Perspektif hukum Islam terhadap Perda No.05/2002 Pemda Kota Pekanbaru dalam upaya menanggulangi pekerja seks komersial (PSK)

PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PERDA
NO.05/2002 PEMDA KOTA PEKANBARU DALAM
UPAYA MENANGGULANGI PEKERJA SEKS
KOMERSIAL (PSK)

Oleh
KATON

103045128147

JURUSAN JINAYAH SIYASAH
KONSENTRASI PIDANA ISLAM
FAKUTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2008

PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PERDA
NO.05/2002 PEMDA KOTA PEKANBARU DALAM
UPAYA MENANGGULANGI PEKERJA SEKS
KOMERSIAL (PSK)

Oleh
KATON

103045128147

JURUSAN JINAYAH SIYASAH
KONSENTRASI PIDANA ISLAM
FAKUTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2008

PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PERDA
NO.05/2002 PEMDA KOTA PEKANBARU DALAM
UPAYA MENANGGULANGI PEKERJA SEKS
KOMERSIAL (PSK)

Oleh
KATON

103045128147

JURUSAN JINAYAH SIYASAH
KONSENTRASI PIDANA ISLAM
FAKUTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2008

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan
taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan alam Nabi
Muhammad SAW, yang telah melepaskan umatnya dari lembah kebodohan ke
arah yang penuh dengan cahaya ilmu pengetahuan.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Hukum
Islam

pada jurusan Jinayah Siyasah Program Studi Pidana Islam Fakultas

Syariahdan Hukum. Sebagai

manusia biasa, penulis menyadari bahwa

kemungkinan besar skripsi ini masih memiliki kelemahan dan kekurangan, maka
penulis sangat mengahrapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif.
Disamping itu, penulis meyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini penulis
telah banyak menerima bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besrnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya terutama
kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis baik secara edukatif
maupun administratif sejak awal perkuliahan hingga akhir perkuliahan ini.
2. Ketua

Jurusan

dan

Siyasah/Pidana Islam

Sekretaris

Jurusan/Program

Studi

Jinayah

Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta yaitu bapak Asamawi, M.Ag. dan Ibu Sri Hidayati,
M.Ag. yang telah banyak membantu dan memotivasi penulis untuk selalu
semangat dalam penulisan skripsi ini.
3. Pembimbing dengan segala ketulusan hati telah memberikan bimbingan,
arahan, nasihat yang sangat berarti dalam penulisan skripsi ini yaitu bapak
Dedy Nursyamsi, SH,M.Hum dan Dr. Asep Saepuddin Jahar, MA.

4. Pimpinan dan staf perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan
perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberikan
fasilitasnya untuk memperoleh literature dan bahan yang diperlukan dalam
penulisan skripsi ini.
5. Ayahanda tercinta Kabir dan Ibunda Syamsilar atas segala dukungan lahir
dan batin demi kesuksesan anaknya menatap masa depan yang gemilang.
6. Kakak tercinta Eli Rosmita serta abang Anasril sekeluarga, Iwat Triliati,
Wila Wulantari dan Wanda
7. Kakak tercinta Ermawati serta abang Helmi sekeluarga, Roy Hidayat dan
M. Fais
8. Udo Edi Siswarianto beserta kak Tuti sekeluarga, Diyo.
9. Adinda tersayang Nurhadisah yang telah memberikan bantuan moril
kepada penulis selama kuliah sampai terselesaikannya skripsi ini.
10. Ombak Ujang Umar sekeluarga yang selalu memberi nasehat kepada
penulis
11. M. Hendra Yunal, M.Si dan Ahmad Taridi, S.Hi, yang telah banyak
memberikan nasehat kepada penulis.
12. Sahabatku Mahyudi, Yusuf Mahdani, Kajudin, Asef Margana, Karunial
Akhyar, Ajhon, Deva, dan muridku tercinta Hadi Ismanto yang telah
memberikan bantuannya kepada penulis dalam penyelesaian penulisan
skripsi ini.
13. Kawan-kawan Pidana Islam, khususnya angkatan 2003 yang tidak penulis
sebutkan satu persatu.
14. Kawan-kawan Ikatan Pelajar Mahasiswa Kampar (IPMK) Jakarta, , Fajri,
Pices, Salman, Yarnas, Hanafi, Yudi, Habib, dan Danil.
15. Kawan-kawan Himpunan Pelajar Mahasiswa Riau (HIPEMARI) Jakarta,
Jamal, Dona, Anto, Ichan, Ides, Ncunk, Taufik, Inef, Rozy, Ali, dan
Fahmi.

16. Semua pihak yang penulis tidak bisa menyebutkan satu persatu, yang telah
memberikan dukungan dalam penulisan skripsi ini.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga skripsi ini bermanfaat bagi
para pembaca, terutama bagi kami sebagai penulis. Mohon maaf atas segala
kekurangan. Mari kita berjuang untuk menatap masa depan yang gemilang,
semoga senantiasa bahagia hidup di dunia maupun di akirat kelak. Amiin

13 November 2008

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Balakang Masalah......................................................................1
B. Perumusan Masalah.............................................................................7
C. Tujuan Penelitian dan Mamfaat Penelitian .........................................8
D. Metode Penelitian dan Tehnik Penulisan.............................................9
E. Sistematika Penulisan.........................................................................12
BAB II HUKUM ISLAM DALAM MENANGGULANGI PEKERJA SEKS
KOMERSIAL.........................................................................................14
A. Pekerja Seks Komersial Dalam Hukum Islam...................................14
B. Sebab-sebab Yang Mempengaruhi Pekerja Seks Komersial.............17
C. Isalam Dalam Penanggulangan Pekerja Seks Komersial...................20
BAB III PERDA NO. 05 TAHUN 2002 PEMDA KOTA PEKAN BARU
DALAM

MENANGGULANGIN

PEKERJA

SEKS

KOMERSIAL........................................................................................32
A. Gambaran Umum kota Pekan Baru...................................................32

B. Pekerja Seks Komersial dikota Pekan Baru......................................36
C. Perda No. 05 Tahun 2002 Pemda kota Pekanbaru............................38
BAB

IV

PANDANGAN

HUKUM

ISLAM

TERHADAP

PENANGGULANGAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL MELALUI
PERDA

NO.

05

TAHUN

2002

DI

KOTA

PEKAN

BARU.......................................................................................................47
A. Pandangan Terhadap Perda No. 05 Tahun 2002…………………...47
B. Pandangan Terhadap Kebijakan Preventif dan Represif………….…48
C. Analisa Penulis...................................................................................52
BAB V PENUTUP..............................................................................................57
A. Kesimpulan.........................................................................................57
B. Saran-saran.........................................................................................59
DAFTAR PUTAKA...........................................................................................60
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Hukum islam adalah titah Allah SWT yang berkaitan dengan aktivitas para
mukallaf, baik berbentuk perintah

(suruhan dan larangan), pilihan, maupun

ketetapan. Hukum islam tersebut digali dari dalil-dalinya yang terperinci, yaitu alquran dan sunnah, dan lain-lain yang diratifikasikan kepada kedua sumber
tersebut.1 Disyari’atkannya hokum islam adalah untuk memelihara kemaslahatan
manusia sekaligus menghindari mafsadatnya, ada lima tujuan disyari’atkannya
hukum islam.
1. Memelihara Agama
2. Memelihara Jiwa
3. Memelihara Akal
4. Memelihara Keturunan
5. Memelihara Harta

Hukum Islam meupakan hukum yang sangat komprehensif (menyeluruh)
yang mengatur kehidupan manusia baik secara vertical yaitu hubungan manusia
dengan penciptanya maupun horizontal yakni hubungan manusia dengan manusia
lainnya. Tentang penyaluran seksualpun telah diatur dalam hukum islam
penerangannya banyak ditemui dalam al-Quran maupun dalam hadit-hadist nabi,
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Masail Al-Fiqhiyah, UIN Jakarta Press

yaitu dengan jalan menika. Hal ini tidak laian merupakan salah satu tujuan untuk
memelihara keturunan dan mencegah perbuatan perzinahan, bagi pelaku kejahatan
atau penyimpangan dalam hokum islam tidak lain sebagai upaya tindakan
preventif maupun represif agar manusia tidak melakukan kejahatan, sebagai mana
para fuqoha menyatakan bahwa adanya syari’at islam atau hokum antara lain
menjamin keamanan dari kebutuhan-kehidipan hidup.2
Dalam

hukum

islam

pelacuran

merupakan

salah

satu

bentuk

penyimpangan seksual, pelacuran merupakan perbuatan zina. Hukum islam
memberikan sanksi yang jelas bagi pelaku tindakan perzinahan yaitu cambuk bagi
pelaku yang ghairu mukhsan, sedangkan bagi pelaku yang mukhsan hukumannya
adalah rajam. Upaya penanggulangan terhadap pekerja seks komersial merupakan
manivestasi dalam pemeliharaan keturunan atau dalam hokum islam dikenal
dengan sebutan Hifz Al-Nashl. Pekerja seks komersial adalah perilaku zina jelasjelas dilarang dalam hukum islam.
Allah SWT berfirman :

!"#
Artinya :
Dan janganlah kamu menghampiri perbuatan zina itu adalah suatu
perbuatanyang keji suatu jalan yang buruk (Q.S : Al- Isra : 32)

Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992)

Meskipun sudah ada nash yang mengatur dan melarang, akan tetapi masih
saja melakukan tetap memelakukan perzinahan atau seks bebas. Padahal dalam
huku islam memerintahkan kepada manusia untuk melakukan pernikahan.
Mernurut hokum pelacuran adalah perzinahan komersial yang akan berakibat
buruk, tidak hanya tehadap keislamannya saja, akan tetapi hartanya pula yang
diunakan untuk jalan haram. Disamping itu pula pelacuran juga bisa
menghacurkan keharmonisan rumah tangga, merusak keturunan sebagai generasi
kedepan serta mengotori perkembangan masyarakat.
Pelacuran merupakan problematika sepanjang zaman. Ia (pelacuran)
bukanlah masalah baru kehidupan dunia, akan tetapi pelacuran telah membumi
dan selalu hadir dari zaman ke zaman dalam paradigm yang berbeda. Hal ini
senada dengan ungkapan Sarlito Wirawan, beliau berpendapat bahwa masalah
pelacuran ini dari abad ke abad tidak pernah terselesaikan, ibarat rumah ia
merupakan saluran kotoran, dan ibarat manusia pelacuran adalah alat pembuangan
kotoran.3
Dalam siklus historisnya, pelacuran telah berkembang dengan pesat
wanita-wanita

penggoda

yang

beparas

cantik

dan

mempesona

telah

diperdagangkan untuk memenuhi birahi hidung belang. Demikian juga
sebaliknya, para pria tampan juga dijadikan pemuas hasrat seksual para nyonyanyonya dikalangan elit.

Sarlto Wirawan Sarwono, Psikologi Sosial, Individu dan Teori-teori Psikologi Sosisal,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1997)

Pelacuran telah berkembang begitu pesatnya dari waktu ke waktu, hal ini
disebabkan oleh berbagai alasan diantaranya adalah, tingginya angka perceraian,
sulitnya perekonomian sehingga wanita rela menjajahkan tubuhnya. Apalagi
dierah globalisasi ini penyaluran wanita pekerja seks komersial begitu mudah
karena banyak konsumennya, baik dalam negeri yang notabenenya muslim
apalagi Negara-negara lain diberbagai belahan dunia. Dewasa ini pelacuran sudah
menjadi profesi bagi sebagian orang yang menekuninya, alaupun departemen
tenaga kerja selama ini tidak mengakui pelacuran sebagai jenis pekerjaan.
Sekarang para pekerja seks komersial tidak lagi susah ditemukan, tidak hanya di
lokalisasi-lokalisasi resmi, tetapi juga di jalan-jalan, warung remang-remang di
mall-mall maupun di salon-salon. Hal yang seperti itu merupakan suatu penyakit
dalam masyarakat yang adapt mengganggu kenyamanan, ketertiban umum serta
dapat meresakan warga sekitarnya.
Pelacuran bukan merupakan gejala individu tetapi sudah menjadi gejala
social dari penyimpangan yang normal dan agama. Arena pelacuran bukan hanya
memiliki dampak terhadap individu-individu pelakunya dan pemakai jasa ini
secara personal, tetapi juga memeliki dampak terhadap masyarakat umum.
Meskipun pelacuran jelas-jelas merupakan sebuah tindakan yang benar-benar
menyimpang dari agama. Ternyata tidak mudah memponisnya begitu saja lantaran
persoalan ini terkait dengan berbagai hal yang saling berkaitan. Menurut Soerjono
Soekamto yang mengutip teoriu Edwin h. Suterland dengan teori differential
association, dimana menurut teori ini bahwa sesungguh suatu perbuatan
penyimpangan yang dilakukan oleh seseorag merupakan hasil dari proses

pembelajaran yang meruapakan alih budaya, berdasarkan pergaulan dalam
interaksinya dengan lingkungan sekitar dimana dia bertempat tinggal. Sehinga
perilaku menyinpang dan kejahatan yang dilakukan oleh seseorang pada dasarnya
berasal dari interaksi social yang ia lakukan dalam kehidupannya.
Masyarakat

yang

mempunya

tata

cara

aturan

hidup

berusaha

menanggulangi penyakit social ini atau lebih dikenal dengan penyakit masyarakat
(PEKAT) dengan berupaya melarang kegiatan praktek prositusi di wilayah
sekitarnya. Usaha preventif dan represif oleh pemerintah telah dilakukan sebagai
upaya mencegah atau menghambat perkembangan pekerja seks komersial
semaksimal mungkin, karena dalam kenyataannya ditengah-tengah masyarakat
praktek pelacuran dapat menimbulkan akibat negativ.

Upaya ini pun

dilegitimasikan dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) Pasal 296:
barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul
dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencaharian atau kebiasaan
diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana
denda paling banyak lima belas ribu.4
Di kota pekan Baru maslah pelacuran sudah ada sejak lama, sejak terdapat
banyak tempat-tempat hiburan, baik itu cafe-café, warung remang-remang dan
ada pula yang mangkal di pinggir-pinggir jalan ataupun pertokoan-pertokoan yang
dianngap aman untuk melakukan transaksi seks mereka. Upaya pemerintah pekan

Dr, Andi Hantzah, SH, KUHP & KUHAP, (Jakrta: PT. Raja Grafindo Cipto, 2002)

Baru dan aparat keamanan serta instansi terkait dalam menyikapi praktek
pelacuran ini terus dilakukan dalam upaya penekanan serta penanggulangan
jumlah wanita yang bekerja sebagai pekerja seks komersial di kota pekan Baru.
Pemerintah kota pekan Baru telah berusaha menekan dan memberantas
praktek pelacuran yang terjadi di wilayah pekan Baru, salah satunya adalah
dengan mengeluarkan peraturan daerah No. 05 Tahun 2002 Tentang Ketertiban
Umum di wilayah kota pekan Baru. Yang pada pasal 24 di nyatakan
1. Dilarang setiap orang melakukan atau menimbulakn persangkaan akan
berbuat asusila atau perzinahan di rumah-rumah (gedung, hotel,
wisma, penginapan, dan temapt-tempat usaha).
2. Dilarang setiap orang yang tingkah lakunya menimbulkan persangkaan
akan berbuat asusila atau perzinahan untuk berda di jalan, taman, dan
tempat umum.
3. Dilarang bagi setiap orang untuk menyuruh, menganjurkan dengan
cara lain pada orang lain untuk melakukan perbutan asusila atau
perzinahan di jalan, jalur hijau, taman dan tempat umum.5

Peraturan daerah kota pekan Baru yang berkaitan dengan penyakit
masyarakat ini belum sepenuhnya dapat dipatuhi oleh masyarakat khususnya para
pekerja seks komersial. Hal ini terlihat dengan masih adanya pekerja seks
komersial yang mangkal di jalan-jalan mapun pertokaan-pertokaan serta tempat

5

Pemda kota Pekan Baru, Perda No. 05 Tahun 2002, Tentang Ketertiban Umum

umum lainnya, seperti dicafe-cafe dan diskotik. Apakah mereka tidak tahu
peraturan yang ada, atau upaya pemerintah kota pekan Baru yang belum
maksimal. Oleh karena itu berdasarkan alasan tersebut di atas penulis sangat
tertarik untuk menegtahui pekerja seks komersial di kota pekan Baru serta
bagaimana kebijkan pemerintah pekan Baru melalui undang-undang No. 05 tahun
2002 tentang ketertiban umum dalam menanggulanginya.
B. Perumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah di atas seputar masalah pekerja seks
komersial di wilayah kota pekan Baru, dan supaya pembahasan skripsi ini lebih
terarah maka penulis mencoba untuk merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana praktek pekerja seks komersial diwilayah kota pekan Baru?
2. Bagaimana ketentuan pemerintah melalui perda No. 05 tahun 2002 pemda
kota pekan Baru dalam menaggulangi Pekerja Seks Komersial?
3. Bagaimana analisis hukum islam terthadap penanggulangan pekerja seks
komersial melalui perda No 05 Tahun 2002 Pemerintah Kota Pekanbaru

C. Tujuan Penelitian dan Mamfaat Penelitian

1. Adapun yang mnenjadi tujuan dalam penulisan ilmiah ini adalah:
a.

Untuk mengetahui praktek pekerja seks komersial dikota
pekanbaru

b. Untuk mengetahui upaya pemerintah kota Pekan Baru serta
instansi terkait dalam menanggulangi pekerja seks komersial
melalui Perda No 05 Tahun 2002
c. Untuk mengetahui analisis hukum islam dalam menanggulangi
Pekerja Seks Komersial melalui perda no 05 Tahun 2002 Pemda
kota Pekanbaru

2. Mengenai mamfaat penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah

a.

mamfaat akademik menambah pengetahuan dibadang hukum
islam khususnya mengenai perspektif hukum isalam terhadap
perdano.05/2002

pemda

kota

pekanbaru

dalam

upaya

menanggulangi pekerja seks komersial

b. Mamfaat bagi pemda kota Pekenbaru mereka tahu bagaimana
pandangan hukum islam terhadap perda no 05 tahun 2002 tentang
ketertiban umum
c. Mafaat bagi masyarakat umumnya, dan masyarakat kota Pekanbaru
khususnya adalah, mereka mengetahui adanya larangan pemerintah
setempat melalui perda no 05 tahun 2002 tentang ketertiban umum
dan

mereka

juga

tahu

bagaimana

menanggulangi Pekerja Seks Komersial

D. Metode Penelitian dan Tehnik Penulisan

hukum

islam

dalam

Untuk mengumpulkan data dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan
metode sebagai berikut:

1. Jenis dan Sifat Data

Adapun jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah
kualitatif yakni berupa kata-kata, ungkapan, norma atau aturan-aturan
dari fenomena yang diteliti, 6 olek karena itu penulis berupaya
mengupas serta mencermati megenai pekerja seks komersial dikota
Pekan Baru. Dan penelitian juga menggambarkan pekerja seks
komersial secara sistematis, factual dan akurat berdasarkan data yang
didapat dikota Pekan Baru. Metode penilisan yang dipergunakan
adalah metode deskriftif, metode deskriftif bertujuan melukiskan
sitematis fakta atau karakteristik populasi terentu secara factual dan
cermat.7 Penelitian deskriptif juga bertujuan untuk menggmbarkan
secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala kelompok
tertentu, atau untuk menentukan frekwensi atau penyebaran suatu
gejala atau frekwensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala
dan gejala lain di dalam masyarakat.8 Cara ini bertujuan untuk
mendeskripsikan masalah penanulangan pekerja seks komersial dikota
Pekan Baru.
6

Masri Singaribun, Sfian Effendi, Metode Penelitian Survai, Edisi revisi (Jakarta:
LP3ES, 1989)
7

Jalaludin Rahamat, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: Rosda, 2000) h, 22
Koetjaraningrat, Pedoman Penelitian, (Jakarta: Rajawali Press, 1985)

Sedangkan sifat dalam penelitian ini termasuk dalam penelitian yang
bersifat deskrip analis, yakni penelitian yang menggambarkan data dan
imformasi dilapangan berdasarkan fakta yang diperoleh secara
mendalam.9 Penelitian ini juga bertjuan untuk serta respon pemerintah
dan instansi terkait kota Pekan Baru mengenai keberadaan pekerja seks
komersial di wilayah kota Pekan Baru.

2. Sumber Data

Sumber data yang pergunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Sumber Data Primer, yaitu bahan-bahan yang mengikat, yakni
data yang diperoleh dengan mengadakan wawancara secara
mendalam terhadap obyek yang diteliti
b. Sumber Data Skunder, yakni bahan-bahan yang memberikan
penjelasan mengenai bahan-bahan primer yaitu data yang
diperoleh dari Al-quran, Sunnah, buku-buku umum, buku-buku
islam dan data-data tertulis lainnya yang relevan dengan judul
skripsi ini

3. Tehnik Pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

a. Penggunaan Bahan Dokumen
Suharsimi Arikunto, Managemen Penelitian, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993)

b. Observasi
c. Interview (wawancara)

Wawancara dilakukan dengan Tanya jawab langsung dengan aparat
pemerintah an pekerja seks komersial dikota Pekan Baru
4. Tehnik Analisis Data

Tehnik analisis data penelitian ini penulis hanya bersfat ekploratif,
artinya analisis hasil penelitian ini hanya

ditargetkan untuk

memperoleh deskripsi obyek penelitian secara general, tanpa harus
merinci kedalam detailnya (unsure-unsurnya)

5. Tehnik Penulisan

Adapun penulisan skripsi ini menggunakan buku pedoman penulisan
Skrpsi,Tesis Fakutas Sysri’ah dan Hukum UIN Syaruf Hidayatullah
Jakarta. Diterbitkan tahun 2005

E. Sitematika Penulisan

Skripsi ini terdiri dari lima bab dan tiap bab diuraikan dalam
berbagai sub bab

Adapun sistemaika penusunan secara garis besarnya dapat dikemukakan
sebagai berikut

Bab I.

yang berisi pendahuluan, bab ini terdiri dari latarbelakang
masalah, perumsan masalah, tujuan penelitian, metode
peneltian dan tehnik penulisan serta sistematika penulisan

Bab II.

yang berisi teori hukum islam dalam menangulang pekerja
seks komersial, yang terdiri dari pekerja seks komersial
menurut hukum islam, sebab-sebab yang mempengaruhi
pekerja seks komersial dan islam dalam penanggulangan
pekerja seks komersial

Bab III

yang berisi mengenai perda No. 05 Tahun 2002 pemda kota
Pekan Baru dalam menanggulangi pekerja seks komersial,
yang terdiri dari gambaran umum kota Pekan Baru, pekerja
seks komersial dikota Pekan Baru, serta penanggulangan
pekerja seks komersial oleh pemda kota Pekan Baru dalam
perda No 05 Tahun 2002

Bab IV

menjelaskan tentang pandangan hukum islam terhadap
penanggulangan pekerja seks komersial melalui perda No
05 Tahun 2002 dikota Pekan Baru, kebijakan preventif
pemerintah, kebijakan represif serta analisa kasus

Bab V

penutup, pada bab ini penulis mengungkapka beberapa
kesimpulan didasarkan analisa data dari bab prebab,

disamping itu pula saran yang diharapkan menjadi follow
up terhadap uraian di dalam skripsi ini

BAB II
HUKUM ISLAM DALAM MENANGGULANGI PEKERJA SEKS
KOMERSIAL
A. Pekerja Seks Komersial Dalam Hukum Islam
Menurut kamus besar bahasa Indonesia pekerja adalah orang yang
melakukan pekerjaan, sedangkan pengertian seks adalah jenis kelamin. Komersial
sendiri adalah yang berhubungan dengan perdagangan atau niaga dengan maksud
untuk diperdagangkan atau berdagang.10 Dengan demikian defenisi dari pekerja
seks komersial adalah seseorang yang melakukan pekerjaan atau perdagangan
dengan bentuk penukaran kenikmatan seksual dengan benda-benda, materi dan
uang atau biasa disebut dengan barter.11
Pekerja Seks Komersial merupakan sinonim dari kata pelacur. Pelacuran
dari kata 'lacur' yang mempunyai arti celaka, sial, tidak baik kelakuannya, atau
berarti menjual diri.12 Secara terminologis pelacuran adalah layanan seksual yang
dilakukan oleh laki-laki atau perempuan antuk mendapatkan uang imbalan serta
kepuasan. 13

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta
Balai Pustaka)
Dra. Kartini Kartono, Patologi Sosial, Jilid I (Jakarta: CV. Rajawali, 1998)
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1987)
Robert P. Masland, Jr, David Estridge, Apa Yang Ingin Diketahui Remaja Tentang
Seks,
(Jakarta: Bumi Aksara, 1987), h 134

Pengertian pelacuran menurut soedjono S. SH, adalah merupakan gejala
sosial yang seolah-olah langgeng faktor penentunya terletak pada sifat-sifat alami
manusia khususnya dari segi seksual biologis dan psikologis, sedangkan faktorfaktor lainya hanya bersifat factor pendamping yang dapat memperlancar dan
menghambat pertumbuhan jumlah pelacuran.14
Sedangkan pelacuran menurut penulis adalah sesuatu perbuatan yang
dilakukan oleh laki-laki atau perempuan dalam bentuk melakukan hubungan
badan untuk memuaskan nafsu seks dengan imbalan uang atau sesuatu sesuai
dengan perjanjian yang telah disepakati, tanpa ikatan tali pernikahan yang sah
sesuai dengan peraturan agama, norma-norma, serta nilai-nilai lain yang berlaku
dalam kehidupan msyrakat.
Pekerja Seks Komersial atau pelacuran adalah perilaku zina yang
merupakan salah satu di antara sebab-sebab dominan yang mengakibatkan
kerusakan dan kehancuran peradaban, menularkan penyakit-penyakit yang sangat
berbahaya, mendorong orang untuk terus-menerus hidup membujang serta praktek
hidup bersama tanpa pernikahan (kumpul kebo). Dengan demikian zina
merupakan sebab utama dari pada kemelaratan, pemborosan, pencabulan dan
pelacuran.15

Soedjono S. SH, Pelacuran Ditinjau dari Hukum dan Kenyataan Dalam Masyrakat,
(Bandung: Karya Nusantara, 1977), h. 44
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid 9, Terjemahan: Moh. Nabhan Husein, (Bandung: PT.
Al-Ma’arif, 1995), h. 87

Secara umum zina adalah setiap persetubuhan yang dilakukan antara pria
dan wanita di luar nikah. Baik persetubuhan itu dilakukan dengan perkosaan,
pelacuran maupun yang lain, dengan prinsip bahwa hubungan seks (persetubuhan)
itu dilakukan tanpa dengan pernikahan secara sah.16 Menurut etimologi zina itu
berarti $ % &'

(

) persetubuhan yang diharamkan, atau persetubuhan antara

pria dan wanita melalui faraj (vagina/anus) yang atara keduanya tidak ada ikatan
tali pernikahan yang sah serta tidak ada unsur subhat.

M. Ali Hasan Umar, kejahatan Seks dan Kehamilan di Luar Nikah Dalam Pandangan
Hukum Islam, (Semarang: CV. Panca Agung, 1990), h. 26

B. Sebab-Sebab Yang Mempengaruhi Pekerja Seks Komersial
Menelusuri latar belakang penyebab prostitusi di manapun sangat sulit, karena
permasalahan yang melingkupinya sangat kompleks, dan saling berkaitan erat dari
sebab yang satu kesebsb yang lainnya.
Namun secara garis besar dapat dikemukakan sebab-sabab atau faktor yang
mempengaruhi pekerja seks komersial, antara lain adalah:
1. Faktor Moral atau Ahklak
a. Adanya demoralisasi atau rendahnya faktor, serta kurangnya
ketakwaan dan ketaatan terhadap ajaran agama
b. Standar pendidikan dalam mereka pada umumnya rendah
c. Berkebangannya pornografi secara bebas17
2. Faktor biologis
Adanya nafsu seks yang abnormal dan tidak terintegrasi dalam kepribadian,
yang tidak merasa merasa puas melakukan hunbungan seks dengan satu lawan
jenis saja, atau kerena kejenuhan yang ada dalam dirinya

Ending sedyaningsih, Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 1999), h. 70

3. Faktor Ekonomi
Keinginan untuk meraih kemewahan hidup dengan cara jalan pintas dan
mudah, tanpa harus memiliki ketrampilan khusus walaupun kenyataannya
mereka buta huruf, berpedidikan rendah, berpikiran pendek, sehungga
menghalalkan segala cara sebagai pihan pekerjaan.
Berdasarkan hasil observasi yang lakukan Nurul Anggraini, para pekerja seks
komersial umumnya melakukan pekerjaannya disebabkan oleh tekanan ekonomi yang
tidak teratasi. Dengan kata lain mereka mempunyai masalah tanggungan okonomi
yang berat. Seperti janda-janda muda yang dicerai suaminya dan harus menghidupi
anak-anaknya yang masih kecil. Karena desakan ekonomi yang tak tertanggungkan
kemudian menjadi sebab ia mudah tergoda oleh rayuan laki-laki yang bersedia
membayar lebih untuk urusan pelepasan syahwat diluar nikah.18
4. Faktor Sosiologis
a. Melakukan Urbanisasi, karena mereka menginginkan perubahan nasib
b. Ajakan dari temannya yang sudah lebih dahulu terjun kedunia
pelacuran

Nurul Anggraini YS, Menyikap Sisi Samping Liku-Liku Pelacuran, (Jakarta: PT. Golden
Terayon, 1996), h. 82

c. Karena pengalaman dan pendidikan mereka yang sangat minim,
akhirnya mereka mudah terkena bujukan dan tipuan dari para pria
yang menjanjikan pekerjaan terhomat dengan gaji, yang pada akhirnya
dijebloskan ketempat-tempat pelacuran.
d. Berkembangnya daerah tersebut menjadi sebuah daerah yang megah
dan gemerlap, yang sekaligus akan dikikuti pula berkebangnya bisnis
seks didaerah tersebut.19
5. Faktor psikologis
Adanya pengalaman traumatis (luka jiwa), shock, dan rasa ingin balas dendam
yang diakibatkan oleh hal-hal seperti: kegagalan dakam perkawinan, di
poligami (dimadu), dinodai sama pacarnya yang kemudian ditinggalkan
begitu saja.20

Ibid, h. 75
20

Ibid, h. 78. Dan Hasil Wawancara Penulis Dengan PSK di Kota Pekanbaru pada tanggal
13 Maret 2008 di Teleju Pekanbaru

6. Faktor profesi
Karena pendidikan formal yang rendah dan tidak mempunyai keahlian
tertentu, maka mereka menjadikan Pekerja Seks Komersial merupakan
alternatif terakhir untuk dijadikan pekerjaan tetap.21
7. Faktor Keluarga22
a. Rumah tangga berantakan, yang terus-menerus dipenuhi konflik yang
serius, sehingga membuat pecah keharmonisan dalam keluarga dan
membuat anggota keluarga tidak betah tinggal dirumah
b. Penolakan orang tua, ada pasangan suami istri yang tidak pernah bisa
memikul tanggung jaeab sebagai orang tua. Dengan alasan anak
dianggap sebagai beban dan menganggap anak cuma menghalanghalangi kebebasan dalam meniti karir orang tua.
Maka si anak menanamkan dendam kebencian terhadap orang tua dan
akhirnya mereka mau hidup dengan caranya sendiri dan mencari
kesenangan sendiri

Ibid Hasil Wawancara
Dr. Kartini Kartono, Patologi Sosial, Jilid II, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h.
120

c. Pengaruh buruk dari orang tua, tindakan a susila oleh bapaknya yang
merupakan kepala rumah tangga, seperti main perempuan (selingkuh),
berjudi serta mabuk-mabukan. Yang pada akhirnya si anak ikut-ikutan
melakukan tindakan a susils tersebut
C. Islam Dalam Penanggulangan Pekerja Seks Komersial
Masyarakat pada umumnya memandang perilaku zina adalah buruk karena
manusia berakal sehat pada dasarnya mengingkan kehidupan dirinya dan keluarganya
adalah kehidupan yang tertib, nyaman dan tidak banyak persoalan.
Masalah kebutuhan hidup ekonomi saja sudah merupakan persoalan besar,
rumit yang membutuhkan ketekunan, pemutusan perhatian dan kerja keras. Untuk
bisa

memusatkan

perhatian

pada

pekerjaannmencari

nafkah

secara

halal,

membutuhkan suasana kehidupan keluarga yang tenang dan nyaman serta berjalan
secara normal dan kalau dapat tanpa gangguan. Setiap orang dewasa berakal sehat
sudah pasti tidak menginginkan anak-anaknya sanak saudaranya, orang tuanya
melakukan pebutan zina.
Karena itu seharusnya dirinya sendiri tidak melakukan perbutan zina dengan
orang lain sebab dampak negatifnya sangat besar terutama baga kaum wanita, karena
kaum wanita yang lebih banyak merasakan nestapanya. Setiap orang berakal sehat
pasti tidak mengingkan nestpa terjadi bagi anggota keluarganya. Apa yang buruk bagi

kita buruk juga bagi orang lain dan apa yang diinginkan baik untuk kekuargan kita
juga dingingkan baik oleh orang lain dan keluarganya.
Manusia sebagai makhluk sosial tidak boleh berpikir subjektif untuk
kepentingan dirinya dan keluarganya saja tetapi merugikan kepentingan orang lain.
Hal ini ibarat pepatah orang Minangkabau mengatakan “ lamak di awak lamak
diurang, elok di awak elok diurang, buruak di awak buruak diurang”. 23 Atau sesui
dengan hadist Nabi Muhammad S A W yang sangat popular yaitu:

876 34&‫ " ﻡ ی‬5 34&‫ ی‬12‫ ﺡ‬0 /‫ﺡ‬- ,‫ی* ﻡ‬
Artinya:
“Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga dia mencintai
saudaranya sebagaimana dia mencitai dirinya sendiri” ( H.R. Muttafaq ‘alaih
).24
Jadi harus ada keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial. Hanya
yang menjadi maslah adalah adakalanya oaring dalam kodisi tetentu yaitu dalam

DR. H. Muhammad Abduh Malik, Perilaku Zuna Pandangan Hukum Islam dan KUHP,
(Jakarta: Bulan Bintang, 2003), h. 249
Muhammad Fuad al-Baqi, Al-lu’lu’ waa-marjan, jilid 1, (t.k: Dar al-fikr, t.t), h. 11

keadaan nafsu seksualnya kebih dominan dari akal sehatnya maka pada waktu itu
akal sehatnya tidak ada atau tidak berpungsi sehingga dia melakukan pebuatan zina.
Dalam hadist dikatakan:

*?‫ < ﻡ‬: ‫ ی‬,"‫ ﺡ‬:

: ‫ی‬

@ A %> 9 :#6

; ‫ < ی‬: ,=
?,‫ﻡ‬

Artinya:
“ Tidak akan berzina orang yang bezina manakala dia beriman pada waktu
dia berzina” ( H.R. Bukhari ) 25
Dalam situasi dan kondisi nafsu manusia yang memuncak, perbutan zina
bukan saja menutupi akal sehat tapi juga akan menutpi keimanan yang telah bersemi
di dalam hati manusia dan menghilangkan rasa malu.26
Jadi untuk mencegah terjadinya perbuatan zina tersebut atau untuk
meminimalisasi terjadinya perbutan zina diperlukan adanya undang-undang ataupun
peraturan-peraturan yang melarang perbuatan zina dilakukan oleh siapapun di dalam

Ibid, h. 12
DR. H.Muhammad Abduh Malik, Op,Cit, h. 250

masyarakat dengan sanksi hukum yang berat secara fisik dan mental spritual dan
mempunyai daya preventif yang tinggi.
Dalam hadist dinyatakan:

B/" B "C"D

E6‫ ﻡ‬0?E6‫ ﻡ‬F-G ,‫ﻡ‬

Artinya:
“Siapa diantara kamu sekalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia
mengubahnya melalui kekuasaan yang dimilikinya”. (H.R. Muslim dari Abu
sa’id al-khuduri).27
Aturan hukum pidana Islam yang memandang perilaku zina sebagai perbuatan
yang sangat buruk dan keji yang sifatnya yang diharamkan Allah merupakan aturan
hukum yang sangat sesuai dengan akal sehat serta dapat dipandang adil karena di
dalamnya terdapat keseimbangan antara yang hak dan kewajiban individu dengan
individu yang dalam masyarakat dan adanya keseimbangan antara kejahatan yang
dilakuka dengan hukuman terhadap pelakunya.
Adanya keseimbangan hak dan kewajiban individu dengan individu lain
dalam masyarakat merupakan jaminan dapat terciptanya ketertiban, ketentraman dan
kenyamanan dalam masyarakat sehingga terpelihara kehidupan beragama manusia (

Muh. Bin ‘Ilan as-Siddiqi asy-Syafi’I al-Asy,ari al-Makki, Dalil al-Falihin, Juz I, h.464

,‫ ی‬/

H7‫) ﺡ‬, terpelihara hidup dan kehidupan manusia ( I76 H7‫) ﺡ‬, terpelihara

kehidupan manusia berakal sehat ( J K H7‫) ﺡ‬, terpelihara kehidupan serta kehomatan
keluargan dan anak keturunan manusia ( L K

J86 H7‫ﺡ‬

), dan terpelihara harta

benda kekayaaan manusia ( @ ' H7‫) ﺡ‬. Kesemuanya itu menjadi tujuan syri’at islam (
K‫ی‬

/M ‫) ﻡ‬.28
Terhindarnya masyarakat dari perbuatan zina berperanan bagi terwujudnya

kelima tujuan syri’at tersebut karena maraknya perilaku perzinahan berperanaan bagi
rusaknya kelima tujuan syari’at tersebut di dalam masyrakat.
Jika masyrakat atau akal sehat memandang perbuatan zina adalah perbuatan
buruk atau sangat buruk maka sudah barang tentu mestinya masyarakat atau manusia
yang berakal sehat menginginkan perbuatan zina itu tidak terjadi dalam masyarakat.
Karena itu hukuman yang keras yang bernilai daya prevetif dan edukatif paling
tinggi. Sebab apabila hukuman terhadap pelaku perbuatan zina tidak keras atau hanya
ringan-ringan saja yang tidak bernilai daya preventif dan edukatif tinggi, maka
harapan agar perbuatan zina itu tidak ada artinya hukuman tersebut karena
masyarakat yang sekaligus merupakan tujuan syari’at tidak akan tercapai.
Dengan perkataan lain hukuman ringan yang diberikan itu sama saja dengan
hukuman hukuman main-main karena hukuman ringan tersebut tidak akan mampu
mematahkan hawa nafsu syahwat seksual manusia yang mendominasi akal sehatnya.

DR.H. Muhammad Abduh Malik, Op, Cit, h. 251

Pelaku pebuatan zina tidak akan jera mengulang perbutang zina dan anggota
masyarakat yang rendah akhlaknya tidak akan ada rasa takut dan rasa malu
sedikitipun untuk berbuat zina, agamapun akan menjadi permainnan mereka.

Hukum islam bagi pelaku zina antara lain adalah:
1.

Hukuman Fisik

a. hukuman cambuk seratus kali didepan umum dan diasingkan selama satu
tahun. Ini ditetapkan mereka pelaku zina laki-laki maupun perempuan yang belum
menikah.
Nabi Muhammad SAW, bersabda:

0D

"D= N

DM N @

N JKT /A :6= U V E#
0T

Artinya:

G

6= N :OG P‫ ﻡ‬Q , ;R #= ,=

E# V!"# ,W JKT /A :6= U :6= U S@ A

X ‫ ﻡ‬/DT 4"Y 4"Y

6

7

X ‫ ﻡ‬/DT E# !"# ,W

Dari Ubadah bin Shamit r. a., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “ Amabillah
dariku, ambillah dariku, mereka yang berbuat zina telah diberi jalan
(hukuman) jejaka dan perawan yang melakukan zina hukumannya adalah
jilid seratus kali dan diasingkan selama satu tahun. Sedangkan bagi pelaku
yang sudah menikah hukumannya adalah jilid seratus kali dan dirajam”. ( H.
R. Muslim dan Tirmidzi).29
b. Bagi pelaku pria dan wanita yang sudah menikah hukuman atas pebuatan
zina yang dilakukannya hukuman rajam atau hukuman mati, melalui hukuman rajam
didepan umum.
Firman Allah dalam surat An-Nur ayat 2 menjelaskan:

? -G 'W 0 U 5
7X [ 'W U= /W "

VZ;/DT Z X ‫' ﻡ‬W6‫ ﻡ‬Z/‫ ﺡ‬J
\ % " N

6‫ *ﻡ‬026

/DT :
N ,‫ی‬R :

"
,‫ﻡ‬
,"6‫'* ﻡ‬

Artinya:

Abdul Muqsit Qhozali, Tubuh Seksualitas dan kedaulatan perempuan, (Yogyakarta: Lkis,
2002), h.210

“perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina maka deralah tiap-tiap
seorang dari keduanya seratus kali dera dan janganlah belas kasihan kepada
keduanya mencegah untuk menjalankan agama Allah, jika kepada Allah dan
hari akhirat dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh
sekumpulan orang yang beriman”. ( Q. S An-Nuur: 2 ).30
c. Penggabungan hukuman rajam dan jilid bagi pelaku zina yang berstatus
sebagai suami atau istri dari suatu pekawinan.
2.

Hukuman Moral Psikologis dan Sosial

Pelaksanaan hikuman terhadap pelaku perbuatan zina hendaklah disaksikan
oleh

sekelompok orang-orang beriman, karena dengan disaksikan oleh orang

banyak berarti si pelaku perbuatan zina dipermalukan di depan orang banyak karena
terjadinya perbuatan zina rasa si pelaku sudah luntur.
Oleh sebab itu rasa malu pelaku perlu ditumbuhkan kembali dan juga
dipermalukan ini mempunyai nilai preventif terhadap sipelaku agar tidak mengulangi
kembali perbuatannya tersebut, dan juga bernilai preventif bagi orang lain yang

Depatemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, (Semarang, PT Karya Toha Putra, 1995),
Surat An-Nuur Ayat 2

berniat melakukan perbuatan zina.31 Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa rasa
malu adalah bagian dari iman.32
Jadi mempermalukan itu merupakan hukuman moral psiklogis dan berdampak
sosial yang efektif untuk mencegah terulangnya kembali perbuatan zina did lam
masyarakat karena pelaksanaan hukuman disaksikan oleh orang banyak. Pelaksanaan
hukuman zina disaksikan oleh orang banyak akan menumbuhkan malu bagi si pelaku
dan juga bagi orang lain yang menyaksikan akan jera dan berpikir seribu kali untuk
melakukan perbuatan zina dimasa yang akan dating
Dari segi hukum Islam rutinitas pekerjaan seks komersial masuk dalam
kategori perzinahan. Sanksi yang diberikan bagi pelaku zina meurut hokum islam
dilakukan secara berangsur-angsur seperti penetapan hokuman minuman keras dan
pelaksanaan puasa. Untuk pertama kalinya berbentuk teguran, sesuai dengna firman
Allah swt.
Surat An-Nisa’ ayat 16 berbunyi:

'W6=

O =

&DM-

_

] '< ^R5 0E6‫ ﻡ‬W : 5‫ی‬
'"‫ﺡ‬G

Artinya:

DR.H. Muhammad Abduh Malik, Op,Cit, h. 104
Muhammad Fuad Abdul Baqi, Op, Cit, h. 8

U
N

’’Dan terhadap dua orang diantara kamu yang melakukan perbuatan keji
diantara kamu maka berilah hukuman keduanya, kemudian jika keduanya
bertaubat dan memperbaiki dir, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya
Allah Maha Penerima taubat Lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisak: 16)33
Pada tahap selanjutnya hukuman ini akan dikaitkan dengan hukuman
kurungan rumah (tahanan rumah), sebagaimana diterangkan dalam firman Allah:

/W‫ﺵ‬

0E6‫ ﻡ‬K G ,W"D= /W 2
0 8 ,‫ﻡ‬
7 ," 5‫ ی‬:
!"# ,W N JKb‫ ی‬a ' ,W 2‫ ی‬2‫ ﺡ‬a "#
,< E8‫ﻡ‬

Artinya:
” Dan terhadap para wanita yang melakukan keji, hendalah ada empat orang
saksi diantara kamu yang menyaksikannya, kemudian apabila mereka telah
memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wamita itu) sampai
mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberikan jalan lain
kepadanya,” (QS. An-Nisa’: 15)
Hukuman pada tahap ini berlaku untuk beberapa waktu, untuk kemudian
Allah memberikan jalan lainyaitu menetapkan hukuman zina dalam bentuk seratus
kali jilid, jika yang melakukan perbuatan itu bagi laki-laki ataupun perempuan yang
belum menikah. Dan ditetapkan pula hukuman rajam jika yang berzina telah
Depatemen Agama RI, Op, Cit, Surat An-Nisa Ayat 16

menikah. Mengenai hukuman zina tahap akhir menurut ulama fiqh didasarkan pada
hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah saw. Bersabda:

0D

"D= N

DM N @

N JKT /A :6= U V E#
0T

G

6= N :OG P‫ ﻡ‬Q , ;R #= ,=

E# V!"# ,W JKT /A :6= U :6= U S@ A

X ‫ ﻡ‬/DT 4"Y 4"Y

6

7

X ‫ ﻡ‬/DT E# !"# ,W

Artinya:
” dari Ubadah Shamit RA. Bhawa Rasulullah saw bersabda” ambillah
dariku, ambillah dariku mereka yang berbuat zina tela hdiberi jalan
(hukuman) jejaka dan perawan hykumannya adalah jikid seratus kali dan
diasingka selama satu tahun.Sedangkan yang telah menikah hukuman meraka
adalah jilid seratus kali dan dirajam”. (HR. Muslim dan Tirmidzi).34
Dijelaskan pula secara jelas dalam firman Allah:

? -G 'W 0 U 5
7X [ 'W U= /W "

VZ;/DT Z X ‫' ﻡ‬W6‫ ﻡ‬Z/‫ ﺡ‬J
\ % " N

6‫ *ﻡ‬026

/DT :
N ,‫ی‬R :

"
*' ,‫ﻡ‬
,"6‫ﻡ‬

Artinya:
Abdul Muqait Qhozali, Op, Cit, h. 210

” Perempuan yang ber zina dan laki-laki yang berzina deralah tiap-tiap
seorang keduanya seratus kali dera dan janganlah merasa kasihan kepada
mereka keduanya mencegah untuk menjalankan agama, jika kamu beriman
kepada Allah dan hari akhirat dan hendaklah hukuman mereka disaksikan
oleh sekumpulan orang yang beriman. (QS. An-Nur: 2)35
Sesuai dengan paparan diatas jelas rutinitas pekerja seks komersial masuk ke
dalam kategori perbuatan zina. Dalam pandangan hukum Islam, hukuman perbuatan
zina diawali dengna ampunan jka pelaku bertaubat, kemudian dikurung dalam rumah
jika pelaku bersedia mengakui perbuatan zina tersebut dan tahap akhir didera seratus
kali bagi pelaku perawan atau yang masih perjaka dan dirajam bagi pelaku yang
sudah menikah.

Departemen Agama RI, Op, Cit, Surat An-Nuur Ayat 2

BAB III
PERDA NO 05 TAHUN 2002 PEMDA KOTA PEKAN BARU DALAM
MENANGGULANGIN PEKERJA SEKS KOMERSIAL
A. Gambaran Umum Kota Pekanbaru

Nama Pekanbaru dahulunya dikenal dengan nama "Senapelan" yang pada saat
itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah yang mulanya sebagai
ladang, lambat laun menjadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan
berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki
yang terletak di tepi muara sungai Siak.
Nama payung sekaki begiti dikenal pada masanya melainkan senapelan.
Perkembangan Senapelan berhubungan erat dengan perkembangan kerajaan Siak Sri
Indrapura, semenjak Sultan Abdul Amaludin Syah menetap di Senapelan, beliau
membangun istnanya di Kampung Bukit berdekatan dengan perkampungan
Senapelan. Diperkirakan istana tersebut terletak di sekitar Mesjid Raya sekarang,
Sultan Abdul Jalil Amaludin Syah mempunyai inisiatif untuk membuat Pekan di
Senapelan tetapi tidak berkembang. Usaha yang telah di rintis tersebut kemudian
dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Alidi tempat baru yaitu sekitar
pelabuhan sekarang.

Selanjutnya pada hari selasa tanggal Rajab 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784
M berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku yaitu Pesisir, Lima Puluh,
Tanah Datar dan Kampar Negeri Senapelan diganti namanya menjadi “Pekan
Baharu”yang pada masa sekarang diperingati sebagai hari jadi kota Pekanbaru. Mulai
saat itu sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer sebutan “Pekan
Baharu” yang dalam bahasa sehari-hari disebut PEKANBARU. 36
Perkembangan selanjutnya tentang pemerintahan di kota Pekanbaru selalu
mengalami perubahan, antara lain sebagai berikut:
1. SK Kerajaan Besluit van Her Inlanche Zelf Bestuur van Siak No. 1
tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru bagian dari Kerajaan Siak yang
disebut District
2. Tahun 1931 Pekanbaru masuk wilayah Kampar Kiri dikepalai oleh
seorang Controleur bekedudukan di Pekanbaru
3. Tanggal 8 Maret 1942 Pekanbaru dikepalai oleh seorang Gubernur Militer
disebut Gukung, Distrik menjadi Gun dikepalai oleh Gunco
4. Ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tanggal 17 Mei 1946 No. 103
Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau kota b

Badan Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru Tahun 2008

5. UU No 1 tahun 1948 Kabupatetn Pekanbaru diganti dengan Kabuten
Kampar, Kota Pekanbaru duberi status Kota Kecil
6. UU No. 8 tahun 1956 menyempurnakan status Kota Pekanbaru sebagai
Kota Kecil
7. UU No. 1 tahun 1957 status Pekanbaru menjadi Kota Praja
8. Kepmendagri No. Desember 52/I/44-25 tanggal 20 Januari 1959
Pekanbaru menjadi ibu kota Provinsi Riau
9. UU No. 18 tahun 1965 resmi pemakaian sebutan Kotamadya
10. UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah sebutan Kotamadya
berubah menjadi Kota37
Berdasarkan undang-undang tersebut kota pekabaru dalam rangka fungsi
kotanya sesuai dengan potensi memenuhi kebutuhan masa-masa mendatang, terutama
untuk sarana dan prasarana fisik kota,serta kesatuan perenacanaan, pembinaan
wilayah penduduk maka wilayah kota pekanbaru terbagi menjadi 12 (dua belas)
Kecamatan dan 58 (lima puluh delapan) kelurahan.38

Ibid

Ibid

Pembangunan Kota Pekanbaru terlihat berjalan perlahan tapi pasti, kondisi ini
dapat dilihat dari Pekanbaru tempo dulu yang merupakan dusun kecil berada di
pinggiran, kini telah disulap menjadi kota besar. Perkembangan kota mulai pesat
sejak tahun 2005 hingga 2007 lalu
Dari sekian banyak peningkatan tentunya ada permasalahan yang terjadi
selama tahun berjalan tersebut. Dari data yang diterima ada sebelas kendala yang
kiranya perlu diperbaiki pemerintah pada 2008 ini. Kendala tersebut di antaranya laju
pertumbuhan penduduk akibat arus imigrasi yang relatif cukup tinggi. Jumlah
penduduk Pekanbaru menurut data statistik pada akhir tahun 2005 telah mencapai
754.467 jiwa. Sampai dengan tahun 2007 jumlah penduduk di kota bertuah sudah
mencapai 799 ribu jiwa lebih. Masih dari data statistik selama lima tahun terakhir
terjadi peningkatan sebesar 4,31 persen. Pertambahan jumlah penduduk tersebut
didorong arus migrasi karena besarnya harapan yang terlihat oleh pendatang terhadap
pesatnya

perkembangan

Kota

Pekanbaru.

Dengan jumlah sebesar itu dapat diartikan, maka kepadatan penduduk Pekanbaru saat
ini adalah sebesar 1.139 jiwa per kilo meter persegi. Akibat yang ditimbulkan tidak
lain adalah dalam peningkatan pelayanan, pengadaan fasilitas sosial dan fasilitas
umum. Laju pertumbuhan penduduk tersebut menimbulkan juga meningkatnya

jumlah pengangguran, kemiskinan dan pemukiman kumuh serta timbulnya rawan
sosial.39
Salah satu dampak negatif dari pertambahan jumlah penduduk tersebut secara
tidak langsung berdampak juga pada jumlah masyarakat miskin di Pekanbaru.
Menurut data Balitbang Provinsi Riau tahun 2005 jumlah penduduk miskin tercatat
sebesar 7,33 persen. Jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan angka
kemiskinan 2004 sebesar 10,88 persen. Sampai dengan tahun 2007 angka kemiskinan
di Pekanbaru masih berkisar dinilai tujuh persen.
Permasalahan lainnya, disebabkan keterbatasan dana APBD masih banyak
usulan masyarakat yang belum tertampung, walaupun sudah disampaikan dalam
Musrenbangda. Selanjutnya permasalahan tahunan yang selalu saja terjadi yakni
banjir. Pembenahan titik rawan banjir secara menyeluruh belum dapat ditangani. Hal
ini disebabkan besarnya kebutuhan biaya untuk menanggulanginya
Belum kondusifnya keamanan dan ketentraman masyarakat akhir ini
disebabkan tingkat kriminalitas yang terus meningkat. Kondisi ini bisa dilihat dari
banyaknya terjadi perampokan, pencurian dengan kekerasan, narkoba dan seks
bebas.40

Koran Riau Pos 24 Maret 2008
Ibid

B. Pekerja Seks Komersial di Kota Pekanbaru
Pekerja seks komersial yang beroperasi dikota pekanbaru merupakan satu
persoalan asusila yang termasuk dalam lingkaran prostitusi diwilayah kota pekanbaru,
mereka dikenal oleh masyarakat sebagai sampah yang mengotori kehidupan yang
beradap dan norma yang baik.
Pekerja Seks Komersial menjadi salah satu persoalan permasalahan yang amat
serius karena berhubungan dengan citra kota Pekanbaru, dimana kota pekanbaru yang
merupakan ibukota provinsi Riau yang mayoritas penduduknya berbangsa melayu
dan beragama Islam. Bahkan kota Pekanbaru dikenal dengan nama lain sebagai kota
Bertuah. Karena kota Pekanbaru sudah banyak sarana pendidikan agama seperti
Pesantren,

TPA,

dan

lai

sebagainya

yang

memang

kurikulumnya

lebih

mengutamakan ajaran agama.41.
Timbulnya pekerja seks komersial merupakan imbas dari kemajuan kota
pekanbaru, ditambah lagi kota Pekanbaru sangat dekat negeri jiran Malaysia dan
Singapore membuat para Pekerja Seks Komersial berdatangan kekota pekanbaru.
Mereka pekerja seks komersial rata-rata berasal dari pulau jawa dan pulau batam
menurut mereka datang kekota Pekanbaru karena dari tempat asalnya sulit
mendapatkan pekerjaan khususnya yang datang dari pulau Jawa. Akan tetapi, ada

Wawncara Langsung dengan bapak Yuliasman kepala Bagian hukum Pemerintah Daerah
Kota Pekanbaru, Maret 2008

pula Pekerja Seks Komersial yang memang dari kota Pekanbaru sendiri, namun
persaingan di kota Pekanbaru belum terlihat karena masih jarang tempat hiburan
seperti Bar, Café, dan Diskotik. Hanya ada beberapa tempat hiburan malam yang
banyak menarik perhatian seperti dikotik Ozon, Permata dan Mal Pekanbaru.42
Beda halnya dengan kota Jakarta yang banyak sekali tempat-tempat hiburan
seperti café-café, diskotik maupun bar. Pekanbaru yang merupakan ibukota provinsi
Riau, masih belum terlihat banyak tempat-tempat hiburanseperti itu. Sehingga bagi
para Pekerja Seks Komersial kota Pekanbaru adalah tempat yang mudah untuk
mereka dalam mencari nafkahnya demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi bagi
mereka suasana Pekanbaru berbeda dengan Jakarta,mereka para Pekerja Seks
Komersil yang biasanya bekerja dicafe maupun bar harus siap ditempat yang baru
yaitu dipinggiran pertokoan ataupun di jalanan. Seperti yang terdapat di jalan
Arengka, jalan Paus, jalan Riau dan jalan Ponegoro.43
Dari permasalahan diatas dapat digambarkan seperti apa para Pekerja Seks
Komersial kota Pekanbaru dalam melakukan kegiatannay. Pekerja Seks Komersial
yang beroperasi diwilayah pekanbaru biasanya keluar dan duduk di pinggiran
pertokoan jalan Arengka, Paus dan Ponegoro pada pukul 22.00 hingga subuh hari

Pengamatan langsung penulis di Mal Pekanbaru, Maret 2008

Pengamatan penulis di jalan Arengka, paus dan Ponegoro, Maret 2008

sampai mereka mendapatkan klien, ini bagi para pekerja seks komersial jalanan.
Sedangkan para Pekerja Seks Komersial yang mangkal dicafe maupun

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2954 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 752 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 651 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 423 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 971 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 885 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 536 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 795 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 957 23