Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda OEM)

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU
PADA PT XYZ, JAKARTA(STUDI KASUS PADAPAINTING
PLASTIK PART HONDA OEM)

Oleh
WAHYU TRI UTAMI
H24104079

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU
PADA PT XYZ, JAKARTA(STUDI KASUS PADAPAINTING
PLASTIK PART HONDA OEM)

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen
Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Oleh
WAHYU TRI UTAMI
H24104079

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

RINGKASAN
WAHYU TRI UTAMI H24104079. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan
Baku pada PT XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda
OEM). Dibawah bimbingan ABDUL BASITH
Pemesanan dan penyimpanan barang merupakan kegiatan yang sangat
penting pada bagian pengendalian persediaan barang dalam suatu perusahaan,
baik barang tersebut merupakan bahan baku yang digunakan sebagai bahan
produksi suatu perusahaan ataupun sebagai barang yang digunakan dalam
kegiatan sehari-hari. Pengendalian persediaan barang yang tepat diperlukan
perusahaan untuk menghasilkan jumlah barang yang yang optimal dan
mengeluarkan biaya seminimal mungkin. PT. XYZ merupakan perusahaan
general assembling yang salah satu kegiatan produksinya adalah painting plastik
part Honda OEM (Original Equipment Manufacturer). Dalam kegiatan produksi
perusahaan sering mengalami claim karena tidak ratanya plastik part yang dicat.
Hal ini menyebabkan jumlah bahan baku yang direncanakan tidak sama dengan
pemakaian aktualnya. Oleh karena itu, diperlukan manajemen persediaan yang
baik untuk pengendalian persediaan bahan baku yang optimal.
Tujuan penelitian adalah : (1) Mengkaji sistem persediaan bahan baku saat
ini pada PT. XYZ; (2) Mengoptimalkan persediaan bahan baku pada PT. XYZ;
(3) Menganalisis efisiensi total biaya persediaan bahan baku pada PT. XYZ.
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data primer yang digunakan
diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak perusahaan, khususnya wawancara
dengan bagian PPC dan purchasing. Data sekunder diperoleh dari data dokumen
perusahaan yang telah ada.
Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan
data kualitatif dilakukan secara deskriptif, meliputi gambaran dan kondisi
perusahaan. Pengolahan data kuantitatif meliputi analisis ABC dan perhitungan
model Economic Order Quantity (EOQ). Pengolahan tersebut menggunakan
software POM for Windows 3. Hasil dari penelitian berdasarkan analisis ABC
dapat disimpulkan bahwa dari 26 jenis bahan baku terdapat lima jenis bahan baku
baku yang termasuk kedalam kelas A, yaitu Nippe Acryl HM NH/103, Nax
Superio Base AHM Thinner (New), Wip Up Solvent, F/C R258 Winning Red, dan
T/C Clear Base. Total biaya model EOQ lebih hemat dibandingkan total biaya
perusahaan. Hasil total biaya selama satu tahun dengan menggunakan model EOQ
adalah Rp 1.298.380.800, sedangkan total biaya perusahaan sebesar Rp
1.663.849.400, sehingga menghasilkan penghematan sebesar Rp 365.468.600 atau
sekitar 21,96 % dalam satu tahun.
Kata kunci: Analisis ABC, model EOQ

Judul Skripsi :Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ,
Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda OEM)
Nama

: Wahyu Tri Utami

NIM

: H24104079

Menyetujui,
Dosen Pembimbing,

Dr. Ir. Abdul Basith, MS
NIP 19570907 1985031006

Mengetahui,
Ketua Departemen,

Dr. Ir. Jono M. Munandar, MSc
NIP : 19610123 198601 1 002

Tanggal lulus :

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 13September 1989, sebagai anak
ketiga dari Sunhadji Waluyo dan Wahyuni Badriyah. Penulis merupakan lulusan
pendidikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Curug2 pada tahun 2001, kemudian
melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 11Depok
pada tahun 2004 dan kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas
Negeri (SMAN)4Depok. Pada tahun 2007, penulis diterima di Institut Pertanian
Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI)
untuk Program Diploma program keahlian Perencanaan dan Pengendalian
Manufaktur/Jasa (PPMJ).
Penulis memperoleh gelar Ahli Madya pada tahun 2010 dari Program
Diploma dengan predikat sangat memuaskan. Pada tahun yang sama yaitu tahun
2010, penulis melanjutkan pendidikan ke Program Sarjana Alih Jenis Manajemen
Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor melalui jalur tes. Untuk menyelesaikan skripsi, penulis melakukan praktek
lapang dengan judul Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT.
XYZ di Sunter Jakarta Utara.

iii

KATA PENGANTAR
Segala puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penyusunan
skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini diajukan sebagai syarat
kelulusan dan mendapatkan gelar sarjana ekonomi pada Program Sarjana Alih
Jenis Manajemen.
Penelitian ini berdasarkan praktek kerja lapangan (PKL) yang dilakukan
penulis selama satu bulan terhitung sejak 1 – 27 Juli 2012 dengan mengambil
judul Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ, Jakarta
(Studi Kasus pada Painting Plastik PartHonda OEM). Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui berapa jumlah pemesanan ekonomis dan kapan bahan
baku dipesan sehingga diperoleh total biaya yang efisiensi untuk perusahaan dan
diharapkan penelitian ini dapat berguna untuk perusahaan kedepannya.
Penulis berharap bahwa penulisan skripsi ini dapat memberikan kontribusi
positif kepada para pembaca khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk
senantiasa memperoleh wawasan dan pengetahuan.Sangat disadari penulis bahwa
skripsi ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu penulis mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat mambangun demi kesempurnaan skripsi ini dan lebih baik
lagi pada masa mendatang.Atas perhatiannya,penulis ucapkan terima kasih.
Bogor, Desember 2012

Penulis

iv

UCAPAN TERIMAKASIH
Skripsiini dapat terselesaikan karena adanya dukungan dari berbagai
pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Kedua orang tua dan kedua kakakku yang sudah memberikan doanya dan
dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini.
2. Bapak Dr. Ir. Abdul Basith, MS selaku dosen pembimbing yang telah
membimbing penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM dan Bapak R. Dikky Indrawan, SP, MM
selaku dosen penguji.
4. Seluruh dosen pengajar pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen Institut
Pertanian Bogor.
5. Bapak Purwanto selaku staf HRD yang telah memberi kesempatan bagi
penulis untuk dapat melakukan praktik kerja lapangan dibagian Technical
Departement.
6. Bapak Iwantoro dan Bapak Rasmidi yang telah bersedia menjadi pembimbing
lapangan.
7. Seluruh staf yang ada dibagian Technical Departement dan karyawan PT.
XYZkhususnya pada jalur small partyang banyak membantu dalam pencarian
data untuk penulisan skripsi ini.
8. Bapak Tarman dan Bapak Agus bagian Warehouse, Bapak Rian dan Bapak
Aspar bagian PPC, Bapak Tukimin bagian Accounting dan Bapak Tohibud
bagian Purchasing yang telah meluangkan waktunya untuk menjawab
pertanyaan yang penulis ajukan.
9. Sahabat dan teman-teman yang ada di Program Sarjana Alih Jenis
Manajemen.
10. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, semoga Allah
SWT memberikan pahala atas kebaikannya.

v

DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN
RIWAYAT HIDUP ..................................................................................

iii

KATA PENGANTAR ..............................................................................

iv

DAFTAR ISI ............................................................................................

vi

DAFTAR TABEL ....................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................

ix

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................

x

I. PENDAHULUAN...............................................................................

1

1.1
1.2
1.3
1.4
1.5

Latar Belakang ............................................................................
Perumusan Masalah .....................................................................
Tujuan Penelitian.........................................................................
Manfaat Penelitian.......................................................................
Ruang Lingkup Penelitian ...........................................................

1
4
5
5
5

II. TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................

7

2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7

Definisi Persediaan ......................................................................
Faktor Penyebab Munculnya Persediaan......................................
Manfaat Persediaan .....................................................................
Fungsi Persediaan ........................................................................
Jenis Persediaan ..........................................................................
Biaya Persediaan .........................................................................
Model Pengendaliaan Persediaan .................................................
2.7.1 Analisis ABC......................................................................
2.7.2 Jumlah Pemesanan Ekonomis .............................................
2.7.3 Persediaan Pengaman .........................................................
2.7.4Reorder Point ......................................................................
2.8 Penelitian Terdahulu ....................................................................

7
8
8
10
11
12
14
14
15
17
18
19

III. METODE PENELITIAN ..................................................................

21

3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian ....................................................
3.2 Metodologi Penelitian .................................................................
3.2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...............................................
3.2.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data ..................................
3.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data .........................................
3.3.1 Analisis ABC......................................................................
3.3.2 Model EOQ ........................................................................

21
22
22
23
23
24
24

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...........................................................

26

4.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan .......................................

26

vi

4.1.1 Profil Perusahaan ................................................................
4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan...........................................
4.1.3 Kebijakan Mutu PT. Gaya Motor ........................................
4.1.4 Data Fisik PT. Gaya Motor .................................................
Proses Produksi Honda OEM ......................................................
Pengendalian Persediaan Bahan Baku..........................................
4.3.1 Prosedur Pembelian Bahan Baku ........................................
4.3.2 Prosedur Penerimaan Bahan Baku ......................................
4.3.3 Prosedur Pemakaian Bahan Baku ........................................
Penentuan Bahan Baku Prioritas dengan Analisis ABC ...............
Biaya Persediaan .........................................................................
4.5.1 Biaya Pemesanan ................................................................
4.5.2 Biaya Penyimpanan ............................................................
Jumlah Pemesanan Ekonomis ......................................................
Implikasi Manajerial....................................................................

26
27
29
29
30
34
35
36
37
38
40
40
41
41
44

KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................

45

1. Kesimpulan ...........................................................................................
2. Saran ....................................................................................................

45
46

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................

47

LAMPIRAN .............................................................................................

48

4.2
4.3

4.4
4.5
4.6
4.7

vii

DAFTAR TABEL
No.

Halaman

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Rencana kebutuhan bahan baku Honda OEM ............................................
Penggunaan bahan baku Honda OEM .......................................................
Hasil analisis ABC bahan baku Honda OEM.............................................
Perhitungan biaya pemesanan....................................................................
Kebutuhan optimum bahan baku kelas A dengan metode EOQ .................
Jumlah pemesanan yang diperkirakan sepanjang tahun dan waktu antar
pemesanan yang diperkirakan pada EOQ dengan jumlah pemesanan
masing-masing bahan baku .......................................................................
7. Perbandingan total biaya tahunan bahan baku kelas A dengan metode
EOQ dan perusahaan .................................................................................

viii

2
3
39
41
42
42
43

DAFTAR GAMBAR
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Halaman
Representasi grafik dari analisis ABC .......................................................
Penggunaan persediaan dalam waktu tertentu ............................................
Biaya total sebagai fungsi dari kuantitas pemesanan ..................................
Kerangka pemikiran penelitian ..................................................................
Prosedur pembelian bahan baku ................................................................
Prosedur penerimaan bahan baku ..............................................................
Prosedur pemakaian bahan baku ................................................................

ix

15
16
17
22
36
37
38

DAFTAR LAMPIRAN
No.

Halaman

1. Pengumpulan dan analisis data .............................................................
2. Struktur organisasi PT. XYZ ................................................................
3. Layout PT. XYZ ..................................................................................
4. Layout small part .................................................................................
5. Peta proses operasi painting plastik part Honda OEM ..........................
6. Hasil perhitungan bahan baku Nippe Acryl HM NH/103 .......................
7. Hasil perhitungan bahan baku Nax Superio Base AHM Thinner (New) .
8. Hasil perhitungan bahan baku Wip Up Solvent .....................................
9. Hasil perhitungan bahan baku F/C R258 Winning Red .........................
10. Hasil perhitungan bahan baku T/C Clear Base......................................

x

49
50
51
52
53
54
54
54
55
55

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemesanan dan penyimpanan barang merupakan kegiatan yang sangat
penting pada bagian pengendalian persediaan barang atau inventory control dalam
suatu perusahaan, baik barang tersebut merupakan bahan baku yang digunakan
sebagai bahan produksi suatu perusahaan ataupun sebagai barang yang digunakan
dalam kegiatan sehari-hari. Pada kegiatan pemesanan bahan baku, bahan baku
yang dipesan adalah bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Sehingga ada kalanya pada saat unit-unit dalam organisasi membutuhkan barang
untuk melakukan aktivitas, barang yang dibutuhkan tidak tersedia di gudang.
Adapun sebaliknya, apabila organisasi memesan barang dengan jumlah yang
cukup besar serta setiap unit-unit belum membutuhkan, maka akan mengalami
penumpukkan persediaan dan berpengaruh kepada biaya penyimpanan dan mutu
bahan baku yang disimpan menjadi kurang baik. Pengendalian persediaan barang
yang tepat diperlukan perusahaan untuk menghasilkan jumlah barang yang
optimal dan mengeluarkan biaya seminimal mungkin.
PT. XYZ adalah perusahaan general assembling yang didirikan pada tahun
1963. Perusahaan ini dapat bertahan walaupun tidak memiliki produk sendiri.
Perusahaan ini menggunakan sistem make to order, yang mana produksi sesuai
pesanan pelanggan.Salah satu produksi PT. XYZ adalah painting plastik
partHonda OEM (Original Equipment Manufacturer). Proses painting plastik
part Honda OEM adalah salah satu produk PT XYZ yang nantinya akan dikirim
ke ATPM (Agen Tunggal Pemilik Merek) untuk dirakit dan dijadikan unit sepeda
motor.Setiap harinya perusahaan harus mengirimkan sekitar 1400 pcs plastik part
yang sudah di painting dari 14 part yang ada untuk dijadikan 100 unit kendaraan
sepeda motor. Namun dalam praktiknya perusahaan sering mengalami
pengembalian part yang salah satunya disebabkan karena tidak ratanya plastik
part yang di cat. Hal tersebut menyebabkan bertambahnya part yang akan
dilakukan painting untuk membayar claimdari ATPM, sehingga kebutuhan bahan
baku yang sudah direncanakan tidak sesuai dengan pemakaian aktualnya. Oleh

2
Tabel 1. Rencana kebutuhan bahan baku Honda OEM
Bahan Baku
Nippe Acryl HM NH / 103
Nax Superio Base AHM Thinner
(New)
Wip Up Solvent
F/C R258 Winning Red
T/C Clear Base
U/C NH-177M Vostok Silver Met
U/C Pink R258 For Winning Red
Polyure Mightylac Hardener
SGI U/C Thinner New
SGI F/C Thinner
Sarung Tangan Nylon
Thinner Laquer Central
U/C NH-A 30M Digital Silver
Masking Tape 1x30 Anco
Sand Paper #600
Masking Tape 2x30 Anco
Masker Kain
Tag Rag
Tessa Flexible Fineline Masking
Tape 4174
Sarung Tangan 6 Benang
Sand Paper #800
High Performance Cloth (IPO)
Majun B
Sarung Tangan Karet
Koran Bekas
Scoth Brate

Jul-11

Ags-11

Sep-11

Okt-11

Nop-11

Des-11

Jan-12

Feb-12

1047,92

692,02

1136,89

1047,92

1977,2

1136,89

1878,34

988,6

1034,56
385,84
80,56
106
84,8
74,2
34,56
159
137,8
267,12
207,76

683,2
254,8
53,2
70
56
49
22,82
105
91
176,4
137,2
23,8
215,6
98
39,2
98
39,2

1122,4
418,6
87,4
115
92
80,5
37,49
172,5
149,5
289,8
225,4
39,1
354,2
161
64,4
161
64,4

1034,56
385,84
80,56
106
84,8
74,2
34,56
159
137,8
267,12
207,76

1952
728
152
200
160
140
65,2
300
260
504
392

1854,4
691,6
144,4
190
157
285
61,94
285
247
478,8
372,40

976
364
76
100
80
70
32,6
150
130
252
196,00

36,04
326,48
148,4
59,36
148,4
59,36

68
616
280
112
280
112

1122,4
418,6
87,4
115
92
80,5
37,49
172,5
149,5
289,8
225,4
39,1
354,2
161
64,4
161
64,4

64,6
585,2
266
106,4
266
106,4

34
308
140
56
140
56

3,22
22,54
38,64
3,22

2,968
20,776
35,616
2,97

5,32
37,24
63,84
5,32

2,8
19,6
33,6
2,80

28,98
22,54
12,88

26,712
20,776
11,872

5,6
39
67,2
5,6
50,4

3,22
22,54
38,64
3,22

26,712
20,776
11,872

7,96
13,72
23,52
7,96
17,64
13,72
7,84

39
22,4

28,98
22,54
12,88

47,88
37,24
21,28

2,968

7,96

3,22

2,968

5,6

3,22

5,32

36,04
326,48
148,4
59,36
148,4
59,36
2,968
20,776
35,616
2,97

Mar-12

Apr-12

Mei-12

Jun-12

642,59

840,31

444,87

494,3

634,4
236,6
49,4
65
52
45,5
21,19
97,5
84,5
163,8
127,4
22,1
200,2
91
36,4
91
36,4

829,6
309,4
64,6
85
68
59,5
27,71
127,5
110,5
214,2
166,60

439,2
163,8
34,2
45
36
31,5
14,67
67,5
58,5
113,4
88,2

28,9
261,8
119
47,6
119
47,6

15,3
138,6
63
25,2
63
25,2

488
169,9
38
50
40
35
16,3
75
65
117,6
91,46
17
143,7
65,3
26,1
65,3
26,1

2,38
16,66
28,56
2,38

1,26
8,8
15,12
1,26

25,2
19,6
11,2

1,82
12,74
21,84
1,82
16,38
12,74
7,28

21,42
16,66
9,52

11,34
6,8
5,04

5,3
9,15
15,68
5,3
11,76
9,15
5,22

2,8

1,82

2,38

1,26

5,3

3
Tabel 2. Penggunaan bahan baku Honda OEM
Bahan Baku
Nippe Acryl HM NH / 103
Nax Superio Base AHM Thinner
(New)
Wip Up Solvent
F/C R258 Winning Red
T/C Clear Base
U/C NH-177M Vostok Silver Met
U/C Pink R258 For Winning Red
Polyure Mightylac Hardener
SGI U/C Thinner New
SGI F/C Thinner
Sarung Tangan Nylon
Thinner Laquer Central
U/C NH-A 30M Digital Silver
Masking Tape 1x30 Anco
Sand Paper #600
Masking Tape 2x30 Anco
Masker Kain
Tag Rag
Tessa Flexible Fineline Masking
Tape 4174
Sarung Tangan 6 Benang
Sand Paper #800
High Performance Cloth (IPO)
Majun B
Sarung Tangan Karet
Koran Bekas
Scoth Brate

Jul-11

Ags-11

Sep-11

Okt-11

Nop-11

Des-11

Jan-12

Feb-12

1136,89

741,45

1038,03

1047,92

1878,34

1482,9

2174,92

988,6

1122,4
418,6
87,4
115
92
80,5
37,49
172,5
149,5
289,8
225,4
39,1
354,2
161
64,4
161
64,4

732
237
57
75
60
52,5
24,45
112,5
97,5
189
147,00

1024,8
382,2
79,8
105
84
73,5
34,23
157,5
136,5
264,6
205,80

1034,56
385,84
80,56
106
84,8
74,2
34,56
159
137,8
267,12
207,76

1854,4
691,6
144,4
190
157
285
61,94
285
247
478,8
372,40

1464
546
114
150
120
105
48,9
225
195
378
294,00

2147,2
800,8
167,2
220
176
154
71,72
330
286
554,4
431,20

976
364
76
100
80
70
32,6
150
130
252
196,00

25,5
231
105
42
105
42

35,7
323,4
147
58,8
147
58,8

36,04
326,48
148,4
59,36
148,4
59,36

64,6
585,2
266
106,4
266
106,4

51
462
210
84
210
84

74,8
677,6
308
123,2
308
123,2

34
308
140
56
140
56

3,22
22,54
38,64
3,22

2,1
14,7
25,2
2,10

2,94
20,58
35,28
2,94

2,968
20,776
35,616
2,97

5,32
37,24
63,84
5,32

4,2
29,4
50,4
4,20

6,16
43,12
73,92
6,16

2,8
19,6
33,6
2,80

28,98
22,54
12,88

18,9
14,7
8,4

26,46
20,58
11,76

26,712
20,776
11,872

47,88
37,24
21,28

37,8
29,4
16,8

55,44
43,12
24,64

3,22

2,1

2,94

2,968

5,32

4,2

6,16

Mar-12

Apr-12

Mei-12

Jun-12

692,02

840,31

247,15

642,59

683,2
254,8
53,2
70
56
49
22,82
105
91
176,4
137,2
23,8
215,6
98
39,2
98
39,2

829,6
309,4
64,6
85
68
59,5
27,71
127,5
110,5
214,2
166,60

244
81
19
25
20
17,5
8,15
37,5
32,5
63
49,00

28,9
261,8
119
47,6
119
47,6

8,5
77
35
14
35
14

634,4
236,6
49,4
65
52
45,5
21,19
97,5
84,5
163,8
127,4
22,1
200,2
91
36,4
91
36,4

2,38
16,66
28,56
2,38

0,7
4,9
8,4
0,70

25,2
19,6
11,2

7,96
13,72
23,52
7,96
17,64
13,72
7,84

21,42
16,66
9,52

6,3
4,9
2,8

1,82
12,74
21,84
1,82
16,38
12,74
7,28

2,8

7,96

2,38

0,7

1,82

4

sebabitu diperlukan manajemen persediaan yang baik untuk pengendalian
persediaan bahan baku agar optimal.
Manajemen persediaan meliputi setiap aktivitas yang menjaga agar tingkat
persediaan tetap berada dalam tingkatan yang diinginkan. Kebijakan dalam
manajemen persediaan perlu dirumuskan secara tepat sehingga dapat mencapai
tujuan yang diharapkan oleh perusahaan. Terdapat beberapa metode untuk
mengendalikan tingkat persediaan, diantaranya adalah analisis ABC dan model
Economic Order Quantity (EOQ).
Analisis ABC digunakan untuk mengklasifikasikan bahan baku berdasarkan
dolar tahunan yakni hasil persentase komulatif dari perkalian antara permintaan
dengan harga perunit bahan baku. Pengelompokkan ini dapat membantu manager
untuk lebih fokus pada bahan baku yang memiliki persentase komulatif tinggi yakni kelas A
dan memberikan kontrol yang secukupnya untuk bahan baku yang lain.
Metode EOQ digunakan untuk menentukan jumlah barang yang optimal
dalam satu periode dengan meminimalkan total biaya persediaan. Biaya
persediaan itu terdiri dari setup cost dan holding cost. Pada penentuanjumlah
barang yang akan dipesan dibutuhkan data-data hasil analisa yangmendalam
sehingga menghasilkan jumlah barang yang optimal untuk dipesan dantidak
merugikan perusahaan. Beberapa keuntungan dari kebijakan penerapan EOQ
dalam manajemen persediaan adalah investasi yang tertanam dalam persediaan
bisa dijaga tetap minimum dan jumlah pemesanan bahan baku disesuaikan
kebutuhan konsumsi.
1.1. Perumusan Masalah
Masalah utama persediaan bahan baku adalah menentukan berapa jumlah
pesanan ekonomis yang akan menjawab persoalan berapa jumlah bahan baku dan
kapan bahan baku itu dipesan sehingga dapat meminimasi ordering cost dan
holding cost. Masalah lain dari persediaan bahan baku adalah terjadinya
penumpukan yang dapat mengurangi mutu dari bahan baku itu sendiri. Melihat
masalah tersebut maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.

Bagaimana sistem persediaan bahan baku yang sedang berjalan pada PT.
XYZ?

5

2.

Bagaimana mengoptimalkan persediaan bahan baku agar tidak menghambat
proses produksi pada PT. XYZ?

3.

Bagaimana mengefisiensikan total biaya persediaan bahan baku pada PT.
XYZ?

1.2. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1.

Mengkaji sistem persediaan bahan baku saat ini pada PT. XYZ.

2.

Mengoptimalkan persediaan bahan baku pada PT. XYZmenggunakan
Analisis ABC.

3.

Analisis efisiensi total biaya persediaan bahan baku pada PT. XYZ
menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ).

1.3. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1.

Bagi penulis, dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di
perkuliahan untuk dapat menerapkannya di lapangan.

2.

Bagi perusahaan, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan
pertimbangan dan masukan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan
pengendalian persediaan.

3.

Bahan referensi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih
lanjut mengenai pengendalian persediaan.

1.4. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah:
1.

Persediaan yang dikaji adalah bahan baku pada jalur painting plastik part
Honda OEM.

2.

Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan selama bulan Juli2012, dan data
yang diperlukan berupa data sekunder selama satu tahun yakni dari Juli 2011
- Juni 2012dan seluruhnya bersumber pada catatan kebutuhan bahan baku di
bagian Production Planing Control (PPC).

6

3.

Dalam perhitungan Economic Order Quantity (EOQ) bahan baku yang
diperhitungkan hanya bahan baku yang tergolong kedalam kelas A pada
analisis ABC.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Persediaan
Menurut Pardede (2005), persediaan (inventory) adalah sejumlah barang
atau bahan yang tersedia untuk digunakan sewaktu-waktu di masa yang akan
datang. Sediaan terjadi apabila jumlah bahan atau barang yang diadakan (dibeli
atau dibuat sendiri) lebih besar daripada jumlah yang digunakan (dijual atau
diolah sendiri).
Menurut Ristono (2009), persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang
yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan
datang. Persediaan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan bahan setengah
jadi, dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku dan bahan setengah jadi
di simpan sebelum digunakan atau dimasukan ke dalam proses produksi,
sedangkan persediaan barang jadi atau barang dagangan di simpan sebelum dijual
atau dipasarkan.
Menurut Heizer dan Render (2010), persediaan adalah salah satu asset
termahal dari banyak perusahaan, mewakili sebanyak 50% dari keseluruhan
modal yang diinvestasikan. Manajer operasi diseluruh dunia telah menyadari
bahwa manajemen persediaan sangatlah penting. Di satu sisi, sebuah perusahaan
dapat mengurangi biaya dengan mengurangi persediaan. Di sisi lain, produksi
dapat berhenti dan pelanggan menjadi tidak puas ketika sebuah barang tidak
tersedia. Tujuan manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara
investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan.
Menurut Assauri (2008), persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi
barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual suatu periode usaha yang
normal atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan/proses
produksi, ataupun persediaan barang baku yang menunggu penggunaannya dalam
suatu proses produksi. Jadi persediaan merupakan sejumlah bahan-bahan, parts
yang disediaakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan
untuk proses produksi, serta barang-barang jadi/produk yang disediakan untuk
memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu.

8

2.2. Faktor Penyebab Munculnya Persediaan
Menurut Sumayang (2003), penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai
berikut:
1.

Menghilangkan pengaruh ketidakpastian. Untuk menghadapi ketidakpastian
maka pada sistem ditetapkan persediaan darurat yang dinamakan safety
stock. Jika sumber dari ketidakpastian dapat dihilangkan, maka jumlah
inventory maupun safety stock dapat dikurangi.

2.

Memberi waktu luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian. Kadangkadang lebih ekonomis memproduksi barang dalam proses atau barang jadi
dalam jumlah besar atau dalam jumlah paket yang kemudian disimpan
sebagai persediaan.

3.

Untuk mengantisipasi perubahan pada demand dan supply. Inventory
disiapkan untuk menghadapi bila ada perkiraan perubahan harga dan
persediaan bahan baku.

2.3. Manfaat Persediaan
Menurut Assauri (2008), alasan diperlukannya persediaan oleh suatu
perusahaan adalah karena:
1.

Dibutuhkannya waktu untuk menyelesaikan operasi produksi untuk
memindahkan produk dari suatu tingkat ke tingkat produksi proses yang
lain, yang disebut persediaan dalam proses dan pemindahan.

2.

Alasan organisasi, untuk memungkinkan satu unit atau bagian membuat
jadwal operasinya secara bebas, tidak tergantung dari yang lainnya.
Alasan-alasan utama untuk mengadakan sediaan menurut Pardede (2005),

adalah kaitannya dengan hal-hal berikut :
1.

Berjaga-jaga
Pengadaan persediaan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk
berjaga-jaga tehadap kemungkinan tidak tersedianya atau tidak cukupnya
bahan-bahan pada saat dibutuhkan. Kemungkinan seperti itu terjadi apabila
permintaan berubah-ubah dan tidak dapat diramalkan. Penyebab lainnya
adalah masa tunggu (lead time) yang berubah-ubah dan sering tidak dapat

9

diperkirakan. Penyebab itu dapat juga kedua-duanya sekaligus, yaitu
permintaan tidak pasti. Sediaan yang diadakan dengan maksud untuk
berjaga-jaga terhadap kemungkinan seperti itu disebut sediaan berjagajaga(buffer stock).
2.

Pemisahan operasi (operation decoupling)
Pada suatu rangkaian kegiatan pengolahan, setiap kegiatan sangat
bergantung kepada, atau dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan lain. Pada
beberapa kegiatan yang berurutan, apabila satu kegiatan terhenti maka
kegiatan berikutnya akan terganggu. Untuk mengatasi hal ini maka dua
kegiatan yang berurutan dapat dipisahkan dari segi sediaan. Dengan cara ini
suatu kegiatan yang mengikuti, atau yang merupakan lanjutan dari, kegiatan
lain “dibekali” dengan sediaan bahan dalam pengerjaan sehingga
ketergantungan terhadap kegiatan pendahulunya dapat diperkecil.
Disamping itu, pemisahan kegiatan dari segi sediaan juga dilakukan
agar setiap kegiatan dapat direncanakan jadwal secara bebas tanpa harus
menyesuaikannya dengan jadwal-jadwal kegiatan lain.

3.

Pemantapan produksi (smoothing production)
Apabila sejumlah barang yang diminta berubah-ubah naikturun secara
tidak teratur, perusahaan tidak harus menaik-turunkan tingkat pengolahan
untuk memenuhinya. Pengolahan dapat diusahakan agar selalu berada pada
tingkat yang tetap dengan bantuan sediaan. Pada saat jumlah barang yang
dibuat lebih besar dari jumlah yang diminta maka sediaan akan menumpuk.
Sediaan ini nantinya akan digunakan untuk menutupi kekurangan pada saat
jumlah yang dibuat rendah dari jumlah yang diminta.

4.

Penghematan biaya penanganan sediaan
Pada suatu rangkaian kegiatan pengolahan, bahan-bahan mengalir
mulai dari kegiatan tahap awal hingga kegiatan tahap akhir. Pergerakan
bahan-bahan ini tentu saja membutuhkan biaya terutama pada kegiatan
pengolahan yang terputus-putus (intermitten production process). Biaya ini,
yang disebut biaya penanganan sediaan(material handling cost), dapat
dihemat dengan cara mengadakan atau menempatkan sediaan di antara dua
kegiatan yang berurutan.

10

5.

Penghematan biaya pengadaan bahan
Biaya pengadaan bahan (material procurement cost) akan dapat
dihemat melalui pemanfaatan potongan jumlah (quantity discount) yang
ditawarkan oleh perusahaan pemasok. Potongan jumlah diperoleh apabila
pembelian dilakukan dalam jumlah besar, dan pembelian dalam jumlah
besar akan dimungkinkan dengan pengadaan sediaan.

2.4. Fungsi Persediaan
Menurut Heizer dan Render (2010), persediaan dapat melayani beberapa
fungsi yang menambal fleksibilitas bagi operasi perusahaan. Keempat fungsi
persediaan adalah sebagai berikut:
1.

“Decouple” atau memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi.
Sebagai contoh, jika persediaan sebuah perusahaan berfluktuasi, persediaan
tambahan mungkin diperlukan untuk melakukan decouple proses produksi
dari pemasok.

2.

Melakukan

“decouple”

perusahaan

dari

fluktuasi

permintaan

dan

menyediakan persediaan barang-barang yang akan memberikan pilihan bagi
pelanggan. Persediaan seperti ini digunakan secara umum pada bisnis
eceran.
3.

Mengambil keuntungan dari diskon kuantitas karena pembelian dalam
jumlah besar dapat mengurangi biaya pengiriman barang.

4.

Melindungi terhadap inflasi dan kenaikan harga.
Menurut Assauri (2008), persediaan yang diadakan mulai dari yang bentuk

bahan mentah sampai dengan barang jadi, mempunyai fungsi yaitu:
1.

Menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan
yang dibutuhkan perusahaan.

2.

Menghilangkan risiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus
dikembalikan.

3.

Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga
dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.

4.

Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran
arus produksi.

11

5.

Mencapai penggunaan mesin yang optimal.

6.

Memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya
dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau
memberikan jaminan tetap tersediaanya barang jadi tersebut.

7.

Membuat

pengadaan

atau

produksi

tidak

perlu

sesuai

dengan

penggunaannya atau penjualannya.
2.5. Jenis Persediaan
Menurut Nasution dan Prastyawan (2008), dilihat dari jenisnya persediaan
dibedakan menjadi empat, yaitu:
1.

Bahan baku (raw material) adalah barang-barang yang dibeli dari pemasok
(supplier) dan akan digunakan atau diolah menjadi produk jadi yang akan
dihasilkan perusahaan.

2.

Bahan setengah jadi (work in process) adalah bahan baku yang sudah diolah
atau dirakit menjadi komponen namun masih membutuhkan langkahlangkah lanjutan agar menjadi produk jadi.

3.

Barang jadi (finish good) adalah barang jadi yang telah selesai diproses, siap
untuk disimpan di gudang barang jadi, dijual, atau didistribusikan ke lokasilokasi pemasaran.

4.

Bahan-bahan pembantu(supplies) adalah barang-barang yang dibutuhkan
untuk menunjang produksi, namun tidak akan menjadi bagian pada produk
akhir yang dihasilkan perusahaan.
Menurut Heizer dan Render (2010), untuk mengakomodasi fungsi-fungsi

persediaan, perusahaan harus memelihara empat jenis persediaan, yaitu:
1.

Persediaan bahan mentah (raw material inventory), digunakan untuk
melakukan decouple (memisahkan) pemasok dari proses produksi.
Bagaimanapun juga, pendekatan yang lebih dipilih adalah menghilangkan
variabilitas pemasok akan kualitas, kuantitas, atau waktu pengantaran
sehingga tidak diperlukan pemisahan.

2.

Persediaan barang setengah jadi (work in process-WIP inventory) adalah
komponen-komponen atau bahan mentah yang telah melewati beberapa
proses perubahan, tetapi belum selesai. WIP ada karena waktu yang

12

diperlukan untuk menyelesaikan sebuah produk (disebut waktu siklus).
Mengurangi waktu siklus akan mengurangi persediaan.
3.

Persediaan pasokan pemeliharaan/perbaikan/operasi (maintenance, repair,
operating-MRO) adalah persediaan-persediaan yang disediakan untuk
persediaan pemeliharaan, perbaikan dan operasi yang dibutuhkan untuk
menjaga agar mesin-mesin dan proses-proses tetap produktif. MRO ada
karena kebutuhan serta waktu untuk pemeliharaan dan perbaikan dari
beberapa perlengkapan tidak diketahui. Walaupun permintaan akan MRO
merupakan fungsi dari jadwal pemeliharaan, permintaan-permintaan MRO
lainnya yang tidak terjadwal harus diantisipasi.

4.

Persediaan barang jadi (finish good inventory) adalah produk yang telah
selesai dan tinggal menunggu pengiriman. Barang jadi dapat dimasukkan ke
persediaan karena permintaan pelanggan di masa mendatang tidak
diketahui.

2.6. Biaya Persediaan
Menurut Ristono (2009), biaya persediaan dapat dibedakan atas:
1.

Ongkos pembelian (purchase cost)
Ongkos pembelian adalah harga per unit apabila item dibeli dari pihak
luar, atau biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan atau
dapat dikatakan pula bahwa biaya pembelian adalah semua biaya yang
digunakan untuk membeli suku cadang. Penetapan dari biaya pembelian ini
tergantung dari pihak penjualan barang atau bahan sehingga pihak pembeli
hanya bisa mengikuti fluktuasi harga barang yang ditetapkan oleh pihak
penjual.

2.

Ongkos pemesanan atau Biaya persiapan (order cost/set up cost)
Ordering cost adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan
pemesanan barang ke supplier. Besar kecilnya biaya pemesanan sangat
tergantung pada frekuensi pesanan, semakin sering memesan barang maka
biaya yang dikeluarkan akan semakin besar dan sebaliknya. Biaya
pemesanan secara terperinci meliputi :
1. Biaya persiapan pesanan, antara lain :
a. Biaya telepon atau ongkos menghubungi supplier

13

b. Pengeluaran surat menyurat
2. Biaya penerimaan barang, seperti :
a. Biaya pembongkaran dan pemasukan ke gudang
b. Biaya laporan penerimaan barang
c. Biaya pemeriksaan barang atau biaya pengecekan
3. Biaya pengiriman pesanan ke gudang
4. Biaya-biaya proses pembayaran,

seperti biaya pembuatan cek,

pengiriman cek atau biaya transfer ke bank supplier, dan sebagainya.
3.

Ongkos simpan (carrying cost/holding cost/storage cost)
Ongkos simpan adalah biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam
persediaan dan pemeliharaan maupun investasi sarana fisik untuk
menyimpan persediaan, atau dapat pula dikatakan biaya yang timbul akibat
penyimpanan barang maupun bahan (diantaranya: fasilitas penyimpanan,
sewa gudang, keusangan, asuransi, pajak dan lain-lain). Yang termasuk
dalam biaya simpan antara lain:
a. Biaya sewa atau penggunaan gudang.
b. Biaya pemeliharaan barang.
c. Biaya pemanasan atau pendinginan, bila untuk menjaga ketahanan
barang dibutuhkan faktor pemanas atau pendingin.
d. Biaya menghitung dan menimbang barang.

4.

Biaya kekurangan persediaan (stockout cost)
Dengan kekurangan persediaan maka biaya yang timbul adalah sebagai

berikut:
a. Kehilangan pendapatan.
b. Selisih harga komponen.
c. Terganggunya operasi.
Menurut Heizer dan Render (2010) biaya persediaan meliputi:
1.

Biaya penyimpanan (holding cost) adalah biaya yang terkait dengan
menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Oleh
karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya
yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan
pembayaran bunga.

14

2.

Biaya pemesanan (ordering cost) mencakup biaya dari persediaan, formulir,
proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan seterusnya. Ketika
pesanan sedang diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi mereka adalah
bagian dari biaya penyetelan.

3.

Biaya penyetelan (setup cost) adalah biaya untuk mempersiapkan sebuah
mesin atau proses untuk membuat sebuah pesanan. Ini menyertakan waktu
dan tenaga kerja untuk membersihkan serta mengganti peralatan atau alat
penahan. Manajer operasi dapat menurunkan biaya pemesanan dengan
mengurangi biaya penyetelan serta menggunakan prosedur yang efisien,
seperti pemesanan dan pembayaran elektronik.

2.7. Model Pengendalian Persediaan
2.7.1 Analisis ABC
Menurut Heizer dan Render (2010), analisis ABC membagi persediaan yang
ada menjadi tiga klasifikasi dengan basis volume dolar tahunan. Analisis ABC
adalah sebuah aplikasi persediaan dari prinsip Pareto. Prinsip Pareto menyatakan
terdapat “sedikit hal yang kritis dan banyak yang sepele”. Gagasannya adalah
untuk membuat kebijakan-kebijakan persediaan yang memfokuskan persediaan
pada bagian-bagian persediaan kritis yang sedikit dan tidak pada banyak yang
sepele. Tidaklah realistis jika memantau barang-barang yang tidak mahal dengan
intensitas yang sama dengan barang-barang yang sangat mahal.
Untuk menentukan volume dolar tahunan dari analisis ABC, mengukur
permintaan tahunan dari setiap barang persediaan dikalikan biaya per unitnya.
Barang-barang kelas A adalah barang yang volume dolar tahunannya tinggi.
Walaupun barang ini hanya mempresentasikan 15% dari barang-barang
persediaan total. Barang kelas A juga mempresentasikan 70% sampai 80% dari
penggunaan uang secara keseluruhan. Barang-barang kelas B adalah barang
persediaan

dengan

volume

dolar

tahunan

yang

sedang.

Barang

ini

mempresentasikan sekitar 30% dari barang persediaan dan 15% sampai 25% dari
nilai total. Barang dengan volume dolar tahunan kecil adalah kelas C yang hanya
mempresentasikan 5 % dari volume dolar tahunan, tetapi mewakili sekitar 55%
dari barang persediaan total.

Persen dari penggunaan dolar tahunan

15

Barang A

Barang B

Barang C

Persen dari persediaan

Gambar 1. Representasi grafik dari analisis ABC
Kriteria lain dari volume dolar tahunan juga dapat menentukan klasifikasi
barang, seperti perubahan-perubahan teknik yang diantisipasi, masalah-masalah
pengantaran, masalah kualitas, atau biaya unit yang tinggi yang menyebabkan
barang naik ke klasifikasi yang lebih tinggi. Keuntungan membagi barang-barang
persediaan ke dalam kelas adalah kebijakan dan kontrol dapat diterapkan pada
setiap kelas. Adapun kebijakan yang dapat didasarkan pada analisis ABC:
1.

Membeli sumber daya yang ditujukan untuk pengembangan pemasok harus
jauh lebih tinggi untuk barang A secara individu dibandingkan dengan
barang C.

2.

Barang A harus memiliki kontrol persediaan fisik yang lebih ketat, barang
tersebut mungkin ditempatkan di bagian yang lebih aman, dan akurasi
catatan persediaannya untuk barang A harus lebih sering diverifikasi.

3.

Meramalkan barang A memerlukan perhatian lebih dibanding barang
lainnya.

2.7.2 Jumlah Pemesanan Ekonomis (Economic Order Quantity, EOQ)
Menurut Pardede (2005), model jumlah pesanan terhemat (economic order
quantity model = EOQ model) digunakan dalam menentukan jumlah barang yang
akan dipesan untuk setiap kali pemesanan serta jumlah biaya pengadaan bahanbahan. EOQ menunjukkan jumlah barang yang harus dipesan untuk setiap kali
pemesanan agar biaya sediaan keseluruhan menjadi sekecil mungkin.

16

Menurut Heizer dan Render (2010), model kuantitas pesanan ekonomis
(economic order quantity-EOQ) adalah salah satu teknik kontrol persediaan yang
tertua dan paling dikenal, tetapi berdasarkan beberapa asumsi:
1. Jumlah permintaan diketahui, konstan dan independen.
2. Waktu tunggu yakni waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan
diketahui dan konstan.
3. Penerimaan persediaan bersifat instan dan selesai seluruhnya. Dengan kata
lain, persediaan dari sebuah pesanan datang dalam satu kelompok pada suatu
waktu.
4. Tidak tersedia diskon kuantitas.
5. Biaya variable hanya biaya untuk menyiapkan atau melakukan pemesanan
dan biaya menyimpan persediaan dalam waktu tertentu.
6. Kehabisan persediaan dapat sepenuhnya dihindari jika pemesanan dilakukan
pada waktu yang tepat.
Dengan asumsi tersebut, grafik penggunaa persediaan terhadap waktu
memiliki bentuk gigi gergaji, seperti pada Gambar 2. Permintaan bersifat konstan
sepanjang waktu, perediaan menurun pada laju yang sama sepanjang waktu.
Setiap kali tingkat persediaan mencapai 0, pesanan baru dibuat serta diterima, dan
tingkat persediaan melompat ke EOQ. Proses ini terus berlanjut sepanjang waktu.

Gambar 2. Penggunaan persediaan dalam waktu tertentu

17

Pada Gambar 3 menunjukkan hubungan antara kedua biaya tersebut, biaya
penyimpanan (holding/carrying cost) dan biaya pemesanan (ordering cost) dalam
bentuk grafik. Kurva biaya penyimpanan menunjukkan sebuah garis lurus yang
naik apabila jumlah persediaan bertambah besar. Kurva biaya pesanan
menunjukkangaris lengkung menurun mendekati nol apabila jumlah persediaan
bertambah.Kurva biaya persediaan total (TC) merupakan penjumlahan dua kurva
biayatersebut, dimana kurva tersebut akan menurun dan mencapai titik minimum
pada jumlah persediaan tertentu dan kemudian naik lagi. Dalam hal ini Q = EOQ
akantercapai pada perpotongan antara kedua kurva tersebut.

Gambar 3. Biaya total sebagai fungsi dari kuantitas pesanan
2.7.3 Persediaan Pengaman (Safety Stock, SS)
Menurut

Pujawan (2005),

safety stock fungsinya adalah sebagai

perlindungan terhadap ketidakpastian permintaan maupun pasokan. Perusahaan
biasanya menyimpan lebih banyak dari yang diperkirakan dibutuhkan selama
suatu periode tertentu supaya kebutuhan yang lebih banyak bisa dipenuhi tanpa
harus menunggu. Menentukan berapa besarnya persediaan pengaman adalah
pekerjaan yang sulit. Besar kecilnya persediaan pengaman terkait dengan biaya
persediaan dan service level.
Menurut Ristono (2009), faktor-faktor yang menentukan besarnya safety
stock adalah :
1.

Penggunaan bahan baku rata-rata
Salah satu dasar untuk memperkirakan penggunaan bahan baku selama
periode tertentu, khususnya selama periode pemesanan adalah rata-rata

18

penggunaan bahan baku pada masa sebelumnya. Hal ini perlu diperhatikan
karena peramalan permintaan langganan memiliki risiko yang tidak dapat
dihindarkan bahwa persediaan yang telah ditetapkan sebelumnya atas dasar
taksiran tersebut habis sama sekali sebelum penggantian bahan/barang dari
pesanan datang.
Faktor waktu atau lead time (procurement time)

2.

Lead time adalah lamanya waktu antara mulai dilakukannya pemesanan
bahan-bahan sampai dengan kedatangan bahan-bahan yang dipesan tersebut
dan diterima di gudang persediaan. Lamanya waktu tersebut tidaklah sama
antara satu pesanan dengan pesanan yang lain, tetapi bervariasi.
2.7.4 Reorder Point
Menurut Riyanto (2001), reorder point ialah saat atau titik di mana harus
diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan
material yang dipesan itu adalah tepat pada waktu dimana persediaan di atas
safety stock sama dengan nol. Dengan demikian diharapkan datangnya material
yang dipesan itu tidak akan melewati waktu sehingga akan melanggar safety
stock. Apabila pesanan dilakukan sesudah melewati reorder point tersebut, maka
material yang dipesan akan diterima setelah perusahaan terpaksa mengambil
material dari safety stock. Dalam penetapan reorder point haruslah kita
memperhatikan faktor–faktor sebagai berikut; yaitu, penggunaan material selama
tenggang waktu mendapatkan barang (procurement lead time) dan besarnya safety
stock.
Reorder point dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain :
1.

Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan
presentase tertentu.

2.

Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan
penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock.
Menurut Heizer dan Render (2010) Titik pemesanan ulang (reorder point)

dicari dengan cara :
ROP = (Permintaan per hari)(lead time untuk pemesanan baru dalam hari)
ROP = d x L ……………………………………………………………………(1)

19

Persamaan untuk ROP ini mengasumsikan bahwa permintaannya sama dan
bersifat konstan. Bila tidak demikian halnya, harus ditambahkan stok tambahan,
seringkali disebut pengaman (safety stock).
2.8. Penelitian Terdahulu
Saragi (2010) dalam penelitiannya berjudul Analisis Perencanaan dan
Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UKM Waroeng Cokelat Bogor
bertujuan untuk mempelajari sistem pengadaan dan pengendalian persediaan
bahan baku di Waroeng Cokelat; meramalkan tingkat permintaan pada produk
Waroeng Cokelat; menghitung tingkat persediaan yang optimal bagi Waroeng
Cokelat; menghitung serta mengevaluasi tingkat biaya persediaan bahan baku
yang optimal bagi Waroeng Cokelat. Hasil penelitian menggunakan EOQ
didapatkan jumlah pemesanan dan jarak antar pemesanan yang sama pada bahan
baku, yaitu mengikuti jumlah pemesanan terbesar pada cokelat, sehingga jumlah
pemesanan sebanyak 39 kali dengan jarak waktu antar pemesanan 8 hari. Total
biaya yang dikeluarkan dengan model EOQ, yaitu sebesar Rp 2.521.909 dan
dengan metode perusahaan sebesar Rp 2.587.800; sehingga menghasilkan
penghematan sebesar Rp 65.891.
Sari (2010) dalam penelitian berjudul Pengoptimalan Persediaan Bahan
Baku Kacang Tanah Menggunakan Metode EOQ (Economic Order Quantity) di
PT. Dua Kelinci Pati bertujuan untuk mengetahui jumlah pembelianbahan baku
yang optimal, jumlah persediaan pengaman, waktu pemesanan kembali dan total
biaya persediaan untuk periode 2009/2010 di PT. Dua Kelinci Pati. Berdasarkan
hasil perhitungan diperoleh bahwa pembelian bahan bakukacang tanah menurut
metode EOQ selama periode 2006/2007-2008/2009 lebihbesar daripada kebijakan
perusahaan dan kuantitas pembelian kacang tanah optimal untuk periode
2009/2010 sebesar 53.406.993 kg. Persediaan pengaman untuk periode 2009/2010
sebesar 283,3777 kg. Waktu tunggu kedatangan bahan baku kacang tanah (lead
time) yang optimal adalah 2 hari sejak bahan baku dipesan hingga tiba di gudang
perusahaan. Selama periode 2006/2007-2008/2009 PT. Dua Kelinci tidak
menerapkan adanya titik pemesanan kembali (reorder point), sedangkan titik
pemesanan kembali untuk periode 2009/2010 sebesar 445.341,6527 kg. Total

20

biaya persediaan bahan baku selama periode 2006/2007- 2008/2009 menurut
metode EOQ lebih kecil daripada kebijakan perusahaan dan total biaya persediaan
untuk periode 2009/2010 sebesar Rp 256.867.628,9. Dari hasil penelitian yang
telah dilakukan diperoleh bahwa pengendalian persediaan bahan baku kacang
tanah di PT. Dua Kelinci selama periode 2006/2007- 2008/2009 belum efisien.

III. METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Bahan baku merupakan salah satu input pada suatu proses produksi yang
mempunyai peranan penting, baik perannya sebagai bahan baku utama, maupun
dilihat dari besarnya nilai investasi yang harusdikeluarkan untuk memenuhi
kebutuhannya.Keberhasilan produksi yang dilakukan oleh suatu industri atau
perusahaan ditentukan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya yaitu kecukupan
persediaan bahan baku yangdibutuhkan untuk proses produksi. Kelebihan
persediaan bahan baku dapat menimbulkan biaya penyimpanan yang besar, hal
tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Oleh kare

Dokumen yang terkait

Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda OEM)