Komunikasi Antarpribadi Dan Perubahan Sikap Narapidana (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil)

KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DAN PERUBAHAN SIKAP NARAPIDANA
(Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga
Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) Pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik
Universitas Sumatera Utara BUDI PRASETIYO 080904019
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh :

NAMA

: Budi Prasetiyo

NIM

: 080904019

DEPARTEMEN : ILMU KOMUNIKASI

JUDUL

: Komunikasi Antarprribadi Dan Perubahan Sikap Narapidana (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil).

Pembimbing

Ketua Departemen

Dra. Dayana, M.Si Nip. 196007281987032002

Dra. Fatma Wardi Lubis, MA Nip. 196208281987012001

Dekan FISIP

Prof. Dr. Badaruddin, M.Si Nip. 196805251992031002

Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah diajukan oleh :

Nama

: Budi Prasetiyo

Nim : 080904019

Departemen

: Ilmu Komunikasi

Judul

: Komunikasi Antarpribadi dan Perubahan Sikap Narapidana (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil)

Telah berhasil dipertahankan di hadapan dewan penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Majelis Penguji

Ketua

:

()

Penguji I

:

()

Penguji II

:

()

Ditetapkan di : .....................

Tanggal

:......................

Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum.wr.wb. Syukur alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya karena hanya izin-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, semoga kita diberikan syafaatnya diyaumil mashar kelak.
Ucapan hormat dan terima kasih yang terdalam penulis persembahkan kepada kedua orang tua, ibundaku tersayang Juliyani dan ayahanda tercinta Sopiyanto yang telah banyak memberikan dukungan baik materi, moral dan doa. Dan juga kepada saudara dan kerabat dekat ku atas perhatian dan doanya serta yang menguatkan penulis.
Skripsi ini berjudul Komunikasi Antarpribadi dan Perubahan Sikap Narapidana, dibuat sebagai salah satu pemenuh syarat kelulusan dan perolehan gelar sarjana penulis dari Fakultas ilmu sosial dan Politik, Departemen Ilmu Komunikasi, Umiversitas Sumatera Utara. Dalam pelakasanaan, penelitian dan penyusunnan Skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bimbingan, nasehat, serta dukungan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. Zakaria, M.SP selaku pembantu dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Fatma Wardi Lubis, MA selaku ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak membimbing penulis sampai penyelesaian skripsi ini.
4. Seluruh dosen/ staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, khususnya para dosen Departemen Ilmu Komunikasi. Terimakasih yang tulus penelitian sampaikan atas jasa-jasa yang telah diberikan selama perkuliahan.
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

5. Kak Cut dan Kak Maya yang telah membantu pada setiap urusan administrasi yang diperlukan peneliti.
6. Bapak Miswar, SH selaku wakil kepala cabang RUTAN Aceh Singkil, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di cabang RUTAN Aceh Singkil.
7. Staf dan seluruh pegawai di cabang RUTAN Aceh Singkil yang telah banyak membantu penulis sehingga penulis memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam penyelesaian skripsi ini, yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya.
8. Buat keluarga besar Pramuka USU dan SAKA BHAYANGKARA POLRESTA Medan atas dukungan dan motivasi untuk penulis.
9. Buat teman-teman Kom’08 yang masih berjuang dalam penyelesaian skripsi, “Tetap Semangat”.
Akhirnya kata peneliti mengucapkan terimakasih atas bantuan yang telah diberikan oleh semua pihak, semoga Tuhan yang Maha ESA akan membalasnya dengan limpahan rahmat kepada kita semua. AMIN.
Medan, Febuari 2013 Peneliti,
Budi Prasetiyo
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
________________________________________________________

Sebagai civitas akademi Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama

: Budi Prasetiyo

NIM

: 080904019

Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas

: Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas : Universitas Sumatera Utara

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non Exclusive Royalty – Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Komunikasi Antarprribadi dan Perubahan Sikap Narapidana (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil)
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan hak bebas royalti non ekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengolah dalam bentuk pangkalan data (Database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.

Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di:....... Pada Tanggal:......... Yang Menyatakan, (Budi Prasetiyo)
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

Halaman Pernyataan Orisionalitas Skripsi ini adalah karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku
Nama : Budi Prasetiyo NIM : 080904019 Tanda Tangan : Tanggal :
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarpribadi dan Perubahan Sikap Narapidana (Studi Diskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan peranan komunikasi antarpribadi yang dilakukan petugas dalam merubah sikap narapidana di cabang Rutan Aceh Singkil. Objek penelitian ini adalah petugas dan narapidana yang terdapat di cabang Rutan Aceh Singkl. Sedangkan Subjek penelitian ini adalah terdapat dua orang petugas dan dua narapidana, dalam penelitian ini menggunakan Teori komunikasi, komunikasi antarpribadi, self disclosure, sikap dan narapidana. Penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan studi literatur. Teknik analisis data menggunakan metode interaktif dengan menggunakan empat tahapan seperti : koleksi, penyederhanaan data, penyajian data, dan pengambilan serta verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa komunikasi antarpribadi dalam merubah sikap narapidana sangat berpengaruh dalam proses pembinaan yang dilakukan oleh petugas, bentuk komunikasi yang terdapat dalam pembinaan seperti komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok sesama petugas dan narapidana. Komunikasi menjadi sebuah kebutuhan yang diperlukan oleh para narapidana dalam menjalani masa hukuman, dimana sangat penting dalam bentuk komunikasi itu sendiri.
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... LEMBARAN PENGESAHAN............................................................................... KATA PENGANTAR............................................................................................. LEMBARAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ...................... ABSTRAK ............................................................................................................... DAFTAR ISI............................................................................................................ DAFTAR GAMBAR............................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................................

BAB

I. PENDAHULUAN……………………………………………………..1 1.1. Konteks Masalah ................................................................................1 1.2.Fokus Masalah .....................................................................................5 C. Tujuan Penelitian...................................................................................6 D. Manfaat Penelitian ................................................................................6

BAB II. PERSPEKTIF/PARADIGMA PENELITIAN ....................................7 2.1.Paradigma Penelitian ...........................................................................7 2.2.Kajian Pustaka ...................................................................................11 2.2.1. Komunikasi ....................................................................................11 2.2.1.1.Pengertian Komunikasi................................................................12

2.2.2. Pengertian Komunikasi Antarpribadi ............................................13 2.2.3. Self Disclousure .............................................................................16 2.2.3.1.Teori Penetrasi Sosial ..................................................................18

2.2.4. Sikap .............................................................................................21 2.2.4.1.Teori Tiga Proses Perubahan ......................................................25

2.2.5. Narapidana .....................................................................................28 2.2.6. Model Teori ...................................................................................31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..........................................................33

3.1. Metode Penelitian ............................................................................33 3.2. Objek Penelitian...............................................................................34 3.3. Subjek Penelitian ..............................................................................34 3.4. Kerangka Analisis............................................................................36 3.5. Teknik Pengumpulan Data...............................................................38
3.5.1. Data Primer..........................................................38 3.5.2. Data Skunder .......................................................40 3.5.3. Waktu Penelitian..................................................41 3.6. Analisis Data....................................................................................41

Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................44 4.1. HASIL Penelitian.............................................................................44 4.1.1. Proses Penelitian .............................................................44 4.1.2. Profil Subjek Penelitian ..................................................60 4.1.3. Komunikasi Antarpribadi Antara Petugas Dengan Masing-Masing Narapidana ..........................................41 4.2. Pembahasan ..................................................................................... 68
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................75 5.1. Kesimpulan ....................................................................................................75 5.2. Saran ..............................................................................................................76
5.1.1 Saran Dalam Kaitannya Bidang Akademis .................................76 5.1.2 Saran Dalam Kaitan Praktis .........................................................76 5.1.3 Saran Peneliti ...............................................................................77
DAFTAR REFERENSI LAMPIRAN HASIL WAWANCARA TEKS/DOKUMEN YANG DI TELITI SURAT KETERANGAN PENELITI BIODATA PENELITI DAFTAR BIMBINGAN SKRIPSI
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarpribadi dan Perubahan Sikap Narapidana (Studi Diskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan peranan komunikasi antarpribadi yang dilakukan petugas dalam merubah sikap narapidana di cabang Rutan Aceh Singkil. Objek penelitian ini adalah petugas dan narapidana yang terdapat di cabang Rutan Aceh Singkl. Sedangkan Subjek penelitian ini adalah terdapat dua orang petugas dan dua narapidana, dalam penelitian ini menggunakan Teori komunikasi, komunikasi antarpribadi, self disclosure, sikap dan narapidana. Penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan studi literatur. Teknik analisis data menggunakan metode interaktif dengan menggunakan empat tahapan seperti : koleksi, penyederhanaan data, penyajian data, dan pengambilan serta verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa komunikasi antarpribadi dalam merubah sikap narapidana sangat berpengaruh dalam proses pembinaan yang dilakukan oleh petugas, bentuk komunikasi yang terdapat dalam pembinaan seperti komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok sesama petugas dan narapidana. Komunikasi menjadi sebuah kebutuhan yang diperlukan oleh para narapidana dalam menjalani masa hukuman, dimana sangat penting dalam bentuk komunikasi itu sendiri.
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Konteks Masalah Di dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat berdiri sendiri dan
selalu saling berhubungan serta berkerjasama satu dengan yang lainnya. Salah satu aktivitas terpenting dalam berhubungan dan berkerjasama dengan sesama manusia adalah dengan cara berkomunikasi. Komunikasi merupakan salah satu aktivitas penting bagi seseorang dalam hal kontak sosial, dalam menyampaikan informasi dan pesan dari seseorang kepada orang lain. Dengan kata lain, komunikasi sangat penting seperti halnya kita bernapas. Tanpa komunikasi tidak akan ada hubungan dan kesepian dalam menjalankan akivitas sehari-hari.
Kita ketahui bahwa komunikasi merupakan salah satu yang sangat penting dalam mempelajari dan merubah pendapat, sikap, dan prilaku orang lain. Dalam perannya kita mengetahui beberapa bentuk komunikasi itu sendiri seperti komunikasi massa, komunikasi kelompok dan komunikasi antar pribadi. Hal ini tergantung pada situasi kondisi suatu tujuan dari komunikasi itu sendiri.
Apabila kita berkomunikasi dengan sejumlah orang yang tersebar di beberapa tempat maka bentuk komunikasi yang kita gunakan komunikasi massa, apabila kita berkomunikasi dengan sejumlah orang yang berada pada suatu tempat maka bentuk komunikasi yang kita gunakan adalah komunikasi kelompok, demikian pula apabila kita berkomunikasi dengan seseorang atau dua orang maka bentuk komunikasi yang kita gunakan adalah komunikasi antarpribadi.
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

Dari ketiga bentuk komunikasi di atas salah satunya komunikasi antarpribadi Effendy (2002:09) mengatakan bahwa komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah salah satu bentuk komunikasi yang paling efektif dalam hal upaya merubah sikap, pendapat, serta prilaku seseorang. Demikian halnya dengan setiap orang pasti sudah pernah dan bahkan masih melakukan komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi dapat terjadi di lingkungan keluarga, pertemanan, masyarakat, organisasi dan sebagainya. Hampir di setiap sisi kehidupan manusia yang selalu berkenaan dengan nama komunikasi antarpribadi.
Komunikasi antarpribadi yang paling sederhana dapat kita amati di dalam keluarga. Keluarga merupakan suatu sistem yaitu suatu kesatuan yang dibentuk oleh bagian-bagian yang saling berhubungan dan berinteraksi seperti ayah, ibu dan anak-anaknya. Komunikasi antarpribadi di dalam keluarga menjadi hal yang sangat penting dan sering di gunakan untuk memberikan pembinaan dasar terhadap seseorang tentang aturan-aturan dan norma-norma yang ada di dalam lingkungan masyarakatnya. Pembinaan yang dilakukan di dalam keluarga memberikan kesempatan seseorang agar dapat diterima dilingkungannya.
Komunikasi antarpribadi juga merupakan salah satu unsur kecil di dalam masyarakat sebagai contoh kecil, jika dalam sebuah masyarakat terdapat komunikasi antarpribadi maka secara tidak langsung akan tercipta sebuah masyarakat yang akan mempunyai iklim di dalam linkungannya. Masyarakat itu sendiri adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya. Normanorma yang mereka miliki yang menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciriciri kehidupan yang sangat khas (www.blogslingkunganmasyarakat.go.id).
Dan apabila terjadi pertikaian dan pertentangan di tengah masyarakat maka pembinaan yang di lakukan di dalam keluarga tidak berhasil dan berjalan, karena komunikasi antarpribadi yang di bina di dalam keluarga tidak dapat merubah seseorang yang dapat diterima di dalam lingkungannya. Sehingga terjadi penolakan di dalam diri seseorang yang tidak dapat bergabungan dengan lingkungan sosial sekitarnya. Hal ini bisa di sebabkan karena pengaruh komunikasi antarpribadi di lingkungan keluarga dan pertemannya tidak berpengaruh terhadap diri seseorang, sehingga seseorang tersebut melakukan hal yang bisa bertentangan dengan lingkungan sosialnya atau sebaliknya yang tidak bertentangan dengan lingkungan sosialnya.
Pembinaan seseorang yang bertentangan dengan lingkungan sosial akan di bina oleh Lembaga Pemerintahan, Lembaga Pemerintahan yang melakukan pembinaan ini ada beberapa macam seperti Lembaga Pemasyarakatan, Kepolisian, Polisi Militer, Satuan Polisi Pamong Praja dan lain-lain. Kegiatan yang di lakukan oleh Lembaga dan Pemerintah ini bertujuan untuk merubah sikap, prilaku, pendapat serta tingkah laku seseorang yang tidak bertentang dengan aturan dan norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya.
Lembaga Pemasyarakatan (disingkat LP atau LAPAS) adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik Pemasyarakatan di Indonesia. Sebelum dikenal istilah lapas di Indonesia, tempat tersebut di sebut dengan istilah penjara. Lembaga Pemasyarakatan merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

Hak Asasi Manusia (dahulu Departemen Kehakiman). Penghuni Lembaga Pemasyarakatan bisa narapidana (napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bisa juga yang statusnya masih tahanan, maksudnya orang tersebut masih berada dalam proses peradilan dan belum ditentukan bersalah atau tidak oleh hakim.
Petugas yang menangangi pembinaan kepada narapidana dan tahanan di LP di sebut dengan Petugas Pemasyarakatan, atau dahulu lebih di kenal dengan istilah sipir penjara. Konsep pemasyarakatan pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman Sahardjo pada tahun 1962, dimana disebutkan bahwa tugas jawatan kepenjaraan bukan hanya melaksanakan hukuman, namun tugas yang jauh lebih berat adalah mengembalikan orang-orang yang dijatuhi pidana ke dalam masyarakat (http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Pemasyarakatan).
Proses pembinaan juga di lakukan disalah satu Lembaga Pemasyarakatan Cabang RUTAN Aceh Singkil, dan para petugas tersebut mempunyai beberapa program dalam melakukan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Cabang RUTAN Aceh Singkil seperti bimbingan yang dilakukan petugas saat melaksanakan tugasnya dengan fungsi masing-masing petugas berupa pembimbingan moral, agama, dan hubungan sosial. Bimbingan tersebut berupa bimbingan moral yaitu pembentukan etika dan hubungan sesama dengan narapidana. Bimbingan agama yaitu pembinaan dalam bidang kerohanian. Sedangkan bimbingan dalam bidang hubungan sosial yang diberikan pada narapidana dapat berupa kunjungan keluarga dan para sahabat dan kerabat narapidana, serta bimbingan jasmani seperti olah raga bermain voli dan tenis meja. Semua program pembinaan yang di buat dan di jalankan oleh para petugas
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

Lembaga Pemasyarakatan Cabang RUTAN Aceh Singkil ini dengan cara berkomunikasi kelompok dan komunikasi antarpribadi.
Lembaga Pemasyarakatan cabang RUTAN Aceh Singkil ini baru saja di bangun didalam daerah kabupaten Aceh Singkil, yang terletak di jalan kabupaten Singkil-Rimo. Pembangunan Lembaga ini sangat strategis, Lembaga Pemasyarakatan ini terlihat masih dalam proses pembangunan untuk memenuhi fasilitas pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan ini.
Oleh karena itulah, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini, Selain kasus yang mereka hadapi, komunikasi sangat berperan peting dalam hal merubah sikap seseorang khusus dalam komunikasi antarpribadi sangat berperan dalam hal melakukan pembinaan yang di lakukan baik secara berkelompok maupun secara pribadi.
1.2 Fokus Masalah Fokus masalah merupakan permasalahan yang sentral yang menjadi
perhatian penelitian dan dicari jawabannya dalam penelitian. Tujuan dari fokus masalah adalah untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga dapat mengaburkan penelitian. Adapun fokus masalah yang akan diteliti sebagai berikut,
“Bagaimana Komunikasi Antarpribadi Antara Para Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil?“
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

1.3 Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui proses komunikasi antarpribadi yang di lakukan
petugas dalam merubah sikap narapidana di Cabang RUTAN Aceh Singkil.
2. Untuk mengetahui peranan komunikasi antarpribadi para petugas dalam merubah sikap narapidana di Cabang RUTAN Aceh Singkil.
3. Untuk melihat perkembangan sikap para narapidana yang dilakukan dengan cara komunikasi antarpribadi sesama para petugas dalam merubah sikap para narapidana.
1.4 Manfaat Penelitian Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah : 1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah
penelitian di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU khususnya mengenai komunikasi antarpribadi.
2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan dan menambah pengetahuan peneliti mengenai ilmu komunikasi khususnya bidang komunikasi antarpribadi.
3. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi sumbangan pikiran dan masukan kepada RUTAN di cabang Aceh Singkil atau
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

mahasiswa yang menberikan perhatiannya terhadap pengetahuan yang berhubungan dengan bidang komunikasi antarpribadi.
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Perspektif/Paradigma kajian Setiap penelitian memerlukan paradigma teori dan model teori sebagai
dasar dalam menyusun kerangka penelitian. Menurut Sandjaya (2007:5) “Paradigma adalah pandangan dalam kepercayaan yang telah diterima dan disepakati bersama oleh masyarakat ilmuwan berkaitan dengan suatu keilmuan”.
Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.
Menurut pandangan Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman.
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

Pada umumnya tujuan utama penelitian deskriptif adalah untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini metode penelitian deskriptif banyak digunakan oleh peneliti karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.
Di samping kedua alasan tersebut di atas, penelitian deskriptif pada umumnya menarik bagi para peneliti, karena bentuknya sangat sederhana dengan mudah dipahami tanpa perlu memerlukan teknik statiska yang kompleks. Walaupun sebenarnya tidak demikian kenyataannya. Karena penelitian ini sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual.
Penelitian deskriptif juga dapat dikembangkan ke arah penelitian deskriptif kualitatif yang mengarah pada pendekatan humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam peristiwa sosial dan budaya. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala sosial yang di alami.
Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian deskriptif kualitatif, seperti Fenomenologi, Interaksionisme simbolik, dan Etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yang mempertemukan mereka, yaitu pandangan
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

yang sama tentang hakikat manusia sebagai subjek yang mempunyai kebebasan menentukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masingmasing pelaku.
Bertolak dari proposisi di atas, secara ontologis, penelitian kualitatif berpandangan bahwa fenomena sosial, budaya dan tingkah laku manusia tidak cukup dengan merekam hal-hal yang tampak secara nyata, melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya. Sebab tingkah laku (sebagai fakta) tidak dapat dilepaskan atau dipisahkan begitu saja dari setiap konteks yang melatarbelakanginya. Berikut aliran filsafat yang mendasari penelitian kualitatif dalam paradigmanya.
Fenomologi diartikan sebagai pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal serta suatu studi tentang kesadaran dari perpektif pokok dari seseorang. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. Para pakar fenomenologi berasumsi bahwa kesadaran bukanlah dibentuk karena kebutulan.
Dalam Interaksionisme simbolis, sebagai salah satu rujukan penelitian kualitatif, lebih dipertegas lagi tentang batasan tingkah laku manusia sebagai objek studi. Disini di tekankan perspektif pandangan sosio-psikologis, yang sasaran utamanya adalah pada individu ‘dengan kepribadian diri pribadi’ dan pada interaksi antara pendapat intern dan emosi seseorang dengan tingkah laku sosialnya.
Penelitian kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat terdapat keteraturan. Keteraturan itu terbentuk secara natural, karena itu tugas peneliti
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

adalah menemukan keteraturan itu, bukan menciptakan atau membuat sendiri batasan-batasannya berdasarkan teori yang ada.
Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori dari kancah–bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenanya, secara Epistemologis, paradigma kualitatif tetap mengakui fakta empiris sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi.
Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara secara terbuka untuk menelaah dan pandangan, perasaan dan prilaku individu atau sekelompok orang. Penelitian ini menafsirkan dan melihat serta menggambarkan fenomena yang terjadi disekitar lingkungan sosial dalam individu.
Dalam penelitian ini melihat dari salah satu filsafat penelitian kualitatif yaitu Interaksionisme simbolis, dan Interaksionisme simbolis adalah salah satu model penelitian tindakan yang berusaha mengungkap realitas perilaku dan tingkah laku manusia dan sekarang telah berhubungan dengan aspek masyarakat dan kelompok.
Penelitian ini menggunakan Interaksionisme simbolis dalam melihat sebuah perubahan sikap yang dasari dari prilaku seseorang. Didalam pandangan presfektif Interaksionisme simbolisnya berusaha memahami tindakan lewat perilaku manusia yang terpantul dan tercermin dalam komunikasi yang sering terjadi.
Di dalam penelitian ini Interaksionisme simbolis digunakan untuk melihat interaksi komunikasinya dalam memahami dan mempelajari tindakan seseorang,
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

seseorang tersebut adalah para narapidana. Interaksi komunikasi yang dilakukan oleh para petugas sesuai dengan aturan-aturan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan terhadap warga binaannya agar mencapai hasil yang diinginkan seperti dapat merubah sikap dan kembali di lingkungan masyarakat.
2.2 Kajian Pustaka
Kajian pustaka merupakan daftar referensi dari semua jenis referensi seperti buku, jurnal paper, artikel disertai, tesis, skripsi hand outs, laboratory manual, dan karya ilmiah lainnya yang dikutip didalam penulisan proposal. Semua referensi yang tertulis dalam kajian pustaka harus dirujuk didalam skripsi.
Dengan adanya kajian teori, peneliti akan memiliki landasan dalam menentukan tujuan arah penelitiannya. Adapun teori-teori yang dianggap relevan dalam penelitian ini adalah : Komunikasi, Komunikasi Antar Pribadi, Self Disclosure, Sikap, dan Narapidana.
2.2.1 Komunikasi Setiap manusia memiliki kemampuan berinteraksi, kemampuan
berinteraksi tersebut diwujudkan dalam komunikasi. Komunikasi adalah sarana yang dibutuhkan manusia akan adanya hubungan sosial. Menurut Effendi (1995:3) secara umum pengertian komunikasi dapat dilihat secara etimologis, bahwa komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio, yang asal katanya communis, artinya “sama”, atau sama makna, jadi komunikasi dapat berlangsung apabila terdapat adanya orang–orang yang terlibat didalamnya memiliki sama makna akan suatu hal. Sederhananya, apabila seseorang mengerti akan sesuatu
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi berlangsung. Dengan kata lain, hubungan mereka tersebut memiliki sifat komunikatif. Sebaliknya, jika ia tidak mengerti, komunikasi tidak berlangsung, maka hubungan antar orang tersebut tidak bersifat komunikatif walaupun adanya komunikasi.
2.2.1.1 Pengertian Komunikasi Secara terminologis, bahwa komunikasi berarti proses
penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian tersebut, jelas bahwa proses komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi yang terlibat dalam komunikasi tersebut adalah manusia, karena komunikasi disini adalah komunikasi manusia. Komunikasi manusia sebagai bentuk singkat dari komunikasi antar manusia dinamakan komunikasi sosial atau komunikasi kemasyarakatan karena hanya pada manusia yang bermasyarakat terjadinya komunikasi.
Komunikasi secara paradigmatis, bahwa komunikasi mengandung tujuan tertentu, ada yang dilakukan secara lisan, tertulis, tatap muka, atau melalui media. Jadi komunikasi dalam pengertian paradigmatis bersifat intensional, mengandung tujuan, karena itu harus dilakukan perencanaan. Sejauh mana kadar perencanaan itu tergantung kepada pesan yang akan dikomunikasikan.
Pengertian komunikasi secara paradigmatis yaitu proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu sesuatu mengubah sikap, pendapat ataupun perilaku, baik secara lisan maupun tidak langsung dengan menggunakan media.
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

Definisi komunikasi sangat banyak dibuat oleh para ahli, diantaranya menurut Shanon dan Weaver, bahwa komunikasi mencakup semua prosedur, melalui mana pikiran seseorang dapat dipengaruhi orang lain. (Fisher, 1986:10). Sedangkan menurut Hovland (dalam Effendi, 1995:10), ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas azas – azas penyampaian informasi serta pembentukan atau perubahan pendapat dan sikap.
2.2.2 Pengertian Komunikasi Antar Pribadi Komunikasi antar pribadi ini dikatakan efektif dalam merubah perilaku
orang lain apabila terdapat kesamaan makna mengenai apa yang di komunikasikan. Kekhasan yang ada pada komunikasi antarpribadi ini adalah arus timbal balik yang langsung yang bisa ditangkap baik secara verbal maupun non verbal melalui gerak–gerik bahasa tubuh dan perubahan posisi yang signifikan antara komunikan dan komunikator.
Menurut Effendi (dalam Liliweri, 1991:12) komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antara seorang komunikator dan seorang komunikan. Jenis komunikasi tersebut dianggap efektif dalam merubah sikap, pendapat, atau perilaku manusia berhubung prosesnya yang dialogis. Sementara Barnlud (1968) (dalam Liliweri, 1991:12) menyatakan komunikasi antar pribadi biasanya dihubungkan dengan pertemuan antara dua atau tiga orang atau empat orang yang terjadi sangat spontan dan tidak berstruktur. Jadi menurut Barnlund, proses pelaksanaan komunikasi antar pribadi tidak perlu adanya perencanaan (terjadi secara spontan) dan dapat mudah terjadi diantara orang–orang yang bertemu. Oleh Devito (dalam Liliweri, 1991:12) menyatakan komunikasi antar pribadi merupakan pengiriman pesan dari seseorang dan diterima orang lain dengan efek
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

dan umpan balik langsung. Sedangkan menurut Tan (dalam Liliweri, 1991:12) mengemukakan komunikasi antar pribadi adalah komunikasi tatap muka antara dua atau lebih orang.
Berdasarkan definisi diatas yang dibuat para ahli tersebut komunikasi antar pribadi terjadi secara spontan, tatap muka dan dialogis memungkinkan terjadinya kontak langsung. Oleh sebab itulah bentuk komunikasi ini dianggap ampuh untuk mengubah sikap, pandangan dan perilaku orang lain.
Dengan situasi tatap muka dan terjadi kontak langsung memungkinkan komunikator untuk menguasai situasi komunikasi yang sedang berlangsung. Komunikan juga mengetahui dengan pasti apakah pesan–pesan yang disampaikannya itu diterima dengan baik ataupun di tolak, berdampak positif maupun negatif. Jika tidak diterima maka komunikator bisa mendapatkan respon pertanyaan balik dari komunikan.
Sehubungan dengan penelitian yang dimaksud berkenaan dengan komunikasi tatap muka, maka keistimewaan komunikasi tatap muka adalah efek dan umpan balik antara komunikator dan komunikan. Aksi dan reaksi verbal dan non verbal kelihatan karena jarak fisik komunikator dan komunikan dekat. Komunikasi tatap muka tersebut berlangsung secara terus menerus hingga pada akhirnya mengembangkan komunikasi antar pribadi yang dapat memuaskan kedua belah pihak.
Oleh sebab itu komunikasi antar pribadi yang efektif adalah komunikasi yang dilakukan secara tatap muka dan berkomunikasi secara langsung sehingga bisa meminimalisir rintangan yang ada antara komunikator dan komunikan. Dan komunikasi antarpribadi terus tetap dikembangkan oleh komunikan pada saat
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

komunikasi berlangsung, sehingga tercipta suatu ketertarikan secara psikologis antara komunikator dan komunikan, menumbuhkan kesamaan dan mungkin sama–sama dalam bertindak.
Ada tujuh karakteristik yang menunjukkan bahwa suatu komunikasi antara dua individu merupakan komunikasi antar pribadi. Tujuh karakteristik komunikasi antar pribadi itu adalah (Hardjana, 2003:86-90) sebagai berikut :
1. Melibatkan di dalamnya perilaku verbal dan non verbal. 2. Melibatkan perilaku spontan, tepat, dan rasional. 3. Komunikasi antarpribadi tidaklah statis, melainkan
dinamis. 4. Melibatkan umpan balik pribadi, hubungan interaksi dua
orang atau lebih, dan koherensi (pernyataan yang satu harus berkaitan dengan yang lain sebelumnya). 5. Komunikasi antarpribadi dipandu oleh tata aturan yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. 6. Komunikasi antarpribadi merupakan suatu kegiatan dan tindakan. 7. Melibatkan di dalamnya bidang persuasif.
2.2.3 Self Disclosure Berbeda sedikit dengan Liliweri (1991:49), mengemukakan bahwa Teori
Self Disclosure ini adalah teori yang dikembangkan atas hubungan manusia dan memandangnya dari sisi psikologi. Sehingga alter-teori Self Disclosure ini disebut sebagai Teori Jendela Johari (Johari’s Window). Para pakar psikologi mengemukakan bahwa model teoritis yang dia ciptakan ini merupakan dasar untuk memahami dan menjelaskan interaksi antar pribadi secara manusiawi. Johari mengemukakan bentuk kuadran sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Teori Johari Window

Di ketahui oleh orang lain
Di ketahui oleh orang lain

Terbuka Tersembunyi

Buta Tidak Dikenal

Gambar 1

Sumber : Sasa Djuarsa senjaya dkk, Teori Komunikasi (Jakarta:universitas Terbuka, 2007, p2.45)

Jendela Johari Window terdiri dari 4 kotak. Masing-masing kotak berfungi menjelaskan dan memahami diri sendiri dalam kaitanya dengan orang lain. Asumsi Johari Window setiap individu dapat memahami diri sendiri maka dia dapat mengendalikan sikap dan tingkah lakunya di saat berhubungan dengan orang lain.
Pada bingkai 1, menunjukkan orang yang terbuka kepada orang lain. Hal tersebut terjadi karena dua pihak (saya dan orang lain) sama–sama mengetahui informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, gagasan, dan lain–lain. Johari menyebutnya sebagai bidang terbuka, bidang yang ideal untuk komunikasi antar pribadi. Kemudian bingkai 2, adalah bidang buta, merupakan bidang yang menjelaskan bahwa orang yang tidak mengetahui dirinya sendiri tetapi orang lain banyak tahu tentang dia. Lalu di bingkai 3, dimana seseorang menyembunyikan banyak hal tentang dirinya dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Pada bingkai terakhir atau keempat, yang menunjukkan berbagai keadaan diri sendiri yang tidak diketahui oleh diri sendiri dan orang lain.
Jika salah satu bingkai diperbesar maka akan terjadi ketimpangan. Kecuali hal tersebut terjadi pada bingkai yang pertama. Karena telah ada dua pihak (saya

Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

dan orang lain) yang sama–sama mengakui dan mengetahui, sehingga pantas disebut orang yang open minded person. Apabila bingkai kedua diperbesar maka, manusia tersebut sering disebut sebagai orang yang suka menonjolkan diri terhadap orang lain, tetapi tidak mengetahui dirinya sendiri. Pada bingkai ke 3 diperbesar, maka orang itu tipikal introvert, dia selalu menyendiri tanpa ada teman. Kemudian di bingkai keempat adalah tipikal orang yang mengetahui banyak hal tentang orang lain, tetapi dia juga tidak mau terbuka untuk orang lain.
Berdasarkan pemikiran yang diciptakan Sidney Jourard, membuat Altmen dan Taylor mengembangkan teori tersebut menjadi teori Penetrasi Sosial. Dimana melihat dari sisi lain bahwa orang lain mencoba masuk kedalam diri sosial orang lain tanpa merasa terganggu dengan kehadirannya.
Dasar dari pemikiran teori ini adalah jika keterbukaan semakin tinggi maka hubungan akan semakin membaik. Dalam teori ini, manusia selaku petugas dan narapidana akan mempertimbangkan untung ruginya dirinya ketika membuka suatu hubungan dengan manusia lainnya. Pengertian teori ini secara umum adalah semakin sering kita berhubungan dengan orang lain, maka semakin sering pua kita membuka diri untuk mendapatkan hubungan yang lebih baik.
Altmen dan Taylor mendapatkan ide teori ini dengan perumpamaan sebuah bawang. Menurut mereka hubungan manusia itu seperti bawang. Pada awalnya kulitnya terpisah–pisah, sehingga masih sulit untuk menemukan kesamaan sifat dan pengalaman (frame of reference & experience). Namun, ketika keduanya telah membuka kulitnya satu persatu dan makin kedalam, maka akan kelihatan kesamaan diantara mereka. Kulit bagian luar adalah perumpamaan dari apa yang bisa terlihat dan diketahui sebelum hubungan meningkat. Ketika sampai
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

pada bagian inti, informasi, perasaan, kehidupan pribadi dan lain sebagainya akan terungkap. Altmen dan Taylor mengatakan bahwa ketika mereka merasa nyaman dan untung, mereka akan semakin terbuka. Jika mereka merasa dirugikan dari hubungan tersebut, maka mereka tidak akan ragu–ragu menutup dirinya. Hal ini sangat sesuai dengan pernyataan ciri–ciri komunikasi antar pribadi yang bisa menghasilkan suatu hal yang tidak terduga.
2.2.3.1 Teori Penetrasi Sosial Altmen dan Taylor Teori–teori lain yang berkaitan dengan penelitian ini adalah: Teori
Penetrasi Sosial, teori ini dicetuskan oleh Irwin Altman dan Darwis Taylor pada tahun 1973. Teori ini berintisarikan tentang hubungan yang berkembang dari tahap perkenalan ke tahap yang lebih dalam. Teori Penetrasi Sosial ini merupakan pengembangan dari Teori Self Disclosure.
Self Disclosure adalah salah satu teori dalam komunikasi antar pribadi yang dikemukakan oleh Sidney Jourard pada tahun 1958. Teori ini menyatakan bahwa manusia memerlukan pembagian informasi tentang dirinya kepada orang lain. Teori Self Disclosure lebih banyak berisikan kejujuran, kenyataan dan perasaan. Teori ini memerlukan rasa percaya kepada petugas yang tinggi, karena menyangkut informasi yang akan diberikan kepada para narapidana.
Teori Self Disclosure diperlukan oleh setiap manusia, karena bisa meredam rasa gelisah dan stress dengan berbagi informasi dengan orang lain. Dengan berbagai informasi orang lain kita bisa mencegah hal–hal yang buruk terjadi pada diri kita. Efek negatif dari Teori Self Disclosure ini adalah narapidana
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

mengalami penurunan keawasan diri mereka sendiri, karena adanya informasi pribadi yang dibagikan oleh para petugas.
Aspek–aspek yang berada dalam teori ini adalah : 1. Nilai Penghargaan
Dilihat upaya narapidana menyelesaikan sesuatu pekerjaan yang di berikan oleh petugas lapas serta berkelakuan baik berupa pujian dan sanjungan serta potongan hukuman. 2. Kesediaan Informasi Jumlah informasi yang diberikan dalam bentuk kedekatan pribadi. Berapa besar informasi pribadi yang dibagikan kepada petugas dengan kejujuran narapidana. 3. Aksesibilitas Kemudahan mendapat informasi para narapidana dari petugas atau orang lain serta pihak keluarga narapidana dan tahanan. Seperti pembinaan dan kunjungan keluarga. 4. Kejujuran Interaksi antar pihak keluarga narapidana dengan petugas menciptakan suatu pesan yang sangat membantu tugas para petugas, dalam mengetahui kepribadian para narapidana dari pihak keluarga sehingga nantinya dapat proses pembinaan dapat terlaksana dengan lancar. 5. Kesukarelaan Kegiatan yang dilakukan oleh para narapidana berdasarkan niat sukarela dan tanpa ada paksaan. 6. Norma Sosial
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

Pengambilan keputusan para narapidana berdasarkan informasi norma sosial yang berlaku di RUTAN. 7. Efektifitas Hubungan yang dibangun atas dasar keakraban petugas dan para narapidana dapat menimbulkan motivasi dalam diri para narapidana untuk merubah sikap menjadi lebih baik. Manusia sering sekali menyatakan mereka tidak akan membagi informasi pribadi mereka, namun tanpa disadari mereka membuat puisi, lagu, catatan diari ataupun catatan kecil tentang perasaan mereka. Karena kedekatan emosional, manusia bisa melakukan Self Disclosure kepada orang lain melalui komunikasi antar pribadi. Tidak sedikit dari orang yang berpikir dan berpendapat bahwa dalam Lapas tidak adanya pembinaan dan komunikasi yang terjadi antar petugas dan para tahanannya tetapi hal itu dapat dilihat dari seseorang yang telah selesai menjalankan hukuman dari RUTAN dan terjun di lingkungan masyarakat terbukti tidak ada kecanggungan dalam melakukan komunikasi dengan masyarakat sekitarnya.
2.2.4 Sikap
Sikap dalam definisinya telah di definisikan dalam berbagai versi oleh para ahli, salah satunya Chave, dkk (1928) (di dalam Azwar, 2011:5), menyatakan sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksudkan merupakan
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya responnya. Di dalam pengertian dan definisi sikap terdapat juga struktur sikap dan komponenkomponennya.
Definisi Sikap berdasarkan uraian Martin Fishbein (1963), sikap adalah suatu kecenderungan untuk memberikan reaksi yang menyenangkan, tidak menyenangkan atau netral terhadap suatu objek atau sebuah kumpulan objek. Dalam pemakaian kata, objek mempunyai makna sebuah stimulus yang akan ditujukan.
Struktur sikap mengikuti skema triadik, struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen konatif.
1. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang di percayai oleh individu pemilik sikap.
2. komponen akfetif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional.
3. komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berprilaku tertentu sesuai dengan sikap yang di miliki seseorang.
Sikap pada umumnya dimiliki oleh setiap individu, sikap juga dikatakan sebagai suatu respon evaluatif. Respon hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya sebuah reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap timbul karena proses evaluasi dalam bentuk diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus yang didalamnya berbentuk nilai baik-buruk,
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

positif-negatif, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap.
Sikap juga merupakan semacam kesiapan, untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu dan dapat dikatakan bahwa macam kesiapan yang dimaksudkan ini merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila seorang individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menekan dan menghendaki adanya respon dari stimulus terhadap sikap.
Dilihat dari pandangan luas, sikap mempunyai arah, artinya sikap terpilah pada dua arah kesetujuan yaitu apakah setuju atau tidak setuju, apakah mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memihak terhadap sesuatu atau seseorang sebagai objeknya. Orang yang setuju, mendukung atau memihak terhadap suatu objek sikap, berarti memiliki sikap yang arahnya positif. Sebaliknya mereka yang tidak setuju atau tidak mendukung dikatakan memiliki sikap yang arahnya negatif.
Sikap memiliki intensitas, maksudnya jika dilihat dari kedalaman atau kekuatan sikap terhadap sesuatu belum tentu sama walaupun arahnya mungkin tidak berbeda. Dua orang yang memiliki ketidaksukaan yang sama, yaitu samasama memiliki sikap yang berarah negatif belum tentu sikap negatif tersebut sama intensitasnya. Orang pertama mungkin tidak setuju tapi orang kedua dapat saja sangat tidak setuju. Begitu juga sikap yang positif dapat berbeda kedalamnya bagi setiap orang, mulai dari agak setuju sampai pada kesetujuan yang ekstrim.
Sikap yang dilihat dari keluasan, maksudnya kesetujuan atau ketidak setujuan terhadap suatu objek sikap dapat mengenai hanya aspek yang sedikit dan sangat spesifik akan tetapi dapat pula mencakup banyak sekali aspek yang ada
Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara

pada objek sikap. Seseorang dapat mempunyai sikap favorabel terhadap program Keluarga Berencana (KB) secara menyeluruh, yaitu pada semua aspek dan kegiatan keluarga berencana sedangkan orang lain mungkin mempunyai sikap positif yang lebih terbatas (sempit) dengan hanya setuju pada aspek-aspek tertentu saja kegiatan program Keluarga Berencana tersebut.
Sikap juga memiliki konsistensi, maksudnya kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemuka

Dokumen yang terkait

Komunikasi Antarpribadi Penarik Becak Wanita (Studi Deskriptif Kualitatif Komunikasi Antarpribadi Penarik Becak Wanita Di Kampus Universitas Sumatera Utara)

0 52 117

Efektivitas Komunikasi Antarpribadi Dan Pembentukan Perilaku Narapidana (Studi Korelasional Mengenai Efektivitas Komunikasi AntarPribadi Terhadap Pembentukan Perilaku Narapida di LP Kelas II A Kotamadya Binjai)

2 41 123

Perilaku Komunikasi Narapidana Wanita (Studi Deskriptif perilaku Komunkasi Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Subang)

1 11 119

KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI PEMBINAAN PETUGAS LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM MEMBENTUK SIKAP POSITIF NARAPIDANA (Studi Pada Narapidana Narkoba Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Way Hui Bandar Lampung)

6 42 87

Komunikasi Antarpribadi Pasien Danperawat (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Komunikasi Antarpribadi Pasienrawat Inap Dan Perawat (Terapeutik) Di Rumah Sakit Setiabudi Medan)

1 19 111

KOMUNIKASI ANTARPRIBADI ANTARA FISIOTERAPIS DAN PASIEN (Studi Deskriptif Kualitatif Komunikasi Antarpribadi Fisioterapis untuk Memotivasi Komunikasi Antarpribadi Antara Fisioterapis Dan Pasien (Studi Deskriptif Kualitatif Komunikasi Antarpribadi Fisioter

5 10 13

KOMUNIKASI ANTARPRIBADI KONSELOR TERHADAP ODHA (Studi Deskriptif Kualitatif Komunikasi Antarpribadi Konselor terhadap KOMUNIKASI ANTARPRIBADI KONSELOR TERHADAP ODHA (Studi Deskriptif Kualitatif Komunikasi Antarpribadi Konselor terhadap ODHA di Klinik Vol

0 2 14

Pengembangan Hubungan dalam Komunikasi Antarpribadi Mantan Narapidana Perempuan Bugis-Makassar

0 0 13

Komunikasi Antarpribadi Dan Perubahan Sikap Narapidana (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil)

0 0 21

Komunikasi Antarpribadi Dan Perubahan Sikap Narapidana (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil)

0 0 11

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3874 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1030 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23