Konsep profil guru pendidikan Agama Islam menurut al-Zarnuji dalam kitab ta'lfm al-muta'Allim dan relevansinya

KONSEP PROFIL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
MENURUT AL-ZARNÛJÎ DALAM KITAB TA’LÎM ALMUTA’ALLIM DAN RELEVANSINYA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi
Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Disusun Oleh :
Ansori
106011000073

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H / 2011 M

KONSEP PROFIL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
MENURUT AL-ZARNÛJÎ DALAM KITAB TA’LÎM ALMUTA’ALLIM DAN RELEVANSINYA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Syarat-syarat
Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :
Ansori
106011000073

Di Bawah Bimbingan

Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag.
NIP. 19580707.198713.1.005

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN MUNAQASYAH
Skripsi berjudul “Konsep Profil Guru Pendidikan Agama Islam
Menurut al-Zarnûjî dalam Kitab Ta’lîm al-Muta’allim dan Relevansinya”
diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, dan Telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasyah pada
tanggal 17 Februari 2011 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak
memperoleh gelar Sarjana S1 (S.Pd.I) dalam bidang Pendidikan Agama Islam.
Jakarta, 17 Februari 2011
Panitia Ujian Munaqasyah

Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Prodi)

Tanggal

Tanda Tangan

.......................

......................

.......................

......................

Penguji I
Prof. Dr. Rif’at Syauqi Nawawi, MA. .......................
NIP:19520520 198103 1 001

......................

Penguji II
Drs. Sapiudin Shidiq, MA.
NIP: 19670328 200003 1 001

......................

Bahrissalim, M.Ag
NIP:19680307 199803 1 002
Sekretaris(Sekretaris Jurusan/Prodi)
Drs. Sapiuddin Shiddiq, MA.
NIP: 19670328 200003 1 001

.......................

Mengetahui:
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof. Dr. Dede Rosyada, MA.
NIP: 19571005 198703 1 003

DEPARTEMEN AGAMA
UIN JAKARTA
FITK

No. Dokumen
Tgl. Terbit
No. Revisi:
Hal

FORM (FR)

Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia

:
:
:
:

FITK-FR-AKD-089
5 Januari 2009
00
1/1

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama

: Ansori

Tempat/Tgl.Lahir : Bangkalan, 11 Maret 1988
NIM

: 106011000073

Jurusan / Prodi

: PAI

Judul Skripsi

: Konsep Profil Guru Pendidikan Agama Islam Menurut al-Zarnuji
dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim dan Relevansinya

Dosen Pembimbing

: 1. Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag.

dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan
saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.

Jakarta,
Mahasiswa Ybs.
Materai 6000

Ansori
NIM. 106011000073

ABSTRAK

Nama
Nim
Fak/Jur
Judul

: Ansori
: 106011000073
: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan / Pendidikan Agama Islam
: Konsep Profil Guru Pendidikan Agama Islam Menurut al-Zarnûjî
dalam Ta’lîm al-Muta’allim dan Relevansinya”

Skripsi ini membahas tentang konsep profil guru pendidikan agama Islam.
Pembahasan skripsi ini bertujuan untuk menyingkap profil atau gambaran guru
pendidikan agama Islam dalam pandangan al-Zarnûjî yang terdapat dalam
karyanya Ta’lîm al-Muta’allim.
Salah satu unsur terpenting dalam proses pendidikan adalah guru. Eksistensi
guru memiliki peran yang amat penting dalam pendidikan. Kemajuan teknologi
informasi melalui internet sekalipun menyediakan pengetahuan yang berlimpah,
tidak dapat mengantikan kedudukan guru. Internet yang berada di dunia maya
sekadar memberikan asupan pengetahuan, tetapi tidak memberikan didikan seperti
yang dilakukan guru.
Kata orang Jawa, seorang disebut guru karena orang tersebut memang layak
digugu (didengarkan) nasehatnya dan ditiru (diteladani) akhlaknya. Dalam tataran
ideal seorang guru memang tidak sekadar mempunyai kecakapan dalam mengajar
sebuah ilmu melainkan juga memiliki kecakapan akhlak dalam mendidik siswa.
Al-Zarnûjî adalah tokoh pendidikan yang menuangkan pemikirannya
tentang pendidikan dalam karya monumentalnya, yaitu Ta’lîm al-Muta’allim. Di
dalamnya sarat akan nilai moral baik untuk murid ataupu guru.
Melalui studi pustaka (library research) skripsi ini mencoba mencari
persoalan tentang konsep guru pendidikan agama Islam yang telah digagaskan
oleh al-Zarnûjî. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif
analisis dengan memakai teknik content analisis yaitu teknik analisis dari
berbagai sumber informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
Dari hasil penelitian menyimpulkan bahwa konsep guru pendidikan agama
Islam adalah: pertama, al-a’lam atau lebih alim (profesional), kedua, al-awra’
atau lebih wara’ (yang dapat menjauhi diri dari perbuatan tercela) ketiga, alasanna atau lebih tua (lebih tua umur dan ilmunya), keempat, berwibawa, kelima,
al-hilm (santun) dan keenam, penyabar.

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan ke hadirat Allah swt, sehingga atas
segala limpahan karunia dan nikmatnya akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan.
Shawalat beriring salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad
saw, yang telah membawa kedamaian dan rahmat untuk semesta alam. Atas jerih
payah beliau kita berada di bawah bendera Islam.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini, terselesaikan atas dukungan dari
dosen, orang tua, rekan dan lainnya. Banyakanya pihak yang turut mendukung
penyelesaiannya, membuat penulis tidak mungkin menyebutkannya satu-persatu,
namun di bawah ini akan kami sebutkan mereka yang memiliki andil besar atas
terselesaikannya skripsi ini:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
bapak Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M. A, beserta seluruh staffnya.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

bapak Bahrissalim, M.Ag dan

seketaris Jurusan Pendidikan Agama Islam bapak Drs. Sapiuddin Shidiq, MA
beserta seluruh staffnya.
3. Bapak Dr. Abdul Majid Khon, M.Ag. yang telah sabar dan meluangkan
waktunya untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah
memberikan ilmunya kepada penulis, semoga bapak dan ibu dosen selalu
dalam rahmat dan lindungan Allah swt. Sehingga ilmu yang telah diajarkan
dapat bermanfaat dikemudian hari.
5. Bapak pimpinan beserta para staff Perpustakaan Utama, Perpustakaan
Fakulatas Tarbiyah dan Keguruan, atas segala kemudahan yang diberikan
kepada penulis untuk mendapatkan referensi yang mendukung penyelesaian
skripsi ini.
6. Kedua Orang Tua penulis (H. Abdussalam dan Hj. Sulaimah) yang telah
merawat dan mendidik dengan penuh kasih sayang secara tulus, mendo’akan
dan mencukupi moril dan materil kepada penulis sejak kecil sampai sekarang
dan seterusnya (kasih sayang mereka tidak pernah terputus sepanjang hayat).

ii

7. Teman-temanku (Naseh, S.Pd.I, Goni, S.Pd.I, Mas Arif, Deden RB. S.Pd.I,
Abdul Azis, S.Pd.I, Roni Gojel, Gus Yudi, Ikank, Abbaz, Dilah) dan semua
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan PAI angkatan 2006
khususnya kelas B yang senantiasa memberikan support dan motivasi kepada
penulis. Dan tak lupa pula kepada Nurmainnah (Iin) yang selalu memberikan
support dan semangat kepada penulis.
Akhirnya penulis berharap semoga amal baik dari semua pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini mendapatkan balasan pahala
dari rahmat Allah swt. Semoga apa yang telah ditulis dalam skripsi ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak. Amin ya Rabbal alamin.

Jakarta, 12 Januari 2011

Ansori

iii

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAK ..................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii
DAFATAR ISI .............................................................................................................. iv
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah .............................................................................. 4
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ................................................. 5
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................................ 5
E. Metode Penelitian ................................................................................... 6

BAB II

KAJIAN TEORI
A. Guru Pendidikan Agama Islam ............................................................ 8
1. Pengertian Guru ................................................................................. 8
2. Pengertian Pendidikan Agama Islam ................................................. 9
3. Pengertian Guru Pendidikan Agma Islam .......................................... 15
B. Kompetensi dan Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam ... 15
C. Tugas Guru Pendidikan Agama Islam................................................. 19

BAB III SEKILAS TINJAUAN KITAB TA’LÎM AL-MUTA’ALLIM
A. Latar Belakang Penyusunan Kitab ...................................................... 22
B. Kandungan Kitab Ta’lîm al-Muta’allim .............................................. 23
C. Tinjauan Pendidikan dalam Kitab Ta’lîm al-Muta’allim ................... 28
BAB IV KONSEP PROFIL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT
AL-ZARNÛJÎ DAN RELEVANSINYA
A. Mengenal al-Zarnûjî .............................................................................. 46
1. Riwayat hidup al-Zarnûjî ................................................................... 46

iv

2. Pendidikan al-Zarnûjî ......................................................................... 48
3. Situasi pendidikan pada zaman al-Zarnûjî ......................................... 59
4. Karya-karya al-Zarnûjî ....................................................................... 50
B. Profil Guru Pendidikan Agama Islam dan Relevansinya .................. 51
1. al-A’lam (lebih alim) .......................................................................... 52
2. al-Awra’ (lebih wara’) ....................................................................... 56
3. al-Asanna (lebih tua) .......................................................................... 60
4. Berwibawa ......................................................................................... 62
5. al-Hilm (Santun) ................................................................................ 65
6. Penyabar ............................................................................................. 71
BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................. 77
B. Saran ....................................................................................................... 78

DAFATAR PUSTAKA ................................................................................................ 79
LAMPIRAN

v

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu unsur penting dari proses kependidikan adalah guru. Oleh
karena itu guru mempunyai tanggung jawab mengantarkan peserta didik
untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Untuk mencapai
tujuan yang dicita-citakan tersebut, guru harus memenuhi kebutuhan peserta
didik, baik spiritual, intelektual, moral maupun kebutuhan fisik peserta didik.1
Keberhasilan pendidikan tergantung pada banyak faktor, namun yang
terpenting di antara faktor-faktor tersebut adalah sumber daya pontensial guru
yang sarat nilai moral dalam melakukan transformasi ilmu pengetahuan
kepada peserta didiknya.
Guru agama Islam sebagai salah satu komponen proses belajar
mengajar memiliki multi peran, tidak terbatas hanya sebagai ―pengajar‖ yang
melakukan transfer of knowledge tetapi juga sebagai pembimbing untuk
membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau belajar agama Islam. Artinya,
guru agama Islam memiliki tugas dan tanggung jawab yang kompleks
terhadap pencapaian tujuan pendidikan, dimana guru dituntut mempunyai
sifat-sifat yang ideal sebagaimana yang dikataka oleh Muhammad Nurdin
bahwa:

1

Al-Rasyidin dan Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2005),

h. 41

1

2

Guru dituntut mempunyai sifat yang ideal sebagai sumber
keteladanan, bersikap ramah dan penuh kasih sayang, penyabar, dan
menguasai materi yang akan diajarkan. Itulah sebabnya lembaga
pendidikan yang berhasil tidak hanya berasal dari guru yang berkualitas
secara intelektual, akan tetapi juga ditopang oleh kepribadian yang anggun
secara moral dan intelektual.2
Selain dituntut untuk memiliki keterampilan dalam mengajar guru
agama juga harus memiliki kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam. Dia
harus mampu menjadi teladan bagi peserta didiknya dan mampu memecahkan
masalah anak didiknya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh
Zakiyah Darajat. Menurutnya ―…Guru agama lebih dituntut lagi untuk
mempunyai kepribadian guru. Guru adalah seorang yang seharusnya dicintai
dan disegani oleh muridnya. Guru merupakan tokoh yang akan ditiru dan
diteladani dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik….‖3
Bagaimanakah sosok guru yang diharapkan yang bisa diterima oleh
sitiap pihak, baik dari sudut pandang siswa, pemerintah orang tua maupun
masyarakat? Menrut Mukti Ali, guru yang bisa diterima oleh setiap pihak
adalah sebagai berikut:
Dari sudut pandang siswa, guru ideal adalah guru yang memiliki
penampilan sedemikian rupa sebagai sumber motivasi belajar yang
menyenangkan. Pada umumnya siswa mengidamkan gurunya memiliki
sifat-sifat yang ideal sebagai sumber keteladanan, bersikap ramah dan
penuh kasih sayang, penyabar, manguasai materi ajar, mampu mengajar
dengan suasana menyenangkan. Dari sudut pandang orang tua murid, guru
yang diharapkan adalah guru yang dapat menjadi mitra pendidik bagi
anak-anak yang dititipkan untuk dididik. Dari sudut pandang pemerintah,
menginginkan agar guru itu mampu berperan secaar profesional sebagai
unsur penunjang dalam kebijakan. Dari sudut pandang masyarakat luas,
pada hakikatnya guru adalah wakil masyarakat di lembaga pendidikan, dan
wakil lembaga pendidikan di masyarakat.4
Guru mempunyai tanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik.
Dia tidak hanya dituntut mampu melakukan transformasi seperangkat ilmu
2

Muhammad Nurdin, Kiat Menjadi Guru Profesional, (Yogyakarta: Primashopie, 2004), h.

3

Zakiyah Darajat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996) H.

201.
98.
4

M. Ali Hasan dan Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Pedoman
Ilmu Jaya, 2003), h. 82.

3

pengetahuan kepada peserta didik (cognitive domain) dan aspek keterampilan
(pysicomotoric domain), akan tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk
mewujudkan hal-hal yang berhubungan dengan sikap (affective domain).
Karakter kependidikan yang berlandaskan pada pendekatan nilai-nilai
atau sikap saat ini jauh sebagaimana diharapkan. Banyak dari guru hanya
menonjolkan aspek kemampuan intelektualitas belaka (cognitive) dan
meninggalkan nilai-nilai etika (affective domain).
Guru terkadang dipuji dan disanjung karena keteladanannya dan
terkadang dicaci karena kelalaiannya sebagai sosok teladan bagi muridnya.
Oleh karena itu guru di samping sebagai pengajar (transfer of knowledge)
juga sekaligus sebagai panutan (central figure) bagi peserta didiknya. Dengan
demikian, guru menurut Islam memiliki beban yang sangat berat, di samping
beban profesional sebagai tenaga pengajar juga beban moral dalam
membentuk kepribadian peserta didik. Karena itu, di samping menguasai ilmu
yang diajarkan, guru juga harus membekali diri dengan akhlak yang terpuji.
Pribahasa mengatakan ―Guru kencing berdiri murid kencing berlari.‖
Pribahasa tersebut sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Pribahasa
tersebut sangat penting untuk dihayati maknanya bagi para guru. Begitu
pentingnya akhlak yang terpuji bagi guru karena guru adalah panutan bagi
peserta didiknya. Segala ucapan dan tingkah lakunya direkam oleh peserta
didiknya terlebih lagi bagi anak kecil yang kelakuannya cenderung meniru
apa yang dilihatnya.
Di dalam hadis dijelaskan bahwa ulama –guru yang juga termasuk di
dalamnya—merupakan perwaris para nabi.5 Sedangkan nabi diutus untuk
menyempurnakan akhlak.6 Untuk itu, seorang pendidik harus menyadari betul
keagungan profesinya. Ia harus menghiasi dirinya dengan akhlak mulia dan
menjauhi semua akhlak yang tidak terpuji

Abî Abdillah Muhammad Ibn Ismâ‘il al-Bukhârî, Şahih Bukhâri, (Saudi Arabia: Bait alAfkâr ad-Dauliyah, 2008), Kitab Ilmu bab al-‗Ilmu Qabla al-Qauli wa al-‗Amal, h. 21.
6
Mâlik Ibn Anas, Muwatta’, (Saudi Arabia: : Bait al-Afkâr ad-Dauliyah, 2004), Kitab
Husnul Khuluq, hadis No. 1723 h. 389.
5

4

Banyak para filosof muslim memberikan perhatian yang sangat besar –
lewat berbagai tulisannya—terhadap eksistensi guru, termasuk di dalamnya
mengenai hak dan kewajibannya. Mereka banyak menulis tentang beberapa
sifat yang harus dimiliki olehnya. Di antaranya adalah Burhanuddin alZarnûjî yang hidup sekitar akhir abad ke-12 dan awal abad ke-12 M pada
masa Bani Abbasiyah.
Al-Zarnûjî adalah sosok pemikir pendidikan Islam yang banyak
menyoroti tentang etika dan dimensi spiritual dalam pendidikan Islam. Dalam
karyanya al-Zarnûjî lebih mengedepankan pendidikan tentang etika dalam
proses pendidikan. Beliau mengisyaratkan pendidikan yang penekanannya
pada mengolah hati sebagai asas sentral bagi pendidikan.
Al-Zarnûjî dalam kitabnya ―Ta’lîm al-Muta’allim‖ walaupun pada
dasarnya ketentuan terhadap pribadi guru tidak dibahas secara eksplisit, akan
tetapi untuk dapat memahami sosok seorang guru menurut beliau, dapat
dipahami dari nasehat yang direkomendasikan bagi para penuntut ilmu dalam
memilih guru.
Karakter guru yang ditawarkan oleh al-Zarnûjî menurut hemat penulis
perlu mendapat sorotan yang serius dan sungguh-sungguh. Hal itu,
diharapkan bisa memberikan solusi alternatif bagi persoalan guru di
Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengenal lebih jauh tentang karakter guru
versi al-Zarnûjî dan diri pribadinya, maka penulis memberi judul ―KONSEP
PROFIL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT ALZARNÛJÎ

DALAM

TA’LÎM

KITAB

AL-MUTA’ALLIM

DAN

RELEVANSINYA”
B. Identifikasi masalah
Berdasarkan

latar

belakang

masalah

di

atas,

maka

penulis

mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1. Kurangnya kesadaran guru pendidikan agama Islam yang hanya
memperhatikan

kompetensi

kompetensi kepribadian.

profesional

dan

mengenyampingkan

5

2. Kurangnya kesadaran guru pendidikan agama Islam akan pentingnya
akhlak yang mulia.
3. Kurangnya perhatian terhadap konsep pendidikan yang telah dikonsep
oleh ulama terdahulu seperti al-Zarnûjî.
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Al-Zarnûjî adalah salah satu tokoh pendidikan Islam yang hidup pada
zaman pemerintahan Abbasiyah. Pemikirannya dituangkan dalam sebuah
karyanya yang diberi judul Ta’lîm al-Muta’allim yang memuat tentang adab
atau etika murid dalam mencari ilmu dan di dalamnya terdiri dari tiga belas
pasal.
Agar permasalahan tidak melebar, maka pada penelitian ini dibatasi
hanya pada seputar konsep guru pendidikan agama Islam menurut al-Zarnûjî
yang terdapat dalam Kitab Ta’lîm al-Muta’allim pada bab tiga, yaitu bab
tentang memilih ilmu, guru, dan teman. Yang di maksud dalam profil ini
adalah gambaran tentang guru menurut al-Zarnûjî yang termasuk syaratsyarat dan sifat-sifat seorang guru.
Adapun

perumusan

masalah

dalam

pembahasan

ini

adalah

bagaimanakah konsep profil guru pendidikan agama Islam yang baik menurut
al-Zarnûjî dalam kitab Ta’lîm al-Muta’allim dan relevansinya dalam dunia
pendidikan dewasa ini?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah
1. Untuk menyingkap

konsep guru pendidikan agama Islam dalam

pandangan al-Zarnûjî yang terdapat dalam kitab Ta’lîm al-muta’allim.
2. Untuk mengetahui apakah konsep guru menurut al-Zarnûjî ini masih
relevan atau tidak.
3. Untuk mengenal dan mengetahui lebih dalam pemikiran al-Zarnûjî.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian ini sedikit banyaknya dapat menambah kontribusi dalam ilmu
pengetahuan khususnya dibidang pendidikan.

6

2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dari para pembaca.
3. Hasil penelitian ini merupakan langkah awal dan dapat ditindak lanjuti oleh
penulis berikutnya.

4. Memberikan sumbangsih karya ilmiah yang bermanfaat untuk dipersembahkan
kepada para pembaca pada umumnya dan khususnya bagi penulis sendiri.

E. Metode penelitian
Penelitian skripsi ini dilakukan melalui riset pustaka (library research)
yang bersifat deskriptif analisis dengan uraian metodologi sebagai berikut:
1. Jenis penelitian
Adapun jenis penelitian ini dilakukan dengan mengadakan penelitian
kepustakaan (library research) dengan mengacu pada buku-buku, artikel
dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan sifat-sifat guru
pendidikan agama Islam.
2. Sumber data
Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Data primer
Data primer adalah literatur-literatur yang membahas secara
langsung objek permasalahan pada penelitian ini, yaitu berupa
karya dari al-Zarnûjî, yakni kitab Ta’lîm al-Muta’allim.
b. Data sekunder
Sumber data sekunder sebagai data pendukung yaitu berupa datadata tertulis baik itu buku-buku maupun sumber lain yang
memiliki relevansi dengan masalah yang dibahas.
3. Teknik Pengumpulan Data
Sebagai sebuah library research, studi ini difokuskan pada
penelusuran dan penelaahan literatur sarta bahan pustaka lainnya yang
relevan dengan masalah yang dikaji, meliputi karya al-Zarnûjî yaitu
Ta’lîm al-Muta’allim dengan cara menelusuri bab demi bab yang
membahas tentang guru. Sedangkan bahan-bahan tulisan lain yang
berkaitan dengan Ta’lîm al-Muta’allim sebagai sumber sekunder serta
semua tulisan yang berkaitan dengan guru sebagai sumber pelengkap,

7

yaitu membantu bahan pelelitian, pembahasan, dan analisis yang
komperhensif dalam penyususnan skripsi ini.
4. Pengolahan dan Analisis Data
Sebelum data diolah, penulis terlebih dahulu memahami secara
cermat isi dari kitab Ta’lîm al-Muta’allim. Hal ini dikarenakan kitab
Ta’lîm al-Muta’allim masih berbahasa Arab, akan tetapi kitab tersebut
sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga lebih
mempermudah bagi penulis untuk memahaminya.
Setelah data terkumpul kemudian diolah dengan cara membuat
ringkasan untuk menentukan batasan yang lebih khusus tentang objek
kajian dari buku-buku, terutama yang berhubungan dengan tema pokok
yang dibahas
Mengingat penelitian ini difokuskan kepada teks/data yang diperoleh
dari kitab Ta’lîm al-Muta’allim sebagai data primernya, maka penulis
menggunakan metode kontent analysis, yaitu suatu metode penelitian
dengan menganalisis isi buku.7 Untuk membantu keakuratan analisis,
penulis membandingkan pendapat al-Zarnûjî dengan pendapat-pendapat
para pakar pendidikan lainnya yang sependapat dengan al-Zarnûjî. Bila
ada yang bertentangan maka penulis mengkompromikannya dan apabila
tidak bisa dikompromikan maka diambil yang lebih kuat dan kemudian
diambil sebuah kesimpulan.
5. Teknik penulisan
Teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
merujuk pada Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan oleh Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Jakarta, tahun
2007.

7

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Penelitian Praktis, (Jakarta: Rineka Cipta,
1993), h. 8.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Guru Pendidikan Agama Islam
1.

Pengertian Guru
Kata guru berasal dari bahasa Indonesia yang berarti orang yang
mengajar. Dalam bahasa Inggris, dijumpai kata teacher yang berarti
“guru, pengajar”1.
Dalam bahasa Arab istilah yang mengacu kepada pengertian guru
lebih banyak lagi seperti “al-alim (jamaknya ulama) atau al-mu’allim,
yang artinya yang terpelajar, sarjana, yang berpengetahuan dan ahli
ilmu.”2 Kata ini banyak digunakan para ahli pendidikan untuk menunjuk
pada arti guru.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa guru
berarti “Orang yang pekerjaannya (mata pencaharian, profesinya)
mengajar.”3 Dengan demikian guru secara fungsional menunjukkan
seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman serta keteladanan.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun
2005 Tentang Guru dan Dosen Bab I Pasal 1 disebutkan bahwa: “Guru

1

John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2006), Cet. XVIII, h. 581.
2
Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir: Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka
Progresif, 1996), h. 966.
3
Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
2003), Edisi ketiga, Cet. IV, h. 377.

8

9

adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan
dasar, dan pendidikan menengah.”4
Menurut Hadari Nawawi sebagaimana dikutip Abudin Nata, guru
adalah “orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di
sekolah atau kelas. Secara lebih khusus lagi, ia mengatakan bahwa guru
berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang
ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak dalam mencapai
kedewasaan masing-masing.”5
Dengan demikian guru bukan hanya seorang pengajar yang hanya
memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya di dalam kelas, tapi
seorang pendidik profesional yang harus memperhatikan aspek kognitif,
psikomotorik dan afektif pada anak didik agar tumbuh dan terbina
menjadi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan dan berkepribadian.
2.

Pengertian Pendidikan Agama Islam
Sebelum dijelaskan pengertian pendidikan agama Islam, penulis
akan menjelaskan pengertian pendidikan secara umum terlebih dahulu.
Pengertian pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah
“proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan.”6
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan
ialah: “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi

4

dirinya

untuk

memiliki

kekuatan

spiritual

keagamaan,

Peraturan Pemerintah R.I Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, (Jakarta BP. Cipta Jaya,
2009), h. 2.
5
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 62.
6
Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia…, h. 263.

10

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”7
Menurut Arifin dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, pendidikan
adalah “menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa
tanggung jawab. Usaha kependidikan bagi manusia menyerupai makanan
yang berfungsi memberikan vitamin bagi pertumbuhan manusia.”8
Menurut M. Ngalim Purwanto, pendidikan adalah “segala usaha
orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin
perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan atau pimpinan
yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak,
dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri
sendiri dan bagi masyarakat.”9
Sementara Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan adalah
“pengembangan pribadi dalam semua aspeknya. Dengan penjelasan
bahwa yang dimaksud pengembangan pribadi ialah yang mencakup
pendidikan oleh diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, dan pendidikan
oleh orang lain (guru). Seluruh aspek mencakup jasmani, akal, dan hati.
Jelasnya pendidikan adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang
agar ia berkembang secara maksimal.”10
Menurut Ahmad D. Marimba pendidikan adalah “bimbingan atau
pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan
rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.”11
Jadi dalam definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli tersebut,
pendidikan setidaknya terdiri dari beberapa unsur, yaitu:
1. Adanya pendidik atau pembimbing (orang yang lebih dewasa)
7

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI, UndangUndang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan (Jakarta: Depdiknas, 2006), hal. 5
8
Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, “Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Interdisipliner”, (Jakarta, Bumi Aksara, 2003), Cet. I, hal. 7.
9
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2006), Cet. XVII, hal. 10.
10
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung, Remaja Rosdakarya,
1994), Cet. II, hal. 26-27.
11
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. al-Ma‟arif
Bandung1989), Cet. VIII, h. 19.

11

2. Adanya peserta didik
3. Adanya bimbingan atau pertolongan
4. Bimbingan itu mempunyai tujuan
5. Adanya alat-alat yang dipergunakan dalam usaha tersebut
Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan
pendidikan ialah bimbingan atau pertolongan secara sadar yang diberikan
oleh

orang dewasa atau pendidik kepada peserta didik dalam

perkembangan jasmani dan rohani agar ia mampu mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak
mulia.
Sedangkan kata agama berasal dari bahasa Sanskerta. Menurut
suatu pendapat ia terdiri dari kata-kata: a = tidak dan gama = kacau,
kocar-kacir, atau tidak teratur. Selain itu ada pula yang mengartikan
agama sebagai teks atau kitab suci dan juga tuntunan. Memang agama
mengandung ajaran-ajaran

yang berisikan

tuntunan

hidup

bagi

penganutnya.12
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa agama
berarti “ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan
peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan manusia serta
lingkungannya.”13
Dalam bahasa Arab dipakai kata al-Dîn yang artinya “tunduk,
patuh.”14 Mahmud Saltut dalam bukunya Quraish Shihab, menyatakan
bahwa agama adalah “ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada
Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia.”15
Dalam bukunya Quraish Shihab, menurut Muhammad Abdullah
Badran, dalam bukunya al-Madkhal ila al-Adyan, berupaya untuk

12

Supriadi, et. al.,Buku Ajar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: CV. Grafika Karya Utama,
2001),Ccet. II, h.33
13
Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia…, h. 12
14
Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1990), Cet. VIII,
h. 133.
15
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1992), h. 209.

12

menjelaskan arti agama dengan merujuk kepada al-Qur‟an ia memulai
bahasannya dengan pendekatan kebahasaan.
Al-Dîn yang biasa diterjemahkan “agama”, menurut guru besar alAzhar itu, menggambarkan “hubungan antara dua pihak dimana yang
pertama mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada yang kedua.” 16
Jika demikian agama adalah ajaran yang mengatur tentang
hubungan makhluk dengan khaliknya, hubungan sesama manusia dan
hubungan manusia dengan lingkungannya, yang mencakup tentang
keimanan atau kepercayaan, ibadah dan muamalah.
Kata Islam merupakan bentuk dasar (mashdar, infinitive) dari kata
aslama – yuslimu yang berarti “menyerahkan diri, tunduk, patuh atau
taat, damai” kata-kata tersebut berakar dari kata salima yang berarti
“selamat, sentosa.”17
Sedangkan Islam, menurut pemakaian bahasa, berarti berserah diri
kepada Allah swt. Hal ini dipertegas oleh firman Allah swt berikut ini:
           
  

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama
Allah swt, padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang di
langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya
kepada Allah swt-lah mereka dikembalikan.” (Q.S Ali Imran/3: 83).
Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Islam

adalah beserah diri, tunduk dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah.
Jadi manusia yang mengaku Islam haruslah tunduk dan patuh kepada
sang Khalik (penciptanya) agar ia senantiasa selamat sentosa.
Sedangkan pengertian agama Islam secara terminologis adalah
agama Allah yang disampaikan kepada Rasul Muhammad saw untuk
diteruskan kepada seluruh manusia, yang mengandung ketentuanketentuan keimanan (akidah), ibadah, muamalah (interaksi sosial) dan
16
17

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran…,h. 209-210.
Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia…, h. 177.

13

akhlak, yang menentukan proses berpikir, merasa, berbuat dan
terbentuknya kata hati.18
Menurut Ţahir bin Şalih al-Jazairî dalam kitabnya al-Jawâhir alKalamiyah bahwa Islam adalah:

ِ ِ‫ااقْرار بالل‬
ِ
ِ
ِ
ِ ‫يق بِال َق‬
َ‫اءبِ ِه نَبيّ ا‬
ُ ‫َص ِد‬
ْ ‫سان والت‬
ُ ‫اا ْس‬
َ ‫يع َم‬
َ ‫لب بِأ َن َجم‬
ُ َ ‫ام ُه َو‬
َ ‫اج‬
ِ ‫محمد صلى اه عليه وسلم ح ٌق‬
ٌ ‫وص ْد‬
َ
ّ

“Islam adalah mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan
hati bahwa segala yang datang dari Nabi Muhammad saw. Itu benar
adanya.”19

Jadi agama Islam sebagai agama Allah swt adalah jalan hidup yang
ditetapkan oleh Allah swt (sebagai sumber kehidupan), yang harus dilalui
(ditempuh) oleh manusia, untuk kembali atau menuju kepada-Nya.
Oleh karena itu, bila manusia yang berpredikat muslim, benarbenar harus menjadi penganut agama yang baik, yang senantiasa
mentaati ajaran Islam dan menjaga agar rahmat Allah swt tetap berada
pada

dirinya.

Ia

harus

mampu

memahami,

menghayati,

dan

mengamalkan ajarannya yang didorong oleh iman sesuai dengan akidah
Islam.
Setelah dijelaskan pengertian pendidikan, agama dan Islam maka
penulis akan menjalaskan pengertian pendidikan agama Islam. Banyak
para pakar pendidikan yang mendefinisikan pendidikan agama Islam, di
antaranya adalah sebagai berikut.
Pendidikan agama Islam adalah “upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati,
hingga mengimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk
menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan

18
19

Supriadi, et. al.,Buku Ajar Pendidikan Agama Islam…, h. 42.
Ţahir bin Şalih al-Jazairy, al-Jawâhir al-Kalamiyah, (Surabaya: al-Hidayah, t.th), h.2.

14

kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan
bangsa.”20
Menurut Ahmad D. Marimba pendidikan agama Islam yaitu
“bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam
menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran
Islam.”21
Zakiah Darajat mendefinisikan pendidikan agama Islam adalah:
Pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama islam, yaitu
berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah
selesai dari pendidikan itu ia dapat memahami, menghayati, dan
mengamalkan ajaran-ajaran agama islam yang telah diyakininya secara
menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama islam itu sebagai suatu
pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di
dunia maupun di akhirat kelak.22
Tayar Yusuf mengartikan pendidikan agama Islam sebagai “usaha
sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan
kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi
manusia bertakwa kepada Allah swt.”23 Sedangkan menurut Ahmad
Tafsir pendidikan agama Islam adalah “bimbingan yang diberikan
seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai
dengan ajaran Islam.”24
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan, bahwa pendidikan
agama Islam adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa
terhadap peserta didik agar meraka dapat memahami ajaran Islam
seluruhnya serta mengamalkannya.

20

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Bebasis Kompetensi: Konsep
dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), Cet. III, h. 130.
21
. Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam…, hal. 23.
22
. Zakiah Darajat, Ilmu Penididkan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996), Cet. III, hal. 86-89.
23
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasi Kompetensi…, h. 130.
24
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasi Kompetensi…, h. 130.

15

3.

Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwwa Guru
Agama adalah “guru yang mengajarkan mata pelajaran agama.”25
Menurut H. M. Arifin guru agama Islam adalah: “orang yang
membimbing, mengarahkan dan membina anak didik menjadi manusia
yang matang atau dewasa dalam sikap dan kepribadiaannya sehingga
tergambarlah dalam tingkah lakunya nilai-nilai agama Islam.”26
Dari pengertian di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan
bahwa guru pendidikan agama Islam adalah orang yang telah
mengkhususkan dirinya untuk melakukan kegiatan menyampaikan
ajaran-ajaran agama Islam terhadapa peserta didiknya sebagai pelaksana
dari sistem pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Kedua pengertian di atas menunjukkan bahwa Guru pendidikan
agama Islam, yaitu guru yang mengajar materi pendidikan agama Islam
sesuai dengan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD, SMP
dan SMA. Sedangkan guru agama Islam menunjukkan dua kemungkinan,
yaitu guru yang beragama Islam dan guru yang mengajarkan agama
Islam dan belum tentu mengajarkan materi Pendidikan Agama Islam
(PAI) seperti di SD, SMP dan SMA.

B. Kompetensi dan Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam

Untuk menjadi pendidik yang professional tidaklah mudah, karena ia
dituntut memiliki berbagai kompetensi-kompetensi keguruan. Kompetensi
(professional keguruan) yakni “kewenangan yang ada pada individu yang
memiliki profesi sebagai guru. Kompetensi dari bobot dasar dan
kecenderungan yang dimiliki”.27
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kompeten berarti “cakap
(mengetahui); berkuasa (memutuskan, menentukan); berwenang. Sedangkan
25

Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia…, h. 377.
H.M. Arifin, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Jakrta: Bina Aksara, 1987), h. 100.
27
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofik dan Kerangka
Dasar Operasionalisasinya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), h. 170.
26

16

kompetensi berarti kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan
sesuatu).”28
Istilah

kompetensi

sebenarnya

memiliki

banyak

makna

yang

dikemukakan beberapa ahli sebagaimana yang termuat dalam buku M. Uzer
usman sebagai berikut:
Menurut Broke and Stone sebagaimana dikutip Uzer Usman, kompetensi
merupakan “Descriptive of qualitative or teacher behavior appears to be
entirely meaningful (Gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang
tampak sangat berarti).”29
Sedangkan menurut Mc. Leod, kompetensi merupakan “The state of
legally competent or qualified (Keadaan berwenang atau memenuhi syarat
menuntut ketentuan hukum).”30
Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu pekerjaan yang
bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja
harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Atas
dasar pengetian ini, ternyata pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan
lainnya karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus
dalam melaksanakan profesinya.31
Adapun

kompetensi

guru

merupakan

kemampuan

guru

dalam

melaksanakan kewajiban secara bertanggung jawab.
Dengan gambaran pengertian tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa
kompetensi merupakan kemampuan guru dalam melaksanakan profesi
keguruannya.
Mengapa kompetensi dibutuhkan dalam prose pembelajaran? Menurut
Alisuf Sabri ada dua alasan, yaitu:
a.

28

Mengajar itu berkedudukan sebagai suatu profesi yang efektifitasnya
akan diukur dari kualitas pelayanan profesional yang diberikan oleh

Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia…, h. 584.
M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001),
Cet. XIII, h. 14.
30
M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional…, h. 14.
31
M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional…, h. 14.
29

17

b.

guru dalam membantu membimbing pertumbuhan dan
perkembangan murid-muridnya.
Sekolah itu sebenarnya merupakan salah satu tempat bagi anak untuk
belajar memperoleh pengalaman-pengalaman yang berguna bagi
perkembangannya.32

Dengan demikian, lembaga pendidikan yang tidak memperhatikan
kompetensi gurunya akan berdampak negatif pada siswa-siswanya atau
lembaga itu sendiri.
Di dalam Dunia Pendidikan, komponen-komponen kompetensi tertera di
dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19, Tahun 2005, Pasal 28, tentang
Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), ayat 3, disebutkan bahwa
seorang pendidik ataupun pengajar harus memiliki 4 (empat) kompetensi,
yaitu:
a. Kompetensi Pedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran
peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikiya.
b. Kompetensi Kepribadian, adalah kemampuan kepribadian yang
mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta
didik, dan berakhlak mulia.
c. Kompetensi Profesional, adalah kemampuan menguasai materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan peserta
didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar
Nasional Pendidikan.
d. Kompetensi Sosial, adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari
masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan
peserta didik, dan masyarakat sekitar. 33

32

Alisuf Sabri, Buletin Mimbar Agama dan Budaya, (Jakarta 1994), h. 14-15.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19, Tahun 2005, tentang Standar nasional
Pendidikan, (www.setjendiknas.or.id)
33

18

Selain kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru agama Islam,
profesionalisme juga tidak kalah pentingnya. Istilah profesionalisme berasal
dari profession dan mengandung arti yang sama dengan kata accupation yaitu
“pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan
atau latihan khusus. Dengan kata lain profesi dapat diartikan sebagai suatu
bidang keahlian yang khusus untuk menangani lapangan kerja tertentu yang
membutuhkannya.”34
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata profesional adalah
“bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk
menjalankannya (lawan amatir).35
Dari pengertian di atas dpat diambil kesimpulan bahwa profesionalisme
guru agama adalah guru yang memiliki suatu kemampuan dan keahlian
khusus dalam bidang kependidikan keagamaan sehingga ia mampu untuk
melakukan tugas, peran dan fungsinya sebagai pendidik dengan kemampuan
yang maksimal.
Menurut M. Ali Hasan, Ciri khas seorang profesional adalah,” pertama:
menguasai secara baik suatu bidang tertentu, melebihi rata-rata orang
kebanyakan, kedua: mempunyai komitmen moral yang tinggi atas kerja yang
biasanya tercermin di kode etik profesinya.”36
Berdasarkan kompetensi profesional guru secara umum, maka seorang
guru agama Islam yang professional diharapkan memiliki kompetensikompetensi sebagai berikut:
1. Penguasaan materi agama Islam yang komprehensif serta wawasan
dan bahan pengayaan, terutama pada bidang-bidang yang menjadi
tugasnya.
2. Penguasaan strategi (mencakup pendekatan, metode dan teknik)
pendidikan agama Islam, termasuk kemampuan evaluasinya.
3. Penguasaan ilmu dan wawasan kependidikan.
4. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian
pendidikan pada umumnya guna pengembangan kependidikan.
34

HM, Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1993),
cet. Ke-3, h. 105.
35
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia…, h. 789.
36
M. Ali Hasan dan Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Pedoman
Ilmu Jaya, 2003), h. 83.

19

5. Memiliki kepekaan terhadap informasi secara langsung atau tidak
langsung yang mendukung kepentingan tugasnya.
6. Mengevaluasi proses dan hasil pendidikan yang sedang dan sudah
dilaksanakan.37
Dengan demikian guru agama Islam yang professional dengan berbagai
kompetensi yang dimilikinya, merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar
lagi untuk menghadapi tuntutan zaman yang semakin kompleks seperti
sekarang ini.
C. Tugas Guru Pendidikan Agama Islam
Guru akan melaksanakn tugasnya dengan baik atau bertindak sebagai
pengaar yang efektif, jika ia mampu melaksanakan fungsinya sebagai guru.
Kemudian, apa sajakah tugas guru tersebut? Menurut Zakiyah Darajat, fungsi
atau tugas guru meliputi, “pertama, tugas pengajaran atau guru sebagai
pengajar, kedua, tugas bimbingan dan penyuluhan atau guru sebagai
pembimbing dan pemberi bimbingan, dan ketiga, tugas administrasi atau guru
sebagai “pemimpim” (manajer kelas).”38
Al-Qur‟an telah mengisyaratkan peran para nabi dan pengikutnya dalam
pendidikan dan fungsi fundamental mereka dalam pengkajian ilmu-ilmu Ilahi
serta aplikasinya.39 Isyarat tersebut, salah satunya, terdapat dalam firman-Nya
berikut ini:
                
             

“Tidak mungkin bagi seorang yang diberi kitab oleh Allah,serta hikmah
dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia: ‘jadilah kamu
penyembahku bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (dia berkata): ‘Jadilah
kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena
kamu mempelajarinya,’” (Q.S Ali Imran/3: 79).

37

Muhaimin dan Abd. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, h. 172.
Zakiyah Darajat, Metodik khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Sinar grafika Ofset,
2008), Cet. IV, h.265.
39
Abdurrahman an-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat,
penerjemah: Syihabuddin, (Jakarta, Gema Insani Press, 1995), h. 169.
38

20

Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung mengisyaratkan bahwa tugas
terpenting yang diemban oleh Rasulullah saw adalah mengajarkan al-kitab,
hikmah, dan penyucian diri sebagaimana difirmankan Allah ini:
            
    

“Ya Tuhan Kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan
mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan
mengajarkan kita dan hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S
Al-Baqarah/2: 129).
Keutamaan profesi guru sangatlah besar sehingga Allah menjadikannya
sebagai tugas yang diemban Rasulullah saw,40 sebagaimana diisyaratkan
lewat firman-Nya:
             
           

“Sungguh, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang
beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengahtengah dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka
ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka
Kitab (al-Qur’an) dan Hikamh (Sunnah). Meskipun sebelumnya, mereka
benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S Ali Imran/3: 164).
Dari gambaran ayat-ayat di atas, guru memiliki beberapa fungsi, di
antaranya adalah:
1. Fungsi penyucian; artinya seorang guru berfungsi sebagai pembersih
diri, pemelihara diri, pengembang, serta pemelihara fitrah manusia.
2. Fungsi pengajaran; artinya seorang guru berfungsi sebagai penyampai
ilmu pengetahuan dan berbagai keyakinan kepada manusia agar
mereka menerapkan seluruh pengetahuannya dalam kehidupan
sehari-hari.41
40
41

An-Nahlawi, Pendidikan Islam…, h. 169.
An-Nahlawi, Pendidikan Islam…, h. 170.

21

Dari kedua pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa tugas
guru agama Islam adalah tidak hanya sebaga pengajar yang beridiri di depan
kelas untuk mentransfer ilmu pengetahuan akan tetapi dia harus menjaga
fitrah manusia sebagai insan kamil.

BAB III
SEKILAS TINJAUAN KITAB TA’LÎM AL-MUTA’ALLIM
A. Latar Belakang Penyusunan

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

109 3448 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 879 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 788 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 513 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 663 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1155 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

58 1053 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 656 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 934 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1143 23