Perancangan taman tepian Sungai Martapura Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan

(1)

NUR RAHMAAN COLORADO

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011


(2)

Martapura Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan. Dibimbing oleh SETIA HADI dan DEWI REZALINI ANWAR.

Pertumbuhan kota yang pesat tanpa diikuti dengan perencanaan dan penataan ruang kota yang benar akan mengakibatkan penurunan kualitas kota. Kondisi sungai pada kota ini seperti sungai pada kota-kota besar lainnya di Indonesia dimanfaatkan secara optimal, sehingga sungai masih berada di belakang rumah atau bangunan sehingga sungai masih dianggap sebagai tempat yang kotor dan secara lanskap tidak memiliki nilai manfaat lingkungan bagi masyarakat. Pemanfaatan ruang terbuka pada daerah sepanjang sungai atau dikenal daerah sempadan sungai masih belum optimal, padahal ruang terbuka ini dapat menjadi area pendukung ekosistem sungai dan area rekreasi kota sehingga dapat menjadi ruang publik yang fungsional bagi masyarakat kota.

Penelitian ini bertujuan menyusun konsep perancangan dan membuat rancangan Taman Tepian Sungai Martapura Kota Banjarmasin yang berdaya guna, bernilai indah dan lestari tanpa menghilangkan karakteristik lokal Banjar yang ada serta dapat mengakomodasi kebutuhan rekreasi masyarakat. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukkan bagi pemerintah kota dan menjadi bahan refrensi taman tepian sungai pada tempat lain di Kota Banjarmasin serta sebagai wawasan bagi arsitek lanskap dalam merancang taman tepian sungai.

Penelitian ini dilakukan di tepian Sungai Martapura, JL. P. Tendean, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Propinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan penelitian ini dimulai dari bulan Maret 2010 sampai dengan Juni 2010 dan penyusunan skripsi hingga Mei 2011 meliputi persiapan, pengumpulan data, analisis dan sintesis serta perancangan. Batasan penelitian ini adalah untuk menghasilkan produk gambar teknis berupa Site plan, rancangan detail beberapa bagian tapak, detail potongan, detail penanaman, detail perkerasan, detail fasilitas dan gambar ilustrasi, seperti gambar tampak dan gambar perspektif.

Tapak memiliki luas sekitar 24.340 m2 dengan bentuk linier mengikuti sungai sepanjang Jalan Piere Tendean ataupun menyusuri Sungai Martapura sepanjang ± 1,8 km dari Jembatan Merdeka sampai dengan Jembatan Pasar Lama. Kondisi tapak saat ini sebagian telah dibebaskan oleh pemerintah kota dan sebagian lagi masih digunakan sebagai permukiman dan warung makan yang pada tahap berikutnya akan segera dilakukan pembebasan lahan. Tapak memiliki potensi view sungai sebagai borrowing sceenery pada tapak, lokasi tapak yang berada pada pusat kota dapat menjadi tempat rekreasi kota. Kendala pada tapak sendiri antara lain masih terdapat puing, sisa-sisa perlengkapan rumah dan bongkahan kayu.

Perancangan Taman Tepian Sungai Martapura ini didasarkan dalam sebuah konsep dasar yaitu memunculkan kembali karakteristik lokal Kota Banjarmasin yang alami yaitu dengan penggunaan pola alami/organik dan pemilihan material tanaman sebagai identitas taman dan kehidupan masyarakat dengan semboyan kayuh baimbai (mengayuh bersama-sama) sebagai aktivitas pengguna yang ingin dimunculkan pada taman yaitu interaksi. Konsep desain


(3)

yang digunakan sebagai pola sirkulasi pada tapak. Adapun pembagian ruang yang ada yakni, (1) ruang penerimaan (2) ruang rekreasi aktif (3) ruang rekreasi pasif dan (4) ruang penyangga. Sirkulasi pada tapak akan dibagi menjadi dua, yakni sirkulasi primer/utama dan sekunder. Jalur sirkulasi utama ialah diperuntukan untuk mengakomodasi pejalan kaki sedangkan jalur sekunder diperuntukkan untuk mengakomodasipejalan kaki dan pengguna sepeda. Untuk mengakomodasi keduanya dapat dikembangkan jalur sirkulasi/path way campuran maupun terpisah. Sedangkan vegetasi yang akan dikembangkan dalam taman ini adalah vegetasi yang memiliki fungsi ekologis dan arsitektural serta aktivitas yang akan dikembangkan pada taman adalah rekreasi aktif dan rekreasi pasif.

Taman tepian sungai ini dirancang pada luas 24.340 m2 dimana di dalamnya terdapat ruang-ruang yang mengakomodasi aktivitas rekreasi aktif dan pasif. Untuk mengakomodasi segala kebutuhan aktivitas pengunjung, taman ini akan dibuat fasilitas-fasilitas penunjang taman. Pada ruang rekreasi pasif terdapat plasa dengan shelter sebagai tempat makan/food corner dimana pengunjung dapat melakukan aktivitas makan dan minum sambil menikmati pemandangan sungai. Selain itu terdapat pula plasa yang diletakkan sculpture berupa art work sebagai aksen taman yang dapat dinikmati pengunjung yang berjalan ataupun duduk-duduk di sekitar plasa, keberadaan sculpture pada taman juga dapat memperkuat karakteristik taman. Tempat pertunjukan atau amphiteater juga terdapat pada ruang ini yang berfungsi sebagai tempat pengunjung menikmati suasana sungai atau pada saat-saat tertentu pengunjung dapat menikmati pertujukan atau festival yang digelar di Sungai Martapura. Ruang ini memiliki proporsi lebih dominan dari ruang rekreasi aktif, ini disebabkan fokus utama yang diinginkan pada taman ini ialah aktivitas rekreasi pasif.

Sementara itu, pada ruang rekreasi aktif terdapat lawn tempat bermain anak-anak dan juga berkumpul keluarga. Lawn ini dibentuk bervariasi seperti berbukit-bukit sehingga memberikan rangsangan untuk anak-anak bermain. Selain itu untuk mengakomodasi pengunjung yang berolahraga lari dibuat jogging track.

Jogging track ini dibuat satu kesatuan dengan jalur jalan setapak (pathway). Ini dikarenakan aktivitas lari atau jogging tidak dilakukan maksimal satu hari penuh, hanya pada saat-saat tertentu. Pada ruang ini juga terdapat jalur untuk sepeda, ini dikarenakan karakter tapak yang linier serta panjang memungkinkan pengunjung menikmati atau mendapat pengalaman dari tapak melalui sepeda. Jalur sepeda yang dibuat pada taman ialah tipe multi mode yaitu jalur sepeda dan pejalan kaki menjadi satu jalur. Pintu masuk ke taman terletak di tengah taman dengan plasa utama sebagai tempat penerima sekaligus interpretasi awal taman. Pada plasa ini juga diletakkan sebuah sculpture model artwork sebagai landmark taman. Selain itu pintu masuk taman juga dapat diakses melalui dermaga, ini untuk mengakomodasi pengunjung yang ingin masuk ke taman melalui jalur sungai. Kata Kunci : Ruang Terbuka, Perancangan Taman Tepian Sungai, Rekreasi


(4)

® Hak Cipta Milik IPB, tahun 2011

Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,

penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini


(5)

Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Perancangan Taman Tepian Sungai Martapura Kota Banjarmasin adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain, telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan pada daftar pustaka skripsi ini.

Bogor, Juli 2011

Nur Rahmaan Colorado A44061044


(6)

NUR RAHMAAN COLORADO A44061044

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada

Departemen Arsitektur Lanskap

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011


(7)

Judul : Perancangan Taman Tepian Sungai Martapura Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan

Nama : Nur Rahmaan Colorado

NRP : A44061044

Departemen : Arsitektur Lanskap

Disetujui,

Diketahui,

Tanggal lulus :

Dosen Pembimbing I

Dr. Ir. Setia Hadi, MS NIP. 19600424 198601 1 001

Dosen Pembimbing II

Dewi Rezalini A., SP, M.A.Des NIP. 19800318 200812 2 001

Ketua Departemen Arsitektur Lanskap

Dr. Ir Siti Nurisjah, MSLA. NIP. 19480912 197412 2 001


(8)

Penulis dilahirkan di Denver, Colorado pada tanggal 31 Mei 1988, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dalam keluarga Sutadi Sastrowihardjo dan Ike Indriati.

Pendidikan dasar diselesaikan di SD Islam PB Sudirman Jakarta Timur pada tahun 2000, pendidikan menengah diselesaikan di SLTP Islam PB Sudirman Jakarta Timur pada tahun 2003 dan SMU N 99 Jakarta Timur pada tahun 2006.

Penulis diterima menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada tahun 2006 di masa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) dan masuk Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian pada tahun 2007. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam kepengurusan Himpunan Mahasiswa Arsitektur Lanskap (HIMASKAP) IPB dan pernah menjadi Asisten Mata Kuliah Dasar-Dasar Arsitektur Lanskap.

Penulis juga pernah mengikuti beberapa sayembara desain dan perencanaan lanskap diantaranya Perencanaan Lanskap Ex-Minning Bangka-Belitung, Desain Lanskap Awi Panglipuran Kota Baru Parahiyangan Bandung, Desain Taman Topi Bogor dan Desain Jalur Hijau Jl RE Martadinata-Sudirman Solo.


(9)

Alhamdulillah segala puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, nikmat, rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tugas akhir ini dengan baik. Penelitian dengan judul

Perancangan Taman Tepian Sungai Martapura Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan merupakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Kedua orang tua mamah, bapak dan tak lupa mas tatas, mas virdi dan hanif atas segala doa, dukungan, perhatian dan kasih sayangnya.

2. Dr. Ir. Setia Hadi, MS selaku pembimbing skripsi pertama dan Dewi Rezalini Anwar, SP, M.A.Des selaku pembimbing skripsi kedua yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan tugas akhir ini.

3. Dr. Ir. Alinda FM Zain, MSc selaku pembimbing akademik yang telah memberikan dukungan serta atas perhatian dan arahan selama penulis menjadi mahasiswa di Departemen Arsitektur Lanskap.

4. Akhmad Arifin Hadi, SP, M.Arch selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan sarannya.

5. Seluruh dosen beserta staf Departemen Arsitektur Lanskap yang telah memberikan ilmu dan pengalaman selama masa perkuliahan

6. Keluarga besar Bpk. Supriyadi A. Dahlan di Banjarmasin atas bantuan dan dukungan selama penulis berada di Kota Banjarmasin.

7. Pimpinan beserta seluruh staf Bappeda dan Dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin atas waktu dan kesediaannya untuk memberikan bantuan data dalam penyusunan tugas akhir ini.

8. Teman satu bimbingan Kukuh, Sisi, Ika dan Intan, atas bantuan dan dukunganya.


(10)

11. Bang Ariev Landscape 40, atas segala bantuan dan ilmunya. 12. Teman-teman kepengurusan HIMASKAP 2008

13. Teman-teman TPB “sinceA 1920”. 14. Keluarga Kost Hikari.

15. Pihak-pihak yang selama ini membantu penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Akhirnya penulis berharap semoga penulisan ini dapat bermanfaat. Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan penulisan ini.

Bogor, Juni 2011


(11)

Halaman

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang ... 1

I.2. Tujuan ... 2

I.3. Manfaat ... 2

I.4. Kerangka Pikir ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Perancangan Taman ... 4

II.2. Rekreasi ... 7

II.3. Urban Waterfront ... 8

II.4. Perancangan Waterfront Park ... 10

II.5. Riverfront Park ... 13

III. METODOLOGI III.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... 15

III.2. Tahapan Penelitian ... 15

III.3. Batasan Penelitian ... 18

III.4. Alat dan Bahan ... 19

IV. HASIL INVENTARISASI IV.1. Kondisi Umum Kota Banjarmasin ... 20

IV.1.1. Kondisi Fisik ... 20

IV.1.1.1. Administratif dan Geografis ... 20

IV.1.1.2. Tata Ruang dan Tata Guna Lahan ... 21

IV.1.1.3. Utilitas dan Fasilitas ... 22


(12)

IV.1.2.3. Tanah ... 25

IV.1.2.4. Iklim ... 25

IV.1.2.5. Hidrologi ... 26

IV.1.2.6. Pasang Surut ... 26

IV.1.3. Kondisi Sosial dan Budaya ... 27

IV.1.3.1. Ekonomi Sosial ... 27

IV.1.3.2. Budaya ... 28

IV.1.3.3. Kependudukan ... 29

IV.2. Kondisi Tapak ... 30

IV.2.1. Kondisi Fisik ... 30

IV.2.1.1 Lokasi dan Batas Tapak ... 30

IV.2.1.2 Tata Guna Lahan Sekitar ... 31

IV.2.1.3 Aksesibilitas dan Sirkulasi ... 33

IV.2.1.4 Visibilitas dan Akustik ... 35

IV.2.2. Kondisi Biofisik ... 35

IV.2.2.1 Topografi dan Kemiringan ... 35

IV.2.2.2 Tanah ... 36

IV.2.2.3 Vegetasi dan /satwa ... 37

IV.2.2.4 Iklim Mikro ... 38

IV.2.3. Kondisi Sosial dan Budaya ... 38

IV.2.3.1. Potensi Pengunjung ... 38

V. ANALISIS DAN SINTESIS TAPAK V.1. Analisis ... 41

V.1.1. Kondisi Fisik ... 41

V.1.1.1. Lokasi, Luas dan Batas ... 41

V.1.1.2. Aksesibilitas dan Sirkulasi ... 41

V.1.1.3. Visibilitas dan Akustik ... 42

V.1.2. Kondisi Biofisik ... 46


(13)

V.1.2.4. Iklim Mikro ... 50

V.1.3. Kondisi Sosial ... 51

V.3.1. Potensi Pengunjung ... 51

V.2. Sintesis ... 53

VI. KONSEP PERANCANGAN TAMAN VI.1. Konsep Desain ... 55

VI.2. Pengembangan Konsep ... 56

VI.2.1. Konsep Ruang ... 57

VI.2.2. Konsep Aktivitas dan Fasilitas ... 58

VI.2.3. Konsep Sirkulasi dan Aksesibilitas ... 60

VI.2.4. Konsep Vegetasi ... 61

VI.2.5. Konsep Visibilitas ... 62

VI.3. Block Plan ... 63

VII. PERANCANGAN VII.1. Desain Taman Tepian Sungai Martapura ... 65

VII.2.Detail Peruntukan Ruang ... 66

VII.2.1. Rencana Ruang Penerimaan ... 66

VII.2.2. Rencana Ruang Rekreasi Aktif ... 66

VII.2.3. Rencana Ruang Rekreasi Pasif ... 66

VII.2.4. Rencana Ruang Penyangga ... 67

VII.3. Detail Desain ... 83

VII.3.1. Sirkulasi ... 83

VII.3.1.1. Sirkulasi Primer/Utama ... 83

VII.3.1.2. Sirkulasi Sekunder ... 84

VII.3.2. Board walk/Dek ... 85

VII.3.3. Fasilitas Taman ... 89

VII.3.3.1. Amphiteater ... 89


(14)

VII.3.3.5. Retaining Wall ... 90

VII.3.3.6. Tempat Duduk ... 92

VII.3.3.7. Tempat Parkir ... 92

VII.3.4. Elemen Estetik ... 92

VII.3.5. Pencahayaan ... 102

VII.3.6. Planting Plan ... 104

VII.3.6.1. Vegetasi untuk Fungsi Ekologis ... 104

VII.3.6.2. Vegetasi untuk Fungsi Arsitektural ... 104

VIII PENUTUP VIII.1. Simpulan ... 112

VIII.2. Saran ... 113


(15)

Teks

Halaman

1. Jenis, Bentuk, Sumber dan Cara Pengambilan Data ... 18

2. Tata Guna Lahan Kota Banjarmasin... 22

3. Pertumbuhan PDRB Kota Banjarmasin 2006-2008 ... 28

4. Luas, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Tiap Kecamatan ... 29

5. Jumlah Penduduk Banjarmasin menurut Jenis Kelamin ... 29

6. Analisis Sifat Fisik Tanah... 47

7. Hasil Analisis / Sintesis... 53

8. Konsep Ruang, Aktivitas dan Fasilitas... 58

9. Peruntukan Ruang Taman Tepian Sungai... 67


(16)

Halaman

1. Kerangka Pikir Penelitian ... 3

2. Contoh Suasana di Dermaga ... 13

3. Peta Orientasi Lokasi Penelitian ... 15

4. Bagan Proses Perancangan Taman Tepian Sungai ... 16

5. Peta Administrasi Kota Banjarmasin ... 20

6. Peta Struktur Ruang Kota Banjarmasin ... 23

7. Lokasi Penelitian ... 30

8. Kondisi Tapak dari Jembatan Mereka dan Jembatan Ps. Lama ... 31

9. Kondisi Umum Tapak ... 32

10. Akses Jalan Menuju Tapak ... 34

11. Moda Transportasi Perahu Mesin (Klotok) dan Perahu Jukung ... 34

12. Beberapa Jenis Vegetasi pada Tapak ... 37

13. Peta Sebaran Vegetasi pada Tapak ... 37

14. Kegiatan yang Dilakukan Pengunjung di Sungai Martapura ... 38

15. Kegiatan yang dilakukan Pengunjung pada Tapak ... 39

16. Analisis Fisik Tapak ... 43

17. Analisis Sirkulasi ... 44

18. Analisis View dan Akustik ... 45

19. Ilustrasi Kendala Perbedaan Level Ketinggian Permukaan ... 46

20. Analisis Hidrologi ... 48

21. Keefektifan Vegetasi dalam Menjerap Radiasi Sinar Matahari ... 49

22. Pohon dan Semak sebagai Peredam Bising dan Penjerap Polusi Debu ... 50

23. Analisis Iklim Mikro Tapak ... 52

24. Ilustrasi Konsep Desain... 56

25. Konsep Tata Ruang ... 58

26. Image Kegiatan Olahraga di Tepian Sungai ... 59

27. Image Aktivitas Duduk-Duduk Menikmati Pemandangan, dsb ... 59

28. Beberapa Contoh Fasilitas Penunjang Rekreasi di Riverfront Park ... 60


(17)

32. Ilustrasi Konsep Borrowing Scenery ... 63

33. Block Plan ... 64

34. Site Plan ... 69

35. Site Plan (Segmen 1) ... 70

36. Potongan Tampak (Segmen 1) ... 71

37. Site Plan (Segmen 2) ... 72

38. Potongan Tampak (Segmen 2) ... 73

39. Site Plan (Segmen 3) ... 74

40. Potongan Tampak (Segmen 3) ... 75

41. Sketsa Perspektif Keseluruhan (Mata Burung) ... 76

42. Sketsa Perspektif pada AreaMain Entrance ... 77

43. Sketsa Perspektif pada Lawn dan Sitting Area ... 78

44. Sketsa Perspektif pada Lawn Berundak ... 79

45. Sketsa Perspektif pada Boardwalk & Dek ... 80

46. Sketsa Perspektif pada Dermaga ... 81

47. Sketsa Perspektif pada Area Foodcourt & Dermaga ... 82

48. Contoh Jenis Pavement ... 84

49. Image Bike Marker ... 85

50. Image Boardwalk atau Titian ... 85

51. Material Bollard, Rak Sepeda & Gabion Wall... 86

52. Gambar Tampak A dan B ... 87

53. Detail Multimode dan Boardwalk ... 88

54. Image Rak Sepeda ... 90

55. Contoh Penggunaan Bronjong atau Gabion Wall ... 91

56. Contoh Metal Artwork ... 93

57. Material Dermaga & Plasa ... 94

58. Gambar Tampak F, G dan H ... 95

59. Detail Tangga, Shelter dan Amphiteater ... 96

60. Detail Artwork & Sculpture ... 97


(18)

64. Detail Area Parkir ... 101

65. Contoh Tipe-Tipe Pencahayaan ... 102

66. Pencahayaan ... 103

67 Planting Plan (Pohon) ... 105

68 Planting Plan(Shrubs & Cover) ... 106

69. Detail Penanaman Pohon ... 107


(19)

Halaman


(20)

I.1 Latar Belakang

Banjarmasin adalah ibukota propinsi Kalimantan Selatan dengan jumlah penduduk 627.245 jiwa (BPS, 2008) dan luas wilayah 97 km2 atau 0,26 % dari luas wilayah Kalimantan Selatan. Kota ini memiliki ciri khas sebagai kota sungai kerena sebagian besar wilayahnya dialiri oleh sungai-sungai besar dan kecil. Banjarmasin memiliki 103 sungai. Sungai-sungai yang ada di Banjarmasin ini dipengaruhi pasang surut air laut dan pada saat pasang wilayah daratan berada 0,16 m di bawah permukaan air laut.

Sungai Barito merupakan sungai terbesar sekaligus sebagai sungai utama sungai-sungai yang melewati Kota Banjarmasin. Wilayah Kota yang dilalui banyak sungai ini memberikan ciri khas tersendiri bagi kehidupan masyarakatnya terutama pemanfaatan sungai sebagai sarana transportasi, perdagangan dan pariwisata. Salah satu anak Sungai Barito yaitu Sungai Martapura merupakan anak sungai yang membelah kota dan mengalir melewati pusat kota. Bagi masyarakat kota, sungai ini memiliki arti penting sebagai ruang kehidupan masyarakat seperti halnya sungai-sungai lainnya yaitu sebagai sarana transportasi, pusat aktivitas perdagangan, pariwisata serta MCK.

Pertumbuhan kota yang pesat tanpa diikuti dengan perencanaan dan penataan ruang kota yang benar akan mengakibatkan penurunan kualitas kota. Kondisi sungai pada kota ini seperti sungai pada kota-kota besar lainnya di Indonesia dimanfaatkan secara optimal, sehingga sungai masih berada di belakang rumah atau bangunan sehingga sungai masih dianggap sebagai tempat yang kotor dan secara lanskap tidak memiliki nilai manfaat lingkungan bagi masyarakat. Sungai yang merupakan elemen lanskap kota memiliki potensi meningkatkan kualitas kenyamanan dan keindahan kota serta menambah nilai ekonomis akan jasa lingkungan dari sungai itu sendiri. Pemanfaatan ruang terbuka pada daerah sepanjang sungai atau dikenal daerah sempadan sungai masih belum optimal, padahal ruang terbuka ini dapat menjadi area pendukung ekosistem sungai dan area rekreasi kota sehingga dapat menjadi ruang publik yang fungsional bagi masyarakat kota.


(21)

Salah satu hal yang dapat dilakukan guna memanfaatkan ruang terbuka tersebut adalah dengan merancang suatu taman di tepian sungai (siring). Perancangan taman tepian sungai ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas tepian Sungai Martapura sekaligus kualitas Kota Banjarmasin dan menyediakan tempat rekreatif yang nyaman bagi masyarakat Kota Banjarmasin untuk menghilangkan lelah beraktivitas ataupun hanya melakukan kegiatan santai seperti duduk-duduk melihat keindahan sungai Martapura. Taman ini dirancang menghadap sungai dan sungai menjadi elemen utama taman, serta dapat merepresentasi kawasan disekitarnya.

I.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Menyusun konsep perancangan taman tepian sungai yang fungsional serta memiliki kualitas estetika yang baik

2. Merancang taman tepian sungai Sungai Martapura Kota Banjarmasin menjadi kawasan yang berdaya guna, bernilai indah dan lestari tanpa menghilangkan karakteristik lokal Banjar yang ada serta dapat mengakomodasi kebutuhan rekreasi masyarakat Kota Banjarmasin.

I.3 Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Menjadi bahan masukan bagi pemerintah Kota Banjarmasin dalam merancang tepian Sungai Martapura, Kota Banjarmasin

2. Menjadi wawasan bagi arsitek lanskap dalam merancang taman tepian sungai yang fungsional dan estetik

3. Menjadi bahan referensi taman tepian sungai pada tempat lain di Banjarmasin

I.4 Kerangka Pikir

Kota Banjarmasin merupakan kota sungai, yang sebagian besar wilayahnya dialiri oleh sungai-sungai besar dan kecil. Sungai Martapura ialah anak Sungai Barito yang mengalir melewati pusat kota. Daerah sempadan atau


(22)

tepian Sungai Martapura berpotensi dikembangkan menjadi Riverfront Park yang dapat meningkatkan nilai ekologis dan estetika Kota Banjarmasin, serta menjadi area rekreasi masyarakat kota. Oleh karenanya perlu dilakukan perancangan taman tepian sungai yang berbasis Waterfront Area.

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian

Kota Banjarmasin 103 Sungai

Kota Sungai

Sungai Martapura Sungai yang Membelah Kota

PERANCANGAN TAMAN TEPIAN SUNGAI

Tepian Sungai Martapura

Riverfront Area

Taman Tepian Sungai Martapura Ruang Terbuka yang Rekreatif Sungai Menjadi Halaman Belakang Bangunan

Degradasi Sungai

Kebutuhan Masyarakat akan Ruang Terbuka/Publik sebagai Tempat Rekreasi Kota


(23)

II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Perancangan Taman

Menurut Booth (1983), kegiatan perancangan ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan manusia, dimana bertujuan agar fleksibel dan dapat mengakomodasi sarana kuno dengan yang baru. Perancangan merupakan kombinasi ilmu dan seni yang berfokus pada penggabungan manusia dengan aktivitas di ruang luar. Sedangkan Simonds (1983), mengemukakan bahwa perancangan adalah proses kreatif yang mengintegrasikan aspek teknologi, sosial, ekonomi dan biologi serta aspek psikologis dan fisik yang ditimbulkan dari bentuk, bahan, warna dan ruang, tekstur dan kualitas lainnya yang merupakan hasil pemikiran yang saling berhubungan. Perancangan ini ditujukan pada penggunaan volume ruang.

Selanjutnya Simonds dan Starke (1986) menjelaskan bahwa desain ruang dapat memberikan dampak yang berbeda pada fisik, psikologis dan fisiologis manusia. Fisik berkaitan erat dengan hubungan ukuran skala manusia dan bentuk lingkungan. Kebutuhan fisiologis manusia dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, udara, air dan hal-hal yang memberikan kenyamanan. Pengaruh fisiologis tergantung pada pengorganisasian ruang, misalnya gerakan, keriangan, keberanian, ketegasan, keheningan dan perenungan.

Sedangkan menurut Laurie (1986), perancangan pertamanan merupakan suatu proses melalui mana kualitas-kualitas khusus dicurahkan pada ruang-ruang dragmatis rencana tapaknya dan merupakan tingkatan lain atas mana arsitektur pertamanan dapat dibahas ataupun dikritik.

Taman merupakan ruang-ruang dengan penggunaan yang terbatas dan bentukan yang fleksibel, dikembangkan dengan sedikit konstruksi, digunakan untuk relaksasi sampai menikmati pemandangan, merenung, meditasi, tidur, bermimpi, bercinta, bersosialisasi yang tidak ramai dan permainan bebas. Ruang ini mempunyai intensitas terbatas dan tidak spesifik (Eckbo, 1964).

Material perancangan taman menurut Crowe (1981) yaitu land form, plant material, water, sculpture forms, garden boundaries dan ground pattern. Land form adalah bentukan lahan alami yang merupakan sebuah pondasi bagi setiap lanskap. Material tanaman atau plant material merupakan salah satu media untuk


(24)

berkreasi dalam merancang suatu taman, selain itu juga dapat memperbaiki iklim mikro. Elemen air berguna menciptakan keseimbangan lingkungan serta memberikan kesejukan. Sculpture form adalah salah satu bentuk seni, biasanya berupa suatu patung atau pahatan yang terbuat dari batu dan berfungsi untuk menghias taman dan sculpture ini telah ada sejak zaman Romawi. Garden

boundaries salah satu elemen penting dalam suatu taman yang berfungsi untuk

membatasi area taman dengan area sekitarnya, biasanya berupa pagar yang terbuat dari kayu, beton, besi atau berupa ha-ha wall atau dengan elemen air. Ground pattern adalah pola yang diterapkan untuk penutup tanah, berupa material tanaman seperti rumput atau yang terbuat dari perkerasan yaitu pola paving.

II.1.1. Elemen Taman

Dalam lanskap terdapat dua jenis elemen lanskap, yaitu elemen lanskap mayor dan elemen lanskap minor. Elemen lanskap mayor terdiri dari bentuk alam seperti topografi, pegunungan, lembah sungai dan kekuatan alam seperti angin, suhu, curah hujan yang relatif sulit diubah oleh manusia. Sedangkan yang disebut elemen minor adalah elemen yang masih dapat dimodifikasi atau diubah oleh manusia, seperti bukit, anak sungai dan hutan-hutan kecil. Perubahan yang dilakukan secara garis besar dapat menimbulkan beberapa efek, diantaranya melestarikan, merusak, mengubah dan memberi penekanan. Secara umum elemen lanskap dibagi menjadi soft materials dan hard materials. Karakter tapak yang menarik harus dipertahankan atau diciptakan, sehingga semua elemen yang banyak bervariasi dapat menjadi satu kesatuan yang harmonis (Simonds, 2006).

II.1.2. Elemen Desain

Menurut Hakim (2006), persepsi visual tentang ruang dan massa terdiri dari empat unsur utama (elemen desain), yaitu garis, bentuk, warna dan tekstur. Karakteristik dari tiap unsur dapat diintegrasikan ke dalam komposisi visual, walaupun satu atau lebih unsur-unsur dapat mendominasi. Kemudian, Simonds (1983) menambahkan perancangan ditekankan pada penggunaan volume dan ruang. Setiap volume dan ruang memiliki bentuk, tekstur, ukuran, bahan, warna


(25)

dan kualitas lain. Semuanya dapat mengekspresikan dan mengakomodasikan fungsi-fungsi yang ingin dicapai dengan baik.

Booth (1983) menyatakan bahwa elemen-elemen desain harus dikordinasikan untuk memunculkan aspek-aspek positif dari masing-masing elemen, sementara secara bersamaan mengurangi kualitas-kualitas lemahnya. Setiap elemen-elemen disain saling mempengaruhi.

II.1.2. Prinsip Desain

Reid (1993) menyatakan bahwa perancangan lanskap suatu kawasan harus mengikuti prinsip-prinsip desain. Penerapan prinsip-prinsip desain di dalam perancangan berguna untuk menghasilkan karya lanskap yang fungsional, estetik dan berkelanjutan. Menurut Ingels (2003), ada enam prinsip desain yang digunakan dalam seni murni maupun aplikasi pada abad ini, keenam prinsip desain tersebut adalah:

1. Balance (Keseimbangan)

Keseimbanganadalah sesuatu yang baik untuk dilihat. Secara fisik kita merasakan ketidaknyamanan saat kita tidak seimbang. Ada tiga tipe keseimbangan yaitu simetrik, asimetrik dan proksimal. Keseimbangan simetrik adalah keseimbangan yang ada pada taman-taman formal, satu sisi merupakan pencerminan dari sisi lainnya. Keseimbangan asimetrik adalah keseimbangan yang informal, komposisi satu sisi dengan sisi lainnya sama, hanya saja berbeda dalam penggunaan materialnya. Sedangkan keseimbangan proksimal memiliki kesamaan dengan keseimbangan asimetrik, hanya saja pendistribusiannya lebih jauh dan dalam.

2. Focal point

Focal point adalah prinsip desain yang memiliki posisi penglihatan yang kuat dan dominan dalam suatu komposisi lanskap. Focal point dapat dibentuk dari tanaman, perkerasan, elemen arsitektural, warna, tekstur atau kombinasi dari semuanya.


(26)

3. Simplicity (Kesederhanaan)

Sama seperti prinsip desain keseimbangan, kesederhanaan akan membuat perasaan yang lebih nyaman dalam suatu lanskap. Kompleksitas tidak selalu menjadi lawan dari kesederhanaan tergantung bagaimana desain lanskap itu difokuskan.

4. Ritme

Saat dimana pengulangan dengan standar interval yang berpola tertentu maka ritme akan terbentuk. Dalam desain lanskap, interval biasanya terukur dalam suatu ruang suatu interval tertentu dan terpola secara terukur dalam pola ruang.

5. Proporsi

Proporsi difokuskan dengan hubungan ukuran antar pola-pola dalam suatu lanskap. Proporsi termasuk bentukan hubungan vertical dan horizontal yang ada dalam spasial.

6. Unity

Unity adalah penyatuan dari bagian-bagian yang terpisah yang

berperan untuk mengkreasikan keseluruhan dari desain.

II.2. Rekreasi

Menurut Gold (1980), rekreasi adalah apa yang terjadi dalam hubungan dengan kepuasan diri yang diperoleh melalui pengalaman. Rekreasi juga dapat diartikan sebagai segala kegiatan yang dilakukan seseorang untuk dapat menyegarkan kembali sifat mentalnya serta dapat bermanfaat.

Rekreasi biasanya dihubungkan dengan pemilihan berbagai aktivitas oleh individu atau kelompok baik yang bersifat aktif maupun pasif. Rekreasi aktif dimana kegiatan rekreasi lebih didominasi pada manfaat fisik daripada mental. sedangkan untuk rekreasi pasif adalah rekreasi yang lebih berorientasi manfaat mental daripada fisik. Aktivitas rekreasi terjadi pada beberapa tingkatan umur manusia, aktivitas rekreasi juga merupakan kegiatan yang ditentukan oleh waktu, kondisi, sikap manusia dan lingkungan.


(27)

II.3. Urban Waterfront

II.3.1. Definisi dan Fungsi Waterfront

Waterfront merupakan penerapan konsep tepian air (laut, sungai, danau, muara) sebagai halaman depan, dimana tepian air tersebut dipandang sebagai bagian lingkungan yang harus dipelihara, bukan halaman belakang yang dipandang sebagai tempat pembuangan (Nugroho, 2000).

Waterfront sungai atau kanal di dalam kota disamping berfungsi sebagai kawasan saluran utama pengendali banjir dan saluran pembuangan limbah air kotor bagi penduduknya, juga memiliki fungsi sebagai ruang publik yang dapat menampung kegiatan interaksi sosial masyarakat, kegiatan ekonomi rakyat dan tempat rekreasi budaya (Anonim, 2010). Sedangkan Simonds (2006) menambahkan, lakeshore dan waterfront menjadi fokus dari perkembangan publik, pusat perhatian dan kebanggaan banyak kota.

Fungsi dari waterfront kota merupakan keterkaitan antara kebutuhan dan karakteristik sebuah kota dan memiliki rentetan perkembangan yang sama. Pada awal perkembangan kota, waterfront memiliki fungsi basis perdagangan, perkapalan/transportasi, pemancingan dan pertahanan. Rekreasi sering dianggap sebagai kebutuhan tambahan dan seringkali waterfront dianggap dengan sendirinya menyediakan ruang terbuka dan rekreasi yang cukup untuk penduduk kota (Anonim, 2010).

II.3.2. Pengklasifikasian Waterfront

Berdasarkan tipe proyeknya dapat dibedakan menjadi 3 jenis , yaitu:

1. Konservasi, penataan waterfront kuno atau lama yang masih ada sampai saat ini dan menjaganya agar tetap dinikmati oleh masyarakat.

2. Redevelopment adalah upaya menghidupkan kembali fungsi-fungsi

waterfront lama yang sampai saat ini masih digunakan untuk

kepentingan masyarakat dengan mengubah atau membangun kembali fasilitas-fasilitas yang ada.

3. Development adalah usaha menciptakan waterfront yang memenuhi

kebutuhan kota saat ini dan masa depan dengan cara mereklamasi pantai.


(28)

Sedangkan berdasarkan fungsinya, waterfront dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu:

1. Mixed-used waterfront adalah waterfront yang merupakan kombinasi dari perumahan, perkantoran, restoran, pasar, rumah sakit dan / atau tempat-tempat kebudayaan.

2. Recreational waterfront adalah semua kawasan waterfront yang

menyediakan sarana-sarana dan prasarana untuk kegiatan rekreasi, seperti taman, arena bermain, tempat pemancingan dan fasilitas untuk kapal persiar.

3. Residential waterfront adalah perumahan, apartemen dan resort yang

dibangun di pinggir perairan.

4. Working waterfront adalah tempat-tempat penangkapan ikan

komersial, reparasi kapal pesiar, industri berat dan fungsi-fungsi pelabuhan (Anonim, 2010)

II.3.3. Karakter Visual Waterfront

Waterfront sering dikatakan memiliki kualitas visual yang tinggi. Kualitas visual tersebut dicapai melalui bentuk, tekstur dan fitur spesial waterfront, berupa permukaan air yang luas. Walaupun ada beberapa latar yang standar untuk sebuah

waterfront, tetapi setiap latar pasti memiliki karakter visual berbeda. Hal ini ditentukan oleh bermacam-macam elemen fisik yang membentuk sebuah

waterfront dan respon sang pengamat terhadap elemen-elemen tersebut (Anonim, 2010).

1. Bentuk

Secara konseptual, lanskap terbuat dari pinggiran dan ruang. Pinggiran memberikan bentuk pada apa yang dilihat mata manusia dengan memberikan batas spasial. Dalam hal ini, dapat dianggap tidak ada pembatas yang lebih jelas daripada perbatasan antara pertemuan air dan daratan.

2. Tekstur

Waterfront biasanya memiliki tekstur visual yang kaya. Hal ini


(29)

membangun fasilitas-fasilitas di waterfront, dan keadaan cuaca yang menyebabkan perubahan tekstur sehingga perbedaan banguna baru dan lama menjadi terlihat. Material-material seperti kayu, granit dan bata memiliki tekstur yang lebih kaya dan kasar daripada besi dan kaca.

3. Vegetasi

Vegetasi juga dapat menjadi sebuah fitur dalam mempengaruhi karakter visual sebuah waterfront. Secara umum, tumbuhan-tumbuhan memperhalus tampilan visual.

4. Focal Point

Kualitas visual sebuah waterfront juga dapat ditingkatkan dengan kehadiran elemen khas yang hanya bisa ditemukan di sepanjang pinggiran air. Elemen-elemen seperti kapal-kapal fery, marina, fasilitas perbaikan kapal dan fasilitas penunjang kegiatan perairan lainnya, dapat menstimulasi ketertarikan pengunjung karena kejarangan pemandangan yang ditemukan di kota. elemen-elemen ini seringkali dijadikan sebagai

focal point dari karakter visual sebuah waterfront. Sedangkan dari segi aktivitasnya, Munandar (2009) menjelaskan bahwa dalam perancangan

waterfront development terdapat aktivitas sosial (budaya) yang menjadi elemen penting dan tidak dimiliki oleh kawasan lain, seperti floating market, festival perahu, laying-layang dan gondola.

II.4. Perancangan Waterfront Park

Wren (1983) dan Toree (1989) menambahkan, perancangan tepian air mempunyai dua aspek penting yang mendasari keputusan-keputusan serta solusi rancangan yang dihasilkan. Kedua aspek tersebut adalah faktor geografis serta konteks perkotaan. Aspek-aspek dasar perancangan konsep waterfront development adalah:

1. Faktor Geografis, merupakan faktor yang menyangkut geografis kawasan dan akan menentukan jenis serta pola penggunaanya. Termasuk di dalam hal ini adalah kondisi perairan, yaitu dari segi jenis (laut, sungai, dst), dimensi, konfigurasi, pasang-surut, serta


(30)

kualitas airnya. Sehingga untuk aspek ini dapat kelompokan sebagai berikut:

a. Kondisi lahan, yaitu ukuran, konfigurasi, daya dukung tanah, serta kepemilikannya.

b. Iklim, yaitu menyangkut jenis musim, temperature, angin dan curah hujan.

2. Konteks perkotaan (Urban context) adalah faktor-faktor yang nantinya akan memberikan ciri khas tersendiri bagi kota yang bersangkutan serta menentukan hubungan antara kawasan waterfront yang dikembangkan dengan bagian kota terkait. Termasuk dalam aspek ini adalah:

a. Pemakai, yaitu mereka yang tinggal, bekerja atau berwisata di kawasan waterfront atau sekedar merasa memiliki kawasan tersebut sebagai sarana publik

b. Khasanah sejarah dan budaya, yaitu situs atau bangunan bersejarah yang perlu ditentukan arah pengembangannya, misalnya restorasi, renovasi atau penggunaan adaptif serta bagian tradisi yang perlu dilestarikan.

c. Pencapaian dan sirkulasi, yaitu akses dari dan menuju tapak serta pengaturan sirkulasi di dalamnya.

d. Karakter visual, yaitu hal-hal yang akan memberi ciri yang membedakan satu kawasan waterfront dengan lainnya.

Sedangkan menurut Munandar (2009), dalam pengolah kawasan tepian air, beberapa elemen dapat diberikan penekanan dengan memberikan solusi desain yang spesifik, yang membedakan dengan olahan kawasan lainnya atau yang dapat memberikan kesan mendalam sehingga selalu dikenang oleh pengunjungnya. Di antara elemen-elemen penting dalam perancangan waterfront development adalah:

a. Pesisir

Kawasan tanah atau pesisir yang landai atau datar dan langsung berbatasan dengan air. Merupakan tempat berjemur atau duduk-duduk dibawah keteduhan pohon (kelapa atau jenis pohon pantai lainnya) sambil menikmati pemandangan perairan.


(31)

b. Promenade/Esplanade

Perkerasan di kawasan tepian air untuk berjalan-jalan atau berkendara (sepeda atau kendara tidak bermotor lainnya) sambil menikmati pemandangan perairan. Bila permukaan perkerasan hanya sedikit di atas permukiman air disebut promenade, sedangkan perkerasan yang diangkat jauh lebih tinggi dari permukaan seperti balkon, disebut esplanade. Pada beberapa tempat dari promenade dapat dibuat tangga turun ke air, yang disebut tangga pemandian atau baptismal steps.

c. Dermaga

Tempat bersandar kapal/perahu yang sekaligus berfungsi sebagai jalan di atas air untuk menghubungkan daratan dengan kapal atau perahu. Pada masa kini dermaga dapat diolah sebagai elemen arsitektural dalam penataan kawasan tepian air dan diperluas fungsinya antara lain sebagai tempat berjemur.

d. Jembatan

Penghubung antara dua bagian daratan yang terpotong oleh sungai atau kanal. Jembatan adalah elemen yang sangat popular guna mengekspresikan misi arsitektural tertentu, misalnya tradisional atau high-tech, sehingga sering tampil sebagai sebuah sculpture. Banyak jembatan yang kemudian menjdi Lengaran (Landmark) bagi kawasanya, misalnya Golden Gate di San Fransisco atau Tower Bridge di London.

e. Pulau buatan/bangunan air

Bangunan atau pulau yang dibuat atau dibangun di atas air sekitar daratan, untuk menguatkan kehadiran unsur air di kawasan tersebut. Bangunan atau pulau ini bisa terpisah sama sekali dari daratan, bisa juga dihubungkan dengan jembatan yang merupakan satu kesatuan perancangan. f. Ruang terbuka (urban space)

Berupa taman atau plaza yang dirangkaikan dalam satu jalinan ruang dengan kawasan tepian air. Contoh klasik dari rangkaian urban space di kawasan tepian air adalah Piazza de La Signoria yang dihubungkan dengan

ponte Veccnio, di Firenze serta Piazza San Marco dengan Grand Canal, di Venezia.


(32)

g. Aktivitas

Guna mendukung penataan fisik yang ada, perlu dirancang kegiatan untuk meramaikan atau memberi ciri khas pada kawasan pertemuan antara daratan dan perairan. Floating market misalnya, adalah kegiatan tradisional yang dapat ditampilkan untuk menambah daya tarik suatu kawasan

waterfront, sedang festival market place adalah contoh paduan aktivitas (hiburan dan perbelanjaan) jenis kegiatan yang bisa ditampilkan secara berkala, misalnya festival perahu/gondola atau layang-layang.

Gambar 2. Contoh Suasana di Dermaga (Sumber : Time Saver Standard for Landscape Arcitecture)

II.5. Riverfront Park

II.5.1. Lanskap Riparian

Lanskap tepi sungai mengkaji sistem ekologi daerah sungai dan dataran banjir dari perspektif ekologi lanskap. Pola tata ruang khusus vegetasi tepi sungai dilihat sebagai akibat dari, dan kontrol pada proses-proses ekologi, geomorfologi dan hidrologi yang beroperasi di sepanjang sungai. Lanskap tepi sungai juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan sumber daya air dan penggunaan lahan terkait

Wilayah tepi sungai adalah lingkungan unik karena posisi mereka dalam lanskap, yaitu daerah ecotones dimana area peralihan antara zona terestrial dan perairan serta koridors seluruh area. Lingkungan riparian melayani fungsi beragam dan memiliki nilai yang berbeda tergantung pada pengaturan fisik, biologis dan budaya. Perbedaan nilai sering menyebabkan kerusakan beberapa nilai untuk kepentingan lain


(33)

II.5.2. Pedoman Desain Area Tepi Sungai

Menurut Mclaren (2000), pedoman desain terdiri dari empat bagian, antara lain:

a. General, pedoman ini mencakup masalah-masalah berskala besar atau

unsur-unsur yang umum dan untuk dimasukkan dalam pengembangan semua, seperti arah sinar matahari, angin, temperature, view, karakter,

public safety dan akses, pelayanan dan tempat parkir.

b. Site features and infrastructure, pedoman ini mencakup

pengembangan tapak baik untuk keperluan publik maupun private seperti shelter dan struktur lain bukan bangunan, contohnya gerbang/pintu masuk, jalan, pusat pertemuan/node, signage/papan informasi, shelter, pemecah angin, vegetasi, pencahayaan, tempat duduk, site furniture, river edge conditions, bollards dan bumper rails, dll.

c. Building. pedoman yang mengatur bangunan atau struktur

dimaksudkan untuk digunakan atau hunian pada properti publik atau

private. seperti orientasi, karakter, setbacks, masa bangunan, dsb.

d. Daerah pusat masyarakat, pedoman catatan ketentuan untuk area lebih intens digunakan masyarakat.


(34)

III. METODOLOGI

III.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian mengenai Perancangan Taman Tepian Sungai Martapura ini terletak di Kelurahan Gedang dan Seberang Masjid, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Propinsi Kalimantan Selatan (Gambar 2). Kegiatan penelitian ini dimulai dari bulan Maret 2010 sampai dengan Juni 2010 dan penyusunan skripsi hingga Mei 2011.

Gambar 3. Peta Orientasi Lokasi Penelitian (Sumber : google.com dan Foto Citra

Geo Eye, 2009)

III.2. Tahapan Penelitian

Tahapan penelitian ini dilakukan dalam empat tahapan, yaitu persiapan, pengumpulan data, pengolahan data (konsep, analisis dan sintesis) dan kegiatan perancangan. Dimana pada tahapan persiapan dan pengumpulan data dilakukan dengan turun lapang ke lokasi selanjutnya untuk tahapan pengolahan data dan

Tanpa skala

Lo ka si Pe ne litia n

Pe ta Ka lim a nta n Se la ta n Pe ta Ba nja rm a sin

Ta np a Ska la Ta np a Ska la Ta np a Ska la


(35)

perancangan dilakukan di studio (Bogor). Bagan proses penelitian ini terlihat pada gambar 4.

Gambar 4. Bagan Proses Perancangan Taman Tepian Sungai

III.2.1. Persiapan

Pada tahap ini dilakukan perumusan masalah dan penetapan tujuan penelitian sebagai usulan untuk melakukan perancangan taman tepian Sungai Martapura Kota Banjarmasin ini. Kemudian dilakukan pengumpulan informasi awal mengenai lokasi penelitian dan menyusun rencana kegiatan. Pada tahap ini juga dilakukan pengurusan perijinan untuk melakukan penelitian.

III.2.2. Pengumpulan Data

Merupakan tahap pengumpulan data yang diperlukan berupa data, fisik, biofisik dan sosial, sebagian besar kegiatan pengumpulan data ini dilakukan dengan cara inventarisasi tapak secara langsung.

1. Data fisik, meliputi lokasi, batas dan luas tapak serta data tekni seperti, data mengenai teknis kontruksi baik hard materials maupun soft materials. Data ini diperoleh dari survei/data primer dan studi pustaka dari berbagai sumber/data sekunder.

2. Data biofisik, meliputi data hidrologi, iklim, tanah, serta topografi. Data ini diperoleh dari data sekunder dan juga melalui survei langsung pada

Persiapan Pengumpulan

data Analisis dan Sintesis Potensi dan Kendala Perancangan Data Fisik Data Biofisik Data Sosial Usulan dan perijinan Konsep Perancangan

Site Plan & Detail Desain


(36)

tapak unutk melihat kesesuaian antara data sekunder dengan kondisi eksisting yang sebenarnya.

3. Data sosial, meliputi data demografi Kota Banjarmasin yang diperoleh dari sumber terkait, kemudian melihat dan mengetahui pola tingkah laku dan keinginan dari masyarakat kota mengenai kawasan lokasi penelitian dengan melakukan wawancara langsung menggunakan kuisoner kepada pengunjung tapak. Format dan bentuk kuisoner dapat dilihat pada lampiran.

Jenis, Bentuk, Sumber Data dan Cara pengambilan data dijelaskan pada tabel 1.

III.2.3. Analisis dan Sintesis

Data yang diperoleh kemudian dianalisis ke dalam sub-sub bagian, yaitu analisis fisik, biofisik tapak dan analisis sosial. Analisis fisik dan biofisik tapak dilakukan meliputi fisik tapak atau sumberdaya tapak, yaitu potensi serta kendala yang ada pada tapak. Sedangkan untuk analisis sosial melakukan analisis meliputi identitas dan preferensi dari pengunjung tapak termasuk di dalamnya persepsi mengenai rancangan tapak untuk menjadi bahan pertimbangan dalam proses analisis dan tahapan-tahapan selanjutnya. Analisis ini dilakukan secara deskriptif spasial maupun tabular.

III.2.4. Konsep Perancangan

Pada tahap ini dilakukan pembuatan konsep dasar dan konsep perancangan taman tepian sungai yang kemudian dikembangkan berdasarkan hasil analisis/sintesis potensi dan kendala yang telah dilakukan sebelumnya. Pengembangan konsep ini meliputi konsep ruang, sirkulasi, vegetasi/tata hijau serta aktivitas dan fasilitas.

III.2.5. Perancangan Lanskap

Pada tahap ini dilakukan proses perancangan dimulai dengan pembuatan

block plan, yaitu penggambaran keseluruhan konsep yang telah dibuat


(37)

fungsional serta aktivitas dan fasilitas pada taman tepian sungai ini. Hasil block plan ini kemudian diterjemahkan ke dalam gambar rancangan akhir.

Tabel 1. Jenis, Bentuk, Sumber dan Cara Pengambilan Data

III.3. Batasan Penelitian

Batasan penelitian ini adalah untuk menghasilkan produk gambar teknis berupa Site plan, rancangan detail beberapa bagian tapak, detail potongan, detail

Kelompok

Data Jenis Data Bentuk Sumber

Cara Pengambilan

Fisik

Luas Primer,

sekunder

Tapak, Bapedda Banjarmasin

Survei, studi pustaka

Batas Primer,

sekunder

Tapak, Bapedda Banjarmasin

Survei, studi pustaka

Bangunan Primer,

sekunder

Tapak, Bapedda Banjarmasin

Survei, studi pustaka Aksesibilitas & Sirkulasi Primer Tapak Survei Visibilitas & Akustik Primer Tapak Survei Kemiringan Sekunder Bappeda

Banjarmasin

Studi pustaka Detail kontruksi

elemen-elemen hard materials

dan soft materials

Sekunder Dinas Pekerjaan Umum, Bapedda Banjarmasin

Studi Pustaka

Biofisik

Tanah Sekunder Bapedda

Banjarmasin

Studi Pustaka Vegetasi & Satwa Primer Tapak Survei Hidrologi Sekunder Dinas Sungai Studi pustaka

Angin Sekunder St.Klimatologi

Banjarmasin

Studi pustaka

Suhu Sekunder St.Klimatologi

Banjarmasin Studi pustaka Sosial & Budaya Pengunjung, aktivitas, tipe pengunjung

Primer Kuesioner Survei

Preferensi/keinginan pengunjung

Primer Kuesioner Survei Kebiasaan masyarakat Primer Kuesioner Survei Sejarah Kawasan Primer Kuesioner

Bappeda Banjarmasin


(38)

penanaman, detail perkerasan, detail fasilitas dan gambar ilustrasi, seperti gambar tampak dan gambar perspektif.

III.4. Alat dan Bahan

Alat-alat yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi :

1. Global Positioning System (GPS), yang digunakan untuk menentukan

bentuk, serta posisi titik koordinat dari lokasi penelitian.

2. Meteran, yang digunakan untuk mengukur dimensi panjang dan lebar tapak.

3. Komputer dengan software AutoCAD 2007, Google SketchUp 7 dan

Adobe Photoshop CS3 yang digunakan untuk membuat gambar/grafis,

serta Microsoft Word 2007, Microsoft Excel 2007 yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian.


(39)

IV. HASIL INVENTARISASI

IV.1. Kondisi Umum Kota Banjarmasin IV.1.1. Kondisi Fisik

IV.1.1.1. Administrasi dan Geografis

Kota Banjarmasin secara geografis berada pada posisi 3º 16’ 32’’ LS – 3º 22’ 43’’ LS dan pada 114º 32’ 02’’ BT – 114º 38’ 24’’ BT. Secara administratif, wilayah Kota Banjarmasin memiliki batas wilayah sebagai berikut :

• Utara : Kabupaten Barito Kuala

• Selatan : Kabupaten Banjar

• Timur : Kabupaten Banjar

• Barat : Sungai Barito (Kabupaten Barito Kuala)

Kota ini memiliki luas wilayah mencapai ±9700 Ha atau 0,26% dari luas wilayah Propinsi Kalimantan Selatan dan terbagi menjadi lima kecamatan, yaitu Banjarmasin Utara, Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin Timur dan Banjarmasin Barat (Gambar 5).

Gambar 5. Peta Administrasi Kota Banjarmasin (Sumber : RTRW Kota Banjarmasin, 2009)


(40)

Kota Banjarmasin banyak dialiri oleh sungai-sungai besar dan cabang-cabangnya yang mengalir dari arah utara dan timur laut ke arah barat daya dan selatan, sehingga dikenal sebagai Kota Seribu Sungai. Hampir semua sungai bermuara di Sungai Barito dan Sungai Martapura yang kondisi aliran dipengaruhi pasang surut laut. Pola aliran sungainya dikategorikan sebagai pola aliran mendaun (dendritic drainage patern), pola ini dicirikan aliran sungai cabang mengalir ke sungai utama.

IV.1.1.2. Tata Ruang Wilayah dan Tata Guna Lahan

Secara alamiah Kota Banjarmasin tumbuh secara konsentris dengan pola lalu lintas berbentuk sarang laba-laba. Dengan pola ruang seperti ini beban pusat kota akan semakin bertambah berat dan pada gilirannya akan membawa dampak terhadap penurunan fungsi pelayanan secara umum pada berbagai sektor. Apalagi perkembangan pemanfaatan ruang di sepanjang jalan ini memiliki pola aglomeratif yang mendekati pusat kota sehingga berdampak pada ketergantungan terhadap pusat kota yang sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari intensitas dan ekstenfikasi lahan yang ada di kawasan pinggiran atau perbatasan kota yang masih rendah dan munculnya penggunaan lahan campuran (mixed use), seperti Rumah Kantor (Rukan) dan Rumah Toko (Ruko) pada pusat-pusat pelayanan kota karena tipe penggunaan ini sangat efektif dan efesien dari segi aliran barang bagi kegiatan perdagangan dan perekonomian.

Secara teoritis struktur Kota Banjarmasin dikembangkan dengan konsep polisentris dengan mengkombinasikan pola konsentris dalam sektoral karena wilayah pelayanan yang luas. Ini berarti perkembangan kota diarahkan pada pembentukan pusat-pusat kegiatan baru di pinggir kota dengan orientasi regional sehingga beban pusat kota akan berkurang dan dapat memberikan kontribusi ekonomi yang produktif.

Tata guna lahan Kota Banjarmasin dibagi ke dalam beberapa jenis penggunaan seperti, fasilitas sosial dan umum, permukiman, industri, perdagangan / jasa, sawah, ruang terbuka hijau dan sisanya berupa tanah terbuka. Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa penggunaan lahan untuk persawahan memiliki luasan terbesar.


(41)

Tabel 2. Tata Guna Lahan Kota Banjarmasin

No.

Penggunaan Tanah Luas

(Ha) (%)

1. Fasilitas Sosial dan Umum 72,23 0,90

2. Permukiman Kepadatan Tinggi 1006,06 12,54

3. Permukiman Kepadatan Sedang 2334,97 29,12

4. Permukiman Kepadatan Rendah 316,02 3,94

5. Industri 77,10 0,96

6. Perdagangan / Jasa 107,08 1,33

7. Sawah 4049,87 50,51

8. Ruang Terbuka Hijau 38,04 0,47

9. Tanah Terbuka 15,72 0,19

Jumlah 8017,09 100.0

Sumber: RTRW Kota Banjarmasin 2009

IV.1.1.3. Utilitas dan Fasilitas

Kondisi Banjarmasin yang merupakan kota di atas rawa mengakibatkan pembangunan jaringan listrik bawah tanah akan membawa resiko dan biaya cukup tinggi. Oleh karena itu pemasangan jaringan listrik tetap di atas tanah dengan tiang berkabel. Pemasangan sistem jaringan listrik (tegangan rendah) mengikuti jaringan jalan akan memberikan kemudahan dalam pemeliharaan, biaya yang rendah serta pelayanan yang efektif. Pengembangan jaringan listrik diarahkan ke kawasan permukiman baru seperti HKSN di utara, Sungai Andai di seberang Sungai Andai (timur laut), Besirih (selatan), dan lain-lain, sebagaimana rencana pengembangan sistem jaringan jalan kota (RTRW Kota Banjarmasin, 2009).

Untuk mendorong pusat pertumbuhan kota maka diperlukan adanya sistem jaringan jalan yang mendukung ke arah tersebut. Sejalan dengan rencana pengembangan jalan lingkar Metropolitan maka untuk Kota Banjarmasin perlu dikembangkan jalan lingkar yang mengelilingi kota. Sementara itu sistem jaringan jalan dalam kota perlu dikembangkan dengan pendekatan grid iron (papan catur) pada beberapa kawasan dan menyambungkan sistem jaringan jalan yang berbentuk sarang laba-laba. Dengan demikian diharapkan lalu lintas dalam kota dapat mengalir, terutama pada jam-jam sibuk (peak hour).


(42)

Sebagai Kota Sungai sebagian besar masyarakat Kota Banjarmasin telah memanfaatkan sungai sebagai sarana transportasi utama. Akan tetapi saat ini tidak lagi menjadi pilihan utama bagi masyarakat. Beberapa sungai yang direncanakan untuk tetap dan dikembangkan sebagai jalur transportasi air antara lain, Sungai Barito, Martapura, Alalak dan beberapa sungai kecil lainnya. Kondisi sungai tersebut saat ini telah mengalami degradasi sehingga diperlukan revitalisasi sungai untuk dapat mengakomodasi sistem transportasi sungai.

Sistem transportasi darat dan sungai perlu dikoneksikan secara efektif dan fungsional sehingga terbangun sistem lalu lintas dua moda (intermoda), antara moda darat dan moda sungai (Gambar 6). Hal ini menjadi bagian dari pencapaian visi penataan ruang Kota Banjarmasin yang berbasis sungai (RTRW Kota Banjarmasin, 2009).

Gambar 6. Peta Struktur Ruang Kota Banjarmasin (Sumber: RTRW Kota Banjarmasin, 2009)


(43)

IV.1.2. Kondisi Biofisik

IV.1.2.1. Morfologi

Kota Banjarmasin terletak sekitar 50 km dari muara Sungai Barito dan dibelah oleh Sungai Martapura, sehingga secara umum bentuk fisik Kota Banjarmasin didominasi oleh daerah yang relatif datar dan berada di dataran rendah. Daerah ini terletak di bawah permukaan air laut rata-rata 0,16 m (dpl) dengan tingkat kemiringan lereng 0% - 2%. Letak dataran yang sebagian besar berada di bawah permukaan air menyebabkan sebagian besar wilayah Kota Banjarmasin merupakan rawa tergenang yang dapat dipengaruhi oleh kondisi pasang surut.

IV.1.2.2. Geologi

Sebagian besar formasi batuan dan tanah di wilayah Kota Banjarmasin adalah jenis Alluvium (Qa) yang dibentuk oleh kerikil, pasir, lempung dan lumpur. Adapun kondisi dan struktur geologi di Kota Banjarmasin adalah sebagai berikut :

a. Formasi Berai (tomb); terbentuk dari batu gamping putih berlapis

dengan ketebalan 20-200 cm

b. Formasi Dahor (Tqd); terbentuk oleh pasir kuarsa, konglomerat dan

batu lempeng dengan susunan lignit dengan ketebalan 2-10 cm

c. Formasi Karamalan (KaK); dibentuk oleh persilingan batu lanau dan

batu lempung dengan ketebalan berkisar 20-50 cm

d. Formasi Pudak (Kap); dibentuk oleh lava yang ditambah perselingan

antara bleksi/konglomerat dan batuan pasir dengan olistolit berupa batu gampigng, basal, batuan malihan dan ultramafik.

e. Formasi Tanjung (Tet); dibentuk oleh batu pasir kuarsa berlapis (50-150 cm) dengan sisipan batu lempung kelabu yang memiliki ketebalan 50-150 cm pada bagian atas, serta batubara hitam mengkilap dengan ketebalan 50-100 cm pada bagian bawah.

f. Alluvium (Qa); dibentuk oleh kerikil, pasir, lanau, lempung dan lumpur g. Formasi Pitanak (Kvep); disusun dan dibentuk oleh lava yang terdiri


(44)

h. Kelompok batuan Ultramafik (Mub); disusun oleh harzborgit, piroksenit dan serpentit

IV.1.2.3 Tanah

Secara umum jenis tanah yang dominan di Banjarmasin adalah aluvial dengan dominasi struktur lempung dan sebagian berupa tanah Organosol Glei Humus pada daerah rawa/gambut khususnya. Jenis tanah aluvial merupakan ciri tanah dengan tingkat kesuburan yang baik, memiliki tingkat kandungan hara yang tinggi dan banyak tergantung pada bahan induknya. Namun dominasi jenis tanah ini terdapat pada lahan datar sehingga kendala yang sering terjadi adalah tanah ini akan tergenang oleh air pada musim hujan. Tanah aluvial ini tergolong aluvial humik karena terdapat material humus di dalamnya mempunyai bahan organik ±12 kg/m3sedalam kurang dari satu meter dari permukaan. Jadi kandungan bahan organiknya yang ada di dalamnya cukup tinggi sehingga tergolong subur. Selain itu tanah ini memiliki tingkat keasaman yang relatif tinggi, tingkat salinitas yang rendah dan kandungan pospor yang rendah.

Tanah tipe ini cukup sesuai untuk diaplikasikan dalam bidang lanskap contohnya berkebun dan taman (Philip, 1932). Tipe tanah aluvial ini tergolong pada derajat kesesuaian tanah sedang untuk berkebun sesuai dengan sifat kimia dan fisiknya. Sifat tanah yang berlempung dengan pasir berliat menandakan bahwa drainase sedang. Tanah tipe ini juga dapat dibangun dengan bangunan non permanen ataupun semi permanen.

IV.1.2.4 Iklim

Secara klimatologi, Kota Banjarmasin beriklim tropis dengan klasifikasi tipe iklim A dengan nilai Q=14,29% (rasio jumlah rata-rata bulan kering dengan bulan basah). Temperatur udara bulanan di wilayah ini rata-rata 28ºC - 38ºC dengan sedikit variasi musiman, dimana suhu udara maksimum 33ºC dan suhu udara minimum 22ºC. curah hujan rata-rata mencapai 2.400 mm – 3.500 mm dengan fluktuasi tahunan berkisar antara 1.600 mm – 3.500 mm. Angin yang bertiup dari benua Australia merupakan angin kering, yang berakibat terjadinya


(45)

musim kemarau sementara itu angin Musim Barat dari Benua Asia menyebabkan musim hujan yang sering terjadi pada bulan November sampai bulan April.

Penyinaran matahari tahunan rata-rata pada saat musim hujan 2,8 jam/hari dan di musim kemarau 6,5 jam/hari. Kelembaban udara relatif bulanan rata-rata tersebar jatuh pada bulan Januari yaitu ± 74% - 91% dan terkecil pada bulan September yaitu ± 52%. Evaporasi dari permukaan air bebas karena penyinaran matahari dan pengaruh angin, rata-rata harian sebesar 3,4 mm/hari di musim hujan dan 4,1 mm/hari di musim kemarau. Evaporasi maksimum pernah terjadi sebesar 11,4 mm/hari dan minimum 0,2 mm/hari.

IV.1.2.5 Hidrologi

Secara hidrologi (terutama air permukaan), Kota Banjarmasin dikelilingi oleh sungai-sungai beserta cabang-cabangnya, mengalir dari arah utara dan timur laut ke arah barat daya dan selatan. Sungai-sungai tersebut mengalir membentuk pola aliran mendaun (dendritik drainage patern) yang mana air mengalir dari sungai cabang ke sungai utama. Sungai utama dan besar adalah Sungai Barito dan beberapa cabang utama seperti Sungai Martapura, Sungai Alalak dan Sungai Kuin. Muka air Sungai Barito dan Sungai Martapura dipengaruhi oleh pasang surut Laut Jawa, sehingga mempengaruhi drainase kotadan apabila air laut pasang maka sebagian wilayah kota digenangi air. Rendahnya permukaan lahan (0,16 m di bawah permukaan air laut) menyebabkan air sungai menjadi payau dan asin pada musim kemarau karena terjadi instrusi air laut.

IV.1.2.6 Pasang Surut

Secara umum, tipe pasang surut yang ada di Kalimantan Selatan adalah tipe diurnal, yaitu dalam 24 jam terjadi gelombang pasang 1 kali pasang dan 1 kali surut. Lama pasang rata-rata 5-6 jam dalam satu hari dan selama waktu pasang, air di Sungai Barito dan Sungai Martapura tidak dapat keluar karena terbendung oleh naiknya muka air laut. Kondisi ini tetap aman selama tidak ada penambahan air oleh curah hujan tinggi. Air yang terakumulasi akan menyebar ke daerah-daerah resapan seperti rawa dan tersimpan hingga muka air sungai surut. Kondisi kritis terjadi pada saat muka air pasang tertinggi bersamaan dengan curah hujan


(46)

maksimum. Aliran air yang terbendung di bagian hilir sungai yang menyebabkan debit air sungai naik dan menyebar pada daerah-daerah resapan, debit air akan terus naik ketika mendapat tambahan dari air hujan. Apabila kondisi daerah resapan tidak mampu lagi menampung air, maka air akan bertambah naik dan meluap ke daerah permukiman dan jalan.

Pada umumnya ketinggian permukaan air sungai di Banjarmasin mengacu pada pasang surut air di muara (ambang luar) Sungai Barito, ini dikarenakan semua sungai yang ada di Banjarmasin dipengaruhi pasokan air dari muara Sungai Barito. Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Dinas Ad-Pel Kota Banjarmasin, muka air tertinggi pada ambang luar Sungai Barito setiap hari terjadi secara relatif. Kondisi ini juga mempengaruhi jadwal keluar masuknya kapal ke pelabuhan.

Kemiringan sungai di Banjarmasin sangat landai, karena kondisi topografi yang relatif datar dengan arus lamban, serta banyaknya hambatan berupa tumbuhan air dan tumbuhan rawa di sekitar sungai, sampah-sampah, endapan lumpur yang besar dan banyaknya rumah-rumah penduduk yang dibangun di pinggir sungai. Ketika kondisi surut arus mengarah ke bagian hilir dan sebaliknya ketika pasang arus kembali ke bagian hulu. Kecepatan arus ketika pasang berkisar antara 0,28 – 0,373 m/det (rata-rata 0,343 m/det), sedangkan pada saat surut antara 0,321 – 0,395 m/det (rata-rata 0,363 m/det) [Dokumen AMDAL Pembangunan Kawasan Wisata dan Rekreasi Banjarmasin Park, 2003 dalam

RTRW Kota Banjarmasin, 2009].

IV.1.3. Kondisi Sosial dan Budaya

IV.1.3.1. Ekonomi Sosial

Struktur perekonomian kota Banjarmasin selama tahun 2008 telah didominasi sektor perdagangan, restoran dan perhotelan mencapai 23,24% yang menggeser sektor industri pengolahan kemudian selanjutnya menyusul sektor pengangkutan dan komunikasi (21,33%), sektor industri pengolahan (18,55%) yang sampai tahun 2005 merupakan sektor tertinggi dalam pembentukan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Banjarmasin.


(47)

Tabel 3. Pertumbuhan PDRB Kota Banjarmasin 2006-2008

Sumber : BPS, Banjarmasin dalam Angka 2008

IV.1.3.2. Budaya

Banjarmasin dihuni oleh berbagai macam suku dan didominasi oleh suku Banjar yang merupakan suku asli kota ini. Selain itu juga didiami oleh para pendatang yang berasal dari daerah belakang (Hulu Sungai) dan dari luar provinsi seperti Kalimantan Tengah, Jawa, Sulawesi dan Sumatera (Soenarto et al., 1985). Secara umum budaya masyarakat Banjar tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya yang mempunyai garis patriliniar. Kondisi alam yang berawa-rawa dan mengandung gambut menyababkan rumah-rumah di kota ini berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu, selain itu pula rumah-rumah banyak berada di sepanjang aliran sungai karena pada mulanya sungai merupakan sara utama transportasi. Lebih dari 90% masyarakat Banjar beragama Islam dan selain itu beragama Kristen, Budha serta Hindu yang kebanyakan merupakan pendatang (Hayati, 2004).

Budaya masyarakat banjar mempunyai keterikatan erat dengan air. Hal ini dikarenakan Kota Banjarmasin yang pada mulanya berbentuk muara sungai dan sungai merupakan aksesibilitas utama pada saat itu. Keterikatan ini ditunjukan dengan banyaknya nama kampung dan ungkapan sehari0hari yang dekat dengan istilah air. Namaun pada saat ini keterikatan tersebut sudah mengalami degradasi seiring dengan perubahan orientasi hidup masyarakat yang terus bergeser ke arah darat.

No Lapangan Usaha Tahun

2006 2007 2008

1 Pertanian 0,88 0,88 0,83

2 Pertambangan dan Penggalian - - -

3 Industri Pengolahan 23,70 20,94 18,55

4 Listrik dan Air Minum 1,46 1,47 1,34

5 Bangunan dan Konstruksi 9,09 10,14 10,07

6 Perdagangan, Restoran dan Perhotelan 18,80 20,05 23,24

7 Pengankutan dan Komunikasi 22,17 22,04 21,33


(48)

IV.1.3.3. Kependudukan

Berdasarkan data tahun 2008 penduduk kota Banjarmasin 627.245 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebesar 313.489 jiwa dan 313.756 jiwa penduduk perempuan. Pertumbuhan penduduk dalam lima tahun terakhir sebesar 6,87 % atau rata-rata pertumbuhan penduduk 1,37% pertahun. Berdasarkan wilayah kecamatan, kepadatan penduduk terbesar terdapat pada kecamatan Banjarmasin Barat yang mencapai 11.201 jiwa/km.

Tabel 4. Luas, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Tiap Kecamatan

Kecamatan Luas (Km²) Jumlah Penduduk Kepadatan (jiwa/Km²)

Banjarmasin Utara 15,25 94.409 6.209

Banjarmasin Timur 11,54 118.278 10.249

Banjarmasin Tengah 11,66 114.584 9.827

Banjarmasin Barat 13,37 149.753 11.201

Banjarmasin Selatan 20,18 150.221 7.444

Total 72,00 627.245 8.712

Sumber : BPS, Banjarmasin dalam Angka 2008

Tabel 5. Jumlah Penduduk Banjarmasin menurut Jenis Kelamin

Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah

Banjarmasin Utara 47.184 47.225 94.409

Banjarmasin Timur 59.113 59.165 118.278

Banjarmasin Tengah 57.268 57.316 114.584

Banjarmasin Barat 74.845 74.908 149.753

Banjarmasin Selatan 75.079 75.142 150.221

Total 313.489 313.756 627.245


(49)

IV.2. Kondisi Tapak IV.2.1. Kondisi Fisik

IV.2.1.1. Lokasi, Luas dan Batas Tapak

Lokasi penelitian ini berada pada daerah administratif dua kelurahan yaitu Kelurahan Gedang dan Kelurahan Seberang Masjid, Kecamatan Banjarmasin Tengah, tepatnya berada disepanjang Jalan Piere Tendean, di tepian Sungai Martapura. (Gambar 7)

Gambar 7. Lokasi Penelitian, View Mata Burung (Sumber : Dok. Dinas Sungai & Drainase Kota Banjarmasin)

Secara geografis tapak berada pada 3º18’43,83’’ LS - 3º19’13,12’’ LS dan 114º35’37,45” BT - 114º35’39,32’’ BT. Tapak ini berbatasan oleh beberapa kawasan. Batas sebelah utara adalah Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jembatan Pasar Lama, batas sebelah timur adalah Kelurahan Gedang, batas sebelah barat adalah Sungai Martapura dan Siring Sudirman dan batas sebelah selatan Jalan Vetreran dan Jembatan Merdeka.

Tapak memiliki luas sekitar 24.340 m2 dengan bentuk linier mengikuti sepanjang Jalan Piere Tendean ataupun menyusuri Sungai Martapura sepanjang ± 1,8 km dari Jembatan Merdeka sampai dengan Jembatan Pasar Lama. Kondisi tapak saat ini sebagian telah dibebaskan oleh pemerintah kota sebagian dari kawasan ini telah dibangun konstruksi siring beton yaitu sepanjang 550 m dan sebagian lagi masih digunakan sebagai rumah tinggal penduduk, toko kayu dan warung makan yang pada tahap berikutnya akan segera dilakukan pembebasan lahan. Pada area bekas permukiman yang baru dilakukan pembebasan masih terdapat puing, sisa-sisa perlengkapan rumah dan bongkahan kayu disekitarnya.

Pada tapak terdapat bangunan tua yang hingga saat ini belum dapat diketahui bangunan tersebut termasuk kedalam benda bersejarah atau benda cagar


(50)

budaya. menurut informasi yang didapat dari hasil wawancara terhadap pejabat setempat bangunan tersebut bukanlah benda bersejarah ataupun benda cagar budaya. Bangunan tersisa yang terdapat pada tapak seperti pada umumnya bangunan permukiman di pinggir sungai yang ada kawasan lain di Banjarmasin, dimana bangunan didirikan di sepanjang sempadan sungai dan mengokupasi badan sungai hingga ± 10–15 meter dari daratan/sempadan sungai. Gambar 8 merupakan kondisi tapak dilihat dari jembatan pasar lama dan jembatan merdeka.

Gambar 8. Kondisi Tapak dilihat dari (A) Jembatan Pasar Lama dan (B) Jembatan Merdeka (Sumber : Dok. Dinas Sungai & Drainase, Dok. Pribadi dan Geo Eye,

2009)

VI.2.1.2. Tata Guna Lahan Sekitar

Tapak berada pada Jalan Piere Tendean yang merupakan salah satu jalan utama penghubung Jalan Provinsi yaitu Jalan A.Yani. Kawasan sekitar Jalan Piere Tendean ini didominasi oleh permukiman dan rumah toko (ruko) atau rumah kantor (rukan). Karena letaknya yang berada dekat dengan pusat kota sebagian besar penggunaan lahan di kawasan ini adalah penggunaan campuran (mixed use), perkantoran, perdagangan, fasilitas umum seperti tempat ibadah, sekolah, kantor

A

A B

B

B A

Ta np a ska la Pe ta O rie nta si


(51)

(52)

pemadam kebakaran dan lainnya. Pola penggunaan lahan pada tapak setelah pembebasan lahan oleh pemerintah kota, sebagian besar telah menjadi lahan terbuka dan sisanya masih merupakan permukiman penduduk, pertokoan dan warung makan (Gambar 9).

Sejarah perkembangan kawasan permukiman pada sekitar tapak sangat dipengaruhi perkembangan masyarakat etnis cina yang ada pada sekitar tapak. Sehingga dahulu kawasan ini terkenal sebagai Pecinan. Seiring dengan perkembangan kota, saat ini kawasan pecinan telah bergeser dan hanya dapat ditemui di sebelah timur tapak dimana kawasan ini juga telah mengalami perubahan yang sangat pesat dari segi budaya dan arsitektur bangunan asli.

VI.2.1.3. Aksesibilitas dan Sirkulasi

Lokasi tapak yang berada pada jalan utama dan di pusat kota serta ditepian Sungai Martapura merupakan potensi dalam hal aksesibilitas. Untuk menuju ke dalam tapak dapat menggunakan dua jenis transportasi, yaitu transportasi darat dan transportasi sungai.

1. Transportasi Darat

Untuk transportasi darat dapat diakses melalui beberapa jalur jalan yaitu melalui Jalan Piere Tendean yang berada di sebelah timur tapak, melalui Jembatan Merdeka jika pengunjung yang datang berasal dari Jalan Lambung Mangkurat atau Jalan Sudirman dan melalui Jembatan Pasar Lama bagi pengunjung yang datang dari Jalan Pasar Lama maupun Jalan Perintis Kemerdekaan. Adapun jenis moda transportasi yang bisa digunakan ialah kendaraan roda dua, seperti motor, sepeda kemudian kendaraan roda empat, seperti mobil pribadi dan angkutan umum (Gambar 10). Selain itu becak juga sering melintas di sekitar tapak.


(53)

Gambar 10. Akses Jalan Menuju Tapak

2. Transportasi Sungai

Untuk transportasi melalui sungai dapat diakses dari dua arah yaitu dari utara maupun selatan Sungai Martapura. Adapun moda transportasi yang bisa digunakan adalah dengan perahu klotok (perahu motor) maupun perahu jukung (perahu dayung). Perahu-perahu ini biasa melintasi kawasan Sungai Martapura dengan berbagai kepentingan seperti berjualan, pariwisata, maupun sebagai alat trasnportasi sehari-hari bagi masyarakat Banjarmasin. Namun saat ini jumlah perahu jukung yang ada telah berkurang ini dikarenakan perahu klotok lebih dipilih oleh mayoritas masyarakat dikarenakan perahu ini lebih cepat dibanding perahu jukung (Gambar 11). Adapun harga sewa untuk tiap jenis perahu tentu berbeda, untuk jenis perahu klotok harga rata-rata yang ditawarkan pengusaha berkisar Rp 100.000,00 – Rp 200.000,00 untuk sekali jalan dengan hitungan per paket jalan mengelilingi Sungai Martapura hingga Sungai Barito. Sedangkan untuk jenis perahu jukung harga yang ditawarkan pengusaha rata-rata berkisar Rp 5000,00 – Rp 10.000,00 sekali jalan dengan jarak yang lebih dekat.


(54)

VI.2.1.4. Visibilitas dan Akustik

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapang melalui survei didapat data visual di sekitar tapak yang berpotensi sebagai good view dan bad view. Adapun view utama dari lokasi penelitian ini yang dapat dilihat dan dinikmati yaitu pemandangan Sungai Martapura. Untuk good view di dalam tapak terdapat di sebelah barat tapak yakni Sungai Martapura, Siring Sudirman dan kawasan Ruang Terbuka Hijau Masjid Sabilal Muhtadin. Selain itu pada tapak juga dapat terdengar suara kicauan burung walet yang merupakan potensi akustik (suara).

Pemandangan yang kurang baik (bad view) terdapat pada area bekas Banjarmasin Park yang terletak di tengah tapak. Di area ini sebagian besar tanamannya tumbuh tidak terawat sehingga menimbulkan kesan semak belukar. Kemudian untuk bad view sekaligus sumber bising ke tapak terdapat pada sebelah timur tapak yakni Jalan Piere Tendean yang sering dilalui oleh kendaraan roda dua dan empat. Pada area ini juga terdapat zona rawan bahaya karena terjadi pertemuan jalur kendaraan. Untuk bad view lainnya ialah kawasan mixed used

seperti ruko dan rukan serta area bekas pembebasan lahan yang masih tersisa puing-puing dan bongkahan kayu serta material bangunan lainnya.

VI.2.2. Kondisi Biofisik

VI.2.2.1. Topografi dan Kemiringan

Secara umum kondisi permukaan tapak adalah datar dengan ketinggian yang relatif sama, sejalan dengan itu berdasarkan data yang bersumber dari data Bappeda Kota Banjarmasin, hampir sebagian besar wilayah Kota Banjarmasin relatif datar dengan kemiringan 0% – 2 % dan wilayah daratannya berada 0,16 m di bawah permukaan laut saat pasang. Dengan kondisi topografi dan kemiringan tersebut hampir seluruh area tapak potensial untuk dikembangkan. Menurut Nurisjah (2004), umumnya lahan yang mempunyai topografi dan kemiringan lahan yang relatif datar akan memberikan keuntungan karena dapat digunakan untuk berbagai aktivitas kehidupan dan rekreatif manusia dan juga untuk peletakan sarana penunjangnya.

Topografi dan kemiringan lahan sangat mempengaruhi sirkulasi air dan sistem drainase pada tapak, karena topografi akan menentukan bagaimana aliran


(55)

air mengalir melewati tapak dan air limpasan (berlebih) dikeluarkan dari dalam tapak. Pada saat air surut air hujan yang turun mengalir ke arah sungai namun air akan tertahan apabila air sungai pasang.

VI.2.2.2. Tanah

Berdasarkan data sekunder yang telah didapat kondisi tanah secara umum di wilayah Kecamatan Banjarmain Tengah ialah aluvial yang memiliki ciri-ciri khusus yaitu kandungan bahan organiknya rendah, reaksi tanahnya masam sampai netral, struktur tanahnya pejal dan memiliki sifat struktur yang keras pada kondisi kering dan teguh pada kondisi lembab. Secara umum tanah ini memiliki kesuburan yang cukup namun karena sering terendam oleh air sungai dan hujan menyebabkan tanah ini kurang baik jika langsung digunakan sebagai media tanam.

VI.2.2.3. Vegetasi dan Satwa

Vegetasi yang ada di tapak didominasi oleh tanaman introduksi bekas pembangunan taman Banjarmasin Park antara lain, Angsana (Pterocarpus indicus), Pohon Flamboyan (Delonix regia), Palem Raja (Roystonia regia), Batavia (Jatropha pandorifolia), Dadap Merah (Erithriyna cristagalii), Ketapang (Terminilia catappa), Bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea) dan Rumput gajah mini (Axonopus compresus). Adapun vegetasi lain yang terdapat pada tapak ialah tanaman yang telah ada sebelum pembangunan Banjarmasin Park seperti, Pohon Beringin (Ficus benjamina), Pohon Mangga (Mangifera indica), Seruni Rambat (Widelia biflora) dan Alang-Alang (Imperata cylindrica) (Gambar12).

Kondisi vegetasi yang ada cukup baik namun karena tidak terawat kesan semak belukar sangat terlihat pada tapak. Hal ini dapat dilihat jelas di kawasan bekas Banjarmasin Park yang berada di tengah tapak. Padahal tanaman yang ada membutuhkan perawatan yang cukup intensif karena merupakan tanaman introduksi dari luar kawasan Kota Banjarmasin (Gambar 13).


(56)

Gambar 12. Beberapa Jenis Vegetasi pada Tapak

Pada waktu tertentu dapat dilihat burung elang terbang melintas di sekitar tapak. Burung ini terbang pada waktu pagi dan sore hari, sesekali pada waktu siang dan mereka terbang dari arah barat untuk mencari ikan di sungai. Selain burung elang, burung walet juga terlihat terbang melintas sepanjang sungai. Ketika pagi dan sore hari pada tapak dapat terdengar suara sekumpulan burung walet dan ini dapat menjadi elemen akustik yang dapat menambah nilai dari tapak. Sedangkan pada tapak hanya ditemukan serangga-serangga kecil seperti kupu-kupu dan kumbang.


(57)

VI.2.2.4. Iklim Mikro

Secara umum kondisi iklim mikro tapak terasa panas. Pada pagi hari sebagian area tapak mendapat semi naungan dari bangunan yang ada di sebelah timur tapak. Namun pada siang dan sore hari hampir semua area tapak tersinari matahari ini dikarenakan tapak terekspose matahari dan tidak adanya naungan pada tapak yang sebagian besar area terbuka. Area tapak yang mendapat naungan hanya pada area bekas Banjarmasin Park yang ternaungi oleh vegetasi.

Selain itu arah angin pada sekitar tapak dapat diklasifikasi menjadi dua bagian yaitu angin yang berasal dari koridor sungai maupun angin yang berasal dari koridor jalan. Angin yang berasal dari koridor sungai bertiup dari arah selatan menuju tapak sedangkan angin yang berasal dari koridor jalan bertiup dari arah timur menuju tapak.

IV.2.3. Kondisi Sosial dan Budaya

IV.2.3.1. Potensi Pengunjung

Berdasarkan penggunaan lahan di sekitar tapak sebagian besar adalah permukiman dan beberapa bagian yang lain merupakan kawasan perdagangan, perkantoran dan sekolah. Dengan demikian potensi pengguna tapak berasal dari masyarakat atau penduduk sekitar, anak sekolahan, karyawan kantor dan tentunya masyarakat kota.


(58)

Keberadaan tapak yang berbatasan langsung dengan Sungai Martapura merupakan potensi eksisting tapak yang secara tidak langsung dapat memberikan keuntungan bagi pengunjung untuk datang melalui dua jalur transportasi yakni jalur sungai dan darat (Gambar 14). Saat ini pengunjung yang datang hanya melalui jalur darat, ini dikarenakan belum adanya fasilitas yang mendukung pengunjung yang menggunakan moda transportasi sungai. Padahal pada waktu tertentu banyak masyarakat yang sengaja menggunakan moda transportasi sungai secara masal melewati tapak (Sungai Martapura) untuk pergi dan pulang berwisata di Kawasan wisata Pasar Terapung dan Sungai Barito. Hal ini dapat merupakan potensi tapak dapat sebagai tempat singgah selepas pengunjung pulang dari Kawasan Pasar Terapung. Jenis aktivitas yang dilakukan pengunjung pada tapak dapat dilihat pada gambar 15.

Gambar 15. Kegiatan yang dilakukan Pengunjung pada Tapak

Dari kondisi eksisting pengguna tapak saat ini, dapat diambil kesimpulan dari segi aktivitas, waktu dan ruang. Masyarakat yang tergolong dewasa umumnya menggunakan ruang yang teduh atau ternaungi oleh pohon atau bangunan. Aktivitas yang dilakukan antara lain, bersantai, berkumpul bersama, beristirahat serta melihat pemandangan. Jenis aktivitas ini tergolong aktivitas rekreasi pasif. Selain itu masyarakat menggunakan ruang terbuka ini untuk melakukan rekreasi aktif seperti, memancing, berenang, mandi dan bersepeda.


(59)

Untuk pengguna anak-anak umumnya hanya berlari-lari, jalan-jalan bersama orang tua, berenang dan sebagainya. Khusus untuk pengguna anak-anak perlu diakomodasikan suatu ruang tersendiri agar lebih aman dan nyaman.

Umumnya intensitas tertinggi pengunjung datang pada sore hari, karena suhu udara disekitar tapak cukup nyaman. Pengunjung yang datang dominan berasal dari lingkungan sekitar tapak dan masyarakat Kota Banjarmasin, bahkan ada beberapa pengunjung berasal dari luar Kota Banjarmasin yang sengaja datang untuk hanya sekedar menikmati pemandangan dan suasana Sungai Martapura.


(1)

112

VIII. PENUTUP

VIII.1. Simpulan

Taman tepian Sungai Martapura Kota Banjarmasin menitikberatkan kepada sungai sebagai pusat perhatian dan titik pandang dari tapak. Perancangan Taman Tepian Sungai Martapura ini didasarkan dalam sebuah konsep dasar yaitu memunculkan kembali karakteristik lokal Kota Banjarmasin yang alami yaitu dengan penggunaan pola alami/organik dan pemilihan material tanaman sebagai identitas taman dan kehidupan masyarakat dengan semboyan kayuh baimbai

(mengayuh bersama-sama) sebagai aktivitas pengguna yang ingin dimunculkan pada taman yaitu interaksi. Pada konsep dasar unsur modern tetap dimasukkan sebagai representasi Kota Banjarmasin yang merupakan Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Unsur modern yang dimaksud yaitu pada penggunaan elemen taman seperti shelter, artwork, mound dan amphiteater.

Konsep desain dalam penelitian ini mengambil bentukan dari ripple water/riak air. Konsep ini diambil karena wilayah Banjarmasin yang sebagian besar dilalui sungai-sungai dan juga secara sosial masyarakat kota banjarmasin memiliki hubungan yang sangat erat dengan air (sungai) dalam kehidupan mereka. Untuk mengatasi kondisi iklim mikro yang panas taman membutuhkan penambahan vegetasi penaung maupun shelter sebagai pereduksi radiasi sinar matahari. Penambahan fasilitas pada taman juga perlu dilakukan untuk dapat mengakomodasi aktvitas rekreasi pada taman. Taman tepian sungai ini dirancang pada luas 24.340 m2, dimana di dalamnya terdapat ruang-ruang yang mengakomodasi aktivitas rekreasi aktif dan pasif. Pembagian ruang tersebut meliputi ruang penerimaan, rekreasi aktif, rekreasi pasif dan penyangga.

Ruang penerimaan memiliki proporsi luas sebesar 2054 m2 atau sekitar 8 % dari luas keseluruhan taman, ruang rekreasi aktif memiliki proporsi luas sebesar 2557 m2 atau sekitar 10 % , sedangkan ruang rekreasi pasif memiliki proporsi luas sebesar 9304 m2 atau sekitar 38 % dan ruang penyangga memiliki proporsi luas sisanya yakni sebesar 10.425 m2 atau 44 % dari luas taman.


(2)

113

VIII.2. Saran

Adapun saran terkait perancangan taman tepian sungai yaitu :

1. Mengoptimalkan pemanfaatan ruang terbuka di tepian sungai khususnya Sungai Martapura untuk memperbanyak ketersediaan ruang terbuka hijau, sehingga dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi alam terbuka bagi masyarakat kota

2. Pemeritah Kota Banjarmasin serta masyarakat bersama-sama harus lebih memperhatikan dan menjaga daerah sempadan sungai sebagai daerah terbuka (open space) sehingga kelestarian kawasan dapat tetap terjaga

3. Pengembangan tepian sungai harus diikuti dengan pengembangan kawasan sekitarnya secara terintegrasi sehingga dapat menghasilkan kualitas lanskap tepian sungai yang baik

4. Pengelolaan fasilitas dan utilitas dalam pengembangan kawasan tepian sungai ini harus dilakukan dengan baik


(3)

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2010. Profil Banjarmasin. [terhubung berkala].

[Anonim]. 2010. Kajian Waterfront. [terhubung berkala]. www.wikipedia.com. (6

Februari 2010).

[Anonim]. 2010. Waterfront. [terhubung berkala]. www.wikipedia.com. (6

Februari 2010).

[Anonim]. 2010. Waterfront. [terhubung berkala]. http//:puslit2.petra.ac.id. (8

Februari 2010).

Booth, N. K. 1983. Basic Elements of Landscape Architectural Design. Ohio State

University. New York.

Eckbo, Garret. 1964. Urban Landscape Design. McGraw-Hill, Inc. United States

of America.

Gold, S.M. 1980. Recreation Planning and Design. Mc Graw-Hill Book Co., Inc.

New York.

Grey, G.W. and F.J, Deneke. 1986. Urban Forestry. New York : John Wiley and

Sons Inc.

Hakim, Rustam. 2006. Rancangan Visual Lansekap Jalan. PT Bumi Aksara.

Jakarta.

Harris, C. W. And Dines, N. T. 1988. Time-Saver Standards for Landscape

Architecture, Mc.Graw Hill Inc. New York.

Ingels, Jack E. 2003. Landscaping Principle and Practices. New York : State

University of New York.

Laurie, M. 1986. Pengantar kepada Arsitektur Pertamanan (Terjemahan). Intermata, Bandung.

Malanson, George P. 1950. Riparian Landscape. Cambrige University Press.

Cambrige

Munandar, A. 2010. Elemen Perancangan Kawasan Tepi Air.

Nugroho, S. 2000. Waterfront Cities. URL


(4)

Nurisjah, S. 2006. Penuntun Praktikum Perencanaan Lanskap. Diktat Departemen Asrsitektur Lanskap. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Philip CJ. 1932. Urban Soil in Landscape Design. USA: John Wiley & Sons, Inc.

Prastyawan, Eka Candra. 2009. Perancangan Taman Kota Tepi Sungai

Martapura. (Skripsi). Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. IPB

Reid, G. W. 1993. From Concept to Form. Van Nostrand Reinhold. New York.

Simonds, J. O. dan Barry W. S. 1983. Landscape Architecture. McGraw-Hill

Companies, Inc. New York.

Simonds, J. O. dan Barry W. S. 2006. Landscape Architecture fourth edition: A

Manual of Environment Planning and Design. McGraw-Hill Book Com. New York.

Torre, L. A. 1989. Waterfront Development. Van Nostrad Reinhold. New York.

Wrenn, D. M. 1983. Urban Waterfront Development. Urban Land Institute. Washington DC.


(5)

Lampiran 1

KUISIONER PENELITIAN

PERANCANGAN TAMAN TEPIAN SUNGAI MARTAPURA DI KAWASAN PECINAN KOTA BANJARMASIN

Oleh : Nur Rahmaan Colorado/A44061044

Mahasiswa Dept. Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian IPB

Kuisioner ini merupakan salah satu upaya mahasiswa untuk mengetahui keinginan dan harapan masyarakat terhadap pola tingkah laku dan keinginan masyarakat dalam menggunakan ruang terbuka atau taman tepian sungai.

Data Umum Responden

Nama :

Jenis Kelamin : L/P *)

Umur :

Pendidikan terakhir :

a. SD c. SLTA e. Perguruan Tinggi

b. SLTP d. Akademi f. Lainnya…..

Pekerjaan :

a. Pelajar/Mahasiswa e. Polisi/ABRI

b. Swasta f. Pensiunan

c. PNS g. Ibu rumah tangga

d. Wiraswasta h. Lainnya…..

Pertanyaan

1. Apakah anda mengetahui taman siring/taman tepian sungai?

Ya/Ragu-ragu/Tidak….

Jika anda mengetahuinya, apa fungsi taman tersebut?

a. Hanya sekedar tempat terbuka

b. Sebagai tempat rekreasi

c. Tempat menarik karena banyak fasilitas dan arena permainan

d. Tempat berkumpul

e. Lainnya….

2. Apakah pandangan anda terhadap Sungai Martapura?

a. Hanya aliran air biasa dan sebagai tempat pembuangan (sampah)

b. Memiliki peran penting untuk menjaga ketersediaan air

c. Memiliki nilai visual (pemandangan) tinggi dan berperan


(6)

3. Apakah anda setuju apabila dibuat taman di tepi Sungai Martapura?

a. Setuju

b. Tidak setuju

Alasan….

4. Apa aktivitas yang ingin anda lakukan di taman tepian sungai?

(Jawaban bebas)….duduk

5. Jenis fasilitas apa yang anda inginkan dalam suatu taman tepian sungai di

Banjarmasin?

(Jawaban bebas)….foodcourt, parkir

6. Jenis akomodasi apa yang anda inginkan dalam suatu taman tepian sungai?

a. Ruang untuk orang dewasa

b. Ruang untuk remaja

c. Ruang permainan anak

d. Ketiga ruang tersebut di atas ada dalam suatu taman tepian sungai

7. Harapan yang anda inginkan untuk perancangan taman tepian sungai

Martapura, Kota Banjarmasin?....hampir mirip juga gak apa2

8. Apa yang anda ketahui tentang sejarah kawasan ini (sempadan Sungai

Martapura, JL. Veteran – JL. Ahmad Yani?....pecinan