IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN PADA PEKERJA KONTRAK WAKTU TERTENTU (PKWT) DI PT. INTI CAKRAWALA CITRA (INDOGROSIR) SURABAYA.

(1)

PT. INTI CAKRAWALA CITRA

SURABAYA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pada FISIP UPN “Veteran “ Jawa Timur

Oleh :

DANAN ARIBOWO 0641010005

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”


(2)

KONTRAK WAKTU TERTENTU (PKWT) DI

PT. INTI CAKRAWALA CITRA

SURABAYA

Disusun Oleh :

DANAN ARIBOWO NPM. 0641010005

Telah disetujui untuk mengikuti Ujian Skripsi

Menyetujui PEMBIMBING

Drs. Hartono Hidayat, Msi NIP . 030.115.320

Mengetahui DEKAN

Dra. Hj. SUPARWATI, M.Si


(3)

TENTANG KETENAGAKERJAAN PADA PEKERJA KONTRAK WAKTU TERTENTU (PKWT) DI PT. INTI CAKRAWALA CITRA SURABAYA

Nama : Danan Aribowo

NPM : 0641010005

Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Telah Direvisi dan Disahkan pada tanggal : 16 Juni 2011

Menyetujui

PENGUJI I PENGUJI II PENGUJI III

Dr. Lukman Arif, Msi Dr. Slamet Srijono, Msi Drs. Hartono Hidayat, Msi NIP : 196411021994031001 NIP : 130 286 546 NIP : 030 115 320


(4)

PT. INTI CAKRAWALA CITRA

SURABAYA

Oleh :

DANAN ARIBOWO NPM. 0641010005

Telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Pada tanggal 14-06-2011

PEMBIMBING Tim Penguji :

Drs. Hartono Hidayat, Msi 1. Dr. Lukman Arif, Msi NIP : 030 115 320 NIP : 19641102199403100

2. Dr. Slamet Srijono, Msi NIP : 130 286 546

3. Drs. Hartono Hidayat, Msi

NIP : 030 115 320

Mengetahui,

DEKAN


(5)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan hidayah-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “IMPLEMENTASI

UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN PADA PEKERJA WAKTU TERTENTU (PKWT) DI PT.INTI CAKRAWALA CITRA (INDOGROSIR) SURABAYA”.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu kewajiban bagi mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dalam rangka memenuhi tugas akademik guna melengkapi sebagai prasyarat untuk memperoleh gelar sarjana.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini tidak akan dapat terwujud tanpa adanya bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bpk. Hartono Hidayat,Msi selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan penuh kesabaran.

Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Dra. Hj. Suparwati, Msi, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Dr. Lukman Arif, Msi, selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.


(6)

4. Kedua Orang Tuaku dan kakak perempuanku yang memberi dukungan selama menyelesaikan skripsi

5. Teman-temanku dan orang yang aku sayangi, yang banyak memberikan dukungan selama menyelesaiakan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai acuan pada penulisan yang akan datang. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan.

Surabaya, Juni 2011


(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... ... i

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR TABEL………vi

DAFTAR LAMPIRAN...vv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Perumusan masalah... 1

1.3 Tujuan Penelitian... 11

1.4 Manfaat Penelitian... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu... 13

2.2 Landasan Teori………. 16

2.2.1 Kebijakan... 16

2.2.2 Implementasi... 18

2.2.3 Implementasi Kebijakan... 19

2.2.3.1Konsep Implementasi Kebijakan... 19

2.2.4 Aktor-Aktor Yang Berperan Dalam Proses Kebijakan…… 20

2.2.5 Model;-Model Implementasi Kebijakan Publik………….. 24

2.2.5.1 Teori Donald S. Van Meter dan Carl E Van Horn………. 24 2.2.5.1 Faktor Penghambat dan Pendukung Implementasi


(8)

2.2.6 Pengertian Tenaga Kerja……… 31

2.2.6.1 Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT)………. 33

2.2.7 Teori Pancasila …….……… 34

2.3 KerangkaBerfikir... 36

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian………... 37

3.2 Fokus Penelitian……… 38

3.3 Lokasi Penelitian…………... 40

3.4 Sumber Data... 40

3.5 Teknik Pengumpulan Data... 41

3.6 Analisis Data………. 43

3.7 Keabsahan Data………... 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sejarah Singkat Perusahaan ………. 49

4.1.2 Visi, dan Misi PT ……….……… 51

4.1.3 Struktur Organisasi………. 58

4.1.4 Komposisi pegawai……….. 65

4.1.6 Jumlah Pekerja Kontrak……… 66

4.2 Penyajian Data……… 67

4.2.1 Implementasi Kebijakan Ketenagakerjaan……… 67

4.2.1.1 Jenis-jenis pekerjaan yang boleh di PKWT kan………. 71

4.2.1.2 Pelaksanaan masa Percobaan pada PKWT………. 74


(9)

4.3.1.1 Jenis-jenis pekerjaan yang boleh di PKWT kan……….. 79 4.3.1.2 Pelaksanaan masa Percobaan pada PKWT……… 82

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan………...84 5.2 Saran……….85

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Komposisi Pegawai Berdasarkan Jenis kelamin Tabel 4.2 Komposisi Pegawai Berdasarkan Pendidikan Formal Tabel 4.3 Komposisi Pegawai Berdasarkan Pangkat Golongan Tabel 4.4 Jumlah Pekerja Kontrak Waktu Tertentu


(11)

(INDOGROSIR) SURABAYA, SKRIPSI,2011

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan di PT. Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptis kualitatif yang bertujuan untuk menyusun dan mengembangkan pemahaman dan mendiskripsikan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu di PT. Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi (pengamatan), dokumentasi, dan Interwiew (wawancara) dengan menggunakan pedoman wawancara (interview).

Metode analisa data pada penelitian kualitatif ini adalah dengan menggunakan teknik analisis deskriptis kualitatif dimana dalam penelitian ini digambarkan suatu fenomena dengan jalan mendiskripsikan pelaksanaan Undang-Undang Nomer 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) di PT. Inti Cakrawala Citra(INDOGROSIR) Surabaya.

Hasil penelitian ini sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Pelaksanaan masa percobaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) Pelaksanaan diterapkan kebijakan yang mengatur permagangan/pelatihan kerja dengan diterbitkannya Standart Operasional Prosedure (SOP) dan pelaksanaan permagangan mengacu pada peraturan pemerintah Republik Indonesia No.21 Tahun 2009 dan UU No.13 Th.2003 pasal 58 ayat 1 dan 2

2. Jenis-jenis pekerjaan yang boleh di PKWT kan

PT. Inti Cakrawala Citra melakukan pembatasan jenis-jenis pekerjaan yang dapat di PKWT kan karena memperhitungkan cost reduce atau nilai keuntungan yang dapat dicapai.


(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Ketenagakerjaan merupakan suatu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pembangunan ketenagakerjaan harus diatur agar terpenuhi hak-hak dan perlindungan yang mendasar bagi para pekerja, sehingga dapat tercipta suatu iklim yang kondusif bagi perkembangan dan pengembangan dunia usaha. Pembangunan ketenagakerjaan tidak hanya ditujukan untuk kepentingan para Pekerja, melainkan juga demi kepentingan Pengusaha, Pemerintah, serta masyarakat

Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi dan penyebaran penduduk yang kurang seimbang, merupakan faktor yang sangat mempengaruhi tentang masalah ketenagakerjaan ditanah air Indonesia. masalah ketenagakerjaan di Indonesia sangat besar dan kompleks yang saling berinteraksi mengikuti pola yang tidak selalu mudah untuk dipahami

Tenaga kerja mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan sasaran pelaksanaan pembangunan nasional. Sesuai dengan peran dan kedudukan tenaga kerja, mutlak diadakannya suatu pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan


(13)

peran sertanya dalam pembangunan nasional. Peningkatan kualitas tenaga kerja adalah suatu upaya untuk memajukan kesejahteraan umum yang sesuai dan sejalan dengan pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 khususnya pada alinea ke empat

Peningkatan perlindungan tenaga kerja merupakan suatu hal yang harus diperjuangkan agar harkat dan martabat kemanusiaan mereka ikut terangkat. Perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja dan menjamin persamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha nasional dan internasioanal yang kian tipis batas pemisahnya.

Aspek yang mendorong lajunya pembangunan nasional adalah dengan didukung adanya Badan Usaha sebagai motor laju penggerak perekonomian di Indonesia. BUMN, BUMD serta BUMS yang tidak dapat terpisahkan peran sertanya

“ Badan Usaha Milik Swasta atau BUMS adalah badan usaha yang didirikan dan dimodali oleh seseorang atau sekelompok orang. Berdasarkan UUD 1945 pasal 33, bidang- bidang usaha yang diberikan kepada pihak swasta adalah mengelola sumber daya ekonomi yang bersifat tidak vital dan strategis atau yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak.

( http://wikipedia.com)

Era globalisasi dan pasar bebas belum berjalan sepenuhnya. Akan tetapi aroma persaingan antar perusahaan barang maupun jasa, baik dalam negeri maupun antar negara sudah sedemikian terasa ketatnya. Dalam iklim


(14)

pasar bebas semacam ini, hanya perusahaan yang efisien dengan produk yang berkualitas tinggi saja yang akan mampu bertahan dalam seleksi ini. Kondisi demikian memaksa perusahaan untuk melakukan berbagai upaya efisiensi di segala bidang, dan pada saat yang bersamaan harus meningkatkan kualitas produk maupun layanan. Dalam operasional perusahaan hampir seluruh yang berkait dengan biaya produksi seperti harga bahan baku, bunga Bank, pajak, listrik, telefon dan lain-lain, hampir seluruhnya berada di luar kekuasaan perusahaan karena tarifnya ditentukan oleh mekanisme pasar atau ditentukan oleh pemerintah, kecuali komponen tenaga kerja. Artinya dalam rangka efisiensi dalam proses produksi, pengusaha tidak dapat mempengaruhi apalagi ikut mengendalikan harga maupun tarif yang termasuk dalam biaya produksi, kecuali komponen tenaga kerja, satu-satunya komponen yang dapat diintervensi atau dipermainkan oleh pengusaha.

Kondisi demikian mendorong pengusaha untuk lebih jauh dalam meminimalkan komponen tenaga kerja agar biaya produksi dapat lebih rendah. Modusnya bermacam-macam, seperti melalui tenaga kerja kontrak, outsourcing ataupun dengan cara mengurangi atau bahkan tidak memberikan hak pekerja yang telah diatur undang-undang. Celakanya banyak pekerja di perusahaan yang tidak mengetahui/memahami peraturan ketenagakerjaan atau mereka mengetahui, tetapi faktor langkanya pekerjaan membuat mereka bertahan dan tidak berani menuntut, meskipun sebenarnya hak-hak mereka dilanggar oleh pengusaha. Belum lagi apabila kita melihat penegakan hukum ketenagakerjaan yang terkesan setengah hati, walau sebenarnya hak-hak


(15)

pekerja itu sendiri pada umumnya sudah minim, karena peraturan ketenagakerjaan hanya mengatur hak-hak minimum sebagai jaring pengaman yang harus diberikan perusahaan.

Fenomena Buruh Kontrak Istilah buruh/tenaga kerja kontrak atau kontrak kerja tidak kita temukan dalam undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Namun demikian istilah tersebut sudah terlanjur populer di kalangan masyarakat untuk menyebut Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang diatur dalam pasal 56 s.d 59 UU No. 13 tahun 2003. Modus hubungan kerja melalui pola kontrak ini dilakukan oleh perusahaan dengan maksud untuk menghindari kewajiban pemberian pesangon, penghargaan masa kerja dan lain-lain. Hal ini karena dalam perjanjian kerja kontrak/PKWT, apabila pekerjaan yang diperjanjikan telah selesai atau jangka waktu yang diperjanjikan telah berakhir maka hubungan kerja putus demi hukum tanpa adanya kewajiban pihak satu kepada pihak yang lain, kecuali diperjanjikan lain. Hal ini sangat berbeda dengan pola hubungan kerja tetap/Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT). Salah satu contohnya adalah prosedur maupun akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sangat berbeda, dimana ada kewajiban pengusaha untuk membayar pesangon, uang penghargaan masa kerja dan lainnya.

Dari pemikiran tersebut, sesuai data maupun sinyalemen para pengurus SP/SB, banyak pengusaha฀memaksakan diri menggunakan pola hubungan kerja kontrak/PKWT, walaupun jenis dan sifat pekerjaannya tidak


(16)

memenuhi syarat untuk diadakannya PKWT. Dengan kata lain bahwa demi efisiensi atau keuntungan, banyak pengusaha melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku. PKWT/kontrak kerja secara umum didasarkan atas jangka waktu tertentu (berapa bulan, berapa tahun), atau atas dasar selesainya suatu pekerjaan tertentu. Pada azasnya isi perjanjian merupakan kebebasan yang diserahkan kepada para pihak untuk menentukan. Akan tetapi dalam hal perjanjian kerja, khususnya PKWT/Kontrak, undang-undang memberikan pembatasan tersendiri. Pembatasan ini dimaksudkan untuk melindungi pekerja, memberikan keamanan atas pekerjaan (job security) sebagai akibat langkanya kesempatan kerja. Selain harus memenuhi persyaratan kontrak/perjanjian pada umumnya, kontrak kerja/ PKWT juga harus memenuhi syarat lain, seperti yang tertuang dalam pasal 56, 57, 58 dan 59 UU 13/2003, yaitu:

1. Tertulis, menggunakan bahasa Indonesia, dengan huruf latin; 2. Tidak boleh ada masa percobaan;

3. Hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu:

a. sekali selesai atau sementara sifatnya;

b. penyelesaian tidak terlalu lama, paling lama tiga tahun; c. bersifat musiman;

d. berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, produk dalam percobaan/ penjajakan.


(17)

5. Dapat diadakan paling lama dua tahun dan hanya boleh diperpanjang satu kali untuk waktu paling lama satu tahun;

6. Pembaruan PKWT hanya dapat diadakan setelah melebihi masa tenggang (tidak ada hubungan kerja) selama 30 (tiga puluh) hari berakhirnya PKWT yang lama.

7. Pembaruan hanya boleh satu kali dan paling lama dua tahun.

8. Kontrak kerja/PKWT yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan di atas, maka demi hukum menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) atau yang sering disebut sebagai pekerja tetap.

Dalam penjelasan, yang dimaksud bersifat tetap yaitu sifatnya terus menerus, tdk terputus-putus, tdk dibatasi waktu, merupakan bagian proses produksi, atau bukan musiman yaitu tidak tergantung cuaca atau kondisi tertentu. Untuk pekerjaan yang tergantung cuaca atau hanya pada kondisi tertentu pekerjaan dibutuhkan, dapat dilakukan PKWT. Walaupun sifat pekerjaan itu merupakan pekerjaan yang terus-menerus, tidak terputus-putus, tidak dibatasi waktu, dan merupakan bagian dari suatu proses produksi, namun apabila terdapat kebutuhan yang mendesak yang tidak dapat dipenuhi dengan pekerja yang ada, maka dalam kondisi tersebut perusahaan dapat mempekerjakan pekerja baru dengan PKWT. Sedangkan yang dimaksud dengan Kondisi tertentu adalah suatu keadaan yang nyata-nyata timbul dalam kegiatan pekerjaan yang sifatnya terus-menerus dan harus segera diselesaikan dalam waktu secepatnya dan atau adanya order pekerjaan yang melebihi biasanya serta bersifat sementara sedangkan jumlah pekerja/buruh yang


(18)

tersedia tidak mungkin dapat menyelesaikannya. Waktu 30 (tiga puluh) hari dimaksudkan untuk berfikir atau mempertimbangkan apakah akan membuat kontrak baru atau tidak. Dengan demikian dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari hubungan kerja harus benar-benar putus.

Atas dasar alasan efisiensi, cost reduction dan peningkatan profit, PT.Inti Cakrawala Citra ( INDOGROSIR) yang mulai memberlakukan sistem kerja kontrak, dengan sistem kerja kontrak ini perusahaan mempunyai asumsi bahwa dengan sistem tersebut efiensi bisa lakukan, cost reduction terhadap labor cost dapat ditekan. yang terjadi saat ini management memberlakukan sistim kerja kontrak waktu tertentu (PKWT) hampir kepada seluruh karyawan, padahal perusahaan ini bergerak pada bidang penjualan bahan-bahan pokok yang hampir setiap hari dikonsumsi oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak bersifat musiman. Dan tidak seharusnya perusahaan tersebut memberlakukan status karyawan kontrak seperti pada penjelasan diatas, dimana ada jenis-jenis pembatasan jenis pekerjaan yang tidak boleh tenaga kerja nya di PKWT kan. Menurut data yang ada pada PGA (Personal General Affair) karyawan dengan status Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) dari 88 keseluruhan jumlah karyawan angkatan kwartal kedua periode 2010-2011 pada jabatan posisi grocery area, kasir attendant, helper, quality control, delivery man adalah sebagai berikut :


(19)

Laki – laki 51 orang 71.83 %

Perempuan 20 orang 28.17 %

Jumlah dan prosentase 88 orang 100 % Sumber : Data Personal Intern PT. Inti Cakrawala Citra , januari 2011

Merebaknya sistem kerja kontrak telah mengundang banyak protes dari berbagai pihak terutama elemen-elemen pekerja. Aksi-aksi tersebut sangat wajar terjadi mengingat dalam kenyataannya dalam penggunaan pekerja kontrak (PKWT) banyak terjadi penyimpangan dari peraturan ketenagakerjaan. Sangat sensitifnya sistem kerja kontrak ini membuat pemerintah mengeluarkan aturan secara khusus melalui UU No.13 Thn 2003 dan kepmen 100 thn 2004 – tentang Ketentuan pelaksanaan

PerjanjianKerjaWaktuTertentu. Banyak kasus pelanggaran yang terjadi terhadap hak-hak karyawan kontrak (PKWT), Mulai dari penentuan jenis pekerjaan yang boleh di PKWT kan, hingga adanya masa percobaan kerja (permagangan) bagi pekerja dengan status pekerja kontrak dengan waktu tertentu.

Saat ini masih banyak pekerja yang tidak mengerti akan hak dan kewajibannya sehingga banyak pekerja yang merasa dirugikan oleh pengusaha yang memaksakan kehendaknya pada pihak pekerja dengan mendiktekan perjanjian kerja tersebut pada pekerjaannya. Isi dari penyelenggaraan hubungan kerja tidak boleh bertentangan dengan pasal 52 UU No.13/2003


(20)

tentang ketenagakerjaan. Bila hal tersebut sampai terjadi maka perjanjian kerja tersebut dianggap tidak sah dan batal demi hukum.

Perjanjian kerja memegang peranan penting dan merupakan sarana untuk mewujudkan hubungan kerja yang baik dalam praktek sehari-hari, maka perjanjian kerja pada umumnya hanya berlaku bagi pekerja dan pengusaha yang mengadakan perjanjian kerja. Dengan adanya perjanjian kerja, pengusaha harus mampu memberikan pengarahan/ penempatan kerja untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja.

Masalah yang ada dalam pelaksanaan yang berhubungan dengan sistim ketenagakerjaan menjadikan deep impact multi dimensi yang menuntut pembuatan kebijakan haruslah searah dan sejalan dengan aturan baku yang terstruktur.

Tentunya kita tidak bisa menutup mata untuk selalu peduli, menghargai, dan memperjuangkan hak-hak tiap pekerja sebagai Warga Negara Republik Indonesia. Namun kita juga tidak boleh melupakan hak-hak dari pengusaha sebagai pihak yang memberikan peluang serta kesempatan kerja bagi Warga Negara Republik Indonesia.

PT. Inti Cakrawala Citra ( INDOGROSIR ) Surabaya merupakan salah satu anak perusahaan Indomarcoprismatama Tbk. yang bergerak dibidang constumer good atau kebutuhan pokok. Perusahaan ini memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Jawa Timur terutama Surabaya. dengan


(21)

sistim jaringan networking retail satu-satunya pada tahun 1988 dan pertama kali di Indonesia dan merupakan pemasok tenaga kerja terbanyak di Indonesia pada tahun kwartal pertama. (http//:www.kompas.com). karena karyawan yang bekerja pada perusahaan ini kurang lebih 10.080 orang, sehingga perusahaan ini dapat mengurangi tingkat pengangguran dan pemberdayaan masyarakat yang mandiri didaerah tersebut. Perusahaan ini dibagi dalam beberapa sub – sub divisi. Divisi Store Area (pelayanan penjualan), Quality Control (Pemeriksaan Kualitas), Personal General Affair atau PGA (Personalia), Marketing (Penjualan), Purchasing (Pembelian), Accounting ( Akuntansi), Elektronik Data Prosesing atau EDP (pengelolaan data elektronik)

Pendahuluan yang dilakukan pada PT. Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya, penulis menemukan bahwa pelaksanaan kegiatan yang ada di Perusahaan itu adalah Perusahaan memberlakukan status Pekerja Kontrak dengan waktu tertentu tanpa memperpanjang kesempatan kerja, yang pada akhirnya tidak diperpanjang lagi atau dengan kata lain kebijakan perusahaan menghindari agar jangan sampai pekerja tersebut menjadi pekerja tetap dan hal ini sangat bertentangan dengan UU No.13 th 2003 tentang jenis pekerjaan yang dapat di PKWT kan.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai Implementasi Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) di PT. Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR ) Surabaya


(22)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian tentang kenyataan dan teori ataupun apa yang diharapkan dari suatu keadaan dalam latar belakang diatas, maka permasalahan yang ingin dikemukakan dalam penelitian ini adalah :

“ Bagaimanakah Implementasi Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) di PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya?”

1.3. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya setiap orang mempunyai tujuan hidup dalam melakukan segala aktifitas kegiatannya. Karena tujuan merupakan suatu obyek dalam suatu usaha untuk memperoleh sesuatu yang diharapkan, adapun tujuan penelitian ini adalah : “ Untuk mengetahui implementasi Undang – Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) di PT. Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR ) Surabaya.


(23)

1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis

Dapat memberikan pengalaman baru bagi penulis untuk dapat menelaah secara mendalam tentang system ketenagakerjaan dan hal ini sangat berguna bila kelak nantinya dapat digunakan masyarakat sebagai media pengembangan pengetahuan tentang implementasi kebijakan ketenagakerjaan.

2. Bagi instansi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai masukan bagi instansi terkait, guna melakukan evaluasi system dan pelaksanaan kebijakan ketenagakerjaan untuk perbaikan dimasa depan dengan cara meningkatkan kerjasama, mengefektifkan koordinasi , dinamika organisasi dan memperlancar komunikasi Sebagai sumbangan pemikiran secara teoritis dalam usaha penyempurnaan kebijakan perusahaan yang berhubungan dibidang ketenagakerjaan.

3. Bagi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Penyusunan skripsi ini kiranya diharapkan sebagai pemerkaya Perbendaharaan terutama bagi peneliti yang hendak mengagkat tentang topik implementasi kebijakan ketenagakerjaan sehingga berguna bagi mahasiswa yang memerlukannya sebagai bahan perbandingan.


(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian ini akan disampaikan penalitian terdahulu yang

dilakukan oeleh pihak lain yang membahas dan meneliti pokok kajian yang sama, yaitu :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Prihatini, FISIP UPN “Veteran” Surabaya (2006) yang berjudul : “ PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DI PT. KERAMIKA INDONESIA ASSOSIASI (KIA) KERAWANG JAWA BARAT.

Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan di PT. Keramika Indonesia Assosiasi ( KIA ) Kerawang Jawa Barat.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptis kualitatif yang bertujuan untuk menyusun dan mengembangkan pemahaman dan mendeskripsikan Pelaksanaan Undang – undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan di PT.Keramika Indonesia Assosiasi (KIA) Kerawang Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi (pengamatan)


(25)

dokumentasi dan interview (wawancara) dengan menggunakan pedoman wawancara (interview).

Metode analisa data pada penelitian kualitatif ini adalah dengan menggunakan teknik analisis deskriptis kualitatif dimana dalam penelitian ini digambarkan suatu fenomena dengan jalan mendeskripsikan pelaksanaan Undang – undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenaga Kerjaan di PT. Keramika Indonesia Assosiasi ( KIA) Kerawang Jawa Barat.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Deny Listiawan . Ilmu Hukum Universitas Airlangga Surabaya yang berjudul : “ PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU MELEBIHI BATAS WAKTU “. Tipe penelitian ini adalah yuridis normative yang berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku dibidang perburuhan, khususnya Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Metode yang dilakukan adalah Stetute Approach yaitu dilakukan dengan menelaah semua Undang-undang dan regulasi yang berkaitan dengan isu hukum yang ditangani yang termuat materi pokok yang mengatur masalah ketenaga kerjaan khususnya Perjanjian Kerja Waktu Tertentu

Pengumpulan bahan dalam skripsi ini diperoleh dengan membaca, mempelajari, menelaah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder kemudian diolah secara sistimatis sesuai dengan masing – masing pokok bahasan.


(26)

3. Penelitian yang dilakukan oleh Darmawan Satya, Ilmu Hukum Universitas Airlangga Surabaya dengan judul : “ UPAYA PERSELISIHAN ANTARA PEKERJA DENGAN PENGUSAHA “. Merujuk pada bahan baku pengkajian permasalahan penelitian menjadi bahan baku primer yaitu undang Dasar Negara Repulik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Mengangkat tentang isu – isu hukum ketenagakerjaan dan peraturan perundang-undangan dan terfokus pada perjanjian kerja.

Dari ketiga uraian penelitian diatas, perbedaan yang timbul terletak pada fokus permasalahan, masing – masing penelitian memiliki fokus dan konsep berbeda meskipun sumber inti fokus terhadap sistim ketenagakerjaan sama. fokus penelitian terletak pada kesimpulan sistim penerapan perjanjian, mekanisme penyelesaian sengketa, pengupahan, persyaratan dan kewajiban yang harus dipenuhi para pihak yang terlibat, serta jaminan Sosial Tenaga Kerja.

Sedangkan yang akan dibahas pada penelitian kali ini adalah penulis mencoba untuk memaparkan tentang penerapan pelaksanaan kebijakan Undang-undang Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 tentang Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) di PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) ditinjau dari segi aspek baik dan buruknya dengan acuan Standart Operational Procedure (SOP), sehingga diharapkan pelaksanaanya dapat tercapai secara maksimal dan berhasil sehingga mengarah pada pencapaian tujuan.


(27)

2.2 Landasan Teori

Pada bab ini penulis akan menjelaskan mengenai landasan teori yang sesuai dengan pokok bahasan dalam penulisan Proposal ini. Landasan teori ini adalah teori-teori yang menjelaskan tentang masalah apa yang diteliti.

2.2.1 Kebijakan

Dalam konteks pembangunan sosial, kebijakan sosial merupakan suatu perangkat, mekanisme dan sistem yang dapat mengarahkan dan menterjemahkan tujuan-tujuan pembangunan. Menurut Suharto (2006:61) Kebijakan sosial senantiasa berorientasi kepada pencapaian tujuan sosial. Tujuan sosial ini mengandung dua pengertian yang saling terkait, yakni: memecahkan masalah sosial dan memenuhi kebutuhan sosial.

Gambar 1.1 Tujuan Kebijakan Sosial

Tujuan pemecahan masalah mengandung arti mengusahakan atau mengadakan perbaikan karena ada sesuatu keadaan yang tidak diharapkan (misalnya kemiskinan). Tujuan pemenuhan kebutuhan mengandung arti penyediaan layanan sosial yang diperlukan, tidak terulang atau timbul lagi segala

Kebijakan Sosial Tujuan Sosial

M em ecahkan M asalah Sosial

M em enuhi Kebut uhan Sosial


(28)

permasalahan yang ada. agar kondisi jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya. Secara lebih terperinci, tujuan-tujuan kebijakan sosial adalah:

a) Mengantisipasi, mengurangi, atau mengatasi masalah sosial yang terjadi di masyarakat.

b) Memenuhi kebutuhan individu, keluarga, kelompok atau masyarakat yang tidak dapat mereka penuhisecara sendiri melainkan melalui tindakan kolektif.

c) Meningkatkan hubungan intrasosial manusia dengan mengurangi kedisfungsian sosial yang disebabkan oleh faktor personal – eksternal.

d) Meningkatkan situasi dan lingkungan sosial-ekonomi yang kondusif bagi upaya pelaksanaan peranan sosial demi pencapaian kebutuhan masyarakat.

e) Menggali, mengalokasi dan mengembangkan sumber kemasyarakatan demi tercapainya kesejahteraan sosial dan keadilan sosial

Menurut David Gil (1973) untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan sosial, terdapat perangkat dan mekanisme kemasyarakatan yang perlu diubah, yaitu menyangkut:

1. Pengembangan Sumber-sumber

2. Pengalokasian status

3. Pendistribusian hak


(29)

2.2.2 Implementasi

Implementasi adalah proses untuk mewujudkan rumusan kebijakan menjadi tindakan kebijakan; dari “politik” ke “administrasi”.

Majone dan Wildavsky dalam Nurdin dan Usman, (2004:68), mengartikan Implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”Implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”.

Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan Usman, 2004). Adapun

Schubert (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa

”implementasi adalah sistem rekayasa.”

Ungkapan - ungkapan tersebut mengandung arti bahwa implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.

Implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan undang – undang dimana berbagai aktor, organisasi prosedur, dan teknik bekerja bersama – sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya untuk meraih tujuan – tujuan kebijakan atau program – program ( Winarno, 2007 : 144 ). Impementasi juga dapat dipahami sebagai proses untuk menghasilkan pengetahuan mengenai dan didalam proses kebijaksanaan.

Ripley dan Franklin ( 1982 ) berpendapat bahwa implementasi adalah apa yang terjadi setelah undang – undang ditetapkan yang memberikan otoritas program,


(30)

kebijakan, keuntungan (benefit), atau suatu jenis keluaran yang nyata (tangible output). Istilah implementasi menunjuk pada sejumlah kegiatan yang mengikuti pernyataan maksud tentang tujuan –tujuan program dan hasil-hasil yang diinginkan oleh para pejabat dan birokrat pembuat keputusan. Implementasi pada sisi lain merupakan fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses, suatu keluaran (output) maupun sebagai suatu dampak

(outcome),. Misalnya, implementasi dikonseptualisasikan sebagai suatu proses, atau serangkaian keputusan dan tindakan yang ditujukan agar keputusan-keputusan yang diterima oleh lembaga legislatif bisa dijalankan. Sementara itu, Grindle ( 1980 ) juga memberikan pandangannya tentang implementasi dengan mengatakan bahwa secara umum, tugas implementasi adalah membentuk suatu kaitan ( linkage ) yang memudahkan tujuan-tujuan kebijakan bisa direalisasikan sebagai dampak dari suatu kegiatan kepemerintahan.

2.2.3 Implementasi kebijakan

2.2.3 Konsep Implementasi Kebijakan

Van Metter dan Van Horn dalam winarno (2007:146) mengatakan implementasi kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu-individu (atau kelompok-kelompok) pemerintah maupun swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan kebijakan sebelumnya. Tindakan-tindakan ini mencakup usaha-usaha untuk mengubah kepetusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk


(31)

mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan. Yang perlu ditekankan disini adalah bahwa setiap implementasi kebijakan tidak akan dimulai sebelum tujuan-tujuan dan saran-saran ditetapkan atau diidentifikasi oleh keputusan-keputusan kebijakan. Dengan demikian, tahap implementasi terjadi hanya setelah undang-undang ditetapkan dan dana disediakan untuk membiayai implementasi kebijakan tersebut.

2.2.4 Aktor – Aktor yang Berperan dalam Proses Kebijakan

Pembahasan mengenai siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan dapat dilihat misalnya dalam tulisan James Anderson (1979), Charles Lindblom (1980), maipun James P. Lester dan Joseph Stewart,Jr (2000) dalam Winarno (2006:123). Aktor aktor atau pemeran serta dalam proses pembentukan kebijakan dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yakni para pemeran serta resmi dan para pemeran serta tidak resmi. Yang termasuk kedalam pemeran resmi adalah agen-agen pemerintah (birokrasi), presiden (eksekutif), legislative, dan yudikatif. Sedangkan yang termasuk kedalam kelompok pemeran tidak resmi meliputi; kelompok-kelompok kepentingan, partai politik, dan warga Negara individu.

Menurut Charles O. Jones, sedikitnya ada 4 (empat) golongan atau tipe aktor (pelaku) yang terlibat, yakni: golongan rasionalis, golongan teknisi, golongan inkrementalis, dan golongan reformis. Sungguhpun demikian, patut hendaknya patut diingat bahwa pada kesempatan tertentu dan untuk satu jenis tertentu kemungkinan hanya satu atau dua golongan aktor tertentu yang berpengaruh dan aktif terlibat. Peran yang dimainkan oleh keempat golongan


(32)

aktor tersebut dalam proses kebijaksanaan, nilai-nilai, dan tujuan yang mereka kejar serta gaya kerja mereka yang berbeda satu sama lain.

Berikut ini akan menguraikan bagaimana perilaku masing-masing golongan aktor tersebut dalam proses kebijaksanaan. Golongan Rasionalis, cirri-ciri dari golongan aktor rasionalis ialah bahwa dalam melakukan pilihan alternative kebijaksanaan mereka selalu menempuh metode dan langkah-langkah berikut: 1) mengidentifikasi masalah; 2) merumuskan tujuan dan menyusunnya dalam jenjang tertentu; 3) mengidentifikasikan semua alternatif kebijaksanaan; 4) meramalkan atau memprediksi akibat-akibat dari tiap alternatif.

Golongan aktor rasionalis ini identik dengan peran yang dimainkan oleh para perencana dan analis kebijaksanaan. Golongan rasionalis ini metode-metode seperti itu kerap kali merupakan nilai-nilai yang amat dipuja-puja. Golongan rasional ini diasumsikan bahwa segala tujuan dapat ditetapkan sebelumnya dan bahwa informasi atau data yang serba lengkap dapat disediakan. Gaya kerja golongan rasionalis cenderung seperti gaya kerja seorang perencana yang komprehensif, yakni seorang yang berusaha untuk menganalisis semua aspek dari setiap isu yang muncul dan menguji setiap alternatif dari akibat dan dukungannya terhadap tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Golongan Teknisi. Seorang teknisi tidak lebih dari golongan rasionalis, sebab ia adalah seorang yang bidang keahliannya atau spesialisasinya dilibatkan dalam beberapa tahapan proses kebijaksanaan. Golongan teknisi dalam melaksanakan tugasnya boleh jadi memiliki kebebasan, namun kebebasan ini sebatas pada lingkup pekerjaan dan keahliannya. Namun apa yang harus mereka


(33)

kerjakan biasanya ditetapkan oleh pihak lain, nilai-nilai yang mereka yakini adalah nilai-nilai yang berkaitan erat dengan latar belakang keahlian professional mereka. Golongan teknisi umumnya menunjukkan enggan untuk melakukan pertimbangan yang amat luas melampaui batas-batas keahliannya tersebut.

Golongan Inkrementalis. Golongan aktor inkrementalis memendang tahap-tahap perkembangan kebijaksanaan dan implementasinya sebagai suatu rangkaian preses penyesuaian yang terus menerus terhadap hasil akhir (yang berjangka dekat maupun berjangka panjang) dari suatu tindakan. Nilai-nilai yang terkait dengan metode pendekatan ini ialah hal-hal yang berhubungan dengan masa lampau atau hal-hal yang berhubungan dengan terpeliharanya status quo kestabilan dari system dan terpeliharanya status quo.

Tujuan kebijaksanaan dianggap sebagai konsekuensi dari adanya tuntutan-tuntutan, baik karena didorong kebutuhan untuk melakukan sesuatu yang baru. Gaya kerja golongan inkrementalis ini dapat dikategorikan sebagai seseorang yang mampu melakukan tawar menawar atau bargaining yakni dengan secara teratur mendengarkan tuntutan, menguji seberapa jauh intensitas tuntutan tersebut dan menawarkan kompromi.

Golongan Reformis (pembaharu). Pendekatan semacam itu umumnya ditempuh oleh para lobbyist (orang-orang yang berperan selaku juru kasak-kusuk / perunding diparlemen. Nilai-nilai yang mereka junjung tinggi ialah yang berkaitan dengan upaya untuk melakukan perubahan social, namun lebih sering bersangkut paut dengan kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Tujuan kebijaksanaan biasanya ditetapkan dalam lingkungan kelompok-kelompok


(34)

tersebut, melalui berbagai macam proses, termasuk diantaranya atas dasar keyakinan pribadi bahwa hasil akhir dari tidakan pemerintah sekarang telah melenceng arahnya atau bahkan gagal. Gaya kerja golongan aktor reformis ini umumnya sangat radikal, kerapkali disertai dengan tindakan-tindakan demonstrasi dan konfrontasi dengan pihak pemerintah.

Golongan Rasionalis sering dikecam/dikritik tidak memahami kodrat manusia. Braybroke dan Lindblom, sebagai penganjur teori inkrementalis, malahan menyatakan bahwa golongan aktor rasionalis itu terlalu idealistis sehingga tidak cocok dengan keterbatasan kemampuan manusia dalam mengatasi masalah. Golongan aktor teknisi kerapkali dituduh memiliki pandangan yang picik karena hanya peduli terhadap masalah-masalah publik yang luas, yang kemungkinan melampaui bidang keahlian yang dikuasainya. Golongan aktor inkrementalis dilain pihak, seringkali dianggap memiliki sikap konservativ, sebab mereka tidak terlalu tanggap terhadap perubahan social atau bentuk-bentuk inovasi yang lain. Akhirnya golongan aktor reformis dituduh mau menangnya sendiri, tidak sabaran, tidak kenal kompromi dan karena itu tidak realistis. Oleh sebab itulah para pelaksana memegang peranan penting dalam implementasi kebijakan public dari golongan rasionalis menjadi kedudukan yang sangat dominan dalam pengambil pembuatan kebijakan, mempunyai motivasi yang rendah dan seringkali terbatas pada pemahaman rasionalis.


(35)

Berikut ini adalah skema sederhana yang menunjukkan ciri-ciri perilaku dari masing-masing golongan aktor tersebut diatas beserta kritik-kritik yang dilontarkan orang terhadapnya.

Tabel 1

Aktor-aktor yang terlibat Dalam Proses Kebijaksanaan Dan perilakunya

Sumber: Charles O. Jones, An Introduction to the Study of Public Policy, Wodsworth, Belmont, CA., 1970 halaman 32

2.2.5 Model – model implementasi Kebijaksanaan publik 2.2.5.1 Teori Donald S. Van Meter dan Carl E.Van Horn

Van Meter dan van Horn dalam Winarno (2007:155) menawarkan suatu model dasar dalam implementasi kebijakan, yaitu mempunyai enam variable yang

KARAKTERISTIK

Golongan actor

Peran Nilai - nilai Tujuan Gaya Kerja Kritik

Rasionalis Teknisi Inkrement alis Reform is Analis Kebijaksana-an Perencana ahli Spesealis Polit isi Pelobi

M et ode

Pendidikan/ keahlian

St at us quo Perubahan sosial

Dapat dit et apkan sebelum nya Dit et apkan pihak lain Karena t unt ut an baru karena M asalah m endesak

Kom prehensif

Eksplisit

Juru t aw ar Akt ivis

Tidak m em aham i ket erbat asa n m anusia Terlam paui picik Konservat if Tidak realist is/ t ida k kenal kom prom i


(36)

membentuk kaitan (linkage) antara kebijakan dan kinerja (performance). Dimana menjelaskan implementasi kebijakan Negara dalam hubungan – hubungan antara variable-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan formal pada keseluruhan implementasi

Dengan menggunakan pendekatan seperti ini dalam pandangan van Meter dan van horn, mempunyai harapan yang besar untuk menguraikan proses-proses dengan cara melihat bagaimana keputusan-keputusan kebijakan dilaksanakan dibandingkan hanya sekedar menghubungkan variable bebas dan variable terikat dalam suatu cara yang semena- mena. Implementasi yang berhasil seringkali membutuhkan mekanisme-mekanisme dan prosedur-prosedur lembaga.

Variabel-variabel tersebut diklasifikasikan menjadi 6 (enam) kategori, yaitu:

1. Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan; 2. Sumber-sumber kebijakan;

3. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan pelaksanaan: 4. Karakteristik-karakteristik badan-badan pelaksana; 5. Kondisi-kondisi ekonomi, sosial, dan politik; 6. Kecenderungan pelaksana-pelaksana.


(37)

Gambaran mengenai model implementasi kebijakan ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut :

Gambar 2

Variabel-variabel Implementasi Kebijakan Ukuran-ukuran

Dasar dan tujuan

Tujuan komunikasi antar Organisasi dan Kegiatan-kegiatan pelaksanaan

Kebijaksanaan Kinerja

Karakteristik-karak kecenderungan Teristik dari badan pelaksana- Badan pelaksana pelaksana

Sumber- Sumber

Kondisi-kondisi Ekonomi,social Dan politik


(38)

Menurut Van Meter dan van Horn dalam Winarno (2007:156-165), variable-variabel yang mempengaruhi proses kebijakan tersebut, dijelaskan sebagai berikut:

1. Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan

Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan berguna didalam menguraikan tujuan-tujuan keputusan kebijakan secara menyeluruh. Disamping itu, ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan merupakan bukti itu sendiri dan dapat diukur dengan mudah dalam beberapa kasus.

2. Sumber-sumber kebijakan

Sumber-sumber yang dimaksud mencakup dana atau perangsang (incentive) lain yang mendorong dan memperlancar implementasi yang efektif.

3. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksananan

Komunikasi didalam dan antara organisasi-organisasi merupakan suatu proses yang kompleks dan sulit. Dalam meneruskan pesan-pesan kebawah dalam suatu organisasi atau dari suatu organisasi ke organisasi lainnya, para komunikator dapat menyimpannya atau menyebarluaskannya, baik sengaja atau tidak sengaja. Lebih dari itu, jika sumber-sumber informasi yang berbeda memberikan interpretasi-interpretasi yang tidak konsisten, terhadap ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan atau jika sumber-sumber yang sama memberikan interpretasi-interpretasi yang bertentangan, para pelaksana akan menghadapi kesulitan yang lebih besar untuk melaksanakan maksud-maksud kebijakan.


(39)

Dalam hubungan-hubungan antar organisasi maupun antar Pemerintah, dua tipe kegiatan pelaksanaan yaitu :

a. Nasihat dan bantuan teknis yang diberikan;

b. Atasan dapat menyandarkan pada berbagai sanksi, baik positif maupun negative

4. Karakteristik badan pelaksana

Struktur birokrasi diartikan sebagai karakteristik-karakteristik norma-norma dan pola-pola hubungan yang terjadi berulang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan, baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dengan menjalankan kebijakan.

Beberapa unsur yang mungkin berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam mengimplementasikan kebijakan:

a) Kompetensi dan ukuran staf suatu badan;

b) Tingkat pengawasan hierarkis terhadap keputusan- keputusan sub unit dan proses-proses dalam badan-badan pelaksana;

c) Sumber-sumber politik suatu organisasi (misalnya dukungan diantara anggota-anggota legislative dan eksekutif);

d) Vitalitas suatu organisasi;

e) Tingkat komunikasi-komunikasi “terbuka”, yang didefinisikan sebagai jaringan kerja komunikasi horizontal dan vertical secara


(40)

bebas serta tingkat kebebasan yang secara relative tinggi dalam komunikasi dengan individu-individu diluar organisasi;

f) Kaitan formal dan informal suatu badan dengan badan “pembuat keputusan” atau “pelaksana keputusan”.

6. Kecenderungan pelaksana

Arah kecenderungan-kecenderungan pelaksana terhadap ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan juga merupakan suatu hal yang sangat penting. Para pelaksana mungkin gagal dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan dengan tepat karena mereka menolak tujuan-tujuan yang terkandung dalam kebijakan-kebijakan tersebut. Dan sebaliknya, penerimaan terhadap ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan akan menjadi pendorong bagi implementasi kebijakan yang berhasil. Penggunaan model-model diatas, sedikit banyak akan tergantung

pada kompleksitas permasalahan kebijakan yang dikaji. Dalam menganalisa implementasi kebijakan Undang-undang No.13 Tahun 2003, tentang penerapan Tenaga Kerja Waktu Tertentu pada PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya, menggunakan model Van Meter dan Van Horn. Mengingat masalah ketenagakerjaan diIndonesia merupakan masalah yang sangat kompleks, sehingga diperlukan model yang relatif operasional.


(41)

2.2.5.2 Faktor penghambat dan pendukung implementasi kebijakan

Hogwood dan Gunn dalam Wahab (2002 : 61) membagi pengertian kegagalan kebijaksanaan (policy failure) kedalam 2 (dua) kategori yaitu non implementation (tidak terimplementasikan) dan unsuccessfull implementation

(implementasi yang tidak berhasil). Sedangkan implementasi yang tidak berhasil biasanya terjadi manakala telah dilaksanakan sesuai dengan rencana, namun mengingat kondisi eksternal tidak menguntungkan, kebijaksanaan tersebut tidak berhasil dalam mewujudkan dampak atau hasil akhir yang dikehendaki.

Kemudian Suharto (2005 : 136) mengemukakan bahwa kegagalan pelaksanaan kebijakan itu seringkali terjadi bukan karena adanya kebijakan sosial itu sendiri, melainkan bersumber pada beberapa faktor, seperti :

1. Mekanisme dan proses perumusan kebijakan tidak tepat; 2. Tidak sejalannya perencanaan dan implementasi kebijakan;

3. Orientasi kebijakan tidak sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan masyarakat;

4. Kebijakan yang terlalu kaku dan mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat sampai yang sekecil-kecilny;.

5. kebijakan yang bersifat` top down ` dan elitis dalam arti hanya melibatkan kelompok tertentu saja yang dianggap ahli.

Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan publik. Tanpa adanya implementasi kebijakan, sebuah keputusan kebijakan hanya akan menjadi catatan-catatan kecil diatas meja para pejabat.


(42)

Implementasi kebijakan yang berhasil menjadi faktor penting dari keseluruhan proses kebijakan. Untuk memperbaiki implementasi kebijakan ada beberapa langkah yaitu 1).dalam mengusulkan langkah-langkah perbaikan harus dipahami lebih dulu hambatan yang muncul dalam proses implementasi dan mengapa hambatan tersebut timbul, 2).mengubah keadaan yang menghasilkan faktor penghambat tersebut (Winarno,2007:217)

Selain faktor penghambat pelaksanaan kebijakan juga dikemukakan faktor pendukung pelaksanaan suatu kebijakan. Hal ini dikemukakan oleh Soenarko (2000:186) yaitu:

a) Persetujuan, dukungan dan kepercayaan masyarakat.

b) Pelaksanaan haruslah mempunyai cukup informasi, terutama mengenai kondisi dan kesadaran masyarakat yang menjadi kelompok sasaran c) Desentralisai komunikasi yang berkesinambungan tentang saluran

transmisi pada setiap lini pemahaman yang konseptual.

2.2.6 Pengertian Tenaga Kerja

Menurut ketentuan Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan beserta peraturan pelaksanaannya, dari peraturan pemerintah, peraturan menteri, hingga keputusan – keputusan menteri yang terkait, dapat ditarik kesimpulan adanya beberapa pengertian ketenagakerjaan, sebagai berikut:


(43)

1. Ketenagakerjaan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tenagakerja pada waktu sebelum, selama, dan setelah selesainya masa hubungan kerja.

2. Tenaga kerja adalah obyek, yaitu setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan untuk menghasilkan barang atau jasa, untuk kebutuhan sendiri dan orang lain.

3. Pekerja atau buruh adalah setiap orang yang bekerja untuk orang lain dengan menerima upah berupa uang atau imbalan dalam bentuk lain.

4. Pemberi kerja adalah orang perseorangan atau badan hukum yang mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Dalam buku “Hak-Hak Pekerja Bila di PHK” yang ditulis oleh Jehani (2006) mengatakan, Dalam hukum ketenagakerjaan pekerja adalah setiap orang yang bekerja pada orang lain dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain . imbalan dalam bentuk lain yang dimaksud adalah berupa barang atau benda yang nilainya ditentuka atas dasar kesepakatan pengusaha dan pekerja. Unsur – unsur dalam pengertian pekerja itu adalah :

1. Bekerja pada orang lain 2. Dibawah perintah orang lain 3. Mendapat upah

Dengan demikian, orang yang mendapat dan menerima imbalan upah/ gaji disebut dengan buruh/pekerja.


(44)

2.2.6.1 Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT)

Pekerja Kontrak adalah apabila jangka waktu sudah habis maka dengan sendirinya terjadi PHK dan para karyawan tidak berhak mendapatkan kompensasi PHK seperti uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, uang penggantian hak, dan uang pisah.

Dasar Hukum PKWT

UU No.13 Tahun 2003 Pasal 56 ayat (2) Jo. KEP.100/MEN/VI/2004

UU No.13 tahun 2003 adalah undang-undang ketenagakerjaan terbaru, yang mencabut UU ketenagakerjaan yang lama, yaitu UU no 25 Tahun 1997. Tentang aspek – aspek ketenagakerjaan, Sementara itu, Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. KEP. 100/MEN/VI/2004 adalah petunjuk pelaksanaan yang terfokus pada ketentuan pelaksanaan perjanjian kerja waktu tertentu.

Yang perlu diketahui bahwasanya PKWT harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. PKWT harus dibuat tertulis dan harus menggunakan bahasa Indonesia b. PKWT yang tidak sah dibuat tertulis dianggap sebagai PKWTT dengan

demikian pekerja dianggap pekerja tetap pada perusahaan tersebut c. PKWT tidak mempersyaratkan adanya masa percobaan.

d. Apabila ada PKWT ditetapkan masa percobaan maka akan batal demi hukum


(45)

e. PKWT tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat terus-menerus atau tidak terputus-putus (pasal 56 s/d 58 UU No.13 Tahun 2003) 2.2.7 Teori Pancasila

Pancasila merupakan suatu ideologi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, bukan hanya merupakan suatu symbol melainkan sebagai dasar acuan hukum yuridis yang memuat aspek ideologi berbangsa dan bernegara.

Berangkat dari pancasila dengan dasa sila ke limanya sehingga penyeimbang sila-sila nya dapat menjadi ispirasi kemajuan suatu bangsa bahkan hingga saat ini masih dirasakan.

Hubungan pancasilais menurut Syafii (2003 : 51) suatu kebulatan dan keseluruhan yang kompleks atau terorganisir, suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau utuh sehingga jalinan keterpaduan dapat disinkoronkan atau terselaraskan.

Hubungan pancasilais tentang kajian antara pemberi kerja dengan pencari kerja dimungkinkan menjadi jembatan penyerpurna dan penyeimbang konsep dasar perpaduan asas bernegara dalam berdaulat

Peranan pancasila dalam pengimplementasian bernegara merupakan rangkaian yang kait-mengait, secara lengkap dan sebagai objek Negara secara lengkap dengan berbagai syarat Negara itu sendiri sampai kepada bentuk Negara.

Dalam suatu Negara yang tidak berlandaskan pancasila dan tidak adanya kepemimpinan pemerintahan sama sekali tidak menutup kemungkinan terjadi


(46)

berbagai dekadensi moral yang anarkis seperti penindasan dan perilaku moral lainnya. Berdasarkan paradigm dan kenyataan yang ada, maka hubungan pancasilais berkaitan erat dengan tendensi subyek vital bernegara dan menimbulkan rasa kepuasan terhadap kelompok sosial yang bernegara dan bermartabat tinggi.

Pengembangan nilai pancasila menjadi pertanggung jawaban (accountability speech) bagi pengabdi moral yang bermartabat dalam rangka mewujudkan cita-cita berbangsa bangsa dan mencapai tujuan nasional maka sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 dan pancasila menjadi suatu sistim ke administrasian Negara dari berbagai sub sistem yang ada.

Oleh sebab itu menurut Robert Dahl (2003 : 15) pancasila mencakup dua hal, yaitu pola yang tetap dan dari hubungan antar manusia, kemudian melibatkan sesuatu yang luas tentang kekuasaan, aturan dan kesewenangan.


(47)

2.3 Kerangka berpikir

Undang – undang No.13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

Penerapan Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) sesuai dengan UU No.13/2003 Ketenagakerjaan

Bab IX Hubungan Kerja

PT. Int i Cakraw ala Cit ra

Tercapainya hubungan pancasilais antara pemberi kerja dengan pekerja yang terarah sesuai dengan UU No.13 Tahun 2003

tentang ketenagakerjaan di Indonesia

- Pelaksanaan masa percobaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu - Jenis-jenis pekerjaan yang boleh di PKWT kan


(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Secara substansial penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi Undang-undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu di PT,Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya.

Dari ungkapan konsep tersebut jelas bahwa yang dikehendaki adalah suatu informasi dalam bentuk diskripsi. Disamping itu konsep penelitian tersebut lebih menghendaki makna yang berada dibalik deskripsi data tersebut, karena itu penelitian ini lebih sesuai jika menggunakan pendekatan kualitatif.

Penelitian atau riset menurut Macdonald dalam Irawan (2002:2) adalah kegiatan sistematik dimaksudkan untuk menambah pemahaman pengetahuan baru atas pengetahuan yang sudah ada, dengan cara yang dapat dikomunikasikan dan dapat dinilai kembali.

Dalam penelitian ilmiah diperlukan metode penelitian yang sesuai dengan pokok permasalahan dan tujuan penelitian, dengan maksud agar diperoleh data yang relevan dengan permasalahan penelitian tersebut. Menurut Sugiono (2004:1)


(49)

metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

Penelitian deskriptis menurut faisal (2005:20) adalah eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskrepsikan sejumlah variable yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti. Menurut Irawan (2004:35) adalah penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau suatu kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua jenis atau lebih. Sedangkan menurut Usman (2003:4) penelitian ddeskriptis dimaksudkan untuk membuat pemeriaan (penyandaraan) secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu.

Sedangkan penelitian kualitatif menurut Moleong (2005:6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

3.2 Fokus Penelitian

Fokus penelitian menurut Moleong (2005:114) pada dasarnya adalah masalah. Masalah dalam hal ini adalah keadaan yang membingungkan akibat


(50)

adanya kaitan antara dua atau lebih faktor. Faktor dalam hal ini dapat berupa konsep, data empiris, pengalaman atau unsur lainnya.

Penentuan fokus suatu penelitian menurut Moleong (2005:386) memiliki dua tujuan. Pertama, penetapan focus membatasi studi yang berarti bahwa dengan adanya fokus, penentuan tempat penelitian menjadi lebih layak. Kedua, penentuan fokus secara efektif menetapkan kriteria inklusi-eksklusi untuk menyaring informasi yang masuk.

Pemilihan fokus yang benar secara optimal dapat dimungkinkan menjadi subyek akuratif dalam penelitian yang bersifat structural normative agar dapat menarik suatu konklusi subyek penelitian. Dimaksudkan agar gambaran sudut penelitian menjadi kredibel dan digambarkan secara fragmatis sehingga penggambaran sudut pandang penelitian dapat memenuhi unsure-unsur penelitian.

Perpaduan antara kedua penentuan fokus yang sempurna akan memperoleh suatu sinyalemen penelitian yang menguntungkan dan dapat diperjelasnya.

Oleh sebab itu, penentuan fokus penelitian sangat diperlukan untuk membantu dalam melaksanakan penelitian. Dimana fokus penelitian yang ditentukan dengan tepat sesuai dengan tujuan dan masalah penelitian, maka penelitian yang dilakukan terarah dan berhasil dengan baik.

Untuk mengetahui Implementasi Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu di PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya, peneliti memberi tekanan pada fokus penelitian sebagai berikut :


(51)

- Pelaksanaan masa percobaan pada Pekerja Kontrak Waktu Tertentu - Jenis-jenis pekerjaan yang boleh di PKWT kan

3.3 Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi lokasi penelitian adalah di PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Jl. Raya Jemur Sari No.351 Prapen-Panjang Jiwo Surabaya.

3.4 Sumber Data

Sesuai dengan fokus penelitian yang menjadi batasan dalam penelitian ini, maka sumber datanya adalah:

1. Informan kunci (key informan)

Dimana pemilihannya secara purposive dan diseleksi melalui teknik

snowball sampling, yang didasarkan atas subyek yang menguasai

permasalahan, memiliki data dan bersedia memberikan data yang benar-benar relevan dan kompeten dengan masalah penelitian yang akan diteliti, yaitu berupa data keterangan, cerita atau kata-kata yang bermakna. Sehingga data yang diperoleh dapat digunakan untuk membangun teori.

Oleh sebab itu dalam penelitian ini yang menjadi informan awal adalah Brands Manager PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya, dalam hal ini adalah Ibu Justina Purwati dan diteruskan kepada Managemen Training, Bapak Singgih Antuk Nugroho; kemudian kepada Personal General


(52)

Affair (PGA) division, Bapak Fauzi; Kepala Biro Ketenagakerjaan dan Pengembangan Karier, Bapak Didik Cahyono; Supervisor Area Bapak Tri Oktavianto; Kepala organisasi perecrutan Karyawan, Bapak Iwan Kustanto; para Staff dan Karyawan PT.Inti Cakrawala Citra Surabaya

2. Tempat dan Peristiwa

Yaitu tempat dan peristiwa, dimana fenomena yang terjadi atau yang pernah terjadi berkaitan dengan fokus penelitian, antara lain meliputi masalah-masalah implementasi Undang Nomor 13 Tahun 2003 Ketenagakerjaan pada PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya, yaitu tentang Pekerja Kontrak Waktu Tertentu.

3. Dokumen

Sebagai sumber data yang lain, yang sifatnya melengkapi data utama yang relevan dengan masalah dan fokus penelitian, antara lain; ketentuan Undang-undang No.13 Tahun 2003 yang dibuat untuk pedoman kebijakan bersama yang meliputi hak dan kewajiban pekerja serta pengusaha (pemberi kerja). Kegunaan dari sumber data ini adalah untuk melengkapi hasil wawancara dan pengamatan baik secara terekam maupun tertulis terhadap tempat dan peristiwa.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Data merupakan bagian terpenting dalam penelitian karena hakekat dari penelitian adalah sebuah jenis pencarian data yang nantinya akan dilakukan proses pengumpulan data, diinterprestasikan dan dianalisis. Dalam metode


(53)

penelitian kualitatif, sumber data yang paling utama adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen.

Teknik pengumpulan data penelitian ini, ada tiga proses kegiatan yang dilakukan dalam penelitian , yaitu:

1. Proses Memasuki Lokasi (Getting In)

Agar proses pengumpulan data dari informasi berjalan baik, peneliti terlebih dahulu menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan, baik kelengkapan administratif maupun semua persoalan yang berhubungan dengan setting dan subyek penelitian dan mencari relasi awal. Dalam memasuki lokasi penelitian, peneliti menempuh pendekatan secara formal dan informal serta menjalin hubungan secara akrab dengan informan. Pengenalan diri peneliti dengan beberapa orang informan merupakan modal awal dalam dalam pengumpulan data lebih lanjut dalam rangka menjawab permasalahan penelitian. Maka dalam tahap ini, peneliti memasuki lokasi penelitian guna memperoleh gambaran aktifitasnya dengan membawa surat ijin penelitian dari Universitas Pembangunan “Veteran” Jawa Timur, untuk memperoleh izin penelitian di PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya.

2. Ketika Berada di Lokasi Penelitia (Getting Along)

Pada tahap ini, peneliti melakukan wawancara maupun observasi untuk mencari informasi yang lengkap dan tepat serta menangkap makna intisari dari informasi dan fenomena yang diperoleh tentang pelaksanaan Undang-undang ketenagakerjaan pada pekerja kontrak waktu tertentu di PT.Inti Cakrawala Citra Surabaya.


(54)

3. Pengumpulan Data (Logging the Data)

Ada 3 (tiga) teknik yang akan dilakukan dalam pengumpulan data, yaitu wawancara mendalam, observasi dan dokumen dengan uraian sebagai berikut:

a. Wawancara Mendalam

hal ini dilakukan untuk memperoleh tentang kebijakan pekerja kontrak waktu tertentu, yaitu dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dengan responden mengenai Implementasi Undang-undang No.13 tahun 2003 oleh PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya

b. Observasi

hal ini dilakukan untuk mengungkap dan memperoleh diskripsi secara utuh dengan pengamatan langsung pada pelaksana kebijakan tentang pekerja kontrak

c. Dokumentasi

dokumentasi tentang data dalam pelaksanaan kebijakan karyawan kontrak waktu tertentu di PT.Inti Cakrawala Citra Surabaya yang berhubungan langsung dengan Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 dalam bentuk tertulis.

3.6 Analisa Data

Dalam penelitian kualitatif, analisa data dilakukan sejak awal dan sepanjang proses penelitian berlangsung serta. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisa interatif (interactive model of


(55)

analysis) yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1993:15-21) sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data

Dilakukan wawancara dengan pihak yang terkait, antara lain PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya.

2. Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lokasi penelitian data lapangan dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terperinci. Laporan lapangan oleh peneliti direduksi, dirangkum, dipilih hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian dicari tema atau polanya (melalui penyuntingan, pemberian kode dan pentabelan). Reduksi data ini dilakukan terus menerus selama proses penelitian berlangsung.

3. Penyajian Data

Dimaksudkan agar memudahkan bagi peneliti untuk melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. Dengan kata lain merupakan pengorganisasian data kedalam bentuk tertentu, sehingga kelihatan dengan sosoknya yang lebih utuh.

4. Penarikan Kesimpulan atau verivikasi

Dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisa dan mencari makna dari data yang dikumpulkan, yaitu dengan mencari pola, tema, hubungan persamaan, hal-hal yang yang sering timbul yang dituangkan dalam kesimpulan-kesimpulan tentative.


(56)

Pengum pulan Dat a

Kesim pulan/ Verivikasi

Dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus, barulah ditarik kesimpulan yang bersifat “grounded”. Dengan kata lain setiap kesimpulan yang dibuat senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung.

Proses analisis data secara interktif dapat disajikan dalam bentuk skema sebagai berikut:

Gambar 2

Analisis interaktif Menurut Miles dan Huberman

3.7 Keabsahan Data

Untuk menetapkan keabsahan data, diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah criteria tertentu.

Menurut Moleong (2005:324-326) ada empat kriteria yang digunakan, yaitu: 1. Derajat kepercayaan (Credibility)

Penerapan kriteria derajat kepercayaan (kredibilitas) pada dasarnya menggantikan konsep validitas internal dan non kualitatif. Kriteria ini


(57)

berfungsi melaksanakan inkuiri (penyelidikan) sedemikian rupa, sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai serta untuk mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan sejalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.

a. Memperpanjang Masa Observasi

Yaitu peneliti terjun langsung ke lokasi penelitian untuk kepentingan pengumpulan data implementasi Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Pekerja Kontrak Waktu Tertentu. Peneliti melakukan wawancara dengan obyek penelitian, Yaitu PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya, sehingga mendalami fenomena sosial yang terjadi dengan memperpanjang masa observasi.

b. Pengamatan yang Terus Menerus

Dengan pengamatan yang terus menerus atau kontinyu, peneliti dapat memperhatikan sesuatu lebih cermat, terinci dan mendalam tentang alur dan proses dalam penelitian yang lebih dalam.

c. Membicarakan dengan orang lain

Sebagai usaha untuk berdiskusi dengan orang lain yang memiliki pengetahuan tentang pokok penelitian dan metode penelitian yang diterapkan, hal ini sebagai usaha untuk memenuhi derajat kepercayaan.

d. Melakukan Triangulasi

Tujuannya untuk memeriksa kebenaran data tertentu dengan membandingkan dengan data yang diperoleh dari sumber lain, pada berbagai fase penelitian lapangan, pada waktu yang berlainan dan dalam


(58)

penelitian ini metode tersebut digunakan untuk menguji data para informan dengan dokumen yang ada.

2. Keteralihan (Transferability)

Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk melakukan pengalihan tersebut, seorang peneliti hendaknya mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks. Dengan demikian peneliti bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya, jikan ia ingin membuat keputusan tentang pengalihan tersebut. Data ini berupa catatan-catatan lapangan, peraturan-peraturan, petunjuk-petunjuk, laporan pelaksanaan dan hasil wawancara dengan informan.

Keteralihan data dilakukan dengan konfirmasi ulang pada PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya terhadap hasil penelitian yang kemudian disusun dalam bentuk skripsi.

3. Kebergantungan (Dependability)

Dalam hal ini yang dilakukan adalah memeriksa antara lain proses penelitian dan taraf kebenaran data serta tafsirannya. Untuk itu penelitian perlu menyediakan bahan-bahan sebagai berikut, yaitu:


(59)

a) Data mentah, seperti catatan lapangan sewaktu observasi dan wawancara, hasil rekaman (bila ada), dokumen lain-lain yang disajikan dalam bentuk laporan penelitian;

b) Hasil analisis data, berupa rangkuman, konsep-konsep dan sebagainya; c) Hasil sintesis data, seperti tafsiran, kesimpulan, definisi, tema, pola,

hubungan dengan literature dan laporan akhir;

d) Catatan mengenai proses data yang digunakan, yaitu tentang metodologi,desain, strategi, prosedur, rasional, usaha-usaha agar penelitian tercapai serta upaya untuk melakukan audit trail (memeriksa dan melacak suatu kebenaran).

4. Kepastian (Confirmability)

Dalam upaya mewujudkan kepastian atas penelitian, maka peneliti mendiskusikan dengan desen pembimbing, setiap tahap penulisan penelitian maupun konsep yang dihasilkan dari lapangan. Dengan demikian diperoleh masukan untuk menambah kepastian dari hasil penelitian, disamping untuk menguji penelitian memenuhi syarat kepastian.


(60)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Sejarah Singkat PT.Inti Cakrawala Citra ( INDOGROSIR ) Surabaya Indomaret merupakan jaringan mini market yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari dengan luas penjualan kurang dari 200 m2. Dikelola oleh PT.Indomarco Prismatama. Cikal bakal pembukaan Indomaret di Kalimantan dan toko pertama dibuka di Ancol, Jakarta Utara.

Indomaret berdiri pada tahun 1988 dengan ide toko retail dan frenchise pewaralaba pertama dan satu satunya di Indonesia. Pembukaan gerai pertama Indomaret diawali di Kalimantan dengan sambutan dan ekspansi pertama di awal kuartal tahun pertama dengan alokasi 15 gerai.

Tahun 1997 Perusahaan mengembangkan bisnis gerai waralaba pertama di Indonesia setelah indomaret teruji lebih dari 230 gerai di Indonesia. Pada Mei 2003 Indomaret meraih penghargaan “Perusahaan Pewaralaba2003 “ dari Presiden Megawati Soekarnoputri.

Hingga Desember 2010, Indomaret mencapai 4.955 gerai. Dari total itu sebanyak 3.058 gerai adalah milik sendiri dan sisanya 1.897 gerai waralaba milik masyarakat yang tersebar dikota-kota di JABODETABEK, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Bali, dan Lampung. Di DKI Jakarta terdapat sekitar 488 gerai.


(61)

Indomaret mudah ditemukan didaerah perumahan, gedung perkantoran dan fasilitas umum. Karena penempatan-penempatan lokasi gerai didasarkan pada motto “Mudah dan Hemat”.

Lebih dari 3.500 jenis produk makanan dan non makanan tersedia dengan harga bersaing, memenuhi hampir semua kebutuhan komsumen sehari-hari.

Didukung oleh 13 pusat distribusi yang menggunakan teknologi mutakhir, Indomaret merupakan salah satu asset bisnis yang sangat menjanjikan. Keberadaan Indomaret diperkuat oleh anak perusahaan dibawah bendera group INTRACO, yaitu Indogrosir, BSD Plaza, dan Charmant.

PT. Inti Cakrawala Citra (Indogrosir) adalah inovasi pengembangan anak perusahaan dari PT. Indomarco Prismatama Tbk, berdiri pada tahun 1998 dengan pengembangan konsep pusat perkulakan di sentral Jawa Timur dengan acuan menteri perdagangan tentang Badan Usaha yang memuat kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan dari hasil penjualan kebutuhan pokok sehari-hari. Dengan motto “Mudah dan Hemat” diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga mampu menyegarkan iklim perdagangan di Indonesia

Perubahan iklim perdagangan dan distribusi penjualan komoditi lokal masih menjadi perhatian utama Indomarco Prismatama Tbk, terhadap aspek ekonomi global yang mengarah pada liberalisasi pasar, khususnya dengan adanya WTO yang mengharuskan penghapusan non tarif barrier seperti monopoli menjadi tarif barrier serta pembukaan pasar dalam negeri.


(62)

4.1.2 Visi dan Misi Perseroan Terbatas

4.1.2.1 Visi Indogrosir

“Menjadi jaringan distribusi retail terkemuka yang dimiliki oleh masyarakat luas, berorientasi kepada pemberdayaan pengusaha kecil, pemenuhan kebutuhan dan harapan konsumen, serta mampu bersaing secara global”.

4.1.2.2 Misi Indogrosir

• Memberikan kepuasan kepada pelanggan / konsumen dengan berfokus pada produk dan pelayanan yang berkualitas unggul

• Selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal yang dilakukan dan selalu menegakkan tingkah laku dan etika bisnis yang tertinggi

• Ikut berpartisipasi dalam membangun Negara dengan menumbuh-kembangkan jiwa wiraswasta dan kemitraan usaha.

• Membangun organisasi global yang terpercaya, tersehat dan terus bertumbuh dan bermanfaat bagi pelanggan, pemasok, karyawan, pemegang saham dan masyarakat pada umumnya

4.1.2.3 Budaya

Integritas yang tinggi, Inovasi untuk kemajuan yang lebih baik, Kualitas dan produktifitas yang tertinggi

- Kerjasama team


(63)

4.1.2.4 Nilai-nilai Perusahaan

Sebagai BUMS, nilai-nilai perusahaan disesuaikan dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang meliputi :

1. Transparansi (Transparency) yang berarti keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.

2. Akuntabilitas (Accountability) yang berarti kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

3. Pertanggungjawaban (Responsibility) yang berarti kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

4. Kemandirian (Independency) yang berarti suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

5. Kewajaran (Fairness) yang berarti keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


(64)

Berdasarkan prinsip tersebut, perusahaan merencanakan nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi oleh segenap jajaran manajemen dan karyawan, sebagai berikut :

1. Kualitas

Perusahaan dengan seluruh jajaran manajemen dan pegawai sepakat untuk berorientasi pada kualitas produk dan pelayanan pada rakyat (konsumen) sesuai dengan visi dan misi.

2. Integritas

Keutuhan pribadi, manajemen dan organisasi yang mencerminkan konsistensi antara prinsip dengan perilaku.

3. Team Work

Seluruh unit kerja dan karyawan bergerak fokus dan total secara terintegrasi dalam rangka pencapaian visi dan misi perusahaan.

4. Inovatif

Kemampuan untuk berfikir dan mengembangkan nilai-nilai kreatifitas dan inovasi dalam bekerja.

5. Responsif

Kemampuan perusahaan untuk mengambil keputusan dan melakukan upaya-upaya preventif maupun kuratif dalam menghadapi setiap perubahan lingkungan strategis. Pada tingkat individu, nilai ini direfleksikan oleh sikap


(65)

4.1.2.5 Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi PT. Inti cakrawala citra

Sebagai tindak lanjut Keputusan Direksi Perusahaan Terbuka ( PT ) Nomor : KD-421/DS200/11/2007 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Perusahaan Terbuka dipandang perlu untuk merumuskan kedudukan, Sifat, Tujuan, Tugas Pokok dan Fungsi Perusahaan Terbuka (PT) Inti Cakrawala Citra

A. Kedudukan Perseroan Terbatas (PT.Inti Cakrawala Citra Surabaya)

PT. Inti Cakrawala Citra adalah Badan Usaha Milik Swasta yang diberi tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan usaha perdagangan dan usaha-usaha lain

B. Tujuan Perseroan Terbatas

Tujuan perusahaan adalah turut serta membangun ekonomi nasional khususnya dalam rangka pelaksanaan program pembangunan nasional di bidang perdagangan dan usaha pendukung lainnya

C. Tugas Pokok dan Fungsi

PT. Inti Cakrawala Citra mempunyai tugas menyelenggarakan usaha perdagangan yang bermutu dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak dan dalam hal tertentu menyelenggarakan tugas-tugas tertentu yang diberikan Pemerintah dan distribusi dan perdagangan kepada masyarakat , khususnya kebutuhan pokok dan pangan pokok lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam usaha perdagangan


(66)

D. Fungsi Perseroan Terbatas

Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud diatas, PT. Inti Cakrawala Citra mempunyai fungsi :

a. Penyelenggaraan kegiatan di bidang pelayanan publik

b. Penyelenggaraan kegiatan di bidang perencanaan dan pengembangan usaha c. Penyelenggaraan kegiatan di bidang keuangan

d. Penyelenggaraan kegiatan di bidang sumber daya manusia dan umum

e. Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas semua unsur di lingkungan PT. Inti cakrawala Citra

f. Pengelolaan kesekretariatan perusahaan

g. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bagi sumber daya manusia h. Pelaksanaan pengembangan teknologi informasi

4.1.2.5 Sarana dan Prasarana di PT. Inti Cakrawala Citra Surabaya

Guna menunjang kelancaran tugas pokok dan fungsi Perum Bulog Divre Jatim telah tersedia sarana dan prasarana antara lain :

a. Inventaris

1. Inventaris rumah tangga (Televisi, pompa air, kompor gas, meja, kursi, almari, karpet, AC, sofa dan lain-lain)

2. Inventaris kantor (komputer, printer, faximile, notebook, mesin penghancur kertas, fotokopi, dan lain-lain)


(67)

b. Kendaraan

1. Mobil (Sedan, jeep, minibus, truck, pick up) 2. Sepeda motor

c. Kantor

1. Kantor utama 2. Tempat Arsip 3. Ruang Perpustakaan 4. Bengkel Garasi 5. Pos 1 dan pos 2 d. Kantin

e. Masjid

f. Halaman kantor yang berada di samping gedung kantor untuk tempat apel pagi dan kegiatan olahraga

g. Lapangan sepak bola h. Lapangan Volly i. Gudang


(68)

Tabel 7

Daftar Inventaris

No Jenis Inventaris Jumlah (buah) Kondisi

1 Meja 20 Baik

2 Kursi 20 Baik

3 Meja Tamu 1 Baik

4 Sofa 1 Baik

5 AC 8 Baik

6 Lemari Arsip 6 Baik

7 Lemari es 2 Baik

8 Komputer 18 Baik

9 Printer 8 2 baik, 1 rusak

10 Fotokopi 1 Baik

11 Mesin Penghancur Kertas 1 Baik

12 Faximile 2 Baik

13 Telepon 8 Baik

14 Mesin Ketik 2 1 baik, 1 rusak

Sumber : Divisi HRD PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya.

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa inventaris rumah tangga yang meliputi meja, kursi, meja tamu, sofa, AC, lemari es, lemari arsip, dan lemari es mempunyai kondisi yang baik. Sedangkan pada inventaris kantor ada beberapa alat/barang yang rusak yaitu computer, printer dan mesin ketik.


(69)

4.1.3 Struktur Organisasi PT. Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya

Dengan adanya struktur organisasi pada setiap perusahaan, maka pembagian masing-masing tugas dan tanggung jawab menjadi jelas sehingga tidak akan terjadi penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab.

Gambar 4.1

Struktur Organisasi PT. Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya

Sumber : Human resources Division (HRD) PT.Inti Cakrawala Citra (INDOGROSIR) Surabaya Tahun 2011

DIREKSI

BRANCH M ANAGER

ACCOUNTING DIVISION

MANAGEMENT TRAINEE

DIREKTUR UTAM A

OPERATIONAL M ANAGER OFFICE M ANAGER

Ka. CASHIER HUMAN RESOURCES DIVISION SUPPORT OPERATIONAL SUPERVISOR BUYER ADMINISTRATION PURCHASING STAFF Ka. GROCERY Ka. LOGISTIC ATTENDANT


(70)

Berdasarkan gambar 1 tersebut diatas, berikut ini akan dijelaskan fungsi dari masing-masing jabatan sebagai berikut

1. Direksi

Pemilik, penyelenggara, suatu kegiatan interpersonal dari suatu perusahaan serta Pemegang saham bersama sesuai dengan ketetapan yang berlaku di lingkungan PT.Indomarco Prismatama Tbk.

2. Direktur Utama

Fungsi dari Direktur Utama adalah menjalankan segala kegiatan pertanggungjawaban dan monitoring kegiatan operasional kepada pemegang saham (Direksi)

3. Branch Manager

Branch Manager adalah staff fungsional, dimana mempunyai fungsi mengatur jalannya kegiatan operasional setiap cabang dan menjalin kerjasama dengan dengan pihak luar serta membangun dan membentuk citra perusahaan dan membentuk jaringan global sehingga mampu mengembangkan bisnis sesuai dengan kebijakan yang digariskan oleh Direksi PT. Indomarco Prismaatama Tbk.

4. Operational Manager

Operational manager mempunyai fungsi penyelenggaraan pengelolaan pelayanan operasi procedural serta mengatur jalannya operational sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


(1)

akan dicapai. Tujuan tersebut harulah dirumuskan dengan spesifik, jelas, dan lebih baik apabila dapat disepakati oleh seluruh pihak yang terlibat dalam organisasi, bersifat saling melengkapi dan mendukung serta mampu berperan selaku pedoman dengan nama pelaksanaan program dalam dimonitor atau diawasi.

4.3.1.2 Pelaksanaan masa percobaan pada Pekerja Kontrak Waktu

Pelaksanaan jenis pekerjaan yang terimplementasi secara seksama akan dapat menunjang suatu jalannya organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan yang akan dicapai.

Untuk dapat mengimplementasikan kebijakan secara sempurna menurut Hogwood dan Gunn dalam Wahab (2005:71), maka diperlukan beberapa syarat diantaranya syarat kedua yaitu tersedianya waktu dan sumber-sumber yang cukup memadai, yang berarti ketentuan mengenai waktu dan pekerjaan yang tersedianya tenaga kerja ahli dalam bidang tertentu dan diharapkan dapat tercapai secara optimal.

Sedangkan mengenai pelaksanaan permagangan atau pelatihan kerja dapat dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.21 Tahun 2009 tentang sistem Pelatihan Kerja Nasional (permagangan), dan Undang – undang No.13 Tahun 2003 Ketenagakerjaan Pasal 58 mengisyaratkan karyawan dengan status kontrak dengan waktu tertentu tidak dapat mensyaratkan adanya percobaan kerja, tetapi disisi lain kebijakan intern yang dibuat oleh


(2)

83

tahun periode 2008 hingga 2012 yang dibuatnya mengharuskan baik itu karyawan dengan status pekerja kontrak maupun tidak wajib melakukan atau adanya permagangan, disisi lain pelatihan kerja memang menjadikan para pekerja dapat lebih terlatih lagi dalam suatu bidang yang ditekuninya.

Fenomena seperti inilah yang membuat sebagian kalangan sulit untuk menafsirkan suatu kebijakan yang telah dibuat oleh pembuat kebijakan dan menjadikan deep impack multi dimensi. Dalam penelitian ini juga dijumpai adanya tidak adanya hubungan yang pancasilais antara penyelenggara kerja dengan pengguna kerja.


(3)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan permagangan atau pelatihan kerja dapat dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.21 Tahun 2009 tentang sistem Pelatihan Kerja Nasional (permagangan), dan Undang – undang No.13 Tahun 2003 Ketenagakerjaan Pasal 58 mengisyaratkan karyawan dengan status kontrak dengan waktu tertentu tidak dapat mensyaratkan adanya percobaan kerja, tetapi disisi lain kebijakan intern yang dibuat oleh INDOMARCO PRISMATAMA kepada jajarannya melalui keputusan direksi tahun periode 2008 hingga 2012 yang dibuatnya mengharuskan baik itu karyawan dengan status pekerja kontrak maupun tidak wajib melakukan atau adanya permagangan, disisi lain pelatihan kerja memang menjadikan para pekerja dapat lebih terlatih lagi dalam suatu bidang yang ditekuninya. 2. Pembatasan pada jenis-jenis pekerjaan yang dapat di PKWT kan

karena tidak ada satupun perusahaan tanpa memperhitungkan cost reduce atau nilai keuntungan yang hendak dicapainya. Dalam jenis pekerjaan yang dapat di PKWT kan yang ada di PT. Inti Cakrawala


(4)

85

Citra (INDOGROSIR) Surabaya terdiri dari dua jenis pekerjaan yang menggunakan sistim tenaga kerja dengan waktu tertentu, yaitu pekerjaan yang bersifat musiman sedangkan yang ke dua adalah mengenai produk baru karena perusahaan tersebut bergerak dibidang retai.

5.2 Saran

Dari hasil dan pembahasan serta kesimpulan maka dapat disarankan sebagai berikut : analisis dan kesimpulan diatas, terdapat beberapa saran yang dapat diajukan sebagai pelengkap penelitian. Saran – saran tersebut sebagai berikut :

1. Dalam Pelaksanaan pengimplementasian permagangan hendaknya harus perusahaan berpedoman sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku yakni UU No.13/2003 pasal 58 tentang permagangan kerja yang berlaku, sehingga tidak adanya salah penafsiran dalam pengimplementasian suatu kebijakan yang ada dan hubungan pancasilais dapat seirama dan tercapainya tujuan yang diharapkan

2. Pembatasan pada jenis-jenis pekerjaan yang dapat diklasifikasi dan diimplementasikan terhadap karyawan dengan masa kontrak waktu tertentu haruslah sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu UU No.13/2003 tentang ketenagakerjaan.


(5)

Dian Rakyat.

Dwidjowijoto, R. N. (2008). Public Policy. Jakarta:Elek Media Komputindo Ekowati, L. 2005. Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi Kebijakan atau

Program. Surakarta: Pustaka Cakra.

Islamy, M. Irfan. (2004). Prinsip-prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta:Bumi Aksara.

Jehani, Libertus. 2006. Hak-Hak Pekerja bila di PHK. Jakarta: Visimedia

Moleong , 2005. Metodologi Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Pitoyo, Whimbo. 2010. Panduan praktis Hukum Ketenagakerjaan. Jakarta: Transmediapustaka

Tangkilisan, Hesel Nogi. 2003. Implementasi Kebijakan Publik. Yogyakarta: Lukman Offset YPAPI.

Terry G.R., 1977. Principle of Management, Richard D. Irwin, Inc.

Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses kebijakan Publik. Yogyakarta: Media Pressindo.

Wahab, Abdul , Solichin, 1990, Pengantar Analisis Kebijaksanaan Negara,Rineka Cipta, Jakarta.

_______, Undang-undang ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 _______, Peraturan Nomor 100 Tahun 2004 tentang ketenagakerjaan

sumberhttp://www.google.co.id/imglading?q=kebijakan%20pemerintahterhadap% =http://suaramuhibbuddin.files.wordpress.com/2010/06/start=38). (sumberhttp://www.google.co.id/imglading?q=kebijakan%20pemerintahterhadap


(6)

47

sumberhttp://www.google.co.id/imglading?q=kebijakan%20pemerintahterhadap% =http://suaramuhibbuddin.files.wordpress.com/2010/06/start=38).


Dokumen yang terkait

Sistem Pengupahan Bagi Pekerja Dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (Pkwt) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 (Studi Pada Pt. Binanga Mandala Labuhan Batu)

0 41 176

Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja/Buruh Dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (Pkwt) Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

4 75 129

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI PELAKSANAAN PENGUPAHAN PEKERJA WAKTU TERTENTU BERDASARKAN PELAKSANAAN PENGUPAHAN PEKERJA WAKTU TERTENTU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN (STUDI KASUS PADA PT.ESHAM DIMA MANDIRI YOGYAKARTA).

0 2 12

PENDAHULUAN PELAKSANAAN PENGUPAHAN PEKERJA WAKTU TERTENTU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN (STUDI KASUS PADA PT.ESHAM DIMA MANDIRI YOGYAKARTA).

0 3 14

PEMBERIAN UPAH PEKERJA WAKTU TERTENTU PADA SAAT BULAN RAMADHAN DI PERUSAHAAN KARAOKE DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN.

0 0 1

PELAKSANAAN MOGOK KERJA OLEH PEKERJA KONTRAK PADA PT DONGAN KREASI INDONESIA DALAM MASA KONTRAK DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN.

0 3 2

STATUS PEKERJA OUTSOURCING DALAM HAL TERJADINYA PELANGGARAN JANGKA WAKTU PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN.

0 1 55

PERLINDUNGAN PEKERJA DALAM PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DI PT. INTERNATIONAL CHEMICAL INDUSTRY.

0 1 1

undang undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan

0 0 77

PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU DAN SISTEM PENGUPAHAN DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN - repo unpas

0 0 15