Efektivitas Komunikasi Antarpribadi Dan Pembentukan Perilaku Narapidana (Studi Korelasional Mengenai Efektivitas Komunikasi AntarPribadi Terhadap Pembentukan Perilaku Narapida di LP Kelas II A Kotamadya Binjai)

EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DAN PEMBENTUKAN
PERILAKU NARAPIDANA
(Studi Korelasional Mengenai Efektivitas Komunikasi AntarPribadi
Terhadap Pembentukan Perilaku Narapida di LP Kelas II A Kotamadya
Binjai)

SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan
Untuk Menyelesaikan Pendidikan Strata Satu (S1)
Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Disusun oleh:
Emma Latersia Sembiring
050904009

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI

Skripsi ini berjudul efektivitas komunikasi antarpribadi dan pembentukan
perilaku narapidana (Studi korelasional mengenai efektivitas komunikasi
antarpribadi terhadap pembentukan perilaku narapidana di LP Kelas II A
Kotamadya Binjai). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara
efektivitas komunikasi antarpribadi terhadap pembentukan perilaku narapidana di
LP Kelas II A Kotamadya Binjai. Objek penelitian adalah narapidana yang berada
di Blok B LP Kelas II A Kotamadya Binjai.
Teori yang digunakan adalah komunikasi, komunikasi antarpribadi,
efektivitas komunikasi antar pribadi, self disclosure, pembentukan perilaku dan
narapidana.
Populasi dalam penelitian ini berjumlah 375 orang dengan rumus Arikunto
sebesar 15% diperoleh sampel sebanyak 56 orang. Langkah-langkah dalam
pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Lalu peneliti melakukan
pengumpulan data di lapangan dan kepustakaan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional.
Metode ini digunakan untuk mengetahui hubungan di antara variabel-variabel
penelitian yaitu variabel X (komunikasi antarpribadi) dan variabel Y
(pembentukan perilaku narapidana). Dalam menganalisis data penelitian
digunakan tabel tunggal dan tabel silang sedangkan untuk menguji hipotesis
penelitian digunakan tes statistic Spearman melalui SPSS (Statistical Product
Service Solution) 16.00. Hasil pengujian menunjukkan hubungan bahwa hipotesis
(Ha) diterima (0,657), yaitu terdapat hubungan yang cukup berarti dilihat dari
nilai koefisien korelasi. Artinya bahwa terdapat hubungan yang cukup berarti
antara efektivitas komunikasi antarpribadi terhadap pembentukan perilaku
narapidana di LP Kelas II A Kotamadya Binjai.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat, rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
judul Efektifitas Komunikasi Antarpribadi dan Pembentukan Perilaku Narapidana
(studi korelasional mengenai efektivitas komunikasi antarpribadi Terhadap
pembentukan perilaku narapida di LP kelas II A kotamadya Binjai). guna
memenuhi syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Departemen Ilmu
Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada
kedua orang tua, Bapak NG. Sembiring dan Ibu R. BR Ginting yang selalu
menjaga, mendoakan, memberi nasehat, semangat serta dukungan moral dan
materi. Sungguh tiada kata yang bisa tergambarkan betapa berharganya kedua
orang tua bagi peneliti. Lalu peneliti juga ingin mengucapkan terima kasih buat
almarhum K’Fransisca dan K’Ninta Sembiring yang selalu memberikan semangat
dan dukungan untuk peneliti.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. DR. Arif Nasution, MA, selaku Dekan FISIP USU.
2. Bapak Drs. Amir Purba, MA, selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, selaku

Sekretaris Departemen Ilmu

Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera
Utara.
4. Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos, selaku dosen pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktu dan dengan sabar membimbing serta memberi
masukan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Drs Mukti Sitompul, M.Si, selaku dosen wali penulis.
6. Terima kasih buat para dosen Departemen Ilmu Komunikasi yang telah
memberikan ilmu kepada peneliti. Terima kasih buat semangat, nasehat,
motivasi dan arahannya selama proses belajar mengajar.
7. Bapak Surung selaku kepala penjara LP Kelas II A Binjai

Universitas Sumatera Utara

8. Kak Icut, Kak Maya, Kak Rotua dan Kak Ros yang telah membantu dalam
proses administrasi.
9. Buat keponakanku tercinta (Puteri, Lady, Dara, Rea dan Tita). Terima
kasih atas dukungan kalian.
10. Buat teman-teman peneliti angkatan 2005 Ilmu Komunikasi FISIP USU:
Almarhum Cory, Dania, Lia, Arimbie, Isabela, Maria, Patricia, Anggie,
Fika, Yogi, Gali, Hendra, Wahyu, Aditiya, Nuri, Irene, yang sedang
berjuang mengerjakan skripsi.Lanjutkan! dan teman-teman lainnya yang
tidak dapat disebutkan satu per satu.
11. Buat Rotua yang cantik, Eva yang kecil , Nova dan Lora yang cerewet,
para temanku yang dengan baik hati dan sabar membantu dan mengajari
menyelesaikan penelitian ini.
12. Buat responden, terima kasih telah meluangkan waktunya untuk menjawab
kuesioner yang diberikan penulis.
13. Kepada pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, penulis
mengucapkan

terima

kasih

banyak

atas

kepeduliannya

dalam

menyelesaikan skripsi ini.
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu
saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi
kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Penulis, Juni 2009

Emma Latersia Sembiring

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ................................................................................................
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
I.1 Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
I.2 Perumusan Masalah.......................................................................... 5
I.3 Pembatasan Masalah ........................................................................ 5
I.4 Tujuan Penelitian ............................................................................. 6
I.5 Manfaat Penelitian ........................................................................... 6
I.6 Kerangka Teori ................................................................................ 7
I.6.1 Komunikasi ............................................................................ 7
I.6.2 Komunikasi Antarpribadi ....................................................... 8
I.6.3 Efektivitas KAP ..................................................................... 9
I.6.4 Self Disclosure ....................................................................... 9
I.6.5 Pembentukan Perilaku .......................................................... 11
I.6.6 Narapidana ........................................................................... 13
I.7 Kerangka Konsep ............................................................................ 13
I.8 Model Teoritis ................................................................................. 14
I.9 Operasional Variabel ....................................................................... 15
I.10 Defenisi Operasional...................................................................... 16
I.11 Hipotesis ........................................................................................ 18

BAB II URAIAN TEORITIS .......................................................................... 19
II.1 Komunikasi ................................................................................. 19

Universitas Sumatera Utara

II.1.1 Pengertian dan Proses Komunikasi ................................... 19
II.2 Komunikasi AntarPribadi ............................................................ 22
II.2.1 Pengertian KAP ............................................................... 22
II.2.2 Sifat-Sifat KAP ................................................................ 24
II.2.3 Komponen dan Proses KAP ............................................. 24
II.3 Efektivitas KAP ........................................................................... 25
II.4 Self Disclosure ............................................................................ 29
II.4.1 Dimensi Self Disclosure ................................................... 30
II.5 Pembentukan Perilaku ................................................................. 34
II.6 Narapidana .................................................................................. 44

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................... 46
III.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ....................................................... 46
III.1.1 Sejarah Singkat LP Kelas II A Kotamadya Binjai......... 46
III.2 Metode Penelitian ..................................................................... 51
III.3 Populasi dan Sampel ................................................................. 51
III.3.1 Populasi ........................................................................ 51
III.3.2 Sampel .......................................................................... 52
III.4 Teknik Penarikan Sampel.......................................................... 52
III.5 Teknik Pengumpulan Data ........................................................ 53
III.6 Teknik Analisis Data................................................................. 54

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................... 56
IV.1 Pelaksanaan Pengumpulan Data................................................... 56
IV.1.1 Tahap Awal ..................................................................... 56
IV.1.2 Pengumpulan Data ........................................................... 56
IV.2 Teknik Pengolahan Data .............................................................. 57
IV.3 Analisis Tabel Tunggal ................................................................ 58
IV.3.1 Karakteristik Responden .................................................. 58
IV.3.2 KAP ................................................................................. 63
IV.3.3 Pembentukan Perilaku Narapidana ................................... 74
IV.4 Analisis Tabel Silang ................................................................... 86

Universitas Sumatera Utara

IV.5 Pengujian Hipotesis ..................................................................... 94
IV.6 Pembahasan................................................................................. 97

BAB V PENUTUP ......................................................................................... 100
V.1 Kesimpulan .................................................................................. 100
V.2 Saran ............................................................................................ 101

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Tabel 1

Variabel Operasional .................................................................. 15

Tabel 2

Perilaku Defensif dan Suportif dari Jack Gibb............................. 28

Tabel 3

Usia Responden .......................................................................... 59

Tabel 4

Agama ........................................................................................ 60

Tabel 5

Tingkat Pendidikan ..................................................................... 61

Tabel 6

Status Perkawinan....................................................................... 62

Tabel 7

Dialog Sebagai Media KAP ........................................................ 63

Tabel 8

Keterbukaan antara narapidana dengan petugas LP ..................... 64

Tabel 9

Keakraban dengan petugas LP .................................................... 65

Tabel 10

Solusi setelah berkonsultasi dengan petugas LP .......................... 66

Tabel 11

Dukungan lingkungan terhadap proses KAP ............................... 67

Tabel 12

Dukungan petugas LP terhadap semangat narapidana ................. 68

Tabel 13

Rasa dukungan positif yang diberikan petugas LP ...................... 69

Tabel 14

Rasa positif setelah berkonsultasi ................................................ 70

Tabel 15

Kesamaan cara pandang .............................................................. 71

Tabel 16

Tidak ada kekuatan cara pandang yang sama .............................. 72

Tabel 17

Tidak merasakan pembinaan yang baik di LP.............................. 73

Tabel 18

Kenyamanan akan fasilitas kerohanian ....................................... 74

Tabel 19

Kenyamanan akan fasilitas olahraga............................................ 75

Tabel 20

Kenyamanan akan fasilitas keterampilan ..................................... 76

Tabel 21

Konsultasi dapat membentuk kerohanian .................................... 77

Tabel 22

Konsultasi dapat membentuk etika .............................................. 78

Tabel 23

Konsultasi dapat membentuk pola hidup ..................................... 79

Tabel 24

Konsultasi dapat membentuk keterampilan ................................. 80

Tabel 25

Keaktifan dalam kegiatan di LP .................................................. 81

Tabel 26

Pembentukan perilaku kerohanian............................................... 82

Tabel 27

Pembentukan perilaku etika ........................................................ 83

Universitas Sumatera Utara

Tabel 28

Pembentukan perilaku pola hidup ............................................... 84

Tabel 29

Pembentukan perilaku keterampilan............................................ 85

Tabel 30

Hubungan antara dukungan LP terhadap semangat narapidana
dengan konsultasi dapat membentuk keterampilan ...................... 87

Tabel 31

Hubungan antara kesamaan cara pandang dengan pembentukan
perilaku etika…………………… ............................................... 90

Tabel 32

Hubungan antara tidak merasakan pembinaan dengan baik di LP
dengan pembentukan perilaku pola hidup.................................... 92

Tabel 33

Hasil uji korelasi ......................................................................... 95

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Model Teoritis ......................................................................... 14
Gambar 2 Johari Window......................................................................... 29
Gambar 3 Struktur organisasi LP Kelas II A Kotamadya Binjai................ 48

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI

Skripsi ini berjudul efektivitas komunikasi antarpribadi dan pembentukan
perilaku narapidana (Studi korelasional mengenai efektivitas komunikasi
antarpribadi terhadap pembentukan perilaku narapidana di LP Kelas II A
Kotamadya Binjai). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara
efektivitas komunikasi antarpribadi terhadap pembentukan perilaku narapidana di
LP Kelas II A Kotamadya Binjai. Objek penelitian adalah narapidana yang berada
di Blok B LP Kelas II A Kotamadya Binjai.
Teori yang digunakan adalah komunikasi, komunikasi antarpribadi,
efektivitas komunikasi antar pribadi, self disclosure, pembentukan perilaku dan
narapidana.
Populasi dalam penelitian ini berjumlah 375 orang dengan rumus Arikunto
sebesar 15% diperoleh sampel sebanyak 56 orang. Langkah-langkah dalam
pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Lalu peneliti melakukan
pengumpulan data di lapangan dan kepustakaan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional.
Metode ini digunakan untuk mengetahui hubungan di antara variabel-variabel
penelitian yaitu variabel X (komunikasi antarpribadi) dan variabel Y
(pembentukan perilaku narapidana). Dalam menganalisis data penelitian
digunakan tabel tunggal dan tabel silang sedangkan untuk menguji hipotesis
penelitian digunakan tes statistic Spearman melalui SPSS (Statistical Product
Service Solution) 16.00. Hasil pengujian menunjukkan hubungan bahwa hipotesis
(Ha) diterima (0,657), yaitu terdapat hubungan yang cukup berarti dilihat dari
nilai koefisien korelasi. Artinya bahwa terdapat hubungan yang cukup berarti
antara efektivitas komunikasi antarpribadi terhadap pembentukan perilaku
narapidana di LP Kelas II A Kotamadya Binjai.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang masalah
Narapidana sebagai orang-orang yang dinyatakan bersalah merupakan
orang-orang yang mengalami kegagalan dalam menjalani hidup bermasyarakat.
Mereka gagal memenuhi norma-norma yang ada dalam masyarakatnya, sehingga
pada akhirnya gagal menaati aturan-aturan dan hukum yang berlaku dalam
masyarakat. Kegagalan seseorang dalam bidang hukum disebabkan oleh banyak
hal, antara lain karena tidak terpenuhinya kebutuhan biologis atau sosial
psikologinya. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut dapat mengakibatkan
seseoarang menjadi nekad lalu melakukan perbuatan yang melanggar hukum.
Untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya mereka dimasukkan ke lembaga
pemasyarakatan. Hidup dengan peraturan tata

tertib yang ketat dan harus

dipatuhi. Kebebasaan bergeraknya dibatasi, bergabung dengan orang-orang yang
perasaan terancam yang berpikirkan normal mengginkan hidup demikian.
Seorang pelanggar hukum yang menginjakkan kaki kedalam tembok
penjara akan mengalami masa krisis diri dan perasaan menolak. Keadaan seperti
itulah yang dapat meruntuhkan kekuatan mental seseorang yang nampak pada
pernyataan jiwa dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan. Hal inilah yang perlu
diperbaiki dalam pembinaan di lembaga pemasyarakatan agar narapidana
memiliki sikap dan mental yang baik.

Universitas Sumatera Utara

Lembaga pemasyarakatan (LP) pada awalnya merupakan sistem
kepenjaraan, sebagai pelaksana pidana hilang kemerdekaan. Sistem kepenjaraan
berasal dari pandangan individualisme yang memandang dan memperlakukan
orang terpidana tidak sebagai anggota masyarakat dan merupakan suatu
pembalasan dendam masyarakat semata-mata. Hal tersebut tidak sesuai dengan
tingkat peradaban serta martabat bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila,
tegasnya pada sila kedua yakni kemanusian yang adil dan beradab. Menyadari
hal tersebut, sejak 1964 sistem kepenjaraan ditinggalkan dan diganti dengan
sistem pemasyarakatan yang ide dan konsepsi dasarnya dicetuskan oleh DR.
Soehardjo, SH. Sistem pemasyarakatan timbul karena adanya suatu gagasan
bahwa pemasyarakatan dijadikan tujuan daripada pidana penjara. Maka sistem
pemasyarakatan merupakan suatu cara pembinaan terhadap peara pelanggar
hukum yang melibatkan semua potensi dalam masyarakat, petugas, dan individu
pelanggar hukum yang bersangkutan sebagai suatu keseluruhan sehingga objek
semata.
Pada tahun 1965, sejak diterima gagasan pemasyarakatan, dapat dikatakan
dimulainya babakan baru dalam penanganan terpidana di dalam lembaga
pemasyarakatan. Perubahan tersebut antara lain terhadap pandangan terpidana
dari orang yang dijaga menjadi orang yang dibina, sedangkan petugas penjara
berubah dari orang yang menjaga menjadi orang yang membina (Warta
pemasyarakatan, 2008: 22-23).
Pembinaan dalam lembaga pemasyarakatan tidak terlepas dari proses
komunikasi. Dengan berkomunikasi orang dapat mengerti dirinya sendiri dan
mengerti orang lain, juga dapat memahami apa yang dibutuhkannya dan apa

Universitas Sumatera Utara

yang dibutuhkan orang lain. Manusia yang normal akan selalu terlibat
komunikasi

dalam

melakukan

interaksi

dengan

sesamanya

sepanjang

kehidupannya. Melalui komunikasi pula, segala aspek kehidupan manusia di
dunia tersentuh. Besarnya peranan komunikasi dalam kehidupan manusia
memancing timbulnya penelitian secara ilmiah untuk mengetahui jumlah waktu
yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Bentuk komunikasi yang begitu
akrab di dalam interaksi sesama manusia adalah bentuk komunikasi antar
pribadi.
Komunikasi antar pribadi (KAP) adalah komunikasi seputar diri seorang,
baik dalam fungsinya sebagai komunikator maupun komunikan ( Effendy, 2003
: 57 ). Komunikasi antar pribadi sebagai salah satu bentuk komunikasi adalah
salah satu cara yang dipakai dalam pembinaan di lembaga pemasyarakataan.
Sesuai dengan cara pembinaan yang melibatkan semua unsur (masyarakat,
petugas dan nara pidana) maka proses komunikasi antar pribadi yang terjalin di
lembaga pemasyarakataan diharapkan dapat berperan dalam membina dan
membentuk kepribadian narapidana.
Peranan Komunikasi Antarpribadi yang dimaksudkan adalah dapat
mengajak atau memotivasi napi untuk berubah baik sikap atau tingkah lakunya,
maupun pola pikirnya dari semula selalu berpikiran jahat menjadi baik serta
mampu menumbuhkan rasa harga diri napi. Dengan demikian setelah masa
hukuman napi selesai, dia benar-benar telah siap untuk hidup ditengah-tengah
masyarakat.
Sebagai mahluk individu, ia merupakan suatu kesatuan jiwa raga yang
berkegiatan secara keseluruhan dan sebagai mahluk sosial manusia adalah

Universitas Sumatera Utara

bagian dari anggota masyarakat yang selalu berinteraksi. Karena justru dalam
interaksi itulah manusia dapat merealisasikan kehidupan secara individual.
Narapidana sebagai mahluk sosial adalah bagian dari masyarakat juga,
bedanya dengan anggota masyarakat lainnya adalah untuk sementara waktu
kebebasan bergerak mereka dicabut. Walaupun demikian sebagai mahluk sosial
yang berinteraksi narapidana menghendaki dapat bergaul dengan masyarakat
sekitarnya, ingin kehadirannya diterima dan diperhatikan orang lain.
Peneliti tertarik meneliti mengenai efektivitas komunikasi antarpribadi
terhadap pembentukan perilaku narapida di LP Kelas II A Kotamadya Binjai,
karena narapidana identik sebagai orang yang diasingkan dari masyarakat luas
baik selama di dalam penjara maupun sesudah dia bebas dari penjara. Jadi
peneliti ingin mengetahui bagaimana pembinaan dan pembetukan pribadi
narapidana selama menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan.
Alasan peneliti meneliti di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Binjai,
karena adanya akses yang mempermudah peneliti untuk meneliti di LP tersebut.
Seperti diketahui, untuk meneliti di Lembaga Pemasyarakatan tidaklah mudah
dan sangat beresiko.
Berdasarkan hasil survey awal peneliti, penempatan napi di LP ini dibagi
menjadi 3 (tiga) bagian atau blok, yaitu pertama, Blok A diperuntukan bagi
orang-orang yang masih dalam proses penyidikan kepolisian (dalam status
tahanan). Kedua, Blok B diperuntukan bagi orang-orang yang sudah
mendapatkan putusan hukuman dari hakim (dalam status pidana). Ketiga, Blok C
diperuntukan bagi tahanan wanita. Peneliti memilih utnuk meneliti Blok B,

Universitas Sumatera Utara

karena napi yang ditepatkan di Blok B adalah mereka yang telah mendapat
putusan hukuman dari hakim.
Bimbingan yang dilakukan petugas LP saat melaksanakan tugasnya berupa
pembimbingan moral, agama, keterampilan dan permasyarakatan. Bimbingan
moral dapat berupa pembentukan etika antara sesama narapidana, hubungan
narapidana dengan masyarakat sekitar; diberikan dbimbingan agama yaitu
pembinaan dalam agama; keterampilan yang diberikan pada narapidana dapat
berupa keterampilan menjadi tukang bangunan, mengukir, elektrik dan olah raga;
dan permasyarakatan.
Berdasarkan pemaparan di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti
tentang efektivitas komunikasi antarpribadi terhadap pembentukan perilaku nara
pidana di LP Kelas II A Kotamadya Binjai.

1.2 Perumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, peneliti
merumuskan masalah sebagai berikut, “Sejauhmanakah efektivitas komunikasi
antarpribadi berpengaruh terhadap pembentukkan perilaku narapidana di LP
Kelas II A Kotamadya Binjai?”

I.3 Pembatasan Masalah
Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga
dapat mengaburkan penelitian, maka penulis membatasi masalah yang akan
diteliti. Adapun pembatasan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

1. Penelitian ini dibatasi pada efektivitas komunikasi antarpribadi yang
dilakukan petugas/pembina dalam melakukan bimbingan kepada nara
pidana.
2. Objek penelitian adalah narapidana yang berada di Blok B LP Kelas II A
Kotamadya Binjai.

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan

penelitian

merupakan

arah

pelaksanaan

penlitian,

yang

menguraikan apa yang akan dicapai dan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan
peneliti dan pihak lain yang berhubungan dengan penelitian tesebut :
Adapun yang menjadi tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui proses komunikasi antarpribadi yang dilakukan
petugas/pembina dalam melakukan bimbingan kepada narapidana
2. Untuk mengetahui pembentukan perilaku yang dirasakan napi, yang
meliputi aspek afektif, kognitif dan behavioral.
3. Untuk mengetahui pengaruh antara efektivitas komunikasi antarpribadi
terhadap pembentukan perilaku narapidana.

I.5 Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah :
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat menambah atau
mempeluas khasanah penelitian di Departemen Ilmu Komunikasi.
2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
peneliti mengenai komunikasi antar pribadi.

Universitas Sumatera Utara

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontibusi atau
masukan yang positif bagi LP Klas II A Kotamadya Binjai.

1.6 Kerangka Teori
Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir
dalam memecahkan atau menyoroti masalahnya. Untuk itu perlu disusun
kerangka teori (Nawawi, 1995 : 39). Kerangka teori merupakan landasan
berpikir untuk menggambarkan dari sudut mana peneliti melihat masalah yang
akan diteliti.

1.6.1 Komunikasi
Istilah komunikasi dalam bahasa inggris “communication” berasal dari
kata latin “communication” dan bersumber dari kata communis yang berarti
sama. Komunikasi merupakan unsur penting bagi kehidupan manusia. Hal ini
sangat diperlukan dalam rangka menjalin hubungan dengan sesama sehubungan
dengan sifat manusia sebagai mahluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang
lain. Komunikasi digunakan sebagai jembatan yang menghubungkan manusia
yang satu dengan yang lainnya (Effendy, 2003 : 27). Dewasa ini, ilmu komunikasi
berkembang menjadi ilmu yang dianggap penting sehubungan dengan dampak
sosial yang menjadi kendala bagi kehidupan manusia akibat perkembangan
teknologi.
Harold Lasswell (Mulyana, 2005 : 62), menerangkan cara terbaik untuk
menggambarkan komunikasi adalah dengan mnjawab pertanyaan-pertanyaan
berikut : Who Says What In Which Channel To Whom Wtih What Effect ? (Siapa

Universitas Sumatera Utara

Mengatakan Apa Melalui Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Efek Apa ?).
Jawaban bagi pertanyaan paradigma Lasswell merupakan unsur-unsur proses
komunikasi yang meliputi komunikator, pesan, media, komunikan dan efek
(Effendy, 2004 : 253).

I.6.2 Komunikasi Antarpribadi
Dikutip oleh Liliweri (1991 : 12), Devito menjelaskan komunikasi
merupakan pengiriman pesan dari seseorang dan telah diterima oleh orang lain
atau sekelompok orang lain dengan efek dan efek umpan balik yang berlangsung.
Untuk memperjelas pengertian komunikasi antarpribadi Devito memberikan
beberapa ciri komunikasi antar pribadi :
1. Keterbukaan
Komunikator dan komunikan saling mengungkapkan segala ide atau gagasan
bahwa permasalahan secara bebas (tidak ditutupi) dan terbuka tanpa rasa takut
atau malu, kedua-duanya saling mengerti dan memahami pribadi masing-masing.
2. Empati
Kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada orang lain.
3. Dukungan
Setiap pendapat, ide atau gagasan yang disampaikan mendapat dukungan dari
pihak-pihak yang berkomunikasi. Dengan demikian keinginan atau hasrat yang
ada dimotivasi untuk mencapainya. Dukungan membnatu seseorang untuk lebih
bersemangat dalam melaksanakan aktivitas serta meraih tujuan yang didambakan.
4. Rasa Positif

Universitas Sumatera Utara

Setiap pembicaraan yang disampaikan dapat tanggapan yang positif, rasa positif
menghindarkan pihak-pihak yang berkomunikasi untuk tidak curiga atau
berprasangka yang menggangu jalinan interaksi.

5. Kesamaan
Suatu komunikasi lebih akrab dan jalinan pribadi pun lebih kuat apabila memiliki
kesamaan tertentu seperti kesamaan pandangan, sikap, usia, ideologi dan
sebagainya.

I.6.3 Efektivitas komunikasi antarpribadi
Komunikasi antarpribadi merupakan bagian dari komunikasi, oleh karena
itu peneliti akan menjelaskan definisi komunikasi menurut (Devito, 1997 : 23),
dimana komunikasi didefinisikan sebagai tindakan, oleh satu orang atau lebih,
yang mengirimkan dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise),
terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada
kesempatan untuk melakukan umpan balik. Sedangkan, efektivitas komunikasi
antarpribadi didefinisikan sebagai taraf tercapainya tujuan komunikasi .(Devito,
1997 : 281). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa efektivitas komunikasi
antarpribadi merupakan taraf tercapainya tujuan komunikasi antara dua orang
yang mengirimkan dan menerima pesan, terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi
dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan
untuk melakukan umpan balik.

I.6.4 Self Disclosure

Universitas Sumatera Utara

Menurut Devito (1997 : 231-232), teori self disclosure atau pembukaan diri
merupakan proses mengungkapkan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi
yang sedang kita hadapi serta memberikan informasi guna memahami suatu
tanggapan terhadap orang lain dan sebaliknya. Membuka diri berarti membagikan
kepada orang lain perasaan kita terhadap suatu yang telah dikatakan atau
dilakukannya, atau perasaan kita terhadap suatu kejadian-kejadian yang baru saja
kita saksikan.
Beberapa manfaat dan dampak pembukaan diri terhadap hubungan antar
pribadi adalah sebgai berikut :
1. Pembukaan diri merupakan dasar bagi hubungan yang sehat antara dua
orang
2. Semakin kita bersikap terbuka kepada orang lain, maka orang tersebut
akan menyukai diri kita, sehingga ia akan semakin membuka diri kepada
kita.
3. Orang yang rela membuka diri kepada orang lain terbukti cenderung
memiliki sifat-sifat sebagai berikut : kompeten, terbuka, ekstrover,
fleksibel, adaptif dan inteligen.
4. Membuka

diri

pada

orang

lain

merupakan

dasar

relasi

yang

memungkinkan komunikasi intim baik dengan diri kita sendiri maupun
dengan orang lain.
5. membuka diri berarti berarti bersikap realistis, maka di dalam pembukaan
diri kita haruslah jujur, tulus, dan autentik.

Universitas Sumatera Utara

Teori Self Disclosure atau proses pengungkapan diri yang telah lama
menjadi fokus penelitian dan teori komunikasi mengenai hubungan merupakan
proses mengungkapkan informasi pribadi kita kepada orang lain dan seterusnya.

I.6.5 Pembentukan Perilaku
Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu
tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan
baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang
saling berinteraksi. Sering tidak disadari bahwa interaksi tersebut amat kompleks
sehingga kadang-kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang
menerapkan perilaku tertentu. Karena itu amat penting untuk dapat menelaah
alasan dibalik perilaku individu, sebelum ia mampu mengubah perilaku tersebut.
Skiner membedakan jenis perilaku menjadi :
a. Perilaku yang alami (innate behavior)
Perilaku alami yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan,
yaitu yang berupa refleks dan insting.
b. Perilaku operan (operant behavior).
Perilaku operan yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar.
Perilaku yang refleksif merupakan perilaku yang terjadi sebagai rekasi
secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme yang
bersangkutan (Walgito, 2003 : 18).
Perilaku manusia sebagian besar ialah berupa perilaku yang dibentuk,
perilaku yang dipelajari. Berkaitan dengan hal tersebut maka salah satu persoalan
ialah bagaimana cara membentuk perilaku itu sesuai dengan yang diharapkan

Universitas Sumatera Utara

(Walgito, 2003: 16 - 17). Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh
dengan kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang
diharapkan, akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut. pembentukan perilaku
dapat ditempuh dengan pengertian atau insight.
Ada tiga efek komunikasi yang mengetahui proses komunikasi,yaitu
proses perubahan (Rakhmat, 2004 : 30) :
a) Kognitif
Kognitif adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia
menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Di sini pesan yang
disampaikan komunikator ditujukan kepada pikiran si komunikan. Dengan
lain perkataan, tujuan komunikator hanyalah berkisar pada upaya mengubah
pikiran diri komunikan.
b) Afektif
Afektif lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Di sini tujuan
komunikator bukan hanya sekadar supaya komunikan tahu, tetapi tergerak
hatinya; menimbulkan perasaan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu, sedih,
gembira, marah, dan sebagainya.
c) Behavioral
Behavioral, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk
perilaku, tindakan, atau kegiatan.
Pembentukan

perilaku

juga

dapat

terjadi

karena

pengalaman

pribadi,pengalaman dari orang lain, atau karena rasa takut pada norma
masyarakat. Pada hal ini perubahan perilaku terjadi karena pengalaman pribadi.
Bagi individu yang bertanggung jawab penuh, serta tahu apa yang terbaik bagi

Universitas Sumatera Utara

dirinya, seharusnya individu mampu merencanakan perilaku yang lebih baik dan
kemudian mewujudkannya selama berada di dalam lembaga. Sama halnya seperti
narapidana yang di dalam Lapas yang pada akhirnya mengambil keputusan untuk
menolak

melakukan

kesalahannya

lagi

setelah

keluar

dari

lembaga

pemasyarakatan. Didalam Lapas narapidana giat mengikuti berbagai kegiatan
yang berhubungan dengan aksi jasmani dan rohani dalam membentuk perubahan
prilaku mereka selama di dalam Lapas, sehingga terbentuk perilaku yang lebih
baik dari sebelumnya.

I.6.6 Narapidana
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Narapidana merupakan istilah
yang diberikan kepada orang-orang yang telah terbukti bersalah secara hukum,
dan sudah dijatuhi vonis hukuman berupa kurungan penjara atau hukuman lainnya
sesuai dengan pasal dalam undang-undang hukum pidana yang telah dilanggarnya
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001 : 612).

1.7 Kerangka Konsep.
Teori-teori yang dijadikan landasan pada kerangka teori harus dapat
menghasilkan beberapa konsep yang disebut dengan kerangka konsep. Menurut
Nawawi (1995 : 56) kerangka konsep merupakan hasil pemikiran rasional yang
bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan
dicapai. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka harus
dioperasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel.

Universitas Sumatera Utara

Pembatasan konsep dalam penelitian ini tidak saja untuk menghindari
salah maksud dalam memahami konsep penelitian dalam membatasi penelitian,
tapi batasan konsep diperlukan untuk penjabaran variabel penelitian maupun
indikator variabel (Bungin 2005: 92).

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Variabel Bebas (X)
Variabel bebas adalah segala gejala, faktor, atau unsur yang menentukan
atau mempengaruhi munculnya variabel kedua disebut variabel terikat. Tanpa
variabel ini maka variabel berubah sehingga akan muncul menjadi variabel
terikat yang berbeda atau yang lain atau bahkan sama sekali tidak ada yang
muncul (Nawawi, 1995 : 58).
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah efektifitas komunikasi antarpribadi.
2. Variabel Terikat (Y)
Variabel terikat adalah sejumlah gejala atau faktor maupun unsur yang ada
atau muncul dipengaruhi atau dietntukan adanya variabel bebas dan bukan
karena adanya variabel lain (Nawawi, 1995 : 58). Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah pembentukan perilaku.

I.8 Model Teoritis
Berdasarkan variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka
konsep maka dibentuk suatu model teoritis yaitu :

Gambar 1

Universitas Sumatera Utara

ModelTeoritis
Variabel Bebas (x)

Variabel Terikat (y)

Komunikasi antarpribadi

Pembentukan perilaku

I.9 Operasional Variabel
Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah diuraikan di
atas, maka untuk lebih memudahkan penelitian, perlu dibuat operasional variabelvariabel terkait sebagai berikut:
Tabel 1. Variabel Operasional
Variabel Teoritis

Variabel Operasional
1. Keterbukaan
2. Empati

Variabel Bebas (X)
3. Dukungan
Komunikasi antarpribadi
4. Rasa positif
5. Kesamaan
Variabel Terikat (Y)

1. Afektif

Pembentukan perilaku

2. Kognitif
3. Behavioral
1. Usia
2. Agama

Karakteristik responden
3. Tingkat pendidikan
4. Status perkawinan

Universitas Sumatera Utara

1.10 Defenisi Operasional
Defenisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan
bagaimana caranya untuk mengukur suatu variabel. Dengan kata lain defenisi
operasional adalah suatu informasi ilmiah yang sangat membantu penelitian lain
yang ingin menggunakan variabel yang sama (Singarimbun, 1995 : 46).
Defenisi operasional dari variabel-variabel penelitian ini adalah :
1. Variabel bebas
a. Keterbukaan
Komunikator dan komunikan saling mengungkapkan segala ide atau
gagasan bahwa permasalahan secara bebas (tidak ditutupi) dan terbuka
tanpa rasa takut atau malu, kedua-duanya saling mengerti dan memahami
pribadi masing-masing.
b. Empati
Kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada orang lain.
c. Dukungan
Setiap pendapat, ide atau gagasan yang disampaikan mendapat dukungan
dari pihak-pihak yang berkomunikasi. Dengan demikian keinginan atau
hasrat yang ada dimotivasi untuk mencapainya. Dukungan membnatu
seseorang untuk lebih bersemangat dalam melaksanakan aktivitas serta
meraih tujuan yang didambakan.
d. Rasa Positif
Setiap pembicaraan yang disampaikan dapat tanggapan yang positif, rasa
positif menghindarkan pihak-pihak yang berkomunikasi untuk tidak curiga
atau berprasangka yang menggangu jalinan interaksi.

Universitas Sumatera Utara

e. Kesamaan
Suatu komunikasi lebih akrab dan jalinan pribadi pun lebih kuat apabila
memiliki kesamaan tertentu seperti kesamaan pandangan, sikap, usia,
ideologi dan sebagainya.

2. Variabel terikat
a. Afektif
Afektif lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Di sini tujuan
komunikator bukan hanya sekadar supaya komunikan tahu, tetapi tergerak
hatinya; menimbulkan perasaan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu,
sedih, gembira, marah, dan sebagainya.
b. Kognitif
Kognitif adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia
menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Di sini pesan yang
disampaikan komunikator ditujukan kepada pikiran si komunikan. Dengan
lain perkataan, tujuan komunikator hanyalah berkisar pada upaya
mengubah pikiran diri komunikan.
c. Behavioral
Behavioral, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk
perilaku, tindakan, atau kegiatan.

3. Karakteristik Responden
a. Usia adalah usia yang responden saat mengisi kuesioner.

Universitas Sumatera Utara

b. Agama, keyakinan agama yang dianut responden meliputi agama
Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.
c. Tingkat pendidikan responden meliputi tidak tamat SD, tamat SD,
tamat SLTP, tamat SMU, Akademi dan Universitas.
d. Status perkawinan, meliputi status kawin, tidak kawin, cerai mati
ataupun cerai duda pada responden.

1.11 Hipotesis
Hipotesis adalah sarana penelitian ilmiah yang penting dan tidak bisa
ditinggalkan karena ia merupakan instrument kerja dari teori (Singarimbun, 1995 :
43). Hipotesis merupakan pernyataan yang bersifat dugaan mengenai hubungan
antara dua variabel atau lebih.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ho

: Tidak terdapat pengaruh antara efektifitas komunikasi antarpribadi
terhadap pembentukan kepribadian nara pidana di Blok B LP Klas
II A Kotamadya Binjai.

Ha

: Terdapat pengaruh antara efektifitas komunikasi antarpribadi
terhadap pembentukan kepribadian nara pidana di Blok B LP Klas
II A Kotamadya Binjai.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
URAIAN TEORITIS

II.1 Komunikasi
II.1.1 Pengertian Komunikasi dan Proses Komunikasi
Komunikasi adalah kebutuhan dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia. Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia (Efendy,
2003:8). Ada banyak pengertian yang dapat menggambarkan mengenai
komunikasi, berikut ini adalah beberapa diantaranya.
Awalnya, istilah komunikasi mengandung makna “bersama-sama”
(common,commones) yang berasal dari bahasa Inggris. Asal istilah komunikasi
(Indonesia) atau communication (Inggris) berasal dari bahasa Latin yaitu
communication, yang berarti pemberitahuan, pemberi bagian (dalam sesuatu),
pertukaran dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari
pendengaranya; untuk ikut ambil bagian ( Liliweri, 1991: 1).
Komunikasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses penyampaian suatu
pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai panduan pikiran dan perasaan
berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, imbauan; yang dilakukan seseorang

Universitas Sumatera Utara

kepada orang lain secara tatap muka maupun tidak langsung, melalui media,
dengan tujuan mengubah sikap, pandangan, ataupun perilaku ( Effendy, 2003:60).
Banyak ahli mendefinisikan komunikasi dalam berbagai sudut pandang
yang macam-macam, dan menyebutkan bahwa ilmu komunikasi sebagai ilmu
yang eklisitis yaitu ilmu yang merupakan gabungan dari berbagai disiplin ilmu.
Pada dasarnya komunikasi adalah sebagai proses pernyataan antara manusia, yang
dapat berupa pikiran atau perasaan seorang kepada orang lain dengan
menggunakan lambang (bahasa) baik verbal maupun non verbal sebagai alat
penyalurnya.
Pengertian komunikasi dikemukakan para ahli, diantaranya sebagai
berikut:
1. Menurut Harold Laswell, komunikasi adalah Siapa yang mengatakan apa
melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa (who says what in which
channel to whom with what effect) (Purba, 2007 :30)
2. Menurut Carl I.Hovland, komunikasi adalah proses dimana seseorang individu
mengoperkan perangsang untuk mengubah tingkah laku indivdu-individu yang
lain.
3. Menurut Rogers bersama D Lawrence Kincaid, komunikasi adalah suatu
proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran
informasi dengan satu sama lainnya, yang pada giliranya akan tiba pada saling
pengertian yang mendalam (Cangara, 2005:19).
Dari 3 definisi yang telah diberikan oleh para ahli tersebut pada dasarnya
komunikasi diartikan sebagai proses penyampaian pikiran dan perasaan dari

Universitas Sumatera Utara

seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang, kata-kata dan
symbol-simbol untuk tujuan merubah sikap atau tingkah laku orang lain
Menurut Effendy (2003 : 11) komunikasi di bagi menjadi dua tahap yaitu :
1. Proses komunikasi dalam prespektf psikologi, yaitu proses komunikasi
prespektif yang terjadi didalam diri komunikator dan komunikan. Proses
membungkus pikiran dengan bahasa yang dilakukan komunikator, yang
dinamakan dengan encoding, akan ia transmisikan kepada komunikan.
Selanjutnya terjadi proses komunikasi interpersonal dalam diri komunikan,
yang disebut decoding, untuk memaknai pesan yang disampaikan kepadanya.
2. Proses komunikasi dalam prespektif mekanistik. Untuk jelasnya proses
komunikasi dalam perspektif mekanistis dapat diklasfikasikan lagi menjadi
beberapa, yaitu :
a. Proses komunikasi secara primer, yaitu proses penyampaian pikiran dan
perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang
(symbol) sebagai media. Lambang umum yang dipergunakan sebagai
media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa. Namun dalam
kondisi komunikasi tertentu, lambang-lambang yang dipergunakan dapat
berupa kial (gesture), yakni gerak anggota tubuh, isyarat, gambar, warna,
dan lain sebagainya, yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran
atau perasaan komunikator kepada komunikan.
b. Proses komunikasi secara sekunder, yaitu proses penyampaian pesan oleh
seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai
media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Proses
komunikasi secara sekunder menggunakan media yang menyebarkan

Universitas Sumatera Utara

pesannya yang bersifat informatif yang digolongkan sebagai media massa
(mass media) dan media nirmassa (media non-massa).
c. Proses komunikasi secara linier, merupakan proses penyampaian pesan
oleh komunikatior kepada komunikan sebagai titik terminal. Komunikasi
linier ini berlangsung baik dalam situasi komunikasi tatap muka (face-toface communication) secara pribadi (interpersonal communication) dan
kelompok (group communication), maupun dalam situasi bermedia
(mediated communication).
d. Proses komunikasi secara sirkular, merupakan lawan dari proses
komunikasi secara linier. Dalam konteks komunikasi yang dimaksudkan
proses komunikasi secara linier. Dalam konteks komunikasi yang
dimaksudkan proses secara sirkuler adalah terjadinya feedback atau umpan
balik, yaitu terjadinya arus respons atau tanggapan dari pihak komunikan
terdapat pesan yang diberikan oleh komunikator.

II.2 Komunikasi Antarpribadi
II.2.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi
Pada dasarnya, komunikasi antarpribadi merupakan suatu proses sosial
dimana

orang-orang

yang

terlibat

di dalamnya

saling

mempengaruhi.

Sebagaimana diungkapkan oleh Devito (1997:97), bahwa komunikasi antarpribadi
merupakan pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain,
atau sekelompok orang dengan efek dan umpan balik yang langsung.
Selanjutnya Devito (1997:169-170) menjabarkan komunikasi antarpribadi
menjadi tiga pendekatan secara umum, yaitu :

Universitas Sumatera Utara

a. Komunikasi antarpribadi didefinisikan sebagai pengiriman pesan-pesan dari
seseorang dan diterima oleh orang lain. Atau sekelompok kecil orang, dengan
efek dan umpan balik yang langsung.
b. Komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi antara dua orang yang
memang telah ada hubungan di antara keduanya.
c. Interpersonal communication is seen a kind of progrestion (or development)
from

interpersonal

communication

at

one

extreme

to

personal

communication at the other extreme, yang artinya “Komunikasi antarpribadi
merupakan bentuk perkembangan atau peningkatan dari komunikasi dari satu
sisi menjadi komunikasi pribadi pada sisi yang lain”.
Dalam bukunya “Komunikasi Antarpribadi” (1991:12), Alo Liliweri
mengemukakan bahwa pada hakikatnya komunikasi anatarpribadi adalah
komunikasi antara komunikator dengan seorang komunikan. Komunikasi jenis
ini dianggap paling efektif dalam hal mengubah sikap, pendapat, atau perilaku
sesorang, karena sifatnya yang dialogis berupa percakapan dan arus balik bersifat
langsung. Komunikator mengetahui tanggapan komunikank etika itu juga, pada
saat komunikasi dilancarkan. Komunikan mengetahui pasti apakah komunikasi
itu positif atau negatif, berhasil atau tidak. Jika tidak, ia dapat memberikan
kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya.
Menurut Evert M. Rogers, dalam Komunikasti antarpribadi (Liliweri
1991:46) ada beberapa cirri komunikasi yang menggunakan saluran antarpribadi,
yaitu :
1) Arus pesan yang cenderung dua arah
2) Konteks komunikasinya tatap muka

Universitas Sumatera Utara

3) Tingkat umpan balik yang terjadi tinggi
4) Kemampuan mengatasi tingkat selektifitas (terutama “selectivitas exposure’)
yang tinggi
5) Kecepatan jangkauan terhadap audiens yang besar relatif lambat
6) Efek yang mungkin terjadi ialah perubahan sikap
II.2.2 Sifat-Sifat Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi dari mereka yang saling mengenal lebih bermutu
dari mereka yang belum mengenal karena setiap pihak mengetahui secara baik
tentang liku-liku hidup pihak lain, pikiran, dan pengetahuannya, perasaanya,
maupun menanggapi tingkah lakunya. Sehingga jika hendak menciptakan
komunikasi anatarpribadi yang lebih bermutu maka didahului dengan keakraban,
dengan kata lain tidak semua bentuk interaksi yang dilakukan anatara dua orang
dapat digolongkan ke dalam komunikasi antarpribadi.
Ada tujuh sifat yang menunjukan bahwa sesuatu komunikasi antara dua
orang merupakan sikap komunikasi anatarpribadi dan bukanya komunikasi
lainnya yang terangkum dari pendapat Effendy (2003:.46)

Sifat-sifat

komunikasi antarpribadi itu sendiri adalah : (1) melibatkan di dalamnya perilaku
verbal dan non verbal; (2) melibatkan pernyataan ataupun ungkapan yang
spontan, scripted, dan contrived; (3) tidak statis, namun dinamis; (4) melibatkan
umpan balik pribadi, hubungan interaksi dan koherensi (pernyataan satu dan
harus berkaitan dengan sebelumnya); (5) dipandu oleh tata aturan yang bersifat
intrinsic dan ekstrinsik. (6) komunikasi antarpribadi merupakan satu kegiatan
dan tindakan; (7) melibatkan didalamnya bidang persuasif (Liliweri,1991:31).

Universitas Sumatera Utara

II.2.3

Komponen

Komunikasi

Antarpribadi

dan

Proses

Komunikasi Antarpribadi
Menurut Effendy (2003:7), yang mencoba mengutip paradigma Laswell.
Ada lima komponen penting yang menyebabkan suatu komunikasi dapat
berjalan dengan baik, yaitu:




Who

: komunikator : pihak penyampaian pesan

Says what

: pesan : pernyataan yang didukung oleh lambanglambang







In which channel

: media : sarana atau saluran penyampaian pesan

To whom

: komunikan : pihak penerima pesan

With what effect

: efek : dampak yang timbul sebagai pengaruh dari
pesan

Apabila digambarkan secara sederhana kelima komponen yang telah
diuraikan di atas melalui proses sebagai berikut : Komunikator dan komunikan
dalam proses komunikasi antarpribadi dapat berganti peran, artinya suatu ketika
komunikator dapat berganti peran, demikian juga sebaliknya dengan komunikasi
(Effendy, 2003:12).

II. 3 Efektifitas Komunikasi Antarpribadi
Dikatakan efektifitas dalam waktu tertentu tujuan dapat

Dokumen yang terkait

Komunikasi Antarpribadi Dan Perubahan Sikap Narapidana (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi Petugas Lembaga Pemasyarakatan Dalam Merubah Sikap Narapidana Di Cabang RUTAN Aceh Singkil)

17 203 113

Studi Kasus tentang Peran Komunikasi Antarpribadi di dalam Keluarga dalam Menghadapi Pensiun pada Karyawan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Iskandar Muda Medan

3 97 108

Komunikasi Antarpribadi dan Pembentukan Konsep Diri (Studi Korelasional tentang Pengaruh Komunikasi Antarpribadi terhadap Pembentukan Konsep Diri Remaja di Yayasan SOS Desa Taruna Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, Medan).

1 25 142

Komunikasi Antar Pribadi Dan Pembentukan Konsep Diri (Studi Kasus Mengenai Komunikasi AntarPribadi Orang Tua Terhadap Pembentukan Konsep Diri Remaja Pada Beberapa Keluarga di Medan)

11 139 114

Komunikasi Antarpribadi Suami Istri (Studi Kasus Kualitatif Pasangan Suami Istri Yang Menikah Tanpa Pacaran di Kota Medan)

17 144 147

Efektivitas Komunikasi Antarpribadi Dan Motivasi Belajar Siswa (Studi Korelasional Pengaruh Pengaruh Efektivitas Komunikasi Antarpribadi Dalam Bimbingan Konseling Terhadap Motivasi Belajar Siswa/I Sma Yayasan Perguruan Sutomo I Medan)

7 51 139

Efektivitas Komunikasi Antarpribadi Guru SD Negeri Banjarsari 1 Bandung Terhadap Pembentukan Sikap Siswa Menghadapi Perkembangan Teknologi Informasidan Komunikasi

0 32 137

Hubungan Antara Motivasi Berkelompok dengan Efektivitas Komunikasi Antarpribadi.

0 1 2

Hubungan Antara Efektivitas Komunikasi Antarpribadi Dengan Loyalitas Pada Perusahaan.

0 0 2

EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU TAHANAN DI RUTAN KELAS IIB KECAMATAN MATTIRO BULU KABUPATEN PINRANG

0 0 86

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3876 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23