Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing PTP Nusantara II Tanjung Morawa Tahun 1970-2000.

RUMAH SAKIT UMUM DR.GL TOBING PTP NUSANTARA II
TANJUNG MORAWA (1970-2000)

SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN
O
L
E
H

Nama
NIM

: Yudika Situmorang
: 070706028

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

1

Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi

RUMAH SAKIT UMUM DR. GL TOBING PTP NUSANTARA II
TANJUNG MORAWA (1970-2000)
Yang diajukan oleh
Nama : Yudika Situmorang
NIM : 070706028
Telah disetujui untuk diajukan dalam ujian skripsi oleh:
Pembimbing

Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si.
NIP. 196709081993032002

Tanggal ...

Ketua Departemen Ilmu Sejarah

Drs. Edi Sumarno, M.Hum
NIP. 196409221989031001

Tanggal …

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

2

Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi

RUMAH SAKIT UMUM DR. GL TOBING
PTP NUSANTARA II TANJUNG MORAWA (1970-2000)
Skripsi Sarjana
Dikerjakan Oleh:

Nama : Yudika Situmorang
NIM : 070706028

Pembimbing

Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si.
NIP. 196709081993032002

Tanggal ...

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU
Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam bidang
Ilmu Sejarah.

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

3

Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Ketua Departemen
Disetujui Oleh:
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN

DEPARTEMEN SEJARAH
Ketua Departemen

Drs. Edi Sumarno, M.Hum
NIP. 196409221989031001

Medan, …

4

Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Skripsi Sarjana Oleh Dekan dan Panitia Ujian

Pengesahan

Diterima oleh:
Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya USU
Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Ilmu Budaya
Dalam bidang Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara
Pada
Hari/Tanggal : …
Waktu

:…

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara
Dekan,

Dr. Syahron Lubis, M.A
NIP. 195110131976031001

5

Universitas Sumatera Utara

Panitia Ujian

No.

Nama

Tanda Tangan

1.

Drs. Edi Sumarno, M.Hum (Ketua Jurusan)

(

)

2.

Dra. Nurhabsyah, M.Si (Sekretaris Jurusan)

(

)

3.

Dra. Junita S. Ginting M.Si

(

)

4.

Drs. Samsul Tarigan

(

)

5.

Dra. Peninna Simanjuntak, M.S.

(

)

6

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Sejarah merupakan peristiwa atau kejadian yang telah berlalu yang
mempengaruhi kehidupan manusia. Peristiwa yang terjadi, baru dapat dikatakan
sebagai sejarah apabila di dalamnya telah terdapat tiga aspek, yaitu manusia sebagai
pelaku, tempat terjadinya, serta waktu terjadinya peristiwa tersebut. Peristiwa sejarah
memang tidak dapat terulang kembali. Maka, perlu dilakukan perekonstruksian
terhadap kehidupan manusia yang terjadi di masa lalu melalui penelitian dengan
menggunakan metode sejarah. Walaupun peristiwa tersebut tidak dapat lagi
ditampilkan atau direkonstruksikan seutuhnya karena keterbatasan sumber dan skop
temporal, namun paling tidak peristiwa sejarah yang terjadi di masa lalu dapat
dijadikan pelajaran di masa sekarang dan dijadikan pedoman untuk bertindak di masa
yang akan datang.
Dalam kesempatan ini penulis melakukan penelitian mengenai sejarah sosial,
lebih spesifik lagi penulis melakukan penelitian megenai institusi sosial yaitu rumah
sakit. Hasil penelitian sejarah tersebut akhirnya dituangkan dalam bentuk tulisan
skripsi dengan judul “Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing PTP Nusantara II
Tanjung Morawa Tahun 1970-2000”. Skripsi ini membahas mengenai bagaimana
sejarah bedirinya Rumah Sakit Dr. GL Tobing PTP Nusantara II Tanjung Morawa,
bagaimana perkembangannya setelah dinasionalisasi dari kepemilikan kolonial, serta
bagaimana dampak keberadaan rumah sakit ini bagi masyarakat Tanjung Morawa dan
daerah lain di sekitarnya.

7

Universitas Sumatera Utara

Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam
menyelesaikan Program Studi Ilmu Sejarah serta untuk mendapatkan gelar
kesarjanaan dalam bidang Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Sumatera Utara. Dalam penulisan skripsi ini tentunya banyak hambatan yang dialami
penulis diantaranya dalam hal pengumpulan data serta literatur pendukung lainnya.
Oleh karena itu penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam hasil
penelitian ini. Maka, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun
dari semua pihak untuk penyempurnaan hasil penelitian ini nantinya. Semoga skripsi
ini dapat menjadi bahan bacaan serta tambahan literatur bagi penelitian lanjutan
maupun penelitian lainnya.

Medan, September 2011

Penulis

8

Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki, segala hormat dan
pujian syukur penulis naikkan pada Tuhan sang Juruselamat yang telah menebus
segala dosa-dosa dan yang memampukan untuk berdiri hingga saat ini. Terkhusus
untuk penyertaan serta perlindungan Tuhan selama empat tahun penulis menjalani
kegiatan selama perkuliahan dan pada akhirnya menyelesaikan studi sarjananya di
Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan
terima kasih yang teristimewa untuk keluarga tercinta. Kepada kedua orang tua,
Ayahanda St. J. Situmorang dan Ibunda N. Br. Manullang, untuk segala doa dan
jerih payah serta pengorbanan mulia yang diberikan selama ini, yang telah menjaga,
merawat dan mendidik secara jasmani dan rohani hingga saat ini. Terima kasih untuk
perhatian, motivasi dan dukungan yang diberikan terkhusus dalam penyelesaian
skripsi ini. Kiranya Tuhanlah yang membalaskan semua yang baik untuk semua yang
diberikan.
Kepada kedua adik kembarku tersayang, Homile Kristina Situmorang dan
Epiphani Khrisnawati Situmorang, terima kasih untuk dukungan doa dan
kebersamaan yang ada di keluarga kita. Semoga Kasih Tuhan senantiasa menyertai
keluarga kita. Kepada Abangda tercinta Jobel HB Parulian Situmorang yang telah
lebih dulu menghadap Bapa di Surga, terima kasih untuk doa, pengertian dan
perhatian yang telah diberikan semasa hidupmu. Walaupun dirimu tidak seberuntung
kami adik-adikmu, dengan segala keterbatasanmu yang masih tetap memberikan

9

Universitas Sumatera Utara

perhatian menunjukkan kebanggaanmu pada kami adik-adikmu. Terima kasih bang,
Tuhan menyertaimu di sana. Juga kepada seluruh keluarga besar Situmorang dan
Manullang, terima kasih untuk doa-doanya. Semoga Tuhan masih memberikan waktu
dan umur yang panjang bagi kita untuk saling bersilaturahmi.
Penulisan skripsi ini dapat diselesaikan juga atas bantuan, dukungan,
bimbingan dan arahan, serta saran dan masukan dari berbagai pihak, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Universitas Sumatera Utara, tempat penulis menyelesaikan studinya.
2. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum, selaku Pimpinan Departemen Ilmu
Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Nurhabsyah, M.Si, selaku Sekretaris Departemen Ilmu Sejarah
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Dra. Nina Karina, M. SP, selaku dosen wali penulis selama perkuliahan
di Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera
Utara.
6. Ibu Dra.Junita Setiana Ginting, M.Si, selaku dosen pembimbing penulis
dalam menyelesaikan skripsi. Terima kasih untuk perhatian, dukungan dan
ketersediaan waktunya untuk bimbingan, memberikan saran dan masukan
sehingga skripsi ini dapat selesai.

10

Universitas Sumatera Utara

7. Seluruh dosen yang pernah memberikan ilmunya pada penulis, diantaranya:
Bapak Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum.; Bapak Drs. Sentosa Tarigan, M.SP.;
Bapak Drs. J. Fachruddin Daulay; Bapak Drs. Samsul Tarigan; Bapak Dr.
Suprayitno, M.Hum.; Bapak Drs. Bebas Surbakti; Bapak Drs. Timbun
Ritonga; Bapak Dr. Budi Agustono, M.Hum.; Ibu Dra. Peninna
Simanjuntak, M.S.; Ibu Dra. Haswita, M.SP.; Ibu Dra. Ratna, M.S.; Ibu
Dra. Lila Pelita Hati, M.Si.; Ibu Dra. Fitriaty Harahap, S.U.; Ibu Dra.
Farida Hanum, M.SP.; Ibu Dra. Nurhamidah; Ibu Dra. S.P. Dewi Murni,
M.A.; (Alm) Bapak Drs. Indera, M.Hum; serta staf pengajar dari
departemen/jurusan lain yang juga mengajar di departemen Ilmu Sejarah.
8. Direksi PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Tanjung Morawa, yang
telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Umum Dr.
GL. Tobing PTPN II Tanjung Morawa.
9. Pimpinan, staf pegawai, dokter, serta perawat di Rumah Sakit Umum Dr.
GL. Tobing PTPN II Tanjung Morawa yang telah banyak membantu
penulis dalam melakukan penelitian.
10. Seluruh informan yang telah memberikan informasi dalam penelitian ini.
11. Konsulat Negeri Belanda di Medan Sumatera Utara, Oma Pakasy, yang
telah membantu penulis dalam menterjemahkan literatur berbahasa Belanda.
12. UKM KMK USU UP Fakultas Ilmu Budaya, tempat penulis dibina untuk
senantiasa menjadi garam dan terang dunia di manapun berada. Juga kepada
abang dan kakak rohani penulis; Febrianus, Sere Murni, Gohanna, Jelita,
Taruli.

11

Universitas Sumatera Utara

13. Seluruh teman mahasiswa Ilmu Sejarah angkatan 2007 yang tetap saling
memberikan semangat dan dorongan di tengah kesibukan masing-masing
dalam mengerjakan proposal dan skripsi.
14. Alumni IPA IV yang sampai sekarang masih tetap menjalin komunikasi
ditengah kesibukan studi dan pekerjaan masing-masing.
Terima kasih untuk semua pihak yang belum disebutkan, yang telah
memberikan perhatian dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung
dalam pengerjaan skripsi ini. Penulis tidak dapat membalas secara langsung budi baik
yang telah diberikan, kiranya Tuhan memberikan yang terbaik untuk semuanya.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

Medan, Agustus 2011
Penulis

Yudika Situmorang

12

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing merupakan rumah sakit tipe C+ milik
BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yaitu PT. Perkebunan Nusantara II yang terletak
di Jl. Medan-Tanjung Morawa Km 16 Kabupaten Deli Serdang. Rumah sakit ini
dinasionalisasi pada tahun 1969 dari Senembah Maatschappij yang merupakan
maskapai perkebunan milik Kolonial.
Penelitian ini diberi judul ”Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing PTP
Nusantara II Tanjung Morawa (1970-2000)”. Tahun 1970 dipilih sebagai batas awal
penelitian karena tahun tersebut merupakan tahun awal kegiatan operasional rumah
sakit ini setelah dinasionalisasi di tahun sebelumnya yaitu 1969. Tahun 2000 dipilih
sebagai batas akhir penelitian karena pada tahun tersebut sudah dapat dilihat adanya
perubahan dalam kegiatan pelayanan yang terdapat di rumah sakit ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan sejarah berdirinya Rumah Sakit
Umum Dr. GL Tobing Tanjung Morawa, kemudian menjelaskan perkembangan
Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung Morawa Tahun 1970 hingga 2000 dan
juga menjelaskan peranan Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung Morawa
terhadap masyarakat sekitarnya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan
tahapan Heuristik (pengumpulan data atau sumber informasi), Kritik (pengujian
sumber informasi), Interpretasi (penafsiran atau penyimpulan data) dan Historiografi
(penulisan dalam bentuk skripsi).
Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing PTP Nusantara II Tanjung Morawa telah
turut serta memberikan kontribusi dalam peningkatan kesehatan terhadap buruh
perkebunan khususnya dan masyarakat secara umum. Pelayanan kesehatan di rumah
sakit ini akan terus mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut dapat
mengarah ke arah perbaikan atau malah sebaliknya ke arah penurunan. Walaupun
banyak rumah sakit lain bertambah dengan beragam fasilitasnya, namun rumah sakit
ini masih tetap bertahan dan tetap melaksanakan fungsinya sebagai sarana pelayanan
kesehatan.

13

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................i
UCAPAN TERIMA KASIH.....................................................................................iii
ABSTRAK.................................................................................................................vii
DAFTAR ISI............................................................................................................viii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ..........................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah .....................................................................................4
1.3. Tujuan dan Manfaat ..................................................................................5
1.4. Tinjauan Pustaka .......................................................................................6
1.5. Metode Penelitian ....................................................................................11

BAB II SEJARAH BERDIRINYA RUMAH SAKIT UMUM DR. GL TOBING
PTP NUSANTARA II TANJUNG MORAWA
2.1. Gambaran Umum Sumatera Timur .........................................................13
2.2. Sejarah Perkebunan Tembakau di Sumatera Timur.................................15
2.3. Maskapai Perkebunan Senembah ............................................................17
2.4. Kondisi Buruh Perkebunan Maskapai Senembah ....................................20
2.5. Pengembangan Pelayanan Kesehatan di Maskapai Perkebunan
Senembah .................................................................................................23
2.6. Nasionalisasi Maskapai Perkebunan Senembah ......................................26

BAB III PERKEMBANGAN RUMAH SAKIT UMUM DR. GL TOBING PTP
NUSANTARA II TANJUNG MORAWA (1970-2000)
3.1. Perubahan Nama Rumah Sakit ................................................................30
3.2. Perubahan Sasaran Pelayanan Rumah Sakit ............................................32
3.3. Struktur Organisasi ..................................................................................35
3.4. Sarana dan Fasilitas Pelayanan Rumah Sakit ..........................................40

14

Universitas Sumatera Utara

3.5. Pelayanan di Rumah Sakit .......................................................................47
3.6. Tenaga Kerja dan Disiplin Kerja .............................................................49
3.6.1. Tenaga Kerja ……………...……….....……………………....59
3.6.2. Disiplin Kerja ………………...…………….……………….. 51
3.7. Perubahan Pelayanan di Rumah Sakit …................................................52
3.7.1. Pelayanan Terhadap Penyakit TBC ……...…………….…….53
3.7.2. Dukungan Dana dari Perkebunan ……………............………54
3.7.3. Tenaga Pelayan Kesehatan …………………............………..55
3.7.4. Sarana dan Fasilitas Pelayanan ………………………………56
3.7.5. Jumlah Kunjungan Pasien ……………………………………58

BAB IV PERANAN RUMAH SAKIT UMUM

DR. GL TOBING PTP

NUSANTARA II TANJUNG MORAWA
4.1. Fungsi Pelayanan Kesehatan …………………………………..……….62
4.2. Fungsi Pelayanan Masyarakat …….........................................................69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan ..............................................................................................72
5.2. Saran ........................................................................................................74

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR INFORMAN
LAMPIRAN

15

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing merupakan rumah sakit tipe C+ milik
BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yaitu PT. Perkebunan Nusantara II yang terletak
di Jl. Medan-Tanjung Morawa Km 16 Kabupaten Deli Serdang. Rumah sakit ini
dinasionalisasi pada tahun 1969 dari Senembah Maatschappij yang merupakan
maskapai perkebunan milik Kolonial.
Penelitian ini diberi judul ”Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing PTP
Nusantara II Tanjung Morawa (1970-2000)”. Tahun 1970 dipilih sebagai batas awal
penelitian karena tahun tersebut merupakan tahun awal kegiatan operasional rumah
sakit ini setelah dinasionalisasi di tahun sebelumnya yaitu 1969. Tahun 2000 dipilih
sebagai batas akhir penelitian karena pada tahun tersebut sudah dapat dilihat adanya
perubahan dalam kegiatan pelayanan yang terdapat di rumah sakit ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan sejarah berdirinya Rumah Sakit
Umum Dr. GL Tobing Tanjung Morawa, kemudian menjelaskan perkembangan
Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung Morawa Tahun 1970 hingga 2000 dan
juga menjelaskan peranan Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung Morawa
terhadap masyarakat sekitarnya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan
tahapan Heuristik (pengumpulan data atau sumber informasi), Kritik (pengujian
sumber informasi), Interpretasi (penafsiran atau penyimpulan data) dan Historiografi
(penulisan dalam bentuk skripsi).
Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing PTP Nusantara II Tanjung Morawa telah
turut serta memberikan kontribusi dalam peningkatan kesehatan terhadap buruh
perkebunan khususnya dan masyarakat secara umum. Pelayanan kesehatan di rumah
sakit ini akan terus mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut dapat
mengarah ke arah perbaikan atau malah sebaliknya ke arah penurunan. Walaupun
banyak rumah sakit lain bertambah dengan beragam fasilitasnya, namun rumah sakit
ini masih tetap bertahan dan tetap melaksanakan fungsinya sebagai sarana pelayanan
kesehatan.

13

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan
upaya kesehatan.1 Salah satu di antaranya adalah rumah sakit. Rumah sakit adalah
suatu lembaga dalam mata rantai sistem kesehatan nasional yang mengemban tugas
pelayanan kesehatan untuk seluruh masyarakat.2
Kesehatan besar artinya bagi pengembangan dan pembinaan sumber daya
manusia Indonesia dan sebagai modal bagi pelaksanaan pembangunan nasional yang
pada

hakikatnya

adalah

pembangunan

manusia

Indonesia

seutuhnya

dan

pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Kesehatan sebagai salah satu unsur
kesejahteraan umum harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 melalui
pembangunan nasional yang berkesinambungan berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945.3
Pelayanan kesehatan akan terus mengalami perkembangan, tidak terkecuali
pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing PTP Nusantara II
Tanjung Morawa. Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing merupakan rumah sakit tipe
C+ milik PTP Nusantara II yang terletak di Jl. Medan-Tanjung Morawa Km 16
Kabupaten Deli Serdang. Rumah sakit ini dahulu dikenal dengan nama Rumah Sakit
1

UU No. 23 Tahun 1992 Tentang : Kesehatan, LN 1992/100; TLN NO. 3495, hal. 2.
Dalmy Iskandar, Rumah Sakit, Tenaga Kesehatan Dan Pasien, Jakarta: Sinar Grafika,
1998, hal. 6.
3
UU No. 23 Tahun 1992, Op. Cit. hal. 1.
2

16

Universitas Sumatera Utara

kebon atau Rumah Sakit PNP (Perusahaan Nasional Perkebunan) dan hanya melayani
pasien dari karyawan perkebunan PTP Nusantara II, namun sekarang rumah sakit ini
telah melayani pasien umum non karyawan PTP Nusantara II. Artinya, saat ini siapa
saja diperbolehkan untuk berobat ke RSU Dr. GL Tobing PTP Nusantara II Tanjung
Morawa.
Pada awal berdirinya RSU Dr. GL Tobing bernama Hospitaal Te Tandjong
Morawa yang didirikan tahun 1882.4 Rumah sakit ini merupakan tempat pelayanan
kesehatan milik Senembah Maatschappij yang ditujukan untuk mengobati para buruh
perkebunan tembakau yang sakit. Sebab pada waktu itu, setiap perkebunan memiliki
pusat pelayanan kesehatan terhadap para buruhnya. Rumah sakit ini merupakan salah
satu rumah sakit yang cukup populer, terutama dalam hal penanganan penyakit kolera
yang berkembang pada masa itu di perkebunan. Senembah Maatschappij juga
merupakan salah satu perkebunan dengan tingkat kesehatan yang cukup tinggi.5
Setelah kemerdekaan, seluruh perkebunan milik asing dinasionalisasi
menjadi milik pemerintah. Tidak terkecuali Senembah Maatschappij beserta
pelayanan kesehatannya. Maka berdasarkan SK No. : II.0/KPTS/3/1969 yang
dikeluarkan Direktur Utama MD. Nasution, rumah sakit PNP-II Tanjung Morawa
disahkan menjadi Rumah Sakit Dr. Gerhard Lumban Tobing PT Perkebunan II
Tanjung Morawa.6

4

Website PTPN II, http://ptpn2.com/content/view/21/123/ (diakses tanggal 9 Oktober 2010)
Jan Bremen, Menjinakkan Sang Kuli Politik Kolonial Pada Awal Abad Ke 20, Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti, 1997. hal. 124-126.
6
Website PTPN II, http://ptpn2.com/content/view/21/123/ (diakses tanggal 9 Oktober 2010)
5

17

Universitas Sumatera Utara

Daerah Tanjung Morawa pada awalnya merupakan daerah perlintasan bagi
orang-orang yang berasal dari Medan menuju Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematang
Siantar, atau kota-kota lainnya. Seiring perkembangan waktu, Tanjung Morawa
mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Pertambahan penduduk baik itu
karena faktor kelahiran atau migrasi menjadikan daerah ini berkembang pesat
menjadi daerah industri dan bukan sekedar daerah perlintasan saja. Sejalan dengan
perkembangannya, diperlukan sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Salah
satunya adalah RSU Dr. GL Tobing PTP Nusantara II Tanjung Morawa.
Keberhasilan rumah sakit ini di masa lalu dalam menangani penyakit yang
berkembang di Senembah Maatschappij menjadi salah satu alasan yang
melatarbelakangi penelitian mengenai RSU Dr. GL Tobing PTP Nusantara II
Tanjung Morawa. Sejalan dengan perkembangannya rumah sakit ini turut memberi
peranan besar dalam peningkatan kesehatan masyarakat di wilayah Tanjung Morawa
dan sekitarnya. Walaupun saat ini banyak berdiri rumah sakit baru di Tanjung
Morawa dan sekitarnya, namun RSU Dr. GL Tobing PTP Nusantara II Tanjung
Morawa masih tetap bertahan dan tetap melakukan fungsinya sebagai sarana
pelayanan kesehatan masyarakat. Minimnya informasi dan tidak adanya literatur
mengenai sejarah berdirinya rumah sakit ini, serta untuk mengetahui bagaimana
perkembangan rumah sakit ini menjadi alasan berikutnya untuk melakukan
penelitian.
Penelitian ini diberi judul Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing PTP Nusantara
II Tanjung Morawa (1970-2000). Skop temporal penelitian dimulai dari tahun 1970
sampai tahun 2000. Tahun 1970 dipilih sebagai batas awal penelitian karena tahun

18

Universitas Sumatera Utara

tersebut merupakan tahun awal kegiatan operasional rumah sakit ini setelah
dinasionalisasi di tahun sebelumnya yaitu 1969. Tahun 2000 dipilih sebagai batas
akhir penelitian karena pada tahun tersebut sudah dapat dilihat adanya perubahan
dalam rumah sakit ini.
Peristiwa sejarah memang tidak dapat terulang kembali. Maka perlu dilakukan
perekonstruksian terhadap kehidupan manusia yang terjadi di masa lalu. Walaupun
tidak dapat lagi ditampilkan atau direkonstruksikan seutuhnya karena keterbatasan
sumber dan skop temporal, paling tidak peristiwa sejarah yang terjadi di masa lalu
dapat dijadikan pelajaran di masa sekarang dan dijadikan pedoman bertindak di masa
yang akan datang.

2. Rumusan Masalah
Penelitian ini berfokus untuk membahas mengenai sejarah, perkembangan dan
peranan Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing PTP Nusantara II Tanjung Morawa dari
tahun 1970 hingga tahun 2000. Berangkat dari latar belakang di atas maka dibuatlah
suatu perumusan mengenai permasalahan yang hendak diteliti yang digunakan
sebagai landasan utama dalam penelitian. Untuk mempermudah proses penelitian,
maka pembahasannya dirumuskan terhadap masalah-masalah berikut:
1. Bagaimana sejarah berdirinya Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing
Tanjung Morawa?
2. Bagaimana perkembangan Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung
Morawa Tahun 1970-2000?

19

Universitas Sumatera Utara

3. Bagaimana peranan Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung Morawa
terhadap masyarakat sekitarnya?

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Suatu penelitian tentunya harus memiliki tujuan dan manfaat yang dapat
memberikan informasi bagi pembaca. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menjelaskan sejarah berdirinya Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing
Tanjung Morawa.
2. Menjelaskan perkembangan Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung
Morawa Tahun 1970-2000.
3. Menjelaskan peranan Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung
Morawa terhadap masyarakat sekitarnya.
Selain tujuan di atas, penelitian ini juga diharapakan menghasilkan manfaat
secara praktis maupun secara akademis, di antaranya yaitu:
1. Menambah wawasan pembaca mengenai sejarah berdirinya Rumah Sakit
Umum Dr. GL Tobing Tanjung Morawa serta perkembangan dan
peranannya terhadap masyarakat Tanjung Morawa dan sekitarnya.
2. Menjadi tambahan literatur dan referensi mengenai Rumah Sakit Umum
Dr. GL Tobing Tanjung Morawa, yang nantinya dapat digunakan untuk
penelitian lebih lanjut.
3. Menjadi masukan bagi Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung
Morawa agar dapat mengembangkan lagi pelayanannya di masa yang akan
datang.

20

Universitas Sumatera Utara

4. Tinjauan Pustaka
Dalam penelitian tentunya diperlukan sumber tertulis berupa literatur atau
buku-buku yang dapat membantu pemahaman serta kelancaran dalam pelaksanaan
penelitian. Buku-buku yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Menjinakkan
Sang Kuli, Politik Kolonial Pada Awal Abad Ke-20 karangan Jan Bremen terbitan
Pustaka Utama Grafiti tahun 1997. Dalam buku ini Jan Bremen menyebutkan
mengenai Senembah Maatschapiij. Buku ini membantu untuk menjelaskan sedikit
mengenai kondisi awal sarana pelayanan kesehatan di Senembah Maatschapiij yang
nantinya menjadi cikal bakal sejarah berdirinya Rumah Sakit Dr. GL Tobing Tanjung
Morawa.
Buku ini juga menyebutkan bahwa angka kematian menurun drastis di
perkebunan-perkebunan. Hal ini adalah akibat dari adanya peningkatan pelayanan
kesehatan di perkebunan. Tahun 1897-1901, jumlah kematian kuli menurun dari 60,2
menjadi 45,1 per 1000 orang. Informasi ini didapatkan dari perkebunan-perkebunan
Senembah Maatschapiij yang pada saat itu adalah paling lengkap. Penyakit yang
paling banyak diderita para buruh perkebunan pada waktu itu adalah penyakit kolera
yang diakibatkan kondisi lingkungan yang buruk. Selain itu, perlakuan yang diterima
oleh para buruh, dimana makanan yang dimakan tidak sebanding dengan apa yang
telah mereka kerjakan menyebabkan mereka sangat mudah terserang penyakit. Hal ini
diperparah lagi dengan buruknya pelayanan kesehatan pada waktu itu.
Penurunan jumlah kematian ini tentunya juga tidak lepas dari peran sarana
pelayanan kesehatan yang semakin membaik. Rumah sakit ini, pada saat itu menjadi
rumah sakit yang paling diminati, terutama oleh petinggi perkebunan di luar

21

Universitas Sumatera Utara

Senembah Maatschapiij. Buku ini sangat membantu dalam menjelaskan bagaimana
kondisi dan peran Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing pada masa lalu ketika
menangani para buruh perkebunan Senembah Maatschapiij.
Dalam buku berjudul Reformasi Perumah-sakitan Indonesia edisi revisi
terbitan Grasindo tahun 2002 digambarkan bagaimana kondisi umum institusi
kesehatan belakangan ini. Dimana ada ancaman yang paling menonjol bagi
kelangsungan hidup institusi publik yang menangani kesehatan sebagai salah satu
kebutuhan pokok manusia. Pertama adalah krisis kesehatan yang dipicu oleh krisis
ekonomi, telah membuat golongan miskin/kurang mampu semakin menderita karena
semakin sulitnya menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan milik swasta maupun
pemerintah. Kedua adalah krisis kepercayaan, terutama terhadap integritas aparat
pemerintah dan profesionalisme instansi yang bersangkutan beserta aparatnya
terhadap publik. Apabila hal tersebut dibiarkan berlanjut, maka masyarakat akan
takut berobat ke rumah sakit. Masyarakat tidak mampu cenderung peka terhadap
berbagai serangan penyakit. Maka, diperlukan kemudahan dalam menjangkau
fasilitas yang ada di rumah sakit dan profesionalitas dari tenaga kesehatan.
Selain bagaimana kondisi institusi kesehatan dan permasalahan apa yang
timbul di dalamnya, dalam buku karangan Soedarmono Soejitno, Ali Alkatiri dan
Emil Ibrahim ini juga dipaparkan langkah-langkah konkrit apa saja yang dapat
dilakukan oleh institusi kesehatan untuk meningkatkan pelayananannya. Buku ini
sangat membantu dalam menentukan apakah RSU Dr. GL Tobing sudah merupakan
rumah sakit yang ideal. Semua kondisi ideal rumah sakit dalam buku ini nantinya
dapat diperbandingkan dengan kondisi RSU Dr. GL Tobing pada skop temporal

22

Universitas Sumatera Utara

penelitian yaitu tahun 1970 hingga tahun 2000. Sebab apabila masih terjadi
malapraktek dalam pelayanan kesehatan dan masih ada rumah sakit yang berorientasi
komersil, itu bukanlah rumah sakit yang ideal. Buku ini juga dapat dijadikan sebagai
acuan untuk melakukan reformasi dalam institusi pelayanan kesehatan. Jika hal itu
diterapkan, maka rumah sakit dapat berfungsi dan mengemban misi sebagai
pelayanan kesehatan tanpa pandang bulu.
Buku Laksono Trisnantoro berjudul Aspek Strategis Manajemen Rumah Sakit
Antara Misi Sosial dan Tekanan Pasar terbitan Andi tahun 2005 menjelaskan
bagaimana sistem manajemen yang ada di lingkungan rumah sakit termasuk
komponennya. Sifat rumah sakit, rencana strategis dan kepemimpinan, visi dan
strategi program termasuk isu untuk strategi pengembangan rumah sakit. Buku ini
membantu dalam menjelaskan bagaimana sistem manajemen yang ada di lingkungan
Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing Tanjung Morawa.
Benyamin Lumenta dalam Hospital, Citra, Peran dan Fungsi, (1989)
menjelaskan mengenai fungsi rumah sakit sebagai pelayanan Intramural dan
Ekstramural. Fungsi intramural merupakan pelayanan medis beserta semua
penunjangnya untuk memberikan pelayanan kesehatan individual, sedangkan fungsi
ekstramural berupa pelayanan kesehatan masyarakat yang dilaksanakan secara aktif
di masyarakat.7 Artinya, selain perawatan di dalam gedung rumah sakit, institusi
rumah sakit juga harus melakukan pelayanan kesehatan di masyarakat yang

7

Benyamin Lumenta, Hospital, Citra, Peran dan Fungsi, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hal. 14.

23

Universitas Sumatera Utara

diwujudkan dalam bentuk Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) ataupun
penyuluhan langsung.
Buku ini juga menjelaskan bagaimana seharusnya peran rumah sakit dalam
pembangunan kesehatan masyarakat. Buku ini sangat membantu dalam menjelaskan
apakah Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing sudah benar-benar menjalankan perannya
dalam pembangunan kesehatan masyarakat khusunya di Tanjung Morawa dan
sekitarnya. Karena pada umumnya fungsi rumah sakit masih belum dapat terlaksana
sepenuhnya, baik bagi pelayanan kesehatan maupun bagi kegiatan kemasyarakatan
seperti penyuluhan, pendidikan dan pembinaan. Hal ini disebabkan oleh
perkembangan rumah sakit di Indonesia yang cenderung demi politik penguasa
kolonial dan pemerintahan nasional.
Dalam buku Kiat Mengelola Rumah Sakit terbitan Hipokrates tahun 1997
dijelaskan bahwa pada saat ini pelayanan rumah sakit merupakan bentuk upaya
pelayanan kesehatan yang bersifat sosio-ekonomi. Artinya, suatu usaha yang bersifat
sosial namun diusahakan agar bisa mendapat surplus keuangan dengan cara
pengelolaan yang profesional dengan turut memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi.
Sementara pada masa lampau rumah sakit merupakan tempat yang selalu
memberikan pertolongan kepada orang sakit yang sifatnya murni sosial dan selalu
mengalami defisit keuangan.
Buku karangan R. Darmanto Djojodibroto ini menjelaskan bagaimana
langkah dan kiat dalam melakukan pengelolaan terhadap rumah sakit agar sasaran
dalam membangun rumah sakit dapat tercapai. Sasarannya yaitu rumah sakit yang
mampu mandiri dalam pembiayaan melalui pengelolaan langsung terhadap dana yang

24

Universitas Sumatera Utara

diperoleh dari jasa pelayanan dan dari sumber dana lainnya. Maka kegiatan
manajemen yang dilakukan meliputi bidang perencanaan, keuangan, personalia,
informasi dan rekam medik, perkantoran, logistik, farmasi, pelayanan medis dan
perawatan, gizi, laundry, sanitasi, keselamatan kerja, keamanan, pemasaran, dan yang
terakhir pengawasan dan evaluasi. Dari keterangan ini nantinya akan dapat diketahui
apakah pelayanan RSU Dr. GL Tobing PTP Nusantara II Tanjung Morawa bersifat
sosio-ekonomi atau hanya salah satu diantaranya.

25

Universitas Sumatera Utara

5. Metode Penelitian
Metode adalah cara atau petunjuk pelaksanaan penelitian. Metode yang
dipakai dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yaitu cara yang dipakai dalam
melakukan penelitian sejarah.8 Dalam metode sejarah ada empat tahapan yang harus
dilalui yaitu, sebagai berikut:
Tahap pertama, Heuristik yaitu pengumpulan sumber-sumber informasi yang
mendukung objek yang diteliti baik berupa tulisan atupun lisan. Pada tahapan ini,
yang dilakukan adalah penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian
lapangan (field research). Penelitian kepustakaan telah dilakukan dengan
mengumpulkan sumber-sumber tertulis berupa buku-buku, arsip, laporan atau karya
tulis yang membantu dalam memahami permasalahan. Sumber tertulis diperoleh di
Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Daerah Kota Medan,
Perpustakaan Deli Serdang, Arsip Rumah Sakit Umum Dr. GL Tobing serta BPS
Sumatera Utara dan BPS Deli Serdang dan koleksi pribadi. Penelitian lapangan telah
dilakukan dengan wawancara terhadap dokter-dokter, bidan, perawat, atau pegawai
yang bekerja di RSU Dr. GL Tobing serta masyarakat untuk memperoleh informasi
mengenai topik penelitian.
Tahap kedua yang dilakukan adalah Kritik, yaitu pengujian sumber-sumber
yang telah diperoleh baik sumber lisan atau sumber tulisan. Walaupun banyak sumber
yang ditemukan, tentu tidak semuanya digunakan, maka yang harus dilakukan adalah
penyeleksian terhadap sumber-sumber yang telah diperoleh tersebut. Kritik dilakukan

8

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Bentang, 2005, hal. 64.

26

Universitas Sumatera Utara

untuk menguji keabsahan informasi yang didapat dari sumber.9

Kritik yang

dilakukan yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern dipergunakan untuk
menilai kelayakan data, apakah data dapat dipercaya atau tidak, sedangkan kritik
ekstern digunakan untuk menentukan keaslian data yang diperoleh.
Tahap ketiga adalah Interpretasi, yaitu penafsiran data-data yang dapat
dipercaya. Interpretasi merupakan pandangan atau kesimpulan baru yang bersifat
objektif dan ilmiah dari peneliti sendiri yang diperoleh setelah menganalisa data-data
yang telah diseleksi.
Tahap keempat adalah historiografi, yaitu penulisan sejarah. Kesaksian dan
keterangan dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dirangkai menjadi suatu kajian
atau kisah yang menarik untuk dibaca dengan tetap memperhatikan aspek kronologis,
yaitu mulai dari sejarah berdirinya Rumah Sakit Dr. GL Tobing, perkembangan
Rumah Sakit Dr. GL Tobing, hingga peran atau dampaknya bagi masyarakat Tanjung
Morawa dan sekitarnya. Historiografi ini merupakan tahap akhir dari penelitian
sehingga dapat dituangkan dalam bentuk tulisan skripsi.

9

Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, Terj. Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1985,
hal. 43-44.

27

Universitas Sumatera Utara

BAB II
SEJARAH BERDIRINYA RUMAH SAKIT UMUM DR. GL TOBING
PTP NUSANTARA II TANJUNG MORAWA

2.1 Gambaran Umum Sumatera Timur
Daerah Sumatera Timur merupakan daerah dataran rendah yang sangat luas.
Luas seluruh daerah Sumatera Timur adalah 31.715 km persegi.10 Banyak sungaisungai yang bermuara ke Selat Malaka. Di sepanjang sungai itu, terutama di muara
sungai ditumbuhi pohon nipah dan bakau yang lebat. Sungai yang berhulu di Dataran
Tinggi Karo dan Simalungun tersebut membawa sisa-sisa debu halus, pasir, serta
tanah gembur. Endapan Lumpur yang dibawa sungai-sungai tersebut luasnya rata-rata
sekitar 30 Km.11 Hal ini menyebabkan daerah Pantai Timur bertambah luas masuk ke
Selat Malaka. Tanah-tanah di sepanjang Pantai Timur Sumatera ini menjadi lahan
subur untuk pertanian
Hingga pertengahan abad ke-19 Sumatera Timur dihuni oleh kelompok etnis
Melayu, Batak Karo, dan Simalungun. Mereka inilah yang disebut penduduk asli
Sumatera Timur.12 Etnis Melayu sendiri menempati sepanjang pesisir pantai Timur
Sumatera mulai dari perbatasan Aceh (Tamiang) sampai ke Siak. Sesuatu yang khas
dari raja-raja Melayu adalah kemampuannya menjalin hubungan dengan suku-suku
lain yang saling menguntungkan tanpa harus mengorbankan identitas mereka. Hal
10

Karl J. Pelzer, Toen Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan, Jakarta: Sinar
Harapan, 1985. hal. 31.
11
Ibid., hal. 34.
12
Anthony Reid, Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan Di Sumatera Timur,
Jakarta: Sinar Harapan, 1987. hal. 87.

28

Universitas Sumatera Utara

inilah yang membuat etnis Melayu mampu berkuasa di bandar-bandar Pantai Timur
Sumatera. Orang Batak Karo menempati dataran tinggi Karo yang tidak mengenal
sistem pemerintahan kerajaan. Sedangkan orang Simalungun tinggal di dataran tinggi
Simalungun. Orang Simalungun telah memiliki lembaga pemerintahan kerajaan.
Orang Simalungun ada yang menetap di daerah-daerah kerajaan Melayu, bahkan ada
yang sudah ‘memelayukan’13 diri.14
Kerajaan-kerajaan yang terdapat di Sumatera Timur adalah Kerajaan Melayu,
Deli, Serdang, Asahan, Langkat, Kualoh, Bilah, Panai, Kota Pinang, Indrapura,
Tanah Datar, Pesisir, Lima Puluh, Suku Dua, Pelalawan, Bedagai, Padang dan
Kerajaan Rokan, Tambusai, Kepenuhan, Rambah, Kuntur Dar Es Salam dan
Senggigi, Lima Urung Deli, Sinembah, Sunggal, Percut, dan Hamparan Perak. Di
kawasan Dataran Tinggi Simalungun terdapat kerajaan Dolok Silau, Silimakuta,
Purba, Raya, Pane, Siantar, dan Tanah Jawa. Di daerah Tanah Karo terdapat Sibayak
yang kemudian ditingkatkan statusnya menjadi kerajaan. Sibayak itu adalah Sibayak
Kutabuluh, Sarinembah, Lingga, Suka, dan Barus Jahe.15

13

Memelayukan diri adalah meninggalkan identitas kesukuan asli dan masuk menjadi etnis
melayu. Untuk dapat menjadi etnis Melayu, seseorang cukup beragama Islam dan mengikuti adat
resam budaya Melayu.
14
Suprayitno, Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, Yogyakarta: Terawang Press, 2001. hal.
15-17.
15
Ibid., hal. 18.

29

Universitas Sumatera Utara

2.3 Sejarah Perkebunan Tembakau di Sumatera Timur
Tanaman tembakau pertama kali ditanam di Deli oleh seorang pegawai
Belanda bernama Jacobus Nienhuys pada tahun 1864. Hal ini tidak terlepas dari peran
Said Abdullah bin Umar Bilsagih16 yang mengajak pedagang Belanda di Jawa untuk
membeli dan menanam tembakau di Deli.17 Pada bulan Juli tahun 1963 datanglah
pedagang tembakau dari Jawa termasuk Jacobus Nienhuys dengan kapal Josephine
dari Firma Van Leeuwen en Mainz & Co ke Kuala Deli.18 Mereka mendapat kontrak
selama 20 tahun dari Sultan Deli untuk menanam tembakau.
Pada awal berdirinya perusahaan perkebunan, usaha Jacobus Nienhuys
mengalami kegagalan karena masalah gaji buruh yang sangat tinggi. Pada akhirnya
Jacobus Nienhuys memutuskan untuk memulai usahanya sendiri dengan bantuan
modal dari Tuan Van Den Arend.19 Jacobus Nienhuys memulai usaha barunya di
Martubung dengan jumlah pekerja 120 orang buruh Tionghoa dari Penang dan 23
orang Melayu.20 Tembakau yang ditanam di Deli ini ternyata memiliki prospek yang
baik.

16

Said Abdullah adalah putera seorang pedagang kaya dari Arab yang tinggal di Surabaya.
Hidupnya boros dan senang akan petualangan. Tahun 1863, Abdullah berlayar dengan tujuan
Singapura-Siak-Kalkuta, namun dalam pelayaran kapalnya diterjang badai dan terdampar di dekat
pantai Deli. Akhirnya dia dinikahkan dengan saudara perempuan Sultan Deli dan menjadi salah
seorang keluarga Sultan. Lihat: Mahadi, Sedikit Sejarah Perkembangan Hak-hak Suku Melayu Atas
Tanah di Sumatera Timur (Tahun 1800-1975), (Bandung: Alumni, 1978), hal. 36, Lihat juga: T.
Luckman Sinar Basarshah II, Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, (Medan:
tanpa penerbit, tanpa tahun terbit), hal. 206.
17
T. Luckman Sinar Basarshah II, Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera
Timur, Medan: tanpa penerbit, tanpa tahun terbit. hal. 206.
18
Ibid., hal. 207
19
Ibid.
20
Mahadi, Sedikit Sejarah Perkembangan Hak-hak Suku Melayu Atas Tanah di Sumatera
Timur (Tahun 1800-1975), Bandung: Alumni, 1978. hal. 38.

30

Universitas Sumatera Utara

Pada bulan Maret 1864, contoh daun tembakau Deli yang pertama tiba di
Rotterdam, Belanda. Sambutan para pedagang tembakau terhadap daun tembakau
Deli sangat memuaskan karena kualitas daun yang baik dan daya bakar yang juga
baik. Keuntungan besar yang diperoleh menyebabkan banyak maskapai-naskapai
asing datang untuk menanam tembakau di Deli. Tahun 1866, dibentuklah
perkongsian antara C.W. Janssen, P.W. Clemen dan Jacobus Nienhuys, bernama Deli
Maatschappij yang semakin diperkuat oleh kehadiran J.T. Cremer dengan kuli-kuli
Cina dan India yang didatangkan dari Penang.21
Pada tahun 1872, di Deli telah terdapat 13 perkebunan tembakau, satu di
Langkat dan satu di Serdang. Tahun 1874-1884 terjadi penambahan perkebunan yang
pesat di Deli menjadi 44 perkebunan, 20 di Langkat, sembilan di Serdang, dua di
Bedagai dan satu di Padang.22 Galang Tobacco Cy Ltd membuka perkebunan di
Serdang, Tuan De Floris dan Hordijk membuka perkebunan di Ramunia, Tuan J.
Van Der Sluis membuka perkebunan di Perbaungan dan Tuan Naeher dan Grob
membuka kebun di Tanjong Morawa Kiri, Petumbak, Sei Bahasa dan Tadukan
Raga.23
Dalam waktu yang relatif singkat, pohon-pohon di hutan ditebang untuk
persiapan lahan dan banyak kebun tembakau didirikan. Setelah berdirinya Deli
Maatschappij, pada tahun 1875 berdiri pula perusahaan Deli Batavia Maatschappij,
Tabak Maatschappij Arendburg tahun 1877 dan Senembah Maatschappij pada tahun
1889, serta banyak perusahaan tembakau lainnya. Sampai tahun 1889, tercatat telah
21
22
23

T. Luckman Sinar Basarshah II, Op.Cit, hal. 210.
Mahadi, Op.Cit, hal. 39.
T. Luckman Sinar Basarshah II, Op.Cit, hal. 311-312.

31

Universitas Sumatera Utara

ada 170 perkebunan besar maupun kecil. Perkebunan-perkebunan tersebut tersebar di
wilayah Siak, Asahan, Serdang, Deli dan Langkat.
Pada tahun-tahun berikutnya jumlah perkebunan semakin berkurang.
Beberapa perkebunan tidak dapat bertahan dalam persaingan dengan perkebunanperkebunan yang berada pada tanah-tanah yang baik, yaitu tanah-tanah yang terletak
di antara dua sungai besar, yaitu Sungai Ular (Serdang) dan Sungai Wampu
(Langkat). Di luar kawasan itu, satu persatu perusahaan gulung tikar dan mengalihkan
usahanya pada budidaya lainnya, seperti karet karena tanahnya tidak cocok untuk
tanaman tembakau.

2.4 Maskapai Perkebunan Senembah
Maskapai Perkebunan Senembah (Senembah Maatschappij) merupakan
maskapai perkebunan yang didirikan tahun 1889 untuk meneruskan usaha
perkebunan yang dimiliki oleh Firma Naeher & Grob. Maskapai ini memiliki kebun
yang ada di Tanjung Morawa, Tanjung Morawa Kiri, Sei Bahasa, Batang Kuis,
Gunung Rinteh dan Petumbak.24 Pada tahun-tahun awal berdirinya Senembah
Maatschappij masih dibantu oleh Deli Maatschappij dalam hal pembiayaan dan
untuk menjual tembakau mereka ke pasaran.
Firma Naeher & Grob merupakan usaha bersama dua orang asing, yaitu
Hermann Naeher, seorang pedagang di Sicilie yang berkebangsaan Beier dan Karl

24

Ibid., hal. 315.

32

Universitas Sumatera Utara

Furchtegott Grob, pendiri onderneming Helvetia yang berkebangsaan Swiss.25 Pada
tahun 1871 mereka mendapat kontrak tanah dari Serdang seluas 7588 bahu26. Tahun
1876 lahan mereka ditambah dengan sebidang tanah yang terletak di Deli, kemudian
pada tahun 1886 semakin meluas ke gunung-gunung dan ke pantai, sehingga luas
wilayah mereka menjadi 31.563 bahu pada tahun 1889.27
Letak kebun-kebun Naeher & Grob yang kebanyakan berada di tepi sungai
Belumai mendatangkan keuntungan tersendiri bagi maskapai ini, mereka tidak
memerlukan pembukaan jalan menuju ke Medan untuk pemasukan barang maupun
pengeluaran hasil-hasil perkebunan. Pada waktu itu, sungai Belumai merupakan
sungai yang baik untuk dilayari. Di muara sungai Belumai terdapat kebun-kebun
nipah yang juga mereka manfaatkan untuk keperluan atap bagi gudang-gudang
tembakau mereka.
Kemajuan Firma Naeher & Grob ini disebabkan karena tanah-tanah yang
mereka miliki menghasilakan daun-daun tembakau yang besar, berat dan berwarna
gelap yang pada waktu itu lebih disukai oleh orang-orang Eropa. Kondisi inilah yang
menyebabkan Firma Naeher & Grob mengalami kemajuan yang pesat. Namun hal ini
tidak berlangsung lama, sebab sekitar tahun 1887 terjadi perubahan selera pada
orang-orang Eropa. Selera mereka berubah menjadi lebih menyukai tembakau yang
berwarna cerah.28

25

C.W. Janssen, Senembah Maatschappij 1889-1914, Amsterdam:Drukkerij v/h RoeloffzenHübner en Van Santen, 1914. hal. 1.
26
Istilah aslinya adalah bouws yaitu satuan seluas 7096,50 M²
27
Ibid.
28
Ibid., hal. 8.

33

Universitas Sumatera Utara

Menjelang tahun 1888, suhu udara yang panas dan kering menghasilkan
produksi tembakau yang berat dan besar, sehingga pada tahun itu terjadi penurunan
harga tembakau. Harga yang buruk ini cukup membuat Firma Naeher & Grob
mengalami kerugian yang besar. Kesehatan Karl Furchtegott Grob yang pada waktu
itu yang juga sedang tidak baik mengakibatkan Naeher & Grob berniat untuk menjual
Firma yang telah mereka dirikan.
Mereka memberitahukan rencana penjualan Firma mereka kepada Deli
Maatschappij. Pimpinan Deli Maatschappij menyarankan agar mereka menjual milik
mereka pada Perseroan Terbatas yang mereka bentuk sendiri dengan harga yang telah
mereka sepakati. Naeher & Grob menerima saran tersebut, maka berdasarkan izin
kerajaan tanggal 30 September 1889 resmilah seluruh kebun milik Naeher & Grob
menjadi milik Senembah Maatschappij dengan Jacobus Nienhuys dan C.W. Janssen
sebagai direksi, sedangkan yang menjadi komisaris yaitu J. T. Cremer, H. Naeher, G.
E. Haarsma, A. L. Wurfbain dan R. Von Seutter.29
Pada awal terbentuknya Senembah Maatschappij, Naeher & Grob sempat
ragu akan perkembangan maskapai ini. Hal ini disebabkan karena perubahan selera
orang-orang Eropa terhadap tembakau dan kondisi cuaca yang buruk pada tahuntahun tersebut. Selama beberapa tahun sejak berdirinya, Senembah Maatschappij
masih mendapat bantuan dana dari Deli Maatschappij. Namun, setelah beberapa
tahun berlalu, hasil yang diperoleh dari Senembah Maatschappij jauh melebihi apa
yang diharapkan oleh para pendirinya. Sebab, walaupun tanah-tanah yang dimiliki
oleh Senembah Maatschappij tidak sama dan bahkan ada yang berada di bawah mutu
29

Ibid., hal. 9.

34

Universitas Sumatera Utara

tanah-tanah Deli Maatschappij, tetapi tembakau hasil perkebunan Senembah masih
tergolong yang paling baik dari tembakau-tembakau Pantai Timur.30
Pada tahun awal berdirinya Senembah Maatschappij yaitu tahun 1889 luas
tanah yang dimiliki oleh maskapai ini seluas 31.563 bahu. Tahun 1897 luas tanah
yang dimiliki Senembah Maatschappij bertambah menjadi 50.994 bahu, dimana
40.340 terletak di Serdang dan sisanya 10.654 bahu berada di Deli.31 Penambahan
luas wilayah perkebunan ini menunjukkan bahwa Senembah Maatschappij telah
mengalami kemajuan dalam hal keuangan. Selain penambahan wilayah perkebunan,
maskapai ini juga menambah gudang-gudang pengeringan tembakau serta
memperbaiki gudang-gudang yang lama. Hasil panen tahun–tahun berikutnya yang
tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, tidak lagi menjadi ancaman berarti bagi
maskapai ini. Cadangan dana yang mereka miliki membuat Senembah Maatschappij
mampu mengatasi masa-masa sulit tanpa bantuan dari Deli Maatschappij.

2.5. Kondisi Buruh Perkebunan Maskapai Senembah
Faktor yang sangat penting dalam suatu proses produksi adalah tenaga kerja.
Tenaga kerja untuk proses produksi tanaman perkebunan dikenal dengan istilah kuli
atau buruh perkebunan. Pada umumnya buruh perkebunan dipekerjakan untuk
pembukaan

lahan,

menanam,

merawat,

mengangkut

hasil

produksi

dan

mengeringkannya. Penanaman tembakau menggunakan sistem ladang berpindah,
dimana setelah satu kali proses produksi tembakau, maka lahan tersebut ditinggalkan
30
31

Ibid.
Ibid.

35

Universitas Sumatera Utara

dan dibiarkan sekitar delapan tahun lamanya baru kemudian dapat ditanami kembali.
Hal ini disebabkan karena apabila setelah selesai satu kali masa produksi tembakau,
lahan tersebut langsung ditanami kembali, maka hasil produksinya tidak akan baik.
Sistem ladang berpindah tersebut menyebabkan pembukaan lahan baru
dilakukan setiap tahun. Pembukaan lahan baru ini tidaklah mudah, sebab areal yang
mereka akan kerjakan adalah hutan dan rawa-rawa, sementara alat berupa mesin tidak
ada, sehingga pekerjaan itu hanya dilakukan oleh tangan dan alat seadanya. Dengan
alat yang seadanya, sementara medan yang dikerjakan cukup sulit dan berbahaya
menjadikan pekerjaan membuka lahan merupakan pekerjaan yang paling berat yang
dilakukan oleh para buruh.
Dalam sekali proses produksi, satu tahun dibagi menjadi dua periode kerja
yaitu masa ladang yang berlangsung selama delapan bulan lebih dan sisanya adalah
masa lumbung.32 Pekerjaan untuk membuka dan menyiapkan ladang dilakukan oleh
orang-orang Jawa, India dan para pekerja di sekitar perkebunan. Pekerjaan mereka
adalah membabat hutan, mencangkul dan meratakan tanah, membuat guludan
tanaman dan menggali parit pembuangan air, membangun lumbung untuk
pengeringan tembakau dan membangun barak untuk tempat tinggal para kuli.33
Tempat tinggal para kuli yang berupa barak di bangun berjajar atau
membentuk bujur sangkar mengelilingi lapangan. Di lapangan tersebut didirikan
dapur umum untuk tempat memasak makanan para kuli perkebunan. Sisa-sisa
sampah dan air yang tergenang menambah kotor dan baunya lingkungan tempat
32

Jan Bremen, Menjinakkan Sang Kuli Politik Kolonial Pada Awal Abad Ke 20. Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti, 1997. hal. 106.
33
Ibid.

36

Universitas Sumatera Utara

tinggal serta menjadi sumber penyakit yang berbahaya, belum lagi sanitasi seadanya
berupa lubang-lubang terbuka yang dibuat tak jauh dari perumahan membuat
penyakit gampang sekali muncul dan berkembang.34
Sesuai peraturan yang ditetapkan ordonansi kuli, waktu kerja para kuli adalah
sepuluh jam sehari. Namun, dalam kenyataanya mereka bekerja lebih dari sepuluh
jam sehari. Ladang yang biasanya cukup jauh dari barak tempat mereka tinggal,
membuat mereka harus datang lebih awal karena mereka harus tiba tepat