Hubungan Locus of Control dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Tingkat Pertama di Universitas Sumatera Utara

HUBUNGAN LOCUS OF CONTROL DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA TINGKAT
PERTAMA DI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi Oleh :
HAIFA CHAIRUNNISA 111301050
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
GENAP, 2014/2015

SKRIPSI
HUBUNGAN LOCUS OF CONTROL DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA DI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dipersiapkan dan disusun oleh: HAIFA CHAIRUNNISA 111301050
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal 11 Mei 2015
Mengesahkan, Dekan Fakultas Psikologi

Prof. Dr. Irmawati, Psikolog NIP. 195301311980032001

Tim Penguji

1. Arliza Juairiani Lubis, M.Si., Psikolog NIP: 197803252003122002

Penguji I/ Pembimbing

2. Juliana I. Saragih, M.Psi., Psikolog NIP: 198007222005022001

Penguji II

3. Fasti Rola, M.Psi., Psikolog NIP: 198103142005011003

Penguji III

ii

LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:
Hubungan Locus of Control dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Tingkat Pertama di Universitas Sumatera Utara adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, 28 Mei 2015
HAIFA CHAIRUNNISA NIM. 111301050
iii

Hubungan Locus of Control dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Tingkat Pertama di Universitas Sumatera Utara
Haifa Chairunnisa dan Arliza J. Lubis
ABSTRAK
Mahasiswa tingkat pertama mengalami berbagai perubahan dalam menghadapi perkuliahan sehingga membutuhkan penyesuaian diri agar dapat menjalani perkuliahan dengan baik. Literatur menunjukkan bahwa individu dengan internal locus of control memiliki karakteristik yang dibutuhkan untuk dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional untuk membuktikan hubungan tersebut. Penelitian ini melibatkan 174 mahasiswa tingkat pertama di Universitas Sumatera Utara secara insidental. Data dikumpulkan menggunakan 2 alat ukur yang telah dimodifikasi, yaitu Student Adaptation to College Questionnaire (SACQ) dan Multidimensional Multiattributional Causality Scale (MMCS), kemudian dianalisa dengan menggunakan teknik korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan subyek dengan tendensi mengarah ke Internal Locus of Control memiliki Penyesuaian Diri yang lebih baik (rs = -.364, p < .001), terlebih pada atribusi Kemampuan dan Usaha. Oleh karena itu, disarankan bagi mahasiswa tingkat pertama untuk mengoptimalkan kemampuan dan memaksimalkan usaha dalam berkuliah, dimana hal tersebut sejalan dengan peningkatan kemampuan penyesuaian diri.
Kata kunci: locus of control, penyesuaian diri , mahasiswa tingkat pertama
iv

Relationship between Locus of Control and Adjustment on Freshmen at University of Sumatera Utara
Haifa Chairunnisa and Arliza J. Lubis
ABSTRACT
The freshmen experiences changes in their first year so that requires adjustment in order to be successful in college. The literatures show that individual with internal locus of control has characteristics that aligned with the ability to adjust.
This study uses quantitative correlation method to examine that relationship. 174 freshmen at University of Sumatera Utara are participated in this research. Data are collected using two modified instruments, those are Student Adaptation to College Questionnaire (SACQ) and Multidimensional Multiattributional Causality Scale (MMCS), then analyzed with Spearman-Rank correlation technique. The result shows that the freshmen with tendency towards Internal Locus of Control have better adjustment (rs = -.364, p < .001), moreover in their Ability and Effort as the attributions of Internal Locus of Control. Therefore, it can be suggested for the freshmen to optimize their ability and maximize the effort that goes along with adjustment skill.
Keywords: locus of control, adjustment , freshmen
v

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkah dan rahmat-Nya peneliti dapat menyelesaikan penelitian berjudul “Hubungan Locus of Control dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Tingkat Pertama di Universitas Sumatera Utara” guna memenuhi persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Irmawati, Psikolog, selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
2. Arliza Juairiani Lubis, M.Si., Psikolog, selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih atas bimbingan, kritik, dan saran yang telah diberikan sejak awal hingga selesainya penelitian ini
3. Juliana Irmayanti Saragih, M. Psi., Psikolog, selaku dosen pembimbing akademik sekaligus kakak bagi peneliti. Terima kasih atas nasihat, dukungan, dan kesempatan yang selama ini diberikan.
4. Fasti Rola, M.Psi., Psikolog, selaku dosen penguji skripsi. Terima kasih atas bimbingan, kritik, dan saran yang telah diberikan selama masa revisi untuk membuat penelitian ini menjadi lebih baik
5. Seluruh dosen dan pegawai di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Terima kasih atas ilmu dan bantuan yang telah diberikan selama ini
vi

6. Kedua orang tua penulis, Syahroni Hidayat dan Syarifah Wahyuni, yang telah memberikan dukungan dan doa demi kelancaran dan keberhasilan penelitian ini
7. Sahabat yang selalu mendukung, Fara Claudia Amanda, Rovicha Purnama Sari, Laili Isrami, Ratri Pramuwidyandari, Winda Lydia Sari, Nurul Fadhillah, Zulfa Dzatarohmah, Iray Umaya Sari, dan Nadya Vristissya
8. Para responden, dan teman-teman lain yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian di lapangan.
9. Dendi Krisna Nugraha, terima kasih telah menginspirasi dan menjadi semangat bagi penulis untuk selalu berubah lebih baik.
10. Nissa Aztarid, terima kasih atas dukungan, bantuan, dan kerja sama sejak seminar hingga penelitian ini selesai. Serta seluruh teman-teman Psychotroops’11, semoga kelak kita menjadi orang yang lebih berguna dengan ilmu yang sudah kita dapatkan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karenanya, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk penelitian selanjutnya. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin.
Medan, 28 Mei 2015
Penulis
vii

DAFTAR ISI
ABSTRAK……………………………………………………………………… iv ABSTRACT……………………………………………………………………... v KATA PENGANTAR…………………………………………………………. vi DAFTAR ISI…………………………………………………………………… viii DAFTAR TABEL……………………………………………………………… xi DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………… xii BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………… 1
A. Latar Belakang……………………………………………………. 1 B. Rumusan Masalah………………………………………………… 8 C. Tujuan Penelitian…………………………………………………. 8 D. Manfaat Penelitian………………………………………………... 8 E. Sistematika Penelitian……………………………………………. 9
BAB II LANDASAN TEORI……………………………………………….. 11 A. Penyesuaian Diri………………………………………………… 11 1. Pengertian Penyesuaian Diri…………………………………. 11 2. Bentuk Penyesuaian Diri…………………………………….. 12 3. Karakteristik Penyesuaian Diri……………………………. ... 13 4. Aspek Penyesuaian Diri……………………………………... 14 5. Faktor yang Memengaruhi Penyesuaian Diri………………... 18 B. Locus of Control………………………………………………... 19 1. Pengertian Locus of Control…………………………………. 19
viii

2. Karakteristik Locus of Control………………………………. 21 3. Aspek Locus of Control…………………………………….... 21 4. Faktor yang Memengaruhi Locus of Control………………… 23 C. Mahasiswa…………….………………………………………… 25 D. Dinamika Hubungan antara Locus of Control dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Tingkat Pertama…………… 25 E. Hipotesa Penelitian……………………………………………… 27
BAB III METODE PENELITIAN………………………………………….. 28 A. Identifikasi Variabel Penelitian………………………………… 28 B. Definisi Operasional Variabel Penelitian………………………. 28 1. Definisi Operasional Penyesuaian Diri……………………… 28 2. Definisi Operasional Locus of Control……………………… 28 C. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel……………………. 29 1. Populasi……………………………………………………… 29 2. Metode Pengambilan Sampel……………………………….. 30 D. Metode Pengumpulan Data…………………………………….. 30 1. Pengukuran Penyesuaian Diri……………………………….. 31 2. Pengukuran Locus of Control……………………………….. 31 E. Uji Instrumen Penelitian……………………………………….. 32 1. Validitas Alat Ukur…………………………………………. 32 2. Daya Diskriminasi Aitem…………………………………… 33 3. Reliabilitas Alat Ukur……………………………………….. 35
ix

F. Prosedur Pelaksanaan…………………………………………... 36 1. Tahap Persiapan Penelitian………………………………….. 36 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian……………………………….. 37 3. Tahap Pengolahan Data……………………………………… 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……………………. 38 A. Gambaran Umum Subjek Penelitian……………………………. 38 1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia…………...… 38 2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin…... 39 3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Fakultas/Jurusan…………………… 39 4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan IPK Terakhir……. 40 B. Hasil Penelitian…………………………………………………. 40 1. Hasil Uji Asumsi…………………………………………….. 40 2. Hasil Penelitian……………………………………………… 41 C. Pembahasan…………………………………………………….. 46
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………. 52 A. Kesimpulan……………………………………………………... 52 B. Saran……………………………………………………………. 53 1. Saran Metodologis……………………………………...…… 53 2. Saran Praktis………………………………………………… 53
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………… 54 LAMPIRAN………………………………………………………………….. 61
x

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perbedaan Karakteristik Locus of Control……………………...… 21 Tabel 2. Blue Print Alat Ukur Penyesuaian Diri……………………...…… 31 Tabel 3. Blue Print Alat Ukur Locus of Control……………………...…… 32 Tabel 4. Distribusi Aitem Alat Ukur Penyesuaian Diri Setelah Uji Coba… 34 Tabel 5. Distribusi Aitem Alat Ukur Locus of Control Setelah Uji Coba… 35 Tabel 6. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia…………………. 38 Tabel 7. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin………. 39 Tabel 8. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan
dan Fakultas/Jurusan…………………………..…………………. 39 Tabel 9. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan IPK Terakhir...………. 40 Tabel 10. Hasil Uji Normalitas Alat Ukur………………..…...……………. 40 Tabel 11. Perbandingan Mean Hipotetik dan Mean Empirik……………….. 41 Tabel 12. Perbandingan Mean Hipotetik dan Mean Empirik……………….. 42 Tabel 13. Kategorisasi Penyesuaian Diri………………...…………………. 43 Tabel 14. Kategorisasi Locus of Control……………………………………. 43 Tabel 15. Cross Tabulation…………………………………………………. 44 Tabel 16. Uji Korelasi Aspek-aspek Kedua Variabel Secara Total………... 44 Tabel 17. Uji Korelasi Aspek-aspek Kedua Variabel dalam Dimensi Prestasi...45 Tabel 18. Uji Korelasi Aspek-aspek Kedua Variabel dalam Dimensi Afiliasi...46
xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. Lampiran 6.

Reliabilitas Alat Ukur…. …………………………………. …62 Daya Diskriminasi Aitem…. …………………………………64 Uji Asumsi…. …………………………………. …………….80 Alat Ukur Penelitian…. …………………………………. …. 83 Uji Korelasi…………………………………………………... 88 Preliminary Research………………………………………... 94

xii

Hubungan Locus of Control dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Tingkat Pertama di Universitas Sumatera Utara
Haifa Chairunnisa dan Arliza J. Lubis
ABSTRAK
Mahasiswa tingkat pertama mengalami berbagai perubahan dalam menghadapi perkuliahan sehingga membutuhkan penyesuaian diri agar dapat menjalani perkuliahan dengan baik. Literatur menunjukkan bahwa individu dengan internal locus of control memiliki karakteristik yang dibutuhkan untuk dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional untuk membuktikan hubungan tersebut. Penelitian ini melibatkan 174 mahasiswa tingkat pertama di Universitas Sumatera Utara secara insidental. Data dikumpulkan menggunakan 2 alat ukur yang telah dimodifikasi, yaitu Student Adaptation to College Questionnaire (SACQ) dan Multidimensional Multiattributional Causality Scale (MMCS), kemudian dianalisa dengan menggunakan teknik korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan subyek dengan tendensi mengarah ke Internal Locus of Control memiliki Penyesuaian Diri yang lebih baik (rs = -.364, p < .001), terlebih pada atribusi Kemampuan dan Usaha. Oleh karena itu, disarankan bagi mahasiswa tingkat pertama untuk mengoptimalkan kemampuan dan memaksimalkan usaha dalam berkuliah, dimana hal tersebut sejalan dengan peningkatan kemampuan penyesuaian diri.
Kata kunci: locus of control, penyesuaian diri , mahasiswa tingkat pertama
iv

Relationship between Locus of Control and Adjustment on Freshmen at University of Sumatera Utara
Haifa Chairunnisa and Arliza J. Lubis
ABSTRACT
The freshmen experiences changes in their first year so that requires adjustment in order to be successful in college. The literatures show that individual with internal locus of control has characteristics that aligned with the ability to adjust.
This study uses quantitative correlation method to examine that relationship. 174 freshmen at University of Sumatera Utara are participated in this research. Data are collected using two modified instruments, those are Student Adaptation to College Questionnaire (SACQ) and Multidimensional Multiattributional Causality Scale (MMCS), then analyzed with Spearman-Rank correlation technique. The result shows that the freshmen with tendency towards Internal Locus of Control have better adjustment (rs = -.364, p < .001), moreover in their Ability and Effort as the attributions of Internal Locus of Control. Therefore, it can be suggested for the freshmen to optimize their ability and maximize the effort that goes along with adjustment skill.
Keywords: locus of control, adjustment , freshmen
v

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Masa remaja dikenal sebagai sebuah periode perkembangan yang penting
(Arnett, 2000). Pada akhir periode ini, transisi dari SMA ke Perguruan Tinggi merupakan salah satu dari banyak bentuk perubahan hidup yang besar bagi kebanyakan remaja (Friedlander, Reid, Shupak, & Cribbie, 2007). Perubahan ini disebutkan memberikan begitu banyak kesempatan dan pengalaman baru yang mampu menstimulasi remaja, baik secara sosial dan intelektual (Friedlander, Reid, Shupak, & Cribbie, 2007; Thurber & Walton, 2012). Akan tetapi di saat yang sama, bagi banyak remaja yang kemudian menyandang status sebagai mahasiswa baru, memasuki lingkungan Perguruan Tinggi juga merupakan waktu yang penuh tekanan (Friedlander, Reid, Shupak, & Cribbie, 2007; Thurber & Walton, 2007).
Mahasiswa baru biasanya memiliki harapan tertentu terhadap kehidupan perkuliahan. Kebanyakan dari mereka berharap mendapatkan kebebasan lebih sehingga sangat bersemangat memulai dunia perkuliahan. Akan tetapi, kemudian mereka menemukan bahwa yang terjadi sebenarnya jauh dari harapan. Hal ini menyebabkan mereka merasa tidak bahagia dan tidak nyaman berada di lingkungan baru. Akan tetapi apapun harapannya, hampir setiap mahasiswa baru dipastikan mengalami kesulitan di awal masa perkuliahannya (Al-Qaisy, 2010).
Zoditama, mahasiswi Institut Manajemen Telkom 2009, menuliskan bahwa banyak sekali perubahan di masa kuliah yang terjadi yang tidak sesuai
1

2
dengan perkiraannya. Batas ketidakhadiran di kelas yang dibatasi, dosen yang sering hadir terlambat atau bahkan tidak hadir, akhir pekan yang dihabiskan untuk menghadiri kelas pengganti, sistem belajar SKS yang tidak dimengerti, metode belajar dengan presentasi, dan peraturan kampus yang rumit, adalah beberapa hal yang membuatnya terkejut di tahun pertamanya sebagai mahasiswa (Zoditama, 2010).
Banyak mahasiswa baru yang kemudian kewalahan dengan tuntutantuntutan perkuliahan yang mungkin berbeda dari masa sekolah dulu (Papalia, Olds, & Feldman, 2009). Berlakunya sistem pendidikan dengan standar yang lebih tinggi merupakan salah satu perubahan yang dialami oleh mahasiswa baru (Al-Qaisy, 2010). Sistem Kredit Semester, yang lazim diterapkan di tingkat Perguruan Tinggi, menuntut tanggung jawab lebih besar daripada sistem penyelenggaraan pendidikan di masa SMA.
Pola hubungan antara dosen dan mahasiswa yang sangat berbeda dengan guru dan siswa di masa SMA juga disebutkan sebagai perubahan lainnya yang dialami mahasiswa baru (Gunarsa & Gunarsa, 2000). Dosen memberikan perhatian yang lebih sedikit kepada mahasiswa dibandingkan dengan perhatian seorang guru kepada siswanya. Hal ini disebabkan oleh mahasiswa yang dituntut lebih aktif dalam kegiatan perkuliahan, sehingga dosen terlihat kurang peduli dengan mahasiswanya. Selain itu, Brouwer (dalam Alisjahbana & Sidharta, 1980) menyebutkan perubahan-perubahan lainnya yang akan dihadapi oleh mahasiswa baru, yaitu perbedaan gaya belajar, perpindahan tempat, mencari teman baru,

3
pengaturan waktu, nilai hidup yang diperoleh dari lingkungan, serta kemandirian dan tanggung jawab yang meningkat.
Berdasarkan survei yang dilakukan peneliti terhadap 65 orang mahasiswa tingkat pertama di Universitas Sumatera Utara, partisipan survei juga mengalami berbagai perubahan dan perbedaan tuntutan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Perubahan yang dialami antara lain seperti perbedaan sistem belajar mengajar, perbedaan jadwal, beban tugas yang semakin bertambah, lingkungan dan teman-teman baru, dosen yang tidak memberi perhatian lebih seperti guru, meningkatnya kebebasan dan kemandirian, serta perbedaan budaya dari demografis mahasiswa yang sudah lebih variatif. Berdasarkan hasil survei tersebut, sebanyak 80% mahasiswa tingkat pertama di USU yang berpartisipasi menyatakan bahwa perubahan-perubahan tersebut menyebabkan kondisi tertekan yang memengaruhi jalannya proses perkuliahan.
Walaupun banyak dari mahasiswa baru yang kemudian berhasil melewati masa transisi, beberapa orang lainnya terjebak di dalam kondisi stres, bahkan depresi, yang diakibatkan oleh masalah-masalah yang berhubungan dengam transisi ini (Gall, Evans, & Bellerose, 2000). Stres akademik pada mahasiswa baru biasanya disebabkan oleh ketidaksiapan mereka untuk mengerjakan tugas dalam tenggang waktu yang singkat dengan jumlah tugas yang terlalu banyak, tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, berharap dapat menyelesaikan beberapa tugas sekaligus, dan kesulitan menghadapi dosen (Ragheb & McKinney, 1989).
Sementara itu, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa stres dapat menimbulkan dampak negatif pada mahasiswa (Van Tilburg, Vingerhoets, & Van

4
Heck, 1996; Edwards, Hershberger, Russell, & Market, 2001; Misra, McKean, West, & Russo, 2000). Stres yang dialami pada mahasiswa tingkat pertama berpengaruh negatif terhadap nilai akademis dan motivasi belajar (Struthers, Perry, & Menec, 2000), serta ketekunan belajar pada mahasiswa tersebut (Perrine, 1999).
Tentunya, stres yang dialami mahasiswa baru ini tidak selesai dan berlalu begitu saja. Kemampuan untuk menyesuaikan diri adalah yang paling diandalkan jika seseorang harus berhadapan dengan lingkungan baru (Agustiani, 2006). Dengan penyesuaian diri pula, para mahasiswa baru dapat mengatasi kondisi tertekan (stres) yang mengganggu fungsi-fungsi kehidupan mereka. Penyesuaian diri kemudian menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan karena keberhasilan penyesuaian diri yang dilakukan oleh mahasiswa baru di lingkungannya yang baru berkorelasi positif dengan performa akademis mereka (Stoynoff, 1997; Felsten & Wilcox, 1992). Menurut Mutadin (2002), penyesuaian diri juga merupakan salah satu pesyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa.
Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk dapat bereaksi secara efektif dan harmonis terhadap realitas dan situasi sosialnya, serta bisa menjalin hubungan sosial yang sehat. Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai kesesuaian antara diri sendiri dengan lingkungannya (Kartono, 2002). Menurut Schneiders (1964), penyesuaian diri timbul apabila terdapat kebutuhan, dorongan, dan keinginan yang harus dipenuhi oleh seseorang, termasuk juga saat seseorang menghadapi masalah atau konflik yang harus diselesaikan.

5
Baker & Siryk (dalam Salami, 2011) menyebutkan bahwa mahasiswa baru umumnya menyesuaikan diri dalam empat hal, yaitu akademik, sosial, emosional, dan komitmen (intitutional attachment). Penyesuaian akademis adalah bentuk usaha yang dilakukan mahasiswa baru dalam menghadapi tuntutan akademis, seperti motivasi untuk menyelesaikan tugas dan usaha untuk mencapai prestasi. Penyesuaian sosial merupakan bentuk keterlibatan aktivitas sosial mahasiswa baru selama berkuliah. Penyesuaian emosional melibatkan kerentanan mahasiswa baru terhadap masalah emosional, seperti gejala-gejala depresi yang timbul akibat masalah yang dialami sebagai mahasiswa baru. Sedangkan komitmen (institutional attachment) menjelaskan kepuasan mahasiswa baru terhadap pengalaman berkuliah secara umum dan keputusannya untuk terus melanjutkan perkuliahan walaupun banyaknya masalah yang harus dihadapi selama berkuliah.
Setiap individu mungkin berbeda dalam hal lamanya mereka bangkit dari kondisi tertekan dan berhasil menyesuaikan diri. Ada individu yang cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang dihadapinya, tetapi ada juga yang butuh waktu lebih lama (Karanina & Suyasa, 2005). Individu-individu yang lebih cepat menyesuaikan diri memiliki beberapa karakteristik, yaitu memiliki pengetahuan tentang diri (self-knowledge), penerimaan diri (self-acceptance), perkembangan diri dan kontrol diri (self-development and self-control), memiliki rasa tanggung jawab, menunjukkan kematangan respon, mempunyai rasa humor, adanya adaptabilitas, memiliki kemampuan bekerja sama, dan memiliki orientasi yang adekuat terhadap realitas (Schneiders, 1964).

6
Penelitian ini akan membahas salah satu dari karakteristik psikologis yang telah disebutkan di atas, yaitu kontrol diri. Kontrol diri adalah cara individu mengendalikan pikiran, perasaan, dan tindakan diri dalam menghadapi hal-hal yang terjadi pada mereka, yang oleh Rotter disebut dengan locus of control. Menurut Demirtas & Günes, locus of control dianggap sebagai keyakinan individu tentang siapa atau apa yang bertanggung jawab atas hasil dari perilaku atau peristiwa dalam kehidupan mereka (dalam Hamedoglu, Kantor, & Gulay, 2012).
Pemilihan ini dilandasi oleh hasil survei yang telah dilakukan sebelumnya, dimana komponen-komponen kontrol diri banyak dipertimbangkan sebagai variabel yang berkaitan dengan keberhasilan penyesuaian diri mahasiswa tingkat pertama yang berpartisipasi dalam survei. Penelitian yang dilakukan oleh Widodo & Sukarti (2007) menunjukkan bahwa locus of control berkorelasi secara signifikan dengan coping stress. Lazarus (1969) menyebutkan bahwa coping merupakan salah satu usaha yang dilakukan individu dengan tujuan untuk menyesuaikan diri terhadap tekanan atau masalah yang dianggap berada di luar batas kemampuan dirinya.
Konsep locus of control dikembangkan dalam sebuah kontinuum dengan dua kutub berbeda, yaitu internal dan eksternal. Bagi individu yang meyakini bahwa apapun yang terjadi di dalam hidupnya menjadi tanggung jawabnya dan ia memiliki kuasa dan kontrol untuk mengubahnya adalah orang-orang yang tergolong memiliki internal locus of contol. Orang-orang yang cenderung internal mengatribusikan kejadian-kejadian tersebut pada kemampuan (ability) dan usaha

7
(effort). Sementara individu yang meyakini bahwa peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya merupakan hasil dari keberuntungan (luck) dan kekuasaan orang lain (context) di lingkungannya pada situasi yang sama, dikategorikan memiliki external locus of control.
Penelitian yang dilakukan oleh Phares (dalam Schultz & Schultz, 1994) menunjukkan bahwa individu dengan internal locus of control memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah, tingkat harga diri (self-esteem) yang lebih tinggi, lebih siap untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, dan menikmati tingkat kesehatan mental yang lebih baik. Mathur (2014) juga melaporkan bahwa individu dengan internal locus of control memperoleh nilai akademik yang lebih baik daripada individu dengan external locus of control. Begitu pula dengan yang disebutkan oleh Lefcourt, Martin, Fick, & Wendy (1985) bahwa individu dengan internal locus of control merupakan individu yang mampu berinteraksi dengan baik (skilled social interactors) karena memiliki keahlian sosial (social skill) dan sensitivitas tinggi terhadap orang lain dan lingkungan. Kemampuan-kemampuan di atas diperkirakan mampu mendukung penyesuaian diri yang dilakukan oleh individu, termasuk juga mahasiswa tingkat pertama.
Jika merujuk kepada paparan di atas, secara teoritis menunjukkan bahwa individu membutuhkan suatu bentuk kendali diri, dalam hal ini disebut dengan locus of control, dalam proses menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru. Untuk itu, peneliti bermaksud untuk meneliti apakah ada hubungan antara locus of control dengan penyesuaian diri, secara keseluruhan dan berdasarkan aspek-aspek

8
serta atribusi yang mendukungnya seperti yang telah dijelaskan di atas, juga terjadi di kalangan mahasiswa baru, khususnya di Universitas Sumatera Utara.
B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka
peneliti tertarik untuk mengetahui: Apakah ada hubungan antara locus of control dengan penyesuaian diri pada mahasiswa tingkat pertama di Universitas Sumatera Utara, baik secara keseluruhan maupun berdasarkan masing-masing aspek dan atribusinya?
C. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data empiris untuk menjawab
permasalahan utama, yaitu mengetahui hubungan locus of control dengan penyesuaian diri pada mahasiswa tingkat pertama di Universitas Sumatera Utara.
D. MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis, berupa: a. Sumbangan ilmu kepada ilmu pengetahuan di bidang psikologi klinis yang berkaitan dengan masalah penyesuaian diri dan locus of control b. Sebagai referensi dalam pengembangan alat ukur locus of control dan alat ukur penyesuaian diri

9
c. Sebagai referensi teoritis atau empiris untuk penelitian lain di masa mendatang
2. Manfaat Praktis Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a. Sebagai acuan atau informasi bagi para mahasiswa tingkat pertama tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses penyesuaian diri yang harus mereka lakukan di awal masa kuliah.
b. Sebagai referensi bagi pihak kampus untuk menyusun program untuk membantu atau menjadi katalisator dalam proses penyesuaian diri yang dilakukan oleh mahasiswanya.
E. SISTEMATIKA PENELITIAN Sistematika penelitian pada penelitian ini terdiri dari lima bab, dimulai
dari bab I sampai dengan bab V. Adapun sistematika penelitian pada penelitian ini adalah :
1. BAB I – Pendahuluan Bab ini berisi penjelasan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.
2. BAB II – Tinjauan Pustaka Bab ini berisi teori-teori yang digunakan sebagai landasan teori dalam penelitian, antara lain teori penyesuaian diri, teori locus of control, dan teori mahasiswa baru. Dalam bab ini juga akan dikemukakan dinamika

10
hubungan locus of control dengan penyesuaian diri, serta hipotesa penelitian.
3. BAB III – Metode Penelitian Bab ini berisi penjelasan mengenai identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, subjek penelitian, metode dan alat pengumpulan data, validitas dan reliabilitas alat ukur, prosedur pelaksanaan penelitian, dan metode analisa data.
4. BAB IV – Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab ini berisi uraian hasil penelitian, seperti gambaran umum dan karakteristik subjek penelitian dan cara analisa data, serta interpretasi data dan pembahasan.
5. BAB V – Kesimpulan dan Saran Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang disusun berdasarkan analisa dan interpretasi data penelitian, yang juga dilengkapi dengan saran-saran bagi peneliti lain berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. PENYESUAIAN DIRI 1. Pengertian Penyesuaian Diri Penyesuaian diri merupakan istilah yang digunakan para psikolog, dimana sebelumnya konsep ini merupakan konsep biologis yang disebut dengan adaptasi (Lazarus, 1969). Penyesuaian diri merupakan proses psikologis dimana seseorang mengatur atau mengatasi berbagai tuntutan dan tekanan. Menurut Atwater (1983), penyesuaian diri berkaitan dengan perubahan pada diri sendiri dan lingkungan yang dilakukan untuk mencapai kepuasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain dan dengan lingkungan. Hal ini serupa dengan yang diungkapkan Martin dan Osborne (1989) bahwa penyesuaian diri merupakan bentuk perubahan perilaku untuk menghadapi perubahan tuntutan lingkungan. Sawrey dan Telford menyebutkan bahwa penyesuaian diri merupakan interaksi yang terjadi terus-menerus antara individu dengan lingkungannya, yang melibatkan sistem kognisi, emosi, dan perilaku (dalam Calhoun & Acocella, 1990). Fahmi juga menyatakan hal yang serupa (dalam Sobur, 2003). Ia mendefinisikan penyesuaian diri sebagai suatu proses yang dinamis, berlangsung terus-menerus, yang bertujuan untuk mengubah perilaku untuk mendapatkan hubungan yang lebih serasi antara diri dan lingkungan.
11

12
Penyesuaian diri merupakan suatu usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan, dan emosi negatif lainnya yang tidak sesuai dan kurang efisien dapat dikikis habis (Kartono, 2002). Menurut Schneiders penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku, dimana individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan di dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, dan frustasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal (Desmita, 2009).
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan reaksi individu dalam mengatasi ketegangan karena terhambatnya kebutuhan untuk mencapai keselarasan antara individu dan lingkungan.
2. Bentuk Penyesuaian Diri Schneiders (1964) juga mengemukakan bahwa ada dua macam bentuk
penyesuaian diri yang dilakukan individu, yaitu: a. Penyesuaian diri personal Adalah bentuk penyesuaian diri yang diarahkan kepada diri sendiri, seperti penyesuaian diri fisik dan emosi, penyesuaian diri seksual, dan penyesuaian moral dan religius.

13
b. Penyesuaian diri sosial Adalah bentuk penyesuaian diri terhadap lingkungan, seperti rumah,
sekolah, dan masyarakat; yang merupakan aspek khusus dari kelompok sosial. Hal ini berarti melibatkan pola hubungan di antara kelompok yang ada dan saling berhubungan secara integral di antara ketiganya.
Sementara itu, menurut Gunarsa, bentuk penyesuaian diri ada dua, antara lain (dalam Sobur, 2003):
a. Adaptive Merupakan bentuk penyesuaian diri bersifat fisik, artinya perubahan-
perubahan dalam proses fisiologis untuk menyesuaikan kebutuhan diri terhadap lingkungan. b. Adjustive
Merupakan bentuk penyesuaian diri bersifat psikis, artinya penyesuaian diri, baik emosi dan tingkah laku terhadap lingkungan yang memiliki norma sosial.
3. Karakteristik Penyesuaian Diri Schneiders (1964) memberikan kriteria individu dengan penyesuaian diri
yang baik, yaitu sebagai berikut: a. Pengetahuan tentang kelebihan dan kekurangan dirinya b. Objektivitas diri dan penerimaan diri c. Kontrol dan perkembangan diri d. Integrasi pribadi yang baik

14
e. Adanya tujuan dan arah yang jelas dari perbuatannya f. Adanya perspektif, skala nilai, filsafat hidup yang adekuat g. Mempunyai rasa humor h. Mempunyai rasa tanggung jawab i. Menunjukkan kematangan respon j. Adanya perkembangan kebiasaan yang baik k. Adanya adaptabilitas l. Bebas dari respon yang cacat m. Memiliki kemampuan bekerja sama dan menaruh minat terhadap
orang lain n. Memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain o. Memiliki orientasi yang adekuat terhadap realitas
4. Aspek Penyesuaian Diri Schneiders (1964) mengungkapkan bahwa penyesuaian diri yang baik
meliputi tujuh aspek sebagai berikut: a. Tidak terdapat emosionalitas yang berlebih Aspek ini menekankan pada adanya kontrol emosi yang memungkinkan individu tersebut untuk menghadapi permasalahan dan dapat menentukan berbagai kemungkinan pemecahan masalah ketika muncul hambatan.

15
b. Tidak terdapat mekanisme psikologis Aspek ini menjelaskan pendekatan terhadap permasalahan lebih
mengindikasikan respon yang normal daripada penyelesaian masalah melalui serangkaian mekanisme pertahanan diri. Individu dikategorikan normal jika bersedia mengakui kegagalan yang dialami dan berusaha kembali untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. c. Tidak terdapat perasaan frustasi personal
Perasaan frustasi membuat seseorang sulit untuk bereaksi secara normal terhadap situasi atau masalah. Individu yang frustrasi akan merasa tidak berdaya dan hidup tanpa harapan. Maka akan sulit bagi individu untuk mengorganisir kemampuan berpikir, perasaan, motivasi dan tingkah laku dalam menghadapi situasi yang menuntut penyelesaian. d. Kemampuan untuk belajar
Penyesuaian merupakan proses belajar berkesinambungan dari perkembangan individu sebagai hasil dari kemampuannya mengatasi situasi konflik dan stres. e. Pemanfaatan pengalaman masa lalu
Dalam proses pertumbuhan dan perubahan, penggunaan pengalaman di masa lalu itu penting. Individu dapat menggunakan pengalamannya maupun pengalaman orang lain melalui kegiatan analisis mengenai faktor-faktor apa saja yang membantu dan mengganggu proses penyesuaian dirinya.

16
f. Sikap realistik dan objektif Penyesuaian secara konsisten berhubungan dengan sikap realistik dan
objektif yang bersumber pada pemikiran yang rasional, kemampuan menilai situasi, masalah dan keterbatasan individu sesuai dengan kenyataan sebenarnya. g. Pertimbangan rasional dan pengarahan diri
Individu memiliki kemampuan berpikir dan melakukan pertimbangan terhadap masalah atau konflik serta kemampuan mengorganisasi pikiran, tingkah laku dan perasaan untuk memecahkan masalah, dalam kondisi sulit sekalipun.
Pada mahasiswa sendiri, penyesuaian diri di lingkungan Perguruan Tinggi memiliki empat aspek (Baker & Siryk, 1984), yaitu:
a. Penyesuaian Akademik (Academic Adjustment) Penyesuaian akademik adalah kemampuan mahasiswa untuk
menyesuaikan diri dengan kehidupan perkuliahan dan mencapai tingkat kepuasan pada prestasi akademisnya. Aspek ini meliputi motivasi (sikap terhadap tujuan akademis, motivasi untuk mencapai tujuan akademis dan untuk berkuliah), aplikasi (seberapa jauh motivasi diubah menjadi suatu usaha untuk mencapai tujuan akademis), performa (keberhasilan dan keefektifan dalam mencapai tujuan akademis), dan lingkungan akademis (kepuasan terhadap prestasi akademis).

17
b. Penyesuaian Sosial (Social Adjustment) Penyesuaian sosial adalah kemampuan mahasiswa untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus. Aspek ini meliputi keterlibatan individu dalam kegiatan di lingkungan kampus secara umum, keterlibatan dan hubungan individu dengan orang lain di lingkungan kampus, dan kepuasan terhadap lingkungan kampus. c. Penyesuaian Emosional (Emotional Adjustment)
Penyesuaian emosional adalah kemampuan mahasiswa untuk menyesuaikan diri terhadap masalah emosional dan masalah fisik yang dihadapi sebagai mahasiswa baru. Aspek ini meliputi kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan kesejahteraan fisik (physical well-being). d. Kelekatan terhadap Institusi / Komitmen (Institutional Attachment)
Komitmen (institutional attachment) adalah kemampuan mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan membangun kelekatan antar dirinya dengan kampus dan kegiatan perkuliahan yang dijalani yang berpengaruh terhadap keputusan individu untuk melanjutkan perkuliahan. Aspek ini meliputi perasaan dan kepuasan terhadap lingkungan atau kegiatan perkuliahan secara umum dan kepuasan terhadap kegiatan perkuliahan secara khusus khusus (jurusan atau mata kuliah).

18
5. Faktor yang Memengaruhi Penyesuaian Diri Faktor-faktor yang memengaruhi penyesuaian diri adalah (Schneiders,
1964): a. Keadaan fisik Merupakan faktor yang memengaruhi penyesuaian diri, sebab keadaan sistem-sistem tubuh yang baik merupakan syarat bagi terciptanya penyesuaian diri yang baik. Adanya cacat fisik dan penyakit kronis akan melatarbelakangi adanya hambatan pada individu dalam melaksanakan penyesuaian diri. b. Perkembangan dan kematangan Bentuk-bentuk penyesuaian diri individu berbeda pada setiap tahap perkembangan. Tidak hanya karena proses pembelajaran, tetapi juga karena individu yang sudah lebih matang, baik dari segi intelektual, sosial, moral, dan emosi. c. Keadaan psikologis Keadaan mental yang sehat merupakan syarat bagi tercapainya penyesuaian diri yang baik, sehingga dapat dikatakan bahwa adanya frustrasi, kecemasan dan gangguan mental dapat menghambat penyesuaian diri. Keadaan mental yang baik akan mendorong individu untuk memberikan respon yang selaras dengan dorongan internal maupun tuntutan lingkungannya.

19
d. Keadaan lingkungan Keadaan lingkungan yang baik, damai, tenteram, aman, penuh
penerimaan dan pengertian, serta mampu memberikan perlindungan kepada anggota-anggotanya merupakan lingkungan yang akan memperlancar proses penyesuaian diri. Keadaan lingkungan yang dimaksud meliputi sekolah, rumah, dan keluarga. e. Tingkat religiusitas dan kebudayaan
Religiusitas memberi nilai dan keyakinan sehingga individu memiliki arti, tujuan, dan stabilitas hidup yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan dan perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Kebudayaan pada suatu masyarakat merupakan suatu faktor yang membentuk watak dan tingkah laku individu untuk menyesuaikan diri dengan baik atau justru membentuk individu yang sulit menyesuaikan diri.
B. LOCUS OF CONTROL 1. Pengertian Locus of Control Locus of control menurut Rotter adalah keyakinan individu mengenai sumber kontrol atau penguatan (reinforcement) di dalam hidupnya, apakah kontrol dan penguatan tersebut tergantung pada perilaku masing-masing atau bergantung pada kekuatan di luar diri (Schultz & Schultz, 1994). Menurut Lefcourt, locus of control mengacu pada derajat dimana individu meyakini peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya merupakan konsekuensi dari perbuatannya (dalam Smet, 1997). Hal ini sejalan

20
dengan Grimes, Millea & Woodruff (2004) yang menyatakan bahwa locus of control adalah konstruk psikologis yang digunakan untuk mengidentifikasi persepsi individu mengenai kontrol dirinya terhadap lingkungan eksternal dan tingkat tanggung jawab atau hasil perilaku. Larsen & Buss (2010) juga menyebutkan bahwa locus of control menggambarkan persepsi individu tentang tanggung jawab atas kejadian dalam hidupnya.
Menurut Forte (2005), locus of control mengacu pada kondisi dimana individu mengatribusikan kesuksesan dan kegagalan dalam hidupnya. Hal ini serupa dengan yang dinyatakan oleh Demirtas & Günes bahwa locus of control adalah persepsi individu tentang siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi di dalam hidup mereka (Hamedoglu, Kantor, & Gulay, 2012).
Spector (dalam Munir & Sajid, 2010) menyebutkan bahwa locus of control adalah sebuah kecenderungan individu untuk meyakini bahwa ia atau hal-hal di luar kekuasannya yang mengendalikan peristiwa dalam hidupnya. Erdogan (dalam Kutanis, Mesci, & Ovdur, 2011) menyatakan bahwa locus of control adalah gagasan yang dimiliki individu sepanjang hidupnya, menganalisis peristiwa sebagai hasil dari perilaku mereka atau hasil dari kebetulan, nasib, atau kekuatan di luar kendali mereka.
Berdasarkan pandangan dari beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa locus of control adalah suatu konsep yang menggambarkan keyakinan akan pusat kendali individu mengenai penyebab peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya.

21

2. Karakteristik Locus of Control

Menurut Andre (2008), ada beberapa perbedaan karakter individu yang

memiliki external locus of control dan internal locus of control, yaitu:

Tabel 1. Perbedaan Karakteristik Locus of Control

External Locus of Control
- Kurang memiliki kontrol terhadap perilaku diri
- Kurang aktif mencari informasi untuk menghadapi situasi tertentu
- Memiliki self-esteem yang rendah - Memiliki kepuasan kerja yang
rendah - Kesulitan mengatasi stres - Meyakini reward dan punishment
yang diterima sebagai kekuatan yang mungkin berubah dan tidak menentu

Internal Locus of Control
- Memiliki kontrol yang baik terhadap perilaku diri
- Lebih aktif mencari informasi yang berhubungan dengan situasi yang sedang dihadapi
- Memiliki self-esteem yang tinggi - Memiliki kepuasan kerja yang tinggi - Memiliki kemampuan mengatasi
stres yang baik - Meyakini reward dan punishment
yang diterima berhubungan dengan performa yang telah mereka hasilkan

3. Aspek Locus of Control Rotter mengusulkan locus of control sebagai aspek kepribadian yang
terdiri dari dua kutub ekstrim yang bertolak belakang (dalam Lefcourt, 1982). Setiap individu memiliki kedua kutub locus of control, yaitu internal locus of control dan external locus of control. Akan tetapi ada kalanya salah satu kutub berperan lebih kuat daripada kutub lainnya. Oleh karena itu, tidak ada satupun individu yang benar-benar internal ataupun sebaliknya. Locus of control juga tidak bersifat statis, tetapi dapat berubah tergantung pada situasi dan kondisi yang menyertainya.
a. External Locus of Control Robbins (2008) menyebutkan bahwa individu dengan external locus
of control berkeyakinan bahwa apapun yang terjadi pada dirinya

22
dikendalikan oleh kekuatan di luar dirinya, seperti keberuntungan atau kesempatan. Individu dengan external locus of control cenderung pasrah terhadap apa yang menimpanya. Menurut Rotter, external locus of control mengacu pada keyakinan bahwa kesempatan, nasib, keberuntungan, takdir, orang lain, dan hal-hal lainnya berpengaruh lebih kuat dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh individu (Karimi & Alipour, 2011). Hal ini sesuai dengan Lefcourt yang membagi lagi external locus of control menjadi dua tipe atribusi, yaitu konteks dan keberuntungan (dalam Halpert & Hill, 2001). Sementara itu, Levenson & Miller (1976) mengelompokkan tipe-tipe external locus of control ke dalam dua kelompok, yaitu kontrol dari orang lain (powerful others) dan kontrol dari kesempatan dan keberuntungan (chance and luck) (April, Dharani, & Peters, 2012). Individu seperti ini meyakini bahwa dirinya tidak memiliki kontrol atas yang terjadi di dalam hidupnya.
b. Internal Locus of Control Menurut Rotter, internal locus of control mengacu pada keyakinan
bahwa kesuksesan dan kegagalan yang terjadi di dalam hidup seseorang merupakan hasil dari tindakan dan usaha individu tersebut (Karimi & Alipour, 2011). Individu dengan internal locus of control meyakini bahwa ia dapat mengendalikan segala peristiwa dan konsekuensi yang terjadi di dalam hidu p mereka. Bagi individu dengan internal locus of control, kemampuan (ability) dan usaha (effort) lebih menentukan apa

23
yang diperoleh sepanjang hidupnya (Lefcourt, 1982 dalam Halpert & Hill, 2001).
Dalam penelitian ini, pengukuran locus of control dibagi lagi dalam dua dimensi (Lefcourt, 1982), yaitu: a. Achievement (Prestasi/Pencapaian)
Prestasi atau pencapaian merupakan suatu bentuk atau wujud dari kemampuan ataupun hasil usaha yang dilakukan seseorang. Lefcourt (1982) kemudian mendefinisikan prestasi sebagai hasil akademis, yaitu suatu hasil dari tujuan pendidikan, seperti nilai ataupun kelulusan dari suatu materi pelajaran.
b. Affiliation (Afiliasi/Hubungan) Afiliasi atau hubungan merupakan suatu tindakan untuk menjalin
hubungan dengan orang lain dan organisasi. Lefcourt (1982) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan afiliasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, baik dalam konteks pertemanan ataupun hubungan romantis.
4. Faktor yang Memengaruhi Locus of Control Dari beberapa hasil penelitian, berikut disimpulkan faktor-faktor yang
memengaruhi locus of control yang dimiliki individu, yaitu: a. Faktor Keluarga Lingkungan keluarga merupakan tempat utama seseorang mendapat pengaruh mengenai locus of control yang dimilikinya (Kuzgun, dalam

24
Hamedoglu, Kantor, & Gulay, 2012). Orang tua mendidik anak sembari melakukan sosialisasi nilai melalui berbagai cara, salah satunya pola asuh. Individu yang diasuh dalam lingkungan otoriter dengan kontrol perilaku ketat akan tumbuh sebagai individu yang pemalu dan bergantung (external locus of control). Sementara anak yang tumbuh pada lingkungan demokraktis akan mengembangkan kemandirian dan memiliki keterampilan interaksi sosial yang lebih baik, percaya diri, dan rasa ingin tahu yang besar (internal locus of control) b. Faktor Motivasi
Menurut Forte, individu hidup dengan motivasi internal dan eksternal. Hal ini juga turut memengaruhi locus of control seseorang (dalam Karimi & Alipour, 2011). Kepuasan, harga diri, peningkatan kualitas hidup merupakan beberapa motivasi internal. Sedangkan promosi jabatan, gaji, atau bentuk reward dan punishment lainnya merupakan bentuk motivasi eksternal. c. Faktor Pelatihan
Program pelatihan adalah sebuah pendekatan terapi yang diberlakukan untuk mengembalikan kendali atas hasil yang ingin diperoleh. Hal ini akan membantu meningkatkan kemampuan individu untuk mengatasi hal-hal yang membawa dampak buruk di dalam hidupnya. Menurut Luzza, Funk, dan Strang, pelatihan dapat mendorong individu hidup dengan internal locus of control (dalam Weissbein, Huang, Ford, & Schmidt, 2011).

25
C. MAHASISWA Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mahasiswa adalah
orang yang belajar di perguruan tinggi. Dalam Peraturan Pemerintah RI No. 30 Tahun 1990, mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi. Selanjutnya, Sarwono (1978) menyebutkan bahwa mahasiswa adalah setiap orang berusia 18-30 tahun yang resmi terdaftar untuk mengikuti proses belajar di perguruan tinggi. Sementara itu menurut Papalia, Olds, & Feldman (2009), mahasiswa, dalam masa perkembangannya, berada di tahap remaja akhir dengan rentang usia 18 – 21 tahun, yakni di masa transisi antara remaja menuju dewasa muda .
Mahasiswa tingkat pertama adalah peserta didik yang terdaftar dan sedang belajar pada semester satu atau semester dua di perguruan tinggi.
D. DINAMIKA HUBUNGAN ANTARA LOCUS OF CONTROL DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA Perkuliahan merupakan waktu yang penuh dengan tekanan bagi para
mahasiswa baru terkait dengan banyaknya perbedaan tuntutan antara masa sekolah dan masa kuliah. Stres yang timbul biasanya disebabkan oleh ketidaksiapan mereka dengan standar pendidikan yang lebih tinggi dimana mereka harus mengerjakan tugas dengan jumlah banyak dan dalam tenggang waktu singkat namun tetap selesai tepat waktu, pola hubungan antara dosen dengan

26
mahasiswa, pencarian teman baru, serta masalah kemandirian dan tanggung jawab yang meningkat.
Stres yang dialami mahasiswa tingkat pertama ini kemudian perlu ditindaklanjuti karena berbagai dampak negatif yang ditimbulkannya, seperti pada ni

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

99 3013 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 767 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 662 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 432 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 587 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 983 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 901 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 548 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 802 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 970 23