Gambaran Strategi Coping Stres pada Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki di Tanah Gayo

(1)

GAMBARAN STRATEGI COPING STRES PADA IBU YANG

TIDAK MEMILIKI ANAK LAKI-LAKI DI TANAH GAYO

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh :

RAHMIATI TAGORE PUTRI 051301008

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


(2)

SKRIPSI

GAMBARAN COPING STRES PADA IBU YANG TIDAKMEMILIKI ANAK LAKI-LAKI DI TANAH GAYO

Dipersiapkan dan disusun oleh :

RAHMIATI TAGORE PUTRI 051301008

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada Tanggal 30 Juni 2012

Mengesahkan, Dekan Fakultas Psikologi

Prof. Dr. Irmawati, psikolog 195301311980032001

Tim Penguji

1. Rika Eliana, M.Psi, psikolog Penguji I / Pembimbing

NIP. 196609092002012001 ______________

2. Meutia Nauly, M.Si Penguji II

NIP. 196711272000032001 ______________

3. Ari Widiyanta, M.Si, psikolog Penguji III


(3)

Gambaran Strategi Coping Stres pada Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki di Tanah Gayo

ABSTRAK

Pada suku Gayo kedudukan dan peranan wanita dianggap penting, mereka dianggap sebagai sumber awal terjadinya kehidupan. Setia wanita Gayo dituntut untuk melahirkan keturunan laki-laki, karena bagi suku Gayo laki-laki adalah penerus garis keturunan. Pada suku Gayo kedudukan dan peranan wanita atau ibu yang tidak memiliki anak laki-laki akan terancam, atau mereka akan kehilangan kedudukan dan peranannya dalam rumah tangga dan keluarganya.

Para ibu yang tidak memiliki laki-laki di tanah Gayo akan mengalami tekanan yang bersifat negatif baik secara internal maupun secara eksternal. Tekanan yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi stres. Kedaan yang diakibatkan oleh stres seringkali menimbulkan perasaan tidak nyaman. Oleh karena itu perlu dilakukan sesuatu untuk mengurangi stres yang disebut dengan coping.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran strategi coping stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo yang menggunakan teori coping stres dari Lazarus & Folkman. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan metode studi kasus kolektif dengan jumlah responden sebanyak 2 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuntutan memiliki anak laki-laki yang menjadi sumber stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo. Secara umum coping stres yang digunakan responden adalah sama, tetapi faktor yang mempengaruhi strategi coping stres pada masing-masing responden berbeda. Kata Kunci : Coping Stres, Faktor yang Mempengaruhi Strategi coping stres dan Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki di Tanah Gayo.


(4)

Gambaran Strategi Coping Stres pada Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki di Tanah Gayo

ABSTRACT

At the Gayo tribe status and role of women is important, they are regarded as the initial source of life. Faithful women Gayo required to bear male offspring, because the Gayo tribe of men is the successor to the lineage. At the Gayo tribe status and role of women or mothers with no sons will be threatened, or they will lose their position and role in the household and family.

Mothers who did not have men on the ground Gayo will experience a negative pressure both internally and externally. The pressure that is not well managed will become stressed. Kedaan caused by stress often leads to feelings of discomfort. Therefore, something needs to be done to reduce stress called coping.

This study aims to see the picture of stress coping strategies for women who do not have a son on the ground Gayo using stress coping theory of Lazarus & Folkman. Retrieval of data in this study using a collective case study method with a number of respondents by 2 people. The results showed that the prosecution had a boy who becomes a source of stress in mothers with no sons in the land of Gayo. In general, the respondents stress coping used is the same, but the factors that influence stress coping strategies in each different respondents.

Keywords: Coping with Stress, Factors Influencing the stress and coping strategies Mothers Have No Boys in the Land of Gayo


(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Strategi Coping Stres pada Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki di Tanah Gayo” ini. Shalawat dan salam juga peneliti haturkan pada junjungan besar Nabi Muhammad SAW. Penulisan skripsi ini agar peneliti mencapai derajat Sarjana S-1 Psikologi di bidang Psikologi Sosial pada Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Terimakasih yang tak terhingga penulis ucapkan kepada Ama dan Ine, Adik-adik dan Anak tercinta yang selalu memberi do’a, perhatian, semangat, kasih sayang dan harapan. Semoga dengan selesainya skripsi ini bisa menjadi awal kebangkitan kita sekeluarga Amin ya Rabbal Alamin.

Saya menyadari bahwa penelitian ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari banyak pihak. Untuk itu, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Ibu Rika Eliana, M. Psi., selaku pembimbing yang telah bersedia memberikan waktu, tenaga dan pemikiran untuk membimbing saya dengan sabar dan memberikan semangat yang berarti bagi penyelesaian skripsi ini. Terima kasih ya bu, saya mendaptkan banyak pelajaran sarat makna dari ibu.

2. Ibu Prof. Dr. Irmawati, selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara .

3. Ibu Meutia Nauly, M. Psi, selaku Ketua Departemen Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara dan penguji saya, Pak Ari Widiyanta, M.Si, psi selaku staff depatemen sosial dan penguji saya, terima kasih atas bimbingan, saran, dan arahan yang diberikan kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini.


(6)

4. Ibu Josetta M. R. Tuapattinaja, M.Si, selaku pembimbing akademik saya, terima kasih atas bimbingan dan saran yang telah diberikan pada saya.

5. Berizin ari ate pada Mr. Slow yang telah menjadi sumber semangat di detik-detik terakhir ini (So, kapan? Hehehhehe).

6. Berizin juga Bang Win yang telah menjadi abang terbaik dan terimakasih pada teman-teman Peduli Bener Meriah yang selalu ada selama skripsi ini di proses.

7. Seluruh staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Terima kasih atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada saya.

8. Ibu-ibu yang bersedia menjadi responden saya, terimakasih banyak atas kesediannya.

9. Semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti menyampaikan terima kasih atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan.

Penulis berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan saudara-saudara semua. Akhir kata, saya menyadari betapa penelitian ini tidaklah sempurna, oleh karena itu saya menerima masukan dan saran yang membangun untuk kebaikan skripsi ini. Terima kasih.

Medan, Juni 2012


(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 9

E. Sistematika Penulisn ... 10

BAB II. LANDASAN TEORI ... 12

A. Coping Stres ... 12

1. Defenisi Stres ... 12

2. Defenisi Coping Stres ... 14

3. Strategi Coping Stres ... 15

4. Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping ... 18

B. Gayo ... 19

1. Sejarah Gayo ... 19

2. Masyarakat Gayo ... 20

3. Tradisi Gayo... 20

4. Sistem Kekerabatan Masyarakat Gayo ... 22


(8)

D. Paradigma Penelitian ... 26

BAB III. METODE PENELITIAN ... 27

A. Pendekatan Kualitatif ... 27

B. Responden Penelitian ... 28

C. Metode Pengumpulan Data ... 28

D. Alat Bantu Pengumpulan Data ... 29

E. Kredibilitas Penelitian ... 30

F. Prosedur Penelitian ... 31

BABIV. HASIL ANALISA DATA DAN INTERPRETASI ... 38

A. Responden I ... 38

B. Responden II ... 44

C. Diskusi ... 48

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 59

A. Kesimpulan ... 51

B. Saran ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... v

LAMPIRAN ... viii

A. Pedoman Wawancara ... viii


(9)

Gambaran Strategi Coping Stres pada Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki di Tanah Gayo

ABSTRAK

Pada suku Gayo kedudukan dan peranan wanita dianggap penting, mereka dianggap sebagai sumber awal terjadinya kehidupan. Setia wanita Gayo dituntut untuk melahirkan keturunan laki-laki, karena bagi suku Gayo laki-laki adalah penerus garis keturunan. Pada suku Gayo kedudukan dan peranan wanita atau ibu yang tidak memiliki anak laki-laki akan terancam, atau mereka akan kehilangan kedudukan dan peranannya dalam rumah tangga dan keluarganya.

Para ibu yang tidak memiliki laki-laki di tanah Gayo akan mengalami tekanan yang bersifat negatif baik secara internal maupun secara eksternal. Tekanan yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi stres. Kedaan yang diakibatkan oleh stres seringkali menimbulkan perasaan tidak nyaman. Oleh karena itu perlu dilakukan sesuatu untuk mengurangi stres yang disebut dengan coping.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran strategi coping stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo yang menggunakan teori coping stres dari Lazarus & Folkman. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan metode studi kasus kolektif dengan jumlah responden sebanyak 2 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuntutan memiliki anak laki-laki yang menjadi sumber stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo. Secara umum coping stres yang digunakan responden adalah sama, tetapi faktor yang mempengaruhi strategi coping stres pada masing-masing responden berbeda. Kata Kunci : Coping Stres, Faktor yang Mempengaruhi Strategi coping stres dan Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki di Tanah Gayo.


(10)

Gambaran Strategi Coping Stres pada Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki di Tanah Gayo

ABSTRACT

At the Gayo tribe status and role of women is important, they are regarded as the initial source of life. Faithful women Gayo required to bear male offspring, because the Gayo tribe of men is the successor to the lineage. At the Gayo tribe status and role of women or mothers with no sons will be threatened, or they will lose their position and role in the household and family.

Mothers who did not have men on the ground Gayo will experience a negative pressure both internally and externally. The pressure that is not well managed will become stressed. Kedaan caused by stress often leads to feelings of discomfort. Therefore, something needs to be done to reduce stress called coping.

This study aims to see the picture of stress coping strategies for women who do not have a son on the ground Gayo using stress coping theory of Lazarus & Folkman. Retrieval of data in this study using a collective case study method with a number of respondents by 2 people. The results showed that the prosecution had a boy who becomes a source of stress in mothers with no sons in the land of Gayo. In general, the respondents stress coping used is the same, but the factors that influence stress coping strategies in each different respondents.

Keywords: Coping with Stress, Factors Influencing the stress and coping strategies Mothers Have No Boys in the Land of Gayo


(11)

BAB I

PENDAHULUAN

I. A LATAR BELAKANG

Pada suku Gayo kedudukan dan peranan wanita dianggap penting, suku Gayo menganggap wanita sebagai sumber awal terjadinya kehidupan (Mahmud Ibrahim, 2005). Setiap wanita Gayo dituntut untuk melahirkan keturunan laki-laki, karena bagi suku Gayo laki-laki adalah penerus garis keturunan (Halim Tosa, 2000). Tentunya hal ini menimbulkan tekanan bagi setiap wanita Gayo untuk bisa memiliki anak laki-laki.

Masyarakat Gayo menganut sistem kekerabatan patrilineal yaitu bersifat kebapaan (Prodjodikoro, 2000), pada prinsipnya sebagai sistem ini adalah sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan ayah atau garis keturunan nenek moyangnya yang laki-laki. Anak lelaki peranannya sangat penting, dalam sistem kekerabatannya, penempatan anak lelaki pada tempat yang penting bisa dipahami, karena anak lelaki sebagai penerus keturunan dan gelar kebangsawan di daerah Gayo, di samping erat hubungannya dengan agama Islam. Oleh karena itu pada suku Gayo kedudukan dan peranan seorang wanita atau ibu yang tidak memiliki anak laki-laki akan terancam, atau mereka akan kehilangan kedudukan dan peranannya dalam rumah tangga dan keluarganya (Halim Tosa, 2000). Pada pernikahan yang tidak menghasilkan keturunan laki-laki akan menimbulkan dampak negatif pada pernikahan tersebut, pihak keluarga suami merasa berhak untuk meminta suami menikah lagi dengan wanita lain agar mendapatkan


(12)

keturunan laki-laki. Dampak lainnya adalah harta bersama selama pernikahan yang diperoleh suami dan istri selama pernikahan, sebagian akan dibagikan dengan pihak keluarga suami (masyarakat Gayo menyebutnya “hak wali”) (Mahmud Ibrahim, 2005).

Pada dasarnya dalam pernikahan adat Gayo yang tidak menghasilkan keturunan laki-laki, biasanya yang dianggap bersalah adalah pihak perempuan. Para ibu yang tidak memiliki anak laki-laki akan mengalami tekanan saat berada ditengah-tengah keluarga suami mereka, mereka tetap harus mematuhi apa yang menjadi tradisi dalam keluarga suami mereka. Tekanan yang mereka alami misalnya peran mereka sangat kecil, kesempatan untuk berpendapat di bandingkan anggota keluarga yang lain sangat kurang (Halim Tosa, 2000)

Para ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di Gayo akan merasakan adanya tekanan negatif sebagai dampak dari adat Gayo yang menekankan pentingnya anak laki-laki. Menimbulkan perasaan tidak nyaman ibu ketika suaminya diminta untuk menikah lagi, ketika harta bersama mereka harus dibagikan pada keluarga suami dan muncul juga perasaan tidak dianggap pada ibu saat berada di tengah keluarga suami. Halim Tosa (2000) menyatakan sistem patrilineal yang di anut oleh masyarakat Gayo secara tidak langsung menimbulkan dampak negatif atau tekanan bagi wanita atau ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di Gayo. Situasi ini akan menimbulkan keadaan yang tidak nyaman dan tertekan pada ibu tersebut atau yang sering dikenal dengan istilah stres. Stres adalah suatu keadaan tertekan yang dialami seseorang baik secara fisik maupun psikologis (Chaplin, 1999).


(13)

Stres disebabkan oleh faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan terjadinya respon stres atau biasa disebut stressor. Stressor dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, maupun sosial dan juga muncul pada situasi kerja, di rumah, dalam kehidupan sosial, dan lingkungan luar lainnya. Menurut Lazarus & Folkman (1986) stressor dapat berwujud atau berbentuk fisik (seperti polusi udara) dan dapat juga berkaitan dengan lingkungan sosial (seperti interaksi sosial). Pikiran dan perasaan individu sendiri yang dianggap sebagai suatu ancaman baik yang nyata maupun imajinasi dapat juga menjadi stressor.

Stres yang tidak diatasi dengan baik biasanya berakibat pada ketidakmampuan seseorang untuk berinteraksi secara positif dengan lingkungannya. Keadaan yang diakibatkan oleh stres tersebut seringkali menimbulkan perasaan tidak nyaman. Situasi penuh tekanan atau stres ini memang tidak bisa dihindari, namun harus disikapi dengan tepat agar bisa tetap sehat secara fisik dan psikologis.

Menurut Cooper Cary & Straw Alison (1995) gejala stres dapat berupa tanda-tanda berikut ini:

1. Fisik, yaitu nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot-otot tegang, pencernaan terganggu, sembelit, letih yang tidak beralasan, sakit kepala, salah urat, gelisah, kondisi tubuh lemah dan gangguan kesehatan lainnya.


(14)

2. Perilaku, yaitu perasaan bingung, cemas dan sedih, jengkel, salah paham, tidak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa, gelisah, gagal, tidak menarik, kehilangan semangat, sulit konsentrasi, sulit berfikir jernih, sulit membuat keputusan, hilangnya kreatifitas, hilangnya gairah dalam penampilan dan hilangnya minat terhadap orang lain.

3. Watak dan kepribadian, yaitu sikap hati-hati menjadi cermat yang berlebihan, cemas menjadi lekas panik, kurang percaya diri menjadi rawan, pendiam, merasa tidak berarti, merasa bersalah, dan penjengkel menjadi meledak-ledak

Beberapa gejala stres diatas dialami oleh kedua responden dalam penelitian ini, misalnya responden I berisinial F, berusia kurang lebih 52 tahun, bekerja sebagai pegawai negeri sipil di sebuah instansi pemerintahan Kabupaten Bener Meriah, Provisi Aceh. F dan suaminya menikah selama hampir 32 tahun, dikaruniai 2 orang anak perempuan yang sudah beranjak dewasa, mereka sama-sama bersuku Gayo dan menetap di tanah Gayo. Sejak awal pernikahan F diperlakukan kurang baik oleh keluarga suaminya, karena sebelum menikah dengan F, keluarga suaminya berniat menjodohkan suami F dengan wanita lain, ditambah lagi setelah menikah F susah hamil, kemudian setelah bertahu-tahun menikah F dan suami hanya memiliki anak perempuan saja, tidak memiliki seorang pun anak laki-laki, hal ini lah yang membuat F semakin diperlakukan tidak baik oleh keluarga suaminya, sehingga mereka meminta suami F menceraikan F dan menikah lagi dengan wanita lain. Semua hal yang dialami F


(15)

adalah dampak negatif karena subjek tidak memiliki anak laki-laki Gayo, sehingga F mengalami stres. Berikut penuturan F :

“...dari situ terus lemah kondisi ibu sampe dirawat di rumah sakit ibu Mi kata dokter ibu ada asam lambung jadi kalo banyak pikiran bisa naek asam lambungnya itu yang menyebabkan kondisi ibu lemah Mi, ada la kadang sebulan baru pulih ibu.” (Wawancara Personal, 20 Mei 2012)

“...pernah la ibu sampe sakit mikirin kelakuan orang tu Mi.” (Wawancara Personal 20 Mei 2012)

“Kalo udah kepikiran kali kadang sampe sakit la Mi, nggak sanggup mikir lagi, apapun rasanya nggak enak, kaya' orang udah kehilangan semangat Mi,...” (Wawancara Personal, 05 Juli 2012)

Dari kutipan di atas terlihat responden I menunjukkan gejala stres berupa tanda fisik. Responden I mengalami gangguan kesehatan seperti kondisi tubuh lemah dan pencernaan terganggu.

Selain itu responden I juga menunjukkan gejala stres secara perilaku, seperti yang dituturkan responden I berikut ini :

“Bohketa nak sedeh pedeh le naseb ku nak, gere inget ken kekanak so mera mate deh aku nak. (Baiklah nak, sedih kali lah nasib ku nak, kalo nggak ingat sama anak-anak lebih baik mati rasanya nak)” (Wawancara Personal, 20 Mei 2012)

“...Sampe sekarang itu yang ibu alami Mi, mau melawan mana mungkin

orang tua kan dosa kita. Nggak dilawan sedih kali hati ni Mi,...” (Wawancara Personal, 20 Mei 2012)

“...Ya Allah kalo dibilang menderita, menderita kali rasanya ibu Mi” (Wawancara Personal, 20 Mei 2012)

“...sedih nya nggak terbilang lah mi, nggak abis pikir ibu nenek tu tega minta bapak nyeraikan ibu.” (Wawancara Personal, 20 Mei 2012)

“...Sedih kali lah kami Mi, kok satu pun lah nggak ada keluarga bapak ni yang mau ngerti perasaan kami, apa orang tu pikir kami ini masi


(16)

anak-anak sampe harus diatur-atur hidupnya?” (Wawancara Personal, 14 Juli 2012)

Dilihat dari kutipan diatas responden I mengalami kesedihan yang sangat dalam, sehingga responden merasa menderita terkadang timbul keinginannya untuk mengakhiri hidupnya. Responden I juga menunjukkan gejala stres berupa perubahan kepribadian seperti yang dituturkan responden I berikut ini :

“Banyak kali pengaruhnya Mi, terbeban kali ibu, kadang ibu juga merasa bersalah Mi, gak berguna kali ibu ni, nggak bisa punya anak laki-laki.” (Wawancara Personal, 20 Mei 2012)

“...apa yang ibu kasi ke mamak ibu kasi juga ke nenek tu, walaupun la kadang nenek tu nggak suka Mi, karena dimatanya ibu ni cuma orang yang nggak berarti.” (Wawancara Personal, 20 Mei 2012)

Dari kutipan diatas terlihat subjek merasa dirinya tidak berarti dan merasa bersalah, hal itu menunjukkan responden I mengalami gejala stres berupa perubahan pada kepribadiannya.

Hal yang hampir sama juga dialami oleh responden II yaitu, berinisial M, seorang ibu rumah tangga yang berusia sekitar 33 tahun. M menikah dengan suaminya yang juga bersuku Gayo selama 14 tahun, mereka di karuniai seorang anak perempuan berusia 10 tahun, sekitar 4 tahun setelah anak pertama M lahir, M melahirkan seorang bayi laki-laki namun sayangnya bayinya meninggal dunia. Hubungan M dengan keluarga suaminya di awal pernikahan mereka baik-baik saja, namun setelah pernikahan mereka berjalan beberapa tahun M mulai mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari keluarga suaminya, hal ini disebabkan karena M dinyatakan susah memiliki anak, perlakuan mereka semakin


(17)

parah setelah bayi laki-laki M meninggal dunia, perlakuan keluarga suaminya mebuat M mengalami stres.

Responden II juga menunjukkan gejala stres berupa tanda fisik, seperti yang dituturkan responden II berikut ini :

“....Kalo lagi sendiri nggak ada kerjaan kepikiran lah kakak dek, kadang sampe keluar air mata ni, nggak abis pikir kakak kok segitunya la mamak tu.” (Wawancara Personal, 12 Mei 2012)

“Gimana mau nanya dek? Akhir-akhir ni kadang kakak bicara pun kaya’ pura-pura nggak denger mamak tu dek, sedih lah kakak dek.” (wawancara Personal, 12 Mei 2012)

“Gimana kakak nggak sedih dek, mamak tu sayang kali sama menantunya yang lain, sama kakak keliatan kali bencinya dek, salah keh kakak nggak bisa punya anak laki-laki dek?....” (Wawancara Personal, 12 Mei 2012) “...Perasaan kakak waktu itu hancur kali lah dek, sedih, marah, kesal, kecewa udah campur aduk dek, mau teriak kakak dek, mau lari kakak pulang ke rumah mamak kakak, sedih nya nggak bisa kakak bilang dek....” (Wawancara Personal, 21 Juli 2012)

Dari kutipan diatas terlihat responden II mengalami gejala stres secara perilaku, terlihat responden mengalami kesedihan yang sangat dalam sehingga perasaan responden menjadi berubah-ubah, kadang sedih, marah, kesal dan kadang kecewa.

Selain itu responden II juga menunjukkan gejala stres berupa perubahan kepribadian, ini terlihat dari penuturan responden II berikut ini :

“Gimana lah kakak nggak mikir gitu dek, dari dulu kan memang nggak ada orang tu yang suka sama kakak, cuma abang lah yang mau bela kakak dek, yang lain tu mana ada. Entah apapun dianggap orang tu kakak dek.” (Wawancara Personal, 21 Juli 2012)

“Bukan lah aneh apa dek, diliat abang tu kakak kaya’ orang bingung, malas-malasan, nggak banyak bicara dek...” (Wawancara Personal, 21


(18)

Dari kutipan di atas terlihat responden merasa dirinya tidak berarti bagi keluarga suaminya, responden juga sempat berubah, menjadi tidak banyak bicara dan terlihat seperti orang kebingungan.

Berdasarkan hasil wawancara di atas terlihat bahwa kedua responden mengalami stres. Ketika stres berkepanjangan tidak segera diatasi, akan mengakibatkan menurunnya produktivitas dan juga menimbulkan gangguan kesehatan. Oleh karena itu, manusia perlu melakukan sesuatu untuk mengurangi stres yang disebut juga dengan coping.

Coping merupakan usaha yang dilakukan individu untuk mengatur stres, kesulitan dan tantangan yang dialaminya (Blair, 1998). Coping dipandang sebagai suatu usaha untuk menguasai situasi tertekan tanpa memperhatikan akibat dari tekanan tersebut. Coping adalah cara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun perilaku.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam mengenai gambaran coping stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di Gayo.

I. B. RUMUSAN MASALAH

Untuk memudahkan penelitian maka perlu dirumuskan masalah apa yang menjadi fokus penelitian. Dalam hal ini peneliti mencoba merumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana gambaran strategi coping stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo, yang mencakup :


(19)

1. Bagaimana gambaran strategi coping stres yang dilakukan ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo

2. Faktor apa saja yang mempengaruhi strategi coping stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo.

I. C. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui gambaran strategi coping stres yang dilakukan ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo.

2. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi strategi coping stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo.

I. D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan akan membawa 2 (dua) manfaat, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah dapat memberikan kontribusi informasi di bidang Psikologi sosial agar memperkaya hasil penelitian yang telah ada terutama dalam hal gambaran coping stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi masyarakat dan pemerintah

Memberi pengetahuan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, masyarakat Gayo khususnya tentang gambaran coping stress pada ibu yang tidak


(20)

memiliki anak laki-laki dan memberikan masukkan berhubungan dengan sistem adat mereka.

b. Penelitian selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau acuan bagi penelitian selanjutnya khususnya pada penelitian yang berkaitan dengan budaya pada umumnya dan khususnya budaya Gayo dalam perspektif Psikologi Sosial. I. E. SISTEMATIKA PENULISAN

Penelitian ini disajikan dalam beberapa bab dengan sistematika penelitian sebagai berikut :

BAB I : Pendahuluan

BAB I berisi tentang uraian singkat mengenai latar belakang masalah, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian

dan sistematika penelitian. BAB II : Landasan Teori

BAB II berisi teori-teori kepustakaan yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian, antara lain mengenai definisi stres, defenisi coping stres, sumber stres, strategi coping stres, faktor yang mempengaruhi coping stres, sejarah Gayo, masyarakat Gayo, tradisi Gayo, sistem kekerabatan masyarakat Gayo, ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo dan gambaran strategi coping stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di Gayo.


(21)

BAB III : Metode Penelitian

Membahas mengenai pendekatan kualitatif (studi kasus) yang digunakan, termasuk di dalamnya membahas mengenai responden penelitian, metode pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data, prosedur analisa data, kredibilitas penelitan dan lokasi penelitian yang digunakan dalam penelitian.

Bab IV : Analisa Data dan Pembahasan

Berisi deskripsi data, interpretasi data dari hasil wawancara yang dilakukan, dan membahas data-data penelitian tersebut dengan teori yang relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

Berisi kesimpulan yang berisikan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan dan saran yang berisi saran praktis dan saran untuk penelitian lanjutan dengan mempertimbangkan hasil penelitian yang diperoleh, keterbatasan, dan kelebihan penelitian.


(22)

BAB II

LANDASAN TEORI

III. A. COPING STRES

III. A. 1. Defenisi Stres

Stres adalah keadaan atau kejadian yang menimbulkan ketidaknyamanan atau situasi tertekan melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya (Lazarus, 1999). Menurut Atkinson (2000) stres mengacu pada peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Menurut Sarafino (1998), stres muncul akibat terjadinya kesenjangan antara tuntutan yang dihasilkan oleh transaksi yang membuat individu mampu menerima ketidakcocokan diantara tuntutan psikologis dan fisiologis dari situasi dan dari sumber sistem biologis, psikologis atau sosial dari orang tersebut.

Stress adalah tekanan internal maupu eksternal serta kondisi bermasalah lainnya dalam kehidupan (Ridho Hudayana, 2011). Tekanan internal dalam hal ini misalnya, pikiran ibu tentang hal-hal negative yang terjadi jika suaminya menikah lagi dan tekanan eksternal dalam hal ini misalnya hubungan ibu yang kurang baik dengan keluarga suaminya dan adanya konflik dalam keluarga.

Penyebab Stres disebut stressor. Stressor dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, maupun sosial dan juga muncul pada


(23)

situasi kerja, dirumah, dalam kehidupan sosial, dan lingkungan luar lainnya. Istilah stressor diperkenalkan pertama kali oleh Selye (dalam Rice, 1992).

Menurut Lazarus & Folkman (1986) stressor dapat berwujud atau berbentuk fisik dalam hal ini misalnya, kekerasan yang dialami ibu dalam rumah tangga atau masalah ekonomi keluarga dan dapat juga berkaitan dengan lingkungan sosial seperti interaksi sosial dalam hal ini misalnya, masalah adaptasi dengan pasangan, mertua, saudara ipar, konflik peran yang dialami ibu dalam keluarga. Pikiran dan perasaan individu sendiri yang dianggap sebagai suatu ancaman baik yang nyata maupun imajinasi dapat juga menjadi stressor.

Cooper Cary & Straw Alison (1995) mengemukakan gejala stres dapat berupa tanda-tanda berikut ini:

1. Fisik, yaitu nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot-otot tegang, pencernaan terganggu, sembelit, letih yang tidak beralasan, sakit kepala, salah urat, gelisah, kondisi tubuh lemah dan gangguan kesehatan lainnya.

2. Perilaku, yaitu perasaan bingung, cemas dan sedih, jengkel, salah paham, tidak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa, gelisah, gagal, tidak menarik, kehilangan semangat, sulit konsentrasi, sulit berfikir jernih, sulit membuat keputusan, hilangnya kreatifitas, hilangnya gairah dalam penampilan dan hilangnya minat terhadap orang lain.

3. Watak dan kepribadian, yaitu sikap hati-hati menjadi cermat yang berlebihan, cemas menjadi lekas panik, kurang percaya diri menjadi


(24)

rawan, pendiam, merasa tidak berarti, merasa bersalah, dan penjengkel menjadi meledak-ledak

Dalam kondisi seperti ini diperlukan strategi coping stress dalam menghadapi masalah dan konflik tersebut. Lazarus & Folkman (1986) mendefenisikan coping sebagai segala usaha untuk mengurangi stres, yang merupakan proses pengaturan atau tuntutan (eksternal maupun internal) yang dinilai sebagai beban yang melampaui kemampuan seseorang.

III. A. 2. Defenisi Coping Stres

Keadaan yang diakibatkan oleh kondisi stres seringkali menimbulkan perasaan tidak nyaman dan situasi tertekan. Oleh karena itu, manusia termotivasi untuk melakukan sesuatu untuk mengurangi stres yang disebut juga dengan coping. Menurut Taylor (2009) coping didefenisikan sebagai pikiran dan perilaku yang digunakan untuk mengatur tuntutan internal maupun eksternal dari situasi yang menekan. Menurut Stone & Neale (dalam Rice, 1992) coping meliputi segala usaha yang disadari untuk menghadapi tuntutan yang penuh dengan tekanan. Coping merupakan usaha yang dilakukan individu untuk mengatur stres, kesulitan dan tantangan yang dialaminya (Blair, 1998).

Coping stres itu adalah usaha atau strategi dalam mengatasi tuntutan atau tekanan yang menyebabkan stress. Coping adalah suatu tindakan merubah kognitif secara konstan dan merupakan suatu usaha tingkah laku untuk mengatasi tuntutan internal atau eksternal yang dinilai membebani atau melebihi sumber daya yang dimiliki individu. Coping yang dilakukan ini berbeda dengan perilaku


(25)

adaptif otomatis, karena coping membutuhkan suatu usaha, yang mana hal tersebut akan menjadi perilaku otomatis lewat proses belajar. Coping dipandang sebagai suatu usaha untuk menguasai situasi tertekan, tanpa memperhatikan akibat dari tekanan tersebut. Coping yang efektif untuk dilakukan adalah coping yang membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (Lazarus & Folkman, 1986).

Berdasarkan beberapa defenisi Coping menurut beberapa tokoh tersebut, peneliti menyimpulkan coping sebagai upaya individu mengontrol reaksi mereka terhadap stres. Berbicara mengenai coping tidak terlepas dari alasan seseorang untuk melakukannya, dan ini terkait dengan stress yang dialami individu.

III. A. 3 Strategi Coping Stres

Gowan (1999) mendefinisikan strategi coping sebagai upaya yang dilakukan oleh individu untuk mengelola tuntutan eksternal dan internal yang dihasilkan dari sumber stres. Dodds (1993) mengemukakan bahwa pada esensinya, strategi coping

adalah strategi yang digunakan individu untuk melakukan penyesuaian antara sumber-sumber yang dimilikinya dengan tuntutan yang dibebankan lingkungan kepadanya.

Menurut Lazarus & Folkman (1986), dalam melakukan coping, ada dua strategi yang dibedakan menjadi


(26)

Problem focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan.

a) Confrontative coping, usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan resiko.

b) Seeking social support, yaitu usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari orang lain.

c) Planful problem solving, usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang hati-hati, bertahap, dan analitis.

2) Emotion Focused Coping

Emotion focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang dianggap penuh tekanan.

a) Self-control, usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan.

b) Distancing, usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan, seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa atau


(27)

menciptakan pandangan-pandangan yang positif, seperti menganggap masalah sebagai candaan.

c) Positive reappraisal, usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan terfokus pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat religius.

d) Accepting responsibility, usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya, dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. Strategi ini baik, terlebih bila masalah terjadi karena pikiran dan tindakannya sendiri. Namun strategi ini menjadi tidak baik bila individu tidak seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebut.

e) Escape/avoidance, usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum, merokok, atau menggunakan obat-obatan.

Individu cenderung untuk menggunakan problem focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurut individu tersebut dapat dikontrolnya. Sebaliknya, individu cenderung menggunakan emotion focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya sulit untuk dikontrol (Lazarus & Folkman, 1986). Terkadang individu dapat menggunakan kedua strategi tersebut


(28)

secara bersamaan, namun tidak semua strategi coping pasti digunakan oleh individu (Taylor, 2009).

II. A. 3 Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping

Menurut Mutadin (2002) cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi :

a. Kesehatan Fisik

Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar.

b. Keyakinan atau pandangan positif

Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (external locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping.

c. Keterampilan memecahkan masalah

Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.

d. Keterampilan sosial

Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat.


(29)

e. Dukungan sosial

Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya.

f. Materi

Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang-barang atau layanan yang biasanya dapat dibeli.

III. B. GAYO

III. B. 1. Sejarah Gayo

Kata Gayo berasal dari kata : “Pegayon” artinya tempat mata air yang jernih dimana tempat ikan suci hidup. Kebudayaan Gayo telah ada sejak orang Gayo bermukim diwilayah dataran tinggi Gayo dan mulai berkembang pada masa Kerajaan Linge pertama abad-X Masehi. Kebudayaan Gayo meliputi aspek kekerabatan, komunitas sosial, pemerintahan, pertanian, kesenian dan lain-lain. Adat istiadat sebagai unsur kebudayan Gayo menganut prinsip “keramat mupakat

behu berdedele” (kemuliaan karena mufakat, berani karena bersama), “tirus lagu gelas, bulet lagu umut, rempak lagu re, susun lagu belo” (yang artinya tentang persatuan), “nyawa sara pelok, ratip sara anguk” (yang artinya tentang hubungan bathin). Ada banyak lagi kata-kata pelambang yang mengandung makna kebersamaan dan kekeluargan serta keterpaduan, yang merupakan ciri khas masyarakat Gayo (dikutip dari Budaya Aceh, 2000).


(30)

III. B. 2 Masyarakat Gayo

Suku bangsa Gayo mendiami daerah dataran tinggi Gayo atau sering disebut Tanoh Gayo, komunitas masyarakatnya untuk saat ini yang banyak mendiami di lima kabupaten di Aceh yaitu Aceh Tenggara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, dan Gayo Lues. Pada dasarnya suku bangsa Gayo terdiri dari tiga bagian atau kelompok, Gayo laut mendiami daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah, Gayo Lues mendiami daerah Gayo Lues dan Aceh Tenggara serta Gayo Blang mendiami sebagian kecamatan di Aceh Tamiang. Dalam hal hukum adat di kalangan masyarakat Gayo masih memegangnya dengan kuat, seperti

pepatah gayo “murib I kandung adat sedangkan menasa I kandung hukum” yang

artinya “Hidup di dalam adat, mati di dalam Islam” (dikutip dari Suku Gayo 2009).

III. B. 3 Tradisi Gayo

Hurgronje (dalam Aman Asnah, 1996) mengungkapkan bahwa tradisi masyarakat Gayo yang diungkapkan dalam berbagai pepatah dan ungkapan adatnya, jika dilihat sepintas lalu kadang-kadang mengandung pengertian yang mirip teka-teki. Akan tetapi, bagaimanapun juga kata-kata adat itu merupakan pegangan hukum. Sebab dalam sistem budaya (cultural system) Gayo pada dasarnya bermuatan pengetahuan, keyakinan, nilai agama, norma, aturan, hukum yang menjadi acuan bagi tingkah laku dalam kehidupan suatu masyarakat.

Lebih dari itu Hurgronje (dalam Aman Asnah, 1996) juga mengatakan bahwa adat, sebagai pedoman sehari-hari merupakan hasil yang dipraktekkan dari


(31)

pengalaman hidup, dari masalah-masalah yang dihadapi, dari tata cara yang ditemui, yang pada akhirnya dijadikan suatu ketetapan hukum yang terus hidup dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu, adat Gayo sejak zaman dahulu telah bermukim dilubuk hati masyarakatnya, karena para leluhur mereka pada zamannya menjadikan budaya dan adat mereka jadikan panutan dan falsafah hidup mereka, baik dalam hidup beragama, berbangsa dan bernegara, atau dalam arti yang lebih sederhana dalam hidup bermasyarakat (Syukri, 2007)

Mayarakat Gayo memiliki budaya atau adat istiadat sebagai undang-undang dan falsafah hidup mereka. Salah satu ciri khas yang sangat menonjol dari mereka adalah kepribadian yang keras dalam memegang adat-istiadat dan mempertahankan sendi-sendi ajaran agama Islam untuk diaktualisasikan dalam berbagai aspek kehidupan (Syukri, 2007)

Menurut H. Abdullah Husni dalam buku Sarakopat karangan Syukri (2007) sistem yang berlaku di Tanah Gayo adalah suatu sistem berdasarkan hukum adat. Hukum adat tidak tertulis, merupakan pancaran dari hukum islam yang tertulis, berdasarkan Alquran dan Hadis. Hubungan hukum adat dan hukum agama terjalin sangat erat, sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata adat Gayo “Ukum ikanung edet, edet ikanung ukum”. Artinya setiap hukum mengandung adat, dan setiap adat mengandung hukum. Dalam kata lain disebutkan “agama i barat empus, edet i barat peger”. Artinya agama Islam laksana kebun, adat laksana pagar.


(32)

III. B. 4 Sistem Kekerabatan Masyarakat Gayo

Menurut Prodjodikoro (2000) masyarakat Gayo menganut sistem patrilineal (yaitu bersifat kebapaan), dimana pada prinsipnya ini adalah sistem yang menarik garis keturunan ayah atau garis keturunan nenek moyangnya yang laki-laki.

Hurgronje (dalam Aman Asnah, 1996) sistem patrilineal yaitu susunan pertalian menurut garis keturunan lurus bapak, kakek dan seterusnya ke atas. Dalam sistem kekerabatan patrilineal hanya kaum pria yang meneruskan keturunan kepada anak dan keturunannya. Oleh karena itu anak laki-laki sangat didambakan dalam setiap keluarga di Gayo, sebab mereka inilah yang akan meneruskan keturunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Adapun ciri-ciri atau karakteristik patrilineal masyarakat Gayo diantaranya adalah :

1. Berasal dari keturunan lurus bapak, dalam percakapan sehari-hari sering disebut Sara ine (anak yang berasal dari pernikahan ayah dan ibu yang sama).

2. Kesatuan antara anggota-anggota satu belah (clan) dengan sebutan Sara reje (dibawah pimpinan seorang raja).

3. Dilarang melakukan perkawinan anatara anggota yang berasal dari satu belah, apalagi antara anak putra saudara perempuan ayah dengan putri saudara laki-lakinya.


(33)

4. Dalam pembagian harta warisan, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan (Aman Asnah, 1996).

Berdasarkan penjelasan di atas jelas bahwa kehadiran anak laki-laki dalam keluarga Gayo sangatlah penting, jika dalam sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki kemungkinan besar yang dianggap salah adalah para istri atau ibu. Oleh karena itu ibu yang memiliki anak laki-laki akan merasakan dampak dari peraturan adat Gayo tersebut.

III. C. Coping Stres pada Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki

Kondisi yang bisa menimbulkan tekanan pada wanita Gayo adalah tidak memiliki anak laki-laki mengingat bahwa peran anak laki-laki itu sangat penting, sesuai dengan adat patrilineal yang mereka anut (Halim Tosa, 2000). Ketika sorang istri tidak mampu menghasilkan keturunan laki-laki ia akan dihadapkan pada kondisi bahwa suaminya diminta menikah lagi oleh pihak keluarga suami dan harta bersama mereka akan dibagi dengan pihak keluarga suami, yang biasa disebut dengan hak wali (Mahmud Ibrahim, 2005). Belum lagi ditambah dengan persoalan lain di luar konteks budaya misalnya permasalahan ekonomi keluarga, kondisi ini harus diantisipasi mengingat tidak semua wanita siap dengan tekanan adat seperti ini.

Pada penelitian ini responden F dan responden M sama-sama mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari keluarga suami mereka, karena mereka sama-sama sulit mendapatkan anak. Perlakuan keluarga suami mereka


(34)

semakin tidak baik setelah mereka tidak mendapatkan anak laki-laki. Keadaan tersebut akan menimbulkan perasaan tidak nyaman dan tertekan pada masing-masing responden yang memungkinkan mereka mengalami stres.

Stres yang tidak dikelola dengan baik bisa mengakibatkan berbagai gangguan pada fisik, misalnya hilangnya nafsu makan, gangguan tidur, penyakit jantung dan stroke (Irina Damayanti & Lutfi Puji Astuti, 2010). Sementar untuk mencari dukungan sosial dari pihak keluarga ibu tersebut, bukan hal yang mudah mengingat sejak menikah mereka sudah dianggap menjadi bagian keluarga suami mereka (Melalatoa, 2000). Oleh karena itu biasanya seorang manusia akan memiliki kemampuan untuk melakukan coping ketika menghadapi tekanan.

Ibu akan mengalami tekanan dimana kondisi stres muncul karena ancaman dari peristiwa negatif. Misalnya, merasa tertekan karena suami diminta menikah lagi dan adanya pembagian harta bersama dengan keluarga suami. Istri juga mengalami frustrasi, dimana kondisi stres akan muncul ketika individu tidak dapat memenuhi suatu keinginan. Misalnya, ibu hanya mendapatkan peran yang kecil dalam keluarga dan kesempatan berpendapat yang diberikan oleh keluarga suami sangat kecil.

Dalam mengatasi stres yang dialami ibu yang tidak memiliki anak laki-laki, mereka harus memiliki coping stres. Coping stres yang mereka lakukan akan dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Menurut Blair (1998) coping merupakan usaha yang dilakukan individu untuk mengatur stres, kesulitan dan tantangan yang dialaminya. Strategi coping stres yang digunakan mungkin berbeda-beda pada


(35)

setiap individu. Begitu juga dengan responden F dan responden M ada kemungkinan mereka menggunakan strategi coping yang berbeda.


(36)

III. D. Paradigma Penelitian

Kedudukan Wanita

(Kedudukan Wanita di Gayo sangatlah tinggi karena mereka dianggap sebagai sumber kehidupan)

Wanita Gayo Harus Memiliki Keturunan Laki-laki, karena di Gayo anak laki-laki adalah penerus garis keturunan

(Kekerabatan Patrilineal)

Ibu yang tidak memiliki memiliki anak laki-laki mengalami tekanan secara internal maupun eksternal. Tekanan yang tidak di atasi dengan baik akan menjadi stress.

Stres yg tidak dikelola dgn baik akan menimbulkan berbagai dampak negatif baik secara fisik maupun psikologis, untuk menghindari hal tersebut diperlukan adanaya coping stress.

Bagaimana gambaran strategi coping stress pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki?

Ibu yang Tidak Memiliki Anak Laki-laki di Gayo Tekanan yg dialami ibu yg tidak memiliki anak laki-laki di Gayo (sumber stres)

1. Suami diminta menikah lagi (Ibu merasa sedih karena hal ini)

2. Kehilanga peran dan hak sebagai istri (Ibu merasa tidak berguna dan tidak dianggap dalam rumah tangganya)

3. Ada perasaan tertekan saat berada di tengah keluarga suaminya (Ibu di tuntut untuk memiki anak laki-laki, oleh karena itu ibu mengalami tekana baik secara eksternal maupun internal

4. Merasa sedih karena dilakukan berbeda oleh keluarga suami (Ibu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari mertua dan ipar-iparnya, karena ibu tidak memiliki anak laki-laki)


(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bagian pendahuluan, telah dijelaskan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran strategi coping stress pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di Gayo. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pendekatan yang akan dipakai, responden penelitian, metode pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data, kredibilitas penelitian, dan prosedur penelitian. III.A. PENDEKATAN KUALITATIF

Bodgan dan Taylor (dalam Moleong, 2005) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari perilaku yang dapat diamati. Salah satu kekuatan dari pendekatan kualitatif adalah dapat memahami gejala sebagaimana responden mengalaminya, sehingga dapat diperoleh gambaran yang sesuai dengan diri responden dan bukan semata-mata penarikan kesimpulan sebab akibat yang dipaksakan.

Peneliti memilih menggunakan pendekatan kualitatif yang berbentuk studi kasus jamak (collctive or multiple case study) sebagai metode dalam meneliti gambaran strategi coping stres pada ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di Gayo, agar hasil yang didapat dari penelitian ini dapat memberikan pemahaman jelas mengenai adanya pengaruh tuntutan budaya yang bisa menimbulkan tekanan atau stress pada ibu suku Gayo yang tidak memiliki anak laki-laki berdasarkan generalisasi data penelitian.


(38)

III.B. RESPONDEN PENELITIAN III.B.1. Karakteristik Responden

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, karakteristik responden yang dipilih adalah ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di Gayo.

III.B.2. Pengambilan Responden

Prosedur pengambilan responden atau sampel dalam penelitian ini berdasarkan teori atau berdasarkan konstruk operasional lebih tepatnya menggunakan tehnik snowball, yaitu pengambilan sampel dilakukan dengan meminta informasi pada orang yang telah diwawancarai atau dihubungi sebelumnya. Responden dipilih berdasarkan adanya kriteria khusus dan sesuai dengan tujuan penelitian. Hal ini dilakukan agar sampel bersifat representatif yang artinya dapat mewakili fenomena yang dipelajari (Poerwandari, 2007).

III.B.3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian bisa berada dimana saja, tergantung pada kenyamanan dan keinginan responden untuk diambil datanya. Lokasi penelitian ditentukan dengan kesepakatan peneliti dengan responden. Lokasi pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan di wilayah Aceh.

III.C. METODE PENGUMPULAN DATA

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara mendalam (in-depth interviewing). Wawancara mendalam dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna respondentif yang dipahami individu, berkenaan dengan topik yang diteliti dan


(39)

bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Bainster dalam Poerwandari 2007).

Pada saat proses wawancara disertai juga proses observasi terhadap perilaku responden. Tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas yang berlangsung, orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian (Poerwandari, 2007).

III.D. ALAT BANTU PENGUMPULAN DATA

Pencatatan selama penelitian ini penting sekali karena data dasar yang akan dianalisi berdasarkan kutipan hasil wawancara dan observasi. Oleh karena itu, pencatatan data harus dilakukan dengan cara yang sebaik dan setepat mungkin. Untuk memudahkan pengumpulan data, peneliti membutuhkan alat bantu. Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat perekam, pedoman wawancara dan catatan responden.

III.D.1. Alat Perekam

Alat perekam digunakan peneliti untuk meudahkan mengulang kembali hasil wawancara yang telah dilakukan. Dengan adanya hasil rekawam wawancara tersebut akan memudahkan peneiti apabila ada kemungkinan data yang kurang jelas sehingga peneliti dapat bertanya kembali kepada responden. Penggunaan alat perekam ini dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari responden. Penggunaan alat perekam juga memungkinkan peneliti lebih berkonsentrasi pada apa yang dikatakan responden.


(40)

III.D.2. Pedoman Wawancara

Selama wawancara dilakukan, peneliti menggunakan pedoman wawancara. Pedoman wawancara berisikan daftar pertanyaan yang berkaitan dengan tema penelitian dimana urutan pertanyaan akan bersifat fleksibel karena akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat wawancara berlangsung.

Pedoman wawancara digunakan agar wawancara tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman wawancara dipakai untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist) apakah aspek aspek relevan tersebut telah dibahas atau dinyatakan (Poerwandari, 2007).

Pedoman wawancara disusun berdasarkan teori-teori yang dijelaskan dalam Bab II sehingga peneliti mempunyai kerangka berpikir tentang hal yang ingin ditanyakan. Dalam pelaksanaan, pedoman wawancara tidak digunakan secara kaku sehingga tidak menutup kemungkinan bagi peneliti menanyakan hal-hal di luar pedoman wawancara agar data yang dihasilkan lebih akurat dan lengkap.

III.E. KREDIBILITAS PENELITIAN

Kredibilitas adalah istilah yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk menggantikan konsep validitas (Poerwandari, 2007). Deskripsi mendalam yang menjelaskan kemajemukan (kompleksitas) aspek-aspek yang terkait (dalam bahasa kuantitatif: variabel) dan interaksi dari berbagai aspek menjadi salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif. Menurut Poerwandari (2007), kredibilitas penelitian kualitatif terletak pada keberhasilan mencapai maksud mengeksplorasi


(41)

masalah dan mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks.

Adapun upaya peneliti dalam menjaga kredibilitas dan objektifitas penelitian ini, antara lain dengan:

1. Memilih calon partisipan yang sesuai dengan karakteristik penelitian. 2. Membangun rapport dengan partisipan agar ketika proses wawancara

berlangsung partisipan dapat lebih terbuka menjawab setiap pertanyaan dan suasana tidak kaku pada saat wawancara.

3. Membuat pedoman wawancara berdasarkan teori strategi coping stress. Kemudian melakukan standarisasi pedoman wawancara dengan dosen pembimbing. Professional judgement di dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing penelitian ini.

4. Menggunakan pertanyaan terbuka dan wawancara mendalam untuk mendapatkan data yang akurat.

5. Melibatkan dosen pembimbing untuk berdiskusi, memberikan saran dan kritik mulai dari awal kegiatan proses penelitian sampai tersusunnya hasil penelitian. Hal ini dilakukan mengingat keterbatasan kemampuan peneliti pada kompleksitas fenomena yang diteliti.

III.F. PROSEDUR PENELITIAN

III.F.1. Tahap Persiapan Penelitian

Pada tahap persiapan penelitian, peneliti menggunakan sejumlah hal yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian (Moleong, 2005), yaitu sebagai berikut:


(42)

a. Mengumpulkan data

Peneliti mengumpulkan berbagai informasi dan teori-teori yang berhubungan dengan gambaran efektivitas strategi coping stress pada pasangan suami istri suku Gayo yang tidak memiliki anak laki-laki.

b. Menyusun pedoman wawancara

Agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian, peneliti menyusun butir-butir pertanyaan berdasarkan kerangka teori yang ada untuk menjadi pedoman wawancara.

c. Persiapan untuk mengumpulkan data

Peneliti mengumpulkan informasi tentang calon responden penelitian dari teman-teman peneliti. Setelah mendapatkannya, lalu peneliti menghubungi calon responden untuk menjelaskan tentang penelitian yang akan dilakukan dan menanyakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian.

d. Membangun rapport dan menentukan jadwal wawancara

Setelah memperoleh kesediaan dari responden penelitian, peneliti membuat janji bertemu dengan responden dan berusaha membangun rapport yang baik dengan responden. Waktu yang digunakan peneliti untuk membina rapport adalah sekitar 5-15 menit di setiap awal pertemuan. Setelah itu, peneliti dan responden penelitian menentukan dan menyepakati waktu untuk pertemuan selanjutnya untuk melaksanakan wawancara penelitian.


(43)

III.F.2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Setelah tahap persiapan penelitian dilakukan, maka peneliti memasuki beberapa tahap pelaksanaan penelitian, antara lain:

a. Mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat wawancara

Sebelum wawancara dilakukan, peneliti mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat yang sebelumnya telah disepakati bersama dengan responden.

b. Melakukan wawancara berdasarkan pedoman wawancara

Peneliti melakukan proses wawancara berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya. Peneliti melakukan beberapa kali wawancara untuk mendapatkan hasil dan data yang maksimal.

TABEL 1

Jadwal Pelaksanaan Wawancara

No Responden Tanggal Waktu tempat

1. I 20 Mei 2012 16.30 –

18.00 WIB

Rumah Kerabat Responden 05 Juli 2012 12.00 –

13.30 WIB

Kantoe Responden

14 Juli 2012 13.00 – 14.30 WIB

Rumah Makan Milik Responden 2. II 09 Juni 2012 16.00 –

17.30 WIB


(44)

21 Juli 2012 15.00 – 16.00 WIB

Rumah Responden

c. Memindahkan rekaman hasil wawancara ke dalam bentuk transkrip verbatim

Setelah proses wawancara selesai dilakukan dan hasil wawancara telah diperoleh, peneliti kemudian memindahkan hasil wawancara ke dalam verbatim tertulis. Pada tahap ini, peneliti melakukan koding dengan membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasi dan mensistemasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari (Poerwandari, 2007).

d. Melakukan analisa data

Bentuk transkrip verbatim yang telah selesai dibuat kemudian dibuatkan salinannya, peneliti kemudian menyusun dan menganalisa data dari hasil transkrip wawancara yang telah dikoding menjadi sebuah narasi yang baik dan menyusunnya berdasarkan alur pedoman wawancara yang digunakan saat wawancara. Peneliti membagi penjabaran analisa data responden ke dalam dimensi, tahapan, dan faktor yang mempengaruhi kebahagiaan.

e. Menarik kesimpulan, membuat diskusi dan saran

Setelah analisa data selesai dilakukan, peneliti menarik kesimpulan untuk menjawab rumusan permasalahan. Kemudian peneliti menuliskan diskusi


(45)

berdasarkan kesimpulan dan data hasil penelitian. Setelah itu, peneliti memberikan saran-saran sesuai dengan kesimpulan, diskusi dan data hasil penelitian.

III.F.3. Tahap Pencatatan Data

Untuk memudahkan pencatatan data, peneliti menggunakan alat perekam sebagai alat bantu agar data yang diperoleh dapat lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dari hasil rekaman ini kemudian akan ditranskripkan secara verbatim untuk dianalisa. Transkrip adalah salinan hasil wawancara dalam pita suara yang dipindahkan ke dalam bentuk ketikan di atas kertas.

III.F.4. Teknik dan Prosedur Analisa Data

Beberapa tahapan dalam menganalisis data kualitatif menurut Poerwandari (2007), yaitu:

a. Organisasi Data

Organisasi data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk memperoleh data yang baik, mendokumentasikan analisis yang dilakukan, dan menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian.

b. Koding dan Analisis

Koding dan analisis dilakukan dengan menyusun transkip verbatim atau catatan lapangan sehingga ada kolom kosong yang cukup besar di sebelah kanan dan kiri transkip untuk tempat kode-kode atau catatan tertentu,


(46)

kemudian secara urut dan kontinu melakukan penomoran pada baris-baris transkip, lalu memberikan penomoran nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu.

c. Pengujian Terhadap Dugaan

Dugaan adalah kesimpulan sementara. Dengan mempelajari data, peneliti mengembangkan dugaan-dugaan yang juga merupakan kesimpulan sementara. Peneliti harus mengikutsertakan berbagai perspektif untuk memungkinkan keluasan analitis serta memeriksa bias-bias yang mungkin tidak disadari.

d. Strategi Analisis

Analisis terhadap data pengamatan sangat dipengaruhi oleh kejelasan mengenai apa yang diungkap peneliti melalui pengamatan yang dilakukan. Proses analisis dapat melibatkan konsep-konsep yang muncul dari jawaban atau kata-kata responden sendiri maupun konsep-konsep yang dikembangkan atau dipilih peneliti untuk menjelaskan fenomena yang dianalisis.

e. Tahapan Interpretasi

Interpretasi adalah upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti memiliki perspektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasi data melalui perspektif tersebut. Peneliti beranjak melampaui apa yang secara langsung dikatakan partisipan untuk


(47)

mengembangkan struktur-struktur dan hubungan bermakna yang tidak segera tertampilkan dalam teks (data mentah atau trasnkip wawancara).


(48)

BAB IV

HASIL ANALISA DATA DAN INTERPRETASI

Pada Bab ini akan diuraikan hasil analisis wawancara tentang ibu yang tidak memiliki anak laki-laki di tanah Gayo. Kutipan dalam setiap bagian analisa di beri kode-kode tertentu, sebab satu kutipan bisa di intepretasikan beberapa kali. Contoh kode yang digunakan adalah R.1/W.1/b.24-26/h.1, maksud kode ini adalah kutipan dari responden satu, wawancara pertama, baris 24 sampai 26, halaman 1 verbatim.

IV.A Responden I

IV. A.1.1 Identitas Diri

Tabel 2. Deskripsi Data Responden I

No. Identitas Responden

1. Nama (inisial) IS

2. Usia 52 tahun

3. Agama Islam

4. Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil

5. Domisili Aceh

6. Jumlah Anak 2 anak perempuan

7. Usia Pernikahan 31 tahun

Tanggal Wawancara 1 : Minggu, 20 Mei 2012, pukul 14.30-16.00 WIB Tanggal Wawancara 2 : Kamis, 05 Juli 2012, pukul 12.00-13.30 WIB Tanggal Wawancara 3 : Sabtu, 14 Juli 2012, pukul 13.00-14.30 WIB


(49)

IV. A. 1. 2. Bentuk Stres

Responden merasa dibedakan dengan suaminya oleh sang mertua.

“Kadang ya Mi ya, tapi ibu rasa nenek tu sayangnya cuma sama bapak Mi, sama ibu kurang...”

(R.1/W.1/b.60-62/h.2)

“Gimana ibu bilangnya ya Mi, istilahnya masih ada istilah anak dan menantu Mi...”

(R.1/W.1/b.67-68/h.2)

Responden merasa terbeban oleh adat Gayo yang mengharuskan memiliki anak laki-laki.

“Banyak kali pengaruhnya Mi, terbeban kali ibu kadang ibu juga merasa bersalah Mi, gak berguna kali ibu ni, nggak bisa punya anak laki-laki.” (R.1/W.1/b.123-127/h.3)

Responden merasa sedih dan terkadang Responden merasa labih baik mati daripada hidup dengan kondisi seperti ini.

“...sedeh pedeh le naseb ku nak, gere inget ken kekanak so mera mate deh aku nak. (Baiklah nak, sedih kali lah nasib ku nak, kalo nggak ingat sama anak-anak lebih baik mati rasanya nak)”

(R.1/W.1/b.156-161/h.4)

“Sedih kali lah kami Mi, kok satu pun lah nggak ada keluarga bapak ni yang mau ngerti perasaan kami, apa orang tu pikir kami ini masi anak-anak sampe harus diatur-atur hidupnya?”

(R.1/R.3/b.880-885/h.20)

Responden merasa tertekan dan menderita akibat perlakuan yang diterimanya dari ibu mertuanya. Semua yang terbaik sudah dilakukan responden,


(50)

“Ya Allah kalo dibilang menderita, menderita kali rasanya ibu Mi (sambil mengelus dada dan sedikit terisak), bayangkan puluhan tahun hidup sama mertua tapi sekalipun nggak pernah senang hati nenek tu ngeliat ibu Mi, selama ini ibu cuma bisa berdo’a dan terus berusaha supaya nenek tu bisa sayang sama ibu Mi, apa pun la ibu lakukan Mi, tapi sampe sekarang nggak mau sayang nenek tu sama ibu”.

(R.1/W.1/b.291-302/h.6)

Responden juga mendapatkan tekanan internal sehingga responden pernah jatuh sakit dan harus menjalani pengobatan selama 1 bulan, karena terlalu memikirkan masalah yang dialaminya yaitu perlakuan ibu mertua responden dan keluarga dari suami responden.

”...entah karena kecapean sampe pingsan ibu Mi, dari situ terus lemah kondisi ibu sampe dirawat di rumah sakit ibu Mi kata dokter ibu ada asam lambung jadi kalo banyak pikiran bisa naek asam lambungnya itu yang menyebabkan kondisi ibu lemah Mi, ada la kadang sebulan baru pulih ibu Mi”

(R.1/W.1/b. 373-381/h.8)

Karena perlakuan keluarga suaminya responden kerap kali mengalami gangguan kesehatan.

“Kalo udah kepikiran kali kadang sampe sakit la Mi, nggak sanggup mikir lagi, apapun rasanya nggak enak, kaya' orang udah kehilangan semangat Mi....”

(R.1/W.2/b.669-672/h.15) IV. A. 1. 3. Strategi Coping Stress

1. Problem Focused Coping


(51)

Responden pernah menangis dan berteriak-teriak didepan keluarga suaminya, karena subjek sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihannya akaibat perlakuan tidak baik yang diterimanay dari keluarga suaminya.

“...Pernah lah ibu nangis sampe teriak Mi nggak peduli ibu rame orang, pas itu arisan keluarga Mi...”

(R.1/W.3/b.954-957/h.21)

“...sedih kali ibu waktu itu Mi nangis keras-keras terus ibu entah apa-apa keluar kata-kata dari mulut ibu ni udah, alah ibu pikir lama kali udah ibu tahan ibu luap kan terus semua pas itu Mi, alhamdulillah adalah kurang orang tu nindas kami Mi...”

(R.1/W.3/b.969-975/h.22) b. Seeking Social Support

Untuk mengurangi beban yang dirasakan responden, biasanya responden berbagi cerita dengan suaminya dan teman-temannya yang dianggap responden bernasib sama dengan responden.

“...selama ini ibu cuma cerita sama bapak la Mi, itu pun nggak semua dan kalo lagi tenang pikiran bapak tu mau di dengarnya ibu, mau di bantunya ibu nenangin hati ibu ni...”

(R.1/W.1/b.409-414/h.9)

“...tapi di kantor ada lah beberapa kawan ibu yang hampir sama nasibnya sama ibu sama orang tu lah paling ibu cerita-cerita Mi”

(R.1/W.1/b.500-504/h.9)

c. Planful Problem Solving

Responden pernah bertanya kepada ibu mertuanya penyebab sikap ibu mertuanya yang berbeda pada responden, tujuannya agar responden bisa


(52)

memperbaiki dirinya dan sikap ibu mertua responden bisa lebih baik kepada responden.

“Dulu udah agak lama pernah Mi, ibu tanya baek-baek Mi ibu bilang gini Mi “Ine, sebelum maaf aku ngune lagu ini ku ine, mokot pedeh nge kenake ku kunei ku ine, entisaket kase ate ni ne ken aku, perasan ku selama ini tekek pe gere ara galak ate ni ne ken aku, ara keh salah ku ne? Ike ara tolong peren ine kati ku tetahi, kati sayang ate ni ne ken aku (Sebelumnya maaf ya bu, aku nanya ini ke ibu, udah lama aku mau nanya ini ke ibu, jangan nanti sakit hati ibu ku buat karena pertanyaan ini, perasaan ku selama ini sikit pun nggak suka ibu sama aku, apa salah ku bu? Kalo ada tolong jelaskan bu, biar bisa ku perbaiki) (Responden terdiam sejenak seperti memikirkan atau mengingat sesuatu)”

(R.1/W.1/b.386-409/h.8)

2. Emotional Focus Coping

1. self-control

Responden tidak pernah bercerita tentang masalah yang dialaminya kepada keluarganya, dan responden bisa melupakan sejenak masalahnya saat responden sibuk dengan kegiatan dan pekerjaannya, meskipun hal itu tidak membuat responden bisa benar-benar melupakan masalahnya.

“...kalo cerita kekeluarga ibu, ibu nggak berani Mi nanti salah paham, lagian kalo udah sibuk dengan kegiatan di kantor kadang-kadang lupa la ibu sama masalah ni Mi”

(R.1/W.1/b.420-424/h.9)

Selama ini responden bisa bertahan hanya dengan bersabar.

“Ya Mi cuma sabar kuncinya, semoga semua bisa berubah...” (R.1/W.1/b.431-432/h.9)


(53)

2. Positive reappraisal

Responden selalu berdo’a agar masalah yang dialaminya segera selesai, dan perlakuan yang diterimanya dari keluarga suaminya menjadi lebih baik.

“...selama ini ibu cuma bisa berdo’a dan terus berusaha supaya nenek tu bisa sayang sama ibu Mi, apa pun la ibu lakukan Mi, tapi sampe sekarang nggak mau sayang nenek tu sama ibu.”

(R.1/W.1/b.297-302/h.7)

“...kalo udah mulai nggak sanggup nahan sedih atau kesal ya ibu bawa sholat atau ngaji Mi, do’a ibu semoga sikap orang tu bisa berubah dan diampuni Allah kesalahannya Mi”

(R.1/W.3/b.1027-1031/h.23)

“...kami selalu disindir-sindir, kalo udah mulai nggak sanggup nahan sedih atau kesal ya ibu bawa sholat atau ngaji Mi, do’a ibu semoga sikap orang tu bisa berubah dan diampuni Allah kesalahannya Mi”

(R.1/W.3/b.1026-1031/h.23)

IV. A. 1. 4. Faktor yang mempengaruhi Strategi Coping Stress

1. Keterampilan Sosial

Responden bisa berbagi masalah yang dialaminya dengan teman-temannya yang dianggap senasib dengan Responden.

“...tapi di kantor ada lah beberapa kawan ibu yang hampir sama nasibnya sama ibu sama orang tu lah paling ibu cerita-cerita Mi”

(R.1/W.1/b.500-504/h.11

2. Keyakinan atau Pandangan Positif

Responden hanya bersabar dan berharap semua bisa berubah. “Ya Mi cuma sabar kuncinya, semoga semua bisa berubah....” (R.1/W.1/b.548-549/h.11)


(54)

IV.B Responden II

IV. B.1.1 Identitas Diri

Tabel 2. Deskripsi Data Responden II

No. Identitas Responden

1. Nama (inisial) F

2. Usia 33 tahun

3. Agama Islam

4. Pekerjaan Ibu Rumah Tangga

5. Domisili Aceh

6. Jumlah Anak 1 anak perempuan

7. Usia Pernikahan 14 tahun

Tanggal Wawancara 1 : Sabtu, 9 Juni 2012, 16.00-17.30 WIB Tanggal Wawancara 2 : Sabtu, 21 Juli 2012, 15.00-16.00 WIB

IV. B. 1. 2. Bentuk Stres

Keluarga suami responden memperlakukan responden tidak baik, mereka menganggap responden pembawa sial.

“...nggak ada sikit pun kasiannya sama kakak, tetap aja kakak yang dianggap bawa sial dek. Kalo lagi sendiri nggak ada kerjaan kepikiran lah kakak dek, kadang sampe keluar air mata ni, nggak abis pikir kakak kok segitunya la mamak tu.”

(R.2/W.1/b.392-400/h.31)

Responden merasa sedih karena perlakuan keluarga suaminya, terkadang responden merasa dirinya tidak berharga, responden menerima perlakuan tidak baik dari mereka karena responden tidak memiliki anak laki-laki.


(55)

“Gimana kakak nggak sedih dek, mamak tu sayang kali sama menantunya yang lain, sama kakak keliatan kali bencinya dek, salah keh kakak nggak bisa punya anak laki-laki dek?...”

(R.2/W.1/b.493-499/h.33)

“..., dari dulu kan memang nggak ada orang tu yang suka sama kakak, cuma abang lah yang mau bela kakak dek, yang lain tu mana ada. Entah apapun dianggap orang tu kakak dek.”

(R.2/W.2/b.993-998/h.45)

“...Perasaan kakak waktu itu hancur kali lah dek, sedih, marah, kesal, kecewa udah campur aduk dek, mau teriak kakak dek, mau lari kakak pulang ke rumah mamak kakak, sedih nya nggak bisa kakak bilang dek,...”

(R.2/W.2/b.1056-1063/h.46) IV. B. 1. 3. d Strategi Coping Stress

1. Problem Focus Coping

a. Seeking Social Support

Untuk mengurangi beban nya karena perlakuan keluarga suaminya Responden terkadang mencoba bercerita dengan suaminya.

“Kadang kakak cerita ke abang dek, tapi nggak la selalu, apa yang bisa kakak tahan nggak kakak sampaikan ke abang dek, karena setiap kakak cerita kakak liat abang agak bingung, walaupun selalu aja ada cara atau kata-kata abang tu yang membesarkan hati kakak, yang buat kakak agak tenang dan lupa apa yang terjadi dek”

(R.2/W.1/b.543-553/h.34) b. Planful Problem Solving

Responden pernah mencoba bertanya pada keluaraga suaminya penyebab mereka memperlakukan responden tidak baik.


(56)

“Sambil nangis-nangis kakak nanyanya dek, waktu itu orang tu juga nyalah-nyalahin kakak, padahal bukan kakak yang buat salah, sangking sedihnya kakak tanya gini dek, “kak kalo memang semua yang ku buat salah, kalo memang aku ni bodoh kaya’ yang kalian bilang, suruh aja adek kalian tu ninggalin aku kak, nggak tanah aku lama-lami gini kak, bisa lah gila aku kak, kalian marah-marah, kalian benci sama aku nggak jelas kenapa, kasi tau aku kak apa salah ku? Apa kurang ku kak, sampe jahat gini kalian sama aku”

(R.2/W.2/b.1013-1030/h.45)

2. Emotional Focus Coping

a. Self-control

Responden berusaha melupakan masalahnya dengan menyibukkan diri mengerjakan pekerjaan rumah.

“...kalo kakak sibuk dengan kerjaaan di rumah ni lupa kakak dek, kadang kalo sedih tu kakak suka juga nulis dek, biar tertuang sedih hati kakak tu dek”

(R.1/W.1/b.580-585/h.35)

Responden berusaha untuk ikhlas menghadapi permasalahan yang dihadapinya.

“Perasaan kakak kalo nggak ketemu mamak tu atau mamak tu biasa-biasa aja nggak apa-apa lah dek, kaya’ nggak ada masalah pun, karena kakak udah belajar ikhlas atas semua yang kakak alami, takut kakak kalo kakak kesal sama mamak tu jadi dosa nanti dek...”

(R.1/W.1/b.599-607/h.35)

b. Positive Reappraisal

Berdo’a kepada Allah agar diberi kesabaran dalam menghadapi masalahnya, adalah cara utama responden menghadapi masalahnya.


(57)

“Kadang kalo shalat pun kakak berdo’a nya lama la dek, kaya’ bicara kakak sama Tuhan tu. Hehehehe tapi selah itu lega hati ni dek, dari pada sedih-sedih nggak jelas mendingan kakak perbanyak ibadah dek kan?” (R.2/W.1/b.588-596/h.35)

“...Kakak selalu berdo’a gitu dek, ditangisipun nggak akan berubah orang tu dek, cuma pasrah ke Tuhan la mungkin nanti bisa jadi obat dek ya.” (R.2/W.2/b.1181-1186/h.48)

IV. B. 1. 4. Faktor yang mempengaruhi Strategi Coping Stress

1. Pandangan Positif

Responden menganggap semua yang terjadi ada hikmahnya dan responden bersyukur atas apa yang dimilikinya sekarang.

“...tapi kakak percaya semua ada hikmahnya dek, kalo kakak punya anak laki-laki lah sekarang, mungkin kakak bisa lebih bingung atau stress pun dari sekarang ni.”

(R.2/W.2/b.1148-1153/h.48) 2. Social Support

Responden beruntung mendapat dukungan sosial dari suaminya saat Responden menghadapi permasalahannya.

“Ya dek dibela abang tu kakak, adalah masi untungnya dek keluarga abang tu nggak baik sama kakak, abang baik sama kakak, kalo abang tu pun nggak baik sama kakak, apa lagi yang mau kakak harap dek? Bagusan kakak tinggalin aja semua ni. Kebaikan suaminya lah yang membuat Responden bertahan mengahadapi permasalahan yang dihadapinya...”

(R.2/W.1/b.424-431/h.32)

“...yang buat kakak kuat sampe sekarang ngehadapi kelakuan keluarga abang tu ya karena abang tu la dek, walaupun dia sedih tapi tetap dia bisa menghibur kakak.”


(1)

1115 1116 1117 1118 1119 1120

tetap kakak ingat kata-kata abang tu, betol yang dibilang abang tu, yang jalani kan kami, yang tau bahagia atau nggak nya kan kami, ngapain kakak mikirin kata-kata orang tu dek.

subjek, sehingga subjek bisa mulai melupakan masalah yang

dialaminya.

1121 1122 1123 1124 1125 1126

P Iya kak, abang sama kakak lah yang tau gimana keadaan kalian ada atau nggak ada nya anak laki-laki. Abang tu pernah keh bilang pengen anak laki-laki kak?

1127 1128 1129 1130 1131

S Kalo itu kan ada dek, kakak pun kan pengen punya anak laki-laki, tapi kami punya cara membesarkan hati kami dek, biar nggak terlalu mikirin itu.

Subjek dan suaminya tetap memiliki harapan untuk mendapatkan anak laki-laki, dan mereka tetap

bersyukur dengan anak perempuan yang telah mereka miliki.

1132 P Gimana caranya kak? 1133

1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140

S Setiap kami bahas masalah anak laki-laki kami akhirnya selalu berpikir, anak perempuan juga rezeki dan kami bukan nggak punya anak laki-laki, kami punya kan dek, tapi umurnya aja yang nggak panjang. Semoga nanti dikasi lagi. 1141

1142 1143 1144

P Iya kak ya, adek kan ada yang laki-laki, tapi kakak sama abang nggak ada keh niat nambah anak laki-laki kak?

1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153

S Ada dek, ini pun kakak kan sengaja nggak ikut Kb dek, tapi gimana mau kami belum dikasi kesempatan lagi dek, tapi kakak percaya semua ada hikmahnya dek, kalo kakak punya anak laki-laki lah sekarang, mungkin kakak bisa lebih bingung atau stress pun dari sekarang ni.

Subjek menganggap semua yang terjadi ada hikmahnya. Subjek bersyukur atas apa yang dimilikinya sekarang.

FYMCS (Pandangan Positif)

1154 1155 1156 1157

P Kenapa gitu kak? Bukan keh anak laki-laki tu penting, biar keluarga abang tu baik sama kakak?

1158 1159 1160

S Iya lah penting dek, tapi kakak percaya Tuhan selalu punya


(2)

1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173

kalo kakak punya anak laki-laki bandel pun anak kakak tu, tukang buat masalah pun kadang, terus keluarga abang tu nyalahin kakak lagi kan? Karena dianggap nggak bisa mendidik anak, makanya anak kakak bandel, walaupun lah kakak berharap kalo kakak dikasi anak laki-laki nggak gitu kejadiannya, semua ada

hikmahnya dek, sabar Cuma kakak bisa dek.

rencana baik untuk dirinya dan keluarganya.

1178 1179 1180

P Iya kak geh, semoga lah keadaan ni bisa berubah jadi baik kak ya.

1181 1182 1183 1184 1185 1186

S Ya dek, amin. Kakak selalu berdo’a gitu dek, ditangisipun nggak akan berubah orang tu dek, cuma pasrah ke Tuhan la mungkin nanti bisa jadi obat dek ya.

EFC (Positive Reappraisal)

1187 1188 1189 1190

P Ya kak, kakak yang sabar ya kak, terus berdo’a, ami pamit pulang kak ya nanti sore kali ami sampe rumah kak. 1191

1192 1193

S Ya dek, makasi dek ya, makasi udah mau dengar cerita kakak. Ada kawan cerita kakak jadinya 1194

1195 1196 1197 1198 1199

P Ami yang makasi kak, kakak udah mau cerita, udah mau bantu ami siapin tugas kuliah ni (sambil beranjak dari duduk, dan berjalan ke arah pintu keluar)

1200 1201 1202 1203

S Sama-sama dek, sama-sama saling membantu kita dek kan. Hari-hati dijalan dek ya, salam kakak untuk orang di rumah. 1204

1205

P Ya kak, nanti ami sampein, assalamualaikum kak. 1206

1207

S Wa’alaikum salam dek. Hati -hati ya.


(3)

Tabel Interpretasi Data Intepretasi

Data

Responden I Responden II

Problem Focus Coping (Confrontative

Coping)

“...Pernah lah ibu nangis sampe teriak Mi nggak peduli ibu rame orang, pas itu arisan keluarga Mi...”

(R.1/W.3/b.954-957/h.21) “...sedih kali ibu waktu itu Mi nangis keras-keras terus ibu entah apa-apa keluar kata-kata dari mulut ibu ni udah, alah ibu pikir lama kali udah ibu tahan ibu luap kan terus semua pas itu Mi,

alhamdulillah adalah kurang orang tu nindas kami Mi...” (R.1/W.3/b.969-975/h.22)

X

Problem Focus Coping (Seeking Social

Support)

“...selama ini ibu cuma cerita sama bapak la Mi, itu pun nggak semua dan kalo lagi tenang pikiran bapak tu mau di dengarnya ibu, mau di

bantunya ibu nenangin hati ibu ni...”

(R.1/W.1/b.409-414/h.9) “...tapi di kantor ada lah beberapa kawan ibu yang hampir sama nasibnya sama ibu sama orang tu lah paling ibu cerita-cerita Mi”

(R.1/W.1/b.500-504/h.9)

“Kadang kakak cerita ke abang dek, tapi nggak la selalu, apa yang bisa kakak tahan nggak kakak

sampaikan ke abang dek, karena setiap kakak cerita kakak liat abang agak

bingung, walaupun selalu aja ada cara atau kata-kata abang tu yang membesarkan hati kakak, yang buat kakak agak tenang dan lupa apa yang terjadi dek”

(R.2/W.1/b.543-553/h.34)

Problem Focus Coping

(Planful Problem solving)

Mi “Ine, sebelum maaf aku ngune lagu ini ku ine, mokot pedeh nge kenake ku kunei ku ine, entisaket kase ate ni ne ken aku, perasan ku selama ini tekek pe gere ara galak ate ni ne ken aku, ara keh salah ku ne? Ike ara tolong peren ine kati ku tetahi, kati sayang ate

“Sambil nangis-nangis kakak nanyanya dek, waktu itu orang tu juga nyalah-nyalahin kakak, padahal bukan kakak yang buat salah, sangking sedihnya kakak tanya gini dek, “kak kalo memang semua yang ku buat salah, kalo memang aku


(4)

ni ne ken aku (Sebelumnya maaf ya bu, aku nanya ini ke ibu, udah lama aku mau nanya ini ke ibu, jangan nanti sakit hati ibu ku buat karena pertanyaan ini, perasaan ku selama ini sikit pun nggak suka ibu sama aku, apa salah ku bu? Kalo ada tolong jelaskan bu, biar bisa ku perbaiki) (Responden terdiam sejenak seperti memikirkan atau mengingat sesuatu)” (R.1/W.1/b.386-409/h.8)

ni bodoh kaya’ yang kalian bilang, suruh aja adek kalian tu ninggalin aku kak, nggak tanah aku lama-lami gini kak, bisa lah gila aku kak, kalian marah-marah, kalian benci sama aku nggak jelas kenapa, kasi tau aku kak apa salah ku? Apa kurang ku kak, sampe jahat gini kalian sama aku”

(R.2/W.2/b.1013-1030/h.45)

Emotional Focus Coping

(Self-control)

“...kalo cerita kekeluarga ibu, ibu nggak berani Mi nanti salah paham, lagian kalo udah sibuk dengan kegiatan di kantor kadang-kadang lupa la ibu sama masalah ni Mi” (R.1/W.1/b.420-424/h.9)

“Ya Mi cuma sabar kuncinya, semoga semua bisa berubah...”

(R.1/W.1/b.431-432/h.9)

“...kalo kakak sibuk dengan kerjaaan di rumah ni lupa kakak dek, kadang kalo sedih tu kakak suka juga nulis dek, biar tertuang sedih hati kakak tu dek”

(R.1/W.1/b.580-585/h.35) “Perasaan kakak kalo nggak ketemu mamak tu atau mamak tu biasa-biasa aja nggak apa-apa lah dek, kaya’ nggak ada masalah pun, karena kakak udah belajar ikhlas atas semua yang kakak alami, takut kakak kalo kakak kesal sama mamak tu jadi dosa nanti dek...”

(R.1/W.1/b.599-607/h.35)

Emotional Focus Coping

(Positive reappraisal)

“...selama ini ibu cuma bisa berdo’a dan terus berusaha supaya nenek tu bisa sayang sama ibu Mi, apa pun la ibu lakukan Mi, tapi sampe sekarang nggak mau sayang nenek tu sama ibu.”

(R.1/W.1/b.297-302/h.7) “...kalo udah mulai nggak sanggup nahan sedih atau kesal ya ibu bawa sholat atau ngaji Mi, do’a ibu semoga

“Kadang kalo shalat pun kakak berdo’a nya lama la dek, kaya’ bicara kakak sama Tuhan tu. Hehehehe tapi selah itu lega hati ni dek, dari pada sedih-sedih nggak jelas mendingan kakak perbanyak ibadah dek kan?” (R.2/W.1/b.588-596/h.35) “...Kakak selalu berdo’a gitu dek, ditangisipun nggak


(5)

sikap orang tu bisa berubah dan diampuni Allah

kesalahannya Mi”

(R.1/W.3/b.1027-1031/h.23) “...kami selalu disindir-sindir, kalo udah mulai nggak

sanggup nahan sedih atau kesal ya ibu bawa sholat atau ngaji Mi, do’a ibu semoga sikap orang tu bisa berubah dan diampuni Allah

kesalahannya Mi”

(R.1/W.3/b.1026-1031/h.23)

akan berubah orang tu dek, cuma pasrah ke Tuhan la mungkin nanti bisa jadi obat dek ya.”

(R.2/W.2/b.1181-1186/h.48)

Faktor yang mempengaruhi

coping stres

(Keterampilan Sosial)

“...tapi di kantor ada lah beberapa kawan ibu yang hampir sama nasibnya sama ibu sama orang tu lah paling ibu cerita-cerita Mi”

(R.1/W.1/b.500-504/h.11)

X

Faktor yang memepengaruhi

coping stres (Keyakinan

atau Pandangan

Positif)

“Ya Mi cuma sabar kuncinya, semoga semua bisa berubah....”

(R.1/W.1/b.548-549/h.11)

“...tapi kakak percaya semua ada hikmahnya dek, kalo kakak punya anak laki-laki lah sekarang, mungkin kakak bisa lebih bingung atau stress pun dari sekarang ni.”

(R.2/W.2/b.1148-1153/h.48)

Faktor yang memepengaruhi

coping stres (Dukungan

Sosial)

X

kakak, adalah masi Ya dek dibela abang tu untungnya dek keluarga abang tu nggak baik sama kakak, abang baik sama kakak, kalo abang tu pun nggak baik sama kakak, apa lagi yang mau kakak harap dek? Bagusan kakak tinggalin aja semua ni.


(6)

lah yang membuat Responden bertahan

mengahadapi permasalahan yang dihadapinya...” (R.2/W.1/b.424-431/h.32) “...yang buat kakak kuat sampe sekarang ngehadapi kelakuan keluarga abang tu ya karena abang tu la dek, walaupun dia sedih tapi tetap dia bisa menghibur kakak.” (R.2/W.1/b.702-708/h.37) “Waktu tu kan dek, pas kakak nangis-nangis tu abang sana bilang, yang ngajak kakak nikah kan dia, yang hidup sama kakak pun dia, jadi cuma dia yang tau kakak pantas keh di cere atau nggak, nggak usah dengar orang lain, karena abang tu nggak pernah berpikir cere sama kakak. Senang kali kakak dek, tenang hati ni.” (R.2/W.1/b.805-815/h.40)