PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR
PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS IV
SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG
TENGAH TAHUN PELAJARAN
2012/2013

Oleh
MUHAMMAD OKTAVIAN KRISTIANA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN

Pada
Program Studi S1 PGSD
Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

ABSTRAK
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR
PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS IV
SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG
TENGAH TAHUN PELAJARAN
2012/2013

Oleh
MUHAMMAD OKTAVIAN KRISTIANA

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi dan hasil belajar
IPS siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran dan bertujuan untuk meningkatkan
motivasi dan hasil belajar menggunakan model problem based learning.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas.
Prosedur penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus melalui proses pengkajian
berdaur, setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan
tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Data penelitian diperoleh melalui
observasi dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif
dan kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan nilai motivasi belajar siswa pada siklus I
sebesar 60,46 dengan kualifikasi cukup, dan siklus II sebesar 83,61 dengan
kualifikasi sangat baik. Sementara rata-rata hasil belajar siswa siklus I sebesar
66,98 dengan persentase ketuntasan sebesar 46,15%, dan nilai rata-rata siklus II
meningkat menjadi 80,67 dengan persentase ketuntasan sebesar 88,46%. Dengan
demikian, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan hasil
belajar siswa pada setiap siklusnya.

Kata kunci: Model problem based learning, motivasi, hasil belajar, IPS.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ………………………………………………………
ix
DAFTAR GAMBAR ……………………………………….…………..
x
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………...
xi
I.

II.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ...........................................................
1.2 Identifikasi Masalah ..................................................................
1.3 Rumusan Masalah .....................................................................
1.4 Tujuan Penelitian ......................................................................
1.5 Manfaat Penelitian ....................................................................
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) .................................................. .
2.1.1 Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).....................
2.1.2 Karakteristik Pembelajaran IPS .....................................
2.1.3 Tujuan IPS ……………………………………………..
2.2 Belajar .......................................................................................
2.2.1 Pengertian Belajar ............................................................
2.2.2 Teori Belajar ....................................................................
2.2.3 Motivasi Belajar…………………………………………
2.2.3.1 Pengertian Motivasi Belajar……………………..
2.2.3.2 Fungsi Motivasi Belajar…………………………
2.2.4 Pengertian Hasil Belajar………………………………...
2.3 Model Problem Based Learning .............................................
2.3.1 Pengertian Model Problem Based Learning ...................
2.3.2 Karakteristik Model Problem Based Learning ................
2.3.3 Tujuan Model Problem Based Learning ..........................
2.3.4 Kelebihan dan Kelemahan Model Problem Based
Learning………………………………………………………..
2.3.5 Langkah-langkah Model Problem Based Learning………
2.3.6 Peran Guru dalam Model Problem Based Learning ........
2.4 Hipotesis Tindakan ...................................................................

1
4
4
5
5

7
7
8
8
9
9
9
11
11
13
13
14
14
15
17
17
18
19
20

vi

III. METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ……………………………………………….
3.2 Setting Penelitian ......................................................................
3.2.1 Subjek Penelitian………………………………………...
3.2.2 Tempat Penelitian………………………………………..
3.2.3 Waktu Penelitian…………………………………………
3.3 Teknik Pengumpulan Data .......................................................
3.3.1 Teknik Nontes……………………………………………
3.3.2 Teknik Tes……………………………………………….
3.4 Alat Pengumpul Data.................................................................
3.4.1 Lembar Observasi………………………………………..
3.4.2 Tes……………………………………………………….
3.5 Teknik Analisis Data ................................................................
3.5.1 Deskriptif Analitik……………………………………….
3.5.2 Analisis Kuantitatif………………………………………
3.6 Urutan Penelitian Tindakan Kelas ............................................
3.6.1 Siklus 1…………………………………………………..
3.6.2 Siklus 2…………………………………………………..
3.7 Indikator Keberhasilan ..............................................................
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum SD Negeri 3 Tempuran ...................................
4.1.1 Sejarah Singkat SD Negeri 3 Tempuran ...........................
4.1.2 Keadaan Gedung SD Negeri 3 Tempuran ..........................
4.1.3 Keadaan Guru SD Negeri 3 Tempuran ..............................
4.1.4 Keadaan Siswa SD Negeri 3 Tempuran .............................
4.2 Prosedur Penelitian
4.2.1 Deskripsi Awal ...................................................................
4.2.2 Refleksi Awal .....................................................................
4.2.3 Persiapan Pembelajaran .....................................................
4.3 Pelaksanaan dan Hasil Penelitian
4.3.1 Pelaksanaan Penelitian .......................................................
4.3.2 Hasil penelitian siklus I ......................................................
1) Perencanaan siklus I .....................................................
2) Pelaksanaan siklus I .....................................................
3) Hasil Observasi Siklus I ...............................................
4) Refleksi Siklus I ...........................................................
5) Saran Perbaikan/Tindakan Kelas untuk Siklus II ........
4.3.3 Hasil Penelitian Siklus II
1) Perencanaan siklus II ...................................................
2) Pelaksanaan siklus II ....................................................
3) Hasil Observasi Siklus II..............................................
4) Refleksi Siklus II..........................................................
4.4 Pembahasan
4.4.1 Motivasi Siswa dalam Proses Pembelajaran .....................
4.4.2 Kinerja Guru dalam Proses Pembelajaran .........................

21
22
22
22
22
22
22
22
23
23
23
23
23
25
26
26
29
30

31
31
31
32
32
33
33
34
35
35
35
36
39
47
48
48
49
53
60
61
62

vii

4.4.3 Hasil Belajar Siswa ............................................................

65

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ...................................................................................
5.2 Saran .............................................................................................

68
69

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..

71

LAMPIRAN

viii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan wahana bagi manusia untuk mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran baik secara formal, maupun non
formal. Dalam prosesnya pendidikan tidak hanya membekali siswa dengan
pengetahuan, melainkan juga keteladanan sikap. Hal ini telah ditegaskan dalam
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat 3,
pemerintah mengusahakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan
keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa yang diatur dalam undang-undang. Oleh karena itu, dalam
prinsipnya pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik
dengan sistem terbuka dan multimakna (UU RI No. 20 Th. 2003 pasal 4.2).
Salah satu cara untuk menunjang adanya pembelajaran yang multimakna
tersebut, maka disusunlah cabang-cabang ilmu yang substansinya disesuaikan
dengan jenjang pendidikan. Dalam setiap cabang ilmu mempunyai standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai, begitu juga dengan IPS.
Dalam kurikulum 2006 dipaparkan bahwa mata pelajaran IPS disusun secara
sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju
kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan

2

pendekatan tersebut diharapkan siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih
luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.
Pernyataan di atas didukung dengan pendapat Sapriya (2007: 133)
tentang tujuan IPS yaitu (a) mengajarkan konsep-konsep dasar sejarah,
sosiologi, antropologi, ekonomi, dan kewarganegaraan melalui pendekatan
pedagogis, dan psikologis, (b) mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
kreatif, inkuiri, problem solving, dan keterampilan sosial, (c) membangun
komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan
(d) meningkatkan kerja sama dan kompetensi dalam masyarakat yang
heterogen baik secara nasional maupun global.
Itulah sebabnya, IPS perlu dipelajari disetiap jenjang pendidikan. Karena
IPS dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam
memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari. Berdasarkan hasil survey di
lapangan pada hari Rabu tanggal 12 Desember 2012, diketahui bahwa proses
pembelajaran IPS di kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun
Pelajaran 2012/2013 masih banyak memiliki kekurangan. Diantaranya, guru
belum memanfaatkan media dan model pembelajaran secara bervariasi. Tes
yang diberikan hanya berasal dari buku cetak, sehingga siswa kurang
mendapatkan jenis soal yang bervariasi. Hal ini mengakibatkan rendahnya
kemampuan berpikir siswa serta kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti
proses pembelajaran.
Penelusuran lebih lanjut diketahui bahwa hasil belajar siswa dalam mata
pelajaran IPS tidak maksimal. Hal ini dibuktikan dari data hasil ulangan
semester ganjil.

3

Tabel 1. Hasil ulangan semester ganjil mata pelajaran IPS kelas IV SD Negeri 3
Tempuran Trimurjo Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013
Jumlah
Jumlah
Persentasi
Persentasi
Jumlah
siswa
Siswa
Ketuntasan ketidaktuntasan
No KKM
Siswa
yang
yang tidak
(%)
(%)
tuntas
tuntas
1
67
26
11
15
42
58

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa dengan Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 67, hanya 11 siswa yang tuntas
dari 26 siswa di kelas IV. Melihat fakta-fakta yang telah dipaparkan di atas,
maka perlu diadakan perbaikan proses pembelajaran agar motivasi dan hasil
belajar siswa dapat meningkat. Menurut Degeng (dalam Sugiyanto, 2008: 1)
daya tarik suatu pembelajaran ditentukan oleh dua hal, pertama oleh mata
pelajaran itu sendiri, dan kedua oleh cara mengajar guru. Pada poin yang kedua
ini yaitu cara mengajar guru berkaitan erat dengan penggunaan berbagai model,
metode, atau strategi dalam pembelajaran. Hal ini dipertegas oleh pendapat
Zarkasi (dalam Asmani, 2011: 25) bahwa dalam proses belajar mengajar, guru
harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien.
Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak semua strategi, model, atau metode
dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Akan lebih baik apabila guru
memilih model pembelajaran yang benar-benar tepat untuk memperbaiki mutu
pembelajarannya.
Salah satu cara untuk mengatasi masalah yang dipaparkan di atas, model
problem based learning dapat dikatakan model pembelajaran yang tepat.
Seperti yang diungkapkan oleh Rusman (2010: 237) bahwa model problem

4

based learning adalah sebuah cara memanfaatkan masalah untuk menimbulkan
motivasi belajar. Karena model ini menekankan pada pemerolehan pemahaman
yang utuh dari sebuah materi yang diformulasikan dalam masalah dunia nyata.
Sehingga diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikirnya
melalui integrasi dan sintesis informasi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan perbaikan
kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas dengan menggunakan
model problem based learning pada pembelajaran IPS siswa kelas IV SD
Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013.

1.2

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi masalah penelitian
sebagai berikut.
1. Guru masih mendominasi dalam pembelajaran dan belum memanfaatkan
model-model

pembelajaran,

sehingga

proses

pembelajaran

terasa

membosankan.
2. Siswa kurang mendapatkan jenis soal yang bervariasi.
3. Rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
4. Belum menggunakan model problem based learning.

1.3

Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut.

5

1. Bagaimanakah meningkatkan motivasi siswa kelas IV SD Negeri 3
Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 dengan penerapan
model problem based learning?
2. Apakah penerapan model problem based learning dapat meningkatkan hasil
belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun
Pelajaran 2012/2013?

1.4

Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian tindakan kelas ini
adalah untuk:
1. Meningkatkan motivasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung
Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 dengan penerapan model problem based
learning.
2. Meningkatkan hasil Belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran
Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 dengan penerapan model
problem based learning.

1.5

Manfaat penelitian
Adapun penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan
manfaat antara lain:
1. Bagi siswa
Meningkatnya motivasi dan hasil belajar IPS siswa dengan penerapan model
problem based learning.

6

2. Bagi guru
Bertambahnya wawasan guru dalam menerapkan model problem based
learning

dalam

pembelajaran

IPS

sehingga

dapat

meningkatkan

keterampilan dan profesionalitas guru.
3. Bagi sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan inovasi
pembelajaran guna mengoptimalkan ketercapaian tujuan dalam proses
pembelajaran.
4. Bagi peneliti
Bertambahnya wawasan dan pengetahuan mengenai penelitian tindakan
kelas agar kelak dapat bekerja secara profesional.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
2.1.1 Pengertian IPS
Menurut Djahiri (dalam Sapriya, 2007: 7) IPS merupakan ilmu
pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabangcabang ilmu sosial dan ilmu lainnya kemudian diolah berdasarkan
prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran
pada tingkat persekolahan.
Sedangkan dalam kurikulum 2006, IPS merupakan salah
satu mata pelajaran yang diberikan mulai SD/MI/SDLB sampai
SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat isu sosial. Pada
jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi,
sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS,
peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara
Indonesia yang demokrasi dan bertanggung jawab, serta warga
dunia yang cinta damai.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, peneliti menyimpulkan
bahwa IPS adalah ilmu pengetahuan yang merupakan perpaduan
sejumlah konsep cabang-cabang ilmu yang mempelajari tentang
kehidupan manusia. Cabang-cabang ilmu ini kemudian dijadikan
program pengajaran yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan.

8

2.1.2 Karakteristik Pembelajaran IPS
Djahiri (dalam Sapriya, 2007: 8) mengemukakan ciri dan sifat
utama dari pembelajaran IPS sebagai berikut.
a. IPS berusaha mempertautkan teori ilmu dengan fakta atau
sebaliknya (menelaah fakta dari segi ilmu).
b. Penelaahan dan pembahasan IPS bersifat komprehensif, sehingga
berbagai konsep ilmu secara terintegrasi digunakan untuk menelaah
suatu masalah.
c. Mengutamakan peran aktif siswa melalui proses inkuirí agar siswa
mampu mengembangkan berpikir kritis, rasional, dan analitis.
d. Program
pembelajaran
disusun
dengan
meningkatkan/menghubungkan bahan-bahan dari berbagai disiplin
ilmu sosial dan lainnya dengan kehidupan nyata dimasyarakat
memproyeksikannya kepada kehidupan di masa depan.
e. IPS dihadapkan secara konsep dan kehidupan sosial yang sangat
labil (mudah berubah).
f. IPS mengutamakan hal-hal, arti dan penghayatan hubungan
antarmanusia yang bersifat manusiawi.
g. Pembelajaran tidak hanya mengutamakan pengetahuan semata,
tetapi juga nilai dan keterampilannya.
h. Berusaha untuk memuaskan setiap siswa yang berbeda melalui
program maupun pembelajarannya dalam arti memperhatikan
minat siswa dan masalah-masalah kemasyarakatan yang dekat
dengan kehidupannya.
i. Dalam pengembangan program pembelajaran senantiasa
melaksanakan prinsip-prinsip, karakteristik (sifat dasar) dan
pendekatan-pendekatan yang menjadi ciri IPS itu sendiri.

2.1.3 Tujuan IPS
Menurut

Peraturan

Menteri

Pendidikan

Nasional

(PERMENDIKNAS) No. 22 Tahun 2006 tentang stándar isi
dinyatakan bahwa mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut.
a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan
masyarakat dan lingkungannya
b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis,
rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan
keterampilan dalam kehidupan sosial

9

c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial
dan kemanusiaan
d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan
berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat
lokal, nasional, dan global.

2.2 Belajar
2.2.1 Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu aktivitas yang akan menghasilkan
perubahan. Perubahan ini tidak terjadi dengan sendirinya melainkan
melalui proses yang disebut pembelajaran. Seperti yang diungkapkan
oleh Hamalik (2005: 27) belajar merupakan suatu proses, suatu
kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya
mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hal ini
didukung oleh gagasan Gagne (dalam Suprijono, 2010: 2) belajar
adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang
melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh
langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah.
Berdasarkan pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa
belajar ialah perubahan kemampuan individu yang merupakan akibat
dari suatu proses atau kegiatan menuju perkembangan individu
seutuhnya.

2.2.2 Teori Belajar
Teori merupakan perangkat prinsip-prinsip yang terorganisasi
mengenai peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan. Teori belajar
terdiri dari tiga teori, yaitu teori behavioristik, teori kognitif dan teori

10

konstruktivistik. Teori belajar behavioristik merupakan perubahan
perilaku, khususnya perubahan kapasitas siswa untuk berperilaku
(yang baru) sebagai hasil belajar, bukan sebagai hasil proses
pematangan (atau pendewasaan) semata. Sedangkan teori belajar
kognitif merupakan gejala internal mental seseorang dapat dilihat
dalam perilaku maupun yang tidak terlihat. Dalam teori ini, pada
dasarnya setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala
sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh pemahaman atas dirinya sendiri.
Kemudian

teori

belajar

konstruktivistik

merupakan

proses

membangun atau membentuk makna, pengetahuan, konsep, dan
gagasan melalui pengalaman, Winataputra (2007: 2.4).
Sebagaimana pendapat Suprijono (2010: 16) teori-teori
belajar terdiri dari teori behavioristik, teori kognitif, dan teori
konstruktivistik. Teori behavioristik sendiri merupakan teori
dimana pembelajaran diartikan sebagai proses pembentukan
hubungan antara rangsangan (stimulus), dan balas (respon).
Hasil pembelajaran yang diharapkan adalah perubahan perilaku
berupa kebiasaan. Sedangkan dalam perspektif teori kognitif,
belajar merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral.
Belajar merupakan perseptual, dimana tingkah laku seseorang
ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi
yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Kemudian dalam
perspektif teori konstruktivistik, belajar merupakan pemaknaan
pengetahuan, dimana pembelajar bisa memiliki pemahaman
berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari.
Berdasarkan tiga teori belajar di atas, peneliti menyimpulkan
bahwa teori belajar konstruktivistik merupakan teori belajar yang
mendukung proses pembelajaran menggunakan model problem based
learning. Dimana siswa dituntut untuk membangun pengetahuannya
sendiri dan guru berperan sebagai fasilitator. Teori belajar
konstruktivistik mengutamakan keaktifan siswa dan mengembangkan

11

kemampuan berpikir tinggi (kompleks) yang biasanya menggunakan
prosedur pemberian tugas dan kerja kelompok.

2.2.3 Motivasi Belajar
2.2.3.1 Pengertian Motivasi Belajar
Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat
diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu,
yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat.
Sebagaimana pendapat Hamalik (2005: 158) mengatakan
bahwa motivasi merupakan perubahan energi dalam diri
(pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan
dan reaksi untuk mencapai tujuan tertentu. Ada dua proses
yang dapat digunakan untuk menunjang motivasi, yaitu
motivasi dipandang sebagai suatu proses dan menentukan
karakter dari proses tersebut dengan melihat berbagai
petunjuk dari tingkah lakunya.
Suprijono (2010: 163) menyatakan bahwa motivasi
belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada peserta
didik yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan
perilaku. Motivasi belajar juga merupakan proses yang
memberi semangat belajar, arah dan kegigihan perilaku.
Sedangkan Uno (2006: 1) mengatakan bahwa motivasi
adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang
bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang
yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai

12

dengan dorongan dalam dirinya. Motivasi dan belajar
merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Motivasi
belajar dapat timbul karena faktor instrinsik dan faktor
ekstrinsik. Faktor instrinsik merupakan faktor yang berasal
dari dalam diri manusia. Contoh faktor instrinsik berupa
hasrat atau keinginan berhasil dalam mencapai tujuan yang
diharapkan dan dorongan kebutuhan belajar dari dalam diri
manusia agar tercapainya cita-cita. Sedangkan faktor
ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari luar diri manusia,
contohnya adalah adanya penghargaan berupa penguatan dan
motivasi serta hadiah kepada siswa yang memperoleh nilai
terbaik, lingkungan belajar yang kondusif seperti lingkungan
yang jauh dari keramaian serta tidak adanya kegaduhan
dalam kelas saat proses pembelajaran, dan kegiatan belajar
yang menarik dengan menggunakan berbagai variasi model
dan media pembelajaran.
Sudjana (2011: 61) menjelaskan bahwa dalam motivasi
belajar siswa terdapat beberapa aspek yang dapat diamati
yaitu minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran, semangat
siswa untuk melakukan tugas-tugas belajar, tanggung jawab
siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya, reaksi yang
ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru
serta rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang
diberikan.

13

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti
menyimpulkan bahwa motivasi merupakan kekuatan, baik
dari dalam yang berupa hasrat dan keinginan berhasil dan
dorongan kebutuhan belajar, harapan dan cita-cita serta dari
luar yang berupa adanya penghargaan, lingkungan belajar
yang kondusif serta kegiatan belajar yang menarik dapat
mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang
telah ditetapkan sebelumnya atau dengan kata lain motivasi
dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan
atau orang-orang sebagai anggota masyarakat.

2.2.3.2 Fungsi Motivasi Belajar
Motivasi

mendorong

timbulnya

kelakuan

dan

mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Fungsi motivasi
yaitu:
a. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan.
Tanpa motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan
seperti belajar.
b. Motivasi

berfungsi

mengarahkan

perbuatan

sebagai

pengarah.

kepencapaian

Artinya

tujuan

yang

diinginkan.
c. Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Motivasi berfungsi
sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan
menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan,
Hamalik (2005: 161).

14

2.2.4 Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah
proses pembelajaran, umumnya hasil belajar berupa nilai baik berupa
nilai mentah ataupun nilai yang sudah diakumulasikan. Namun, tidak
menutup kemungkinan hasil belajar ini bukan hanya berupa nilai
melainkan perubahan perilaku siswa. Sebagaimana diungkapkan oleh
Suprijono (2010: 5) hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan,
nilai-nilai,

pengertian-pengertian,

sikap-sikap,

apresiasi,

dan

keterampilan.
Bloom (dalam Suprijono, 2010: 6) menyatakan bahwa hasil
belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Sedangkan menurut Lindgren (dalam Suprijono, 2010: 7) hasil
pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian, dan sikap.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan
bahwa

hasil

belajar

merupakan

perubahan

perilaku

secara

keseluruhan. Perubahan ini tidak dilihat secara terpisah melainkan
secara komprehensif baik dari domain kognitif, afektif, dan
psikomotorik.

2.3 Model Problem Based Learning
2.3.1 Pengertian Model Problem Based Learning
Model problem based learning dikembangkan berdasarkan
konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner. Konsep tersebut
adalah belajar penemuan atau discovery learning. Konsep tersebut
memberikan dukungan teoritis terhadap pengembangan model

15

problem based learning yang berorientasi pada kecakapan memproses
informasi.
Menurut Tan (dalam Rusman, 2010: 229) problem based
learning merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang
diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia
nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan
kompleksitas yang ada. Pendapat di atas diperjelas oleh Ibrahim dan
Nur (dalam Rusman, 2010: 241) bahwa problem based learning
merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk
merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang
berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk di dalamnya belajar
bagaimana belajar. Seperti yang telah diungkapkan oleh pakar
problem based learning Barrows (dalam Renjy.Scrib.com, 2012)
problem based learning merupakan sebuah model pembelajaran yang
didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan
sebagai titik awal untuk mendapatkan atau mengintegrasikan
pengetahuan (knowledge) baru.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan
problem based learning adalah suatu model pembelajaran yang
berorientasi pada pemecahan masalah yang diintegrasikan dengan
kehidupan nyata. Dalam problem based learning diharapkan siswa
dapat membentuk pengetahuan atau konsep baru dari informasi yang
didapatnya, sehingga kemampuan berpikir siswa benar-benar terlatih.

16

2.3.2 Karakteristik Model Problem Based Learning
Setiap model pembelajaran, memiliki karakteristik masingmasing untuk membedakan model yang satu dengan model yang lain.
Seperti yang diungkapkan Trianto (2009: 93) bahwa karakteristik
model problem based learning yaitu: (a) adanya pengajuan pertanyaan
atau masalah, (b) berfokus pada keterkaitan antar disiplin, (c)
penyelidikan autentik, (d) menghasilkan produk atau karya dan
mempresentasikannya, dan (e) kerja sama.
Sedangkan karakteristik model problem based learning menurut
Rusman (2010: 232) adalah sebagai berikut.
a) Permasalahan menjadi starting point dalam belajar.
b) Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada
di dunia nyata yang tidak terstruktur.
c) Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple
perspective).
d) Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh
siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan
identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar.
e) Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama.
f) Pemanfaatan
sumber
pengetahuan
yang beragam,
penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan
proses yang esensial dalam problem based learning.
g) Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif.
h) Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah
sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk
mencari solusi dari sebuah permasalahan.
i) Keterbukaan proses dalam problem based learning meliputi
sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar.
j) Problem based learning melibatkan evaluasi dan review
pengalaman siswa dan proses belajar.
Selain itu, ada hal khusus yang membedakan model problem
based learning dengan model lain yang sering digunakan guru.
Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel 2 yang dikemukakan oleh
Slavin; Badin, & Moust, bouhuijs, Schmidt, (dalam Amir, 2010: 23).

17

Tabel 2. Perbedaan PBL dengan Metode lain
No
1

Metode belajar
Ceramah

2

Studi Kasus

3

PBL

Deskripsi
 Informasi dipresentasikan dan didiskusikan
oleh guru dan siswa.
 Pembahasan kasus biasanya dilakukan di
akhir pembelajaran dan selalu disertai
dengan pembahasan di kelas tentang materi
(dan sumber-sumbernya) atau konsep
terkait dengan kasus.
 Informasi tertulis yang berupa masalah
diberikan diawal kegiatan pembelajaran.
Fokusnya adalah bagaimana siswa
mengidentifikasi isu pembelajaran sendiri
untuk memecahkan masalah. Materi dan
konsep yang relevan ditemukan oleh siswa

TujuM
2.3.3 Tujuan Model Problem Based Learningased Le
Setiap model pembelajaran memiliki tujuan yang ingin dicapai.
Seperti yang diungkapkan Rusman (2010: 238) bahwa tujuan model
problem based learning adalah penguasaan isi belajar dari disiplin
heuristik dan pengembangan keterampilan pemecahan masalah. Hal
ini sesuai dengan karakteristik model problem based learning yaitu
belajar tentang kehidupan yang lebih luas, keterampilan memaknai
informasi, kolaboratif, dan belajar tim, serta kemampuan berpikir
reflektif dan evaluatif.
Sedangkan Ibrahim dan Nur (dalam Rusman, 2010: 242)
mengemukakan tujuan model problem based learning secara lebih
rinci yaitu: (a) membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir
dan memecahkan masalah; (b) belajar berbagai peran orang dewasa
melalui keterlibatan mereka dalam pengalaman nyata; (c) menjadi
para siswa yang otonom atau mandiri.

18

2.3.4 Kelebihan dan Kelemahan Model Problem Based Learning
Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan,
sebagaimana model problem based learning juga memiliki kelemahan
dan

kelebihan

yang

perlu

dicermati

untuk

keberhasilan

penggunaannya. Beberapa kelebihan model problem based learning
menurut CIRD (dalam Renjy.Scrib.com, 2012) antara lain:
a. Retensi siswa terhadap apa yang dipelajari lebih lama dan
kuat.
b. Pengetahuan siswa terintegrasi dengan baik.
c. Mengembangkan belajar jangka panjang, yaitu bagaimana
meniliti, berkomunikasi dalam kelompok, dan bagaimana
menangani masalah.
d. Meningkatkan motivasi, minat bidang studi, dan kemandirian
belajar.
e. Meningkatkan interaksi antara siswa dengan siswa dan siswa
dengan guru.
Berdasarkan

hasil

penelitian

Ward

dan

Lee

(dalam

Renjy.Scrib.com, 2012) diketahui kelemahan dari model problem
based learning adalah sebagai berikut.
a) Waktu yang diperlukan dalam pembelajaran.
b) Kendala pada faktor guru yang sulit berubah orientasi dari
guru mengajar menjadi siswa belajar.
c) Sulitnya merancang masalah yang standar problem based
learning.

2.3.5 Langkah-langkah Model Problem Based Learning
Model problem based learning memiliki beberapa langkah pada
implementasinya dalam proses pembelajaran. Menurut Ibrahim dan
Nur (dalam Rusman, 2010: 243) mengemukakan bahwa langkahlangkah problem based learning adalah sebagai berikut.

19

a. Orientasi siswa pada masalah.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik
yang diperlukan, dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas
pemecahan masalah.
b. Mengorganisasi siswa untuk belajar.
Guru
membantu
siswa
mendefinisikan
dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah tersebut.
c. Membimbing pengalaman individual/kelompok.
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang
sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah.
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan
karya yang sesuai seperti laporan, dan membantu mereka
untuk berbagi tugas dengan temannya.
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau
evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang
mereka lakukan.

2.3.6 Peran Guru dalam Model Problem Based Learning
Seorang guru dalam model problem based learning harus
mengetahui apa peranannya, mengingat model problem based
learning menuntut siswa untuk mengevaluasi secara kritis dan berpikir
berdayaguna. Peran guru dalam model problem based learning
berbeda dengan peran guru di dalam kelas. Peran guru dalam model
problem based learning menurut Rusman (2010: 245) antara lain:
a. Menyiapkan perangkat berpikir siswa
Menyiapkan perangkat berpikir siswa bertujuan agar siswa
benar-benar siap untuk mengikuti pembelajaran dengan
model problem based learning. Seperti, membantu siswa
mengubah cara berpikirnya, menyiapkan siswa untuk
pembaruan dan kesulitan yang akan menghadang, membantu
siswa merasa memiliki masalah, dan mengkomunikasikan
tujuan, hasil, dan harapan.
b. Menekankan belajar kooperatif
Dalam prosesnya, model problem based learning berbentuk
inquiry yang bersifat kolaboratif dan belajar. Seperti yang
diungkapkan Bray, dkk (dalam Rusman, 2010: 235) inkuiri

20

kolaboratif sebagai proses di mana orang melakukan refleksi
dan kegiatan secara berulang-ulang, mereka bekerja dalam
tim untuk menjawab pertanyaan penting. Sehingga siswa
dapat memahami bahwa bekerja dalam tim itu penting untuk
mengembangkan proses kognitif.
c. Memfasilitasi pembelajaran kelompok kecil dalam model
problem based learning
Belajar dalam bentuk kelompok lebih mudah dilakukan,
karena dengan jumlah anggota kelompok yang sedikit akan
lebih mudah mengontrolnya. Sehingga guru dapat
menggunakan berbagai teknik belajar kooperatif untuk
menggabungkan kelompok-kelompok tersebut untuk
menyatukan ide.
d. Melaksanakan problem based learning
Dalam pelaksanaannya guru harus dapat mengatur
lingkungan belajar yang mendorong dan melibatkan siswa
dalam masalah. Selain itu, guru juga berperan sebagai
fasilitator dalam proses inkuiri kolaboratif dan belajar siswa.

2.4 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka di atas dapat dirumuskan hipotesis
penelitian tindakan sebagai berikut: ”Apabila dalam pembelajaran IPS
menggunakan model problem based learning dengan langkah-langkah yang
tepat, maka dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IV SD
Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013”.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK). Penelitian Tindakan kelas merupakan terjemahan dari
Classroom Action Research, yaitu suatu Action Research yang dilakukan di
dalam kelas (Wardhani, 2007: 1.3). Prosedur penelitian yang digunakan
berbentuk siklus (cycle). Siklus ini tidak hanya berlangsung satu kali
namun dilaksanakan beberapa kali hingga tujuan pembelajaran yang
diinginkan dapat tercapai. Konsep pokok penelitian menurut Arikunto
(2006: 16) terdiri dari empat tahapan, yaitu (a) perencanaan, (b) tindakan,
(c) pengamatan, dan (d) refleksi.
Alur penelitian dapat dilihat pada bagan siklus berikut.
Perencanaan
Refleksi

SIKLUS I

Pelaksanaan

Pengamatan
Perencanaan
Refleksi

SIKLUS II

Pelaksanaan

Pengamatan
dst

Gambar 1 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
Diadopsi dari Arikunto, (2006: 7)

22

3.2

Setting Penelitian
3.2.1 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah seorang guru
dan siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah yang
berjumlah 26 orang siswa terdiri dari 13 orang siswa laki-laki dan 13
orang perempuan.
3.2.2 Tempat Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan di SD Negeri 3 Tempuran
Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah.
3.2.3

Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian selama 6 bulan, yaitu terhitung
dari bulan Desember 2012 sampai Mei 2013.

3.3

Teknik Pengumpulan Data
3.3.1 Teknik Nontes
Teknik nontes yang digunakan yaitu observasi. Observasi
digunakan untuk mengetahui motivasi siswa dalam kelompok selama
pembelajaran IPS dengan menggunakan model problem based
learning.
3.3.2 Teknik Tes
Tes adalah sekumpulan pertanyaan atau latihan serta alat yang
digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok
(Arikunto, 2006: 150). Teknik tes ini digunakan untuk mendapatkan

23

data yang bersifat kuantitatif (angka). Melalui tes ini akan diketahui
peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS dengan
model problem based learning.

3.4

Alat Pengumpul Data
Pada penelitian ini digunakan alat-alat pengumpul data sebagai berikut.
3.4.1 Lembar Observasi
Pengamatan atau observasi adalah proses pengambilan data
dalam penelitian di mana peneliti atau pengamat melihat situasi
penelitian. Observasi sangat sesuai digunakan dalam penelitian yang
berhubungan dengan kondisi/interaksi belajar-mengajar, tingkah laku,
dan interaksi kelompok (Kusumah, 2009: 66). Pada penelitian ini
lembar panduan observasi dirancang oleh peneliti. Kegiatan observasi
ini dilakukan untuk mengetahui motivasi siswa selama proses
pembelajaran berlangsung, baik dalam kelompok maupun individu.
3.4.2 Soal-soal Tes
Tes dilakukan pada akhir pembelajaran yang bertujuan untuk
mengungkapkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran
serta mengetahui ketercapaian indikator pembelajaran IPS dengan
menggunakan model problem based learning.

24

3.5

Teknik Analisis Data
3.5.1 Deskriptif Analitik
Deskriptif analitik akan digunakan untuk menganalisis data
yang menunjukkan dinamika proses yaitu, data tentang motivasi
siswa, dan kinerja guru selama pembelajaran berlangsung.
a. Nilai motivasi belajar siswa diperoleh dengan rumus:
N=

x 100

Keterangan:
N

= nilai yang dicari

R

= skor yang diperoleh

SM

= skor maksimum

100

= bilangan tetap

(Diadopsi dari Purwanto, 2009: 102)
Tabel 3 Kategori Motivasi
No
1
2
3
4
5

Rentang nilai
0 – 20
21- 40
41 – 60
61 – 80
81 – 100

Kategori
Sangat kurang
Kurang
Cukup
Baik
Sangat baik

(Dimodifikasi dari Poerwanti, 2008: 7.8)
b. Nilai kinerja guru diperoleh dengan rumus:
N=

x 100

Keterangan :
N

= nilai yang dicari

R

= skor yang diperoleh

SM

= skor maksimum ideal

25

100

= bilangan tetap

(Adaptasi dari Purwanto, 2009: 102)
Tabel 4 Kategori kinerja guru mengajar berdasarkan perolehan
nilai.
Nilai kinerja (NK) Yang
Kualifikasi
Diperoleh
80 ≤ NK ≤ 100
Sangat baik
60 ≤ NK ≤ 80
Baik
40 ≤ NK ≤ 60
Cukup
20 ≤ NK ≤ 40
Kurang
0 ≤NK ≤ 20
Sangat kurang
(sumber Prayitno, 2010: 49)

3.5.2

Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif akan digunakan untuk mengetahui kemajuan hasil
belajar siswa terhadap penguasaan materi yang telah dipelajari. Nilai
tes hasil belajar siswa diperoleh dari tes pada setiap siklus.
Nilai individual ini diperoleh menggunakan rumus:
x 100

S =

Keterangan:
S : nilai yang dicari atau diharapkan
R : skor yang diperoleh
N : skor maksimum dari tes
100 : bilangan tetap
(Adopsi dari Purwanto, 2009: 112)
Nilai rata-rata hasil belajar siswa diperoleh dengan rumus:
X=





x 100

26

Ketuntasan klasikal diperoleh dengan rumus:


× 100



Tabel 5. Kriteria Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa
Tingkat Keberhasilan (%)

Arti

> 80 %
60-79 %

Sangat tinggi
Tinggi

40-59 %

Sedang

20-39 %

Rendah

< 20 %
(adaptasi dari Aqib, 2009: 41)

3.6

Sangat rendah

Urutan Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan berbagai
kemungkinan yang dianggap perlu. Setiap siklus yang dilaksanakan terdiri
dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
3.6.1 Siklus 1
1. Tahap Perencanaan
Pada siklus 1 materi pembelajarannya adalah ”Perkembangan
teknologi produksi, transportasi dan komunikasi”. Hal-hal yang
dilakukan pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut.
a) Menyiapkan rencana pembelajaran dan bahan ajar yang
disesuaikan dengan silabus.
b) Menyiapkan instrument penelitian yang terdiri dari lembar
observasi untuk kegiatan guru, dan siswa, lembar kerja siswa,
dan alat evaluasi.
c) Menyiapkan

alat, sarana,

dan

bahan

diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.

pendukung

yang

27

2. Tahap Pelaksanaan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah mengelola
proses pembelajaran IPS dengan menggunakan model problem
based

learning.

Penerapannya

mengacu

pada

Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disesuaikan dengan
fase-fase pada model problem based learning. Secara rinci
pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan awal
1) Pengondisian kelas
2) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
3) Guru

memberikan

apersepsi

yang

orientasinya

pada

pemunculan masalah.
b. Kegiatan inti
1. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok, tiap kelompok
terdiri dari 5–6 orang. Dalam setiap kelompok ditunjuk
seorang ketua dan sekretaris.
2. Guru memberikan pengarahan tentang tugas yang harus
dikerjakan oleh setiap kelompok
3. Guru membimbing siswa untuk dapat mengumpulkan
informasi, seperti meminta siswa mencari referensi di
perpustakaan, diskusi, dan bertanya.
4. Setelah melakukan penyelidikan dan diskusi, siswa diminta
untuk membuat laporan dari hasil penyelidikannya dalam

28

memecahkan masalah dan mempresentasikannya di depan
kelas secara bergantian.
5. Guru memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk
menanggapi hasil laporan dari kelompok yang sedang
presentasi.
6. Guru dan siswa melakukan analisis dan evaluasi terhadap
penyelidikan yang telah dilakukan siswa dan hasil laporan.
7. Guru memberikan tes hasil belajar untuk mengukur
pemahaman siswa terhadap materi.
c. Penutup
1. Guru membimbing siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari.
2. Guru memberikan penguatan kepada seluruh siswa.
3. Guru menutup pembelajaran.

3. Tahap Observasi
a. Melakukan pengamatan proses pembelajaran yang dilakukan
oleh guru dalam menerapkan Model problem based learning.
b. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat
penerapan model problem based learning dengan lembar
observasi yang telah dibuat.

4. Tahap Refleksi
a. Menganalisis kekurangan dan keberhasilan guru dalam
menerapkan model problem based learning.

29

b. Menganalisis hasil observasi motivasi dan hasil belajar siswa
selama pembelajaran dengan Model problem based learning.
c. Berdiskusi dengan guru untuk merencanakan perbaikan
pembelajaran sebagai tindak lanjut pertemuan selanjutnya.

3.6.2

Siklus 2
1. Perencanaan
Pada siklus 2 ini kegiatan dibuat dengan membuat rencana
pembelajaran secara kolaboratif antara peneliti dan guru seperti
siklus sebelumnya berdasarkan refleksi pada siklus I yang
membedakan hanya materinya.

2. Pelaksanaan
Pada siklus 2 tindakan yang dilakukan sama seperti siklus I yang
disesuaikan dengan hasil refleksi pada siklus I.

3. Observasi
Pelaksanaan

observasi

dilakukan

oleh

peneliti

dengan

menggunakan alat bantu berupa lembar observasi. Lembar
observasi yang disiapkan meliputi lembar observasi tentang
motivasi siswa dan kinerja guru.

4. Refleksi
Peneliti melakukan refleksi terhadap siklus II baik itukelebhan
atau kelemahan selama proses pembelajaran berlangsung. Jika
pada siklus II pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan telah

30

terjadi peningkatan dibandingkan dengan siklus sebelumnya, maka
penelitian dianggap cukup.

3.7 Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini
dikatakan berhasil apabila:
1. Adanya peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri
3 Tempuran, Lampung Tengah pada setiap siklusnya
2. Pembelajaran di kelas dianggap tuntas apabila ≥75% dari jumlah siswa
mencapai nilai ˃ 67 untuk mata pelajaran IPS.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang dilakukan terhadap siswa
kelas IV SD Negeri 3 Tempuran pada pembelajaran IPS dengan menerapkan
model problem based learning dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penerapan model problem based learning dalam pembelajaran IPS, dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan
meningkatnya nilai motivasi siswa per siklus. Pada siklus I memperoleh
nilai sebesar 60,46 dengan kategori “cukup” dan meningkat pada siklus II
menjadi 83,61 dengan kategori “sangat baik”. Peningkatan antara siklus I
dengan siklus II sebesar 23,15.
2. Penerapan model problem based learning dalam pembelajaran IPS, dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya
nilai rata-rata hasil belajar siswa setiap siklusnya. Siklus I nilai rata-rata
hasil belajar siswa sebesar 66,98, kemudian pada siklus II nilai rata-rata
hasil belajar siswa mengalami peningkatan menjadi 80,67. Persentase
ketuntasan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada siklus I
sampai siklus II. Persentase ketuntasan pada siklus I sebesar 46,15%
dengan tingkat keberhasilan rendah. Pada siklus II meningkat sebesar
42,31% menjadi 88,46% dengan tingkat keberhasilan tinggi dari jumlah

69

siswa keseluruhan yaitu 26 orang siswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa
terjadi peningkatan nilai hasil belajar setiap siklusnya.

5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diuraikan di atas, berikut ini peneliti
memberikan saran dalam menerapkan model problem based learning pada
pembelajaran IPS antara lain sebagai berikut:
1) Siswa
Siswa diharapkan dapat bertanggung jawab akan tugas yang diberikan
guru baik tugas individu maupun kelompok dan siswa dapat
berkonsentrasi pada proses pembelajaran, khususnya pada saat guru
menjelaskan. Siswa harus berani untuk berpartisipasi aktif dalam
pembelajaran khususnya saat mengemukakan pertanyaan tentang materi
yang belum jelas.
2) Guru
Guru diharapkan dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif agar
siswa lebih siap mengikuti pembelajaran sehingga proses pembelajaran
dapat berjalan dengan efektif. Menginovasi pembelajaran dengan model
pembelajaran inovatif yang dapat membuat agar siswa lebih aktif dalam
mengikuti

pembelajaran.

Guru

harus

lebih

menguasai

materi

pembelajaran dan lebih kreatif dalam menciptakan suasana kelas yang
menyenangkan

yang

dapat

mengemukakan pertanyaan.

menstimulasi

siswa

untuk

berani

70

3) Sekolah
Sekolah dapat melakukan inovasi pembelajaran dengan penggunaan LKS
dan media dalam proses pembelajaran serta dengan pengembangan
model-model pembelajaran untuk dapat mengoptimalisasi pelaksanaan
pembelajaran.
4) Peneliti selanjutnya
Penelitian ini dilakukan pada materi perkembangan teknologi dan
permasalahan sosial di kelas IV SD, untuk itu disarankan menggunakan
problem based learning pada materi dan kelas lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Amir, M. Taufiq. 2010. INOVASI PENDIDIKAN MELALUI PROBLEM BASED
LEARNING: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era
Pengetahuan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Andayani, dkk. 2009. Pemanfaatan Kemampuan Profesional. Universitas
Terbuka. Jakarta
Angga. 2012. Lembar Observasi Motivasi Belajar Siswa. http : // angga gocill.
blogspot. com/ (diakses pada hari Rabu 23 Januari 2013 @08.00)
Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). DIVA Press. Yogyakarta.
Aqib, zainal, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB, dan TK.
Yrama Widya. Bandung
Depdikbud. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.
Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual. Refika Aditama. Bandung.
Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai
Pengembangan Profesi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Kusumah, Wijaya. 2009. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. PT Indeks.
Jakarta.
Purwanti, Endang, dkk. 2008. Asesmen Pembelajaran SD. Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
Purwanto, Ngalim. 2009. Prinsip-prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Rosda.
Bandung

72

Prayitno, Edi & Sri Wulandari. 2010. Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas
Dalam Pembelajaran Matematika Di SD (Versi Ebook). Pusat
Pengembangan dan pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Matematika. Yogyakarta.
Renjy,

Doddy. 2012. Pembahasan. 17 April 2011. http://renjy.
Scrib.com/2010/04/17/Pembahasan/ (diakses pada tanggal 15 Desember
2012 @09: 22)

Rusman, 2010. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme
Guru. Raja Grafindo persada. Bandung.
Sapriya, dkk. 2007. Pengembangan Pendidikan IPS di SD. UPI PRESS. Bandung.
Sardiman . 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja
Rosdakarya. Bandung.
Sugiyanto. 2008. Model-model Pembelajaran Inovatif. Panitia Sertifikasi.
Surakarta
Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Tim Penyusun. 2006. Standar Isi dan Standar Kompetensi untuk Satuan
Pendidikan Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dan Menengah.
(Permendiknas No. 22 tahun 2006). Depdiknas. Jakarta.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Prestasi
Pustaka Publiser. Jakarta.
Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Th. 2003 Tentang Si

Dokumen yang terkait

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION DENGAN MEDIA GRAFIS UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 TEMPURAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 10 64

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW DENGAN MEDIA GRAFIS UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IVB SD NEGERI 3 KARANG ENDAH LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1 11 61

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 6 146

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE ROTATING TRIO EXCHANGE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VA SD NEGERI 1 PALAPA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

10 137 48

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV B SD NEGERI 01 METRO BARAT

1 23 66

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS KELAS IV SD NEGERI 2 SABAH BALAU LAMPUNG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 9 53

PENGARUH PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS X SMA NEGERI 7 BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 8 58

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 BANJARREJO BATANGHARI LAMPUNG TIMUR TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 24 52

PENERAPAN MODEL ROLE PLAYING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn SISWA KELAS V SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG TENGAH

0 12 106

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII SMP NEGERI 3 PONTIANAK

0 0 11

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23