Pembuatan Dan Karakterisasi Genteng Polimer Menggunakan Bahan Aspal Dengan Campuran Serbuk Ban Bekas Dan Polipropilen Bekas.

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI GENTENG POLIMER
MENGGUNAKAN BAHAN ASPAL DENGAN
CAMPURAN SERBUK BAN BEKAS DAN
POLIPROPILEN BEKAS

SKRIPSI

JULI HARNI
070801014

DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI GENTENG POLIMER
MENGGUNAKAN BAHAN ASPAL DENGAN
CAMPURAN SERBUK BAN BEKAS DAN
POLIPROPILEN BEKAS

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

JULI HARNI
070801014

DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERSETUJUAN

Judul

: PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI GENTENG
POLIMER MENGGUNAKAN BAHAN ASPAL
DENGAN CAMPURAN SERBUK BAN BEKAS
DAN POLIPROPILEN BEKAS.

Kategori

: SKRIPSI

Nama

: JULI HARNI

Nim

: 070801014

Program study

: SARJANA (S1) FISIKA

Departemen

: FISIKA

Fakultas

: MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
(FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
(USU)
Diluluskan di
Medan, Agustus 2011

Komisi Pembimbing

:

Pembimbing II

Pembimbing I

Prof.Dr. Tamrin, M.Sc

Dr. Anwar Darma S.M.S

NIP: 196007041989031003

NIP: 195408171983031005

Diketahui / Disetujui Oleh
Ketua Departemen Fisika FMIPA-USU
Ketua,

Dr.Marhaposan Situmorang
NIP.195510301980031003

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI GENTENG POLIMER
MENGGUNAKAN BAHAN ASPAL DENGAN
CAMPURAN SERBUK BAN BEKAS DAN
POLIPROPILEN BEKAS

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa
kutipan dan ringkasan yang masing – masing disebutkan sumbernya.

Medan,19 Agustus 2011

JULI HARNI
070801014

Universitas Sumatera Utara

PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang, Karena berkat limpahan rahmat dan karunia-NYA penulisan
skripsi ini dapat diselesaikan.
Tugas akhir ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar
sarjana pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatra
Utara Medan. Untuk memenuhi persyaratan tersebut diatas penulis mengerjakan tugas
akhir dengan judul
“PEMBUATAN
DAN
KARAKTERISASI
GENTENG
POLIMER
MENGGUNAKAN BAHAN ASPAL DENGAN CAMPURAN SERBUK BAN
BEKAS DAN POLIPROPILEN BEKAS”.
Dalam kesempatan ini saya sampaikan ucapan terimakasih kepada pihak –
pihak yang telah banyak membantu serta mendukung saya dalam menyelesaikan
skripsi ini, Untuk itu penulis mengucapakan terimaksih kepada :

 Bapak Dr. Anwar Dharma Sembiring .M.S, selaku dosen pembimbing I yang
bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing penulis.
 Bapak Prof.Dr.Tamrin,M.Sc, selaku dosen pembimbing II yang bersedia
meluangkan waktunya untuk membimbing penulis.
 Bapak Dr.Luhut sihombing, M.S, selaku dosen wali penulis
 Bapak Dr.Marhaposan Situmorang selaku ketua Departemen Fisika Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatra Utara.
 Ibu Yustinon Ms, selaku sekretaris Departemen Fisika Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatra Utara.
 Seluruh staf dosen Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Sumatra Utara,seluruh pegawai dilingkungan
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatra Utara.
 Ibunda tercinta dan Ayahanda tersayang yang tidak pernah henti – hentinya
memberikan kasih – sayang, nasehat,motivasi serta doa yang tak pernah putus
mengiringi langkahku.
 Kepada Abang, Adik ,dan terkhusus buat Kakakku (Suaibah Nasution,Amd)
yang selalu mendukung dan memotivasi serta mendoakanku.
 Teman – teman Stambuk 07 ( Suci, Dila, Isma, Rahma, Hanim, Eva Pgb,
Siska, Lena, Eva Ritonga, Syifa, Juriah, Fitri, Delo, Natal, Tina, Asrima,
Loqita, Angel, Ummi, frisca, Silvia,Maria, Ita, Desria, Mei, Mora, Tetty, Oki,
Ichsan, Hilman, Ikhwan, Jhon, Martin, Pento, Maryanto, Dinand, Tian,Oda,
Yaman, Dena, Dedy, Janri, Hugaini,Ricky, Fredy)
 Abang

abang
dan
Adik

adik
Fisika
(Dery,Hakim,Indra,Anthony,Jenery,Syarah, Ikhwan,Riki) dan semua Adik –
adik 2010.
 Buat seseorang (D’Dago) yang selalu menemani dan memotivasiku selama
penelitian sampai penyelesaian skripsi.

Universitas Sumatera Utara

 Seluruh rekan – rekan mahasiswa Fisika dan seluruh teman – teman di
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatra Utara
Medan.
Akhirnya penulis menerima masukan dan saran yang membangun dari pembaca
agar tugas akhir ini dapat bermamfaat bagi kita semua.

Medan, 19 Agustus 2011

Juli Harni

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Pembuatan dan karakterisasi genteng yang menggunakan bahan aspal dengan
campuran serbuk ban bekas dan polipropilen bekas telah dilakukan. Dalam pembuatan
genteng polimer untuk memperoleh genteng polimer dengan campuran optimum
dibuat variasi komposisi 80g : 10g , 70g : 20g , 60g : 30g , 50g ; 40g , 40g : 50g , 30g :
60g , 20g : 70g , 10g : 80g dan dengan menambahkan 10% aspal sebagai perekat ,
dikumil peroksida (DCP) 1 % dan divinil benzene (DVB) 1 % sebagai inisiator , yang
diekstruder selama 30 menit, kemudian dipress selama 2 jam dengan suhu 170oC
dengan tekanan 38 atm. Karakterisasi genteng polimer meliputi sifat mekanik yaitu uji
impact dan uji kuat lentur dan sifat fisis meliputi porositas dan daya serap air, serta
sifat termal meliputi titik nyala dan titik bakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
campuran yang optimum adalah campuran polipropilena (PP) dan serbuk ban bekas
dengan perbandingan 60g : 30g yang memberikan kekuatan mekanis dan fisis yang
baik dengan penambahan 10 % aspal sebagai perekat dan panahan air.

Kata kunci : Aspal, divinil benzene, dikumil peroksida, Polipropilen, Serbuk ban
bekas

Universitas Sumatera Utara

PREPARATION AND CHARACTERIZATION OF POLYMER ROOF
BY USING ASPHALT MATERIAL WITH
POWDER MIXTURE OF WORN TYRES
AND POLYPROPILENE

ABSTRACT

Preparation and characterization of polymer roof by using asphalt material with
powder mixture of worn tyres and polypropylene has been done. In the manufacturing
of polymer roof to getting the optimum mixture made by different composition is 80g
: 10g; 70g : 20g; 60g : 30g; 50g : 40g; 40g : 50g; 30g : 60g; 20g : 70g; and 10g : 80g
with addition 10g asphalt as an adhesive, dikumil peroxide (DCP) 1g and divinil
benzene (DVB) 1g as an initiator which extrusion for 30 minutes ,than pressed for 2
hours at 170o C and pressure of 38 atm. The characterization of polymer roof
including the mechanical properties is the impact test and flexural strength test . The
physical properties including porosity and water absorbtion. The Thermal properties
including flash point and burning point. The results show that the optimum mixture is
polypropylene mixture (PP) and powder mixture of worn tyres with a ratio 60g : 30g
which getting good mechanical strength and physical properties with addition 10g
asphalt as an initiator and waterproof.

keywords : Asphalt, Dikumil Peroxide (DCP), Divinil Benzene (DVB),
Polypropylene, Powder Mixture of Worn Tyres.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
Persetujuan
Pernyataan
Penghargaan
Abstrak
Abstract
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Grafik

ii
iii
iv
vi
vii
viii
xi
xii
xiii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.

Latar Belakang
Rumusan Masalah
Batasan Masalah
Tujuan Penelitihan
Mamfaat Penelitihan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Genteng
2.1.1. Atap sirap
2.1.2. Atap genteng tanah liat tradisional
2.1.3. Atap genteng keramik
2.1.4. Atap genteng beton
2.1.5. Atap seng
2.1.6. Atap dak beton
2.1.7. Atap genteng metal
2.2. Genteng polimer
2.2.1. Genteng Aspal
2.3. Ban Bekas
2.3.1. Pemrosesan karet
2.3.2. Vulkanisasi
2.3.3. Activator Vulkanisir
2.4. Aspal
2.4.1. Kandungan Aspal
2.4.2. Sifat – Sifat Aspal
2.4.3. Jenis – Jenis Aspal

1
2
3
3
3

4
4
5
5
5
5
6
6
6
7
8
9
10
11
11
12
13
14

Universitas Sumatera Utara

2.4.4. Viscositas Aspal
2.5. Polipropilen (PP)
2.5.1. Sifat – Sifat Polipropilen (PP)
2.5.2. Mampu Cetak
2.5.3. Penggunaan Polipropilen (PP)
2.6. Dikumil Peroksida (DCP)
2.6.1. Penggunaan Dikumil Peroksida (CDP) Sebagai Inisiator
2.7. Divinil Benzene (DVB)
2.8. Syarat Mutu Genteng Menurut Standart Nasional Indonesia
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat Penelitian
3.2. Peralatan dan Bahan
3.2.1. Peralatan
3.2.2. Bahan
3.3. Prosedur Penelitian
3.3.1. Pencampuran Ban bekas Dan PP bekas
3.3.2. Proses pembuatan Aspal polimer
3.3.3. Pencetakan
3.3.4. Prosedur pengujian
3.3.4.1. Uji Porositas
3.3.4.2. Uji Daya serap air
3.3.4.3. Uji Kekuatan Lentur
3.3.4.4. Uji Impak
3.3.4.5. Uji titik nyala dan titik bakar
3.4. Diagram Alir
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Pengujian Sifat Fisis
4.1.1.1. Pengujian Porositas
4.1.1.2. Pengujian Daya serap air
4.1.2. Pengujian Sifat Mekanis
4.1.2.1. Pengujian Kekuatan Lentur
4.1.2.2. Pengujian Kekuatan Impak
4.1.3. Pengujian Sifat Termal
4.1.3.1. Pengujian Titik Leleh dan Titik bakar
38
4.2. Pembahasan
4.2.1. Analisis pengujian porositas
4.2.2. Analisis daya serap air
4.2.3. Analisis pengujian kuat lentur
4.2.4. Analisis pengujian kuat impak
4.2.5 Analisis pengujian titik nyala dan titik bakar

16
17
17
19
19
19
20
20
21
22
22
22
23
24
24
24
25
26
26
26
27
28
28
29
30
30
30
32
34
34
36
38

39
39
40
41
42
43

Universitas Sumatera Utara

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran

46
47

Daftar Pustaka
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1
Tabel 3.1
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel 4.4
Tabel 4.5
Tabel 4.6

Data jenis pengujian dan persyaratan aspal tipe
grade 60/70
Komposisi bahan
Hasil pengujian porositas
Hasil pengujian daya serap air
Hasil Pengujian kuat Lentur
Hasil pengujian kuat Impak
Hasil pengujian titik nyala dan titik bakar
Sifat pengujian komposisi campuran variasi (60 : 30 )

16
25
32
33
36
38
39
45

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Halaman
3.1
3.2

Ukuran Sampel variasi (80 : 10)
Pengujian Kekuatan lentur

25
27

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GRAFIK

Halaman
4.1
4.2
4.3
4.4
4.5
4.6

Hubungan Porositas dan Polipropilen
Hubungan Daya serap air dan Polipropilen
Hubungan Polipropilen dan kekuatan Lentur
Hubungan Polipropilena dan kekuatan Impak
Hubungan Polipropilena dan waktu titik nyala
Hubungan Polipropilena dan waktu titik bakar

40
41
42
43
44
44

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Pembuatan dan karakterisasi genteng yang menggunakan bahan aspal dengan
campuran serbuk ban bekas dan polipropilen bekas telah dilakukan. Dalam pembuatan
genteng polimer untuk memperoleh genteng polimer dengan campuran optimum
dibuat variasi komposisi 80g : 10g , 70g : 20g , 60g : 30g , 50g ; 40g , 40g : 50g , 30g :
60g , 20g : 70g , 10g : 80g dan dengan menambahkan 10% aspal sebagai perekat ,
dikumil peroksida (DCP) 1 % dan divinil benzene (DVB) 1 % sebagai inisiator , yang
diekstruder selama 30 menit, kemudian dipress selama 2 jam dengan suhu 170oC
dengan tekanan 38 atm. Karakterisasi genteng polimer meliputi sifat mekanik yaitu uji
impact dan uji kuat lentur dan sifat fisis meliputi porositas dan daya serap air, serta
sifat termal meliputi titik nyala dan titik bakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
campuran yang optimum adalah campuran polipropilena (PP) dan serbuk ban bekas
dengan perbandingan 60g : 30g yang memberikan kekuatan mekanis dan fisis yang
baik dengan penambahan 10 % aspal sebagai perekat dan panahan air.

Kata kunci : Aspal, divinil benzene, dikumil peroksida, Polipropilen, Serbuk ban
bekas

Universitas Sumatera Utara

PREPARATION AND CHARACTERIZATION OF POLYMER ROOF
BY USING ASPHALT MATERIAL WITH
POWDER MIXTURE OF WORN TYRES
AND POLYPROPILENE

ABSTRACT

Preparation and characterization of polymer roof by using asphalt material with
powder mixture of worn tyres and polypropylene has been done. In the manufacturing
of polymer roof to getting the optimum mixture made by different composition is 80g
: 10g; 70g : 20g; 60g : 30g; 50g : 40g; 40g : 50g; 30g : 60g; 20g : 70g; and 10g : 80g
with addition 10g asphalt as an adhesive, dikumil peroxide (DCP) 1g and divinil
benzene (DVB) 1g as an initiator which extrusion for 30 minutes ,than pressed for 2
hours at 170o C and pressure of 38 atm. The characterization of polymer roof
including the mechanical properties is the impact test and flexural strength test . The
physical properties including porosity and water absorbtion. The Thermal properties
including flash point and burning point. The results show that the optimum mixture is
polypropylene mixture (PP) and powder mixture of worn tyres with a ratio 60g : 30g
which getting good mechanical strength and physical properties with addition 10g
asphalt as an initiator and waterproof.

keywords : Asphalt, Dikumil Peroxide (DCP), Divinil Benzene (DVB),
Polypropylene, Powder Mixture of Worn Tyres.

Universitas Sumatera Utara

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Pembangunan di Indonesia dewasa ini setiap tahun meningkat dengan pesat, hal ini
memerlukan bahan bangunan dalam jumlah yang sangat besar. Khusus penggunaan
bahan genteng sebagai salah satu bahan dalam pembuatan perumahan semakin banyak
dibutuhkan dan kini bahan genteng yang sering digunakan sangat bervariasi, baik
yang dibuat dari bahan keramik, seng, multiroof telah banyak digunakan.

Genteng yang menggunakan bahan baku polimer sangat berkembang
pemakaiannya , karena genteng jenis ini sangat fleksibel dan mudah dipasang serta
sangat ringan. Khusus di Sumatera Utara dan umumnya di Indonesia genteng polimer
ini masih terbatas pemakaiannya, karena harga yang relatif mahal dan genteng ini
masih merupakan barang impor.

Beberapa peneliti terdahulu telah banyak melakukan penyempurnaan dalam
pembuatan genteng polimer, seperti hasil penelitian Kasman Ediputra,2010 yang
membuat genteng dari campuran bahan Aspal,karet alam sir 10 ,Ban bekas (tire
rubber) ,Sulfur, dan Bahan adhesive isosianat, Asnawi,2011 yang membuat genteng
dari pemanfaatan LDPE (Low density polyethilen) bekas ,aspal iran dan agregat pasir
halus dan Z.M.Ariff,2010 yang membuat genteng dengan campuran polyurethane
foams,karet alam,dan aspal.

Disisi lain ban bekas merupakan bahan yang terbuang dan telah digunakan
dalam berbagai keperluan, dan diperkirakan hamper 100 ton perbulan ban bekas di
Indonesia tidak dapat digunakan untuk lebih bermanfaat. Hal ini sangat memerlukan

Universitas Sumatera Utara

inovasi baru sehingga pemanfaatan ban bekas dapat lebih berguna dan dapat
menghindari pencemaran lingkungan yang disebabkan pembakaran limbah ban bekas.
Oleh karena itu pemanfaatan ban bekas sebagai salah satu komponen dalam
pembuatan genteng perlu diteliti.(Wordpress,2011)

Limbah plastik juga merupakan salah permasalan besar dalam pencemaran
lingkungan, salah satunya adalah limbah plastik dari bahan polipropilen, bahan ini
telah juga dimanfaatkan kegunaannya terutama dengan pola mendaur ulang dengan
berbagai kegunaan, pemanfaatan polipropilen bekas sebagai salah satu bahan
bangunan hingga kini belum ada, hal ini menginginkan peneliti meneliti polipropilen
bekas ini sebagai bahan bangunan terutama bahan dalam pembuatan genteng.

Pembuatan genteng polimer juga memerlukan salah satu bahan yang bersifat
adhesive, yang mampu mengikat material dari campuran pembuatan genteng. Aspal
merupakan salah satu bahan yang mampu bersifat adhesive, karena bahan ini
mengandung senyawa hidrokarbon yang dibuat dari bahan sisa minyak bumi.

Dari penelitian tersebut diatas, maka peneliti ingin meneliti mengenai
pembuatan genteng dengan menggunakan polipropilena (PP) dan ban bekas sebagai
bahan dasar serta aspal sebagai sebagai perekat.

1.2

RUMUSAN MASALAH

Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan permasalahan sebagai
berikut:

1. Apakah campuran dari ban bekas, polipropilen dan aspal dapat digunakan
sebagai bahan dalam pembuatan genteng.
2. Ingin mencari campuran yang sesuai untuk menghasilkan genteng polimer
dengan sifat mekanik yang sangat baik.
3. Bagaimanakah sifat fisik dan mekanik campuran bahan tersebut.

Universitas Sumatera Utara

1.3

BATASAN MASALAH

Penelitian ini dibatasi dengan penggunaan jenis bahan campuran yaitu :
1. Aspal yang digunakan adalah aspal iran tipe 60/70.
2. Polipropilena (PP) yang digunakan adalah aqua gelas yang bekas.
3. Ban bekas yang digunakan adalah ban luar.
4. Variable yang digunakan dalam penelitihan ini adalah :
Variable tetap : Aspal iran tipe 60/70, Dikumil peroksida (DCP) dan Divinil
benzene (DVB)
Variable bebas : Polipropilena(PP) dan Serbuk ban bekas.

1.4

TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan penelitian ini antara lain adalah :
1. Melakukan studi pembuatan paduan aspal, serbuk ban bekas, dan
polipropilen untuk pembuatan genteng.
2. Mengetahui persentase terbaik dari paduan poliprolilen (PP) dan serbuk ban
bekas pada pembuatan genteng.
3. Ingin menghasilkan genteng yang lebih fleksibel dengan pemanfaatan
limbah seperti aspal dan ban bekas.

1.5

MANFAAT PENELITIAN

Adapun mamfaat yang diharapkan dari penelitihan ini :
1. Mampu menghasilkan suatu bahan genteng yang sifat kompatibilitasnya
sesuai dengan yang diharapkan.
2. Dapat menghasilkan suatu produk barang yang mempunyai nilai tambah
ekonomis dan bermutu.

Universitas Sumatera Utara

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 GENTENG
Suatu atap berfungsi melindungi terutama terhadap hujan. Tergantung atas sifat alami
bangunan, atap itu bisa juga melindungi dari panas, cahaya matahari, dingin dan
angin. Jenis-jenis lain dari struktur, sebagai contoh, suatu bangunan untuk kebun, akan
melindungi dari dingin, angin dan hujan tetapi bisa tembus cahaya. Suatu rumah bisa
diatapi dengan material yang melindungi dari cahaya matahari tetapi tidak
menghalangi unsur-unsur yang lain.

Setiap jenis penutup atap punya kelebihan dan kekurangangnya masingmasing. Anda bisa memilihnya dengan mempertimbangkan penampilan, kepraktisan,
bentuk dan umur rencananya masing masing. Berikut akan dibahas beberapa jenis
yang paling popular saat ini :

2.1.1.Atap Sirap

Penutup atap yang terbuat dari kepingan tipis kayu ulin (eusideroxylon zwageri) ini
umur kerjanya tergantung keadaan lingkungan, kualitas kayu besi yang digunakan,
dan besarnya sudut atap. Penutup atap jenis ini bisa bertahan antara 25 tahun hingga
selamanya. Bentuknya yang unik cocok untuk rumah bergaya country dan yang
menyatu dengan alam.

Universitas Sumatera Utara

2.1.2. Atap Genteng Tanah Liat Tradisional
Material ini banyak dipergunakan pada rumah umumnya. Gentang terbuat dari tanah
liat yang dipress dan dibakar dan kekuatannya cukup bagus.Genteng tanah liat
membutuhkan rangka untuk pemasangannya. Genteng dipasang pada atap miring.
Warna dan penampilan genteng ini akan berubah seiring waktu yang berjalan.
Biasanya akan tumbuh jamur di bagian badan genteng. Bagi sebagian orang dengan
gaya rumah tertentu mungkin ini bisa membuat tampilan tampak lebih alami, namun
sebagian besar orang tidak menyukai tampilan ini.
2.1.3. Atap Genteng Keramik
Bahan dasarnya tetap keramik yang berasal dari tanah liat. Namun genteng ini telah
mengalami proses finishing yaitu lapisan glazur pada permukaannya. Lapisan ini
dapat diberi warna yang beragam dan melindungi genteng dari lumut. Umurnya bisa
20 – 50 tahun dapat ditanyakan ke distributor. Aplikasinya sangat cocok untuk hunian
modern di perkotaan.
2.1.4. Atap Genteng Beton

Bentuk dan ukurannya hampir sama dengan genteng tanah tradisional, hanya bahan
dasarnya adalah campuran semen PC (Portland Cement) adalah semen yang paling
banyak terdapat di pasaran, masyarakat Indonesia biasa menyebut semen abu-abu
untuk membedakan dengan semen warna (semen pengisi nat). Bahan baku semen PC
adalah batu kapur/gamping berkadar kalsium tinggi yang dimasak dalam tanur
bertekanan tinggi

dan pasir kasar, kemudian diberi lapisan tipis yang berfungsi

sebagai pewarna dan kedap air. Sebenarnya atap ini bisa bertahan hampir selamanya,
tetapi lapisan pelindungnya hanya akan bertahan antara 30 tahun hingga 40 tahun.
2.1.5. Atap Seng
Atap ini sebenarnya dibuat dari lembaran baja tipis yang diberi lapisan zinc secara
elektrolisa. Tujuannya untuk membuatnya menjadi tahan karat. Jadi, kata seng berasal
dari bahan pelapisnya. Jenis ini akan bertahan selama lapisan zinc ini belum hilang,

Universitas Sumatera Utara

yang terjadi sekitar tahun ke-30-an. Setelah itu, atap akan mulai bocor apabila ada
bagian yang terserang karat.
2.1.6. Atap Dak Beton

Atap ini biasanya merupakan atap datar yang terbuat dari kombinasi besi dan beton.
Banyak digunakan pada rumah-rumah modern minimalis dan kontemporer.
Konstruksinya yang kuat memungkinkan untuk mempergunakan atap ini sebagai
tempat beraktifitas. Contohnya menjemur pakaian dan bercocok tanam dengan pot.
Kebocoran pada atap dak beton sering sekali terjadi. Maka perlu pengawasan pada
pengecoran dan pemakaian waterproofing pada lapisan atasnya.

2.1.7. Atap Genteng Metal

Bentuknya lembaran, mirip seng. Genteng ini ditaman pada balok gording rangka
atap, menggunakan sekrup. Bentuk lain berupa genteng lembaran. Pemasangannya
tidak jauh berbeda dengan genteng tanah liat hanya ukurannya saja yang lebih besar.
Ukuran yang tersedia bervariasi, 60-120cm (lebar),dengan ketebalan 0.3mm dan
panjang antara 1.2-12m.(Rumah Ide,2009)

2.2. Genteng Polimer

Genteng berbasis polimer merupakan suatu alternatif pengganti genteng yang kita
kenal selama ini,dibuat dengan mencampur polimer sebagai matriks dan pengisi
(filler) dari bahan alam.
Genteng komposit polimer dibuat secara partikel komposit dengan terlebih
dahulu mengubah bentuk bahan pengisi menjadi partikel,partikel ini kemudian
dicampur dengan matrik polimer pada suhu titik leleh polimer tersebut. Matrik yang
digunakan adalah polietilen,polipropilen,dan paduan polietlen – karet alam.

Universitas Sumatera Utara

Mutu genteng komposit polimer yang dihasilkan bergantung pada bahan
matriks,pengisi dan perbandingan antara matrik dan pengisi. Terhadap komposit yang
diperoleh dilakukan uji fisik, mekanik,dan termal. Komposit polimer yang
memberikan sifat yang diinginkan lalu dicetak dengan bentuk genteng sehingga
diperoleh genteng komposit polimer. Secara keseluruhan genteng komposit polimer
mempunyai beberapa keunggulan seperti ringan,kuat,ekonomis dan elastis serta
menggunakan bahan alam yang berlimpah sebagai bahan pengisi. (Batan,2009)
2.2.1. Genteng Aspal

Bahan meterial yang satu ini dari campuran lembaran bitumen (turunan aspal) dan
bahan kimia lain. Material ini diolah sehingga menghasilkan sebuah genteng yang
ringan, lentur, dan tahan air. Aspal dalam hal ini berfungsi sebagai water proofing
sehingga atap menjadi tahan terhadap kebocoran. Selain anti bocor, genteng aspal juga
lebih ringan dibandingkan genteng tanah liat, beton, atau keramik. Dengan bobot yang
ringan konstruksi atap pun bisa diminimalkan, sehingga biaya pun bisa dihemat.
Ada dua model yang tersedia di pasar. Pertama, model datar bertumpu pada
multipleks yang menempel pada rangka. Multipelks dan rangka dikaitkan dengan
bantuan sekrup. Genteng aspal dilem ke papan. Untuk jenis kedua, model
bergelombang, ia cukup disekrup pada balok gording.
Untuk itu penulis mencoba merencanakan pembuatan genteng dengan
menggunakan bahan plastik (polimer) dan proses cetak injeksi merupakan salah satu
cara dalam pengolahan plastik untuk membuat genteng ini. Untuk membuat barangbarang plastik agar mempunyai sifat-sifat seperti yang dikehendaki, maka dalam
proses pembuatannya selain bahan baku utama diperlukan juga bahan tambahan atau
aditif. Keuntungan dari genteng aspal ini yaitu :
1.Ramah lingkungan
2. Tahan lama
3. Pemeliharaannya mudah dan Fleksibel.

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan sistemnya genteng ini memiliki struktur polimer khusus yang
meningkatkan fleksibilitas.Kekuatan tarik produk meningkat karena usia pembuatan
lapisan lebih kuat dan lebih tahan lama untuk menyediakan produk dengan kinerja
yang sangat baik. ( Syafrudin latif, 2009)

2.3. Ban Bekas

Karet alam atau karet mentah memiliki sifat fleksibel, harganya relatif ringan tapi
daya sambung dan daya rekat jauh lebih rendah dibanding karet sintesis bila dibuat
perekat. Karet alam tidak bisa dipakai untuk penyambung plastik. Perekat yang
dipakai dan terbuat dari karet sintesis atau karet alam tidak tahan terhadap bahan
pelarut minyak bahan oksidasi dan sinar ultraviolet, mudah sekali rusak bila terkena
panas. Tahan terhadap panas pada suhu 35-40 derajat Celsius sebelum divulkanisasi,
jika divulkanisasi tahan terhadap panas 70 derajat Celsius. Karet alam larut dengan
baik pada pelarut hidrokarbon. Perekat ini berguna untuk benda ringan seperti kain
karet busa yang mengelupas pada beban 3 kilogram/cm2 pada suhu kamar.

Karet nitril karboksil adalah karet yang mengandung gugus asam karboksilat.
Perekat yang dibuat dari bahan ini tidak saja memiliki daya rekat yang tinggi terhadap
logam tapi juga mempercepat reaksi resinya terhadap senyawa lain yang gunanya
memberi kekuatan adhesive dan kohesif, dan lebih tahan minyak. Karet alam adalah
polimer hidrokarbon tak jenuh. Senyawa ini secara komersial diperoleh dari getah
karet. Struktur kimianya sebagian dijelaskan pada abad ke 19 jika dipanaskan tanpa
udara (isoprene).
Suatu ban yang modern terdiri dari gabungan cord/rubber. Ban roda dihasilkan
dan juga beberapa komponen-komponen yang terpisah, seperti injakan, innerliner,
manik-manik, sabuk-sabuk, dll, dan komponen-komponen yang berbeda mempunyai
komposisi-komposisi karet yang berbeda. Karet ban bukanlah murni, tetapi dalam
wujud campuran-campuran, yang terdiri dari elastomer-elastomer dan berbagai bahan
tambahan. Bahan tambahan dapat digolongkan sebagai bahan vulkanisasi, penggerakpenggerak vulkanisasi dan accelerators, pengisi-pengisi penguatan, semi reinforcing,

Universitas Sumatera Utara

atau pencampur, antidegradants, pelunak-pelunak.( Lan Liang, Texas A&M
University, 2004).

Perumusan campuran dan fungsi campuran-campuran karet bersifat rancang
bangun kritis memiliki banyak kekayaan yang khusus yang diperlukan oleh ban
industry, 38 seperti fleksibilitas, histeresis rendah, friksi baik di kebanyakan
permukaan-permukaan, hambatan ampelas tinggi, dan sifat tak tembus baik ke udara.
Kekayaan ini memastikan bahwa ban roda melaksanakan bermacam fungsi-fungsi di
bawah kondisi-kondisi yang parah, sulit, keras, berat.Untuk menggabungkan kekayaan
ini menuntut teknologi pencampuran karet canggih dan pencampuran yang tepat, yang
sebaliknya membuat sisa pembuangan lebih hebat.

2.3.1. Pemrosesan Karet

Bahan karet dapat berasal dari sumber alamiah ( Hevea B.),dapat pula dibuat
(sintetik). Sintetis karet di dasarkan pada macam atau jumlah monomer
terbatas,namun aneka tipe produk karetnya amat banyak. Berbagai sifat produk
dipengaruhi oleh cara pembuatan, system katalis sampai kondisi polimerisasi ,atas
struktur molekulnya.
Beberapa sifat molekuler karet yang penting ialah berat molekul (massa molar)
rata – rata serta distribusinya,jenis dan derajat percabangannya,distribusi monomernya
(bagi kopolimer ) serta adanya gugus – gugus fungsi tertentu. Mikrostruktur elastomer
sangat menentukan sifat – sifat nya selama pemrosesan serta laju pembentukan dan
struktur jalinan vulkanisasinya.( A. J. Hartomo,1993)

2.3.2. Vulkanisasi

Bila karet alam ini divulkanisir ia akan menjadi tahan panas dan kekuatan mengelupas
sampai dengan 6 kilogram/cm2. Salah satu dari keunggulan dari solusi karet alam
tidak beracun, pelarut yang dipakai tidak menyengat dan tidak mudah terbakar,

Universitas Sumatera Utara

viskositas dari solusi ini kira-kira 25 persen. Karet Stiren butadin adalah karet sintetik
termasuk yang luas permukaannya dan pemakaiannya dan murah harganya
dibandingkan dari karet alam. Karet Stiren Butadin termasuk perekat interior. Dari
perekat ini berguna untuk karpet, karet busa dan konstruksi mobil untuk menyambung
karet kelogan karet ini tidak berguna untuk PVC. Pelarut yang digunakan biasanya
nafta.
Selama vulkanisasi, tiga struktur dimensional dibentuk antara agen vulkanisasi
dan rantai-rantai polimer oleh reaksi-reaksi closslinking. Reaksi ini penting untuk
dijadikan kuat dan lebih sedikit yang elastis. Setelah vulkanisasi, menjadi karet yang
tak mampu larut di dalam bahan pelarut dan lebih resistan kepada penurunan derajad
secara normal yang disebabkan oleh panas, cahaya, dan penuaan. Sebaliknya,
kesukaran dengan pendaur-ulangan karet juga diakibatkan oleh struktur yang
crosslinked. Vulkanisasi karet adalah suatu proses tak terbalikkan, yang disebabkan
oleh polimer itu sendiri merupakan satu molekul yang besar.(Platz, G.M, U.S.
Patent,1994)
Perekat yang memerlukan vulkanisasi dan tambahan bahan – bahan lebih
seperti akselator. Perekat karet yang divulkanisasi dibawah tekanan kontak langsung
pada kuningan merupakan perekat yang efektif dan untuk logam,campuran karet ini
terdiri dari : 35 % sink,70 % tembaga. Dengan stirin butadin daya rekat yang dimiliki
dapat mencapai 40 kg/cm2 ,dengan panas diatas 100oc daya rekat yang dimiliki tidak
banyak berpengaruh dan perekat ini dapat bertahan terhadap tekanan yang berbeban
berat dan dinamis.(Eddy Tano, 1997).

2.3.3. Activator Vulkanisir
Suatu penggerak vulkanisir bertindak seperti suatu katalisator; penambahanpenambahan relatif kecil dapat meningkatkan derajat tingkat oksidasi seng, mungkin
hampir semua penggerak yang tidak tersusun teratur adalah penting, sedangkan oksida
magnesium juga bermanfaat. Pengaktifan oleh oksida seng tergantung pada ukuran
partikel yang digunakan. Secara normal, hal itu memerlukan 3-5 phr (per seratus
hidrokarbon karet), tetapi sangat bagus ukuran partikel dapat memerlukan sedikitnya 1
phr dari oksida seng untuk activasi yang cukup. Zat asam yang mengandung lemak,

Universitas Sumatera Utara

seperti yang stearic, palmitic, dan asam laurat, adalah penggerak-penggerak organik
yang paling penting untuk pemercepat vulkanisir.
Metoda-metoda modern untuk vulkanisasi karet yang menggunakan belerang
sering kali menggunakan jumlah yang kecil. Ada pemercepat yang baik yang tersedia
saat ini, kebanyakan mereka adalah nitrogenor belerang berisi senyawa organik yang
digolongkan.

2.4 Aspal
Aspal ialah bahan hidro karbon yang bersifat melekat (adhesive), berwarna hitam
kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering juga disebut bitumen
merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis
permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal berasal dari aspal alam (aspal buton} atau
aspal minyak (aspal yang berasal dari minyak bumi). Berdasarkan konsistensinya,
aspal dapat diklasifikasikan menjadi aspal padat, dan aspal cair.
Aspal atau bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa
hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor. Aspal sebagai
bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat viskoelastis. Aspal akan
bersifat padat pada suhu ruang dan bersifat cair bila dipanaskan. Aspal merupakan
bahan yang sangat kompleks dan secara kimia belum dikarakterisasi dengan baik.
Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon jenuh dan tak jenuh, alifatik dan
aromatic yang mempunyai atom karbon sampai 150 per molekul. Atom-atom selain
hidrogen dan karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen, oksigen, belerang,
dan beberapa atom lain. Secara kuantitatif, biasanya 80% massa aspal adalah karbon,
10% hydrogen, 6% belerang, dan sisanya oksigen dan nitrogen, serta sejumlah renik
besi, nikel, dan vanadium. Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan atas aspalten (yang
massa molekulnya kecil) dan malten (yang massa molekulnya besar). Biasanya aspal
mengandung 5 sampai 25% aspalten. Sebagian besar senyawa di aspal adalah senyawa
polar. ( Sukirman,2003).

Universitas Sumatera Utara

2.4.1 Kandungan Aspal
Kandungan aspal terdiri dari senyawa yang kompleks,bahan utamanya disusun oleh
hidrokarbon dan atom – atom N,S dan O dalam jumlah yang kecil,juga beberapa
logam seperti Vanadium, Ni, Fe, dan Ca dalam bentuk garam organik dan oksidanya.
Dimana unsur – unsur yang terkandung dalam dalam bitumen adalah Karbon ( 82 – 88
%),Hidrogen (8 – 11 %),Sulfur (0 – 6 %),Oksigen (0 – 1,5 %),dan Nitrogen (0 –1 %).

Adapun beberapa kualitas yang harus dimiliki oleh aspal untuk menjamin
performa yang memuaskan, secara mendasar adalah rheology, kohesi, adhesi dan
durabilitas. Fungsi aspal dalam campuran agregat aspal adalah sebagai bahan
pengikat yang bersifat visco-elastis dengan tingkat viscositas yang tinggi selama masa
pemakaiannya dan berfungsi sebagai pelumas pada saat penghamparan di lapangan
sehingga mudah untuk dipadatkan.

Pada AASHTO ( 1982 ) dinyatakan bahwa jenis aspal keras ditandai dengan
angka penetrasi aspal, angka ini menyatakan tingkat kekerasan aspal atau tingkat
konsistensi aspal.Semakin meningkatnya besar angka penetrasi aspal maka tingkat
kekerasan aspal semakin rendah, sebaliknya semakin kecil angka penetrasi aspal maka
tingkat kekerasan aspal semakin tinggi.Semakin besar angka penetrasi aspal ( semakin
kecil tingkat konsistensi aspal ) akanmemberikan nilai modulus elastis aspal yang
semakin kecil dalam tinjauan temperatur dan pembebanan yang sama. Semakin tinggi
suhu udara dan makin lambat beban yang lewat,maka modulus elastis aspal makin
kecil. Lama pembebanan merupakan fungsi dari tebal perkerasan dan kecepatan
kendaraan.

Terdapat bermacam – macam tingkat penetrasi aspal yang dapat digunakan
dalam campuran agregat aspal, antara lain 40/50, 60/70, 80/100. Dalam pemilihan
jenis aspal yang akan digunakan pada daerah yang beriklim panas sebaiknya aspal
dengan indeks penetrasi yang rendah, dalam rangka mencegah aspal menjadi lebih
kaku dan mudah pecah ( brittle ). Umumnya aspal yang digunakan di Indonesia adalah
aspal dengan penetrasi 80/100 dan penetrasi 60/70.

Universitas Sumatera Utara

Fungsi kandungan aspal dalam campuran juga berperan sebagai selimut
penyelubung agregat dalam bentuk tebal film aspal yang berperan menahan gaya
geser permukaan dan mengurangi kandungan pori udara yang lebih lanjut, juga berarti
mengurangi penetrasi air dalam campuran.

2.4.2. Sifat – Sifat Aspal
Aspal terbuat dari minyak mentah, melalui proses penyulingan atau dapat ditemukan
dalam kandungan alam sebagai bagian dari komponen alam yang ditemukan bersamasama material lain. Aspal dapat pula diartikan sebagai bahan pengikat pada campuran
beraspal yang terbentuk dari senyawa-senyawa komplek seperti Asphaltenese, Resins
dan Oils. Aspal mempunyai sifat visco-elastis dan tergantung dari waktu pembebanan.
Pada proses pencampuran dan proses pemadatan sifat aspal dapat ditunjukkan dari
nilai viscositasnya,sedangkan pada sebagian besar kondisi saat masa pelayanan, aspal
mempunyai sifat viscositas yang diwujudkan dalam suatu nilai modulus kekakuan.
Sedang sifat aspal lainnya adalah ;
1. Aspal mempunyai sifat mekanis ( Rheologic ), yaitu hubungan antara tegangan
( stress dan regangan ( strain ) dipengaruhi oleh waktu. Apabila mengalami
pembebanan dengan jangka waktu pembebanan yang sangat cepat, maka aspal
akan bersifat elastis, tetapi jika pembebanannya terjadi dalam jangka waktu
yang lambat maka sifat aspal menjadi plastis ( viscous ).
2. Aspal adalah bahan

yang Thermoplastis,

yaitu konsistensinya

atau

viskositasnya akan berubah sesuai dengan perubahan temperatur yang terjadi.
Semakin tinggi temperature aspal, maka viskositasnya akan semakin rendah
atau semakin encer demikian pula sebaliknya. Dari segi pelaksanaan lapis
keras, aspal dengan viskositas yang rendah akan menguntungkan karena aspal
akan menyelimuti batuan dengan lebih baik dan merata.Akan tetapi dengan
pemanasan yang berlebihan maka akan merusak molekul-molekul dari aspal,
aspal menjadi getas dan rapuh.

3. Aspal mempunyai sifat Thixotropy, yaitu jika dibiarkan tanpa mengalami
tegangan regangan akan berakibat aspal menjadi mengeras sesuai dengan

Universitas Sumatera Utara

jalannya waktu. Meskipun aspal hanya merupakan bagian yang kecil dari
komponen campuran beraspal, namun merupakan bagian terpenting untuk
menyediakan ikatan yang awet/tahan lama (durable ) dan menjaga campuran
tetap dalam kondisi kental yang elastis.

2.4.3 Jenis – Jenis Aspal

Aspal dapat diklasifikasikan berdasarkan asal dan proses pembentukannya yaitu
sebagai berikut :

1. Aspal Alamiah
Aspal alamiah ini berasal dari berbagai sumber,seperti pulau Trinidad.
Aspal dari Trinidad mengandung kira – kira 40% organic dan zat – zat
anorganik yang tidak dapat larut. Dengan pengembangan aspal minyak
bumi,aspal alamiah relative tidak penting.

2.

Aspal Batuan
Aspal batuan ini adalah endapan alamiah batu kapur atau batu pasir
yang diperpadat dengan bahan – bahan berbitumen. Aspal ini terjadi ini
diberbagai bagian diamerika serikat. Aspal ini umumnya membuat permukaan
jalan yang sangat lama dan stabil ,tetapi kebutuhan transportasi yang tinggi
membuat aspal terbatas pada daerah – daerah tertentu.

3. Aspal Minyak Bumi
Aspal minyak bumi pertama kali digunakan diAmerika Serikat untuk
perlakuan jalan pada tahun 1894. Bahan – bahan pengeras jalan aspal sekarang
berasal dari minyak mentah domestic bermula dari ladang – ladang di
Kentucky, Ohio , Michigan, Illinois , Mid-Continent, Gulf-Coastal, Rocky
Mountain, California, dan Alaska. Sumber – sumber asing termasuk meksiko,
Venezuela, Colombia, dan Timur Tengah. Sebasar 32 juta ton telah digunakan
pada tahun 1980 (Oglesby,C.H.,1996)

Universitas Sumatera Utara

4. Aspal Iran
Aspal iran merupakan salah satu jenis aspal yang di impor dari Iran –
Teheran. Aspal jenis ini sangat sesuai dan direkomendasikan untuk Negara
beriklim tropis seperti diindonesia, karena ini desain untuk bisa elastis
menyesuaikan suhu yang naik dan turun, contohnya aspal yang dipergunakan
sebagai bahan utama dalam penelitihan ini yaitu aspal dengan angka penetrasi
60/70. Untuk data jenis pengujian dan data persyaratan aspal tersebut
tercantum seperti pada table dibawah ini.

Table 2.1 Data jenis pengujian dan persyaratan Aspal tipe grade 60/70

SIFAT

SATUAN

SPESIFIKASI

STANDART
PENGUJIAN

Densitas pada T 25 ºC

gr/cm3

1010 - 1060

ASTM – D71/3289

Penetrasi pada T 25 ºC

0,1 mm

60/70

ASTM – D5

Titik lelah

ºC

49/56

ASTM – D36

Daktilitas pada T 25 ºC

Cm

Min. 100

ASTM – D113

Kerugian pemanasan

%wt

Max. 0,2

ASTM – D6

Max. 20

ASTM – D6&D5

Penurunan
penetrasi

pada %
setelah

pemanasan
Titik nyala

ºC

Min. 250

ASTM – D92

Kelarutan dalam CS2

%wt

Min. 99,5

ASTM – D4

Negatif

ASSHO T102

Spot Test

( Sony Sulaksono,2001)

2.4.4. Viskositas Aspal
Tingkatan material aspal dan suhu yang digunakan sangat tergantung pada
kekentalannya. Kekentalan aspal sangat bervariasi terhadap suhu, dari tingkatan padat,
encer sampai tingkat cair. Hubungan antara kekentalan dan suhu adalah sangat penting

Universitas Sumatera Utara

dalam perencanaan dan penggunaan material aspal. Kekentalan akan berkurang
(dalam hal ini aspal akan menjadi lebih encer) ketika suhu meningkat.

Kekentalan absolut atau kekentalan dinamik dinyatakan dalam satuan Pa detik
atau poises (1 poise = 0,1 Pa detik). Viskositas kinematik dinyatakan dalam satuan
cm2 / detik dan stokes atau centistokes (1 stokes = 100 centistokes = 1 cm2/detik).
Karena kekentalannya sama dengan kekentalan absolute dibagi dengan berat jenis
(kira – kira 1 cm2/detik untuk aspal), kekentalan absolut dan kekentalan kinematik
mempunyai harga yang relatif sama apabila kedua – duanya dinyatakan masing –
masing dalam poises dan stokes.( Sony Sulaksono,2001)

2,5. Polipropilen (PP)
Polipropilen merupakan hasil reaksi polimerisasi monometer propylene. PP yang
diperdagangkan umumnya dalam bentuk pellet (butiran memanjang). Polipropilen
dapat digunakan untuk membuat barang – barang seperti botol, box aki, tikar, rafia,
dan karung plastik.
Bahan baku polipropilen didapat dengan menguraikan petroleum (naftan)
dengan cara yang sama seperti pada etilen. Menurut proses yang serupa dengan
metoda tekanan rendah untuk polietilen, mempergunakan katalis Zieger – Natta,
polipropilen dengan keteraturan ruang dapat diperoleh dari propilen. Polipropilen
ataktik tanpa keteraturan ruang dan mempunyai titik lunak rendah dipisahkan oleh
ekstraksi dengan pentan dan disisihkan.(Ghanie,2011)

2.5.1

Sifat - Sifat Polipropilen

Sifat – sifat polipropilen serupa dengan sifat – sifat polietilen. Massa jenisnya rendah
(0,90 – 0,92). Termasuk kelompok yang paling ringan diantara bahan polimer. Dapat
terbakar jika dinyalakan. , titik lunaknya tinggi sekali (176°C, Tm), kekuatan tarik,
kekuatan lentur dan kekakuannya lebih tinggi, tetapi ketahanan impaknya rendah
terutama pada suhu rendah. Sifat tembus cahayanya pada pencetakan lebih baik
daripada polietilen dengan permukaan yang mengkilap, penyusutannya pada

Universitas Sumatera Utara

pencetakan kecil, penampilan dan ketelitian dimensinya lebih baik. Sifat mekaniknya
dapat ditingkatkan sampai batas tertentu dengan jalan mencampurkan serat gelas.
Pemuaian termal juga dapat diperbaiki sampai setingkat dengan resin termoset. Sifat –
sifat listriknya hampir sama dengan sifat – sifat listrik polietilen. Ketahanan kimianya
kira – kira sama bahkan lebih baik daripada polietilen massa jenis tinggi. Ketahanan
retak – tegangannya sangat baik. Dalam hidrokarbon aromatik dan hidrokarbon yang
terklorinasi, larut pada 80°C atau lebih, tetapi pada suhu biasa hanya memuai. Oleh
karena itu sukar untuk diolah dengan perekatan dan pencapan seperti halnya dengan
polietilen yang memerlukan perlakuan tertentu pada permukaannya.
Polipropilena merupakan jenis bahan baku plastik yang ringan, densitas 0,90 –
0,92, memiliki kekerasan dan kerapuhan yang paling tinggi dan bersifat kurang stabil
terhadap panas dikarenakan adanya hidrogen tersier. Penggunaan bahan pengisi dan
penguat memungkinkan polipropilena memiliki mutu kimia yang baik sebagai bahan
polimer dan tahan terhadap pemecahan karena tekanan (stress-cracking) walaupun
pada temperatur tinggi.
Kerapuhan polipropilena dibawah 0 oC dapat dihilangkan dengan penggunaan
bahan pengisi. Dengan bantuan pengisi dan penguat, akan terdapat adhesi yang
baik.Polimer yang memiliki konduktivitas panas rendah seperti polipropilena
(konduktivitas = 0,12 W/m) kristalinitasnya sangat rentan terhadap laju pendinginan.
Misalnya dalam suatu proses pencetakan termoplastik membentuk barang jadi yang
tebal dan luas, bagian tengah akan menjadi dingin lebih lambat dari pada bagian luar,
yang bersentuhan langsung dengan cetakan. Akibatnya, akan terjadi perbedaan derajat
kristalinitas pada permukaan dengan bagian tengahnya.
Polipropilena mempunyai tegangan (tensile) yang rendah, kekuatan benturan
(impact strength) yang tinggi dan ketahan yang tinggi terhadap pelarut organik.
Polipropilena juga mempunyai sifat isolator yang baik mudah diproses dan sangat
tahan terhadap air karena sedikit sekali menyerap air, dan sifat kekakuan yang tinggi.
Seperti polyolefin lain, polipropilena juga mempunyai ketahan yang sangat
baik terhadap bahan kimia anorganik non pengoksidasi, deterjen, alcohol dan
sebagainya. Tetapi polipropilena dapat terdegradasi oleh zat pengoksidasi seperti asam

Universitas Sumatera Utara

nitrat dan hidrogen peroksida. Sifat kristalinitasnya yang tinggi menyebabkan daya
regangannya tinggi, kaku dan keras.(Ahmad Hafizullah,2011)

2.5.2 Mampu Cetak
Polipropilen mempunyai sifat mampu cetak yang baik seperti halnya polietilen.
Seperti telah diutarakan di atas polipropilen mempunyai faktor penyusutan cetakan
yang lebih kecil dibandingkan dengan polietilen yang bermassa jenis tinggi, pada
kondisi optimal dapat diperoleh produk dengan ketelitian dimensinya bai dan
tegangan sisa yang kecil.

2.5.3 Penggunaan Polipropilen
Hampir sama seperti polietilen, popliropilen banyak digunakan sebagai bahan dalam
produksi peralatan meja makan, keranjang, peralatan kamar mandi, keperluan rumah
tangga, mainan, peralatan listrik, barang – barang kecil, komponen mobil, dan
seterusnya. Penggunaan yang luas itu berkat mampu cetaknya yang baik,
permukaannya yang licin, mengkilap dan tembus cahaya. Film yang diregangkan
pada dua arah sumbu kuat dan baik ketahanan impaknya pada suhu rendah. Untuk
memperbaiki permeabilitas gas dan ketahanan terhadap panas telah dikembangkan
berbagai macam laminasi film.
Benang celah dibuat dengan cara meregangkan film sampai putus pada
panjang yang sama, dan benang pisah dengan robekan yang banyak, dipakai untuk
membuat tali dan pita untuk keperluan pengepakan. Serat dipergunakan untuk
tambang, karpet, tirai dan bahkan yang dicetak tiup untuk berbagai macam
botol.(ghanie,2011)

2.6 Dikumil Peroksida (DCP)
Dikumil Peroksida adalah sumber radikal yang kuat, digunakan sebagai inisiator
polimerisasi, katalis, dan zat pemvulkanisasi. Temperatur waktu paruh 61 oC (untuk
10 jam) 80 oC (untuk 1 jam) dan 120 oC (untuk 1 menit). DCP terdekomposisi dengan
cepat, menyebabkan kebakaran dan ledakan, pada pemanasan dan dibawah pengaruh

Universitas Sumatera Utara

cahaya. DCP juga bereaksi keras dengan senyawa yang bertentangan (asam, basa, zat
pereduksi, dan logam berat). Sebaiknya DCP disimpan dalam kondisi temperatur
kamar (< 27 oC atau maksimum 39oC) dan untuk menjaga dari zat pereduksi dan
senyawa yang tidak kompatibel dengannya.
Dikumil peroksida (DCP) dapat berurai menjadi radikal bebas pada suhu
pemvulkanisasian. Radikal-radikal bebas tersebut akan bereaksi dengan rantai-rantai
molekul karet dengan cara bereaksi dengan atom hidrogen.

2.6.1 Penggunaan Dikumil Peroksida (DCP) Sebagai Inisiator
Diantara berbagai tipe inisiator, peroksida (ROOR) dan hidroperoksida (ROOH)
merupakan jenis yang paling banyak digunakan. Mereka tidak stabil dengan panas dan
terurai menjadi radikal-radikal pada suatu suhu dan laju yang tergantung pada
strukturnya. Yang ideal, suatu inisiator peroksida mestilah relatif stabil pada suhu
pemrosesan polimer untuk menjamin laju reaksi yang layak .
Teknik crosslinking (ikat silang) karet dengan peroksida telah dikenal sejak
lama. Keuntungan umum menggunakan peroksida sebagai zat ikat silang adalah
ketahanannya baik pada suhu tinggi dalam waktu yang lama, keelastisannya yang
baik, dan tidak ada penghilangan warna pada produk akhir.

2.7 Divinil benzene ( DVB)
Divenil benzena berubah-ubah secara ekstrim zat crosslinking (ikat silang) yang
sangat baik dan juga meningkatkan sifat-sifat polimer. Sebagai contoh, divenil
benzena banyak digunakan pada pabrik adesif, plastik, elastromer, keramik, material
biologis, mantel, katalis, membran, peralatan farmasi, khususnya polimer dan resin
penukar ion.
Rumus molekul divenil benzena C10H10, titik didih 195o C, tidak larut dalam
air dan larut dalam etanol dan eter dan titik nyala 76o C, ketika bereaksi bersama-sama
dengan stirena, divenil benzena dapat digunakan sebagai monomer reaktif dalam resin

Universitas Sumatera Utara

polyester. Stiren dan divenil benzena bereaksi secara bersama-sama menghasilkan
kopolimer stirena divenil benzena.( Ahmad Hafizullah,2011).

2.8 Syarat Mutu Genteng Menurut Standar Nasional Indonesia
Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 0099 : 2007, Syarat mutu genteng
meliputi :
1. Sifat Tampak
Genteng harus memiliki permukaan atas yang mulus , tidak terdapat retak, atau
cacat lain yang mempengaruhi sifat pemakaiannya.
2. Penyerapan Air
Penyerapan air maksimal 10 %
3. Ketahanan terhadap Perembesan Air ( Impermeabilitas)
Tidak boleh ada tetesan air dari permukaan bawah genteng kurang dari 20 jam
± 5 menit.
(Anonim,2007)

Universitas Sumatera Utara

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 TEMPAT PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Polimer Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.

3.2 Peralatan dan Bahan – Bahan
3.2.1. Peralatan
1. Beaker glass 500 mL
Berfungsi sebagai wadah tempat mencampur bahan. (Lampiran 1)
2. Ayakan
Berfungsi

sebagai

saringan

atau

ayakan

untuk

menyaring

ban

bekas.(Lampiran 1)
3. Spatula
Berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk mengaduk campuran
bahan.(Lampiran 1)
4. Neraca Analitik
Berfungsi sebagai alat untuk menimbang sampel atau bahan.(Lampiran 1)
5. Hot Plate
Berfungsi sebagai pemanas.(Lampiran 1)

Universitas Sumatera Utara

6. Ekstruder MIFPOL BRS 896
Berfungsi sebagai alat untuk melelehkan polimer.(Lampiran 1)
7. Hot Compressor
Berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk bahan cetak

yang

berdasarkan pada pemanasan.(Lampiran 1)
8. Cetakan
Berfungsi sebagai tempat mencetak sampel.(Lampiran 1)
10. Electronic System Universal Tensile Machine Type SC-2DE
Berfungsi untuk pengujian sifat mekanis terutama kekuatan lentur
lentur dengan kapasitas 100 kgf.(Lampiran 1)
11. Impaktor Wolpert
Berfungsi untuk pengujian kekuatan impak komposit yang dilengkapi
dengan skala.
12. Aluminium foil
Berfungsi untuk melapisi cetakan.(Lampiran 1)
13. Plat tipis
Berfungsi tempat meletakkan sampel.(Lampiran 1)

3.2.2. Bahan – Bahan
1. Polipropilena (PP) Bekas.(Lampiran 2)
2. Aspal Iran tipe penetrasi 60/70.(Lampiran 2)
3. Serbuk Ban bekas.(Lampiran 2)
4. DCP (Dikumil Peroksida) dan DVB ( Divinil Benzena). (Lampiran 2)

Universitas Sumatera Utara

3.3

PROSEDUR PENELITIAN
3.3.1. Pencampuran Serbuk Ban bekas Dan PP bekas
1.

PP bekas dipotong – potong kecil , dibuat ke dalam variasi 10 g, 20 g,
30 g, 40 g,50 g,60 g,70 g, dan 80 g. (Lampiran 2)

2.

Serbuk ban bekas disaring dengan menggunakan ayakan ,dibuat ke
dalam variasi 80 g, 70 g, 60 g,50 g, 40 g, 30 g, 20 g, dan 10 g.
(Lampiran 2)

3.3.2. Proses pembuatan Aspal Polimer
1.

Aspal dimasukkan ke dalam beaker glass dan dipanaskan dengan suhu
100oC.

2.

Ditambahkan polipropilena (PP) 80 g dan serbuk ban bekas 10g,
lalu diaduk dengan menggunakan spatula selama 10 menit .

3. Ditambahkan DCP 1 %, DVB 1% dan diaduk selama 30 menit.
4. Hasil pencampuran bahan tersebut diekstruksi dengan suhu 170oC.
5. Hasil ekstruksi dikeringkan diudara terbuka.(Lampiran 3)
6. Perlakuan yang sama dilakukan untuk variasi pp bekas dan serbuk ban
bekas dengan perbandingan masing – masing (80 : 10) , (70 : 20) , (60 :
30) , (50 : 40 ) , (40 :50) , (30 : 60) , (20 : 70 ) , (10 : 80).

Universitas Sumatera Utara

Tabel 3.1 Komposisi Bahan
No Sampel

Komp