Analisis Yuridis Terhadap Penahanan Aung San Suu Kyi oleh Junta Militer Myanmar ditinjau pada Instrumen Internasional tentang Hak Asasi Manusia

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PENAHANAN AUNG SAN
SUU KYI OLEH JUNTA MILITER MYANMAR DITINJAU
PADA INSTRUMEN INTERNASIONAL TENTANG HAK
ASASI MANUSIA

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Hukum
Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh
Nama

: Ruth Yenny Febrianty Kudadiri

NIM

: 060200342

Departemen : Hukum Internasional

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PENAHAN AUNG SAN SUU
KYI OLEH JUNTA MILITER MYANMAR DITINJAU PADA
INSTRUMEN INTERNASIONAL TENTANG HAK ASASI
MANUSIA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Hukum
Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
DISUSUN OLEH :
RUTH YENNY FEBRIANTY KUDADIRI
060200342
DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL
DISETUJUI OLEH :
KETUA DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL

Sutiarnoto, SH, M.Hum
NIP.195610101986031003
Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Rosmi Hasibuan,SH.M.H

Arif, SH. M.H

NIP.194710281980022001

NIP. 1971028219

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………. 1
B. Rumusan Permasalahan………………………………………………… 9
C. Tujuan Penulisan……………………………………………………….. 10
D. Keaslian Penulisan……………………………………………………… 11
E. Metode Penulisan………………………………………………………. 11
F. Tinjauan Kepustakaan………………………………………………….. 12
G. Sistematika Penulisan…………………………………………………... 13
BAB II PANDANGAN UMUM TENTANG HAK ASASI MANUSIA
A. Pengertian HAM…………………………………………………………16
B. 1. Sejarah Perkembangan HAM di Dunia……………………………….20
2. Sejarah Perkembangan HAM di Indonesia…………………………...30
C. Sejarah Myanmar dan Aung San Suu Kyi……………………………….42
D. Bentuk-Bentuk Pelanggaran HAM………………………………………56
BAB III INSTRUMEN INTERNASIONAL TENTANG HAM
A. Deklarasi HAM 1948……………………………………………………70
B. Kovenan Internasional Hak Sipil dan Hak Politik……………………….74
C. Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya………………76

Universitas Sumatera Utara

D. Protokol Opsional Pertama dan Kedua…………………………………..77
E. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Kekejaman Lainnya
Perlakuan atau Penghukuman yang Tidak Manusiawi atau
Yang Merendahkan Martabat Manusia………………………………….79
F. Instrumen Internasional Lainnya tentang HAM…………………………80
BAB IV ANALISIS YURIDIS TERHADAP PENAHANAN AUNG SAN SUU
KYI OLEH JUNTA MILITER MYANMAR DIDASARKAN
INSTRUMEN INTERNASIONAL TENTANG HAM
A. Bentuk-Bentuk Pelanggaran yang dilakukan oleh Junta Militer
Myanmar terhadap Aung San Suu Kyi…………………………………..84
B. Tanggung Jawab Negara Myanmar terhadap Penahanan Aung
San Suu Kyi……………………………………………………………...87
C. Upaya Dunia Internasional dalam Perlindungan HAM Aung San
Suu Kyi sebagai Korban Pelanggaran HAM…………………………….95
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan……………………………………………………………..101
B. Saran……………………………………………………………………103
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, Tuhan Yesus Kristus, karena berkat kasih dan berkat-Nya penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
Adapun judul skripsi ini adalah : “Analisis Yuridis Terhadap Penahanan Aung
San Suu Kyi oleh Junta Militer Myanmar ditinjau pada Instrumen
Internasional tentang Hak Asasi Manusia”.
Untuk penulisan skripsi ini penulis berusaha agar hasil penulisan skripsi
ini mendekati kesempurnaan yang diharapkan, tetapi walaupun demikian
penulsian ini belumlah dapat dicapai dengan maksimal, karena ilmu pengetahuan
penulis masih terbatas. Oleh karena itu, segala saran dan kritik akan penulis
terima dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan penulisan skripsi ini.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak sehingga pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH,M.Hum, selaku Dekan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Bapak Prof. Dr. Suhaidi,S.H.,M.Hum selaku Pembantu Dekan I, Bapak
Syarifuddin Hasibuan, S.H.,M.H,DFM selaku Pembantu Dekan II, Bapak
M.Husni, S.H.,M.Hum, selaku Pembantu Dekan III.

Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Sutiarnoto, S.H.,M.Hum, selaku Ketua Departemen Hukum
Internasional.
4. Ibu Rosmi Hasibuan, S.H.,M.H selaku Dosen Pembimbing I yang telah
memberi bimbingan dan masukan selama penulisan skripsi.
5. Bapak Arif, S.H.,M.H selaku Dosen Pembimbing II yang telah membantu
penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
6. Bapak Ramli, S.H selaku Dosen Wali dan Dosen Penasihat Akademik.
7. Ibu Rafiqoh Lubis, S.H.,M.Hum yang memberikan semangat baru dan
dukungan untuk menyelesaikan skripsi ini. Makasih ya,buuu……
Meskipun waktunya jauh dari perkiraan kan bu..hehehhe
8. Teristimewa buat keluargaku tercinta, mama yang telah membesarkan saya
dengan selalu memberikan curahan kasih sayang dan perhatian. Ini salah
satu cara yang dapat ku lakukan untuk berterima kasih dan membalas
kasih sayangmu, ma (you’re my superwoman.….), saudara-saudaraku
tercinta, Jan Wesly, Merry Christine, David Octavianus makasih juga
selama ini sudah melakukan yang terbaik bagiku… luv u all.. Specially for
my beloved daddy in heaven, I give it for you, dad. Ku harap aku dapat
menjadi anak seperti yang Bapak cita-citakan…. Miss U so much!!!
9. Teman-temanku tercinta yang menemaniku selama 4 tahun di kampus
tercinta Pauline, Jesica, Hanna, (banyak cerita yang udah kita miliki,
banyak canda tawa yang telah kita bagi, begitu juga udah banyak air mata
yang jatuh yang telah kita bagi bersama juga…terimakasih kita bisa

Universitas Sumatera Utara

menjadi tempat berbagi selama 4 tahun ini) Sarah, April (ku harap
pertemanan kita gak terhenti disini ya…keep on rollin, guys..)
10. Buat teman-teman menggila bersama Ferdy, Otniel, Jani, Babe (banyak
hal yang telah kalian lakukan buatku selama ini, banyak nasihat terutama
nasihat Ferdy yang membuatku terkadang menangis.. You are the craziest
people in this world)), Mamad, Boboy, Topel, Hendry, Aulia, Andre…..
makasih atas kebersamaan kita dan dorongan kalian untuk menyelesaikan
skripsi ini secepat mungkin.., meskipun kita baru akrab belakangan ini tapi
kalian punya tempat dalam hatiku, coba kalo dari awal kita akrab pasti gak
bakalan tamat!!!!! Senang bisa menjadi bagian dari kalian, semoga
pertemanan ini untuk selamanya….
11. Buat semua anggota K-FAMILY………. Makasiihhh atas perhatian kalian
semua. Senang bisa menggila bareng kalian, …. Luv u all.
12. Buat semua anak angkatan 06 grup B terimakasih ya…..
13. Buat semua teman Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan
semua teman yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terimakasih juga
atas kebersamaan ini.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. Segala kritik
dan saran yang bersifat membangun atas bentuk dan substansi dari skripsi ini saya
terima dengan senang hati, dan saya harap skripsi ini dapat bermanfaat.
Medan, Maret 2010,
Penulis
RUTH YENNY F. KUDADIRI

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Hak-hak asasi itu merupakan hak dasar yang telah diperoleh dan

dibawanya bersamaan dengan kelahiran atau kehadirannya di bumi. Hak asasi
manusia ini berlaku tanpa ada perbedaan atas dasar keyakinan agam atau
kepercayaan , suku, bangsa, ras , jenis kelamin dan status sosial. Karena itu hakhak asasi manusia itu mempunyai sifat yang suci, luhur dan universal.
Berbicara mengenai pelanggaran hak asasi manusia sangatlah luas
cakupannya, karena jangkaunnya sangat luas, berkaitan dengan hak dan eksistensi
manusia selaku ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa setiap manusaia yang
dilahirkan bebas dan sama dalam hal derajat dan hak, tiada perbedaan kulit, ras
dan keturunan serta golongan maupun kodrat manusia.
Hak itu di dalam ekonomi, sosial budaya dan dari kacamata hukum maupun
pemerintahan yang berkuasa. Selagi manusia itu “living in the truth” manusia itu
berhak mempertahankan hidupnya.
Akan tetapi manusia itu juga harus menyadari karena adanya proses
interaksi antar manusia, hidup di dalam “human totaliy” kesatuan manusia, yang
dalam hal ini harus diperhatikan juga hak-hak orang lain termasuk pemerintahan,
sehingga diharapkan adanya keseimbangan antara masyarakat dan pemerintahan
selaku pelindung atas hak-haknya masyarakatnya, sesuai dengan teori perjanjian

Universitas Sumatera Utara

masyarakat dari John Locke yang mengatakan bahwa manusia itu lahir bebas dan
mempunyai hak-hak yang kekal dan tidak dapat dicabut, yang tidak pernah
ditinggalkan ketika umat manusia “dikontrak” untuk memasuki keadaan sosial
dari keadaan primitif dan tidak pernah berkurang karena tuntutan ‘hak ilahi raja”
atau pemerintah. Inilah suatu idealisme dari pelaksana hak-hak asasi manusia di
setiap negara di atas permukaan bumi ini, tanpa ada pengecualiannya, sehingga
Perserikatan

Bangsa-Bangsa

(PBB)

yang

mengacu

kepada

Deklarasi

Kemerdekaan yang diproklamirkan oleh ketiga belas koloni Amerika Serikat pada
tanggal 4 Juli 1776 yang mengatakan bahwa :
“Kami beranggapan bahwa kebenaran ini sudah nyata dengan sendirinya,
bahwa semua manusia diciptakan sederajat , bahwa mereka dikaruniai
oleh Pencipta mereka dengan hak-hak asasi tertentu yang tidak dapat
dicabut, bahwa diantara hak-hak ini adalah kehidupan , kebeasan serta
mengajar kebahagiaan”.
Memandang perlu membuat pernyataan “The Universal Declaration of
Human Rights”, yang terdiri dari Mukadimah dan 30 pasal operatif yang
mencakup hak-hak sipil dan politik maupun ekonomi, sosial budaya yang didasari
oleh pernyataan-pernyataan terdahulu, selain daripada Deklarasai Kemerdekaan
yang diproklamirkan oleh ketiga belas koloni Amerika Serikat yaitu:
1. Magna Charta (Piagam Agung 1215) berupa dokumen yang
mencatat beberapa hak yang diberikan oleh raja John di Inggris
kepada beberapa bawahannya, atas adanya tuntutan mereka dan
naskah ini dapat membatasi kekuasaan raja John terhadap kaum
bangsawan tersebut yang ada di lingkungannya.

Universitas Sumatera Utara

2. Bill of Right (Undang-Undang Hak 1689) yaitu sebuah undangundang yang diterima oleh parlemen Inggris setelah berhasil dalam
tahun sebelumnya yang mengadakan perlawanan terhadap raja
John dalam revolusi berdarah (lebih dikenal dengan deglorius
revolution of 1688)
3. Declaration des droit de I home et du citoyen (Pernyataan hak-hak
manusia dan warga negara tahun 1789). Ini sebuah naskah yang
dicetuskan pada permulaan revolusi Perancis sebagai perlawanan
terhadap kesewenangan dari suatu rejim penguasa.
4. Bill of Right (Undang-Undang Hak), ini sebuah naskah yang
disusun oleh rakyat Amerika tahun 1789, semua teksnya dengan
Deklarasi Perancis yang menjadi bagian dari undang-undang dasar
pada tahun 1791 di Amerika. 1
Sebenarnya hak-hak yang dirumuskan pada abad ke-17 dan 18 sangat
dipengaruhi oleh gagasan alam (natural law) seperti yang dirumuskan Jhon Locke
(1632-1714), Jean Jaques Rooseau (1712) yang terbatas pada hak yang bersifat
politik seperti kesamaan hak, hak atas kebebasan, hak untuk memilih. Akan tetapi,
pada abad ke-20 hak politik ini dianggap kurang sempurna dan mulailah
dicetuskan beberapa hak lain yang lebih luas ruang lingkupnya, dan hak yang
sangat terkenal seperti dirumuskan oleh presiden Amerika Serikat Franklin
D.Rosefel pada permulaan perang dunia ke-2 sewaktu berhadapan dengan Nazi

1

Maryam Budihardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Penerbit: PT.Gramedia, Jakarta, tahun 2000:
h1m20.

Universitas Sumatera Utara

Jerman dan hak-hak yang dikatakan oleh Rosefel itu antara lain ada 4 kebebasan
yaitu:
1. Freedom of speak (kebebasan untuk berbicara)
2. Freedom of fear (kebebasan dari ketakutan)
3. Freedom of religion (kebebasan beragama)
4. Freedom of from want (kebebasan dari kemelaratan) 2
Pengalaman pahit dan getir dari umat manusia dari perang dunia yang
telah terjadi, dimana harkat dan martabat manusia terinjak-injak, timbul kesadaran
umat manusia ke dalam Piagam PBB yang sebagai realisasinya muncul kemudian
The Universal Declaration of Human Rights yang diterima secara aklamasi oleh
Sidang Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948.
Walaupun demikian pernyataan di atas bukan tidak mendapat pertentangan
dari sarjana-sarjana lain seperti Jeremy Bentham seorang filsuf yang beraliran
positivas yang mengatakan bahwa hak asasi manusia adalah anak hukum. Tidak
ada hak asasi manusia tanpa hukum. Dari hukum yang imajiner seperti hukum
alam (natural law) yang ada ialah hak-hak yang imajiner. Karena hak asasi
manusia atas dasar hukum alam itu adalah kosong belaka.
Sejarah umat manusia telah mencatat bahwa setiap penindasan,
pemerkosaan dan pelanggaran hukum atas hak-hak asasi manusia yang dilakukan
oleh siapapun, ia akan menimbulkan akibat perlawanan dari berbagai pihak.
Pengorbanan jiwa dan raga dari mereka yang tertindas membuat harkat dan
2

Maurice Cronston, Human Right Today (Bombay Manak Thana Sons), 1962, hal.33

Universitas Sumatera Utara

martabat manusia itu mnejadi kehilangan

arti dan makna dalam kehidupan

bernegara dan berbangsa. Oleh karena itu, setiap tindakan yang menindas dan
memperkosa harkat dan martabat hak-hak asasi manusia perlu mendapat perhatian
dan penanganan secara serius.
Pengalaman pahit dan getir dari umat manusia dari perang dunia yang
telah dua kali terjadi, dimana harkat dan matabat hak-hak asasi manusia terinjakinjak, timbul kesadaran umat manusia menempatkan penghormatan dan
penghargaan akan hak-hak asasi manusia ke dalam Piagam PBB yang sebagai
realisasinya muncul kemudian

The Universal Declaration of Human Rights

(Penyataan Sedunia tentang Hak-Hak Asasi Manusia) yang diterima secara
aklamasi oleh Sidang Umum Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember
1948.
Dengan memperhatikan besarnya perhatian PBB dan dunia internasional
terhadap hak-hak asasi manusia sedunia tersebut, maka sudah sepantasnya dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara harus menghormati dan memperlakukan
setiap manusia sesuai dengan harkat dan martabat hak-hak asasinya.
Perkembangan progresif di bidang hak asasi manusia dewasa ini tidak
terlepas dengan diterimanya suatu prinsip bahwa negara (pemerintah) mempunyai
kewajiban untuk menjamin dan memberikan perlindungan HAM setiap warga
negaranya dan pengawasan terhadap pelaksanaan HAM tersebut selain merupakan
tanggung jawab negara yang bersangkutan juga merupakan tanggung jawab
bersama masyarakat internasional.

Universitas Sumatera Utara

Adanya instrumen-instrumen hukum internasional mengenai hak asasi
manusia bukan berarti pelanggaran terhadap hak asasi manusia berkurang.
Pelanggaran hak asasi manusia tetap ada bahkan korban berjatuhan. Misalnya di
Yugoslavia dan Rwanda serta di wilayah Asia Tenggara yaitu Myanmar. Pada
tahun 1988, di Myanmar terjadi demonstrasi berskala nasional yang dimulai
sebagai bagian dari reaksi atas tekanan terhadap semua hak-hak sipil dan politik
oleh pemerintah Myanmar dan atas kegagalan ekonomi sebagai konsekuensi dari
kebijakan pemerintah yaitu Burmese Way to Socialism. 3
Pada saat itu banyak terjadi demonstrasi-demonstrasi yang menuntut hakhak atas kebebasan dan demokrasi tapi tentara menggunakan cara kekerasan untuk
membubarkan demonstrasi tersebut. Ratusan warga sipil ditangkap dan banyak
yang menderita cedera atau meninggal dalam perawatan di tahanan. Puncaknya
ketika seorang politikus yang merupakan sekretaris jenderal Liga Nasional untuk
Demokrasi (National League for Democracy, NLD) yang ditangkap dan ditahan
tanpa adanya proses pengadilan yang adil dan alasan ia ditangkap, yaitu Daw
Aung San Suu Kyi.
Dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) pada pasal 9
disebutkan bahwa: “tak seorang pun boleh ditangkap, ditahan atau dibuang
dengan sewenang-wenang”. Terlihat jelas bahwa pasal tersebut melarang setiap
penahanan yang secara sewenang-wenang. Suatu penahan dapat dikatakan
sewenang-wenang ketika tindakan penahanan tersebut melanggar prosedur hukum
domestik dan tidak sesuai dengan standar-standar internasional yang relevan

3

www.acehlog.com,

Universitas Sumatera Utara

seperti diatur dalam DUHAM dan instrumen-instrumen internasional yang relevan
serta telah diterima oleh negara yang bersangkutan. Selain diatur dalam DUHAM,
penahanan sewenag-wenang juga ada diatur dalam ICCPR (International
Covenant on Civil and Political Rights), dan The Body of Principles. Dinyatakan
dalam ICCPR pasal 9 ayat (1), bahwa “setiap orang berhak atas kebebasan dan
keamanan pribadi, tidak seorang pun dapat ditangkap atau ditahan secara
sewenang-wenang, tidak seorang pun dapat dirampas kebebasannya kecuali
berdasarkan alasan atau sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh hukum”.
Namun pada kenyataannya, pemerintah Myanmar tidak memberi alasan
ditahannya Aung San Suu Kyi tanpa prosedur yang jelas. Dalam peristiwa
penahanan Aung San Suu Kyi pemerintah Myanmar terbukti banyak melakukan
pelanggaran terhadap hak-hak individu Aung San Suu Kyi .
Selain diatur dalam dua konvensi di atas, penahanan sewenang-wenang
juga diatur dalam The Body of Principles of All Persons under any Form of
Detention or Imprisonment, yang selanjutnya disebut The Body of Principles. The
Body of Principles menyatakan bahwa penangkapan, penahanan atau pemenjaraan
hanya dapat dilaksanakan secara kaku sesuai dengan ketentuan hukum dan oleh
para pejabat yang berwenang.
Dalam konstitusi Myanmar tidak disebutkan secara jelas bahwa penahanan
secara sewenang-wenang dilarang. Namun hal tersebut tersirat dalam Pasal 159
huruf b yang menyatakan bahwa “no citizen shall be placed in custody for more
thhan 24 hours without the sanction of competent judicial organ”. Isi dari pasal
tersebut berarti bahwa setiap warga negara tidak boleh ditahan lebih dari 24 jam

Universitas Sumatera Utara

tanpa adanya sanksi dari lembaga hukum yang berwenang. Terlihat jelas bahwa
seseorang dapat ditahan apabila telah dikenai sanksi oleh lembaga hukum yang
berwenang dan yang merupakan lembaga hukum yang berwenang di Myanmar
adalah Council of People’s Justices.
Pada tertanggal 28 Mei 2004, United Working Group for Arbitrary
Detention mengeluarkan opini (No.9/2004) bahwa penahanan atau pengurangan
kebebasan Aung San Suu Kyi adalah sewenang-wenang, sebagaimana yang
disebut pada pasal 9 dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang berbunyi
“tak seorang pun boleh ditangkap, ditahan atau dibuang dengan sewenangwenang” dan meminta kepada pemerintah Myanmar untuk melepaskan Aung San
Suu Kyi, tapi sampai sekarang pemerintah Myanmar tidak memperdulikan
permintaan tersebut.
Penahanan Aung San Suu Kyi oleh pemerintah Myanmar berdasarkan
Pasal 110/1975 State Protection Act 4, yang menyebutkan bahwa: “untuk
melindungi negara dari bahaya, the Central Board mempunyai hak untuk
melakukan tindakan penahanan terhadap orang yang dianggap membahayakan
negara selama 90 hari, dan bisa diperpanjang menjadi 180 hari dan apabila
diangggap perlu orang tersebut bisa ditahan selama satu tahun”. State Protection
Act diamandemen oleh State Law and Orde Restoration Council (SLROC) pada
tanggal 9 Agustus 1991. Amandemen ini mengubah maksimum masa penahanan
pada Pasal 14 dan 22, dari tiga tahun menjadi lima tahun. Amandemen ini juga
menghilangkan right to appeal pada pasal 21.

4

Pasal 110/1975, State Protection Act

Universitas Sumatera Utara

Pada masa penahanan Aung San Suu Kyi sudah habis, pemerintah
Myanmar menambah lagi masa tahanann untuk beberapa tahun lagi. Penambahan
masa tahanan rumah Aung San Suu Kyi berdasarkan 1975 State Protection Act
(Pasal 10 b), dimana memberi kekuasaan kepada pemerintah untuk menahan
seseorang tanpa proses pengadilan. Hingga sampai sekarang Aung San Suu Kyi
masih berada dalam tahanan rumah dengan dibatasinya segala informasi,
kegiataannya serta tamu-tamunya yang akan datang mengunjunginya.
Dengan melihat uraian tersebut terlihat jelas bahwa pemerintahan
Myanmar tersebut melakukan penahanan rumah secara sewenang-wenang
terhadap Aung San Suu Kyi dan melanggar hak-hak sipil dan politik Aung San
Suu Kyi serta hak asasi Aung San Suu Kyi yang berhubungan dengan tahanan
rumah tersebut, misalnya hak untuk berbicara, maupun hak untuk berkelompok.
Penahanan rumah yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Aung San
Suu Kyi tersebut juga tidak disertai dengan alasan yang jelas dan tidak ada
peradilan yang jujur dan adil, karena alasan inilah penulis inginn mengangkat
permasalahan hak asasi manusia Aung San Suu Kyi ke dalam sebuah judul
skripsi “Analisis Yuridis terhadap Penahanan Aung San Suu Kyi oleh
Pemerintah Myanmar ditinjau dari Instrumen Internasional tentang Hak
Asasi Manusia”.

B. Rumusan Permasalahan
Adapun yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah:

Universitas Sumatera Utara

1. Bentuk-bentuk pelanggaran hak asasi manusia apa saja yang telah
dilanggar oleh pemerintahan Junta Militer Myanmar terhadap Aug San
Suu Kyi?
2. Bagaimana dengan tanggung jawab negara Myanmar terhadap penahanan
Aung San Suu Kyi?
3. Bagaimana upaya dunia internasional terhadap Aung San Suu Kyi yang
menjadi korban pelanggaran HAM?
C. Tujuan Penulisan
Permasalahan hak asasi manusia ini sangat luas cakupannya dan tidak
pernah habis-habisnya untuk dibicarakan karena masalahnya sangat kompleks dan
sifatnya sangat universal , baik ditinjau dari dasar pemikiran dan pelaksanaannya
di setiap negara khususnya pelanggaran di Myanmar
Dan secara singkat tujuan dan manfaat dari penulisan skripsi ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi dan melengkapi syarat kesarjanaan hukum pada jurusan
Hukum Internasional di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Untuk menambah wawasan pemikiran dalam Hukum Internasional tentang
Hak Asasi Manusia.
3. Untuk mengetahui sejauhmana kejahatan/kekerasan mengenai pelanggaran
hak asasi manusia di Myanmar.

Universitas Sumatera Utara

4. Untuk mengetahui pelaksanaan Hukum Internasional dan Hak Asasi
Manusia (Declaration of Human Rights 1948) serta pemenuhan prinsip
kedaulatan suatu negara.

D. Keaslian Penulisan
Dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh penulis
selama masa perkuliahan di Fakultas Hukum USU, maka penulis ingin
mengangkat suatu materi dari mata kuliah Hukum Internasional, yaitu mengenai
Hak Asasi Manusia.
Penulis tertarik untuk mengangkat masalah Hak Asasi Manusia sehingga
penulis tuangkan dalam sebuah judul Skripsi yaitu “Analisis Yuridis terhadap
Penahanan Aung San Suu Kyi oleh Junta Militer Myanmar ditinjau dari
Instrumen Internasional tentang Hak Asasi Manusia”
Dalam proses pengajuan judul skripsi ini penulis harus mendaftarkan
dahulu judul tersebut ke bagian Hukum Internasional dan telah diperiksa pada
arsip yang ada pada bagian Hukum Internasional dan judul yang di angkat oleh
penulis dinyatakan disetujui oleh bagian Hukum Internasional tertanggal 26
Augustus 2009.
Atas dasar pemeriksaan pada bagian Hukum Internasional tersebut Penulis
yakin bahwa judul yang penulis angkat dan pembahasannya belum pernah ada
penulisannya pada Bagian Hukum Internasional khususnya dan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Internasional USU pada umumnya, sehingga keaslian penulisan yang penulis
tuangkan dapat dipertanggungjawabkan.
E. Metode Penulisan
Untuk mendukung pembahasan dan analisa terhadap pokok-pokok
permasalahan di atas maka diperlukan adannya pengumpulan data yang kemudian
untuk dikonstruksikan. Dalam penyusunan penulisan ini dilakukan pengumpulan
data melalui penelitian kepustakaan (library research). Dengan Library Research
akan dihasilkan karya ilmiah yang mempunyai materi, kualitas, bobot kebenaran
ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, di mana bahan-bahan/data-data
tersebut didapat dari :
-

Buku-buku ilmiah yang tersebut dalam literature.

-

Naskah-naskah peraturan perundang-undangan, majalah, surat kabar,
skripsi, dan tulisan karya ilmiah, serta catatan perkuliahan, dan
bimbingan Bapak/Ibu Dosen.

Dengan menggunakan metode ini diharapkan skripsi ini dapat menjadi
suatu karya ilimiah yang baik dan berguna untuk pengembangan ilmu
pengetahuan.
F. Tinjauan Kepustakaan
Hak Asasi Manusia (Human Rights) menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) adalah hak asasi manusia secara umum didefinisikan sebagai hak yang
melekat pada diri manusia dan dengan tidak adanya hak tersebut kita tidak dapat

Universitas Sumatera Utara

hidup sebagai manusia. Menurut Cess de Rover pengertian hak asasi manusia
adalah hak hukum yang dimiliki oleh setiap orang sebagai manusia. Hak-hak
tersebut bersifat universal dan dimiliki leh setiap orang, kaya maupun miskin,
laki-laki maupun perempuan. Hak-hak tersebut mungkin saja dilanggar tetapi
tidak pernah dihapuskan.
Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional, dewasa ini telah berkembang
disiplin ilmu hukum yang mengatur tentang perlindungan HAM secara
internasional, yang pada hakikatnya merupakan cabang dari hukum internasional
publik (public international law) , ilmu hukum ini disebut dengan istilah hukum
hak asasi manusia internasional (international human rights law).Definisi hukum
hak asasi manusia internasional menurut pendapat Thomas Buergenthal, 5“... the
international of human rights is defined as the law that deals eith the protection of
individual and groups against violations by government of their internationally
guaranteed rights and with the promotion of these rights”(hukum yang
melindungi individu dan kelompok dari kesewenang-wenangan pemerintah
terhadap hak mereka yang dijamin secara internasional dan dengan tujuan untuk
kemajuan hak-hak tersebut).
G.. Sistematika Penulisan
Untuk lebih memudahkann proes pembahasan tulisan dan membantu
penulis dalam penguraiannya, maka keseluruhan dari isi skripsi ini dirangkum
dalam sistematika penulisan sebagai suatu paradigma berpikir.
5

Thomas Buergenthal, International Human Rights,St. Paul, Minn: West Publishing, Co., 1995,
hlm.14-15.

Universitas Sumatera Utara

Dengan pedoman pada sistematika penulisan karya ilmiah pada umumnya,
maka penulis

berusaha untuk

mendeskripsikan gambaran umum yang

berhubungann dengan cakupan skripsi ini, sebagai berikut:

BAB I

: PENDAHULUAN
Bab ini diawali dengan latar belakang yang berikutnya perumusan
masalah yang akan dibahas. Pada selanjutnya dijelaskan apa yang
menjadi tujuan pembahasan , kemudian diuraikan keaslian penulisan
dan tinjauan kepustakaan. Selanjutnya diuraikan bagaimana metode
penulisan dan akhirnya bab ini ditutup dengan bagaimana
sistematika penulisan.

BAB II

: PANDANGAN UMUM MENGENAI HAK ASASI MANUSIA
Dalam bab ini yang akan dibahas adalah mengenai pengertian dan
hakikat hak asasi manusia, sejarah perkembangan hak asasi manusia,
sejarah negara Myanmar dan Aung San Suu Kyi serta bentuk-bentuk
pelanggaran hak asasi manusia.

BAB III : INSTRUMEN INTERNASIONAL TENTANG HAK ASASI
MANUSIA
Dalam bab ini yang akan dibahas mengenai Deklarasi tentang Hak
Asasi Manusia, Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik,
Kovenan Interansional Hak Ekonomi, Hak Sosial dan Hak Budaya

Universitas Sumatera Utara

serta Protokol Opsional Pertama dan Kedua dan Instrumen
Internasional tentang Hak Asasi Manusia.
BAB IV :

ANALISIS YURIDIS PENAHANAN AUNG SAN SUU KYI
OLEH JUNTA MILITER MYANMAR YANG DIDASARKAN
PADA INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL
Dalam bab ini yang akan dibahas adalah mengenai bentuk-bentuk
pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh junta militer
Myanmar terhadap Aung San Suu Kyi, tanggung jawab negara
Myanmar terhadap perlindungan hak asasi manusia Aung San Suu
Kyi serta upaya dunia internasional dalam perlindungan hak asasi
manusia bagi Aung San Suu Kyi.

BAB V :

PENUTUP
Dalam bab ini yang akan terdiri dari dari kesimpulan dan saran yang
proporsional dan konstruktif.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
PANDANGAN UMUM MENGENAI HAK ASASI MANUSIA
A.

Pengertian Tentang Hak Asasi Manusia
Pengertian tentang HAM telah mengalami proses yang begitu lama.

Dimulai dengan Magna Charta pada tahun 1215, hingga pada masa sekarang ini.
Plato yang merupakan sumber sudut pandangan bagi konservatisme klasik
dalam bukunya Politea-nya menyatakan bahwa HAM tidaklah sama , sehingga
juga tidak ada persamaan kebebasan dan tentu saja tidak perlu usaha untuk
menciptakan kondisi-kondisi materil yang sama 6.
Hak adalah tuntutan yang dapat diajukan seseorang kepada orang lain
sampai kepada batas-batas pelaksanaan hak tersebut. Hak asasi manusia adalah
hak hukum yang dimiliki setiap orang sebagai manusia dan bersifat universal,
serta tidak memandanng apakah orang tersebut kaya atau miskin, atau laki-laki
maupun perempuan 7.
Dimasukkannya hak asasi manusia ke dalam pasal 1 Piagam PBB,
organisasi multinegara ini menginginkan masyarakat Internasional dan negaranegara akan pengertian Hak Asasi Manusia, bahwa pemahaman akan pengertian
tentang HAM merupakan suatu landasan yang dapat memecahkan masalahmasalh di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Pasal 1 Piagam PBB berbunyi:

6

George Sabine, A History of Political Theory, London Press, hlm.80

7

C.de Rover, 2000, Jakarta, To Serve and To Protect (Acuan Universal Penegakkan
HAM).PT.RajaGrafindo Persada hlm.47.

Universitas Sumatera Utara

“Tujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah : Untuk memelihara
perdamaian dan keamanan internasional............ Untuk memajukan kerja
sama internasional dalam memecahkan masalah-masalah internasional di
bidang ekonomi, sosial, budaya dan kemanusiaan dan menggalakkan
serta meningkatkan penghormatan bagi hak asasi manusia dan kebebasan
fundamental bagi semua orang tanpa pembedaan ras, jenis kelamin,
bahasa atau agama........”.
Lebih jelas dalam pasal 55 dan 56 Piagam, menetapkan kewajiban hak
asasi manusia yang pokok dari semua negara anggota PBB 8
John Locke menyatakan bahwa individu dikaruniai oleh alam, hak yang
inheren atas kehidupan, kebebasan, dan harta yang merupakan milik mereka
sendiri,d an tidak dapat dipindahkan atau dicabut oleh negara. 9. Selanjutnya John
Locke menyatakan bahwa Hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang diberikan
langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. 10
Hak manusia, hak asasi manusia atau hak dasar adalah sebutan yang
diberikan kepada hak elementer yang dipandang mutlak perlu bagi perkembangan
individu 11. Demikian bunyi awal memorandum Hak Asasi Manusia dan Politik
Luar Negeri, yang diumumkan oleh

Kementeriaan Luar Negeri Kerajaan

Belanda.
8

Ibid, hal.54.
John Locke, 1946, The Second Tretiseof Civil Government and A Letter Concerning
Toleration, Oxford, Balacwell, hlm.46
10
Azyumardi Azra, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat MADANI, Jakarta , Tim
ICCE UIN, Kencana Prenada Media Group, hal.200
11
Ministry of Foreign Affairs of The Kingdom of the Netherlands, Human Rights and
Foreign Policy memorandum disajiikan pada Lower House of the State of the Kingdom of the
Netherlands pada 3 Mei 1979 oleh Menteri Luar Negeri dan Menteri Kerjasama Pembangunan,
(Versi Bahasa Inggris), hlm.15
9

Universitas Sumatera Utara

Filosof politik Maurice Cranston, mengatakan Hak-Hak Asasi Manusia
adalah sesuatu yang melekat pada semua orang setiap saat 12. Konsep dan
pengertian Hak Asasi yang memberikan kriteria sebagai hak asasi dan kewajiban
manusai dimuat secara konstitusional dalam UUD tahun1945 Republik Indonesia
sebagai suatu rangkaian naskah yang terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh dan
Penjelasan UUD tahun 1945. Dalam alinea pertama Pembukaan UUD 1945,
disebutkan bahwa :
“bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh
sebab itu maka penjajahan di atas dunia haruus dihapuskan karena tidak
sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.
A. Gunawan Setiardjo memberikan pengertian tentang Hak Asasi
Manusia, yakni hak-hak yang melekat pada manusia berdasarkan kodratnya. Jadi
hak-hak yang dimiliki sebagai manusia dan HAM harus dipahami dan dimengerti
secara universal. Memerangi atau menentang keuniversalan HAM berarti
memerangi dan menentang HAM. 13
Sedangkan Darwin Prinst, memberikan rumusan HAM sebagai hak yang
melekat Tuhan Yang Maha Esa dengan memberi manusia kemampuan
membedakan yang baik dengan yang buruk (akal budi). Akal budi itu
membimbing manusia menjalankan kehidupannya 14.
Dalam pasal 1 (satu) Undang-Undang No 26 Tahun 2000 15 memberikan
pengertian, bahwa HAM sebagai perangkat hak yang melekat pada hakikat dan
12

Peter R. Baehr, op.cit, hlm.3
A.Gunawan Setiardjo, 1993, Yogyakarta, Hak-Hak Asasi Manusia Berdasarkan Ideologi
Pancasila, Kanisius, hlm 71.
14
Darwin Prinst,2001, Bandung , Sosialisasi dan Diseminasi Penegakkan Hak Asasi Manusia,
Citra Aditya Bakti, hlm.8
15
Pasal 1 Undang-Undang No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
13

Universitas Sumatera Utara

keberadaan manusia sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat
dan martabat manusia.
Pemahaman pengertian tentang HAM dapat memberikan definisi umum
bagaimana sebenarnya hak asasi dan kebebasan, juga dapat memberikan
perlindungan kepada setiap manusia. Yang mana disaat manusia itu melakukan
kewajiban asasinya, ia berhak mendapatkan hak asasinya sebagai manusia
Yang dapat digunakan sebagai pegangan tentang hak asasi manusia itu
antara lain:
1. Hak asasi manusia itu sebagai ilmu pengetahuan yang tersusun secara
sistematis atas dasar kekuatan pemikiran.
2. Hak asasi manusia itu sebagai suatu disiplin yakni suatu sistem ajaran
tentang kenyataan-kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi.
3. Hak asasi manusia itu sebagai kaidah yaitu pedoman atau patokan perilaku
yang pantas atau diharapkan.
4. Hak asasi manusia itu sebagai tata hukum yakni struktur atau proses
seperangkat kaidah-kaidah hukum yang berlaku pada suatu waktu dan
tempat tertentu serta bentuk tertulis.
5. Hak asasi manusia sebagai petugas yakni pribadi-pribadi yang merupakan
kalangan yang berhubungan erat dengan pengakuan hukum.
6. Hak asasi manusia sebagai keputusan penguasa yakni hasil proses diskresi.

Universitas Sumatera Utara

7. Hak asasi manusia sebagai proses pemerintah yakni proses timbal balik
antara unsur-unsur pokok dari sistem kenegaraan.
8. Hak asasi manusia sebagai perilaku tertulils.
9. Hak asasi manusia sebagai jalinan nilai-nilai yakni jalinan dari konsespsikonsepsi abstrak yang dianggap baik dan buruk.
Sedangkan menurut W.J.S Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia, hak-hak asasi itu adalah :
“Asasi adalah berarti sesuatu yang pokok, yang menjadi dasar. Sedangkan hak
adalah sesuatu yang benar, sungguh ada, kewenangan, milik atau kepunyaan,
kekuataan/kekuasaan untuk menuntut yang benar ataupun berbuat sesuatu karena
telah ditentukan oleh aturan undang-undang”. 16
Dengan kata lain hak asasi manusia itu telah dimiliki oleh manusia yang
telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahiran ataupun kehadiran
nya dalam kehidupan bermasyarakat.
Secara garis besar bahwa hak asasi manusia itu dapat dikatakan telah
meliputi Hak Ekonomi, misalnya hak atas penghidupan yang layak, Hak Sosial
dan Budaya, misalnya hak atas pendidikan, Hak Sipil dan Politik, misalnya hak
untuk beragama dan hak untuk hidup serta hak-hak lainnya.

B.1. SEJARAH PERKEMBANGAN HAM DI DUNIA
Pemikiran mengenai hak-hak asasi manusia di dunia Barat diperkirakan
erat kaitannya pada pemikiran pada abad ke-XVII dan abad ke XVIII. Konsep
mengenai hak suci raja (Dwine rights of kings) yang memberikan kesewenang16

W.J.S Poerwadarminta,” Kamus Umum Bahasa Indonesia”, PN Balai Pustaka, Jakarta,1976

Universitas Sumatera Utara

wenangan kepada raja untuk menjalankan pemerintahan secara absolut, mulai
dipertanyakan keabsahannya karena dengan konsep demikin layak raja melakukan
tindakan yang sewenang-wenang dan menjatuhkan hukuman tanpa adanya proses
pengadilan dan membuat peraturan-peraturan berdasarkan apa yang dianggap baik
bagi seluruh rakyatnya.
Kaum cendikiawan mulai merasakan perlu adanya hubungan yang lebih
rasional antara rakyat dan rajanya, bukan hanya melulu beranggapan bahwa raja
adalah utusan Tuhan dan segala perintahnya tidak boleh dibantah, karena
perintahnya adalah perintah Tuhan juga. Hubungan rasional itu adalah hubungan
yang berupa kontrak antara raja dan rakyatnya, ini sesuai dengan suasana di Eropa
yang pada saat itu dengan timbulnya perdagangan antar kerajaan , yang mana
hubungannya dilaksanakan dengan adanya kontrak kerjasama.
Banyaknya teori-teori yang lahir sehubungan dengan dipertanyakan
keberadaan hak asasi manusia, ada teori yang menentang dan ada teori yang
mendukung dengan keberadaan hak-hak asasi manusia. Seperti pendapat dari
Aurice Cranston, seorang pengamat hak-hak asasi manusia mengatakan bahwa
absolutisme manusia untuk menuntut hak-hak asasi manusia , atau hak alam ini
justru karena manusia menyangkanya. Tetapi adapula sangkalan terhadap
keberadaan daripada hak asasi manusia ini, seperti orang-orang konservatif dari
Inggris, Edumund Burke dan David Hume yang bersatu dengan Jeremy Bentham
yang beralliran liberal untuk mengutuk doktrin ini, mereka mengatakan bahwa
kekhawatiran publik atas tuntutan-tuntutan terhadap hak-hak ilmiah akan
menimbulkan pergolakan sosial dan keprihatinan terhadap adanya bahwa

Universitas Sumatera Utara

deklarasi dan proklamasi hak-hak ilmiah akan menggantikan perundang-undangan
yang efektif.
David Burke di dalam karyanya “Reflection on the Revolution in France
(1970)” membantah bahwa Rights of Man dapat diturunkan dariNya, dia juga
mengkritik para penyusun “ Declaration of the Rights of Man and Citizen” karena
memproklamasikan fiksi yang menakutkan mengenai persamaan manusia yang
menurutnya hanya berfungsi mengilhami ide-ide yang tidak benar dan harapan
yang sia-sia pada manusia yang telah ditakdirkan untuk perjalanan kehidupan
yang tidak jelas dan susah payah.
Jeremy Bentham salah satu pendiri utilitarianisme dan seorang yang tidak
percaya mengajukan argumennya yang mengatakan bahwa “hak adalah anak
hukum-hukum imajiner, maka hak-hak alammiah itu adalah omong kosong
semata, omong kosong diatas jangkauan dan omong kosong retorik”.
David Hume setuju dengan pendapat Jeremy Bentham yang mana ia
mengatakan bahwa hak-hak alamiah tersebut adalah fenomena metafisik belaka.
Kemudian seorang idealis Inggris yang bernama F.H Bradley mengatakan
bahwa “hak-hak asasi perorangan dewasa ini tidak perlu mendapat pertimbangan
yang serius kesejahteraan komunitas merupakan tujuan dan merupakan standar
akhir.

17

Teori di atas sangat menyesatkan, karena teori di atas menggangap bahwa
manusia itu tidak mempunyai arti sama sekali, paham atas teori inilah yang akan

17

Burn H. Weston , Hak-hak Asasi Manusia , di dalam buku T.Mulya, Hak-Hak Asasi Manusia
Dalam Masyarakat Dunia (Isu dan Tindakan ), Yayasan Obor Indonesia , 1993. (hlm 6-9).

Universitas Sumatera Utara

menimbulkan negara totaliter dan negara diktator. Karena di dalam teori ini
memandang manusia sebagai objek dan tidak mempunyai arti apa-apa.
Selanjutnya, pemikiran-pemikiran lain yang setuju atas eksisten dari filsuffilsuf yang beraliran liberalisme seperti John Locke (1632-1704), Hobbes (15881679), Montesquiue (1689-1755) dan Rosseau (1712-1778). Walaupun mereka
mempunyai perbedaan penafsiran umum secara mendasar mereka membayangkan
bahwa manusia hidup di dalam suatu keadaan alam (state of nature) dan memiliki
hak-hak alam. Oleh karena perlu adanya suatu lembaga yang dapat menjamin
terlaksananya dan langgengnya hak-hak alam manusia ini maka manusia
mengadakan kontrak dengan suatu institusi atau lembaga yang dalam hal ini
disebut sebagai negara dimana lembaga yang disebut negara diwakili oleh orangorang yang menamakan dirinya penguasa dan berdasarkan sosial ini, maka
penguasa tersebut menjalankan pemerintahan yang bertujuan untuk melindungi
hak-hak alam dari manusia tersebut, dengan adanya kontrak antara manusia
dengan penguasa tersebuut, maka manusia memberikan sebagian dari haknya
kepada penguasa tersebut dan penguasa memberikan peraturan-peraturan yang
diikuti oleh manusia-manusia yang dalam hal ini disebut sebagai masyarakat, agar
haknya dapat dilindungi.
John Locke merumuskan dengan lebih jelas hak-hak alam itu yaitu hak
atas hidup, kebebasan dan milik (life liberty and property) serta pemikiran bahwa
penguasa itu mesti memerintah atas persetujuan rakyat (government by consent) ,
sedangkan Montesquie lebih menekankan perlu adanya pembagian kekuasaan
sebagai sarana untuk menjamin adanya perlindungan terhadap hak-hak sipil. Yang

Universitas Sumatera Utara

teorinya lebih dikenal dengan Trias Politica. Pada zaman itu (abad ke17 dan 18),
perumusan hak-hak tersebut sangatlah besar terpengaruhi oleh ide ataupun
pemikiran tentang hukum alam (natur law) dan pemikiran yang dicoba oleh John
Locke (1632-1741) tersebut dan Jean Jaques Rousseau (1712-1778) terlihat hanya
terbatas pada hak-hak yang bersifat politis seperti persamaan hak, hak atas
kebebasan dan lain-lain. Pada saat itu John Locke telah membuat pemisahan
kekuasaan yaitu:
1. Kekuasaan Legislatif
2. Kekuasaan Eksekutif
3. Kekuasaan Federatif
Hal ini bertujuan untuk adanya hak rakyat (hak asasi) rakyat di
pemerintahan serta setiap orang tentu mendapat tempat yang sama dalam
pemerintahan. Demikian juga halnya dengan Rosseau yang berpendapat bahwa
manusia itu dilahirkan bebas dan merdeka, sederajat dan semua hasilnya adalah
ditentukan oleh diri pribadi manusia tersebut seperti terdapat dalam bukunya “du
contract social”.
A.H Robertson dalam bukunya yang berjudul ‘Human Rights in The
World” yang berbunyi :
“ It is at the beginning of ninth that we see the first international texts
relating to what we should now call a human rights problem. This
problem was slavery”. 18

18

A.H Robertson, Human Rights In The World, Penerbit Gunung Agung, Jakarta,1984, hal 20.

Universitas Sumatera Utara

“Pada awal abad ke 19, kita mulai memperhatikan adanya ketentuan
internasional yang berhubungan dengan problem hak-hak asasi
manusia. Problem ini adalah perbudakan”.
Sesuai dengan pernyataan di atas bahwa saat itu dunia ditarik perhatiannya
terhadap dunia perbudakan pada abad ke 19 yang sudah jelas merupakan indikasi
sebuah perampasan hak asasi manusia yaitu kemerdekannya. Realisasi dari
adanya anti perbudakan ini telah berhasil dituangkan dalam penandatanganan
undang-undang antiperbudakan dalam Konferensi yang diadakan di Brussel pada
tahun 1890 yang telah diratifikasi oleh beberapa negara, termasuk oleh Amerika
Serikat, Turki dan Zanzibar .
Jalannya sejarah juga semakin diperkaya dengan keluarnya German-Polish
Convention on Upper Silesia pada tanggal 15 Mei 1992, yaitu tentang
Perlindungan Hak-Hak Asasi terhadap Golongan Minoritas.
A.H Robertson kembali dalam bukunya yang sama mengatakan:
“Generally speaking these various arrangements for the protection of
the rights of minorities provided for equality before the law in regard
to civiil and political rights , freedom of religion, the right of members
of the minorities to use their own language and the right to maintain
their own religious and educational establishment” 19
“Secara umum dapat dikatakan bahwa berbagai macam usaha-usaha
ini untuk perlindungan terhadap hak-hak golongan minoritas dalam
hak-hak sipil dan politik , kebebasan dalam beragama, hak dari
golongan minoritas untuk menggunakan bahasa mereka dan hak untuk
beragama serta pembangunan terhadap pendidikan”.
Akan tetapi menjelang abad ke-20, dimana manusia itu semakin
bertambah pengetahuan, kearifan maupun kesadarannya akan hak, kewajiban, dan
hukum, mulai merasakan bahwa hak-hak politik saja kuranglah sempurna.
19

A.H Roberston, Ibid, hal.21.

Universitas Sumatera Utara

Manusia mulai memikirkan adanya batasan akan beberapa hak-hak lain yang lebih
luas ruang lingkupnya.
Presiden Franklin D.Roossevelt dari Amerika Serikat telah berhasil
merumuskan hak-hak tersebut dengan istilah “The Four Freedom” atau empat
kebebasan yaitu kebebasan unutk berbicara dan menyatakan pendapat, kebebasan
beragama, kebebasan dari ketakutan dan kebebasan dari kemelaratan.
Namun demikian permasalahan mengenai hak-hak asasi manusia ini perlu
dibicarakan di tahun-tahun sebelumnya di Inggris dengan ditandatanganinya
Magna Charta tahun 1215, antara Raja John dengan sejumlah bangsawan yang
memberikan jaminan terhadap hak kepada mereka yang antara lain mencakup
hak-hak politik dan sipil yang mendasar, seperti tidak akan dipenjarakan tanpa
pemeriksaan di forum peradilan dan hanya berlaku bagi para bangsawan.
Pergerakan ini berlanjut di tahun 1628, masih di negara yang sama yaitu
Inggris raja Charles I yang pada saat tiu adalah sebagai Raja Inggris,
menandatangani Petition of Rights. Hasilnya adalah Raja Charles I duduk bersama
utusan-utusan atau para wakil rakyat di parlemen (House of Common) dalam
menjalankan tujuan negara. Petition of Rights merupakan kewenangan bagi pihak
rakyat. Karena diberikan kesempatan untuk turut serta bersama raja Inggris dalam
menjalankan tugas kenegaraan, dan diberikan kesempatan untuk menyampaikan
aspirasi para rakyat melalui utusan yang dipilih.
Lahirnya Petition of Rights memacu perkembangan pemikiran masyarakat
di Inggris, bahwa manusia terlahir bebas dan memiliki sejumlah hak. Pada tahun

Universitas Sumatera Utara

1689, lahirlah Bill of Rights. Hal ini timbul, karena pada saat itu terjadi Revolusi
Gemilang (Glorius Revolution) di Inggris.
Timbulnya pandangan (Adagium) bahwa manusia sama di muka hukum
(equality before the law) pada masa revolusi gemilang 20. Dan hal ini harus dapat
diwujudkan betapapun besar resiko yang dihadapi.
Bill of Rights menundukkan kekuasaan monarki di bawah kekuasaan
parlemen, dengan menyatakan bahwa kekuasaan raja untuk membekukan dan
memberlakukan sesuai dengan yang diklaim raja adalah ilegal, juga melarang
pemungutan pajak dan pemeliharaan tetap pasukan pada masa damai oleh raja
tanpa persetujuan parlemen.
Perkembangan sejarah HAM ini melahirkan beberapa teori seperti teori
kontrak sosial oleh J.J Rosseau, teori Trias Politica oleh Montesquieu, teori
Hukum Kodrati oleh John Locke, dan hak-hak dasar kebebasan dan persamaan
oleh Thomas Jefferson di Amerika Serikat. 21
Dua dokumen dasar yang paling penting bagi hak-hak asasi manusia lahir
di dunia Barat. Yang pertama adalah Undang-Undang Hak Virginia tahun 1776,
yang dimasukkan ke dalam Undang-Undang Dasar Amerika Serikat pada tahun
1789. Dan yang kedua adalah Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara
Perancis tahun 1789. 22
Kedua dokumen dasar tersebut memuat sederetan hak-hak asasi manusia
dalam arti kebebasan individu. Seperti Undang-Undang Hak Virginia yang

20

Op.cit , hlm.203
Masyhur Effendi, Dimensi dan Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan
Internasional, 1994, Jakarta, Ghalia Indonesia, hlm.35
22
Op.cit. hlm.5
21

Universitas Sumatera Utara

memuat kebebasan antara lain kebebasan pers, kebebasan beribadat, dan
ketentuan yang menjamin tidak dapat dicabutnya kebebasan seseorang kecuali
berdasarkan hukum setempat atau pertimbangan warga sesamanya.
Deklarasi Perancis pada pasal 2 menyatakan bahwa sasaran setiap asosiasi
politik adalah pelestarian hak-hak manusia yang kodrati dan tidak dapat dicabut.
Hak-hak ini adalah hak atas kebebasan (liberty), harta (property), keamanan
(safety), dan perlawanan terhadap penindasan (resistance to oppression).
Pasal 4 Deklarasi Perancis menyatakan bahwa kebebasan berarti dapat
melakukan apa saja yang tidak dapat merugikan orang lain. Jadi, pelaksanaan hakhak kodrati manusia tidak dibatasi, kecuali oleh batas-batas yang menjamin
pelaksanaan hak-hak yang sama bagi anggota masyarakat lain dan batas-batas ini
hanya ditetapkan oleh undang-undang.
Hak-hak ini banyak didasarkan pada tulisan-tulisan para filsof politik
seperti John Locke, Montesquieu, dan Jean Jacques Rousseau. 23
Setelah melewati berbagai revolusi dan begitu banyak deklarasi yang
dinyatakan oleh beberapa negara maupun melalui konferensi internasional., maka
kedudukan Hak Asasi Manusia menjadi sangat penting dan menentukan dalam
kehidupan ini. Dapat dilihat bahwa tidak ada satupun manusia yang ingin
dibelenggu maupun berada di bawah kekuasaan seseorang dengan cara paksa
(diperbudak).
Berdasarkan

berbagai kejadian di dunia terutama setelah apa yang

dilakukan oleh Nazi, maka negara-negara di dunia yang

tergabung dalam

23

Walter Laqueur dan Barry Rubin, 1989, New York, The Human Rights Reader, New York
American Llibrary, edisi revisi, hlm.59

Universitas Sumatera Utara

Perserikatan Bangsa-Bangsa merasa bahwa Hak Asasi Manusia adalah bagian
yang terpenting.
Dalam pasal 1 (satu) dan 2 (dua) Piagam PBB memang diakui tentang
keberadaan HAM. Namun perlu diadakan penyempurnaan terhadap apa yang
diatur dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan, seperti perlunya
menyusun Bill of Rights International (dikenal dengan istilah Truman) setahun
setelah Piagam PBB diberlakukan.
Tugas menyusun Bill of Rights International (pernyataan tertulis yang
memuat hak-hak terpenting warga negara) itu diserahkan kepada komisi HAM
(Commission of Human Rights atau disebut CHR) 24. Yaitu komisi yang bernaung
dari ECOSOC atau Economic and Social Council (Dewan Sosial dan Ekonomi
PBB). Komisi ini terdiri atas wakil-wakil negara, dimana diputuskan bahwa
katalog HAM hendaknya berbentuk sebuah Revolusi Majelis Umum PBB. Inilah
sejarah dan latar belakang lahirnya hak-h