Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun garcinia benthami pierre terhadap beberapa bakteri patogen dengan metode bioautografi

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN
Garcinia benthami Pierre TERHADAP BEBERAPA
BAKTERI PATOGEN DENGAN METODE
BIOAUTOGRAFI

SKRIPSI

KARIMAH YULIANTI ANDIDHA
1111102000033

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
JUNI 2015

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN
Garcinia benthami Pierre TERHADAP BEBERAPA
BAKTERI PATOGEN DENGAN METODE
BIOAUTOGRAFI

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi

KARIMAH YULIANTI ANDIDHA
1111102000033

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
JUNI 2015

ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri, dan semua sumber yang
dikutip saya maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar

Nama
: Karimah Yulianti Andidha
NIM
: 1111102000033
Tanda Tangan :

Tanggal

iii

: 18 Juni 2015

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Nama
NIM
Program Studi
Judul

:
:
:
:

Karimah Yulianti Andidha
1111102000033
Farmasi
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Beberapa Bakteri Patogen dengan Metode
Bioautografi.

Disetujui oleh:

Pembimbing I

Pembimbing II

Puteri Amelia, M.Farm., Apt
NIP. 198012042011012004

Saiful Bahri, M.Si
NRD. 03030784.01

Mengetahui,
Ketua Program Studi Farmasi
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Yardi, Ph.D.,Apt
NIP. 197411232008011014

iv

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi ini diajukan oleh :
Nama
:
Karimah Yulianti Andidha
NIM
:
1111102000033
Program Studi :
Farmasi
Judul
:
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Beberapa Bakteri Patogen dengan Metode
Bioautografi.

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

DEWAN PENGUJI
Pembimbing 1 : Puteri Amelia, M.Farm., Apt.

(

)

Pembimbing 2 : Saiful Bahri, M.Si

(

)

Penguji

1 : Eka Putri, M.Si.,Apt

(

)

Penguji

2 : Lina Elfita, M.Si.,Apt

(

)

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal
: 18Juni 2015

v

ABSTRAK
Nama
:
Program Studi :
Judul
:

Karimah Yulianti Andidha
Farmasi
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Beberapa Bakteri Patogen dengan Metode
Bioautografi.

Garcinia benthami Pierre merupakan salah satu spesies dari genus Garcinia.
Garcinia telah dikenal sebagai sumber senyawa xanton dan bioflavonoid dengan
berbagai macam bioaktivitas seperti antibakteri, antioksidan, antikanker,
antifungi, dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas
antibakteri ekstrak n-heksan, etil asetat, dan metanol daun Garcinia benthami
Pierre terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Ekstrak n-heksan, etil
asetat dan metanol diperoleh dengan metode maserasi bertingkat, ketiga ekstrak
tersebut diuji menggunakan metode bioautografi. Ekstrak etil asetat merupakan
ekstrak yang mempunyai aktivitas tertinggi dari kedua ekstrak lainnya terhadap
bakteri Staphylococcus epidermidis, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa,
Shigella dysenteriae, Helicobacter pylori dan Salmonella thypimurium. Ekstrak
etil asetat tersebut dilakukan kromatografi lapis tipis bioautografi untuk
mengetahui pola pemisahan senyawa yang terkandung dalam ekstrak dan aktif
sebagai antibakteri. Eluen terbaik pada bakteri uji S. epidermidis adalah eluen nheksan : etil asetat (5:5) dengan nilai Rf 0,24 dan 0,32, B. subtilis pada eluen nheksan : etil asetat (7:3) dengan nilai Rf 0,033; 0,083; 0,13 dan 0,383, H. pylori
pada eluen n-heksan : etil asetat (6:4) dengan nilai Rf 0,033; 0,125; 0,208; 0,383
dan 0,6, P. aeruginosa pada eluen n-heksan : etil asetat (5:5) dengan nilai Rf 0,24;
0,3; 0,6; 0,7 dan 0,76, S. thypimurium pada eluen n-heksan : etil asetat (5:5)
dengan nilai Rf 0,26; 0,36 dan 0,64, S. dysenteriae pada eluen n-heksan: etil
asetat (6:4) dengan nilai Rf 0,45.
Kata kunci : Garcinia benthami Pierre, ekstrak, antibakteri, bioautografi.

vi

ABSTRACT
Name
Major
Tittle

:
:
:

Karimah Yulianti Andidha
Pharmacy
Antibacterial Activity of Garcinia benthami Pierre Leaf
Extracts Against Bacterial Pathogens by Bioautography
Method.

Garcinia benthami Pierre is one of the species from genus Garcinia. Garcinia that
has been known as a source of xanton and bioflavonoid compounds with various
bioactivities such as antibacterial, antioxidant, anticancer, antifungal and antiinflammatory. This research aims to determine the antibacterial activity of the
extract n-hexane, ethyl acetate, and methanol leaves of Garcinia benthami Pierre
against Gram positive and Gram negative. Extract n-hexane, ethyl acetate and
methanol were obtained by maceration multilevel method where three extracts
were tested using bioautography method. Ethyl acetate extract is an extract which
has the highest activity compared to the two other extracts against Staphylococcus
epidermidis, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Shigella dysenteriae,
Helicobacter pylori and Salmonella thypimurium. The ethyl acetate extract was
examined by thin layer chromatography to determine the pattern separation
bioautography compounds contained in extracts and active as an antibacterial. The
best eluent for the test of bacteria S epidermidis is eluent n-hexane : ethyl acetate
(5:5) with Rf value of 0.24 and 0.32, related B. subtilis in the eluent n-hexane :
ethyl acetate (7:3) Rf value of 0.033; 0.083; 0.13 and 0.383, H. pylori in the eluent
n-hexane : ethyl acetate 6:4 with a value of Rf 0.033; 0.125; 0.208; 0.383 and 0.6,
P. aeruginosa in eluent n-hexane : ethyl acetate (5:5) with Rf value 0.24; 0.3; 0.6;
0.7 and 0.76, S. thypimurium the eluent n-hexane : ethyl acetate (5:5) with Rf
value of 0.26; 0.36 and 0.64, S. dysenteriae the eluent n-hexane : ethyl acetate 6:4
with a value of Rf 0.45.
Keywords : Garcinia benthami Pierre, extract, antibacterial, bioautography

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil „Alamin, atas segala nikmat iman, islam,
kesempatan, serta kekuatan yang telah diberikan Allah Subhanahuwata‟ala
sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.
Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW sebagai tauladan umat
manusia, semoga kita dapat menjunjung nilai-nilai Islam yang beliau ajarkan dan
semoga kita mendapatkan syafaat beliau.
Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mendapat gelar sarjana
farmasi dari Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Judul skripsi ini adalah “Uji
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre terhadap Beberapa
Bakteri Patogen dengan Metode Bioautografi”.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan tugas akhir ini adalah atas bimbingan
dan bantuan berbagai pihak. Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan
terimakasih kepada :
1. Kedua orang tua, Ayah Bambang Santoso dan Mama Sinta Karyati
terimakasih atas kasih sayang, perhatian, semangat, doa yang tiada henti
serta dukungan baik moral maupun materil. Semoga selalu dalam
lindungan Allah swt.
2. Ibu Puteri Amelia, M.Farm., Apt dan bapak Saiful Bahri, M.Si selaku
pembimbing yang senantiasa sabar dan ikhlas dalam memberikan arahan
dan semangat selama proses penyelesaian penelitian dan skripsi ini.
3. Dr. H. Arif Soemantri, S.KM, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Yardi, Ph.D., Apt selaku Ketua Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak dan Ibu staf pengajar dan karyawan yang telah memberikan
bimbingan dan bantuan selama saya menempuh pendidikan di Program

viii

Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Para laboran Farmasi UIN, Mba Rani, Ka Eris, Ka Rahmadi, Ka Lisna
dan Ka Tiwi yang telah banyak membantu selama praktikum maupun
penelitian.
7. Kedua kakakku tercinta Mba Nia dan Mas Idham yang sudah memberikan
dukungan, semangat dan doa.
8. Teman-teman seperjuangan antimikroba dalam penelitian ini yang tidak
bisa penulis sebutkan satu-satu yang senantiasa dengan sabar menemani,
mendukung dan membantu disaat sedang dibutuhkan.
9. Teman-teman terdekat yang sudah banyak membantu penulis dalam
penelitian ini Sumiati, Qadryna, Silvia yang bersedia mendengarkan
keluhan dan memberikan doa serta semangat.
10. Teman-teman Farmasi 2011 yang sudah banyak memberikan kenangan
dan kebahagiaan selama empat tahun ini. Semoga ukhuwah kita selalu
terjaga.
11. Semua pihak yang turut membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu
per satu.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih belum sempurna. Oleh
karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap
semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan pengetahuan
khususnya di Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan pembaca pada
umumnya.

Jakarta, 18 Juni 2015

Penulis

ix

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK
Sebagai sivitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta, Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama

: Karimah Yulianti Andidha

NIM

: 1111102000033

Program studi

: Farmasi

Fakultas

: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)

Jenis Karya

: Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/karya ilmiah
saya dengan judul :
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN Garcinia benthami
Pierre TERHADAP BEBERAPA BAKTERI PATOGEN DENGAN
METODE BIOAUTOGRAFI.
Untuk dapat diakses melalui Digital Library Perpustakaan Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk kepentingan akademik sebatas
sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta. Dengan demikian persetujuan
publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di

: Jakarta

Pada Tanggal :18 Juni 2015
Yang menyatakan,

(Karimah Yulianti Andidha)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS .......................................................... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................... iv
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ....................................................................... v
ABSTRAK ................................................................................................................... vi
ABSTRACT .................................................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ............................................................................................... viii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................................... x
DAFTAR ISI ................................................................................................................ xi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xiv
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... xv
BAB I
PENDAHULUAN................................................................................ 1
1.1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 3
1.1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................... 4
1.1.4 Hipotesis.................................................................................... 4
1.1.5 Manfaat penelitian ..................................................................... 4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 5
2.1
Genus Garcinia ......................................................................... 5
2.2
Tanaman Garcinia benthami Pierre .......................................... 6
2.3
Simplisia.................................................................................... 8
2.3.1 Definisi ...................................................................................... 8
2.3.2 Penyiapan Simplisia .................................................................. 8
2.4
Ekstrak dan Ekstraksi .............................................................. 10
2.4.1 Ekstrak..................................................................................... 10
2.4.2 Ekstraksi .................................................................................. 10
2.4.2.1 Ekstraksi Dingin ...................................................................... 10
2.4.2.2 Ekstraksi Panas ....................................................................... 11
2.5
Bakteri ..................................................................................... 12
2.5.1 Morfologi Bakteri.................................................................... 12
2.5.2 Struktur Eksternal Sel Bakteri ................................................. 13
2.5.3 Struktur Internal Sel Bakteri ................................................... 15
2.5.4 Bakteri Uji ............................................................................... 16
2.6
Metode Pengujian Aktivitas Antimikroba .............................. 20
2.7
Tinjauan Tentang Antimikroba ............................................... 23
2.7.1 Zat Antimikroba ...................................................................... 23
2.7.2 Mekanisme Kerja .................................................................... 23
2.8
Antimikroba Pembanding ....................................................... 25
2.8.1 Kloramfenikol ......................................................................... 25
BAB 3
METODELOGI PENELITIAN....................................................... 27
3.1
Tempat dan Waktu Penelitian ................................................. 27
3.2
Alat dan Bahan ........................................................................ 27
3.2.1 Alat .......................................................................................... 27
xi

3.2.2 Bahan....................................................................................... 27
3.2.3 Mikroba Uji ............................................................................. 27
3.3
Metode Penelitian.................................................................... 28
3.3.1 Penyiapan Sampel ................................................................... 28
3.3.1.1 Penyiapan dan Ekstraksi Garcinia benthami Pierre................ 28
3.3.1.2 Pembuatan Ekstrak .................................................................. 28
3.3.1.3 Pemeriksaan Kandungan Air .................................................. 29
3.3.2 Pemeriksaan Kandungan Kimia Ekstrak Garcinia
benthami Pierre ...................................................................... 29
3.3.2.1 Identifikasi Alkaloid ............................................................... 29
3.3.2.2 Identifikasi Flavonoid ............................................................. 29
3.3.2.3 Identifikasi Saponin ................................................................ 29
3.3.2.4 Identifikasi Tanin .................................................................... 30
3.3.2.5 Identifikasi Steroid .................................................................. 30
3.3.2.6 Identifikasi Triterpenoid.......................................................... 30
3.4
Uji Aktivitas Antimikroba....................................................... 30
3.4.1 Sterilisasi Alat dan Bahan ....................................................... 30
3.4.2 Pembuatan Medium ................................................................ 31
3.4.3 Karakteristik Bakteri Uji ......................................................... 31
3.4.4 Peremajaan Bakteri ................................................................. 32
3.4.5 Pembuatan Suspensi Bakteri ................................................... 32
3.4.6 Pembuatan Larutan Uji ........................................................... 32
3.4.7 Pembuatan Larutan Kontrol .................................................... 33
3.4.8 Penyiapan Plat KLT ................................................................ 33
3.4.9 Uji Bioautografi Nonelusi Antibakteri .................................... 33
3.4.10 KLT Bioautografi .................................................................... 33
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 35
4.1
Pembuatan Simplisia ............................................................... 35
4.2
Pembuatan Ekstrak .................................................................. 35
4.3
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia
benthami Pierre ....................................................................... 39
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 53
5.1
Kesimpulan ............................................................................. 53
5.2
Saran ........................................................................................ 53
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 54
Lampiran
................................................................................................. 59

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pohon dan Daun Tanaman Garcinia benthami Pierre ............................. 7
Gambar 4.1 Hasil Skrining Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ..... 41
Gambar 4.2 Hasil Uji Bioautografi Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ........... 46

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel

4.1
4.2
4.3
4.4
4.5

Hasil Rendemen Ekstrak N-heksan, Etil asetat dan Metanol................... 36
Hasil Pengujian Kadar Air Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ...... 37
Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ....... 38
Hasil Skrining Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ...... 41
Hasil Uji Bioautografi Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre ............. 46

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Hasil Determinasi Tanaman Garcinia benthami Pierre ......................... 59
Alur Penelitian ........................................................................................ 60
Alur Kerja Persiapan Serbuk Simplisia .................................................. 61
Langkah Kerja Maserasi Bertingkat ....................................................... 62
Perhitungan Rendemen Ekstrak.............................................................. 63
Perhitungan Kadar Air Ekstrak............................................................... 64
Alur Kerja Penentuan Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Garcinia
benthami Pierre ...................................................................................... 65
Lampiran 8 Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat ............................................. 69
Lampiran 9 Hasil Uji KLT Bioautografi .................................................................... 71
Lampiran 10 Identifikasi Bakteri dengan Pewarnaan Gram ....................................... 74
Lampiran 11 Hasil Penapisan Fitokimia ..................................................................... 75
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6
Lampiran 7

xv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam yang
melimpah. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya tanaman yang tumbuh subur di
negara ini. Selain itu menurut Pradono et al. 2006, Indonesia memiliki kekayaan
sumber daya hayati terbesar kedua setelah Brazil dengan lebih dari 28.000 spesies
tanaman. Akan tetapi, hingga saat ini, banyak kekayaan alam di Indonesia belum
sepenuhnya digali dan dimanfaatkan secara maksimal.
Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia mengenal dan memanfaatkan
tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan masalah
kesehatan yang dihadapinya. Pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman ini
merupakan warisan budaya bangsa berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan
keterampilan secara turun-temurun telah diwariskan oleh generasi berikutnya,
termasuk generasi saat ini. Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan
obat yaitu daun, kulit batang, biji, buah, dan akar tanaman (Wijayakusuma, 2000).
Salah satu tanaman yang telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat
Indonesia adalah genus Garcinia yang temasuk dalam famili Clusiaceae.
Masyarakat mengenal genus ini sebagai tumbuhan keluarga manggis yang dapat
bermanfaat untuk obat tradisional dan sumber makanan. Genus Garcinia memiliki
beberapa kandungan kimia yang telah berhasil diisolasi, yaitu senyawa xanton,
benzofenon, golongan flavonoid dan triterpen (Amelia, 2011).
Garcinia telah dikenal sebagai sumber senyawa xanton dan bioflavonoid
dengan berbagai macam bioaktivitas seperti antibakteri, antioksidan, antikanker,
antifungi, dan antiinflamasi. Garcinia Mangonstana merupakan spesies yang
banyak terdapat di Asia Tenggara yang dikenal dengan Queen of fruit yang selain
buahnya dapat dimakan, kulit ari biji dari buah ini digunakan sebagai obat luka
dan infeksi, penurun panas dan mengurangi rasa sakit. G. cambogia sekarang
banyak terdapat dipasaran sebagai jamu digunakan sebagai suplemen untuk
mengatasi kegemukan. Gom-resin bagian batang G. hanbury Hook sebagai
1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2

pencahar, G. merguensis Wight untuk obat udema, dan biji G. dulcis Kurz dikenal
sebagai obat gondok (Sosef, 1998).
Genus Garcinia terdiri dari 500 jenis yang tersebar luas di kawasan tropis dan
didapatkan hampir diseluruh Indonesia (Ajrina, 2013). Beberapa spesies Garcinia
yang ada, terdapat spesies dari genus Garcinia yang aktivitasnya belum banyak
diteliti, salah satu spesies yang belum banyak diteliti adalah Garcinia benthami
Pierre. Berdasarkan penelusuran terhadap Garcinia benthami Pierre, penelitian
terhadap tanaman ini baru sebatas pada isolasi senyawa murni yaitu senyawa
xanton, benzofenon, golongan flavonoid dan triterpen, uji aktivitas antioksidan
dan toksisitas (Elya et al., 2006; Amelia, 2011; Ajrina, 2013), sementara uji
aktivitas antibakteri belum dilakukan penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan penelitian sebelumnya senyawa yang sudah berhasil diisolasi dari
Garcinia benthami Pierre antara lain ismailbenzofenon dan hilmibenzofenon
(Elya, 2004), salimbenzofenon (Elya, 2006), epikatekin, stigmasterol dan asam3b-hidroksi-olean-5,12-dien-28-oat

(Elya,

2006),

asam-3β-hidroksi-lanosta-

9(11),24-dien-26-oat (Elya, 2009) dan 1,3,6,7-tetrahidroksixanton (Amelia, 2011).
Hasil uji toksisitas ekstrak metanol daun Garcinia benthami Pierre didapatkan
nilai LC50 73,43 µg/mL, hal ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol termasuk
dalam kategori toksik (Ajrina, 2013), untuk uji antioksidan nilai IC50 yang
didapatkan adalah 29,91µg/mL, sehingga tergolong antioksidan sangat kuat
(Amelia, 2011).
Daun Garcinia benthami Pierre memiliki hasil positif kandungan kimia antara
lain flavonoid, steroid/terpenoid, tanin, kuinon, kumarin, dan saponin (Amelia,
2011), sehingga hal ini memungkinkan adanya aktivitas antimikroba pada daun
Garcinia benthami Pierre. Berdasarkan genus, terdapat banyak spesies dari genus
Garcinia yang mempunyai aktivitas antibakteri antara lain G. parvifolia,
G. livingstone, G. indica, G. bracteata dan G. nigrolineata (Hemshekhar et al.,
2011). Berdasarkan

kemotaksonomi, spesies tumbuhan dalam satu genus

memiliki aktivitas kimiawi yang sama secara kualitatif (Lukis, 2010), sehingga
hal ini mengindikasikan bahwa Garcinia benthami Pierre memiliki kemungkinan
untuk mempunyai aktivitas antibakteri. Selain itu terbatasnya laporan ilmiah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3

tentang aktivitas farmakologi dari Garcinia benthami Pierre khususnya aktivitas
antimikroba, mendorong peneliti untuk melakukan pengujian aktivitas antibakteri
dari ekstrak n-heksan, etil asetat dan metanol daun Garcinia benthami Pierre
terhadap beberapa bakteri patogen.
Pencarian senyawa baru yang berkhasiat sebagai antimikroba perlu terus
dilakukan, hal ini dikarenakan penyakit infeksi merupakan salah satu masalah
dalam bidang kesehatan yang dari waktu ke waktu terus berkembang. Antibiotik
memberikan dasar utama untuk terapi infeksi mikroba (bakteri dan fungi).
Namun, terlalu sering menggunakan antibiotik telah menjadi faktor utama bagi
munculnya dan penyebaran beberapa kelompok mikroorganisme yang resisten
terhadap antibiotik (Harbottle et al., 2006).
Dalam beberapa tahun terakhir, permasalahan resistensi bakteri pada
penggunaan antibiotik merupakan salah satu masalah yang berkembang di seluruh
dunia (Bronzwaer et al., 2002), oleh karena itu diperlukan zat antibakteri baru
dengan mekanisme aksi yang berbeda (Tenover, 2006).
Antimikroba merupakan zat kimia yang memiliki khasiat untuk menghambat
atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme. Antimikroba dapat dibagi menjadi
antibakteri, antifungi, antivirus dan antiprotozoal berdasarkan mikroorganisme
yang dimatikan atau dihambat pertumbuhannya (Tjay dan Kiran, 2002).
Penelitian uji antibakteri ekstrak daun Garcinia benthami Pierre ini dirancang
menggunakan metode bioautografi. Metode ini dipilih agar dapat menjadi
panduan peneliti lain yang ingin melakukan isolasi terhadap senyawa yang aktif
sebagai antibakteri dari tanaman ini. Bakteri uji yang digunakan adalah bakteri
Staphylococcus epidermidis ATCC 12228, Bacillus subtilis 6633, Pseudomonas
aeruginosa ATCC 27853, Shigella dysenteriae ATCC 13313, Helicobacter pylori
ATCC 43504, dan Salmonella thypimurium ATCC 14028.
1.2 Rumusan Masalah
Garcinia benthami Pierre merupakan salah satu spesies dari genus Garcinia
yang belum banyak diketahui aktivitas biologinya, salah satu aktivitas biologi
yang belum diketahui adalah antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4

epidermidis, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Shigella dysenteriae,
Helicobacter pylori dan Salmonella thypimurium.
1.3 Tujuan Penelitian
a. Untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak n-heksan, etil asetat, dan
metanol daun Garcinia benthami Pierre terhadap bakteri Staphylococcus
epidermidis,

Bacillus

subtilis,

Pseudomonas

aeruginosa,

Shigella

dysenteriae, Helicobacter pylori dan Salmonella thypimurium.
b. Menentukan nilai Rf senyawa antibakteri dari ekstrak daun Garcinia
benthami Pierre yang aktif terhadap bakteri Gram positif dan Gram
negatif.
1.4 Hipotesis
a. Ekstrak daun Garcinia benthami Pierre mempunyai aktivitas antibakteri
terhadap

bakteri

Staphylococcus

epidermidis,

Bacillus

subtilis,

Pseudomonas aeruginosa, Shigella dysenteriae, Helicobacter pylori dan
Salmonella thypimurium.
1.5 Manfaat Penelitian
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang efektivitas
penggunaan ekstrak daun Garcinia benthami Pierre sebagai antibakteri.
b. Dapat mendorong penemuan adanya aktivitas baru, khususnya dari daun
Garcinia benthami Pierre yang masih jarang diteliti di Indonesia.
c. Dapat dijadikan penuntun atau panduan peneliti lain yang ingin melakukan
isolasi terhadap senyawa yang aktif sebagai antibakteri dari tanaman ini.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Genus Garcinia
Genus Garcinia merupakan salah satu genus dari famili Clusiaceae. Di

Indonesia, pemanfaatan Garcinia secara umum masih kurang dilakukan (Ajrina,
2013). Famili Clusiaceae memiliki 40 genus dan lebih dari 1000 spesies (Heyne,
1987). Famili Clusiaceae ini terdiri dari dua genus utama yaitu Garcinia dan
Calophyllum serta sub famili Mesua dan Mammea (Linuma, 1996). Garcinia
merupakan genus yang besar dari pohon polygamous atau semak, tersebar
didaerah tropis Asia, Afrika dan Polinesia dan merupakan sumber yang kaya akan
molekul bioaktif termasuk xanton, flavonoid, benzofenon, lakton dan asam fenolat
(Patil, 2005).
Masyarakat mengenal famili Clusiaceae sebagai tumbuhan keluarga
manggis yang merupakan tanaman pangan dan banyak dimanfaatkan untuk obat
tradisional. Garcinia Mangonstana merupakan spesies yang banyak terdapat di
Asia Tenggara yang dikenal dengan Queen of fruit yang selain buahnya dapat
dimakan, kulit ari biji dari buah ini digunakan sebagai obat luka dan infeksi,
penurun panas dan mengurangi rasa sakit. G. cambogia sekarang banyak terdapat
dipasaran sebagai jamu digunakan sebagai suplemen untuk mengatasi kegemukan.
Gom-resin bagian batang G. hanbury Hook sebagai pencahar, G. merguensis
Wight untuk obat udema, dan biji G. dulcis Kurz dikenal sebagai obat gondok
(Sosef, 1998). G. indica yang berasal dari india secara komersil dikenal dengan
“kokam butter” di dunia perindustrian digunakan sebagai bahan dasar sabun dan
lilin, sebagai preparat industri farmasi, minyak dari tanaman ini juga dapat
digunakan untuk obat urut dan urtikaria serta buahnya digunakan sebagai obat
cacing dan kardiotonik (Sari, 1999; Fumio, 2000).
Genus Garcinia memiliki struktur kayu yang keras dengan warna beragam
mulai dari kuning sampai coklat kemerahan. Habitus pohon memiliki tinggi
mencapai 25-33 meter. Diameter batang pohon sekitar 60-100 cm dan mengecil
kearah ujung. Garcinia jarang yang berupa semak dan bentuk pohon umumnya
kerucut dengan percabangan selang-seling. Umumnya daun berwarna hijau.
5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

6

Bunga betina biasanya memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan bunga
jantan dan bunga terdapat dibagian ketiak daun. Seluruh bagian pada tumbuhan
ini dapat mengeluarkan getah yang kental dan lengket berwana putih atau kuning
(Amelia, 2011).
Berdasarkan kemotaksonomi, spesies tumbuhan dalam satu genus
memiliki aktivitas kimiawi yang sama secara kualitatif dan akan berbeda secara
kuantitatif. Perbedaan kuantitatif dari setiap senyawa dipengaruhi oleh ekosistem
tumbuhan tersebut. Bagian tertentu pada tumbuhan seperti kulit batang dan akar
juga dapat ditemukan senyawa-senyawa yang sama atau berbeda. Selain itu
afinitas kimiawi dalam satu genus memiliki hubungan kekerabatan molekul yang
dapat dilihat pada jalur biogenesis pembentukan senyawa-senyawa tersebut
(Lukis, 2010).
2.2

Tanaman Garcinia benthami Pierre
Garcinia benthami Pierre termasuk tumbuhan tahunan atau perennial yang

masa hidupnya dapat mencapai puluhan tahun. Tumbuhan tersebut hidup di hutan
primer dataran rendah sampai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.
Tumbuhan ini tersebar di Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan
(Heyne, 1987).
Garcinia benthami Pierre dapat tumbuh dihutan dataran rendah dan
termasuk tumbuhan tahunan, masa hidupnya dapat mencapai puluhan tahun.
Warna daun tanaman ini selalu berwarna hijau. Genus Garcinia termasuk ke
dalam famili Clusiaceae yang umumnya dikenal sebagai tumbuhan keluarga
manggis dan sering digunakan untuk obat tradisional atau tanaman pangan (Sari,
2000).
Taksonomi tumbuhan Garcinia benthami Pierre memiliki klasifikasi
sebagai berikut (Heyne, 1987) :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyte

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Sub kelas

: Archichlamydeae

Ordo

: Guttiferales
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7

Family

: Clusiaceae

Genus

: Garcinia

Species

:Garcinia benthami Pierre.

(a)

(b)

Gambar 2.1 (a) Pohon Garcinia benthami Pierre
(b) Daun Garcinia benthami Pierre
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2014)
Pada umumnya, tinggi pohon Garcinia benthami Pierre mencapai 30
meter dan pohon berbentuk kerucut dengan percabangan berselang-seling. Pohon
ini memiliki batang yang lurus dan daun berwarna hijau. Bunga jantan memiliki
benang sari dan ukuran bunga jantan kecil dibandingkan bunga betina. Bunga
terdapat diketiak daun, memiliki daun kelopak dan daun mahkota sekitar 4-5
helai. Bunga jantan memiliki benang sari yang jumlahnya bervariasi, dengan
tangkai sari bersatu menjadi satu tiang tengah atas. Bunga betina biasanya
berukuran lebih besar dari bunga jantan, seringkali menyendiri, benang sari semu
dengan tangkai-tangkai sarinya yang bersatu menjadi sebuah cincin di bagian
pangkal, bakal buah beruang 2-12 dan biasanya berbentuk papila. Bijinya besar,
biasanya terbungkus oleh arilus yang berisi banyak sari buah. Embrionya berupa

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

8

masa padat, hanya tersusun atas hipokotil, sedangkan bijinya tidak ada (Rachman,
2003).
2.3

Simplisia

2.3.1

Definisi
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang

belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa
bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995). Simplisia dapat berupa simplisia
nabati, simplisia hewani, simplisia pelikan atau mineral. Pada umumnya
pembuatan simplisia meliputi beberapa tahapan yaitu pengumpulan bahan, sortasi
basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan dan
penyimpanan (Ritiasa, 2000).
2.3.2

Penyiapan Simplisia (Depkes RI, 1985)
Tahapan yang harus dilakukan sebelum tahap pembuatan ekstrak adalah

penyiapan simplisia, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a. Pengumpulan Bahan Baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain
tergantung pada :
1. bagian tanaman yang digunakan
2. umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen
3. waktu panen
4. lingkungan tempat tumbuh
b. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahanbahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat
dari akar suatu tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput,
batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya
yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih yang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

9

mengalir, agar dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin untuk menghindari
kehilangan zat lebih banyak.
d. Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan.
Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan,
pengepakan dan penggilingan.
e. Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah
rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan
mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan mencegah
penurunan mutu atau perusakan simplisia. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama
proses pengeringan adalah suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran udara,
waktu pengeringan dan luas permukaan bahan. Suhu pengeringan tergantung
kepada bahan simplisia dan cara pengeringannya. Bahan simplisia dapat
dikeringkan pada suhu 300C sampai 900C, tetapi suhu yang terbaik adalah tidak
melebihi 600C. Bahan simplisia yang mengandung senyawa yang tidak tahan
terhadap panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu serendah
mungkin, misalnya 300C sampai 450C.
f. Sortasi Kering
Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian
tanaman yang tidak diinginkan atau pengotor lainnya yang masih tertinggal pada
simplisia kering.
g. Penghalusan
Penghalusan

bertujuan

untuk

memperbesar

luas

permukaan

dan

mempercepat ekstraksi jika simplisia ingin dijadikan ekstrak kental ataupun cair.
h. Pengepakan dan Penyimpanan
Tujuan pengepakan adalah agar simplisia yang telah jadi dapat disimpan
dalam jangka waktu yang lama dan mutunya tetap terjaga.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

10

2.4

Ekstrak dan Ekstraksi

2.4.1

Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat

aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang
sesuai, kemudian semuanya atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah
ditetapkan (Depkes RI, 1995).
Ada beberapa jenis ekstrak yakni : ekstrak cair, ekstrak kental, dan ekstrak
kering. Ekstrak cair jika hasil ekstraksi masih bisa dituang, biasanya kadar air
lebih dari 30%. Ekstrak kental jika memiliki kadar air antara 5-30%. Ekstrak
kering jika mengandung kadar air kurang dari 5% (Voigt, 1994).
2.4.2

Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh

kandungan senyawa kimia dari jaringan tumbuhan maupun hewan. Ekstrak adalah
sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau
hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung,
ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. Cairan penyari yang
digunakan air, etanol dan campuran air etanol (Depkes RI, 1979).
Beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dibagi menjadi dua
cara, yaitu cara panas dan cara dingin (Ditjen POM, 2000).
2.4.2.1 Ekstraksi Cara Dingin
a) Maserasi
Maserasi

adalah

proses

pengekstrakan

simplisia

dengan

menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan
pada temperatur kamar (Ditjen POM, 2000). Keuntungan ekstraksi dengan
cara maserasi adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana,
sedangkan kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama, membutuhkan
pelarut yang banyak dan penyarian kurang sempurna. Dalam maserasi
(untuk ekstrak cairan), serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang
kontak dengan pelarut disimpan dalam wadah tertutup untuk periode
tertentu dengan pengadukan yang sering, sampai zat tertentu dapat terlarut.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

11

Metode ini paling cocok digunakan untuk senyawa yang termolabil
(Tiwari et al., 2011).
b) Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
penyarian sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan
pada temperatur ruang. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan,
tahap

maserasi

antara,

tahap

perkolasi

sebenarnya

(penetesan/

penampungan ekstrak), terus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang
jumlahnya 1-5 kali dari bahan (Ditjen POM, 2000).
2.4.2.2 Ekstraksi Cara Panas
a) Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru,
dengan menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu
dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik
(Ditjen POM, 2000).
b) Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada
temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut
terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM,
2000).
c) Infusa
Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C
selama 15 menit. Infusa adalah ekstraksi menggunakan pelarut air pada
temperatur penangas air dimana bejana infus tercelup dalam penangas air
mendidih, temperatur yang digunakan (96-980C) selama waktu tertentu
(15-20 menit) (Ditjen POM, 2000). Cara ini menghasilkan larutan encer
dari komponen yang mudah larut dari simplisia (Tiwari et al., 2011).
d) Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur
sampai titik didih air selama 30 menit (Depkes RI, 2000). Dekok adalah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

12

ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 900C selama 30 menit.
Metode ini digunakan untuk ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan
konstituen yang stabil terhadap panas dengan cara direbus dalam air
selama 15 menit (Tiwari et al., 2011).
e) Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari
temperatur suhu kamar, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur
40-500C (Ditjen POM, 2000).
Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinyu pada
temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya 25-300C). Ini
adalah jenis ekstraksi maserasi di mana suhu sedang digunakan selama
proses ekstraksi (Tiwari, et al., 2011).
2.5

Bakteri
Pada buku manual Bergey’s edisi kedua yang berisi referensi untuk standar

taksonomi bakteri, organisme prokariotik dikelompokan menjadi dua kelompok
besar, yaitu Eubakteri yang merupakan bakteri sejati dan Archaea. Archaea secara
morfologi serupa dengan Eubakteri, namun memiliki perbedaan dalam hal ciri-ciri
fisiologis. Kelompok bakteri terdiri atas semua organisme prokariotik patogen dan
non patogen yang terdapat di daratan dan perairan, serta organisme prokariotik
yang bersifat fotoautotrof. Kelompok Archaea meliputi organisme prokariotik
yang tidak memiliki peptidoglikan pada dinding selnya, dan umumnya hidup
pada lingkungan yang bersifat ekstrim.
Spesies bakteri dapat dibedakan berdasarkan morfologi (bentuk),
komposisi kimia (umumnya dideteksi dengan reaksi biokimia), kebutuhan nutrisi,
aktivitas biokimia, dan sumber energi (sinar matahari atau bahan kimia) (Pratiwi,
2008).
2.5.1

Morfologi Bakteri (Pratiwi, 2008)
Terdapat beberapa bentuk dasar bakteri, yaitu bulat (tunggal: coccus,

jamak: cocci), batang atau silinder (tunggal : bacillus, jamak: bacilli), dan spiral
yaitu berbentuk batang melengkung atau melingkar-lingkar.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

13

Bentuk cocci umumnya bulat atau oval. Bila cocci membelah diri, sel-sel
dapat tetap melekat satu sama lain. Cocci yang tetap berpasangan setelah
membelah disebut diplococci. Cocci yang membelah namun tetap melekat
membentuk struktur menyerupai rantai disebut streptococci. Cocci yang
membelah dalam dua bidang dan tetap melekat membentuk kelompok empat
coccus disebut tetrad. Cocci yang membelah dalam tiga bidang dan tetap melekat
membentuk kubus dengan delapan coccus disebut sarcina, sedangkan cocci yang
membelah pada banyak bidang dan membentuk kumpulan menyerupai buah
anggur disebut Staphylococci.
Bacilli membelah hanya melalui sumbu pendeknya (dalam satu bidang).
Sebagian besar bacilli tampak sebagai batang tunggal. Diplobacilli muncul dari
pasangan bacilli setelah pembelahan dan streptobacilli muncul dalam bentuk
rantai. Beberapa bacilli tampak menyerupai cocci, dan disebut coccobacilli.
Bentuk spiral bakteri memiliki satu atau lebih lekukan dan tidak dalam
bentuk lurus. Bakteri berbentuk spiral ini dibedakan menjadi beberapa jenis.
Bakteri yang berbentuk batang melengkung menyerupai koma disebut vibrio.
Bakteri yang berpilin kaku disebut spirilla, sedangkan bakteri yang berpilin
fleksibel disebut spirochaeta. Umumnya bakteri adalah monomorfik (memiliki
hanya satu bentuk) namun ada bakteri tertentu yang memiliki banyak bentuk
(pleomorfik), misalnya bentuk irregular pada thermoplasma yang merupakan
bakteri archaea termofilik, bentuk bintang dan bentuk kubus pada bakteri
Haloquadratum yang merupakan bakteri archaea halofilik. Sebagian besar bakteri
memiliki diameter dengan ukuran 0,2-2,0 mm dan panjang berkisar 2-8 mm.
Biasanya sel-sel bakteri yang muda berukuran jauh lebih besar daripada sel-sel
yang tua. Bentuk dan ukuran suatu bakteri dapat dipengaruhi oleh faktor
lingkungan seperti temperatur inkubasi, umur kultur, dan komposisi media
pertumbuhan.
2.5.2

Struktur Eksternal Sel Bakteri (Pratiwi, 2008)
Struktur eksternal sel bakteri meliputi glikokaliks, flagella, filamen aksial,

fimbria, dan pili. Glikokaliks (selubung gula) merupakan istilah bagi substansi
yang mengelilingi sel, dan digambarkan sebagai kapsul. Kapsul merupakan
struktur yang sangat terorganisasi dan tidak mudah dihilangkan. Ketebalan kapsul
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14

bervariasi dan fungsinya bagi bakteri antara lain sebagai perlekatan bakteri pada
permukaan, pelindung sel bakteri terhadap kekeringan, perangkap nutrisi, dan
proteksi bakteri.
Slime (lapisan lendir). Sebagian besar material kapsul dieksresikan oleh
bakteri kedalam media pertumbuhannya sebagai lapisan lendir (slime). Lapisan
lendir pada bakteri relatif tidak terorganisasi dengan baik dan mudah dihilangkan.
Secara spesifik, lapisan lendir ini tersusun dari eksopolisakarida, glikoprotein, dan
glikolipid. Fungsi lapisan lendir pada bakteri adalah untuk melindungi bakteri dari
pengaruh lingkungan yang membahayakan, misalnya antibiotik dan kekeringan.
Flagella merupakan filamen yang mencuat dari sel bakteri dan berfungsi
untuk pergerakan bakteri. Flagella berbentuk panjang dan ramping. Panjang
flagella pada umumnya beberapa kali panjang sel dengan garis tengah 12-30 nm.
Filamen aksial (endiflagela) adalah kumpulan benang yang muncul pada
ujung sel dibawah selaput luar sel dan berpilin membentuk spiral di sekeliling sel.
Rotasi filamen menimbulkan pergerakan selaput luar sel dan memungkinkan arah
gerak bakteri berbentuk spiral.
Fimbria termasuk golongan protein yang disebut lektin yang dapat
mengenali dan terikat pada residu gula khusus pada polisakarida permukaan sel.
Hal itu menyebabkan bakteri berfimbria cenderung saling melekat satu sama lain
atau melekat pada sel hewan. Fimbria umumnya terdistribusi di seluruh
permukaan sel. Mutasi yang menyebabkan hilangnya fimbria akan diikuti oleh
hilangnya sifat virulen.
Pili secara morfologi sama dengan fimbria. Umumnya pili lebih panjang
dibanding fimbria. Pili berperan khusus dalam transfer molekul genetik (DNA)
dari satu bakteri ke bakteri lainnya pada peristiwa konjugasi. Karena fungsinya
yang spesifik pada transfer DNA bakteri, maka pili sering kali disebut sebagai pili
seks.
Dinding sel bakteri merupakan struktur kompleks dan berfungsi sebagai
penentu bentuk sel, pelindung sel dari kemungkinan pecah ketika tekanan air
didalam sel lebih besar dibandingkan di luar sel, serta pelindung isi sel dari
perubahan lingkungan diluar sel. Tebal dinding sel bakteri berkisar 10-23nµ
dengan berat berkisar 20% berat kering sel bakteri. Dinding sel bakteri tersusun
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

15

atas peptidoglikan (juga dikenal sebagai murein), yang menyebabkan kakunya
dinding sel. Peptidoglikan merupakan polimer (molekul besar) yang terdiri atas
perulangan disakarida yang tersusun atas monosakarida N-acetylglucosamine
(NAG) dan N-acetylmuramic acid (NAM).
Dinding

sel

bakteri

Gram

positif

mengandung

banyak

lapisan

peptidoglikan (murein) yang membentuk struktur yang tebal dan kaku, dan asam
teikoat yang mengandung alkohol dan fosfat. Dinding sel bakteri Gram negatif
mengandung satu atau beberapa lapis peptidoglikan dan membran luar.
Peptidoglikan terikat pada lipoprotein pada membran luar. Terdapat daerah
periplasma, yaitu daerah yang terdapat diantara membran plasma dan membran
luar. Periplasma berisi enzim degradasi konsentrasi tinggi serta protein-protein
transport. Dinding sel bakteri Gram negatif tidak mengandung asam teikoat, dan
karena hanya mengandung sejumlah kecil peptidoglikan, maka dinding sel bakteri
Gram negatif ini relatif lebih tahan terhadap kerusakan mekanis.
2.5.3

Struktur Internal Sel Bakteri (Pratiwi, 2008)
Struktur di dalam dinding sel bakteri disebut dengan struktur internal sel

bakteri. Di dalam dinding sel bakteri terdapat sitoplasma yang merupakan
substansi yang menempati ruangan sel bagian dalam. Di dalam sitoplasma
terdapat berbagai enzim, air (80%), protein, karbohidrat, asam nukleat, dan lipid
yang membentuk sistem koloid yang secara optik bersifat homogen. Selain
dikelilingi oleh dinding sel, sitoplasma juga dikelilingi oleh membran sel
(membran plasma) dan kadang-kadang terdapat lapisan di sebelah luar dinding sel
berupa kapsul atau lapisan lendir (slime layer).
Membran plasma adalah struktur tipis yang terdapat di sebelah dalam
dinding sel dan menutup sitoplasma sel. Membran plasma tersusun atas fosfolipid
berlapis ganda dan protein, membentuk model mosaik cairan. Pada eukariot,
membran plasma juga tersusun dari karbohidrat dan sterol, misalnya kolesterol.
Membran plasma berfungsi sebagai sekat selektif material yang ada dalam dan
diluar sel (bersifat selektif permeabel bagi transport material kedalam dan keluar
sel).
Struktur internal sel bakteri yang lainnya adalah daerah inti (daerah
nukleoid) yang mengandung kromosom bakteri; ribosom yang berperan pada
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

16

sintesis protein; badan inklusi yang merupakan organel penyimpan nutrisi;
endospora (resting cell), yaitu struktur dengan dinding tebal dan lapisan tambahan
pada sel bakteri yang dibentuk di sebelah dalam membrane sel. Endospora
berfungsi sebagai pertahanan sel bakteri terhadap panas ekstrem, kondisi kurang
air, dan paparan bahan kimia serta radiasi.
2.5.4

Bakteri Uji

a. Bacillus subtillis
Bacillus subtilis adalah bakteri aerobik Gram positif, mempunyai ciri-ciri
sel berbentuk batang pendek (rods), sendiri-sendiri, jarang membentuk rantai,
motil dengan flagella peritrich, membentuk endospora berukuran 0,8 x 1,5-1,8
μm; permukaan spora terwarnai pucat. Pada spora yang berkecambah, dinding
spora pecah secara melintang (Jauhari, 2010).
Koloni bakteri pada medium agar berbentuk bundar, tepi tidak teratur,
permukaan tidak mengkilap, menjadi tebal dan keruh (opaque); kadang-kadang
mengkerut dan berwarna krem atau kecoklatan. Bentuk koloni agak bervariasi
pada media yang berbeda. Koloni meluas pesat pada medium yang berpermukaan
lembab (Jauhari, 2010).
Biakan bakteri dari medium padat tidak mudah larut dalam air.
Pertumbuhan pada medium cair (broth) keruh, berkerut, dengan pelikel yang
koheren, tidak keruh atau hanya agak keruh. Secara anaerob, dalam medium
kompleks yang mengandung glukosa, pertumbuhan dan fermentasi berlangsung
lambat atau lemah; tetapi dengan menambahkan O2 tumbuh cepat serta
menghasilkan 2,3- butanediol, asetoin, dan CO2. Bakteri ini mendekomposisi
pektin dan polisakarida dari jaringan tanaman, dan beberapa strain dapat
membusukkan umbi kentang (Jauhari, 2010).
Klasifikasi Bacillus subtillis sebagai berikut :
Kingdom

: Prokaryota

Kelas

: Shizomycetes

Ordo

: Eubacteriales

Famili

: Bacillaceae
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

17

Genus

: Bacillus

Spesies

: Bacillus subtilis

b. Staphylococcus epidermidis
Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang sering ditemukan
sebagai flora normal pada kulit dan selaput lendir manusi

Dokumen yang terkait

Analisis komponen kimia fraksi minyak atsiri daun sirih (piper batle Linn.) dan daun uji aktivitas antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri gram negatif

0 3 33

Uji aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol 96% kulit batang kayu Jawa (lannea coromandelica) terhadap bakteri staphylococcus aureus, escherichia coli, helicobacter pylori, pseudomonas aeruginosa.

27 192 72

Uji aktivitas antibakteri ekstrak metanol ganggang merah Gracilaria verrucosa terhadap beberapa bakteri patogen gram positif dan gram negatif

4 16 75

Uji efektivitas ekstrak daun sirih hijau (Piper betle Linn) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus viridans dengan metode Disc Diffusion

0 6 53

Uji aktivitas antibakteri ekstrak kubis (brassica oleracea l.var. capitata l.) terhadap bakteri Escherichia Coli

0 5 0

Isolasi, seleksi dan uji aktivitas antibakteri mikroba endofit dari daun tanaman garcinia benthami pierre terhadap staphylococcus aureus, bacillus subtilis, escherichia coli, shigella dysenteriae, dan salmonella typhimurium

1 48 0

Uji aktivitas antioksidan pada ekstrak daun kunyit (curcuma domestica val) dengan menggunakan metode dpph ( 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl)

0 17 42

Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun garcinia benthami pierre terhadap beberapa bakteri patogen dengan metode bioautografi

1 10 92

Antagonisme beberapa bakteri endofit Arecaceae terhadap Curvularia sp. patogen penyebab bercak daun yang diisolasi dari tanaman kelapa kopyor

0 0 9

Aktivitas antibakteri salep ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper betleL.) Terhadap infeksi bakteri Staphylococcus aureus

0 0 6

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1878 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 495 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 436 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 262 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 578 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 506 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 320 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 494 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 588 23