PENERAPAN METODE PROBLEM POSING LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH: Penelitian Tindakan Kelas : X IIS 1 SMAN 15 Bandung.

(1)

PENERAPAN METODE PROBLEM POSING LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA DALAM

PEMBELAJARAN SEJARAH

(Penelitian Tindakan Kelas : X IIS 1 SMAN 15 Bandung)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Departemen Pendidikan Sejarah

Oleh : Unis Munasifah

NIM 1105644

DEPARTEMEN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG 2015


(2)

PENERAPAN METODE PROBLEM POSING LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA DALAM

PEMBELAJARAN SEJARAH

(Penelitian Tindakan Kelas : X IIS 1 SMAN 15 Bandung)

Oleh:

UNIS MUNASIFAH 1105644

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan Departemen Pendidikan Sejarah Fakultas

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

© Unis Munasifah 2015 Universitas Pendidikan Indonesia

Oktober 2015

Hak cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, Dengan dicetak ulang, difotokopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis


(3)

HALAMAN PENGESAHAN

UNIS MUNASIFAH

PENERAPAN METODE PROBLEM POSING LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA DALAM

PEMBELAJARAN SEJARAH

(Penelitian Tindakan Kelas : X IIS 1 SMAN 15 Bandung)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING :

Pembimbing I

Dr. Erlina Wiyanarti, M. Pd NIP. 19620718 198601 2 001

Pembimbing II

Yeni Kurniawati S, M.Pd NIP. 19770602 200312 2 001

Mengetahui,

Ketua Departemen Pendidikan Sejarah

Dr.Agus Mulyana, M.Hum NIP. 19660808 199103 1 002


(4)

iii ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Penerapan Metode Problem Posing Learning untuk

Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Siswa dalam Pembelajaran Sejarah”

(Penelitian Tindakan Kelas di X IIS 1 SMAN 15 Bandung)”. Berdasarkan keresahan yang terjadi, selama pembelajaran berlangsung kemampuan komunikasi siswa terlihat rendah. Hal ini terlihat pada saat proses pembelajaran, kemampuan bertanya, berpendapat atau menyampaikan gagasan masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Kemampuan komunikasi yang ditekankan pada penelitian ini adalah, kemampuan komunikasi siswa saat pembelajaran sedang belangsung. Rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini diantaranya: pertama, Bagaimana merencanakan pembelajaran sejarah dengan menerapkan Metode Problem Posing Learning untuk meningkatkan kemampuan Kemampuan Komunikasi siswa? Kedua, Bagaimana melaksanakan Metode

Problem Posing Learning untuk meningkatkan kemampuan Kemampuan

Komunikasi siswa? Ketiga, Bagaimana upaya untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam menerapkan Metode Problem Posing Learning? Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan Metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan desain penelitian dari Kemmis dan Mc. Taggart. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, perkembangan siswa dalam mencapai kriteria pada indikator kemampuan komunikasi yang telah ditentukan mengalami peningkatan pada setiap tindakannya. Aspek-aspek yang diteliti dari keterampilan komunikasi terdiri dari tujuh indikator yaitu menyimak penjelasan guru, menyampaikan pendapat/gagasan, mengajukan pertanyaan, menyampaikan gagasan berdasarkan sumber yang relevan, menerima pendapat orang lain, menyampaikan dan menanggapi materi yang telah dipelajari serta menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Seluruh aspek tersebut mengalami peningkatan yang baik pada setiap tindakannya terlihat dari cara siswa bertanya, berdiskusi, presentasi dan menjawab pertanyaan dari siswa lain.

Kata kunci: Penelitian Tindakan Kelas, metode problem posing learning,


(5)

iv

ABSTRACT

This thesis entitled "The Implementation of Problem Posing Learning Method to Improve Communication Skills Students in Learning History (Classroom Action Research in class X IIS 1 SMAN 15 Bandung)". Based on the unrest, during the learning communication skills appear to be low. This can be seen during the learning process, the ability to ask, suggest or convey the idea still’nt in accordance with what is expected. Communication skills are emphasized in this research, communication skills when learning was happened. Formulation of the problem are taken in this study are: first, how to plan the teaching of history by applying the method of Problem Posing Learning to improve communication ability of students? Second, How to carry Problem Posing Learning Methods to improve communication skill of students? Third, How to efforts to overcome the obstacles encountered in implementing Problem Posing Learning method? This study aims to improve the communication skills of students in the teaching of history. This study uses a method of classroom action research (PTK) using the design study of Kemmis and Mc. Taggart. Based on data analysis that has been done, student progress in achieving the criteria on communication skills indicators that have been determined on the rise in every action. The aspects studied of communication skills consisted of seven indicators that is listening to the explanation of teachers, expression / ideas, ask questions, express ideas based on relevant sources, accepting the opinions of others, deliver and respond to the material that has been studied and concluded the material that has been studied, All these aspects have increased both in every action seen from the way the students asked, discussions, presentations and answer questions from other students.

Keywords: Classroom Action Research, Problem Posing Learning Methods, Student’s Communication Skills.


(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

ABSTRAK ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 8

C.Tujuan Penelitian ... 9

D.Manfaat Penelitian ... 10

E. Struktur Organisasi ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... A.Metode Pembelajaran ... 12

B.Metode Problem Posing Learning ... 14

C.Metode Problem Posing Learning dalam Pembelajaran ... 17

D.Kemampuan Komunikasi... 19

E. Penelitian Terdahulu yang Relevan ...23

BAB III METODE PENELITIAN ... A.Lokasi dan Subjek Penelitian ... 27

B.Desain Penelitian ... 28

C.Metode Penelitian ... 30

D.Fokus Penelitian ... 31

1. Metode Problem Posing Learning ... 31

2. Kemampuan Komunikasi ... 33

E. Instrumen Penelitian ... 35

F. Teknik Pengumpulan Data ... 45

G.Pengolahan dan Analisis Data ... 46

H.Teknik Validasi Data ... 47

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... A.Deskripsi Umum Subjek Penelitian ... 49

1. Karakteristik Siswa ... 49

2. Kondisi Pembelajaran Sebelum diterapkan Metode Problem Posing Learning ... 51

3. Persiapan Penerapan Metode Problem Posing Learning... 53

4. Deskripsi Penerapan Metode Problem Posing Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi siswa dalam pembelajaran Sejarah ... 53


(7)

1. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus I ... 53

a. Perencanaan ... 53

b. Pelaksanaan ... 55

c. Observasi ... 61

d. Refleksi ... 71

2. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus II ... 72

a. Perencanaan ... 72

b. Pelaksanaan ... 73

c. Observasi ... 77

d. Refleksi ... 86

3. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus III ... 86

a. Perencanaan ... 86

b. Pelaksanaan ... 87

c. Observasi ... 92

d. Refleksi ... 104

4. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus IV ... 104

a. Perencanaan ... 104

b. Pelaksanaan ... 105

c. Observasi ... 109

d. Refleksi ... 117

B.Deskripsi Hasil Pengolahan Data Penerapan Metode Problem Posing Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Siswa ... 117

1. Data Perencanaan Penerapan Metode Problem Posing Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Siswa ... 117

2. Deskripsi Hasil Kesan Jurnal siswa ... 119

3. Data Hasil Penilaian Kemampuan Komunikasi Siswa ... 120

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... A. Kesimpulan ... 130

B. Rekomendasi ... 133

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(8)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa:

Pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuataan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan bagian dari proses pendidikan, di mana di dalamnya siswa mengikuti sebuah proses pembelajaran.

Menurut Undang-Undang telah dijelaskan bahwa sistem pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar yang aktif serta dapat meningkatkan pengembangan diri siswa yang memiliki potensi yang lebih untuk dikembangkan. Jadi dalam pendidikan memiliki kesadaran yang tinggi untuk meningkatkan pembelajaran yang lebih menarik, serta dalam proses pelaksanaan pendidikan memiliki pedoman kurikulum yang dapat membantu keberlangsungan pendidikan serta meningkatkan mutu pendidikan dengan pembentukan karakter individu dan bangsa.

Hal tersebut sesuai dengan kurikulum 2013 yang berlaku di Indonesia pada saat ini, dimana salah satu potensi atau keterampilan yang diharapkan muncul dalam diri siswa adalah keterampilan berkomunikasi. Seperti yang terdapat dalam salah satu prinsip yang dikembangkan dalam kurikulum 2013 yakni:

Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism) (Permendikbud No. 69 thn. 2013).

Prinsip tersebut memaparkan bahwa kemampuan komunikasi dapat menumbuhkan sikap sosial, hal ini harus dimiliki oleh siswa untuk menggali potensi yang dimilikinya agar berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan


(9)

bermanfaat dalam kehidupan sosial di masyarakat. Begitu halnya dengan pembelajaran sejarah, kemampuan komunikasi berperan sangat penting karena dalam hal ini sejarah biasanya hanya menitik beratkan pada pembelajaran deskriptif atau naratif. Hal tersebut yang dilakukan oleh guru sehingga siswa terlihat pasif pada saat pembelajaran sedang berlangsung dan belum dapat mengembangkan potensi yang dimiliki siswa. Maka melihat kondisi tersebut peran pendidik dalam pembelajaran sejarah harus mampu mengembangkan potensi-potensi tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Hasan (2008, hlm. 3) bahwa mata pelajaran sejarah berpotensi untuk :

1. Mengembangkan kemampuan berpikir; 2. Mengembangkan rasa ingin tahu;

3. Mengembangkan kemampuan berpikir kreatif; 4. Sikap kepahlawanan dan kepemimpinan;

5. Membangun dan mengembangkan semangat kebangsaan; 6. Mengembangkan kepedulian sosial;

7. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi;

8. Mengembangkan kemampuan mencari, mengolah dan mengkomunikasikan informasi.

Melihat potensi yang dikemukakan oleh Hasan (2008) memang terlihat bahwa dalam pembelajaran Sejarah terdapat beragam potensi yang dapat dikembangkan, salah satunya kemampuan komunikasi, dimana dalam kemampuan komunikasi ini dapat membantu siswa belajar aktif pada saat pembelajaran sedang berlangsung. Agar pembelajaran sejarah dapat terlihat menarik, maka pengembangan potensi yang dimiliki oleh siwa harud dikembangkan dengan baik, karena seperti yang telah diketahui bahwa mata pelajaran sejarah lebih menitik beratkan pembelajaran deskriptif dan naratif.

Sejarah merupakan mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan serta nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia maupun dunia dari masa lampau hingga kini. Mata pelajaran sejarah diadakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik guna membangun kesadaran tentang pentingnya peristiwa sejarah untuk dijadikan pelajaran agar kehidupan dimasa mendatang menjadi lebih baik. Dalam pelajaran sejarah, siswa tidak hanya memahami konsep ruang dan waktu, melainkan dapat memahami bagaimana suatu peristiwa tersebut dapat tejadi, sehingga siswa dapat


(10)

merekonstruksi kembali peristiwa tersebut secara kronologis dengan mengembangkan kemampuan komunikasi siswa agar pembelajaran lebih aktif dan tidak terlihat satu arah.

Adapun dalam pembelajaran sejarah memiliki tujuan, dimana salah satu tujuan dari pembelajaran sejarah tersebut menitik beratkan pada kemampuan komunikasi siswa. Seperti yang dipaparkan oleh Martono (2010) dalam blognya bahwa: terdapat 7 tujuan pembelajaran sejarah di sekolah, diantaranya :

1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya konsep waktu dan tempat/ruang dalam rangka memahami perubahan dan keberlanjutan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia.

2. Mengembangkan kemampuan berpikir historis (historical thinking)

melalui kajian fakta dan peristiwa sejarah secara benar.

3. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa di Kepuluan Indonesia di masa lampau.

4. Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap diri sendiri, masyarakat, dan proses terbentuknya Bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang.

5. Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari Bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air, melahirkan empati dan perilaku toleran yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat dan bangsa.

6. Mengembangkan perilaku yang didasarkan pada nilai dan moral yang mencerminkan karakter diri, masyarakat dan bangsa.

7. Menanamkan sikap berorientasi kepada masa kini dan masa depan. Dalam tujuan pembelajaran sejarah telah dikemukakan berbagai macam tujuan, dimana pembelajaran sejarah memiliki tujuan yang dapat meningkatkan potensi belajar siswa agar lebih baik. Adapun untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, dari tujuan pembelajaran sejarah lebih menitik beratkan kepada pengembangan tujuan berpikir historis ( Historical Thinking) melalui kajian fakta dan peristiwa sejarah secara benar. Hal ini sesuai dengan peningkatan kemampuan komunikasi siswa karena dalam berpikir historis siswa mampu memahami fakta – fakta atau peristiwa sejarah yang telah terjadi sesuai dengan sumber yang relevan sebelum akhirnya siswa menyampaikan gagasan atau pemehaman siswa terhadap materi tersebut kepada temannya, sehingga dalam meningkatkan komunikasi, siswa harus memiliki berbagai pengetahuan umum terhadap materi. Selain itu,


(11)

sejarah identik dengan suatu peristiwa yang lebih kental dengan fakta, maka untuk menyampaikan suatu gagasan siswa dituntut untuk mampu berpikir historis (Historical Thinking) agar siswa lebih kritis dalam menyampaikan suatu gagasan atau pemahaman yang dimiliki siswa.

Pembelajaran sejarah akan berjalan dengan baik ketika mutu pendidikan juga berkembang dengan baik. Untuk meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik, guru atau pendidik harus mampu mengemas sebuah pembelajaran yang lebih menarik, karena suatu pembelajran akan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Seperti yang telah dikemukakan oleh Rusman, (2003) : dalam Setiawati , (2011, hlm.1) bahwa :

Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan satu sama lain. Komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, model, dan evaluasi. Keempat komponen tersebut tentu saja harus diperhatikan oleh guru sebelum memilih dan menentukan metode-metode pembelajaran yang akan digunakan.

Metode pembelajaran yang menarik dapat berhubungan dengan kondisi pembelajaran di kelas yang akan lebih hidup dan menarik. Seperti yang telah diketahui saat ini memang sudah banyak metode-metode pembelajaran yang telah dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dalam hal ini guru harus mempelajari metode-metode pembelajaran untuk memproses pembelajaran agar lebih baik. Proses pembelajaran tersebut tentu saja tidak hanya terfokus pada metode ceramah, namun dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran yang dapat meningkatklan kualitas pembelajaran di kelas,khususnya dalam pembelajaran sejarah.

Melihat kondisi pembelajaran yang terjadi di lapangan yang biasanya terjadi, siswa hanya mampu mendengarkan guru memberikan materi, tanpa memberikan pendapat dan menyampaikan pengetahuan materi yang dimiliki oleh siswa itu sendiri sehingga kurangnya kemampuan komunikasi siswa, maka dengan demikian untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru atau pendidik harus mampu meningkan kemamppuan komunkasi siswa dalam pembelajaran, terutama dalam pembelajaran sejarah, karena kemampuan komunikasi sangat penting untuk meningkatkan keaktifan dan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran.


(12)

Menurut Cangara (2002, hlm.18) mengemukakan bahwa :

Kemampuan komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya sengaja atau tidak sengaja tidak terbatas pada bentuk kemampuan komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi. Dalam kemampuan komunikasi terdapat komponen penting yaitu komunikator, pesan dan komunikan.

Sedangkan menurut Effendi, (2008, hlm.5) mengemukakan kemampuan komunikasi adalah Proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku baik secara lisan, maupun tak langsung melalui media.

Melihat dari beberapa pengertian mengenai kemampuan komunikasi maka dapat diperoleh gambaran bahwa kemampuan komunikasi dalam pembelajaran sangat penting, karena dalam proses pembelajaran dibutuhkan hubungan dua arah antara siswa dengan guru maka dalam hubungan dua arah ini kelas terlihat lebih aktif dan pembelajaran terlihat sangat menarik karena pembelajaran tidak hanya terfokus pada guru yang menyampaikan materi, namun siswa juga mampu mengekspresikan perasaannya dalam bentuk penyampaian materi atau menyampaikan pendapat sesuai dengan sumber informasi yang relevan, sehingga siswa dapat memahami isi materi tersebut sesuai dengan kemampuan siswa itu sendiri. Maka dalam proses pembelajaran guru harus mampu meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dengan berbagai cara, baik menggunakan metode-metode pembelajaran yang menjadikan siswa lebih aktif atau media pembelajaran yang menarik.

Berdasarkan hasil pengamatan di kelas X IIS 1 SMAN 15 Bandung permasalahan yang menggambarkan siswa kurang aktif dalam belajar dan kurang terampil dalam kemampuan komunikasi yaitu : Siswa tidak fokus ketika pembelajaran sedang berlangsung atau tidak menyimak ketika guru sedang menjelaskan materi sehingga pembelajaran terlihat tidak menarik. Hal ini terlihat ketika guru sedang menjelaskan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, dan kelas terlihat kurang kondusif. Selanjutnya dalam proses belajar mengajar, antara siswa dan guru kurang adanya interaksi atau komunikasi dua arah yang akan menjadikan pembelajaran aktif, hal ini terlihat ketika guru


(13)

memberikan pertanyaan siswa cenderung diam dan tidak menanggapi pertanyan yang diberikan oleh guru. Maka dalam hal ini tidak terlihat pembelajaran dua arah atau komunikasi yang terjadi dalam proses pembelajaran tersebut. Hal ini yang mengakibatkan siswa lain enggan untuk berbicara menyampaikan pendapatnya. Siswa tidak memberikan saran dan menanggapi saat diskusi. Sebenarnya siswa mungkin ingin menyampaikan pendapatnya namun siswa tersebut tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan atau berbicara atau mengkomunikasikan apa yang siswa ketahui sehingga siswa hanya memilih untuk diam tanpa mengekspresikan perasaannya mengenai pemahaman materi yang dimiliki oleh siswa. Saat proses pembelajaran siswa cenderung diam. Proses pembelajaran yang terjadi di kelas terkesan kurang menarik, siswa hanya diam mendengarkan penjelasan guru tanpa menyampaikan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa itu sendiri. Sehingga kelas terlihat sepi dan pasif. Saat diskusi sedang berlangsung, kelas terlihat pasif, tidak mampu menarik siswa lain dalam keterlibatan diskusi, ini terlihat dalam proses diskusi di dalam kelas hanya dikuasai oleh satu orang siswa saja dan siswa lain hanya mendengarkan.

Permasalahan ini sangat menarik untuk dikaji karena dalam pembelajaran sejarah, guru menjelaskan materi dengan menggunakan metode ceramah yang hanya menuntut siswa untuk mendengarkan, diam dan tidak aktif dalam berbicara, menyampaikan pendapat serta memberikan gagasan yang dimiliki oleh siswa. Kelas yang saya teliti menggambarkan bahwa dalam pembelajaran sejarah siswa cenderung diam meskipun guru telah menyampaikan materi sejarah dengan menarik dan berbagai metode yang telah di modifikasi dengan baik. Maka, peneliti mengambil permasalahan tersebut agar proses belajar mengajar tidak hanya beracuan pada satu arah yaitu guru yang menjelaskan sedangkan siswa hanya mendengarkan, namun dalam kemampuan komunikasi ini guru menyampaikan gambaran umum mengenai materi dan siswa menjelaskan materi tersebut berdasarkan sumber informasi yang siswa ketahu dan relevan.

Kemampuan komunikasi yang ditekankan pada penelitian ini adalah, kemampuan komunikasi siswa saat pembelajaran sedang belangsung. Siswa diharapkan mampu menyimak materi dengan baik, sehingga dalam proses diskusi terdapat interaksi dua arah antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa.


(14)

Sehingga proses pembelajaran akan lebih menarik dan kelas terlihat lebih aktif. Namun yang terjadi pada saat pembelajaran, kadang siswa tidak memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan atau menyampaikan materi, tidak sedikit siswa yang mengobrol atau tidak fokus pada materi yang telah disampaikan. Hal ini sangat disayangkan karena komunikasi yang akan terjadi pada saat pembelajaran dapat berjalan dengan baik kalau saja siswa dapat menyimak atau memperhatikan penjelaan materi dari guru.

Berdasarkan permasalahan yang terjadi di kelas X IIS 1, tentu saja dapat diubah dengan berbagai upaya untuk memperbaikinya. Masalah tersebut dapat diperbaiki dengan berbagai macam alternatif seperti halnya dengan metode-metode pembelajaran yang begitu banyak telah dikembangkan. Melihat permasalahan yang terjadi di kelas metode pembelajaran yang relevan dengan permasalahan tersebut bisa dengan menggunakan metode pembelajaran Problem

Posing Learning (PPL).

Problem Posing Learning merujuk pada strategi pembelajaran yang

menekankan pemikiran kritis demi tujuan pembebasan. Sebagai model pembelajaran Problem Posing Learning melibatkan tiga keterampilan dasar, yaitu : Menyimak (Listening), Berdialog (dialogue), dan tindakan (action) (Huda, 2013 : 276). Metode pembelajaran Problem Posing Learning dapat dikembangkan sebagai salah satu alat untuk memperbaiki permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran sejarah di dalam kelas. PPL merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada keaktifan siswa sehingga siswa dapat menyampaikan informasi dengan mampu menjawab pertanyaan, menyampaikan informasi serta mendiskusikan suatu informasi yang didapat dengan meningkatnya kemampuan komunikasi siswa, sehingga dalam hal ini adanya interaksi antara guru dan siswa. Selain itu dalam metode pembelajaran PPL, siswa mampu berinteraksi dengan temannya pada saat diskusi, atau menyampaikan informasi dengan berbagai metode yang menurut siswa tersebut nyaman serta dapat mudah untuk dipahami.

Namun dalam pembelajaran sejarah kemampuan komunikasi kurang terlihat pada siswa, karena tidak sedikit siswa hanya mampu mendengarkan penjelasan materi yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa cenderung diam dalam proses pembelajaran. Selain itu, kurangnya rasa percaya diri yang siswa miliki dalam


(15)

mengemukakan pendapat mengenai materi yang siswa fahami, hal ini mungkin saja terjadi pada beberapa siswa. Saat pembelajaran sedang berlangsung, terlihat beberapa siswa mampu mengemukakan pendapat atau berbicara mengenai materi yang sedang dipelajari, namun kurangnya keberanian siswa untuk berbicara mengakibatkan kelas terlihat pasif. Dengan demikian, melihat kondisi yang terjadi di lapangan, kemampuan komunikasi dapat dikembangkan dengan menggunakan metode Problem Posing Learning yang akan membantu proses pembelajaran sejarah yang lebih menarik, karena dalam metode problem posing learning siswa dituntut untuk aktif menyampaikan pendapat serta mampu menyimak, berdialog dan mengkomunikasikan hasil dari diskusi bersama teman kelompoknya.

Selain itu, dalam kemampuan komunikasi, siswa tidak hanya dilihat dari kemampuan berbicara saja, namun dalam hal ini siswa mampu mengekspresikan komunikasinya dalam bentuk seni, mimik muka atau media yang lain sehingga komunikasi siswa terlihat lebih menarik dan tidak terlihat pasif. Dalam kemampuan komunikasi dengan menggunakan kemampuan yang bersifat seni, maka siswa mampu menyampaikan hasil diskusi yang telah ditugaskan oleh guru dalam bentuk kreasi seni yang menarik, seperti Mind Map, Peta Konsep,Time Line atau produk yang menggambarkan berpikir kronologis siswa, karena dalam metode Problem Posing Learning tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa saja, melainkan dalam proses komunikasi siswa mampu mengkomunikasikan hasil atau informasi yang di dapatkan oleh siswa sehingga terjalin pembelajaran yang lebih aktif dan menarik.

Maka dengan demikian hal ini sangat menarik untuk dikaji dengan judul “Penerapan Metode Problem Posing Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Siswa Dalam Pembelajaran Sejarah (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas X IIS 1 SMAN 15 Bandung) “.


(16)

B. Rumusan Masalah Dan Pertanyaan Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi permasalahan utama adalah mengenai

“Bagaimana Penerapan Model Problem Posing Learning Untuk Meningkatkan

Kemampuan Komunikasi Siswa Dalam Pembelajaran Sejarah?”. Berdasarkan permasalahan utama tersebut, peneliti membatasi permasalahan kedalam beberapa pertanyaan penelitian berikut ini:

1. Bagaimana merencanakan pembelajaran sejarah dengan menerapkan Metode

Problem Posing Learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi

siswa di kelas X IIS 1 SMAN 15 Bandung ?

2. Bagaimana melaksanakan Metode Problem Posing Learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa di kelas X IIS 1 SMAN 15 Bandung ?

3. Bagaimana upaya untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam menerapkan Metode Problem Posing Learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa di kelas X IIS 1 SMAN 15 Bandung ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan yang hendak dicapai untuk menjawab permasalahan penelitian yang berkaitan dengan meningkatkan Kemampuan Komunikasi siswa dengan menggunakan model pembelajaran problem posing

learning, tujuan tersebut diantaranya :

1. Memperoleh gambaran mengenai langkah-langkah perencanaan dalam penggunaan model problem posing learning untuk meningkatkan Kemampuan Komunikasi siswa dalam pembelajaran sejarah.

2. Mendeskripsikan tahapan pelaksanaan penggunaan model problem posing

learning untuk meningkatkan Kemampuan Komunikasi siswa.

3. Mendeskripsikan upaya mengatasi kendala yang dihadapi dalam penggunaan model problem posing learning untuk meningkatkan Kemampuan Komunikasi siswa.


(17)

D. Manfaat Penelitian

Secara praktis penelitian ini memiliki manfaat yang diantaranya : 1. Bagi Peneliti

Mendapatkan pengetahuan dan ilmu baru dalam penggunaan model problem

posing learning untuk meningkatkan kemampuan Komunikasi siswa dalam

pembelajaran sejarah. 2. Bagi Guru

Mendapatkan pengetahuan dan gambaran informasi baru mengenai model pembelajaran problem posing learning untuk mencapai tujuan pembelajaran sejarah

3. Bagi Siswa

Meningkatnya kemampuan komunikasi siswa dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran sejarah dengan menggunaan model problem posing learning. 4. Bagi Sekolah

Memberikan gambaran atau referensi bagi sekolah untuk mengembangkan berbagai model pembelajaran dan membantu pencapaian tujuan pendidikan dalam pembelajaran sejarah disekolah.

E. Struktur Organisasi

BAB I PENDAHULUAN : Bab ini menjelaskan bagaimana latar belakang yang diungkapkan peneliti mengenai permasalahan yang diangkat dalam penelitian tersebut. Selain itu, dalam bab ini terdapat rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistermatika yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah yang baik dan benar.

BAB II KAJIAN PUSTAKA : Bab ini menjelaskan kajian pustaka dengan landasan teori yang dapat dipertanggung jawabkan oleh peneliti yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji dalam penelitian dengan berbagai literatur.

BAB III METODE PENELITIAN : Bab ini menjelaskan metode penelitian yang digunakan oleh peneliti. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model penelitian tindakan kelas dengan menggunakan desain model Kemmis dan Taggart


(18)

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN : Bab ini memaparkan hasil dari penelitian sebagai jawaban dari rumusan masalah yang diambil oleh peneliti.

BAB V KESIMPULAN : Peneliti memaparkan kesimpulan dari hasil observasi yang telah dilakukan dengan permasalahan yang telah diangkat oleh peneliti.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN


(19)

27

BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi yang dijadikan objek penelitian adalah SMAN 15 Bandung, beralamat di jln. Sarimanis 1 No.1- Sarijadi Bandung. Objek yang akan dijadikan penelitian adalah kelas X IIS 1 dengan Guru mitra Bapak Yus Rustiadin, beliau merupakan guru Sejarah di SMAN 15 Bandung. Siswa yang terdapat pada kelas X IIS 1 berjumlah 30 orang, diantaranya terdiri dari laki-laki 14 orang dan perempuan berjumlah 16 orang.

Alasan peneliti melakukan penelitian di SMAN 15 Bandung karena melihat lokasi yang tidak terlalu jauh dan mudah dijangkau oleh peneliti. Selain itu, peneliti juga telah beberapa kali melakukan penelitian untuk memenuhi tugas selama perkuliahan maka tidak terlalu mengalami kesulitan dalam proses penelitian. Selain itu, peneliti memilih kelas X IIS 1 dalam objek penelitian ini karena selama penelitian sebelumnya peneliti menemukan permasalahan-permasalahan yang terjadi selama proses pembelajaran, permasalahan-permasalahan yang terjadi di kelas tersebut sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.

Permasalahan yang terjadi di kelas X IIS 1 adalah kurangnya kemampuan komunikasi siswa dalam ppembelajaran, mulai dari mengemukakan gagasan atau menyampaikan pendapat sampai dalam pembelajaran hanya terlihat komunikasi satu arah, kurangnya antusias siswa mengikuti pembelajaran atau siswa cenderung diam atau pasif. Maka melihat permasalahan tersebut sangat cocok dengan motode yang peneliti kembangkan, dimana dalam metode ini bertujuan untuk mengembangkan keaktifan siswa dalam belajar serta kemampuan siswa menyimak sampai kemampuan siswa berbicara atau berkomunikasi saat pembelajaran, sehingga dalam hal ini akan terjadi komunikasi dua arah antara siswa dengan guru. Maka dengan demikian peneliti akan melakukan penelitian setelah melihat kondisi dan permasalahan yang terjadi dilapangan dengan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa selama pembelajaran berlangsung terutama dalam pembelajaran sejarah.


(20)

B.Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian model Kemmis dan Mc.Taggart. Dalam penelitian ini terdapat 4 tahapan diantaranya perencanaan, tindakan atau pelaksanaan, pengamatan dan terakhir refleksi. Maka dalam hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Siklus Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan Mc Taggart :

Gambar 3.1 Model Kemmis dan Mc. Taggart (Sumber : Wiriaatmadja, 2008, hlm. 66)

Desain penelitian model Kemmis and Mc Taggart dipilih karena dalam pelaksanaan tindakan dengan menggunakan model Kemmis and Mc Taggart, peneliti dapat melhat kondisi yang terjadi dilapangan untuk menentukan siklus yang akan dilakukan pada saat penelitian. Adapun rancangan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam berbagai siklus, apabila siklus I berhasil sesuai kriteria yang di inginkan maka tetap dilakukan siklus II untuk pemantapan, tetapi apabila siklus I tidak berhasil maka dilakukan siklus II dengan cara menyederhanakan materi sampai selanjutnya siswa menemukan titik jenuh pada saat pembelajaran.

Selain itu, desain ini memiliki model yang lebih sederhana dibandingkan dengan model penelitian tindakan kelas yang lainnya. Melihat gambar desain


(21)

yang ada di atas, dari proses perencanaan, tindakan, observasi hingga refleksi itu merupakan siklus pertama yang akan memulai tindakan atau suatu penelitan, seterlah semua proses tersebut dilakukan, maka dilanjutkan siklus kedua untuk melihat perubahan sebelum dan sesudah dilakukannya tindakan sampai ditemukannya peningkatan dalam pembelajaran.

a. Perencanaan

Tahap perencanaan ini di dalamnya memuat penjelasan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Dalam tahap inipun sebaiknya penelitian dilakukan dalam bentuk kolaborasi dengan prinsip pihak yang melakukan tindakan adalah guru sendiri, sedangkan yang melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti, bukan guru yang melakukan tindakan (Wiriaatmadja, 2008, hlm. 66) .

Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data awal, lalu mencermatinya untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ada dan menentukan tindakan untuk mengatasinya, serta menyusun rencana tindakan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di kelas.

b. Tindakan

Tahapan selanjutnya adalah tahap tindakan atau pelaksanaan. Menurut Viandi (2012) dalam blognya mengemukakan bahwa : tahap pelaksanaan ini merupakan tataran praktis di kelas setelah dilakukan perencanaan. Hal yang harus diingat dalam tahap pelaksanaan ini guru hendaknya tetap mengingat dan mentaati apa-apa yang sudah direncanakan bersama dalam tahap perencanaan dengan tetap melakukannya secara wajar. Modifikasi bisa dilakukan dengan catatan tidak mengubah prinsp-prinsip yang sudah disepakati dalam tahap sebelumnya. Pada tahap ini peneliti mengimplementasikan rencana yang telah disusun sebelumnya.

c. Observasi

Menurut Wiriaatmadja, (2008, hlm. 67) Pengamatan dilakukan untuk mendokumentasikan hal-hal yang nampak dari penerapaan atau pelaksanaan tindakan yang diberikan kepada siswa. Pengamatan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan serta mengidentifikasi kendala apa saja yang dihadapi selama proses pelaksanaan penelitian.


(22)

d. Refleksi

Refleksi dilakukan untuk melihat hal-hal apa saja yang kurang atau belum berhasil dilaksanakan dengan baik dalam pelaksanaan tindakan pada siklus sebelumnya serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan tindakan untuk kemudian dilakukan perbaikan pada siklus selanjutnya. Pada tahap ini peneliti menelaah kembali tindakan yang sudah dilaksanakan dan melakukan diskusi dengan kolaborator untuk memberikan dasar perbaikan perencanaan dalam proses penelitian pada siklus selanjutnya.

Alasan peneliti memilih desain penelitian model Kemmis dan Mc.Taggart karena dalam proses penelitian menggunakan desain ini tidak terlau sulit,lebih sederhana, tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama dalam penelitiannya tidak sampai tiga kali tindakan ketika sudah ada peningkatan dari siklus pertama, sehingga desain penelitian model Kemmis dan Taggart lebih mudah untuk difahami oleh peneliti.

C. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK). Alasan peneliti menggunakan metode ini karena merupakan metode yang cocok digunakan dalam pembelajaran di kelas. Dalam metode PTK peneliti bisa langsung melakukan tindakan di kelas tanpa melalui bantuan orang lain yang melakukan tindakan tersebut, dengan menggunakan metode ini juga dapat memperbaiki permasalahan yang terjadi dilapangan dalam proses pembelajaran.

Menurut T Raka Joni (1998) dalam Hasan (2011:72), dkk mengemukakan bahwa: “PTK merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya serta untuk memperbaiki kondisi-kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran itu dilakukan.” Wiriaatmadja (2008:13) mendefinisikan “penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasi kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu.”


(23)

Sedangkan menurut Hopkins (1993) dalam Hasan, dkk (2011:72) mengartikan bahwa PTK sebagai kegiatan yang dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas mengajarnya atau kualitas mengajar teman sejawat atau menguji asumsi-asumsi dari teori-teori pendidikan dalam prakteknya di kelas.

Berdasarkan pengertian metode penelitian dapat difahami bahwa penelitian tindakan kelas bermanfaat sebagai metode pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran yang dilakukan oleh gurudan meningkatkan kualitas mengajar agar lebih baik. Selain itu metode penelitian tindakan kelas dilakukan oleh guru sebagai peningkatan proses dalam pembelajaran serta dapat meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh guru agar lebih baik.

Keunggulan dari metode penelitian tindakan adalah dengan guru diikut sertakan dalam penelitian, sehingga guru dapat melihat langsung proses pembelajaran serta kondisi yang terjadi di kelas, maka dengan guru dapat memilih berbagai macam media atau metode yang dapat meningkatkan pembelajaran terutama dalam pembelajaran sejarah lebih menari serta dengan guru diikut sertakan dalam proses penelitian, mampu mengevaluasi diri dengan melihat kekurangan yang terjadi dilapangan dalam pembelajaran. Maka dengan demikian, metode penelitian tindakan kelas menjadikan guru lebih mandiri, percaya diri dan mampu mengambil resiko dengan mengambil keputusan hal yang baru demi memajukan pembelajaran di kelas.

D. Fokus Penelitian

1. Metode Problem Posing Learning

Problem posing learning merupakan salah satu metode pembelajaran

inovatif untuk membangun struktur kognitif siswa. Selain itu problem posing

learning juga salah satu pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif baik

mental maupun fisik.

Menurut Huda (2013 hlm.276) menjelaskan bahwa :

karakteristik yang menggambarkan keberhasilan dari model pembelajaran

Problem Posing Learning diantaranya : 1. Para dialoger (siswa/guru)

memahami materi yang didapat dari buku, atau pengetahuan pribadi dari sumber lain, 2. Siswa berusaha menghubungkan suatu peristiwa sejarah yang telah direkonstruksi dengan kondisi yang pernah dialami oleh siswa. 3.


(24)

Siswa mendiskusikan dan mampu menyampaikan pendapat, bertanya, memberi saran atau mampu aktif dalam pembelajaran.”

Karakteristik tersebut dapat dikembangkan dengan baik oleh guru, sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan pembelajaran lebih menarik. Dalam penggunaan metode problem posing learning tidak terlepas dari diskusi karena dalam penggunaan metode ini dapat menjadikan diskusi yang menarik dalam proses pembelajaran.

Menurut Ningtiyas (2013) mengemukakan bahwa : tahapan dalam problem posing, melatih siswa untuk lebih berani menyampaikan pikiran dan perasaan, melatih siswa untuk bisa memahami dan memberi dukungan kepada orang lain dan melatih siswa untuk mampu mengungkapkan diri. Selain itu, problem

posing termasuk kedalam bentuk pembelajaran berbasis konstruktivisme, karena

akan membuat pemahaman siswa lebih lama dan lebih dalam, pembelajaran yang bermakna dapat membantu siswa untuk selalu mengungat konsep-konsep yang telah siswa dapatkan sehingga siswa dapat mengaitkan hubungan antara satu konsep dan konsep lainnya.

Sedangkan menurut Huda, (2013 : 276) langkah langkah dalam metode pembelajaran Problem Posing Learning diantaranya :

1. Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok, setiap kelompok maksimal 4 orang.

2. Guru menyampaikan suatu peristiwa melalui gambar, video, film dll. 3. Siswa menyimak penjelasan guru melalui gambar, video, film dll. 4. Guru meminta siswa untuk mencari berbagai macam sumber

informasi untuk merekonstruksi peristiwa secara kronologis.

5. Siswa mendiskusikan dalam kelompok kecil mengenai peristiwa yang telah disampaikan oleh guru.

6. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok kecil di kelas

7. Guru meminta siswa untuk meendiskusikan kembali mengenai peristiwa tersebut dalam kelompok besar/di kelas. Saat diskusi, sswa diminta untuk aktif bertanya, menyampaikan pendapat, menanggapi atau meningkatkan kemampuan Kemampuan Komunikasi di kelas. 8. Guru meminta siswa untuk membuat laporan diskusi dalam bentuk

peta konsep, timline, atau produk yang berhubungan dengan berpikir kronologis.


(25)

Melihat dari sumber mengenai model pembelajaran Problem Posing

Learning memiliki karakteristik yang berpatokan pada keaktifan siswa. Dalam

hal ini kegiatan pembelaaran di kelas lebih menekankan pada siswa yang lebih aktif, tidak hanya mendengarkan guru menyampaikan materi. Dapat disimpulkan bahwa, pada model Problem Posing Learning, siswa harus mampu menyimak materi yang disampaikan oleh guru, merekonstruksi suatu peristiwa secara kronologis, serta mampu mendiskusikan peristiwa tersebut sesuai dengan pengetahuan siswa yang telah membaca dari sumber informasi lain yang relevan. Maka Problem Posing Learning dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam beralajar, serta menjadikan siswa mampu berbicara, menyampaikan pendapat, memberi saran bertanya dll sehingga meningkatkan kemampuan komunikasi siswa. Langkah-langkah tersebut telah dikembangkan sebagai pedoman dalam pembelajaran dengan menggunakan metode problem posing learning.

2. Kemampuan Komunikasi

Istilah kemampuan komunikasi pendidikan memang belum terlalu dikenal oleh kalangan masyarakat atau praktisi pendidikan. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam kemampuan komunikasi pendidikan. Pertama, dunia pendidikan membutuhkan sebuah pemahaman yang kompreshensip, mendasar dan sistematis tentang pemanfaatan kemampuan komunikasi dalam proses pembelajaran. Kedua, kemampuan komunikasi akan menunjukan arah proses konstruksi sosial atas relitas pendidikan. Maka dengan demikian, kemampuan komunikasi pendidika dapat diartikan sebagai kemampuan komunikasi yang terjadi dalam susasana pendidikan terutama dalam proses pembelajaran ( Naim, 2011 : 26-27).

Kemampuan komunikasi memiliki 2 jenis, diantaranya : a. Kemampuan komunikasi Lisan b. kemampuan komunikasi tulisan. Dalam kemampuan komunikasi lisan merupakan kemampuan mendengarkan dan menyampaikan suatu gagasan secara lisan, sedangkan kemampuan komunikasi tulisan merupakan menyampaikan suatu gagasan melalui tulisan baik berupa grafik, gambar peta konsep dll. Namun dalam hal ini penulis mengambil kajian kemampuan komunikasi lisan dan tulisan, yang bertujuan agar siswa mampu menyampaikan


(26)

gagasan secara lisan dan melatih siswa untuk berbicara serta menyampaikan gagasan secara tuisan agar siswa lebih inovatif dalam menyampaikan gagasan atau pendapat yang dimiliki siswa.

Indikator dari kemampuan komunikasi menurut Rusman ( 2003:13 ) adalah 1. Siswa mampu menyimak materi yang disampaikan oleh guru

2. Siswa mampu menghargai adanya perbedaan pendapat yang disampaikan

3. Siswa mampu menyampaikan gagasan sesuai dengan topik pembelajaran beserta sumber yang relevan

4. Adanya kemampuan komunikasi antar sumber belajar, guru dan siswa yang menyampaikan dan mendengarkan

Sedangkan indikator menurut (Greenes dan Schulman 1996) dalam Prayitno (2013, hlm 2) merumuskan kemampuan komunikasi dalam tiga hal, yaitu:

1. Menyatakan ide dalam pembelajaran melalui ucapan, tulisan, demonstrasi, dan melukiskannya secara visual dalam tipe yang berbeda.

2. Memahami, menafsirkan, dan menilai ide yang disajikan dalam tulisan, lisan, atau dalam bentuk visual.

3. Mengkonstruk, menafsirkan dan menghubungkan bermacam-macam representasi ide dan hubungannya.

Melihat beberapa indikator yang telah dipaparkan terlihat bahwa dalam kemampuan komunikasi indikator yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi kelas yang sedang diteliti,maka dalam hal ini indikator yang dikemukakan oleh Rusman (2013) dijadikan sebagai indikator keberhasilan dalam penelitian. Karena dari tahap awal siswa harus menyimak apa yang disampaikan oleh guru, dalam proses diskusi siswa harus mampu menyampaikan bertanya, menyampaikan pendapat atau gagasan yang dimilikinya dengan baik dan sopan sehingga tidak ada siswa lain yang terpojokan. Selanjutnya siswa juga mampu menghargai apabila ada pendapat yang berbeda dari pendapat yang disampaikan oleh siswa itu sendiri, sehingga dalam pembelajaran akan terjalin hubungan dua arah antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa pada saat diskusi sedang berlangsung dan tidak di dominasi oleh satu orang.


(27)

E. Instrumen Penelitian

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data mengenai kemampuan komunikasi siswa. Untuk mengumpulkan data tersebut, perlu adanya perangkat penelitian yang akan membantu mengumpulkan data mengenai kemampuan komunikasi. Perangkat-perangkat tersebut diantaranya :

1. Lembar Panduan Observasi

Lembar panduan observasi bertujuan untuk memperoleh informasi yang akurat agar mengetahuin perkembangan siswa dalam pembelajaran sejarah. Menurut Kurniawati, (2006, hlm.41 ) bahwa :

Lembar panduan observasi merupakan perangkat yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas siswa dan guru baik pada pra-penelitian maupun selama pelaksanaan tindakan dalam pembelajaran.

Maka observasi merupakan salah satu alat untuk mengukur tingkah laku siswa ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi sebenarnya maupun buatan. Data yang akan diambil adalah mengenai kemampuan komunikasi berupa kemampuan siswa menyampaikan suatu pendapat atau gagasan secara kronologis dan kemampuan siswa merekonstruksi suatu peristiwa sejarah berdasarkan waktu.

Aktivitas guru diamati oleh peneliti mitra sedangkan aktivitas siswa diamati oleh peneliti utama, maka dengan demikian dapat diketahui kekurangan dan kelebihan yang terjadi dalam proses belajar mengajar di kelas.


(28)

Tabel 3.1

Lembar Panduan Observasi Siswa

Tindakan :

Tanggal :

Materi :

Obsever :

Berilah skore 1-4 pada indikator yang telah dipenuhi siswa No Nama Siswa Menyimak materi yang

disampaikan oleh guru

Menyampaikan gagasan sesuai dengan topik pembelajaran beserta sumber yang relevan.

Menghargai adanya perbedaan pendapat yang disampaikan

Adanya interaksi antar guru

dan siswa yang

menyampaikan dan

mendengarkan Memperhati kan guru ketika pelajaran sedang berlangsung. (1-4) Mengajukan pertanyaan apabila ada materi yang belum difahami (1-4) Menyajikan gagasan secara faktual. (1-4) Menyampai kan gagasan sesuai dengan sumber yang relevan (1-4) Menerima pendapat yang disampaikan oleh siswa lain.

(1-4) Memberikan kesimpulan materi yang telah dipelajari (1-4) Menyampaik an materi dan memberikan tanggapan terhadap materi yang telah dipelajari (1-4)

1. AEM

2. AY

3. ATZ

4. AV

5. ASP

6. AF

7. AA


(29)

9. DT

10. EP

11. ENJ

12. FM

13. FR

14. IDN

15. IR

16. JCH

17. MS

18. MC

19. MR

20. N

21. RPS

22. RA

23. SN

24. SDP

25. SKZ

26. SM

27. TY

28. VIY

29. WW

30 WYR

Jumlah Skore


(30)

Skor 4 = Sangat Baik Skor 3 = Baik

Skor 2 = Cukup Skor 1 = Kurang


(31)

Tabel 3.2

Instrumen Lembar Observasi Keterampilan Komunikasi Siswa

Variabel Indikator Sub Indikator Deskripsi Keterangan skore

Kemampuan Komunikasi

Menyimak materi yang disampaikan oleh guru

Memperhatikan guru ketika pelajaran sedang berlangsung

 Tidak mengobrol  Mencatat apa yang

disampaikan guru

Sangat baik = jika memenuhi 4 point dari deskripsi

Baik = jika memenuhi 3 poin

Cukup = jika memenuhi 2 poiin

Kurang = jika memenuhi satu poin

Skor4=Sangat Baik Skor 3 = Baik Skor 2 = Cukup Skor 1 = kurang Mengajukan

pertanyaan apabila ada materi yang belum difahami

 Petanyaan menuntut jawaban opini

penjawab pertanyaan.  Pertnyaan yang

menuntut penjelasan yang singkronik dan diakronik.

Menyampaikan gagasan sesuai dengan topik pembelajaran beserta

sumber yang relevan

Menyajikan gagasan secara faktual

 Menyampaikan gagasan dengan menyertakan fakta yang terdapat dalam materi yang

disampaikan.  Menyampaikan

gagasan dengan

Sangat baik = jika memenuhi 4 point dari deskripsi

Baik = jika memenuhi 3 poin

Cukup = jika memenuhi 2 poiin


(32)

menyajikan dampak yang ditimbulkan dari materi yang

disampaikan.

Kurang = jika memenuhi satu poin

Skor4=Sangat Baik Skor 3 = Baik Skor 2 = Cukup Skor 1 = kurang Menyampaikan

gagasan sesuai dengan sumber yang relevan

 Menyampaikan gagasan kronoligis dengan menggunakan sumber yang jelas  Menyampaikan

gagasan yang fokus terhadap materi yang disampaikan

Sangat baik = jika memenuhi 4 point dari deskripsi

Baik = jika memenuhi 3 poin

Cukup = jika memenuhi 2 poiin

Kurang = jika memenuhi satu poin

Skor4=Sangat Baik Skor 3 = Baik Skor 2 = Cukup Skor 1 = kurang Menghargai adanya

perbedaan pendapat yang disampaikan

Menerima pendapat yang disampaikan oleh siswa lain

 Mengajukan pertanyaan dan gagasan dengan percaya diri tanpa menyalahkan pendapat yang disampaikan

Sangat baik = jika memenuhi 4 point dari deskripsi

Baik = jika memenuhi 3 poin


(33)

siswa lain

 Menerima masukan yang diberikan oleh siswa lain

Cukup = jika memenuhi 2 poiin

Kurang = jika memenuhi satu poin

Skor4=Sangat Baik Skor 3 = Baik Skor 2 = Cukup Skor 1 = kurang Adanya interaksi antar

guru dan siswa yang menyampaikan dan mendengarkan

Memberikan kesimpulan materi yang telah dipelajari

 Menyampaikan inti materi secara lisan.  Memberikan

kesempatan siswa untuk memberikan kesimpulan

Sangat baik = jika memenuhi 4 point dari deskripsi

Baik = jika memenuhi 3 poin

Cukup = jika memenuhi 2 poiin

Kurang = jika memenuhi satu poin

Skor4=Sangat Baik Skor 3 = Baik Skor 2 = Cukup Skor 1 = kurang Menyampaikan materi

dan memberikan tanggapan terhadap materi yang telah dipelajari

 Menyimpulkan inti materi secara lisan  Menyampaikan

tanggapan dan manfaat materi yang telah dipelajari

Sangat baik = jika memenuhi 4 point dari deskripsi

Baik = jika memenuhi 3 poin


(34)

Cukup = jika memenuhi 2 poiin

Kurang = jika memenuhi satu poin

Skor4=Sangat Baik Skor 3 = Baik Skor 2 = Cukup Skor 1 = kurang


(35)

Tabel 3.3

Lembar Observasi Pelaksanaan Metode Problem Posing Learning No Aspek Pengamatan Pelaksanaan Metode PPL 4 3 2 1

1. Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok, setiap kelompok maksimal 3 orang. 2. Guru menyampaikan suatu peristiwa melalui

gambar, video, film dll.

3. Siswa menyimak penjelasan guru melalui gambar, video, film dll.

4. Guru meminta siswa untuk mencari berbagai macam sumber informasi untuk merekonstruksi suatu peristiwa atau permasalahan secara kronologis.

5. Siswa mendiskusikan dalam kelompok kecil mengenai peristiwa atau permasalahan yang telah disampaikan oleh guru.

6. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok kecil dikelas.

7. Guru meminta siswa untuk mendiskusikan kembali mengenai peristiwa tersebut dalam kelompok besar/dikelas. Saat diskusi, siswa diminta untuk aktif bertanya, menyampaikan pendapat, atau menanggapi.

8. Guru meminta siswa untuk membuat laporan diskusi dalam bentuk peta konsep, timline, atau produk yang berhubungan dengan berpikir kronologis.


(36)

2. Lembar Catatan Lapangan

Lembar catatan lapangan digunakan untuk mendapatkan refleksi terhadap keterlaksanaan pembelajaran dengan metode problem posing learning dan kemampuan komunikasi siswa. Menurut Suratmi, ( 2013, hlm.45) bahwa :

lembar catatan lapangan merupakan rekaman kejadian yang dilakukan oleh kolaborator atau teman sejawat maupun peneliti sendiri untuk menuliskan hal-hal yang belum terekam melalui lembar observasi.”

Maka lembar catatan lapangan berfungsi untuk mengetahui sejauh mana keterlaksaan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode problem

posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam

pembelajaran sejarah.

Tabel 3.4

Lembar Catatan Lapangan

Nama Sekolah :

Kelas :

Hari,Tanggal :

Waktu :


(37)

3. Jurnal Kesan Siswa

Tujuan dari jurnal kesan siswa untuk memperoleh gambaran mengenai kesan atau minat siswa dalam pembelajaran. Selain itu jurnal kesan siswa juga dapat memberikan informasi yang dapat dijadikan sebagai informasi tambahan dalam mengukur kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran sejarah yang didalamnya siswa dapat mengungkapkan kesulitan selama pembelajaran sedang berlangsung, sehingga guru dapat memperbaiki pembelajaran selanjutnya, serta mengetahui gambaran siswa mengenai perasaan atau kesan saat belajar menggunakan metode problem posing learning.

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu objek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentanghal-ha tertentu yang diamati (Firdaus, 2011). Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1986) dalam buku sugiono (2014, hlm. 203), observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Maka dengan demikian teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan pedoman observasi.

2. Catatan Lapangan

Bogdan dan Biklen (1982) dalam blog Nugroho (2013), catatan lapangan adalah catatan tertulis mengenai apa yang didengar, dilihat, dialami,dan dipikirkan dalam proses pengumpulan data dan merupakan refleksi terhadap data penelitian. Penelitian harus memiliki catatan lapangan seperti ini karena nantinya akan menjadi dasar analisis dan data lapangan yang sangat banyak tidak mungkin dihapalkan oleh peneliti.

3. Catatan harian siswa

Jurnal kesan siswa digunakan untuk mengetahui kesan siswa selama pembelajaran. Teknik ini dipilih karena dapat menyalurkan perasaan siswa dalam bentuk tulisan selama pembelajaran di kelas, sehingga siswa lebih leluasa mengungkpan kesan, kesulitan dalam belajar, terutama kurangnya kemampuan


(38)

siswa dalam menyampaikan gagasan atau pendapat sehingga kurangnya kemampuan komunikasi yang terjadi pada siswa saat pembelajaran sedang berlangsung.

G. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data merupakan bagian yang amat penting dalam metode ilmiah, karena dengan pengolahan data, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian. Langkah – langkah pengolahan data diantaranya : a. Penyusunan data, b. Klasifikasi data, c. Pengolahan data, d. Interpretasi hasil pengolahan data. Data menurut jenisnya ada dua yaitu, data kuantitatif dan data kualitatif. Menurut Miles dan Huberman (dalam Hopkins, 2011) kegiatan pengolahan data kualitatif diantaranya:

1. Reduksi data : dapat diartikan sebagai suatu proses pemilihan data, pemusatan perhatian pada penyederhanaan data, pengabstrakan data dan transformasi data yang kasar yang muncul dari catatan catatan tertuli dilapangan.

2. Penyajian data : dapat dijadikan sebagai kumpulan informasi yang tersusun sehingga memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

3. Menarik kesimpulan/verifikasi : Sejak langkah awal dalam pengumpulan data, peneliti sudah mulai mencari arti tentang segala hal yang telah dicatat atau disusun menjadi suatu konfigurasi tertentu.

Sedangkan kegiatan pengolahan data kuantitatif diantaranya:

1. Mengelompokan data : data kualitatif tidak memerlukan perhitungan matematis sedangkan data kuantitatif memerlukan adanya perhitungsn matematis.

2. Kegiatan awal dalam mengelompokan data : agar data dapat dikelompokan secara baik, perlu dilakukan kegiatan awal sebagai berikut : Editing, Coding,

Tabulating.

3. Pengolahan statistik sederhana adalah cara mengolah data kuantitatif sehingga data mempunyai arti


(39)

Jadi dapat dipahami bahwa fungsi dari pengolahan data adalah untuk mengetahui sejauh mana penelitian akan dilakukan serta dengan pengolahan data , data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian sehingga ketika penelitian berlangsung, peneliti dapat mengetahu permasalahan yang sedang terjadi.

H. Teknik Validasi Data

Data yang dipercaya kebenarannya adalah data yang telah diuji validasinya. Data tersebut akan disebut valid jika data tersebut dapat mengukur data yang telah diuji kebenarannya. Validasi juga salah satu syarat penting untuk melakukan semua jenis penelitian termasuk penelitian tindakan kelas. Kegiatan yang dilakukan dalam validasi adalah:

1. Member Check

Menurut Sugiono, (2009, hlm.375) “ Member Check adalah proses

pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data”. Sedangkan menurut Wiriaatmadja, (2012, hlm.168) Member Check ialah :

memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara dari narasumber apakah keterangan,atau informasi atau penjelasan itu tetap sifatnya atau tidak berubah sehingga dapat dipastikan keajegannya dan data itu terperiksa kebenarannya.

Dalam penelitian ini Member Check mengkinfirmasi atau memeriksa kembali data yang sudah diperoleh untuk melihat apakah informasi itu berubah atau tetap. 2. Auditrail

Menurut Hasan, H., dkk. (2011, hlm 80), bahwa “... menggunakan Auditrail

untuk memvalidasi penelitian dengan cara yang biasa digunakan untuk mengaudit. Cara ini bermanfaat untuk memeriksa catatan-catatan yang dibuat oleh peneliti atau observer. Hal ini berguna apabila peneliti akan mengecek informasi atau data yang ada atau waktu mempersiapkan laporan “. Maka dalam cara Auditrail

peneliti atau observer mampu memeriksa catatan-catatan penting yang terdapat saat penelitian sedang berlangsung hal ini untuk mengetahui kesalahan atau kekurangan yang terjadi dalampenelitian.


(40)

3. Expert Opinion

Menurut Hopkins dalam Wiriaatmadja (2007, hlm. 171) Expert Opinion yakni dengan meminta kepada pakar atau pembeimbing untuk memeriksa semua tahapan-tahapan kegiatan penelitian dan memberikan arahan atau judgements terhadap masalah-masalah penelitian yang anda kemukakan. Dalam penelitian ini, peneliti peneliti meminta pakar/ahli untuk memeriksa semua tahapan penelitian dan akan memberikan pendapat dan arahan atau judgement terhadap permasalahan ataupun langkah-langkah dalam penelitian.


(41)

130

BAB V

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

Bab ini akan memaparkan mengenai simpulan dari pembahasan dan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan serta rekomendasi yang bertujuan agar penelitian selanjutnya lebih baik lagi dan bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia.

A.Simpulan

Berdasarkan pemaparan hasil dari penelitian tindakan kelas yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bawa pertama: Sebelum metode problem posing learning digunakan, terlebih dahulu dilakukan perencanaan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan digunakan dalam penelitian. Hal yang terpenting dalam perencanaan ialah mencari permasalahan yang terjadi dilapangan dengan melakukan observasi terlebih dahulu. Permasalahan yang terjadi setelah dilakukan observasi ialah, kurangnya kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran. Siswa cenderung pasif ketika mengikuti pelajaran sejarah. Yang diharapkan oleh semua guru ialah siswa mampu menyimak materi yang disampaikan oleh guru, mampu bertanya, berpendapat, atau menyampaikan gagasan sehingga pada saat pembelajaran berlangsung siswa akan terlihat lebih aktif dan pembelajaran lebih menarik. Hasil dari observasi yang telah dilakukan, peneliti dapat melihat bahwa dengan kurangnya tingkat keaktifan siswa maka dapat dilihat bahwa kemampuan berbicara siswa terlihat rendah, dengan demikian kemampuan komunikasipun tidak akan terjalin antara siswa dengan guru bahkan siswa dengan siswa. Melihat kurangnya kemampuan komunikasi siswa, peneliti mempersiapkan metode yang sesuai dengan permasalahan yang terjadi yaitu metode problem posing learning. Metode ini merupakan suatu metode yang sesuai untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Karena dalam langkah-langkah metode problem posing learning terdapat beberapa aspek yang mewajibkan siswa untuk menyimak. Selain itu guru


(42)

mampu mempersiapkan berbagai media yang menarik untuk melaksanakan pembelajaran yang menarik.

Kedua untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dapat dilakukan

dengan berbagai macam cara untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode problem posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, namun cara tersebut harus tepat dan sesuai dengan kondisi kelas. Seperti halnya kelas X IIS I, dengan menggunakan metode problem posing

learning awalnya kelas terlihat biasa saja dalam mengikuti pelajaran, sehingga

tidak terjadi perubahan pada tindakan I. Namun setelah dilakukan modifikasi pada metode problem posing learning yang awalnya siswa ditugaskan untuk berdiskusi berkelompok dengan diberikan suatu permasalahan, pada tindakan selanjutnya guru mempersiapkan siswa untuk belajara secara individu. Dalam hal ini siswa diberikan video mengenai materi yang sedang dipelajari, kemudian siswa menyimak viddeo tersebut selanjtnya mendiskusikan hasil dari tayangan video bersama teman-teman sekelasnya. Maka dalam hal ini komunikasi siswa akan terlihat peningkatannya. Selain itu siswa terlihat antusias mengikuti pembelajaran.

Penerapan metode problem posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dalam pelaksanaannya sangatlah tidak mudah, karena dalam pelaksanaannya terdapat kendala-kndala yang berhubungan dengan kondisi kelas, mulai dari media pembelajaran, antusias siswa mengikuti pembelajaran sampai jadwal atau waktu mengajar yang terganggu dengan berbagai kegiatan sekolah. Hal tersebut menjadikan proses pelaksanaan penerapan metode problem

posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi kurang maksimal. Ketiga selain keberhasilan yang didapatkan dari penelitian yang telah

dilakukan, terdapat kendala-kendala yang dihadapi selain keberhasilan yang didapatkan dari penelitian yang telah dilakukan, terdapat kendala-kendala yang dihadapi oleh peneliti pada saat pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode problem posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa. Kendala tersebut antara lain :


(43)

a. Siswa masih kurang dalam menganalisis materi, video atau suatu peristiwa yang sesuai dengan fakta atau berbicara berdasarkan sumber. b. Kurangnya rasa menghargai sesama teman yang dapat menjadi kendala,

karena ketika hal tersebut terjadi pada saat diskusi kelas akan sangat tidak kondusif dengan adanya argumen-argumen yang tidak sesuai dengan materi sehingga terjadi perdebatan.

c. siswa belum mampu membedakan materi fakta dan opini serta pada saat pembehasan materi siswa masih belum mampu membedakan sumber yang relevan atau tidak, sehingga apa yang diungkapkan oleh siswa masih dalam bentuk wacana dan sumber yang digunakan masih belum bisa dipertanggung jawabkan dengan baik.

Kendala-kendala yang terjadi tentu saja tidak akan menyurutkan semangat guru dalam mengajar. Dalam hal ini guru berupaya untuk memperbaiki pembelajaran dengan cara meningkatkan kemampuan komunikasi siswa agar pembelajaran lebih menarik serta terdapat komunikasi dua arah antara guru dengan siswa, tanpa hanya guru saja yang menjelaskan materi sedangkan siswa hanya diam mendengarkan. Solusi yang diajukan dalam mengatasi kendala tersebut salah satunya ialah, guru dapat memberikan pemahaman mengenai sumber-sumber belajar yang relevan daan baik digunakan untuk proses pembelajaran. Selain itu, media pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik sesuai dengan materi ajar, sehingga siswa tidak hanya menyimak apa yang disampaikan oleh guru namun dapat menganalisis apa yang siswa lihat, misalnya dalam bentuk gambar, video dan lain-lain. Dalam upaya mengatasi kendala-kendala yang terjadi pada saat pelaksanaan, guru harus mampu mengarahkan siswa agar dapat berbicara di depan kelas dengan cara berdiskusi, guru harus memiliki strategi mengajar yang baik. Strategi tersebut dapat guru gunakan agar siswa mampu mengikuti pelajara tanpa merasa bosan atau jenuh. Seperti halnya guru mampu mempersiapkan media gambar, film atau media-media lain yang dapat membangkitkan semangat siswa untuk belajar. Dalam penerapan metdoe

problem posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, guru


(44)

sehingga siswa mampu menganalisis dan menyampaikan hasil analisisnya tersebut secara individu sesuai dengan pendapat masing-masing siswa.

B.Rekomendasi

Penerapan metode problem posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran sejarah merupakan salah satu alat yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. Dalam hal ini, peneliti berpikir bahwa perlu adanya perubahan dalam pola pikir siswa, bahwa pada saat pembelajaran pengetahuan yang siswa miliki harus mampu diungkapkan dalam bentuk apapun, baik lisan atau tulisan. kemampuan komuniksi juga tidak haya terpokus pada kemampuan berbicara saja namun bagaimana siswa mampu menyampaikan suatu gagasan dengan baik sesuai dengan fakta yang ada.

Penelitian ini belum dapat dikatakan sempurna, karena masih banyak hal-hal yang harus diperhatikan oleh pihak-pihak yang akan melakukan penelitian selanjutnya untuk melakukan penelitian dengan menerapkan metode problem

posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, sehingga

peneliti mencoba memberikan beberapa saran, yaitu :

a. Bagi peneliti selanjtnya, hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman serta pengetahuan yang baru dalam dunia pendidikan. Khususnya dalam pembelajaran dengan menggunakan metode problem

posing learning yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi

siswa dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini juga dapat menjadi rujukan dalam upaya meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran.

b. Bagi sekolah, penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam pelajaran sejarah juga pelajaran lainnya. Penelitian ini diharapkan dapat berdampak positif bagi pembelajaran sejarah di sekolah.


(45)

c. Bagi guru, hasil dari penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi guru dalam mengembangkan metode pembelajaran terutama dalam pembelajaran sejarah. Penerapan metode problem

posing learning dapat digunakan dengan baik untuk meningkatkan

komunikasi siswa, sehingga guru tidak harus menyampaikan materi dan siswa hanya mendengarkan namun dalam pembelajaran kali ini akan terjalin komunikasi dua arah antara guru dengan siswa.

Penerapan metode problem posing learning, siswa diharapkan dapat terbiasa melatih kemampuan berbicara, bertanya, berpendapat serta menyampaikan suatu gagasan yang sesuai dengan kemampuan siswa pada saat pembelajaran khususnya pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah dengan metode problem posing

learning mampu menjadikan siswa lebih aktif, dapat berpikir kritis serta dapat

memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pembelajaran sejarah.

Adanya penelitian ini, peneliti berharap dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan agar mampu mengembangkan penerapan metode-metode yang baik sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan yang baik sesuai dengan pelaksanaan kurikulum dengan tercapainya tujuan yang diharapkan serta dapat mengembangkan pembelajaran dan menggunakan metode yang ada secara menarik.

Demikian kesimpulan dan rekomendasi yang dibuat oleh peneliti. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak, khususnya bagi dunia pendidikan di Indonesia, serta bagi peneliti, guru, siswa dan sekolah agar pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.


(46)

DAFTAR PUSTAKA 1. Sumber Buku

Bahri, S dan Zain, A (2002). Strategi belajar Mengajar. Jakarta : Rhineka Cipta Cangara, H. (2002). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT RajaGrafindo.

Persada.

Effendi, OU. (2008). Dinamika Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Hakim, L (2007). Perencanaan Pembelajaran. Bandung : Wacana Prima

Hasan, H, dkk. (2011). Buku Ajar Penelitian Pendidikan Sejarah. Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Hasan, H. (2008). Buku Ajar Penelitian Penddikan Sejarah. Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI Bandung.

Hatimah, I. (2000). Strategi dan Metode Pembelajaran. Bandung: Adira.

Hopkins. D. (2014). Panduan Guru Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Huda, M. (2013).Model – Model Pengajaran dan Pembelajaran – Isu-Isu Metodis

dan Paradigmatis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Kemendikbud. (2013). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013:

SMA/ MA dan SMk/ MAK Sejarah Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan

SDM P dan K Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Naim, Ngainun. (2011). Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan. Jogjakarta : AR-RUZZ MEDIA.

Rohim, Syaiful. (2009). Teori Komunikasi: Perspektif, Ragam, dan Aplikasi. Jakarta : Rineka Cipta.

Rusman, N Y. ( 2003). Strategi Belajar Mengajar .Bandung : IMSTEP JICA. Santoso,E. (2010). Teori Komunikasi. Yogyakarta : Graha Ilmu

Sudjana, N. (2005). Cara Belajar Siswa Aktif-Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru

Sugiono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D). Bandung : Alfabeta.

Sugiono. (2014). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Suparmo, Ludwig. (2011). Aspek Ilmu Komunikasi: dalam Public Relation. Jakarta : PT Indeks.


(1)

132

a. Siswa masih kurang dalam menganalisis materi, video atau suatu peristiwa yang sesuai dengan fakta atau berbicara berdasarkan sumber. b. Kurangnya rasa menghargai sesama teman yang dapat menjadi kendala,

karena ketika hal tersebut terjadi pada saat diskusi kelas akan sangat tidak kondusif dengan adanya argumen-argumen yang tidak sesuai dengan materi sehingga terjadi perdebatan.

c. siswa belum mampu membedakan materi fakta dan opini serta pada saat pembehasan materi siswa masih belum mampu membedakan sumber yang relevan atau tidak, sehingga apa yang diungkapkan oleh siswa masih dalam bentuk wacana dan sumber yang digunakan masih belum bisa dipertanggung jawabkan dengan baik.

Kendala-kendala yang terjadi tentu saja tidak akan menyurutkan semangat guru dalam mengajar. Dalam hal ini guru berupaya untuk memperbaiki pembelajaran dengan cara meningkatkan kemampuan komunikasi siswa agar pembelajaran lebih menarik serta terdapat komunikasi dua arah antara guru dengan siswa, tanpa hanya guru saja yang menjelaskan materi sedangkan siswa hanya diam mendengarkan. Solusi yang diajukan dalam mengatasi kendala tersebut salah satunya ialah, guru dapat memberikan pemahaman mengenai sumber-sumber belajar yang relevan daan baik digunakan untuk proses pembelajaran. Selain itu, media pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik sesuai dengan materi ajar, sehingga siswa tidak hanya menyimak apa yang disampaikan oleh guru namun dapat menganalisis apa yang siswa lihat, misalnya dalam bentuk gambar, video dan lain-lain. Dalam upaya mengatasi kendala-kendala yang terjadi pada saat pelaksanaan, guru harus mampu mengarahkan siswa agar dapat berbicara di depan kelas dengan cara berdiskusi, guru harus memiliki strategi mengajar yang baik. Strategi tersebut dapat guru gunakan agar siswa mampu mengikuti pelajara tanpa merasa bosan atau jenuh. Seperti halnya guru mampu mempersiapkan media gambar, film atau media-media lain yang dapat membangkitkan semangat siswa untuk belajar. Dalam penerapan metdoe problem posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, guru dapat menayangkan video yang berhubungan dengan tema pelajaran pada saat itu,


(2)

133

sehingga siswa mampu menganalisis dan menyampaikan hasil analisisnya tersebut secara individu sesuai dengan pendapat masing-masing siswa.

B.Rekomendasi

Penerapan metode problem posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran sejarah merupakan salah satu alat yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. Dalam hal ini, peneliti berpikir bahwa perlu adanya perubahan dalam pola pikir siswa, bahwa pada saat pembelajaran pengetahuan yang siswa miliki harus mampu diungkapkan dalam bentuk apapun, baik lisan atau tulisan. kemampuan komuniksi juga tidak haya terpokus pada kemampuan berbicara saja namun bagaimana siswa mampu menyampaikan suatu gagasan dengan baik sesuai dengan fakta yang ada.

Penelitian ini belum dapat dikatakan sempurna, karena masih banyak hal-hal yang harus diperhatikan oleh pihak-pihak yang akan melakukan penelitian selanjutnya untuk melakukan penelitian dengan menerapkan metode problem posing learning untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, sehingga peneliti mencoba memberikan beberapa saran, yaitu :

a. Bagi peneliti selanjtnya, hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman serta pengetahuan yang baru dalam dunia pendidikan. Khususnya dalam pembelajaran dengan menggunakan metode problem posing learning yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi


(3)

134

c. Bagi guru, hasil dari penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi guru dalam mengembangkan metode pembelajaran terutama dalam pembelajaran sejarah. Penerapan metode problem posing learning dapat digunakan dengan baik untuk meningkatkan komunikasi siswa, sehingga guru tidak harus menyampaikan materi dan siswa hanya mendengarkan namun dalam pembelajaran kali ini akan terjalin komunikasi dua arah antara guru dengan siswa.

Penerapan metode problem posing learning, siswa diharapkan dapat terbiasa melatih kemampuan berbicara, bertanya, berpendapat serta menyampaikan suatu gagasan yang sesuai dengan kemampuan siswa pada saat pembelajaran khususnya pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah dengan metode problem posing learning mampu menjadikan siswa lebih aktif, dapat berpikir kritis serta dapat memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pembelajaran sejarah.

Adanya penelitian ini, peneliti berharap dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan agar mampu mengembangkan penerapan metode-metode yang baik sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan yang baik sesuai dengan pelaksanaan kurikulum dengan tercapainya tujuan yang diharapkan serta dapat mengembangkan pembelajaran dan menggunakan metode yang ada secara menarik.

Demikian kesimpulan dan rekomendasi yang dibuat oleh peneliti. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak, khususnya bagi dunia pendidikan di Indonesia, serta bagi peneliti, guru, siswa dan sekolah agar pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

1. Sumber Buku

Bahri, S dan Zain, A (2002). Strategi belajar Mengajar. Jakarta : Rhineka Cipta Cangara, H. (2002). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT RajaGrafindo.

Persada.

Effendi, OU. (2008). Dinamika Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Hakim, L (2007). Perencanaan Pembelajaran. Bandung : Wacana Prima

Hasan, H, dkk. (2011). Buku Ajar Penelitian Pendidikan Sejarah. Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Hasan, H. (2008). Buku Ajar Penelitian Penddikan Sejarah. Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI Bandung.

Hatimah, I. (2000). Strategi dan Metode Pembelajaran. Bandung: Adira.

Hopkins. D. (2014). Panduan Guru Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Huda, M. (2013).Model – Model Pengajaran dan Pembelajaran – Isu-Isu Metodis

dan Paradigmatis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Kemendikbud. (2013). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013: SMA/ MA dan SMk/ MAK Sejarah Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan SDM P dan K Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Naim, Ngainun. (2011). Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan. Jogjakarta : AR-RUZZ MEDIA.

Rohim, Syaiful. (2009). Teori Komunikasi: Perspektif, Ragam, dan Aplikasi. Jakarta : Rineka Cipta.

Rusman, N Y. ( 2003). Strategi Belajar Mengajar .Bandung : IMSTEP JICA. Santoso,E. (2010). Teori Komunikasi. Yogyakarta : Graha Ilmu


(5)

Suyomukti,N. (2012). Pengantar Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional

Wiriaatmadja, R. (2008). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

2. Sumber Jurnal

Rasmawan, R. (2010). Penerapan Model Problem Posing Bersetting Cooperatif Tipe Think Pair Share pada Topik Asam Basa Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA Vol.1. No. 1. Januari 2010 : 55-64. UNTAN

Salinan Lampiran Permendikbud No. 69 tahun 2013 mengenai Kurikulum SMA-MA.pdf

Prayitno, S. (2013). Indentifikasi Indikator Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Matematika Berjenjang Pada Tiap-Tiap Jenjangnya. Jurnal. Pendidikan Matematika Universitas Negeri Surabaya.

3. Sumber Skripsi

Edistira, E. (2012). Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Smp Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Talk-Write(Ttw). Skripsi.FPMIPA UPI: Repositori Upi.

Kurniawati,D. (2006). Penggunaan Media Puzzle dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah. Skripsi. Jurusan Pendidikan Sejarah. FPIPS UPI: Tidak diterbitkan.

Ningtiyas, S. ( 2013). Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing Learning Untuk meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Prestasi Belajar Siswa. Skripsi UNM. Malang: Jurusan Fisika. FPMIPA.

Nugroho, P.A. (2010). Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Smp Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Talk-Write(Ttw). Skripsi.Jurusan Pendidikan Matematika. FPMIPA UNY.

Putri, R.I. (2011). Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa dalam Pembelajaran Matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching dengan Model Pembelajaran Kooperatif dikelas VIII-D SMPN 4 Magelang. Skripsi. Jurusan Pendidikan Matematika. FPMIPA UNY.

Setiawati, E. (2011). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperative Tipe NHT terhadap Hasil Belajar Siswa dan Kemampuan BerKemampuan Komunikasi


(6)

Siswa Pada Konsep sistem Indra. Skripsi. Jurusan Pendidikan Biologi. FPMIPA UPI : Tidak diterbitkan.

Suratmi, E.(2013). Penerapan Metode Pembelajaran Dialog Utuk Mengembangkan Nilai-Nilai demokratis Siswa Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Skripsi. Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.FPIPS UPI : Tidak diterbitkan.

4. Sumber Internet

Afni, N.(2012). Problem Posing. [Online]. Tersedia : http://nurafhny.blogspot.com/2013/04/problem-posing.html. Diakses pada tanggal 11 April 2015.

Firdaus, R. (2011). Metode Observasi. [Online]. Tersedia: http://www.bloggerlombok.com/2011/11/metode-observasi.html. Diakses pada tanggal 10 Desember 2014.

Martanto, S. D. (2010). Sasaran dan Tujuan Pembelajaran Sejarah. [online] tersedia: http://siswodwimartanto.blogspot.com/2010/04/sasaran-dan-tujuan-pembelajaran-sejarah.html. [Diakses 15 September 2014].

Permana, AS. (2011). Problem Posing dalam Pembelajaran Matematika.

[Online]. Tersedia :

https://ashidiqpermana.wordpress.com/2011/05/17/problem-posing-dalam-pembelajaran-matematika/. Diakses pada tanggal 11 April 2015.

Prama, E. (2012). Historyca. [Online]. Tersedia :

http://historicaunej.blogspot.com/2/12/06/pendekatan-dalam-proses-pembelajaran.html. Diakses pada tanggal 15 Juni 2015

Sutisna. (2010). Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing. [Online]. Tersedia : http://sutisna.com/artikel/artikel- kependidikan/kelebihan-dan-kelemahan-pembelajaran-dengan-pendekatan-problem-posing/. Diakses pada tanggal 11 April 2015.