Pengaruh Konsentrasi Amonium Laurat Terhadap Kekuatan Tarik dan Kemuluran serta Ketahanan Sobek Film Lateks Karet Alam

PENGARUH KONSENTRASI AMONIUM LAURAT TERHADAP
KEKUATAN TARIK DAN KEMULURAN SERTA
KETAHANAN SOBEK FILM LATEKS
KARET ALAM
SKRIPSI

MISBAH HUSSUDUR
050802007

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PENGARUH KONSENTRASI AMONIUM LAURAT TERHADAP
KEKUATAN TARIK DAN KEMULURAN SERTA
KETAHANAN SOBEK FILM LATEKS
KARET ALAM

SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

MISBAH HUSSUDUR
050802007

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERSETUJUAN

Judul

Kategori
Nama
Nomor Induk Mahasiswa
Program Studi
Departemen
Fakultas

: PENGARUH KONSENTRASI AMONIUM
LAURAT TERHADAP KEKUATAN TARIK
DAN KEMULURAN SERTA KETAHANAN
SOBEK FILM LATEKS KARET ALAM
: SKRIPSI
: MISBAH HUSSUDUR
: 050802007
: SARJANA (S-1) KIMIA
: KIMIA
: MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA
Disetujui di:
Medan,
Juli 2011

Komisi Pembimbing:
Pembimbing II

Pembimbing I

DR. Yugia Muis , M.Si.
NIP. 19531027180032003

Drs.Abdi Negara Sitompul
NIP. 194607161974031001

Diketahui/Disetujui oleh:
Departememen Kimia FMIPA USU,
Ketua,

DR. Rumondang Bulan Nst, MS.
NIP. 195408301985032001

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

PENGARUH KONSENTRASI AMONIUM LAURAT TERHADAP
KEKUATAN TARIK DAN KEMULURAN SERTA
KETAHANAN SOBEK FILM LATEKS
KARET ALAM

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa
kutipan dan ringkasan-ringkasan masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, Juli 2011

MISBAH HUSSUDUR
050802007

Universitas Sumatera Utara

PENGHARGAAN

Syukur alhamdulillah penulis ucapkan atas kehadirat Allah S.W.T yang telah
memberikan rahmat dan hidayah nya, serta salawat dan salam kepada Rasulullah
Muhammad S.A.W, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi penelitian dan
penulisan skrifsi ini, dengan judul” Pengaruh Konsentrasi Amonium Laurat
Terhadap Kekuatan Tarik dan Kemuluran serta Ketahanan Sobek Film Lateks
Karet Alam”.
Pada kesempatan kali ini penulis memberikan penghargaan setinggi-tinggi nya
serta ucapan terima kasih yang tulus kepada Ayahanda Thantawi Is dan Ibunda
Bunsuraini Mis serta kakanda Alm. Yumna Ulfah, Elida Fitri dan Syafri Yanti
serta adinda Haira Fiqa untuk segenap pengorbanan nya, motivasi dan kasih sayang
yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
dan penelitian ini skrifsi ini.
Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. Abdi Negara Sitompul dan Ibu DR. Yugia Muis, Msi selaku
pembimbing I dan II yang telah memberikan arahan dan bimbingan hingga
selesainya sekrifsi ini.
2. Ibu Dr. Rumondang Bulan, MS dan Bapak Drs. Alber Pasaribu, MSc selaku
ketua dan sekretaris jurusan Kimia FMIPA-USU Medan.
3. Bapak dan Ibu dosen serta staf administrasi jurusan Kimia FMIPA-USU yang
telah membimbing dan memberi disiplin ilmu selama penulis menjalani studi.
4. Ibu Dra. Tini Sembiring, MS selaku dosen wali yang telah memberikan
nasehat-nasehat selama penulis melaksanakan studi dijurusan Kimia FMIPAUSU
5. Rekan-rekan asisten laboratorium Kimia Fisika Bang Edi, Alm Kak mas dan
Kak Liza.
6. Sahabat-sahabat penulis Rahma, Rina, Mega, rivan, Soni, Sandri, Oven,
Rahmadi, Hildan, Bg pendi, Bg Padli, Kak Kiki, Kak Sari dan Kak tarra.
7. Adik-adik Jurusan FMIPA Kimia terutama Ami, Reni, Nia, Ai, Mail, Ulan,
Pika, Destia, Tisna, Rina, Unin, Enka, Aney dan Firman.

Universitas Sumatera Utara

8. Saudara-saudara penulis Edi, Iko, Cek sapta, Izan, Bembeng, Azhari, Sidiq,
Heri, Nopri, Juni dan kawan-kawan yang telah banyak membantu penulis
dalam memberi semangat dan dukungan nya.
Penulis menyadari bahwa skrifsi ini masih jauh dari kesempurnaan, karena
keterbatasan penulis dari literatur maupun pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan
skrifsi ini. Semoga skrifsi ini dapat bermanfaat dan menjadi informasi bagi
masyarakat dan peneliti selanjutnya.

Medan, Juli 2011
Penulis,

MISBAH HUSSUDUR

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh konsentrasi amonium laurat terhadap
film lateks karet alam yang dihasilkan dengan menggunakan metode pencelupan.
Variasi konsentrasi amonium laurat yang digunakan adalah 0 %, 0,05%, 0,07% dan
0,09 % dengan waktu vulkanisasi yang digunakan adalah selama 30 menit dan suhu
vulkanisasi yang digunakan adalah 1000C. Sifat fisika yang diamati adalah kekuatan
tarik dan kemuluran serta ketahanan sobek dan untuk melihat struktur permukaan
yang dihasilkan diuji dengan analisa SEM. Dari perlakuan ini diperoleh kekuatan
tarik dan ketahanan sobek film lateks karet alam maksimum terdapat pada konsentrasi
0,05 %, sedangkan untuk kemuluran dan uji SEM yang paling baik yaitu terdapat pada
konsentrasi 0,07%.

Universitas Sumatera Utara

THE INFLUENCE OF AMMONIUM LAURATE CONCENTRATION ABOUT
THE TENSILE STRENGTH, ELONGATION, AND TEAR STRENGTH FROM
NATURAL RUBBER LATEX FILM
ABSTRACT

An investigation about the influence of ammonium laurate concentration to natural
rubber latex film was obtained using the immersion method. The variation of
ammonium laurate concentration was used 0%; 0,05%; 0,07%; and 0,09% with
vulcanization time used was for 30 minutes and vulcanization temperature was used
1000C. The physics characteristic witch analized were tensile strength, elongation and
tear strength and the structure of resulting surfaces were tested with analysis of SEM.
rom this treatment was obtained the maximum tensile strength and tear strength of
natural rubber latex film at concentration 0,05%, while the best elongation and SEM
test at concentration 0,07%.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
PERSETUJUAN .................................................................................................. ii
PERNYATAAN .................................................................................................. iii
PENGHARGAAN ............................................................................................... iv
ABSTRAK .......................................................................................................... vi
ABSTRACT ....................................................................................................... vii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ x
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xii
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................... xiii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. LatarBelakang .......................................................................................... 1
1.2. Permasalahan ........................................................................................... 3
1.3. Pembatasan Masalah ................................................................................ 3
1.4. Tujuan Penelitian ................................................................................... 3
1.5. Manfaat Penelitian ................................................................................... 4
1.6. Metodologi Penelitian .............................................................................. 4
1.7. Lokasi Penelitian...................................................................................... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karet alam ............................................................................................... 6
2.2. Elemen-elemen getah karet ....................................................................... 8
2.3. Kestabilan Lateks ..................................................................................... 9
2.4.Lateks Pekat ........................................................................................... 10
2.5. Vulkanisasi Karet Alam ......................................................................... 14
2.5.1. Bahan-Bahan yang Digunakan dalam Proses Vulkanisasi .................. 16
2.6. Pengujian Sifat Mekanik ........................................................................ 19
2 .6.1. Pengujian Sifat Kekuatan Tarik, dan Kemuluran, .............................. 19
2.6.2 Ketahanan Sobek. ................................................................................ 20
2.6.3.Morfologi Permukaan.......................................................................... 21
2.6.4. Penentuan waktu kemantapan mekanik............................................... 22
2.6.5. Penentuan Jumlah Padatan total(TSC) ................................................ 22

BAB III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
3.1. Bahan ..................................................................................................... 23
3.2. Alat- alat yang digunakan........................................................................ 24
3.3. Metode Penelitian ................................................................................... 25
3.3.1. Populasi ............................................................................................. 25
3.3.2. Sampling ............................................................................................ 25

Universitas Sumatera Utara

3.3.3. Variabel ............................................................................................ 25
3.3.4. Pembuatan Reagen ........................................................................... 26
3.3.4.1. Pencucian Alat ............................................................................ 26
3.3.4.2. Bahan Pembuatan Reagen............................................................ 26
3.3.4.3. Kalibrasi Alat .............................................................................. 28
3.3.4.4. Persiapan sampel Lateks dengan penambahan amonium laurat .... 28
3.3.4.5 Vulkanisasi lateks ......................................................................... 28
3.3.5. Kalibrasi Alat ................................................................................... 29
3.3.5.1. Kalibrasi Pipet Volumetrik .......................................................... 29
3.3.5.2. Kalibrasi Timbangan .................................................................. 29
3.3.6. Pengumpulan Data ............................................................................. 30
3.3.6.1 Pengujian kekuatan Tarik dan Kemuluran..................................... 30
3.3.6.2. Ketahanan sobek.......................................................................... 31
3.3.6.3. SEM ........................................................................................... 31
3.3.6.4. Penentuan Waktu Kemantapan Mekanik ....................................... 31
3.3.6.5. Penentuan Padatan Total............................................................... 32
3.4 Pengolahan Data ........................................................................................ 33
3.4.1 Penentuan Kesalahan ......................................................................... 33
3.4.1.1 Kesalahan Sistemetik ...................................................................... 33
3.4.1.2 Kesalahan Random ......................................................................... 33
3.4.1.3. kesalahan gabungan pengukuran ................................................... 34
3.4.2. Penentuan Ketidakpastian dalam Significant figure ............................ 34
3.4.2.1 Menghitung Ketidakpastian Massa Sampel ..................................... 34
3.4.2.2 Menghitung Ketidakpastaian Volume ............................................. 35
3.5 Analisa Data .............................................................................................. 38
3.5.1 Analisis Varians .................................................................................... 38
3.5.2 Uji Hipotesa .......................................................................................... 39
3.6. Skema Pengambilan Data .......................................................................... 41
3.6.1 Kalibrasi Pencetak/pembentuk ............................................................. 41
3.6.2 Pengujian MST lateks pekat dengan penambahan amonium laurat ....... 42
3.6.3 Penentuan Jumlah Padatan Total .......................................................... 43
3.6.4 Bagan Alir Pencelupan Produk Latek ................................................... 44
3.6.5 pengujian sifat mekanik ........................................................................ 45

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil ...................................................................................................... 46
4.2. Pembahasan ............................................................................................ 47
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan ............................................................................................. 50
5.2. Saran....................................................................................................... 51

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 52
LAMPIRAN ...................................................................................................... 54

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1. Elemen Getah Hevea Brasiliensis .......................................................... 8
Tabel 2.4 Standar mutu lateks pekat .................................................................... 13
Tabel 2.5. Klasifikasi Sistem Vulkanisasi ............................................................ 15
Tabel 2.5.1 . Pengaruh bahan kimia terhadap vulkanisasi pada suhu 1000C .......... 18
Tabel 3.1 Bahan-bahan yang digunakan ................................................................ 23
Tabel 3.2 Alat-alat yang digunakan....................................................................... 24

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Struktur molekul dari a. Karet hevea , b. Gutta perca ................... ..7
Gambar 2.5 Vulkanisasi karet alam................................................................... 15

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Tabel Hasil Pengujian Sifat Mekanik ...................................................... 54
2. Tabel Hasil Analisa Data Uji Mekanik .................................................... 55
3. Tabel Spesifikasi Mutu Lateks Pekat ....................................................... 56
4. Grafik Hasil Pengujian Sifat Mekanik dan MST lateks ........................... 57
5. Alat Untuk Pengujian Sifat Mekanik ....................................................... 59
6. Hasil Uji SEM Untuk konsentrasi Amonium Laurat 0,05% .................... 60
7. Hasil Uji SEM Untuk Konsentrasi Amonium Laurat 0,07% .................... 61

Universitas Sumatera Utara

Daftar singkatan
CBS

: N-cyclohexylbenzothiazole

MBS

: 2-morpholinthiobenzothiazole

ZDEC

: Zinc diethyl dithio carbamate

ZDCB

: Zinc dibuthyl dithio carbamate

TMTM

: Tetramethylthiuram monosulfide

TMTD

: Tetramethylthiuram disulfide

MBT

: 2 – mercaptobenzothiazoles

MBTS

: 2,2- mercaptodithiobenzothiazol

KKK

: Kadar karet kering

VFA

: Volatil fatty acid

ZnO

: Zink oxide

SEM

: Scanning Elektron Microscopy

HA

: High ammonia

TSC

:Ttotal solid content

DRC

: Dry rubber content

MST

: Mechanical Stability Time)

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh konsentrasi amonium laurat terhadap
film lateks karet alam yang dihasilkan dengan menggunakan metode pencelupan.
Variasi konsentrasi amonium laurat yang digunakan adalah 0 %, 0,05%, 0,07% dan
0,09 % dengan waktu vulkanisasi yang digunakan adalah selama 30 menit dan suhu
vulkanisasi yang digunakan adalah 1000C. Sifat fisika yang diamati adalah kekuatan
tarik dan kemuluran serta ketahanan sobek dan untuk melihat struktur permukaan
yang dihasilkan diuji dengan analisa SEM. Dari perlakuan ini diperoleh kekuatan
tarik dan ketahanan sobek film lateks karet alam maksimum terdapat pada konsentrasi
0,05 %, sedangkan untuk kemuluran dan uji SEM yang paling baik yaitu terdapat pada
konsentrasi 0,07%.

Universitas Sumatera Utara

THE INFLUENCE OF AMMONIUM LAURATE CONCENTRATION ABOUT
THE TENSILE STRENGTH, ELONGATION, AND TEAR STRENGTH FROM
NATURAL RUBBER LATEX FILM
ABSTRACT

An investigation about the influence of ammonium laurate concentration to natural
rubber latex film was obtained using the immersion method. The variation of
ammonium laurate concentration was used 0%; 0,05%; 0,07%; and 0,09% with
vulcanization time used was for 30 minutes and vulcanization temperature was used
1000C. The physics characteristic witch analized were tensile strength, elongation and
tear strength and the structure of resulting surfaces were tested with analysis of SEM.
rom this treatment was obtained the maximum tensile strength and tear strength of
natural rubber latex film at concentration 0,05%, while the best elongation and SEM
test at concentration 0,07%.

Universitas Sumatera Utara

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karet merupakan hasil bumi yang bila diolah dapat menghasilkan berbagai macam
produk yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi karet sendiri
semakin berkembang

dan akan terus berkembang seiring berjalannya waktu dan

semakin banyak produk yang dihasilkan dari industri ini.1

Industri-industri lateks karet alam selalu menggunakan teknik pencelupan
untuk menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat. Produk
tersebut digunakan baik di bidang medis maupun keperluan sehari-hari di masyarakat
misalnya sarung tangan, industri, barang mainan dan sebagainya. Pembuatan produk
dari lateks karet alam ini menggunakan bahan vulkanisasi yang berfungsi sebagai
agen penyambung silang.

Pravulkanisasi lateks karet alam sangat baik digunakan untuk bahan baku
produk film tipis karet alam. Karena ikatan silang awal berlangsung pada partikel
karet selama pravulkanisasi berfungsi sebagai pengendali sifat akhir dari produk yang
dihasilkan.2

Vulkanisasi ini merupakan suatu tahapan penting dalam pengolahan karet alam
hasil penyadapan dari pohon karet (Hevea brasiliensis) yang banyak terdapat di
daerah tropis yang lembab. Getah putih yang keluar dari pohon karet adalah butiran
polyisoprene yang masih bercampur dengan air dengan konsentrasi sekira 20% - 30%.
________
1

Adi Riyadhi,,Vulkanisasi Karet Alam,[t,t],[t,p].
Pramuan T. C. Lerthititrakul & U. Paiphansiri, Morphologi Of Natural
Rubber Latex Particles Prevulcanised By Sulfur and Peroxid System, [ Bangkok; Department
Of Chemistry ,Faculty Of Science, Mahidol University,2001],p.1
2

Universitas Sumatera Utara

Jika lateks dipekatkan dengan metode sentrifugasi akan diperoleh lateks pekat
dengan kadar karet kering 60% untuk membuat berbagai macam alat yang terbuat dari
karet alam seperti sarung tangan, balon dan produk lain yang diperlukan manusia.
Barang karet yang mempunyai kekuatan tarik dan perpanjangan putus yang tinggi
dapat diperoleh dengan proses vulkanisasi dengan mencampurkan sulfur/ belerang
dan bahan kimia lainnya pada karet dengan bantuan panas. Dengan demikian karet
berubah menjadi elastis dan mantap pada rentang suhu tertentu. Proses vulkanisasi
yang berlangsung selama 5 jam ini ditemukan oleh Goodyear pada tahun 1839. 3

Lateks yang akan diolah dengan metode sentrifugasi adalah lateks yang belum
menggumpal maka sebelum lateks itu diolah penambahan zat antikoagulan sangat
penting. Lateks dikatakan mantap apabila sistem koloidnya stabil, yaitu tidak terjadi
flokulasi ataupun penggumpalan selama penyimpanan.

Menurut Meiza Vandaliza,

penambahan bahan pengemulsi amonium laurat akan menyempurnakan lapisan
pelindung lipida, protein dan lapisan amonium laurat bertindak sebagai pelindung
partikel karet sehingga sifatnya hidrofilik. Interaksi partikel koloid karet dengan
molekul air menghasilkan sistem dispersi koloid yang mantap sehingga menyebabkan
tegangan permukaan lateks pekat menjadi turun.

Sistem pravulkanisasi dapat menimbulkan lateks karet alam terlalu matang dan
dapat menyebabkan sifat kimia/fisika barang yang dihasilkan pada produk kurang
baik. Hal ini dapat disebabkan karena proses penyambung silang yang terjadi dalam
formulasi lateks sewaktu pencampuran/pemprosesan kurang terkontrol .4

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti mencoba meneliti tentang pengaruh
konsentrasi amonium laurat

terhadap waktu vulkanisasi selama 30 menit untuk

membuat suatu film lapis tipis dari lateks karet alam dengan menggunakan metode
pencelupan.

__________
3

Dr. Purwadi Raharjo.Vulkanisasi Karet “Ditembaki” Elektron.[t,t],[t,p]

4

Tim Penulis PS, Karet, [Jakarta : Penebar Swadaya,1999],hal 200

Universitas Sumatera Utara

1.2. Permasalahan

-

Apakah ada pengaruh konsentrasi amonium laurat terhadap kekuatan tarik film
lateks karet alam

-

Apakah ada pengaruh konsentrasi amonium laurat terhadap kemuluran film
lateks karet alam

-

Apakah ada pengaruh konsentrasi amonium laurat terhadap Ketahanan sobek
film lateks karet alam

1.3. Pembatasan Masalah

1. Zat yang digunakan sebagai bahan pengemulsi adalah amonium laurat dengan
variasi konsentrasi 0 %, 0,05 %, 0,07% dan 0,09 %
2. Sifat fisika kimia yang diamati yaitu Kekuatan tarik, kemuluran, Kekuatan
sobek dan Morfologi permukaan.

1.4. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi amonium laurat terhadap kekuatan
tarik film lateks karet alam
2. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi amonium laurat terhadap kemuluran
film lateks karet alam
3. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi amonium laurat terhadap ketahanan
sobek film lateks karet alam

Universitas Sumatera Utara

1.5. Manfaat Penelitian

Dengan memperoleh gambaran yang jelas tentang pengaruh konsentrasi amonium
laurat terhadap sifat fisika (kekuatan tarik, kemuluran dan ketahanan sobek), maka
penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan perbandingan atau pengembangan
dalam industri lateks karet alam.

1.6. Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan eksperimen faktorial. Dengan perlakuan variasi pengemulsi
amonium laurat . Waktu vulkanisasi yaitu 30 menit. Sementara itu sifat fisika yang
diukur adalah Kekuatan tarik, Kemuluran, Ketahanan sobek dan morfologi
permukaan.

Penelitian ini adalah penelitian faktorial dengan 4 level variasi konsentrasi dan
1 sifat fisika ( desain faktorial 4 X 1 ). Replikasi dilakukan tiga kali untuk setiap
perlakuan dari masing-masing sampel.

Pengidentifikasian terhadap sumber-sumber ketidakpastian ditentukan cara
dan metode yang valid.

Hal ini bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan

kesalahan sistematik kemudian dihitung besarnya .Pengambilan data dari film
tersebut meliputi :
1. Data pengukuran nilai tegangan putus ( σ ),kemuluran( ε ), ketahanan sobek
(γ), diperoleh dengan menggunakan seperangkat alat uji tarik dan kemuluran,
serta seperangkat alat ketahanan sobek.

2. Data perubahan struktur mikro permukaan material menggunakan seperangkat
alat uji SEM.

Universitas Sumatera Utara

1.7. lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT Industri Karet Nusantara Tanjung Morawa, Untuk
pengujian kekuatan tarik dan kemuluran dilakukan di Laboratorium Penelitian
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara,
pengujian Ketahanan Sobek dilakukan di laboratorium PT Mandiri Inti Buana
Tanjung Morawa, dan pengujian Skaning Elektron Magnetik dilakukan di
Laboratorium Geologi dan Quarterner ITB Bandung.

Universitas Sumatera Utara

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karet Alam

Sesuai dengan namanya karet alam berasal dari alam yakni terbuat dari getah tanaman
karet, baik spesies Ficus elastica maupun Hevea brasiliensis sifat-sifat atau kelebihan
karet alam diantara nya memiliki daya elastisitas atau daya lentingnya yang sempurna
dan sangat plastis sehingga mudah diolah, karet alam juga tidak mudah panas dan
tidak mudah retak. Kelemahan karet alam terletak pada keterbatasannya dalam
memenuhi kebutuhan pasar . Saat pasar membutuhkan pasokan tinggi, para produsen
karet alam tidak bisa mengenjot produksinya dalam waktu singkat, sehingga harganya
cenderung tinggi. 5

Lateks karet alam secara umum didefinisikan sebagai cairan yang keluar dari
pembuluh lateks bila dilukai. Lateks itu sendiri adalah suatu sel raksasa yang
mempunyai banyak inti sel (multinukleotida). Oleh sebab itu lateks sebenarnya adalah
protoplasma. Lateks sewaktu keluar dari pembuluh lateks adalah dalam keadaan steril,
tetapi kemudian tercemar oleh mikroorganisme dari lingkungannya.6

Molekul karet alam terbentuk melalui reaksi adisi monomer-monomer
isoprene secara teratur yang terikat secara “kepala ke ekor”, memiliki susunan
geometri 98% cis-1,4 dan 2% trans-1,4 dengan berat molekul berkisar antara 1-2 juta
dan mengandung sekitar 15.000-20.000 ikatan tidak jenuh. 7
_______
5

Ir.Didit Heru Setiawan & Drs. Agus Andoko, Petunjuk Lengkap Budidaya Karet.
[Jakarta ; Agromedia Pustaka, 2005],p,22

6

Asril Darussamin & Maurid Ompusungu, Pengetahuan Mengenai Lateks dan
Teknologi Pengolahannya, [BPS;1985],p,1.

7

Nopianto.E.Karet Alam. [t.t],[t.p]

Universitas Sumatera Utara

Karet alam merupakan suatu rantai hidrokarbon poliisopren yang memiliki
rumus empiris (C5H8)n dimana n adalah derajat polimerisasi yang besarnya bervariasi
dari satu rantai kerantai yang lain. Hidrokarbon dalam lateks asli berbentuk bulatanbulatan kecil yang diameter nya kira-kira 0,5 µ ( 5 . 10

-5

cm) tersuspensi dalam

medium berair atau serum, konsentrasi hidrokarbon sekitar 35 % dari berat total..

Dari lateks ini, karet padatan dapat diperoleh dengan mengeringkan atau
dengan pengendapan menggunakan asam. Perlakuan terakhir menghasilkan karet yang
lebih bersih, karena lebih banyak melepaskan unsur bukan karet dalam serum.8

Berdasarkan struktur nya, karet alam dapat dibagi dua yaitu; karet hevea dan
gutta percha yang hanya berbeda pada susunan atom nya sebelum dan sesudah ikatan
rangkap. Pada karet, ditemukan susunan cis, mendekati dan menyambung dengan
rantai molecular pada sisi yang sama pada ikatan rangkap, dimana pada gutta terdapat
susunan trans mendekati dan menyambung pada sisi yang berlawanan dapat dilihat
pada gambar berikut :

H3C

H

H3C

C=C
H2C

CH2
C=C

CH2
a

H2C

H
b

Gambar 2.1. Struktur molekul dari a. karet hevea , b. gutta perca. 9

______________
8

L.R.G.Treloar, The Physics of Rubber Elasticity, Second edition, [Oxford : at The

Claremdo Press,1967],p.3.
9

Aspolumin. N, Rubber, [New York, linterscience Publisher , Inc, 1962], pp.304,305

Universitas Sumatera Utara

2.2. Elemen-Elemen Getah Karet

Getah karet merupakan cairan berbentuk koloid yang mengandung zat zat
seperti lateks, tepung, lemak, protein dan lain lain. Molekul molekul karet pada siang
hari terbentuk di bagian daun tumbuhan karet, dan bila hari menjelang sore, getah
dikirim ke bagian kulit pohon dalam bentuk polimer. Proses pengambilan getah karet
dilakukan pada pukul 5 sampai pukul 8 pagi hari, karena getah karet berkumpul pada
pagi hari.
Getah dari pohon Hevea Brasiliensis ( lateks ) dapat diperoleh sekitar 200 ~
400 ml, dan selain mengandung isopren, ia juga mengandung bermacam macam
elemen lainnya. Elemen elemen tersebut dapat dilihat pada tabel 2-1 di bawah ini
Tabel 2.1. Elemen Getah Hevea Brasiliensis 10
Elemen

Prosentase kandungan
terhadap getah

Prosentase kandungan
terhadap karet kering ( % )

(%)
Air

59,66

-

Elemen karet

35,62

88,28

Protein

2,03

5,04

Asam lemak

1,65

4,10

Abu

0,70

1,74

Glukosa

0,34

0,84

____________

10

http://pantjasurya.wordpress.com/2008/05/24/karet-alam/

Universitas Sumatera Utara

2.3. Kestabilan lateks

Lateks dikatakan mantap apabila sistem koloidnya stabil, yaitu tidak terjadi
flokulasi ataupun penggumpalan selama penyimpanan. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi kestabilan lateks tersebut adalah sebagai berikut :

1.

Adanya kecenderungan setiap partikel karet berinteraksi dengan fasa air
(serum),

misalnya

assosiasi

komponen-komponen

bukan

karet

pada

permukaan partikel-partikel karet.
2.

Adanya interaksi antara partikel-partikel karet itu sendiri.

Faktor yang dapat menyebabkan sistem koloid partikel-pertikel karet menjadi
tetap stabil, yaitu :

1. Adanya muatan listrik pada permukaan partikel karet sehingga terjadi gaya
tolak menolak antara partikel karet tersebut.
2. Adanya interaksi antar molekul air dengan partikel karet, yang menghalangi
terjadinya penggabungan partikel-partikel karet tersebut.
3. Energi bebas antar permukaan partikel karet yang rendah.

Sistem koloid lateks terbentuk karena adanya lapisan lipida yang teradsorpsi
pada permukaan partikel karet (lapisan primer) dan lapisan protein pada lapisan luar
(lapisan skunder) memberikan muatan pada permukaan partikel koloid. Penambahan
bahan pengawet amonia dan bahan pemantap amonium laurat akan menyempurnakan
lapisan pelindung tersebut.

Lapisan pelindung lipida, protein dan lapisan sabun asam lemak tersebut
bertindak sebagai pelindung partikel karet dengan molekul air menghasilkan sistem
dispersi koloid yang mantap.

Jika terjadi pembentukan gel, flokulasi dan koagulasi maka hal ini
menunjukkan bahwa stabilitas koloid lateks terganggu atau rusak. Menurut Blackley,
stabilitas koloid dapat dirusak (destability) dengan cara sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

1. Menurunkan energi potensial patikel koloid lateks yaitu dengan cara :
a. Menurunkan

kelarutan

stabilizer

dengan

menambahkan

penggumpal

(coaservant)
b. Menetralkan muatan listrik dari partikel koloid lateks dengan menambahkan
ion-ion yang polaritasnya berlawanan dengan muatan partikel koloid lateks
tersebut.
c. Menambahkan zat yang dapat mengadsorpsi lapisan pelindung partikel koloid
(Colloidal stabilizer adsorpsed), sehingga disini terjadi persaingan antara
pengadsorpsi (Coaservant precipitates) dengan partikel karet terhadap bahan
pemantap.
2. Menaikkan energi kinetik partikel, dengan cara pengadukan (mechanical
stirring).

Menurut Van Dalften, jika energi kinetik partikel semakin naik dan gaya tolak
muatan antar partikel akan terlampaui sehingga daya tarik antar permukaan semakin
besar dan frekwensi tumbukan semakin tinggi mengakibatkan dua partikel atau lebih
jadi bersatu (coalesent) membentuk flokulat atau gumpalan.11

2.4. Lateks Pekat

Berbeda dengan janis karet lain yang berbentuk lembaran atau bongkahan, lateks
pekat berbentuk cairan pekat. Pemrosesan bahan baku menjadi lateks pekat bisa
melalui pendadihan (creamed latex) atau pemusingan (centrifuged latex). Lateks
pekat ini biasanya merupakan bahan untuk pembuatan barang-barang yang tipis dan
bermutu tinggi. 12

___________
11

M .Ompungsungu, dan Darussamin. A.. Pengetahuan Umum Latex.

[Medan: BPP Sei Putih, 1989].hal 5-7
12

Ir.Didit Heru Setiawan & Drs. Agus Andoko. Op Cit. Hal 30.

Universitas Sumatera Utara

Lateks konsentrat atau lateks pekat merupakan satu-satunya produk karet alam
yang diperdagangkan dalam bentuk cair (liquid rubber). Dengan jalan proses
sentrifugasi, kadar karet kering lateks konsentrat ini adalah 60 %. Semua jenis karet
alam lain yang diperdagangkan berbentuk karet kering (dry rubber) atau disebut juga
karet padat (solid rubber).13

Telah diketahui bahwa lateks karet alam komersial high amonia dapat
diproduksi dilapangan dengan menggunakan metode sentrifugasi yang berasal dari
karet hevea. 14

Pada umumnya pengolahan lateks pekat di Indonesia sekarang ini adalah
dengan cara ”pemusingan’(centrifuge) karena kapasitasnya tinggi dan pemeliharaan
lebih mudah. Lateks kebun yang KKK-nya 28-38% dipusingkan pada kecepatan
5000-7000 rpm, pada bagian atas alat akan diperoleh lateks pekat yang KKK-nya 60%
dengan rapat jenis 0,94 dan dari bagian bawah terpisah skim yang masih mengandung
4-8% karet kering dengan rapat jenis 1,02. Setiap lateks yang tiba di pabrik diperiksa
kadar NH3 dan VFA nya dan hanya lateks yang memenuhi syarat (VFA < 0,05 dan
NH3 > 0,5%) dikumpulkan dalam bak penerimaan/sedimentasi dan dibiarkan 1-2 jam
untuk mengendapkan senyawa-senyawa fosfat.

Pembubuhan pengawet amoniak kedalam lateks harus dilakukan sedini
mungkin dengan dosis yang cukup yaitu 3- 3,5 gram amoniak/liter lateks dibubuhkan
kedalam lateks diember pengumpul pada saat pengutipan dan selanjut nya setelah
lateks terkumpul di TPH ditambah lagi amoniak hingga dosis amoniak menjadi 6-7
gr/liter lateks. Lateks pusingan (centrifuged latex) juga membutuhkan penambahan
gas amonia pada lateks kebun seperti pada pembuatan creamed lateks tetapi jumlah
yang ditambahkan lebih sedikit, cukup 2-3 g gas amonia untuk setiap liter lateks.

______________
13

14

Dr.James J. Spillane, Komoditi Karet,[ Kanisius: Yogyakarta, 1989,], hal 27

Umaporn P, Prevulcanisation of skim latex:morphologiand its

use in natural rubber

based composite materal,[ Bangkok; Department Of

Chemistry ,Faculty Of Science, Mahidol University,2005],p.1

Universitas Sumatera Utara

Penambahan 2-3 g gas amonia memungkinkan lateks dapat disimpan selama 24 jam
tanpa terjadi prokoagulasi. Salah satu bahan pengemulsi yang sering digunakan dalam
pemisahan atau tempat pengolahan lateks karet alam adalah amonium laurat dan
paling banyak digunkan. Bahan pengemulsi merupakan bahan yang apabila
ditambahkan akan menghasilkan laju koagulan pada lateks pekat. Penggunaan bahan
pegemulsi bertujuan untuk menjaga kestabilan lateks dan mengendapkan ion-ion
logam yang dikandung lateks. Karena apabila ion-ion logam tersebut tidak diendapkan
maka akan ikut mempercepat laju koagulasi dan mengakibat kan terjadinya
penggumpalan.15

Pengendapan selama 24 jam diperlukan agar kotoran-kotoran dan magnesium
amonium pospat

mengendap,

magnesium amonium pospat

muncul karena

penambahan amonium pada bahan lateks.

Lateks dapat dimasukkan ke dalam alat pemusing (centrifugal machine)
setelah dibiarkan selama 24 jam. Kadar karet Kering yang diinginkan untuk hasil
lateks pusingan adalah 60%, tetapi kadarnya bisa turun 1-2% pada proses produksi.
Pada penambahan ammonia dan penyimpanan sering juga mengakibatkan terjadinya
penurunan kadar karet kering. Oleh karena itu, kadar karet kering hasil biasanya
dibuat 62% untuk mengatasi penurunan tersebut. Proses pemusingan memisahkan
lateks dari kebun menjadi dua bagian yang berlainan. Lateks pekat atau creamed akan
keluar dari bagian atas dan lateks encer atau skim akan keluar dari bagian bawah.

Lateks pekat lalu diambil dan dikumpulkan di tempat tersendiri. Lateks ini
dianggap telah jadi. Penambahan gas amonia hingga kadarnya menjadi 7-10 g per liter
lateks pekat yang dihasilkan perlu dilakukan. Umumnya penambahan sekitar 6 g gas
amonia dianggap telah memenuhi karena sebelum lateks diolah telah diberi gas
ammonia sebanyak 2-3 g. Selain dengan cara di atas, lateks pekat bisa juga dibuat
dengan cara penguapan (evaporasi), filtrasi, pressure dialysis, dan electrodecantation.

Agar mutu lateks pekat dapat memenuhi persyaratan mutu internasional
tersebut, maka lateks pekat yang dikirim ke pelabuhan ekspor harus diawasi dengan

Universitas Sumatera Utara

ketat. Lateks pekat dari pabrik dapat dikirim apabila telah memenuhi kriteria mutu
terpenting yaitu:
Tabel. 2.4. Standar mutu lateks pekat
Parameter Mutu

Lateks Pusingan

Lateks Dadih

1. Jumlah padatan minimum

61,5%

64%

2. Kadar Karet Kering minimum

60,0%

62%

3. Perbedaan angka butir 1 dan 2 2,0%

2,0%

maksimum
4. kadar amonia (berdasarkan jumlah 1,6%

1,6%

air dalam lateks pekat)
5. Viskositas maksimum, 25 0C
6. Endapan

dari

50 centipoise

50 centipoise

berat

basah 0,10%

0,10%

dari

padatan 0,08%

0,08%

maksimum
7. Kadar

koagulum

maksimum
8. Bilangan KOH maksimum

0,80

0,80

9. Kemantapan mekanis minimum

475 detik

475 detik

10. Persentase

kadar

tembaga

dari 0,001%

0,001%

dari 0,001%

0,001%

jumlah padatan maksimum
11. Persentase

kadar

mangan

jumlah padatan maksimum
12. Warna

tidak biru

tidak biru

tidak kelabu

tidak kelabu

13. Bau setelah dinetralkan dengan tidak boleh berbau tidak
asam borat

boleh

berbau busuk

busuk

Lateks pekat dari setiap tangki pengangkutan pada saat mulai berangkat dari
pabrik dan setibanya di pelabuhan harus diambil contohnya dan diperiksa mutunya.
Selama penyimpanan dipelabuhan, untuk menjaga kualitas, lateks pekat harus
dimonitori mutunya setiap selang waktu penyimpanan satu minggu.16
______________
15
16

Asril Darussamin & Maurid Ompusungu. Op Cit. Hal 18

Tim Penulis PS. Loc Cit.

Universitas Sumatera Utara

2.5 Vulkanisasi Karet Alam

Pada tahun 1832 F.ludersdorf di Jerman memberitahukan bahwa karet yang
ditambahkan dengan sulfur, akan membentuk suatu gabungan dia tidak mengerti akan
pentingnya penemuannya itu. Pada tahun 1838 Charles Goodyear di Amerika dan
Thomas Hancook diingris pada tahun 1843 menemukan hal yang sama.

Vulkanisasi dalam kaitannya dengan sifat fisik karet adalah setiap perlakuan
yang menurunkan laju alir elastomer, meningkatkan tensile strength dan ,modulus
serta preserve ekstensibilit. Meskipun vulkanisasi terjadi dengan adanya panas dan
sulfur, proses itu tetap berlangsung secara lambat. Reaksi ini dapat dipercepat dengan
penambahan sejumlah kecil bahan organik atau anorganik yang disebut akselerator.
Untuk mengoptimalkan kerjanya akselerator membutuhkan bahan kimia lain yang
dikeanal sebagai aktivator, yang dapat berfungsi sebagai aktivator adalah okisidaoksida logam seperti ZnO. 17

Vulkanisasi dari lateks karet alam dapat dibagi menjadi tiga

kategori,

vulkanisasi non sulfur dengan peroksida, senyawa nitro, kuinon atau senyawa azo
sebagai curing agents; dan vulkanisasi dengan sulfur, selenium, dan tellurium dan
vulkanisasi dengan irradiasi c-ray. Penggunaan yang masih umum digunakan adalah
vulkanisasi dengan menggunakan sulfur karena alasan ekonomi maka penggunaan
vulkanisasi non sulfur dan irradiasi c-ray diabaikan dan hanya sebagian saja yang
mengaplikasikannya. 18

Penambahan 30-40 % sulfur akan memperbanyak jumlah ikatan silang
(crosslink) antar rantai molekulnya yang akan berpengaruh terhadap sifat- sifat dan
prilaku karet alam. Kekerasan dan kekakuan dari karet alam akan meningkat dengan
proses vulkanisasi. Karet alam dengan ikat silang sedikit akan bersifat relatif lebih
lunak dan fleksibel dari pada karet alam dengan jumlah ikatan silang lebih banyak.
____________
17

A.T. Mc Phersons ,Enginerring Uses of Rubber, [New York : Reinhold
Publishing

18

Corporation, 1956], p, 162

Cowd M.A., Kimia Polimer,[Bandung : ITB,1991],hal 321

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.5. Gambar vulkanisasi karet alam. 19

Dalam pengolahan lateks karet alam yang bertujuan untuk menambah kekuatan
lateks karet alam dari sifat fisik nya seperti yang telah dipaparkan diatas dengan
penambahan sulfur sebagai agen penyambung silang (vulkanisasi).

Sistem

vulkanisasi dapat dibagi 3 yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.5. Klasifikasi Sistem Vulkanisasi.
Vulkanisasi

Komposisi sulfur Komposisi

Nilai E

(bsk)*

pemercepat (bsk)*

Konvensional

2,0 - 3,5

1,2 – 0,4

8 – 25

Semi-effisien

1,0 – 1,7

2,5 – 1,2

4–8

Efisien

0,4 – 0,8

5,0 – 2,0

1,5 – 4

bsk = bagian per-seratus karet.

20

______________
19

Rahmat Saptono, , Pengetahuan Bahan . [Departemen Metalurgi dan Material
FTUI 2008],hal 115-116
20
Indra. S.,Buku Ajar Teknologi Karet, [Departemen Teknik Kimia, Fakultan Teknik ,
USU : Medan, 2006],hal, 23

Universitas Sumatera Utara

2..5.1. Bahan-bahan yang digunakan dalam proses vulkanisasi :

1. Bahan vulkanisasi

Bahan vulkanisasi yang sering digunakan dalam industri pngolahan karet adalah
belerang yang mempercepat kematangan kompon karet. Bahan lain untuk vulkanisasi
adalah peroksida organik dan damar fenolik .21

Pada umumnya digunakan belerang dalam jumlah yang besar (kira-kira 6-10 %)
untuk ditambahkan pada karet. Proses vulkanisasi perlahan dan memakan waktu
beberapa jam sebelum vulkanisasi selesai. Dengan digunakannya bahan-bahan
pencepat, jumlah belerang dapat dikurangi dan sekarang berjumlah kurang lebih 2 – 3
%, berdasarkan bobot karet nya . 22

2. Bahan pemercepat dan penggiat reaksi

Vulkanisasi dalam industri pengolahan lateks biasanya lambat, sehingga agar
efisien perlu dipercepat. Banyak jenis bahan pemercepat reaksi yang bisa digunakan.
Dari golongan sulfenamida, CBS dan MBS. Dari golongan dithiokarbonat antara lain
ZDEC dan ZDBC. Dari golongan tiuransulfida adalah TMTD. Dari golongan Tiazol
adalah MBT dan MBTS. Penggunaan bahan pemercepat reaksi ini bisa tunggal atau
gabungan dari beberapa bahan tersebut .

Bahan penggiat reaksi berguna menambah kecepatan kerja bahan pemercepat
reaksi. Meskipun tidak mutlak perlu, bahan ini bisa mengefisienkan proses
pengolahan karet. Bahan reaksi yang umum digunakan antara lain seng oksida, dan
asam stearat.23

___________
21

Ir.Didit Heru Setiawan & Drs. Agus Andoko. Op Cit. Hal 147

22

Rubber Stichting, Karet Alam,[Kinta: Jakarta, 1983], hal. 62-63.

23

. Ir.Didit Heru Setiawan & Drs. Agus Andoko. Loc. Cit.

Universitas Sumatera Utara

3. Bahan antioksidan dan anti ozon

Fungsi bahan ini untuk melindungi karet dari kerusakan karena pengaruh
oksigen maupun ozon yang terdapat diudara. Bahan kimia ini biasanya juga tahan
terhadap pengaruh ion-ion tembaga, mangan dan besi. Selain itu juga mampu
melindungi terhadap suhu tinggi, retak-retak dan lentur .

4. Bahan pengisi

Ada dua macam bahan pengisi dalam proses pengolahan karet. Pertama bahan
pengolahan yang tidak aktif .kedua, bahan pengisi yang aktif atau bahan pengisi yang
menguatkan. Yang pertama hanya menambah kekerasan dan kekakuan pada karet
yang dihasilkan, tetapi kekuatan dan sifat lainnya menurun.

Biasanya bahan pengisi tidak aktif lebih banyak digunakan untuk menekan harga
karet yang dibuat karena bahan ini berharga murah, contohnya kaolin, tanah liat,
kalsium karbonat, magnesium karbonat,barium sulfat, dan barit.

Bahan pengisi aktif atau penguat contohnya karbon hitam, silika, aluminium
silikat, dan magnesium silikat. Bahan ini mampu menambah kekerasan, ketahanan
sobek, ketahanan kikisan serta tegangan putus yang tinggi pada karet yang
dihasilkan.24

Vulkanisasi / vulkanisir dikenal juga dengan istilah "cure" merupakan proses
pengaplikasian tekanan dan panas terhadap campuran elastomer dan bahan kimia
untuk

menurunkan plastisitas dan

meningkatkan elastisitas,

kekuatan,

dan

kemantapan. Curing menyebabkan molekul karet yang panjang dan saling terkait
diubah menjadi struktur 3 (tiga) dimensi melalui pembetukan crosslinking (ikatan
silang) secara kimia.
__________
24

Tim Penulis PS, Op Cit. Hal 308-309

Universitas Sumatera Utara

Dalam proses vulkanisasi dipakai bahan kimia yang dapat bereaksi dengan gugus
aktif pada molekul karet untuk membentuk crosslinking antara molekul. Bahan kimia
ini dikenal dengan istilah curing agent.25

Tabel berikut menguraikan pengaruh penambahan beberapa bahan kimia yang
berperan dalam proses vulkanisasi dan pengaruhnya terhadap waktu vulkanisasi dalam
perkembangan proses vulkanisasi.
Tabel 2.5.1. Pengaruh bahan kimia terhadap vulkanisasi pada suhu 1420C
No.

Formula

Waktu

Karet Alam

100
5 jam

1

2

Belerang

8

Karet Alam

100

Belerang

8

ZnO

5

Karet Alam

100

Belerang

6

3

4

Vulkanisasi

3 jam

2 jam
ZnO

5

Thiokarbanilida

2

Karet Alam

100

Belerang

3

ZnO

5

MBT

1

Asam Stearat

1

20 menit

____________
25

http://www.industrikaret.com/vulkanisir

Universitas Sumatera Utara

Formula 4 merupakan formula dasar vulkanisasi belerang yang dapat berlangsung
cepat terdiri dari karet, belerang sebagai curing agent, MBT sebagai akselerator, ZnO
dan Asam Stearat sebagai activator. Untuk menghasilkan barang jadi karet yang tahan
terhadap pengusangan perlu penyesuaian sistem vulkanisasi dan ditambahkan anti
oksidan, anti ozon, dsb. 26

2.6 . Pengujian Sifat Mekanik

2.6.1 . Pengujian Kekuatan Tarik dan Kemuluran

Pengujian sifat mekanik bahan polimer sangat penting karena penggunaan
bahan polimer sebagai bahan industri sangat bergantung pada sifat mekanisnya. Sifat
mekanik polimer merupakan salah satu sifat yang sering digunakan untuk
karakterisasi suatu bahan polimer. Sifat mekanik merupakan gabungan antara
kekuatan yang tinggi dan elastisitas yang baik, sifat ini disebabkan oleh adanya dua
macam ikatan dalam bahan polimer, yakni ikatan yang kuat antara atom dan interaksi
antara rantai polimer yang lemah.

Kekuatan tarik adalah salah satu sifat dasar dari bahan polimer. Kekuatan tarik
suatu bahan didefenisikan sebagai besarnya beban maksimum (Fmaks) yang digunakan
untuk memutuskan spesimen bahan dibagi dengan luas penampangnya pada keadaan
semula.

σ=

Fmaks
A0

Keterangan :
σ

=

Kekuatan tarik bahan (Kgf/mm2)

Fmaks

=

Tegangan maksimum (Kgf)

Ao

=

Luas penampang mula-mula (mm2)

____________
26

http://www.industrikaret.com/vulkanisasi-belerang

Universitas Sumatera Utara

Bila suatu bahan dikenakan beban tarikan yang disebut tegangan (gaya
persatuan luas), maka bahan akan mengalami perpanjangan (regangan).

Kenaikan regangan bahan polimer berbanding lurus dengan tegangan. Selain
besaran kekuatan tarik (σ), sifat mekanik bahan juga diamati dari sifat kemulurannya
(ε) yang didefenisikan sebagai pertambahan panjang yang dihasilkan oleh ukuran
panjang spesimen akibat gaya yang diberikan.

ε=

It − I0
x100%
I0

Keterangan :
ε

=

Kemuluran (%)

I0

=

Panjang spesimen mula-mula (mm)

It

=

Panjang spesimen setelah diberi beban (mm)

Besaran kemuluran ini berguna juga untuk mengamati sifat plastis dari bahan
polimer .27

2.8 Ketahanan Sobek (Tear Resistance)

Ketahanan sobek (tear resistance) adalah Ketahanan yang diberikan oleh satu bagian
percobaan karet terhadap pengoyakan setelah dipotong menurut cara tertentu

Uji ini penting untuk beberapa produk, misalnya untuk tapak, pipa, sarung
kabel, kaus kaki dan lain-lain. Indikasi yang paling berat dari ketahanan terhadap
sobekan didapatkan oleh torehan pada bagian dari karet dan sobekan oleh tangan.

Ketahanan sobek bergantung pada lebar dan ketebalan dari potongan uji dan
hasil uji menunjukkan beban yang umum untuk menyobek sebuah spesimen dengan
lebar dan tebal yang standart.
______________
27

Basuki.W.,Upaya Pencegahan Pelepasan dan Kontaminasi Aditif Plastik,

[Medan: Media Farmasi FMIPA USU,1993],hal.99

Universitas Sumatera Utara

L

x

t1

Kekuatan sobek =
t2

dimana
L

= kekuatan maksimum yang digunakan

t1

= ketebalan standar dari potongan yang diuji (2,5 mm)

t2

= ketebalan dari spesimen yang diuji. 28

2.6.2.

Morfologi Permukaan

Sem adalah alat yang dapat membentuk bayangan permukaan spesimen secara
mikroskopik. Berkas elektron dengan diameter 5-10 nm diarahkan pada spesimen.
Interaksi berkas elektron dengan spesimen menghasilkan beberapa fenomena yaitu
hamburan balik berkas elektron, sinar x, elektron sekunder, dan absorbsi elektron.

Teknik SEM pada hakikat nya merupakan pemeriksaan dan analisa
permukaan. Data atau tampilan yang diperoleh adalah data dari permukan atau dari
lapisan yang tebalnya sekitar 20 µm dari permukaan. Gambar permukaan yang
diperoleh merupakan topografi segala tonjolan, lekukan dan lubang pada permukaan.

Gambar topografi diperoleh dari penangkapan elektron sekunder yang dipancarkan
oleh spesimen. Sinyal elektron skunder yang dihasilkan ditangkap oleh detektor dan
diteruskan ke monitor. Pada monitor akan diperoleh gambar yang khas yang
menggambarkan struktur permukaan spesimen. Selanjutnya gambar dimonitor dapat
dipotret dengan menggunakan film hitm putih atau dapat pula direkam kedalam suatu
disket.29
___________
28

Marthan., Rubber Enginering. [New Delhi : Mc. Graw Hill, Indian Rubber Institute., 1998]
p 221-225,

29

Subaer., Pengantar Fisika Geopolimer, ( Solo : Program Penulisan Buku Teks
Perguruan Tinggi. Direktorat Pemelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Direktorat

Jendral Pendidikan Tinggi,2007),p 145-148

Universitas Sumatera Utara

2.6.3. Penentuan Waktu Kemantapan Mekanik
Waktu kemantapan mekanik adalah waktu yang dibutuhkan untuk memulai
menunjukkan flokulasi bila dipusingkan dengan kecepatan 14000 rpm. Waktu
kemantapan mekanik pada lateks pekat adalah sekitar 650 menit.

volume contoh =

55
x 100 %
jumlah padat total

Untuk jumlah amonia dapat digunkan persamaan berikut:

jumlah amonia =100 − volume contoh
Sampel lateks dipanaskan hingga suhu 35-360C, kemudian sampel disaring dan hasil
penyaringan diambil sebanyak 80 gram kedalam wadah pengujian. Sampel diletakkan
kedalam alat pemutar dengan kecepatan tinggi (klaxon). Dengan batang pemutar berada di
tengah botol uji. Alat pemutar dipasang pada kecepatan 14000 rpm dan waktunya pun diukur.
Penentuan titik akhir dilakukan dengan cara mencelupkan batangan kaca kedalam lateks pekat
serta mencelupkannya kedalam wadah yang berisi air dan diamati pecahnya partikel karet.

2.6.4. Penentunan Jumlah Padatan Total (TSC)

Jumlah padatan total adalah jumlah yang menunjukan banyaknya zat padat
yang terdapat di dalam lateks yang tidak dapat menguap bila dikeringkan pada suhu
70 0C selama 16 jam atau pada suhu 100 0C selama 2 jam.

Lateks dengan TSC yang tinggi, akan menghasilkan karet yang memiliki nilai
kekuatan tarik yang tinggi. Dan hal ini dapat berpengaruh pada produksi pabrik,
karena akan memakan biaya yang cukup tinggi.30

___________
30

M .Ompungsungu, Penanganan Bahan Baku Lateks dan Pengolahan SIR-3 CV dan SIR 3L,

[Medan: BPP Sei Putih, 1997].hal 6-8

Universitas Sumatera Utara

BAB 3

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1 Bahan-Bahan Yang Digunakan

Adapun bahan-bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini ditampilkan dalam
tabel 3.1.
Tabel 3.1 Bahan–bahan yang digunakan
Nama Alat

Sfes

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23