Uji aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre dengan Metode Dilusi

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN
Garcinia benthami Pierre DENGAN METODE DILUSI

SKRIPSI

NURAINA
1110102000054

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
JULI 2015

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN
Garcinia benthami Pierre DENGAN METODE DILUSI

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi

NURAINA
1110102000054

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
JULI 2015

ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,
dan semua sumber baik yang diikuti maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama

: Nuraina

NIM

: 1110102000054

Tanda Tangan

:

Tanggal

: 7 Juli 2015

iii

iv

v

ABSTRAK
Nama
Program Studi
Judul Skripsi

: Nuraina
: Farmasi
: Uji aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Garcinia benthami
Pierre dengan Metode Dilusi.

Garcinia benthami Pierre merupakan salah satu tanaman dari genus Garcinia
yang digunakan sebagai bahan obat tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui aktivitas antimikroba dari ekstrak n-heksana, etil asetat dan metanol
daun Garcinia benthami Pierre terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC
25923 dan Escherichia coli ATCC 25922. Ekstraksi dilakukan dengan metode
maserasi bertingkat sesuai dengan tingkat kepolaran sehingga diperoleh ekstrak
n-heksana, etil asetat, dan metanol. Pengujian aktivitas antimikroba
Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 25922
dilakukan dengan metode Dilusi. Konsentrasi larutan uji yang digunakan 1000,
500, 250, 125, 62,5 µg/mL. Sebagai kontrol positif digunakan kloramfenikol 1
mg/mL dan kontrol negatif digunakan pelarut DMSO. Dari hasil pengujian
aktivitas antimikroba ekstrak n-heksana daun Garcinia benthami Pierre tidak
adanya aktivitas antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC
25923 dan Escherichia coli ATCC 25922. Pengujian aktivitas antimikroba ekstrak
etil asetat daun Garcinia benthami Pierre mempunyai aktivitas antimikroba pada
konsentrasi 250 µg/mL terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC dan
ekstrak metanol daun Garcinia benthami Pierre mempunyai aktivitas antimikroba
pada konsentrasi 500 µg/mL. Pengujian aktivitas antimikroba ekstrak daun
Garcinia benthami Pierre etil asetat dan eksrak metanol mempunyai aktivitas
antimikroba pada konsentrasi 500 µg/mL terhadap bakteri Escherichia coli ATCC
25922. Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak daun Garcinia benthami
Pierre mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, kuinon dan tanin.

Kata kunci
maserasi

: Daun Garcinia benthami Pierre, antimikroba, KHM, KBM,

vi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT

Name
Program Study
Title

: Nuraina
: Pharmacy
: Antimikrobial activity test of exctract of leaves Garcinia
benthami Pierre with dilution method.

Garcinia benthami Pierre is one of the plants of the genus Garcinia are used as
ingredients in traditional medicines. The purpose of this research is to know the
antimicrobial activity of extracts from n-hexane, ethyl acetate and methanol leaves of
Garcinia benthami Pierre against Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Escherichia
coli ATCC 25922. The extraction is done with maceration method stratified according to
the level of moderately so obtained extracts of n-hexane, ethyl acetate, and methanol.
Testing antimicrobial activity of Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Escherichia
coli ATCC 25922 performed with Dilution method. The concentration of the test solution
used 1000, 500, 250, 125, 62.5 µ g/mL. As positive controls used chloramphenicol
1 mg/mL negative control and used the solvent DMSO. From the results of testing of
antimicrobial activity of n-hexane extract of leaves of Garcinia benthami Pierre do not
activity of antimikrobial with the respect to the bacteria Staphylococcus aureus ATCC
25923 and Escherichia coli ATCC 25922. Testing antimicrobial activity of extracts of
leaves of Garcinia benthami ethyl acetate Pierre have antimicrobial activity at
concentrations of 250 µ g/mL against the bacteria Staphylococcus aureus ATCC and
methanol extract of leaves of Garcinia benthami Pierre have antimicrobial activity at
concentrations 500 µ g/mL. Testing antimicrobial activity of extracts of leaves of
Garcinia benthami Pierre ethyl acetate and methanol extract having antimicrobial activity
at concentrations 500 µ g/mL against bacteria Escherichia coli ATCC 25922. Based on
the results of filtering of phytochemical Garcinia benthami Pierre leaf extract contains
alkaloids, flavonoids, saponins, steroids, Quinones and tannins.

Keywords : Leaves of Garcinia benthami Pierre, antimicrobial, KHM, KBM, maceration

vii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Alahamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan penelitian
dan penulisan Skripsi dengan judul Uji Akitivitas Antimikroba Ekstrak Daun
Gracinia Benthami Pierre dengan Metode Dilusi. Shalawat dan salam
senantiasa tercurah kepada junjugan kita, Nabi Muhamad SAW. Penulisan Skripsi
ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi
pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Proses penelitian dan penyusunan Skripsi ini tidak lepas dari dukungan
dan bantuan berbagai pihak, mulai dari masa perkulihan saya. Oleh karena itu
pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada :
1. Prof. Dr. Atiek Soemiati, M. Si. Apt. selaku pembimbing pertama dan Ibu
Puteri Amelia, M.Farm., Apt. selaku pembimbing kedua yang telah
memberikan waktu, tenaga, semangat, ilmu, dan bimbingan kepada saya
dalam proses penelitian dan penyelesaian Skripsi ini.
2. Kementerian Agama dan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin selaku
pemberi beasiswa, sehingga penulis dapat menempuh pendidikan di
Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. H. Arif Sumantri, S.K.M., M.Kes, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
4. Bapak Yardi, Ph.D., Apt. selaku ketua Program studi Farmasi FKIK
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak dan Ibu staf pengajar yang telah memberikan ilmu pengetahuan,
bantuan, bimbingan dan motivasi sehingga saya dapat menyelesaikan studi

viii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

di jurusan farmasi FKIK universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
6. Seluruh karyawan program studi Farmasi yang telah banyak membantu
saya selama penelitian dan penyelesaian skripsi.
7. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Hidir dan Ibunda Nahaya yang selalu
memberikan doanya, kasih sayang luar biasa dan dukungan baik moril
maupun materil. Tiada apapun di dunia ini yang dapat membalas kebaikan
dan kasih sayang yang telah kalian berikan. Kalian adalah inspirasi dan
semangatku.
8. Untuk kakak, adik-adik dan ponakan serta keluarga besar yang selalu
memberikan motivasi, doa, cinta dan semangat selama meyelesaikan
skripsi ini.
9. Kepada teman-teman Andalusia Farmasi angkatan 2010, terimakasih
untuk kebersamaan, candaan, dukungan, bantuan, semangat, saran dan
kritik selama ini. Kebersamaan kita akan selalu terkenang.
10. Sahabat-sahabat yang setia menemani cerita suka dan duka selama
penelitian, Nia, Isa, Nurul, Lina, Zakia, Khulfa, Lisa, keluarga besar
ASSHOF MUBA terima kasih untuk semangat dan perhatian yang kalian
berikan.
11. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang turut
membantu menyelesaikan Skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak keterbatasan dan
kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Penulis berharap semogah hasil skripsi ini dapat bermanfaat baik bagi kalangan
akademis, khususnya bagi mahasiswa farmasi dan masyarakat pada umumnya.

Jakarta, Juli 2015

Penulis
ix
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PENRNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta , saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
: Nuraina
NIM
: 1110102000054
Program Studi : Farmasi
Fakultas
: Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan Ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/karya
ilmiah saya dengan judul :
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN Garcinia benthami Pierre
DENGAN METODE DILUSI
untuk dipublikasikan atau ditampilakn di internet atau media lain yaitu Digital
Library perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta untuk
kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta.
Demikian pernyataan persetujuan publikasi karya ilmiah saya ini saya buat
dengan sebenarnya.

Dibuat di
: Jakarta
Pada Tanggal : 7 juli 2015
Yang menyatakan,

(Nuraina)

x
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL……………………………………………..........

ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS…………………….

iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING..................................

iv

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI……………………………..

v

ABSTRAK………………………………………………......................

vi

ABSTRACT……………………………………………........................ vii
KATA PENGANTAR………………………………………………… viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH…..

xi

DAFTAR ISI..........................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR……………………….......................................... xiv
DAFTAR TABEL…………………………………..............................

xv

DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN....................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.....................................................................

1

1.2 Rmusan Masalah..................................................................

3

1.3 Tujuan Penelitian.................................................................

3

1.4 Manfaat Penelitian...............................................................

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................

4

2.1 Manggis ( Garcinia benthami Pierre)..................................

4

2.1.1 Klasifikasi Tanaman..................................................

4

2.1.2 Deskripsi Tanaman....................................................

4

2.1.3 Kandungan Kimia Genus Garcinia...........................

5

2.2 Simplisia.............................................................................. 6
2.3 Ekstrak................................................................................

7

2.4 Penapisan Fitokimia............................................................ 8
2.5 Tinjauan Bakteri.................................................................. 10
2.5.1 Definisi Bakteri.......................................................... 10
2.5.2 Pertumbuhan Bakteri.................................................

11

2.5.3 Tinjauan umum Staphylococcus aureus..................

11

xi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2.5.4 Tinjauan Umum Escherichia coli..............................

12

2.5.5 Definisi Antimikroba ................................................

12

2.5.6 Mekanisme Kerja Antimikroba.................................

13

2.6 Metode Pengujian Antimikroba.......................................... 15
2.6.1 Metode Difusi..........................................................

15

2.6.2 Metode Dilusi.........................................................

16

2.6.3 Metode Bioautografi…………………………….

18

2.6.4

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

aktivitas 20

antimikroba……………………………………….
2.7 Kloramfenikol..................................................................... 21
2.8 KHM dan KBM..................................................................

22

2.8.1 Konsentrasi Hambat Minimal.................................... 22
2.8.2 Konsentrasi Bunuh Minimal...................................... 22
BAB III METODE PENELITIAN ...................................................... 23
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian...............................................

23

3.2 Alat ..................................................................................... 23
3.3 Bahan..................................................................................

23

3.3.1 Bahan uji....................................................................

23

3.3.2 Bahan Kimia..............................................................

23

3.3.3 Bahan uji Antimikroba............................................... 24
3.4 Cara Kerja...........................................................................

24

3.4.1 Penyiapan Bahan ....................................................... 24
3.4.2 Pembuatan Ekstrak....................................................

24

3.4.3 Rendemen Total Ekstrak ........................................... 25
3.4.4 Penapisan Fitokimia................................................... 25
3.4.5 Pengujian Aktivitas Antimikroba Ekstrak daun
Garcinia benthami Pierre.......................................... 27
3.4.5.1

Sterilisasi Alat............................................. 27

3.4.5.2

Pembuatan Medium....................................

27

3.4.5.3

Persiapan Inokulum....................................

27

3.4.5.4

Penyiapan Larutan induk uji ekstrak 28
n-heksana, etil asetat dan metanol……….
xii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3.4.5.5

Pembuatan larutan kloramfenikol………...

28

3.4.5.7

Pembuatan larutan Kontrol Negatif............

28

3.4.5.8 Penentuan Aktivitas Antimikroba Ekstrak
daun Garcinia benthami Pierre Terhadap 28
Mikroba Uji (Metode Dilusi Cair)…..........
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………...

30

4.1

Determinasi Tanaman……………………………............

30

4.2

Pembuatan Simplisia…………………………………….

30

4.3

Pembuatan Ekstrak………………………………………

30

4.4

Penapisan

Fitokimia

Ekstrak

Garcinia

benthami 31

Pierre……………………………………........................
4.5 Hasil pengamatan aktivitas antimikroba ekstrak Garcinia 33
benthami

Pierre terhadap Staphylococcus aureus dan

Escherichia coli …………………………………………
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………………………………. 40
5.1 Kesimpulan……………………………………………….

40

5.2 Saran……………………………………………………...

40

DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 41

xiii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. a Pohon Garcinia benthami Pierre………………………..
Gambar 2.2. b Daun Garcinia benthami Pierre…………………………

Halaman
4
4

xiv
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3

Tabel 4.4

Tabel 4.5

Tabel 4.6

Halaman
Hasil rendemen total ekstrak n-heksana, etil asetat, dan
31
metanol daun Garcinia benthami Pierre …………………….
Hasil Uji Penafisan fitokimia ekstrak n-heksana, etil asetat,
31
dan metanol daun Garcinia benthami Pierre ……………….
Hasil pengamatan nilai Konsentrasi Hambat Minimal ekstrak
34
n-heksana, etil asetat, dan metanol daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Staphylococcus aureus ………………………
Hasil pengamatan nilai Konsentrasi Bunuh Minimal ekstrak
35
n-heksana, etil asetat, dan metanol daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Staphylococcus aureus…………………………
Hasil pengamatan nilai Konsentrasi Hambat Minimal ekstrak
36
n-heksana, etil asetat, dan metanol daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Escherichia coli…………………………………
Hasil pengamatan nilai Konsentrasi Bunuh Minimal ekstrak
36
n-heksana, etil asetat, dan metanol daun Garcinia benthami
Pierre terhadap Escherichia coli…………………………………

xv
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1.

Hasil Determinasi ................................................................

45

Lampiran 2.

Alur penelitian ……………………………………………...

46

Lampiran 3.

Skema peremajaan bakteri uji……………………………..

47

Lanpiran 4.

Skema Kerja Pembuatan Suspensi Bakteri Uji....................

48

Lampiran 5.

Skema Penentuan Aktivitas Antimikroba Ekstrak

49

n-heksana, etil asetat dan metanol Daun Garcinia benthami
Pierre terhadap stahylococcus aureus dan Escherichia coli
(Metode Dilusi Cair)………………………………...........
Lampiran 6.

Gambar proses ekstraksi daun Garcinia benthami Pierre…

51

Lampiran 7.

Gambar hasil skrining fitokimia ekstrak n-heksana, etil

52

asetat dan metanol daun Garcinia benthami Pierre…………
Lampiran 8.

Hasil uji aktivitas antimikroba ekstrak n-heksana, etil asetat
dan metanol daun Garcinia benthami Pierre terhadap
stahylococcus aureus dan Escherichia coli (Metode Dilusi
Cair)……………………

xvi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

55

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyakit infeksi oleh bakteri dan fungi merupakan jenis penyakit yang
paling banyak diderita oleh penduduk, terutama di negara berkembang,
seperti Indonesia. Telah banyak dilaporkan adanya galur mikroorganisme
patogen sudah resisten terhadap obat yang ada. Penyakit infeksi dan resistensi
obat antimikroba merupakan permasalahan yang memerlukan perhatian besar,
oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mencari antimikroba baru
yang diharapkan bisa menjadi pemecahan masalah-masalah tersebut. Sumber
antimikroba baru bisa berasal dari tumbuhan yang berpotensi sebagai
antimikroba di Indonesia, masyarakat secara tradisional sudah banyak
menggunakan berbagai tanaman untuk mengobati berbagai macam penyakit
infeksi, namun penggunaan tanaman obat tradisional masih belum banyak
didukung oleh data penelitian ilmiah (Suganda et al., 2003).
Garcinia

merupakan

genus

yang

besar

dari

family

Guttiferae/Clusiaceae. Di Indonesia tanaman ini dikenal sebagai tanaman
manggis-manggisan dan terdapat sekitar 100 spesies yang tersebar sebagai
bagian penting dari komposisi hutan. Tanaman ini juga tumbuh di daerah
subtropis, seperti di kepulauan Jepang, Korea dan sebagian wilayah dataran
Cina (Elya et al., 2006).
Khususnya untuk jenis Garcinia benthami Pierre, secara filogenik
memiliki hubungan kekerabatan dengan Garcinia mangostana. L dimana
telah banyak diteliti dan terbukti Garcinia mangostana. L memiliki aktivitas
antibakteri yang baik.
Dari berbagai penelitian yang dilakukan pada beberapa spesies
Garcinia berhasil diisolasi senyawa-senyawa kelompok xanton, benzofenon,
flavonoid, dan triterpenoid. Umumnya senyawa-senyawa tersebut mempunyai
aktivitas biologik dan farmakokinetik seperti antiinflamasi, antimikroba,
antifungi dan antioksidan. Senyawa antimikroba yang sering ditemukan pada

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2

bahan tumbuhan antara lain : senyawa fenol, terpena, alkaloid dan polipeptida
(Putra, 2010).
Selanjutnya tahun (2009), Elya et al juga telah melakukan uji aktivitas
antibakteri terhadap ekstrak kulit batang manggis hutan (Garcinia rigida
Miq). Adapun bakteri uji yang digunakan adalah Salmonella thyposa ATCC
14028, Staphylococcus aureus ATCC 29213 dan Bacillus subtilis ATCC
6633.
Garcinia benthami Pierre, merupakan salah satu spesies dari genus
Garcinia. Tumbuhan ini dapat ditemukan di Thailand, Malaysia, Singapura,
Filipina dan Indonesia. Di Indonesia banyak terdapat di Sumatera, Jawa dan
Kalimantan. Dalam beberapa tahun terakhir ini konsep “back to nature” terus
menjadi pusat penelitian. Seperti pada penelitian yang dilakukan sebelumnya
oleh Elya et al (2004), berhasil mengisolasi senyawa benzophenon baru dari
kulit batang Garcinia benthami Pierre yaitu ismailbenzofenon dan
hilmibenzofenon (Elya et al., 2006).
Dari penelusuran literatur masih sedikit informasi dan penelitian
mengenai tanaman Garcinia benthami Pierre, sehingga diperlukan penelitian
aktivitas antimikroba secara lebih lanjut.
Pada penelitian ini dilakukan penapisan fitokimia untuk mengetahui
komponen kimia pada ekstrak daun Garcinia bentahmi Pierre dan uji
aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Penelitian ini dilakukan dengan metode dilusi untuk mengetahui
seberapa banyak jumlah zat antimikroba yang diperlukan untuk menghambat
pertumbuhan atau membunuh bakteri yang diuji. Diharapkan hasil penelitian
ini dapat menambah informasi tentang aktivitas antimikroba. Dalam hal ini,
bakteri uji yang digunakan adalah Staphylococcus aureus mewakili Gram
positif dan Escherichia coli mewakili Gram negatif.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3

1.2

Rumusan Masalah
Belum adanya penelitian tentang aktivitas antimikroba ekstrak daun
Garcinia benthami Pierre dengan metode dilusi untuk mengetahui
seberapa banyak jumlah zat antimikroba yang diperlukan untuk
menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri yang diuji. Disamping
itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ekstrak, n-heksana,
etil asetat dan ekstrak metanol daun Garcinia benthami Pierre mempunyai
aktivitas antimikroba terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus
aureus.

1.2 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari ekstrak n-heksana, etil
asetat dan metanol daun Garcinia benthami Pierre terhadap bakteri Gram
positif Staphylococcus aureus dan bakteri Gram negatif Escherichia coli .
2.

Untuk Mengetahui nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan
Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari ekstrak n-heksana, etil asetat
dan metanol daun Garcinia benthami Pierre terhadap bakteri Gram positif
Staphylococcus aureus dan bakteri Gram negatif Escherichia coli .

1.2

Manfaat Penelitian
Memberikan informasi ilmiah pemanfaatan daun Garcinia benthami
Pierre sebagai antimikroba, mengingat informasi mengenai tanaman masih
jarang ditemukan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Manggis (Garcinia benthami Pierre)

2.1.1 Klasifikasikan Tanaman (Rukmana R,1995).
Kingdom

: Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi

: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Subdivisi

: Angiospermae (berbiji tertutup)

Kelas

: Dicotyledonae ( biji berkeping dua)

Ordo

: Guttifernales

Famili

: Guttiferae

Genus

: Garcinia

Spesies

: Garcinia benthami Pierre

2.1.a

2.1.b

Gambar : 2.1.a. Pohon Garcinia benthami Pierre
2.1.b. Daun Garcinia benthami Pierre
Sumber : Foto pribadi

2.1.2 Deskripsi Tanaman
Garcinia benthami Pierre memiliki ciri batang berbentuk lurus
mengecil kearah ujung dan berdiameter kurang lebih 10 meter
dibudidayakan pada tahun ± 1960. Bentuk pohon seperti kerucut, memiliki
percabangan selang seling dan tumbuh pada ketinggian 1-1000 m diatas

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5

permukaan laut. Daun kelopak dan daun mahkota berjumlah 4-5 helai (Sari,
R.,1999).
Garcinia benthami Pierre memiliki daun berbentuk tunggal, elips
memanjang, ruas daun berhadapan atau berbentuk helaian. Warna daun pada
permukaan atas hijau gelap, sedangkan permukaan bawah berwarna hijau
terang, ukurannya 12-23 x 4,5-10 cm, tangkai panjangnya 1,5-2 cm. Bunga
betina terdapat pada ujung batang dengan susunan menggarpu, garis tengah
5-6 cm. Benang sari semu dengan tangkai-tangkai sarinya yang bersatu
menjadi sebuah cincin dibagian pangkal, atau menjadi 4-5 berkas pendek,
bakal buah beruang 2-12, biasanya berbentuk papilla. Bunga jantan
memiliki benang sari dengan jumlah bervariasi, dan tangkai bersatu menjadi
satu tiang tengah atau membentuk 4-5 berkas (Rukmana, R., 1995).
2.1.3 Kandungan Kimia
Terdapat beberapa kandungan kimia pada genus Garcinia, yaitu
senyawa xanton, benzofenon, golongan flavonoid, triterpen, dan asam
organik. Golongan xanton merupakan senyawa yang sebagian besar
terdapat pada genus Garcinia diantara jenis tanaman lainnya Garcinia
tetrandra Pierre, Hartati. S., 2007 menemukan senyawa xanton dari kulit
batang kayu tumbuhan yaitu cudraxanton dimana sebelumnya senyawa ini
ditemukan pada kulit batang dan akar Cudrania conchinensis dan
Cudrania tricuspidata. Dari tumbuhan ini juga berhasil diisolasi senyawa
baru xanton yaitu tetrandraxanton, Garcinia lancilimba dua xanton baru
yaitu 1,5,6-trihidroksi-6´,6´-dimetil-2H-pirano (2´,3´,3,4)- 2-(3-metilbut-2enil) xanton dan 1,6,7-trihidroksi-6´,6´-dimetil-2H-pirano (2´,3´,3,2)-4-(3metilbut-2-enil)-xanton telah berhasil diisolasi dari kulit batang G.
lancilimba (Nian-Yun .Y et al., 2007). Garcinia rigida ditemukan lima
senyawa baru turunan xanton yaitu sahlaxanton, salmaxanton (Elya, B. et
al., 2005) dan isomernya, musaxanton, asmaxanton (Elya, B. et al., 2006)
dan yahyaxanton yang diisolasi dari Garcinia rigida (Elya, B. et al.,
2008). Garcinia mangostana tiga xanton baru yaitu mangostenol,
mangostenon

A

dan

mangostenon

B diisolasi dari

kulit

buah

G. mangostana (Sunit S. et al., 2002). Garcinia parvifolia Sembilan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

6

senyawa xanton telah diisolasi dari G. parvifolia oleh Xu, Y.J. et al.,
2001, yaitu parvixanthon, Garcinia scortechinii empat senyawa

xanton

terprenilasi berhasil diisolasi dari buah G. Scortechinii (Yaowapa
Sukpondma et al., 2005) yaitu scortechinon. Hampir semua xanton yang
diketahui terdapat pada empat suku: Guttiferae, Gentianaceae, Moraceae,
dan Polygalaceae (Amelia, 2011).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap genus Garcinia,
didapatkan beberapa senyawa yang memiliki aktivitas biologis dan
farmakologis seperti antimikroba, antifungi, antiinflamasi, dan antioksidan
(Mailandari,2012). Uji aktivitas terhadap Garcinia benthami Pierre yang
telah dilakukan adalah antioksidan. Antioksidan adalah zat yang dapat
melawan pengaruh bahaya dari radikal bebas yang terbentuk sebagai hasil
metabolisme oksidatif, yaitu hasil dari reaksi-reaksi kimia dan proses
metabolik yang terjadi di dalam tubuh.

2.2

Simplisia
Simplisia dalam Materia Medika Indonesia tahun (1995) diartikan
sebagai bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain berupa
bahan yang telah dikeringkan. Simplisia berdasarkan sumbernya dapat
dibedakan menjadi tiga yaitu simplisia nabati, simplisia hewani, simplisa
pelikan (mineral).
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian
tumbuhan atau eksudat tumbuhan (isi sel) yang secara spontan keluar dari
tumbuhan atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya.
Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan
atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat
kimia murni. Simplisia pelikan adalah simplisia yang berupa bahan pelikan
yang belum diolah dengan cara sederhana atau belum berupa zat kimia
murni (Depkes, 1995).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7

2.3

Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi
senyawa aktif dari simplisia nabati maupun hewani dengan mengunakan
pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan
dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian rupa hingga
memenuhi baku yang telah ditetapkan (BPOM RI, 2005).
Ekstraksi adalah kegiatan pemisahan atau penarikan kandungan
senyawa organik atau beberapa zat yang dapat larut dari suatu padatan atau
cairan

dengan

bantuan

pelarut

cair.

Simplisia

yang diekstraksi

mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak dapat
larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain -lain. Struktur kimia yang
berbeda-beda akan mempengaruhi kelarutan serta senyawa-senyawa
tersebut terhadap pemanasan, udara, cahaya, logam berat, dan derajat
keasaman. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia
akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat
(Depkes, 2000).
Cairan pelarut adalah pelarut yang optimal untuk menyari senyawa
kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, karena itulah ekstrak hanya
mengandung sebagian besar senyawa kandungan yang diinginkan karena
senyawa tersebut dapat terpisahkan dari bahan dan dari senyawa
kandungan lainnya (Depkes, 2000).
Ada beberapa metode ekstraksi: destilasi uap, ekstraksi dengan
menggunakan

pelarut,

dan

lainnya

(Ekstraksi

berkesinambungan,

superkritikal karbondioksida, ekstraksi ultrasonik, ekstraksi energi listrik).
Ekstraksi dengan menggunakan pelarut terdiri dari cara dingin dan panas
(Depkes, 2000).
Diantara metode ekstraksi dengan cara dingin adalah maserasi dan
perkolasi. Maserasi adalah proses ekstraksi simplisia menggunakan
perendaman pelarut dengan pengocokan atau pengadukan pada temperatur
ruangan. Membran sel dari simplisia akan pecah sehingga senyawa aktif
yang terdapat didalam simplisia akan keluar akibat adanya perbedaan
tekanan yang ditimbulkan pada proses maserasi tersebut. Proses maserai

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

8

dapat diulang dengan cara sisa serbuk atau masa simplisianya dapat
dipergunakan kembali dengan menambahkan kembali pelarutnya, cara ini
disebut remaserasi (Depkes, 2000).
Perkolasi merupakan proses ekstraksi simplisia dengan selalu
menggunakan pelarut baru dan dilakukan umumnya pada temperatur
ruangan. Dilakukan terus menerus sampai diperoleh ekstrak yang
jumlahnya 1-5 kali bahan. Ekstraksi dengan cara panas terdiri dari refluks,
soxhlet, digesti, infudasi, dan dekoktasi (Depkes, 2000).

2.4

Penapisan Fitokimia
Penapisan fitokimia adalah pemeriksaan kandungan kimia secara
kualitatif untuk mengetahui golongan senyawa yang terkandung dalam
suatu tumbuhan. Pemeriksaan diarahkan pada senyawa metabolit sekunder
yang memiliki khasiat bagi kesehatan seperti senyawa alkaloid, flavonoid,
terpen, tanin, saponin, glikosida, kuinon dan antrakuinon (Harborne,
1987).

2.4.1 Alkaloid
Alkaloid adalah golongan senyawa yang bersifat basa, mengandung
satu atau lebih atom nitrogen biasanya dalam gabungan berbentuk siklik,
serta bereaksi dengan pereaksi alkaloid. Menurut sifatnya alkaloid
umumnya berbentuk kristal padat dan sebagian kecil bersifat cair,
memutar bidang polarisasi dan terasa pahit (Harborne, 1987). Alkaloid
bentuk bebas atau basanya mudah larut dalam pelarut organik dan sukar
larut dalam air. Alkaloid dapat dideteksi dengan menggunakan pereaksi
Dragendorff, Mayer, dan Bauchardat (Hasiholan, 2012).
2.4.2 Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa yang umumnya terdapat pada
tumbuhan berpembuluh. Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai
glikosida dan aglikon flavonoid. Dalam menganalisis flavonoid, yang
diperiksa ialah aglikon dalam ekstrak tumbuhan yang sudah dihidrolisis.
Proses ekstraksi senyawa ini dilakukan dengan fenol mendidih untuk
menghindari oksidasi enzim (Harbone, 1987). Flavonoid bagi tumbuhan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

9

bertindak sebagai penarikan serangga yang berperan dalam proses
penyerbukan dan penarikan perhatian binatang yang membentuk
penyebaran biji (Hasiholan, 2012)
2.4.3 Terpen
Terpen adalah suatu senyawa yang tersususn oleh molekul isopren
CH2=C(CH2)-CH=CH2

dan

kerangka

karbonnya

dibangun

oleh

penyambungan dua atau lebih satuan unit C5. Terpenoid terdiri atas
beberapa macam senyawa seperti monoterpen dan seskuiterpen dan
seskuiterpen yang mudah menguap, diterpen yang kurang menguap dan
tidak menguap, triterpen, dan sterol. Secara umum senyawa ini larut dalam
lemak dan terdapat dalam sitoplasma sel tumbuhan. Senyawa ini
diekstraksi dengan menggunakan eter dan kloroform. Saponin dan
glikosida jantung merupakan golongan senyawa triterpen atau steroid yang
terdapat dalam bentuk glikosida (Horbone, 1987)
2.4.4 Tanin
Tanin merupakan senyawa umum yang terdapat dalam tumbuhan
berpembuluh, memiliki gugus fenol, rasa sepat dan mampu menyamak
kulit karena kemampuaanya menyambung silang protein. Jika bereaksi
dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tak larut dalam air.
Tanin secara kimia dikelompokan menjadi dua golongan yaitu tanin
terkondensasi dan tanin terhidrolisis. Tanin terkondensasi atau flavolan
secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi
katekin tunggal yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer
yang lebih tinggi. (Harborne, 1987).
2.4.5 Saponin
Saponin adalah glikosida triterpen yang merupakan senyawa aktif
permukaan dan bersifat seperti sabun yang jika dikocok kuat akan
menimbulkan busa (Harborne, 1987). Pada umumnya, saponin bereaksi
netral (larut dalam air), beberapa ada yang bereaksi dengan asam (sukar
larut dalam air) dan sebagian kecil ada yang bereaksi dengan basa
(Hasiholan, 2012).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

10

2.4.6 Glikosida
Glikosida merupakan suatu senyawa yang bila dihidrolisis akan terurai
menjadi gula (glikon) dan senyawa lain (aglikon atau genin). Pada
umumnya glikon berupa glukosa, fruktosa, laktosa, galaktosa dan manosa,
dapat pula berupa gula khusus seperti sarmentosa, olendrosa, simarosa dan
rutinosa. Aglikosa (genin) biasanya mempunyai gugus -OH dalam bentuk
alkoholis atau fenolis. Glikosida pada tanaman biasanya terdapat dalam
bentuk beta-glikosida. Glikosida yang berkhasiat obat dapat digolongkan
menjadi glikosida jantung antrakuinon, saponin, sianofor, tiosianat,
flavonol, aldehid, alkohol, lakton dan fenol (Hasiholan, 2012).
2.4.7 Kuinon dan Atrakuinon
Kuinon merupakan senyawa berwarna dan memiliki kromofor dasar.
Kuinon dibagi menjadi empat kelompok untuk tujuan identifikasi, yaitu:
benzokuinon, neftokuinon dan antrakuinon diperlukan hidrolisis asam
untuk melepas kuinon bebasnya. Kuinon isoprenoid terlibat dalam
respirasi sel dan fotosintesis diperlukan cara khusus untuk memisahkannya
dari bahan lipid lain (Harborne, 1987). Antrakuinon bila dihidrolisis akan
terurai menjadi di, tri, atau tetra-hidroksi antrakuinon sebagai aglikon atau
modifikasi dari senyawa tersebut (Hasiholan, 2012).

2.5 Tinjauan Bakteri
2.5.1. Bakteri
Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dan berkembang biak
dengan membelah diri (aseksual). Ukuran bakteri bervariasi baik
penampang maupun panjangnya, tetapi pada umumnya penampang bakteri
adalah sekitar 0,7-1,5 µm dan panjangnya sekitar 1-6µm (Jawet et al.,
2001).
Bakteri dibagi dalam golongan Gram positif dan Gram negatif
berdasarkan reaksinya terhadap pewarnaan Gram. Perbedaan antara bakteri
Gram positif dan bakteri Gram negatif, Staphylococcus aureus dan
Streptococcus sp sebagian besar terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan
yang membentuk struktur yang tebal dan kaku. Kekakuan pada dinding sel

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

11

bakteri yang disebabkan karena lapisan peptidoglikan dan ketebalan
peptidoglikan ini membuat bakteri Gram positif resisten terhadap lisis
osmotik (Jawet et al., 2001).
Dinding sel bakteri Gram positif mengandung lapisan peptidoglikan
yang tebal dan asam teikoat. Dinding sel bakteri Gram negatif
mengandung lapisan peptidoglikan yang tipis, membran luar yang terdiri
dari protein, lipoprotein dan lipopolisakarida, daerah periplasma dan
membran dalam. Bakteri Gram negatif, Escherichia coli dan Pseudomonas
sp terdiri atas satu atau sedikit lapisan peptidaglikan pada dinding selnya
(Jawet et al.,2001).
2.5.2

Pertumbuhan Bakteri
Istilah

pertumbuhan

umum

digunakan

untuk

bakteri

dan

mikroorganisme lain dan biasanya mengacu pada perubahan di dalam hasil
panen sel (Pertambahan total masa sel) dan bukan pertumbuhan individu
organisme. Inokulum hampir selalu mengandung ribuan organisme
Pertumbuhan menyatakan pertambahan jumlah dan atau masa melebihi
yang ada didalam inokulum asalnya (Michael, et al., 2008).
2.5.3 Tinjauan umum Staphylococcus aureus
Regnum

: procaryote

Divisi

: Bacteria

Kelas

: Schizomycetes

Bangsa

: Eubacteriales

Familia

: Micrococcaceae

Genus

: Staphylococcus

Species

: Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus adalah bakteri berbentuk bulat, bersifat Gram
positif, biasanya tersusun dalam rangkaian tidak beraturan seperti buah
anggur. Beberapa diantaranya tergolong flora normal pada kulit dan
selaput mukosa manusia, menyebabkan penanahan, abses, berbagai infeksi
pirogen dan bahkan septikimia yang fatal. Staphylococcus aureus
mengandung polisakarida dan protein yang berfungsi sebagai antigen dan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

12

merupakan substansi penting didalam struktur dinding sel, tidak
membentuk spora, dan tidak membentuk flagel (Jawetz et al., 2001)
2.5.4 Tinjauan umum Escherichia coli
Dikenal dalam dunia kesehatan dapat diklasifikan sebagai berikut :
Phylum

: Thallophyta

Kelas

: Syzomycetes

Ordo

: Eubacteriales

Family

: Enterobacterianceae

Genus

: Eschericia

Spesies

: Escherichia coli

Escherichia coli praktis selalu ada dalam saluran pencernaan hewan
dan manusia karena secara alamiah Escherichia coli merupakan salah
satu penghuni tubuh. Penyebaran Escherichia coli dapat terjadi dengan
cara kontak langsung (bersentuhan, berjabatan tangan dan sebagainya)
kemudian diteruskan melalui mulut, akan tetapi

Escherichia coli pun

dapat ditemukan tersebar di alam sekitar kita. Penyebaran secara pasif
dapat terjadi melalui makanan atau minuman (Melliawati, 2009).
2.5.5

Antimikroba
Antimikroba ialah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang
merugikan manusia. Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh suatu
mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi
mikroba lain. Banyak antibiotik yang dibuat secara semisintetik atau
sintetik penuh. Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab
infeksi pada manusia, ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif
setinggi mungkin. Artinya, obat tersebut haruslah bersifat sangat toksik
untuk mikroba (Farter, 2009).
Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat
menghambat

pertumbuhan

mikroba,

dikenal

sebagai

aktivitas

bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai
aktivitas bakterisid (Farter, 2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

13

2.5.6 Mekanisme kerja antimikroba (Farter, 2009).
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi dalam lima
kelompok yaitu :
1. Antimikroba yang menghambat metabolisme sel mikroba.
Antimikroba yang termasuk dalam kelompok ini ialah sulfonamid,
trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon, dengan
mekanisme kerja ini diperoleh efek bakteriostatik.
Mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya.
Berbeda dengan mamalia yang mendapatkan asam folat dari luar,
kuman patogen harus mensintesis sendiri asam folat dari asam amino
benzoat (PABA) untuk kebutuhan hidupnya.
Apabila sulfonamid dan sulfon menang besaing dengan PABA
untuk diikutsertakan dalam pembentukan asam folat, maka terbentuk
analog asam folat yang nonfunsional, akibatnya, kehidupan mikroba
akan terggangu. Berdasarkan sifat kompetisi, efek sulfonamid dapat
diatasi dengan meningkatkan kadar PABA. Untuk dapat berkerja,
dihidrofolat harus dirubah menjadi bentuk aktifnya yaitu asam
tetrahidrofolat. Enzim dihidrofolat reduktase yang berperan di sini
dihambat oleh trimetoprim, sehingga asam dihidrofolat tidak dapat
direduksi menjadi asamtetrahidrofolat yang funsional.
P-aminosalisilat merupakan analog PABA, dan berkerja dengan
menghambat sintesis asam folat pada M.tuberculosis. Sulfonamid tidak
efektif terhadap bakteri yang sensitif terhadap M.tuberculosis dan
sebaliknya p-aminsalisilat tidak efektif terhadap bakteri yang sensitif
terhadap sulfonamid.
2. Antimikroba yang menghambat sintesis dinding sel mikroba.
Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah penisilin,
sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin. Dinding sel bakteri,
terdiri

dari

polipeptidoglikan

yaitu

suatu

kompleks

polimer

mukopeptida. Sikloserin menghambat reaksi yang paling dini dalam
proses sintesis dinding sel yang diikuti basitrasin,vankomisin dan
diakhiri oleh penisiln dan sefalosporin, yang menghambat reaksi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14

terakhir dalam rangkaian reaksi tersebut. Oleh karena itu tekanan
osmotik dalam sel kuman lebih tinggi daripada di luar sel maka
kerusakan dinding sel kuman akan memyebabkan terjadinya lisis, yang
merupakan dasar efek bakterisidal pada kuman yang peka.
3. Antimikroba yang menggangu keutuhan membran sel mikroba.
Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin, golongan
polien serta berbagai antimikroba kemoterapeutik, umpamanya
antiseptik surface active agents. Polimiksin sebagai senyawa amoniumkuaterner dapat merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat
pada membran sel mikroba. Polimiksin tidak efektif terhadap kuman
Gram-positif karena jumlah fosfor bakteri ini rendah. Kuman yang
Gram-negatif menjadi resisten terhadap polomiksin, ternyata jumlah
fosfor menurun. Antibiotik polien bereaksi dengan struktur sterol yang
terdapat

pada

membran

sel

fungus

sehingga

mempengaruhi

permeabilitas selektif membran tersebut. Kerusakan membran sel
menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel
mikroba yaitu protein, asam nukleat, nukleotida dan lain-lain.
4. Antimikroba yang menghambat sintesis protein sel mikroba.
Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah golongan obat
aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol.
Sintesis protein berlangsung diribosom, dengan bantuan mRNA dan
tRNA. Pada bakteri, ribosom terdiri atas dua subunit, yang berdasarkan
konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50S. Untuk
berfungsi akan bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi ribosom
70S.
Streptomisin berikatan dengan komponen ribosom 30S dan
menyebabkan kode pad mRna salah baca oleh tRNA pada waktu
sintesis protein. Akibatnya akan terbentuk protein yang abnormal dan
nonfunsional bagi sel mikroba.
Eritromisin berikatan dengan ribosom 50S dan menghambat
traslokasi kompleks tRNA-peptida dari lokasi asam amino ke lokasi
peptida. Akibatnya, rantai polipetida tidak dapat diperpanjang karena

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

15

lokasi asam amino tidak dapat menerima kompleks tRNA asam amino
yang baru.
Linkomisin juga berikatan dengan ribosom 50S dan menghambat
sintesis protein.
Tetrasiklin berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi
masuknya kompleks tRNA asam amino pada lokasi asam amino.
Kloramfenikol berikatan dengan ribosom 50S dan menghambat
asam amino baru pada rantai polipeptida oleh enzim peptidil trasferase.
5. Antimikroba yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba.
Antimikroba yang termasuk dalam kelompok ini ialah rifampisin
dan golongan kuinolon. Yang lainnya walaupun bersifat antimikroba,
karena sitotoksisitasnya, pada umumnya hanya digunakan sebagai obat
antikanker, tetapi beberapa obat dalam kelompok terakhir ini dapat pula
digunakan sebagai antivirus. Yang dikemukakan disini hanya kerja obat
yang berguna sebagai antimikroba, yaitu rifampisin dan golongan
kuinolon. Rifampisin salah satu derivat rifampisin, berikatan dengan
enzim polimerase-RNA (pada sub unit) sehinga menghambat sintesis
RNA dan DNA girase pada kuman yang fungsinya menata kromosom
yang sangat panjang menjadi bentuk spiral sehingga bisa muat dalam
sel kuman yang kecil.

2.6 Metode Pengujian Antimikroba
Uji aktivitas antimikroba dapat dilakukan dengan menggunakan tiga
metode, yaitu metode difusi, dilusi dan bioautografi. Metode difusi dan
biautografi merupakan teknik secara kualitatif karena metode ini hanya akan
menunjukan ada atau tidaknya senyawa dengan aktivitas antimikroba. Disisi
lain, metode dilusi digunakan untuk kuantitatif yang akan mentukan
Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) (Jawet et al., 2007).
2.6.1 Metode difusi
Metode yang paling luas digunakan adalah uji difusi cakram. Cakram
kertas filter yang mengandung sejumlah tertentu obat ditempatkan di atas
medium padat yang telah diinokulasi pada permukaan dengan organisme

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

16

uji. Setelah inkubasi, diameter zona jernih inhibisi disekitar cakram diukur
sebagai ukuran kekuatan inhibisi obat melawan organisme uji tertentu.
Metode difusi dipengaruhi banyak faktor fisik dan kimia selain
interaksi sederhana antara obat dan organisme (misal, sifat medium dan
kemampuan difusi, ukuran molekuler, dan stabilitas obat) (jawet et al.,
2007).
Metode difusi dibagi menjadi beberapa cara yaitu: (Ratnasari, 2009)
1. Metode Silinder Gelas
Metode silinder yaitu meletakkan beberapa silinder yang terbuat
dari gelas atau besi tahan karat di atas media agar yang telah
diinokulasi dengan bakteri. Tiap silinder ditempatkan sedemikian rupa
hingga berdiri di atas media agar, diisi dengan larutan yang akan diuji
dan diinkubasi. Setelah diinkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk
melihat ada tidaknya daerah hambatan di sekeliling silinder.
2. Metode kertas cakram disk diffusion
Metode cakram kertas yaitu meletakkan cakram kertas yang telah
direndam larutan uji di atas media padat yang telah diinokulasi dengan
bakteri. Setelah diinkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat
ada tidaknya daerah hambatan disekeliling cakram.
3.

Metode cetak lubang (metode sumur)
Metode lubang yaitu membuat lubang pada agar padat yang telah
diinokulasi dengan bakteri. Jumlah dan letak lubang disesuaikan
dengan tujuan penelitian, kemudian lubang diisi dengan larutan yang
akan diuji. Setelah diinkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk
melihat ada tidaknya daerah hambatan disekeliling lubang.

2.6.2 Metode Dilusi
Sejumlah

zat

antimikroba

dimasukan

ke

dalam

medium

bakteriologi padat atau cair. Biasanya digunakan pengenceran dua kali
lipat zat antimikroba. Medium akhirnya diinokulasi dengan bakteri yang
diuji dan diinkubasi.
Tujuan akhir dari metode dilusi adalah untuk mengetahui seberapa
banyak jumlah zat antimikroba yang diperlukan untuk menghambat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

17

pertumbuhan atau membunuh bakteri yang diuji. Uji keretanan dilusi agak
membutuhkan waktu yang banyak, dan kegunaanya terbatas pada
keadaan-keadaan tertentu. Uji dilusi kaldu tidak praktis dan kegunaannya
sedikit apabila dilusi harus dibuat dalam tabung pengujian, namun adanya
serangkaian preparat dilusi kaldu untuk berbagai obat yang berbeda dalam
lempeng mikrodilusi telah meningkatkan dan mempermudah metode
(Jawet, et al., 2007).
Keuntungan uji dilusi adalah bahwa uji tersebut memungkinkan
adanya hasil kuantitatif, yang menunjukan jumlah obat tertentu yang
diperlukan untuk menghambat (atau membunuh) mikroorganisme yang
diuji (Jawet et al., 2007).
Metode dilusi dibagi menjadi beberapa cara yaitu, (Ratnasari, 2009).
1. Cara penapisan lempeng agar
Larutan zat antibakteri dibuat pengenceran kelipatan dan
sehingga dilipat berbagai variasi konsentrasi. Hasil pengenceran
larutan tersebut dicampur dengan media agar yang telah dicairkan
kemudian dijaga pada suhu 45ºC- 50ºC, dengan perbandingan antara
larutan zat antibakteri dengan media adalah satu bagian untuk larutan
zat antibakteri dan sembilan bagian untuk media. Setelah itu, media
campuran tersebut dituang kedalam cawan petri steril dan dibiarkan
dingin hingga membeku. Lalu pada tiap cawan petri ditanamkan
dengan suspensi bakteri yang mengandung kira-kira 105-106 CFU/
mL, kemudian media cawan petri tersebut dalam posisi terbalik dan
diinokulasi pada suhu 37ºC selama 18-24 jam. Untuk setiap
pengenceran

digunakan

kontrol

negatif.

Hasil

pengamatan

konsentrasi hambat minimal (KHM) dibaca sebagai konsentrasi
terendah yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme, jika
terlihat

pertumbuhan

bakteri

tidak

jelas

atau

kabur

maka

pertumbuhan bakteri dapat dibiakan.
2. Cara pengenceran tabung
larutan zat antibakteri dilarutkan dengan pelarut yang sesuai,
kemudian diencerkan dengan medium cair berturut-turut pada tabung

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

18

yang disusun dalam satu deret hingga konsentrasi terkecil yang
dikehendaki. Tiap tabung (yang berisi campuran media dan larutan
zat antibakteri dengan berbagai konsentrasi tersebut) ditanami dengan
suspensi bakteri yang mengandung kira-kira 105–106 sel bakteri
CFU/mL. Selanjutnya dibiakan dalam media tabung diinkubasi pada
suhu 37ºC selama 18-24 jam. Pertumbuhan bakteri diamati dengan
cara melihat kekeruhan didalam tabung tersebut, yang disebabkan
oleh inokulum bakteri. Larutan uji agen antimikroba pada kadar
terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikroba uji
ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan sebagai tersebut
selanjutnya dikultur ulang pada media baru tanpa penambahan
mikroba uji ataupun agen antimikroba, dan diinkubasi selama 18-24
jam. Media yang tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan
sebagai KBM.
3. Turbidimetri
Metode turbidimetri ini dilakukan dengan suatu turunan protein
yang dimurnikan dan dibiakan dalam satuan tuberkulin. Reaksi pada
metode ini adalah mengerasnya jaringan yang dengan mudah dapat
dirasakan, dengan garis tengah 10 mm atau lebih yang terjadi dalam
waktu 48-72 jam setelah penyuntikan didalam kulit. Uji ini diukur
dengan speltrofotometer UV-VIS dengan panjang gelombang 530
mm.
2.6.3

Metode biauotografi ( Akhyar, 2010)
Menurut Betina (1972) bioautografi adalah suatu metode
pendeteksian untuk mememukan suatu senyawa antimikroba yang
belum teridentifikasi dengan cara melokalisir aktivitas antimikroba
tersebut pada suatu kromatogram. Metode ini memanfaatkan
pengerjaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).
Pada bioautogafi ini didasarkan atas efek biologi berupa
antibakteri, antiprotozoa, antitumor dan lain-lain dari substansi yang
diteliti. Ciri khas dari prosedur bioautografi adalah didasarkan atas
teknik difusi agar, dimana senyawa antimikrobanya dipindahkan dari

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

19

lapisan KLT ke medium agar yang telah diinokulasikan dengan
merata bakteri uji yang peka. Dari hasil inkubasi pada suhu dan
waktu tertentu akan terlihat

Dokumen yang terkait

Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Kunyit (Curcuma domestica Val.) Terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Shigella dysentriae, dan Lactobacillus acidophilus

25 148 90

EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya L) TERHADAP Shigella dysenteriae SECARA IN VITRO DENGAN METODE DILUSI TABUNG DAN DILUSI AGAR

7 62 24

Uji Toksisitas Akut Ekstrak Metanol Daun Garcinia benthami Pierre Terhadap Larva Artemia salina Leach dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

2 29 75

Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etil Asetat Daun Garcinia benthami Pierre dengan Metode Braine Shrimp Lethality Test (BSLT)

1 29 67

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre terhadap Beberapa Bakteri Patogen dengan Metode Bioautografi

5 28 92

Isolasi Fraksi Aktif Antibakteri dari Daun Garcinia benthami Pierre

4 44 99

Uji Toksisitas Akut Ekstrak nheksan Daun Garcinia benthami Pierre Terhadap Larva Artemia salina Leach dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

0 5 63

Isolasi, seleksi dan uji aktivitas antibakteri mikroba endofit dari daun tanaman garcinia benthami pierre terhadap staphylococcus aureus, bacillus subtilis, escherichia coli, shigella dysenteriae, dan salmonella typhimurium

1 54 0

Isolasi, Seleksi dan Uji Aktivitas Antibakteri Mikroba Endofit dari Daun Tanaman Garcinia benthami Pierre terhadap Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Escherichia coli, Shigella dysenteriae, dan Salmonella typhimurium

0 9 116

Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun garcinia benthami pierre terhadap beberapa bakteri patogen dengan metode bioautografi

1 10 92

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3878 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1032 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 926 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1219 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 807 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1088 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23