Analysis of farmer’s perceptions and strategies in smallholder timber plantation business (case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District, Province of South Kalimantan)

ANALISIS PERSEPSI DAN STRATEGI PETANI DALAM
USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT
(STUDI KASUS USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT
DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA DAN KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI
KALIMANTAN SELATAN)

DEDE ROHADI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul “Analisis Persepsi
dan Strategi Petani dalam Usaha Tanaman Kayu Rakyat (Studi Kasus Usaha
Tanaman Kayu Rakyat di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta
dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan) adalah karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa
pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir disertasi ini.

Bogor, Februari 2012
Dede Rohadi
NIM. E. 061 060 121

ABSTRACT
DEDE ROHADI. Analysis of Farmer’s Perceptions and Strategies in Smallholder
Timber Plantation Business (Case studies of Smallholder Timber Plantations at
Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District,
Province of South Kalimantan). Under direction of HARIADI
KARTODIHARDJO, BRAMASTO NUGROHO and DUDUNG DARUSMAN.
Smallholder timber plantations play strategic roles in forestry development in
Indonesia, particularly on improving farmers’ livelihood at rural areas, supplying
wood materials for forest industries and supporting forest rehabilitation program.
The potential for developing smallholder timber plantations in Indonesia is huge,
given the vast areas of critical land in Indonesia as well as high demand for wood.
The facts however showed that the development of smallholder timber plantations
in Indonesia only concentrates in Java. This dissertation aims to identify
alternatives on policy intervention to support the development of smallholder
timber plantations in Indonesia through better understanding on farmer’s
perceptions and strategies on timber plantation practices. The study was
conducted through case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul
district, the province of Yogyakarta and Tanah Laut district, the province of South
Kalimantan. Data was collected through household surveys, interviews with key
informants, focus group discussions, inventory of smallholder timber plantation
plots, and by collecting secondary publication materials at the two case study
sites. The results showed that timber plantations play major roles as household
saving accounts and as farmers’ safety net. Farmer’s investment of timber
plantations management depends on the relative benefits of timber plantations as
compared to other farming options. Access to markets and timber selling price are
the main driving factors for farmers to invest more on their timber plantations.
The availability of land area ownership and production-input capital are also
important factors. Governments need to develop policies that strengthen farmers'
access to timber markets, such as through institutional strengthening of farmer
groups on timber marketing collective action, developing micro credit facilities
for farmers and simplifying timber transport document regulations. Governments
are also advised to strengthen farmers’ capacity on timber value-added activities
and building business partnership with timber industries.
Keywords: smallholder timber plantations, institution
intervention, Gunungkidul, Tanah Laut.

analyses,

policy

RINGKASAN
DEDE ROHADI. Analisis Persepsi dan Strategi Petani dalam Usaha Tanaman
Kayu Rakyat (Studi Kasus Usaha Tanaman Kayu Rakyat di Kabupaten
Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi
Kalimantan Selatan). Dibimbing oleh HARIADI KARTODIHARDJO,
BRAMASTO NUGROHO dan DUDUNG DARUSMAN.
Tanaman kayu rakyat memiliki peran yang sangat strategis dalam
pembangunan kehutanan di Indonesia, khususnya dalam upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat petani di pedesaan, penyediaan bahan baku kayu bagi
industri kehutanan dan rehabilitasi sumber daya hutan. Potensi pengembangan
tanaman kayu rakyat di Indonesia sangat besar mengingat luasnya areal lahan
kritis di Indonesia serta tingginya permintaan terhadap bahan baku kayu. Namun
demikian, fakta sejauh ini menunjukkan bahwa pengembangan tanaman kayu
rakyat di Indonesia lebih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Diperlukan intervensi
kebijakan yang lebih baik agar pertumbuhan tanaman kayu rakyat di Indonesia
dapat lebih ditingkatkan.
Disertasi ini bertujuan untuk memahami persepsi dan strategi petani di
dalam usaha tanaman kayu rakyat. Pemahaman tersebut penting untuk
mengidentifikasi pilihan-pilihan intervensi kebijakan yang lebih sesuai dengan
kondisi petani, sehingga lebih efektif dalam memotivasi petani untuk
menanamkan investasi di dalam usaha tanaman kayu rakyat. Pendekatan analisa
dan pengembangan kelembagaan digunakan di dalam disertasi ini untuk
memahami proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh petani sebagai
aktor utama di dalam sistem usaha tanaman kayu rakyat.
Data dan informasi yang digunakan di dalam analisa ini didasarkan atas
studi kasus tanaman kayu rakyat di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa
Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Pada kedua
lokasi studi kasus tersebut, dilakukan pengamatan tanaman kayu rakyat melalui
inventarisasi tanaman kayu petani, survey rumah tangga terhadap sejumlah
responden petani, diskusi kelompok terfokus atau Focus Group Discussion
(FGD), wawancara dengan sejumlah tokoh masyarakat dan aparat instansi
pemerintah dan pengumpulan data sekunder dari bahan-bahan publikasi yang
tersedia.
Hasil penelitian disertasi ini memperlihatkan bahwa pada umumnya petani
memandang usaha tanaman kayu sebagai salah satu upaya dalam meragamkan
(diversifikasi) sumber pendapatan keluarga. Tanaman kayu dianggap mempunyai
peranan penting sebagai tabungan keluarga. Persepsi lainnya dari petani terhadap
usaha tanaman kayu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang
berkaitan dengan kondisi setempat (site specific).
Di Kabupaten Gunungkidul, budaya masyarakat yang telah lama
berkembang (sejak tahun 1960 an) dalam penanaman kayu jati pada umumnya
diwariskan kepada para petani generasi kini. Masyarakat di Gunungkidul yang
pernah mengalami dampak dari kondisi lingkungan yang gersang (tutupan hutan
hanya sekitar 3% dari luas wilayah) turut membangun apresiasi petani atas
manfaat tanaman kayu bagi perbaikan lingkungan. Akses pasar yang relatif mudah
serta nilai jual kayu jati yang cukup menguntungkan membentuk perspektif
ekonomi yang positif oleh petani atas tanaman kayu jati. Disamping itu dukungan

pihak luar, baik dari pihak pemerintah daerah maupun berbagai lembaga swadaya
masyarakat turut meningkatkan motivasi petani di dalam usaha budidaya tanaman
jati rakyat. Persepsi yang positif terhadap usaha penanaman kayu jati di
Gunungkidul dijumpai secara merata pada seluruh petani.
Di Kabupaten Tanah Laut persepsi petani terhadap usaha tanaman kayu
lebih didominasi oleh aspek ekonomi. Para petani memandang usaha tersebut
mempunyai prospek yang baik dalam upaya diversifikasi pendapatan keluarga,
terutama karena pengaruh intervensi pihak luar, yaitu perusahaan yang
menjanjikan akan menampung kayu hasil tanaman (pada kasus di Desa Asam
Jaya) dan pemerintah daerah (Dinas Kehutanan dan instansi kehutanan lainnya)
dalam rangka program pengembangan hutan rakyat (pada kasus di Desa
Ranggang). Namun demikian, pandangan positif terhadap usaha tanaman kayu di
Kabupaten Tanah Laut tersebut hanya terbatas pada sebagian kecil petani.
Strategi yang diterapkan petani di dalam sistem usaha tanaman kayu
berbeda antara Kabupaten Gunungkidul dan Tanah Laut. Di Kabupaten
Gunungkidul, karena keterbatasan luas kepemilikan lahan, sementara prospek
ekonomis kayu jati yang cukup baik, para petani menerapkan strategi subsisten
(coping strategy) dan diversifikasi (diversified strategy) sumber pendapatan.
Fokus usaha tani masih terletak pada produksi tanaman pangan untuk kebutuhan
sendiri untuk menimbulkan rasa aman terhadap ancaman kekurangan pangan
(safety first), sedangkan tanaman jati berfungsi sebagai tabungan keluarga yang
mudah diuangkan apabila petani dihadapkan kepada kebutuhan mendesak akan
uang tunai. Pola budidaya tanaman jati dilakukan secara tumpang sari (pola
agroforestri) dengan umur tanaman yang beragam untuk mengoptimalkan
penggunaan lahan dengan luas yang terbatas dalam rangka memenuhi kedua
tujuan di atas. Strategi pemanenan kayu lebih dikaitkan dengan saat petani
membutuhkan uang tunai (tebang butuh) daripada rencana pemanenan dengan
rotasi tebang tertentu. Di Kabupaten Tanah Laut, strategi petani dalam usaha
tanaman kayu lebih bersifat diversifikasi pendapatan dengan pola budidaya yang
lebih spesialis (specialized strategy), dalam pengertian penanaman kayu dilakukan
secara monokultur dan umur tegakan seragam dan dengan target rotasi tebang
tertentu.
Faktor pasar merupakan hambatan utama yang secara umum dijumpai di
dalam sistem usaha tanaman kayu rakyat di kedua kabupaten yang diteliti,
walaupun dalam konteks dan tingkat kesulitan yang berbeda. Di Kabupaten
Gunungkidul, akses pasar dan permintaan terhadap kayu jati rakyat sudah relatif
baik. Namun demikian, para petani masih memiliki posisi tawar yang rendah
dalam transaksi jual beli kayu, sehingga mereka lebih condong berada pada posisi
penerima harga (price takers). Berbagai aturan dalam tata niaga kayu jati rakyat,
khususnya kewajiban atas kelengkapan dokumen transportasi kayu dalam bentuk
Surat Izin Tebang (SIT) dan Surat Keterangan Asal Usul kayu (SKAU) menjadi
kendala pasar (market barriers) bagi petani untuk memanfaatkan peluang
memasarkan kayu secara langsung ke industri. Aturan tersebut juga menyebabkan
biaya transaksi yang tinggi bagi para pedagang kayu, sehingga memaksa mereka
untuk menekan harga beli di tingkat petani. Keterbatasan luas kepemilikan lahan
juga menjadi kendala bagi upaya ekspansi tanaman kayu jati rakyat di Kabupaten
Gunungkidul. Di Kabupaten Tanah Laut, keterbatasan pasar (thin market) menjadi
faktor hambatan utama dalam usaha tanaman kayu rakyat. Keterbatasan pasar

menyebabkan harga jual kayu yang rendah dan kurang kondusif untuk memotivasi
investasi petani di dalam usaha tanaman kayu.
Hasil penelitian disertasi ini memberikan beberapa implikasi kebijakan yang
perlu dilakukan pemerintah dalam rangka mendorong perkembangan usaha
tanaman kayu rakyat di Indonesia. Kebijakan pemerintah dalam rangka
pengembangan usaha tanaman kayu rakyat perlu dilakukan dengan
memperhatikan permasalahan-permsalahan pada kondisi lokal. Secara umum
kebijakan pemerintah perlu diarahkan untuk memperkuat akses pasar dan posisi
tawar petani di dalam pemasaran hasil tanaman kayu mereka. Penguatan
kelembagaan kelompok tani dalam upaya pemasaran kayu secara bersama
merupakan salah satu program yang perlu dilakukan secara intensif oleh
pemerintah daerah. Upaya pemasaran kayu secara bersama tersebut dapat
diintegrasikan dengan penyediaan kredit mikro bagi petani untuk mencegah
penebangan kayu yang terlalu dini (premature harvesting) sehingga belum
mencapai nilai jual optimal. Penguatan kelembagaan kelompok tani dalam rangka
pemasaran bersama dapat menjadi batu loncatan untuk mengembangkan kontrak
kerjasama penjualan kayu antara kelompok tani dengan industri pengolahan kayu
atau industri hutan tanaman. Pemerintah (pusat dan daerah) juga perlu
menghilangkan aturan tata niaga kayu (SIT dan SKAU) yang cenderung menjadi
kendala pemasaran kayu rakyat serta menimbulkan biaya transaksi tinggi.
Pemerintah juga disarankan untuk meningkatkan kapasitas petani di dalam proses
pengolahan kayu, agar petani memiliki peluang untuk terlibat di dalam aktivitas
peningkatan nilai tambah bahan baku kayu menjadi produk-produk olahan
setengah jadi.
Kata kunci: tanaman kayu rakyat, analisa kelembagaan, persepsi petani, strategi
petani, Gunungkidul, Tanah Laut.

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
1.

2.

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu
masalah;
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

ANALISIS PERSEPSI DAN STRATEGI PETANI DALAM
USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT
(STUDI KASUS USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT DI KABUPATEN
GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN
KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN)

DEDE ROHADI

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji pada Ujian Tertutup

: Dr. Ir.Nurheni Wijayanto, MS.
Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MS.

Penguji pada Ujian Terbuka

: Dr. Ir. Hariyatno Dwi Prabowo, MSc.
Dr. Ir. Supriyanto

Judul Disertasi : Analisis Persepsi dan Strategi Petani Dalam Usaha Tanaman
Kayu Rakyat (Studi Kasus Usaha Tanaman Kayu Rakyat di
Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta dan
Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan)
Nama
: Dede Rohadi
NIM
: E. 061 060 121
Program Studi : Ilmu Pengetahuan Kehutanan

Disetujui,
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS.
Ketua

Dr. Ir. Bramasto Nugroho, MS.
Anggota

Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA.
Anggota

Diketahui,
Ketua Program Studi
Ilmu Pengetahuan Kehutanan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Naresworo Nugroho, MS.

Dr. Ir. Dahrul Syah, Msc.Agr.

Tanggal Ujian : 31 Januari 2012

Tanggal Lulus:

PRAKATA
Segala puji bagi Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga disertasi yang
berjudul “Analisis Persepsi dan Strategi Petani Dalam Usaha Tanaman Kayu
Rakyat (Studi Kasus Usaha Tanaman Kayu Rakyat di Kabupaten Gunungkidul
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan
Selatan)” ini dapat diselesaikan. Disertasi ini disusun sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Doktor pada Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor. Penelitian dalam rangka disertasi ini telah dilakukan pada tahun 2007
sampai 2010.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Hariadi
Kartodihardjo, MS., selaku Ketua Komisi Pembimbing, Bapak Dr. Ir. Bramasto
Nugroho, MS dan Bapak Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA., selaku anggota
komisi, atas segala bimbingan dan arahannya. Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada Bapak Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS dan Bapak Dr. Ir. Sudarsono
Soedomo, MS. yang telah berkenan menjadi Penguji Luar Komisi pada Ujian
Tertutup dan kepada Bapak Dr. Ir. Hariyatno Dwiprabowo, MSc. serta Dr. Ir.
Supriyanto selaku Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka. Penulis juga
menyadari bahwa disertasi ini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa dukungan
yang diberikan dari segenap jajaran pimpinan IPB, khususnya Rektor IPB, Dekan
Sekolah Pascasarjana IPB, Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Ketua Program Studi
Ilmu Pengetahuan Kehutanan, dan Ketua Departemen Manajemen Hutan,
Fakultas Kehutanan IPB.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Center for International
Forestry Research dan Australian Center for International Agricultural Research
yang telah memberikan dukungan dan bantuan yang sangat berarti di dalam
pelaksanaan penelitian disertasi ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih
kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Kepala Pusat
Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan atas dukungan yang diberikan selama
penulis melaksanakan pendidikan doktor ini.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan dengan setulus-tulusnya kepada
isteri, anak, ibu, ayah (alm) dan sanak saudara yang telah memberikan do’a dan
kasih sayangnya kepada penulis selama menjalani pendidikan ini.

Kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada
penulis, namun tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis menyampaikan terima
kasih yang sebesar-besarnya dan semoga Allah Yang Maha Pemurah jua lah yang
akan berkenan membalas kebaikan Ibu/Bapak/Saudara tersebut.
Akhirnya penulis berharap agar disertasi ini dapat memberikan manfaat bagi
upaya pengembangan ilmu serta program pembangunan kehutanan di Indonesia.

Bogor, Februari 2012

Dede Rohadi

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat pada tanggal 22 Maret 1959,
merupakan anak kelima dari sepuluh bersaudara dari pasangan Sambas
Adiwidjaja (alm) dan Ilis Idah. Penulis menyelesaikan pendidikan Sarjana S1
pada Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun
1982. Pada tahun 1991 penulis menyelesaikan pendidikan S2 (Master in Forestry
Science) pada The University of Melbourne, Australia dengan dukungan beasiswa
dari Australian International Development Assistance Bureau (AIDAB). Penulis
menempuh program pendididikan S3 Pascasarjana IPB sejak September tahun
2006.
Saat ini penulis bekerja sebagai Staf Peneliti pada Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan, Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan. Penulis memulai karir Pegawai Negeri Sipil dengan
bekerja sebagai peneliti pada Pusat Penelitian Hasil Hutan, Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan. Penulis pernah ditugaskan sebagai Kepala Balai
Penelitian Kehutanan di Makassar dan Pematang Siantar, serta sebagai Kepala
Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Ciheuleut Bogor. Penulis pernah
diperbantukan sebagai Seconded Scientist pada lembaga penelitian Center for
International Forestry Research (CIFOR) pada tahun 1999 sampai 2001 dan
sebagai Project Leader pada proyek penelitian “Improving Economic Outcomes
for Smallholders Growing Teak in Agroforestry Systems in Indonesia” pada
lembaga yang sama pada tahun 2007 sampai 2011.
Penulis telah menyusun beberapa publikasi ilmiah yang terkait dengan topik
kebijakan dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat, baik dalam bentuk tulisan
pada jurnal ilmiah, bagian dari buku, makalah seminar atau poster. Diantara
publikasi ilmiah tersebut ada yang telah diterbitkan di dalam jurnal internasional,
sebagai bagian dari buku yang diterbitkan oleh CIFOR atau berupa makalahmakalah seminar internasional.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...........................................................................................

xvi

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

xviii

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................

xx

I.

PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1. Latar belakang ...................................................................................
1.2. Perumusan Masalah ..........................................................................
1.3. Tujuan penelitian ...............................................................................
1.4. Ruang lingkup Penelitian ..................................................................
1.5. Manfaat Hasil Penelitian ...................................................................
1.6. Kebaruan ...........................................................................................

1
1
3
5
6
6
7

II.

TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................
2.1. Tanaman Kayu Rakyat pada Skala Global .......................................
2.2. Perkembangan Tanaman Kayu Rakyat di Indonesia ........................
2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Tanaman Kayu
Rakyat ...............................................................................................
2.4. Kerangka Analisa Kelembagaan dalam Konteks Persepsi dan
Strategi Petani dalam Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat ..............

9
9
16
24
29

III.

METODE PENELITIAN..........................................................................
3.1. Pendekatan dan Kerangka Analisa Penelitian ...................................
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................
3.3. Jenis dan Cara Pengumpulan Data ....................................................
3.4. Analisa Data ......................................................................................

37
37
38
41
47

IV.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ....................................
4.1. Kabupaten Gunungkidul ...................................................................
4.2. Kabupaten Tanah Laut ......................................................................

49
49
52

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................
5.1. Tanaman Jati Rakyat di Kabupaten Gunungkidul .............................
5.1.1. Faktor-faktor Eksternal yang Mempengaruhi Sistem
Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat ........................................
5.1.2. Praktek Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat ....................
5.1.3. Analisa Kelembagaan: Konsepsi dan Strategi Petani Dalam
Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat ........................................
5.1.4. Permasalahan dan Peluang Petani Dalam Pengembangan
Usaha Tanaman Kayu Rakyat ................................................
5.2. Tanaman Kayu Rakyat di Kabupaten Tanah Laut .............................
5.2.1. Faktor-Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi Sistem
Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat ....................................

59
59
59
62
69
74
77
77

5.2.2. Praktek Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat .................
5.2.3. Analisa Kelembagaan: Persepsi dan Strategi Petani Dalam
Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat ....................................
5.2.4. Permasalahan dan Peluang Petani Dalam Pengusahaan
Tanaman Kayu Rakyat ..........................................................
5.3. Pembelajaran dan Implikasi Kebijakan .............................................
VI.

80
91
97
99

KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 105
6.1. Kesimpulan ........................................................................................... 105
6.2. Saran ..................................................................................................
108

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................

111

LAMPIRAN .............................................................................................

119

DAFTAR TABEL
Halaman
1.

Tipologi tanaman kayu rakyat pada berbagai tempat di dunia ................

14

2.

Cadangan tegakan dan potensi produksi tujuh jenis kayu hutan
rakyat di Indonesia berdasarkan hasil sensus pada tahun 2003
(Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan 2004) ................................

23

Lokasi penelitian di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa
Yogyakarta ...............................................................................................

39

Komposisi jumlah petani responden pada survey rumah tangga
di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta .....................

43

3.
4.

5. Kriteria yang digunakan dalam teknik ranking kesejahteraan
keluarga di Desa Ranggang .....................................................................
6.

43

Distribusi penggunaan lahan di Desa Asam Jaya, Kecamatan,
Jorong Kabupaten Tanah Laut ................................................................

58

Harga kayu bulat jati di tingkat pedagang kayu desa pada berbagai
kelas kualitas ............................................................................................

60

Jumlah tanaman jati pada berbagai tipe penggunaan lahan petani
di Kabupaten Gunungkidul ......................................................................

63

Analisa finansial usaha tani rakyat berbasis tanaman jati .......................

68

10. Komponen biaya input dan pendapatan usaha tani kitren dan
tegalan ......................................................................................................

68

11. Persepsi dan strategi petani kayu di dalam sistem pengusahaan
tanaman jati rakyat ...................................................................................

73

12. Luas kawasan hutan berdasarkan fungsinya di Provinsi Kalimantan
Selatan .....................................................................................................

79

13. Ringkasan strategi petani dalam sistem pengusahaan tanaman
kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut .....................................................

96

14. Perincian harga kayu yang diterima pabrik PT. Navatani
Persada untuk bahan baku kayu lapis “film face” .....................................

98

7.
8.
9.

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1.

Kegiatan penanaman hutan rakyat di Indonesia.......................................

22

2.

Produksi kayu bulat Indonesia .................................................................

23

3.

Kerangka analisa kelembagaan (Ostrom, 2006).......................................

30

4.

Peta lokasi penelitian di Kabupaten Gunungkidul, Daerah
Istimewa Yogyakarta................................................................................

40

Peta lokasi penelitian di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi
Kalimantan Selatan ..................................................................................

41

6.

Berbagai pola penanaman jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul ..........

62

7.

Alasan petani menanam jati berdasarkan hasil survey rumah tangga
di Kabupaten Gunungkidul ......................................................................

64

Distribusi luas kepemilikan lahan petani jati rakyat di Kabupaten
Gunungkidul ............................................................................................

65

Alokasi penggunaan lahan petani jati rakyat di Kabupaten
Gunungkidul ............................................................................................

65

10. Struktur pendapatan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul .........

67

11. Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden penanam kayu
di Desa Ranggang .....................................................................................

81

12. Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden non penanam
kayu di Desa Ranggang ............................................................................

82

13. Alokasi penggunaan lahan petani responden penanam kayu di
Desa Ranggang ........................................................................................

83

14. Alokasi lahan petani responden non penanam kayu di Desa Ranggang ..

83

15. Sumber pendapatan keluarga petani responden di Desa Ranggang..........

84

16. Alasan petani menanam beberapa jenis komoditas usaha tani di
Kabupaten Tanah laut ..............................................................................

85

17. Ilustrasi tanaman mahoni rakyat di Desa Ranggang.................................

87

18. Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden di Desa
Asam Jaya.................................................................................................

87

19. Alokasi penggunaan lahan petani responden di Desa Asam Jaya ...........

88

20. Sumber pendapatan keluarga petani responden di Desa Asam Jaya .......

89

21. Ilustrasi tanaman jabon rakyat di Desa Asam Jaya ..................................

89

22. Tanaman akasia model kemitraan antara PT. Hutan Rindang Banua
dengan masyarakat di Kecamatan Jorong ................................................

90

5.

8.
9.

23. Tanaman jabon rakyat yang ditebang oleh pemiliknya karena akan
diganti dengan kayu karet ..........................................................................

91

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1.

Data kepemilikan lahan petani responden di Kabupaten Gunungkidul ...

119

2.

Data kepemilikan lahan petani responden di Kabupaten Tanah Laut ......

126

3.

Alasan penanaman kayu menurut respon petani di lokasi penelitian ......

131

4.

Rangkuman hasil Focus Group Discussion (FGD) tentang manfaat
tanaman jati bagi keluarga petani (Wonosari, 2 Desember 2007) ...........

132

5.

Hasil inventarisasi tanaman jati rakyat pada lahan petani responden di
Kabupaten Gunungkidul ..........................................................................

135

Hasil inventarisasi tanaman kayu pada lahan petani responden di
Kabupaten Tanah Laut .............................................................................

142

Analisa biaya manfaat usaha tanaman jati rakyat di Kabupaten
Gunungkidul ............................................................................................

147

Ilustrasi transaksi pembelian dan penjualan kayu jati rakyat di
Kabupaten Gunungkidul ..........................................................................

149

Analisa biaya manfaat usaha tanaman kayu jabon di Kabupaten
Tanah Laut ...............................................................................................

150

10. Analisa biaya manfaat usaha tanaman karet di Desa Asam Jaya,
Kabupaten Tanah Laut .............................................................................

152

6.
7.
8.
9.

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tanaman kayu rakyat (smallholder timber plantations) secara umum dapat
diartikan sebagai tanaman kayu yang ditanam dalam bentuk kebun atau sistem
agroforestry, yang dibangun dan atau dikelola oleh rakyat, baik secara individu
maupun berkelompok dan terutama bertujuan untuk memproduksi kayu. Tanaman
kayu rakyat di dalam pengertian ini khususnya mencakup Hutan Rakyat atau
Hutan Hak menurut Undang-undang (UU) No. 41 Tahun 1999 dan Peraturan
Menteri Kehutanan (Permenhut) No 3 Tahun 2004; Hutan Tanaman Rakyat
(HTR) menurut batasan Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 Tahun 2007 atau
Permenhut No. 23 Tahun 2007; Hutan Kemasyarakatan (HKm) menurut
Permenhut No. P.37/Menhut-II/2007.serta bentuk-bentuk tanaman kayu lainnya
yang menempatkan rakyat di tingkat pedesaan sebagai pelaku utama di dalam
kegiatan penanaman dan atau pengelolaannya. Tanaman kayu rakyat dapat
dibedakan dengan Hutan Tanaman Industri (HTI) terutama dari aspek
pengelolanya dan skala operasionalnya. Dibandingkan dengan HTI, tanaman kayu
rakyat dikelola oleh masyarakat pada tingkat rumah tangga dengan skala luasan
yang relatif kecil.
Tanaman kayu rakyat di Indonesia memiliki peran yang sangat penting di
dalam pembangunan kehutanan. Tanaman kayu rakyat berperan sebagai sarana
pelaksanaan program rehabilitasi hutan dan lahan, pemasok bahan baku kayu bagi
industri perkayuan dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya
yang tinggal di wilayah pedesaan. Walaupun belum banyak data yang tersedia
tentang potensi kayu dari areal tanaman kayu rakyat, hasil sensus tahun 2003
mencatat bahwa potensi produksi kayu yang berasal dari areal hutan rakyat di
Indonesia adalah sekitar 68.5 juta pohon atau setara dengan 14 juta1 m3, sementara
jumlah cadangan tegakan mencapai lebih dari 226 juta pohon atau setara dengan
45 juta m3 (Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan 2004). Angka-angka
tersebut hanya memperhitungkan tujuh jenis tanaman hutan rakyat yang paling
dominan ditanam oleh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, namun belum
mencakup berbagai jenis lainnya yang lebih spesifik ditanam di wilayah-wilayah
1

Dengan asumsi bahwa 1 m3 setara dengan 5 pohon yang siap tebang.

2

tertentu di Indonesia. Potensi tersebut relatif sangat besar apabila bila
dibandingkan dengan kemampuan pasokan kayu berdasarkan Jatah Penebangan
Tahunan (JPT) nasional tahun 2009, yang hanya mencapai 9.1 juta m3 (SK. Dirjen
BPK No SK.432/VI-BPHA/2008).
Mengingat peranannya yang cukup nyata dalam pembangunan kehutanan,
berbagai dukungan kebijakan telah dilakukan pemerintah dalam upaya
pengembangan tanaman kayu rakyat di Indonesia. Kebijakan-kebijakan tersebut
bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat luas di dalam upaya
penanaman kayu. Diawali dengan Instruksi Presiden (INPRES) No. 8 pada tahun
1976, kegiatan tanaman kayu rakyat telah digalakkan di Indonesia melalui
program penghijauan dan reboisasi. Pada tahun 2003 pemerintah bahkan telah
menjadikan “perhutanan sosial” (social forestry) sebagai payung dalam
pembangunan kehutanan (Rusli 2003) yang pada intinya menempatkan
masyarakat sebagai elemen penting di dalam pengelolaan hutan, termasuk dalam
kegiatan penanaman kayu. Setelah itu berbagai program pemerintah diluncurkan,
seperti Program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL dan
kemudian menjadi GERHAN), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman
Rakyat (HTR), hutan desa dan baru-baru ini program One Man One Tree
(OMOT) dan One Billion Indonesian Trees (OBIT).
Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa luas total areal tanaman kayu
rakyat di Indonesia dewasa ini baru mencapai sekitar 3.7 juta ha yang sebagian
besar berupa hutan rakyat (3.5 juta ha) dan sisanya merupakan gabungan dari
HKm, hutan desa dan HTR (Pusat Humas Kemenhut 2011). Dari jumlah tersebut,
sebagian besar tanaman berupa hutan rakyat yang terkonsentrasi di Jawa, di mana
ketersediaan lahan sangat terbatas. Sementara itu areal lahan kritis di Indonesia
yang berpotensi untuk pengembangan tanaman kayu rakyat kini telah mencapai
sekitar 42 juta ha (Hindra 2006). Nampaknya berbagai dukungan kebijakan yang
telah dilakukan pemerintah masih belum cukup efektif untuk meningkatkan
motivasi masyarakat luas di dalam usaha penanaman kayu rakyat. Oleh karena itu
berbagai upaya masih perlu dilakukan agar kebijakan-kebijakan yang diterapkan
lebih tepat sasaran dalam memotivasi masyarakat luas di dalam usaha penanaman
kayu.

3

1.2. Perumusan Masalah
Pengalaman di berbagai belahan dunia menunjukkan banyak faktor yang
mempengaruhi perkembangan tanaman kayu rakyat. Zhang dan Owiredu (2007)
melaporkan bahwa harga jual kayu merupakan faktor pendorong bagi
perkembangan tanaman kayu rakyat di Ghana. Permintaan yang tinggi atas kayu
serta keterbatasan pasokan kayu dari areal hutan alam telah mendorong
perkembangan hutan tanaman, termasuk tanaman kayu jati rakyat di Laos
(Midgley et al. 2007). Demikian pula di Filipina, perkembangan tanaman kayu
rakyat dipicu oleh permintaan atas kayu yang meningkat serta harga kayu yang
menguntungkan (Bertomeu 2006). Intensitas kebijakan pemerintah yang tinggi,
khususnya yang mendukung perkembangan hutan tanaman memiliki korelasi
yang kuat dengan pertumbuhan hutan tanaman pada skala global (Rudel 2009).
Manfaat ekonomis usaha tanaman kayu rakyat dilaporkan secara
kontradiktif oleh berbagai penulis. Pada kasus di Costa Rica, Kishor dan
Constantino (1993) melaporkan bahwa usaha tanaman kayu rakyat lebih
menguntungkan dibandingkan dengan usaha tanaman pertanian lainnya, apabila
tingkat suku bunga cukup rendah Akan tetapi beberapa kasus yang lain
menunjukkan hasil yang sebaliknya (van Bodegom et al. 2008). Bahkan di negara
maju seperti Jepang, agar usaha tanaman kayu rakyat cukup menarik petani,
kadang-kadang subsidi pemerintah masih diperlukan (Ota 2001). Hasil penelitian
di Indonesia menunjukkan bahwa usaha tanaman kayu rakyat hanya memberikan
keuntungan finansial yang marjinal (Race et al. 2009), sementara Siregar et al.
(2007) melaporkan kasus tanaman sengon di Kediri yang ditanam dengan
berbagai pilihan tanaman pertanian memberikan keuntungan pada tingkat suku
bunga yang cukup tinggi (17.53%). Usaha tanaman kayu rakyat pada umumya
berperan hanya sebagai usaha sampingan para petani dan belum menjadi sumber
pendapatan utama (Darusman dan Hardjanto 2006; Lubis 2010; Sitanggang 2009).
Beberapa hal masih menjadi hambatan dalam upaya pengembangan
tanamanan kayu rakyat, seperti masa tunggu yang lama, keengganan para petani
untuk melakukan penjarangan tegakan dan keterbatasan akses mereka terhadap
bibit tanaman yang berkualitas (Midgley et al. 2007). Kebijakan pemerintah yang
kurang kondusif, seperti penetapan pajak eksploitasi kayu yang terlalu rendah

4

dapat menyebabkan usaha tanaman kayu rakyat kurang kompetitif dengan harga
kayu dari hutan alam (Herbohn 2001). Di Kanada, dimana sebagian besar sumber
daya hutan dikuasai negara dan perusahaan besar, kebijakan-kebijakan atas
tanaman kayu sering lebih berpihak kepada perusahaan-perusahaan besar tersebut
dan menyediakan sedikit ruang bagi tanaman kayu rakyat untuk berkembang
(Mitchell-Banks 2001).
Berdasarkan uraian di atas, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam
tentang

bagaimana

sistem

usaha

tanaman

kayu

rakyat

berlangsung.

Mempertimbangkan bahwa petani kayu merupakan aktor utama di dalam usaha
tanaman kayu rakyat tersebut, maka diperlukan pemahaman yang lebih baik
terhadap proses pengambilan keputusan oleh petani di dalam usaha tanaman kayu
rakyat. Pemahaman tersebut akan sangat bermanfaat dalam perumusan kebijakan
yang lebih tepat untuk mendorong perkembangan tanaman kayu rakyat di
Indonesia.
Armstrong

di

dalam

Clement

(2007)

menyatakan

bahwa

proses

pengambilan keputusan dipengaruhi oleh persepsi pembuat keputusan tersebut.
Persepsi biasanya sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan karena
persepsi didasarkan atas informasi yang diperoleh langsung dari subyek yang
diamati, dan lebih kuat pengaruhnya daripada informasi yang disampaikan secara
tidak

langsung

oleh

pihak

lain.

Persepsi,

menurut

kamus

bahasa

(http://kamusbahasaindonesia.org/persepsi# ixzz1j QA00R3g, diakses tanggal 14
Januari 2012; http://dictionary.reference.com/ browse/ perception, diakses tanggal
12 Januari 2012) dapat diartikan sebagai perolehan pengetahuan melalui indra
atau pikiran. Persepsi dibedakan dengan sekedar “tahu” atau “awareness”.
Persepsi mengandung pengertian bahwa informasi yang diketahui mempunyai
relevansi dengan kebutuhan subyeknya sehingga memberi pengaruh kepada
perilaku subyek. Perilaku petani akan berubah apabila awareness dan persepsi
berkaitan atau berasosiasi (Oladele dan Fawole 2007).
Blaikie dalam Clement (2007) menyatakan bahwa persepsi terhadap suatu
realitas (biofisik) tergantung kepada representasi bentuk sosial yang terbentuk dari
beberapa tahap. Yang pertama adalah bahwa persepsi berubah melalui
pengalaman dan yang kedua melalui proses interpretasi atas fakta-fakta ilmiah.

5

Dalam konteks fakta ilmiah tersebut, Searle dalam Clement (2007) menegaskan
perlunya membedakan antara fakta-fakta alamiah (brute facts) dan fakta-fakta
kelembagaan (institutional facts). Fakta alamiah relatif bersifat netral karena
merupakan penjelasan atau deskripsi dasar atas suatu realitas biofisik, sedangkan
fakta kelembagaan sarat dengan nilai dimana nilai-nilai tersebut tidak harus sama
di antara kelompok-kelompok sosial yang berinteraksi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pemahaman atas persepsi petani
di dalam usaha tanaman kayu perlu dilakukan melalui pengumpulan informasi
atas pandangan petani terhadap usaha tersebut, serta dengan menganalisa faktafakta alamiah dan kelembagaan yang dapat menjelaskan proses pengambilan
keputusan oleh petani. Selanjutnya, melalui pengamatan atas fakta-fakta di
lapangan, penelitian ini mencoba memahami strategi petani di dalam menjalankan
usaha tanaman kayu rakyat tersebut pada kondisi realitas kehidupan yang mereka
hadapi. Hasil analisa atas persepsi dan strategi petani tersebut selanjutnya
digunakan untuk mencari pilihan intervensi kebijakan yang lebih efektif untuk
mendorong investasi masyarakat di dalam usaha penanaman kayu rakyat.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisa
persepsi dan strategi petani di dalam usaha tanaman kayu rakyat dalam rangka
penentuan pilihan-pilihan kebijakan yang dapat digunakan untuk meningkatkan
kinerja pengusahaan tanaman kayu rakyat di Indonesia.
Pertanyaan pokok penelitian yang ingin dijawab melalui penelitian ini
adalah:
a.

Bagaimanakah persepsi petani terhadap usaha tanaman kayu rakyat dan
faktor-faktor apakah yang mempengaruhi persepsi petani tersebut?

b.

Bagaimanakan strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu
rakyat tersebut pada kondisi realitas kehidupam yang mereka alami?

c.

Apakah kendala-kendala yang dihadapi oleh para petani dan peluang-peluang
yang tersedia bagi mereka untuk meningkatkan manfaat tanaman kayu rakyat
bagi mereka?

6

d. Apakah pilihan-pilihan intervensi kebijakan yang dapat dilakukan untuk
mendorong upaya peningkatan kinerja pengusahaan tanaman kayu rakyat di
Indonesia?
1.4. Ruang Lingkup Penelitian
Tanaman kayu rakyat yang dikaji di dalam penelitian ini difokuskan pada
hutan rakyat pada lahan-lahan milik petani. Beberapa informasi yang berkaitan
dengan bentuk tanaman kayu rakyat lainnya, seperti HKm dan HTR digunakan
sebagai pelengkap bahan kajian. Analisa didalam penelitian didasarkan atas
kasus-kasus pengusahaan tanaman kayu rakyat yang terdapat di dua kabupaten,
yaitu Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten
Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan.
Analisa atas persepsi dan strategi di dalam pengusahaan tanaman kayu
rakyat difokuskan kepada para petani sebagai aktor utama di dalam usaha ini.
Persepsi dari para aktor lainnya yang terlibat di dalam sistem ini digunakan dalam
konteks untuk menjelaskan persepsi dan strategi petani tersebut. Analisa terhadap
persepsi didasarkan atas respon langsung para petani responden atas pertanyaan
yang disampaikan melalui wawancara dan atau survey rumah tangga serta dengan
mengamati perilaku mereka di dalam tatacara pengusahaan tanaman kayu rakyat.
1.5. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi para
pemangku kepentingan (stakeholders) di dalam sistem pengusahaan tanaman
kayu rakyat, terutama kepada:
a.

Para pengambil keputusan, khususnya para pengambil kebijakan di tingkat
pusat dan kabupaten: Penelitian ini menyajikan informasi yang menjelaskan
bagaimana persepsi petani atas usaha tanaman kayu rakyat dipengaruhi oleh
faktor-faktor internal dan eksternal mereka serta mempengaruhi strategi
petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat tersebut. Informasi
tersebut sangat berguna sebagai bahan pertimbangan untuk merumuskan
intervensi kebijakan yang lebih adaptif dengan pola pikir para petani sebagai
aktor utama di dalam usaha tanaman kayu rakyat.

b.

Kaum akademisi: Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan
di dalam penelitian bidang ilmu-ilmu sosial, khususnya bagi penelitian yang

7

akan mendalami perilaku petani di dalam usaha penanaman kayu sebagai
respon atas kondisi lingkungan dan berbagai pengaruh lainnya.
c.

Agen-agen pembangunan: Hasil penelitian ini memberikan informasi dan
pembelajaran dari studi kasus sistem usaha tanaman kayu rakyat di Jawa dan
luar Jawa, khusunya tentang hambatan yang dihadapi dan peluang intervensi
yang tersedia dalam rangka pengembangan usaha tanaman kayu rakyat
tersebut.

d.

Masyarakat, khususnya para petani penanam kayu rakyat: Penelitian
memberikan manfaat secara tidak langsung kepada masyarakat melalui
adopsi hasil-hasil penelitian oleh para pengambil kebijakan di dalam
merumuskan kebijakan yang baru yang lebih kondusif bagi pengembangan
usaha tanaman kayu rakyat.

e.

Para pengusaha atau penanam modal, khususnya perusahaan-perusahaan
kehutanan: Penelitian ini memberikan informasi dan pembelajaran tentang
potensi dan cara-cara untuk menjalin kemitraan yang berkesinambungan
dengan para kelompok petani tanaman kayu rakyat.

1. 6. Kebaruan
Kebaruan yang dihasilkan dari penelitian ini terletak pada penggunaan
kerangka analisa kelembagaan untuk memahami hubungan sebab akibat antara
strategi petani di dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat dengan persepsi
petani atas usaha tersebut serta faktor-faktor internal dan eksternal yang
mempengaruhi persepsi dan strategi petani tersebut. Pada tataran operasional,
penelitian ini juga menghasilkan beberapa pilihan intervensi kebijakan yang dapat
dipertimbangkan di dalam upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat.

8

9

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Kayu Rakyat pada Skala Global
Pada skala global, tanaman kayu rakyat dijumpai dalam beragam tipe, baik
dalam

konteks

peristilahan,

kepemilikan,

luasan,

tujuan

serta

tatacara

pengelolaannya (Harrison et al. 2002). Di Amerika Serikat, istilah yang paling
sering digunakan adalah Non Industrial Private Forest (NIPF) dan pada umumnya
diartikan sebagai kawasan hutan yang dimiliki oleh petani, perseorangan atau
perusahaan yang tidak memiliki pabrik pengolahan kayu. Terdapat berbagai
istilah lain yang biasa digunakan namun dengan frekuensi yang lebih jarang. Luas
total areal NIPF mencakup hampir 60% dari keseluruhan tanaman kayu di
Amerika Serikat dan memasok sekitar 50% dari produksi kayu nasional mereka.
Areal NIPF dimiliki oleh sekitar 7 juta perorangan dimana sekitar 600,000
pemilik mengelola areal lebih dari 40 ha (Harrison et al. 2002). Zhang et al.
(2009) melaporkan bahwa perkembangan tanaman kayu rakyat di Amerika Serikat
pada akhir-akhir ini cenderung meningkat. Dengan luas total areal hutan sekitar
248 juta ha, sekitar 2/3 atau 157 juta ha kini dimiliki secara pribadi. Sekitar 2/3
dari areal hutan milik tersebut kini dikelola oleh lebih dari 10 juta individu
keluarga.
Eropa, dengan luas total areal hutan sekitar 215 juta ha atau sekitar 30% dari
luas total lahan (tidak termasuk bekas negara-negara yang tergabung dalam Uni
Sovyet Socialist Republic/USSR), areal hutannya terkonsentrasi di negara-negara
Eropa Utara (Nordic countries), daerah Balkan (Baltic countries) dan di beberapa
bagian di Eropa Tengah. Swedia dan Finlandia, yang termasuk ke dalam Nordic
countries, memiliki lebih dari 50 juta ha areal hutan (Hyttinen 2001). Di negaranegara Eropa Utara (Finlandia, Swedia dan Norwegia) telah lama dikenal istilah
”Family Forestry”. Individu masyarakat mengelola hutan disamping aktivitas
ekonomi lainnya seperti usaha tani dan kegiatan non usaha tani. Di negara-negara
ini hutan yang dimiliki individu masyarakat mencakup sekitar 60%-70% dari luas
hutan total. Di Finlandia sendiri terdapat lebih dari 600,000 pemilik hutan yang
menguasai 62% dari total luas hutan (Harrison et al. 2002). Luas kepemilikan
lahan hutan adalah antara 25 – 40 ha per keluarga (Harrison et al. 2002), namun

10

cukup banyak individu keluarga (36% di Swedia dan 14% di Finlandia) yang
mengelola hutan dengan luas lebih dari 50 ha (Hyttinen 2001).
Inggris dan Belanda termasuk negara-negara yang hanya sedikit memiliki
sumber daya hutan. Di Inggris, luas total areal hutan hanya sekitar 2.5 juta ha
(Harrison et al. 2002), sementara di Belanda luas kepemilikan hutan hanya sekitar
0.2 ha per keluarga (Hyttinen 2001). Sekalipun luas hutannya tergolong kecil,
istilah “farm woodlands”, “farm forest” dan “privately owned forests” sudah lama
digunakan di Inggris. Di negara ini, sekitar 2/3 dari areal hutannya dimiliki oleh
individu atau perusahaan (Harrison et al. 2002). Di Perancis dan Belgia, lebih dari
90% kepemilikan mempunya luas kurang dari 5 ha. Di negara-negara yang
berbahasa Jerman (Jerman, Austria dan Swiss) luas kepemilikan hutan bervariasi,
dimana sebagian besar (36%) kurang dari 5 ha, namun sekitar 29% pemilik
mengelola lebih dari 1,000 ha (Hyttinen 2001).
Di Eropa bagian timur, sebagian besar areal hutan dimiliki publik, walaupun
proses privatisasi kini sedang terjadi, khususnya di negara-negara bekas
pemerintahan sosialis atau USSR. Pada sebagian besar negara, kepemilikan hutan
dipegang oleh sejumlah besar individu dengan unit pengelolaan yang relatif kecil.
Saat ini luas hutan milik di beberapa negara Eropa Timur masih sangat bervariasi,
sebagai contoh di Rumania dan Republik Czechnya, areal hutan yang dimiliki
secara pribadi masing-masing adalah 6% dan hampir 60%. Secara umum,
kepemilikan lahan hutan secara individu berkisar antara 2-3 ha per keluarga.
Dengan proses privatisasi yang sekarang sedang terjadi, diperkirakan sekitar 3540% dari seluruh areal hutan akan dimiliki secara pribadi (Harrison et al. 2002).
Pada umumnya di negara-negara Eropa, para pemilik hutan telah
terorganisasi dengan baik dalam bentuk berbagai asosiasi yang mengedepankan
praktek-praktek pengelolaan hutan secara lestari. Organisasi-organisasi tersebut
berperan sebagai sarana penghubung di antara pemilik hutan dan menjadi
perwakilan mereka di dalam proses penentuan kebijakan, termasuk memberikan
pelayanan dalam pemasaran hasil kayunya dan praktek-praktek silvikultur dalam
pengelolaan hutan. Pada tingkat wilayah Eropa, salah satu asosiasi yang menjadi
payung berbagai organisasi pada tingkat nasional tesebut dikenal sebagai The
Confederation of European Forest Owners (CEPF) (Hyttinen 2001).

11

Di Jepang, hutan rakyat sudah mempunyai sejarah panjang sejak lebih dari
tiga abad yang lalu. Dengan luas total areal hutan sebesar 2.51 juta ha atau sekitar
66.5% dari luas total wilayah daratan, seluas 14.6 juta ha merupakan hutan milik
yang dikelola oleh individu keluarga, perusahaan atau kelompok masyarakat.
Terdapat sekitar 2.5 juta individu keluarga pemilik hutan yang sebagian besar
(60%) mengelola hutan dengan luasan kurang dari 1 ha. Selebihnya mengelola
areal hutan dengan luasan antara 1 – 5 ha per keluarga. Perusahaan dan kelompok
masyarakat mengelola areal hutan dengan luasan yang juga relatif kecil, yaitu
masing-masing sekitar 34.6 dan 19.3 ha. Hutan tanaman rakyat di Jepang
didominasi oleh dua jenis kayu, yaitu Sugi (Cryptomeria japonica) dan Hinoki
(Chamaecyparis obtusa) (Ota 2001).
Jepang merupakan negara pengimpor kayu yang sangat besar dimana
selama kurun waktu tahun 1990an jumlah kayu yang diimpor sekitar 3 sampai 4
kali produksi kayu domestik. Usaha tanaman kayu rakyat kurang dapat bersaing
dengan harga kayu impor yang relatif lebih murah, sehingga banyak areal hutan
tanaman yang diterlantarkan karena alasan ketidak-layakan ekonomi. Keberadaan
hutan milik di Jepang dapat bertahan karena subsidi pemerintah, antara lain
melalui

Dokumen yang terkait

Analysis of farmer’s perceptions and strategies in smallholder timber plantation business (case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District, Province of South Kalimantan)