Pengaruh Penambahan Kitosan Nano dari Blangkas Terhadap Flexural Strength dari Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin pada Kavitas Klas II (Site 2 Size 2) Minimal Intervensi (In Vitro).

PENGARUH PENAMBAHAN KITOSAN NANO
BLANGKAS TERHADAP FLEXURAL STRENGTH
RESTORASI KAVITAS KLAS II (SITE 2 SIZE 2)
MINIMAL INTERVENSI SEMEN IONOMER KACA
MODIFIKASI RESIN NANO
PENELITIAN IN VITRO
SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna
memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh :
IDELIA GUNAWAN
NIM : 070600030

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ilmu Konservasi Gigi
Tahun 2010

Idelia G.
Pengaruh Penambahan Kitosan Nano dari Blangkas Terhadap Flexural
Strength dari Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin pada Kavitas Klas II (Site
2 Size 2) Minimal Intervensi (In Vitro)
Xi + 69 halaman
Prinsip minimal intervensi dilakukan dengan pembuangan karies yang
terdemineralisasi saja dan desain kavitas seminimal mungkin. Atraumatic Restorative
Treatment merupakan bagian dari minimal intervensi yaitu metode restorasi kavitas
sederhana, didahului dengan pembersihan kavitas menggunakan instrumen tangan
kemudian kavitas direstorasi dengan bahan semen ionomer kaca (SIK). Kitosan
produk deasetilasi dari kitin, salah satunya terdapat pada blangkas. Kitosan
nanopartikel adalah bagian terkecil dari kitosan yang diproses dengan metode tertentu
dengan ukuran partikel 100 - 400 nm.
Tiga puluh gigi premolar maksila manusia yang telah diekstraksi direndam
dalam larutan NaCl 0,9 %, kemudian dilakukan preparasi kavitas klas II dengan
prinsip minimal intervensi. Prosedur restorasi pada kelompok I dan kelompok II
menggunakan SIK modifikasi resin nano ditambahkan 0,015% dan 0,45% berat
kitosan nano, kelompok III sebagai kontrol menggunakan SIK modifikasi resin nano.

Universitas Sumatera Utara

Sampel ditanam pada self curing acrylic dan pengujian flexural strength dilakukan
pada bagian marginal ridge dengan menggunakan alat uji tekan.
Hasil penelitian menunjukkan rerata flexural strength untuk kelompok III
adalah sebesar 68.007 ± 18.771 MPa. Kelompok uji I (SIK nano dengan kitosan nano
0.015% berat) sebesar 77.3569 ± 21.939 MPa dan kelompok uji II (SIK nano dengan
kitosan nano 0.45% berat) sebesar 47.527 ± 7.128 MPa. Hasil uji statistik
menggunakan uji statistik analisa varians (ANOVA) dan post hoc Turkey’s test
menunjukkan bahwa pada α = 0,05 rerata perbedaan flexural strength antara kedua
kelompok uji terdapat perbedaan yang signifikan (p = 0.003).
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat peningkatan flexural strength
dengan menggunakan SIK modifikasi resin nano jika ditambahkan kitosan dengan
persen berat yang lebih kecil.
Daftar pustaka: 43 ( 1994 – 2010 )
Kata kunci: Flexural strength, SIK Nano, Kitosan, ART

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN

SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI UNTUK DISEMINARKAN PADA
TANGGAL 20 JULI 2011

OLEH:

Pembimbing I

Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes., Sp. KG (K)
NIP: 19500828 197902 2001
Pembimbing II

Widi Prasetia, drg
NIP: 19800213 200912 1 004

Mengetahui
Ketua Departemen Ilmu Konservasi Gigi
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara

Cut Nurliza, drg., M.Kes
NIP: 19560105 198203 2002

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi berjudul
PENGARUH PENAMBAHAN KITOSAN NANO DARI BLANGKAS TERHADAP
FLEXURAL STRENGTH DARI SEMEN IONOMER KACA MODIFIKASI RESIN
NANO PADA KAVITAS KLAS II (SITE 2 SIZE 2) MINIMAL INTERVENSI
(IN VITRO)
Yang dipersiapkan dan disusun oleh:
IDELIA G
NIM: 070600030
Telah dipertahankan di depan tim penguji
pada tanggal 20 JULI 2011
dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Susunan Tim Penguji Skripsi
Ketua Penguji

Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes. Sp.KG (K)
NIP: 19560105 198203 2002
Anggota tim penguji lain

Nevi Yanti,drg.,M.Kes
NIP: 19631127 199203 2 004

Bakri Soeyono, drg.
NIP: 19450702 197802 1 001

Widi Prasetia,drg
NIP: 19800213 200912 1 004

Medan, 20 Juli 2011
Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ilmu Konservasi Gigi
Ketua,

Cut Nurliza, drg., M.Kes
NIP : 19560105 198203 2002

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat,
rahmat dan karunia yang dilimpahkanNya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan
sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi di
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada orang tua saya
yang selalu mendoakan dan memberi dukungan baik moral dan material. Terima
kasih juga saya ucapkan kepada saudara-saudara saya yang tercinta Irene, Ivone,
Iriani dan Ideline. Serta ucapan terima kasih yang terdalam untuk sahabat terbaik
saya Kelvin atas dukungan, doa dan motivasi kepada saya selama penulisan skripsi.
Dalam penulisan skripsi ini saya telah mendapat banyak bimbingan,
pengarahan, saran, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan
ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Prof. H. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Cut Nurliza, drg., M.Kes selaku Ketua Departemen Ilmu Konservasi Gigi
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes., Sp.KG(K) selaku dosen pembimbing
skripsi atas saran, masukan, kesabaran dan waktu yang diberikan untuk membimbing
penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
4. Widi Prasetia, drg selaku dosen pembimbing kedua skripsi yang juga telah
banyak memberikan saran dan masukan dalam pengerjaan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

5. Seluruh staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi terutama staf pengajar dan
pegawai di Departemen Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara.
6. Erna Sulistyawati,drg,. Sp. Ort selaku penasihat akademik saya di Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
7. Prof. Dr. Harry Agusnar,drs., M.Sc., M.Phil selaku Kepala bagian
Laboratorium Pusat Penelitian FMIPA USU, beserta Bapak Sukirman atas izin,
bantuan fasilitas, dan bimbingan untuk pelaksanaan penelitian ini.
8. Drs. H Abdul Jalil Amri Amra M. Kes selaku staf pengajar statistik Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, atas bimbingannya dalam
pelaksanaan analisa statistik hasil penelitian.
9. Teman – teman seperjuangan skripsi di bagian Konservasi Gigi.
10. Sahabat- sahabat terbaik penulis.
11. Para senior yang telah banyak memberi dukungan dan motivasi.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
turut membantu terselesaikannya skripsi ini dan mohon maaf apabila ada kesalahan
selama melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat
memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi Fakultas, pengembangan ilmu
dan masyarakat.
Medan, Juli 2011
Penulis,

(Idelia G)
NIM: 070600030

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………
HALAMAN PENGESAHAN JUDUL …………………………………
HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI …………………………………
KATA PENGANTAR ………………………………………………….

iv

DAFTAR ISI ……………………………………………………………

vi

DAFTAR TABEL ………………………………………………………

viii

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………

ix

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………

xi

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1
1.2
1.3
1.4

BAB 2

BAB 4

1
6
7
7

TINJAUAN PUSTAKA
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5

BAB 3

Latar Belakang ………………………………………….
Rumusan masalah ……………………………………....
Tujuan …………………………………………………..
Manfaat penelitian ………………………………………

Klasifikasi Karies ....…………………………………...
Semen Ionomer Kaca …………………………………..
SIK Modifikasi Resin Nano ……………………………
Kitosan ………………………………………………….
Uji flexural strength …………………………………….

8
10
12
18
24

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep ……………………………………….
3.2 Hipotesis Penelitian ……………………………………..

25
28

METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian ………………………………………..
4.2 Tempat dan Waktu ……………………………………...
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ………………………..

29
29
29

Universitas Sumatera Utara

4.4
4.5
4.6
4.7
4.8
4.9

Kriteria Penerimaan Subjek ……………………………
Besar Sampel …………………………………………...
Variabel Penelitian ……………………………………..
Defenisi Operasional …………………………………..
Alat dan Bahan Penelitian ……………………………...
Prosedur Penelitian …………………………………….

29
30
32
35
36
40

BAB 5

HASIL PENELITIAN ………………………………………

47

BAB 6

PEMBAHASAN …………………………………………….

50

BAB 7

KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan …………………………………………….
7.2 Saran ……………………………………………………

55
56

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………….

57

LAMPIRAN ……………………………………………………………

62

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1.

Klasifikasi karies …………………………………………………….

9

2.

Komposisi SIK Modifikasi Resin Nano ……………………………..

15

3.

Data hasil pengukuran uji flexural strength ………………………..

47

4.

Rerata hasil pengukuran flexural strength …………………………..

48

5.

Standar deviasi dan Standar error data ………………………………

48

6.

Identifikasi pola fraktur setelah uji tekan …………………………...

48

7. Hasil analisis data dengan uji post hoc test ………………………….

49

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1.

Karies klas II (site 2 size 2) premolar ………………………………...

10

2.

Perbedaan ukuran partikel pada SIK RM dan SIK RM nano ………...

15

3.

Cara manipulasi SIK nano ionomer ………………………………….

17

4.

Struktur bangun kitin dan kitosan ……………………………………

20

5.

Blangkas (Limulus polyphemus) …………………………………….

22

6.

Skema ilustrasi flexural strength ……………………………………..

24

7.

Alat uji tekan …………………………………………………………

36

8.

Beaker glass dan jartest ………………………………………………

37

9.

Neraca analitik ……………………………………………………….

37

10. Cetakan balok dari kaca, pot akrilik dan spuit ………………………..

38

11. Light cured ……………………………………………………………

38

12. KetacTM N100 Ionomer ……………………………………………….

39

13. Kitosan blangkas powder …………………………………………….

39

14. Self Curing Acrylic …………………………………………………...

40

15. Desain kavitas klas II (site 2 size 2) …………………………………

41

16. Pengadukan campuran kitosan dan asam asetat ……………………… 42
17. Penambahan amoniak dan pengadukan kitosan ………………………

42

18. Gel kitosan nano ……………………………………………………… 42
19. Neraca analitik ……………………………………………………….

43

20. Spesimen sebelum penambalan ………………………………………

44

21. Spesimen sesudah penambalan ………………………………………

44

Universitas Sumatera Utara

22. Penanaman gigi dalam akrilik ………………………………………..

45

23. Posisi sampel saat diberi tekanan …………………………………….

45

24. Identifikasi pola fraktur ………………………………………………

49

25. Struktur kitosan nano …………………………………………………

53

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1.

Skema alur pikir ………………………………………………………

62

2.

Skema alur Penelitian ………………………………………………...

66

3.

Skema pembuatan variasi berat kitosan ……………………………....

67

4. Hasil uji analisa statistik varians (ANOVA) dan post hoc test ..……...

68

Universitas Sumatera Utara

Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ilmu Konservasi Gigi
Tahun 2010

Idelia G.
Pengaruh Penambahan Kitosan Nano dari Blangkas Terhadap Flexural
Strength dari Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin pada Kavitas Klas II (Site
2 Size 2) Minimal Intervensi (In Vitro)
Xi + 69 halaman
Prinsip minimal intervensi dilakukan dengan pembuangan karies yang
terdemineralisasi saja dan desain kavitas seminimal mungkin. Atraumatic Restorative
Treatment merupakan bagian dari minimal intervensi yaitu metode restorasi kavitas
sederhana, didahului dengan pembersihan kavitas menggunakan instrumen tangan
kemudian kavitas direstorasi dengan bahan semen ionomer kaca (SIK). Kitosan
produk deasetilasi dari kitin, salah satunya terdapat pada blangkas. Kitosan
nanopartikel adalah bagian terkecil dari kitosan yang diproses dengan metode tertentu
dengan ukuran partikel 100 - 400 nm.
Tiga puluh gigi premolar maksila manusia yang telah diekstraksi direndam
dalam larutan NaCl 0,9 %, kemudian dilakukan preparasi kavitas klas II dengan
prinsip minimal intervensi. Prosedur restorasi pada kelompok I dan kelompok II
menggunakan SIK modifikasi resin nano ditambahkan 0,015% dan 0,45% berat
kitosan nano, kelompok III sebagai kontrol menggunakan SIK modifikasi resin nano.

Universitas Sumatera Utara

Sampel ditanam pada self curing acrylic dan pengujian flexural strength dilakukan
pada bagian marginal ridge dengan menggunakan alat uji tekan.
Hasil penelitian menunjukkan rerata flexural strength untuk kelompok III
adalah sebesar 68.007 ± 18.771 MPa. Kelompok uji I (SIK nano dengan kitosan nano
0.015% berat) sebesar 77.3569 ± 21.939 MPa dan kelompok uji II (SIK nano dengan
kitosan nano 0.45% berat) sebesar 47.527 ± 7.128 MPa. Hasil uji statistik
menggunakan uji statistik analisa varians (ANOVA) dan post hoc Turkey’s test
menunjukkan bahwa pada α = 0,05 rerata perbedaan flexural strength antara kedua
kelompok uji terdapat perbedaan yang signifikan (p = 0.003).
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat peningkatan flexural strength
dengan menggunakan SIK modifikasi resin nano jika ditambahkan kitosan dengan
persen berat yang lebih kecil.
Daftar pustaka: 43 ( 1994 – 2010 )
Kata kunci: Flexural strength, SIK Nano, Kitosan, ART

Universitas Sumatera Utara

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Karies gigi merupakan masalah penyakit infeksi gigi dan mulut yang paling
sering terjadi. Penyakit ini dapat menyerang seluruh lapisan masyarakat dalam
berbagai kelompok usia tanpa memandang jenis kelamin dan status sosial. Di
Indonesia karies gigi merupakan penyakit endemik dengan prevalensi dan derajat
keparahan yang cukup tinggi.1 Menurut hasil studi survei kesehatan rumah tangga
(SKRT) pada tahun 2004 dilaporkan bahwa prevalensi karies telah mencapai 90,05%
yang berarti hampir seluruh penduduk Indonesia menderita karies gigi. Sementara
menurut survei depkes RI, prevalensi karies di Indonesia tahun 2007 mencapai 71%.
Sampai saat ini pemerintah telah menempuh berbagai macam tindakan
pencegahan dan upaya untuk menanggulangi masalah kesehatan gigi dan mulut di
Indonesia. Seperti halnya dalam mengurangi prevalensi karies, pemerintah telah
melakukan berbagai macam penyuluhan tentang cara penyikatan gigi yang benar,
kontrol diet, pemberian obat kumur, serta pemberian vaksin anti karies yang masih
terus diteliti dan dikembangkan.1
Di samping itu, dengan perkembangan bahan adhesif saat ini terjadi
perubahan prinsip preparasi kavitas yang menerapkan prinsip minimal intervensi.
Prinsip minimal intervensi dapat diartikan sebagai perawatan terhadap karies dengan
mengambil jaringan gigi yang terdemineralisasi saja dan memelihara struktur gigi
yang sehat sebanyak mungkin. Selama ini pendekatan yang di ajarkan oleh GV Black

Universitas Sumatera Utara

digunakan sebagai standar perawatan namun diakui bersifat merusak karena tidak
memelihara struktur gigi dimana ketika restorasi yang besar diberikan suatu beban
berat maka gigi akan lebih lemah. Pada enamel dapat terjadi remineralisasi melalui
penggunaan flourida selama permukaan enamel halus dan tidak terakumulasi oleh
plak. Sedangkan pada demineralisasi dentin masih terdapat beberapa mineral yang
melekat pada matriks kolagen dan cukup untuk mengisolasi lesi dari aktivitas bakteri
dengan menggunakan bahan restoratif bioaktif sehingga akan terjadi remineralisasi.
Ini berarti bahwa prinsip GV Black “extention for prevention” sudah tidak dipakai
lagi dimana struktur gigi harus dipertahankan sebanyak mungkin. Dengan adanya
prinsip minimal intervensi maka berkembang klasifikasi karies yang baru yang dapat
membantu penatalaksanaannya dimana prinsip GV Black “extention for prevention”
sudah tidak digunakan lagi. Klasifikasi ini mengkombinasikan site dan size. Oleh
karena sulitnya identifikasi dan keterbatasan bahan maka klas II klasifikasi Black di
mulai dengan Site 2, Size 2.2
Beberapa tindakan preparasi lain yang dikembangkan berdasarkan preparasi
minimal adalah preparasi terowongan dan Atraumatic Restorative Treatment atau
ART.3 Atraumatic Restorative Treatment (ART) adalah bagian dari perawatan
minimal intervensi merupakan metode tata cara perawatan gigi yang berusaha untuk
mengontrol perkembangan lesi karies. Pada dasarnya terdiri dari penyingkiran
jaringan karies dan pengisian kavitas dengan bahan adhesif yang tepat berkaitan
dengan prinsip preventif. Prinsip minimal intervensi diperkenalkan pada hari
kesehatan dunia oleh World Health Organization pada tahun 1974, bahwa pada
setiap kavitas untuk klasifikasi karies dilakukan pembuangan dan pembuatan desain

Universitas Sumatera Utara

kavitas dengan seminimal mungkin dan menggunakan bahan Semen Ionomer Kaca
(SIK) yang telah dikembangkan untuk restorasi ART, sehingga tidak dilakukan
banyak pembuangan struktur gigi namun diperoleh ikatan adhesif yang kuat antara
SIK dan permukaan gigi.2 Berkaitan dengan keuntungan-keuntungan ART maka
prosedur perawatan gigi dan mulut dengan teknik ART dapat dilakukan di daerah
daerah yang kekurangan fasilitas.4
SIK tidak begitu disarankan untuk restorasi klas II dikarenakan kelemahannya
terhadap fraktur maupun keausan terhadap beban oklusal yang lebih rendah. Hal ini
disebabkan oleh karena tekanan yang diberikan saat pengunyahan banyak terjadi di
bagian marginal ridge pada restorasi klas II. Kekurangan SIK lainnya adalah bersifat
poreus, mudah terjadi abrasi terutama pada daerah kontak oklusal, mudah larut dan
kurang estetis dibandingkan resin komposit.5,6 Dengan berkembangnya prinsip
preparasi kavitas minimal intervensi dan kemampuan SIK yang memiliki sifat adhesif
yang baik terhadap email dan dentin serta adanya kemampuan untuk melepaskan
fluorida sehingga dapat mencegah terjadinya karies sekunder dan memungkinkan
remineralisasi pada gigi, maka kini penggunaan bahan SIK telah meluas sebagai
bahan restoratif untuk restorasi konservatif klas I dan klas II.5
Efek fluoride dalam pencegahan karies berperan untuk mengeraskan email
dalam proses perusakan oleh asam.1 Namun penelitian terakhir menunjukkan bahwa
pelepasan fluor hanya sedikit mengurangi atau tidak ada efek dalam menurunkan
insiden karies. Survei dari University of Florida melaporkan terdapat kegagalan pada
restorasi SIK adalah karena disebabkan terjadinya karies sekunder. Namun,

Universitas Sumatera Utara

pernyataan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, karena banyaknya faktor
penyebab kegagalan restorasi, seperti larutnya semen, erosi, abrasi, dan fraktur.7
Beberapa penelitian dilaporkan memiliki tingkat keberhasilan pada restorasi
klas II gigi permanen. Holmgren, et al pada tahun 2000 menemukan kira-kira 90%
dan 80% keberhasilan SIK pada restorasi klas I dan klas II yang meliputi dua atau
lebih permukaan gigi secara berturut-turut. Pada tahun 2003 Souza et al menemukan
tingkat keberhasilan restorasi klas II ART lebih tinggi pada gigi permanen dari
peneliti lainnya dengan menggunakan SIK konvensional. Kemudian pada tahun 2005,
Cefaly et al menyatakan pendekatan ART sangat sesuai dan efektif pada restorasi
yang melibatkan dua atau lebih permukaan gigi selama lebih enam bulan dengan
menggunakan SIK high density dengan RMGIC.4 Koendrads et al pada tahun 2009
meneliti kekuatan mekanis (compressive strength) antara SIK extra high density
dengan SIK kovensional pada kavitas klas II ART, dan didapatkan bahwa sifat
mekanis pada SIK extra high density lebih tinggi dibandingkan SIK konvensional.8
Bahan SIK telah mengalami perkembangan yang begitu pesat dari mulai awal
ditemukan sekitar tahun 1970-an. Para peneliti mengembangkan sifat-sifat fisik dan
mekanisnya dengan berbagai uji laboratorium untuk mendapatkan bahan SIK yang
lebih kuat namun memiliki estetik yang lebih baik. Saat ini telah diproduksi Semen
Ionomer Kaca Modifikasi Resin nano yang merupakan pengembangan teknik baru
yang mengkombinasikan kelebihan Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin dengan
sistem nano teknologi yaitu penambahan nano filler pada partikel kacanya. Kelebihan
jenis SIK ini lebih tahan terhadap kebocoran, permukaan lebih halus dan pelepasan
fluor lebih tinggi, lebih tahan terhadap abrasi, memberikan hasil polish yang lebih

Universitas Sumatera Utara

halus dan mengkilap, dan lebih estetik. Sifat mekanis dari bahan SIK jenis ini juga
lebih baik apabila dibandingkan dengan jenis SIK lainnya.10-12 Namun sifat mekanis
SIK ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan bahan – bahan restorasi lainnya.
Secara umum nilai Flexural strength SIK adalah 15-20 Mpa. Nilai ini paling rendah
diantara bahan restorasi.9 Sifat mekanis SIK berhubungan erat dengan struktur mikro
bahan itu sendiri. Faktor-faktor seperti partikel-partikel kaca dan matriks polymer,
ukuran partikel, mempunyai peranan penting dalam menentukan sifat mekanisnya.4
Untuk meningkatkan nilai flexural strength SIK telah dilakukan pengujian
pada penelitian sebelumnya oleh Petri et al pada tahun 2006 yaitu menambahkan
kitosan fluka molekul rendah pada bahan restorasi SIK. Dimana SIK yang
ditambahkan kitosan molekul rendah menunjukkan bahwa penambahan 0,0044%
berat kitosan dapat meningkatkan kinerja mekanik seperti flexural strength, namun
pada penambahan lebih dari 0,022% kitosan menyebabkan kinerja mekanik yang
lebih rendah.13
Kitosan adalah produk deasetilasi dari kitin yang merupakan biopolymer
alami kedua terbanyak di alam setelah selulosa yang banyak terdapat pada serangga,
krustasea, fungi dan blangkas.14 Kitosan merupakan salah satu biomaterial yang
akhir-akhir ini terus dikembangkan karena memiliki berbagai manfaat medikal dan
terbukti aman untuk manusia.15-18 Di bidang kedokteran gigi saat ini perkembangan
kitosan telah dilakukan dalam memacu mineralisasi jaringan karies gigi dengan
pemakaian kitosan bermolekul tinggi (Trimurni dkk 2007).
Sesuai dengan perkembangan nano teknologi, para ahli mengubah partikel
kitosan menjadi ukuran nano. Dimana ukuran partikelnya bila semakin kecil (nano)

Universitas Sumatera Utara

berarti semakin luas permukaan maka akan semakin cepat reaksi berlangsung.
Dengan kata lain semakin kecil ukuran partikel kitosannya akan memperluas
permukaan kitosan sehingga memiliki daya serap tinggi dan daya berikatan terhadap
dentin akan semakin kuat.19,20
Berdasarkan dari uraian di atas, untuk mengatasi kelemahan bahan restorasi
SIK maka perlu untuk diteliti kekuatan mekanis flexural strength dari jenis semen
ionomer kaca modifikasi resin nano yang ditambahkan kitosan nano bermolekul
tinggi dari blangkas dengan menggunakan gigi premolar desain kavitas klas II (site 2
size 2) minimal intervensi. Pada penelitian ini, digunakan dua variasi persen berat
kitosan nano yang berbeda yaitu 0,015% yang diambil berdasarkan penelitian
sebelumnya dan diuji sesuai dengan berat minimum yang dapat ditimbang oleh alat
yang dipergunakan di laboratorium dan persen berat 0,45% yang diperoleh dari
kenaikan kelipatan tiga kali gram kitosan sesuai dengan penelitian sebelumnya.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, adapun permasalahan yang timbul yaitu apakah ada
pengaruh penambahan kitosan nano blangkas terhadap nilai flexural strength restorasi
kavitas klas II (site 2 size 2) minimal intervenís semen ionomer kaca modifikasi resin
nano?

Universitas Sumatera Utara

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan
kitosan nano blangkas terhadap nilai flexural strength restorasi kavitas klas II (site 2
size 2) minimal intervensi semen ionomer kaca modifikasi resin nano.

1.4 Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan dan mengembangkan kualitas bahan material kedokteran
gigi yaitu SIK modifikasi resin nano yang ditambahkan kitosan nano partikel dengan
melakukan pengujian flexural strength pada kavitas klas II (site 2 size 2) minimal
intervensi.
2. Menghasilkan produk yang bisa dipakai pada ART yang dapat menurunkan
karies.
3. Sebagai dasar dalam usaha peningkatan pelayanan kesehatan gigi
masyarakat terutama dalam bidang konservasi gigi
4. Sebagai dasar bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Seperti pengujian
flexural strength SIK modifikasi resin nano atau resin komposit yang ditambahkan
kitosan bermolekul sedang atau rendah.

Universitas Sumatera Utara

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Prevalensi karies di Indonesia menurut hasil studi survei kesehatan rumah
tangga (SKRT) pada tahun 2004 telah mencapai 90,05% yang berarti hampir seluruh
penduduk Indonesia menderita karies gigi. Sementara menurut survei depkes RI,
prevalensi karies di Indonesia tahun 2007 mencapai 71%. Berbagai usaha telah
dilakukan untuk mengurangi prevalensi karies. Salah satu caranya adalah menerapkan
prinsip miniml intervensi bahwa pada setiap kavitas untuk klasifikasi karies
dilakukan pembuangan dan pembuatan desain kavitas dengan seminimal mungkin
dan menggunakan bahan Semen Ionomer Kaca (SIK) yang telah dikembangkan untuk
restorasi ART, sehingga tidak dilakukan banyak pembuangan struktur gigi namun
diperoleh ikatan adhesif yang kuat antara SIK dan permukaan gigi.1,2
2.1 Klasifikasi karies
Terdapat beberapa perubahan dan banyak kemajuan di dalam pemahaman
karies seiring dengan berkembangnya prinsip minimal intervensi. Maka berkembang
klasifikasi karies yang baru yang dapat membantu penatalaksanaannya. Klasifikasi ini
mengkombinasikan site dan size. Klasifikasi site yaitu pada permukaan yang sering
terjadi akumulasi plak. Oleh karena itu, untuk klasifikasi site yaitu site 1 pada daerah
oklusal, site 2 daerah approksimal, dan site 3 pada daerah servikal. Klasifikasi size

Universitas Sumatera Utara

sebagai suatu proses perkembangan lesi karies yaitu size 0, size 1, size 2, size 3, dan
size 4 (Tabel 1).2
Tabel 1. KLASIFIKASI KARIES2
SITE
Pit/fissure
1
Contact area
2
Cervical
3

No cavity
0

Minimal
1

SIZE
Moderate
2

1.0

1.1

1.2

1.3

1.4

2.0

2.1

2.2

2.3

2.4

3.0

3.1

3.2

3.3

3.4

Enlarged
3

Extensive
4

Untuk memperkirakan hubungan antara klasifikasi Black dengan konsep site
dan size modern dapat dijelaskan sebagai berikut :
Site 1 : Size 0, 1, 2, 3 dan 4 – Karies pit dan fisur2
-

Lokasi kavitas pada permukaan oklusal gigi posterior atau ada kerusakan enamel
yang kecil, atau dengan kata lain permukaan yang tidak halus pada gigi.2

-

Klas I Black - klasifikasi Black dimulai dengan Site 1, Size 2 (1.2).

Site 2: Size 0, 1, 2, 3 dan 4 – Lesi approksimal berhubungan dengan daerah kontak2
-

Kavitas berada di permukaan approksimal beberapa gigi (anterior ataupun
posterior), atau pada daerah kontak diantara dua gigi.

-

Klas II Black – lesi terjadi pada gigi posterior saja. Karena sulitnya identifikasi
dan keterbatasan bahan maka tidak menggunakan Size 0 atau 1 maka klasifikasi
Black di mulai dengan Site 2, Size 2 (2.2).

-

Klas III Black – lesi yang terjadi pada gigi anterior.

-

Klas IV Black – perluasan dari lesi Klas III meliputi sudut insisal atau tepi insisal
dari gigi anterior. Site 2, Size 4 (2.4).

Universitas Sumatera Utara

Site 3: Size 0, 1, 2, 3, dan 4 – Lesi-lesi servikal2
-

Lesi berada pada daerah servikal termasuk permukaan akar yang tersingkap
diikuti resesi.

-

Klas V Black site 3 dan size 2.

Gambar 1: Karies klas II (site 2 size 2)
pada gigi premolar2

2.2 Semen ionomer kaca
SIK merupakan salah satu bahan restorasi yang banyak digunakan dokter gigi
karena mempunyai keunggulan berupa adanya perlekatan secara fisika dan khemis
terhadap jaringan gigi, melepaskan fluor dalam jangka cukup lama sehingga dapat
menghilangkan sensitivitas dan mencegah terjadinya karies sekunder, estetis,
biokompatibel, daya larut rendah, translusen, dan bersifat anti bakteri.6,21 Semen
Ionomer Kaca (SIK) pertama kali diperkenalkan sebagai bahan restorasi oleh Wilson
dan Kent sejak tahun 1972.3,11
Dua sifat utama SIK yang menjadikan bahan ini diterima sebagai salah satu
bahan kedokteran gigi yaitu karena kemampuannya melekat pada enamel dan dentin

Universitas Sumatera Utara

dan kemampuannya dalam melepaskan fluoride. Salah satu karateristik dari SIK
adalah kemampuannya untuk berikatan secara kimiawi dengan jaringan mineralisasi
melalui mekanisme pertukaran ion. Mekanisme perlekatan dengan struktur gigi
terjadi oleh adanya peristiwa difusi dan adsorbsi

yang dimulai ketika bahan

berkontak dengan jaringan gigi. Semen ionomer kaca menggabungkan kualitas
adhesive dari semen zinc polikarboksilat dan dengan sifat melepas fluoride dari
semen silikat.22
Bahan SIK telah menjadi pilihan sebagai bahan yang digunakan dalam prinsip
restorasi

Atraumatic

Restorative

Treatment

(ART).2

Bahan

restorasi

SIK

diindikasikan untuk ART dikarenakan kemampuan adhesinya dan sifat melepas
fluoride sama baiknya seperti mekanisme setting kimiawinya sehingga perawatan ini
dianjurkan untuk daerah-daerah yang kurang memadai infrastrukturnya.22
2.2.1

Penggunaan SIK dalam ART
ART adalah suatu metode restorasi kavitas yang sederhana, yang didahului

dengan pembersihan kavitas dengan hanya menggunakan alat-alat genggam
kemudian kavitas direstorasi dengan bahan adhesif seperti SIK.23 Ada dua prinsip
dalam melakukan ART antara lain:24
a. Menyingkirkan jaringan karies gigi dengan instrument tangan.
b. Merestorasi kavitas dengan bahan adhesif yang melepaskan fluoride.
Hal ini menjadi pertimbangan pengunaan SIK untuk perawatan preventif dan
kuratif dalam prosedur kerja.

Universitas Sumatera Utara

Alasan SIK digunakan dalam ART adalah:24
a. Karena SIK berikatan secara kimiawi ke enamel dan dentin, sehingga
mengurangi kebutuhan untuk mengambil jaringan gigi yang sehat
b. Pelepasan fluor dari restorasi dapat mencegah karies sekunder.
c. Lebih mirip dengan jaringan keras gigi dan biokompatibel.
Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan ART. Hal
ini disebabkan adanya beberapa kondisi yang tidak boleh dilakukan ART. ART tidak
boleh digunakan ketika:24
a. Dijumpai adanya pembengkakan (abses) atau fistula (terbukanya abses
terhadap lingkungan rongga mulut) berdekatan dengan gigi yang karies,
b. Pulpa gigi terbuka,
c. Dijumpai adanya rasa sakit yang lama dan mungkin terjadi inflamasi pulpa,
d. Terdapat kavitas karies yang tersembunyi yang tidak dapat diakses oleh
instrument tangan,
SIK telah digunakan dalam berbagai aplikasi klinis melebihi rata-rata
penyebaran penggunaannya sejak diperkenalkan dalam bidang kedokteran gigi.
Bahan ini memiliki sifat-sifat tertentu yang membuatnya sangat berguna dalam
kedokteran gigi restoratif.
2.3 Semen ionomer kaca modifikasi resin nano
Semen ionomer kaca modifikasi resin nano merupakan pengembangan dari
semen ionomer kaca modifikasi resin. Modifikasi resin menggantikan SIK dengan
tambahan reaksi polimerisasi dengan cahaya (light cure). Untuk mencapai

Universitas Sumatera Utara

keberhasilan bahan ini, ditambahkan monomer yang larut dalam air, seperti HEMA
(hidroxyethyl methacrylate) ke cairan asam poliakrilat yang larut air.25 Ciri utama
semen ionomer kaca modifikasi resin bila bubuk dan cairan dicampur akan terjadi
reaksi pengerasan dengan bantuan sinar (light cure). Tahap-tahap reaksinya sebagai
berikut:25,26
1) Reaksi pengerasan dengan terjadinya reaksi asam-basa antara bubuk
alumino silikat dengan asam poliakrilat.
2) Reaksi polimerisasi dari partikel-partikel resin yang ada di dalam semen.
3) Reaksi antara garam logam poliakrilat dengan resin hingga membentuk
matriks semen yang lebih kuat.
Dari tiga reaksi diatas, sebenarnya semen ionomer kaca modifikasi resin
mengeras dengan system “Dual Cure” yaitu reaksi penggaraman (asam-basa) yang
terjadi secara kimia (auto setting) dan polimerisasi yang terjadi akibat penyinaran.
Kedua reaksi ini memberikan sifat-sifat yang lebih baik bagi SIK.25
Perkembangan semen ionomer kaca modifikasi resin selanjutnya yaitu pada
tahun 2007, semen ionomer kaca modifikasi resin nano pertama kali dikeluarkan
yaitu

Ketac

Nano

(Ketac

N100)

yang

merupakan

teknik

baru

yang

mengkombinasikan kelebihan resin modified light cure glass ionomer dan ikatan
teknologi nanofiller. Nanoteknologi atau nanoteknologi molekuler merupakan
penghasil bahan fungsional dengan struktur yang berukuran antara 0,1 hingga 100
nanometer dengan metode fisika ataupun kimia.27
Keunikan dari SIK jenis ini adalah kombinasi dari ikatan nanofiller dan
nanocluster, partikel kaca fluoraluminosilicate (FAS) yang dapat mempengaruhi

Universitas Sumatera Utara

kekuatan, optical properties dan ketahanan terhadap abrasi. Oleh karena adanya
ukuran partikel nanofiller, nanoclusters dan asam reaktif fluoraluminosilicate (FAS)
maka semen ionomer kaca modifikasi resin nano memiliki beberapa kelebihan khusus
tidak sama dengan SIK lainnya.10,11 Kelebihan jenis SIK ini tahan terhadap
kebocoran, permukaan lebih halus dan pelepasan fluor lebih tinggi, lebih tahan
terhadap abrasi, memberikan hasil polish yang lebih halus dan mengkilap dan lebih
estetik. Dimana hasil akhir restorasi memiliki nilai estetik yang sama baiknya dengan
bahan restoratif resin komposit. Pada penelitian in vitro menunjukkan bahwa semen
ionomer kaca modifikasi resin nano mempunyai kemampuan untuk kembali mengisi
pelepasan fluorida sesudah dilakukan aplikasi fluorida topikal sehingga dapat
menghambat terjadinya karies. Sifat mekanis dari bahan SIK jenis ini juga lebih baik
apabila dibandingkan dengan jenis SIK lainnya. Semen ionomer kaca modifikasi
resin nano mempunyai nilai flexural strength antara 50-60 MPa. Teknologi nano filler
dapat memperkecil jarak antar partikel, sehingga meningkatkan sifat mekanik dan
estetisnya.11 Oleh karena kelebihan-kelebihan tersebut, semen ini dapat diaplikasikan
pada gigi posterior.11,12
Rumus kimia dari semen ionomer kaca modifikasi resin nano pada dasarnya
adalah metakrilat yang dimodifikasi dengan asam polialkenoat yang terdiri atas pasta
encer (asam polialkenoid, resin yang reaktif, dan nano fillers) dan pasta yang tidak
encer ( kaca FAS, resin reaktif dan nano fillers). Keunikannya adalah kombinasi dari
ikatan nanofiller, nanocluster, dan partikel kaca FAS, sehingga lebih estetis dan
mudah dipolis, sejalan dengan pelepasan ion fluoride. Semen ionomer kaca
modifikasi resin nano memiliki flexural strength yang lebih tinggi dibandingkan SIK

Universitas Sumatera Utara

yang lain, juga menunjukkan pelepasan fluoride yang lebih tinggi.11 Namun pada
penelitian sebelumnya oleh Waleed AM et al pada tahun 2007 dikatakan bahwa
penambahan nano filler kedalam semen ionomer kaca modifikasi resin tidak
meningkatkan flexural dan compressive strength secara signifikan, melainkan hanya
meningkatkan ikatannya ke dentin.28
Tabel 2. SIK MODIFIKASI RESIN NANO/ KETAC NANO LIGHT CURING GLASS
IONOMER terdiri dari:11
aqueous paste (asam polyalkenoat, resin-resin reaktif, dan bahan
pengisi nano/ nano fillers)

Sistem

Non-aqueous paste (kaca fluoraluminosilikat, resin-resin reaktif,
dan bahan pengisi nano/ nano fillers)
Kandungan Filler (69%)

27% kaca fluoraluminosilikat
42% methacrylate fungsional nano fillers

Reaksi pengerasan
dan pengaturan

Light curing (dibutuhkan)
Reaksi ionomer kaca jangka panjang (air, bahan pengisi ionomer
kaca, polyacid, monomer-monomer, dan bahan-bahan initiator)

 

 

Perbandingan struktur dari semen ionomer kaca modifikasi resin dan semen
ionomer kaca modifikasi resin nano dapat dilihat pada gambar berikut.( Gambar 2)

a

b

Gambar 2: Perbedaan ukuran partikel (a) semen ionomer kaca modifikasi
resin dan (b) semen ionomer kaca modifikasi resin nano29

Universitas Sumatera Utara

2.3.1

Indikasi semen ionomer kaca modifikasi resin nano
Indikasi pemakaian semen ionomer kaca modifikasi resin nano ini adalah

restorasi gigi desidui, restorasi klas I yang kecil, restorasi klas III dan V, kerusakan
filling dan undercut, teknik sandwich, dan pasak kurang dari 50% dari struktur
mahkota gigi yang tersisa sebagai dukungan). Pada tahun 2010 oleh Wadenya et al
menyatakan bahwa tidak ada perbedaan leakage pada enamel dan dentin antara SIK

konvensional dan semen ionomer kaca modifikasi resin nano pada penelitian dengan
menggunakan gigi molar desidui.30
2.3.2

Manipulasi semen ionomer modifikasi resin nano
Semen ionomer kaca modifikasi resin nano tersedia dalam bentuk pasta.

Tutup dari pencampur clicker dibuka, kemudian bahan dikeluarkan sedikit dengan
cara menekan pasta 2-3 detik, biasanya 2 lalu diletakkan pada mix pad. Pasta akan
keluar dalam jumlah yang sama (rasio berat 1,3 : 1,0). Kemudian selama 20 detik
bahan dicampurkan sampai warna terbentuk merata, sebaiknya hindari terbentuknya
rongga udara, lalu ditempatkan bahan pada kavitas yang telah dipreparasi.
Pengerasan dengan light cure dibutuhkan, kedalaman maksimum bahan untuk
penyinaran tidak boleh lebih dari 2 mm. SIK ini disinari selama kira-kira 20-30 detik
dan kemudian dapat dipolish. (Gambar 3 )11,31

Universitas Sumatera Utara

a

b

c

d

e

f

g

h

Gambar 3: (a) dan (b) penutup pasta dibuka; (c) dan (d) penempatan pasta pada mixing pad selama 2
detik penekanan; (e) bahan dicampurkan secara merata selama 20 detik; (f) kedalaman
restorasi yang kurang dari 2 mm; (g) dan (h) dirapikan kemudian di light cure selama 2030 detik.11

Pada penelitian Coutinho E. et al pada tahun 2009 menyatakan bahwa ikatan
semen ionomer kaca modifikasi resin nano ke enamel dan dentin sebaik ikatan SIK
konvensional, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan semen ionomer kaca
modifikasi resin konvensional, oleh karena itu diperlukan penggunaan primer nano.
Sejalan dengan penelitian lainnya yang menyatakan bahwa diperlukan tindakan preconditioning yaitu penggunaan primer pada pemakaian semen ionomer kaca
modifikasi resin nano karena ia tidak dapat membuktikan adanya daya lekat (shear
bond strength) dari semen ionomer kaca modifikasi resin nano itu sendiri jika tidak
menggunakan primer.32,33
Deepali S et al melakukan preparasi kavitas intra orifisi, kemudian dilakukan
pengaplikasian primer dan pengeringan dengan udara, untuk kemudian direstorasi
dengan Ketac N100, menyatakan penggunaan ketac nano sebagai perintang intra
orifisi menunjukkan hasil yang lebih baik pada coronal seal dibandingkan restorasi

Universitas Sumatera Utara

komposit, dengan perbedaan yang tidak signifikan terhadap celah mahkota (coronal
leakage) antara SIK viskositas tinggi dengan semen ionomer kaca modifikasi resin
nano.34
Sebuah penelitian oleh El- Rougby et al pada tahun 2010 yang melakukan
implan ke jaringan ikat subkutan pada tikus dengan bahan Ketac N100, menyatakan
adanya infiltrasi peradangan yang parah, baik akut maupun kronis, setelah pemakaian
Ketac N100 setelah satu minggu. Namun setelah 8 minggu pemakaian tidak dijumpai
adanya sel yang nekrosis. Dilaporkan juga adanya remineralisasi pada bahan yang
melepaskan fluor ini.27 Suatu hasil penelitian semen ionomer kaca modifikasi resin
nano terhadap efek bleaching menyatakan bahwa tidak ada efek bleaching terhadap
tekstur permukaan dan warna dari semen ionomer kaca modifikasi resin nano secara
Scanning Electron Microscope (SEM). 35
2.4

Kitosan
Aplikasi Klinis Kitosan
Kitosan (2-amino-2-deoxy-D-glucan), merupakan suatu polisakarida derivate

kitin yang dihilangkan gugus asetilnya dengan menggunakan basa kuat (NaOH) yang
dihasilkan dari proses N-deasetilasi.15,16 Kitosan adalah produk terdeasetilasi dari
kitin yang merupakan biopolymer alami kedua terbanyak di alam setelah selulosa,
yang banyak terdapat pada serangga (insect), krustasea (binatang air berkulit keras
seperti udang, kepiting dan kerang-kerangan), dan jamur (fungi).14 Kitosan berpotensi
sebagai anti mikroba dan senyawa ini merupakan polimer alami, sehingga aman bagi
manusia.15

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan viskositas berat molekul, kitosan terbagi tiga yaitu kitosan
bermolekul rendah, bermolekul sedang dan bermolekul tinggi. Kitosan bermolekul
tinggi biasanya berasal dari hewan laut bercangkang keras misalnya kepiting, kerang,
dan blangkas dengan berat molekul 800.000-1.100.000 Mv.17
Kitosan dapat dipakai dalam pengawet makanan pengganti formalin, obatobatan (suplemen, nutrisi, makanan diet), limbah cair industri, membantu
menetralkan pH air limbah pertanian.17,19 Didunia medis kitosan telah digunakan
sebagai makanan berserat untuk menurunkan berat badan, penghantar obat (farmasi),
ortopedik, penyembuhan luka, optalmologi, perawatan kulit dan penyembuhan
tulang.16,17
Kitosan merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, juga tidak larut dalam
alkali dan asam mineral encer kecuali di bawah kondisi tertentu dengan adanya
sejumlah asam sehingga dapat larut dalam air/methanol, air, aseton dan campuran
lainnya. Dalam pelarut seperti alkohol, aseton, dimetil fornamida, dan dimetil
sulfoksida, kitosan tidak dapat larut, tetapi dalam asam fonnat dengan konsentrasi
0,2-10% dalam air kitosan larut. Disamping itu kitosan tidak beracun, mudah
mengalami biodegradasi (tidak menyebabkan reaksi imunologi, tidak menyebabkan
kanker, bersifat polielektrolitik, mudah berinteraksi dengan zat-zat organik lainnya
seperti protein, oleh karena itu kitosan relatif lebih banyak digunakan pada berbagai
bidang industri terapan dan industri kesehatan. Hal ini dikemukakan oleh Zakaria
pada tahun 2000. a16,18
Konversi kitin menjadi kitosan pertama kali ditemukan oleh Rouget pada
tahun 1859, Rouget menemukan bahwa kitosan mempunyai derajat keaktifan yang

Universitas Sumatera Utara

tinggi disebabkan karena adanya gugus amino bebas sebagai gugus fungsional. Sifatsifat kitosan dihubungkan dengan adanya gugus-gugus amino dan hidroksil yang
terikat menyebabkan kitosan mempunyai reaktifitas kimia yang tinggi dan
menyumbang sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai amino
pengganti (amino exchanger).17

Gambar 4. Struktur bangun kitin dan kitosan18

Pemakaian kitosan di bidang kedokteran gigi telah diteliti oleh Sapeii et al
pada tahun 1986 dan Muzarelli et al pada tahun 1989 pada perawatan jaringan
periodontal dimana terlihat bahwa kitosan dapat menurunkan nyeri, sebagai
hemostatik yang baik dan melambatkan pembebasan antibiotik, mempercepat
penyembuhan dan menghasilkan lingkungan yang asepsis.17 Dari sebuah laporan
kasus Trimurni et al pada tahun 2005 dilaporkan bahwa adanya perbaikan tulang
inter radikuler gigi molar satu bawah yang mengalami resopsi dan abses berulang
dengan menggunakan kitosan. Terlihat dari kasus yang dilaporkan ini bahwa dengan
pemberian kitosan berat molekul rendah menunjukkan perbaikan tulang selama 12
minggu setelah perawatan endodontik bedah. Sedangkan kitosan berat molekul tinggi

Universitas Sumatera Utara

dapat lebih cepat mengadakan aktivitas biologi terhadap sel-sel pulpa dan mampu
untuk mengadakan peristiwa dentinogenetik.17
Perkembangan kitosan banyak digunakan sebagai bahan antibakteri, ini juga
didukung dengan munculnya peneliti-peneliti yang ingin mempelajari mekanisme
antibakteri kitosan. Sejauh ini mekanisme antibakteri kitosan masih kontroversial
diberbagai bidang ilmu, tetapi diyakini karena adanya kandungan asam amino pada
gugus glukosamin yang akan berinteraksi dengan dinding sel bakteri yang bermuatan
negatif.17
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tarsi dan Muzzarelli et al pada tahun
1997 didapatkan hasil bahwa kitosan memiliki sifat bakterisidal. Sifat kitosan yang
mendukung kemampuan untuk menghambat perlekatan bakteri adalah dengan cara
mencegah kerusakan permukaan gigi dengan asam organik dan menghasilkan efek
bakterisidal terhadap bakteri pathogen termasuk bakteri Streptococcus mutans.18
Sebuah penelitian oleh Trimurni et al pada tahun 2006 yang menggunakan kitosan
blangkas sebagai bahan pulp capping dengan hasil yang baik.17
2.4.1

Kitosan Blangkas (Limulus polyhemus)
Kitosan secara umum diperoleh dari hasil deasetilisasi kitin dalam larutan

NaOH pekat. Kitin banyak dijumpai pada hewan antropoda, jamur dan ragi. Pada
jamur kitin berasosiasi dengan polisakarida, sedangkan pada hewan kitin berasosiasi
dengan protein. Penyediaan kitin dan kitosan dilakukan berdasarkan metode
Alimuniar dan Zainuddin pada tahun 1992. Kitin yang diproses dari kulit blangkas

Universitas Sumatera Utara

didapat dengan hasil 30,60%. Kitosan dihasilkan melalui proses deasetilasi kitin
dengan menggunakan larutan alkali.17

Gambar 5: Blangkas (Limulus Polyphemus)40

Pada penelitian sebelumnya oleh Tarigan G, Trimurni pada tahun 2008
didapatkan bahwa kitosan Blangkas bermolekul tinggi ternyata efektif dalam
menghambat pertumbuhan bakteri Sreptococcus mutans, semakin rendah konsentrasi
kitosan blangkas bermolekul tinggi maka semakin efektif dalam menghambat
pertumbuhan bakteri Streptoccus mutans.41
Banurea FE, Trimurni pada tahun 2008

Dalam penelitian selanjutnya oleh

juga terbukti bahwa kitosan blangkas

bermolekul tinggi mampu menghambat bakteri Fusobacterium nucleatum.42 Adanya
penelitian menggunakan kitosan blangkas bermolekul tinggi sebagai bahan pulp
capping dengan hasil yang baik.17
2.4.2

Aplikasi klinis kitosan terhadap SIK
Pada penelitian sebelumnya untuk melihat efek kitosan, maka dilakukan

pengujian Flexural strength dan uji pelepasan fluoride pada restorasi SIK yang
ditambahkan kitosan bermolekul rendah oleh Petri et al tahun 2006. Penelitian ini
menggunakan 3 kelompok yang terdiri dari 10 spesimen pada masing-masing

Universitas Sumatera Utara

kelompok. Satu kelompok sebagai kontrol yaitu menggunakan SIK, dua kelompok
lainnya menggunakan SIK yang masing-masing ditambahkan 0,0044% berat kitosan
dan 0,022% berat kitosan. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan 0,0044% berat
kitosan dapat meningkatkan kinerja mekanik seperti flexural strength, namun pada
penambahan lebih dari 0,022% kitosan menyebabkan kinerja mekanik yang lebih
rendah. Penambahan kitosan dengan SIK dapat meningkatkan pelepasan ion fluoride
dalam jumlah yang lebih besar.13
2.4.3

Kitosan nanopartikel
Dengan berkembangnya nano teknologi saat ini, maka dikembangkanlah

kitosan berukuran nano partikel yang diharapkan dapat memiliki bentuk, ukuran dan
fungsi yang diinginkan. Kitosan nanopartikel adalah bagian yang terkecil dari kitosan
itu sendiri yang diproses dengan suatu metode tertentu. Kitosan nano adalah kitosan
yang mana partikelnya berukuran 100-400 nm. Ukuran partikel kitosan yang berskala
nanometer akan meningkatkan luas permukaan sampai ratusan kali dibandingkan
dengan partikel yang berukuran mikrometer.19,20
Sekarang ini, banyak ahli-ahli menggunakan kitosan dengan nano teknologi,
Mereka menyiapkan kitosan nano-partikel dimana kitosan dilarutkan dalam larutan
asam lemah kemudian ditambahkan larutan yang bersifat basa seperti larutan
amoniak, natrium hidroksida atau kalium hidroksida distirer dengan kecepatan 300
rpm sehingga diperoleh gel kitosan putih dan dibilas dengan aquadest sampai netral
kemudian ditempatkan dalam ultrasonik bath untuk memecah partikel-partikel gel
kitosan menjadi lebih kecil. Sebagian ahli juga mencoba metode lain untuk

Universitas Sumatera Utara

menyiapkan kitosan nano menambahkan larutan tripoliposfat kedalam larutan kitosan
sehingga diperoleh emulsi kitosan sambil distirer dengan kecepatan 1200 rpm
kemudian emulsi di buat pH 3,5 dengan menambahkan asam asetat hasilnya akan
berupa suspensi kitosan.19,20
2.5

Uji flexural strength
Kekuatan adalah suatu daya tekanan yang dapat menyebabkan fraktur atau

sejumlah deformasi plastis tertentu. Kekuatan suatu bahan dapat digambarkan dengan
satu atau lebih sifat. Salah satu contohnya adalah flexural strength. Flexural strength
merupakan ukuran tekanan yang diperlukan untuk mematahkan suatu bahan. Flexural
strength disebut juga dengan kekuatan transversal, atau modulus pecah yang
merupakan uji kekuatan dari suatu batang yang terdukung pada kedua ujungnya, atau
suatu lempeng tipis yang didukung sepanjang lingkaran bawahnya, dan diberi beban
statis.39

Gambar 6: skema ilustrasi flexural strength39

Universitas Sumatera Utara

BAB 3
KERANGKA KONSEP
DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka konsep
Perkembangan bahan restorasi dalam kedokteran gigi sendiri telah
dikembangkan semen ionomer kaca modifikasi resin nano yang memiliki keunggulan
yang lebih baik daripada SIK konvensional, beberapa diantaranya tahan terhadap
kebocoran, permukaan lebih halus dan pelepasan fluor lebih tinggi, lebih tahan
terhadap abrasi, memberikan hasil polish yang lebih halus dan mengkilap, dan lebih
estetik. Dimana hasil akhir restorasi memiliki nilai estetik yang sama baiknya

Dokumen yang terkait

Efek Penambahan Kitosan Blangkas (Tachypleus gigas) Nanopartikel Pada Varian Semen Ionomer Kaca Terhadap Mikrostruktur Dentin Dan Komposisi Kimia Melalui SEM-EDX (In vitro)

3 73 129

Pengaruh penambahan kitosan nano dari blangkas terhadap compressive strength Semen Ionomer Kaca modifikasi resin nano ( In Vitro).

6 80 87

Perbedaan Compressive Strength Dua Jenis Semen Ionomer Kaca Pada Kavitas Klas II Dengan Prinsip Minimal Intervensi (Penelitian In Vitro)

5 61 71

Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin Sebagai Bahan Restorasi

1 30 41

Perubahan Kekerasan Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin Setelah Aplikasi Bahan Pemutih Karbamid Peroksida 16%

5 40 48

PENGARUH PENAMBAHAN HIDROKSI APATIT DARI SERBUK CANGKANG TELUR TERHADAP KEKUATAN TEKANSEMEN Pengaruh Penambahan Hidroksi Apatit Dari Serbuk Cangkang Telur Terhadap Kekuatan Tekan Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin (SIKMR).

0 3 13

PENGARUH PENAMBAHAN HIDROKSI APATIT DARI SERBUK CANGKANG TELUR TERHADAP KEKUATAN TEKAN SEMEN Pengaruh Penambahan Hidroksi Apatit Dari Serbuk Cangkang Telur Terhadap Kekuatan Tekan Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin (SIKMR).

0 2 17

PENDAHULUAN Pengaruh Penambahan Hidroksi Apatit Dari Serbuk Cangkang Telur Terhadap Kekuatan Tekan Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin (SIKMR).

3 12 7

DAFTAR PUSTAKA Pengaruh Penambahan Hidroksi Apatit Dari Serbuk Cangkang Telur Terhadap Kekuatan Tekan Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin (SIKMR).

2 10 4

Efek Penambahan Kitosan Blangkas (Tachypleus gigas) Nanopartikel Pada Varian Semen Ionomer Kaca Terhadap Mikrostruktur Dentin Dan Komposisi Kimia Melalui SEM-EDX (In vitro)

0 1 20