Uji Efek ekstra etanol daun sirih (piper betle L) terhadap penurunan kadar asam urat darah pada tikus putih jantan yang diinduksi kafeina

UJI EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH (Piper betle L) TERHADAP
PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH PADA TIKUS PUTIH
JANTAN YANG DIINDUKSI KAFEINA

Skripsi

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Gelar Sarjana Farmasi (S.Far)

OLEH :
YUDHA PRASETYA
NIM : 105102003350

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1430 H/ 2009 M

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI

NAMA

: YUDHA PRASETYA

NIM

: 105102003350

JUDUL

: UJI EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH (Piper betle,
L) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT
DARAH PADA TIKUS PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI
KAFEINA

Disetujui oleh:

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. M. Yanis Musdja, M.Sc, Apt.

Drs. Ahmad Musir, M.Sc, Apt.

NIP. 195601061985101001

NIP. 195012271980031003

Mengetahui,
Ketua Program Studi Farmasi FKIK
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Drs. M. Yanis Musdja, M.Sc, Apt.
NIP. 195601061985101001

ii

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi dengan judul
UJI EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH (Piper betle L) TERHADAP
PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH PADA TIKUS PUTIH
JANTAN YANG DIINDUKSI KAFEINA

Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan dihadapan Tim Penguji oleh :
Nama: Yudha Prasetya
NIM : 105102003350
Menyetujui,
Pembimbing
1. Pembimbing 1

Drs. M. Yanis Musdja, M.Sc, Apt.

………………

2. Pembimbing 2

Drs. Ahmad Musir, M.Sc, Apt.

………………

Penguji
1. Ketua Tim Penguji M. Yanis Musdja, M.Sc, Apt.

………………

2. Anggota Penguji 1

Azrifitria, M.Si, Apt.

………………

3. Anggota penguji 2

Zilhadia, M.Si, Apt.

………………

4. Anggota Penguji 3

Yardi, M.Si, Apt.

……………...

Mengetahui,
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta

Prof. DR. (hc) dr. M.K Tadjudin, Sp.And
Tanggal Lulus : 15 September 2009
iii

LEMBAR PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN
SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN
TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN.

JAKARTA, NOVEMBER 2009

YUDHA PRASETYA
NIM : 105102003350

ABSTRAK

Judul

: Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper betle L) Terhadap
Penurunan Kadar Asam Urat Darah Pada Tikus Putih Jantan
Yang Diinduksi Kefeina

Secara empiris orang yang mengkonsumsi daun sirih jarang ditemukan
mempunyai penyakit asam urat. Dalam daun sirih (Piper betle L)
terdapat kandungan senyawa tannin yang pada penelitian sebelumnya
menunjukan bahwa senyawa tannin dapat menghambat enzim xanthin
oksidase. Penelitian dilakukan untuk membuktikan bahwa ekstrak
etanol daun sirih (Piper betle L) yang diberikan pada tikus jantan putih
yang telah diinduksi kafeina dapat menurunkan asam urat darah pada
tikus dengan dosis 166 mg/200 g BB tikus. Pemberian ekstrak etanol
daun sirih (Piper betle L) diberikan dengan variasi dosis yaitu dosis
rendah = 41,5 mg/200 g BB tikus, dosis sedang = 83 mg/200 g BB
tikus, dan dosis tinggi = 166 mg/200 g BB tikus serta alopurinol 36
mg/200 g BB tikus sebagai kontrol positif. Hasil kadar asam urat darah
setelah hari ke-15 menunjukkan bahwa dosis tinggi memberikan
presentase penurunan asam urat darah terbesar yaitu 47 %. Hasil analisa
statistik hari ke-15 dengan uji ANOVA dan BNT menunjukkan
kelompok ekstrak uji dosis tinggi tidak ada perbedaan secara bermakna
(P ≥ 0,05) dengan kelompok normal.
Kata kunci : ekstrak etanol, daun sirih (Piper betle L), kafeina,
alopurinol, asam urat.

i

ABSTRACT

Title : The Effect Ethanol Extract of betel leaves (Piper betle L) Test to
Decrease Levels of Uric Acid Blood in White Male Rat Induced by
Caffeine

Empirically, people who consumed betel leaves are rarely found to have
gout disease. The betel leaves (Piper betle L) contain tannin, previous
studies showed that tannin compounds inhibit xanthin oxidase enzyme.
The study was conducted to prove that ethanol extract from the betel
leaf (Piper betle L) given to white male mice that had been induced
with caffeine can lower blood uric acid in the rats with a dose of 166
mg/200 g rat’s BW. Ethanol extract from the betel leaf (Piper betle L)
is given by varying doses of low dose = 41.5 mg/200 g rat’s BW,
medium dose = 83 mg/200 g rat’s BW, and high dose = 166 mg/200 g
rat’s BW and allopurinol 36 mg/200 g rat’s BW as a positive control.
Results of blood uric acid levels after the 15th day showed that high
doses given decrease the percentage in blood uric acid which is 47% of
the largest. The results of statistical analysis the 15th day of the test with
ANOVA and BNT showed extracts the high-dose trials did not differ
significantly (P ≥ 0.05) with the normal group.
Keywords : ethanol extract, leaves
allopurinol, uric acid.

ii

(Piper betle

L),

caffeine,

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur yang tidak terhingga Kehadirat Allah SWT
Rabb Yang Maha Kuasa dengan kasih dan sayang-Nya, berkat rahmat dan kuasaNya memberikan jalan untuk penulis menyelesaikan penelitian dan penyusunan
skripsi ini dengan judul “Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper betle L)
Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Darah Tikus Putih Jantan Yang
Diinduksi Kefeina” disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Farmasi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penyusunan skripsi ini dapat selesai tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Karena itu pada kesempatan kali ini kami dengan segala kerendahan hati
mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Kedua orang tua saya yaitu Bapak Denni Pristiadi dan Ibu Siti Hasanah,
S.H. yang memberikan dorongan moril, materil dan spiritual hingga
selesainya skripsi ini.
2. Bapak Drs. M. Yanis Musdja, M.Sc, Apt. dan Bapak Drs. Ahmad Musir,
M.Sc, Apt. yang membimbing, mendampingi serta memberi dukungan
hingga selesainya skripsi ini.
3. Bapak, Ibu Dosen program studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang memberikan dukungan, sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini.
4. Teman-teman program studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang memberikan dukungan, sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini.

iii

5. Bapak Drs Zam Zami Kiram, MM. Yang telah membantu dalam hal
urusan administrasi.
6. Candra Oktaviani yang selalu menemani saya dalam proses pengerjaan
skripsi ini serta menjadi orang yang selalu dicintai dan mencintai.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa dalam penulisan
ini masih banyak terdapat kekurangan karena keterbatasan ilmu dan kemampuan
penulis. Untuk itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat penulis
harapkan. Penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang
memerlukan.
Akhir kata penulis mengucapkan semoga segala bantuan yang telah
diberikan kepada penulis akan mendapat balasan, rahmat dan ridho dari Allah
SWT, Amin.

Jakarta, November 2009

Penulis

iv

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK........................................................................................................... i
ABSTRACT ....................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ............................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... ix
PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Perumusan Masalah .................................................................... 4
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................ 4
1.4 Hipotesis ..................................................................................... 4
1.5 Manfaat Penelitian ...................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 5
2.1 Tanaman Daun Sirih (Piper betle L) ........................................... 5
2.1.1 Klasifikasi ...................................................................... 5
2.1.2 Nama Daerah ................................................................. 5
2.1.3 Pertelaan ........................................................................ 6
2.1.4 Budidaya ........................................................................ 7
2.1.5 Ekologi dan Penyebaran ................................................. 7
2.1.6 Deskripsi Daun Sirih ...................................................... 8
2.1.7 Kandungan Kimia .......................................................... 9
2.1.8 Khasiat dan Kegunaan.................................................. 10
2.2 Simplisia ................................................................................... 10
2.2.1 Pengertian Simplisia..................................................... 10
2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Simplisia .. 12
2.2.3 Pemeriksaan Mutu Simplisia ........................................ 15
2.3 Ekstrak dan Ekstraksi ................................................................ 16
2.3.1 Pengertian ................................................................... 16
2.3.2 Metode Ekstraksi ......................................................... 17
2.4 Asam Urat................................................................................. 20
2.4.1 Sifat Fisika dan Kimia Asam Urat ................................ 20
2.4.2 Metabolisme Asam Urat ............................................... 21
2.4.3 Patologis Asam Urat .................................................... 22
2.4.4 Obat Anti Hiperurisemia .............................................. 25
2.5 Kafeina ..................................................................................... 27
2.6 Na-CMC ................................................................................... 29
2.6.1 Sinonim ........................................................................ 30
2.6.2 Berat Molekul .............................................................. 30
2.6.3 Deskripsi ...................................................................... 30
2.6.4 Kelarutan ..................................................................... 30
BAB I

v

2.6.5 Stabilitas ...................................................................... 30
2.6.6 OTT ............................................................................. 30
2.6.7 Penggunaan .................................................................. 30
2.6.8 Konsentrasi .................................................................. 31
2.7 Metode Pemeriksaan Kadar Asam Urat Dalam Darah ............... 31
2.7.1 Metode Enzimatik Spektofotometer UV-Vis ................ 31
2.7.2 Tes Strip Asam Urat ..................................................... 31
2.8 Tinjauan Hewan Coba ............................................................... 32
BAB III KERANGKA KONSEP ................................................................... 34
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ...................................................... 35
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian.................................................... 35
4.2 Hewan dan Bahan Uji ............................................................... 35
4.2.1 Hewan Uji .................................................................... 35
4.2.2 Bahan Uji ..................................................................... 35
4.2.3 Bahan Kimia ................................................................ 35
4.3 Alat-Alat ................................................................................... 36
4.4 Prosedur Kerja .......................................................................... 36
4.4.1 Pembuatan Simplisia .................................................... 36
4.4.2 Ekstraksi ...................................................................... 36
4.4.3 Uji Penapisan Fitokimia ............................................... 37
4.4.4 Persiapan Hewan Uji .................................................... 39
4.4.5 Rancangan Percobaan .................................................. 40
4.4.6 Pembuatan Ekstrak Uji dan Perhitungan Dosis ............. 41
4.4.7 Penyiapan Larutan Ekstrak Uji ..................................... 42
4.4.8 Percobaan .................................................................... 42
4.4.9 Cara Pengambilan Darah .............................................. 42
4.4.10 Pengukuran Kadar Asam Urat Darah.......................... 43
4.4.11 Uji Statistik Terhadap Kadar Aasm Urat Darah ........... 43
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 44
5.1 Hasil Penelitian....................................................................... 44
5.1.1 Determinasi Tanaman .................................................. 44
5.1.2 Ekstraksi ...................................................................... 44
5.1.3 Penapisan Fitokimia ..................................................... 44
5.1.4 Hasil Pengukuran Kadar Asam Urat Darah................... 45
5.1.5 Uji Statistik Kadar Asam Urat Darah............................ 47
5.2 Pembahasan ............................................................................ 47
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN......................................................... 52
6.1 Kesimpulan ............................................................................ 52
6.2 Saran ...................................................................................... 52
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 53
LAMPIRAN ..................................................................................................... 56

vi

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Pembagian kelompok hewan uji ........................................................... 40
Tabel 2. Hasil pemeriksaan penapisan fitokimia ekstrak kental daun sirih .......... 45
Tabel 3. Hasil persentase pengukuran rata-rata kadar asam urat darah
hewan uji selama percobaan (mg/dl) ..................................................... 46
Tabel 4. Hasil pengukuran kadar asam urat darah hewan uji selama
percobaan (mg/dl) ................................................................................ 46
Tabel 5. Hasil persentase penurunan kadar asam urat darah rata-rata kelompok
ekstrak uji, dan kontrol pembanding ..................................................... 50

vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Daun sirih ......................................................................................... 8
Gambar 2. Struktur asam urat ........................................................................... 20
Gambar 3. Struktur allopurinol......................................................................... 26
Gambar 4. Struktur kafeina .............................................................................. 27
Gambar 5. Struktur Na-CMC ........................................................................... 29
Gambar 6. Kurva kadar asam urat rata-rata hewan uji selama percobaan .......... 45
Gambar 7. Tikus putih jantan galur Sprague-Dawley ....................................... 58
Gambar 8. Pemberian sediaan secara oral......................................................... 58
Gambar 9. Vacuum Rotary Evaporator ............................................................. 59
Gambar 10. Timbangan analitik ......................................................................... 59
Gambar 11. Timbangan tikus ............................................................................. 59
Gambar 12. Timbangan...................................................................................... 59
Gambar 13. Alat dan tes strip asam urat (Easytouch) .......................................... 59

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Hasil determinasi tanaman sirih (Piper Betle L) ........................... 56
Surat keterangan galur hewan uji .................................................. 57
Hewan uji..................................................................................... 58
Alat- alat yang digunakan dalam penelitian .................................. 59
Skema proses ekstraksi................................................................. 60
Skema uji efek penurunan kadar asam urat darah ......................... 61
Perhitungan rendemen dan dosis ekstrak kental daun sirih (Piper
Betle L) ....................................................................................... 62
Lampiran 8. Pembuatan sediaan uji .................................................................. 63
Lampiran 9. Hasil pengukuran kadar asam urat darah hewan uji selama
percobaan .................................................................................... 64
Lampiran 10. Uji normalitas (One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test)
terhadap kadar asam urat darah kelompok hewan uji ................... 65
Lampiran 11. Uji homogenitas (Lavene) terhadap kadar asam urat darah
kelompok hewan uji .................................................................... 66
Lampiran 12. Uji ANOVA satu arah dan Beda Nyata Terkecil (BNT)
dengan LSD terhadap kadar asam urat darah kelompok
hewan uji .................................................................................... 67

Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

ix

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Asam urat merupakan hasil akhir katabolisme purin dalam tubuh yang tidak
memiliki fungsi fisiologis sehingga dianggap sebagai produk buangan. Pada
kondisi normal, kadar asam urat dalam darah adalah 3,4-7,0 mg/100 ml pada pria
dan 2,4-5,7 mg/100 ml pada wanita (Howkin et al, 1997).
Pada kondisi patofisiologis, dapat terjadi peningkatan kadar asam urat dalam
darah melewati batas normal yang disebut hiperurisemia yang dapat menyebabkan
akumulasi kristal urat pada persendian sehingga menimbulkan rasa nyeri (Price et
al, 1995). Pada manusia, asam urat dieksresikan didalam urin, tetapi dalam
mamalia lain, asam urat dioksidasi lebih lanjut menjadi alantoin dikatalisasi oleh
enzim urikase (Yuno, 2003).
Menurut data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Nasional Cipto
Mangun Kusumo Jakarta, penderita rematik gout dari tahun ke tahun semakin
meningkat dan ada kecenderungan diderita pada usia semakin muda, yaitu
kelompok usia produktif (30 sampai 50 tahun). Oleh karena itu, jika penyakit ini
tidak ditangani secara tidak tepat, maka gangguan yang ditimbulkan dapat
menurunkan produktivitas kerja (Krisnatuti et al, 1997).
Diperkirakan bahwa gangguan asam urat terjadi pada 840 dari setiap 100.000
orang, dan mewakili sekitar 5 % dari total penyakit radang sendi. Penyakit ini

1

2

dapat dikelompokkan menjadi bentuk gout primer yang umum terjadi (90 %
kasus). Penyebabnya tidak diketahui dengan jelas, tetapi diperkirakan akibat
kelainan proses metabolisme dalam tubuh, dan yang pasti ada hubungannya
dengan obesitas, hipertensi, hiperlipidemia, dan diabetes mellitus. Umumnya
dialami oleh laki-laki berusia lebih dari 30 tahun. Sedangkan gout sekunder (10 %
kasus) dialami oleh umumnya wanita setelah menopause. Penyebabnya adalah
gangguan hormon (Redaksi Vita Healt, 2008).
Pengobatan penyakit gout bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan
pembengkakan sendi serta menurunkan kadar asam urat darah. Penurunan kadar
asam urat darah dapat dilakukan dengan cara mengurangi produksi atau
meningkatkan eksresi asam urat. Salah satu obat yang dapat digunakan untuk
menurunkan kadar asam urat darah adalah alopurinol. Pengobatan dengan
alopurinol atau obat gout lainnya biasanya dilakukan dalam jangka waktu lama,
dengan cara mengurangi produksi atau meningkatkan eksresinya. Saat ini
pengobatan hiperurisemia serta gout dilakukan dengan alopurinol serta obat-obat
anti inflamasi lainnya. Penggunaan obat sintesis dalam jangka waktu yang
panjang dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan serta dilihat dari
aspek ekonomi obat sintesis memberatkan pasien dalam hal biaya. Oleh karena
itu, dibutuhkan pengembangan dari bahan alam yang lebih murah dan memiliki
potensi yang lebih baik yang berasal dari bahan alam yaitu obat tradisional
mengingat sumber daya alam Indonesia yang beragam akan tanaman obat. Selain
itu obat-obat yang berasal dari bahan alam terbukti secara empiris lebih akan
digunakan dalam penggunaan jangka panjang dibanding dengan obat-obat sintesis
(Yuno, 2003).

3

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar
di dunia dengan lebih dari 30 ribu spesies tanaman berkhasiat mengobati melalui
penelitian ilmiah. Hanya sekitar 180 spesies tersebut telah dimanfaatkan dalam
tanaman obat tradisional oleh industri obat tradisional Indonesia (Herlina, 2005).
Hal ini disebabkan pemanfaatan tumbuhan obat Indonesia untuk mengobati suatu
penyakit biasanya hanya berdasarkan pengalaman empiris yang diwariskan secara
turun temurun tanpa disertai data penunjang yang memenuhi persyaratan. Contoh
tanaman obat yang sering dimanfaatkan adalah sirih. Secara empiris orang yang
mengkonsumsi sirih jarang ditemukan mempunyai penyakit asam urat. Dalam
daun sirih terdapat kandungan tannin yang pada penelitian sebelumya
menyebutkan senyawa tannin mampu menghambat enzim xanthin oksidase
(Immaculata et al, 2005).
Penelitian

farmakologis

dengan

tahap

pengujian

secara

sistematik,

menggunakan metode uji pengukuran penurunan kadar asam urat yang tepat harus
digunakan agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bermanfaat
bagi masyarakat dan dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya. Hal
tersebut melatarbelakangi dilakukannya pengujian khasiat efek ekstrak etanol
Daun Sirih (Piper betle L) untuk menurunkan kadar asam urat darah hewan coba.
Dalam hal ini hewan percobaan yang digunakan adalah tikus putih jantan jantan
galur Sprague-Dawley yang dibuat hiperurisemia yang diinduksi oleh kafeina
sebagai metode uji asam urat praklinis yang mendekati keadaan penderita asam
urat yang sebenarnya dan pemeriksaan kadar asam urat darahnya menggunakan
metode tes strip asam urat.

4

1.2 Perumusan Masalah
Apakah ekstrak etanol Daun sirih (Piper betle L) memiliki kemampuan
menurunkan kadar asam urat darah.
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk membuktikan khasiat ekstrak etanol Daun sirih (Piper betle L) dalam
menurunkan kadar asam urat darah tikus putih jantan galur Sprague-Dawley yang
dibuat hiperurisemia dengan pemberian kafeina.
1.4 Hipotesis
Ekstrak etanol daun sirih (Piper betle L) dapat menurunkan kadar asam urat
darah tikus putih jantan galur Sprague-Dawley yang diinduksi dengan kafeina.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam
meningkatkan upaya kesehatan dengan mengembangkan obat tradisonal sehingga
dapat dimanfaatkan dengan berdasarkan landasan ilmiah.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Daun Sirih (Piper betle L)
Tinjauan mengenai tumbuhan ini meliputi klasifikasi tumbuhan, nama daerah,
deskripsi tumbuhan, khasiat dan kegunaan serta kandungan kimia.
2.1.1 Klasifikasi
Berdasarkan ilmu taksonomi, klasifikasi tanaman sirih adalah sebagai
berikut (Depkes RI, 1980):
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Piperales

Familia

: Piperaceae

Genus

: Piper

Spesies

: Piper betle L.

2.1.2 Nama Daerah (Depkes RI, 1980)
Sumatera : ranub (Aceh), blo, sereh (Gayo), belo (Batak Karo), demban
(Batak Toba), sirieh, sirih, suruh (Palembang, Minanagkabau), canbai
(Lampung).
Jawa : seureuh (Sunda), sedah, suruh (Jawa), sere (Madura).
Bali : base, sedah
5

6

Nusa Tenggara : nahi (Bima), kuta (Sumba), mota (Flores), orengi (Ende),
taa (Sikka), malu (Solor), mokeh (Alor).
Kalimantan : uwit (Dayak), buyu (Bulungan), uduh sifat (Kenya), sirih
(Sampit), uruesipa (Seputan).
Sulawesi : ganjang, gapura (Bugis), baulu (Bare), buya, dondili (Buol),
bolu (Parigi), komba (Selayar), lalama, sangi (Talaud)
Maluku : ani-ani (Hok), papek, raunge, rambika (Alfuru), nein (Bonfia),
kakinuam (Waru), amu (Rumakai, Elpaputi, Ambon, Ulias), garmo (Buru),
bido (Macan).
Irian : reman (Wendebi), manaw (Makimi), namuera (Saberi), etouwon
(Armahi), nai wadok (Saarmi), mera (Sewan), mirtan (Berik), afo
(Sentani), wangi (Sawa), freedor (Awija), dedami (Marind).
2.1.3 Pertelaan
Tanaman sirih merupakan tumbuhan memanjat, tinggi 5 m sampai 15 m.
Helaian daun berbentuk bundar telur atau bundar telur lonjong, pada bagian
pangkal berbentuk jantung atau agak bundar, tulang daun bagian bawah gundul
atatu berambut sangat pendek, tebal, berwarna putih, panjang 5 cm sampai 18 cm,
lebar 2,5 cm sampai 10,5 cm. Bunga berbentuk bulir, berdiri sendiri di ujung
cabang dan berhadapan dengan daun. Daun pelindung berbentuk lingkaran,
bundar telur terbalik atau lonjong, panjang kira-kira 1 mm. Bulir jantan, panjang
gagang 1,5 cm sampai 3 cm, benang sari sangat pendek. Bulir betina, panjang
gagang 2,5 cm sampai 6 cm. Kepala putik 3 sampai 5. Buah buni, bulat, dengan

7

ujung gundul. Bulir masak berambut kelabu, rapat, tebal 1 cm sampai 1,5 cm. Biji
membentuk lingkaran (Depkes RI, 1980).
2.1.4 Budidaya
Tanaman ini dapat diperbanyak dengan stek. Stek diambil dari sulur yang
tumbuh bagian atas sepanjang 40 cm sampai 50 cm. Untuk pertumbuhan sirih
memerlukan sandaran pohon dengan jarak 1,5 cm, panjang stek atau 3 - 4 m. Tiap
selang dua baris dibuat selokan yang digunakan untuk mengairi sirih di musim
kemarau, karena dalam keadaan kering, pembentukan daunnya akan berkurang
atau berhenti sama sekali. Bila sandaran sudah berakar baik pada permulaan
musin hujan dibuat lubang sekitar sandaran. Sebaliknya dengan memotong sulur
panjang yang sudah dewasa pada pangkalnya, daunnya dihilangkan, kemudian
sulur dibagi menjadi 3 atau 4 bagian dan ditanam secara mendatar. Dengan
pemeliharaan yang cukup baik, sirih akan bertahan selama bertahun-tahun. Cara
pemeliharaannya mudah, hanya memerlukan air dengan penyiraman yang cukup,
menjaga kelembapan, dan pemupukan, terutama pupuk dasar. Sirih bisa ditanam
ditempat panas atau agak terlindung (Depkes RI, 1980).
2.1.5 Ekologi dan Penyebaran
Sirih ditemukan di bagian timur pantai Afrika, di sekitar Pulau Zanzibar,
daerah sekitar Sungai Indus ke timur menelusuri Sungai Yang Tse Kiang,
Kepulauan Bonin, Kepulauan Fiji, dan Kepulauan Indonesia. Sirih tersebar di
Nusantara dalam skala yang tidak terlalu luas. Di Jawa tumbuh liar di hutan jati
atau hutan hujan sampai ketinggian 300 m diatas permukaan laut. Untuk

8

memperoleh pertumbuhan yang baik diperlukan tanah yang kaya akan humus,
subur dan pengairan yang baik (Depkes RI, 1980).
2.1.6 Deskripsi Daun Sirih
Pemerian daun sirih adalah memiliki bau aromatik khas; rasa pedas, khas.
Secara makroskopik yaitu daun tunggal, warna coklat kehijauan sampai coklat.
Helaian daun berbentuk bundar telur sampai lonjong, ujung runcing, pangkal
berbentuk jantung atau agak bundar berlekuk sedikit, pinggir daun rata agak
menggulung ke bawah, panjang 5 cm sampai 18,5 cm, lebar 3 cm sampai 12 cm;
permukaan atas rata, licin agak mengkilat, tulang daun agak tenggelam;
permukaan bawah agak kasar, kusam, tulang daun menonjol, permukaan atas
berwarna lebih tua dari permukaan bawah. Tangkai daun bulat, warna coklat
kehijauan, panjang 1,5 cm sampai 8 cm.

Gambar 1. Daun sirih
Secara mikroskopik yaitu epidermis atas terdiri dari satu lapis sel, bentuk
persegi empat, kutikula tebal licin, pada pengamatan tangensial tampak berbentuk
poligonal dengan dinding samping lurus. Epidermis bawah serupa dengan
epidermis atas, pada pengamatan tangensial tampak berbentuk poligonal dengan

9

dinding samping agak berombak. Pada kedua permukaan daun terdapat rambut
penutup dan rambut kelenjar. Rambut pada epidermis atas lebih sedikit dari pada
epidermis bawah. Rambut penutup terdiri dari satu sel, bentuk kerucut pendek,
ujung runcing, panjang 18 µm sampai 25 µm, dinding tebal, kutikula licin.
Rambut kelenjar mempunyai kepala kelenjar bersel satu, bentuk bulat. Stomata
tipe anomositik, panjang 25 µm sampai 35 µm, terdapat banyak pada epidermis
bawah, pada epidermis atas tidak ada stomata. Hipodermis terdapat pada kedua
permukaan daun, hipodermis atas umumnya terdiri dari dua lapis sel, hipodermis
bawah umumnya satu lapis; sel hipodermis berbentuk persegi empat, besar, jernih,
tersusun rapat; pada hipodermis terdapat sel minyak berisi minyak atsiri berwarna
kekuningan. Jaringan palisade terdiri dari 1 lapis sel, terletak di bawah hipodermis
atas, mengandung banyak butir hijau daun, juga terdapat sel minyak seperti sel
minyak pada hipodermis. Jaringan bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel,
bentuk sel tidak beraturan, tersusun agak mendatar; sel minyak seperti pada
palisade. Berkas pembuluh tipe kolateral, di antara jaringan floem terdapat sel
minyak. Di atas berkas pembuluh pada tulang daun utama umumnya terdapat
saluran sizogen; pada parenkim yang sederet dengan palisade, terdapat banyak
butir hijau daun; terdapat juga sel berisi hablur bentuk prisma yang tidak larut
pada penambahan asam klorida pekat (Depkes RI, 1980).
2.1.7 Kandungan Kimia
Daun sirih mengandung banyak minyak atsiri yang terdiri dari hidroksi
kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metil eugenol, karvakrol, terpinen,
seskuiterpen, fenilpropan, tannin (Depkes RI, 1980).

10

2.1.8 Khasiat dan kegunaan
Khasiat daun sirih adalah sebagai antisariawan, antibatuk, dan antiseptik
(Depkes RI, 1980). Selain itu juga sebagai antiradang, peluruh kentut, dan
menghilangkan gatal. Efek zat aktif eugenol (daun) untuk mencegah ejakulasi,
mematikan cendawan Candida albicans yang merupakan penyebab keputihan,
antikejang, analgetik, dan anestetik (Standar of ASEAN, 1993). Tannin (daun)
untuk mengurangi sekresi cairan pada vagina, pelindung hati, antidiare, dan
antimutagenik (Hariana, 2006).
Daun sirih mempunyai efek sebagai antibakteri karena mengandung
banyak senyawa fenol sehingga dapat membunuh kuman-kuman penyebab
penyakit. Secara tradisional, daun sirih memang disebutkan sebagai obat sariawan
namun belum diketahui bagaimana mekanisme kerjanya, sebagai antibakteri atau
berfungsi lain. Daun sirih mengandung minyak atsiri, salah satu diantara
komponennya adalah karvakrol. Karvakrol bersifat sebagai desinfektan dan anti
jamur sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan
keputihan. Zat lainnya yaitu eugenol dan metil eugenol yang dapat digunakan
untuk mengurangi rasa sakit pada gigi (Depkes RI. Dirjen BPOM, 2000) .
2.2 Simplisia
2.2.1 Pengertian Simplisia
Simplisia adalah bahan yang digunakan untuk obat dan belum mengalami
perubahan proses apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan
yang telah dikeringkan (Gunawan et al, 2004).

11

Berdasarkan hal itu maka simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu
simplisia nabati, hewani, dan pelikan / mineral (Gunawan et al, 2004).
A. Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh bagian
tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya.
B. Simplisia hewani adalah simpisia berupa hewan utuh atau zat-zat berguna
yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni.
C. Simplisia pelikan (mineral) adalah simplisia berupa bahan pelikan atau
mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan
belum berupa bahan kimia murni
Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman
atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat
berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu
dipisahkan atau diisolasi dari tanamannya. Simplisia hewani adalah simplisia
berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum
berupa bahan kimia murni. Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia yang
berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah dengan cara sederhana dan
belum berupa bahan kimia murni (Depkes RI, 1979).
Simplisia nabati dan simplisia hewani tidak boleh mengandung organisme
patogen, dan harus bebas dari cemaran mikroorganisme, serangga, dan binatang
lain maupun kotoran hewan. Simplisia tidak boleh menyimpang bau dan
warnanya, tidak boleh mengandung lendir, atau menunjukkan adanya kerusakan.
Sebelum diserbukkan, simplisia nabati harus dibebaskan dari pasir, debu, atau
pengotoran lain yang berasal dari tanah maupun benda anorganik asing (Depkes
RI, 1995).

12

2.2.2 Faktor-fakor yang Mempengaruhi Kualitas Simplisia (Gunawan et al,
2004)
Kualitas simplisia dipengaruhi oleh faktor bahan baku dan proses
pembuatannya :
A. Bahan baku simplisia
Berdasarkan bahan bakunya, simplisia dapat diperoleh dari tanaman liar
dan atau dari tanaman yang dibudidayakan. Jika simplisia diambil dari
tanaman budidaya maka keseragaman umur, masa panen, dan galur (asal
usul, garis keturunan) tanaman dapat dipantau. Sementara jika diambil dari
tanaman liar maka banyak kendala dan variabilitas yang tidak bisa
dikendalikan seperti asal tanaman, umur, dan tempat tumbuh.
B. Proses pembuatan simplisia
Dasar pembuatan simplisia meliputi beberapa tahapan. Adapun tahapan
tersebut dimulai dari pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian,
pengubahan bentuk, pengeringan, sortasi kering, pengepakan, dan
penyimpanan.
C. Pengumpulan Bahan Baku
Tahapan pengumpulan bahan baku sangat menentukan kualitas bahan
baku. Faktor yang paling berperan dalam tahapan ini adalah masa panen.
Berdasarkan garis besar pedoman panen, pengambilan bahan baku
tanaman dilakukan pada saat yang berbeda-beda untuk setiap bagian
tumbuhan, seperti biji, buah, bunga, daun atau herba, kulit batang, umbi
lapis, rimpang, dan akar. Panen daun dilakukan pada saat proses
fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu ditandai dengan saat-saat

13

tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. Untuk pengambilan
pucuk daun, dianjurkan pada saat warna pucuk daun berubah menjadi daun
tua.
D. Sortasi basah
Sortasi basah adalah pemilahan hasil panen ketika tanaman masih segar.
Sortasi dilakukan terhadap tanah dan kerikil, rumput-rumputan, bahan
tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan, dan
bagian tanaman yang rusak (dimakan ulat dan sebagainya).
E. Pencucian
Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat,
terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan
yang tercemar pestisida. Pencucian bisa dilakukan dengan menggunakan
air yang berasal dari beberapa sumber, yaitu mata air, sumur, dan air
PAM. Sebelum pencucian terkadang perlu dilakukan proses pengupasan
kulit luar, terutama untuk simplisia-simplisia yang berasal dari kulit
batang, kayu, buah, biji, rimpang, dan bulbus.
F. Pengubahan bentuk
Pada dasarnya tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk
memperluas permukaan bahan baku. Semakin luas permukaan maka bahan
baku akan semakin cepat kering.
G. Pengeringan
Proses pengeringan simplisia, terutama bertujuan untuk menurunkan kadar
air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri;
menghilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut

14

kandungan zat aktif; serta memudahkan dalam hal pengelolaan proses
selanjutnya (ringkas, mudah disimpan, tahan lama, dan sebagainya).
Faktor yang mempengaruhi pengeringan diantaranya adalah waktu
pengeringan, suhu pengeringan, kelembaban udara di sekitar bahan,
kelembaban bahan atau kandungan air dari bahan, ketebalan bahan yang
dikeringkan, sirkulasi udara, dan luas permukaan bahan.
H. Sortasi kering
Sortasi kering adalah pemilahan bahan setelah mengalami proses
pengeringan. Pemilahan dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu
gosong, bahan yang rusak, atau dibersihkan dari kotoran hewan.
I. Penyimpanan
Setelah tahap pengeringan dan sortasi kering selesai maka simplisia perlu
ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri dan disimpan di tempat yang
memenuhi persyaratan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpanan
adalah cahaya, oksigen atau sirkulasi udara, reaksi kimia yang terjadi
antara kandungan aktif dengan wadah, penyerapan air, kemungkinan
terjadinya proses dehidrasi, pengotoran dan atau pencemaran, baik yang
diakibatkan oleh serangga, kapang atau pengotor yang lain. Persyaratan
wadah untuk penyimpanan simplisia adalah harus inert (tidak mudah
bereaksi dengan bahan lain); tidak beracun; mampu melindungi bahan
simplisia dari cemaran mikroba, kotoran, dan serangga; mampu
melindungi bahan simplisia dari penguapan kandungan zat aktif, pengaruh
cahaya, oksigen, dan uap air.

15

2.2.3 Pemeriksaan Mutu Simplisia (Depkes RI. Dirjen BPOM, 2000)
Pemeriksaan mutu simplisia mencakup susut pengeringan, kadar abu,
kadar abu yang tidak larut asam, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol.
A. Susut pengeringan
Susut pengeringan adalah pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada
temperatur 105oC selama 30 menit atau sampai berat konstan, yang
dinyatakan sebagai nilai persen (%). Tujuannya untuk memberikan batasan
maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses
pengeringan. Nilai untuk susut pengeringan jika tidak dinyatakan lain
adalah kurang dari 10%.
B. Kadar abu
Untuk penentuan kadar abu, bahan dipanaskan pada temperatur dimana
senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap sehingga
hanya tersisa unsur mineral dan anorganik. Tujuannya adalah untuk
memberikan gambaran tentang kandungan mineral internal dan eksternal
yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak. Nilai untuk
kadar abu sesuai yang tertera dalam monografi.
C. Kadar abu yang tidak larut asam
Jumlah unsur mineral dan anorganik di dalam simplisia yang tidak larut
dalam asam dinyatakan sebagai kadar abu yang tidak larut asam. Nilai
untuk kadar abu yang tidak larut asam sesuai yang tertera dalam
monografi.

16

D. Kadar sari larut air
Penetapan kadar sari larut air dilakukan untuk mengetahui kandungan
terendah zat yang terlarut dalam air. Nilai untuk kadar sari larut air sesuai
dengan monografinya.
E. Kadar sari larut etanol
Penetapan kadar sari larut etanol dilakukan untuk mengetahui kandungan
terendah zat yang larut dalam etanol tetapi mungkin tidak larut dalam air.
Nilai untuk kadar sari larut etanol sesuai dengan monografinya.
2.3 Ekstrak dan Ekstraksi
2.3.1 Pengertian
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi
senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai (Depkes RI Dirjen POM, 2000).
Ekstrak dikelompokkan atas dasar sifatnya, yaitu (Voight, 2005) :
A. Ekstrak encer adalah sediaan yang memiliki konsistensi semacam madu
dan dapat dituang.
B. Ekstrak kental adalah sediaan yang liat dalam keadaan dingin dan tidak
dapat dituang. Kandungan airnya berjumlah sampai 30 %. Tingginya
kandungan air menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat karena cemaran
bakteri.
C. Ekstrak kering adalah sediaan yang memiliki konsistensi kering dan
mudah dituang, sebaiknya memiliki kandungan lembab tidak lebih dari
5%.

17

D. Ekstrak cair, ekstrak yang dibuat sedemikiannya sehingga 1 bagian
simplisia sesuai dengan 2 bagian ekstrak cair.
Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang terdapat
pada simplisia. Ragam ekstraksi yang tepat sudah tentu bergantung pada tekstur
dan kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa yang
diisolasi. Umumnya kita perlu membunuh jaringan tumbuhan untuk mencegah
terjadinya oksidasi enzim atau hidrolisis (Harbone, 1996). Karena didalam
simplisia mengandung senyawa aktif yang berbeda-beda dan mempunyai struktur
kimia yang berbeda-beda, sehingga metode didalam penarikan senyawa aktif
didalam simplisia harus memperhatikan faktor seperti : udara, suhu, cahaya,
logam berat. Proses ekstraksi dapat melalui tahap menjadi : Pembuatan serbuk,
pembasahan, penyarian, dan pemekatan (Depkes RI Dirjen POM, 2000).
2.3.2 Metode Ekstraksi
Macam-macam metode penyarian dalam ekstraksi yang dapat dilakukan
diantaranya (Depkes RI Dirjen POM, 2000) :
A. Ekstraksi dengan pemerasan, penekanan, atau pengahalusan mekanik
B. Ekstraksi dengan menggunakan pelarut :
1. Cara Dingin
a. Maserasi
Maserasi adalah proses ekstraksi simplisia menggunakan pelarut dengan
beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan.

18

b. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
sempurna (exchaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada
temperature ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan,
tahap maserasi dan perkolasi sebenarnya (penetesan, penampungan
ekstrak) secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak.
2. Cara Panas
a. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperature titik didihnya,
selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relative konstan
dengan adanya pendinginan balik.
b. Soxhletasi
Soxhletasi adalah

ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru.

Umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi
berlanjut sampai jumlah pelarut relative konstan dengan adanya pendingin
balik.
c. Digesti
Digesi adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan berlanjut) pada
temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, secara umum
dilakukan pada temperatur 40o C-50o C.
d. Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air
mendidih, temperatur terukur 96oC - 98oC selama waktu tertentu (15-20
menit). Infus pada umumnya digunakan untuk menarik atau mengekstraksi

19

zat aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Hasil dari ekstrak
ini akan menghasilkan zat aktif yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh
kuman dan kapang, sehingga ekstrak yang diperoleh dengan infus tidak
boleh disimpan lebih dari 24 jam.
e. Dekok
Dekok adalah infus yang waktunya lebih lama (lebih dari 30 menit) dan
temperatur sampai titik didih air.
f. Destilasi uap
Destilasi uap adalah ekstraksi kandungan senyawa mudah menguap dari
bahan segar atau simplisia dengan uap air. Cara ini didasarkan pada
peristiwa tekanan parsial senyawa kandungan menguap dengan fase uap
air dari ketel secara berlanjut sampai sempurna dan diakhiri dengan
kondensasi fase uap campuran menjadi destilat air bersama senyawa
kandungan yang memisah sempurna atau memisah sebagian.
C. Cara ekstraksi lainnya :
1. Ekstraksi ultrasonik
Ekstraksi dengan menggunakan gelombang ultrasonik (lebih dari 20.000
Hz) memberikan efek pada proses ekstraksi dengan prinsip meningkatkan
permeabilitas dinding sel, menimbulkan gelombang spontan serta
menimbulkan fraksi interfase.
2. Ekstraksi energi listrik
Energi listrik digunakan dalam bentuk medan listrik, medan magnet serta
elektrik discharges yang dapat mempercepat proses ekstraksi dan

20

meningkatkan hasil dengan prinsip menimbulkan gelombang spontan dan
menyebarkan gelombang tekanan berkecepatan ultrasonik.
2.4 Asam urat

Gambar 2. Struktur asam urat
2.4.1 Sifat Fisika dan Kimia Asam Urat
Asam urat dikenal dengan nama kimia sebagai 2,6,8-trioksipurin
merupakan asam lemah organik dengan berat molekul 169. Asam urat merupakan
senyawa yang termasuk dalam golongan senyawa purin yang paling mudah
dioksidasi. Oksidasi asam urat dalam bentuk larutan netral dan alkalis
menghasilkan karbondioksida serta terbentuknya alantoin dan produksi degredasi
lainnya pada suasana asam akan teroksidasi menjadi aloksan (Kasper et al, 2004).
Asam urat yang bersifat asam lemah disebabkan dari mudah terionisasinya
atom hidrogen pada posisi 9 (pK1 = 5,71) dan posisi 3 (pK2 = 10) dari molekul
tersebut. Hanya disosiasi proton pertama yang perlu dipertimbangkan, karena pK2
yang bernilai 10,3 berada diatas nilai pada cairan fisiologik yang memilki pH 14.
Jadi hanya asam urat dan garam natrium urat yang terdapat dalam cairan tubuh.
Garam natrium urat jauh lebih larut dalam air bila dibandingkan dengan asam
urat. Namun kelarutan garam tersebut memiliki batas tertentu pada cairan plasma.
Serum darah akan jenuh dengan garam natrium urat pada konsentrasi 6,4

21

mg/100ml. Pada konsentrasi tersebut, larutan akan menjadi tidak stabil dan garam
natrium urat akan mengendap dengan cepat membentuk kristal natrium urat yang
tertimbun pada persendian (Kasper et al, 2004).
2.4.2 Metabolisme Asam Urat
Manusia mengubah nukleosida purin yang utama, adenosin dan guanosin
menjadi asam urat yang dieksresikan keluar setelah mengalami beberapa kali
reaksi. Adenosin pertama-tama mengalami deaminasi menjadi ionosin oleh enzim
adenosin deaminase. Fosforisasi ikatan N-glikosidat, akan melepas senyawa
ribosa-1-fosfat dan basa purin. Hipoxantin dan guanosin selanjutnya membentuk
xantin dalam reaksi yang dikatalisasi masing-masing oleh enzim xantin oksidase
dan guanase. Kemudian xantin teroksidasi menjadi asam urat dalam reaksi kedua
yang dikatalisasi oleh enzim xantin oksidase. Dengan demikian, xantin oksidase
merupakan lokasi yang esensial untuk intervensi farmakologis pada penderita
hiperurisemia dan penyakit gout (Rodwell et al, 1998).
Eksresi keseluruhan asam urat pada manusia yang normal berkisar ratarata 400-600 mg/24 jam. Duapertiga asam urat yang terbentuk dieliminasi melalui
ginjal, sedangkan sepertiganya melalui saluran pencernaan (Weatheral DJ et al,
1987).
Banyak senyawa yang terdapat secara alami dan digunakan dalam
farmakologi mempengaruhi absorpsi dan sekresi natrium urat pada ginjal. Sebagai
contoh, pemberian aspirin dengan dosis tinggi secara kompetitif akan
menghambat reabsorpsi asam urat sehingga berdampak pada peningkatan eksresi
zat tersebut (Rodwell, et al. 1998).

22

Pada mamalia yang tingkatannya lebih rendah, enzim urikase akan
memecah asam urat dengan membentuk produk akhir alantoin yang bersifat
sangat larut air. Namun demikan, karena manusia tidak mengandung enzim
urikase, maka produk katabolisme senyawa purin pada manusia adalah asam urat.
amfibi, burung, dan reptil juga tidak memiliki enzim urikase dan mengeksresikan
asam urat serta guanin sebagai produk akhir katabolisme senyawa purin (Rodwell,
et al. 1998).
2.4.3 Patologis Asam Urat
Pada manusia, asam urat merupakan produk buangan akhir dari degradasi
senyawa purin. Zat tersebut tidak memiliki kegunaan fisiologis sehingga dapat
dianggap bahan buangan. Karena ketidakberadaan enzim urikase pada manusia,
maka terdapat kemungkinan adanya timbunan asam urat yang apabila melewati
batas tertentu akan menimbulkan gangguan patologis.
Pada kondisi normal kadar asam urat pada laki-laki 3,4-7,0 mg/dl
sedangkan pada perempuan antara 2,4-5,7 mg/dl. Jika kelebihan produksi ataupun
penurunan eksresi asam urat dalam tubuh akan meningkat yang disebut
hiperurisemia. Keadaan hiperurisemia tersebut dapat menimbulkan penyakit gout
sebagai akibat adanya penimbunan kristal natrium urat pada persendian yang
disertai rasa nyeri (Howkin, et al. 1997).
A. Hiperurisemia
Hiperurisemia adalah suatu keadaan dimana kadar asam urat dalam darah
meningkat dan mengalami kejenuhan. Berdasarkan definisi tersebut
konsentrasi asam urat yang melebihi dari 7,0 mg/dl pada laki-laki dan 5,7

23

mg/dl sudah dianggap hiperurisemia dan beresiko terkena gout.
Hiperurisemia juga dapat dibedakan berdasarkan kenyataan apakah pasien
mengeksresikan asam urat dengan jumlah total atau berlebihan (lebih dari
600 mg/24 jam). Hiperurisemia dapat disebabkan oleh adanya kelainan
ginjal yang menyebabkan kenaikan asam urat serum. Selain itu
peningkatan produksi asam urat akibat suatu penyakit seperti kanker dan
adanya kelainan enzim yang berperan dalam metabolisme senyawa purin
(Howkin, et al. 1997).
Beberapa sistem enzim berperan dalam pengaturan metabolisme senyawa
purin. Ketidaknormalan pada sistem tersebut dapat meningkatkan
kenaikan produksi asam urat. Terdapat dua enzim yang berperan dalam
pengaturan

metabolisme

asam

urat

yang

berhubungan

dengan

hiperurisemia. Yang pertama yaitu peningkatan aktifitas enzim fosforibosil
pirofosfat (PRPP). Fosforibosil pirofosfat (PRPP) adalah salah satu zat
kunci dalam pembentukan nukleotida purin dan juga pembentukan asam
urat. Semakin tingginya konsentrasi fosforibosil pirofosfat (PRPP) yang
terbentuk maka asam urat yang diproduksi semakin meningkat. Yang
kedua yaitu defisiensi dari hipoxantin guanin fosforibosi transferasi
(HGRPT).

Hipoxantin

guanin

fosforibosi

transferasi

(HGRPT)

bertanggung jawab dalam pengubahan guanin menjadi guanosin
monofosfat (GMP) dan hipoxantin menjadi inosin monofosfat (IMP).
Pengubahan tersebut memerlukan PRPP sebagai kosubstrat. Defisiensi
enzim HGRPT dapat meningkatkan metabolisme guanin dan hipoxantin
menjadi asam urat dan juga lebih banyak PRPP yang berinteraksi dengan

24

glutamin pada langkah pertama metabolisme senyawa purin (Howkin, et
al. 1997).
B. Gout
Kata gout berasal dari bahasa latin “Gutta” yang berarti “tetes”. Kata
tersebut mulai digunakan sekitar tahun 1270 dan dipercaya bahwa gout
disebabkan oleh tetesan cairan yang beracun “noxa” pada persendian
(Weatheral DJ et al, 1987). Penyakit gout merupakan suatu proses
inflamasi yang terjadi karena penumpukan kristal asam urat pada sekitar
jaringan sendi akibat kadar asam urat serum yang melebihi kelarutannya.
Kristalisasi natrium urat dalam jaringan lunak dan persendian akan
membentuk endapan yang dinamakan tofus. Proses ini menyebabkan suatu
reaksi inflamasi akut, yaitu artritis akut gout, yang dapat berlanjut menjadi
artritis kronis gout. Pemeriksaan dengan mikroskop cahaya terpolarisasi
memperlihatkan kristal natrium urat yang terbentuk jarum dan bersifat
berefringen negatif (tampak berwarna kuning jika sumbu memanjangnya
sejajar dengan bidang cahaya terpolarisasi) dalam cairan sendi merupakan
tanda diagnostik penyakit gout (Garreth et al, 1995).
Keadaan klinis yang khas dengan artritis gout adalah serangan yang
mendadak dari sendi, terutama pada sendi metatarsophalangeal jari
pertama (ibu jari). Serangan pertama kali sangat sakit

Dokumen yang terkait

Uji efek ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan

7 53 98

Pengaruh pemberian ekstrak etanol buah muda mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) terhadap gambaran histopatologi nekrosis sel hepar tikus putih jantan (Rattus norvegicus strain wistar) yang diinduksi parasetamol

2 7 26

Efek pemberian ekstrak nigella sativa terhadap kadar glukosa darah dan kolesterol pada tikus diabetes mellitus yang diinduksi dengan streptozotocin

3 7 62

Uji Efek ekstra etanol daun sirih (piper betle L) terhadap penurunan kadar asam urat darah pada tikus putih jantan yang diinduksi kafeina

4 74 84

Efek ekstrak kayu manis “cinnamomum cassia” terhadap kadar glukosa darah, berat badan dan trigliserida pada tikus jantan strain sparague dawley yang diinduksi aloksan

2 10 69

Uji toksisitas akut campuran ekstrak etanol daun sirih (piper batle L). dan ekstrak kering gambir (uncaria gambir R.) terhadap mencit putih jantan

1 6 145

Uji aktivitas ekstrak Etanol 70% daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) terhadap penurunan kadar asam urat dalam darah tikus putih jantan yang diinduksi dengan Kafeina

1 40 73

Efektivitas ekstrak daun sirih hijau (piper betle l.) terhadap pertumbuhan bakteri streptococcus pyogenes in vitro

2 48 44

Uji efek antihiperlipidemia ekstrak etanol buah parijoto : medinilla speciosa blume terhadap kolesterol total, trigliserida, dan vldl pada tikus putih jantan

8 48 124

Pengaruh pemberian ekstrak etanol 96% herba kumis kucing (orthosiphon stamineus benth) terhadap penurunan kadar kolesterol total pada tikus jantan yang diinduksi pakan hiperkolesterol

2 18 92

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1872 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 494 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 434 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 262 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 576 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 506 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 319 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 493 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 586 23