Kadar Hara Makro dan Logam Berat Latosol Darmaga yang Diperlakukan Terak Baja dan Bahan Organik

KADAR HARA MAKRO DAN LOGAM BERAT
LATOSOL DARMAGA YANG DIPERLAKUKAN TERAK
BAJA DAN BAHAN ORGANIK

AHYAR
A14070101

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN
DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

RINGKASAN
AHYAR. Kadar Hara Makro dan Logam Berat Latosol Darmaga yang
Diperlakukan Terak Baja dan Bahan Organik. Dibimbing oleh SRI DJUNIWATI
dan SYAIFUL ANWAR.
Indonesia berada dalam kawasan iklim tropis dengan suhu dan curah hujan
tahunan yang tinggi, dan umumnya memiliki tanah bersifat masam dan tingkat
kesuburan rendah. Latosol adalah salah satu tanah yang memiliki tingkat
perkembangan lanjut dengan kadar bahan organik, KTK, dan KB rendah, serta
fraksi liat yang agak tinggi sampai tinggi dan hampir merata pada semua horizon.
Perbaikan kesuburan Latosol diantaranya melalui penambahan amelioran seperti
terak baja dan bahan organik. Terak baja (steel slag) merupakan produk samping
dari proses pemurnian besi cair dalam pembuatan baja. Penelitian menunjukkan
bahwa terak baja berpotensi dimanfaatkan dalam bidang pertanian karena
memiliki kandungan CaO berkisar antara 20% hingga diatas 50% dan juga
kandungan Mg, Si, Fe serta beberapa unsur lainnya. Penelitian yang lain
menunjukkan bahwa terak baja sebagai bahan pengapuran lebih baik daripada
dolomit. Namun Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementrian Lingkungan
Hidup menggolongkan terak baja ke dalam limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(B3) sehingga potensi terak baja untuk pertanian belum banyak dikembangkan.
Keputusan yang menggolongkan semua terak baja ke dalam limbah B3 tidak
realistis mengingat proses pembuatan baja bermacam-macam cara sehingga
produk samping dari proses tersebut juga berbeda.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sifat kimia tanah yang meliputi
pH, kadar hara makro (N, P, K, Ca dan Mg) serta kadar logam berat (As, Pb, Sn,
Cd dan Hg) setelah pertanaman caisim pada Latosol yang diberi perlakuan terak
baja, bahan organik dan kombinasi keduanya. Penelitian tersebut menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 faktor dengan faktor utama adalah
jenis terak baja yaitu S1 (convertor Jepang) dan S2 (Eletric Furnace Indonesia).
Faktor kedua yaitu dosis terak baja dengan 4 dosis (T 0, T1, T2, T3) dan faktor
ketiga bahan organik (B0 dan B1). Masing-masing perlakuan terdiri dari 4 ulangan
sehingga terdapat 64 satuan percobaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah meningkat seiring dengan
peningkatan dosis terak, dan pengaruh jenis terak menunjukkan efek yang sama
terhadap pH. Peningkatan P-tersedia tanah hanya pada jenis terak S2 sedangkan
jenis terak S1 tidak berbeda. Kadar Ca-dd dan Mg-dd meningkat pada kedua jenis
terak. Pengaruh dosis terak S1 meningkatkan Ca-dd sebesar 113%-265% dan Mgdd tanah sebesar 27%, sedangkan pada jenis terak S2 meningkatkan Ca-dd sebesar
91%-144% dan Mg-dd sebesar 75%-326%. Perlakuan bahan organik
meningkatkan pH, P-tersedia, dan Ca-dd tanah. Kombinasi antara dosis terak dan
bahan organik meningkatkan Mg-dd, namun menurunkan K-dd. Terak baja, bahan
organik dan kombinasi keduanya menurunkan Pb dan Hg terlarut, akan tetapi
pada beberapa kombinasi perlakuan, Cd terlarut, As terlarut dan Sn terlarut
berturut turut meningkat sebesar 0.01 ppm, 0.01-0.02 ppm dan 0.08-0.15 ppm dari
kadar yang tidak terdeteksi pada tanah tanpa perlakuan
Kata kunci: Latosol, amelioran, terak baja, bahan organik, kadar hara makro,
kadar logam berat

SUMMARY
AHYAR. Macro Nutrients and Heavy Metals Content in Latosol Darmaga
Treated with Steel Slag and Organic Matter. Supervised by SRI DJUNIWATI
and SYAIFUL ANWAR.
Indonesia is located in the tropical climate area with high temperature and
rainfall, and generally has acidic soils with low fertility. Latosol is one of the
highly weathered soils that has low organic matter content, low CEC, low BS, and
high to very high clay fraction in all soil horizons. The fertility of Latosol can be
improved by addition of ameliorans such as steel slag and organic matter. Steel
slag is byproduct of purification process of iron ore in steelmaking. Previous
studies showed that steel slag is potential to be used as soil amelioran since it has
20-50% or more CaO, and contains Mg, Si, Fe and some other elements. Previous
studies also showed that steel slag as liming material was better than dolomite.
Utilization of steel slag as soil amelioran in Indonesia, however, is limited by the
Indonesian regulation that categorized all steel slags as hazardous and toxic
wastes (limbah B3 = limbah bahan berbahaya dan beracun). Since there are
various steelmaking processes, not all steel slags included in hazardous and toxic
wastes as indicated by previous studies.
The objective of this research is to analyze soil chemical properties that
include pH, macro nutrients content (N, P, K, Ca and Mg), and heavy metals
content (As, Pb, Sn, Cd and Hg) after cultivation of caisim in Latosol that treated
with steel slag, organic matter, and their combination. The research was
conducted in Factorial Randomized Block Design with three factors. The first
factor was the type of steel slags that comprised of S 1 (converter steel slag from
Japan) and S2 (electric furnace steel slag from Indonesia). The second factor was
the dosages of steel slag (4 dosages namely T 0, T1, T2, T3), while the third factor
was organic matter (B0 and B1). The each treatment was consisted of 4 replication
such that there were 64 experimental units.
The results showed that the soil pH increased with the increasing of steel
slag dosages, and the type of the steel slags gave the same effect toward soil pH.
Available P was increased by S2 treatment but not by S1 treatment. Exch-Ca and
exch-Mg were increased by both slags. S1 treatments increased the exch-Ca by
113-265%, and the exch-Mg by 27%. The S2 treatments increased the exch-Ca by
91-144%, and the exch-Mg by 75-326%. Organic matter treatments increased pH,
available P, and exch-Ca of the soil. Combination of slags and organic matters
treatments increased exh-Mg, but decreased exch-K. Slag, organic matter, and
their combination treatments decreased the soluble Pb and Hg of the soil. In some
combination treatments, however, soluble Cd, soluble As, and soluble Sn were
increased consecutively to 0.01 ppm, 0.01-0.02 ppm, 0.08-0.15 ppm from
undetected concentration of the untreated soil.

Keyword: Latosol Darmaga, Ameliorant, Steel Slag, Organic Matter, Nutrient
Level, Heavy Metals

KADAR HARA MAKRO DAN LOGAM BERAT
LATOSOL DARMAGA YANG DIPERLAKUKAN TERAK
BAJA DAN BAHAN ORGANIK

AHYAR
A14070101

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN
DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian

: Kadar Hara Makro dan Logam Berat Latosol Darmaga
yang Diperlakukan Terak Baja dan Bahan Organik

Nama

: Ahyar

NRP

: A14070101

Menyetujui,
Pembimbing I

Pembimbing II

(Dr. Ir. Sri Djuniwati, M.Sc.)
NIP. 19530626 198303 2004

(Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc.)
NIP. 19621113 198703 1 003

Mengetahui,
Ketua Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

(Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc.)
NIP. 19621113 198703 1 003

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Lampa, Polewali Mandar pada tanggal 11 Maret 1989
sebagai anak kedua dari pasangan M. Agus dan Ibu Hj. Nurbia. Penulis memulai
pendidikan dasar selama 6 tahun di SDN No. 600 Mandar Jaya, Kab. Luwu
(1997-2001). Setelah itu penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di
SMP Pesantren Modern Al-Ikhlash Lampoko, Polewali Mandar, dan lulus pada
tahun 2004. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas
di SMA Pesantren Modern Al-Ikhlash selama 3 tahun (2004-2007). Penulis
kemudian melanjutkan studi ke tingkat perguruan tinggi di Departemen Ilmu
Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dari Kementrian Agama Republik
Indonesia (Kemenag RI) pada tahun 2007.
Selama menjalani studi di IPB, penulis aktif di organisasi kemahasiswaan
CSS MoRA IPB 2008/2009. Penulis juga aktif mengikuti beberapa kegiatan
kemahasiswaan seperti seminar dan lomba baik sebagai peserta maupun sebagai
panitia. Selain aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan, penulis juga pernah
menjadi asisten praktikum mata kuliah Pengantar Ilmu Tanah pada tahun 2011.
Sebagai tugas akhir, penulis melakukan penelitian dengan judul “Kadar Makro
dan Logam Berat pada Latosol Darmaga yang Diperlakukan Terak Baja dan
Bahan Organik” di bawah bimbingan Dr. Ir. Sri Djuniwati, M.Sc. dan Dr. Ir.
Syaiful Anwar, M. Sc.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Yang Maha Pemberi, Allah SWT atas
karunia dan rahmat-Nya kepada semua mahluk-Nya, tak terkecuali kepada penulis
sehingga dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Kadar Makro dan Logam
Berat pada Latosol Darmaga yang Diperlakukan Terak Baja dan Bahan Organik”.
Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan
moril dan materil dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada:
1.

Dr. Ir. Sri Djuniwati, M.Sc. selaku dosen pembimbing akademik sekaligus
pembimbing skripsi atas segala bimbingan, nasihat, teladan dan dukungan
kepada penulis selama studi, penelitian dan penulisan skripsi ini.

2.

Dr. Ir. Syaiful Anwar selaku dosen pembimbing kedua atas segala bimbingan
dan dukungannya.

3.

Dr. Ir. Lilik Tri Indriyati, M.Sc selaku dosen penguji yang telah bersedia
menjadi penguji dan memberikan banyak masukan bagi penulis.

4.

Kedua orang tua tercinta, Kak Mahfud, dan adik-adikku (Nawir, Abrar,
Zulfikar) atas semua dukungan, kasih sayang, dan do’a yang senantiasa
mengalir kepada penulis.

5.

Nurul Hayati, atas semua dukungan, semangat dan do’anya kepada penulis.

6.

Kementrian Agama RI atas beasiswa yang diperoleh penulis selama kuliah di
IPB.

7.

Seluruh staf Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah ITSL yang telah
memberikan bantuan selama melakukan analisis di laboratorium.

8.

Seluruh teman-teman dari Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah dan
seluruh teman-teman dari Soilscaper 44 yang tidak bisa saya sebutkan satu
persatu atas bantuan, doa, dan semangatnya yang tidak akan pernah dilupakan
oleh penulis.
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan

bagi pembaca pada umumnya.
Bogor,11 Juli 2012
Penulis

i

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ....................................................................................................... i
DAFTAR TABEL .............................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................v
I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2. Tujuan ................................................................................................. 2
II. TINJUAN PUSTAKA ................................................................................... 3
2.1. Sifat dan Ciri Umum Latosol ............................................................... 3
2.2. Terak Baja dan Kegunaannya ............................................................... 4
2.3. Logam Berat ........................................................................................ 6
2.4. Bahan Organik ..................................................................................... 7
2.5. Nitrogen, Fosfor dan Kalium dalam tanah ............................................ 8
2.5.1. Nitrogen ................................................................................... 8
2.5.2. Fosfor ....................................................................................... 9
2.5.3. Kalium ................................................................................... 10
2.6. Basa-basa dapat Dipertukarkan (Ca-dd dan Mg-dd) dalam Tanah dan
Karakteristiknya ................................................................................. 11
2.7. Reaksi Tanah (pH) ............................................................................. 11
III.BAHAN DAN METODE............................................................................ 13
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ............................................................ 13
3.2. Bahan dan Alat .................................................................................. 13
3.3. Pelaksanaan Percobaan ...................................................................... 13
3.4. Rancangan Penelitian ......................................................................... 14
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 17
4.1. Sifat Kimia dan Fisik Latosol Darmaga. ............................................. 17
4.2. Komposisi Hara pada Terak Baja ....................................................... 17
4.3. Nilai pH Tanah Setelah Pertanaman Caisim dipanen .......................... 18
4.4. Kadar Hara (N, P, K, Ca, Mg) Tanah Setelah Penanaman .................. 19
4.4.3. Kalium dapat dipertukarkan (K-dd) ........................................ 22
4.4.4. Kalsium dapat dipertukarkan (Ca-dd) ..................................... 23

ii

4.4.5. Magnesium dapat dipertukarkan (Mg-dd) ............................... 24
4.5. Kandungan Logam Berat Terlarut pada Tanah Setelah Pertanaman
Caisim ............................................................................................... 25
V.KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 28
5.1. Kesimpulan ........................................................................................ 28
5.2. Saran ............................................................................................... 28
VI.DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 29

iii

DAFTAR TABEL
1.

Jenis dan Dosis Terak Baja serta Kesetaraannya .......................................... 14

2.

Komposisi Hara pada Terak Baja ................................................................ 18

3.

Nilai pH tanah akibat pemberian terak baja dan bahan organik .................... 18

4.

Kadar Nitrogen Tanah Akibat Interaksi antara Jenis Terak dengan Dosis
Terak dan interaksi Dosis Terak dengan Bahan Organik ............................. 19

5.

Kadar Kalium Dapat Dipertukarkan dalam Tanah Akibat Interaksi Dosis
Terak dengan Bahan Organik ...................................................................... 22

6.

Kadar Logam Berat Terlarut ( Pb, Cd, As, Sn, Hg) Tanah pada Perlakuan
Jenis Terak S2 (Convertor Slag Japan) Akibat Pemberian Terak Baja dan
Bahan Organik ............................................................................................ 26

7.

Kadar Logam Berat Terlarut ( Pb, Cd, As, Sn, Hg) Tanah pada Perlakuan
Jenis Terak S2 (Electric Furnace Slag Indonesia) Akibat Pemberian Terak
Baja dan Bahan Organik ............................................................................. 26

iv

DAFTAR GAMBAR

1. Kadar P-tersedia tanah interaksi antara jenis terak dengan dosis terak .......... 21
2. Kadar P-tersedia tanah faktor tunggal bahan organik ..................................... 21
3. Kadar Ca-dd tanah pengaruh interaksi jenis jerak dengan dosis terak ............ 23
4. Kadar Ca-dd tanah faktor tunggal bahan organik .......................................... 23
5. Kadar Mg-dd dalam tanah pengaruh interaksi jenis terak dengan dosis terak 25
6. Kadar Mg-dd dalam tanah pengaruh interaksi dosis terak dengan bahan organik
...................................................................................................................... 25

v

DAFTAR LAMPIRAN
1.

Sifat Kimia dan Fisik Latosol Darmaga ....................................................... 33

2.

Kriteria Penilaian Analisis Tanah (Pusat Penelitian Tanah, 1983 dalam
Sulaeman et al., 2005)................................................................................. 34

3.

Persyaratan Logam Berat (Total) Tanah ...................................................... 35

4.

Pengaruh Pemberian Terak Baja dan Bahan Organik Terhadap Kadar Hara
Tanah .......................................................................................................... 36

5.

Pengaruh Pemberian Terak Baja dan Bahan Organik Terhadap Basa dapat
ditukar dan pH Tanah ................................................................................. 37

6.

Analisis Ragam Kadar N-Total Tanah ........................................................ 38

7.

Analisis Ragam Kadar P-Tersedia Tanah ................................................... 38

8.

Analisis Ragam Kadar K-dd Tanah ........................................................... 39

9.

Analisis Ragam Kadar Ca-dd Tanah........................................................... 39

10. Analisis Ragam Kadar Mg-dd Tanah.......................................................... 40
11. Analisis Ragam Nilai pH Tanah ................................................................. 40
12. Gambar Denah Percobaan .......................................................................... 41

1

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang berada dalam kawasan iklim
tropis dengan suhu dan curah hujan tahunan yang tinggi, sehingga kebanyakan
tanah di Indonesia berada pada tingkat pelapukan lanjut. Curah hujan tahunan
yang tinggi mengakibatkan aktivitas pencucian hara dalam tanah berlangsung
sangat intensif sehingga tanah kehilangan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Selain itu, tingkat pelapukan yang lanjut mengakibatkan bahan organik tanah juga
menjadi rendah. Dengan kondisi demikian, tanah menjadi masam dan
kesuburannya menjadi rendah. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, para
petani di Indonesia menggunakan bahan-bahan seperti kalsit atau dolomit untuk
menurunkan kemasaman tanah. Kalsit dan dolomit merupakan bahan kapur yang
sudah dikenal di Indonesia dan telah dipakai secara luas.
Akhir-akhir ini terak baja (basic slag/steel slag) diperbincangkan oleh para
peneliti dunia pertanian. Terak baja merupakan limbah industri pembuatan baja
yang mengandung unsur Ca, Mg Si, Fe, dan beberapa unsur lain serta mampu
memperbaiki masalah keasaman tanah dengan menaikkan pH tanah (Dev dan
Sharma 1970). Terak baja memiliki kandungan CaO sebanyak 52.85%, MgO
2.22%, P2O5 4.76% (Ali dan Shahram, 2007) dan unsur Si, Fe serta beberapa
unsur lainnya. Suwarno dan Goto (1997) juga menyatakan bahwa terak baja
sebagai bahan pengapuran lebih baik daripada dolomit. Disamping itu, terak baja
juga bermanfaat untuk meningkatkan ketersediaan unsur Si dan unsur mikro lain
yang dibutuhkan tanaman. Hal ini menjadikan terak baja dapat digunakan sebagai
bahan amelioran. Namun demikian, terak baja diduga memiliki kandungan logam
berat yang berbahaya seperti As, Cr, Pb, Ni, Cd, dan Th sehingga Pemerintah
Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengkategorikan terak
baja sebagai Bahan Berbahaya Beracun (B3), tercantum dalam PP No. 85 Tahun
1999. Hal ini menyebabkan potensi terak baja untuk pertanian belum banyak
dikembangkan. Namun tidak semua produk samping limbah baja memiliki
komposisi yang sama mengingat proses pembuatan baja bermacam-macam cara
sehingga produk samping proses tersebut berbeda. Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa sebagian terak baja mengandung logam berat yang kadarnya

2

masih di bawah ambang batas yang dapat membahayakan lingkungan, sehingga
diharapkan beberapa sumber/jenis terak baja dapat digunakan sebagai bahan
amelioran. Oleh karena itu perlu pengkajian kembali untuk pertimbangan
pengkategorian sumber/jenis terak baja sebagai limbah B3.
Bahan organik (BO) merupakan hasil dekomposisi dari sisa tanaman, hewan
atau bahan lain yang mengandung karbon. Hasil dekomposisi bahan organik
sudah terbukti mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pengaruh
pada sifat fisik tanah antara lain tanah menjadi lebih gembur dan mampu
memegang air lebih banyak, sedangkan pengaruh terhadap sifat kimia tanah
diantaranya dapat meningkatkan KTK dan ketersediaan hara tanah terutama N, P,
S dan sebagai penyumbang sifat aktif koloid tanah. Pengaruhnya terhadap sifat
biologi tanah antara lain adalah mempengaruhi aktifitas mikrob tanah. Mench et
al., (1998) menunjukkan bahwa aplikasi bahan organik akan mengubah spesiasi
logam berat dalam larutan tanah dari ionik ke bentuk-bentuk terkompleks,
sehingga serapan logam berat oleh akar dan perpindahannya ke bagian atas
tanaman menurun. Dengan demikian fitotoksisitas dan akumulasi logam berat ke
rantai makanan dapat dihindari. Oleh karena itu pemberian terak baja dan bahan
organik serta kombinasi keduanya pada tanah diharapkan dapat memberi
pengaruh yang baik pada sifat kimia tanah.
1.2. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat kimia tanah yang meliputi
pH, kadar hara makro (N, P, K, Ca dan Mg) serta kadar logam berat (As, Pb, Sn,
Cd dan Hg) setelah pertanaman caisim pada Latosol yang diberi perlakuan terak
baja, bahan organik dan kombinasi keduanya.

3

II.

TINJUAN PUSTAKA

2.1. Sifat dan Ciri Umum Latosol
Latosol merupakan jenis tanah yang penyebarannya cukup luas dan
menempati area sekitar 9% daratan di Indonesia (Soepardi, 1983). Tanah ini
diantaranya dapat dijumpai di Darmaga, Kabupaten Bogor. Menurut sistem
klasifikasi USDA, Latosol coklat kemerahan Dramaga Bogor termasuk dalam
order Inceptisol dan terletak pada zona fisiografi Bogor bagian barat, dengan
bahan induk vulkanik kuarter yang berasal dari Gunung Salak.
Dudal dan Soepraptohardjo (1957) menyebutkan bahwa tanah Latosol
terbentuk melalui proses latosolisasi. Proses latosolisasi terjadi di bawah pengaruh
curah hujan dan suhu yang tinggi di daerah tropik dimana gaya-gaya hancuran
bekerja lebih cepat dan pengaruhnya lebih ekstrim daripada daerah dengan curah
hujan dan suhu sedang. Pelapukan dan pencucian sangat intensif dan mineral
silikat cepat hancur. Pada banyak tempat di daerah tropik, musim basah dan
kering terjadi silih berganti. Hal ini berakibat semakin meningkatnya kegiatan
kimia dalam tanah.
Latosol umumnya telah mengalami perkembangan lanjut, solum tebal, batas
horizon baur, lapisan atas sedikit mengandung bahan organik, lapisan bawah yang
berwarna merah, kadar fiksasi liat yang agak tinggi sampai tinggi dan hampir
merata pada semua horizon. Horizon B kaya akan seskuioksida (Al2O3+Fe2O3)
bertekstur halus, struktur lemah sampai gumpal, konsistensi gembur sampai agak
teguh, porositas sedang sampai baik, permeabilitas dan drainase sedang sampai
cepat dan cadangan mineral rendah sampai sedang (Dudal dan Supraptohardjo,
1957). Proses hidrolisis dan oksidasi berlangsung sangat intensif, sehingga basabasa seperti Ca, Mg, K, dan Na cepat dibebaskan oleh bahan organik. Oleh karena
itu, tanah Latosol memiliki kejenuhan basa rendah (

Dokumen yang terkait

Kadar Hara Makro dan Logam Berat Latosol Darmaga yang Diperlakukan Terak Baja dan Bahan Organik