Prosedur Pemberian Kredit Pada Pt.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Cabang Barusjahe

DAFTAR PUSTAKA

Djohan, Warman, 2000, Kredit Bank, Mutiara Sumber Widya, Jakarta
Fuady, Munir, 2001, Hukum Perbankan Modern, Citra Aditya Bakti, Bandung
Hasanuddin, Rahmany, SH, 2000, Kebijakan Kredit Perbankan yang
Berwawasan Lingkungan, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung
Husein, Umar, 2002, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis,
Cetakan Ketiga, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Kartono, Kartini, 2000, Pengantar Metodologi Riset Sosial, Cetakan Keempat,
PT. Mandar Maju, Jakarta
Kasmir, 2008, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, edisi Keenam, Penerbit
Ghalia
Kuncoro, Mudrajad, 2003, Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi, Erlangga,
Jakarta
Supranto, 2005, Metode Ramalan Kuantitatif untuk Perencanaan Ekonomi
dan Bisnis, Rieka Cipta, Jakarta
Muljono, pudjo, teguh, 2001, Manajemen Perkreditan Bagi Bank Komersil,
Edisi Empat BPFE, Yogyakarta
Usman, Rachmadi, 2001, Aspek-Aspek Hukum Kredit Perbankan Di
Indonesia, Cetakan Pertama, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta

67
Universitas Sumatera Utara

BAB III
ANALISA DAN EVALUASI

A. Pengertian Kredit
Istilah kredit bukanlah suatu hal yang asing lagi dalam kehidupan seharihari dalam masyarakat, sebab sering djumpai ada anggota masyarakat yang
menjual dan membeli barang-barang dengan kreditan. Jual beli tersebut tidak
dilakukan secara tunai atau ( kontan ), tetapi dengan cara mengangsur. Selain itu
banyak anggota masyarakat yang menerima kredit dari koperasi maupun bank
untuk kebutuhannya.
Ada beberapa pengerian kredit yang dikemukakan oleh para ahli, namun
pada hakikatnya mempunyai tujuan yang sama. Menurut H.M. Tjokam ( 2009 : 1)
Sebenarnya kata “ kredit “ berasal dari bahasa yunani yaitu “ credere “ yang
artinya “ percaya “. Bila dihubungkan, maka terkandung pengertian bahwa Bank
selaku kreditur percaya meminjamkan sejumlah uang kepada nasabah / debitur,
karena debitur dapat dipercaya kemampuannya untuk membayar lunas
pinjamannya setelah jangka waktu yang telah ditentukan berlandaskan
kepercayaan. Berdasarkan Undang-undang No. 7 Tahun 1992 pasal 1 butir 12 :
Menurut Gatot Supramono ( 2005 : 179 ) Kredit adalah penyediaan uang atau
tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan
pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan.

21
Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan Undang-undang Perbankan No. 10 TAHUN 1998 : Menurut Kasmir
( 2008 : 92 ) Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat
dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam
meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam
melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Bila dikaitkan dengan kegiatan usaha, kredit berarti suatu kegiatan
memberikan nilai ekonomi ( economic value ) kepada seseorang atau badan usaha
berlandaskan kepercayaan saat itu, bahwa nilai ekonomi yang sama akan
dikembalikan kepada kreditur ( bank ) setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan
kesepakatan yang sudah di setujui antara debitur dan kreditur.
1. Unsur-unsur dalam kredit
Menurut Budi Untung ( 2010 : 72 ) ada beberapa unsur-unsur kredit :
a. Kepercayaan
b. Kesepakatan
c. Jangka waktu
d. Resiko
e. Balas jasa bunga

a. Kepercayaan
Yaitu suatu keyakinan pemberian kredit ( bank ) bahwa kredit yang diberikan
baik berupa uang, barang atau jasa akan benar-benar diterima kembali dimasa
tertentu di masa datang. Kepercayaan ini diberikan oleh bank, karena sebelum
dana dikucurkan, sudah dilakukan penelitian dan penyelidikan yang

22
Universitas Sumatera Utara

mendalam tentang nasabah. Penelitian dan penyelidikan dilakukan untuk
mengetahui kemauan dan kemampuannya dalam membayar kredit yang
disalurkan.
b. Kesepakatan
Disamping unsur kepercayaan di dalam kredit juga mengandung unsur
kesepakatan antara si pemberi kredit dengan si penerima kredit. Kesepakatan
ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak
menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing. Kesepakatan
penyaluran kredit dituangkan dalam akad kredit yang ditangani oleh kedua
belah pihak yaitu pihak bank dan nasabah.
c. Jangka waktu
Setiap kredit yang diberikan pasti memiliki jangka waktu tertentu, jangka
waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Hampir
dapat dipastikan bahwa tidak ada kredit yang tidak memiliki jangka waktu.
d. Resiko
Faktor resiko kerugian dapat diakibatkan dua hal yaitu resiko kerugian yang
diakinatkan nasabah sengaja tidak mau membayar kreditnya pada hal mampu
dan resiko kerugian yang diakibatkan karena nasabah tidak sengaja yaitu
akibat terjadinya kerugian usaha dan juga musibah seperti bencana alam, dan
sebagainya. Penyebab tidak tertagih sebenarnya dikarenakan adanya suatu
tenggang waktu pengembalian ( jangka waktu ). Maka,semakin panjang
jangka waktu suatu kredit semakin besar resikonya.

23
Universitas Sumatera Utara

e. Balas jasa
Keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang kita kenal
dengan nama bunga bagi bank prinsip konvensional. Balas jasa dalam bentuk
bunga biaya provinsi dan komisi serta biaya administrasi kredit ini merupakan
keuntungan utana bank. Sedangkan bagi bank yang berdasarkan prinsip
syariah balas jasanya dtentukan dengan bagi hasil.

2. Fungsi kredit
Fungsi pokok kredit pada dasarnya adalah pemenuhan jasa untuk melayani
kebutuhan masyarakat dalam rangka mendorong dan melancarkan produksi dan
bahkan konsumsi yang semuanya itu pada akhirnya ditujukan intuk menaikkan
taraf hidup masyarakat.
Dalam kehidupan perekonomian yang demikian, bank memegang peranan
yang sangat penting sebagai lembaga keuangan yang membantu pemerintah untuk
mencapai kemakmuran.
Sebagai lembaga pemberi kredit, maka pengertian bank dan kredit tidak
dapat dipisah-pisahkan karena kegiatan utama dari bank adalah perkreditan, dan
keberhasilan sesuatu bank tergantunng dari sebagian besar usaha perkreditannya.

24
Universitas Sumatera Utara

B. Prosedur Pemberian Kredit Secara Umum
Dalam memperoleh kredit terlebih dahulu harus melalui tahapantahapan penilaian mulai dari pengajuan proposal kredit dan dokumen-dokumen
yang diperlukan, pemeriksaan keaslian dokumen, analisis kredit sampai dengan
kredit dikucurkan. Tahapan-tahapan dalam memberikan kredit ini dikenal dengan
nama prosedur pemberian kredit. Tujuannya adalah untuk memastikan kelayakan
suatu kredit, diterima atau ditolak.
Prosedur pemberian dan penilaian kredit oleh dunia perbankna secara
umum antar bank yang satu dengan bank yang lain tidak jauh berbeda. Yang
menjadi perbedaan mungkin hanya terletak persyaratan dan ukura-ukuran
penilaian yang ditetapkan oleh bank dengan pertimbangan masing-masing.
Prosedur pemberian kredit pada dasarmya sama pada semua bank, tetapi
yang menjadi perbedaan yaitu masalahnya mungkin hanya terletak pada
persyaratan dan ukuran-ukuran penilaian yang ditetapkan oleh bank dengan
pertimbangan masing-masing.
Prosedur pemberian kredit pertama sekali dimulai dengan adanya
permohonan dari calon debitur. Kemudian untuk membuktikan apakah
permohonan ini dibuat sungguh-sungguh maka pihak bank mengadakan
penyelidikan atau analisa kredit. Pekerjaan penyelidikan ini dilakukan oleh Maket
Officer. Jika dalam penyelidikan dan analisa kredit tidak terdapat penyimpangan
maka selanjutnya pihak bank dapat mengambil keputusan dalam pemberian
kredit.

25
Universitas Sumatera Utara

Dalam hal prosedur pemberian kredit yang dilaksanakan oleh PT.
Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Tbk, Cabang Barus jahe telah sesuai dengan
yang dipersyaratkan oleh Bank Indonesia. Ini terbukti dengan ketatnya prosedur
dalam pemberian kredit kepada debitur.
Sedangkan dari jenis kredit, masih perlu ditambah dengan kredit lain yang
mungkin

lebih

menarik

perhatian

masyarakat,

sehingga

mereka

dapat

memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan mereka. PT. Bank Rakyat Indonesia (
Persero ) Cabang Barus jahe harus lebih jeli lagi dalam melihat jenis kredit baru
yang lebih menarik tanpa menyimpang dari ketentuan perbankan.
Prosedur pemberian kredit secara umum dapat dibedakan antara
pinjaman perseoranngan dengan pinjaman oleh suatu badan hukum, kemudian
dapat pula ditinjau dari segi tujuannya apakah untuk konsumtif atau produktif.
1.

Bagi Badan Hukum / Pengusaha
Debitur yang berbentuk perusahaan meliputi bentuk badan usaha seperti CV,
PT, Firma, dan lain-lain. Persyaratan yang diminta antara lain :
a. Akte Notaris
b. TDP ( Tanda Daftar Perusahaan)
Merupakan tanda daftar perusahaan yang dikeluarkan oleh Departemen
perindustrian dan perdagangan dan biasanya berlaku lima tahun.
c. NPWP ( Nomor Pokok Wajib Pajak )
Nomor Pokok Wajib Pajak, dimana sekarang ini setiap pemberian kredit
terus dipantau oleh Bank adalah NPWP – nya.
d. Neraca dan laporan rugi-laba tiga tahun terakhir.

26
Universitas Sumatera Utara

e. Bukti diri dari pimpinan perusahaan.
f. Foto copy sertifikat jaminan.

2. Bagi Perseorangan / bukan Pengusaha
Persyaratan yang diminta untuk masing-masing debitur perorangan antara lain :
a. Foto copy identitas diri ( KTP, SIM, PASPOR )
b. Foto copy rekening koran / giro
Data ini diperlukan Bank untuk melakukan analisa keuangan calon debitur
yang dapat diukur seberapa besar penghasilan debitur yang dapat disisihkan
untuk membayar angsuran pinjaman tiap bulannya,
c.

Surat Keterangan gaji / daftar gaji
Syarat ini hanya berlaku untuk debitur yang bekerja di suatu perusahaan
pemerintah maupun swasta. Tujuannya untuk memastikan bahwa debitur
memang bekerja dan mempunyai penghasilan tetap setiap bulannya.

d. Foto copy jaminan ( sertifikat, dan lain-lain )

Secara umum akan dijelaskan prosedur pemberian kredit

menurut

perbankan adalah sebagai berikut :
1. Pengajuan Proposal
Dalam hal ini permohonan kredit mengajukan permohonan kredit yang
dituangkan dalam suatu proposal. Kemudian dilampirkan dengan berkas-berkas
lainnya yang dibutuhkan :

27
Universitas Sumatera Utara

a. Riwayat perusahaan seperti riwayat hidup perusahaan, jenis bidang usaha,
nama pengurus berikut latar belakang pendidikannya, perkembangan
perusahaan serta wilayah pemasaran produknya.
b. Maksud dan tujuan, apakah untuk memperbesar omset penjualan atau
meningkatkan kapasitas produksi atau mendirikan pabrik baru ( perluasan )
serta tujuan lainnya. Dan yang menjadi perhatian adalah apakah untuk modal
kerja atau investasi.
c. Besarnya kredit dan jangka waktu, dalam hal ini pemohon menentukan
besarnya jumlah kredit yang ingin diperoleh dan jangka waktu kreditnya.
Penilaian kelayakan besarnya kredit dan jangka waktunya dapat dilihat dari
cash flow serta laporan keuangan tiga tahun terakhir ( neraca dan laporan
rugi-laba ). Jika dari hasil analisis tidak sesuai dengan permohonan, maka
pihak bank tetap berpedoman terhadap hasil analisis mereka dalam
memutuskan jumlah kredit dan jangka waktu kredit yang layak diberikan
kepada si pemohon.
d. Cara pemohon mengembalikan kredit, dijelaskan secara rinci cara-cara
nasabah dalam mengembalikan kreditnya apakah dari hasil penjualan atau
cara lainnya.
e. Jaminan kredit, hal ini merupakan jaminan untuk menutupi segala resiko
terhadap kemungkinan macetnya suatu kredit baik yang ada undur
kesengajaan atau tidak. Penilaian jaminan kredit haruslah teliti, jangan sampai
terjadi sengketa, palsu, dan sebagainya

28
Universitas Sumatera Utara

2. Penyelidikan Berkas Pinjaman
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah berkas yang diajukan sudah
lengkap sesuai dengan persyaratan dan sudah benar. Jika menurut pihak
perbankan belum lengkap atau belum cukup maka nasabah diminta untuk
segera melengkapinya dan apabila sampai pada batas tertentu nasabah tidak
sanggup melengkapi kekurangan tersebutr, maka sebaiknya permohonan
kredit dibatalkan saja.

3. Penilaian Kelayakan Kredit
Dalam study kelayakan ini setiap aspek dinilai apakah memenuhi syarat atau
tidak. Apabila salah satu aspek tidak memenuhi syarat maka perlu dilakukan
pertimbangan untuk mengambil keputusan. Adapun aspek-aspek yang perlu
dinilai dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah :
a. Aspek Hukum, tujuannya adalah untuk menilai keaslian dan keabsahan
dokumen-dokumen yang diajukan oleh pemohon kredit.
b. Aspek pasar dan pemasaran, bertujuan untuk menilai apakah kredit yang
dibiayai akan laku dipasar dan bagaimana strategi pemasaran yang
dilakukan.
c. Aspek keuangan, bertujuan untuk menilai keuangan perusahaan yang
dilihat dari laporan keuangannya
d. Aspek teknis/operasi, untuk menilai masalah tentang lokasi usaha,
kemudian kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki, termasuk
gedung dan ruangan

29
Universitas Sumatera Utara

e. Aspek manajemen, untuk menilai pengalaman peminjam dalam mengelola
usahanya, termasuk sumber daya manusia yang dimiliki.
f. Aspek sosial ekonomi, untuk menilai dampak usaha yang diberikan
terutama bagi masyarakat luas baik ekonomi maupun sosial.
g. Aspek AMDAL, aspek ini penting dalam rangka apakah usaha yang
dibuatnya sudah memenuhi kriteria analisis dampak lingkungan terhadap
darat, air, dan udara sekitar.
4. Wawancara Pertama
Merupakan penyelidikan kepada calon peminjam dengan langsung
berhadapan dengan calon peminjam, untuk meyakinkan apakah berkas-berkas
tersebut sesuai dan lengkap seperti dengan yang bank inhinkan. Wawancara
ini juga dilakukan untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan nasabah yang
sebenarnya. Hendaknya dalam wawancara ini dibuat serileks mungkin
sehingga diharapkan hasil wawancara akan sesuai dengan tujuan yang
diharapkan.
5. Peninjauan ke Lokasi ( on the spot )
Merupakan kegiatan pemeriksaan ke lapangan dennganmeninjau
berbagai objek yang akan dijadikan usaha atau jaminan. Kemudian hasil
lapangan di cocokkan dengan hasil wawancara pertama. Pada saat hendak
melakukan pemeriksaan lapangan hendaknya jangan diberitahukan kepada
nasabah. Sehingga apa yang dilihat dilapangan sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya.

30
Universitas Sumatera Utara

6. Wawancara Kedua
Merupakan kegiatan perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurangankekurangan pada saat setelah dilakukan pemeriksaan ke lapangan. Catatan
yang ada pada permohonan dan pada saat wawancara pertama dicocokkan
dengan pada saat dilakukan pemeriksaan lapangan, apakah ada kesesuaian
dan mengandung suatu kebenaran.

7. Keputusan Kredit
Keputusan kredit dalam hal ini adalah menentukan apakah kredit akan
diberikan atau ditolak. Jika diterima maka dipersiapkan administrasinya,
biasanya keputusan kredit yang akan mencakup :
a. Jumlah uang yang akan diterima
b. Jangka waktu kredit
c. Dan biaya-biaya yang harus dibayar
Keputusan kredit biasanya merupakan keputusan team. Begitulah pula
kredit yang ditolak, maka akan dikirimkan surat penolakan sesuai dengan
alasannya masing-masing.
8. Penandatanganan Akad Kredit / Perjanjian Lainnya
Kegiatan inimerupakan kelanjutab dari diputuskannya kredit, maka
sebelum kredit dicairkan terlebih dahulu calon nasabah menandatangani akad
kredit, mengikat jaminan dengan hipotik dan surat perjanjian atau pernyataan
yang dianggap perlu. Penandatanganan dilaksanakan antara Bank dengan
Debitur secara langsung atau dengan melalui Notaris.

31
Universitas Sumatera Utara

9. Realisasi Kredit
Realisasi kredit diberikan setelah penandatanganan surat-surat yang
diperlukan dengan membuka rekening giro atau tabungan di Bank yang
bersangkutan.
10. Penyaluran / Penarikan Dana
Pencairan atau pengambilan uang dari rekening sebagai realisasi dari
pemberian kredit dan dapat diambil sesuai dengan keputusan dan tujuan
kredit, yaitu sekaligus atau secara bertahap.
Tahapan-tahapan yang dilakukan PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero )
Cabang Barus jahe dalam penyaluran kredit adalah sebagai berikut :
1. Nasabah atau calon nasabah datang untuk mengajukan permohonan secara
tertulis.
2. Instruksi dari pimpinan cabang untuk menundak lanjuti permohonan kredit
tersebut guna memeriksa keadaan calon nasabah, apakah usaha nasabah sesuai
denngan pasar sasaran, kriteria resiko yang dapat diterima dan kriteria nasabah
yang ditolak.
3. Jika nasabah dapat memenuhi ketiga kriteria tersebut diatas maka Account
Officer akan berusaha mencari informasi sebanyak mungkin mengenai
nasabah dan usahanya untuk dianalisa.
4. Mengadakan wawancara yang dilakukan oleh bagian pemasaran atau petugas
yang ditunjuk. Pada waktu wawancara kepada nasabah atau calon nasabah
dijelaskan mengenai besarnya suku bunga, besarnya provinsi, administrasi,

32
Universitas Sumatera Utara

dan besarnya angsuran yang harus dibayar setiaop bulannya sesuai dengan
jumlah kreditnya.
5. Dari data yang terkummpul, Account Officer akan mengidentifikasikan
resiko-resiko yang mungkin terjadi terhadap dan usahanya yang meliputi
aspek prinsip 5C
6. Setelah dianggap memenuhi syarat, maka akan dilaporkan kepada pimpinan
cabang.
7. Bila pimpinan cabang memenuhi permohonan kredit nasabah atau calon
nasabah, maka akan dilakukan negosiasi antara nasabah dengan bank.
8. Tahapan selanjutnya adalah dokumentasi, dimana nasabah atau calon nasabah
harus menyerahkan beberapa formulir atau paket kredit kepada bank, seperti :
a. Surat keterangan permohonan pinjaman
b. Laporan keuangan nasabah
c. Memorandum analisa kredit
d. Keputudan kredit
9. Setelah semua dokumen dan paket terpenuhi akan dilakukan instruksi untuk
merealisasikan permohonan kredit tersebut. Persetujuan pemberian kredit
umumnya meliputi :
a. Jumlah maksimum pemberian kredit
b. Jangka waktu kredit
c. Suku bunga, provosi, commitment fee
d. Sifat kredit
e. Skedul penarikan dan pelunasan kredit

33
Universitas Sumatera Utara

f. Syarat-syarat disposisi
g. Jumlah yang diisyaratkan
10. Pengawasan dan pembinaan kredit, marketing office wajib mengunjungi
nasabah minimal 3 ( tiga ) bulan sekali, untuk mengetahui apakah kredit
tersebut digunakan sesuai dengan kesepakatan dan untuk mengetahui
kelangsungan usaha nasabah.

C. Jenis-jenis Kredit yang Diberikan
Setelah membahas mengenai kredit dan prosedur dalam pemberian
kredit, maka selanjutnya akan dibahas mengenai jenis-jenis kredit yang
diberikan.
Dalam Undang-undang Perbankan tahun 1992 sama sekali tidak
disinggung tentang jenis kredit yang pernah diberikan. Meskipun demikian
dalam praktek perbankan, kredit-kredit yang pernah diberikan kepada para
nasabahnya dapat dilihat dari berbagai segi.
Menurut Kasmir ( 2008 : 76 )
1. Dari segi penerimaan kredit, dibagi atas :
a. Public Credit, yaitu jenis kredit yang digunakan masyarakat melalui
pemerintah.
b. Private Credit, yaitu kredit yang digunakan oleh pihak swasta atau
perorangan.

34
Universitas Sumatera Utara

2. Dari segi jangka waktu, dibagi atas :
a. Kredit jangka pendek, yaitu kredit yang berjangka waktu maksimum
satu tahun.
b. Kredit jangka menengah, yaitu kredit yang berjangka waktu antara
satu tahun sampai tiga tahun.
c. Kredit jangka panjang, yaitu kredit yang berjangka waktu lebih dari
tiga tahun.
3. Dari segi penggunaan dibagi atas :
a. Kredit Investasi, yaitu kredit yang diberikan kepada nasabah untuk
keperluan penanaman modal yang bersifat ekspansi, modernisasi dan
rehabilitasi perusahaan.
b. Kredit Modal Kerja, yaitu kredit yang diberikan untuk nkepentingan
dan kelancaran modal kerja nasabah. Kredit ini sasarannya untuk
membiayai operasi usaha nasabah.
4. Dari segi pemakaian, dibagi atas :
a. Kredit Konsumtif, yaitu kredit yang diberikan kepada nasabah untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya yang dapat memberikan
kepuasan langsung kepada nasabah.
b. Kredit Produktif, yaitu kredit yang bertujuan untuk keperluan usaha
nasabah agar produktivitas dapat bertambah meningkat.

35
Universitas Sumatera Utara

Pada PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Cabang Barus jahe, jenis
kredit yang diberikan adalah sebagai berikut :
1. Kredit Konsumtif
Kredit konsumtif adalah jenis kredit yang diberikan biasanya kepada
perorangan untuk tujuan konsumsi, misalnya kepemilikan rumah, kredit
kendaraan, dan sebagainya.
2. Kredit Produktif
Kredit produktif adalah kredit yang diberikan bank kepada perusahaan
atau perorangan untuk tujuan produksi. Dengan mendapatkan fasilitas kredit ini
maka perusahaan dapat meningkatkan volume produksi dan penjualan. Dimana
kredit produktif terdiri dari 3 bagian yaitu :






Kredit Produksi
Kredit Perdagangan
Kredit Investasi

Dan jenis kredit produktif ini terbagi atas 2 ( dua ), yaitu :
a. Kredit Investasi
Kredit ini adalah kredit berjangka waktu menengah hingga jangka
panjang ( sampai dengan lima tahun ), dan digunakan untuk kebutuhan
investasi. Bentuk pembayaran yang diberikan dalam kredit ini
merupakan angsuran per bulan. Maksud dan tujuan penggunaan kredit
investasi ini tidak terlepas dari usaha pemerintah dalam pelaksanaan
investasi yaitu :
1. Memajukan perekonomian secara keseluruhan

36
Universitas Sumatera Utara

2. Menghasilkan bahan-bahan pengganti
3. Mengolah sumber-sumber produksi
Misalnya kredit untuk pembelian mesin-mesin, kendaraan, rumah,
peralatan, dan pembangunan gedung pabrik.
a.

Kredit Modal Kerja
Kredit modal kerja yang diberikan oleh bank kepada perusahaan
atau perorangan untuk menambah modal kerjanya, misalnya untuk
membeli bahan baku, bahan penolong, dan lain-lain. Biasanya
jangka waktu kredit ini 12 bulan dan dapat diperpanjang.

Selain itu juga terdapat jenis kredit lain sesuai dengan kebutuhan calon
nasabah maupun program dari pemerintah, antara lain :
1. Kredit Karyawan
Kredit karyawan adalah kredit untuk pembelian kendaraan dan
rumah dengan jangka waktu berkisar antara satu sampai sepuluh tahun
yang dibayar kembali melalui pemotongan gaji setiap bulan.
2. Kredit Modal Kerja Konstruksi
Kredit ini merupakan kredit yang meliputi fasilitas kredit investasi
dan kredit modal kerja untuk membiayai pembangunan gedung, pekerjaan
teknik sipil, sistem mekanis dan kelistrikan serta proyek infrastruktur
lainnya.

37
Universitas Sumatera Utara

Selain itu juga terdapat jenis kredit lain yang diberikan oleh PT. Bank Rakyat
Indonesia ( Persero ) Cabang Barus jahe, antara lain :
1) Kredit kepada pegawai
2) Kredit pensiunan
3) Kredit profesi
4) Kredit usaha kecil
5) Kredit modal kerja local
6) Kredit modal kerja import (yang tergolong dalam kredit perdagangan )
7) Kredit modal kerja eksport (yang tergolong dalam kredit perdagangan)
8) Kredit modal kerja konstruksi

38
Universitas Sumatera Utara

Gambar 1.2
FLOW CHART PEMBERIAN KREDIT

NASABAH

SURVEI USAHA
SURVEI JAMINAN
PROPOSAL
KREDIT

1

2

3
5

ANALISA
4
OFFERING
LETTER
6
PROSES
PENGIKATAN
KREDIT & JAMINAN
7
REALISASI
KREDIT
8
PEMBINAAN
KREDIT

Sumber : PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Cabang Barus jahe,
2015

39
Universitas Sumatera Utara

D. Bentuk Jaminan dalam Pemberian Kredit
Jaminan kredit adalah keyakinan bank atas kesanggupan debitur untuk
melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan. Data usaha perusahaan
yang harus dianalisis adalah watak pengusaha, kemampuan usaha, modal
usaha perusahaan, agunan debitur untuk memproteksi jumlah kredit dan
prospek usaha dari debitur dalam kehidupan perekonomian.
Di Indonesia, pemenuhan persyaratan akan adanya jaminan tertuang di
dalam Undang-undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan pasal 8.
Menurut Ruddy Tri Santoso ( 2006 : 50 )
Dalam memberikan kredit, bank umum wajib mempunyai keyakinan atas
kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai
dengan yang diperjanjikan.
Termasuk penjelasannya yang berbunyi : Kredit yang diberikan oleh bank
mengandung

resiko,

sehingga

dalam

pelaksanaannya

bank

harus

memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat untuk mengurangi resiko
tersebut. Jaminan pemberian kredit, dalam arti keyakinan atas kemampuan
dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang
diperjanjikan, merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank.
Usaha bank dalam menghindari kerugian atas terjadinya kredit macet dan
menghindari dari kemungkinan terjadinya kredit macet adalah dengan
meminta jaminan pada pemohon kredit. Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (
Persero ) Cabang Barus jahe dalam menetapkan jaminan ini sesuai dengan
ketentuan perbankan, dimana bank menerima berbagai jenis jaminan yang

40
Universitas Sumatera Utara

tidak terlalu sukar untuk dipenuhi dilihat dari keberadaan barang jaminan
yang antara lain tanah, bangunan, deposito, emas, mobil, mesin / peralatan,
corporate garansi. Dapat dilihat bahwa tidak semua barang dapat dijadikan
jaminan kredit telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh bank.
Pada PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Cabang Barus jahe jarang
mendapatkan masalah yang menyulitkan yang diakibatkan perlakuan
nasabah, yang memberikan jaminannya yang berupa barang yang miliknya
mutlak. Kemungkinan yang menyebabkan kerugian bank adalah kekurangan
ataupun kelalaian dalam mengawasi barang jaminan dan menilai berupa
taksiran barang jaminan kredit tersebut.
Sedangkan untuk jelasnya, di dalam Undang-undang No. 14 tahun 1967
tentang pokok-pokok perbankan pasal 24 ayat 1 disebutkan bahwa : Bank
umum tidak memberikan kredit tanpa jaminan kepada siapapun.
Pemberian jaminan ditentukan atas dasar persetujuan antara nasabah
dengan bank. Segala biaya yang timbul atas pengikatan barang-barang
jaminan dibayar oleh nasabah.

1. Dasar-dasar Penetapan Barang Jaminan
Nilai barang jaminan merupakan salah satu unsur dalam nilai kredit. Oleh
karena itu barang-barang yang diserahkan oleh nasabah sebagai jaminan
kepada bank harus dinilai pada waktu analisa kredit.Bank harus berhati-hati
dalam menilai harga barang-barang jaminan tersebut, karena harga yang

41
Universitas Sumatera Utara

dicantumkan

oleh

nasabah

tidak

selalu

menunjukkan

harga

yang

sesungguhnya bila barang tersebut dijual saat itu.
Untuk menghindari ataupun mengurangi resdiko di atas, maka bank harus
dapat menilai barang jaminan dengan harga yang sesungguhnya atau minimal
mendekati harga pasar pasar yang berlaku.

2. Persyaratan yang harus dimiliki jaminan kredit
a. Jaminan kredit harus memiliki nilai ekonomis yang memadai, yaitu dapat
diperjualbelikan secara bebas, memiliki nilai besar dari limit kredit,mudah
dipasarkan tanpa mengeluarkan biaya pemasaran yang berarti, memiliki
nilai stabilitas atau memiliki prospek nilai yang baik, mempunyai manfaat
ekonomis dalam jangka waktu kredit.
b. Jaminan harus memiliki syarat atau nilai yuridis, yaitu milik perusahaan
calon debitur, ada dalam kekuasaan calon debitur, tidak berada
persengketaan dengan pihak lain, memiliki bukti-bukti pemilikan yang sah,
memenuhi persyaratan untuk diadakan pengikatan – pengikatan secara
hipotik, fiducia, ataupun jenis pengikatan yuridis lain. Menurut Warman
Djohan ( 2000 : 106 ) “Jaminan pemberian kredit tersebut bisa diperoleh
malalui penilaian berdasarkan 5C dikebal dengan sebutan “ The Five Of
Credit Analysis “. Yaitu :
1. Character
2. Capacity
3. Capital

42
Universitas Sumatera Utara

4. Collateral
5. Condition Of Economy
1. Character
Pengertian character adalah sifat atau watak seseorang dalam hal ini calon
debitur tujuannya untuk memberikan keyakinan kepada bank bahwa, sifat atau
watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar dapat
dipercaya. Character merupakan ukuran untuk menilai kemauan nasabah
membayar kreditnya.
2. Capacity
Sebelum bank mengabulkan permohonan kredit, bank akan menilai
kemampuan debitur untuk mengelola usaha yang akan dibiayai dengan kredit.
Bank perlu mengetahui apakah nasabah mempunyai pengetahuan yang cukup
dibidang usaha tersebut, apakah nasabah cukup berpengalaman mengelola
usaha dengan baik dan menguntungkan.
3. Capital
Capital adalah untuk mengetahui sumber-sumber pembiayaan yang
dimiliki nasabah terhadap usaha yang akan dibiayai oleh bank. Selama ini bank
jarang sekali memberikan kredit untuk membiayai seluruh dana yang
diperlukan nasabah. Nasabah wajib menyediakan modal sendiri, sedangkan
kekurangannya itu dapat dibiayai dengan kredit bank. Jadi bank fungsinya
hanya menyediakan tambahan modal.

43
Universitas Sumatera Utara

4. Collateral
Collateral merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang
bersifat fisik ataupun nonfisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit
yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahannya, sehingga jika terjadi
suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat
mungkin. Fungsi jaminan adalah sebagai pelindung bank dari resiko kerugian.
5. Condition of Economy
Kondisi yang dipersyaratkan adalah bahwa kegiatan usaha debitur mampu
mengikuti fluktuasi ekonomi, baik dalam negeri maupun luar negeri, dan usaha
masih mempunyai prospek ke depan selama kredit masih dinikmati oleh
debitur. Jika bisa, lebih tiga tahun ke depan kegiatan bidang usaha masih layak
dan prospektif.
Sedangkan penilaian dengan menggunakan 7P kredit adalah sebagai berikut :
1. Personality
Yaitu penilaian nasabah dari segi kepribadianya atau tingkah lakunya seharihari maupun masa lalunya. Personality juga mencakup sikap, emosi, tingkah
laku dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah.
2. Party
Yaitu pengklasifikasian nasabah ke dalam klasifikasi tertentu atau golongangolongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya. Sehingga
nasabah dapat digolongkan ke golongan tertentu dan akan mendapatkan
fasilitas kredit yang berbeda pula dari bank. Kredit untuk pengusaha lemah

44
Universitas Sumatera Utara

sangat berbeda dengan kredit untuk pengusaha yang kuat modalnya, baik dari
segi jumlah, bunga dan persyaratannya.
3. Purpose
Yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk
jenis kredit yang diinginkan nasabah. Tujuan pengambilan kredit dapat
bermacam-macam apakah tujuan untuk konsumtif atau untuk tujuan produktif
atau untuk tujuan perdagangan.
4. Prospect
Merupakan anjuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah
diperoleh. Dimana nasabah harus bisa mengembalikan kredit yang
diperolehnya yang bersumber dari usaha yang dikembangkannya sampai
kewajiban nasabah terhadap bank atas kredit itu selesai atau berakhir.
5. Payment
Merupakan anjuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah
diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit yang
diperolehnya.
6. Profitability
Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba.
Profitability diukur dari periode ke periode apakah akan tetap sama atau akan
semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya.

45
Universitas Sumatera Utara

7. Protection
Tujuannya adalah bagaimana menjaga kredit yang akan dikucurkan oleh bank
namun melalui suatu perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan
barang atau orang atau jaminan asuransi.

6.

Bentuk Jaminan dan Penilaiannya
Selanjutnya pihak bank perlu untuk melakukan pengikatan atas barang
jaminan itu. Dimana maksud untuk mengikat jaminan itu adalah memberi
kekuatan hukum bagi bank sebagai pemberi kredit untuk dapat berbuat (
menjual jaminan ) dengan legalitas hukum yang sah.
Adapun bentuk-bentuk jaminan yang dapat diterima oleh bank
sebagai jaminan kredit yang disalurkan menurut perbankan antara lain :
a. Jaminan barang-barang tidak bergerak
Misalnya : tanah, rumah, pabrik, gudang, dan lain-lain
b. Jaminan barang-barang bergerak
Misalnya : mobil, inventaris pabrik
c. Jaminan hak yang bernilai ekonomis
Misalnya : tagihan rumah, tagihan mobil
d. Jaminan dokumen-dokumen
Misalnya : tagihan piutang, wesel tagih
e. Jaminan pihak ketiga ( borgtocht )

46
Universitas Sumatera Utara

Dimana

seorang

pihak

ketiga

menyatakan

kesediaannya

untuk

menanggung utang debitur bila pihak disebut terakhir tidak akan melunasi
kewajibannya.
Pada prinsipnya Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Cabang P.
Berandan mewajibkan adanya jaminan kredit atas seluruh kredit yang
diberikan. Jaminan kredit tersebut dapat berupa tanah, bangunan, deposito
dan tabungan, emas, mobil, mesin/peralatan, corporate garansi, persediaan
barang, piutang dagang, dan saham.
Berikut ini diberikan penilaian pedoman untuk menilai satu
persatu barang-barang yang diterima PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero )
Cabang Barus jahe sebagai jaminan, yaitu sebagai berikut :
1.

Tanah
Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-pokok Agraris pasal 4 ayat 1, atas hak tanah terdiri dari :
a. Hak milik
b. Hak pakai
c. Hak guna bangunan
d. Hak guna usaha
e. Hak sewa
f. Hak memungut hasil tanah
Dalam hal ini PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Cabang Barus jahe
akan menerima jaminan berupa tanah, apabila tanah tersebut bersertifikat
atau terdaftar pada Notaris, yang dibuktikan dengan sertifikat.

47
Universitas Sumatera Utara

2. Bangunan
Jaminan berupa bangunan dapat berbentuk :
a. Bangunan rumah / mess, yaitu bangunan yang lazimnya didiami
manusia sebagai tempat tinggal.
b. Bangunan pabrik, yaitu bangunan yang dipergunakan sebagai tempat
pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi menjadi barang
jadi.
c. Bangunan berupa bungalow, yaitu bangunan yang digunakan sebagai
tempat peristirahatan.
d. Banguan losmen, yaitu bangunan yang dipergunakan sebagai tempat
penginapan yang dilengkapi dengan fasilitas seperti bar, restoran, dan
lain-lain.
e. Bangunan gudang, yaitu bangunan yang biasanya digunakan untuk
menyimpan bahan baku, barang jadi, dan barang dagangan.
Penerimaan bangunan ini sebagai barang jaminan adalah apabila bangunan
tersebut mempunyai tanda kepemilikan atau sertifikat.
3. Deposito
Deposito diterima bank sebagai jaminan apabila deposito berada pada
bank, atau dengan kata lain debitur mempunyai deposito pada bank
tersebut. Jumlah deposito sebagai jaminan harus lebih besar dari jumlah
kredit yang diterima dari bank.
4. Emas

48
Universitas Sumatera Utara

Jenis emas yang diterima bank sebagai jaminan adalah emas dagang.
Penilaian barang-barang jaminan berupa emas dilakukan berdasarkan
bunga pasar menurut :
a. Keadaan emas
b. Berat emas
c. Kadar emas
Dalam hubungan penerapan nilai transaksi barang emas, sebaiknya
dimintakan bantuan orang lain yang ahli dalam emas, misalnya toko emas.
Hal ini dilakukan karena sukarnya dalam menentukan keadaan, berat dan
kadar emas tanpa alat khusus yang umum dimiliki oleh tukang emas.
5. Mobil
Jenis kendaraan bermotor yang dapat dijadikan jaminan adalah alat angkut
yang dijadikan transportasi darat, seperti mobil sedan, truk angkutan, dan
lain-lain. Penilaian harga kendaraan bermotor didasarkan pada harga pasar,
menurut :
a. Tahun pembuatan
b. Kondisi / keadaan fisik
c. Jenis / model dan merk
6. Mesin / Peralatan
Jenis barang jaminan yang diterima bank adalah mesin / peralatan yang
digunakan untuk proses produksi ( mesin pabrik ). Penilaian terhadap
mesin harus dilihat nilai teknisnya yang semakin menurun karena
penurunan umur teknis akan berpengaruh kepada nilai ekonomis. Penilaian

49
Universitas Sumatera Utara

ini harus memperhitungkan nilai mesin yang semakin menyusut dan harus
difikirkan nilai akhirnya juga harus disesuaikan dengan harga pasar.
7. Corporate Garansi
Jaminan ini disebut juga dengan jaminan perusahaan, dimana jaminan
yang diterima bank adalah atas perusahaan. Pemberian jaminan ini
dilakukan atas dasar persetujuan semua pemilik perusahaan. Penerimaan
jaminan ini didasrkan atas penilaian asset atau kekayaan perusahaan.
Apabila jum;ah asset perusahaan mencukupi jaminan yang ditentukan baru
jaminan perusahaan ini diterima.

4. Prosedur Penilaian dan Pengikatan Jaminan
Sebelum barang-barang jaminan yang tertera pada daftar-daftra barang jaminan
ditetapkan nilainya dan diterima serta diikat sebagai jaminan kredit, maka
dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Meneliti dan melengkapi serta mempelajari kebenaran / sahnya dokumendokumen jaminan yang diserahkan nasabah.
b. Melakukan peninjauan setempat untuk mengetahui, menilai keadaan fisik
barang-barang yang dijaminkan, apakah sesuai dengan yang dicantumkan
pada dokumen yang ada dan keterangan lainnya yang diberikan nasabah.
c. Membuat berita acara pemeriksaan nilai barang jaminan yang harus
ditandatangani oleh penjabat yang membuat acara serta disetujui oleh
pimpinan cabang.

50
Universitas Sumatera Utara

5. Administrasi dan Pengawasan Barang-barang Jaminan
Untuk keperluan administrasi dan pengawasan barang-barang jaminan harus
dilaksanakan ketentuan sebagai berikut :
a. Terhadap dokuman atau surat-surat kepemilikan dan kuasa yang diterima
dari nasabah harus dibuat surat tanda terima rangkap dua, yaitu asli untuk
nasabah dan copy untuk bank. Tanda terima tersebut ditandatangani oleh
penjabat kredit, disimpan dalam Map Pengawas Kredit ( MPK ) nasabah
yang bersangkutan.
b. Dokumen / surat pemilikan asli dan akte pengikat asli harus ditempatkan
dalam Brand Cash yang harus disimpan pada tempat yang aman.
c. Peninjauan setempat untuk memeriksa secara fisik barang-barang jaminan
tersebut harus dilakukan guna mengecek keadaan fisik barang-barang
jaminan yang dikuasai.

6. Penjualan Barang Jaminan
Apabila nasabah melanggar janji yaitu tidak membayar ataupun melunasi
hutang-hutangnya pada waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian dimana
kreditnya dinyatakan atau dianggap rugi, maka bank harus melakukan /
melaksanakan keputusan-keputusan direksi. Keputusan direksi satu-satunya
adalah dengan pencairan atau penjualan barang jaminan.

51
Universitas Sumatera Utara

E.

Pelaksanaan Pemberian Kredit
Dalam arti luas kredit juga dapat diartikan kepercayaan. Pemberian
kredit oleh bank tidak terlepas dari tujuan perbankan dalam pembangunan
nasional dan juga merupakan pencapaian tujuan perbankan dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak.
Dalam hal ini sistem perkreditan yang dilaksanakan oleh PT. Bank
Rakyat Indonesia ( Persero ) Cabang Barus jahe telah mencapai target yang
diinginkan. Hal ini terbukti semakin membaiknya keadaan pada bank. Ini
terbukti karena PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) merupakan salah satu
bank dengan tingkat kesehatan perbankan yang baik dan dengan tingkat
kredit macet yang paling kecil.
Pada PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Cabang Barus jahe
bantuan kredit diberikan berdasarkan pembedaan atas dua golongan yaitu
debitur perorangan dan debitur badan usaha / perusahaan, dimana
persyaratan yang diminta disesuaikan berdasarkan masing-masing golongan.

F.

Pengawasan Terhadap Kredit
Menurut Warman Djohan ( 2000 : 167 ) “Pengawasan Kredit
adalah salah satu fungsi manajemen dalam usahanya untuk melakukan
penjagaan dan pengamanan atas pengelolaan kekayaan bank ke arah
portofolio perkreditan yang lebih baik dan efisiensi, guna menghindari

52
Universitas Sumatera Utara

terjadinya

penyimpangan-penyimpangan

denagn

cara

mendorong

dipatuhinya kebijakan perkreditan yang telah ditetapkan.”
Salah satu fungsi manajemen yang penting dalam setiap kegiatan
usaha yaitu tahap pengawasan, demikian juga di dalam perkreditan karena
kegiatan pengawasan akan merupakan penjagaan dan pengamanan
terhadap kekayaan bank yang disalurkan atau diinvestasikan di bidang
perkreditan.
Kegiatan pengawasan ini akan menjadi lebih penting bila kita
ketahui bahwa kredit merupakan kekayaan yang beresiko atau risk asset,
karena assets tersebut dikuasai oleh pihak di luar bank. Seperti pada bankbank lainnya, PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Cabang Barus Jahe
selalu mengadakan pengawasan terhadap kredit yang diberikan kepada
debitur. Dalam mengadakan pengawasan ada bebnerapa tahap yang umum
dilakukan oleh bank dalam mengadakan pengawasan.
1. Pengawasan Kredit Dalam Arti Luas
Pengawasan kerdit dalam arti luas akan meliputi pengawasan
sebelum kredit diberikan ( steering control ) , pengawasan pada waktu
proses persetujuan kredit, ( post action control ) dan pengawasan
setelah kredit diberikan (feedback control).
a. Pengawasan kredit dimuka ( steering control )
Pengawasan ini lebih banyak dalam bentuk rekomendasi
dari hasil analisis departemen yang menangani riset dan
pengembangan usaha suatu bank. Hasil analisis tentang tingkat

53
Universitas Sumatera Utara

kelayakan usaha dari perusahaan-perusahaan sejenis dalam industri
yang sama. Dimana kelompok industri yang dengan tingkat IRR
tinggi, sedang, rendah.
Setelah pengawas selesai melakukan riset selanjutnya para
analis dapat melakukan pengawasan pendahuluan, sebelum proses
analisis kredit dilakukan melalui analisis siklus hidup perusahaan.
b. Pengawasan kredit pada waktu proses analisis ( Post action
control)
Pengawasan kredit ini merupakan pengawasan administrasi
meliputi kelengkapan dan keabsahan dokumen permohonan kredit,
akurasi analisis dan kesempurnaan warkat-warkat perjanjian dan
pengikatan. Pengawasan dapat dilakukan dengan menggunakan
check list.
c. Pengawasan kredit pada waktu kredit berjalan ( feed back control )
Pengawasan kredit ini meliputi pengawasan administratif,
pengawasan fisik terhadap kegiatan usaha debitur di lapangan dan
analisis kecenderungan ekonomi. Sedangkan analisis tentang
kecenderungan ekonomi biasanya ditangani oleh unit atau
departemen riset dan pengembangan suatu bank. Departemen ini
juga yang akan memberikan rekomendasi bahwa kecenderungan
ekonomi akan membaik atau akan memburuk dimasa yang akan
datang.

54
Universitas Sumatera Utara

2. Fokus Pengawasan Kredit
Pada tahap pertama pengawasan kredit, merupakan upaya dalam
penjagaan dan pengamanan harta bank dalam bentuk kredit.
Pengertian penjagaan lebih bersifat preventif, sedangkan pengamanan
lebih bersifat represif, untuk menghindari kemungkinan kerugian
potensial yang akan timbul dikemudian hari. Secara umum
pengawasan kredit merupakan pengendalian kredit dalam bentuk
manajemen control yang meliputi audit finansial, audit operasional
dan audit manajemen.

8.

Tujuan Pengawasan Kredit
Tujuan pengawasan kredit pada bank dapat dijelaskan dengan rinci sebagai
berikut :
a. Dapat dilakukannya dengan baik penjagaan dan pengawasan dalam
pengelolaan kekayaan bank di bidang perkreditan, untuk menghindari
penyelewengan baik dari intern bank maupun ekstern.
b. Untuk memastikan ketelitian dan kebenaran data administrasi di bidang
perkreditan serta penyususnan dokumen perkreditan yang lebih baik.
c. Untuk memajukan efisiensi di dalam pengelolaan dan tata laksana usaha
di bidang perkreditan dan mendorong tercapainya rencana yang telah
ditetapkan.
d. Untuk menilai tingkat kepatuhan terhadap aturan yang telah ditetapkan
dan penggaris dalam pencapaian sasaran.

55
Universitas Sumatera Utara

Dari uraian tersebut, masing-masing tujuan tersebut mempunyai keterkaitan
yang erat satu dengan lainnya. Dengan memiliki administrasi perkreditan
yang dilaksanakan secara teliti, tertib dan benar akan membantu dan
mempermudah untuk mengantisipasi terjadinya penyimpangan atau
penyelewengan secara dini. Dan dengan adanya sistem dokumentasi yang
baik terhadap arsip perkreditan, tentunya akan meningkatkan efisiensi dalam
pengelolaan dan pengendalian portofolio perkreditan.

9.

Sarana Pengawasan Kredit
Sarana pengawasan dalam perkreditan sama dengan sarana administrasi
perkreditan namun ditinjau dari sudut pandang yang berbeda. Sarana
pengawasan yang mempunyai tingkat tertinggi adalah perundang-undangan
yang mengatur perbankan dan kegiatan perdagangan pada umumnya dan
khususnya yang mengatur perkreditan.
Ada beberapa bentuk sarana pengawasan sebagai berikut :
a. Perangkat keras ( hardware ), meliputi berbagai bentuk formulir
standar, berbagai alat tulis kantor, alat deteksi dokumen palsu, mesinmesin tik, mesin hitung, komputer, filling cabinet, alat komunikasi, alat
trasportasi, dan sebagainya.
b. Tenaga kerja yang merupakan sumber daya manusia, sebagai tenaga
pelaksana dan staf, agar perangkat-perangkat keras tersebut dapat
berfungsi dengan baik, sebagai operator atau sebagai pengelolanya.

56
Universitas Sumatera Utara

c. Perangkat lunak ( software ), agar perangkat keras dan tenaga kerja
tersebut dapat berfungsi dengan baik dan terarah, maka perlu ada
kumpulan, aturan main yang disusun secara sistematis yang berlaku
dalam organisasi bank maupun yang berlaku secara khusus dalam
bidang perkreditan. Perangkat lunak yang diperlukan sebagai alat
pengawasan antara lain meliputi buku pedoman kerja yang disusun
dengan lengkap, sistematis dan up to date karena akan dipakai sebagai
tolak ukur dalam pelaksanaan sehari-hari.

G.

Hambatan yang Dihadapi dalam Pemberian Kredit
Nasabah yang memperoleh kredit dari bank tidak seluruhnya dapat
mengembalikannya dengan baik tepat pada waktunya yang diperjanjikan.
Pada kenyataannya selalu ada sebagian nasabah yang karena suatu sebab
tidak

dapat

mengembalikan

kredit

kepada

bank

yang

telah

meminjamkannya. Akibatnya nasabah tidak dapat membayar lunas
utangnya, maka menjadikan perjalanan kredit terhenti atau macet.
Menurut Zainal Asikin ( 2007 : 65 ) Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya kredit macet yang berasal dari nasabah, yaitu :
1. Nasabah menyalahgunakan kredit yang diperolehnya
Setiap kredit yang diperoleh nasabah telah diperjanjikan tujuan
pemakaiannya, sehingga nasabah harus menggunakan kredit sesuai
dengan tujuannya.Dimana terkadang ada nasabah yang tidak
menggunakan kredit sesuai dengan tujuan yang telah diperjanjikan.

57
Universitas Sumatera Utara

Misalnya, nasabah menggunakan kredit bukan untuk pengembangan
usaha tetapi untuk keperluan pribadi. Contoh, nasabah menggunakan
kredit untuk membeli mobil pribadi bukan untuk mobil usaha.
2. Nasabah kurang mampu mengelolah usahanya
Hal ini dapat terjadi pada nasabah yang kurang menguasai bidang
usahanya, akibatnya usaha yang dibiayai dengan kredit tidak dapat
berjalan dengan baik.
3. Nasabah yang beritikad tidak baik
Ada sebagian nasabah yang sengaja dengan daya upaya mendapatkan
kredit, tetapi setelah kredit diterima maka digunakan untuk
kepentingan yang tidak dipertanggung jawabkan. Nasabah sejak awal
tidak berminat mengembalikan kredit walau dengan resiko apapun.
Biasanya sebelum jatuh tempo kredit nasabah sudah melarikan diri
untuk menghindari tanggung jawab.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adapun masalah yang
sering dihadapi oleh PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Cabang Barus jahe
dalam pemberian kredit kepada calon nasabah dibagi atas 2 ( dua ), yaitu :
1. Faktor Intern ( Yang Berasal Dari Dalam Perusahaan)
Kendala yang dihadapi PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Cabang
Barus jahe dalam pemberian kredit yang berasal dari dalam perusahaan
adalah :
a. Prosedur penyaluran kredit yang berbelit-belit.

58
Universitas Sumatera Utara

Administrasi tercermin dari berbagai ketentuan yang sangat proseduril.
Semua itu diatur berdasarkan tatanan yang birokratis dan kehati-hatian
yang sangat tinggi. Sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan kekakuan,
dan kurangnya pendelegasian wewenang kepada bawahan. Kecepatan
pelayanan dapat dipacu, namun karena terlalu banyaknya prosedur akan
dapat menimbulkan beban psikologis bagi nasabahnya.
b. Proses kredit lambat sehingga kredit cair melewati batas waktu yang
dibutuhkan.
Permohonan kredit dimulai dengan perencanaan nasabah, begitu juga
proses

analisis

sampai

dengan

putusan

kredit

dari

manajemen

pengembalian keputusan. Namun jarang pada tahap pencairan justru
mendapat hambatan.
c. Bank terlalu lama menanggapi permohonan kredit
Seorang nasabah sudah merencanakan suatu bisnis, namun jika
permohonan kredit belum ditanggapi oleh bank maka dapat diperkirakan
bahwa bisnis nasabah akan terganggu.
2. Faktor Ekstern ( Yang Berasal Dari Luar Prusahaan )
Sedangkan hambatan yang dihadapi oleh PT. Bank Rakyat
Indonesia ( Persero ) Cabang Barus jahe dari luar perusahaan adalah :
a. Ketidaklengkapan syarat kredit yang diajukan
Dimana masih kurang lengkapnya pengetahuan dari nasabah akan
perlengkapan yang harus dipenuhi olehnya pada saat permohonan
kredit diajukan, seperti terkadang nasabah tidak mempunyai surat

59
Universitas Sumatera Utara

keterangan atau izin mendirikan bangunan dan belum mempunyai
sertifikat tanah yang diperlukan dalam permohonan kredit.
b. Jaminan kredit yang diberikan belum memenuhi syarat tertentu.
Hal ini mungkin terjadi bila nasabah memberikan nilai jaminan
yang tidak seimbang dengan nilai kredit yang diambil.
c. Ketidakmampuan dalam pelunasan kredit yang telah diterima.
Kredit macet terjadi akibat jika ada penunggakan pokok pinjaman
dan atau bunga lebih dari 270 hari.
d. Nasabah kurang mampu mengelola usahanya.
Hal ini dapat terjadi karena nasabah yang kurang menguasai bidang
usahanya diberi kredit, karena nasabah mampu meyakinkan bank
akan keberhasilan usahanya. Akibatnya usaha yang dibiayai
dengan kredit tidak dapat berjalan dengan baik, misalnya hasil
produksi kualitasnya rendah sehingga sulit bersaing dipasaran.
e. Nasabah menyalahgunakan kredit yang diperolehnya.
Setiap kredit yang diperoleh nasabah telah diperjanjikan tujuan
pemakaiannya, sehingga nasabah harus menggunakan kredit sesuai
dengan tujuannya. Pemakaian kredit yang menyimpang, misalnya
kredit untuk pengangkutan dipergunakan untuk pertanian, akan
mengakibatkan usaha gagal, karena nasabah spekulatif.

60
Universitas Sumatera Utara

H.

Penanganan Kredit Macet
Sesuai dengan arti kredit macet, dapat digambarkan bahwa nasabah sudah
sulit diharapkan untuk dapat memenuhi kewajibannya dengan sukarela
sebagaimana yang diperjanjikan. Dipihak lain bank tidak mempunyai upaya
untuk dapat memaksa langsung kepada nasabah tersebut untuk melunasi
utangnya
Oleh karena itu jalan keluar untuk menyelesaikan kredit macet, bank harus
menyerahkan pengurusannya kepada pihak ketiga. Di Indonesia dikenal ada
tiga lembaga yang dapat dibebani tugas untuk menyelesaikan kredit macet,
yaitu :
1. Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara ( BUPLN )
Yaitu bagi kredit macet yang menyangkut bank milik negara.
Biasanya kredit yang macet dan telah diupayakan penagihannya /
penyelesaiannya secara kekeluargaan tetapi tidak berhasil, maka
bank akan menyerahkan penyelesaiannya melalui BUPLN untuk
selanjutnya akan dilakukan pelelangan / penjualan barang jaminan.
Barang jaminan tidak selamanya dilakukan dengan bantuan
BUPLN, sebab bila bank telah memperoleh “ kuasa jual “ maka
bank tersebut dapat menjual jaminan secara bawah tangan.
2. Melalui Proses Legitasi Pengadilan
Apabila suatu kredit macet ( dari bank swasta ) maka
penyelesaiannya dapat dilakukan melalui pengadilan. Proses
legitasi merupakan langkah terpaksa

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3901 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1037 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 932 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 624 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 780 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1327 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1227 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 813 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1097 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1326 23