OBYEKTIVITAS PEMBERITAAN KASUS KORUPSI P2SEM DI KORAN SURABAYA PAGI (Analisis Isi Obyektivitas Pemberitaan Kasus Korupsi P2SEM yang Melibatkan UPN Veteran Jatim Di Koran Surabaya Pagi Edisi 9, 10, dan 17 Maret 2010 ).

OBYEKTIVITAS PEMBERITAAN KASUS KORUPSI P2SEM DI KORAN
SURABAYA PAGI
(Analisis Isi Obyektivitas Pemberitaan Kasus Korupsi P2SEM yang
Melibatkan UPN Veteran Jatim Di Koran Surabaya Pagi Edisi 9, 10, dan 17
Maret 2010 )

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagai persyaratan memperoleh Gelar
Sarjana pada FISIP UPN : “Veteran” Jawa Timur

OLEH :
ABDUL AZIZ BASWEDAN
NPM. 0643010377

YAYASAN KEJUANGAN PANGLIMA BESAR SUDIRMAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” JAWA
TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
SURABAYA
2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis tujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena
karuniaNya, penulis bisa melaksanakan dan menyelesaikan penelitian yang
berjudul “objektivitas pemberitaan kasus korupsi P2SEM di koran Surabaya
Pagi”. Tujuan penulis meneliti objektivitas pemberitaan kasus korupsi P2SEM ini
adalah untuk mengetahui objektiv atau tidak pemberitaan ini.
Adapun penulis sampaikan rasa terima kasih, kepada:
1.

Allah
melimpahkan

segala

karuniaNYA,

SWT.

sehingga

Karena

penulis

telah

mendapatkan

kemudahan selama proses praktek magang dan penyusunan laporan.
2.

Ibu Dra. Hj. Suparwati, M.Si selaku
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN “Veteran” Jawa Timur.

3.

Bapak Juwito, S.Sos, Msi. selaku
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi.

4.

Bapak Saifuddin Zuhri. Msi. selaku
Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi.

5.

Ibu Dra. Dyva Claretta, M.Si sebagai
dosen pembimbing.

6.

Dosen-dosen Ilmu Komunikasi yang
telah banyak memberikan ilmu dan dorongan dalam menyelesaikan
penulisan skripsi ini.

iii

Serta tak lupa penulis memberikan rasa terima kasih secara khusus kepada:
a. Papa, Mama dan adik-adikku, yang telah memberikan dorongan, semangat,
dan pengertiannya bagi penulis baik secara moril dan materiil.
b. Sahabat-sahabat terbaik yang selalu ada Tito, Wahyu, Delas, Dita, Lintang,
Tyo, Mbak Yanti dan Cak Dimas.
c. Seluruh teman-teman kampus (Kemal, Desna, Kermi, Arie, Doddy, Septian,
Resa, Mbah Rowo, Ngok, Kadir, Dewa, Pijar, Ndrenges, Eko, Fandy,
Mahmud, Patre’, Anton, Jujur, Doyok, Bom-bom, Eyen, Tuwek, Soak,
Merly, Ana, Kiki, Vika dan yang lainnya.
d. Dan Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu-satu oleh penulis, yang
telah membantu penyelesaian penelitian ini.
.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah
dibutuhkan guna memperbaiki kekurangan yang ada.
Akhir kata semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca,
khususnya teman-teman di Jurusan Ilmu Komunikasi.

Surabaya, 26 April 2010

Penulis

iv

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................

i

HALAMAN PERSETUJUAN SIDANG ..................................................

ii

KATA PENGANTAR ....................................................................................

iii

DAFTAR ISI ...................................................................................................

v

DAFTAR TABEL...........................................................................................

vii

ABSTRAKSI ................................................................................................. viii
BAB I

BAB II

BAB III

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah .......................................................

1

1.2. Perumusan Masalah .............................................................

9

1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................

9

1.4. Kegunaan Penelitian ...........................................................

9

KAJIAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori ......................................................................

11

2.1.1. Komunikasi Massa.....................................................

11

2.1.2. Pengertian dan Fungsi Pers........................................

16

2.1.3. Berita .........................................................................

19

2.2. Objektivitas Berita.................................................................

28

2.3. Kerangka Berpikir .................................................................

35

METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional .............................................................

36

3.1.1. P2SEM ......................................................................

36

v

BAB IV

3.1.2. Berita Kasus Korupsi P2SEM UPN Jatim ................

37

3.2. Kategorisasi Objektivitas Berita ...........................................

39

3.3. Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel .................

43

3.3.1. Populasi ....................................................................

43

3.3.2. Sampel dan Teknik Penarikan Sampel .....................

44

3.4. Teknik Pengumpulan Data ....................................................

45

3.5. Teknik Analisis Data .............................................................

45

3.6. Unit Analisis Data..................................................................

46

HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan................................................ 47

BAB V

4.1.1. Gambaran Singkat Surat Kabar Surabaya Pagi...........

47

4.2. Penerapan Objektivitas Pemberitaan di Surabaya Pagi.........

48

4.2.1. Akurasi Pemberitaan....................................................

53

4.2.2. Validitas Pemberitaan..................................................

55

4.2.3. Keseimbangan Pemberitaan.........................................

58

4.2.4. Netralitas Pemberitaan.................................................

60

KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan............................................................................

66

5.2 Saran......................................................................................

67

Daftar Pustaka ................................................................................................

69

Lampiran ..........................................................................................................

70

vi

DAFTAR TABEL
Halaman
TABEL 4.1 AKURASI PEMBERITAAN ....................................................

53

TABEL 4.2 VALIDITAS PEMBERITAAN..............................................

56

TABEL 4.3 KESEIMBANGAN PEMBERITAAN......................................

59

TABEL 4.4 NETRALITAS PEMBERITAAN ............................................

61

TABEL 4.5 PELANGGARAN OBJEKTIVITAS........................................

63

TABEL 4.6 DIMENSI FAKTUAL................................................................

65

TABEL 4.7 DIMENSI IMPARSIAL.............................................................

65

vii

ABSTRAKSI

ABDUL AZIZ BASWEDAN, OBYEKTIVITAS PEMBERITAAN KASUS
KORUPSI P2SEM DI KORAN SURABAYA PAGI (Analisis Isi Obyektivitas
Pemberitaan Kasus Korupsi P2SEM yang Melibatkan UPN Veteran Jatim
Di Koran Surabaya Pagi Edisi 9, 10, dan 17 Maret 2010 ).
Koran Surabaya Pagi merupakan koran lokal di Kota Surabaya,
sehingga pemberitaan yang disajikan oleh koran Surabaya pagi dapat membentuk
opini masyarakat Kota Surabaya. Berita yang disajikan tentang kasus korupsi
dana P2SEM yang melibatkan UPN Veteran Jatim ini harus objektif, karena dapat
mepengaruhi citra UPN Veteran Jatim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
objektivitas pemberitaan kasus korupsi P2SEM yang melibatkan UPN Veteran
Jatim di koran Surabaya Pagi edisi 9, 10, dan 17 Maret 2010.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori dari Jurgen
Westertahl dengan elemen pengujian akurasi, validitas, keseimbangan, dan
netralitas. Karena teori ini dapat menilai objektif atau tidaknya sebuah
pemberitaan di media, pemberitaan bisa dikatakan objektif apabila semua elemen
di atas terpenuhi.
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
dengan menggunakan metode analisis isi. Populasi penelitian ini adalah seluruh
berita tentang kasus korupsi dana P2SEM yang melibatkan UPN Veteran Jatim
yang dimuat di surat kabar Surabaya Pagi pada tanggal 9, 10, 17 maret 2010.
Teknik pengambilan sample yang digunakan penulis adalah total sampling, yaitu
sample diambil secara keselurahan dari jumlah populasi yang didasarkan pada
keseluruhan unit populasi, yakni berita kasus korupsi dana P2SEM yang
melibatkan UPN veteran Jatim di harian Surabaya pagi yang menjadi populasi
dalam penelitian ini. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data
primer, yaitu data yang diambil secara langsung dari harian Surabaya Pagi dan
Untuk menganalisis data, terlebih dahulu data yang terkumpul akan diuraikan
dengan menggunakan lembar koding.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum berita tentang
kasus korupsi dana P2SEM yang melibatkan UPN Veteran Jatim ini belum
objektif. Unsur yang belum terpenuhi oleh koran Surabaya pagi adalah akurasi,
keseimbangan, dan netralitas. Sedangkan unsur validitas telah terpenuhi, meski
begitu berita ini dinyatakan belum objektif karena masi ada unsur-unsur yang
belum terpenuhi.
Jadi dari penelitian pemberitaan kasus korupsi dana P2SEM di
Surabaya Pagi tidak objektiv, karena belum memenuhi seluruh unsur-unsur
objektivitas. Diharapkan Surabaya Pagi dapat lebih mengedepankan objektivitas
dalam menyajikan sebuah pemberitaan agar tidak terdapat kesalahan persepsi
pada pembacanya.

viii

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah
Salah

satu

kebutuhan

utama

manusia

adalah

informasi,

dalam

perkembangan yang terjadi saat ini semakin banyak individu maupun kelompok
yang membutuhkan informasi. Informasi tidak hanya digunakan sebagai
kebutuhan semata, melainkan juga alat untuk mendapatkan kekuasaan.
Penguasaan terhadap media informasi mampu menjadikan kita sebagai penguasa.
Seperti yang ada dalam pandangan umum bahwa penguasa media informasi
merupakan penguasa masa depan. (Romli 1999:26)
Faktor terbesar yang bisa menunjang penyebaran informasi kepada
khalayak adalah dengan media massa. Media massa telah menjadi fenomena
tersendiri dalam proses komunikasi, hal ini bisa tergambar dari relita yang ada
saat ini banyak koran-koran baru, stasiun televisi baru, dan berbagai sarana media
massa. Masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Salah satu kelebihan surat kabar dibanding media lain adalah surat kabar
lebih terdokumen, sehingga bisa “dikonsumsi” kapan dan dimana saja. Berbeda
dengan penyajian informasi pada media televisi, di media televisi kita harus
berada di depan televisi pada jam-jam tertentu. Hal inilah yang membuat surat
kabar masih tetap disukai. Karena berita di surat kabar lebih terdokumen maka

2

efek negatifnya akan lebih termemori (apabila pemberitaan tersebut negatif),
begitu juga sebaliknya.
Semakin banyaknya jumlah dan beragamnya jenis surat kabar yang
beredar di masyarakat saat ini dapat memberi dampak maupun pengaruh pada
penerbit surat kabar maupun pembaca. Pengaruh akan banyaknya penerbit adalah
konsumen / pembaca akan lebih selektif dalam pemilihan surat kabar, sedangkan
untuk penerbit mereka harus selalu berupaya memperbaiki dan meningkatkan
penyajian berita-beritanya.
Untuk dapat memberikan informasi kepada masyarakat, media atau pers
dituntut untuk bisa menambah pengetahuan pembacanya dengan menyajikan
informasi yang memiliki kebenaran, kepentingan, dan manfaat. Dengan
banyaknya aneka ragam surat kabar pembaca menjadi lebih selektif dalam
memilih suat kabar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Setiap surat kabar mempunyai ragam berita, mulai dari bidang ekonomi,
sosial, poltik, budaya, kriminal, sampai pada pemberitaan seleb. Surat kabar dapat
memberikan porsi yang berbeda terhadap suatu kejadian yang sama. Surat kabar
satu menyajikan sebuah berita sebagai berita utama belum tentu pemberitaan
tersebut menjadi berita utama pula di surat kabar lain, bahkan bisa saja tidak
dimuat sama sekali.
Berita diproduksi dan didistribusikan oleh pers. Pers menyandang peran
ganda yaitu sebagai produsen berita dan saluran dalam sebuah proses komunikasi.
Pers sebagai penghubung antara komunikator dengan komunikan. Kebebasan

3

media dilindungi oleh undang-undang yang menjamin beropini dan kebebasan
memberikan informasi kepada masyarakat.
Berita harus memenuhi beberapa unsur yang nantinya akan membuat suatu
berita tersebut bisa layak untuk dimuat. Pertama-tama berita harus cermat dan
tepat atau dalam bahasa jurnalistik harus akurat. Selain akurat berita harus
lengkap, adil, dan berimbang. Kemudian berita pun harus tidak mencampurkan
fakta dan opini sendiri atau dalam bahasa akademis berita harus objektif. Karena
berita memliki power untuk membentuk opini publik, jadi sesuatu yang ditulis
oleh media harus memenuhi unsur-unsur di atas agar tidak ada pihak yang
dirugikan. (Kusumaningrat 2006 : 47)
Akhir-akhir ini banyak berita kasus korupsi yang muncul di media, baik
itu korupsi dalam jumlah besar maupun kecil. Ada yang mengkorupsi uang
negara, ada juga yang korupsi dengan jalan menerima sogokan untuk
memudahkan jalur sesuatu. Salah satu kasus korupsi yang ada sekarang adalah
kasus korupsi dana P2SEM (Prgram Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat).
P2SEM merupakan dana yang turun dari pemerintah melalui BAPEMAS (Badan
Pemberdayaan Masyarakat) untuk kegiatan kemasyarakatan, dari BAPEMAS
turun ke pokmas (kelompok masyarakat) antara lain ; organisasi, pondok
pesantren, perguruan tinggi, dan lain-lain. Salah satu penerima dana P2SEM
adalah UPN Veteran Jawa Timur.
Berita mengenai kasus korupsi P2SEM (Program Penanganan Sosial
Ekonomi Masyarakat) yang melibatkan UPN Veteran Jawa Timur cukup

4

menghebohkankan. Tidak tanggung-tanggung rektor UPN Veteran Jawa Timur
(Teguh Soedarto) ada dalam pemberitaan di koran Surabaya Pagi. Beliau juga
diperiksa atas temuan korupsi dana P2SEM (Program Penanganan Sosial
Ekonomi Masyarakat). Beliau diperiksa dalam dugaan korupsi yang disangkakan
kepada mantan ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim Lambertus L. Wayong.
Surabaya Pagi memberitakan kasus P2SEM yang melibatkan UPN
“VETERAN” Jawa Timur dalam tiga edisi. Pada harian Surabaya Pagi,
pemberitaan kasus P2SEM yang menyeret kampus UPN diberitakan pertama kali
pada tanggal 09 Maret 2010. Surabaya Pagi memberikan judul kasus ini “Rektor
UPN Terseret Kasus Korupsi Rp. 1,9 Miliar”, untuk pengunaan font pada judul,
Surabaya Pagi menggunakan font besar. Surabaya Pagi memberitakan, Rektor
Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Surabaya, Teguh Soedarto,
terseret korupsi dana Program Penangan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM)
Rp 1,9 milyar. Kemarin (8/3), Teguh diperiksa penyidik Kejaksaan Negeri
(Kejari) Surabaya. Ini setelah penyidik menetapkan mantan ketua Fraksi Partai
Golkar DPRD Jatim Lembartus L. Wayong sebagai tersangka (Surabaya Pagi, 09
Maret 2010). Dalam judul tersebut koran Surabaya Pagi seakan-akan menuduh
rektor UPN Veteran Jatim ini korupsi, padahal dalam isi berita dinyatakan bahwa
rektor UPN Veteran Jatim diperiksa sebagai saksi.
Pada edisi pemberitaan kasus P2SEM yang kedua, tanggal 10 Maret 2010,
Surabaya Pagi memberikan judul “Rektor UPN terancam jadi tersangka” ini lebih
banyak mencantumkan kutipan wawancara dari pihak Ketua Kejari Surabaya
yaitu Fadil Zumhana dan pihak Humas UPN yang diwakili Diana Amalia dan

5

Haryo S. Berdasarkan keterangan pihak Kejari Surabaya yang dimuat dalam edisi
ini, pihak kejari masih menunggu perkembangan hasil penyidikan untuk merubah
status Rektor UPN. Pemeriksaan juga terkait dugaan adanya keterlibatan Rektor
dengan pihak Lembartus L. Wayong dalam pembagian fee (Surabaya Pagi edisi
10 Maret 2010). Dalam judul pemberitaan ini ditulis bahwa rektor UPN Veteran
Jatim terancam jadi tersangka, padahal dalam kutipan wawancara dengan Fadil
(kepala Kejaksaan Negeri) Surabaya beliau (Fadil) mengatakan “kalau ditemukan
adanya pelanggaran hukum dan indikasi penyelewengan dana P2SEM maka
statusnya

bisa

jadi

tersangka,

kita

tunggu

saja

pengembangan

hasil

penyidikannya.” Dalam kutipan tersebut tidak ada kata-kata yang mengarah
bahwa Rektor UPN telah terancam menjadi tersangka.
Sedangkan berdasar keterangan dari pihak humas UPN, Teguh (Rektor)
tidak tahu-menahu tentang penyalahgunaan dana P2SEM tersebut, pihak humas
juga tidak mengetahui apakah Teguh kenal dekat dengan Lembartus L. Wayong,
justru yang kenal dekat adalah Johan Mashusdi (salah satu dosen UPN Veteran
Jatim). Sedangkan menurut Haryo S, pihaknya menyangkal tentang dugaan
pemotongan dana P2SEM yang dilakukan pihak UPN, kalaupun ada pemotongan
dana bisa saja dilakukan oleh Lembartus L. Wayong atau pihak Badan
Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas).
Di ahir edisi pemberitaan kasus P2SEM oleh pihak Surabaya Pagi, Koran
tersebut memberikan judul “Lambartus Diperiksa Hari Ini”. Dalam pemberitaan
kasus tersebut, dijelaskan oleh Surabaya Pagi bahwa Lembartus L. Wayong,
berdasarkan bukti ikut serta memotong dana hibah P2SEM yang disalurkan

6

kepada pihak UPN. Pihak UPN yang menggunakan makelar untuk menyampaikan
tujuh proposal kegiatan yang bernilai Rp 1,9 milyar, tujuh proposal tersebut
ternyata disetujui oleh Badan Pemberdaya Masyarakat (Bapemas). Namun hanya
dua proposal saja dana kegiatan yang diserahkan kepada pihak LPPM dengan
nilai Rp 700 juta untuk dua jenis kegiatan. Salah satunya Rp 450 juta digunakan
untuk pembuatan minuman khas di daerah Malang, dari dana tersebutlah 60
persen diminta oleh makelar, jumlah itulah yang bermuara ke tangan Lembartus.
Berita di atas merupakan kutipan dari koran Surabaya Pagi, dalam tiga
edisi koran Surabaya Pagi yaitu edisi tanggal 9, 10, dan 17 Maret 2010. Dalam
penulisan berita tersebut judul berita dituliskan dengan ukuran besar. Menurut
Junaedhi (1991 : 29) berita yang ditulis dengan huruf ukuran besar pada judulnya
merupakan berita utama atau berita istimewa. Berita utama dilakukan seselektif
mungkin sesuai dengan kebijaksanaan redaksionalnya, dan sesuatu yang dianggap
paling pantas diketahui oleh masyarakat pada saat itu. Dalam sebuah berita bisa
terbentuk opini publik yang kuat, sehingga dalam penulisan berita wartawan harus
obyektif dalam penulisannya, apalagi berita ini merupakan headline dalam
Surabaya Pagi.
Definisi tentang objektivitas berita sangat beragam, namun secara
sederhana dapat dijelaskan bahwa berita yang obyektif adalah berita yang
menyajikan fakta, tidak berpihak dan tidak melibatkan opini dari wartawan.
Objektivitas menurut mcQuail (1994 : 130) lebih merupakan cita-cita yang
diterapkan seutuhnya. Dalam sistem media massa yang memiliki keanekaragaman
eksternal, terbuka kesempatan untuk penyajian informasi yang memihak, meski

7

sumber tersebut harus bersaing dengan sumber informasi lainnya yang
menyatakan dirinya obyektif. Meskipun demikian tidak sedikit media yang
mendapatkan tuduhan “media itu tidak obyektif”.
Objektivitas berita merupakan suatu keadaan berita yang disajikan secara
utuh dan tidak bersifat memihak salah satu sumber berita, yang bertujuan untuk
memberi informasi dan pengetahuan kepada konsumen. (flournoy, 1986 : 48).
Setiap berita yang disajikan dalam suatu surat kabar atau majalah harus memenuhi
unsur objektivitas. Objektivitas berita merupakan hal yang sangat penting dalam
penyajian sebuah berita. Penyajian berita yang tidak obyektif dapat menimbulkan
banyak ketidakseimbangan, artinya bahwa berita hanya disajikan berdasarkan
informasi pada sumber berita yang kurang lengkap dan cenderung sepihak.
Dalam jurnalisme, kebenaran tidaklah bisa diklaim oleh satu pihak, namun
harus dikonfirmasikan menurut kebenaran dari pihak lain. Inilah mengapa
pemberitaan di surat kabar selalu dituntut untuk mengungkapkan kebenaran secara
fairness. Yaitu salah satu syarat objektifitas yang juga sering disebut sebagai
pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan semua pihak yang terlibat
sehingga pers mempermudah pembaca menemukan kebenaran. Selain fairness,
pers juga dituntut melakukan pemberitaan yang akurat, tidak bohong, menyatakan
fakta bila itu memang fakta, dan pendapat bila itu memang pendapat, dikutip dari
Siebert tahun 1986 (Bungin, 2003 : 153 – 154).
Sebuah berita bisa dikatakan obyetif bila memenuhi beberapa unsur,
diantaranya adalah tidak memihak, transparan, sumber berita yang jelas, tidak ada

8

tujuan atau misi tertentu. Dilihat dari beberapa unsur di atas banyak sekali berita
yang disajikan belum memenuhi unsur-unsur objektivitas atau bisa dikatakan
bahwa berita tersebut tidak obyektif. Suatu berita yang disajikan tidak obyektif
hanya akan menguntungkan salah satu pihak dan akan merugikan pihak lain.
Dimensi-dimensi objektifitas menurut Rachma Ida terdiri dari aktualitas, fairness
dan validitas pemberitaan, dalam akurasi pemberitaan dituliskan bahwa harrus ada
kesesuaian judul dengan isi berita. (Kriyantono, 2006 : 244 dan juga dalam
Bungin, 2003 : 154-155).
Untuk dapat memahami ketimpangan arus informasi peneliti sengaja
memilih surat kabar Harian pagi Surabaya Pagi. Surat kabar Surabaya Pagi dipilih
sebagai obyek penelitian karena Surabaya Pagi merupakan salah satu surat kabar
besar di Surabaya, sehingga dampak dari berita yang dikeluarkan oleh Surabaya
Pagi akan luas membentuk opini publik di kota Surabaya. Alasan kedua penulis
memilih koran Surabaya Pagi karena pemberitaan kasus korupsi P2SEM yang
melibatkan UPN Veteran Jatim ini menjadi sebuah berita yang istimewa, berita ini
menggunakan font dengan size besar pada judulnya dan menjadi headline di surat
kabar ini. Dalam pemberitaan Surabaya Pagi di atas judul yang diberikan terkesan
menjudge rektor UPN Veteran Jatim telah bersalah.
Kesesuaian judul dengan isi berita juga merupakan salah satu bentuk
kejujuran jurnalis. Bila ingin berita laku keras, maka haruslah para jurnalis
mencuri berita yang memiliki nilai penting dimata khalayak, bukannya melalui
mengarang judul berita yang se bombastis mungkin sedangkan tidak tercermin
pada isi beritanya.

9

Berita-berita yang menyangkut institusi seperti ini bisa memperburuk citra
institusi apabila pemberitaannya tidak obyektif. UPN Veteran Jatim merupakan
salah satu universitas yang berada dalam lima besar ranking universitas swasta di
Surabaya, lebih tepatnya urutan ke lima di bawah UK Petra, UBAYA, UK Widya
Mandala, dan UNITOMO.(sumber : http://www.4icu.org/id/ )
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah analisis isi sehingga
diperoleh pemahaman yang akurat dan penting. Analisisnya adalah berita di surat
kabar yang analisis ini digunakan untuk mengkaji pesan-pesan di media (flournoy,
1986 : 12). Pemanfaatan ilmu komunikasi media massa dapat diperoleh secara
tepat implementasi di lapangan atas objektivitas pers dari surat kabar yang
menjadi subyek penelitian (McQuail, 1994 : 179).

1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas yang melandasi

penelitian ini, maka penelitian dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah
Objektivitas pemberitaan kasus korupsi P2SEM di koran Surabaya Pagi.”

1.3

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui objektivitas pemberitaan kasus korupsi P2SEM di koran
Surabaya Pagi.

10

1.4

Kegunaan Penelitian

1.

Kegunaan teoritis : Menambah kajian ilmu komunikasi yang berkaitan
dengan penelitian objektivitas berita, sehingga hasil penelitin ini
diharapkan bisa menjadi landasan pemikiran untuk penelitian-penelitian
selanjutnya.

2.

Kegunaan praktis : penelitian ini diharapkan sebagai bahan pertimbangan
bagi redaksi Surabaya Pagi dalam memberitakan kasus korupsi P2SEM
tidak memihak, transparan, dan sumber berita yang jelas.

11

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori
2.1.1 Komunikasi Massa
Didalam mengarungi kehidupan, manusia tidak lepas dari berkomunikasi
baik dengan diri sendiri, orang lain maupun dengan media massa. Komunikasi
telah mencapai tingkat dimana orang berbicara secara serempak dan serentak
dengan jutaan manusia, hal itu dilakukan melalui media massa atau disebut
komunikasi massa. Komunikasi masa menurut Bittner (dalam Rakhmat, 2001 ).
“mass Communication is message communication through a mass medium to
large number of people” (Komunikasi massa adalah pesan yang
dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang).
Sedangkan

menurut

Devito

yang

dikutip

dari

Effendy

(2001)

mendefinisikan komunikassi massa sebagai “First mass Comunication is
communication addressed to the masses to an extremely large audience. This does
not mean that the audience include all people or everyone who reads or everyone
who whatches television, rather it means am audience that is large an generally
rather people defined. Second, mass communication isperhap most easilu
logically defined by its forms : television, radio, newspaper, magazine, film,
books, and tapes.” ( pertama komunikasi massa adalah komunikasi yang

12

ditunjukan kepada massa kepada khalayak yang luar biasa banyaknya, ini tidak
berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang
menonton televise, agaknya ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pula
umumnya agak sukar untuk didefenisikan. Kedua, komunikasi massa adalah
komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan visuak.
Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila
didefinikasikan menurut bentuknya : televise, radio, surat kabar, tabloid, film,
buku dan pita).
Lebih lanjut Efendy (2001) menegaskan tentang pengertian komunikasi
massa yaitu : “Mass communication is process by which a message is transmitted
through one more of the mass media (Newspaper, Radio, television, movies,
magazine, and books) to an audience that is relatively large an animous.”
Jadi komunikasi massa adalah proses menyebarkan pesan melalui salah
satu media massa (Tabloidm radiom televise, bioskop, dan buku-buku) kepada
khalayak luas yang tidak dikenal.
McQuail (2001) dalam bukunya Teori komunikasi Massa. Suatu
pengantar, menjabarkan tentang ciri-ciri komunikasi massa yaitu “ sumber
komunikasi massa bukanlah satu orang tetapi organisasi formal, “sang
pengirim”nya seringkali merupakan komunikator professional. Komunikan
(penerima) adalah bagian dari khalayak luas. Peasanya tidak unik beraneka ragam
dapat diperkirakan. Seringkali diprosses, distadarisasikan dan selalu diperbanyak.

13

Pesan itu juga merupakan suatu produk dan komodisi yang mempunyai nilai
tukar, serta acuan simbolik yang mengandung nilai “kegunaan”.
Hubungan antara pengirim dan penerima bersifat satu arah dan jarang
sekali bersifat interaktif. Komunikasi massa sering sekali mencakup kontak secara
serentak antara satu pengiriman dengan banyak penerimaan, menciptakan
pengaruh luas dalam waktu singkat, dan menimbulkan respon seketika dari
banyak orang serentak.
Senada dengan McQuail, Effendy (2001) memberikan cirri-ciri tentang
komunikasi Massa yaitu :
1. Komunikator pada komunikasi massa
Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga
yaitu suatu institusi atau organisasi, maka komunikatornya melembaga
(Institusionalized

Communication

/

Organaized

Communicator).

Komunikator pada komunikasi massa misalnya warttawan tabloid, karena
media yang digunakan adalah suatu lembaga. Dalam menyebarluaskan
pesan komunikasinya bertindak atas nama lembaga, sejalan dengan
kebijakan (policy) tabloid yang diwakilinya. Ia tidak mempunyai
kebebasan individual, jadi kebebasan mengemukakan pendapat (Freedom
of Expression atau Feredom of Opinion) merupakan kebebasan terbatas
(Restricted Freedom).

14

2. Komunikan pada komunikasi massa bersifat homogeny
Komunikan bersifaat hetrogen karena didalam keberadaannya secara
terpencar-pencar, dimana satu sama lainnya tidak saling mengenal dan
tidak memiliki kontak pribadi, masing-masing berbeda dalam berbagai hal
antara lain jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan,
pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan dari komunikan.
Satu-satunya cara untuk mendekati keinginan selalu khalayak adalah
dengan mengelompokan mereka menurut jenis kelamin, usia, agama,
pekerjaan, pendidikan, kebudayaan, hobby, dan lain-lain. Hampir semua
tabloid, surat kabar, radio, televise, menyajikan acara atau rubric tertentu
yang diperuntukan bagi anak-anak, remaja, dewasa, wanita dewasa, remaja
putrid, pedagang, petani, ABRI, AU, pemeluk agama Islam, Kristen,
Budha, Hindu, dan lain-lainnya; para penggemar music, film, sastra; dan
kelompok-kelompok lainya.
3. Pesan pada Komunikasi massa bersifat umum
Pesannya bersifat umum karena ditujukan kepada umum dan mengenai
kepentingan umum. Media massa akan menyiarkan berita seoarng menteri
yang meresmikan proyek pembangunan tetapi tidak menyiarkan berita
seorang mentri yang menyelenggarakan khitanan putranya. Perkucualian
bagi seorang kepala Negara, media massa kadang memberikan perihal
beliau merayakan ulang tahunnya, menikahkan putra-putrinya, hobinya
berburu, walaupun sebetulnya tidak ada hubungannya untuk kepentingan
umum.

15

4. Komunikasi massa berlangsung satu arah
Ini berarti bahwa tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada
komunikator. Wartawan sebagai komunikator tidak mengetahui tanggapan
pembaca terhadap pesan atau berita yang disiarkan. Yang dimaksudkan
dengan “tidak mengetahui” adalah tidak mengetahui pada waktu proses
komunikasi itu berlangsung. Mungkin saja komunikator mengetahui juga,
misalnya melalui rubrik “suara pembaca” atau “suara pendengar” yang
biasanya terdapat di tabloid, surat kabar maupun radio. Tetapi semua itu
terjadi setelah komunikasi dilancarkan oleh komunikator, sehingga
komunikator tidak bisa memperbaiki gaya komunikasi seperti yang biasa
terjadi pada komunikasi tatap muka. Untuk menghindari hal tersebut maka
komunikator harus melakukan perencanaan dan persiapan sedemikian rupa
sehingga

pesan

yang

disampaikan

kepada

komunikasi

haruslah

komunikatif.
5. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan.
Hal ini merupakan ciri hakiki di music atau penyanyiingkan dengan media
komunikasi yang lain. Poster dan papan pengumuman adalah media
komunikasi tetapi bukan media komunikasi massa karena tidak
mengandung cirri keserempakan. Pesan yang disampaikan tidak diterima
oleh khalayak dengan melihat poster atau papan pengumuman secara
serempak atau bersama-sama. Lain dengan radio, televise, tabloid, surat
kabar, pesan yang disampaikan secara serempak bisa diterima oleh
khalayak.

16

2.1.2. Pengertian dan Fungsi Pers
Pers berasal dari perkataan belanda pers yang artinya menekan atau
mengepres. Kata pers merupakan padanan dari kata press dalam bahasa inggris
berarti menekan atau mengepres. Jadi, secara harfiah kata pers atau press
mengacu pada pengertian komunikasi yang dilakukan dengan perantara barang
cetakan. Tetapi, sekarang kata pers atau press ini digunakan untuk merujuk semua
kegiatan jurnalistik, terutama kegiatan yang berhubungan dengan menghimpun
berita, baik oleh wartawan media elektronik maupun wartawan media cetak
(kusumaningrat, 2006 : 17).
Pers mengandung dua arti, arti sempit dan arti luas. Dalam arti sempit pers
hanya menunjuk kepada media cetak berkala : surat kabar, majalah, dan tabloid,
sedangkan pers dalam arti luas pers bukan hanya menunjuk pada media cetak
berkala melainkan juga mencakup media elektronik auditif dan media elektronik
audivisual berkala yakni radio, televisi, film, dan media on line internet. Pers
dalam arti luas berarti media massa. Dalam paparan ini yang akan dibahas adalah
pers dalam arti sempit, khususnya surat kabar. Surat kabar adalah media massa
paling tua dan merupakan media yang paling banyak dan luas penyebarannya
(Sumadiria 2005 : 31).
Secara yuridis formal, seperti dinyatakan dalam pasal 1 ayat (1) UU pokok
pers no. 40/1999, pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang
melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan,

17

suara, dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan
menggunakan media cetak, elektronik, dan segala jenis media yang tersedia
(Sumadiria 2005 : 32).
Pers adalah lembaga kemasyarakatan yang merupakan sub sistem dari
sistem kemasyarakatan tempat ia beroperasi, bersama-sama dengan sub sistem
lainnya. Dengan demikian maka pers tidak hidup secara mandiri, tetapi
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya.
Pers cenderung untuk mempunyai kualitas penyesuaian, yang berarti ia akan
menyesuaikan kepada perubahan dalam lingkungan demi kelangsungan hidupnya.
Apabila pers tidak mampu menyesuaikan diri kepada perubahan kondisi dan
situasi lingkungan maka ia akan mati ( Efendy, 2002 : 62 ).
Fungsi pers menurut Kusumaningrat (2006 : 27) :
1. Fungsi Informatif, yaitu memberikan informasi atau berita kepada

khalayak ramai dengan cara yang teratur . pers menghimpun berita yang
dianggap

berguna

dan

penting

bagi

orang

banyak

mekudian

menuliskannya dengan kata-kata.
2. Fungsi Kontrol, yaitu pers masuk ke balik panggung kejadian untuk

menyelidiki

pekerjaan

pemerintah

atau

perusahaan,

pers

harus

memberitakan apa yang berjalan baik maupun yang berjalan tidak baik.
3. Fungsi Interpretatif dan Direktif, yaitu pers harus menceritakan kepada

masyarakat tentang arti suatu kejadian, biasanya dilakukan pers melalui
tajuk rencana atau tulisan-tulisan latar belakang.

18

4. Fungsi Menghibur, yaitu para wartawan menuturkan kisah-kisah dunia

dengan hidup dan menarik.
5. Fungsi Regeneratif, yaitu pers membantu menyampaikan warisan sosial

kepada generasi baru agar terjadi proses regenerasi dari angkatan yang
sudah tua kepada angkatan yang lebih muda.
6. Fungsi Pengawalan Hak-hak Warga Negara, yaitu mengawal dan

mengamankan hak-hak pribadi.
7. Fungsi Ekonomi, yaitu melayani sistem ekonomi melalui iklan. Tanpa

radio, televisi, majalah, dan surat kabar, maka beratlah untuk dapat
mengembangkan perekonomian sepesat seperti sekarang.
8. Fungsi Swadaya, yaitu pers mempunyai kewajiban untuk memupuk

kemampuannya sendiri agar ia dapat membebaskan dirinya dari pengaruhpengaruh serta tekanan-tekanan dalam bidang keuangan.
Lebih lanjut Sumadiria ( 2005 : 32-35 ) menjelaskan bahwa ada lima
fungsi pers yang unversal, kerena fungsi ini dapat ditemukan pada setiap negara di
dunia yang menganut paham demokrasi, kelima fungsi tersebut adalah :
1. Informasi ( to inform ), menyampaikan informasi secepat-cepatnya kepada

masyarakat yang seluas-luasnya.
2. Edukasi ( to educate ), apapun informasi yang disampaikan oleh pers

hendaknya dalam kerangka mendidik.

19

3. Koreksi (to influence), pers akan senantiasa menyalak ketika melihat

berbagai penyimpangan dan ketidak-adilan dalam suatu masyarakat atau
negara.
4. Rekreasi ( to entertaint ), menghibur, pers harus memerankan dirinya

sebagai wahana rekreasi yang menyenangkan sekaligus yang menyehatkan
bagi semua lapisan masyarakat.
5. Mediasi ( to mediate ), mediasi artinya penghubung. Bisa juga disebut

sebagai mediator atau fasilitator.

2.1.3. Berita
Berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar,
menarik, dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala
seperti surat kabar, radio, televisi, atau media on line internet. Berita berasal dari
bahasa sansekerta, yaitu urit yang dalam bahasa Inggris disebut write, yang berarti
sebenarnya adalah ada atau terjadi. Sebagian ada yang menyebut dengan Writta,
artinya kejadian atau yang telah terjadi. Dalam kamus besar bahasa Indonesia
karya Poerwadarminto, berita diperjelas menjadi laporan mengenai kejadian atau
peristiwa yang hangat.
Sedangkan menurut McQuail (1989 : 189) berita merupakan sesuatu yang
bersifat metafistik dan sukar dijawab kembali dalam kaitannya dengan institusi
dan kata putus mereka yang bersifat rasa dan sulit diraba karena kehalusannya.

20

Berita bukanlah cermin kondisi sosial, tetapi laporan tentang salah satu aspek
yang telah menonjolkannya sendiri.
Suatu fakta dapat dikatakan berita, apabila memenuhi syarat antara lain
telah dipublikasikan oleh seseorang atau institusi yang jelas identitasnya, alamat,
dan penanggungjawabnya, fakta tersebut ditemukan oleh jurnalis dengan cara
yang sesuai dengan standar operasional dan prosedur dalam profesi jurnalistik
(panuju, 2005 : 52).
Dari beberapa definisi tersebut dapat dirangkum bahwa berita adalah
laporan dari kejadian yang penting atau peristiwa hangat, dapat menarik minat
atau perhatian para pembaca. Berita merupakan gudang informasi, dan berita
merupakan bagian terpenting dari tabloid atau surat kabar.
Menurut Djuroto (2002 : 48) untuk membuat berita paling tidak harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Menjaga objektivitas dalam pemberitaan.

2. Faktanya tidak boleh diputar sedemikian rupa hingga tinggal
sebagian saja.
3. Berita itu harus menceritakan segala aspek secara lengkap.
Sedangkan menurut Kusumaningrat (2006 : 47) unsur-unsur yang
membuat suatu berita layak untuk dimuat ada tujuh yaitu ; Akurat, Lengkap, Adil,
Berimbang, Objektif, Ringkas, Jelas, dan Hangat.

21

Selain unsur-unsur berita wartawan juga harus memikirkan nilai berita,
dalam cerita atau berita itu tersirat pesan yang ingin disampaikan waratwan
kepada pembacanya. Ada tema yang diangkat dari suatu peristiwa. Nilai berita ini
menjadi menentukan berita layak berita. Menurut Ishwara (2005 : 53) peristiwaperistiwa yang memiliki nilai berita ini misalnya yang mengandung konflik,
bencana dan kemajuan, dampak, kemasyhuran, segar dan kedekatan, keganjilan,
human interest, seks, dan aneka nilai lainnya.
Berita memiliki banyak jenis, Menurut Sumadiaria ( 2005 : 69-71 ) dalam
dunia jurnalistik berita berdasarkan jenisnya dapat dibagi dalam tiga kelompok :
1. Elementary yaitu :
a. Straight News report adalah laporan langsung mengenai suatu

peristiwa. Biasanya berita jenis ini ditulis dengan unsur-unsur yang
dimulai dari what, when, why, where, who, dan how (5W+1H).
b. Depth News Report merupakan laporan yang sedikit berbeda

dengan Straight News report. Reporter (wartawan) menghimpun
informasi dengan fakta-fakta mengenai peristiwa itu sendiri
sebagai informasi tambahan untuk peristiwa itu sendiri.
c. Comprehensive News merupakan laporan tentang fakta yang

bersifat

menyeluruh

ditinjau

dari

berbagai

aspek.

Berita

menyeluruh, mencoba menggabungkan berbagai serpihan fakta itu
dalam satu bangunan cerita peristiwa sehingga benang merahnya
terlihat dengan jelas.

22

2. Intermediate yaitu :
a. Interpretative Report lebih dari sekedar Straight News report dan

depth news . berita interpretative biasanya memfokuskan pada
sebuah isu, masalah, atau peristiwa-peristiwa kontroversial. Dalam
jenis laporan ini reporter menganalisis dan menjelaskan.
b. Feature Story berbeda dengan jenis berita-berita di atas yang

menyajikan informasi-informasi penting, di feature story penulis
mencari fakta untuk menarik perhatian pembaca. Penulisan feature
lebih bergantung pada gaya penulisan dan humor daripada
pentingnya informasi yang disajikan.
3. Adnance yaitu :
a. Depth Reporting adalah pelaporan jurnalistik yang bersifat

mendalam, tajam, lengkap, dan utuh tentang suatu peristiwa
fenomenal

atau

aktual.dengan

membaca

karya

pelaporan

mendalam, orang akan mengetahui dan memahami dengan baik
duduk perkara suatu persoalan dilihat dari berbagai perspektif atau
sudut pandang.
b. Investigative Reporting berisikan hal-hal yang tidak jauh berbeda

dengan laporan interpretatif. Berita jenis ini biasanya memusatkan
pada sejumlah masalah dan kontroversi. Dalam laporan investigatif
waratawan melakukan penyelidikan untuk memeperoleh fakta yang

23

tersembunyi demi tujuan. Pelaksanaannya sering ilegal atau tidak
etis
c. Editoral Writing adalah pikiran sebuah institusi yang diuji di depan

sidang pendapat umum. Editorial adalah penyajian fakta dan opini
yang menafsirkan berita-berita yang penting dan mempengaruhi
pendapat umum
Yang dapat membedakan antara berita dengan bukan berita salah
satunya adalah pada ada tidaknya opini. Hal ini didasari bahwa sebuah berita
berasal dari suatu fakta sedangkan opini berangkat dari suatu pemikiran.
Berita mempresentasikan fakta sedangkan opini mempresentasikan gagasan
atau ide. Dalam kacamata jurnalistik, tidak semua fakta adalah berita.
Suatu fakta dapat dikatakan berita, apabila memenuhi syarat antara
lain telah dipublikasikan oleh seseorang atau institusi yang jelas identitasnya,
fakta tersebut dihimpun oleh jurnalis dengan cara yang sesuai dengan
standart operasional dan prosedur dalam profesi jurnalistik (jurnal mata
kuliah dasar-dasar jurnalistik).
Untuk membuat berita paling tidak, harus dipenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
1. Menjaga objektifitas dalam pemberitaan.
2. Fakta tidak boleh diputar balikkan sedemikian rupa hingga tinggal
sebagian saja.
3. Berita itu harus menceritakan segala aspek secara lengkap.

24

Berdasarkan pasal dari kode etik jurnalistik milik AJI (pasal 3/14
Maret 2006) dijabarkan melalui sebagai berikut :
a. Menguji informasi berarti melakukan cek dan re-cek tentang kebenaran
informasi.
b. Berimbang dengan memberikan ruang pemberitaan kepada masingmasing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan.
d. Azas praduga tak bersalah adalah prinsip dengan tidak menghakimi
seseorang.
Setiap berita yang disuguhkan harus dapat dipercaya namun juga
dapat menarik perhatian khalayak sehingga lewat menyajikan hal-hal yang
factual dari apa adanya, kebenaran isi cerita yang disampaikan tidak
menimbulkan tanda tanya dan ada kesesuaian dari judul dengan isi berita.
Unsur yang penting dalam menyajikan berita adalah kesesuaian
antara judul berita dengan isinya, terlebih lagi bagi media massa cetak
dengan pembaca yang memiliki karakteristik pembaca sekilas. Judul berita
harus mempresentasikan seluruh isi berita, hal ini dimaksudkan untuk
menghindari salah persepsi saat berita dibaca hanya menarik saat dibaca
sekilas oleh khalayak melalui judul yang bombastis namun tidak sesuai
dengan isi.
Kesesuaian judul dengan isi berita juga merupakan salah satu bentuk
kejujuran jurnalis. Bila ingin berita laku keras, maka haruslah para jurnalis

25

mencuri berita yang memiliki nilai penting dimata khalayak, bukannya
melalui mengarang judul berita yang se bombastis mungkin sedangkan tidak
tercermin pada isi beritanya.
Pada jurnal mata kuliah jurnalistik, dikatakan fungsi judul berita adalah :
1. Memberikan identitas pada berita
2. Mempermudah pembaca untuk memilih berita
3. Menarik perhatian pembaca
Mutu surat kabar dalam penyajiannya sangat sering juga menyertakan
gambar, foto, ilustrasi kartun maupun bagan ataupun table yang berguna
untuk memperjelas isi pemberitaan. Penempatan adanya data pendukung
berita ini sangat penting atas pertimbangan berikut :
1. Foto, gambar, table, dan ilustrasi merupakan unsure berita yang pertama
kali menangkap mata serta perhatian pembaca. Woodburn (yang dikutip
dari jurnal jurnalistik media cetak) menjelaskan bahwa data pendukung
berita di atas, memiliki kekuatan stopping power serta menjelaskan
bagian dari unsure berita yang disajikan.
2. Foto dalam surat kabar, dapat digunakan dalam komunikasi dengan
pembaca yang memiliki latar belakang beranekaragam karena foto
mampu menyajikan berita melalui bahasa foto lebih universal.
Konsep penyajian berita salah satunya kembali pada konsep aktualitas
yang menurut Denis McQuail merupakan ciri utama berita melalui

26

menyajikan suatu peristiwa terbaru, karena itu, sangat penting adanya
pemberian identitas waktu dalam sebuah penyajian berita.
Dalam sebuah berita yang idealnya mengambil bentuk piramida
terbalik yang diurutkan dengan menjelaskan mulai dari bagian berita yang
terpenting sampai pada yang kurang penting, letak tanggal terjadinya
peristiwa umumnya terletak pada bagian teras berita. Bentuk penulisan
Piramida Terbalik (Inverted Pyramid), seperti pada gambar berikut :

JUDUL
LEAD (5W + 1H)

Sangat

TUBUH
Rincian lead, latar belakang
dan informasi lanjutan

Kurang

(Gambar Piramida Terbalik 5W+ 1H)
Pada Piramida terbalik ini, penulisan berita dimulai dengan membuat
lead atau teras berita sebagai paragraf pertama. Dalam penulisan lead ini
mencakup rumus dasar dalam menulis berita berupa 5W + 1H yaitu :
a. What : Peristiwa atau hal apa yang terjadi
b. Where : Dimana peristiwa itu terjadi
c. When : Kapan peristiwa itu terjadi
d. Why

: Mengapa peristiwa tersebut terjadi

27

e. Who

: Siapa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut

f. How

: bagaimana peristiwa tersebut terjadi

Kemudian, lead dikembangkan atau teras berita tersebut dijadikan
sebagai paragraf kedua dan digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan atau
mendukung tulisan pada paragraf pertama.
Paragraf ketiga dan selanjutnya adalah sebagai tubuh berita. Selain
susunan berita yang berbentuk piramida terbalik, yang harus diperhatikan
adalah :
a. Paragraf : lebih baik menggunakan alenia pendek sehingga dapat
memberi kesan yang santai dan mudah untuk dibaca.
b. Gaya bahasa : penggunaan gaya bahasa yang dipakai dapat dimengerti
oleh semua pihak, baik kalangan atas atau bawah bahkan pula yang tidak
berpendidikan. Hal ini dikarenakan khalayak daripada media massa yang
bersifat heterogen.
c. Ekonomis kata : harus menggunakan kalimat yang sesingkat mungkin
untuk mengungkapkan satu maksud. Artinya satu gagasan satu kalimat.
d. Objektifitas : suatu berita harus tetap dijaga dalam Press Release
walaupun mengandung suatu tujuan tertentu. Sehingga seseorang
beropini, namun haruslah jelas opini tersebut dinyatakan oleh siapa.
e. Tetap menjaga keakurasian tulisan atau informasi : karena mampu
mempengaruhi opini pembaca tentang kredibilitas seorang Publik
Relations sebagai sumber informasi.

28

f. Data perlu diperhatikan Panjang sebuah Press Release : dalam
penulisannya sebaiknya tidak lebih dari dua halaman, sehingga perlu
dihindari penggunaan kata yang berbelit-belit.
Bagian terakhir dalam penyajian berita namun bagiannya merupakan
hal yang tidak kalah penting yaitu berhubungan dengan persyaratan adanya
fakta-fakta yang siap untuk diverifikasi, data terbuka untuk diadakan
penelusuran, narasumber yang memberikan informasi mudah dikenali serta
berbagai pertanggungjawaban berita lainnya.
Nara sumber dalam berita penting karena berkaitan dengan
kredibilitas media massa yang bersangkutan. Ini dikarenakan, perihal nara
sumber berkaitan erat dengan kelanjutan adanya penuntutan bilamana ada
pihak yang merasa dirugikan akan pemberitaan tersebut. Karena itu, masalah
nara sumber, jurnalis dituntut untuk se-valid mungkin dalam menyajikan
berita.

2.2.

Objektifitas Berita
Media massa senantiasa dituntut mempunyai kesesuaian dengan
realisasi dunia yang benar-benar terjadi, agar gambar realitas yang ada di
benak khalayak – the world outside and the pictures in our head, tidaklah
bias dikarenakan informasi media massa tidak kontekstual dengan realitas.
Secara ideal, setiap berita yang disajikan dalam suatu media harus memenuhi
unsure objektifitas.

29

Media massa yang sarat dengan informasi adalah pers. Pers
merupakan cermin realitas karena pers pada dasarnya lebih menekankan
fungsi sebagai sarana pemberitaan. Isi pers yang utama adalah berita. Fakta
dan realitas adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari konsep
objektifitas. Oleh karena itu jika terdapat sebuah paradigma yang berkaitan
dengan

ilmu

jurnalistik, pasti ditemukan

sebuah

paradigma

yang

mensyaratkan adanya konsep objektifitas dalam penyajian berita.
Pers senantiasa dituntut mengembangkan pemberitaan yang
obyektif, yaitu “reporting format that generally spates fact from
pinion present an emotionally detached view of the news, and strives
for fairness and balanced” (DeFleur, 1994 : 635).

Dalam jurnalisme, kebenaran tidaklah bisa diklaim oleh satu pihak,
namun harus dikonfirmasikan menurut kebenaran dari pihak lain. Inilah
mengapa pemberitaan di surat kabar selalu dituntut untuk mengungkapkan
kebenaran secara fairness. Yaitu salah satu syarat objektifitas yang juga
sering disebut sebagai pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan
semua pihak yang terlibat sehingga pers mempermudah pembaca
menemukan kebenaran. Selain fairness, pers juga dituntut melakukan
pemberitaan yang akurat, tidak bohong, menyatakan fakta bila itu memang
fakta, dan pendapat bila itu memang pendapat, dikutip dari Siebert tahun
1986 (Bungin, 2003 : 153 – 154).
Sebagai salah satu prinsip penilaian, objektivitas memang hanya
mempunyai cakupan yang lebih kecil dibanding dengan prinsip lain, tetapi

30

prinsip objektivitas memiliki fungsi yang tidak boleh dianggap remeh,
terutama dalam kaitannya dengan kualitas informasi. Objektivitas pada
umumnya berkaitan dengan berita dan informasi. (McQuail, 1994 : 129).
Objektivitas, betapapun sulitnya, harus diupayakan oleh insan pers.
Objektivitas berkaitan erat dengan kemandirian pers sebagai institusi sosial.
Institusi pers dituntut objektif dan netral atas semua fakta. Hal ini penting
mengingat signifikansi efek media terhadap khalayak. (Bungin, 2001 : 198199)
J. Westerstshl (1983) mengembangkan kerangka konseptual dasar
bagi usaha meneliti dan mengukur objektivitas pemberitaan yang kemudian
dirinci lebih lanjut oleh Denis McQuail (1992). Meta-konsep objektivitas
pemberitaan yang dikembangkan itu memiliki dua dimensi, yakni factuality –
dimensi kognitif atau kualitas informasi pemberitaan; dan impartiality –
dimensi evaluatif pemberitaan dihubungkan dengan sikap netral wartawan
terhadap objek pemberitaan, menyangkut kualitas penanganan aspek
penilaian, opini, interpretasi subjektif dan sebagainya.
Jurgen Westerstahl menjabarkan konsep objektifitas pada bagan berikut :
Bagan 1. Konsep Objektivitas Westerstahl (Westerstahl, 1983 : 405)
Westerstahl mengajukan komponen utama objektifitas berita dalam
observasinya “maintaining objectivity in the dissemination of news can, it
seems to me, most easily be defined as” adherence to certain norm or

31

standards” (Charllote, 2006 : 7 – 8 yang dikutip dari Westerstahl, 1983 :
403).

Objectivity

Faktuality

Truth /
Akurat

Relevance /
Valid

Impartiality

Balance /
non
part

Dokumen yang terkait

Objektivitas Pemberitaan Dugaan kasus Korupsi Nazaruddin di Koran tempo

5 75 87

PERBANDINGAN KECENDERUNGAN PEMBERITAAN KUNJUNGAN OBAMA KE INDONESIA (Analisis Isi pada Pemberitaan Obama di Koran Jawa Pos Dan Kompas Edisi 9 - 11 November 2010)

0 4 32

NARASI PEMBERITAAN KORUPSI SEPAKBOLA DALAM KORAN KEDAULATAN RAKYAT DAN TRIBUN JOGJA (ANALISIS NARATIF KORUPSI IDHAM SAMAWI DI KEDAULATAN RAKYAT DAN TRIBUN JOGJA)

1 11 119

KEBERIMBANGAN PEMBERITAAN KORUPSIDI MEDIA CETAK KEBERIMBANGAN PEMBERITAAN KORUPSI DI MEDIA CETAK (Analisis Isi Keberimbangan Pemberitaan Korupsi Wisma Atlet di SKH Media Indonesia Periode Agustus 2011, Februari 2012 – Maret 2012).

0 4 16

PENDAHULUAN KEBERIMBANGAN PEMBERITAAN KORUPSI DI MEDIA CETAK (Analisis Isi Keberimbangan Pemberitaan Korupsi Wisma Atlet di SKH Media Indonesia Periode Agustus 2011, Februari 2012 – Maret 2012).

0 3 30

OBJEKTIVITAS PEMBERITAAN KEMATIAN SATWA KEBUN BINATANG SURABAYA (Analisis Isi Objektivitas Pemberitaan Kematian Satwa Kebun Binatang Surabaya di Surat Kabar Jawa Pos Edisi 13 Agustus 2010 – 17 Agustus 2010).

0 0 98

Analisis Isi : Obyektivitas Pemberitaan Di Surat Kabar - Ubaya Repository

0 0 1

BAB II KERANGKA TEORI 2.1 Kerangka Teori - Objektivitas Pemberitaan Dugaan kasus Korupsi Nazaruddin di Koran tempo

0 0 32

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah - Objektivitas Pemberitaan Dugaan kasus Korupsi Nazaruddin di Koran tempo

0 0 7

OBYEKTIVITAS PEMBERITAAN KASUS KORUPSI P2SEM DI KORAN SURABAYA PAGI (Analisis Isi Obyektivitas Pemberitaan Kasus Korupsi P2SEM yang Melibatkan UPN Veteran Jatim Di Koran Surabaya Pagi Edisi 9, 10, dan 17 Maret 2010 ).

0 0 17