5Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah :

Adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi aktual konsumen dalam memilih bunga krisan atau ada predictive accuracy yang tinggi pada proses conjoint.


(61)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Secara umum, tanaman hias dikelompokkan menjadi dua, yaitu tanaman hias daun dan tanaman hias bunga. Tanaman hias daun yaitu jenis tanaman hias yang memiliki bentuk dan warna daun yang unik. Sementara daya tarik tanaman hias bunga terletak pada bentuk, warna, dan aroma bunganya (Ratnasari, 2007).

Pesona tanaman hias seolah-olah tak pernah redup. Setiap saat selalu ada jenis tanaman yang menjadi primadona. Ibarat dunia mode, selalu saja muncul tanaman-tanaman baru menggantikan tanaman lama yang trennya mulai memudar. Meskipun demikian, tetap saja masing-masing tanaman memiliki penggemar setia.

Komoditas tanaman hias terdiri dari tanaman hias daun, bunga potong, dan bunga pot. Usaha tanaman hias saat ini sedang berkembang. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyak muncul perhotelan, restoran, perkantoran dan bisnis-bisnis yang membutuhkan tanaman hias. Tanaman hias tidak hanya berperan bagi pembangunan sektor pertanian, akan tetapi juga berperan pada agrowisata di Indonesia.

Krisan merupakan salah satu bunga potong yang sangat popular dikalangan masyarakat luas karena keindahan dan kecantikan bentuk dan warna bunganya. Krisan dikenal juga dengan sebutan bunga ester atau seruni (Purwanto& Tri Martini, 2009).


(62)

Saat ini, krisan termasuk bunga potong trendsetter di Indonesia karena memiliki keunggulan: kaya warna dan tahan lama. Warna-warni bunga sangat beragam sehingga dapat disusun dalam rangkaian kombinasi yang serasi. Krisan menjadi pilihan untuk hiasan meja, pelaminan, dekorasi ruangan dalam acara pesta dan pawai kendaraan. Krisan juga banyak digelar dalam upacara resmi kenegaraan, adat dan agama (Purwanto& Tri Martini, 2009).

Tanaman hias yang merupakan komoditas unggulan Sumatera Utara adalah krisan, mawar, gladiol dan sedap malam. Produksi tanaman hias yang terbesar adalah krisan. Dari tabel 1.1 dapat dilihat produksi bunga potong di Sumatera Utara mulai tahun 2010 hingga tahun 2014.

Tabel 1.1 Produksi Bunga Potong Sumatera Utara Tahun 2010-2014

No. Komoditas 2010 2011 2012 2013 2014

1. Mawar 258.540 22.915 302.375 205.855 195.521 2. Krisan 1.055.405 6.008.901 10.597.588 2.596.543 2.912.836 3. Gladiol 293.978 117.132 519.571 265.666 201.412 4. Sedapmalam 214.354 394.660 1.444.757 1.830.499 1.319329 Sumber :Badan Pusat Statistik Sumatera Utara

Dari tabel 1.1, dapat dilihat bahwa produksi bunga krisan di Sumatera Utara pada tahun 2012 mengalami peningkatan yang cukup tajam hingga mencapai 10.597.588 tangkai bila dibandingkan dengan produksi krisan tahun 2010 dan tahun 2011. Pada tahun 2013 produksi bunga krisan mengalami penurunan yang cukup tajam sebesar 2.596.543 tangkai dan pada tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 2.912.836 tangkai.


(63)

Daerah yang menjadi sentra tanaman krisan di Sumatera Utara adalah Kabupaten Karo dan Kota Medan. Produksi tanaman krisan di Kabupaten Karo mendominasi hingga mencapai 99,41persen terhadap total produksi tanaman krisan di Sumatera Utara, sisanya 0,59 persen dari Kabupaten/Kota lain yang membudidayakan krisan yaitu Kabupaten Toba Samosir, Simalungun, Deli Serdang dan Nias Selatan (Badan Pusat Statistik, 2015).

Keberhasilan suatu penjualan tidak tergantung pada agresifnya tenaga penjual, tetapi lebih pada keputusan konsumen untuk membeli suatu produk. Dalam menarik minat konsumen agar mereka mau memutuskan untuk membeli suatu produk, hal yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan produk yang sesuai dengan keinginan dan kesukaan mereka (Lamb et al, 2000).

Melihat banyaknya konsumen di Kota Medan yang membeli bunga krisan pasti konsumen memperhatikan berbagai macam atribut yang melekat pada bunga krisan yang dijadikan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan membeli. Menurut Sumarwan (2004), perilaku konsumen akan sangat terkait dengan atribut produk. Atribut produk adalah karakteristik dari suatu produk yang menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli suatu produk.

Penyediaan bunga krisan di toko-toko bunga dengan berbagai macam atribut akan mempengaruhi keputusan beli konsumen. Konsumen menginginkan bunga krisan sesuai dengan preferensinya. Oleh karena itu, petani atau pelaku usaha dituntut untuk mengetahui apa yang menjadi preferensi atau kesukaan konsumen dan memberikan yang terbaik sesuai dengan preferensi konsumen terhadap bunga krisan.


(64)

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai analisis conjoint preferensi konsumen terhadap bunga krisan di Kota Medan.

1.2Identifikasi Masalah

Adapun masalah yang muncul dan akan diidentifikasikan adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kombinasi level atribut bunga krisan yang paling sesuai dengan

preferensi konsumen di daerah penelitian?

2. Bagaimana urutan atribut bunga krisan berdasarkan tingkat kepentingan menurut preferensi konsumen?

3. Bagaimana tingkat keakuratan prediksi model hasil analisis conjoint?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui kombinasi level atribut bunga krisan yang paling sesuai dengan preferensi konsumen bunga krisan di daerah penelitian.

2. Mengetahui urutan atribut bunga krisan berdasarkan tingkat kepentingan menurut preferensi konsumen.

3. Mengetahui tingkat keakuratan prediksi model hasil analisis conjoint.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Bagi peneliti, menambah wawasan dan pengetahuan terutama yang berkaitan dengan topik penelitian serta merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.


(65)

2. Sebagai bahan informasi dan bahan pertimbangan bagi para pelaku usaha bunga potong dalam memasarkan produknya.

3. Sebagai bahan informasi bagi pemerintahan dan pihak terkait yang membutuhkannya.


(66)

ABSTRAK

ARIEF MUHAMMAD NASUTION (110304100) dengan judul skripsi “ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP BUNGA KRISAN (Crysantimum Sp) DI KOTA MEDAN”, dengan Kasus: Pasar Tradisional Pringgan, Pasar Sore dan Pasar Simpang Limun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dibimbing oleh Bapak Ir. Yusak Maryunianta, M.Si dan Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap kombinasi atribut bunga krisan (crysantimum sp) di Pasar Tradisional Pringgan, Pasar Sore dan Pasar Simpang Limun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis conjoint. Atribut bunga krisan yang digunakan dalam penelitian adalah tipe, warna, tampilan bunga, kesegaran, ukuran bunga, harga dan kemasan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen memilih bunga krisan dengan spesifikasi adalah tipe spray, bewarna putih, tampilan bunga mekar, kesegaran yang tahan lama, ukuran bunga besar, harga bunga <Rp. 3.000/tangkai dan dikemas dengan plastik. Urutan atribut bunga krisan yang dianggap penting oleh konsumen yaitu pertama tampilan dengan tingkat kepentingan sebesar 33,333%, atribut kedua adalah kesegaran dengan tingkat kepentingan sebesar 25,984%, atribut ketiga adalah kemasan dengan tingkat kepentingan 13.386%, atribut keempat adalah warna dengan tingkat kepentingan 12,336%, atribut kelima adalah ukuran bunga dengan tingkat kepentingan sebesar 10,761%, atribut keenam adalah atribut harga dengan tingkat kepentingan sebesar 2,887% dan atribut ketujuh adalah atribut tipe dengan tingkat kepentingan sebesar 1,312%. Nilai korelasi Pearson’s dan Kendall’s Tau 0,000 (<0,05), interpretasinya adalah adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi aktual, atau ada predictive accuracy yang tinggi pada proses conjoint. Nilai korelasi Kendall’s Tau for Holdouts dimana Holdouts merupakan stimuli penguji hasil yang didapat dari proses conjoint bernilai 0,045 (sign.<0,05) artinya bahwa bunga krisan yang menjadi preferensi konsumen sampel dapat menggambarkan preferensi konsumen secara keseluruhan (populasi).


(67)

ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP BUNGA

KRISAN (Crysantimum Sp) DI KOTA MEDAN

SKRIPSI

OLEH :

ARIEF MUHAMMAD NASUTION 110304100

AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(68)

ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP BUNGA

KRISAN (Crysantimum Sp) DI KOTA MEDAN

SKRIPSI

Diajukan Kepada

Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-Syarat

Guna Memperoleh Derajat Sarjana Pertanian

OLEH :

ARIEF MUHAMMAD NASUTION 110304100

AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(69)

JUDUL SKRIPSI : ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP BUNGA KRISAN (Crysantimum

Sp) DI KOTA MEDAN

NAMA : ARIEF MUHAMMAD NASUTION

NIM : 110304100

PROGRAM STUDI : AGRIBISNIS

Disetujui Oleh: Komisi Pembimbing

Ketua Komisi Pembimbing Anggota Komisi Pembimbing

(Ir. Yusak Maryunianta, M.Si

NIP. 196206241986031001 NIP:196509261993031002 ) (Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si)

Mengetahui :

Ketua Program Studi Agribisnis

(Dr. Ir. Salmiah, MS) NIP. 195702171986032001


(70)

HALAMAN PENGESAHAN

ARIEF MUHAMMAD NASUTION, NIM 110304100 dengan judul ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP BUNGA KRISAN (Crysantimum

Sp) DI KOTA MEDAN Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dan Diterima untuk Memenuhi Sebagian dari Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian.

Pada Tanggal : 13 Februari 2017 Panitia Penguji Skripsi,

Ketua : Ir. Yusak Maryunianta, M.Si

NIP . 196206241986031001 : ………

Anggota : 1. Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si

NIP. 196509261993031002 : ………

2. Dr. Ir. Salmiah, MS

NIP. 195702171986032001 : ………

3. Siti Khadijah, SP, M.Si

NIP. 197310111999032002 : ………

Mengesahkan,

Ketua Program Studi Agribisnis

(Dr. Ir. Salmiah, MS) NIP. 195702171986032001


(71)

ABSTRAK

ARIEF MUHAMMAD NASUTION (110304100) dengan judul skripsi “ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP BUNGA KRISAN (Crysantimum Sp) DI KOTA MEDAN”, dengan Kasus: Pasar Tradisional Pringgan, Pasar Sore dan Pasar Simpang Limun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dibimbing oleh Bapak Ir. Yusak Maryunianta, M.Si dan Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap kombinasi atribut bunga krisan (crysantimum sp) di Pasar Tradisional Pringgan, Pasar Sore dan Pasar Simpang Limun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis conjoint. Atribut bunga krisan yang digunakan dalam penelitian adalah tipe, warna, tampilan bunga, kesegaran, ukuran bunga, harga dan kemasan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen memilih bunga krisan dengan spesifikasi adalah tipe spray, bewarna putih, tampilan bunga mekar, kesegaran yang tahan lama, ukuran bunga besar, harga bunga <Rp. 3.000/tangkai dan dikemas dengan plastik. Urutan atribut bunga krisan yang dianggap penting oleh konsumen yaitu pertama tampilan dengan tingkat kepentingan sebesar 33,333%, atribut kedua adalah kesegaran dengan tingkat kepentingan sebesar 25,984%, atribut ketiga adalah kemasan dengan tingkat kepentingan 13.386%, atribut keempat adalah warna dengan tingkat kepentingan 12,336%, atribut kelima adalah ukuran bunga dengan tingkat kepentingan sebesar 10,761%, atribut keenam adalah atribut harga dengan tingkat kepentingan sebesar 2,887% dan atribut ketujuh adalah atribut tipe dengan tingkat kepentingan sebesar 1,312%. Nilai korelasi Pearson’s dan Kendall’s Tau 0,000 (<0,05), interpretasinya adalah adanya hubungan yang kuat antara preferensi estimasi dan preferensi aktual, atau ada predictive accuracy yang tinggi pada proses conjoint. Nilai korelasi Kendall’s Tau for Holdouts dimana Holdouts merupakan stimuli penguji hasil yang didapat dari proses conjoint bernilai 0,045 (sign.<0,05) artinya bahwa bunga krisan yang menjadi preferensi konsumen sampel dapat menggambarkan preferensi konsumen secara keseluruhan (populasi).


(1)

3. Teruntuk Noviarny Anggasta Lara yang selalu memberikan dukungan dan semangat dalam penyelesain skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karenanya penulis mengharapkan kritik, masukan dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih dan berharap skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Medan, 13 Februari 2017


(2)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

RIWAYAT HIDUP ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Tinjauan Pustaka ... 6

2.1.1 Bunga Krisan ... 6

2.1.2 Pemasaran ... 8

2.1.3 Perilaku Konsumen ... 9

2.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Konsumen ... 10

2.2 Landasan Teori ... 11

2.2.1 Karakteristik Konsumen yang Berhubungan Dengan Keputusan Membeli... 11

2.2.2 Atribut Produk... 12


(3)

3.5.1 Defenisi ... 30

3.5.2 Batasan Operasional ... 31

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL ... 32

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ... 32

4.1.1 Letak dan Kondisi Geografis ... 32

4.1.2 Jumlah Outlet Bunga Krisan di Kota Medan ... 34

4.2 Karakteristik Sampel ... 34

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37

5.1 Hasil Analisis ... 37

5.2 Pembahasan ... 38

5.2.1. Preferensi Konsumen terhadap Kombinasi Atribut Bunga Krisan ... 38

5.2.2. Urutan Atribut Bunga Krisan menurut Preferensi Konsumen ... 45

5.2.3. Tingkat Keakuratan Prediksi Model Hasil Analisis Conjoint ... 47

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 49

6.1 Kesimpulan ... 49

6.2 Saran ... 50 DAFTAR PUSTAKA


(4)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

1. Produksi Bunga Potong Sumatera Utara Tahun 2010 - 2014

2

2. Uraian Penjelasan Tentang Atribut dan Level 13

3. Data Penjual Bunga Krisan Di Kota Medan 22

4. Atribut Bunga Krisan 26

5. Pemberian Rating Pada Stimuli Bunga Krisan 27

6. Hasil Analisis Conjoint Pada Bunga Krisan 29

7. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Menurut Kecamatan Di Kota Medan Tahun 2015 8. Data Penjual Bunga Krisan di Kota Medan

33

34

9. Hasil Analisis Conjoint Pada Bunga Krisan 37

10. Nilai Korelasi Hasil Proses Conjoint 38

11. Nilai Kepentingan (Importance Values) Atribut Bunga Krisan

46


(5)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

1. Skema Kerangka Pemikiran

2. Diagram Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

20 34 3. Diagram Responden Berdasarkan Jenis Usia

4. Diagram Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

5. Diagram Responden Berdasarkan Status Pekerjaan 6. Diagram Nilai Kegunaan Masing-Masing Taraf

Atribut Tipe

7. Diagram Nilai Kegunaan Masing-Masing Taraf Atribut Warna

8. Diagram Nilai Kegunaan Masing-Masing Taraf Atribut Tampilan

9. Diagram Nilai Kegunaan Masing-Masing Taraf Atribut Kesegaran

10. Diagram Nilai Kegunaan Masing-Masing Taraf Atribut Ukuran Bunga

11. Diagram Nilai Kegunaan Masing-Masing Taraf Atribut Harga

12. Diagram Nilai Kegunaan Masing-Masing Taraf Atribut Kemasan 35 36 36 39 40 41 42 43 44 45


(6)

DAFTAR LAMPIRAN

No. LAMPIRAN

1. Data Karakteristik Responden Bunga Krisan 2. Atribut Bunga Krisan

3. Input Data Penilaian Responden Terhadap Kombinasi 4. Hasil Analisis Conjoint