Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Oleh Masyarakat Desa Buniwangi, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi

I. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Hutan merupakan anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada

manusia untuk dikelola sebaik-baiknya untuk keperluan hidup manusia. Hutan
sebagai suatu kesatuan ekosistem memberikan banyak manfaat terhadap
kelangsungan hidup manusia khususnya bagi masyarakat sekitar hutan, baik
berupa hasil hutan kayu maupun hasil hutan non kayu.
Pemanfaatan sumberdaya hutan oleh masyarakat sekitar hutan merupakan
salah satu bentuk interaksi yang terjadi antara hutan dan manusia. Banyak manfaat
yang dapat diperoleh dari hutan seperti pohon kayu untuk perkakas dan kayu
bakar, dan juga sebagai penyedia air bersih bagi kebutuhan rumah tangga. Air
adalah barang bebas dimana dapat kita konsumsi secara cuma-cuma tanpa adanya
bayaran sedikit pun dan merupakan sumber daya alam yang tidak terbatas. Akan
tetapi pemikiran seperti ini yang sebenarnya akan mengurangi kualitas dan
kuantitas air di bumi, yang menjadikan manusia bisa menghambur-hamburkan air
tanpa menyadari bahwa kualitas dan kuantitas air akan menurun jika tidak ada
pengelolaan yang baik dari manusia.
Hutan sebagai pemasok terbesar air semakin hari semakin berkurang
jumlahnya akibat degradasi dan konversi lahan, hal ini lah yang mengakibatkan
kualitas dan kuntitas air semakin menurun. Manfaat hutan sebagai penyedia air
bersih kurang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia, sebagian
besar masyarakat Indonesia hanya memanfaatkan hutan untuk kebutuhan sekarang
saja dan kurang mengetahui bahwa hutan juga sebagai pemenuhan kebutuhan
hidup di masa yang akan datang. Manfaat dari hutan inilah yang kurang diketahui
oleh masayarakat umum dan mengakibatkan penurunan luas kawasan hutan akibat
pembalakan liar dan konversi lahan hutan menjadi lahan non hutan.
Keberadaan hutan sangat dibutuhkan bagi masyarakat, khususnya bagi
masyarakat Desa Buniwangi Kecamatan Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi.
Hutan yang berada di Desa Buniwangi dirasakan sangat berperan penting dalam
pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari. Sumberdaya hutan yang

dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Buniwangi salah satunya adalah kayu bakar,
selain itu dihutan ini terdapat sumber mata air hutan yang dimanfaatkan oleh
masyarakat untuk air minum, mandi, mencuci dan kebutuhan rumah tangga
masyarakat lainnya, akan tetapi sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti
berapa besar nilai manfaat yang diperoleh masyarakat Desa Buniwangi dari
pemanfaatan sumber daya hutan yang ada saat ini, oleh karena itu dibutuhkan
penelitian yang mengkaji tentang nilai dari pemanfaatan sumberdaya hutan di
Desa Buniwangi.

1.2

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis pemanfaatan
sumber daya hutan oleh masyarakat Desa Buniwangi serta menghitung nilai
manfaat sumberdaya hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat di
Desa Buniwangi, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi.
1.3

Manfaat
1. Dapat dijadikan bahan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya
keberadaan hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup dimasa sekarang dan
yang akan datang sehingga terdorong untuk ikut serta dalam menjaga dan
melestarikan hutan.
2. Dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh pihak-pihak yang terkait dalam
merumuskan kebijakan dalam pengelolaan hutan.
3. Dapat dijadikan bahan informasi untuk penelitian selanjutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nilai dan Manfaat Hutan
Menurut Undang-Undang No 41 Tahun 1999 pengertian hutan adalah suatu
kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang
didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan
yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan menurut statusnya terdiri dari hutan
negara dan hutan hak. Hutan negara yang dimanfaatkan oleh desa untuk
kesejahteraan masyarakat desa disebut hutan desa.
Hutan memiliki nilai manfaat yang sangat besar dalam pemenuhan
kebutuhan hidup manusia, baik itu manfaat langsung seperti kayu maupun
manfaat tidak langsung sebagai penyedia air dan jasa lingkungan. Suhendang
(2002) dalam Rachmawati (2008) menyatakan bahwa keseluruhan manfaat yang
dapat diperoleh dari hutan berdasarkan wujudnya dapat dikelompokkan kedalam
barang dan jasa. Keluaran hutan yang berbentuk barang menyatakan keluaran
yang dapat diperoleh dari hutan yang berbentuk benda nyata yang dapat dilihat,
dirasakan, diraba, dan diukur secara langsung, antara lain ; kayu, rotan, getah,
buah, kayu bakar, satwa liar dan air. Keluaran hutan berupa jasa menyatakan
keluaran yang dapat diperoleh dari hutan melalui fungsi hutan yang bersifat maya
(abstrak) antara lain ; kemampuan hutan untuk memberikan pemandangan alam,
menyerap dan menyimpan karbon, dan lain-lain.
Worrel (1961) dalam Girsang (2006) membuat klasifikasi nilai manfaat
hutan berdasarkan atas perilaku pasar pasar atas barang dan jasa yang dinilai
tersebut, yaitu :
1. Nilai manfaat nyata (tangible benefits) adalah manfaat yang dapat
diperoleh dari barang dan jasa yang dapat secara nyata dapat diukur karena
berlaku mekanisme pasar secara baik.
2. Nilai manfaat tidak nyata (intangible benfits) adalah kebalikan dari
manfaat nyata, yaitu nilai manfaat yang tidak dapat diukur secara langsung
karena mekanisme pasar

tidak berjalan, ada faktor-faktor yang

mempengaruhi sehingga terjadi kegagalan pasar (market failure).

James (1991) dalam Widiarso (2005) membuat klasifikasi nilai manfaat
hutan didasarkan atas sumber atau proses manfaat tersebut diperoleh, yaitu :
1. Nilai guna (use value), yaitu seluruh nilai manfaat yang diperoleh dari
penggunaan sumberdaya hutan seperti kayu bulat untuk keperluan industri
pengelolaan kayu, kayu bakar (energi), produksi tanaman pangan seperti
perladangan, kebun, produksi ikan, produksi air untuk berbagai keperluan
seperti kebutuhan air rumah tangga dan pertanian, pembangkit tenaga
listrik, ekowisata.
2. Nilai fungsi (function value), yaitu seluruh nilai manfaat yang diperoleh
dari fungsi ekologis sumberdaya hutan, seperti pengendalian banjir,
pencegahan intrusi air laut, habitat satwa.
3. Nilai atribut (attributes value) , yaitu seluruh nilai yang diperoleh bukam
dari penggunaan materi (hasil peroduksi barang dan jasa), tetapi aspek
kebutuhan psikologis manusia yaitu yang menyangkut budaya masyarakat.

2.2 Sumberdaya Air
Arsyad (1989) dalam Nugroho (2002) menyatakan sumberdaya air (water
resources) memiliki pengertian yang utuh tentang air, mencakup wujud, tempat,
jumlah, kualitas dan karakteristik air dipermukaan bumi.
Air merupakan salah satu sumberdaya yang berharga di bumi, hal ini harus
diperhatikan agar terhindar dari krisis yaitu pengelolaan komponen sumberdaya
air, komponen tersebut terbagi menjadi dua kelompok, yaitu komponen alami dan
komponen artifisial (buatan). Komponen alami sumberdaya air merupakan
komponen yang terbentuk secara alami oleh air yang mengalir dari hulu ke hilir,
contohnya seperti sungai muara rawa, danau, pantai, air tanah dan mata air.
Keseimbangan alam dari komponen tersebut dipengaruhi oleh siklus hidrologi,
kondisi geologi, kondisi wilayah dan kegiatan manusia. Selain komponen alami,
sumberdaya air juga memiliki komponen artifisial berupa bangunan utama dengan
beberapa bangunan pelengkap yang dibuat oleh manusia untuk tujuan tertentu,
salah satu contoh dari komponen artifisial sumberdaya air yaitu waduk (Sjarief
dan Robert 2005 dalam Solihin A 2010).

Kebutuhan sumberdaya air sederhana terdiri dari tiga sektor yaitu :
kebutuhan untuk rumah tangga, kebutuhan untuk industri dan kebutuhan untuk
pertanian (Hatmoko 1993 dalam Sugiarto 1995). Dari sektor pertanian, air
digunakan untuk tanaman, perikanan, dan peternakan. Penggunaan untuk rumah
tangga terdiri atas penggunaan air untuk air minum, memasak, mencuci, mandi
dan lain sebagainya, sedangkan untuk industri diantaranya sebagai bahan mentah,
pendingin, penggelontor kotoran serta penggunaan lainnya dalam proses industri.
Besarnya kebutuhan air bagi masing-masing orang tidak sama dan sangat
tergantung pada beberapa faktor diantaranya tingkat sosial, tingkat pendidikan,
kebiasaan penduduk, letak geografis, dan lain-lain. Kebutuhan dasar air bersih
tiap individu digunakan untuk memenuhi keperluan minum, masak, dan mencuci
peralatan masak, dan lain-lain. Untuk Indonesia besar kebutuhan dasar tersebut
adalah sebagai berikut:
Table 1 Konsumsi rata-rata air bersih (clean water) harian masyarakat Indonesia
Keperluan
Mandi, cuci, kakus
Minum
Masak
Cuci pakaian
Kebersihan rumah
Taman
Cuci kendaraan
Wudlu
Lain-lain
Total

Konsumsi (liter/orang/hari)
12
2
10,7
31,4
11,8
21,1
16,2
21,7
11,6
138,5

Persentase (%)
8,7
1,4
7,7
22,7
8,5
15,2
11,7
15,7
8,4
100

Sumber : (Gupta 1989, dalam Adriyanto 2007)
Berdasarkan sumber atau asalnya, air dibedakan menjadi : 1) air hujan,
terdiri dari air hujan tampungan dan air limpasan, 2) air permukaan, terdiri dari
mata air, air sungai, air danau/situ, air bendungan dan waduk, 3) air tanah, terdiri
dari air tanah dangkal sedang, artesis dan air tanah dalam.
Ketersedian air sekarang ini semakin hari semakin menurun sementara
kebutuhan akan air semakin meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan
penduduk dari tahun ke tahun. Penurunan kualitas dan kuntitas air akan
mengakibatkan permasalahan yang sangat serius karena menyangkut hajat hidup
orang banyak dan makhluk hidup lainnya. Pengelolaan sumberdaya air seharusnya

mengacu pada aspek konservasi, pemanfaatan dan pengendaliannya.
Pemerintah juga telah menyusun sebuah pedoman dalam bentuk UndangUndang No 7 Tahun 2004 yang berisi tentang sumberdaya air pengelolaan dan
pemanfaatannya. UU tersebut secara jelas mengisaratkan pentingnya konservasi
sumberdaya air sebagai antisipasi kerusakan lingkungan, degradasi hutan dan
lahan, serta berbagai bencana alam lainnya.
Menurut ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun
2004 Tentang Sumberdaya Air :
Pasal 28 ayat (1) :”Penetapan peruntukkan pada sumber air sebagaimana
dimaksud dalam pasal 27 ayat (1) pada setiap wilayah sungai dilakukan dengan
memperhatikan : (a) daya dukung sumber air; (b) jumlah dan penyebaran
penduduk serta proyeksi pertumbuhannya ; (c) perhitungan dan proyeksi
kebutuhan sumberdaya air ; dan (d) pemanfaatan air yang sudah ada.”
Pasal 28 ayat (2) : “Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pengawasan
pelaksanaan peruntukkan air sebagaimana dimaksud pada ayat (1)”

2.2.1 Pemanfaatan Sumberdaya Air
Kehidupan diawali dengan air, dan suatu prasyarat bagi kelangsungannya
bahwa air tersedia dalam bentuk cair. Air merupakan pembawa kehidupan, ia
merupakan unsur protoplasma yang utama, satu-satunya bahkan bentuk bahan
dimana fenomena kehidupan diwujudkan. Air sebagai sutu pelarut yang mobile,
adalah pembawa hara dan gas ke sel-sel organisme yang hidup. Pada tanaman ia
sangat diperlukan sebagai pereaksi dalam proses-proses fotosintesis dan hidrolisis
dan dalam mempertahankan turgor sel. Pada hewan ia juga bertindak sebagai agen
pembersih, menghilangkan kotoran dan hasil-hasil sampingan metabolisme. Air
juga penting sekali sebagai moderator iklim dunia (Lee 1988 dalam Solihin 2010).
Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki fungsi penting
bagi hidup dan kehidupan seluruh makhluk hidup, (Kementrian Lingkungan
Hidup 2003) menyatakan kebutuhan air terbesar berdasarkan sektor kegiatan
adalah kebutuhan air untuk pertanian (irigasi), domestik, dan industri. Kebutuhan
air untuk irigasi pada tahun 1990 sebesar 74,9 x 109 m3/tahun dengan perkiraan

peningkatan sebesar 6,7% pertahun. Kebutuhan air untuk keperluan domestik
pada tahun 1990 adalah sebesar 3,1 x 109 m3/tahun dengan proyeksi peningkatan
6,7% pertahun, sedangkan kebutuhan air untuk industri pada tahun 1990 sebesar
0,7 x 109 m3/tahun dengan proyeksi peningkatan 12,5% pertahun.
Kementerian Lingkungan Hidup 2003 menyatakan bahwa secara nasional
sebagian rumah tangga (sekitar 74%) menggunakan air tanah sebagai sumber air
minum, sisanya menggunakan air sungai (3,4%) dan sumber lain (1,4%).
Penggunaan air sumur teringgi adalah di pulau Jawa dan Nusa Tenggara yaitu
sebesar 79% rumah tangga, sedangkan terkecil di pulau Bali sekitar 46,5% rumah
tangga. Di Kalimantan 45% rumah tanggamenggunakan air sungai dan air hujan
sebagai sumber air minum rumah tangga.

2.2.2 Kebijakan Pengelolaan dan Metode Menentukan Harga Air
Menurut Soenarto (1959) dalam Rachmawati (2008) yang dimaksud dengan
pengairan ialah usaha-usaha :
a. Mengalirkan air dari sungai-sungai atau sumber air lain unutk
keperluan pertanian.
b. Membagikan air yang diambil dari sungai-sungai atau sumber air lain
itu secara teratur kepada yang memerlukannya.
c. Membuang sisa air yang telah dipergunakan ke sungai, langsung atau
lewat saluran pembuangan.
Menurut cara-cara pembuatan dan penyelenggaraannya ada 3 macam
pengairan, yaitu : pengairan (desa) sederhana, pengairan teknis dan pengairan
setengah teknis.
Sumber-sumber pengairan :
a. Air permukaan, seperti : sungai, waduk, mata air, danau.
b. Air dalam tanah, seperti : sumur-sumur ladang.
c. Air hujan langsung, seperti : sawah-sawah tadah hujan.
Jenis-jenis mata air berdasarkan pemunculannya dibedakan menjadi empat
jenis, yaitu :

1. Mata air depresi : mata air yang muncul karena permukaan tanahnya
terpotong oleh muka air tanah. Mata air ini banyak dijumpai terutama
di kaki gunung api atau perbukitan. Sistem mata air ini mempunyai
debit bervariasi, berkisar antara 1 liter/detik sampai 10 liter/detik.
2. Mata air kontak : mata air yang muncul pada bidang kontak antara
batuan yang berkelulusan lebih besar dibagian atas dengan batuan
yang berkelulusan kecil dibawahnya. Sistem mata air kontak terjadi
karena suatu lapisan yang permeabel bertemu dengan lapisan yang
impermeabel dibawahnya.
3. Mata air artesis atau patahan : mata air yang muncul dari ruang antar
butir atau celahan yang diapit oleh lapisan kedap air pada bagian atas
dan bawah. Sistem mata airpatahan terjadi pelapisan batu pasir dan
batuan lempung.
4. Mata air rongga/rekahan : mata air yang muncul melalui rongga atau
lubang atau pipa saluran, biasanya pada lava vesikuler atau pada batu
gamping. System mata air rekahan ini memiliki karakteristik yang khas
untuk daerah karst yang terbentuk karena celah rekaha n akibat kekar
dan pelarutan pada batuan gamping menjadi tempat unutk aliran air.
Kebijakan baru pengelolaan sumberdaya air mengindikasikan perlunya
perubahan orientasi pengembangan dan pengelolaan dari supply-side management
strategi kearah demand-side management strategi. Prinsip demand-side
management strategi menekankan pada usaha mempengaruhi perilaku pengguna
(users) dalam memakai air. Adapun prinsip dasar dari demand-side management
strategi adalah (Helmi 2002 dalam Siwi 2006) :
1. Mempertimbanagan

nilai

air

dalam

tindakan-tindakan

yang

hubungan

dengan

biaya

penyediaannya.
2. Mengambil

menghendaki

pengguna

(users/costumer) menghubungkan tingkat pemakaian air mereka
dengan biaya yang harus mereka bayar.

3. Memperlakukan air sebagai satu barang (komoditi) ekonomi bukan
sebagai suatu bentuk palayanan public yang disediakan pemerintah dan
tidak perlu dibayar.
Menurut Johanssen (2000) dalam Siwi (2006) membagi dalam beberapa
metode dalam menentukan harga air irigasi antara lain :
1. Metode Volumetrik
Pada metode ini pemakai membayar sejumlah air yang dipakainya
berdasarkan nilai harga air secara integral ataupun parsial, yang mana
diketahui dari hasil pencatatan jumlah air yang dipakai oleh masingmasing petani setiap musim tanam.
2. Metode Per Unit Area
Pada metode ini, dasar perhitungannya adalah luas garapan usaha tani
yang menggunakan air irigasi. Metode ini banyak digunakan dalam
menentukan taraf air irigasi dihampir semua wilayah irigasi teknis
(Negara berkembang).
3. Metode Output Pricing
Biaya air ditentukan oleh kuantitas output yang dihasilkan dari usaha
tani yang diusahakan dengan menggunakan air tersebut.
4. Metode Tiered Pricing
Suatu multi-rate pricing dimana harga air per unit volume bervariasi
jika volume air yang dikonsumsi melebihi suatu ambang batas tertentu.
Metode harga ini dipakai apabila permintaan air bervariasi secara
periodic (musiman atau harian) dan penwaran air tidak cukup untuk
memenuhi permintaan pada semua waktu yaitu dimana

pada saat

permintaan air tinggi maka harga air sama dengan harga margina cost
dan pada saat permintaan air tinggi maka harga air adalah pada tiered
pricing dan harga mengindikasikan nilai kelangkaan air.
5. Metode Two-Part Tarif
Pada metode ini biaya air terdiri dari dua komponen yaitu biaya tetap
pertahun yang dikenakan untuk hak penggunaan air dan pungutan air
yang didasarkan pada harga marginal yang tetap unutk setiap unit

volume air yang dikonsumsi.
6. Metode Betterment Levy
Dalam metode ini biaya air dipungut per area dimana nilainya
didasarkan atas peningkatan nilai lahan akibat adanya irigasi.
7. Metode Water Markets Pricing (harga dengan pasar air)
Metode ini berdasarkan asumsi dasar bahwa pasar dibawah kondisi
tertentu mencapai firs best efisiensi apabila memenuhi : (a) persaingan,
(b) agen memiliki informasi sepenuhnya dalam beroperasi dibawah
kondisi tertentu, (c) tidak ada eksternalitas, (d) tidak ada increasing
return to scale pada produksi.

2.3 Karakteristik Masyarakat Desa Sekitar Hutan
Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No 691/Kpts.II/1992, yang dimaksud
dengan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan adalah kelompok-kelompok
masyarakat baik yang berada dalama hutan maupun di pedesaan sekitar hutan
(Ardiansyah 2002).
Kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah dalam melestarikan hutan harus
selalu memperhatikan keberadaan penduduk disekitar dan di dalam hutan. Mereka
memanfaatkan segala sumber penghidupan yang ada di dalam hutan untuk
mempertahankan eksistensi kelompoknya yang masih terbelakang yang tidak
pernah mengenal keadaan diluar batas wilayahnya. Dalam kondisi sosial ekonomi
yang sederhana, mereka secara alamiah adalah penjaga dan pelestari alam
lingkungannya. Rakyat di sekitar hutan atau di dalam enclave hutan tidak
dirugikan oleh larangan mengambil hasil hutan untuk kebutuhan hidup seharihari. Sebaliknya masyarakat dibina kesadarannya sebagai penjaga hutan
konservasi dengan imbalan pada saat dan musim tertentu dapat menikmati hasil
hutan seperti getah, rotan, buah-buahan, ranting-ranting kayu mati, dan berbagai
jenis tumbuhan bawah. Diusahakan pemungutan hasil hutan sebatas enclave dan
zona penyanggadan areal yang telah ditunjuk (Admawidjaja 1991 dalam
Rachmawati 2008).
Sebagian besar masyarakat desa sekitar hutan bermata pencaharian sebagai

petani dengan lahan yang sempit atau bahkan tidak memiliki lahan. Sudjatmoko
(1980) dalam Kartasubrata (2003) mengemukakan bahwa struktur masyarakat
pedasaan di Jawa menunjukan pembagian dalam 3 golongan, yaitu :
1. Golongan pertama adalah mereka yang memiliki tanah cukup besar
untuk menjamin kehidupan yang cukup bagi keluarganya.
2. Golongan kedua terdiri dari petani yang memiliki tanah yang luasnya
atau kualitasnya margin, sehingga kehidupan keluarganya sangat
tergantung dari pekerjaan sampingan, selain iklim dan factor pasar.
3. Golongan ketiga yang semakin lama semakin besar jumlahya baik di
Indonesia maupun di Asia pada umumnya ialah mereka yang sama
sekali tidak memiliki tanah.

2.4 Interaksi Masyarakat Desa Sekitar Hutan dengan Sumberdaya Hutan
Manan (1998) dalam Rachmawati (2008) menyatakan bahwa masyarakat
manusia sebagai bagian dari makhluk hidup memegang peranan yang menentukan
terhadap kelestarian dan keseimbangan ekosistem. Sebuah ekosistem mencakup
komponen makhluk hidup (manuasia, hewan, jasad renik, tumbuh-tumbuhan) dan
lingkungan yang tidak hidup (udara, energi matahari, cahaya, air, tanah, angina,
mineral dan lain sebagainya) yang keduanya saling berinteraksi dan berhubungan
timbal balik.
Keterkaitan (interaksi) antara masyarakat dengan hutan telah berlangsung
cukup lama karena hutan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Keberadaan hutan juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk bekerja
terutama dalam hal pembukaan lahan, penebangan kayu, pembersihan lahan,
sehingga memperolah upah (pendapatan) yang lumayan. Selain itu, bagi
masyarakat yang hidupnya bergantung pada sumber-sumber dasar yang terdapat
di hutan seperti kayu bakar dan hasil hutan lainnya akan memberikan nilai tambah
terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan (Mangandar
2000).
Soekmadi (1987) dalam Mangandar (2000) menyatakan bahwa ada
beberapa penyebab terjadinya keterkaitan (interaksi) yang cukup penting antara

manusia dengan sumberdaya hutan, yaitu :
1. Tingkat pendapatan masyarakat di sekitar hutan rendah.
2. Tingkat pendidikan yang rendah.
3. Rata-rata

pemilikan

lahan

yang

sempit

dan

kurang

intensif

pengelolaannya.
4. Laju pertumbuhan penduduk yang pesat dengan kepadatan yang cukup
tinggi.

2.5 Persepsi
Persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi
untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan
(penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya). Sebaliknya, alat untuk
memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Persepsi dan atribusi ini sifatnya
memang sangat subjektif, yaitu tergantung sekali pada subjek yang melaksanakan
persepsi dan atribusi itu. Menurut Nurdin (2003) dalam Rachmawati (2008),
persepsi yang dimiliki seseorang berbeda karena pengaruh berbagai factor mulai
dari pengalaman, latar belakang, lingkungan dimana dia tinggal, juga motifasi dan
lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang akan menyebabkan dalam
menginterpretasikan sesuatu mempunyai perbedaan pendapat.
Man (1969) diacu dalam Irma (2010) meyatakan sekalipun diasumsikan
bahwa sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan
bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap yang menerima pengalaman,
orang akan melakukan tanggapan atau penghayatan biasanya tidak melepaskan
pengalaman yang sedang dialaminya dari pengalaman-pengalaman lain yang
terdahulu, yang relevan. Bagaimana individu bereaksi terhadap pengalamannya
yang sekarang jarang lepas dari penghayatannya terhadap pengalaman masa
lalunya.

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Kerangka Pemikiran
Keberadaan hutan dan masyarakat sekitar hutan secara langsung atau tidak

langsung sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat yang
ada di kawasan hutan dan sekitar hutan tersebut. Masayarakat Desa Buniwangi
sangat menggantungkan hidupnya terhadap sumberdaya hutan untuk mencukupi
kebutuhan hidup sehari-hari. Hasil hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat
dibedakan menjadi dua, yaitu kayu dan non kayu. Kayu-kayuan yang
dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu berupa kayu bakar yang digunakan untuk
keperluan memasak, sedangkan hasil hutan non kayu yang dimanfaatkan
masyarakat berupa air yang digunakan untuk minum, mandi, mencuci dan
keperluan rumah tangga lainnya. Manfaat-manfaat hutan tersebut secara langsung
dan tidak langsung sangat berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan hidup
sehari-hari dan berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat di Desa Buniwangi,
yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Pemanfataan sumberdaya hutan oleh masyarakat sekitar Desa Buniwangi secara
skematis seperti pada gambar 1.
Sumber Daya
Hutan

Kayu

Non Kayu

Kayu Bakar

Air

Pemanfaatan SDH oleh Masyarakat
Kontribusi SDH Terhadap Pendapatan Masyarakat
Kesejahteraan Masyarakat

Gambar 1 Kerangka pemikiran metodologi penelitian.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakasanakan di Desa Buniwangi, Kecamatan Pelabuhan
Ratu, Kabupaten Sukabumi. Waktu pelaksanaan penelitian yaitu dari bulan Mei
sampai Juni 2011.

3.3 Objek Penelitian dan alat
Objek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berada disekitar hutan
yang memanfaatkan sumber daya hutan di Desa Buniwangi untuk kebutuhan
hidup sehari-hari. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Kuesioner digunakan untuk media mengumpulkan data.
2. Kamera digital digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan penelitian.

3.4 Pengumpulan Data
3.4.1 Jenis Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan
sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung masyarakat desa
yang tinggal di sekitar hutan sebagai responden. Data primer terdiri dari :
1. Data karakterisitik masyarakat sekitar hutan: nama, jenis kelamin, umur,
jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, dan pekerjaan.
2. Jenis-jenis sumber daya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat.
3. Jumlah sumber daya hutan yang diperoleh (diambil) masyarakat (m3, kg,
ikat, karung, batang).
4. Data harga pasar sumber daya hutan yang diambil masyarakat saat itu.
5. Data harga air per m3 berdasarkan tarif PDAM.
6. Pendapatan masyarakat.
7. Pengeluaran rumah tangga : sandang, pangan, papan, dan lain-lain.
Data sekunder adalah data yang menyangkut keadaan lingkungan baik fisik,
sosial, ekonomi masyarakat dan data lain yang berhubungan dengan objek
penelitian, baik yang tersedia ditingkat desa, kecamatan maupun instansi-instansi
terkait lainya. Data sekunder meliputi :

1. Keadaan umum lokasi penelitian yang meliputi letak dan keadaan fisik
lingkungan dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat.
2. Keadaan penduduk: mata pencaharian, jumlah penduduk, kesehatan,
komunikasi dan lainnya.

3.4.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data ini terdiri dari :
1. Studi literatur, dilakukan untuk mendapatkan data mengenai keadaan
umum lokasi penelitian, iklim, keadaan tanah, curah hujan, jenis
penutupan tanah, topografi, kelerengan lahan serta jumlah penduduk
secara keseluruhan, tipe dan luasan hutan yang dikembangkan serta hasil
produksinya dan penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya.
Dilakukan dengan mempelajari arsip-arsip yang ada di instansi terkait.
2. Teknik observasi, dengan melakukan pengamatan langsung terhadap
objek yang diteliti pada rumah tangga masyarakat sekitar hutan maupun
lapangan.
3. Teknik wawancara, wawancara dilakukan secara terstruktur dan bebas.
Secara

terstruktur

dilakukan

dengan

menggunakan

daftar

pertanyaan/kuisioner yang telah disiapkan, sedangkan wawancara bebas
dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan/kuisioner mengenai
hal-hal yang masih berhubungan dengan penelitian.

3.5 Metode Penenetuan Responden (objek penelitian)
Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah
responden sebanyak 60 responden, tujuannya untuk memperoleh responden yang
memenuhi kriteria-kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian. Objek yang
diambil adalah masyarakat yang berada disekitar hutan yang memanfaatkan
sumber daya hutan di Desa Buniwangi untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

3.6 Metode Penilaian Manfaat Ekonomi Hasil Pemanfaatan Sumberdaya
Hutan
Metode ini dilakukan untuk melihat pemanfaatan hasil sumberdaya hutan
oleh masyarakat. Penilaian dilakukan berdasarkan 3 cara, yaitu :
1. Metode penilaian berdasarkan harga pasar
Metode ini digunakan untuk melihat manfaat ekonomi langsung yang
dihasilkan dari hutan yang dijual di pasar dengan pendekatan harga pasar
yang berlaku.
2. Metode penilaian berdasarkan harga barang pengganti
Metode ini digunakan sebagai pendekatan apabila metode pertama tidak
dapat digunakan dengan didasarkan atas harga barang pengganti (harga
subtitusi) atau nilai banding antara barang yang bersangkutan dengan
barang lain yang memiliki harga pasar.
3. Metode penilaian berdasarkan biaya pengadaan dan perbaikan
Metode ini digunakan untuk menghitung biaya yang dikeluarkan
masyarakat untuk memanfaatkan dan mempertahankan barang dan jasa
yang dikontribusikan oleh kawasan hutan.

3.7 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data yang diperoleh dilakukan dengan melakukan metode
volumetric yaitu melakukan perhitungan jumlah pemanfaatan kayu bakar dan air
dalam rumah tangga kemudian diaplikasikan dalam bentuk tabulasi dan gambar
untuk mendapatkan gambaran tentang banyaknya jumlah anggota keluarga dalam
rumah tangga responden, golongan penguasaan lahan dan variabel-variabel
lainnya yang kemudian dianalisis.
Analisis data dilakukan dengan mencari hubungan variabel-variabel yang
terkait dengan banyaknya konsumsi dan pemanfaatan sumberdaya dalam suatu
rumah tangga. Analisis yang digunakan yaitu berdasarkan perhitugan:
1. Nilai manfaat sumber daya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat
dihitung mrnggunakan rumus :
HKbi = |Vi x Hki x t|

HKbi = nilai SDH yang diambil masyarakat dari hutan dalam satu bulan.
Vi

= jumlah SDH yang diperoleh masyarakat dalam satu kali
pengambilan (ikat, kg, m3, batang)

Hki

= harga manfaat sumber daya hutan (Rp/ikat, Rp/kg, Rp/batang)

t

= frekuesi pengambilan manfaat SDH dalam satu bulan.

2. Pendapatan rumah tangga
Rumus yang digunakan untuk perhitungan analisis pendapatan ini
adalah sebagai berikut :
dt = dp + dn
Dimana :
dt : pendapatan total
dp : pendapatan dari sektor pertanian
dn : pendapatan dari sektor non pertanian

3. Jumlah konsumsi air dalam rumah tangga
Perhitungan jumlah konsumsi air dilakukan dengan menghitung
banyaknya jumlah air dalam satuan ember yang digunakan oleh rumah
tangga (KK) untuk kebutuhan rumah tangga (MCK) setelah diketahui
jumlah air dalam satu ember yang digunakan, maka hasilnya
dikonversikan dalam m3.
Perhitungan sebagai berikut :
1 ember = 10 liter air
1 liter air = 0,001 m3
Jumlah konsumsi air (m3) =

Jumlah total air yang dipakai untuk
kebutuhan rumah tangga

4. Nilai air
4.1.Nilai air menurut harga PDAM
Perhitungan ini dilakukan berdasarkan tarif yang sudah ditentukan
oleh PDAM di daerah penelitian. Rumus yang digunakan adalah
sebagai berikut :
Harga Air (Rp) = Jumlah konsumsi air (m3) x harga PDAM (Rp)

4.2 Nilai air menurut retribusi air desa
Perhitungan ini dilakukan berdasrkan penarikan retribusi desa yang
dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Rumus yang digunakan
adalah sebagai berikut :
Harga air (Rp) = Harga retribusi air desa (Rp)

4.3 Nilai penghematan air
Nilai penghematan air = Nilai air berdasarkan harga PDAM – biaya
pengadaan dan perbaikan sumber air

5. Kontribusi sumberdaya hutan terhadap pendapatan
% Penghematan =

Nilai penghematan SDH (Rp/bulan)
Jumlah pendapatan (Rp/bulan)

x 100 %

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Letak dan Iklim
Kondisi umum Desa Buniwangi diperoleh dari dokumen profil Desa
Buniwangi tahun 2011. Desa Buniwangi merupakan bagian dari Kecamatan
Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Desa ini terletak sekitar
6 km di timur laut kota Palabuhan Ratu. Desa ini dikelilingi oleh perbukitan dan
hutan. Desa Buniwangi memiliki ketinggian tempat sekitar 400 m dpl, dengan
curah hujan tahunan antara 2500 – 4000 mm dan suhu udara rata-rata 23o C.
Batas wilayah Desa Buniwangi secara administratif adalah sebagai
berikut:
1. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Gandasoli.
2. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Cikadu.
3. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Citepus.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Cibodas.
Secara administrasi pemerintahan, Buniwangi terdiri dari 4 dusun yang
terbagi lagi menjadi 8 RW (rukun warga) dan 54 RT (rukun tetangga).
Permukimannya terdiri dari sekitar 12 kampung; di antaranya adalah kampungkampung Babakan Astana, Babakan Pasantren, Babakan Sirna, Babakan Tipar,
Cibanteng, Cimapag, Citapen, Datar Ulen, Nanggoh, Pasir Geulis, dan Pasir
Kadu, selain dari pusat Desa Buniwangi itu sendiri.

4.2 Luas Wilayah Menurut Penggunaan
Desa Buniwangi memiliki luas wilayah sebesar 2.515,895 ha. Luas
wilayah tersebut dikelola untuk perladangan (1.165,9 ha); lahan perkebunan
negara (138,040 ha); perkebunan swasta (179,640 ha); hutan rakyat (88,785 ha);
lahan persawahan (42 ha); serta lahan kawasan hutan negara seluas 739,135 ha
berupa hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani
KPH Sukabumi

4.3 Potensi Sumber Daya Manusia
Desa Buniwangi memiliki jumlah penduduk 9.454 orang dengan jumlah
laki-laki sebanyak 4.798 orang dan perempuan 4.656 orang. Kepala keluarga di
Desa ini berjumlah 2.046 KK.
Desa Buniwangi tergolong masih sederhana dalam hal mata pencaharian
pokok. Mata pencaharian penduduk sebagai buruh tani sebanyak 1.300 orang,
sebagai pedagang 1.091 orang, 252 orang sebagai petani, 131 orang dalam
pertukangan, dan 42 orang pegawai negeri sipil.
Tingkat pendidikan di Desa Buniwangi dapat dikatakan masih rendah
berdasarkan tingkat pendidikan sebagian besar penduduk Desa Buniwangi adalah
tamatan sekolah dasar (SD), sebanyak 2.359 orang dari total seluruhnya 5.955
orang.

4.4 Kondisi Hutan Cirenghas
Hutan Cirenghas mempunyai luasan yang tidak terlalu besar, yaitu kurang
dari 5 Ha. Pada tahun 1998 - 2000 terjadi penjarahan kayu secara besar-besaran
oleh masyarakat desa di hutan milik negara disebabkan oleh pihak-pihak tertentu
yang memanfaatkan kondisi politik negara pada saat itu. masyarakat Desa
Buniwangi merasakan dampak dari penggundulan hutan-hutan tersebut setelah
beberapa tahun terjadi penjarahan, salah satu dampaknya adalah sulitnya air bersih
dari hutan. Setelah dilakukan musyawarah oleh beberapa tokoh masyarakat, aparat
desa serta lembaga swadaya masyarakat maka mulai dilakukan penanaman di
Desa Buniwangi. Pohon yang ditanam berupa pohon-pohon yang mempunyai
daur lama dan berfungsi sebagai penyerap dan penahan air. Diatara pohon-pohon
tersebut terdapat juga pohon buah-buahan yang sengaja di tanam oleh beberapa
tokoh masyarakat seperti duren dan duku. Selain itu juga banyak ditanam jenis
bambu-bambuan yang menurut masyarakat desa pohon bambu ini sangat berguna
dalam menahan dan menyimpan air hutan.
Masyarakat Desa Buniwangi memanfaatkan sumberdaya hutan berupa kayu
bakar dan air hutan,sedangkan kayu bulat, getah, buah-buahan dan palawija
diperoleh dari kawasan sekitar hutan yang merupakan kawasan lahan milik

pribadi warga Desa Buniwangi, hal ini dikarenakan masyarakat desa sudah sadar
akan pentingnya hutan yang berada dikawasan Desa Buniwangi. Sebagian besar
masyarakat hanya memanfaatkan air dan sebagian kayu bakar dari hutan desa
yang ada.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Masyarakat Desa Hutan
Gambaran mengenai karakteristik masyarakat sekitar hutan di Desa
Buniwangi dilakukan dengan metode wawancara terhadap responden. Jumlah
responden yang di ambil adalah 60 responden dari beberapa dusun yang letaknya
berada disekitar hutan Cirenghas Desa Buniwangi. Data dari responden yang
dikumpulkan adalah : identitas, umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah
anggota keluarga, luas kepemilikan lahan, pendapatan rumah tangga, pengeluaran
rumah tangga dan sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar
hutan.

5.1.1 Umur Responden
Berdasarkan data yang dikumpulkan, umur responden termuda adalah 25
tahun, tertua adalah 80 tahun dan rata-ratanya adalah 48 tahun, sehingga
menunjukan bahwa responden di Desa Buniwangi termasuk dalam kategori umur
produktif dalam melakukan berbagai pekerjaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Bakir dan Maning (1982) dalam Widiarso (2005) yang menyatakan bahwa umur
produktif seseorang di negara berkembang adalah berkisar antara 15–55 tahun.
Data mengenai umur responden disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2 Persentase responden berdasarkan kelompok umur
Kelas umur (tahun)
20 – 29
30 – 39
40 – 49
50 – 59
60 – 69
≥ 70
Total

Jumlah responden (orang)
4
19
9
16
9
3
60

Persentase (%)
6,66
31,67
15,00
26,67
15,00
5,00
100,00

5.1.2 Pendidikan
Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan terakhir yang pernah
ditempuh oleh responden di Desa Buniwangi. Tingkat pendidikan masyarakat di
Desa Buniwangi masih tergolong rendah, hal ini diketahui dari 43,33% responden

tidak tamat sekolah SD, 33,33% responden hanya bersekolah pada tingkat SD dan
tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, dan hanya 5%
responden yang pernah bersekolah di tingkat perguruan tinggi dan responden
tersebut merupakan pendatang kemudian menetap di Desa Buniwangi (Tabel 3).
Tabel 3 Persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan
Pendidikan
Tidak tamat SD
SD
SMP
SMA
PT
Total

Jumlah responden (orang)
26
20
7
54
3
60

Persentase (%)
43,33
33,33
11.67
6,67
5,00
100,00

Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat dalam
menganilis dan memanfaatkan peluang-peluang untuk meningkatkan penghasilan
keluarga. Tingkat pendidikan juga dapat menjadi indikator seseorang dalam status
sosial di masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendidikannya maka keberadaannya
semakin dihargai. Tidak sedikit dari responden yang merasa kurang percaya diri
ketika ditanya tentang pendidikan responden itu sendiri.
Birgantoro dan Nurrochmat (2007) menyatakan bahwa tingkat pendidikan
masyarakat juga dapat berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan sumberdaya
hutan. Hal ini terkait dengan ilmu pengetahun yang dimiliki, penguasaan
teknologi, keterampilan, dan informasi pasar yang diperoleh. Tingkat pendidikan
yang rendah, penguasaan teknologi dan keterampilan yang terbatas, serta
kurangnya informasi pasar menyebabkan pemanfaatan sumberdaya hutan
terutama untuk jenis-jenis komersil menjadi tidak terkendali. Hal ini akan
berdampak negatif terhadap kelestarian sumberdaya hutan tersebut. Terbatasnya
teknologi dan keterampilan yang dimiliki menyebabkan rendahnya kemampuan
untuk menghasilkan produk baru/produk olahan yang mempunyai nilai ekonomi
lebih tinggi. Kurangnya informasi pasar yang dimiliki menyebabkan terjadinya
eksploitasi terhadap jenis-jenis sumberdaya hutan tertentu. Akan tetapi pada kasus
di Desa Buniwangi tingkat pendidikan tidak mempengaruhi tingkat pemanfaatan
sumberdaya hutan seperti pada pengambilan kayu bakar, pengambilan kayu bakar

dari hutan hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur saja tdak untuk diperjualbelikan, jika kayu bakar dirasa sudah cukup untuk persediaan dapur maka tidak
dilakukan lagi pengambilan kayu bakar tersebut.

5.1.3 Pekerjaan
Masyarakat Desa Buniwangi sebagian besar bermatapencaharian sebagai
petani dan buruh. Dari data yang dikumpulkan sebanyak 30% responden bekerja
sebagai petani dan sebanyak 16,67% yang bekerja sebagai buruh tani. 56,33%
responden lainnya bekerja sebagai pedagang, ojeg, wirausaha,buruh bangunan dan
lain-lain (Tabel 4).
Tabel 4 Persentase responden berdasarkan pekerja utama
Pekerjaan
Tani
Guru
Wira Usaha
Aparat Desa
Pedagang
Pertukangan
Ojeg
Buruh Tani
Buruh Sadap
Buruh
Supir
Total

Jumlah Responden
(orang)
18
3
7
3
4
2
3
10
3
6
1
60

Persentase (%)
30,00
5,00
11,67
5,00
6,67
3,32
5,00
16,67
5,00
10,00
1,67
100,00

Selain mempunyai mata pencaharian utama sebagai sumber pendapatan
utama keluarga, masyarakat Desa Buniwangi mempunyai pekerjaan sampingan
untuk memperoleh penghasilan tambahan. Dari data yang dikumpulkan sebanyak
55% dari total responden mempunyai pekerjaan sampingan (tabel 5). Sebagian
besar pekerjaan sampingan yang dilakukan adalah sebagai petani dan buruh tani,
pekerjaan sampingan dilakukan sebagai penambahan pendapatan keluarga.
Semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan maka semakin besar pendapatan
keluarga yang diterima. Nelson (1955:15) dalam Zulaifah (2006) dalam teorinya
menyebutkan bahwa walaupun dalam lingkungan masyarakat pedesaan telah

muncul berbagai macam jenis mata pencaharian sebagaimana data yang sering
disajikan dalam ilmu demografi, akan tetapi sektor pertanian tetap menjadi
karakteristik khas kehidupan di pedesaan.
Tabel 5 Persentase responden berdasarkan pekerjaan sampingan
Pekerjaan Sampingan
Memiliki pekerjaan sampingan
Tidak memiliki pekerjaan sampingan
Total

Jumlah responden
(orang)
33

Persentase (%)
55,00

27

45,00

60

100,00

5.1.4 Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah anggota keluarga yang dimaksud adalah anggota keluarga yang
berada dan tinggal dirumah Responden, sehingga anggota keluarga yang berada
atau bekerja di luar kota tidak dimasukkan kedalam angota keluarga responden.
Hal ini didasarkan atas perbandingan antara jumlah pemanfaatan hail hutan dan
kawasan sekitar hutan dengan jumlah anggota keluarga yang memanfaatkan pada
saat sekarang.
Dari data yang dikumpulkan, sebanyak 70% responden mempunyai jumlah
anggota keluarga 3-4 orang (Tabel 6). Banyak sedikitnya jumlah anggota keluarga
berpengaruh terhadap pemanfaatan terhadap sumberdaya hutan yang ada.
Semakin banyak anggota keluarga maka semakin besar keluarga tersebut
memanfaatkan sumberdaya hutan dan kawasan sekitar hutan. Banyaknya anggota
keluarga juga berpengaruh terhadap jumlah pendapatan dan pengeluaran rumah
tangga masyarakat. hal ini terkait dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan
untuk konsumsi rumah tangga.
Tabel 6 Persentase responden berdasarkan jumlah anggota keluarga
Jumlah anggota keluarga (orang)
1–2
3–4
>4
Total

Jumlah responden (orang)
8
42
10
60

Persentase (%)
13,33
70,00
16,67
100,00

5.1.5 Luas Kepemilikan Lahan Milik
Sebagian besar masyarakat desa sekitar hutan bermatapencaharian sebagai
petani dengan lahan yang sempit atau bahkan tidak memiliki lahan. Sudjatmoko
(1980) dalam Kartasubrata (2003) mengemukakan bahwa struktur masyarakat
pedasaan di Jawa menunjukan pembagian dalam 3 golongan, yaitu :
4. Golongan pertama adalah mereka yang memiliki tanah cukup besar
untuk menjamin kehidupan yang cukup bagi keluarganya.
5. Golongan kedua terdiri dari petani yang memiliki tanah yang luasnya
atau kualitasnya margin, sehingga kehidupan keluarganya sangat
tergantung dari pekerjaan sampingan, selain iklim dan faktor pasar.
6. Golongan ketiga yang semakin lama semakin besar jumlahya baik di
Indonesia maupun di Asia pada umumnya ialah mereka yang sama
sekali tidak memiliki tanah.
Masyarakat Desa Buniwangi mempunyai lahan milik yang sebagian besar
didapatkan dari warisan turun temurun. Lahan milik yang dimaksudkan meliputi :
rumah, sawah, kebun dan kolam. Tabel 7 menyajikan data kepemilikan lahan
masyarakat Desa Buniwangi.
Tabel 7 Persentase responden berdasarkan kepemilikan lahan.
Luas kepemilikan lahan (Ha)

Jumlah responden (orang)

0 – 0,25
0,25 – 0,5
> 0,5
Total

41
12
7
60

Persentase (%)
68,33
20,00
11,67
100,00

Kepemilikan lahan ini sangat berpengaruh terhadap jumlah pendapatan
rumah tangga di sektor pertanian. Semakin besar lahan yang dimiliki maka
semakin besar pula pendapatan yang diterima oleh pemiliknya. Sebagian besar
masyarakan desa mamanfaatkan lahan milik

sebagai areal persawahan dan

perladangan. Kebutuhan pangan bagi keluarga merupakan motivasi utama
masyarakat dalam pengelolaannya lahan miliknya.

5.2 Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat
Pendapatan rumah tangga yang dimaksud yaitu besarnya pendapatan yang
diterima oleh anggota keluarga dalam satu rumah tangga dari pekerjaan pokok
ditambah pekerjaan sampingan setiap bulan dalam satuan rupiah. Data mengenai
pendapatan rumah tangga bermanfaat untuk mengetahui kecukupan suatu rumah
tangga dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Pendapatan rumah tangga masyarakat Desa Buniwangi berasal dari sektor
pertanian dan non pertanian. Pertanian merupakan sektor yang paling dominan
dalam pemenuhan kebutuhan pokok rumah tangga masyarakat. Kebutuhan pangan
merupakan kebutuhan yang paling utama dalam rumah tangga oleh karena itu
masyarakat Desa Buniwangi sebagian besar mengusahakan lahan sawah (padi)
untuk dikonsumsi oleh keluarga sendiri. Selain dari persawahan pendapatan dari
sekor pertanian juga berasal dari kebun campuran, hasil dari kebun campuran
berupa kayu bulat, buah, palawija dan getah karet (Tabel 8).
Tabel 8 Sumber dan jumlah pendapatan rata-rata rumah tangga
Sumber pendapatan rumah
tangga
Pertanian

NonPertanian

Jumlah
responden
(orang)

1. Sawah padi
2. Kebun
a. Kayu
b.Buah dan
palawija
c. Getah
karet

40

PNS, warung,
ojeg, buruh,dll.

20

Total

Jumlah
pendapatan
(Rp/bulan/KK)

Rata-rata
pendapatan
(Rp/bulan/KK)

Persentase
(%)

241.750
297.037

933.106

52,46

845.694

47,54

1.778.790

100,00

138.986
255.333

60

845.694

Tabel 8 memberikan informasi bahwa sumber pendapatan rata-rata rumah
tangga di Desa Buniwangi sebagian besar berasal dari sektor pertanian dengan
persentase penghasilan 52,46% dari total penghasilan seluruh responden,
sedangkan untuk sektor non-pertanian 47,54% dari total penghasilan rumah
tangga. Sektor pertanian terdiri dari sawah dan kebun campuran milik responden,
sedangkan untuk sektor non-pertanian pendapatan responden berasal dari upah

buruh, perdagangan ikan, warung, PNS, aparat desa dan lain sebagainya yang
tidak berhubungan dengan kegiatan pertanian.

5.3 Pengeluaran Rumah Tangga Masyarakat
Pengeluaran rumah tangga merupakan biaya yang dikeluarkan oleh suatu
rumah tangga untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Jenis pengeluaran ini
terdiri dari : sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, telekomunikasi,
listrik, transportasi dan pajak (Tabel 9).
Tabel 9 Jenis dan jumlah pengeluaran rata-rata rumah tangga
Jenis pengeluaran
Sandang
Papan
Pangan
Pendidikan
Kesehatan
Telekomunikasi
Listrik
Transportasi
Pajak
Total

Jumlah pengeluaran (Rp/bulan)
60.583
15.764
639.583
208.750
38.702
34.550
36.168
15.000
4.863
1.053.963

Tabel 9 memberikan informasi bahwa pengeluaran rumah tangga untuk jenis
kebutuhan pangan merupakan pengeluaran tertinggi rumah tangga dengan ratarata jumlah pengeluaran sebanyak Rp 639.583/bulan, dan pengeluaran terkecil
untuk jenis pajak dengan rata-rata pengeluaran tiap rumah tangga adalah Rp
4.863/bulan. Jenis-jenis kebutuhan keluarga ini dapat disesuaikan dengan kondisi
perekonomian masing-masing rumah tangga. Rumah tangga dengan kondisi
perekonomian yang kecil akan menyesuaikan pengeluaran rumah tangga
sedemikian rupa agar kebutuhan utama tetap terpenuhi dan mengesampingkan
kebutuhan-kebutuhan lain yang dianggap kurang perlu.
Besar kecilnya pengeluaran suatu rumah tangga juga tergantung pada jumlah
anggota keluarga, semakin banyak jumlah anggota keluarga maka jumlah
pengeluarannya pun semakin besar. Jumlah anggota keluarga pada dasaranya
mempengaruhi jumlah pengeluaran untuk jenis kebutuhan pangan, sandang,
pendidikan dan kesehatan.

5.4 Pemanfaatan Sumberdaya Hutan
5.4.1 Kayu Bakar
Kayu bakar merupakan salah satu sumberdaya hutan yang banyak
dimanfaakan oleh masyarakat Desa Buniwangi. Sebagian besar masyarakat
memperolehnya dari hutan desa dan kebun milik masyarakat. Kayu bakar
digunakan sebagai sumber energi untuk kebutuhan memasak di dapur. Tabel 10
menyajikan data jumlah pemanfaatan kayu bakar oleh masyarakat Desa
Buniwangi.
Tabel 10 Pemanfaatan kayu bakar oleh masyarakat
Jumlah
anggota
keluarga
1–2
3–4
>4
Total

Jumlah
KK (N)
8
42
10
60

Jumlah konsumsi
kayu bakar
(ikat/bulan)
74
391
99
564

Rata-rata konsumsi
kayu bakar (ikat/bulan)
9,25
9,30
9,90
9,40

persentase (%)
13,12
69,33
17,55
100,00

Tabel 10 memberikan informasi bahwa jumlah anggota keluarga
mempengaruhi tingkat pemanfaatan kayu bakar. Keluarga yang mempunyai
jumlah anggota 1–2 orang rata-rata mengkonsumsi kayu bakar sebanyak 9,25
ikat/bulan, keluarga yang mempunyai jumlah anggota 3–4 orang mengkonsumsi
kayu bakar rata-rata sebanyak 9,30 ikat/bulan, sedangkan keluarga yang
mempunyai jumlah anggota lebih dari 4 orang rata-rata mengkonsumsi kayu bakar
sebanyak 9,90 ikat/bulan. Jumlah anggota keluarga mempengaruhi tingkat
konsumsi kayu bakar, semakin banyak jumlah anggota keluarga maka konsumsi
kayu kayu bakar juga semakin besar, hal ini dikarenakan bahwa semakin banyak
anggota keluarga maka kebutuhan akan pangan semakin meningkat yang
mengakibatkan intensitas kegiatan rumah tangga untuk memasak yang
memerlukan kayu bakar semakin tinggi.
Pekerjaan pengambilan kayu bakar dilakukan oleh pria dengan frekuesi
pengambilan rata-rata 3–4 kali pengambilan dalam satu bulan. Dalam
pengambilan kayu bakar tidak memerlukan waktu khusus, responden melakukan
pengambilan kayu bakar ini pada saat pulang dari ladang karena letak hutan desa
dengan ladang masyarakat berdekatan. Kayu bakar diambil dengan cara

memungut ranting-ranting yang sudah jatuh atau memotong bagian batang pohon
yang sudah rapuh atau mati. Jenis pohon yang dijadikan kayu bakar paling
dominan adalah jenis sengon, hal ini dikarenakan pohon jenis sengon paling
banyak ditanam di lahan-lahan milik masyarakat desa. Selain itu juga terdapat
jenis karet, mahoni, jati dan pohon buah seperti durian, rambutan, dan lainnya
yang digunakan sebagai kayu bakar tetapi jumlahnya hanya sedikit (Gambar 2).

Gambar 2. Kayu bakar yang dimanfaatkan masyarakat.
Konsumsi kayu bakar oleh masyarakat Desa Buniwangi berasal dari hutan
dan kebun masyarakat di sekitar hutan. Jumlah konsumsi kayu bakar dari hutan
hanya 38,65% dari total konsumsi bakar yang dikonsumsi rumah tangga, lebih
dari 60% kayu bakar didapatkan dari kebun disekitar hutan, hal ini dikarenakan
jumlah ketersediaan kayu bakar yang ada di kebun lebih banyak daripada di hutan
serta lokasi kebun yang dekat dengan tempat tinggal masyarakat (Tabel 11).
Tabel 11 Konsumsi kayu bakar berdasarkan lokasi pengambilan
Lokasi pengambilan

Jumlah konsumsi (ikat/bulan)

Kayu bakar dari hutan
Kayu bakar dari luar hutan
Total konsumsi kayu bakar

218
346
564

Persentase (%)
38,65
61,35
100,00

Kayu bakar termasuk energi yang paling konvensional dan untuk
memanfaatkannya tidak memerlukan teknologi pengolahan. Walaupun produksi
dan konsumsi kayu bakar cukup tinggi, tetapi sebagian besar bukan berasal dari
kawasan hutan (Rostiwati et al.2007).
Kayu bakar yang dikonsumsi oleh rumah tangga mempunyai nilai yang
didasarkan pada harga kayu bakar di Desa Buniwangi. Harga kayu bakar di Desa

Buniwangi adalah Rp 10.000/ikat. Nilai kayu bakar yang dikonsumsi oleh rumah
tangga di sajikan dalam Tabel 12.
Tabel 12 Nilai konsumsi kayu bakar rumah tangga
Konsumsi kayu bakar
(ikat/KK/bulan)
9,40

Harga kayu bakar
(Rp)
10.000

Nilai kayu bakar
(Rp/bulan)
94.000

5.4.2 Air Hutan
Kontribusi hutan bagi masyarakat Desa Buniwangi yang paling penting
adalah adanya mata air hutan yang mengalir sepanjang tahun. Keberadaan mata
air di hutan ini sangat berperan penting dalam pemenuhan kehidupan sehari-hari,
baik itu untuk MCK, air minum, dan keperluan rumah tangga lainnya.
Suparmoko (1989) dalam Affandi dan Patan (2004) mengemukakan bahwa air
merupakan produk penting dari hutan. Tanah dihutan merupakan busa raksasa
yang mampu menahan air hujan sehingga meresap perlahan ke dalam tanah.
Banyak daerah yang menggantungkan diri terhadap persediaan air dari hutan
dengan sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun.
Pemanfaatan air hutan oleh ma

Dokumen yang terkait

Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Oleh Masyarakat Desa Buniwangi, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi