Tinjauan terhadap Hasil-hasil Pengujian Kasus-kasus Studi

5.4 Tinjauan terhadap Hasil-hasil Pengujian Kasus-kasus Studi

Dari pengujian-pengujian yang telah dilakukan terhadap kasus studi, hasil yang diperoleh dari semua pengujian tersebut adalah tidak terdapatnya perbedaan nilai yang signifikan pada aspek keluaran saat berbagai aspek penentu diterapkan. Dengan kata lain, jaringan-jaringan jalan yang berorientasi pada keterhubungan langsung dengan pasar, sesuai model yang diturunkan dari penelitian Makarachi dan Tillotson (1991), dan model yang berorientasi pada keterhubungan dalam Dari pengujian-pengujian yang telah dilakukan terhadap kasus studi, hasil yang diperoleh dari semua pengujian tersebut adalah tidak terdapatnya perbedaan nilai yang signifikan pada aspek keluaran saat berbagai aspek penentu diterapkan. Dengan kata lain, jaringan-jaringan jalan yang berorientasi pada keterhubungan langsung dengan pasar, sesuai model yang diturunkan dari penelitian Makarachi dan Tillotson (1991), dan model yang berorientasi pada keterhubungan dalam

5.4.1 Analisa Multi-Kriteria

Analisa lanjutan pertama terhadap hasil uji statistik adalah analisa multi-kriteria, yaitu dengan membandingkan beberapa efek yang ditimbulkan oleh beberapa alternatif, dalam hal ini beberapa model jaringan, peringkat jaringan dapat disusun. Meskipun secara statistik dinyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap jaringan-jaringan jalan yang terbentuk dari penerapan berbagai aspek yang diturunkan dari penelitian Makarachi dan Tillotson (1991) dan panduan-panduan nasional yang berhubungan dengan perencanaan jalan, secara aktual terdapat perbedaan dalam panjang jaringan-jaringan jalan tersebut. Menggunakan software Definite versi 3.1 yang dikembangkan oleh Universitas Amsterdam, analisa multi-kriteria dilakukan sebagai berikut:

Langkah 1:

Alternatif-alternatif yang digunakan dalam analisa multi-kriteria ini adalah kombinasi antara aspek-aspek penentu, yaitu orientasi jaringan terhadap keterhubungan langsung dengan pasar, orientasi terhadap keterhubungan dalam klaster, minimalisasi biaya konstruksi (construction cost) serta minimalisasi biaya perjalanan (travel cost), yang digunakan untuk mencari jaringan jalan terpendek yang dapat melayani kawasan studi. Pencarian jalur terpendek dilakukan dengan menggunakan algoritma Dijkstra berdasar dua jenis panjang yaitu panjang aktual serta panjang efektif yang merupakan panjang aktual dikali faktor percepatan berdasar penelitian Bharali dan Baruah (2013). Dengan demikian, dalam thesis ini terdapat alternatif-alternatif dengan kombinasi-kombinasi sebagai berikut: Alternatif-alternatif yang digunakan dalam analisa multi-kriteria ini adalah kombinasi antara aspek-aspek penentu, yaitu orientasi jaringan terhadap keterhubungan langsung dengan pasar, orientasi terhadap keterhubungan dalam klaster, minimalisasi biaya konstruksi (construction cost) serta minimalisasi biaya perjalanan (travel cost), yang digunakan untuk mencari jaringan jalan terpendek yang dapat melayani kawasan studi. Pencarian jalur terpendek dilakukan dengan menggunakan algoritma Dijkstra berdasar dua jenis panjang yaitu panjang aktual serta panjang efektif yang merupakan panjang aktual dikali faktor percepatan berdasar penelitian Bharali dan Baruah (2013). Dengan demikian, dalam thesis ini terdapat alternatif-alternatif dengan kombinasi-kombinasi sebagai berikut:

b) Berdasar panjang efektif: 1) MCCE (Market-Construction Cost- Efektif atau Pasar-Biaya Konstruksi-Efektif); 2) CCCE (Cluster- Construction Cost-Efektif atau Klaster-Biaya Konstruksi-Efektif); 3) MTCE (Market-Travel Cost-Efektif atau Pasar-Biaya Konstruksi- Efektif); dan 4) CCTE (Cluster-Travel Cost-Efektif atau Klaster-Biaya Perjalanan-Efektif).

Penerapan dari alternatif-alternatif tersebut menghasilkan jaringan- jaringan jalan sebagaimana yang ditampilkan pada kasus studi di Bab IV.

Langkah 2:

Efek-efek yang diamati untuk menentukan peringkat dari alternatif- alternatif tersebut di atas ditentukan sebagai berikut:

a) Keterhubungan dengan pasar: efek ini mengamati bagaimana jaringan yang terbentuk terhubung dengan pasar;

b) Keterhubungan dalam klaster: efek ini mengamati bagaimana jaringan yang terbentuk menyediakan keterhubungan dalam hal transport pada klaster-klaster yand diamati;

c) Pengaruh terhadap perkembangan wilayah: pengamatan pada efek jaringan terhadap perkembangan wilayah didasarkan pada teori yang dikembangkan oleh Oosterhaven dan Knaap (2003) yang menyatakan bahwa jika satu daerah yang relatif homogen dihubungkan dengan daerah yang memiliki pusat perdagangan maka pertumbuhan wilayah akan lebih besar terjadi pada daerah homogen yang memiliki hubungan baru terhadap pusat perdagangan tersebut.

Gambar 5.1: Pola Efek Spasial dari Pengembangan Infrastruktur Transportasi Sumber: Oosterhaven dan Knaap, 2003

Lebih lanjut gambar 5.1 menunjukkan bahwa perkembangan wilayah terjadi jika dua daerah yang non-isomorfis saling dihubungkan (gambar b) dibanding jika dua daerah yang isomorfis saling terhubung (gambar a). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa meskipun jaringan yang berorientasi pada klaster dapat menghasilkan arus yang lebih besar dalam klaster tersebut, sebagaimana yang diamati oleh Rodrigue et al. (2013) seperti yang ditunjukkan apda gambar 5.2, namun jaringan yang berorientasi terhadap keterhubungan dengan pasar membawa pengaruh yang lebih besar pada pertumbuhan wilayah karena keterhubungan dalam klaster memiliki karakteristik seperti pada gambar a yaitu keterhubungan antar daerah-daerah yang isomorfis yang kurang memberi efek pertumbuhan wilayah dibanding dengan pola non-isomorfis yang merupakan karakteristik jaringan yang berorientasi pada keterhubungan langsung dengan pasar.

Gambar 5.2: Hubungan antara Jenis Jaringan Jalan dengan Volume Arus Sumber: Rodrigue et al., 2013

d) Terbentuknya jaringan terpendek: dalam efek ini diamati bagaimana jaringan yang terbentuk menghasilkan total panjang jalur yang paling pendek. Penentuan jalur terpendek dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra dengan penambahan faktor percepatan sesuai yang dikembangkan oleh Bharali dan Baruah (2013). Algoritma yang orisinil menghasilkan jalur terpendek berdasarkan panjang aktual sedangkan penambahan faktor percepatan pada algoritma tersebut menghasilkan jalur terpendek berdasarkan panjang efektif.

Langkah 3:

Setelah menentukan alternatif-alteernatif jalur beserta efek-efek yang mungkin diakibatkan, maka disusun tabel seperti berikut:

Gambar 5.3: Alternatif-alternatif dan Efek-efek beserta Nilainya

Sumber: Definite 3.1

Nilai dalam tabel tersebut berdasar penilaian terhadap peringkat tiap alternatif. Misalnya jalur yang berorientasi pada pasar dan biaya konstruksi serta diamati dari panjang aktualnya, yaitu jalur MCCA, dinilai Nilai dalam tabel tersebut berdasar penilaian terhadap peringkat tiap alternatif. Misalnya jalur yang berorientasi pada pasar dan biaya konstruksi serta diamati dari panjang aktualnya, yaitu jalur MCCA, dinilai

Langkah 4:

Lakukan pembobotan masing-masing aspek. Pembobotan bisa dilakukan dengan berbagai metode, namun dalam tesis ini yang digunakan adalah metode pairwaise comparison yaitu dengan membandingkan bobot pasangan-pasangan aspek. Sebagai contoh, dalam tesis ini aspek pengaruh terhadap perkembangan wilayah dinilai memiliki bobot lebih daripada aspek keterhubungan dalam klaster karena tujuan penyediaan jaringan jalan dari daerah yang kurang berkembang adalah agar daerah tersebut memiliki akses pada pusat kegiatan sehingga dapat lebih berkembang (Makarachi dan Tillotson, 1991; Oosterhaven dan Knaap, 2003; O’Sullivan, 2003, Rodrigue et al., 2013). Secara detail pembobotan dijelaskan dalam lampiran B.

Melalui proses pembobotan berbagai efek yang diamati, maka secara umum peringkat dari jaringan-jaringan yang terbentuk adalah seperti yang ditunjukkan pada tabel 5.8.

Tabel 5.8: Peringkat Jaringan Jalan per Aspek

Sumber: Pengolahan data

Langkah 5:

Dari langkah 4 dapat diketahui hasil pemeringkatan alternatif-alternatif dengan memperhatikan seluruh aspek yang dipertimbangkan. Namun, jika ingin melakukan penekanan pada aspek tertentu dapat dilakukan langkah selanjutnya yaitu dengan melakukan uij sensitivitas terhadap peringkat jika aaspek tertentu ditekankan. Sebagai contoh, peringkat akan berbeda jika aspek keterhubungan dengan pasar ditekankan dibanding dengan penekanan pada aspek keterhubungan dalam klaster.

Hasil penekanan pada masing-masing efek menghasilkan peringkat sebagai berikut:

a) Penekanan pada keterhubungan dengan pasar:

Gambar 5.4: Peringkat Jaringan Berdasarkan Kriteria Keterhubungan dengan Pasar

Pada penekanan ini jaringan MTCA (Market-Travel Cost-Actual atau Pasar-Biaya Perjalanan-Aktual) memiliki peringkat paling atas. Semakin dikurangi bobot keterhubungan dengan pasar maka peringkat jaringan juga berubah.

b) Penekanan pada keterhubungan dalam klaster

Gambar 5.5 Menunjukkan peringkat jaringan berdasarkan kriteria penekanan pada keterhubungan dalam kalster. Dengan pembobotan seperti yang dilakukan pada langkah 4, maka jika penekanan diletakkan pada keterhubungan dalam klaster, jaringan dengan peringkat tertinggi adalah jaringan MTCA (Market-Travel Cost-Actual atau Pasar-Biaya Perjalanan-Aktual);

Gambar 5.5: Peringkat Jaringan Berdasarkan Kriteria Keterhubungan dalam Klaster

c) Penekanan pada pengaruh terhadap perkembangan wilayah

Gambar 5.6: Peringkat Jaringan Berdasarkan Kriteria Pengaruh terhadap Perkembangan Wilayah

Dengan memperhatikan pertimbangan pada langkah 3, maka jika yang ditekankan adalah jaringan yang memberi efek paling baik untuk perkembangan wilayah, jaringan MTCA (Market-Travel Cost-Actual atau Pasar-Biaya Perjalanan-Aktual) merupakan jaringan terbaik;

d) Penekanan pada terbentuknya jaringan terpendek

Gambar 5.7: Peringkat Jaringan Berdasarkan Kriteria Jaringan Terpendek

Jika yang ditekankan adalah terbentuknya jaringan dengan total panjang jalur yang paling pendek, maka sekali lagi jaringan MTCA (Market-Travel Cost-Actual atau Pasar-Biaya Perjalanan-Aktual) merupakan jaringan terbaik.

Dengan melakukan analisa multi-kriteria ini dapat diamati bahwa meskipun secara statistik disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan di antara jaringan-jaringan yang terbentuk berdasarkan aspek-aspek penentu yang ditentukan, namun tetap terdapat perbedaan pada jaringan-jaringan tersebut berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan baik kriteria panjang jaringan, keterhubungan dengan pasar, keterhubungan dalam wilayah maupun kriteria pengaruh terhadap perkembangan wilayah.

5.4.2 Perbandingan Karakteristik Jaringan

Analisa lanjutan yang kedua adalah dengan melakukan perbandingan karakteristik jaringan. Dari gambar 5.8 dan 5.9 dapat diamati bahwa sebenarnya kedua model yang digunakan, baik model yang diturunkan dari penelitian Makarachi dan Tillotson (1991) serta model yang diturunkan dari panduan nasional perencanaan jalan, bukan merupakan model jaringan jalan tradisional yang bertujuan sekedar menghubungkan desa-desa yang ada. Kedua model yang digunakan telah memiliki orientasi masing-masing, yaitu orientasi keterhubungan langsung tiap desa dengan perekeonomian utama sebagai orientasi model yang diturunkan dari penelitian Makarachi dan Tillotson (1991) serta orientasi terhadap keterhubungan dalam klaster sebelum akhirnya tiap klaster saling terhubung dengan jalur perekonomian utama.

Gambar 5.8 Model Tradisional Jaringan Jalan Perdesaan (Sumber: diturunkan dari Makarachi dan Tillotson, 1991; Shrestha 2013; Shrestha et al., 2014)

a. Model 1 berdasarkan penelitian b. Model 2 berdasarkan panduan Makarachi dan Tillotson (1991)

nasional tentang perencanaan jalan

Gambar 5.9 Model-model alternatif Jaringan Jalan Perdesaan

Sebagaimana ditunjukkan pada gambar 5.9, pada orientasi jaringan yang pertama, yaitu keterhubungan langsung dari desa kepada jalur perekonomian utama, penekanan bukan ditekankan pada terhubungnya satu desa dengan tiap desa lainnya melainkan terhubungnya satu desa dengan suatu jalur perekonomian utama, dan keterhubungan ini tidak diikat oleh batas-batas klaster di mana desa Sebagaimana ditunjukkan pada gambar 5.9, pada orientasi jaringan yang pertama, yaitu keterhubungan langsung dari desa kepada jalur perekonomian utama, penekanan bukan ditekankan pada terhubungnya satu desa dengan tiap desa lainnya melainkan terhubungnya satu desa dengan suatu jalur perekonomian utama, dan keterhubungan ini tidak diikat oleh batas-batas klaster di mana desa

Dari tabel 5.9, dapat diamati bahwa terdapat kemiripan karakteristik antara model

1 dan model 2 yaitu tidak diutamakannya keterhubungan satu desa dengan tiap desa lainnya serta memiliki orientasi terhadap pasar. Kemiripan karakteristik inilah, terutama tidak diutamakannya keterhubungan satu desa dengan tiap desa lainnya, yang dapat menyebabkan terjadinya kemiripan dalam aspek panjang jaringan, serta teridentifikasi tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam uji statistik, dalam kasus-kasus studi dalam tesis ini yang mengaplikasikan kedua model tersebut.