Evaluasi kualitas fungsi auditor internal dalam meningkatkan efektivitas pengendalian internal bank (Studi kasus Bank Permata Cabang Medan)

EVALUASI KUALITAS FUNGSI AUDITOR INTERNAL DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL BANK
(STUDI KASUS BANK PERMATA CABANG MEDAN)
OLEH
MUHAMMAD SALEH NASUTION 120522122
DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015

PERNYATAAN
Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul : “Evaluasi kualitas fungsi auditor internal dalam meningkatkan efektivitas pengendalian internal bank (Studi kasus Bank Permata Cabang Medan)” Adalah benar hasil karya sendiri dan judul dimaksud belum pernah dimuat,dipublikasikan, atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi level Program S-1 Reguler Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Semua sumber data dan informasi yang diperoleh, telah dinyatakan dengan jelas, benar apa adanya. Dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas.
Medan, 22 Juni 2015 Yang membuat pernyataan,
Muhammad Saleh Nasution NIM : 120522122

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan kekuatan yang diberikan-Nya kepada penulis sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan pada Universitas Sumatera Utara guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi. Adapun judul skripsi yang disusun oleh penulis yaitu :
“Evaluasi kualitas fungsi auditor internal dalam meningkatkan efektivitas pengendalian internal bank (Studi kasus Bank Permata Cabang Medan)
Penulis menyadari ada banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini baik dari segi isi maupun penyajiannya yang diakibatkan oleh keterbatasan yang dimiliki penulis. Namun demikian, penulis akan berusaha untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik di masa mendatang.
Skripsi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya pada seluruh pihak yang membantu penyelesaian skripsi ini, yaitu kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M. Ec. Ac, Ak, CA., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak., dan Ibu Dra. Mutia Ismail, MM, Ak., selaku Ketua dan Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Rasdianto, Msi, Ak. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan banyak bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan serta penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak., selaku Dosen Pembanding I dan Ibu Dra. Nurzaimah, MM, Ak selaku Dosen Pembanding II yang telah memberikan banyak arahan dalam penyusunan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis khususnya Departemen Akuntansi yang telah membimbing dan mendidik penulis selama masa perkuliahan.
6. Para pegawai Departemen Program Akuntansi S1 yakni : Bang Katun, Bang Prapto, Kak Dame dan bagian pendidikan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara yang telah banyak membantu penulis dalam urusan administrasi selama masa perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini.
7. Seluruh pegawai PT. Bank Permata Cabang Medan atas bantuan dan kerjasamanya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
8. Keluarga yang memberikan banyak dukungan, bantuan serta doa kepada penulis dalam penulisan skripsi ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik,yakni : Aspan Nasution (Ayah), Rita Wardani (Mama), adikku Liya Asnita Sari, Anggi Diah Lestari dan Natasya Rifina Nasution.

9. Para sahabat yang selalu membantu dan mendukung penulis sejak awal perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini, yaitu : Ika, Ali, Yuli, serta teman-teman Akt Eks stambuk 12 lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terima kasih atas kebersamaannya Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya dalam
kehidupan kita semua.
Medan, 22 Juni 2015 Penulis,
Muhammad Saleh Nst 120522122

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran satuan kerja audit intern pada perusahaan sehingga tercipta fungsi pengendalian yang baik.
Penelitian ini menggunakan metode deskrptif. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui observasi dan wawancara.
Hasil penelitian yang dapat disimpulkan menunjukkan bahwa peran satuan kerja audit intern di perusahaan telah mendukung pengendalian yang dijalankan perusahaan. Kedudukan satuan kerja audit intern berada dibawah direktur utama sehingga penilaian terhadap pengendalian dilakukan dengan objektif dan independen. Laporan audit mengungkapkan kelemahan yang terjadi, rekomendasi perbaikan, serta keberhasilan yang telah dicapai sehingga pengendalian yang dijalankan perusahaan akan semakin baik di masa yang akan datang.
Kata Kunci: Internal Auditor, Pengendalian.

ABSTRACT
The purpose of this research is to recognize the role of audit intern department in company so that create good control function. This research use descriptive method. Data type that used are primary data and secondary data, data collecting technique that used are by observations and interviews. The results of this research that can be conclude expressed that the role of audit intern department in company is effective enough to support the control perform. The position of audit intern department is below of company director so that appraisal to control is done objectively and independent. Audit report expressed the weakness, recommendation of repair, and success which has been reached so that control perform can improve in next period.
Key Words: Internal Auditor, Control.

DAFTAR ISI

PERNYATAAN .......................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................. ii

ABSTRAK .................................................................................................. iv

ABSTRAC ................................................................................................... v

DAFTAR ISI................................................................................................ vi

DAFTAR GAMBAR.................................................................................... viii

DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. ix

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG MASALAH........................................ B. PERUMUSAN MASALAH.................................................... C. TUJUAN PENELITIAN......................................................... D. MANFAAT PENELITIAN.....................................................

1 3 3 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 5

A. TINJAUAN TEORITIS........................................................... 1. Pengertian Audit Internal................................................. 2. Pengertian Auditor Internal.............................................. 3. Fungsi Auditor Internal.................................................... 4. Pengendalian Internal....................................................... 5. Kedudukan Auditor Internal............................................ 6. Independensi Auditor Internal.......................................... 7. Laporan Auditor Internal ................................................. 8. Standar Audit Internal......................................................
B. KERANGKA KONSEPTUAL...............................................

5 5 8 9 12 16 23 24 29 31

BAB III METODE PENELITIAN............................................................... 32

A. JENIS PENELITIAN............................................................... B. JENIS DATA........................................................................... C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA....................................... D. TEKNIK ANALISIS DATA................................................... E. JADWAL DAN LOKASI PENELITIAN...............................

32 32 33 33 34

BAB IV HASIL PENELITIAN.................................................................... 35
A. DATA PENELITIAN.............................................................. 35 1. Gambaran Umum Perusahaan............................................ 35 2. Pengendalian oleh Auditor Internal..................................... 55 3. Kedudukan Auditor Internal.............................................. 57 4. Independensi Auditor Internal .......................................... 59 5. Laporan Satuan Kerja Audit Intern................................... 61 6. Peranan Internal Auditor bagi Tercapainya Pengenda lian internal yang Efektif.................................................... 63
B. ANALISIS HASIL PENELITIAN.......................................... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...................................................... 74
A. KESIMPULAN........................................................................ 74 B. SARAN..................................................................................... 76
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 79

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

Gambar 2.1 Internal audit dibawah Direktur Keuangan

18

Gambar 2.2 Internal audit merupakan Staf Direktur Utama

19

Gambar 2.3 Internal audit merupakan Staff Dewan Komisaris

20

Gambar 2.4 Internal audit dipimpin oleh seorang Direktur Internal Audit 21

Gambar 2.5 Kerangka Konseptual

31

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

Lampiran 1.1 Struktur Organisasi

Halaman 78

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran satuan kerja audit intern pada perusahaan sehingga tercipta fungsi pengendalian yang baik.
Penelitian ini menggunakan metode deskrptif. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui observasi dan wawancara.
Hasil penelitian yang dapat disimpulkan menunjukkan bahwa peran satuan kerja audit intern di perusahaan telah mendukung pengendalian yang dijalankan perusahaan. Kedudukan satuan kerja audit intern berada dibawah direktur utama sehingga penilaian terhadap pengendalian dilakukan dengan objektif dan independen. Laporan audit mengungkapkan kelemahan yang terjadi, rekomendasi perbaikan, serta keberhasilan yang telah dicapai sehingga pengendalian yang dijalankan perusahaan akan semakin baik di masa yang akan datang.
Kata Kunci: Internal Auditor, Pengendalian.

ABSTRACT
The purpose of this research is to recognize the role of audit intern department in company so that create good control function. This research use descriptive method. Data type that used are primary data and secondary data, data collecting technique that used are by observations and interviews. The results of this research that can be conclude expressed that the role of audit intern department in company is effective enough to support the control perform. The position of audit intern department is below of company director so that appraisal to control is done objectively and independent. Audit report expressed the weakness, recommendation of repair, and success which has been reached so that control perform can improve in next period.
Key Words: Internal Auditor, Control.

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan baik yang sedang berkembang maupun yang sudah
maju pasti mempunyai tujuan yang sama dalam menjalankan kegiatan usahanya yaitu untuk memperoleh laba secara maksimal dalam jangka panjang. Untuk memastikan perusahaan bisa mencapai tujuannya tersebut, maka perusahaan harus beroperasi secara efektif.
Pada perusahaan yang tergolong kecil dimana kegiatan perusahaan dapat dikerjakan oleh beberapa orang, pemilik atau pimpinan perusahaan dapat mengawasi dan mengendalikan segala sesuatu yang terjadi dalam perusahaan secara langsung. Setelah perusahaan berkembang menjadi besar maka partisipasi pemilik atau pemimpin tidak dapat dilakukan sepenuhnya karena keadaan perusahaan telah meluas sedemikian rupa sehingga struktur organisasi menjadi kompleks. Dengan adanya permasalahan baru tersebut manajemen perlu mendelegasikan tanggungjawab dan wewenang ke tingkat supervisi yang ada. Dengan demikian manajemen dituntut untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan dan mencegah serta menentukan kesalahan penggelapan, adanya penyalahgunaan wewenang dan tumpang tindih jabatan. Untuk kepentingan dan sebab diatas, dalam pengertian guna perencanaan strategi dan pengendalian manajemen, maka diperlukan suatu alat yang dapat membantu agar keterbatasan tersebut dapat diatasi.

Pengendalian internal perusahaan terdiri dari kebijakan dan prosedur, yang ditetapkan untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan perusahaan akan dicapai, karenanya harus diciptakan suatu sistem yang menjadi suatu pedoman dalam melakukan aktivitas perusahaan. Tugas dari audit internal perusahaan yang akan memastikan setiap elemen di dalam perusahaan taat kepada sistem pengendalian internal.
Pada dasarnya tujuan audit internal adalah membantu semua tingkatan manajemen agar tanggungjawab tersebut dapat dilaksanakan secara efektif. Untuk maksud tersebut audit internal menyajikan analisis-analisis, penilaian-penilaian, saran-saran, bimbingan-bimbingan dan informasi yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang telah dipelajari, ditelaah, dan dinilainya.
Suatu sistem dapat menjadi kurang efektif karena adanya perubahan kondisi operasi disebabkan kemunduran karena kelalaian karyawan. Manajemen dapat mendelegasikan wewenang kepada auditor internal untuk memonitor secara terus menerus dan melakukan penilaian terhadap sistem pengendalian internal perusahaan. Jika terdapat pemberian rekomendasi perbaikan kepada manajemen sehingga tercipta suatu pengawasan intern yang baik yang akan menunjang tercapainya tujuan usaha secara efektif dan efisien.
PT. Bank Permata Tbk. adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit guna meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Memiliki sistem pengendalian internal yang terstruktur, namun terkadang terdapat masalah

ketidakselarasan antara prosedur yang dibuat oleh manajemen dengan kepentingan bisnis dari perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan membuat laporannya dalam bentuk skripsi yang berjudul “ EVALUASI KUALITAS FUNGSI AUDITOR INTERNAL DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL BANK (STUDI KASUS BANK PERMATA CABANG MEDAN) “
B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan penelitian
dapat diidentifikasikan sebagai berikut: • Apakah Audit Internal telah dilakukan secara memadai dalam usaha peningkatan efektivitas pengendalian intern pada PT Bank Permata, Tbk cabang Medan.
C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
• Untuk mengetahui apakah audit internal pada PT. Bank Permata, Tbk cabang Medan telah dilaksanakan secara memadai untuk peningkatan efektivitas pengendalian internal

D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi : 1. Penulis : Dapat menambah pengetahuan dan pemahaman dalam bidang yang diteliti, sekaligus dapat mengamati secara langsung bagaimana pelaksanaan di lapangan dan membandingkannya dengan teori yang pernah dipelajari. 2. Perusahaan : Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan informasi yang bermanfaat dalam pengembangan perusahaan sesuai dengan praktek yang ada di lapangan. 3. Pihak lain : Berguna sebagai tambahan pengetahuan terutama bagi perusahaanperusahaan sejenis yang menghadapi masalah yang sama, dan terutama bagi rekan-rekan mahasiswa sebagai bahan informasi dalam bidang Audit Internal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian Audit Internal Suatu hal yang pasti bahwa untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan usahanya, suatu perusahaan sangat memerlukan adanya internal audit departemen yang efektif, terutama di perusahaan menengah dan besar. Apalagi dengan akan diberlakukannya perdagangan bebas di antara negara-negara di seluruh dunia, yang tidak lagi memperbolehkan adanya proteksi, maka setiap perusahaan harus meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan usahanya. Agoes (2013:204) mendefinisikan audit internal sebagai berikut: Internal Audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku.
Audit Internal telah berkembang dari sekedar profesi yang hanya memfokuskan diri pada masalah-masalah teknis akuntansi menjadi profesi yang memiliki orientasi memberikan jasa bernilai tambah bagi

manajemen. Audit internal modern menyediakan jasa-jasa yang mencakup pemeriksaan dan penilaian atas kontrol, kinerja, risiko, dan tata kelola (governance) perusahaan publik maupun privat.
Definisi Internal Auditing menurut Institute of Internal Auditor yang dikutip oleh Pickett (dalam Agoes 2013:204)
Audit internal adalah kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan objektif, yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan-kegiatan operasi organisasi. Audit Internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas dari manajemen risiko, pengendalian, dan proses tata kelola.
American Accounting Association mendefinisikan internal auditing (dalam Sawyer dkk 2005:8) sebagai ‘Proses sistematis untuk secara objektif memperoleh dan mengevaluasi asersi mengenai tindakan dan kejadian-kejadian ekonomis untuk meyakinkan derajat kesesuaian antara asersi ini dengan kriteria yang ditetapkan dan mengomunikasikannya ke pengguna yang berkepentingan’.
Dari beberapa definisi diatas terlihat bahwa ada perbedaan dalam hal mendefinisikan internal auditing karena internal auditor di seluruh dunia melakukan pekerjaan mereka secara berbeda, tergantung pada lingkup audit yang diinginkan manajemen senior.
Pemeriksaan yang dilakukan auditor internal biasanya lebih rinci dibandingkan dengan pemeriksaan umum yang dilakukan oleh KAP. Auditor internal biasanya tidak memberikan opini terhadap kewajaran

laporan keuangan. Laporan auditor internal berisi temuan pemeriksaan mengenai penyimpangan dan kecurangan yang ditemukan, kelemahan pengendalian intern, serta saran-saran perbaikannya.
Berbeda dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik yang bertujuan untuk memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang disusun manajemen, maka tujuan pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor internal adalah untuk membantu semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan memberikan analisis, penilaian, saran, dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor internal melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1. Menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya dan
penerapan dari sistem pengendalian manajemen, pengendalian intern dan pengendalian operasional lainnya serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang tidak terlalu mahal. 2. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana, dan prosedurprosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen. 3. Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk pencurian, kecurangan dan penyalahgunaan.

4. Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat dipercaya.
5. Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh manajemen.
6. Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas.
2. Pengertian Auditor Internal Auditor internal memiliki peranan yang penting dalam semua hal
yang berkaitan dengan pengelolaan perusahaan dan risiko-risiko terkait dalam menjalankan usaha.
Auditor internal memberikan informasi yang diperlukan manajer dalam menjalankan tanggung jawab mereka secara efektif. Audit internal bertindak sebagai penilai independen untuk menelaah operasional perusahaan dengan mengukur dan mengevaluasi kecukupan kontrol serta efisiensi dan efektivitas kinerja perusahaan.
Menurut Mulyadi (2002:29), menyatakan bahwa : Internal Auditor adalah auditor yang bekerja dalam perusahaan (perusahan negara maupun perusahaan swasta) yang tugasnya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.
Seorang Auditor Internal, agar dapat bekerja secara efektif harus berada dalam posisi yang independen terhadap lini fungsi dalam suatu

organisasi, tetapi ia tidak independen terhadap organisasi sepanjang masih terdapat hubungan antara pemberi kerja dan pekerja. Auditor Internal menyediakan informasi yang amat bernilai bagi pihak manajemen dalam proses pembuatan keputusan yang berkaitan dengan efektivitas operasi perusahaan.
Mayoritas auditor internal memperoleh sertifikat sebagai seorang auditor internal bersertifikat (Certified internal auditor (CIA)), serta beberapa auditor intern lainnya memperoleh sertifikat akuntan publik atau sertifikat auditor intern.
3. Fungsi Auditor Internal
Secara umum fungsi auditor internal dalam perusahaan adalah sebagai alat bantu manajemen untuk menilai efisiensi dan keefektivan pelaksanaan struktur pengendalian intern perusahaan. Agar auditor internal dapat melaksanakan fungsinya dengan baik ada berbagai syarat yang harus dimiliki .
Menurut Tunggal (1995:51) fungsi Auditor Internal dalam melaksanakan pemeriksaan intern perusahaan pada umumnya bertujuan untuk membantu pimpinan perusahaan mencapai administrasi yang paling efisien mengenai berbagai operasi (tindakan) dalam organisasi. Tujuan tersebut meliputi 2 tahap:

1. Melindungi kepentingan organisasi termasuk menujukkan kelemahan yang ada dalam organisasi sebagai dasar untuk diambil tindakan perbaikan.
2. Meningkatkan pengamanan kepentingan organisasi, termasuk usul-usul tentang perubahan untuk memperbaiki berbagai tahap dari aktifitas dalam perusahaan.
Menurut Muljono (1999:6), “tujuan audit yang pokok adalah
untuk memberikan jasa kepada management yang bersifat protektif dan
konstruktif”. Adapun menurutnya sifat protektif dari kegiatan audit dapat
berupa :
1. Pengamanan atas harta kekayaan bank, dalam pengertian di sini tentu termasuk pula pengamanan atas assets / aktiva / harta bank itu sendiri, atas pendapatan bank dalam segala bentuk yang seharusnya diterima dalam jumlah dan waktu yang semestinya.
2. Penjagaan harta kekayaan lebih bersifat aktif oleh karena itu lebih cocok dikatakan sebagai upaya penjagaan harta kekayaan dalam bentuk represif.
3. Dipatuhinya kebijakan (policies) management yang telah ditetapkan untuk menghindarkan penyimpangan-penyimpangan, baik dilakukan oleh pihak intern maupun extern.
4. Bentuk lain dari sifat protektif ini yaitu menjaga kebenaran dan ketepatan data administrasi / management information system.
5. Dan tujuan pemeriksaan yang tidak kalah pentingnya yaitu untuk menilai apakah internal control yang diterapkan dalam bank yang bersangkutan telah memadai atau tidak.
Selanjutnya Muljono (1999:7) mengemukakan sifat dari tujuan
audit yang lain yaitu jasa konstruktif bagi manajemen, antara lain berupa
1. Penyampaian umpan balik untuk corective action atas penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan selama pelaksanaan audit tersebut.
2. Mendorong dicapainya target yang telah ditetapkan. 3. Dari hasil auditnya juga akan diketahui strenghtness,
opportunities, weakness dan threat (titik-titik kekuatan, kesempatan-kesempatan usaha, titik kelemahan, dan titik kerawanan yang ada).

4. Dari berbagai saran tersebut tentunya akan memberikan dampak positif yaitu untuk meningkatkan profitability dan efektivitas / efisiensi usaha bank yang bersangkutan.
Dalam melakukan pemeriksaan, auditor internal harus memiliki
ciri yang menurut Tjitrosidojo (2000:189) menyebutkan tujuh ciri yang
harus dimiliki oleh seorang auditor internal yaitu :
1. Ia harus mempunyai pandangan yang luas untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan. Ia harus berpikir sebagai seorang pimpinan organisasi yang tidak terkekang oleh program pemeriksaan atau tradisi.
2. Pandangan yang luas tersebut harus didasarkan pada pertimbangan yang sehat. Dalam mengambil suatu keputusan yang mantap ia harus memperoleh semua fakta yang diperlukan.
3. Pemeriksaan yang modern haruslah percaya pada diri sendiri dan kepada pekerjaannya. Kepercayaan dibuktikan dengan adanya keberanian untuk memasuki bidang pekerjaan baru.
4. Imajinasi merupakan jiwa penggerak kemajuan. 5. Inisiatif adalah kekuatan yang melengkapi gagasan. 6. Sikap Harus memelihara hubungan baik dengan pihak yang
diperiksanya. 7. Kepemimpinan Pemeriksaan harus mempunyai sifat
kepemimpinan yang diperlukan untuk melancarkan kepercayaan dan untuk meransang tindakan.
Berdasarkan uraian diatas, maka syarat minimal yang harus
dimiliki seorang auditor internal setidak – tidaknya meliputi :
1) Pengetahuan yang baik dibidang akuntansi dan auditing.
2) Sikap yang objektif dan independent.
3) Sifat jujur, bijaksana dan mampu bekerja sama.
4) Disamping itu perlu juga pemahamannya tentang rencana
organisasi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan/audit
tidaklah semata-mata ditujukan untuk mencari kesalahan
seseorang/management saja tetapi audit merupakan suatu kegiatan yang
diperlukan secara terus menerus walaupun dalam bank tersebut tidak
terdapat penyimpangan-penyimpangan. Tetapi audit tetap diperlukan
untuk penyampaian jasa-jasa konstruktif dan protektif kepada
management bank.
4. Pengendalian Internal
Sebelumnya istilah yang dipakai untuk pengendalian intern
adalah sistem pengendalian intern, sistem pengawasan intern dan struktur
pengendalian intern. Mulai tahun 2001 istilah resmi yang digunakan IAI
adalah pengendalian intern.
Pengendalian intern menurut Agoes (2004:79) terdiri dari lima
komponen yang saling terkait berikut ini:
a. Lingkungan Pengendalian menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur.
b. Penaksiran Risiko adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana risiko harus dikelola.
c. Aktivitas Pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan.
d. Informasi dan Komunikasi adalah pengidentifikasian, penangkapan, dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan

waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka. e. Pemantauan adalah proses yang menentukan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu.
Unsur-unsur pengendalian intern dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
1. Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern yang lain, menyediakan disiplin dan struktur. Lingkungan pengendalian mencakup hal-hal berikut ini: a. Intergritas dan nilai etika b. Komitmen terhadap kompetensi c. Partisipasi dewan komisaris atau komite audit d. Struktur organisasi e. Pemberian wewenang dan tanggung jawab f. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
2. Penaksiran Resiko Risiko yang relevan dengan pelaporan keuangan mencakup peristiwa dan keadaan intern maupun ekstern yang dapat terjadi dan secara negatif mempengaruhi kemampuan entitas untuk mencatat, mengolah, meringkas dan melaporkan data keuangan

konsisten dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan. Resiko dapat timbul atau berubah karena keadaan berikut ini: a. Perubahan dalam lingkungan operasi b. Personel baru c. Sistem informasi yang baru atau yang diperbaiki d. Teknologi baru e. Lini produk, produk, atau aktivitas baru f. Restrukturisasi korporasi g. Operasi luar negeri h. Standar akuntansi baru 3. Aktivitas Pengendalian Aktivitas pengendalian mempunyai berbagai tujuan dan diterapkan diberbagai tingkat organisasi dan fungsi. Umumnya aktivitas pengendalian yang mungkin relevan dengan audit dapat digolongkan sebagai kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan hal-hal berikut ini: a. Review terhadap kinerja b. Pengolahan informasi c. Pengendalian fisik d. Pemisahan tugas 4. Informasi dan Komunikasi Sistem informasi yang relevan dengan tujuan pelaporan keuangan, yang meliputi sistim akuntansi, terdiri dari metode dan

catatan yang dibangun untuk mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi entitas (baik peristiwa maupun kondisi) dan untuk memelihara akuntabilitas bagi aktiva, utang, dan ekuitas yang bersangkutan. Kualitas informasi yang dihasilkan dari sistem tersebut berdampak terhadap kemampuan manajemen untuk membuat keputusan semestinya dalam mengendalikan aktivitas entitas dan menyiapkan laporan keuangan yang andal. 5. Pemantauan Pemantauan adalah proses penentuan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan ini mencakup penentuan desain dan operasi pengendalian tepat waktu dan pengambilan tindakan koreksi.
Menurut Tawaf (1999:19), mengenai hubungan satuan kerja audit intern dengan pengendalian intern pada perusahaan, khususnya bank adalah sebagai berikut : Satuan Kerja Audit Intern merupakan bagian dari struktur pengendalian intern bank dan merupakan segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan audit dan pelaporan hasil audit mengenai terselenggaranya struktur pengendalian secara terkoordinasi dalam setiap tingkatan manajemen bank.

5. Kedudukan Auditor Internal Berhasil tidaknya suatu auditor internal dalam perusahaan sangat
dipengaruhi oleh kedudukan dalam struktur organisasi perusahaan. Internal auditor hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga memungkinkannya untuk dapat melaksanakan wewenang dan tanggung jawabnya dengan baik serta dapat menjamin kebebasannya.
Kedudukan auditor internal dalam suatu perusahaan merupakan posisi staf. Ini berarti bahwa posisi ini diadakan untuk memberikan informasi, saran dan rekomendasi kepada manajemen yang bertanggung jawab atas pencapaian tujuan perusahaan.
Konflik antara auditor internal dan para manajer sering terjadi disebabkan kedua pihak tidak ada saling pengertian sebagaimana mestinya tentang kedudukan dan pandangan masing-masing. Para manajer menganggap para internal auditor mempunyai pandangan yang terlalu ketat mengenai peraturan dan penilaian transaksi-transaksi, serta bertindak sebagai penyelidik yang sering mencari keterangan tentang penyimpangan-penyimpangan kecil dari prosedur-prosedur yang telah ditetapkan. Sementara ini para auditor internal merasa manajer-manajer tersebut tidak memperhatikan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya dengan baik serta tidak mau menerima saran-saran yang diberikan.
Secara garis besar menurut Agoes (2004:222) ada empat alternatif kedudukan internal auditor dalam struktur organisasi, yaitu:

a. Bagian internal audit berada di bawah direktur keuangan (sejajar dengan bagian akuntansi dan keuangan)
b. Bagian internal audit merupakan staf direktur utama c. Bagian internal audit merupakan staf dari dewan komisaris d. Bagian internal audit dipimpim oleh seorang internal audit
direktur.
Keempat alternatif tersebut dapat dilihat dalam gambar 2.1, 2.2,
2.3, dan gambar 2.4 berikut ini.

Internal audit di bawah direktur keuangan RUPS
Dewan Komisaris Direktur Utama Direktur Keuangan

Bagian Akuntansi

Bagian Keuangan

Bagian Internal Audit

Gambar 2.1 Internal audit dibawah Direktur Keuangan Gambar diatas memperlihatkan bahwa bagian audit internal berkedudukan sejajar dengan bagian keuangan dan bagian akuntansi. Bagian audit internal sepenuhnya bertanggung jawab kepada direktur keuangan. Kelemahan dari kedudukan ini adalah bahwa ruang lingkup pemeriksaan internal auditor menjadi lebih sempit hanya ditekankan pada pengendalian atas bagian keuangan saja. Jika dikaitkan dengan independensi, maka tingkat kebebasan internal auditor terbatas dan sempit. Keuntungan posisi ini adalah laporan internal auditor dapat segera dipelajari dan ditanggap.

Internal audit merupakan staf direktur utama bertanggungjawab langsung kepada direktur utama
RUPS

Dewan Komisaris Direktur Utama Direktur Keuangan

Bagian Internal Audit

Bagian Akuntansi

Bagian Keuangan

Bagian Anggaran

Gambar 2.2 Internal audit merupakan Staf Direktur Utama
Gambar diatas memperlihatkan bahwa kedudukan internal audit merupakan staf direktur utama. Dalam hal ini auditor internal mempunyai tingkat independensi yang tinggi, karena auditor internal dapat melakukan pemeriksaan ke seluruh bagian, kecuali pimpinan perusahaan atau direktur utama. Kelemahan fungsi auditor internal pada struktur ini, bahwa direktur utama mempunyai tugas yang banyak, sehingga direktur utama tidak dapat mempelajari hasil internal audit

secara mendalam, sehingga tindakan perbaikan yang diperoleh tidak dapat diambil dengan segera.

Internal audit merupakan staf dewan komisaris RUPS

Dewan Komisaris Direktur Utama Direktur Keuangan

Bagian Internal Audit

Bagian Akuntansi

Bagian Keuangan

Bagian Anggaran

Gambar 2.3 Internal audit merupakan Staff Dewan Komisaris
Gambar diatas memperlihatkan bahwa bagian auditor internal berfungsi sebagai dewan komisaris, dan posisinya berada diatas direktur utama. Kedudukan ini, memberikan tingkat independensi yang tinggi sekali karena internal auditor dapat memeriksa seluruh aspek organisasi.
Kelemahannya bahwa dewan komisaris, tidak setiap saat bisa ditemui, juga mungkin kurang menguasai masalah operasi sehari-hari

sehingga tidak dengan cepat dapat mengambil tindakan atau menanggapi saran-saran yang diajukan oleh internal auditor untuk pencegahan dan perbaikan.
Internal audit dipimpin oleh seorang direktur internal audit
Internal Audit Director
Executive Secretary

Supervisor of Computer Auditing

Quality Assurance Supervisor

Supervisor of Auditing

Senior EDP Auditor EDP Auditor

Audit Secretary

Computer Audit Specialist

Senior Auditor

Lead Auditor

Staff Auditor

Gambar 2.4 Internal audit dipimpin oleh seorang Direktur Internal Audit

Gambar diatas memperlihatkan bahwa kedudukan bagian auditor internal dipimpin oleh direktur internal audit. Direktur internal audit mengarahkan personil dan aktivitas-aktivitas departemen audit intern dan mempunyai tanggung jawab terhadap program dan pelatihan staff audit. Direktur audit intern mempunyai akses yang bebas terhadap ketua dewan komisaris. Tanggung jawab direktur audit intern adalah menyiapkan rencana tahunan untuk pemeriksaan semua unit perusahaan dan menyajikan program tersebut untuk persetujuan. Auditing supervisor membantu direktur audit intern dalam mengembangkan audit program tahunan dan membantu dalam mengkoordinasi usaha audit dengan akuntan publik agar memberikan cakupan audit yang sesuai tanpa duplikasi usaha. Senior auditor menerima audit program dan instruksi untuk area audit yang ditugaskan dari auditing supervisor. Senior auditor mempunyai staf auditor dalam pekerjaan lapangan audit. Staff auditor melaksanakan tugas audit pada suatu lokasi audit.
Kedudukan ini, kelemahannya adalah ketika direktur internal audit tidak dapat mengelola departemen audit intern dengan baik, sehingga pekerjaan audit tidak dapat memenuhi tujuan umum dan tanggung jawab yang telah disetujui manajemen, sumber daya dari departemen audit intern tidak digunakan secara efisien dan efektif.

6. Independensi Auditor Internal Profesionalisme membawa konsekuensi segudang tanggung
jawab. Bukan pekerjaan yang membuat profesional, melainkan semangat dalam mengerjakannya. Profesional sejati akan menaati kode etik yang bisa jadi menimbulkan kesulitan dalam mengambil keputusan pribadi, sebuah kondisi yang nyata bagi profesi di bidang hukum, kedokteran, dan akuntansi, dibandingkan profesi-profesi lainnya. Hal ini juga berlaku bagi auditor internal yang ingin menjadi anggota sebuah profesi.
Auditor internal yang profesional harus memiliki independensi untuk memenuhi kewajiban profesionalnya, memberikan opini yang objektif, tidak bias, dan tidak dibatasi, dan melaporkan masalah apa adanya, bukan melaporkan sesuai dengan keinginan eksekutif atau lembaga, auditor internal harus bebas dari hambatan dalam melaksanakan auditnya. Hanya dengan begitu auditor internal bisa disebut melaksanakan audit dengan profesional.
Mautz dan Sharaf (dalam Sawyer dkk 2005:35) memberikan beberapa indikator independensi profesional. Indikator tersebut diperuntukkan bagi akuntan publik, tetapi konsep yang sama dapat diterapkan untuk auditor internal yang bersikap objektif. Indikatorindikatornya adalah:
1. Independensi dalam Program audit : a. Bebas dari intervensi manajerial atas program audit b. Bebas dari segala intervensi atas prosedur audit c. Bebas dari segala persyaratan untuk penugasan audit selain yang memang disyaratkan untuk sebuah proses audit.

2. Independensi dalam verifikasi: a. Bebas dalam mengakses semua catatan, memeriksa aktiva, dan karyawan yang relevan dengan audit yang dilakukan. b. Mendapatkan kerja sama yang aktif dari karyawan manajemen selama verifikasi audit. c. Bebas dari segala usahamanajerial yang berusaha membatasi aktivitas yang diperiksa atau membatasi pemerolehan bahan bukti. d. Bebas dari kepentingan pribadi yang menghambat verifikasi audit.
3. Independensi dalam pelaporan: a. Bebas dari perasaan wajib memodifikasi dampak atau signifikansi dari fakta-fakta yang dilaporkan. b. Bebas dari tekanan untuk tidak melaporkan hal-hal yang signifikan dalam laporan audit. c. Menghindari penggunaan kata-kata yang menyesatkan baik secara sengaja maupun tidak sengaja dalam melaporkan fakta, opini, dan rekomendasi dalam interpretasi auditor. d. Bebas dari segala usaha untuk meniadakan pertimbangan auditor mengenai fakta atau opini dalam laporan audit internal.
7. Laporan Auditor Internal
Hasil akhir dari pelaksanaan audit internal dituangkan dalam
suatu bentuk laporan tertulis kepada manajemen. Laporan tersebut
merupakan suatu alat dan kesempatan bagi auditor internal untuk
menarik perhatian manajemen mengenai manfaat dari internal auditor
Departement (IAD), apa saja yang sudah dan dapat dikerjakan IAD, hal
penting apa saja yang terjadi di perusahaan dan memerlukan perhatian
dan tindakan perbaikan dari manajemen.
Menurut Agoes (2004:217) untuk dapat menyusun laporan
dengan baik dan agar dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca, maka
ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman dalam
menyampaikan laporan:

a. Objective b. Clear (jelas) c. Concise (singkat tetapi padat) d. Constructive (membangun) e. Timely (tepat waktu).
Kriteria diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Objective
Pembaca mengharapkan penyajian hasil yang terus terang dan berdasarkan fakta. Bila auditor melindungi, mengkualifikasi atau menutupi temuan penting akan menjengkelkan pembaca yang mencari kesimpulan dan rekomendasi. b. Clear (jelas) Setiap laporan harus menggunakan suatu strategi yang tepat untuk informasi penting yang akan disajikan, bahasa laporan harus kreatif, kata-kata yang dipilih dan susunannya harus mencerminkan tingkat kepentingan yang berfariasi diantara item yang disajikan. c. Concise (singkat tetapi padat) Kalimat-kalimat harus dibuat secara singkat dan ringkas mengenai ide-ide penting. Penjelasan yang terlalu panjang dan sangat rinci akan membingungkan pembaca.

d. Constructive (membangun)
Pembaca tidak membaca secara sederhana, sekedar untuk
menemukan kesalahan, tetapi lebih jauh lagi untuk mempelajari
tindak lanjut pemecahan.
e. Timely (tepat waktu)
Nilai laporan audit secara langsung berhubungan dengan
kecepatan informasi.
Menurut Sawyer dkk (2005:36)
Kode etik dan standar praktik profesional Audit Internal dari Ikatan Auditor Internal (Institute of internal auditors-IIA) memberikan mekanisme bagi auditor untuk melaporkan hasil audit, temuan, opini, atau informasi yang diperoleh selama audit, tanpa harus melapor ke pihak-pihak di luar organisasi”. Mekanisme tersebut mencakup pelaporan ketingkat manajemen yang berwenang, komite audit, atau dewan direksi.
Pada kebanyakan organisasi, manajemen berfungsi dan membuat
keputusan berdasarkan laporan yang diterima. Oleh karena itu, laporan
haruslah tepat waktu, akurat, bermakna, dan ekonomis. Menurut Sawyer
dkk (2005:81) beberapa prinsip untuk menetapkan sistem pelaporan
(reporting) internal yang efektif adalah sebagai berikut:
a. Laporan harus dibuat sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
b. Individu-individu atau unit-unit harus diminta melaporkan hal-hal yang menjadi tangung jawabnya.
c. Biaya mengakumulasi data dan menyiapkan laporan harus dibandingkan dengan manfaat yang akan didapat.
d. Laporan harus sederhana mungkin, dan konsisten dengan sifat subjek yang menjadi masalah. Laporan harus berisi informasi yang melayani kebutuhan pengguna. Klasifikasi dan terminologi

umum harus digunakan sebanyak mungkin untuk menghindari kebingungan. e. Sedapat mungkin laporan kinerja memperhatikan perbandingan dengan standar biaya kualitas dan kuantitas yang ditetapkan. Biaya-biaya yang bisa dikendalikan harus dipisahkan. f. Jika kinerja tidak bisa dilaporkan secara kuantitatif, laporan yang dirancang untuk menekankan pengecualian atau hal-hal lain yang membutuhkan perhatian manajemen. g. Agar bisa bermanfaat maksimal, laporan haruslah tepat waktu. Laporan yang tepat waktu yang sebagian didasarkan pada estimasi bisa jadi lebih berguna dibandingkan laporan yang lebih tepat tetapi terlambat. h. Penerimaan laporan harus ditanyakan secara periodik untuk mengetahui apakah mereka masih membutuhkan laporan yang diterima atau apakah ada yang bisa diperbaiki dari laporan tersebut.
Jika dalam pelaksanaan audit, auditor internal menemukan hal-hal
penting yang perlu segera dilaporkan kepada manajemen, agar bisa
segera dilakukan tindakan perbaikan oleh manajemen, maka hal tersebut
akan disampaikan dalam bentuk informal report.
Informal reports bisa disampaikan secara lisan, (melalui telepon
atau dalam rapat/pertemuan khusus) atau secara tertulis. Walaupun
disampaikan secara lisan, sebaiknya didukung oleh data atau bukti
tertulis atau catatan ringkas.
Menurut Tugiman (1997:191) laporan pemeriksaan baik apabila
memenuhi empat kriteria mendasar, yaitu:
1. Objektivitas Suatu laporan pemeriksaan yang objektif membicarakan pokok persoalan dalam pemeriksaan, bukan perincian prosedural atau hal-hal lain yang diperlukan dalam proses pemeriksaan.
2. Kewibawaan Laporan pemeriksaan harus dapat dipercaya dan mendorong para pembacanya menyetujui substansi yang terdapat di dalam laporan

tersebut. Dipandang dari hal tesebut, kewibawaan merupakan inti pemeriksaan dan penulisan laporan pemeriksaan yang efektif. 3. Keseimbangan Laporan pemeriksaan yang seimbang adalah laporan yang memberikan gambaran tentang organisasi atau aktivitas yang ditinjau secara wajar dan realistik. Keseimbangan memperlakukan auditee sebagaimana pegawas internal ingin diperlakukannya seandainya mereka bertukar peran. 4. Penulisan yang profesional Selain harus objektif, berwibawa, dan seimbang, laporan pemeriksaan harus ditulis secara profesional agar penulisan tersebut efektif.
Menurut Tugiman (1997:202) Laporan pemeriksaan yang ditulis
secara profesional memperhatikan beberapa unsur, yaitu
a. Struktur Kualitas suatu laporan pemeriksaan akan sangat tergantung pada struktur laporan tersebut. Apabila suatu laporan pemeriksaan memiliki struktur salah, tidak akan ada hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu laporan sebelum persoalan tersebut diatasi.
b. Kejelasan Sebuah laporan pemeriksaan akan dianggap mempunyai kejelasan apabila dapat dipahami secara mudah. Auditor Internal harus terlebih dahulu memahami hal yang menjadi pokok bahasan sebelum dapat menuliskannya secara jelas dalam laporan pemeriksaan.
c. Keringkasan Laporan pemeriksaan yang ringkas adalah laporan pemeriksaan yang lengkap namun tidak bertele-tele. Laporan tersebut langsung dan tetap membicarakan pokok bahasan tersebut.
d. Nada Laporan Dalam laporannya, pengawas internal sebaiknya tidak memberikan perintah meminta, memberikan instruksi, menolak, menyetujui, menyangkal, membela, mendesak, mendorong, membesarkan atau mengecilkan hati, mengkritik, ataupun memuji
e. Pengeditan Pengeditan yang sempurna sangatlah penting karena menunjukkan bahwa pengawas internal sangat memperhatikan hasil perkerjaannya

8. Standar Audit Internal Standar audit intern diperlukan sebagai dasar untuk mengukur
apakah pelaksanaan pekerjaan audit intern telah memadai atau tidak. Dengan bekerja mengikuti standar, auditor dapat mempertahankan diri dari tuduhan akan pelaksanaan audit yang tidak memadai.
The Institute of Internal Auditor (IIA) merupakan asosiasi profesi internasional yang telah diakui di dunia. IIA mengembangkan pedoman pelaksanaan audit intern yaitu International Standards for The Professional Practice of Internal Auditing.
Sesuai dengan yang dipublikasikan IIA, tujuan Standar tersebut adalah untuk : 1. Menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang mencerminkan praktik
audit internal yang seharusnya dilakukan. 2. Memberikan kerangka kerja untuk melaksanakan dan
meningkatkan lingkup aktivitas audit internal yang bernilai tambah. 3. Menetapkan dasar pengukuran kinerja audit internal. 4. Membantu perkembangan proses organisasional dan operasi.
International Standards for The Professional Practice of Internal Auditing terdiri dari tiga bidang utama yaitu standar atribut, standar kinerja, dan standar implementasi. Standar atribut menjelaskan

karakteristik organisasi dan individu yang melakukan kegiatan audit intern.
Standar kinerja menjelaskan sifat aktivitas audit intern dan kriteria kualitas untuk menilai kinerjanya. Standar atribut dan standar kinerja berlaku untuk audit intern secara umum, sedangkan standar implememtasi lebih rinci dan memfokuskan pada penerapan langsung atas situasi khusus.
Pada perbankan di Indonesia, Bank Indonesia telah secara tegas membuat suatu standar untuk para internal auditnya dengan memberlakukan SPFAIB (Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank).

B. Kerangka Konseptual
Internal Auditor
Pengendalian Internal yang Baik
Gambar 2.5 Kerangka Konseptual
Internal auditor merupakan suatu aktivitas penilaian yang berbeda atas data akuntansi dan aktivitas lainnya yang dilakukan oleh pegawai perusahaan itu sendiri dengan maksud membantu manajemen dalam penyediaan informasi. Dalam melaksanakan auditnya seorang internal auditor melaporkan hasil audit, namun terkadang terdapat masalah ketidakselarasan antara prosedur yang dibuat oleh manajemen dengan kepentingan bisnis dari perusahaan. Sehingga, peran serta internal auditor sangat berpengaruh dalam meningkatkan efektifitas pengendalian internal yang baik dalam perusahaan.

BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian Dalam hal penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif yang
akan menjelaskan keadaan dan karakteristik sebenarnya dari suatu objek penelitian berdasarkan informasi yang diperoleh.
B. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penulisan skripsi antara lain : 1. Data Primer Data primer yaitu data yang diperoleh dan dikumpulkan dengan cara melakukan penelitian secara langsung pada objek penelitian melalui wawancara maupun observasi untuk memperoleh data yang diperlukan berkaitan dengan masalah penelitian. 2. Data Sekunder Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk yang sudah siap diolah dan diperoleh langsung dari objek penelitian,

seperti struktur organisasi perusahaan, sejarah perusahaan dan laporanlaporan yang berkaitan dengan penelitian ini.
C. Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut: 1. Wawancara Teknik wawancara yaitu dilakukan dengan cara tanya jawab secara langsung dengan pihak perusahaan, khususnya pada bagian yang berkaitan dengan penelitian seperti Ketua Tim Audit dan Anggota Tim Audit atau disebut dengan ORO. Data yang diperoleh adalah data primer. 2. Observasi Teknik observasi yaitu dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti untuk memperoleh data yang jelas berkaitan dengan penelitian. Hasil observasi tersebut adalah data sekunder seperti struktur organisasi, sejarah singkat perusahaan yang diperoleh dari PT. Bank Permata, Tbk. Cabang Medan.
D. Teknik Analisis Data Analisa data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yaitu suatu
metode analisa data dimana data dikumpulkan, disusun, diinterpretasikan,

dianalisa sehingga memberikan keterangan bagi pemecahan masalah yang dihadapi tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis.
E. Jadwal dan Lokasi Penelitian Penelitian dimulai oleh penulis pada bulan Oktober 2014 sampai dengan
selesai, yang dilakukan di Kantor PT. Bank Permata, Tbk. Cabang Medan.

BAB IV HASIL PENELITIAN
E. Data Pene

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23