Formulasi Tablet Hisap Kombinasi Ekstrak Air Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Menggunakan Gelatin Sebagai Bahan Pengikat

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FORMULASI TABLET HISAP KOMBINASI
EKSTRAK AIR KULIT BUAH MANGGIS
(Garcinia mangostana L.) DAN EKSTRAK AIR
KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.)
MENGGUNAKAN GELATIN SEBAGAI BAHAN
PENGIKAT

SKRIPSI

DWIYANTI ATMAJASARI
NIM. 108102000006

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
MEI 2014

i

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FORMULASI TABLET HISAP KOMBINASI
EKSTRAK AIR KULIT BUAH MANGGIS
(Garcinia mangostana L.) DAN EKSTRAK AIR
KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.)
MENGGUNAKAN GELATIN SEBAGAI BAHAN
PENGIKAT

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi

DWIYANTI ATMAJASARI
NIM. 108102000006

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
MEI 2014
ii

iii

iv

v

ABSTRAK

Nama
Program Studi
Judul

: Dwiyanti Atmajasari
: Farmasi
: Formulasi Tablet Hisap Kombinasi Ekstrak Air Kulit
Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dan Ekstrak Air
Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)
Menggunakan Gelatin Sebagai Bahan Pengikat

Kombinasi ekstrak air kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan ekstrak
air kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) diformulasikan menjadi tablet
hisap antioksidan menggunakan metode granulasi basah dengan variasi
konsentrasi pengikat gelatin. Kedua ekstrak ini diperoleh dengan cara digesti.
Tablet hisap dibuat dalam 4 formula yaitu Formula 1, Formula 2, Formula 3 dan
Formula 4 dengan variasi konsentrasi gelatin sebesar 5 %; 7,5 %; 10 % dan 12,5
% sebagai bahan pengikat. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Formula 4 dengan
konsentrasi gelatin sebesar 12,5 % merupakan formula terbaik, dengan aroma
khas rosella, rasa asam-manis, keragaman bobot rata-rata 2,1419 g, keseragaman
ukuran tablet yaitu dengan diameter rata-rata 2,02 cm dan ketebalan rata-rata 0,82
cm, kekerasan tablet rata-rata 17,68 kg/cm2, friabilitas 0,01 % dan waktu hancur
23,63 menit.
Kata kunci : Garcinia mangostana L., Hibiscus sabdariffa L., ekstrak air, tablet
hisap, gelatin, granulasi basah.

vi

ABSTRACT

Name
Major
Title

: Dwiyanti Atmajasari
: Pharmacy
: Lozenges Formulation from the Combination of
Mangosteen Pericarp Aqueous Extract (Garcinia
mangostana L.) and Roselle Calyx Aqueous Extract
(Hibiscus sabdariffa L.) Using Gelatin as a Binder

The combination of mangosteen pericarp aqueous extract and roselle calyx
aqueous extract was formulated as antioxidant lozenges using wet granulation
method with a variety of the concentration of gelatin as a binder. These extracts
was obtained using digestion. Lozenges were formulated in 4 formula termed
Formula 1, Formula 2, Formula 3 and Formula 4 with variety of the concentration
of gelatin as much as 5%, 7.5%, 10% and 12.5% as binders. The result of
evaluations showed that Formula 4 with gelatin concentration of 12,5 % is the
best formula, smell of Hibiscus sabdariffa L., sweet and sour taste, uniformity of
weight’s average β.1419 g, uniformity of size tablet with a diameter’s average of
2.02 cm and thickness average of 0.82 cm, hardness average 17.68 kg/cm2,
friability 0,01 % and disintegration time of 23.63 minutes.
Keyword : Garcinia mangostana L., Hibiscus sabdariffa L., aqueous extract,
lozenges, gelatin, wet granulation.

vii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa karena
atas rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tak lupa shalawat
senantiasa penulis sampaikan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, sejak masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit
untuk menyelesaikan skripsi ini. Maka dari itu, penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1.

Ibu Sabrina, M. Farm., Apt. sebagai pembimbing pertama dan Ibu Puteri
Amelia, M. Farm., Apt. sebagai pembimbing kedua, yang memiliki andil
besar dalam proses penelitian dan penyelesaian tugas akhir ini, semoga segala
bantuan dan bimbingan Ibu mendapat imbalan yang lebih baik di sisi Allah.

2.

Bapak Prof. Dr. (hc) dr. M.K. Tadjudin, Sp. And., sebagai dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.

Bapak Drs. Umar Mansur, M. Sc, Apt. sebagai Ketua Program Studi Farmasi,
Fakultas Keokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4.

Bapak dan Ibu staf pengajar dan karyawan yang telah memberikan bimbingan
dan bantuan selama penulis menempuh pendidikan di Program Studi Farmasi
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarf Hidayatullah Jakarta.

5.

Ibu Tuti Darmawati dan Bapak Ganjar Santoso sebagai orang tua, yang telah
memberikan doa dan dukungan baik moril maupun materil demi kelancaran
penulis menyelesaikan skripsi ini; serta Arif Darmawan, S.Psi dan Siti Alia
Fitriati, S.Psi sebagai kakak yang selalu memberikan dorongan semangat.

6.

Andi Kurniajaturiatama, S.Far sebagai suami tercinta yang turut membantu
penulis selama penelitian dan penulisan skripsi ini.

7.

Sahabat-sahabat sejati yang telah memberikan doa, canda, tawa, dorongan
semangat, ilmu, dan pelajaran hidup; Faritz Azhar, Resky Yuliandari, Adam

viii

Dzulfaqih Amri, Ali Aridi, Nurul Hidayati, Wahyu Ramadani, Dhita Dwi
Pangestika, Riva Arfianti, Rizal Pahlevi dan Rinaldias Dimastaputra.
8.

Keluarga besar Farmasi, khususnya Indah Prihandini, Alfrida Tatsa Haifa,
Nur Ikhlas, Sera Nur Agustin, Inda Firliah, Berty Puspitasari, Zikriah, Sinthi
Ayesha dan Ashari Dzikro, serta keluarga besar Samaners FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

9.

Para laboran Laboratorium Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rani
Hestiningrum, A. Ma., Rachmadi Wibowo, S. Si., Eris Risenti, A. Md., Golda
Liken, S. Si., Lisna Fauziah, S. Farm., Yopi Mulyana, S. Farm., dan
Nursitasari Pertiwi, S. Farm.

10. Muhammad Bima Muria, S. Farm., May Malia Dewi, S. Farm., dan St. Ratna
Juminar, S. Farm., yang telah memberikan ilmu, dorongan semangat, serta
bantuan lainnya yang tidak ternilai bagi penulis.
11. Semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak dapat
disebutkan namanya satu persatu atau mungkin penulis lupa mencantumkan
nama Anda pada lembar ini, Allah tidak pernah lupa semua kebaikan Anda.

Akhir kata penulis berharap semoga Allah membalas kebaikan semua
pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan
ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu Farmasi pada khusunya. Aamiin.

Jakarta, Mei 2014

ix

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama

: Dwiyanti Atmajasari

NIM

: 108102000006

Program Studi : Farmasi
Fakultas

: Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Jenis Karya

: Skripsi

demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/ karya ilmiah
saya, dengan judul :
FORMULASI TABLET HISAP KOMBINASI EKSTRAK AIR KULIT
BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) DAN EKSTRAK AIR
KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) MENGGUNAKAN
GELATIN SEBAGAI BAHAN PENGIKAT
untuk dipublikasikan atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital
Library Perpustakaan Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta untuk kepentingan akademik sebatas sesuai dengan UndangUndang Hak Cipta.
Demikian pernyataan persetujuan publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan
sebenarnya.

Dibuat di

: Jakarta

Pada Tanggal

: 6 Mei 2014

Yang menyatakan,

(Dwiyanti Atmajasari)

x

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………
ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ………………………...
iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………....
iv
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI …………………………………
v
ABSTRAK ………………………………………………………………...
vi
ABSTRACT ………………………………………………………………
vii
KATA PENGANTAR …………………………………………………...
viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR ……….
x
DAFTAR ISI ……………………………………………………………...
xi
DAFTAR TABEL ………………………………………………………...
xiii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………..
xiv
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………..
xv
BAB 1

PENDAHULUAN ………………………………………………
1.1 Latar Belakang…………………………………...………...
1.2 Perumusan Masalah……………………………………......
1.3 Hipotesa……………………………………………………
1.4 Tujuan Penelitian………………………………………......
1.5 Manfaat Penelitian…………………………………………

1
1
3
3
4
4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………..
2.1 Garcinia mangostana L. ………………………………......
2.1.1 Taksonomi ……………………………………........
2.1.2 Nama Lain ……………………………………........
2.1.3 Morfologi ………………………………………….
2.1.4 Ekologi dan Penyebaran ………………………......
2.1.5 Kandungan Kimia ……………………………........
2.1.6 Khasiat dan Kegunaan …………………………….
2.2 Hibiscus sabdariffa L. …………………………………….
2.2.1 Taksonomi …………………………………….......
2.2.2 Nama Lain …………………………………….......
2.2.3 Ekologi dan Penyebaran ………………………......
2.2.4 Morfologi ………………………………….............
2.2.5 Kandungan Kimia ……………………………........
2.2.6 Khasiat dan Kegunaan …………………………….
2.3 Simplisia ……………………………………………..........
2.4 Ekstrak dan Ekstraksi ………………………………..........
2.4.1 Metode Ekstraksi ………………………………….
2.5 Tablet ……………………………………………………...
2.5.1 Metode Pembuatan Tablet ………………………...
2.6 Tablet Hisap ……………………………………………….
2.6.1 Definisi Tablet Hisap ………………........................
2.6.2 Bahan Tambahan Tablet Hisap …………………….
2.6.3 Permasalahan dalam Pembuatan Tablet Hisap …….

5
5
5
5
6
6
6
7
7
8
8
8
8
9
9
10
10
11
12
13
14
14
14
17

xi

Gelatin ……………………………………………………..
Monografi Bahan Tambahan Tablet Hisap ………………...

18
18

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN ………………………………
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian …………………………......
3.2 Alat dan Bahan …………………………………………….
3.2.1 Alat Penelitian ……………………………………..
3.2.2 Bahan Penelitian ……………………………..........
3.3 Prosedur Penelitian………………………………………....
3.3.1 Pengambilan Sampel ………………………………
3.3.2 Determinasi Sampel ……………………………….
3.3.3 Pembuatan Serbuk Simplisia …………………........
3.3.4 Pembuatan Ekstrak Air Kulit Buah Manggis ……...
3.3.5 Pembuatan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella …..
3.3.6 Freeze Drying ……………………………………...
3.3.7 Uji Penapisan Fitokimia ……………………………
3.3.8 Pengujian Parameter Spesifik ……………………...
3.3.9 Pengujian Parameter Non Spesifik ………………...
3.3.10 Pengeringan Ekstrak Menggunakan Filler ………...
3.4 Formulasi Tablet Hisap ……………………………………
3.5 Pembuatan Tablet …………………………………….........
3.6 Evaluasi Granul ……………………………………………
3.7 Evaluasi Tablet…………………………………………......

20
20
20
20
20
21
21
21
21
21
21
22
22
23
23
24
25
25
25
27

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………...
4.1 Determinasi ………………………………………………..
4.2 Penyiapan Simplisia ……………………………………….
4.2.1 Simplisia Kulit Buah Manggis …………………….
4.2.2 Simplisia Kelopak Bunga Rosella …………………
4.3 Ekstraksi …………………………………………………..
4.3.1 Ekstraksi Kulit Buah Manggis …………………….
4.3.2 Ekstraksi Kelopak Bunga Rosella …………………
4.4 Penapisan Fitokimia ……………………………………….
4.5 Hasil Uji Parameter Non Spesifik dan Parameter Spesifik
Ekstrak Air Kulit Buah Manggis dan Ekstrak Air Kelopak
Bunga Rosella .......................................................................
4.6 Pengeringan Ekstrak Menggunakan Filler ………………...
4.7 Formulasi Tablet Hisap Kombinasi Ekstrak Air Kulit Buah
Manggis dan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella ………...
4.8 Hasil Evaluasi Granul ……………………………………...
4.9 Hasil Evaluasi Tablet Hisap ……………………………….

29
29
29
29
30
30
30
31
31

KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………
5.1 Kesimpulan ………………………………………………...
5.2 Saran ……………………………………………………….

42
42
42

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………...

43

2.7
2.8

BAB 5

xii

32
33
33
34
37

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Formulasi Tablet Hisap Kombinasi Ekstrak Air Kulit Buah
Manggis dan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella ……………
Tabel 3.2 Indeks Kompresibilitas, Rasio Hausner dan Kategorinya .........
Tabel 3.3 Laju Alir dan Sifat Alirannya ....................................................
Tabel 3.4 Nilai Sudut Henti dan Sifat Alirannya ......................................
Tabel 3.5 Penyimpangan Terhadap Bobot Tablet .....................................
Tabel 4.1 Hasil Penapisan Fitokimia .........................................................
Tabel 4.2 Hasil Parameter Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak Air Kulit
Buah Manggis dan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella ……..
Tabel 4.3 Hasil Evaluasi Granul ………………………………………....
Tabel 4.4 Hasil Uji Distribusi Ukuran Partikel ………………………….
Tabel 4.5 Pengamatan Organoleptis Tablet Hisap Kombinasi Ekstrak
Air Kulit Buah Manggis dan Ekstrak Air Kelopak Bunga
Rosella ………………………………………………………...
Tabel 4.6 Evaluasi Tablet Hisap Kombinasi Ekstrak Air Kulit Buah
Manggis dan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella ……………
Tabel 5
Rumus Konversi Dosis Berdasarkan Luas Permukaan Tubuh ..
Tabel 6
Pengkonversian Dosis Hewan ke Dosis Manusia Berdasaran
Luas Permukaan Tubuh (BSA) ……………………………….

xiii

25
26
27
27
27
31
32
34
36

37
39
53
53

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 4.1

Buah Manggis ……………………………………………...
Tanaman Rosella …………………………………………..
Tablet Hisap Kombinasi Ekstrak Air Kulit Buah Manggis
dan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella …………………..

xiv

5
7
38

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6

Lampiran 7
Lampiran 8

Proses Pembuatan Ekstrak Air Kulit Buah Manggis
(Garcinia mangostana L.) ……………………………………
Proses Pembuatan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella
(Hibiscus sabdariffa L.) ………………………………………
Proses Pembuatan Tablet Hisap ………………………………
Hasil Determinasi Buah Manggis …………………………….
Hasil Determinasi Kelopak Bunga Rosella …………………..
Rumus Perhitungan Dosis Berdasarkan Luas Permukaan
Tubuh dan Tabel Konversi Dosis Hewan (Animal Dose) ke
Dosis Manusia (Human Equivalent Dose) ……………………
Rumus Perhitungan Dosis Ekstrak Air Kulit Buah Manggis
(Garcinia mangostana L.) …………………………………….
Rumus Perhitungan Dosis Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella
(Hibiscus sabdariffa L.) ………………………………………

Lampiran 9 COA Sukrosa ………………………………………………….
Lampiran 10 COA Aerosil …………………………………………………..
Lampiran 11 Perhitungan Rendemen Ekstrak Air Kulit Buah Manggis dan
Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella ………………………….
Lampiran 12 Hasil Uji Keragaman Bobot Tablet …………………………...
Lampiran 13 Hasil Uji Keseragaman Ukuran ……………………………….
Lampiran 14 Hasil Uji Kekerasan Tablet …………………………………...
Lampiran 15 Alat dan Bahan Penelitian …………………………………….
Lampiran 16 Alat dan Bahan Penelitian (Lanjutan) ………………………...

xv

48
49
50
51
52

53
54

55
56
57
58
59
60
61
62
63

BAB 1

xvi

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Garcinia mangostana, umumnya dikenal sebagai manggis, adalah buah

tropis milik keluarga Guttiferae. Pericarp dari buah ini sekitar dua pertiga dari
seluruh berat buah, berwarna merah terang, dan biasanya tidak dimakan, telah
digunakan untuk mengobati diare, luka, dan infeksi kulit dalam pengobatan
tradisional (Loo dan Huang, 2007).
Kulit manggis yang dahulu hanya dibuang saja ternyata menyimpan
sebuah harapan untuk dikembangkan sebagai kandidat obat. Kulit buah manggis
setelah diteliti ternyata mengandung beberapa senyawa dengan aktivitas
farmakologi misalnya antiinflamasi, antihistamin, pengobatan penyakit jantung,
antibakteri, antijamur bahkan untuk pengobatan atau terapi penyakit HIV
(Nugroho, 2009).
Dalam Moongkarndi et al. (2004) melaporkan bahwa ekstrak kulit buah
manggis berpotensi sebagai antioksidan. Selanjutnya, Weecharangsan et al.
(2006) menindaklanjuti hasil penelitian tersebut dengan melakukan penelitian
aktivitas antioksidan beberapa ekstrak kulit buah manggis yaitu ekstrak air, etanol
50 dan 95%, serta etil asetat. Metode yang digunakan adalah penangkapan radikal
bebas 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semua
ekstrak mempunyai potensi sebagai penangkal radikal bebas, dan ekstrak air dan
etanol 50% mempunyai potensi lebih besar dengan nilai IC50 34,98 + 2,24 dan
30,76 + 1,66 µg/mL.
Hibiscus sabdariffa L.,dikenal sebagai rosela, adalah anggota dari keluarga
Malvaceae dan salah satu tanaman obat dan industri yang paling penting dan
populer. Kelopaknya banyak digunakan untuk memproduksi minuman atau teh
karena kandungan yang tinggi dari antosianin dan asam organik (Hong dan
Wrostlad, 1990; Gomez-Leyva et al., 2008; Cisse et al.,2009).
Dalam bidang kedokteran, H. sabdariffa secara tradisional digunakan
untuk menangani beberapa masalah kesehatan, termasuk gangguan hipertensi,
demam dan kelainan hati, pertumbuhan mikroorganisme, dan juga digunakan

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2

sebagai obat diuretik, obat penenang, atau obat digestif. Efek fisiologis positif dari
ekstrak tumbuhan ini dapat dikaitkan dengan kehadiran antosianin yang aktivitas
antioksidannya kuat. Antosianin selain memiliki karakteristik berwarna-warni
juga memiliki sifat antioksidan (El Sherif et al., 2011).
Ekstrak air kelopak bunga rosella memiliki aktivitas sebagai antioksidan
dan hipokolesterolemik. Kandungan kimia seperti antosianin, kuersetin, asam
L-askorbat dan asam protokatekat dilaporkan berkhasiat sebagai antioksidan,
sedangkan

-sitosterol

dan

pectin

memiliki

efek

hipolipidemik

(Hirunpanich et al., 2006). Beberapa peneliti sebelumnya menghubungkan adanya
kandungan polifenol dengan aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan juga
dihubungkan dengan adanya kandungan antosianin (sianidin-3-glikosida dan
dephinidin-3-glikosida) (Hirunpanich et al., 2005).
Pemanfaatan kulit buah manggis dan kelopak bunga rosella sebagai
antioksidan yang biasa dibuat seduhan dirasa kurang inovatif dan penggunaannya
kurang praktis, sehingga dalam penelitian ini ekstrak air kulit buah manggis dan
ekstrak air rosella akan diformulasikan menjadi tablet hisap. Tablet hisap adalah
sediaan padat yang mengandung bahan obat dan juga umumnya bahan pewangi,
dimaksudkan untuk secara perlahan-lahan melarut dalam rongga mulut untuk
berefek setempat (Ansel, 1989). Adapun keuntungan dari tablet hisap antara lain
memiliki rasa manis yang menyenangkan, mudah dalam penggunaan, kepastian
dosis, memberikan efek lokal, dan tidak diperlukan air minum untuk
menggunakannya (Banker dan Anderson, 1986).
Dosis yang digunakan dalam penelitian formulasi tablet hisap kombinasi
ini adalah 200 mg ekstrak air kulit buah manggis dan 200 mg ekstrak air kelopak
bunga rosella menggunakan gelatin sebagai bahan pengikat. Perhitungan dosis
ekstrak air kulit buah manggis didasarkan pada percobaan toksisitas sub-kronis,
dimana pemakaian ekstrak etanol kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.)
dengan dosis 50–1000 mg/ kgBB selama 28 hari juga tidak menunjukkan efek
toksik yang berarti (Jujun et al., 2006). Perhitungan dosis ekstrak air rosella
didasarkan pada percobaan pengaruh fraksi air rosella (Hibiscus sabdariffa L.)
terhadap kadar kolesterol darah tikus putih jantan hiperkolesterol dan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3

hiperkolesterol-disfungsi hati yang menunjukkan bahwa pada dosis 50–75 mg/
kgBB dapat menurunkan kadar kolesterol darah (Ariati, Reci, 2011).
Pada pembuatan tablet, penambahan bahan pengikat sangat penting karena
bahan pengikat berfungsi untuk menyatukan partikel serbuk dalam sebuah butir
granulat dan juga berfungsi untuk meningkatkan kekompakan dan kekerasan
tablet. Pada pembuatan tablet hisap ini digunakan gelatin sebagai bahan pengikat
dengan metode granulasi basah. Gelatin merupakan suatu protein alam, kadangkadang digunakan bersama dengan akasia. Gelatin lebih konsisten daripada akasia
dan tragakan, lebih mudah dipersiapkan dalam bentuk larutan, dan tablet yang
terbentuk kerasnya sama dengan bila memakai akasia atau tragakan (Banker dan
Anderson, 1986).
Bahan pengikat gelatin diharapkan dapat diformulasikan menjadi tablet
hisap yang baik dan memenuhi persyaratan, terutama kekerasan tablet yang
merupakan salah satu permasalahan yang terjadi pada proses pembuatan tablet
hisap. Pada proses pengempaan, tablet yang dihasilkan akan mengandung granul
yang tidak terikat dalam area tekanan tinggi (Siregar, 2010). Selain itu,
persyaratan kekerasan tablet hisap minimal 10 kg/cm2 dan maksimal 20 kg/cm2
lebih tinggi daripada tablet biasa, 4-8 kg/cm2 (Parrot, 1970).

1.2

Perumusan Masalah
Apakah kombinasi ekstrak air kulit buah manggis dan ekstrak air kelopak

bunga rosella dapat diformulasi menjadi tablet hisap yang baik dan memenuhi
persyaratan menggunakan metode granulasi basah dengan variasi konsentrasi
pengikat gelatin?

1.3

Hipotesa
Kombinasi ekstrak air kulit buah manggis dan ekstrak air kelopak bunga

rosella dapat diformulasi menjadi tablet hisap yang baik dan memenuhi
persyaratan menggunakan metode granulasi basah dengan variasi konsentrasi
pengikat gelatin.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4

1.4

Tujuan Penelitian
Memperoleh tablet hisap ekstrak air kulit buah manggis dan ekstrak air

kelopak bunga rosella yang baik dan memenuhi persyaratan menggunakan metode
granulasi basah dengan variasi konsentrasi pengikat gelatin.

1.5

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang suatu

formulasi tablet hisap ekstrak air kulit buah manggis dan ekstrak air kelopak
bunga rosella yang baik dan memenuhi persyaratan menggunakan metode
granulasi basah dengan variasi konsentrasi pengikat gelatin.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Garcinia mangostana L.

Gambar 2.1. Buah Manggis
(Sumber : Koleksi Pribadi)

2.1.1

Taksonomi
Taksonomi Garcinia mangostana L. adalah sebagai berikut (Jones dan

Luchsinger, 1987):
Dunia

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Subkelas

: Dilleniidae

Bangsa

: Theales

Suku

: Guttiferae

Marga

: Garcinia

Jenis

: Garcinia mangostana L.

2.1.2 Nama Lain
Garcinia mangostana tumbuh di berbagai daerah di Indonesia, sehingga
dikenal dengan berbagai nama seperti di Aceh: manggoita; di Jawa: Manggis; di
Bali: Manggis; di Makassar: Kirasa dan di Maluku: Mangustang (Syamsuhidayat
dan Hutapea, 2000).

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

6

Garcinia mangostana juga dikenal di beberapa negara di dunia dengan
berbagai nama seperti di Malaysia tanaman ini dikenal dengan nama Manggis
(sama seperti di Indonesia); di Filipina: Manggustan dan Manggis; di Kamboja:
Mongkhut; di Laos: Mangkhud; di Thailand: Mangkhut; dan di Vietnam: Cay
mang cut (Verheij dan Coronel, 1997).

2.1.3 Morfologi
Garcinia mangostana L. termasuk marga Garcinia. Jenis-jenis utama
kelompok marga Garcinia antara lain G. atroviridis. G. dulcis dan G.
xanthochymus. Garcinia mangostana merupakan pohon berbuah, memiliki tinggi
sampai 25 meter dan memiliki besar batang 45 cm. Pohon ini mengeluarkan getah
berwarna kuning dari batang, lembaran daun berbentuk lonjong atau jorong
berukuran (15-25) cm × (7-13) cm, bunga menyendiri atau berpasangan. Buah
berbentuk bola tertekan, garis tengah 3,5-7 cm, ungu tua, dengan kelopak tetap,
dinding buah tebal dan berdaging (arilus). Biji1-3, diselimuti oleh selaput biji
yang tebal dan berair, berwarna putih (arilus) (juga ada biji yang gagal tumbuh
sempurna). Buah masak pada awal musim hujan yaitu pada bulan Juni hingga
Januari (Heyne, 1987; Steenis, 1987).

2.1.4 Ekologi dan Penyebaran
Garcinia mangostana dapat ditemukan di negara-negara Asia Tenggara
seperti Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam dan termasuk Indonesia. Kemudian
tanaman ini tersebar ke negara-negara tropik lainnya termasuk Srilangka, India
Selatan, Amerika Tengah, Brazil dan Queensland (Australia), yang di negaranegara tersebut terdapat kebun-kebun manggis dalam skala kecil. Pertumbuhan
buahnya di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam terjadi pada
bulan Mei hingga Januari, sedangkan di Australia pada bulan November hingga
April (Osman dan Milan, 2006).

2.1.5 Kandungan Kimia
Beberapa penelitian mengenai isolasi dan identifikasi kandungan manggis
telah dilakukan. Kandungan kimia kulit manggis antara lain derivat xanton yaitu

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7

mangostin, gartanin, α-mangostin, -mangostin, garcimangoson B, garcinon D,
garcinon E, mangostinon, cudraxanton G, garcimangoson A, garcimangoson C,
garcimangoson D; antosianin glikosida; benzofenon (Hyun Ah et al., 2006;
Mahabusarakam dan Wiriyachitra, 2006). Sianidin-3-soforosida (pigmen mayor)
dan sianidin-3-glukosida (pigmen minor) merupakan pigmen yang memberikan
warna merah pada kulit buah (Osman dan Milan, 2006). Derivat xanton pada
arilus antara lain mangostin, kalaxanton, 2-( , -dimetilalil)- 1,7-dihidroksi- 3
metoksixanton

dan

2,8-bis-

( , -dimetilalil)-

1,3,7-

trihidroksixanton

(Mahabusarakam dan Wiriyachitra, 2006). Pada penelitian lainnya ditemukan
kandungan kimia daun yaitu 2-etil-3-metilmalmaleida N- -D-Dlukopiranosida
(Krajewski, Tóth dan Screir, 1996).

2.1.6 Khasiat dan Kegunaan
Xanton polioksigenasi termasuk mangostin dan gartanin memberikan
aktivitas sebagai antibakteri. Mangostin, komponen utama pada kulit manggis
dapat menghambat fungi Trichophyton mentagrophytes, Microsporum gypseum
dan Epidermophyton floccosum, tetapi tidak memberi efek pada Candida albican
(Gopalakrishnan et al., 1997). Mangostin juga dapat digunakan sebagai
antiinflamasi dan antiulserasi, menurunkan tekanan darah, efek kardiotonik,
antimikroba dan antihepatotoksik dan xanton dapat menghambat terjadinya artritis
pada tikus sebagai model (Osman dan Milan, 2006).

2.2

Hibiscus sabdariffa L.

Gambar 2.2. Tanaman Rosella
(Sumber : Koleksi Pribadi)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(Sumber : Koleksi Pribadi) (Sumber

8

2.2.1 Taksonomi
Klasifikasi Hibiscus sabdariffa L. adalah sebagai berikut (Jones dan
Luchsinger, 1987) :
Dunia

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Subkelas

: Dilleniidae

Bangsa

: Malvales

Suku

: Malvaceae

Marga

: Hibiscus

Jenis

: Hibiscus sabdariffa L.

2.2.2 Nama Lain
Hibiscus sabdariffa di Indonesia dikenal dengan rosella, di Jawa dikenal
dengan Gamet balonda (Sunda), Mrambos (Jawa Tengah) dan Katsuri roriha
(Ternate). Berbagai negara tanaman ini juga dikenal dengan berbagai nama yaitu
di Inggris tanaman ini dikenal dengan nama Rosella; di Perancis: I’Oiselle; di
Jamaica: Spanish; di Arab: karkade; dan di Wolof: bissap (Syamsuhidayat dan
Hutapea, 2000).

2.2.3 Ekologi dan Penyebaran
Hibiscus sabdariffa terdiri dari lebih dari 300 spesies yang terdistribusi di
wilayah tropis dan substropis di dunia. Tanaman ini dapat hidup di iklim tropis
dengan temperature hangat dan lembab, dan pada iklim substropis. Rosella dapat
tumbuh dalam green house, tetapi secara normal tumbuh baik di bawah matahari
langsung (Yadong, Qi et al., 2005).

2.2.4 Morfologi
Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) termasuk ke dalam suku Malvaceae dan
merupakan tanaman yang cukup dikenal di Indonesia, India, Afrika Barat dan
wilayah lainnya. Hibiscus sabdariffa merupakan herba atau semak 1 tahun,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

9

memiliki tinggi 0,5-3 m dan batang dengan duri temple atau tidak. Daun
bertangkai 6-15 cm, berbentuk bulat telur, lingkaran atau oval, tangkai bunga
panjang 1-2 cm, beruas. Kelopak bunga berbagi 5, taju bentuk lanset, berdaging
tebal, merah tua atau kuning muda, dengan tulang daun merah. Tabung benang
sari boleh dikatakan seluruhnya tertutup dengan kepala sari, ungu. Buah
berbentuk telur, berambut jarang, membuka dengan 5 katup, diselubungi oleh
kelopak yang jelas lebi panjang daripada buah. Biji 3-4 peruang (Steenis, 1987).

2.2.5 Kandungan Kimia
Karakteristik fisikokimia rosella memiliki asam buah dengan kandungan
rendah gula. Asam organik yang terkandung di dalam kelopak bunga rosella
antara lain asam suksinat dan asam oksalat (dominan), serta asam askorbat dalam
jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan jeruk dan mangga (Fasoyiro et al.,
2005). Kelopak bunga juga mengandung vitamin A, riboflavin, niacin, kalsium,
besi, alkaloid, anisaldehid, asam sitrat, galaktosa, mukopolisakarida, pectin,
kuersetin dan kandungan fenolik, seperti antosianin, flavonoid (gossypetin,
hibiscetin, dan saderetin), glikosida (asam protokatekat, eugenol), sterol
(ergosterol, -sitosterol) (Fasoyiro et al., 2005; Hirunpanich, 2005). Selain itu
juga mengandung 18 asam amino, protein, serat, dan unsur lain yang berguna bagi
tubuh. Antosianin rosella diidentifikasi menggunakan komponen kromatografi
yaitu delphenidin-3-sambubiosida, sianidin-3-sambubiosida dan delphinidin-3glukosa (Fasoyiro et al., 2005).

2.2.6 Khasiat dan Kegunaan
Bagian rosella seperti kelopak bunga, biji, buah dan akar digunakan dalam
berbagai makanan seperti jus, selai, sirup, kue, puding, es krim dan perasa serta
dibuat dalam bentuk teh. Asam askorbat dan asam glikolat memberikan efek
laksatif dan diuretic (Yadong, Qi et al., 2005). Sebagai obat tradisional kelopak
bunga rosella digunakan sebagai antiseptik, aprodiasiac (membangkitkan libido),
astringen dan digestif. Selain itu juga dapat digunakan untuk abses, penyakit hati
dan hipertensi. Biji rosella dapat digunakan untuk kopi dan buahnya dapat
dimakan. Teh rosella telah diketahui dapat menurunkan tekanan darah pada

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

10

penderita hipertensi. Akar rosella dapat digunakan untuk aperitif dan tonik
(Wantana, R. dan Arunporn, I., 2007).

2.3

Simplisia (Depkes RI, 1979)
Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat dan belum

mengalami pengolahan apapun juga, dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan
yang telah dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu
simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelikan/mineral.
a.

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian
tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman ialah isi sel yang secara
spontan keluar dari tanaman atau yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari
selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan
dengan dari tanamannya.

b.

Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan
atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat
kimia murni.

c.

Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia yang berupa bahan pelikan
atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan
belum berupa zat kimia murni.

2.4

Ekstrak dan Ekstraksi
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari

simplisia menurut cara yang cocok, diluar pengaruh cahaya matahari langsung
(Depkes RI, 2000).
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai
kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang
tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan
(Depkes RI, 1995).
Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati, yang mengandung etanol
sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet (Depkes
RI, 1995).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

11

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Biasanya
operasi ini menggunakan pelarut untuk mengekstraksi (Depkes RI, 2000).

2.4.1

Metode Ekstraksi

a.

Cara Dingin



Maserasi
Maserasi adalah pengekstrakan simplisia menggunakan pelarut dengan

beberapa kali pengadukan pada suhu kamar. Prinsip dasarnya pencapaian
konsentrasi pada keseimbangan yang secara teknologi termasuk ekstraksi (Depkes
RI, 2000).


Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperature yang selalu

baru sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada
temperatur ruangan (Depkes RI, 2000).
b.

Cara Panas



Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperature titik didihnya,

selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relative konstan dengan
adanya pendinginan baik (Depkes RI, 2000).


Soxhlet
Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru, umumnya

dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah
pelarut relatif konstan dengan pendingin balik (Depkes RI, 2000).


Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada

temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum
dilakukan pada temperatur 40-500C (Depkes RI, 2000).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

12



Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air

(bejana infus tercelup dalan penangas air mendidih), temperatur terukur 96o-98oC
selama waktu tertentu (15-20 menit) (Depkes RI, 2000).


Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama (> 30 menit) dan

temperatur sampai titik didih air.

2.5

Tablet
Tablet adalah sediaan padat, kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam

bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan (Depkes RI,
1979). Tablet dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan solid yang mengandung
satu atau lebih zat aktif dengan atau tanpa berbagai eksipien (yang meningkatkan
mutu sediaan tablet, kelancaran sifat aliran bebas, sifat kohesivitas, kecepatan
disintegrasi, dan sifat antilekat) dan dibuat dengan mengempa campuran serbuk
dalam mesin tablet (Siregar, 2010).
Beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk tablet berkualitas baik adalah
sebagai berikut :
a.

Kekerasan yang cukup dan tidak rapuh, sehingga kondisinya tetap baik
selama fabrikasi/pengemasan dan pengangkutan hingga sampai pada
konsumen.

b.

Dapat melepaskan bahan obatnya sampai pada ketersediaan hayatinya.

c.

Memenuhi persyaratan keseragaman bobot tablet dan kandungan obatnya.

d.

Mempunyai penampilan yang menarik, baik pada bentuk, warna, maupun
rasanya.
Untuk mendapatkan tablet yang baik tersebut, maka bahan yang akan

dikempa menjadi tablet harus memenuhi sifat-sifat sebagai berikut:
a.

Mudah mengalir, artinya jumlah bahan yang akan mengalir dalam corong alir
ke dalam ruang cetakan selalu sama setiap saat, dengan demikian bobot tablet
tidak akan memiliki variasi yang besar.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

13

b.

Kompatibel, artinya bahan mudah kompak jika dikempa, sehingga dihasilkan
tablet yang keras.

c.

Mudah lepas dari cetakan, hal ini dimaksudkan agar tablet yang dihasilkan
mudah lepas dan tak ada bagian yang melekat pada cetakan, sehingga
permukaan tablet halus dan licin (Sheth dkk, 1980).
Metode pembuatan tablet ada tiga cara yaitu : metode kempa langsung

granulasi basah dan granulasi kering.

2.5.1

Metode Pembuatan Tablet
Pembuatan tablet hisap dapat dilakukan seperti pada pembuatan tablet

pada umumnya ada tiga yaitu :
1.

Metode Kempa Langsung
Istilah kempa langsung berlaku untuk proses umum pada pembuatan-

pembuatan tablet yang dikompresi ketika tidak ada perlakuan pendahuluan atau
hanya perlakuan kecil yang dibutuhkan sebelum memasukkan bahan ke dalam
mesin tablet. Beberapa bahan mempunyai karakteristik pengikatan yang penting.
2.

Metode Granulasi Basah
Metode ini merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam

memproduksi tablet kompresi. Langkah-langkah yang diperlukan dalam
pembuatan tablet dengan metode ini dapat dibagi sebagai berikut : menimbang
dan mencampur bahan-bahan, pembuatan granulasi basah. Menyaring granul
basah, menjadi butiran yang lebih halus, pengeringan, pengayakan granul kering,
pencampuran bahan pelikan dan bahan penghancur, pembuatan tablet dengan
kompresi (Ansel, 1989).
3.

Metode Granulasi Kering
Metode granulasi kering dibentuk oleh pelembaban atau penambahan

bahan pengikat ke dalam campuran serbuk obat tetapi dengan cara memadatkan
massa dalam jumlah yang besar dari campuran serbuk dan setelah itu
memecahkannya dan menjadikan pecahan-pecahan kedalam massa granul yang
kecil.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14

Metode ini khususnya untuk bahan-bahan yang tidak dapat diolah dengan
metode granulasi basah, karena kepekaannya terhadap uap air atau karena untuk
mengeringkannya diperlukan temperatur yang dinaikkan (Ansel, 1989).

2.6

Tablet Hisap

2.6.1

Definisi Tablet Hisap (Lozenges)
Tablet hisap adalah suatu sediaan padat yang mengandung satu atau lebih

bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang dapat
melarut atau hancur perlahan-lahan di dalam mulut (Depkes RI, 1995).
Tablet hisap adalah bentuk lain dari tablet untuk pemakaian dalam rongga
mulut. Tablet ini digunakan dengan tujuan memberi efek lokal pada mulut atau
kerongkongan yang umumnya diberikan sebagai pengobatan sakit tenggorokan
atau untuk mengurangi batuk pada influenza, atau dapat pula mengandung
anestetik lokal, berbagai antiseptik dan antibakteri, demulsen, astringen dan
antitusif. Jenis tablet ini dirancang agar tidak hancur di dalam rongga mulut tetapi
melarut atau terkikis secara perlahan-lahan dalam waktu 30 menit atau kurang
(Lachman, 1994).
Tablet hisap adalah bentuk sediaan obat tablet yang diberi penambah rasa
untuk dihisap (dikulum) dan didiamkan (ditahan) di dalam mulut atau faring
(Siregar, 2010).
Berbeda dengan tablet biasa, pada tablet hisap tidak digunakan bahan
penghancur, dan bahan yang digunakan sebagian besar adalah bahan-bahan yang
larut air. Tablet hisap cenderung menggunakan banyak pemanis (50% atau lebih
dari berat tablet keseluruhan) seperti sukrosa, laktosa, manitol, sorbitol, dan
sebagainya. Selain itu diameter tablet hisap umumnya lebih besar yaitu >18 mm.
Tablet hisap yang baik memiliki kekerasan sebesar 10-20 kg/cm2 (Gatiningsih,
2008; Lachman, 1994; Parrot, 1971).

2.6.2

Bahan Tambahan Tablet Hisap
Bahan tambahan atau bahan pembantu tabletasi dapat diartikan sebagai

zat-zat yang memungkinkan suatu obat atau bahan obat yang memiliki beberapa
sifat khusus untuk dibuat menjadi suatu sediaan yang cocok satu sama lain yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

15

dapat memperbaiki sediaan obat, dengan mempertimbangkan efek obat, kinerja
obat, organoleptis, sifat kimia obat, dan kemungkinan pengembangan jenis
sediaan lain. Adapun bahan tambahan dalam sediaan tablet hisap meliputi :
a.

Bahan pengisi (Lieberman, 1994)
Bahan pengisi yaitu bahan tambahan yang diperlukan sebagai pemenuhan

kecukupan massa tablet dan berfungsi untuk memperbaiki daya kohesi sehingga
dapat dikempa langsung atau untuk memicu aliran. Contohnya adalah laktosa,
laktosa spray-dried, amilum, manitol, sorbitol, mikrokristalin selulosa, kalsium
sulfat dihidrat, dan dekstrosa-maltosa.
b.

Bahan pengikat
Bahan pengikat adalah bahan tambahan yang diperlukan untuk

memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi dan memberikan
sifat kohesif yang telah ada pada bahan pengisi sehingga dapat membentuk
struktur tablet yang kompak setelah pencetakan dan meningkatkan daya tahan
tablet, oleh karena itu bahan pengikat menjamin penyatuan beberapa partikel
serbuk dalam sebuah butiran granulat. Bahan pengikat dapat ditambahkan ke
dalam bahan yang akan dicetak dalam bentuk kering, cairan, atau larutan,
tergantung pada metode pembuatan tablet (Depkes, 1995).
Pengikat yang paling efektif untuk granulasi basah tablet hisap kempa
adalah akasia (gom arab), sirup jagung, sirup simpleks, gelatin, PVP, tragakan,
dan metal selulosa. Bahan-bahan ini efektif dalam meningkatkan gaya intergranul
serta membantu memperbaiki karakteristik demulsen (penyejuk) dan tekstur
permukaan tablet hisap ketika melarut dalam rongga oral (Siregar, 2010).
c.

Bahan pelincir (Voight, 1994; Lachman, 1994)
Bahan pelincir dapat memenuhi berbagai fungsi yang berbeda, sehingga

banyak dikelompokkan menjadi bahan pengatur aliran (glidant), bahan pelincir
(lubricant) dan bahan pemisah hasil cetakan (antiadherent).
Bahan pengatur aliran atau glidant berfungsi untuk memperbaiki daya
luncur dan daya gulir bahan yang akan dicetak, karena itu menjamin terjadinya
keteraturan aliran dari corong pengisi ke dalam lubang cetakan. Glidan juga
berfungsi untuk mengurangi penyimpangan massa, memperkecil gesekan sesama
partikel, dan meningkatkan ketepatan takaran tablet. Contoh zat yang dapat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

16

digunakan sebagai glidan yaitu talk, kalsium/magnesium stearat, asam stearat,
PEG, pati, dan aerosil.
Bahan pelincir atau lubricant berfungsi untuk mengurangi gesekan logam
(stempel di dalam lubang ruang cetak) dan gesekan tablet dengan logam, serta
memudahkan pengeluaran tablet dari mesin pencetak. Pada umumnya lubrikan
bersifat hidrofobik sehingga cenderung menurunkan kecepatan disintegrasi dan
disolusi tablet. Oleh karena itu kadar lubrikan yang berlebihan harus dihindarkan.
Contoh lubrikan antara lain talk, kalsium atau magnesium stearat, asam stearat,
PEG, pati, dan paraffin.
Bahan pemisah hasil cetakan (antiadherent) adalah bahan yang berfungsi
untuk mencegah lekatnya bahan yang dikempa pada permukaan stempel atas.
Contoh bahan ini adalah talk, amilum maydis, Cab-O-Sil, natrium lauril sulfat,
kalsium/magnesium stearat.
d.

Zat warna
Penggunaan zat warna dalam tablet memberikan keuntungan yaitu

menutupi warna obat yang kurang baik, identifikasi hasil produksi dan membuat
suatu produk menjadi lebih menarik. Penyediaan warna-warna alami dari tumbuhtumbuhan dibatasi karena warna-warna ini seringkali tidak stabil (Lachman,
1994).
Zat pewarna larut air dan pewarna lakolene dapat digunakan untuk
mewarnai tablet hisap kempa. Zat pewarna larut air dapat ditambahkan pada
campuran serbuk selama pembuatan pembawa granulasi basah sebelum dilakukan
granulasi eksipien dan zat aktif. Selain itu, pewarna dapat dilarutkan dalam larutan
penggranulasi dan ditambahkan pengikat (Siregar, 2010).
e.

Pemberi Rasa
Bahan pemberi rasa biasanya digunakan pada tablet kunyah atau tablet

lainnya yang ditujukan larut dalam mulut. Pada umumnya zat pemberi rasa yang
larut dalam air jarang dipakai dalam pembuatan tablet oleh karena stabilitasnya
kurang baik (Lachman, 1994).
Untuk tablet hisap, waktu huni tablet yang lama dalam rongga mulut
mensyaratkan agar formulator mengembangkan tidak saja produk dengan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

17

penambah rasa yang menyenangkan, tetapi juga produk yang penambah rasanya
dapat menutupi dasar pahit yang mungkin dimiliki formulasi (Siregar, 2010).

2.6.3

Permasalahan dalam Pembuatan Tablet Hisap (Siregar, 2010)
Masalah-masalah yang terjadi dalam pembuatan tablet hisap dapat

disebabkan oleh beberapa hal berikut :
1.

Kekerasan Tablet
Pada pembuatan formulasi granulasi basah, penambahan jumlah pengikat

yang tidak cukup akan menghasilkan granul yang kekurangan gaya intragranul
atau intergranul. Pada pengempaan, tablet yang dihasilkan akan mengandung
granul yang tidak terikat dalam area tekanan tinggi.
2.

Lembab
Tiap granul tablet yang memiliki rentang kandungan lembab kritis tertentu

yang membantu membentuk granul yang memiliki gaya kohesif optimum. Jika
kandungan lembab berada dalam rentang 0,75% – 2%, granul yang terbentuk
biasanya merupakan granul yang baik.
3.

Penjeratan Udara
Penjeratan udara merupakan sumber masalah yang biasa menyebabkan

kaping pada tablet berbobot tinggi. Hal yang menyebabkan laminasi tablet ini
biasanya diperbaiki dengan memadatkan granul, yaitu dengan menambahkan
jumlah pengikat dalam produk granulasi basah.
4.

Tekanan Berlebihan Selama Pengempaan
Penggunaan tekanan

pengikatan

optimum

pengempaan

partikel-partikel

granul

yang melebihi tekanan

mengakibatkan

kerusakan

ikatan

intergranul. Sebagai penyebab kaping, laminasi, pengaruh tekanan dapat
ditentukan dengan mengurangi tekanan pengempaan secara bertahap sampai
terbentuk tablet yang dapat diterima atau sampai terbentuk tablet yang terlalu
lunak untuk dikempa.
5.

Kegagalan Lubrikan
Kesulitan pengeluaran tablet akibat kegagalan lubrikan biasanya

ditunjukkan oleh keberadaan garis-garis yang tidak beraturan di pinggir tablet.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

18

2.7

Gelatin
Gelatin adalah suatu zat yang diperoleh dari hidrolisa parsial kolagen dari

kulit, jaringan ikat putih dan tulang hewan. Gelatin yang berasal dari prekursor
yang diasamkan dikenal dengan Tipe A dan yang berasal dari prekursor yang
dibasakan dikenal sebagai Tipe B (Depkes RI, 1995). Gelatin pada pembuatan
tablet mempunyai konsentrasi tertentu yang berbeda-beda antara lain 2-10%
(Bandelin, 1989). Pemerian : lembaran, kepingan atau potongan, atau serbuk kasar
sampai halus; kuning lemah atau coklat terang; warna bervariasi tergantung
ukuran partikel. Larutannya berbau lemah seperti kaldu. Jika kering stabil di
udara, tetapi mudah terurai oleh mikroba jika lembab atau dalam bentuk larutan
(Depkes RI, 1995).

Monografi Bahan Tambahan Tablet Hisap (Rowe et al., 2009 dan

2.8

Depkes, 1995)

a.

Avicel PH 102

Sinonim

: Microcel PH 102, microcristalin cellulose

Fungsi

: Pengisi

Pemerian

: Berbentuk serbuk halus, putih, tidak berbau, tidak berasa.

Konsentrasi

: Adsorben

= 20-90%

Antiadheren

= 5-20%

Disintegran Tablet

= 5-15%

Pengikat/Pengisi Tablet = 20-90%

b. Talkum
Sinonim

: Talk, hydrous magnesium calcium silicate

Fungsi

: Sebagai zat lubrikan, antiadheren

Pemerian

: Serbuk putih halus dan ringan, tidak berbau, hampir tidak berasa.

Konsentrasi

: Zat Glidant, Lubrikan

= 1-10%

Zat Diluent

= 5-10%

Zat antiadheren

= 1-3%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

19

c.

Magnesium Stearat

Sinonim

: Mg stearat, asam oktadekanoat, garam magnesium

Fungsi

: Zat lubrikan (0,25-2 %)

Pemerian

: Berbentuk serbuk halus, putih, bau lemah khas, mudah melekat
dikulit, bebas dari butiran.

d. Aerosil
Sinonim

: Cab-o-sil, Colloidal Sillicon Dioxyde

Fungsi

: Aerosol, glidant, adsorben, zat pensuspensi

Pemerian

: Silika submikroskopik dengan ukuran partikel 15 nm hablur,
ringan, warna putih, tidak berbau, tidak berasa.

e.

Sukrosa

Sinonim

: Gula bit, gula, saccharum

Fungsi

: Bahan pemanis

Pemerian

: Kristal tidak berwarna atau serbuk kristal putih, tidak berbau dan
rasanya manis.

f.

Mannitol

Sinonim

: Cordycepic acid, C*PharmMannidex, E421, manna sugar, Dmannite, mannite, Mannogem, Pearlitol

Fungsi

: Pemanis, pengisi tablet dan kapsul (10-90%), zat tonisitas,
bulking agent.

Pemerian

: Serbuk hablur atau granul mengalir bebas, putih, berbau lemah,
rasa manis.

g.

Gelatin

Sinonim

: Byco, Cryogel, gelatine, Instagel, Solugel

Fungsi

: Bahan pengikat

Pemerian

: Lembaran, kepingan atau potongan, atau serbuk kasar sampai
halus; kuning lemah atau coklat terang; warna bervariasi
tergantung ukuran partikel.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

20

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fitokimia dan Farmakognosi,

Laboratorium Kimia Obat, Laboratorium Penelitian 1 dan Laboratorium
Formulasi Sediaan Padat Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan
Januari 2013 sampai September 2013.

3.2

Alat dan Bahan

3.2.1

Alat Penelitian
Alat yang digunakan adalah gelas ukur, beaker glass, pipet volum, pipet

tetes, penggiling (blender), hot plate, kertas saring, lemari asam, lumpang dan alu,
termometer, cawan penguap, kapas, alat pencetak tablet (ERWEKA), pengayak,
desikator, sieving analyzer (FRITSCH), hardness tester (ERWEKA), friabilator
(Electrolab), moisture analyzer (WIGGEN Hauser), tapped density (ERWEKA),
tablet disintegration tester (Electrolab), neraca analitik (Precisa), jangka sorong

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2934 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 749 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 648 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 419 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 575 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 968 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 880 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 533 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 790 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 954 23