Partisipasi dan Persepsi Masyarakat dalam Pengembangan Hutan Tanaman Pola Kemitraan PT Nityasa Idola, Provinsi Kalimantan Barat

(1)

ABSTRAK

CINDERA SYAIFUL NUGRAHA. E14062855. Partisipasi dan persepsi masyarakat dalam pengembangan hutan tanaman pola kemitraan PT Nityasa Idola, Provinsi Kalimantan Barat. Dibimbing oleh DIDIK SUHARJITO

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan partisipasi dan persepsi masyarakat terhadap hutan tanaman pola kemitraan, serta mengetahui hubungan partisipasi masyarakat terhadap persepsi masyarakat dalam kegiatan hutan tanaman pola kemitraan.

Daerah penelitian berada di areal konsesi HTI PT. Nityasa Idola Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Responden dalam penelitian ini sebanyak 31 responden. Responden diwawancarai dengan menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis kuantitatif dan kualitatif kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif.

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengembangan hutan tanaman pola kemitraan yang dilaksanakan PT. Nityasa Idola termasuk pada kategori sedang, sedangkan persepsi masyarakat termasuk pada kategori tinggi. Hubungan antara persepsi dan partisipasi tidak nyata. Hal ini disebabkan karena adanya variabel lain yang mempengaruhinya, yaitu luas lahan yang dimitrakan, umur, dan mata pencaharian.

Kata kunci: pola kemitraan, pengusahaan Hutan Tanaman Industri, persepsi, partisipasi.


(2)

ABSTRACT

CINDERA SYAIFUL NUGRAHA. E14062855. Participation and community’s perception on partnership of Forest Plantation development in PT Nityasa Idola, West Kalimantan. Supervised by DIDIK SUHARJITO.

This study aims to determine and describe the participation and community perception to partnership of forest plantation, as well as determine the relation between community’s participation and community’s perception on partnership of forest plantation.

The research was conducted in concession area of HTI PT. Nityasa Idola Landak District, West Kalimantan Province. The respondents who were involved in this research as many as 31 respondents. They were interviewed by questionnare, and the result was analyzed by quantitative and qualitative analysis and presented in descriptive form.

The results of this study showed that the community's participation in the

partnership scheme of forest plantation development could be categorized as moderate level, while their perception could be categorized as high level. The relations between perception and participation was not real. It caused there are several variables that

affect it include the land area partners, the age, and the livelihood.

Key words: partnership, Industrial Forest Plantation partnership, perception, participation


(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Hutan Tanaman Industri (HTI) merupakan badan usaha swasta yang bergerak dalam bidang kehutanan yang berorientasi pada profit. Secara normatif dengan adanya perusahaan di suatu daerah, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Pembangunan dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan merupakan bagian terpenting dalam peningkatan kesejahteraan tersebut.

Dalam pembangunan ekonomi, pola kemitraan merupakan suatu jalan untuk melaksanakan sistem perekonomian gotong royong yang dibentuk antara perusahaan sebagai mitra yang kuat dari segi permodalan, pasar dan kemampuan teknologinya bersama masyarakat yang berasal dari golongan lemah dan tidak berpengalaman. Tujuan kemitraan adalah untuk meningkatkan produktivitas dan usaha atas kepentingan bersama. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi dengan pola kemitraan dianggap sebagai usaha yang menguntungkan, terutama ditinjau dari pencapaian tujuan pembangunan nasional jangka panjang (Darmono 2004).

Program kemitraan ini sudah banyak diterapkan oleh perusahaan, salah satunya adalah oleh PT Finnantara Intiga di Provinsi Kalimantan Barat. Pola kemitraan yang dikembangkannya adalah model HTI terpadu. HTI terpadu dimaksud dan dirancang untuk membangun hutan tanaman dengan kesepakatan kerjasama antara perusahaan dan masyarakat selama jangka waktu 45 tahun. Dalam pola kerjasama ini, masyarakat sebagai pemilik atau penguasa lahan mendapatkan kompensasi yang diberikan oleh perusahaan antara lain:

1. Insentif penggunaan lahan,

2. Insentif infrastruktur pembangunan pedesaan,

3. Insentif tanaman kehidupan (umumnya berupa kebun karet unggul) yang luasnya 7,5% luas lahan yang diserahkan untuk dibangun HTI,


(4)

4. Insentif berupa pembuantan tanaman jenis lokal (local species) seluas 10% dari luas tanaman HTI,

5. Royalti keuntungan dari panen HTI pada setiap akhir daur, yang besarnya disepakati 10% dari keuntungan bersih,

6. Kesempatan bekerja dari mulai pembangunan tanaman, pemeliharaan, dan pemanenan.

Sampai akhir tahun 2004, telah diwujudkan kesepakatan kerjasama penggunaan lahan untuk pembangunan HTI di 130 kampung dari sekitar 160 kampung yang berada di dalam dan di sekitar areal konsesi HPHTI PT Finnantara Intiga. Sedangkan tanaman yang telah dibangun HTInya, baru tercapai di 90 Dusun yang berada di 42 Desa didalam 12 wilayah Kecamatan dengan realisasi tanaman seluas 38.000 Ha dan sekitar 3.000 Ha diantaranya telah dipanen.

Contoh lainnya adalah PT. Riau Andalan Pulp and Paper (Riau Pulp) di Provinsi Riau, sejak tahun 1996 telah mengembangkan kebun Akasia melalui Program Hutan Tanaman Rakyat di luar areal konsesi seluas lebih dari 23.000 ha yang dikelola oleh sekitar 4.600 KK. Pasokan bahan baku kayu pulp dari hutan tanaman rakyat pola kemitraan binaan PT. RAPP diharapkan sebesar ± 400.000 m3 pertahun setelah tahun 2009.

Begitu juga dengan PT. Wirakarya Sakti di Propinsi Jambi, sejak tahun 1997 telah berhasil mengembangkan pembangunan hutan tanaman di luar areal konsesi melalui program kemitraan (Hutan Rakyat Pola Kemitraan) seluas 12.065 Ha. Jumlah kelompok masyarakat yang terlibat mencapai 78 kelompok, dengan jumlah anggota 7.554 anggota. Sejak tahun 2004 dibeberapa lokasi hutan tanaman rakyat pola kemitraan telah memasuki usia panen daur pertama dan sampai Juni 2005 telah dipenen seluas 2.870 Ha. Dari luasan tersebut diperoleh produksi BBS sebanyak 395.697 ton dan manfaat ekonomi yang sudah terdistrubusi kepada masyarakat sebesar Rp. 8,5 Milyar.

Kemitraan yang dibangun berlandaskan pada saling membutuhkan, saling menguntungkan dan saling memperkuat dengan fungsi tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan dan proporsi yang dimiliki oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam kemitraan tersebut (Hafsah 2000).


(5)

Salah satu Perusahaan HTI yang melaksanakan program kemitraan dalam pengembangan perusahaannya adalah PT Nityasa Idola yang telah mendapatkan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu - Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) di Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat. Program kemitraan ini di tempuh dengan tujuan agar mempermudah melakukan penanaman di areal konsesi HTI, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

Ada persepsi dan partisipasi yang diberikan masyarakat kepada perusahaan sebagai mitra kerja. Partisipasi masyarakat ini hendaknya dilandasi dengan azas manfaat, sehingga masyarakat memberikan persepsi positif dalam kegiatan tersebut. Persepsi positif ini menjadi indikator bagi PT. Nityasa Idola bahwa kegiatan hutan tanaman yang dijalankan mendapat dukungan dari masyarakat yang berupa partisipasi atau peran serta dari masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan kedepannya. Partisipasi tersebut diharapkan dapat menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman, karena dalam hutan tanaman pola kemitraan keberhasilan tidak akan dicapai tanpa adanya partisipasi masyarakat. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti bagaimana partisipasi masyarakat dan persepsi masyarakat sebagai mitra dalam HTI pola kemitraan.

1.2Perumusan masalah

Penelitian ini akan mendeskripsikan partisipasi dan persepsi masyarakat dalam pengembangan Hutan Tanaman Industri Pola Kemitraan PT. Nityasa Idola, dan menjelaskan pengaruh partisipasi masyarakat pada persepsinya dalam kegiatan hutan tanaman pola kemitraan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

1.3Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan persepsi masyarakat dalam hutan tanaman pola kemitraan. 2. Mendeskripsikan partisipasi masyarakat dalam hutan tanaman pola

kemitraan.

3. Menjelaskan hubungan partisipasi masyarakat dalam hutan tanaman pola kemitraan terhadap persepsi masyarakat dalam kegiatan hutan tanaman pola kemitraan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.


(6)

1.4Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi PT. Nityasa Idola, penelitian ini menjadi bahan masukan dalam pengambilan kebijakan, pelaksana dan pengelola hutan tanaman dengan pola kemitraan dalam peningkatan keberhasilan dan pengembangan kegiatan hutan tanaman selanjutnya.

2. Bagi instansi pendidikan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan dokumentasi ilmiah yang bermanfaat untuk kepentingan akademik maupun untuk penelitian serupa.

3. Memberikan informasi berupa pengalaman dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca.


(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pola Kemitraan

Dalam UU tentang Usaha Kecil Nomor 9 Tahun 1995, konsep kemitraan dirumuskan dalam pasal 26 sebagai berikut:

1. Usaha menengah dan besar melaksanakan hubungan kemitraan dengan usaha kecil, baik yang memiliki maupun yang tidak memiliki keterkaitan usaha.

2. Pelaksanaan hubungan kemitraan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 diupayakan ke arah terwujudnya keterkaitan usaha.

3. Kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan dan pengembangan dalam salah satu atau lebih bidang produksi dan pengelolaan, pemasaran, permodalan, sumber daya manusia, dan teknologi.

4. Dalam melaksanakan hubungan ke dua belah pihak mempunyai kedudukan hukum yang setara (Sinulingga 2009).

Menurut Hafsah (1999), kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Keberhasilan kemitraan ini sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan diantara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis.

Komitmen perusahaan terhadap masyarakat merupakan bagian yang sangat penting dari kegiatan perusahaan. Membangun masyarakat yang sehat dan kinerja yang tinggi merupakan tujuan setiap perusahaan, sehingga perusahaan akan terus berupaya mencapai pengakuan, termasuk dalam kepedulian masyarakat. Indonesia adalah salah satu negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya, termasuk sumber daya alam yang berdampingan bahkan milik dari masyarakatnya langsung.

Dengan demikian, banyak perusahaan beroperasi pada lahan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan hajat hidup orang banyak. Dalam keadaan seperti ini, perusahaan akan dengan mudah memberikan kemampuan tanggung jawab sosial kepada masyarakat, namun disisi lain, perusahaan juga bisa


(8)

mengalami dilema dalam melakukan kegiatan sosial ini akibat banyaknya permintaan dan motivasi tertentu dari masyarakat itu sendiri (Sinulingga 2009).

Dalam Hakim (2004) Konsep kemitraan tersebut lebih rinci diuraikan dalam pasal 27 Peraturan Pemerintah RI Nomor 44 Tahun 1997 tentang kemitraan, disebutkan bahwa kemitraan dapat dilaksanakan antara lain dengan pola:

1. Inti-plasma adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar sebagai inti membina dan mengembangkan usaha kecil yang menjadi plasma dalam penyediaan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian bimbingan teknis manajemen usaha, produksi, perolehan, penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan produktifitas usaha. Program inti-plasma ini, diperlukan keseriusan dan kesiapan, baik pihak usaha kecil sebagai pihak yang mendapat bantuan untuk dapat mengembangkan usahanya, maupun pihak usaha besar yang mempunyai tanggung jawab sosial untuk mengembangkan usaha kecil sebagai mitra usaha dalam jangka panjang. 2. Subkontraktor adalah suatu sistem yang mengambarkan hubungan antara

usaha besar dengan usaha kecil/menengah, dimana usaha besar sebagai perusahaan induk (parent firm) meminta kepada usaha kecil/menengah (selaku subkontraktor) untuk mengerjakan seluruh atau sebagian pekerjaan (komponen) dengan tanggung jawab penuh pada perusahaan induk.

3. Dagang umum adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang berlangsung dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan dari usaha kecil mitra usahanya untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh usaha besar dan atau usaha menengah yang bersangkutan.

4. Waralaba (franchise) adalah suatu sistem yang menggambarkan hubungan antara Usaha Besar (franchisor) dengan Usaha Kecil (franchisee), dimana franchisee diberikan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha, dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak franchisor dalam rangka penyediaan atau penjualan barang dan atau jasa.


(9)

5. Keagenan merupakan hubungan kemitraan, dimana pihak prinsipal memproduksi/memiliki sesuatu, sedangkan pihak lain (agen) bertindak sebagai pihak yang menjalankan bisnis tersebut dan menghubungkan produk yang bersangkutan langsung dengan pihak ketiga.

6. Bentuk-bentuk lain di luar pola sebagaimana yang tertulis di atas, yang saat ini sudah berkembang tetapi belum dibakukan atau polapola baru yang timbul dimasa yang akan datang.

Dalam pembangunan hutan tanaman, untuk menunjang keberhasilannya ditawarkan berbagai alternatif model, diantaranya adalah pembangunan hutan tanaman dengan pola kemitraan, yaitu dengan cara membentuk kemitraan antara petani pemilik lahan dan pihak perusahaan sebagai perusahaan mitra. Tujuannya antara lain adalah memberdayakan masyarakat sekitar hutan, meningkatkan kemampuan perekonomian masyarakat melalui kemandirian dalam mengelola usaha serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Hutan tanaman pola kemitraan dibangun oleh perusahaan di lahan milik masyarakat dan dikelola berdasarkan prinsip-prinsip kemitraan yang berazaskan kelestarian, sosial, ekonomi dan ekologi. Dasar pertimbangan kerjasama ini adalah adanya saling membutuhkan dan saling menguntungkan antara kedua belah pihak (Triyono 2004). Perusahaan memerlukan bahan baku kayu untuk keperluan komersil secara berkesinambungan sedangkan tanaman memerlukan pemeliharaan, pemupukan dan kepastian pemasaran. Selain itu, munculnya pemikiran untuk mengembangkan pola kemitraan dalam pembangunan hutan tanaman juga didasari keinginan untuk meningkatkan peran serta pihak -pihak yang terkait langsung dengan pembangunan hutan tanaman yaitu petani, pengusaha atau industri pengolahan kayu dan pemerintah (Dinas Kehutanan Jawa Tengah 2004).

Melalui pembangunan hutan tanaman dengan pola kemitraan ini diharapkan pihak-pihak yang terkait langsung dalam pembangunan hutan tanaman dapat memperoleh manfaat yang diperoleh sekaligus (Dinas Kehutanan Jawa Tengah 2004), sebagai berikut:

1. Petani: a. Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani


(10)

c. Memperoleh bimbingan teknologi dari mitra usaha 2. Mitra Usaha: a. Menghasilkan kayu

b. Mempunyai cadangan bahan baku kayu

3. Pemerintah: a. Salah satu program pemerintah dalam membangun hutan lestari dapat terealisasi

Pada dasarnya kemitraan itu merupakan suatu kegiatan saling menguntungkan dengan pelbagai macam bentuk kerjasama dalam menghadapi dan memperkuat satu sama lainnya.

2.2 Partisipasi

Partisipasi sering disinonimkan dengan peran serta atau keikutsertaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, partisipasi adalah hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan. Menurut Davis dalam Sastropoetro (1988) mendefinisikan partisipasi sebagai keterlibatan mental dan emosional seseorang dalam situasi kelompok yang mendorong untuk bersedia memberikan sumbangan bagi tercapainya tujuan atau cita-cita kelompok dan turut bertanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukan bagi kelompoknya. Dalam pengertian partisipasi tersebut terdapat 3 gagasan pokok yang penting dan harus ada, sebagai berikut : 1. Bahwa partisipasi itu sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan

emosional, lebih dari semata-mata atau hanya keterlibatan jasmaniah atau fisik.

2. Kesediaan memberikan sumbangan kepada usaha untuk mencapai tujuan kelompok, ini berarti bahwa terdapat rasa senang dan sukarela untuk membantu kegiatan kelompok.

3. Tanggung jawab yang merupakan segi yang menonjol dari anggota karena semua orang yang terlibat dalam suatu organisasi mengharapkan agar kelompok itu tujuannya tercapai dengan baik.

Dengan demikian maka partisipasi tidak hanya melibatkan unsur fisik saja tetapi lebih dari itu adalah keterlibatan psikis. Untuk dapat berpartisipasi diperlukan keterlibatan total, karena partisipasi yang diperlukan tidak hanya berorientasi vertikal atau hanya mau melakukan sesuatu kalau ada perintah dari atasan, tetapi partisipasi yang bersifat aktif. Partisipasi aktif memerlukan


(11)

kesadaran mental masyarakat tentang sesuatu hal yang memerlukan keterlibatannya.

Soekanto (1982) mendefinisikan partisipasi sebagai suatu proses identifikasi diri seseorang untuk menjadi peserta dalam suatu proses kegiatan bersama dalam suatu situasi sosial tertentu. Sedangkan menurut Cohen dan Uphoff (1977) dalam

Yuwono (2006), partisipasi adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara kerjanya; keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program dan keputusan yang telah ditetapkan melalui sumbangan sumberdaya atau bekerja sama dalam suatu organisasi; keterlibatan masyarakat menikmati manfaat dari pembangunan serta dalam evaluasi pelaksanaan program.

Raharjo (1983) dalam Yuwono (2006) memberikan pendapatnya bahwa berpartisipasi adalah keikutsertaan suatu kelompok masyarakat dalam program-program pemerintah. Program pemerintah merupakan program-program yang ditujukan kepada masyarakat desa. Dalam kaitan ini maka masyarakat tidak hanya menerima saja tetapi dapat membantu proses pelaksanaannya. Dalam berpartisipasi mengandung makna untuk memberi kesempatan berperan serta memanfaatkan sumberdaya manusia dalam usaha peningkatan pembangunan sejalan dengan keikutsertaan seluruh anggota masyarakat sebagai partisipan aktif, Sihombing (1980) mengemukakan bahwa dalam konteks pembangunan, partisipasi bukan semata-mata “kebaikan hati” para elit pengambil keputusan, akan tetapi partisipasi adalah hak dasar yang sah dari umat manusia untuk turut serta merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan pembangunan yang menjanjikan harapannya.

Partisipasi erat hubungannya dengan kegiatan pembangunan, namun tidak berarti bahwa partisipasi hanya sebatas keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan. Hal ini sejalan dengan pendapat Swasono (1995) bahwa partisipasi tidaklah hanya tahap pelaksanaan pembangunan saja, tetapi meliputi seluruh spektrum pembangunan tersebut yang dimulai dari tahap menggagas rencana kegiatan hingga memberikan umpan balik terhadap gagasan rencana yang telah dilaksanakan.


(12)

Slamet (1990) dalam Winarto (2003) mengatakan bahwa partisipasi masyarakat sangatlah mutlak demi berhasilnya suatu program pembangunan. Dapat dikatakan bahwa tanpa adanya partisipasi masyarakat maka setiap pembangunan akan kurang berhasil. Lebih lanjut dijelaskan bahwa masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan akan melalui suatu proses belajar. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengalami proses belajar untuk mengetahui kesempatan-kesempatan berpartisipasi dalam proses pembangunan, dan seringkali kemampuan dan ketrampilan mereka masih perlu ditingkatkan agar dapat memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut. Menurut Laode (1981)

dalam Winarto (2003) menyatakan bahwa kesempatan, kemampuan dan kemauan

mutlak harus ada dalam keseimbangan. Apabila salah satu faktor tersebut tidak tercakup maka partisipasi tidak akan sempurna.

Beberapa faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat menurut Pangestu (1995) adalah sebagai berikut:

1. Faktor internal, yaitu mencakup karakteristik individu yang dapat mempengaruhi individu tersebut untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Karakteristik individu mencakup umur, tingkat pendidikan, jumlah beban keluarga, jumlah pendapatan, dan pengalaman berkelompok.

2. Faktor eksternal, meliputi hubungan yang terjalin antara pihak mengelola proyek dengan sasaran dapat mempengaruhi partisipasi karena sasaran akan dengan sukarela terlibat dalam suatu proyek jika sambutan pihak pengelola positif dan mengutungkan mereka. Selain itu bila didukung dengan pelayanan pengelola kegiatan yang positif dan tepat dibutuhkan oleh sasaran, maka sasaran itu akan ragu-ragu untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut.

Menurut Silaen (1988) dalam Ramadyanti (2009), semakin tua umur seseorang maka penerimaannya terhadap hal-hal baru semakin rendah. Hal ini, karena orang yang masuk dalam golongan tua cenderung selalu bertahan dengan nilai-nilai lama sehingga diperkirakan sulit menerima hal-hal yang bersifat baru. Faktor jumlah beban keluarga, menurut Ajiwarman (1996) dalam Ramadyanti (2009), menunjukkan bahwa semakin besar jumlah beban keluarga menyebabkan waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan akan berkurang karena sebagian besar waktunya digunakan untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga.


(13)

2.3 Persepsi

Persepsi adalah suatu pandangan, pengertian dan interpretasi seseorang mengenai sesuatu yang diinformasikan kepadanya (Dyah 1983). Vredentbergt (1974) dalam Sattar (1985) mengemukakan bahwa persepsi berhubungan dengan keadaan jiwa seseorang, dimana persepsi adalah cara seseorang mengalami obyek dan gejala-gejala melalui proses yang selektif. Selanjutnya dikatakan dengan melalui proses yang selektif terhadap rangsangan dari suatu obyek atau gejala tertentu, seseorang akan mempunyai suatu tanggapan terhadap obyek atau gejala yang dialaminya. Sebagai proses, persepsi merupakan proses membangun kesan dan membuat penilaian. Berkaitan dengan itu, menurut Biran dalam Sudrajat (2003) persepsi merupakan proses psikologi yang berlangsung pada diri kita sewaktu mengamati berbagai hal yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Sudrajat (2003) persepsi merupakan produk atau hasil proses psikologi yang dialami seseorang setelah menerima stimuli, yang mendorong tumbuhnya motivasi untuk memberikan respon atau melakukan atau tidak melakukan sesuatu kegiatan. Persepsi dapat berupa kesan, penafsiran atau penilaian berdasarkan pengalaman yang diperoleh.

Menurut Muchtar (1998) persepsi adalah proses penginderaan dan penafsiran rangsangan suatu obyek atau peristiwa yang diinformasikan, sehingga seseorang dapat memandang, mengartikan dan menginterpretasikan rangsangan yang diterimanya sesuai dengan keadaan dirinya dan lingkungan dimana ia berada, sehingga ia dapat menentukan tindakannya. Persepsi setiap manusia akan berbeda-beda satu dengan lainnya. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh dari berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal merupaka faktor yang muncul dari diri pribadi yang dapat mempengaruhi pola pikirnya terhadap suatu objek atau permasalahan tertentu. Contohnya adalah karakteristik sosial yang diantaranya adalah tingkat kecerdasan dan pengetahuan (pendidikan), kebutuhan, usia dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal biasanya muncul dari luar individu yang mampu mempengaruhi pandangan seseorang yang berkaitan dengan objek atau permasalahan tertentu atau pengalaman orang lain yang dilihatnya atau yang diketahuinya berkenaan dengan hal tersebut dan struktur


(14)

sosial yang mengatur kehidupan sosial seperti jumlah keluarga, luas lahan, dan sebagainya.

Proses pembentukan suatu persepsi menurut Asngari (1984) dalam

Puspasari (2010) diawali dari perolehan informasi kemudian orang tersebut membentuk persepsi dari pemilihan atau penyaringan, kemudian informasi tersebut disusun menjadi satu kesatuan yang bermakna dan akhirnya diinterpretasikan mengenai fakta dari keseluruhan informasi. Pada fase interpretasi ini, pengalaman masa silam memegang peranan penting guna meningkatkan pengertian dan pemahaman terhadap obyek yang diamati. Informasi yang sampai pada seseorang akan memahami dan menyadari stimulus tersebut, selanjutnya orang tersebut melakukan tindakan. Menurut Mayers (1988)

dalam Puspasari (2010), persepsi dua orang mengenai satu objek yang sama dapat berbeda. Hal ini dapat terjadi karena setiap orang berbeda kebutuhan, motif, minat dan lainnya. Terbentuknya persepsi cenderung menurut kebutuhan, minat, dan latar belakang masing-masing.

Senada dengan pernyataan Susiatik (1998) bahwa Tingkat peran serta masyarakat berkaitan dengan tingkat persepsi. Masyarakat akan semakin antusias untuk berpartisipasi secara aktif manakala dilandasi oleh adanya tingkat persepsi yang positif dari masyarakat. oleh karena itu hubungan persepsi erat kaitannya dengan partisipasi.


(15)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1Kerangka Pemikiran

Hutan tanaman pola kemitraan merupakan kolaborasi antara PT. Nityasa Idola dengan masyarakat lokal. Masyarakat desa sudah lama mengklaim bahwa areal konsesi tersebut adalah tanah yang diwariskan nenek moyangnya dahulu, yang diperuntukkan sebagai tempat berladangnya masyarakat dayak. Masyarakat mengklaim berhektar-hektar areal konsesi tersebut. Sehingga PT. Nityasa Idola menggunakan kemitraan sebagai jembatan antara perusahaan dan masyarakat. Lahan yang dimitrakan adalah lahan yang tidak dipakai berladang masyarakat dan atau bekas digunakan perladangan.

Kegiatan perusahaan yang sudah dilaksanakan diharapkan mendapat partisipasi dari masyarakat. Partisipasi biasanya dilandasi dengan kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Goldsmith dan Blustain (1988) dalam Winarto (2003), bahwa masyarakat tergerak untuk berpartisipasi jika (1) partisipasi dilakukan melalui organisasi yang sudah dikenal atau yang sudah ada di tengah-tengah masyarakat yang bersangkutan. (2) Partisipasi itu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat yang bersangkutan, (3) manfaat yang diperoleh melalui partisipasi itu dapat memenuhi kepentingan masyarakat setempat, dan (4) dalam proses partisipasi itu dijamin adanya kontrol yang dilakukan oleh masyarakat.

Partisipasi masyarakat dalam kegiatan perusahaan yang sudah dilakukan menimbulkan persepsi dari masyarakat. Persepsi positip diharapkan dapat menjadi gambaran bahwa masyarakat dapat memberikan partisipasi positif dimasa yang akan datang, dan menjadi gambaran bahwa kegiatan ini mendapat penerimaan dan dukungan dari masyarakat. Adanya persepsi negatif dikhawatirkan akan menjadi hambatan bagi pelaksanaan kegiatan ini. Oleh karena itu partisipasi masyarakat diharapkan dapat menunjang keberhasilan hutan tanaman pola kemitraan yang akan datang.


(16)

Persepsi dan partisipasi merupakan 2 hal yang berbeda namun saling berkaitan. Hal ini senada dengan pernyataan Susiatik (1998) bahwa Tingkat peran serta masyarakat berkaitan dengan tingkat persepsi. Masyarakat akan semakin antusias untuk berpartisipasi secara aktif manakala dilandasi oleh adanya tingkat persepsi yang positif dari masyarakat. Oleh karena itu hubungan persepsi erat kaitannya dengan partisipasi. Meskipun demikian ada kemungkinan antara persepsi dan partisipasi tidak berkaitan. Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui hubungan antara partisipasi dan persepsi masyarakat dalam pengembangan hutan tanaman industri pola kemitraan.

6.2Waktu dan Lokasi Penelitian

Pengambilan data penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan (Juli - September) pada tahun 2010, dengan lokasi di areal kerja PT. Nityasa Idola Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat.

6.3Metode Pengambilan Data 3.3.1 Metode Pemilihan Responden

Pengambilan responden dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling (sengaja) dari populasi di tiga dusun yang berada di wilayah areal konsesi perusahaan. Jumlah responden sebanyak 31 KK, dengan kriteria KK yang memitrakan lahannya kepada perusahaan.

3.3.2 Jenis Data dan Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data yang diperoleh secara langsung dari responden sedangkan data sekunder merupakan data yang berkaitan dengan penelitian namun diperoleh secara tidak langsung dari responden namun informasi yang diperoleh dari dokumen, arsip dan laporan. Data-data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah karakteristik responden, data persepsi dan partisipasi. Data-data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi RKU perusahaan, dan data-data lain yang berhubungan dengan penelitian ini.


(17)

Teknik-teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data primer dan sekunder yaitu:

1. Teknik wawancara (tanya jawab) secara terstruktur dengan menggunakan kuesioner dan wawancara secara tidak terstruktur dengan bertanya secara langsung tanpa menggunakan kuesioner kepada responden.

2. Studi pustaka yaitu dengan cara mencatat dan mempelajari laporan, dokumen, literatur, karya ilmiah, hasil penelitian dan arsip-arsip yang berhubungan dengan penelitian ini.

3. Pengamatan berperan serta yaitu dengan mengamati kondisi dan kegiatan responden di lapangan.

6.4Pengolahan Data dan Analisis Data

Pengolahan data dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan menjadi beberapa tahapan yaitu :

1. Persepsi terhadap kegiatan pengembangan hutan tanaman pola kemitraan oleh PT. NI diukur berdasarkan jumlah skor dari 16 pertanyaan dari kuesioner dengan menggunakan skala likert. Masing-masing pertanyaan memiliki skor seperti pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1 Skor pertanyaan pada persepsi

No. Kategori Skor

1 Setuju (S) 3

2 Kurang Setuju (KS) 2 5 Tidak Setuju (TS) 1 Tabel 2 Kategori tingkat persepsi

No. Kategori Skor

1 Baik ≥ 38

2 Sedang 27-37

5 Buruk ≤ 26

2. Partisipasi masyarakat (responden) diukur berdasarkan jumlah skor dari 16 pertanyaan dengan menggunakan skala likert. Kegiatan partisipasi ditinjau dari aspek:

a. Partisipasi dalam aktivitas pembukaan lahan dan kelompok tani hutan tanaman (5 pertanyaan)

b. Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi, kegiatan pembibitan, penanaman, pemeliharan dan pelatihan hutan tanaman (5 pertanyaan)


(18)

c. Partisipasi dalam pengamanan, evaluasi kegiatan dan pemanfaatan hasil (6 pertanyaan)

Tingkat partisipasi masyarakat diketahui dengan menjumlahkan ketiga aspek tersebut yang kemudian di skoring untuk menentukan kategori tingkat partisipasi.

Berikut ini adalah skor prtanyaan dan kategori tingkat partisipasi yang ditampilkan dalam Tabel 3 dan Tabel 4.

Tabel 3 Skor pertanyaan pada partisipasi

No. Kategori Skor

1 Setuju (S) 3

2 Kurang Setuju (KS) 2 5 Tidak Setuju (TS) 1 Tabel 4 Kategori tingkat partisipasi

No. Kategori Skor

1 Tinggi ≥ 38

2 Sedang 27-37

5 Rendah ≤ 26

3.4.1 Pengolahan data dan analisis hubungan partipasi dan persepsi

Metode pengolahan dan analisis yang digunakan adalah pendekatan metode analisis deskriptif kuantitatif. Menurut Neuman (1994) dalam Amanah (2005), tujuan penelitian deskriptif (descriptive research) adalah menjelaskan subyek penelitian seperti profil kelompok, proses, mekanisme atau hubungan, memberikan gambaran verbal dan numerik, menelusuri informasi untuk menjelaskan temuan, atau berbagai hal yang bertentangan dengan kepercayaan.

Penyajian secara deskriptif digunakan untuk menjelaskan tanggapan yang diberikan berdasarkan nilai persentase jumlah responden. Nilai persentase tersebut diperoleh dengan cara membagi jumlah responden berdasarkan tanggapannya dengan jumlah keseluruhan responden. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh partisipasi terhadap persepsi maka dilakukan peninjauan dan pengelompokan responden berdasarkan partisipasi rendah, sedang, dan tinggi, kemudian dilihat persepsi masing-masing responden apakah rendah, sedang, atau tinggi.

Tingkat partisipasi dan persepsi masyarakat terhadap hutan tanaman pola kemitraan dikelompokkan menjadi tiga kategori yakni kategori Tinggi (T), Sedang (S), Rendah (R). Data kuantitatif yang diperoleh melalui pengolahan data


(19)

yang diperoleh dari lapangan yang hasilnya dituangkan dalam bentuk teks narasi, tabel, dan gambar.

Pengolahan data meliputi pengeditan, pengkodean, penilaian, memasukkan data, pengujian data, serta menganalisis data. Data yang didapatkan dilakukan pengeditan untuk mengecek kelengkapan pengisian kuesioner, setelah itu dilakukan pemberian kode di buku kode untuk mempermudah pengolahan data, sistem penilaian dibuat konsisten yaitu semakin tinggi skor semakin tinggi kategorinya. Setelah dijumlahkan dan selanjutnya akan dikategorikan dengan menggunakan teknik penilaian secara normatif yang dikategorikan berdasarkan interval kelas:

N =

Max−Min � (sumber: Singarimbun 1995)

Keterangan : N = batas selang

Max = nilai maksimum yang diperoleh dari jumlah skor Min = nilai minimum yang diperoleh dari skor

∑k = jumlah kategori

Data kuantitatif hasil penyebaran kuesioner di lapangan terlebih dahulu dilakukan pengeditan, selanjutnya dilakukan pemindahan dari daftar pertanyaan ke lembar tabulasi yang sudah disiapkan.

6.5Definisi Operasional

1.Persepsi, adalah Penilaian dan pandangan masyarakat petani terhadap kegiatan pengembangan hutan tanaman pola kemitraan oleh PT. NI. Untuk menilai tingkat persepsi dilakukan dengan menjumlahkan 16 item pertanyaan yang mempunyai indeks skor jenjang 3 sehingga diperoleh skor terendah (16) dan skor tertinggi (48) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :

a. ≥ 38 (baik ) b. 27 – 37 (sedang) c. ≤ 26 (buruk)


(20)

2. Partisipasi, adalah peran serta atau keikutsertaan masyarakat/petani dalam kegiatan pembangunan hutan tanaman pola kemitraan yang dilaksanakan oleh PT. NI, diukur berdasarkan jumlah skor dari pertanyaan tentang :

(a) Partisipasi dalam aktivitas pembukaan lahan dan kelompok tani hutan tanaman (5 pertanyaan)

(b) Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi, kegiatan pembibitan, penanaman, pemeliharan dan pelatihan hutan tanaman (5 pertanyaan) (c) Partisipasi dalam pengamanan, evaluasi kegiatan dan pemanfaatan hasil (6

pertanyaan)

Nilai tingkat persepsi secara keseluruhan dilakukan dengan menjumlahkan 16 item pertanyaan yang mempunyai indeks skor jenjang 3 sehingga diperoleh skor terendah (16) dan skor tertinggi (48) dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut:

a. ≥ 38 (tinggi ) b. 27 – 37 (sedang) c. ≤ 26 (rendah)

3. Umur, adalah usia responden pada saat penilaian dilakukan. Umur diukur dalam satuan tahun yang dihitung dari hari kelahiran dan dibulatkan ke hari ulang tahun terdekat, dengan kategori sebagai berikut :

a. 15 – 49 tahun (Umur Produktif Tinggi)

b. 50 – 65 tahun (Umur Kurang Produktif Sedang) c. > 65 tahun (Umur Tidak Produktif Rendah)

4. Pendidikan, adalah tingkat pendidikan formal yang pernah diikuti responden, diukur dengan kategori sebagai berikut:

a. > 9 tahun / tamat SLTA ( tinggi)

b. 6 - 9 tahun / tamat SD dan atau tamat SLTP ( sedang) c. < 6 tahun / tidak tamat SD ( rendah)

5. Luas lahan yang dimitrakan, adalah luasan lahan yang dimitrakan dengan perusahaan untuk dikelola oleh perusahaan. Dasar pengukuran pendapatan ini adalah berdasarkan sebaran contoh dari masyarakat, diukur dengan kategori sebagai berikut:


(21)

a. >36,7 Ha (tinggi) b. 18,7 – 36,7 Ha (sedang) c. < 18,7 Ha (rendah)

6. Mata pencaharian, adalah jenis matapencaharian masyarakat yang digolongkan kepada dua jenis matapencaharian, yaitu:

a. Usaha tani

b. Usaha tani + Non Usaha tani

7. Ukuran keluarga adalah ukuran jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tangga petani. Dasar pengukuran ukuran keluarga ini adalah berdasarkan sebaran contoh dari masyarakat, diukur dengan kategori sebagai berikut: a. >7 orang (besar)

b. 5 - 7 orang (sedang) c. 2 - 4 orang (kecil)


(22)

BAB IV

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1.Sejarah Perusahaan

Pemerintah melalui keputusan Menteri Kehutanan No 329/Kpts-II/1998 tanggal 27 Februari 1998 memberikan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri kepada PT Nityasa Idola seluas 113.196 Ha. Sejarah perkembangan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (UPHHK-HTI) PT Nityasa Idola dari sisi perijinan hingga saat ini adalah sebagai berikut :

Berdasarkan Surat Ditjen Pengusahaan Hutan No. 1936/IV-PPH/1994 mulai tahun 1995 PT Nityasa Idola melaksanakan uji tanaman seluas 200 hektar di kecamatan Ledo Kabupaten Dari II Sambas, namun mengalami hambatan dari masyarakat. Pada tahun 1997 PT Nityasa Idola melakukan pengulangan kegiatan uji tanaman areal seluas 200 hektar yang terletak di kampung Malosa dan Sukamulya, kecamatan Bengkayang yang sudah mencapai tahap penanaman.

Penanaman berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT), dilakukan untuk RKT 1998/1999 mencapai sekitar 600 hektar ditambah percobaan penanaman seluas 200 hektar. Selain penanaman, selama pelaksanaan RKT tersebut dibangun persemaian permanen yang mampu memproduksi bibit 2 juta bibit/tahun.Sedangkan bibit yang sudah diproduksi 1.686.315 bibit yang terdiri dari jenis Acacia mangium, Gmelina arborea dan Eucalyptus spp.

Bina desa hutan yang telah dilakukan oleh PT Nityasa Idola sampai dengan tahun 1999 adalah pembangunan sarana dan prasarana peribadatan 1 buah seluas 60 m2, bangunan serba guna 1 buah seluas 60 m2, pengembangan karet rakyat seluas 10 hha, demplot pertanian tumpangsari seluas 1,6 hektar serta mengadakan sarasehan/penyuluhan sebualan sekali. Kegiatan ini terus berlangsung hingga pecahnya kerusuhan besar di Kalimantan Barat pada tahun 1997 yang terulang dengan skala yang lebih luas pada tahun 1999.

Kondisi keamanan dan perkembangan sosial kemasyarakatan di provinsi Kalimantan Barat pasca kerusuhan 1997 dan 1999 membuat situasi menjadi sangat tidak kondusif untuk pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan hutan


(23)

tanaman dan investasi pada umumnya antara lain dengan terjadinya penguasaan dan penggunaan lahan oleh masyarakat di dalam dan sekitar hutan yang mengakibatkan luas areal yang dapat ditanami tidak lagi sesuai dengan Rencana Karya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (RKPHTI) yang telah disetujui oleh Dirjen Pengusahaan Hutan dengan Surat Keputusan Nomor 251/Kpts/VI/1999 tanggal 27 Desember 1999 diamana direncanakan bahwa luas efektif tanaman adalah 64.000 hektar, dengan daur tanaman 8 tahun dengan jenis tanaman Acacia mangium, Gmelina arborea dan Paraserianthes falcataria.

Mempertimbangkan perubahan yang terjadi, PT Nityasa Idola pada akhir tahun 2006 memohon persetujuan untuk perubahan (revisi) RKUPHHK-HTI nya. Pada tanggal 4 Oktober 2007, PT Nityasa Idola memperoleh pengesahan atas revisi Rencana Kerja UPHHK HTI dalam Hutan Tanaman periode 1998 s/d 2041 dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan No. 248/VI-BPHT/2007 tentang Persetujuan dan pengesahan Revisi Keputusan Direktur Jendral Pengusahaan Hutan Produksi Nomor 351/Kpts-VI/1999 tentang pengesahan Rencana Karya Pengusahaan Hutan Tanaman (RKPHT) yang meliputi seluruh jangka waktu pengusahaan hutan atas nama PT Nityasa Idola di Provinsi Kalimantan Barat.

Berdasarkan revisi rencana Kerja inilah mulai tahun 2007 PT Nityasa Idola melakukan kegiatan pembuatan tanaman dan sampai akhir tanam 2008 telah menyelesaikan penanaman seluas 280 hektar dengan jenis tanaman sengon serta membangun 3 buah persemaian yang dikelola bersama masyarakat masing-masing dengan kapasitas produksi 1.200.000 batang bibit per tahun.

4.2.Data Pemegang Izin

Kegiatan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Tanaman Industri (IUPHHK HTI) di areal yang ditunjuk dalam surat menteri kehutanan No. 329/Kpts-II/1988 tertanggal 27 Februari 1998 akan dilakukan oleh PT. Nityasa Idola sebagai pemegang ijin. Secara ringkas data pemegang ijin adalah sebagai berikut :

1. Nama Pemegang IUPHHK HTI dalam Hutan Tanaman : PT. NITYASA IDOLA


(24)

2. Alamat dan Nomor Telepon:

a. Kantor Pusat: Sapta Mulia Centre Jl. Rw Gelam V- KI Pulogadung Jakarta b. Kantor Cabang: Jalan Pengeran Cinata, Dusun Raja, Desa Raja, Kecamatan

Ngabang, Kabupaten Landak. 3. Keputusan IUPHHK HTI

a. Nomor : 329/Kpts-II/1998 b. Tanggal : 27 Februari 1998 c. Luas Areal : 113.196 Ha 4. Kelas Perusahaan : Pertukangan

5. Status Permodalan : Swasta Nasional Murni 6. Kepemilikan Saham IUPHHK HTI

- Direktur: Iwan Djanuarsyah - Direktur: Julianto Koesnandar 7. Kepemilikan Industri:

a. Terkait dengan industry: PT. Dharma Satya Nusantara b. Kepemilikan saham dengan industri

4.3.Letak Areal Kerja dan Luas

Areal IUPHHK HTI yang akan dikelola oleh PT Nityasa Idola terletak di dua administrasi pemerintahan otonom, yaitu Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Landak yang keduanya terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Secara fisik, areal IUPHHK HTI PT Nityasa Idola dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentang lahan yaitu satu bentang di Kabupaten Bengkayang dan dua bentang lahan di Kabupaten Landak. Keadaan fisik lapangan areal IUPHHK HTI PT Nityasa Idola secara singkat adalah sebagai berikut:

Areal kerja IUUPHHK-HTI PT. Nityasa Idola secara geografis terlatek pada

garis lintang 0°22’48” - 01°04’18” LU dan garis bujur 109°22’ - 109°54’ BT. Secara administrasi terletak di provinsi Kalimantan Barat yaitu pada dua kabupaten yaitu kabupaten Landak dan Kabupaten Bengkayang. Untuk di kabupaten bengkayang wilayah mencakup kecamatan Samalantan, bengkayang, Ledo, Sanggau Ledo, Seluas, Sungai Raya, Capkala, Monterado, Teriak, Sungai Betung, Suti Semarang, Lumar, Jagoi Babang dan Siding. Sedangkan untuk di kabupaten landak, terletak di wilayah kecamatan yaitu kecamatan Kuala Behe, Air


(25)

Besar, sebangki, Ngabang, Meranti, Menyuke, Mempawah Hulu, Menjalin, Mandor dan Sengah Temila. IUPHHK-HTI PT. Nityasa Idola memiliki luas total areal konsesi sebesar 113.196 Ha.

4.4. Topografi Lahan, Jenis Tanah dan Jenis batuan

Wilayah konsesi IUPHHK-HTI PT Nityasa Idola memiliki ketinggian antara 65- 687 m dengan rata-rata ketinggian 165 m. Berikut adalah klasifikasi topografi berdasarkan kelas kelerengan dari wilayah IUPHHK-HTI PT Nityasa Idola :

Tabel 5. Klasifikasi topografi lahan

No Topografi Luas (Ha) Persentase (%) A Datar (kelerengan 0-8 %) 55.918 49,4 B Landai ( 8-15 %) 24.222 21,4 C Bergelombang (15-25 %) 28.634 25,3 D Agak Curam (25-40 %) 4.422 3,9 E Curam (> 40 %) 0 0

Jenis tanah yang ada di lahan konsesi IUPHHK-HTI PT Nityasa Idola secara umum terbagi atas 4 jenis yaitu dystropets, haplorthox, paleudults dan tropudults. Secara terperinci mengenai luasan lahan berdasarkan jenis tanahnya ditampilkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 6.Luasan lahan berdasarkan jenis tanah

No Jenis Tanah Luas (Ha)

A Dystropepts 35.071

B Haplorthox 16.289

C Paleudults 30.460

D Tropudults 31.376

Sedangkan untuk jenis batuan yang ada di lahan konsesi IUPHHK-HTI PT Nityasa Idola secara umum terbagi atas 3 jenis yaitu Metamorphic, Plutonic, dan Sedimentary. Untuk data terperinci mengenai luasan lahan berdasarkan jenis batuannya ditampilkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 7.Luasan lahan berdasarkan jenisbatuan

No Jenis Batuan Luas (Ha)

A Metamorphic 6.838

B Plutonic 4.072

C Plutonic/metamorphic 46.735


(26)

4.5. Iklim dan Hidrologi

Iklim di kawasan konsesi IUPHHK HTI PT. Nityasa Idola dapat dimasukkan dalam tipe A menurut pembagian iklim Schmidt-Ferguson. Cara pembagian iklim menurut Schimdt-Fergusson berdasarkan perhitungan jumlah bulan-bulan terkering dan bulan-bulan terbasah setiap tahun kemudian dirata-ratakan.Untuk bulan terbasah (dengan curah hujan tertinggi) adalah bulan Januari yaitu dengan curah hujan sebesar 430 mm/bulan.Sedangkan untuk bulan terkering (dengan curah hujan terendah) adalah bulan Agustus yaitu dengan curah hujan sebesar 87 mm/bulan.

Di wilayah konsesi IUPHHK-HTI PT Nityasa Idola mengalir beberapa sungai yaitu Sintangan, Ledo, Tumek, Sebalau, Menyuke, Sengah, Perabe, Behe dan Beringin.

4.6. Kondisi Hutan

Berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan tentang penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan untuk provinsi Kalimantan Barat yang dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 259/Kpts-II/2000 tanggal 20 Agustus Tahun 2000 areal HTI PT Nityasa Idola berada di kawasan Hutan Produksi, dengan beberapa bagian dari areal tersebut juga terdapat areal dengan fungsi konservasi, yaitu hutan lindung serta penggunaan lain dalam hal ini transmigrasi. Hal ini disajikan dalam tabel mengenai keadaan hutan berdasarkan peta kawasan hutan dan perairan Provinsi Kalimantan Barat sebegai berikut :

Tabel 8. Keadaan hutan berdasarkan peta kawasan hutan dan perairan ProvinsiKalimantan Barat

No

Fungsi Hutan Perkembangan areal

Pada IUPHHK HTI pada Hutan Tanaman

HP HPT HPK HL Hutan

Konservasi APL 1 Posisi Awal

(Keputusan IUPHHK HTI)

109.926 3.270 2 Penambahan (Surat

Menhut) 5.511 5.134 1.701 Posisi sekarang 100.850 5.511 5.134 1.701


(27)

Sementara itu dengan menggunakan Citra Landsat 7 ETM+Band 542, Path/Row 121/59 dan 121/60 liputan 31 Oktober 2008 diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 9.Keadaan penutupan lahan berdasarkan peta hasil penafsiran citrasatelit No Fungsi Hutan

Areal berhutan Areal Tak berhutan

(Ha)

Tertutup awan

(Ha) VF (Ha) LOA (Ha)

1 Hutan Produksi Tetap 0 6.997 90.831 3.022 2 Hutan Produksi

Terbatas 0 0 0

3 Hutan Produksi

Konservasi 0 0 0

4 Hutan Lindung 0 131 3.424 1.956 5 Hutan Konservasi 0 472 4.662 0

6 APL 0 95 653 953

Jumlah 0 7695 99.570 5.931

4.7.Kondisi Sosial Ekonomi

Areal IUPHHK HTI PT. Nityasa Idola berada pada dua wilayah kabupaten, yaitu Bengkayang dan Landak. Secara potensial, keadaan sosial dan potensu ekonomi pada kedua Kabupaten tersebut akan mempengaruhi perkembangan PT Nityasa Idola terutama dari segi penyediaan tenaga kerja dan penilaian terhadap besarnya kontribusi PT Nityasa Idola kepada pengembangan ekonomi regional. Potensi sosial dan ekonomi di kedua kabupaten tercermin pada kondisi demografi dan fasilitas sebagaimana disajikan pada Tabel 6.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Bengkayang memproyeksikan untuk dua kecamatan yang terletak dan atau berdekatan dengan areal IUPHHK HTI PT. Nityasa Idola, jumlah penduduk tahun 2006 adalah 32.791 jiwa, dengan tingkat kepadatan 51 jiwa per km2. Dengan menggunakan angka rata-rata Kabupaten Bengkayang di kedua kecamatan ini penduduk usia produktif diperkirakan berjumlah 19.361 orang dengan sekitar 21 % nya termasuk dalam usia sekolah.

Sementara untuk Kabupaten Landak, enam kecamatan yang terletak dan atau berada du Kabupaten Landak, luasnua 6.884 km2 atau 69 % dari luas kabupaten dengan jumlah penduduk menurut proyeksi Badan Pusat Statistik


(28)

Kabupaten Landak sebanyak 238.062 jiwa atau 73 % dari jumlah penduduk Kabupaten Landak, dengan kepadatan 35 jiwa per km2. Dengan menggunakan rata-rata angka Kabupaten, penduduk usia produktif berjumlah 154 ribuan.

Tabel 10.Jumlah penduduk, agama, mata pencaharian dan fasilitas umum No Uraian Satuan Jumlah

Bengkayang* Landak** Total 1 Jumlah Penduduk

-Total Orang 211.833 323.075 234.958 Anak-anak (< 17 tahun)

-Laki-laki Orang 125.992 162.300 268.272 -Perempuan Orang 100.172 120.351 250.723 Angkatan Tidak Produktif (< 55 tahun)

-Laki-laki Orang 3.117 5.675 8.792 -Perempuan Orang 2.602 4.749 7.351 2 Agama dan Kepercayaan

-Islam Orang 67.569 50.268 117.837 -Katolik / protestan Orang 139.864 269.679 409.543

4.8. Pola Kemitraan PT Nityasa Idola

Dalam mengelola hutan tanaman, PT. NI menerapkan pola kemitraan (kerjasama dengan masyarakat). Areal yang akan dikelola PT. NI adalah lahan yang tidak dikelola oleh masyarakat, diterlantarkan dan tidak produktif. Dalam mengelola hutan PT. NI tidak akan membeli apalagi memiliki lahan masyarakat, serta PT. NI hanya akan mengelola HTI di lahan yang diizinkan pemerintah dan disepakati oleh masyarakat. Ada 2 (dua) pola kemitraan yang ditawarkan PT. NI, yaitu:

1. Mitra Usaha

Dalam pola mitra usaha, pihak PT. Nityasa Idola (NI) akan mengelola lahan milik umum (desa/dusun) atau lahan yang dimiliki masyarakat yang sebelumnya telah disepakati bersama antara masyarakat dengan pihak perusahaan. Pada pola ini, masyarakat dapat bermitra sebagai kontraktor dan sebagai tenaga kerja di perusahaan. Keuntungan lainnya yang dapat diperoleh desa/dusun pada lahan milik umum dan lahan masyarakat yang dikelola perusahaan adalah:

a. Mata beliung sebesar Rp. 60.000/Ha per daur

b. Fee penjarangan (umur tanaman 4 tahun) sebesar Rp. 2.500/m3 c. Fee pemanenan (umur tanaman 8 tahun) sebesar Rp. 5.000/m3


(29)

2. Mitra Investasi (Kolaborasi)

Pada pola mitra investasi, pihak PT. NI dan masyarakat akan menanamkan sejumlah modal. Modal yang dikeluarkan masyarakat adalah lahan dengan kepemilikan yang jelas dan tenaga dalam mengelola hutan tanaman, sedangkan pihak perusahaan akan mengeluarkan sejumlah uang dan belanja modal seperti bibit, pupuk dan bahan kimia, membuka akses jalan jika dibutuhkan serta biaya pemanenan. Total pengeluaran oleh masyarakat dan perusahaan disebut sebagai modal bersama dan akan dikurangkan dari hasil penjualan kayu pemanenan (pada umur 8 tahun). Selanjutnya keuntungan dibagi 70% untuk masyarakat dan 30% untuk perusahaan.


(30)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Partisipasi dan Persepsi Masyarakat Terhadap Pengembangan Hutan Tanaman Pola Kemitraan

5.1.1 Tingkat Partisipasi

Partisipasi selayaknya merupakan keterlibatan mental dan emosional seseorang dalam situasi kelompok yang mendorong untuk bersedia memberikan sumbangan bagi tercapainya tujuan atau cita-cita kelompok dan turut bertanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukan bagi kelompoknya. Menurut Goldsmith dan Blustain (1988) dalam Winarto (2003) masyarakat tergerak untuk berpartisipasi jika partisipasi itu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat yang bersangkutan atau manfaat yang diperoleh melalui partisipasi itu dapat memenuhi kepentingan masyarakat. Partisipasi yang diberikan masyarakat kepada perusahaan sebagai mitranya selama ini, merupakan hasil dari pendekatan yang dilakukan pihak perusahaan kepada masyarakat baik itu kepada para tokoh adat, tokoh agama, dan perangkat desa. Adapun untuk mengetahui persentase distribusi responden berdasarkan tingkat partisipasi dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Distribusi responden berdasarkan tingkat partisipasi

Kategori Jumlah Responden % Rata-rata Nilai Rendah (≤ 26) 2 6,45

Sedang (27-37) 26 83,87 32,13 Tinggi (≥ 38) 3 9,68

Total 31 100,00

Berdasar Tabel 12 diatas, sebanyak 9,68 % responden memiliki tingkat partisipasi yang tergolong tinggi, sebagian besar responden (83,87 %) memiliki tingkat partisipasi sedang dan 6,45 % memiliki tingkat partisipasi rendah. Secara keseluruhan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan hutan tanaman industri pola kemitraan ini tergolong sedang dengan rata-rata nilainya sebesar 32,13. Hal ini menggambarkan bahwa dalam kegiatan pembangunan hutan


(31)

tanaman pola kemitraan yang dilaksanakan selama ini petani belum terlibat secara penuh pada semua tahapan kegiatan.

Ada beberapa faktor yang diperhatikan dalam meninjau aspek tingkat partisipasi ini, diantaranya adalah faktor pendidikan, ukuran keluarga, dan Luas lahan yang dimitrakan. Berikut ditampilkan distribusi tingkat partisipasi berdasarkan tingkat pendidikan pada Tabel 12, Tabel 13, dan Tabel 14.

Tabel 12. Distribusi responden tingkat partisipasi tinggi berdasarkan tingkat pendidikannya.

Kategori Tingkat Pendidikan Jumlah responden % Rendah Tidak Tamat SD 1 33,33

Tamat SD 2 66,67

Sedang Tidak Tamat SMP 0 0,00

Tamat SMP 0 0,00

Tinggi Tamat SMA 0 0,00

Total 3 100,00

Secara umum responden yang mempunyai partisipasi tinggi adalah responden dengan kategori tingkat pendidikan rendah.

Tabel 13. Distribusi responden tingkat partisipasi sedang berdasarkan tingkat pendidikannya.

Kategori Tingkat Pendidikan Jumlah responden % Rendah Tidak Tamat SD 16 61,54

Tamat SD 5 19,23

Sedang Tidak Tamat SMP 3 11,54

Tamat SMP 1 3,85

Tinggi Tamat SMA 1 3,85

Total 26 100,00

Secara umum responden yang mempunyai partisipasi sedang adalah responden dengan kategori tingkat pendidikan rendah.

Tabel 14. Distribusi responden tingkat partisipasi rendah berdasarkan tingkat pendidikannya.

Kategori Tingkat Pendidikan Jumlah responden % Rendah Tidak Tamat SD 1 50,00

Tamat SD 0 0,00

Sedang Tidak Tamat SMP 1 50,00

Tamat SMP 0 0,00

Tinggi Tamat SMA 0 0,00

Total 2 100,00

Responden yang tingkat partisipasinya rendah berasal dari responden dengan kategori tingkat pendidikan rendah dan sedang.


(32)

Untuk mengetahui hubungan faktor tingkat pendidikan terhadap tingkat partisipasi dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Distribusi tingkat partisipasi berdasarkan tingkat pendidikan Pendidikan P a r t i s i p a s i J u m l a h

Responden Rendah Sedang Tinggi

Rendah 1 21 3 25

Sedang 1 4 0 5

Tinggi 0 1 0 1

Jumlah responden 2 26 3 31

Dari data diatas dijelaskan bahwa responden yang memiliki tingkat pendidikan rendah banyak mempunyai tingkat partisipasi yang sedang. Dan responden yang memiliki tingkat pendidikan yang sedang mempunyai tingkat pendidikan yang sedang pula. Adapun responden yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, ternyata tingkat partisipasinya pun sedang pula. Sehingga dapat dikatakan bahwa faktor pendidikan tidak mempunyai pengaruh terhadap partisipasi.

Faktor selanjutnya adalah ukuran keluarga, berikut ditampilkan distribusi responden berdasarkan tingkat ukuran keluarga pada Tabel 16, Tabel 17, dan Tabel 18.

Tabel 16. Distribusi responden tingkat partisipasi tinggi berdasarkan ukuran keluarganya.

Kategori Ukuran keluarga Jumlah responden %

Kecil 2-4 orang 0 0,00

Sedang 5-7 orang 2 66,67

Besar > 7 orang 1 33,33

Total 3 100,00

Secara umum responden yang memiliki tingkat partisipasi tinggi adalah responden dengan kategori ukuran keluarga sedang.

Tabel 17. Distribusi responden tingkat partisipasi sedang berdasarkan ukuran keluarganya.

Kategori Ukuran keluarga Jumlah responden %

Kecil 2-4 orang 10 38,46

Sedang 5-7 orang 13 50,00 Besar > 7 orang 3 11.54

Total 26 100,00

Responden yang memiliki tingkat partisipasi sedang didominasi oleh responden dengan kategori ukuran keluarga sedang.


(33)

Tabel 18. Distribusi responden tingkat partisipasi sedang berdasarkan ukuran keluarganya.

Kategori Ukuran keluarga Jumlah responden %

Kecil 2-4 orang 1 50,00

Sedang 5-7 orang 1 50,00

Besar > 7 orang 0 0,00

Total 2 100,00

Responden yang tingkat partisipasinya rendah berasal dari responden dengan kategori tingkat pendidikan rendah dan sedang.

Untuk mengetahui hubungan faktor ukuran keluarga dengan tingkat partisipasi dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Distribusi tingkat partisipasi berdasarkan tingkat ukuran keluarga. Ukuran keluarga P a r t i s i p a s i J u m l a h

Responden Rendah Sedang Tinggi

Kecil 1 10 0 11

Sedang 1 13 2 16

Besar 0 3 1 4

Jumlah responden 2 26 3 31

Data responden yang memiliki ukuran keluarga kecil, sebagian besarnya mempunyai tingkat partisipasi yang sedang. Responden yang memiliki ukuran keluarga sedang sebagian besarnya mempunyai tingkat partisipasi yang sedang. Begitu pula dengan responden yang memiliki ukuran keluarga yang besar, sebagian besar tingkat partisipasinya sedang pula. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa faktor ukuran keluarga tidak mempunyai pengaruh terhadap partisipasi.

Faktor selanjutnya adalah luas lahan yang dimitrakan masyarakat kepada perusahaan, berikut ditampilkan distribusi responden berdasarkan luasan lahan yang dimitrakan pada Tabel 20, Tabel 21, dan Tabel 22.

Tabel 20. Distribusi responden tingkat partisipasi tinggi berdasarkan luasan lahan yang dimitrakan.

Kategori Luas lahan (Ha) Jumlah responden %

Kecil < 18,7 0 0,00

Sedang 18,7-36,7 2 66,67

Besar > 36,7 1 33,33

Total 3 100,00

Secara umum responden yang tingkat partisipasinya tinggi adalah responden dengan kategori luasan lahan yang dimitrakannya sedang.


(34)

Tabel 21. Distribusi responden tingkat partisipasi sedang berdasarkan luasan lahan yang dimitrakan.

Kategori Luas lahan (Ha) Jumlah responden %

Kecil < 18,7 25 96,15

Sedang 18,7-36,7 1 3,85

Besar > 36,7 0 0,00

Total 26 100,00

Secara umum responden yang tingkat partisipasinya sedang adalah responden dengan kategori luasan lahan yang dimitrakannya kecil.

Tabel 22. Distribusi responden tingkat partisipasi rendah berdasarkan luasan lahan yang dimitrakan.

Kategori Luas lahan (Ha) Jumlah responden %

Kecil < 18,7 2 100,00

Sedang 18,7-36,7 0 0,00

Besar > 36,7 0 0,00

Total 2 100,00

Adapun responden yang tingkat partisipasinya rendah adalah responden dengan kategori luasan lahan yang dimitrakannya kecil.

Untuk mengetahui hubungan faktor luasan lahan yang dimitrakan dengan tingkat partisipasi dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 23. Distribusi tingkat partisipasi berdasarkan tingkat luas lahan yang dimitrakan

Lahan yang dimitrakan

P a r t i s i p a s i J u m l a h Responden Rendah Sedang Tinggi

Kecil 2 25 0 27

Sedang 0 1 2 3

Besar 0 0 1 1

Jumlah responden 2 26 3 31

Data diatas dapat dijelaskan bahwa responden yang memiliki luasan lahan yang dimitrakan kecil sebagian besar mempunyai tingkat partisipasi yang sedang. Responden yang memiliki luasan lahan sedang cenderung memiliki tingkat partisipasi yang tinggi. Begitu pula dengan responden yang luasan lahannya besar, tingkat partisipasinya pun tinggi pula. Maka dapat dikatakan bahwa faktor luasan lahan yang dimitrakan mempunyai pengaruh terhadap partisipasi.

Responden yang memberikan tingkatan partisipasi baik umumnya mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam pengembangan hutan tanaman, karena masyarakat mulai menilai bahwa pembangunan hutan tanaman pola


(35)

kemitraan akan memberikan manfaat bagi mereka sendiri dan bagi penduduk desa umumnya, baik manfaat yang secara langsung maupun manfaat yang secara tidak langsung dirasakan. Adapun yang tingkat partisipasinya sedang lebih dikarenakan masyarakat masih ragu terhadap perusahaan sehingga lahan yang dimitrakan hanya sedikit saja dari yang mereka miliki.

Responden yang memiliki tingkat partisipasi sedang ini ada dua kemungkinan. Ada kemungkinan akan memberikan partisipasi positif, dalam artian masyarakat akan percaya dan mau bekerja sama dalam pengembangan hutan tanaman pola kemitraan. Atau kemungkinan lainnya mereka akan apatis terhadap perusahaan atau bahkan menolak keberadaan peerusahaan. Sehingga butuh suatu maintenence dari perusahaan untuk menjadikan responden yang mempunyai tingkat partisipasi sedang menjadi berpartisipasi baik.

Responden yang memberikan nilai tingkat partisipasi rendah lebih disebabkan bahwa penghasilan dari kemitraan ini belum dapat dinikmati hasilnya secara langsung, sedangkan mereka menyatakan bahwa kebutuhan hidup sehari-hari lebih mendesak daripada memitrakan beberapa luasan lahannya. Adapun yang mempengaruhi tingkat partisipasi dalam kasus ini adalah faktor luasan lahan yang dimitrakan.

5.1.2 Tingkat Persepsi

Persepsi masyarakat terhadap kegiatan hutan tanaman pola kemitraan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembangunan hutan tanaman yang dijalankan selama ini. Persepsi yang rendah berpengaruh negatif dan akan menghambat pelaksanaan pengembangan hutan tanaman untuk masa yang akan datang, sebaliknya persepsi yang tinggi berpengaruh positif dan merupakan dukungan yang menunjang pencapaian keberhasilan pelaksanaan pembangunan hutan tanaman dengan pola kemitraan itu sendiri di masa yang akan datang. Adapun untuk mengetahui persentase distribusi responden berdasarkan tingkat persepsi dapat dilihat di Tabel 24.

Berdasarkan Tabel 24. sebagian besar responden 61,29 % responden memiliki tingkat persepsi yang tergolong tinggi, sebanyak 35,48 % memiliki tingkat persepsi sedang dan 3,23 % memiliki tingkat persepsi buruk. Secara keseluruhan tingkat persepsi masyarakat dalam pengembangan pola kemitraan


(36)

tergolong sedang dengan nilai rata-rata sebesar 37,68. Ada beberapa faktor yang diperhatikan dalam meninjau aspek tingkat partisipasi ini, diantaranya adalah tingkat pendidikan, umur, dan matapencaharian.

Tabel 24. Distribusi responden berdasarkan tingkat persepsi

Kategori Jumlah responden % Rata-rata Nilai Buruk (≤ 26) 1 3,23

Sedang (27-37) 11 35,48 37,68 Baik (≥ 38) 19 61,29

Total 31 100,00

Berikut ditampilkan distribusi tingkat persepsi berdasarkan tingkat pendidikan pada Tabel 25, Tabel 26, dan Tabel 27.

Tabel 25. Distribusi responden tingkat persepsi baik berdasarkan tingkat pendidikannya.

Kategori Tingkat Pendidikan Jumlah responden % Rendah Tidak Tamat SD 10 52,63

Tamat SD 6 31,58

Sedang Tidak Tamat SMP 1 5,26

Tamat SMP 1 5,26

Tinggi Tamat SMA 1 5,26

Total 19 100,00

Secara umum responden yang memiliki tingkat persepsi baik adalah responden dengan tingkat pendidikan rendah.

Tabel 26. Distribusi responden tingkat persepsi sedang berdasarkan tingkat pendidikannya.

Kategori Tingkat Pendidikan Jumlah responden % Rendah Tidak Tamat SD 8 72,73

Tamat SD 1 9,09

Sedang Tidak Tamat SMP 2 18,18

Tamat SMP 0 0,00

Tinggi Tamat SMA 0 0,00

Total 11 100,00

Secara umum responden yang memiliki tingkat persepsi sedang adalah responden dengan tingkat pendidikan rendah. Selain itu responden dengan tingkat persepsi buruk adalah responden dengan tingkat pendidikan sedang.

Untuk mengetahui hubungan faktor tingkat pendidikan dengan tingkat persepsi dapat dilihat pada Tabel 27.


(37)

Tabel 27. Distribusi tingkat persepsi berdasarkan tingkat pendidikan

Pendidikan Persepsi J u m l a h Responden Buruk Sedang Baik

Rendah 0 9 16 25

Sedang 1 2 2 5

Tinggi 0 0 1 1

Jumlah responden 1 11 19 31

Dari tabel diatas diketahui bahwa responden yang mempunyai tingkat pendidikan rendah mempunyai persepsi yang sedang (9 orang), dan pada persepsi yang baik (16 orang). Responden yang memiliki tingkat pendidikan sedang juga mempunyai persepsi yang buruk (1 orang), sedang (2 orang), dan pada tingkat persepsi baik (2 orang). Responden dengan tingkat pendidikan yang tinggi memberikan persepsi yang baik (1 orang). Terdapat penurunan dari tingkat pendidikan rendah ke tingkat pendidikan sedang sehingga dikatakan bahwa faktor pendidikan tidak berpengaruh terhadap tingkat persepsi.

Faktor selanjutnya adalah umur, berikut ditampilkan distribusi responden berdasarkan tingkat umur pada Tabel 28 dan Tabel 29.

Tabel 28. Distribusi responden persepsi baik berdasarkan umurnya.

Kategori Umur (thn) Jumlah responden % Rendah/ Tdk. Produktif > 65 0 0,00 Sedang/ Kurang Produktif 50-65 1 5,26 Tinggi/ Produktif 15-49 18 94,74

Total 19 100,00

Sebagian besar responden yang tingkat persepsinya baik adalah responden dengan kategori umur produktif.

Tabel 29. Distribusi responden persepsi sedang berdasarkan umurnya.

Kategori Umur (thn) Jumlah responden % Rendah/ Tdk. Produktif > 65 1 9,09 Sedang/ Kurang Produktif 50-65 2 18,18 Tinggi/ Produktif 15-49 8 723,73

Total 11 100,00

Sebagian besar responden yang tingkat persepsinya sedang adalah responden dengan kategori umur produktif.

Sedangkan responden yang tingkat persepsinya buruk adalah responden dengan kategori umur produktif sebanyak 1 orang.


(38)

Untuk mengetahui hubungan faktor tingkat pendidikan dengan tingkat persepsi dapat dilihat pada Tabel 30.

Tabel 30. Distribusi tingkat persepsi berdasarkan tingkat umur

Umur Persepsi J u m l a h Responden Buruk Sedang Baik

Tdk. Produktif 0 1 0 1 Kurang Produktif 0 2 1 3

Produktif 1 8 18 27

Jumlah responden 1 11 19 31

Tabel 31. menjelaskan bahwa responden dengan umur tidak produktif itu mempunyai persepsi yang sedang. Responden yang kurang produktif mempunyai persepsi sedang (2 orang) dan pada tingkat persepsi baik (1 orang). Responden dengan umur produktif mempunyai persepsi buruk (1 orang), sedang (8 orang), dan persepsi baik (18 orang). Secara umum responden di dominasi oleh golongan umur produktif. Kategori umur dengan tingkat persepsi cenderung meningkat, sehingga dapat dikatakan bahwa faktor umur mempunyai pengaruh terhadap tingkat persepsi.

Faktor yang diperhatikan selanjutnya adalah matapencaharian. berikut ditampilkan distribusi responden berdasarkan tingkat umur pada Tabel 31 dan Tabel 32.

Tabel 31. Distribusi responden persepsi baik berdasarkan matapencaharian

Matapencaharian N %

Usaha Tani 14 73,68

Usaha Tani + Non Usaha Tani 5 26,32

Total 19 100,00

Sebagian besar responden dengan persepsi baik adalah bermatapencaharian usaha tani.

Tabel 32. Distribusi responden persepsi sedang berdasarkan matapencaharian

Matapencaharian N %

Usaha Tani 10 90,91

Usaha Tani + Non Usaha Tani 1 9,09

Total 11 100,00

Sebagian besar responden dengan persepsi sedang adalah bermatapencaharian usaha tani. Sedangkan responden dengan persepsi buruk adalah bermatapencaharian usaha tani sebanyak 1 orang.


(39)

Secara umum responden bermatapencaharian usaha tani. Untuk mengetahui hubungan faktor mata pencaharian dengan tingkat persepsi, berikut disajikan pada Tabel 33.

Tabel 33. Distribusi tingkat persepsi berdasarkan mata pencaharian

Matapencaharian Persepsi J u m l a h Responden Buruk Sedang Baik

Usaha tani 1 10 14 25

Usaha tani + Non Usaha tani 0 1 5 6 Jumlah responden 1 11 19 31

Responden yang memiliki matapencaharian usaha tani lebih mendominasi daripada matapencaharian usaha tani + non usaha tani. Responden yang bermatapencaharian usaha tani mempunyai persepsi buruk (1 orang), sedang (10 orang), dan tinggi (14 orang). Sedangkan yang bermatapencaharian usaha tani +non usaha tani mempunyai persepsi sedang (1 orang), Persepsi baik (5 orang). Hal ini membuktikan bahwa responden yang bermatapencaharian usaha tani memberikan persepsi yang tinggi.

Kembali kepada tingkat persepsi responden, sebanyak 3,23 % dari jumlah responden memiliki tingkat persepsi buruk. Hal ini antara lain disebabkan bahwa dalam pembangunan dan pengembangan hutan tanaman yang berjalan selama ini ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat dan dipandang tidak memberikan manfaat bagi pemilik lahan, bahkan masyarakat merasa dirugikan dengan adanya hutan tanaman. Ini terjadi pada lokasi tanam yang tanamannya dinilai masyarakat gagal karena jumlah tanaman yang tumbuh per hektarnya sangat sedikit dan kondisi tanaman yang kurang sehat. Bahkan kasus yang lebih ekstrimnya lagi terjadi kasus penebangan tanaman sengon yang dilakukan oleh pemilik lahannya sendiri, motiv dasarnya adalah untuk meminta uang pada perusahaan sebagai upah pekerjaan yang ia lakukan terhadap perusahaannya.

Padahal jika melihat dari kasus tanaman yang kurang sehat dan jumlah tumbuh tanaman yang sedikit harusnya dikembalikan kepada saat pemeliharaan tanaman, yaitu dari mulai proses penanaman, pemupukan, dan penyiangan. Pekerjaan itu sangat sulit dilakukan perusahaan karena jumlah tenaga kerja yang tidak mencukupi. Adapun masyarakat lokal disana sedikit yang mau bekerja pada perusahaan. Hal ini lebih dikarenakan upah yang dirasa masyarakat tidak sebanding dengan pekerjaannya.


(40)

Persepsi responden yang termasuk pada kategori sedang adalah sebesar 35,48%. Persepsi kategori sedang, bisa dikatakan bahwa keberadaannya masih dalam keraguan. Pada kondisi tertentu dapat menjadi penghambat, dan pada kondisi lain dapat pula mendukung dalam kegiatan hutan tanaman ini. Persepsi ini disebabkan karena responden hanya dapat merasakan manfaat sebagian dampak positifnya. Sebagian masyarakat dapat merasakan keuntungan adanya hutan tanaman yaitu dengan terlibatnya sebagai tenaga kerja sehingga memperoleh tambahan pemasukan dari upah kerja, tetapi dengan keterbatasan wawasan dan pengetahuan tidak merasakan manfaat lainnya yang tidak diperoleh secara langsung.

Persepsi seseorang terhadap sesuatu obyek akan positif apabila sesuai dengan kebutuhannya, sebaliknya akan negatif apabila bertentangan dengan kebutuhan orang tersebut. Adanya keuntungan atau manfaat dari hutan tanaman ini menimbulkan persepsi yang positif dari masyarakat. Responden yang memberikan Persepsi baik cukup mendominasi, hal ini dibuktikan dengan sebanyak 61,29 % responden memiliki tingkat persepsi yang termasuk pada kategori tinggi. Tingkat persepsi ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat merasakan keuntungan dan manfaat yang sebagian besar dibutuhkan masyarakat. Persepsi ini sangat menguntungkan, karena akan menunjang dalam pencapaian keberhasilan pembangunan hutan tanaman. Secara keseluruhan tingkat persepsi masyarakat pada pembangunan hutan tanaman pola kemitraan tergolong tinggi, dan adapun fakto yang mempengaruhi tingkat persepsi masyarakat adalah umur dan matapencaharian masyarakat.

5.1.3 Hubungan Partisipasi dan Persepsi

Persepsi dan partisipasi merupakan dua hal yang berbeda namun saling berkaitan. Secara nalar persepsi positip dapat menjadi gambaran bahwa masyarakat dapat memberikan partisipasi positif pula. Masyarakat akan semakin antusias untuk berpartisipasi secara aktif manakala dilandasi oleh adanya tingkat persepsi yang positif dari masyarakat (Susiatik 1998).

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh partisipasi terhadap persepsi maka dilakukan peninjauan dan pengelompokan responden berdasarkan partisipasi rendah, sedang, dan tinggi, kemudian dilihat persepsi masing-masing responden


(41)

apakah rendah, sedang, atau tinggi. Berikut ditampilkan pengelompokan tingkat partisipasi responden berdasarkan tingkat persepsi pada Tabel 34.

Tabel 34. Distribusi tingkat partisipasi responden berdasarkan tingkat persepsinya. Persepsi Partisipasi Jumlah

Responden Rendah Sedang Tinggi

Buruk 1 0 0 1

Sedang 1 9 1 11

Baik 0 17 2 19

Jumlah responden 2 26 3 31

Responden yang memiliki nilai partisipasi rendah dan persepsi buruk yaitu sebanyak 1 orang (3,23 %). Responden beranggapan bahwa kegiatan hutan tanaman pola kemitraan ini belum membuahkan hasil, dan responden ingin melihat hasil dari hutan tanaman pola kemitraan tersebut. Ada pula anggapan bahwa lebih baik membuat ladang, menanam padi, dan menoreh getah karet, karena hal itu sudah tentu dapat menghasilkan uang. Selain itu upah pekerjaan yang diberikan perusahaan jika ia bekerja pada perusahaan dirasa lebih rendah daripada hasil dari menoreh, dan berladang. Sehingga nilai persepsi yang diberikan pun rendah, karena hal tersebut dirasa sesuatu yang baru dan belum dirasakan manfaat secara langsung.

Kemudian responden yang memiliki nilai partisipasi rendah dan persepsi sedang sebanyak 1 orang (3,23 %). Menurut responden, partisipasi yang ia berikan hanya sebatas memitrakan sedikit lahannya saja, ia tidak mampu mengerjakan pekerjaan yang ditawarkan perusahaan kepadanya dikarenakan kondisinya yang sering sakit-sakitan. Selain itu ia mempunyai ladang yang cukup luas yang sedang ditanami bibit karet. Jadi ia lebih mengutamakan memelihara tanaman karetnya. Ia memang menggantungkan biaya hidupnya dari hasil menoreh getah dan berladang. Persepsi yang diberikan Bapak Swn ini pun tergolong pada kategori sedang, karena menurutnya ada perusahaan ini dapat membantu akses masyarakat dengan dibukanya jalan kampung. Selain itu kedepannya ia ingin mencoba memitrakan sebagian ladangnya jika sudah tidak dipakai ladang lagi.

Untuk responden yang nilai partisipasinya sedang dan persepsi sedang yaitu sebanyak 9 orang (29,03 %). Secara umum, responden menyatakan bahwa mereka bersedia memitrakan lahannya dan mau menerima pekerjaan yang ditawarkan


(42)

perusahaan jika tidak bentrok dengan kegiatan utama mereka yaitu menoreh getah karet. Ada yang mengungkapkan bahwa responden mau bermitra dengan perusahaan baik dalam lahan dan pekerjaannya. Dalam memberikan persepsinya terhadap hutan tanaman pola kemitraan, secara umum responden menyatakan bahwa adanya perusahaan dan hutan tanaman ini akan membantu masyarakat sekitar, dan masyarakat mau mencoba menerima keberadaan perusahaan tersebut.

Responden yang nilai partisipasinya sedang dan persepsinya tinggi sebanyak 17 orang (54,83 %). Ini adalah kelompok yang jumlah respondennya paling banyak dari kelompok yang lain. Secara umum partisipasi yang diberikan hampir sama dengan yang sebelumnya yaitu mereka bersedia memitrakan lahannya dan mau menerima pekerjaan yang ditawarkan perusahaan jika tidak bentrok dengan kegiatan utama mereka. Selain itu ada salah seorang responden yang mau membantu perusahaan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat yang lain. Ia berpendapat bahwa hal itu yang mudah dan mampu ia lakukan karena ia senang bersosialisasi. Selain itu ada yang berpendapat bahwa dengan bermitra dengan perusahaan maka ia telah menabung untuk masa depannya.

Kemudian responden yang memiliki nilai partisipasi tinggi dan persepsi sedang terdapat 1 orang (3,23 %). Menurut penuturannya, responden banyak berperan dalam pengembangan hutan tanaman pola kemitraan, dari mulai sosialisasi dan ikut memitrakan lahannya untuk ditanami sengon. Kini luas lahan yang dimitrakan dengan perusahaan mencapai ± 20 Ha. Tetapi ada yang membuat persepsinya sedang yaitu perusahaan kurang memperhatikan hak dari peserta mitra, yaitu dalam hal pemenuhan jatah karet unggul yang tidak jelas. Hal ini dikhawatirkan akan membuat citra buruk perusahaan.

Responden yang memiliki nilai partisipasi tinggi dan Persepsi baik sebanyak 2 orang (6,45 %). Responden mengungkapkan bahwa ia merupakan tokoh masyarakat yang membantu perusahaan dalam sosialisasi dan membuka pemikiran masyarakat tentang perusahaan. Sehingga masyarakat banyak yang bermitra dengan perusahaan untuk pengembangan hutan tanaman pola kemitraan. Selain itu luasan lahan yang dimitrakannya mencapai hampir 55 Ha. Hal ini dikarenakan karena ia merupakan tuan tanah di daerah itu. Dalam hal persepsi, mereka optimis bahwa perusahaan akan membuahkan hasil yang baik. Baik itu


(43)

dari kayu yang dihasilkan maupun dari aspek pendidikan anak-anak di sekitar perusahaan. Karena perusahaan ikut membantu memberikan insentif bagi guru bantu yang mengajar disana.


(44)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

1. Partisipasi masyarakat dalam pengembangan hutan tanaman pola kemitraan ini termasuk pada kategori sedang.

2. Persepsi masyarakat terhadap kegiatan pengembangan hutan tanaman pola kemitraan yang dilaksanakan PT. Nityasa Idola termasuk pada kategori tinggi.

3. Hubungan antara persepsi dan partisipasi tidak nyata. Hal ini disebabkan karena adanya variabel lain yang mempengaruhinya, yaitu luas lahan yang dimitrakan, umur, dan mata pencaharian.

6.2 Saran

1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih rinci faktor yang mempengaruhi persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap perusahaan hutan tanaman pola kemitraan.

2. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi perkembangan masyarakat sebelum dan sesudah adanya perusahaan hutan tanaman pola kemitraan.

3. PT. NI sebagai perusahaan hutan tanaman pola kemitraan perlu menjaga kepercayaan masyarakat sebagai mitra dengan segera memenuhi dari apa yang telah disepakati dalam mata beliung dan program kemitraan bersama masyarakat.


(45)

PARTISIPASI DAN PERSEPSI MASYARAKAT DALAM

PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI

POLA KEMITRAAN PT NITYASA IDOLA

PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Oleh:

CINDERA SYAIFUL NUGRAHA

E14062855

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITTUT PERTANIAN BOGOR

2012


(46)

DA

FTAR PUSTAKA

Amanah S. 2005. Pengembangan Masyarakat Pesisir Berdasarkan Kearifan Lokal Di Pesisir Kabupaten Buleleng Di Provinsi Bali [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Arikunto S. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.

Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Tengah. 2004. Peranan hutan rakyat dalam mensuplai bahan baku industri perkayuan di Propinsi Jawa Tengah. Dyah A. 1983. Persepsi Staf Pengajar dan Pimpinan Tiga Perguruan Tinggi

tentang Pengabdian pada Masyarakat [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Darmono A W. 2004. Teori dan Praktik Kemitraan Agribisnis. Penebar Swadaya. Jakarta

Hafsah M J. 1999. Kemitraan Usaha. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta

Hakim A R. 2004. Pola Hubungan Hukum Pada Program Kemitraan Usahatani Tembakau Di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat [Tesis]. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang http://www.damandiri.or.id/detail.php?id=289 [19 Okt 2011]

Dinas Kehutanan Jawa Tengah . 2004. Makalah dalam rangka Temu Usaha Hutan Rakyat Propinsi Jawa Tengah. Semarang, 3 Desember 2004. Semarang

Muchtar T. 1998. Hubungan Karakteristik Elit Formal dan Elit Informal Desa dengan Persepsi dan Tingkat Partisipasi Mereka dalam Program P3DT Di Kabupaten Sukabumi [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor. Nityasa Idola PT. 2007. Rencana Kerja Umum. Jakarta

Puspasari S. 2010. Persepsi dan partisipasi peladang berpindah dalam kegiatan pengembangan tanaman kehidupan model HTI terpadu di Kalimantan Barat [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Puspitawati E. 2004. Analisis Kemitraan Antara PT. Petani (Persero) dengan Petani Penangkar Benih Padi Di Kabupaten Karawang [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Ramadyanti M N. 2009. Tingkat partisipasi masyarakat dalam Program

Corporate Social Responcibility (CSR) PT. Unilever Indonesia (Studi Kasus Program Jakarta Green and Clean (JGC) 2007) [Skripsi]. Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Bogor: Fakultas Ekologi Manusi. Institut Pertanian Bogor.

Sastropoetro S. 1988. Partisipasi, Komunikas i, Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional. Alumni. Bandung.


(47)

Sattar A L. 1985. Persepsi Masyarakat Pedesaan Terhadap Usaha Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Di DAS Bila Walanae Sulawesi Selatan [Tesis]. Fakultas Pascasarjana KPK IPB-UNHAS. Bogor. Sihombing N. 1980. Partisipasi sebagai pemerdekaan manusia. Prisma nomor 11.

Jakarta.

Singarimbun M dan Sofian E. 1995. Metode Penelitin Survei. Jakarta : LP3S. Indonesia.

Sinulingga B A. 2009. Evaluasi Terhadap Kinerja Kemitraan PT. Perkebunan Nusantara III Dengan Usaha Kecil (Kasus: Kota Medan) [Skripsi] Fakultas Pertanian USU. Medan.

Soekanto S. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. CV Rajawali Press. Jakarta

Sudradjat A. 2003 Persepsi Birokrasi Tentang Otonomi Bidang Kehutanan [Disertasi]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Sugiyanto. 1996. Persepsi Masyarakat tentang Penyuluhan dalam Pembangunan Masyarakat Pedesaan [Disertasi]. Program Pascasarjana IPB. Bogor. Susiatik T. 1998. Persepsi dan Partisipasi Masyarakat terhadap Kegiatan

Pembangunan Masyarakat Desa Hutan Terpadu (PMDHT) di Desa Mojorebo Kecamatan Wirosari Kabupaten Dati II Grobogan Jawa Tengah [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Swasono S E. 1995. Perencanaan partisipatori dan emansipasi. Majalah Prisma nomor 3. Jakarta.

Triyono 2004. Kebijakan pengembangan usaha hutan rakyat. Makalah pada Temu Usaha Hutan Rakyat. Semarang, 3 Desember 2004. Dinas Kehutanan Jawa Tengah. Semarang.

Winarto H. 2003. Partisipasi Masyarakat Dalam Kegiatan Agoforestry. [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor

Yuwono S. 2006.Persepsi Masyarakat Terhadap Pembangunan Hutan Rakyat Pola Kemitraan Di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan


(48)

PARTISIPASI DAN PERSEPSI MASYARAKAT DALAM

PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI

POLA KEMITRAAN PT NITYASA IDOLA

PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Oleh:

CINDERA SYAIFUL NUGRAHA

E14062855

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITTUT PERTANIAN BOGOR

2012


(1)

Lampiran 2 (lanjutan)

Sosialisasi program perusahaan terhadap masyarakat


(2)

Lampiran 1: Tabel distribusi Responden

1. Tabel Distribusi Responden berdasarkan faktor pendidikan, ukuran keluarga,

dan luasan lahan yang dimitrakan pada tingkat partisipasi tinggi

No Pendidikan Ukuran Keluarga (org) Luas Lahan (Ha)

1 Tamat SD 5 20,10

2 Tidak Tamat SD 8 54,67

3 Tamat SD 5 22,90

2. Tabel Distribusi Responden berdasarkan faktor pendidikan, ukuran keluarga,

dan luasan lahan yang dimitrakan pada tingkat partisipasi sedang

Nama Pendidikan Ukuran Keluarga (org) Luas Lahan (Ha)

1 Tidak Tamat SD 9 21,80

2 Tidak Tamat SMP 2 6,90

3 Tidak Tamat SD 9 11,61

4 Tidak Tamat SD 6 3,20

5 Tidak Tamat SD 5 4,60

6 Tidak Tamat SD 7 6,89

7 Tamat SMP 5 0,70

8 Tidak Tamat SD 6 6,20

9 Tamat SMA 2 6,10

10 Tidak Tamat SD 4 5,60

11 Tidak Tamat SD 5 3,80

12 Tidak Tamat SD 7 3,60

13 Tidak Tamat SD 5 3,05

14 Tidak Tamat SD 8 3,60

15 Tidak Tamat SMP 3 9,58

16 Tamat SD 4 3,46

17 Tidak Tamat SD 6 4,60

18 Tamat SD 4 2,42

19 Tamat SD 6 5,70

20 Tidak Tamat SD 6 8,40

21 Tidak Tamat SD 5 6,00

22 Tamat SD 4 5,10

23 Tidak Tamat SD 6 9,10

24 Tidak Tamat SMP 4 15,60

25 Tidak Tamat SD 4 3,10

26 Tamat SD 3 2,60

3. Tabel Distribusi Responden berdasarkan faktor pendidikan, ukuran keluarga,

dan luasan lahan yang dimitrakan pada tingkat partisipasi rendah

Nama Pendidikan Ukuran Keluarga (org) Luas Lahan (Ha)

1 Tidak Tamat SD 6 4,30


(3)

Lampiran 1 (lanjutan)

4. Tabel Distribusi Responden berdasarkan faktor pendidikan, ukuran keluarga,

dan luasan lahan yang dimitrakan pada tingkat persepsi baik

Nama Pendidikan Umur Matapencaharian

1 Tidak Tamat SD 38 Petani/Peladang

2 Tidak Tamat SD 44 Petani/Peladang

3 Tidak Tamat SD 41 Petani/Peladang,Pedagang

4 Tidak Tamat SD 48 Petani/Peladang,Pedagang

5 Tamat SMP 37 Kades,Petani/Peladang

6 Tamat SMA 23 Petani/Peladang/Karyawan

7 Tidak Tamat SD 43 Petani/Peladang

8 Tidak Tamat SD 47 Petani/Peladang

9 Tidak Tamat SMP 30 Petani/Peladang

10 Tamat SD 39 Petani/Peladang

11 Tidak Tamat SD 40 Petani/Peladang

12 Tamat SD 35 Petani/Peladang

13 Tamat SD 32 Petani/Peladang

14 Tidak Tamat SD 53 Petani,Peladang,Warung

15 Tamat SD 34 Petani/Peladang

16 Tidak Tamat SD 44 Petani/Peladang

17 Tamat SD 41 Petani/Peladang

18 Tidak Tamat SD 42 Petani/Peladang

19 Tamat SD 37 Petani/Peladang

5. Tabel Distribusi Responden berdasarkan faktor pendidikan, ukuran keluarga,

dan luasan lahan yang dimitrakan pada tingkat persepsi sedang

Nama Pendidikan Umur Matapencaharian

1 Tidak Tamat SMP 21 Petani,Ojek

2 Tidak Tamat SD 46 Petani/Peladang

3 Tamat SD 37 Petani/Peladang

4 Tidak Tamat SD 60 Petani/Peladang

5 Tidak Tamat SD 45 Petani/Peladang

6 Tidak Tamat SD 47 Petani/Peladang

7 Tidak Tamat SD 46 Petani/Peladang

8 Tidak Tamat SD 55 Petani/Peladang

9 Tidak Tamat SD 78 Petani/Peladang

10 Tidak Tamat SD 49 Petani/Peladang


(4)

Lampiran 1 (lanjutan)

6. Tabel Distribusi Responden berdasarkan faktor pendidikan, ukuran keluarga,

dan luasan lahan yang dimitrakan pada tingkat persepsi buruk

Nama Pendidikan Umur Matapencaharian


(5)

Lampiran 2: Foto dokumentasi

Areal tanaman Sengon ( Paraserienthes falcataria )


(6)

Lampiran 2 (lanjutan)

Sosialisasi program perusahaan terhadap masyarakat