Analisis Kebijakan Pemerintah Terhadap Stabilisasi Harga Minyak Goreng

(1)

Analisis Kebijakan Pemerintah Terhadap Stabilisasi Harga Minyak Goreng

Skripsi

Oleh :

Syadzwina Putri Ritonga 040304045

SEP / AGRIBISNIS

DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(2)

ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP STABILISASI HARGA MINYAK GORENG

SKRIPSI OLEH :

SYADZWINA PUTRI RITONGA 040304045

SEP / AGRIBISNIS

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Dapat Menyelesaikan Studi di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

( Dr.Ir.Tavi Supriana, MS ) ( Ir.Diana Chalil. M.Si Ph.D )

Ketua Anggota

DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(3)

RINGKASAN

SYADZWINA PUTRI RITONGA (040304045/SEP-Agribisnis)Judul Skripsi ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP STABILISASI HARGA

MINYAK GORENG.

Dosen PembimbingDr. Ir. Tavi Supriana, MS danIr. Diana Chalil, Msi Ph.D Penelitian ini dilakukan pada tahun 2008 dengan tujuan :

1. Untuk melihat apakah kebijakan Pungutan Ekspor berpengaruh terhadap penurunan harga minyak goreng curah.

2. Untuk melihat apakah kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) berpengaruh terhadap penurunan harga minyak goreng curah.

3. Untuk melihat apakah kebijakan Penghapusan PPN dan Operasi Pasar bisa membantu masyarakat memperoleh minyak goreng curah dengan harga yang terjangkau.

4. Untuk melihat apakah harga CPO domestik berpengaruh terhadap harga minyak goreng curah.

5. Untuk melihat apakah harga CPO Internasional berpengaruh terhadap harga minyak goreng curah.

6. Untuk melihat kebijakan apa yang paling efektif untuk menurunkan dan menstabilkan harga minyak goreng curah.

Adapun alat uji yang digunakan adalah dengan pendekatan model Regresi Linear Berganda dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 13. Adapun hasil dari uji tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kebijakan Pungutan Ekspor berpengaruh secara signifikan terhadap Harga minyak goreng curah namun tidak efektif dalam menurunkan harga minyak goreng curah

2. Kebijakan DMO tidak berpengaruh terhadap penurunan Harga minyak goreng curah

3. Kebijakan Pemberian Subsidi berupa penghapusan PPN bagi pengolah miyak goreng dan Operasi pasar hanya bersifat sementara dalam menstabilkan harga minyak goreng curah dan tidak mampu menurunkan harga minyak goreng curah 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Harga CPO Domestik berpengaruh secara

signifikan terhadap Harga minyak goreng curah

5. Secara serempak Kebijakan Pungutan Ekspor, Kebijakan DMO dan Harga CPO Domestik berpengaruh secara signifikan terhadap Harga minyak goreng curah. 6. Dari hasil penelitian dapat diimpulkan bahwa kebijakan yang paling efektif

menurunkan harga minyak goreng adalah dengan menjalankan beberapa kebijakan sekaligus. Seperti pemberlakuan DMO, Pungutan Ekspor sekaligus pemberian Subsidi yang berasal dari pajak ekspor yang didapat oleh pemerintah.


(4)

RIWAYAT HIDUP

SYADZWINA PUTRI RITONGA, lahir di Medan, pada tanggal 30 November 1986 anak dari Bapak Tapus Batanghari Ritonga S.E dan Ibu Ermina Bustami S.E. Penulis merupakan anak ke satu dari empat bersaudara.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut : 1. Tahun 1992 masuk Sekolah Dasar Swasta ERIA Medan, tamat tahun1998.

2. Tahun 1998 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 3 Medan, tamat tahun 2001.

3. Tahun 2001 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Negeri 10 Medan, tamat tahun 2004.

4. Tahun 2004 diterima di Departemen Sosial Ekonomi Pertanian di Universitas Sumatera Utara Medan, melalui jalur SPMB.


(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Adapun judul dari skripsi ini adalah ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP STABILISASI HARGA MINYAK GORENG . Tujuan dari penyusunan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

 Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, memotivasi dan memberikan ilmunya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

 Ibu Ir. Diana Chalil, Msi Ph.D selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing, memotivasi dan membantu penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.

 Bapak Ir. Luhut Sihombing, MP selaku Ketua Departemen SEP, FP-USU dan Ibu Dr. Salmiah, MS selaku Sekretaris Departemen SEP, FP-USU yang telah memberikan bimbingan, motivasi dan kemudahan-kemudahan selama mengikuti perkuliahan maupun administrasi.

 Seluruh Dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah membekali ilmu pengetahuan kepada penulis selama ini.  Seluruh pegawai di Departemen SEP, FP-USU khususnya kak Yani, kak Lisbeth, kak


(6)

 Rekan-rekan mahasiswa stambuk 2004 Departemen Sosial Ekonomi Pertanian,

 Buat teman-teman terbaik dan selalu ada ketika penulis susah dan senang selama kuliah ,Yudi, Tama, Tri, Taqim, Roy, Rini, Ahmad, Kiki, Icut, Icha, Ai, Putri, Rita, , Ijal,

 Buat Teman-Teman semasa SMU yang terus memberikan doa dan dukungan sehingga penulis terus semangat dan tidak menyerah untuk menyelesaikan kuliah.  Buat Teman-Teman di Fotografi USU atas semangat dan pembelajaran untuk terus

berorganisasi dan membuat sesuatu hal yang luar biasa! (B Ayul dan K Diah, Makasih Banget!)

Especially for the one who always give me more support and love Rudiansyah Batubara S.P

Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada : seluruh pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan khususnya yang menangani masalah minyak goreng yaitu Bapak Muhammad Idris yang telah memberikan segala informasi yang saya butuhkan dalam penelitian ini.

Segala hormat dan terima kasih secara khusus penulis ucapkan kepada Ayahanda Tapus Batanghari Ritonga SE dan mama Ermina Bustami SE atas motivasi, kasih sayang, dan dukungan baik secara materi maupun do a yang diberikan kepada penulis selama menjalani kuliah, tak lupa kepada Adik-Adik-ku yang tersayang, Ahmad (Semangat Buat Kuliahnya ya!), Mimi ( SPMB ini Harus Lulus!!), Rasis (Luph U!!)

Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.


(7)

Penulis DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

RIWAYAT HIDUP ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR TABEL... vi

DAFTAR LAMPIRAN... vii

PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Identifikasi Masalah... 5

1.3. Tujuan Penelitian ... 6

1.4. Kegunaan Penelitian ... 6

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 7

2.1. Tinjauan Pustaka... 7

2.2. Landasan Teori... 17

2.3. Kerangka Pemikiran... 20

2.4. Hipotesis Penelitian ... 22

METODOLOGI PENELITIAN... 23

3.1. Metode Pengumpulan Data... 23

3.2. Metode Analisis Data... 23

3.3. Langkah-Langkah Analisis ... 26

3.3.1. Mengubah Harga Nominal ke dalam Harga Riil... 26

3.3.2. Interpretasi hasil... 26

3.3.3. Uji Asumsi Regresi Linear Berganda ... 28

3.4. Definisi dan Batasan Operasional ... 30

3.4.1. Definisi... 30


(8)

PROFIL INDUSTRI DAN KEBIJAKAN

MINYAK KELAPA SAWIT INDONESIA... 32

4.1. Perkebunan dan Industri Kelapa Sawit Indonesia .... 32

4.1.1. Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia... 32

4.1.2. Industri Kelapa Sawit Indonesia ... 36

4.2. Kebijakan ... 40

HASIL DAN PEMBAHASAN... 46

5.1. Hasil ... 49

5.1.1. Hasil Asumsi Regresi Linear Berganda... 50

5.2. Pembahasan... 52

5.2.1. Pengaruh CPO Domestik ... 52

5.2.2. Pengaruh Kebijakan Pungutan Ekspor... 52

5.2.3. Pengaruh Kebijakan DMO... 53

5.2.4. Kebijakan Penghapusan PPN Oleh Pemerintah... 54

5.2.5. Kebijakan yang Efektif Menurunkan Harga Minyak Goreng Curah ... 57

5.2.5. Alternatif Kebijakan ... 58

KESIMPULAN DAN SARAN... 59

6.1. Kesimpulan ... 59

6.2. Saran ... 60

6.2.1. Saran Untuk Pemerintah ... 60


(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman

1.1. Produksi Minyak Sawit Dunia ...2 1.2. Dugaan Konsumsi Minyak Goreng Indonesia (dalam 000 ton)...2 2.1. Lima periode kebijaksanaan stabilisasi harga CPO dan Minyak goreng selama tahun 1979-1996 ...9 2.2. Dampak Positif dan Negatif masing-masing pilihan kebijakan ...13 4.1. Perkembangan Luas Areal(ha) dan produksi CPO(ton) perkebunan kelapa sawit menurut status kepemilikannya ...34 4.2. Jumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menurut propinsi tahun 2005 ....37 5.1. Analisis Regresi Linear Berganda Pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap harga Minyak Goreng Curah...50


(10)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Gambar Halaman

2.1 Skema Kerangka Pemikiran...21 4.1. Perkembangan Luas Areal Perkebunan Indonesia menurut status

Kepemilikannya ...35 4.2. Perkembangan Produksi Minyak Sawit Indonesia Berdasarkan

Kepemilikannya ...36 4.3. Kontribusi Jumlah Pabrik Kelapa Sawit Berdasarkan Propinsi ...38 4.4. Perkembangan Volume Ekspor Minyak Kelapa Sawit (CPO)

Indonesia ...40 5.1. Perkembangan Harga Minyak Goreng Curah Sebelum Kebijakan....


(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Analisis Regresi Linear Berganda Pengaruh Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Minyak Goreng Curah sebelum revisi

Lampiran 2 Analisis Regresi Linear Berganda Pengaruh Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Minyak Goreng Curah setelah revisi

Lampiran 3 Data Harga Dan Kebijakan untuk Minyak Goreng Curah Lampiran 4 Skema Langkah-Langkah Analisis


(12)

RINGKASAN

SYADZWINA PUTRI RITONGA (040304045/SEP-Agribisnis)Judul Skripsi ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP STABILISASI HARGA

MINYAK GORENG.

Dosen PembimbingDr. Ir. Tavi Supriana, MS danIr. Diana Chalil, Msi Ph.D Penelitian ini dilakukan pada tahun 2008 dengan tujuan :

1. Untuk melihat apakah kebijakan Pungutan Ekspor berpengaruh terhadap penurunan harga minyak goreng curah.

2. Untuk melihat apakah kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) berpengaruh terhadap penurunan harga minyak goreng curah.

3. Untuk melihat apakah kebijakan Penghapusan PPN dan Operasi Pasar bisa membantu masyarakat memperoleh minyak goreng curah dengan harga yang terjangkau.

4. Untuk melihat apakah harga CPO domestik berpengaruh terhadap harga minyak goreng curah.

5. Untuk melihat apakah harga CPO Internasional berpengaruh terhadap harga minyak goreng curah.

6. Untuk melihat kebijakan apa yang paling efektif untuk menurunkan dan menstabilkan harga minyak goreng curah.

Adapun alat uji yang digunakan adalah dengan pendekatan model Regresi Linear Berganda dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 13. Adapun hasil dari uji tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kebijakan Pungutan Ekspor berpengaruh secara signifikan terhadap Harga minyak goreng curah namun tidak efektif dalam menurunkan harga minyak goreng curah

2. Kebijakan DMO tidak berpengaruh terhadap penurunan Harga minyak goreng curah

3. Kebijakan Pemberian Subsidi berupa penghapusan PPN bagi pengolah miyak goreng dan Operasi pasar hanya bersifat sementara dalam menstabilkan harga minyak goreng curah dan tidak mampu menurunkan harga minyak goreng curah 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Harga CPO Domestik berpengaruh secara

signifikan terhadap Harga minyak goreng curah

5. Secara serempak Kebijakan Pungutan Ekspor, Kebijakan DMO dan Harga CPO Domestik berpengaruh secara signifikan terhadap Harga minyak goreng curah. 6. Dari hasil penelitian dapat diimpulkan bahwa kebijakan yang paling efektif

menurunkan harga minyak goreng adalah dengan menjalankan beberapa kebijakan sekaligus. Seperti pemberlakuan DMO, Pungutan Ekspor sekaligus pemberian Subsidi yang berasal dari pajak ekspor yang didapat oleh pemerintah.


(13)

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Minyak goreng merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok dan dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia baik yang berada di perkotaan maupun pedesaan. Dapat dikatakan bahwa minyak goreng adalah komoditas yang sangat strategis, karena berdasarkan pengalaman Indonesia selama ini, menunjukkan bahwa kelangkaan minyak goreng dapat menimbulkan dampak ekonomis dan politis yang cukup berarti bagi perekonomian nasional.(Amang ,dkk, 1996 )

Melonjaknya harga komoditas sembilan bahan pokok (sembako) sudah menjadi agenda rutin yang tiba-tiba bisa terjadi setiap tahunnya. Biasanya fenomena ini selalu terjadi ketika menjelang dan saat akan menghadapi hari besar seperti Bulan Ramadhan, Idul Fitri, Natal dan hari besar lain. Namun pada pertengahan tahun 2007 kenaikan harga minyak goreng diakibatkan oleh hal lain yang menyebabkan harga minyak goreng mencapai Rp.10.000 yang sangat memberatkan konsumen, hal ini diduga karena pengaruh dari harga CPO (Crude Palm Oil) internasional yang mengalami kenaikan.(Saputra, 2007).

Indonesia saat ini masih tercatat sebagai produsen CPO terbesar di dunia, dengan produksi sekitar 17,10 juta ton (Tabel 1.1). Jumlah produksi ini seharusnya sangat memungkinkan pasokan minyak goreng yang berlebih di pasar domestik, Namun kenyataan yang terjadi adalah kurangnya pasokan CPO ke pasar domestik yang membuat harga minyak goreng meningkat.


(14)

Pada tahun 2007 Indonesia mengalami peningkatan produksi minyak sawit mengungguli Malaysia. Peningkatan produksi ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai menguasai pangsa pasar minyak sawit dunia dan akan menggeser posisi Malaysia yang telah menjadi Market Leader selama ini. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.1 Produksi Minyak Sawit Dunia.

Tabel 1.1

Produksi Minyak Sawit Dunia

Keterangan 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 *

Malaysia Produksi

(Juta ton) 11.80 11.90 13.35 13.98 14.96 16.05 16.55 Indonesia Produksi

(Juta ton) 8.40 9.62 10.44 12.23 13.10 15.90 17.10 Lainnya Produksi

(Juta ton) 4.11 4.13 4.28 4.45 5.35 4.95 5.29

Dunia Produksi

(Juta ton) 24.31 25.66 28.07 30.66 33.42 36.90 38.95 Sumber : Oil World, 2007 ( Diolah )

* Data Sementara

Dugaan konsumsi minyak goreng Indonesia sampai dengan tahun 2005 adalah sekitar 6 juta ton dimana 83.3% terdiri dari minyak goreng sawit sedangkan sisanya adalah minyak goreng kelapa. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.2

Tabel 1.2

Dugaan Konsumsi Minyak Goreng Indonesia (dalam 000 ton) Tahun Minyak Goreng Sawit Persen

(%) Minyak Goreng Kelapa Persen(%) Total

1999 2,494.1 77.5 725.8 22.5 3,219.9

2000 2,806.1 78.5 769.5 21.5 3,575.6

2001 3,137.9 79.6 806.5 20.4 3,944.4

2002 3,508.1 80.6 846.9 19.4 4,355.0

2003 3,964.9 81.8 879.8 18.2 4,844.7

2004 4,527.7 82.9 933.4 17.1 5,461.1

2005 5,062.8 83.8 980.4 16.2 6,043.3


(15)

Namun kecenderungan naiknya permintaan CPO di pasar dunia yang merupakan bahan baku minyak goreng dan sebagai biofuel yang berperan untuk mensubstitusikan minyak bumi membuat pengusaha ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari penjualan CPO ke luar negeri, dengan kata lain daya tarik pasar ekspor menjadi prioritas pengusaha. Akibatnya, pasokan minyak goreng domestik terancam langka, sebab kelangkaan minyak goreng bisa terjadi karena kekurangan salah satu komponen minyak goreng, yakni CPO. (Saputra, 2007).

Fluktuasi harga minyak goreng yang terjadi membuat pemerintah memandang stabilitasi harga kebutuhan pokok khususnya minyak goreng merupakan hal yang penting bagi masyarakat dan bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan, sehingga pemerintah mengeluarkan paket kebijakan Stabilisasi Bahan Pokok. Tujuan dikeluarkannya kebijakan Stabilisasi Harga Bahan Pokok tersebut adalah untuk menstabilkan harga dan menjamin ketersediaannya di dalam negeri.

Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah kebijakan menyalurkan CPO ke pengolah minyak goreng domestik oleh pengusaha CPO dengan kuantitas tertentu sehingga diharapkan dengan kebijakan ini dapat membantu pemerintah menyalurkan minyak goreng murah kepada masyarakat melalui Operasi Pasar dan mengamankan stok minyak goreng didalam negeri. Kebijakan kedua adalah menaikkan besaran Pungutan Ekspor yang semula 1,5% menjadi 6,5% untuk mengurangi niat pengusaha menjual CPO-nya ke luar negeri, namun dalam pelaksanaannya, seiring dengan terus meningkatnya harga CPO Internasional, pemerintah memberlakukan kenaikan Pungutan Ekspor sesuai dengan Kenaikan Harga CPO Internasional. Kebijakan lain yang dikeluarkan pemerintah adalah Penghapusan PPN atas minyak goreng curah dan kemasan


(16)

yang bertujuan untuk meringankan beban masyarakat dalam mendapatkan minyak goreng murah. Kebijakan pemerintah mewajibkan pengusaha kena pajak untuk menyalurkan sebagian minyak goreng ke pasar domestik dengan harga murah karena semua pajaknya teah ditanggung oleh pemerintah. Kebijakan penghapusan PPN ini juga membantu pemerintah dalam menyediakan minyak goreng untuk kebutuhan Operasi Pasar di berbagai daerah di Indonesia.

Dengan adanya paket kebijakan stabilisasi harga bahan pokok ini diharapkan harga minyak goreng yang masih tinggi bisa terkendali dan stabil. Namun diperlukan kajian bagaimana pengaruh kebijakan pemerintah tersebut terhadap stabilisasi dan keefektifannya menurunkan harga minyak goreng curah di dalam negeri.


(17)

1.2. Identifikasi Masalah

Setelah menguraikan latar belakang maka dapat disimpulkan beberapa masalah yang akan diidentifikasi, yaitu :

1. Apakah kebijakan Pungutan Ekspor berpengaruh terhadap penurunan harga minyak goreng curah?

2. Apakah kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) berpengaruh terhadap penurunan harga minyak goreng curah?

3. Bagaimana kebijakan Penghapusan PPN dan Operasi Pasar bisa membantu masyarakat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau?

4. Apakah harga CPO Domestik berpengaruh terhadap harga minyak goreng curah? 5. Apakah harga CPO Internasional berpengaruh terhadap harga minyak goreng

curah?

6. Kebijakan apa yang paling efektif untuk menurunkan dan menstabilkan harga minyak goreng curah?

7. Apakah ada kebijakan alternatif yang lebih efektif selain Penghapusan PPN, Pungutan Ekspor danDomestic Market Obligation(DMO) .


(18)

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

7. Untuk melihat apakah kebijakan Pungutan Ekspor berpengaruh terhadap penurunan harga minyak goreng curah.

8. Untuk melihat apakah kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) berpengaruh terhadap penurunan harga minyak goreng curah.

9. Untuk melihat apakah kebijakan Penghapusan PPN dan Operasi Pasar bisa membantu masyarakat memperoleh minyak goreng curah dengan harga yang terjangkau.

10. Untuk melihat apakah harga CPO domestik berpengaruh terhadap harga minyak goreng curah.

11. Untuk melihat apakah harga CPO Internasional berpengaruh terhadap harga minyak goreng curah.

12. Untuk melihat kebijakan apa yang paling efektif untuk menurunkan dan menstabilkan harga minyak goreng curah.

13. Untuk melihat apakah ada kebijakan alternatif yang lebih efektif selain Subsidi, Pungutan Ekspor danDomestic Market Obligation(DMO)

1.4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan di kemudian hari dapat dipergunakan sebagai :

1. Sumbangan dalam kajian yang terkait dengan masalah kebijakan pemerintah tentang stabilisasi harga bahan pokok terutama minyak goreng.


(19)

\TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan Pustaka

Minyak goreng adalah minyak nabati yang telah dimurnikan dan dapat digunakan sebagai bahan pangan. Penggunaan minyak goreng biasanya sebagai media penggorengan bahan pangan, penambah cita rasa ataupun shortening yang membentuk tekstur pada roti. Sebanyak 49% dari total permintaan minyak goreng di Indonesia adalah untuk konsumsi rumah tangga dan sisanya untuk keperluan industri, termasuk industri perhotelan dan restoran-restoran dan juga usahafast food.(Wijana, 2005)

Menurut Amang (1993), Minyak goreng dapat dibuat dari berbagai macam bahan baku, diantaranya adalah kelapa sawit, kelapa, kacang-kacangan, bunga matahari dan bahan baku lainnya. Penggunaan minyak goreng berbahan baku kelapa sawit sejak beberapa tahun terakhir semakin mendominasi pengolahan minyak goreng setelah sempat dipegang oleh kelapa sebagai bahan baku minyak goreng di Indonesia. Dilihat dari sifat teknisnya, minyak goreng yang terbuat dari CPO memiliki banyak keunggulan, diantaranya yaitu :

1. Kecenderungan berasap lebih rendah

2. Sifat pembakaran yang lebih baik untuk kue dan roti, dan 3. Tingkat perkaratan pada kuali lebih rendah

Sebagai bahan pokok, kenaikan harga minyak goreng dipasar Indonesia membutuhkan peran pemerintah untuk melakukan pengendalian. Kenaikan harga tersebut pada saat ini tidak hanya meresahkan masyarakat miskin dan industri kecil, tetapi juga memberikan efek pada kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya. Jika ini tidak


(20)

dikendalikan, dampak kenaikan harga minyak goreng dapat berkembang tidak hanya terbatas pada isu ekonomi, tetapi merambat ke masalah sosial dan politik. (Susila, 2007)

Amang (1995), menyebutkan bahwa kebijakan harga yang diberikan untuk bahan pangan merupakan instrumen pokok kebijaksanaan pengadaan pangan. Tujuan kebijakan harga dilakukan diantaranya, untuk :

1. Melindungi produsen dari penurunan drastis harga pasar yang biasanya terjadi pada musim panen

2. Melindungi konsumen dari kenaikan harga yang melebihi daya beli khususnya pada musim paceklik, dan

3. Mengendalikan inflasi melalui stabilitas harga.

Tabel 2.1 menunjukkan pemberlakuan peraturan yang berbeda-beda terkait harga minyak goreng. Hal ini disebabkan oleh berbedanya situasi dan kondisi per periode. Pada tahun 1977-1978 dan sekitar tahun 1984 terjadi gejolak kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri. Hal ini disebabkan karena negara kekurangan pasokan kopra dan CPO. Pada tahun 1977-1978 minyak kelapa sawit hanya diperuntukkan bagi ekspor, namun selanjutnya minyak kelapa sawit mulai diarahkan untuk memenuhi kekurangan bahan baku minyak goreng dalam negeri karena dinilai bisa mensubstitusi minyak kelapa dan kopra yang mengalami kelangkaan. Sedangkan pada tahun 1984 pemerintah memandang perlu diadakan kebijakan untuk menstabilkan harga minyak goreng dan menugaskan BULOG mengawasi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan minyak goreng, diantaranya mengawasi pengolahan bahan baku minyak goreng, mengawasi


(21)

pengapalan CPO dan produk turunannya dari pusat produksi ke pabrik minyak goreng dan mengawasi pendistribusian minyak goreng.

Tabel 2.1

Lima Periode Kebijaksanaan Stabilisasi Harga CPO dan Minyak Goreng Selama Tahun 1979-1996

No. Periode Kebijaksanaan Pemerintah

1. 1979-1983 a. Digunakan instrument alokasi/jatah bagi kebutuhan dalam negeri

b. Ditetapkan harga CPO untuk penjualan dalam negeri

c. Diperlukan ijin dari Departemen Perdagangan untuk ekspor

2. 1984-1986 (Mei) a. Ditetapkan pajak ekspor CPO sebesar 37,18 persen

b. Ditetapkan harga CPO untuk penjualan dalam negeri.

c. Instrumen alokasi dan perijinan tetap dipertahankan

3. 1986 (Juni) 1991 (Mei) a. Pajak ekspor CPO diturukan menjadi 0 ( nol ) persen.

b. Ditetapkan system alokasi ekspor.

c. Tetap mempertahankan sistem penetapan harga CPO untuk penjualan dalam negeri. 4. 1991 (Juni) 1994 (Agustus) a. Pemerintah membebaskan perdagangan dan

ekspor CPO ( Adanya keinginan agar harga ditentukan oleh kekuatan pasar )

5. 1994 (September) a. Ditetapkan Pajak Ekspor progresif CPO dan produk olahan lainnya (bervariasi antara 40-60 persen tergantung harga FOB).

b. Sejak pertengahan 1995, BULOG dan PTP bekerjasama membentuk persediaan penyanggan (buffer stock) CPO

c. Kerjasama BULOG dengan produsen minyak goreng ( bimoli ) melakukan operasi pasar

Menurut Amang (199 Sumber : Amang, 1996


(22)

Dampak kebijakan tersebut cukup positif mengingat harga minyak goreng dapat diredam. Oleh sebab itu kenaikan harga minyak goreng baru terjadi lagi pada tahun 1992 dan kemudian pada tahun 1994 terjadi lagi gejolak kenaikan harga minyak goreng akibat dari kenaikan harga CPO di dunia. Adanya gejolak harga tersebut berusaha diatasi dengan menerapkan pajak ekspor hingga 60 % dan dibarengi dengan kebijakan alokasi CPO di pasar domestik pada tahun 1994. Kebijakan tersebut yang mendikte pasar mengakibatkan mekanisme pasar tidak berjalan. Harga CPO domestik terisolasi dari harga CPO internasional dan harga minyak goreng menjadi stabil. Pada saat ini ketika harga minyak goreng naik yang diduga akibat dari naiknya harga CPO internasional pemerintah juga mengeluarkan kebijakan dalam rangka menstabilkan harga minyak goreng di pasar domestik. Kebijakan yang dikeluarkan yaitu Kewajiban memasok CPO ke pengolah dalam negeri (DMO), Menaikkan Pungutan Ekspor, dan Penghapusan PPN atas minyak goreng curah dan kemasan

Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) sebagai salah satu instrumen kebijakan pemerintah dalam menstabilkan harga minyak goreng dilakukan pemerintah dengan mewajibkan produsen CPO dan minyak goreng untuk mengalokasikan produksinya pada harga tertentu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri dengan harga maksimum sama dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). (Susila,2007)

Kebijakan Domestik Market Obligation didasarkan pada Keputusan Menteri Pertanian No.339/Kpts/PD.300/5/2007 (Lampiran 4) yang ditetapkan pada tanggal 31 Mei 2007 tentang pasokan CPO untuk kebutuhan dalam negeri guna stabilisasi harga minyak goreng curah. Keputusan Menteri Pertanian tersebut menetapkan bahwa pasokan


(23)

CPO wajib dipenuhi oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit yang merupakan anggota GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) maupun non anggota GAPKI.

Dua alternatif yang ditawarkan oleh pemerintah untuk kebijakanDomestic Market

Obligationminyak sawit mentah yaitu :

1. Pengusaha wajib menyediakan pasokan minyak goreng domestik sebanyak 20% yaitu 2,4 Juta Ton minyak goreng atau setara dengan 3,3 Juta ton CPO.

2. Pengusaha wajib menyediakan pasokan untuk kebutuhan minyak goreng domestik 18 % yaitu sekitar 2,15 juta ton atau setara dengan 2,96 juta ton minyak sawit mentah (CPO).

Kedua alternatif kebijakan tersebut dibuat berdasarkan pada perhitungan kebutuhan minyak goreng selama setahun dan berlaku untuk produsen CPO yang mempunyai luas lahan perkebunan sedikitnya 1.000 Hektar. Mekanisme yang dibuat adalah para produsen tersebut menyerahkan minyak sawit mentah kepada pengolah untuk diolah menjadi minyak goreng.

Selain DMO pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Pungutan Ekspor sebagai respon atas kenaikan harga minyak goreng. Kebijakan Pungutan Ekspor akan mengakibatkan berkurangnya volume ekspor CPO sehingga ketersediaannya di dalam negeri menjadi terjamin dan pada akhirnya akan menurunkan harga minyak goreng. Pemerintah Indonesia berharap dengan adanya Pungutan Ekspor atas CPO dan turunannya dapat melindungi konsumen dalam negeri, dan jika harga CPO di pasar internasional turun maka pungutan ekspor juga akan diturunkan. Dasar diberlakukannya Pungutan Ekspor adalah berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) :


(24)

1. No.130/PMK 010/2005 2. No.61/PMK 011/2007 3. No.94/PMK 011/2007 4. No.09/PMK 011/2008

Kebijakan lain yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah adalah kebijakan pemberian subsidi. Jenis subsidi yang dikeluarkan ada yang diberikan kepada produsen yaitu berupa pembebasan PPN minyak goreng curah. Melalui keputusan menteri Keuangan nomor 118/PMK.011/2007 (Lampiran 5) tanggal 24 September 2007 tentang PPN Minyak Goreng Curah dalam negeri sebesar 10% ditanggung pemerintah yang mengacu pada UU Nomor 41/2007 tentang Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara, yang menetapkan bahwa PPN minyak goreng curah dan tidak bermerek ditingkat produsen Di-Tanggung-Pemerintah (DTP). Pada 4 Februari 2008 pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.15/PMK.011/2008 tentang PPN dibayar oleh pemerintah atas penyerahan minyak goreng dalam kemasan di dalam negeri.(Lampiran 6).

PPN yang ditanggung pemerintah pada tahun 2007 dianggarkan sebesar 300 Milyar, Sedangkan untuk minyak goreng kemasan direncanakan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun anggaran 2008 sebanyak 600 Milyar. Boediono (Menko Perekonomian) mengatakan bahwa melalui kebijakan ini produsen dan distributor akan diringankan karena sebagian biaya produksi dibayar pemerintah, sehingga diharapkan produsen dan distributor turut bertanggung jawab memastikan agar harga minyak goreng dapat turun lebih rendah dan stabil hingga akhir tahun.


(25)

Tabel 2.2

Dampak Positif dan Negatif Masing-Masing Pilihan Kebijakan

Kebijakan Potensi Dampak Positif/Manfaat Potensi Dampak Negatif/ Masalah Pajak Ekspor  Penerimaan Negara

 Distribusi beban antara konsumen dan produsen

 Mudah dilaksanakan

 Mendistorsi pasar internasional dan domestik

 Menghambat upaya peningkatan ekspor

 Menurunkan pendapatan industri CPO domestik

 Menurunkan pendapatan petani Domestik

Market Obligation

 Efektivitas relatif lebih baik  Mendistorsi pasar internasional dan domestik

 Menghambat upaya peningkatan ekspor

 Menurunkan pendapatan industri CPO domestik

 Menurunkan pendapatan petani  Penerimaan negara lebih rendah Operasi Pasar  Tidak mendistorsi pasar ekspor

 Tidak membebani industri berbasis CPO

 Tidak membebani petani

 Membebani anggaran negara cukup besar

 Efektivitas rendah Subsidi ke

Industri Minyak Goreng

 Tidak mendistorsi pasar eskpor  Tidak membebani industri

berbasis CPO

 Tidak membebani petani

 Membebani anggaran negara cukup besar

 Ekspor minyak goreng bersubsidi  Kesulitan implementasi

Subsidi ke

Orang Miskin  Tidak mendistorsi pasar eskpor  Tidak membebani industri

berbasis CPO

 Tidak membebani petani

 Target lebih fokus sehingga beban anggaran lebih rendah

 Membebani anggaran negara  Pelaksanaan sering tidak tepat

sasaran


(26)

Ilham dan Hermanto (2007), dalam penelitiannya menyebutkan bahwa tujuan dari dibuatnya kebijakan harga pertanian adalah untuk mengurangi ketidakpastian usaha tani, menjamin harga pangan yang stabil bagi konsumen dan stabilitas harga di tingkat makro. Instrumen yang bisa digunakan diantaranya dengan kebijakan perdagangan, kebijakan nilai tukar, pajak dan subsidi, serta intervensi langsung. Sedangkan secara tidak langsung stabilisasi harga dapat dilakukan melalui kebijakan pemasaran output dan kebijakan input. Kebijakan input yang dimaksud adalah dengan subsidi harga sarana produksi yang diberlakukan pemerintah terhadap pupuk, pestisida dan benih.

Susila (2007), telah melakukan suatu studi dengan mengilustrasikan pengenaan Pungutan Ekspor Perkebunan terhadap beberapa aspek Industri perkebunan Dengan menetapkan PE menjadi 5% sebagai skenario yang moderat, harga primer produk perkebunan di pasar domestik rata-rata menjadi 3.20% lebih rendah bila dibandingkan dengan tidak ada pajak ekspor. Namun sebagai akibatnya, harga ditingkat petani juga akan mengalami penurunan. Hal yang sama juga terjadi pada harga di tingkat produsen yang akanmengalami penurunan yang selanjutnya kan berdampak pada perluasan areal di industri hulu, penurunan produktifitas dan produksi. Selain itu gross margin(penerimaan kotor) petani akan mengalami penurunan.

Berbagai penelitian kebijakan stabilisasi harga minyak goreng yang dibuat oleh pemerintah, Kebijakan pengenaan Pungutan Ekspor dianggap tidak berpihak pada pengusaha kelapa sawit. Jatno Sunarjo dalam penelitiannya tentang Pengaruh Pajak Ekspor terhadap Pendapatan Produsen Kelapa Sawit menyimpulkan bahwa pengaruh dari pajak ekspor ternyata menurunkan pendapatan riil marjinal pada usaha perkebunan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap ada kenaikan pajak ekspor sebesar Rp.1.000.000 akan


(27)

menurunkan pendapatan riil marjinal perkebunan swasta sebesar 0,1501. Kemudian Jatno Sunarjo juga menyimpulkan bahwa ternyata proporsi dari penerimaan pajak ekspor CPO dibandingkan dengan seluruh penerimaan negara dari sektor pajak sebenarnya relatif sangat kecil. Daniel (2007), dalam penelitiannya juga menyebutkan bahwa Kenaikan pungutan Ekspor diperkirakan akan menurunkan daya saing ekspor minyak kelapa sawit Indonesia dan dapat menyebabkan keterpurukan industri minyak kelapa sawit Indonesia.

Susila (2007), dalam penelitiannya merekomendasikan 2 kombinasi kebijakan mengingat setiap kebijakan memiliki dampak positif dan negatif. Dua kebijakan tersebut adalah (1) kebijakan yang berkaitan langsung dengan produsen dan perdagangan internasional, dan (2) kebijakan yang berkaitan dengan konsumen. Susila menyebutkannya sebagai Decoupled Policies (Kebijakan berpasangan), seperti yang diterapkan di Negara maju seperti Amerika dalam membuat kebijakan produksi yang semakin dipisahkan dengan kebijakan perdagangan. Jika kebijakan Decouple Policies disepakati maka kebijakan yang diambil adalah adalah kebijakan yang bisa bersifat jangka panjang yaitu Kombinasi kebijakan Pungutan ekspor (PE) dan Subsidi kepada Rakyat miskin. PE ditetapkan mengikuti harga CPO dan nilai tukar. Sesuai dengan tabel ilustrasi penetapan (Lampiran.11). Jika harga CPO sekitar US$ 700/ton dan nilai tukar Rp.9000/Kg, maka PE adalah sekitar 10% . Dengan asumsi bahwa harga CPO adalah sekitar 600 US$ /ton, maka pemerintah akan mendapatkan penerimaan sekitar Rp.5 Triliun. Sedangkan untuk konsumen dibutuhkan dana yang besar dan manajemen distribusi yang handal . Kebijakan yang direkomendasikan mengadopsi kebijakan Ratian Card, yaitu ketika harga minyak goreng diatas HET (Harga Eceran tertinggi) setiap penduduk miskin diberi sejenis kartu agar bisa memperoleh minyak goreng dalam


(28)

volume dan harga tertentu. Dengan asumsi bahwa penduduk miskin sekitar 40 juta orang, HET Rp.6500/kg, dan konsumsi per kapita 16kg/kapita/tahun,maka jumlah subsidi yang dibutuhkan tidak lebih dari Rp.1 Triliun, ini jauh lebih sedikit dari yang didapat oleh pemerintah dari hasil pungutan Ekspor.


(29)

2.2. Landasan Teori

Suharto (1997), menyebutkan bahwa kebijakan adalah suatu ketetapan yang memuat prinsip-prinsip untuk mengarahkan cara-cara bertindak yang dibuat secara terencana dan konsisiten dalam mencapai tujuan tertentu. Kebijakan senantiasa berorientasi kepada tindakan (action-oriented) dan berorientasi kepada masalah (problem-oriented).

Dunn (1991), menyebutkan bahwa analisis kebijakan mengkaji kebijakan yang telah berjalan, ruang lingkup serta metoda analisis kebijakan umumnya bersifat deskriptif dan faktual mengenai sebab-sebab dan akibat dari suatu kebijakan. Dari kajian kebijakan tersebut diharapkan dapat memperoleh kesimpulan apakah kebijakan yang telah dijalankan efektif atau tidak.

Kebijakan yang diambil pemerintah dalam usaha pengendalian harga bahan pangan terutama untuk kenaikan harga minyak goreng diwujudkan dalam bentuk campur tangan pemerintah diantaranya dengan pemberian subsidi bagi pengusaha atau produsen minyak goreng yaitu dengan menghapus PPN sebesar 10 % terhadap pengusaha minyak goreng yang nantinya diharapkan bisa mengurangi sebagian biaya produksi pengusaha sehingga bisa menyalurkan minyak gorengdengan harga yang lebih murah kepada masyarakat luas. Penghapusan PPN itu sendiri diberi Cap DTP (Ditanggung Pemerintah).

Walaupun pemerintah bermaksud membantu konsumen dalam memperoleh minyak goreng dengan harga murah, namun ternyata kebijakan tersebut dianggap memihak produsen. Penghapusan PPN tersebut sendiri disebut sebagai fasilitas yang diberikan pemerintah kepada Pengusaha Kena Pajak, berupa :


(30)

1. Penangguhan Pembayaran PPN / PPNBM, atau 2. Pajak terutang tidak dipungut, atau

3. PPN ditanggung Pemerintah.

Menurut Sukarji (1999), Fasilitas tersebut diberikan kepada pengusaha dengan maksud untuk mendorong pertumbuhan bidang usaha yang bersangkutan, untuk membantu likuiditas perusahaan atau untuk meunjang program pemerintah yang menyangkut hidup orang banyak.

Subsidi adalah pemberian pemerintah kepada produsen untuk mengurangi biaya produksi yang ditanggung produsen. Subsidi merupakan kebalikan atau lawan dari pajak, sering juga disebut sebagai pajak negatif. Subsidi yang diberikan atas produksi/ penjualan sesuatu barang menyebabkan harga jual barang tersebut menjadi lebih rendah. Dengan subsidi, produsen merasa ongkos produksinya menjadi lebih kecil sehingga ia bersedia menjual lebih murah kepada konsumen. Subsidi menyebabkan harga keseimbangan yang tercipta di pasar lebih rendah daripada harga keseimbangan sebelum atau tanpa subsidi, sedangkan jumlah keseimbangannya semakin bertambah. (Dumairy, 1999)

Lebih lanjut Dumairy (1999), menyatakan bahwa subsidi produksi yang diberikan oleh pemerintah menyebabkan ongkos produksi yang dikeluarkan oleh produsen menjadi lebih sedikit daripada ongkos produksi yang seharusnya dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut, Karena ongkos produksi yang dikeluarkan oleh produsen lebih kecil, produsen bersedia menawarkan produknya dengan harga yang lebih rendah, sehingga sebagian subsidi bisa dinikmati juga oleh konsumen. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dengan memberikan subsidi atas suatu barang akan membuat harga yang


(31)

dibayar oleh konsumen akan turun, sedangkan secara bersamaan akan meningkatkan permintaan akan barang tersebut.

Tarif merupakan pajak atau cukai yang dikenakan untuk suatu komoditi yang diperdagangkan lintas-batas territorial. Tarif Ekspor atau yang lebih dikenal dengan Pungutan Ekspor (PE) merupakan pajak yang dikenakan pada eksportir untuk suatu komoditi yang di ekspor. (Salvatore, 1997).

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2005 tentang Pungutan ekspor Atas Barang Ekspor Tertentu, Pungutan ekspor dimaksudkan untuk mendukung pelestarian sumber daya alam dan menjamin terpenuhinya kebutuhan bahan baku bagi industri dalam negeri. Dalam menetapkan Harga Patokan ekspor untuk komoditi ekspor CPO dan produk turunannya digunakan harga rata-rata bursa Rotterdam dan Kuala Lumpur dalam satu bulan sebelum penetapan Harga Pungutan Ekspor.

Pasokan CPO tersebut untuk bulan Mei 2007 sebesar 97.525 (Sembilan Puluh Tujuh Ribu Lima Ratus Dua Lima) ton dan bulan Juni 2007 sebesar 102.800 (Seratus Dua Ribu Delapan Ratus) ton untuk dikirim ke pabrik minyak goreng anggota Assosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) dan atau Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) untuk diolah menjadi Olein (Minyak goreng) dengan ratio 1 (satu) kilogram CPO menjadi 1(satu) kilogram Minyak goreng.


(32)

Kerangka Pemikiran

Pada pertengahan 2007 dengan terjadinya kenaikan harga minyak goreng, pemerintah berusaha menstabilkan harga minyak goreng yang sempat mencapai harga di atas Rp.10.000, (Juni 2007). Pemerintah mengeluarkan 3 kebijakan utama sebagai respon atas kenaikan harga tersebut yaitu pengahapusan PPN sebesar 10 %yang seharusnya menjadi beban produsen dan distributor, dinaikkannya Pungutan Ekspor (PE) minyak sawit secara progresif mengikuti harga CPO internasional, dan kebijakan terakhir adalah dengan mengharuskan setiap pengusaha memasok produksi minyak sawitnya ke pasaran domestik, yang disebut sebagaiDomestic Market Obligation(DMO).

Semua kebijakan yang dikeluarkan dianggap pemerintah akan mampu menurunkan harga minyak goreng domestik dan menjaga pasokan minyak sawit sebagai bahan baku minyak goreng di dalam negeri. Secara garis besar banyak kalangan menilai semua kebijakan tersebut tidak efektif karena hanya bersifat jangka pendek dan berpihak pada sebagian kalangan. Namun pemerintah tetap menjalankan kebijakan tersebut dengan alasan bahwa kebijakan dalam menstabilkan harga kebutuhan pokok, termasuk minyak goreng merupakan hal yang penting bagi masyarakat dan bagi perekonomian secara keseluruhan.

Jika kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut dinilai efektif maka akan mampu membuat harga minyak goreng turun menjadi harga semula dan stabil. Namun jika tidak maka pemerintah seharusnya mencari lagi kebijakan lain (kebijakan alternatif) yang bisa dengan efektif menurunkan harga minyak goreng dan bukan hanya untuk jangka pendek namun juga untuk jangka panjang.


(33)

Dalam penelitian ini kebijakan pemerintah sebagai suatu instrumen penstabil harga akan dinilai keefektifannya dalam menurunkan harga minyak goreng dan melihat kebijakan mana yang paling efektif untuk menurunkan harga minyak goreng .

Secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 2.1

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1. Skema Kerangka Pemikiran Kebijakan

Pemerintah

Penghapusan

PPN Pungutanekspor Domestic MarketObligation

Efektif Tidak

Efektif

Penurunan dan

stabilitas harga KebijakanAlternatif Kenaikan Harga


(34)

Hipotesis Penelitian

1. Kebijakan Pungutan Ekspor tidak berpengaruh kepada harga minyak goreng curah.

2. Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) tidak berpengaruh kepada harga minyak goreng curah.


(35)

METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan Metode Data Sekunder. Menurut Wirartha (2005) Penggunaan Metode Data Sekunder lebih banyak digunakan untuk Penelitian mengenai kebijakan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dukungan Jenis Data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik, Departemen Perdagangan dan Perindustrian, Instansi dan Asosiasi terkait dan publikasi instansi-instansi terkait.

3.2. Metode Analisis Data

Evaluasi terhadap efektif atau tidak efektifnya kebijakan yang telah diberlakukan pemerintah dalam rangka menstabilkan harga minyak goreng dilakukan dengan pendekatan ekonometrika, Salah satu pendekatan yang digunakan yaitu dengan Analisis Regresi Linear Berganda. Sehingga nantinya akan diperoleh dugaan dari koefisien/parameter hubungan ekonomi. Nilai koefisien/parameter dugaan ini dapat digunakan untuk mengevaluasi keseimbangan atau parameter dari teori ekonomi yang kemudian akan sangat penting untuk pengambilan keputusan bagi perusahaan maupun formulasi kebijakan ekonomi pemerintah dan nilai tersebut akan dapat membandingkan dampak dari berbagai alternatif kebijakan.(Wirartha, 2005)

Tujuan utama dibuatnya kebijakan Pemberian Subsidi / penghapusan PPN, Pungutan ekspor dan Domestic Market Obligation adalah untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng dalam negeri dan menstabilkan harga minyak goreng. Harga minyak goreng domestik pada bulan ke-t diasumsikan dipengaruhi oleh harga minyak goreng domestik bulan sebelumnya, Harga CPO domestik, Harga CPO Internasional, serta


(36)

kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka menstabilkan harga minyak goreng (Pungutan Ekspor, danDomestic Market Obligation).

Untuk menguji hipotesis (1), (2), (3) dan (4) diuji dengan menggunakan analisis regresi. .

Dengan persamaan :

     

 0 1X1 2X2 3X3 4X4 5D1 Y

Dengan :

0 = Konstanta Intersep

Y = Harga Minyak goreng domestik pada bulan ke-t (Rupiah) X1 = Harga Minyak goreng Domestik pada bulan ke t-1 (Rupiah)

X2 = Harga CPO domestik pada bulan ke-t (Rupiah)

X3 = Harga CPO Internasional pada bulan ke t (Rupiah)

X4 = Kebijakan Pungutan Ekspor atas turunan CPO untuk

Minyak goreng (%)

D1 = Dummy Kebijakan Domestik Market Obligation ( Pasokan Produsen

Minyak goreng ke pasar domestik ; 0= Sebelum ada perubahan kebijakan , 1= Setelah ada perubahan kebijakan )

pasokan)

µ = Random error


(37)

Hipotesis (1) yang digunakan adalah :

H0: Kebijakan Pungutan Ekspor akan berpengaruh terhadap harga minyak

goreng curah.

H1: Kebijakan Pungutan Ekspor tidak akan berpengaruh terhadap harga

minyak goreng curah.

Hipotesis (2) yang digunakan adalah :

H0: KebijakanDomestic Market Obligationakan berpengaruh terhadap harga

minyak goreng curah

H1: KebijakanDomestic Market Obligationtidak akan berpengaruh

terhadap harga minyak goreng curah.

Hipotesis (3) yang digunakan adalah :

H0: Harga CPO Domestik tidak akan berpengaruh terhadap harga minyak

goreng curah

H1: Harga CPO Domestik akan berpengaruh terhadap harga minyak goreng

curah.

Hipotesis (4) yang digunakan adalah :

H0: Harga CPO Internasional tidak akan berpengaruh terhadap harga minyak

goreng curah

H1: Harga CPO Internasional tidak akan berpengaruh terhadap harga minyak


(38)

Langkah-Langkah Analisis Kebijakan

Untuk mendapatkan hasil yang optimal didalam penelitian ini digunakan langkah-langkah sebagai berikut:

3.3.1. Mengubah Harga nominal ke dalam Harga riil

Data yang digunakan adalah data harga minyak goreng curah dan harga CPO Domestik. Data harga tersebut di ubah kedalam harga Riil.

Untuk mendapatkan harga Riil digunakan rumus sebagai berikut : Harga Riil =

) arg

(Indeksarg H minaKonsumen100 IHKH aNo al

Harga riil adalah harga satu barang dilihat dari satu waktu yang konstan. Untuk mendapatkan harga riil, adalah dengan mengeluarkan faktor inflasi dengan menggunakan data Indeks Harga Konsumen (IHK). (Basri.M,dkk, 2007)

IHK atau Indeks Harga Konsumen adalah nomor indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga (Household). IHK sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi suatu Negara dan juga sebagai pertimbangan untuk penyesuaian gaji, upah,uang pensiun dan kontrak lainnya.(Anonim, 2008)

3.3.2. Interpretasi Hasil

Uji Kesesuaian (Test of Godness of Fit) Koefisien Determinasi (R2)

Besaran R2 yang paling lazim digunakan untuk mengukur kebaikan/kesesuaian

(goodness of fit) dari garis regresi. R2 mengukur proporsi (bagian) atau persentase total variasi dalam Y yang dijelaskan oleh model regresi (Gujarati,1994).


(39)

Uji Tingkat Penting (Test of Significance)

Pengujian tingkat penting adalah suatu prosedur dengan mana hasil sampel digunakan untuk menguji kebenaran atau kepalsuan suatu hipotesis nol.

Keputusan untuk menerima atau menolak H0 dibuat atas dasar nilai statistik uji

yang diperoleh dari data yang dimiliki. Uji parsial (Uji t-Statistik)

Dengan Kriteria Uji :

a. Jika thtt maka ada pengaruh nyata variabel bebas terhadap variabel terikat Rumus :

) ( h

h h SEab t

Dimana : th= t hitung

ah = koefisien regresi hasil estimasi untuk variable ke-h

SE = standar error koefisien ah

( Sarwoko, 2005 )

Selanjutnya, identifikasi masalah lainnya dianalisis secara deskriptif berdasarkan data sekunder dan fakta-fakta yang terjadi. Penelitian deskriptif terbatas pada usaha mengungkapkan masalah, keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya. Sifatnya sekedar mengungkapkan fakta (fact finding). Hasil penelitian lebih ditekankan pada pemberian gambaran secara objektif tentang keadaan sebenarnya dari objek yang diselidiki. Penelitian deskriptif melakukan analisis hanya sampai pada taraf deskriptif, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah


(40)

dipahami dan disimpulkan. Kebanyakan pengolahan data didasarkan pada analisis persentase dan analisis kecenderungan. (Wirartha, 2006)

3.3.3. Uji Asumsi Regresi Linear Berganda Uji linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah persamaan regresi yang diperoleh linear atau tidak. Kriteria yang digunakan adalah bila Fhitung > Ftabel bentuk

hubungan adalah linier. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dimaksudkan untuk menghindari adanya hubungan yang linear antar variabel bebas. Menurut Gujarati (1994) multikolinearitas dapat dideteksi dengan beberapa metode, diantaranya adalah dengan melihat :

- Jika nilai Toleransi atau VIF (Variance Inflation Factor) kurang dari 0,1 atau nilai VIF melebihi 10

- Terdapat koefisien korelasi sederhana yang mencapai atau melebihi 0,8 - Jika nilai F-hitung melebihi nilai F-Tabel dari regresi antar variabel bebas Uji Autokorelasi

Autokorelasi didefinisikan sebagai korelasi antara anggota observasi dalam beberapa deret waktu (serial correlation) atau antara anggota observasi berbagai obyek atau ruang (spatial correlation). Uji Autokorelasi terutama digunakan untuk data time series. Untuk mengetahui ada tidaknya gejala autokorelasi dalam model analisis regresi yang digunakan, maka cara yang digunakan dengan melakukan pengujian serial korelasi dengan metode Durbin Watson. .(Ekofeum.online, 2005)


(41)

Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi :

 Bila DW terletak antara batas atas atau upper bound (du) dan (4-du), maka koefisien autokorelasi sama dengan nol, berarti tidak ada autokorelasi.  Bila nilai DW lebih rendah daripada batas bawah atau lower bound (dl),

maka koefisien autokorelasi lebih besar daripada nol, berarti ada autokorelasi positif.

 Bila nilai DW lebih besar daripada (4-dl), maka koefisien autokorelasi lebih kecil daripada nol, berarti ada autokorelasi negatif.

 Bila nilai DW terletak diantara batas atas (du) dan batas bawah (dl) atau DW terletak antara (4-du) dan (4-dl), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.


(42)

3.4. Definisi dan Batasan Operasional 3.4.1. Definisi

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan pengertian dalam penelitian ini, maka diberikan batasan operasional sebagai berikut :

1. Kebijakan Pemerintah adalah kebijakan dalam program stabilisasi harga minyak goreng yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia untuk komoditi CPO (Kebijakan Pungutan Ekspor dan DMO) dan untuk minyak goreng (Subsidi) pada Januari 2006 sampai maret 2008

2. Minyak Goreng adalah minyak goreng curah yang di produksi oleh prosesor dalam negeri.

3. Subsidi adalah pembebasan PPN sebesar 10 % yang seharusnya ditanggung oleh produsen dalam mengelola CPO menjadi minyak goreng, dan pengadaan Operasi pasar untuk masyarakat dalam kurun waktu 2007-2008

4. Pungutan Ekspor adalah pajak yang dikenakan untuk setiap komoditas CPO yang di ekspor dalam satuan persen.

5. Domestic Market Obligtion (DMO) adalahPasokanCrude Palm Oil (CPO)untuk kebutuhan dalam negeri dalam rangka stabilisasi harga minyak goreng curah yang wajib dipenuhi oleh perusahaan perkebunan Kelapa sawit diIndonesia, baik anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia

(GAPKI) maupun bukan Anggota GAPKI .

6. Stabilisasi harga minyak goreng adalah tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah


(43)

kebijakan Penghapusan PPN sebesar 10 % ( Subsidi bagi produsen ), Pungutan

Ekspor ( PE ) danDomestic Market Obligation( DMO ) .

7. Harga CPO domestik adalah harga rata-rata penjualan dari perkebunan besar

Negara ke pengolah minyak goreng dalam negeri. ( Amang.dkk, 1996) 3.4.2. Batasan Operasional

1. Waktu penelitian dimulai pada tahun 2008

2. Data yang diambil adalah data dalam kurun waktu sebelum kebijakan yaitu tahun 2006 hingga setelah kebijakan dibuat pada tahun 2007 sampai Maret 2008.


(44)

PROFIL INDUSTRI DAN KEBIJAKAN MINYAK KELAPA SAWIT INDONESIA 4.1. Perkebunan dan Industri Kelapa Sawit Indonesia 4.1.1. Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia

Perkebunan kelapa sawit yang pertama ditanam di Indonesia adalah yang terdapat di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848, berasal dari Mauritus, Afrika Barat. Pertama kali

dirintis oleh seorang pengusaha berkebangsaan Jerman bernama K.Scahdt di Tanah

Hitam, Sumatera Utara pada tahun 1911. Perkembangan perkebunan kelapa sawit terus mengalami kemajuan yang pesat terutama dengan keterlibatan Belanda. Pada tahun 1939 Indonesia telah menjadi eksportir minyak kelapa sawit di dunia.

Namun sejak Indonesia merdeka hingga tahun 1957 perkebuna kelapa sawit Indonesia mengalami kemunduran, hal ini diakibatkan oleh politik nasional anti kolonial dan kapitalis yang menolak investasi dan pinjaman dari bangsa asing sehingga pada tahun 1957 perkebunan kelapa sawit dinasionalisasikan dibawah Perusahaan Perkebunan Negara Baru.

Presiden Soeharto pada tahun 1968 menarik investasi asing di seluruh sektor industri termasuk sektor pertanian yang menimbulkan pengaruh besar terhadap perkembangan perkebunan kelapa sawit Indonesia, dan ditandai dengan adanya Perseroan Terbatas Perkebunan (PTP) yang terdiri atas 27 PTP di seluruh Indonesia.

Tahap kedua investasi yaitu pada tahun 1985-1998 yang ditandai dengan pesatnya investor asing dan dalam negeri yang mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Indonesia sehingga membuat perkebunan Indonesia berkembang pesat yaitu dari 597 hektar lahan pada tahun 1985 meningkat menjadi 2,7 juta hektar pada tahun 1998.


(45)

Krisis Ekonomi melanda Indonesia sejak akhir 1997 turut membuat banyaknya kegagalan ekspansi atau perluasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, hal ini tidak lain akibat terpuruknya perbankan nasional dan banyaknya bank yang tutup.

Setelah tahun 2002 perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan dan membuka peluang ekspansi lagi bagi perkebunan kelapa sawit Indonesia. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya izin oleh Departemen Pertanian pada akhir 2003 kepada 74 perusahaan dengan izin lahan seluas 672.977 hektar. Nilai investasi perkebunan kelapa sawit ini mencapai 17,3 Triliun Rupiah dan diharapkan akan terus meningkat.

Menurut Saputra (2007), Produsen kelapa sawit di Tanah air tebagi atas tiga golongan, yaitu :

1. Perkebunan Rakyat (Smallholder ) sekitar 34 % dari total Area perkebunan Kelapa sawit.

2. Perkebunan Pemerintah (Public Plantation )sekitar 12 % dari total Area perkebunan Kelapa sawit.

3. Perkebunan Swasta Besar (Private Plantation) sekitar 54 % dari total Area perkebunan Kelapa sawit

Perkembangan Luas Area Perkebunan

Pada tahun 1996 Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia sekitar 2,2 juta hektar yang didominasi oleh perkebunan swasta. Sekitar satu dasawarsa perkembangannya yaitu pada tahun 2006 luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai angka 6 Juta Hektar dengan produksi CPO mencapai 15 Juta Ton. Dari Luas areal sebesar 6 juta ton tersebut, Luas perkebunan rakyat adalah sebesar 43,4 % dari total keseluruhan kebun dengan produksi 6,09 Juta ton, Luas perkebunan Negara adalah sebesar 11,47% dari total


(46)

keseluruhan kebun dengan produksi sekitar 2,29 juta ton dan luas perkebunan swasta adalah seluas 45,13% dari total keseluruhan kebun di Indonesia dengan produksi mencapai 7,5 juta ton.

Tabel 4.1 menunjukkan secara detail perkembangan Luas Areal (ha) dan Produksi CPO (ton) Perkebunan Kelapa Sawit Menurut Pengusahaannya Tahun 1996-2006.

Tabel 4.1

Perkembangan Luas Areal (ha) dan Produksi CPO (ton) Perkebunan Kelapa Sawit Menurut Status Kepemilikannya Tahun 1996-2006.

Tahun Perkebunan Rakyat Perkebunan Negara Perkebunan Swasta

Luas Produksi Luas Produksi Luas Produksi

1996 738.887 1.133.547 426.804 1.706.852 1.083.823 2.058.259 1997 813.175 1.292.829 448.735 1.800.252 1.254.169 2.287.366 1998 890.506 1.348.163 489.143 1.857.089 1.409.134 2.434.902 1999 1.038.289 1.544.300 516.447 1.845.599 1.617.427 2.615.000 2000 1.190.154 1.977.814 528.716 1.970.578 2.050.739 3.632.109 2001 1.566.031 2.800.744 540.728 1.606.458 2.314.209 4.690.270 2002 1.795.321 3.134.323 556.323 1.642.825 2.430.222 5.242.837 2003 1.854.394 3.517.324 662.803 1.750.651 2.766.360 5.172.859 2004 2.220.338 4.345.268 605.865 1.827.158 2.458.520 6.060.229 2005 2.356.895 4.979.641 529.854 1.603.451 2.567.068 6.540.573 2006 2.636.425 6.092.022 696.699 2.298.564 2.741.802 7.509.413 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2007

Selama 10 tahun terakhir (1997-2006) perkembangan luas perkebunan Indonesia di dominasi oleh perkebunan swasta yang hingga tahun 2006 mencapai 2,74 juta hektar diikuti oleh perkebunan rakyat yang mencapai 2,63 juta hektar, yang terakhir adalah perkebunan Negara yang hanya mencapai 696 ribu hektar.

Hal ini dapat dilihat dari gambar 4.1. Perkembangan Luas Area Perkebunan Kelapa Sawit pada tahun 1997-2006.


(47)

Gambar 4.1. Perkembangan Luas Area Perkebunan Indonesia berdasarkan Kepemilikan

Perkembangan Produksi Kelapa Sawit Indonesia

Sejak tahun 1967 hingga tahun 2006 produksi minyak kelapa sawit Indonesia telah banyak mengalami peningkatan. Pada tahun 1967 Indonesia telah memproduksi sekitar 168 ribu ton dan hingga tahun 2006 Indonesia telah memproduksi minyak kelapa sawit sebanyak 17,10 juta ton. Saat ini Indonesia telah mengungguli Malaysia dalam hal produksi minyak kelapa sawit.

Pada 10 tahun terakhir (1997-2006), perkebunan Indonesia yang terdiri dari perkebunan Swasta pada tahun 1997 menghasilkan 2,28 juta ton minyak sawit dan mencapai 7,50 juta ton pada tahun 2006. Perkebunan Negara pada tahun 1997 menghasilkan 1,80 juta ton pada tahun 2006 mencapai produksi sekitar 2,29 juta ton dan perkebunan rakyat yang pada tahun 1997 hanya menghasilkan 1,29 juta ton namun pada tahun 2006 bisa menghasilkan minyak sawit sebanyak 6,09 juta ton .

Hal ini dapat terlihat dari gambar 4.2 Perkembangan Produksi Minyak Kelapa Sawit di Indonesia selama 10 tahun terakhir (1997-2006).

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000 3000000

1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Rakyat Negara Swasta


(48)

Gambar 4.2. Perkembangan Produksi Minyak Sawit Indonesia berdasarkan Kepemilikan

4.1.2. Industri Minyak Kelapa Sawit di Indonesia Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit

Perkembangan industri minyak kelapa sawit di Indonesia salah satunya ditandai dengan bertambahnya jumlah unit dan kapasitas pabrik pengolahan kelapa sawit. Industri minyak kelapa sawit masih didominasi oleh perusahaan perkebunan swasta besar, yaitu dari 295 PKS terdapat 226 unit PKS yang dimiliki perkebunan besar swasta (77,4%), sedangkan yang dikelola oleh perkebunan negara hanya 69 unit PKS (22,6%). (Lampiran.12 )

Hingga tahun 2005 sudah tercatat sebanyak 295 PKS (Pabrik Kelapa Sawit) yang tersebar di 17 Propinsi di Indonesia. Sebagian besar PKS terdapat di Sumatera (82,4%), Sisanya di Jawa (0,7%), Kalimantan (10,8%), Sulawesi (3,4%) dan Papua (2,7%).

0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000 8000000

1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Rakyat Negara Sw asta


(49)

Tabel 4.2

Jumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menurut Propinsi tahun 2005

Propinsi JumlahPKS Kontribusi(%) (Ton/Jam)Kapasitas Kontribusi(%)

NAD 17 5,8 543 4,7

Sumut 88 29,8 3131 27,1

Sumbar 9 3,1 335 2,9

Riau 71 24,1 3039 26,3

Jambi 17 5,8 835 7,2

Sumsel 25 8,5 1205 10,4

Bengkulu 7 2,4 290 2,5

Babel 3 1,0 137 1,2

Lampung 6 2,0 228 2,0

Sumatera 243 82,4 9743 84,2

Jabar 2 0,7 60 0,5

Jawa 2 0,7 60 0,5

Kalbar 13 4,4 520 4,5

Kalteng 7 2,4 258 2,5

Kalsel 4 1,5 140 1,2

Kaltim 8 2,7 250 2,2

Kalimantan 32 10,8 1195 10,3

Sulteng 4 1,4 120 1,0

Sulsel 6 2,0 210 1,8

Sulawesi 10 3,4 330 2,9

Papua 8 2,7 240 2,1

Total 295 100.00 11568 100.00

Sumber : BisInfocus, 2005

Dalam hal produksi maka Sumatera masih unggul dibandingkan dengan daerah lainnya, hal ini dapat dilihat dari jumlah PKS yang tersebar di beberapa propinsi di Sumatera. Kalimantan dengan kontribusi sebanyak 10,8% dari kapasitas nasional mulai mengembangkan industri kelapa sawitnya dengan melakukan ekspansi perkebunan kelapa sawit. Demikian juga dengan Sulawesi dan Papua, dengan tuntutan dan upaya yang sejalan untuk ekspansi area perkebunan kelapa sawit di daerah tersebut, maka daerah tersebut juga memiliki peluang besar dalam memperluas area kelapa sawitnya.


(50)

Gambar 4.3. Kontribusi Jumlah Pabrik Kelapa Sawit Berdasarkan Propinsi

Pengolahan Kelapa Sawit

Minyak sawit adalah bahan baku utama minyak goreng. Minyak sawit mengandung asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh yang ikatan molekulnya mudah dipisahkan dengan alkali, sehingga mudah dibentuk untuk berbagai keperluan, seperti pelumas dalam berbagai proses idustri dan untuk industri tekstil.

Tanaman Kelapa Sawit secara umum waktu tumbuh rata-rata 20 25 tahun. Pada tiga tahun pertama disebut sebagai kelapa sawit muda, hal ini dikarenakan kelapa sawit tersebut belum menghasilkan buah. Kelapa sawit mulai berbuah pada usia empat sampai enam tahun. Dan pada usia tujuh sampai sepuluh tahun disebut sebagi periode matang (the mature periode), dimana pada periode tersebut mulai menghasilkan buah tandan segar (Fresh Fruit Bunch). Tanaman kelapa sawit pada usia sebelas sampai dua puluh tahun mulai mengalami penurunan produksi buah tandan segar. Dan terkadang pada usia 20-25 tahun tanaman kelapa sawit mati.

8 2 .4 % 0 .7 %1 0 .8 % 3 .4 %

2 .7 %


(51)

Semua komponen buah sawit dapat dimanfaatkan secara maksimal. Buah sawit memiliki daging dan biji sawit (kernel), dimana daging sawit dapat diolah menjadi CPO (crude palm oil) sedangkan buah sawit diolah menjadi PK (kernel palm).

Ekstraksi CPO rata-rata 20 % sedangkan PK 2.5%. Sementara itu cangkang kelapa sawit dapat digunakan sebagai bahan bakar ketel uap. Minyak sawit dapat dipergunakan untuk bahan makanan dan industri melalui proses penyulingan, penjernihan dan penghilangan bau atau RBDPO (Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil). Disamping itu CPO dapat diuraikan untuk produksi minyak sawit padat (RBD Stearin) dan untuk produksi minyak sawit cair (RBD Olein). RBD Olein terutama dipergunakan untuk pembuatan minyak goreng. Sedangkan RBD Stearin terutama dipergunakan untuk margarin dan shortening, disamping untuk bahan baku industri sabun dan deterjen. Pemisahan CPO dan PK dapat menghasilkan oleokimia dasar yang terdiri dari asam lemak dan gliserol. Secara keseluruhan proses penyulingan minyak sawit tersebut dapat menghasilkan 73% olein, 21% stearin, 5% PFAD ( Palm Fatty Acid Distillate) dan 0.5% buangan.

4.2. Kebijakan

Menurut Amang (1996), Minyak sawit dikenal sebagai bahan mentah utama minyak dan lemak pangan yang digunakan untuk menghasilkan minyak goreng. Ditinjau dari segi pemenuhan gizi, peran minyak goreng adalah cukup penting karena minyak goreng merupakan sumber nabati utama. Hal ini ditunjukkan dari hasil SUSENAS 1993 yang menunjukkan bahwa 10 persen konsumsi kalori pangan berasal dari minyak goreng nabati dan lemak, khususnya minyak. Dari segi penghasil devisa, kelapa sawit memberikan sumbangan yang tidak sedikit dalam neraca perdagangan nasional.


(52)

Menurut BisInfocus (2005), Pertumbuhan volume ekspor minyak kelapa sawit Indonesia menunjukkan rata-rata 23% per tahun dalam kurun waktu satu dasawarsa

(1995-2004). Volume ekspor CPO meningkat dari 1,265 juta ton di tahun 1995 menjadi

8,66 juta ton di tahun 2004.

1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 0

2000000 4000000 6000000 8000000 10000000

Gambar 4.4. Perkembangan Volume Ekspor Minyak Kelapa Sawit (CPO) Indonesia

Gambar 4.4 menunjukkan adanya variasi peningkatan volume ekspor minyak kelapa sawit (CPO) pada kurun waktu 1995 hingga 2004. Walaupun sempat mengalami penurunan yaitu pada tahun 1998 namun setelah itu volume ekspor CPO terus bergerak walaupun lambat dan menunjukkan peningkatan yang signifikan hingga tahun 2002 tetapi tidak bertahan lama karena pada tahun 2003 tidak meningkat tajam, barulah pada tahun 2004 menunjukkan peningkatan volume ekspor lagi.

Adanya variasi pertumbuhan volume ekspor CPO diduga karena kebijakan pemerintah yang tidak konsisten dalam mendorong peningkatan ekspor kelapa sawit Indonesia. Diantara kebijakan tersebut yaitu pengenaan tarif pungutan ekspor yang cenderung menghambat perkembangan ekspor. Walaupun kebijakan tersebut dianggap mampu mengendalikan pasokan minyak goreng sawit dalam negeri.


(53)

Pemerintah menganggap bahwa peranan minyak goreng terhadap perekonomian cukup besar, terutama dalam rangka stabilisasi harga baik bagi produsen maupun bagi konsumen, maka berbagai kebijakan telah dibuat oleh pemerintah Republik Indonesia. Kebijakan tersebut terutama dibuat ketika terjadi gejolak harga minyak goreng.

Kebijakan periode Tahun 1969-1976

Masalah yang terjadi adalah mengenai tata niaga kopra yang menjadi bahan baku minyak goreng yang dominan pada saat itu. Kopra merupakan salah satu sumber devisa Negara yang cukup potensial dan menjadi sumber pendapatan bagi beberapa daerah seperti Sulawesi Tengah. Pada tahun 1960-an terjadi kemerosotan ekspor kopra yang sangat memprihatinkan, dan dalam beberapa tahun produksi kopra tidak mengalami kenaikan. Padahal permintaan akan minyak goreng terus meningkat. Terjadinya penurunan produksi kopra di Indonesia erat hubungannya dengan goncangan harga kopra di pasaran dunia yang berdampak negative pada pendapatan petani kopra dan produksinya. Pada saat itu petani kopra hanya menerima kurang dari 50 persen harga ekspor, yang menjadi penyebab diantaranya adalah :

1. Tidak ada kepastian usaha bagi para eksportir dan pengusaha akibat banyaknya campur tangan instansi dalam tata niaganya dan adanya pungutan resmi dan tidak resmi yang membuat biaya pemasaran menjadi membengkak.

2. Petani kopra tidak merasakan banyak manfaat dari koperasi kopra

3. Hilangnya kepercayaan luar negeri terhadap mutu dan kontinuitas pasokan kopra Indonesia yang disebabkan lemahnya koordinasi pemasaran dan pengapalan.


(54)

4. Penertiban dalam bidang pemasaran, pengapalan dan stabilisasi harga kopra, terutama pasar dalam negeri, belum dapat dilaksanakan dengan peraturan-peraturan yang ada.

Atas dasar permasalahan tersebut pemerintah pada tahun 1969 mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 67/1969 untuk mengkoordinasi pemasaran kopra. Instrumen yang diterapkan yaitu :

1. Harga kopra minimum sebagai harga patokan minimal di tingkat petani ditetapkan secara periodik.

2. Ditetapkan rayonisasi bagi pelaku tata niaga untuk menjamin keterturan tata niaga 3. Penentukan pelabuhan akumulasi ekspor kopra untuk menjamin kepastian

pengapalan danpeningkatan efisiensi penanganan

4. Dibentuk agen pemasaran di luar negeri untuk mengembalikan citra ekspor kopra Indonesia dan perdagangan kopra dikenakan sumbangan rehabilitasi kopra yang besarnya bervariasi antar daerah, hal ini dimaksudkan untuk peningkatan produksi dengan jalan mengadakan konvensi dengan para pelaksana tata niaga untuk menyumbangkan sebagian dari keuntungan untuk tujuan rehabilitasi produksi kopra.

5. Koperasi kopra dipilih secara selektif dan didata oleh pemerintah daerah untuk menjaga harga tetap kompetitif.

6. Diperbolehkannya perdagangan kopra antar pulau jika harga kopra dalam negeri lebih tinggi dari harga dunia.

7. Dibentuk tim konsultasi daerah untuk kelancaran kerja BAPENGKO (Badan Pengurusan Kopra) dan diadakan pertemuan berkala.


(55)

Hasil kebijakan tersebut berdampak positif dan negatif. Diantara dampak positifnya dalah adanya jaminan kepastian usaha, campur tangan instansi pemerintah dalam BAPENGKO berkurang, membaiknya kepercayaan importir di luar negeri, akumulasi dan pengapalan kopra membaik dan cukup lancar dan sumbangan Rehabilitasi Kopra digunakan untuk menunjang sarana produksi kopra. Adapun dampak negatifnya adalah menyangkut dana sumbangan rehabilitasi kopra hanya 30 persen saja yang diserahkan ke BAPENGKO dan tidak jelas penggunaannya, akibatnya produksi merosot dan pendapatan petani juga berkurang, bahkan banyak terjadi pengalihan kebun kopra menjadi kopi dan coklat.

Kebijakan periode Tahun 1977-1985

Akibat dari gejolak harga kopra tahun 1977/1978 Indonesia mengalami kekurangan bahan baku minyak goreng. Minyak sawit semula hanya ditujukan untuk ekspor. Tapi perkembangan selanjutnya minyak sawit juga diarahkan untuk pasar dalam negeri, karena minyak sawit dapat mensubstitusi minyak kelapa dan pasar domestik mengalami kelangkaan kopra.

Maka pemerintah membuat kebijakan untuk mengatasi kekurangan pasokan bahan baku minyak goreng dan utnuk stabilisasi harga minyak goreng dalam negeri. Diantara kebijakan tersebut yaitu :

1. Pemasaran hasil produksi CPO dan minyak inti sawit diatur oleh pemerintah dan sebagian hasilnya diharuskan untuk dipasarkan di dalam negeri sebagai substitusi minyak kelapa.

2. Kebijaksanaan penetapan harga CPO dan stearin untuk industri dalam negeri


(56)

3. Perdagangan minyak kelapa dan minyak sawit serta derivatnya dibebaskan, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor, artinya tidak ada lagi keharusan untuk penjualan di dalam negeri.

Hasil kebijakan tersebut memberi pengaruh langsung, diantaranya meningkatnya volume perdagangan dalam negeri mengikat namun pangsa luar negeri menjadi berkurang, dengan penetapan harga CPO maka harga CPO dalam negeri menjadil;ebih mahal dari pada harga CPO di pasar dunia sehingga menimbulkan kelesuan industri minyak goreng dalam negeri dan berpengaruh terhadap produsen kelapa sawit.

Kebijakan Periode Tahun 1984-1993

Pada tahun 1984 terjadi gejolak harga minyak goreng karena pasokan minyak goreng dalam negeri berkurang. Disamping kebijakan yang berlaku, pemerintah memandang perlu untuk membuat program stabilisasi harga. Pemerintah menugaskan BULOG (Badan Urusan Logistik) untuk mengadakan monitoring berbagai kegiatan yang berhubungan dengan minyak goreng, yaitu :

1. Mengawasi pengolahan bahan baku minyak goreng di pabrik kelapa sawit.

2. Mengawasi pengapalan CPO dan derivatnya daripusat-pusat produksi ke pabrik minyak goreng.

3. Mengawasi pendistribusian minyak goreng.

Dampak yang terjadi akibat kebijakan tersebut dirasa cukup positif, dimana gejolak harga dapat diredam dan variasi harga minyak goreng di dalam negeri relatif rendah.


(57)

Kebijakan Periode Tahun 1994

Masalah dimulai sejak tahun 1992 dimana ketika harga bahan pokok stabil namun harga minyak goreng justru meningkat. Hal ini sehubungan dengan kenaikan harga CPO yang cepat di luar negeri, sehingga membuat laju ekspor CPO dari Indonesia meningkat. Peningkatan tersebut mengakibatkan langkanya CPO di pasaran dalam negeri. Pemerintah kemudian menetapkan berbagai kebijakan untuk meredam harga minyak goreng dan menjamin pasokan untuk dalam negeri diantaranya :

1. Menetapkan pajak ekspor atas CPO dan hasil olahannya secara berkala. 2. Penumpukan cadangan penyangga CPO di dalam negeri oleh BULOG.

3. Impor CPO oleh BULOG jika penetapan pajak ekspor dan cadangan penyangga belum memadai.

Dampak kebijakan tersebut cukup positif dimana terjadi perlambatan laju inflasi dan gerakan kenaikan harga minyak goreng di dalm negeri dapat diperlambat relatif terhadap laju kenaikan harga minyak goreng di pasaran dunia.


(58)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam persamaan diketahui variabel bebas terdiri dari Harga Minyak goreng pada bulan t-1 (X1), Harga CPO Domestik pada bulan ke-t (X2), Harga CPO Internasional

pada bulan ke-t (X3), Kebijakan Pungutan Ekspor atas CPO untuk minyak goreng (X4),

dan Dummy Kebijakan Domestik Market Obligation (D1), dari variabel-variabel bebas

tersebut akan dilihat seberapa besar pengaruhnya terhadap penurunan harga minyak goreng Curah Domestik sebagai variabel dependen (variabel terikat). Namun dalam kajian penulisan lebih lanjut ditentukan bahwa variabel bebas yang digunakan hanya Harga CPO Domestik (X1), Kebijakan Pungutan Ekspor atas CPO untuk minyak goreng

(X2) dan Dummy Kebijakan Domestik Market Obligatin (D1). Hal ini dikarenakan

adanya gejala Multikolinearitas yang terjadi pada persamaan.

Gejala multikolinearitas dapat dideteksi salah satunya dengan Tabel Coefficient (Lampiran 2). Pada semua variabel nilai VIF mempunyai nilai lebih dari 10, dan nilai toleransi kurang dari 0,1. Nilai tolerance yang mendekati 0, menunjukkan adanya multikolineritas yang tinggi, yang mengakibatkan peningkatan standar error dari koefisien regresi. Tolerance adalah persentase variance pada setiap variabel yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel lainnya. Sehingga, tolerance yang kecil menunjukkan bahwa 70%-90%variancedapat dijelaskan oleh variabel lain.

Gujarati (1994) mengungkapkan tindakan perbaikan yang bisa dilakukan ketika terdapat masalah multikolinearitas yang serius salah satunya dengan mengeluarkan suatu variabel atau variabel-variabel dari bias spesifikasi. Cara ini merupakan cara yang sederhana karena kesalahan yang mungkin terjadi adalah bias spesifikasi atau kesalahan spesifikasi . Dalam persamaan Variabel X1 (Harga Minyak goreng Domestik pada bulan


(59)

ke t-1) secara logika akan berkolinear dengan variabel X2 (Harga CPO domestik pada

bulan ke-t). Hal ini disebabkan karena harga Minyak goreng domestik akan cenderung bergerak dengan arah yang sama dengan Harga CPO Domestik. CPO merupakan produk turunan dari Kelapa Sawit. Menurut Pahan (2007), Berdasarkan SKB 3 Menteri, Pengaturan alokasi produksi Minyak Kelapa Sawit (MKS) berdasarkan penggunaan dan harganya ditentukan sebagai berikut :

1. Harga MKS untuk pembuatan minyak goreng ditetapkan di Belawan

2. Harga MKS untuk operasi pasar berdasarkan minyak goreng dikurangi dengan biaya operasional

3. Harga MKS untuk industri hilir sama dengan harga Ekspor FOB Belawan.

Sehingga untuk menghilangkan multikolinearitas dari persamaan, Variabel X1

(Harga Minyak goreng Domestik pada bulan ke t-1) dikeluarkan dari persamaan.

Hal yang sama juga berlaku untuk X3(Harga CPO Internasional pada bulan ke- t).

Erningpraja,dkk(2004) dalam tulisannya tentang Dibalik Harga TBS yang dapat Kubayar menggambarkan bahwa Harga CPO Domestik(FOB) terbentuk berdasarkan harga CPO dunia(CPO Internasional). Hal ini menyebabkan kedua variabel cenderung memiliki arah yang sama. Hal yang sama juga diungkapkan Pahan(2007) bahwa Pembentukan harga MKS akan sangat ditentukan oleh situasi perdagangan MKS diluar negeri. Dari Coefficient Table(Lampiran 2), variabel Harga CPO internasional memiliki korelasi tertinggi yaitu 484,358. Sehingga variabel ini perlu untuk dikeluarkan sehingga akan mengatasi masalah multikolinearitas yang terjadi.


(60)

Setelah mengeluarkan 2 variabel dari persamaan, diperoleh persamaan baru :

01X12X23D1  Dengan :

Y = Harga Minyak goreng Domestik pada bulan ke-t (Rupiah) X1 = Harga CPO Domestik pada bulan ke t (Rupiah)

X2 = Kebijakan Pungutan Ekspor atas turunan CPO untuk

Minyak goreng (%)

D1 = Dummy Kebijakan Domestik Market Obligation ( Pasokan Produsen

Minyak goreng ke pasar domestik ; 0= Sebelum ada penetapan Kebijakan DMO , 1= Setelah ada penetapan kebijakan DMO ) µ = Random Error


(61)

5.1. Hasil

Hasil Analisis kebijakan pemerintah terhadap harga minyak goreng curah dapat dilihat pada Tabel 5.1

Tabel 5.1

Hasil Analisis Pengaruh Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Minyak Goreng Curah

Variabel KoefisienRegresi StandarError T-Hitung Signifikan

Constant 1,457,885 283,737 5,138 0.000

X1=Harga CPO Domestik 0,770 0,090 8,534 0.000(*)

X2=Kebijakan Pungutan

Ekspor 49,680 20,364 2,440 0.023(*)

D1=Kebijakan DMO 285,344 197,285 1,446 0.162

R=0,985a R-Square=0,969

F-Hitung=242,497 0.000a

F-Tabel=3,03 T-Tabel=2,07

Keterangan : tn = tidak nyata pada taraf kepercayaan 95% * = nyata pada taraf kepercayaan 95% Sumber : Lampiran 1

Persamaan yang diperoleh dari hasil analisis adalah : = 1457,885+ 0,770X1+ 49,680X2+ 285,344D1

(5,138) (8,534) (2,440) (1,446)

Dari Model dihasilkan nilai koefisien Determinasi sebesar 0,969. Hal ini menunjukkan bahwa 96% variasi variabel Harga minyak goreng curah telah dapat dijelaskan oleh variabel Harga CPO Domestik, Kebijakan Pungutan Ekspor dan KebijakanDomestic Market Obligation(DMO).

Secara serempak pengaruh variabel Harga CPO Domestik, Kebijakan Pungutan Ekspor dan Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) nyata pada taraf 95%.


(62)

Hal ini dapat dilihat dari Uji F , yaitu F-Hitung = 242,497 > F-Tabel = 3,03 dan Nilai Signifikansi 0,000.

Secara Parsial, Variabel Harga CPO Domestik berpengaruh terhadap Harga minyak goreng curah. Pengaruh tersebut nyata pada taraf kepercayaan 95%. Nilai koefisien koefisien variabel Harga CPO Domestik sebesar 0,770 menunjukkan jika harga CPO Domestik naik sebesar 1 Rupiah maka akan meningkatkan harga minyak goreng curh sebesar 0,770 Rupiah.

Secara parsial, Variabel Kebijakan Pungutan Ekspor berpengaruh terhadap harga minyak goreng curah. Pengaruh tersebut nyata pada taraf kepercayaan 95%. Nilai koefisien variabel Kebijakan Pungutan Ekspor sebesar 49,680 menunjukkan jika Pungutan Ekspor naik sebesar 1% akan menaikkan harga minyak goreng curah sebesar 49,680%.

Secara parsial, Variabel Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) tidak berpengaruh terhadap harga minyak goreng curah. Hal ini dapat dilihat dari nilai t-hitung =1,446 < t-tabel =2,07, dan tidak signifikan pada taraf kepercayaan 95%.

5.1.1. Hasil Asumsi Regresi Linear Berganda Uji Linearitas

Dari persyaratan untuk melihat apakah persamaan dilakukan uji F dengan kriteria penilaian adalah jika Fhitung > Ftabel adalah signifikan, dan didapat Fhitung= 242,497 dan


(63)

Uji Gejala Multikolinearitas

Setelah melihat tabelCoefficientterdapat nilai VIF untuk masing-masing variabel mempunyai nilai < 10 dan nilai Tolerance > 0,1.(Lampiran 1). Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa gejala multikolinearitas tidak terdapat dalam persamaan ini.

Uji Gejala Autokorelasi

Uji Autokorelasi dilihat dari nilai Durbin-Watson yang bernilai 1.909 (Lampiran 1) dengan signifikansi 0,05% dengan n=27 dan k=3 diperoleh nilai dL=1,16 dan nilai dU=1,65. Berdasarkan syarat pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi diperoleh kesimpulan tidak ada autokorelasi pada persamaan.


(1)

Ekofeum.online. 2005.Pengaruh-Pengaruh Variabel Fundamental dan Teknikal Terhadap Harga Saham. Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

Gujarati, Damodar. 1997. Ekonometrika Dasar. Penerbit Erlangga. Jakarta

Ilham, Nyak dan Hermanto Siregar. 2007.Dampak Kebijakan Harga Pangan dan Kebijakan Moneter terhadap Stabilitas Ekonomi Makro. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Jurnal Agro Ekonomi.Volume 25 No.1 Mei 2007.

Kalangi, Josep Bintang. 2004.Matematika ekonomi dan Bisnis. Edisi Pertama. Salemba Empat. Jakarta

Krisnamurti, Bayu. 2007.Menaikkan CPO Hanya Kebijakan Jangka Pendek. Artikel Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan. 15 Juni 2007.

Lindert, Peter.H dan Charles.P. 1994.Ekonomi Internasional. Edisi ke-8. Penerbit Erlangga. Jakarta

Nazaruddin. 2005.Penentuan Indikator Efektifitas yang Berpengaruh dalam Peningkatan Kinerja pada Perusahaan Manufaktur di Kota Medan. Dalam Jurnal komunikasi Penelitian. Edisi Humaniora. Volume 17 No.4. Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara. Medan

Salvatore, Dominick. 1997.Ekonomi Internasional. Erlangga. Jakarta

Saputra, Wempi. 2007.Bisnis Sawit dan Kemelut Minyak Goreng: 1 Piring untuk 2 Mulut. Artikel IPTEK. 18 Juni 2007.

Sarwoko. 2005.Dasar-Dasar Ekonometrika. Penerbit Andi. Yogyakarta. Suharto, Edi. 1997. Materi Latihan :Analisis Kebijakan Sosial. Lembaga Studi


(2)

Sukardji, Untung. 1999.Pajak Pertambahan Nilai. Penerbit Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sukirno, Sadono. 2002.Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Edisi ke-3 . PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Susila,Wayan.R. 2007.Mempertanyakan Efektifitas Pajak Ekspor Dalam

MempercepatMengembangkan Industri Hilir Perkebunan. Lembaga Riset Perkebunan Indonesia ( LRPI ).

____________. 2007.Analisis Perdagangan CPO dan Minyak Goreng. Lembaga Riset Perkebunan Indonesia ( LRPI ).

Wijana, Susinggih ; Arif Hidayat dan Nur Hidayat. 2005.Mengolah Minyak Goreng Bekas. Trubus Agri Sarana. Surabaya.

Wirartha, I Made. 2006.Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Penerbit Andi.Yogyakarta.

Lampiran.1.

Output Analisis Regresi Linear Berganda Pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap Harga Minyak Goreng Curah Domestik


(3)

Correlations

1.000 .976 .907 .888

.976 1.000 .867 .859

.907 .867 1.000 .849

.888 .859 .849 1.000

. .000 .000 .000

.000 . .000 .000

.000 .000 . .000

.000 .000 .000 .

27 27 27 27

27 27 27 27

27 27 27 27

27 27 27 27

MG Curah CPO Domestik PE

DMO MG Curah CPO Domestik PE

DMO MG Curah CPO Domestik PE

DMO Pearson Correlation

Sig. (1-tailed)

N

MG Curah DomestikCPO PE DMO

Model Summaryb

.985a .969 .965 231.19321 .969 242.497 3 23 .000 1.909

Model

1 R R Square

Adjusted

R Square the EstimateStd. Error of R SquareChange F Change df1 df2 Sig. F Change Change Statistics

Durbin-Watson Predictors: (Constant), DMO, PE, CPO Domestik

a.

Dependent Variable: MG Curah b.


(4)

ANOVAb

38884557 3 12961519.06 242.497 .000a

1229357 23 53450.301 40113914 26

Regression Residual Total Model

1

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), DMO, PE, CPO Domestik a.

Dependent Variable: MG Curah b.

Coefficientsa

1457.885 283.737 5.138 .000 870.931 2044.839

.770 .090 .709 8.534 .000 .583 .956 .976 .872 .312 .193 5.173

49.680 20.364 .196 2.440 .023 7.554 91.806 .907 .453 .089 .207 4.840

285.344 197.285 .113 1.446 .162 -122.771 693.458 .888 .289 .053 .218 4.585

(Constant) CPO Domestik PE

DMO Model

1 B Std. Error

Unstandardized Coefficients

Beta Standardized

Coefficients

t Sig. Lower Bound Upper Bound95% Confidence Interval for B Zero-order CorrelationsPartial Part ToleranceCollinearity StatisticsVIF

Dependent Variable: MG Curah a.

Collinearity Diagnosticsa

3.395 1.000 .00 .00 .01 .01

.512 2.575 .02 .00 .03 .09

.085 6.328 .00 .00 .72 .68

.009 19.636 .98 1.00 .24 .22

Dimension 1

2 3 4 Model

1 Eigenvalue

Condition

Index (Constant) DomestikCPO PE DMO Variance Proportions

Dependent Variable: MG Curah a.


(5)

Lampiran 2.

Tabel Harga Dan Keputusan Pemerintah tentang Kebijakan untuk Stabilisasi harga minyak goreng

Tahun Bulan Curah HargaCPO Domestik PE Kebijakan

(%) Keterangan DMO(Dummy) Keterangan Bulan (Rp/Kg)

2006 Januari 3719.72 2677.70 1.5

Pe ra tu ra n M en ter i K eu an ga n Tg l.2 3 De se m be r 2 00 6 No .1 30 /P M K. 01 0/ 20 05 0 Se be lu m d ik elu ar ka nK eb ija ka n

Februari 3673.05 2770.37 1.5 0

Maret 3707.82 2722.00 1.5 0

April 3642.94 2665.35 1.5 0

Mei 3620.15 2727.74 1.5 0

Juni 3645.15 2794.59 1.5 0

Juli 3553.95 2839.06 1.5 0

Agustus 3829.29 3096.21 1.5 0

September 3869.54 2946.99 1.5 0

Oktober 3852.42 2952.87 1.5 0

November 3874.01 3325.59 1.5 0

Desember 4153.13 3559.19 1.5 0

2007 Januari 4340.95 3625.20 1.5 0

Februari 4232.74 3608.41 1.5 0

Maret 4362.68 3775.88 1.5 0

April 4827.19 4384.56 1.5 0

Mei 5580.16 4649.62 1.5 0

Juni 5900.48 4696.68 6.5

PMK 15 juni 2007 No.61/PMK.011/2007 1 Se tel ah k elu ar k eb ija ka n M en ter i P er tan ian No .3 39 /K pt s/P D. 30 0/ 5/ 20 07 Tg l.3 1 M ei 20 07

Juli 5700.38 4743.18 6.5 1

Agustus 6004.24 4815.43 6.5 1

September 5984.77 4768.91 7.5

PMK Tgl.31 Agustus 2007 No.94/PMK.011/2007

1

Oktober 5883.54 4891.88 7.5 1

November 5925.49 5243.16 10 1

Desember 5931.83 5181.93 10 1

2008 Januari 6790.72 5805.83 10 1

Februari 6722.96 6192.17 15 PMK Tgl.4 Februari 2008

No.09/PMK.011/2008 1


(6)

Ubah Harga Nominal ke dalam Bentuk Riil

Uji dengan Alat Uji Regresi Interpretasi Hasil Uji Uji Asumsi Regresi

Linear Berganda Terjadi Multikolinearitas

Spesifikasi Model Uji dengan Alat Uji Regresi

Uji Asumsi Regresi Linear Berganda

Interpretasi Hasil Uji

Kesimpulan