Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan

USAHATANI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK VERTIKULTUR DI KECAMATAN
MEDAN MARELAN KOTA MEDAN
Studi Kasus : Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan
SKRIPSI
OLEH :
NUR MEITY UTARY 080304067
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

USAHATANI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK VERTIKULTUR DI KECAMATAN
MEDAN MARELAN KOTA MEDAN
Studi Kasus : Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan
SKRIPSI
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Sebagian dari Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
OLEH :
NUR MEITY UTARY 080304067
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

Judul Skripsi
Nama NIM Program Studi

: Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan (Studi Kasus : Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan ) : Nur Meity Utary : 080304067 : Agribisnis

Ketua

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing,
Anggota

(Dr. Ir. Tavi Supriana, MS) NIP : 19641102 198903 2 001

(Sri Fajar Ayu, SP, MM, DBA) NIP: 19700827 200812 2 001

Mengetahui, Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
(Dr. Ir. Salmiah, MS)
NIP. 19570217 198603 2 001
Tanggal Lulus:

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
NUR MEITY UTARY: “Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan (Studi Kasus : Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan)”, yang dibimbing oleh Dr.Ir.Tavi Supriana, MS dan Sri Fajar Ayu, SP.MM.DBA
Potensi lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk produksi sayuran di Kota Medan menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun sedangkan tiap tahunnya permintaan pemenuhan kebutuhan sayuran semakin meningkat, khususnya permintaan sayuran organik. Pada wilayah perkotaan atau perumahan, terbatasnya lahan yang tersedia untuk dijadikan lahan pertanian ini merupakan salah satu permasalahan pertanian saat ini. Ini menyebabkan perlunya rekayasa agar di lahan sempit tersebut tetap dapat dihadirkan sayuran organik untuk keperluan hidup sehari-hari, maka dilakukanlah teknik budidaya sayuran organik vertikultur. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya total penerimaan, biaya produksi, pendapatan bersih dan kelayakan usahatani sayuran organik vertikultur serta strategi pengembangannya.
Penelitian dilakukan pada tahun 2012 di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis R/C ratio dan analisis SWOT (Strenghts Weaknesses Opportunities and Threats).
Hasil Penelitian diperoleh bahwa total penerimaan petani per tahunnya adalah sebesar Rp 461.165,- , total biaya produksi sebesar Rp 149.984,- dan pendapatan bersih petani sebesar Rp 311.181,- . Nilai R/C ratio usahatani sayuran organik vertikultur ini sebesar 3,07 (nilai R/C>1), yang artinya usahatani tersebut layak atau menguntungkan. Untuk pengembangan usahatani sayuran organik vertikultur ini digunakan Strategi SO yaitu (1) Memanfaatkan ketersediaan input produksi dan status kepemilikan lahan untuk melakukan perluasan usahatani dan (2) Bekerjasama dalam kelompok tani untuk memenuhi permintaan sayuran organik yang tinggi dan mengambil peluang penjualan sayuran organik berupa benih. Strategi WO yaitu (1) Meningkatkan hasil produksi untuk memenuhi permintaan sayuran organik dan (2) Meminimalisir tingkat serangan hama dan penyakit dengan mencari informasi dari kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam program dari pemerintah. Strategi ST yaitu (1) Memanfaatkan adaptasi terhadap pertanian vertikultur yang mudah dan pelatihan dari kelompok tani walaupun intensitas monitoring pemerintah rendah. Strategi WT yaitu (1) Mengadakan pelatihan-pelatihan dalam budidaya dan pencatatan usahatani untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam bertani dalam mengatasi pengalaman bertani petani sampel dan intensitas monitoring pemerintah yang masih rendah.
Kata Kunci : lahan sempit, vertikultur, SWOT
i Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Medan, pada tanggal 22 Mei 1991 dari Bapak Slamet Untung Waluyo dan Almarhumah Ibu Juhartati. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Penulis mengikuti pendidikan sebagai berikut: 1. Sekolah Dasar di SD Swasta Taman Siswa Medan, masuk tahun 1996 dan
lulus pada tahun 2002. 2. Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 01 Medan, masuk tahun 2002
dan lulus tahun 2005. 3. Sekolah Menengah Atas di SMA Swasta Dharma Pancasila Medan, masuk
tahun 2005 dan lulus tahun 2008. 4. Tahun 2008 masuk di Departemen Agribisnis Jurusan Agribisnis Fakultas
Pertanian USU, melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). 5. Melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada bulan Juli 2012 di Desa Panca Arga Kecamatan Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan. 6. Melaksanakan penelitian pada tahun 2012 di Kelurahan terjun Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan. Selama mengikuti perkuliahan penulis mengikuti organisasi Ikatan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (IMASEP) USU, Badan Kenaziran Musola (BKM) Al-Mukhlisin FP USU, Forum Silaturahmi Mahasiswa Muslim Sosial Ekonomi Pertanian (FSMM-SEP) USU, Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Ad-Dakwah USU
ii
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala rahmat dan hidayah serta limpahan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan” (Studi Kasus : Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan) yang merupakan salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Ibu Dr.Ir.Tavi Supriana, MS selaku ketua pembimbing skripsi dan Ibu Sri Fajar Ayu, SP.MM.DBA selaku anggota pembimbing skripsi yang mana telah banyak membimbing, mengarahkan, dan memberikan berbagai masukan berharga serta memberikan motivasi kepada penulis, kepada Ibu Dr.Ir.Salmiah, MS. selaku Ketua Departemen Agribisnis FP USU dan Bapak Dr.Ir.Satia Negara Lubis, M.Ec selaku sekretaris Departemen Agribisnis FP USU serta para dosen dan staf pegawai Departemen Agribisnis FP USU.
Segala hormat dan terima kasih yang setulusnya khusus untuk Ayahanda tercinta Slamet Untung Waluyo, Ibunda tercinta Alm. Juhartati, Ibunda tercinta Olivetti Jurnalia, SPd, adik-adik tercinta (Dimas Bagus Kesumo, Dio Gilang Amanda, Puspa Khairani dan Chatelia Pertiwi) dan seluruh keluarga, penulis ucapkan terima kasih atas segala keikhlasannya dalam dukungan baik secara moril maupun materil yang diberikan kepada penulis selama menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini.
iii
Universitas Sumatera Utara

Terima kasih juga untuk teman-teman seperjuangan Annisa Chairina, Wiwied Hartanti, Suci Rahmadani, Lisa Lestari, Tri Suhada dan teman-teman Agribisnis dan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP) 2008. Teman-teman di BKM Al Mukhlisin Sri Efriyanti, Sri Marlena, Shahila Ridyanti, Dody Pratama, Zulhakki Lubis, Ahmad Eka Putra, Andi Wijaya dan seluruh pengurus BKM Al Mukhlisin. Teman-teman di UKMI Ad Dakwah USU serta abang/kakak senior dan adik-adik yang telah banyak membantu dan memberikan motivasi baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik isi maupun redaksinya. Penulis mengharapkan kritik, saran, dan masukan semua pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat.
Medan, 22 Januari 2013
Penulis
iviv
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Hal.

ABSTRAK ...................................................................................................
RIWAYAT HIDUP ....................................................................................
KATA PENGANTAR.................................................................................
DAFTAR ISI................................................................................................
DAFTAR TABEL .......................................................................................
DAFTAR GAMBAR...................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................
BAB 1. PENDAHULUAN .......................................................................... 1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1.2 Identifikasi Masalah.................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................ 1.4 Kegunaan Penelitian ...................................................................
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN.....................
2.1 Tinjauan Pustaka ......................................................................... 2.1.1 Aspek Agronomis .............................................................. 2.1.2 Pertanian Organik .............................................................. 2.1.3 Vertikultur.......................................................................... 2.1.4 Penelitian Sebelumnya.......................................................
2.2 Landasan Teori............................................................................ 2.2.1 Analisis Usahatani ............................................................. 2.2.2 Analisis SWOT ..................................................................
2.3 Kerangka Pemikiran.................................................................... 2.4 Hipotesis Penelitian ....................................................................
BAB III. METODE PENELITIAN ........................................................... 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ......................................... 3.2 Metode Pengambilan Sampel ..................................................... 3.3 Metode Pengumpulan Data......................................................... 3.4 Metode Analisis Data.................................................................. 3.5 Definisi dan Batasan Operasional .............................................. 3.5.1 Definisi............................................................................... 3.5.2 Batasan Operasional...........................................................

i
ii
iii
v
vii
ix
x
1 1 6 7 7
8 8 8 11 13 17 17 17 19 20 23
24 24 24 25 26 30 30 31

v
Universitas Sumatera Utara

BAB IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK PETANI SAMPEL...................................................................... 32
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian........................................................ 32 4.1.1 Letak Geografi Kota Medan .............................................. 32 4.1.2 Penduduk Kota Medan....................................................... 33 4.1.3 Pertanian di Kota Medan.................................................... 35 4.1.4 Gambaran Umum Kecamatan Medan Marelan ................. 36
4.2 Karakteristik Sampel................................................................... 38 4.2.1 Distribusi Sampel Berdasarkan Jumlah Komoditi ............. 38 4.2.2 Distribusi Sampel Berdasarkan Luas Pekarangan ............. 39 4.2.3 Distribusi Sampel Berdasarkan Umur................................ 39 4.2.4 Distribusi Sampel Berdasarkan Pengalaman Bertani......... 39

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................... 5.1 Biaya Produksi, Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan ................... 5.1.1 Biaya Produksi Usahatani Sayuran Organik Vertikultur ... 5.1.2 Penerimaan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur......... 5.1.3 Pendapatan dan Analisis Kelayakan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur............................................................ 5.2 Strategi Pengembangan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur 5.2.1 Tahap Penentuan Bobot Strategis ...................................... 5.2.2 Tahap Penentuan Rating dan Skoring Faktor Strategis ..... 5.2.3 Tahap Penentuan Alternatif Strategi ..................................

41
41 41 43
43 44 45 52 54

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 6.1 Kesimpulan ................................................................................. 6.2 Saran ...........................................................................................

57 57 58

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

vi
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No.

Judul

Hal.

1. Jenis Data Penelitian dan Sumbernya ................................................... 25

2. Nilai Skala Banding Berpasangan......................................................... 28

3. EFAS (Eksternal Factors Analisys Summary)...................................... 29

4. IFAS (Internal Factors Analisys Summary) ......................................... 30

5. Luas Wilayah Kota Medan Menurut Kecamatan.................................. 33

6. Penduduk Menurut Kelompok Umur.................................................... 32

7. Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan ............................................... 33

8. Luas Panen dan JumlahProduksi Pertanian Menurut Jenis Tanaman Tahun 2010............................................................................................ 34

9. Luas Wilayah per Kelurahan di Kecamatan Medan Marelan Tahun 2009............................................................................................ 35

10. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kecamatan Medan Marelan Tahun 2009.......................................... 37

11. Luas Panen (Ha) Sayuran Dataran Rendah di Kawasan Agribisnis Medan Marelan tahun 2010 .................................................................. 37

12. Distribusi Sampel Berdasarkan Jumlah Komoditi ................................ 38

13. Distribusi Sampel Berdasarkan Luas Pekarangan ............................... .39

14. Distribusi Sampel Berdasarkan Umur ................................................. .39

15. Distribusi Sampel Berdasarkan Pengalaman Bertani .......................... 40

16. Biaya Usahatani Sayuran Organik Vertikultur di Kelurahan Terjun Kecamatan medan Marelan.................................................................. 42

17. Penerimaan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur di Kelurahan Terjun Kecamatan medan Marelan.................................................................. 42

18. Pendapatan dan Kelayakan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur di Kelurahan Terjun Kecamatan medan Marelan .................................... 44

vii

Universitas Sumatera Utara

19. Pembobotan Faktor Strategis Internal.................................................. 46 20. Pembobotan Faktor Strategis Eksternal ............................................... 50 21. Matriks Evaluasi Faktor Internal ......................................................... 53 22. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal....................................................... 53 23. Penentuan Strategi Pengembangan Usahatani Sayuran Organik
Vertikultur............................................................................................ 56
viii
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No.

Judul

Hal.

1. Diagram Matriks SWOT....................................................................... 20

2. Skema Kerangka Pemikiran.................................................................. 22

3. Diagram Matriks SWOT....................................................................... 30

ix
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul 1. Karakteristik Petani Sampel 2. Biaya Input Produksi per Petani 3. Penggunaan Peralatan pada Usahatani Sayuran Organik Vertikultur 4. Nilai Penyusutan Peralatan pada Usahatani Sayuran Organik Vertikultur 5. Jumlah Penggunaan Tenaga kerja pada Usahatani Sayuran Organik
Vertikultur 6. Jumlah Biaya Tenaga Kerja pada Usahatani Sayuran Organik Vertikultur 7. Penerimaan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur 8. Pendapatan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur 9. Parameter Penilaian SWOT Usahatani Sayuran Organik Vertikultur di
Kelurahan terjun Kecamatan Medan Marelan 10. Parameter Penilaian Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman
Usahatani Sayuran Organik Vertikultur 11. Penentuan Faktor internal dan Eksternal 12. Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Usahatani Sayuran
Organik Vertikultur 13. Pembobotan Faktor Strategis Internal 14. Pembobotan Faktor Strategis Ekstrernal 15. Hasil Penilaian Faktor Internal (IFAS) 16. Hasil Penilaian Faktor Eksternal (EFAS)
x Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
NUR MEITY UTARY: “Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan (Studi Kasus : Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan)”, yang dibimbing oleh Dr.Ir.Tavi Supriana, MS dan Sri Fajar Ayu, SP.MM.DBA
Potensi lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk produksi sayuran di Kota Medan menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun sedangkan tiap tahunnya permintaan pemenuhan kebutuhan sayuran semakin meningkat, khususnya permintaan sayuran organik. Pada wilayah perkotaan atau perumahan, terbatasnya lahan yang tersedia untuk dijadikan lahan pertanian ini merupakan salah satu permasalahan pertanian saat ini. Ini menyebabkan perlunya rekayasa agar di lahan sempit tersebut tetap dapat dihadirkan sayuran organik untuk keperluan hidup sehari-hari, maka dilakukanlah teknik budidaya sayuran organik vertikultur. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya total penerimaan, biaya produksi, pendapatan bersih dan kelayakan usahatani sayuran organik vertikultur serta strategi pengembangannya.
Penelitian dilakukan pada tahun 2012 di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis R/C ratio dan analisis SWOT (Strenghts Weaknesses Opportunities and Threats).
Hasil Penelitian diperoleh bahwa total penerimaan petani per tahunnya adalah sebesar Rp 461.165,- , total biaya produksi sebesar Rp 149.984,- dan pendapatan bersih petani sebesar Rp 311.181,- . Nilai R/C ratio usahatani sayuran organik vertikultur ini sebesar 3,07 (nilai R/C>1), yang artinya usahatani tersebut layak atau menguntungkan. Untuk pengembangan usahatani sayuran organik vertikultur ini digunakan Strategi SO yaitu (1) Memanfaatkan ketersediaan input produksi dan status kepemilikan lahan untuk melakukan perluasan usahatani dan (2) Bekerjasama dalam kelompok tani untuk memenuhi permintaan sayuran organik yang tinggi dan mengambil peluang penjualan sayuran organik berupa benih. Strategi WO yaitu (1) Meningkatkan hasil produksi untuk memenuhi permintaan sayuran organik dan (2) Meminimalisir tingkat serangan hama dan penyakit dengan mencari informasi dari kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam program dari pemerintah. Strategi ST yaitu (1) Memanfaatkan adaptasi terhadap pertanian vertikultur yang mudah dan pelatihan dari kelompok tani walaupun intensitas monitoring pemerintah rendah. Strategi WT yaitu (1) Mengadakan pelatihan-pelatihan dalam budidaya dan pencatatan usahatani untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam bertani dalam mengatasi pengalaman bertani petani sampel dan intensitas monitoring pemerintah yang masih rendah.
Kata Kunci : lahan sempit, vertikultur, SWOT
i Universitas Sumatera Utara

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Masalah pangan dan gizi merupakan masalah yang sangat penting karena menyangkut berbagai segi kehidupan masyarakat, baik kehidupan sosial, ekonomi, maupun politik. Kegagalan menanggulangi masalah kekurangan gizi akan berakibat sangat serius terhadap masa depan bangsa dan negara. Salah satu usaha mengatasi kekurangan gizi adalah dengan meningkatkan produksi pangan, khususnya produksi tanaman sayuran di seluruh tanah air (Rukmana, 2005).
Kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi makanan yang sehat tidak hanya menjadikan masyarakat memilih sayuran untuk menjadi makanan yang dikonsumsi namun masyarakat juga memilih sayuran organik yang kualitas dan keamanannya serba alami yang terbebas dari pestisida dan herbisida kimia. Di supermarket-supermarket besar di perkotaan pun kini lebih banyak dijual aneka sayur dan buah yang berlabel organik guna memenuhi kebutuhan konsumen yang mengusung slogan ‘back to nature’.
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2005) Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% setiap tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman yang bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi pasar domestik dan ekspor.
Pada tahun 2012, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menyatakan bahwa kondisi pemenuhan kebutuhan sayuran dari beberapa kawasan

Universitas Sumatera Utara

2
yang selama ini memiliki potensi lahan pertanian menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik dengan kondisi lahan pertanian saat ini. Dari luas 647.223 ha lahan pertanian yang tersedia untuk dikembangkan, sebagian besar lahan di Sumatera Utara, yaitu sekitar 429.751 ha (66,4%) diarahkan untuk komoditas tanaman semusim. Sisanya seluas 2141.972 ha (21,9%) untuk komoditas tanaman tahunan, dan 75.500 ha (11,7%) diarahkan untuk padi sawah.
Potensi lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk produksi sayuran di Kota Medan menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun sedangkan tiap tahunnya permintaan pemenuhan kebutuhan sayuran semakin meningkat. Tahun 2011 potensi lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk produksi sayuran Kota Medan semakin berkurang. Pada Medan Bisnis edisi September 2011 menyebutkan bahwa Marelan memiliki potensi luasan berkisar 200 hektar, Medan Labuhan berkisar 10 hektar, dan Medan Deli hanya berkisar 5 hektar.
Pada Medan Bisnis edisi September 2010 produksi komoditas sayur mayur di Propinsi Sumatera Utara masih minim. Hal ini karena asupan sayur dan buahbuahan masih rendah dibandingkan target nasional yang berkisar 200 gram perkapita dalam perhari. Konsumsi sayur dan buah di Sumut masih rendah berkisar 926.077 ton per tahun. Jadi jika dihitung dalam setahun, kebutuhan sayur untuk per orang membutuhkan 73 kg per kapita per tahun. Produksi sayur-mayur di Sumut hanya mencapai 70 kg per kapita per tahun. Ini berarti kebutuhan sayur kekurangan 3 kg per kapita per tahun.
Pada wilayah perkotaan atau perumahan khususnya, terbatasnya lahan yang tersedia untuk dijadikan lahan pertanian ini merupakan salah satu permasalahan pertanian saat ini. Umumnya lahan pekarangan yang tersedia
Universitas Sumatera Utara

3 diperkotaan hanya beberapa meter persegi. Ini menyebabkan perlunya rekayasa agar di lahan sempit tersebut tetap dapat dihadirkan sayuran organik untuk keperluan hidup sehari-hari.
Pekarangan rumah berapa pun luasannya dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga akan meningkatkan produktivitasnya. Pekarangan yang ditanami dengan sayuran memberikan kontribusi yang cukup besar pada usaha mencukupi kebutuhan gizi keluarga. Dalam pemanfaatan pekarangan dengan sayuran harus diperhatikan juga aspek budidaya dari sayuran yang ditanam (Kristanti, 2011).
Permasalahan terbatasnya lahan untuk budidaya tanaman kebutuhan sehari-hari dapat diatasi dengan teknik vertikultur yang diharapkan dapat membantu pemenuhan kebutuhan sayuran yang terus meningkat. Dengan teknik vertikultur, potensi lahan pekarangan bisa dimaksimalkan oleh masyarakat, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri. Selain itu teknik vertikultur juga dapat memberikan nilai estetika pada pekarangan.
Menurut Andoko (2004) istilah vertikultur diserap dari bahasa Inggris yang berasal dari kata vertical dan culture yang artinya teknik budi daya tanaman secara vertikal sehingga penanamannya menggunakan sistem bertingkat. Tujuan utama penerapan teknik vertikultur adalah memanfaatkan lahan sempit seoptimal mungkin. Dengan penerapan teknik vertikultur ini maka peningkatan jumlah tanaman pada suatu areal tertentu dapat berlipat 3-10 kali, tergantung model yang digunakan. Pada prinsipnya budi daya dengan teknik vertikultur tidak jauh berbeda dengan budi daya di kebun atau lahan datar. Perbedaan mendasar sudah pasti terletak pada penggunaan lahan produksi. Teknik vertikultur memungkinkan
Universitas Sumatera Utara

4 dilakukan pembudidayaan di atas lahan seluas satu meter persegi dengan jumlah tanaman jauh lebih banyak dibanding di lahan datar dengan luas yang sama.
Sistem budidaya pertanian secara vertikal atau bertingkat ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaan dan lahan terbatas. Misalnya, lahan 1 meter mungkin hanya bisa untuk menanam 5 batang tanaman, dengan sistem vertikal bisa untuk 20 batang tanaman. Vertikultur tidak hanya sekedar kebun vertikal, namun ide ini akan merangsang seseorang untuk menciptakan khasanah biodiversitas di pekarangan yang sempit sekalipun. Struktur vertikal, memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya. Pertanian vertikultur tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga menciptakan suasana alami yang menyenangkan (Lukman, 2009).
Disamping dapat menampilkan keindahan, bukan berarti penanaman dengan teknik vertikultur tidak dapat diterapkan untuk tujuan komersial. Dengan dasar pemikiran bahwa vertikultur dapat melipatgandakan jumlah tanaman dan produksi maka teknik ini secara ekonomis dapat dipertanggungjawabkan untuk tujuan komersial. Memang investasi yang dibutuhkan untuk penerapan teknik vertikultur ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan cara konvensional. Namun, dengan produksi yang lebih tinggi karena populasi tanaman lebih banyak maka investasi tersebut dapat tertutupi (Andoko,2004).
Prospek pemasaran dalam negeri bagi komoditas sayuran sangat cerah. Hal ini ditunjukkan dengan fakta sebagai berikut:
a. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan permintaan pasar dalam negeri (pasar domestik) terhadap komoditas sayuran semakin bertambah.
Universitas Sumatera Utara

5 b. Peningkatan jumlah penduduk kota dan bertambahnya kawasan industri
dan pariwisata merupakan daerah pemasaran potensial bagi komoditas sayuran. c. Peningkatan pendidikan dan kesadaran akan pentingnya gizi membawa pengaruh positif terhadap permintaan akan sayuran, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. d. Arus pengunjung dari luar negeri ke Indonesia yang semakin deras membawa pengaruh pada jumlah, jenis, maupun kualitas produksi sayuran yang dibutuhkan (Rukmana, 2005). Pada tahun 2011 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) mengadakan program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL). Model Kawasan Rumah Pangan Lestari adalah program untuk memanfaatkan pekarangan sebagai penyedia sumber gizi untuk rumah tangga. Berdasarkan luas lahannya pekarangan ini dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: sempit (200m2). Untuk kawasan yang memiliki luas lahan dibawah 100 m2 BPTP menerapkan budidaya secara vertikultur. Ada 12 Kabupaten/Kota yang diikutsertakan dalam program ini, yaitu Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Pematang Siantar, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Asahan, Kabupaten Tanjung Balai, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Padang Sidempuan, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten Dairi, Kabupaten Pak-Pak Barat dan Kabupaten Nias Selatan. Kecamatan Medan Marelan merupakan wilayah agribisnis kota Medan yang mengalami penurunan luas lahan pertanian tiap tahunnya sehingga perlu
Universitas Sumatera Utara

6 adanya rekayasa dalam peningkatan produksi tanaman sayuran di Kecamatan Marelan. Pada bulan November tahun 2011 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) mengikutsertakan Kecamatan Marelan kedalam peserta Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL).
Dari lima kelurahan yang ada di Kecamatan Marelan, Kelurahan Terjunlah yang menerapkan pertanian organik vertikulur pada usahataninya. Penerapan pertanian vertikultur di daerah ini diterapkan oleh ada 25 KK (kepala keluarga) yang awalnya bukan petani dengan 12 tanaman holtikultura. Dalam penerapannya BPTP mendukung petani dengan memberikan bantuan polibag, rak, bibit, media tanam, dan pupuk. Setiap KK menanam 3-5 jenis tanaman yang berbeda pada lahan yang sama.
Menurut Andoko (2004) dengan penerapan teknik vertikultur ini maka peningkatan jumlah tanaman pada suatu areal tertentu dapat berlipat 3-10 kali. Peningkatan jumlah tanaman ini akan menyebabkan peningkatan volume produksi pada areal itu, sehingga penerimaan petani pun meningkat. Namun, peningkatan penerimaan ini belum tentu diikuti dengan peningkatan pendapatan petani karena biaya yang dikeluarkan pada pertanian organik vertikultur lebih besar dibandingkan pertanian konvensional. Maka peneliti tertarik untuk meneliti kelayakan usahatani dengan teknik budidaya organik vertikultur ini. Di samping itu peneliti juga tertarik untuk menganalisis strategi pengembangan pertanian organik vertikultur di Kota Medan.
Universitas Sumatera Utara

7 1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1) Berapa besar total penerimaan, biaya produksi dan pendapatan bersih
usahatani sayuran organik vertikultur di daerah penelitian? 2) Apakah usahatani sayuran organik vertikultur di daerah penelitian layak untuk
diusahakan? 3) Bagaimana strategi pengembangan usahatani sayuran organik vertikultur di
daerah penelitian?
1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk menganalisis total penerimaan, biaya produksi dan pendapatan usahatani sayuran organik vertikultur
2) Untuk menganalisis kelayakan usahatani sayuran organik vertikultur di daerah penelitian.
3) Untuk menganalisis strategi pengembangan usahatani sayuran organik vertikultur di daerah penelitian.
1.4 Kegunaan Penelitian Penelitian dalam hal ini diharapkan dapat berguna antara lain sebagai
berikut: 1) Sebagai sumbangan pemikiran bagi setiap orang yang terkait dalam
pengembangan usahatani sayuran organik vertikultur.
Universitas Sumatera Utara

8 2) Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa khususnya di jurusan agribisnis,
petani maupun pemerintah yang terkait.
Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA
PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Aspek Agronomis
Tanaman holtikultura yang dibudidayakan secara vertikultur di daerah penelitian ada 6 jenis tanaman yaitu sawi, bayam, kangkung, timun, terong, cabai. Setiap petani membudidayakan 3-4 jenis tanaman pada pekarangan rumahnya.
Sawi (Brassica juncea) merupakan tanaman semusim. Sawi berdaun lonjong, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Tanaman sawi mempunyai batang pendek dan lebih langsing dari petsai. Pada umumnya pola pertumbuhan daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk krop. Tanaman ini mempunyai akar tunggang dengan akar samping yang banyak, tetap dangkal. Bunganya mirip petsai, tetapi rangkaian tandan lebih pendek. Ukuraqn kuntum bunga lebih kecil dengan warna kuning pucat spesifik. Ukuran bijinya kecil dan berwarna hitam kecoklelatan. Bijinya terdapat dalam kedua sisi dinding sekat polong yang lebih gemuk (Sunarjono, 2004).
Tanaman sawi dapat dipungut hasilnya setelah berumur dua bulan. Sawi dipungut dengan cara tanaman dicabut atau dipotong bagian batang di atas tanah. Ada pula orang yang memungut hasilnya dengan cara memetik daunnya satu per satu. Cara pemungutan yang terakhir ini bertujuan agar tanaman tahan lama. Tanaman sawi yang terawat dengan baik dan sehat dapat menghasilkan 10-15 ton/ha (Sunarjono, 2004).
Universitas Sumatera Utara

9 Bayam (Amaranthus sp.) berbentuk perdu semak. Bayam banyak digemari masyarakat Indonesia karena rasanya enak, lunak, dan dapat memperlancar pencernaan. Bayam dapat tumbuh sepanjang tahun, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Oleh karena itu, tanaman ini dapat ditanama di kebun dan pekarangan rumah. Bayam yang ditanam di pekarangan biasanya jenis Amaranthus hybridus. Ada pula bayam yang biasa ditanam di tegalan, yaitu jenis bayam sekul. Waktu menanam yang baik ialah pada awal musim hujan atau pada awal musim kemarau (Sunarjono, 2004). Saat tanaman berumur 1 bulan mulai dilakukan penjarangan. Tanaman yang besar dan rapat dicabut hingga jarak antarbaris menjadi 40 cm. Hasil penjarangan ini merupakan panen pertama. Setelah perjarangan, tanaman bayam dapat dibiarkan tumbuh di kebun lebih lama, biasanya sampai musim tanam berikutnya. Setelah tanaman berumur 1-1,5 bulan, tingginya mencapai 20-30 cm. Saat ini seluruh tanaman dapat dipanen dengan cara tanaman dicabut beserta akarnya. Tanaman bayam yang terawat dengan baik dan sehat dapat menghasilkan 3 ton per ha (Sunarjono, 2004). Kangkung (Ipomoea sp.) merupakan tanaman sayuran komersial yang bersifat menjalar. Kangkung berbatang kecil, bulat panjang dan berlubang di dalamnya. Daunnya digemari seluruh lapisan masyarakat Indonesia karena rasanya enak segar. Selain itu, kangkung banyak mengandung vitamin A, vitamin C, dan mineral, terutama zat besi (Sunarjono, 2004). Pemanenan dengan cara dipangkas sudah bisa dilakukan saat tanaman berumur tiga bulan. Ujung tanaman dipangkas sekitar 30 cm agar tumbuh banyak cabang. Hasil pangkasan ini merupakan panen pertama yang dapat dijual.
Universitas Sumatera Utara

10 Pemungutan hasil selanjutnya dilakukan dengan cara ujung cabang dipangkas setiap 15 hari sekali (Sunarjono, 2004).
Mentimun (Cucumis sativus L.) atau boteng merupakan tanaman semusim yang bersifat menjalar. Tanaman tersebut menjalar atau memanjat dengan menggunakan alat panjat berbentuk pilin (spiral). Panjang batang mentimun 0,5 m-1,5m. Daun mentimun lebar berlekuk menjari dan dangkal, berwarna hijau muda sampai hijau tua. Daunnya beraroma kurang sedap dan langu. Bulunya tidak begitu tajam. Tanaman mentimun biasanya mulai berbunga umur 45-50 hari dari waktu tanam. Biasanya bunga pertama sampai kelima adalah jantan. Panen pertama buah mentimun ketika tanaman berumur dua bulan dari waktu tanam (Sunarjono, 2004).
Caisim (Brassica juncea L.) merupakan tanaman semusim, berbatang pendek hingga hampir tidak terlihat. Daun Caisim berbentuk bulat panjang serta berbulu halus dan tajam, urat daun utama lebar dan berwarna putih. Daun caisim ketika masak bersifat lunak, sedangkan yang mentah rasanya agak pedas. Pola pertumbuhan daun mirip tanaman kubis, daun yang muncul terlebih dahulu menutup daun yang tumbuh kemudian hingga membentuk krop bulat panjang yang berwarna putih. Susunan dan warna bunga seperti kubis (Sunarjono, 2004).
Di Indonesia dikenal tiga jenis sawi yaitu: sawi putih atau sawi jabung, sawi hijau dan sawi huma. Sawi putih (B. Juncea L. Var. Rugosa Roxb. & Prain) memiliki batang pendek, tegap dan daun lebar berwarna hijau tua, tangkai daun panjang dan bersayap melengkung ke bawah. Sawi hijau, memiliki ciri-ciri batang pendek, daun berwarna hijau keputih-putihan, serta rasanya agak pahit, sedangkan sawi huma memiliki ciri batang kecil-panjang dan langsing, daun panjang-sempit
Universitas Sumatera Utara

11 berwarna hijau keputih-putihan, serta tangkai daun panjang dan bersayap (Rukmana, 1994).
Bunga pada tanaman cabai terdapat pada ruas daun dan jumlahnya bervariasi antara 1-8 bunga tiap ruas tergantung pada spesiesnya. Capsicum annuum mempunyai satu bunga tiap ruas. Sedangkan cabai rawit (Capsicum frutescens) mempunyai 1-3 bunga tiap ruas. Ukuran ruas tanaman cabai bervariasi dari pendek sampai panjang. Makin banyak ruas makin banyak jumlah bunganya, dan diharapkan semakin banyak pula produksi buahnya. Buah cabai bervariasi antara lain dalam bentuk, ukuran, warna, tebal kulit, jumlah rongga, permukaan kulit dan tingkat kepedasannya. Berdasarkan sifat buahnya, terutama bentuk buah, cabai besar dapat digolongkan dalam tiga tipe, yaitu : cabai merah, cabai keriting dan cabai paprika (Prajnanta,1999).
Menurut Nawangsih, dkk (1999) Umur cabai sangat bervariasi tergantung jenis cabai. Tanaman cabai besar dan keriting yang ditanam di dataran rendah sudah dapat dipanen pertama kali umur 70 – 75 hari setelah tanam. Sedangkan waktu panen di dataran tinggi lebih lambat yaitu sekitar 4 – 5 bulan setelah tanam. Panen dapat terus-menerus dilakukan sampai tanaman berumur 6 – 7 bulan. Pemanenan dapat dilakukan dalam 3 – 4 hari sekali atau paling lama satu minggu sekali.
2.1.2 Pertanian Organik Pertanian organik adalah proses budidaya yang tidak menggunakan asupan
bahan kimia sintetik seperti pupuk, pestisida, herbisida dan hormon pertumbuhan. Pertanian organik juga tidak menggunakan rekayasa genetik (GMO). Dengan
Universitas Sumatera Utara

12 demikian, pertanian organik merupakan pertanian yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Sistem pertanian organik adalah sistem produksi holistik dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktifitas agroekosistem secara lamai serta mampu menghasilakn pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Direktorat Jenderal holtikultura, 2008).
World Trade Organization (WTO), membuat beberapa kategori produk pertanian. Pertama wild product, yakni produk tumbuh-tumbuhan yang langsung diambil dari alam liar (hutan). Kedua, traditional product, yakni produk tumbuhtumbuhan yang dibudidayakan secara tradisional. Misalnya padi ladang. Ketiga, conventional product, yakni produk pertanian biasa, yang proses budidayanya menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Keempat healthy product, yakni produk pertanian yang masih menggunakan pupuk dan pestisida kimia, terapi dosisnya sangat dibatasi. Kelima organic product, yakni hasil pertanian organik.
Menurut Balai Pengkajian Pertanian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan (2012) Prinsip dasar pertanian organik yang dirumuskan oleh IFOAM, International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM, 1992) tentang budidaya tanaman organik harus memenuhi persyaratan – persyaratan sebagai berikut : 1. Lingkungan
Lokasi kebun harus bebas dari kontaminasi bahan-bahan sintetik. Karena itu pertanaman organik tidak boleh berdekatan dengan pertanaman yang memakai pupuk buatan, pestisida kimia dan lain-lain yang tidak diizinkan. Lahan yang sudah tercemar (intensifikasi) bisa digunakan namun perlu konversi selama 2 tahun dengan pengelolaan berdasarkan prinsip pertanian organik.
Universitas Sumatera Utara

13
2. Bahan Tanaman Varietas yang ditanam sebaiknya yang telah beradaptasi baik di daerah yang
bersangkutan, dan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. 3. Pola Tanam
Pola tanam hendaknya berpijak pada prinsip-prinsip konservasi tanah dan air, berwawasan lingkungan menuju pertanian berkelanjutan. 4. Pemupukan dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) bahan organik sebagai pupuk adalah sebagai berikut :
- Berasal dari kebun atau luar kebun yang diusahakan secara organik - Kotoran ternak, kompos sisa tanaman, pupuk hijau, jerami, mulsa lain,
urin ternak, sampak kota (kompos) dan lain-lain bahan organik asalkan tidak tercemar bahan kimia sintetik atau zat-zat beracun. - Pupuk buatan (mineral) - Urea, ZA, SP36/TSP dan KCl, tidak boleh digunakan - K2SO4 (Kalium Sulfat) boleh digunakan maksimal 40 kg/ha; kapur, kieserite, dolomite, fosfat batuan boleh digunakan. - Semua zat pengatur tumbuh tidak boleh digunakan 5. Pengelolaan Organisme Pengganggu - Semua pestisida buatan (kimia) tidak boleh digunakan, kecuali yang diizinkan dan terdaftar pada IFOAM - Pestisida hayati diperbolehkan
Universitas Sumatera Utara

14 2.1.3 Vertikultur
Vertikultur adalah istilah Indonesia yang diambil dari istilah verticulture dalam bahasa inggris. Istilah ini berasal dari dua kata yaitu vertical dan culture. Makna vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Sistem ini sangat cocok diterapkan khususnya bagi para petani atau pengusaha yang memiliki lahan sempit. Vertikultur dapat pula diterapkan pada bangunan-bangunan bertingkat, perumahan umum, atau bahkan pada pemukiman di dearah padat yang tidak punya halaman sama sekali. Dengan metoda vertikultur ini, kita dapat memanfaatkan lahan semaksimal mungkin (Widarto, 1996).
Jenis tanaman yang cocok untuk dibudidayakan secara vertikultur jumlahnya banyak sekali, mencapai ribuan tanaman. Secara umum tanaman yang cocok untuk divertikulturkan adalah hampir semua jenis tanaman semusim yang pertumbuhannya tidak terlalu tinggi, maksimal 1 m. Kebanyakan tanaman semusim merupakan jenis sayuran dan buah-buahan, dapat juga jenis tanaman hias. Ini termasuk tanaman merambat yang pertumbuhannya dapat diatur dengan ajir dari tali rafia atau bambu (Widarto, 1996).
Menurut Andoko (2004) ada beberapa kelebihan dari teknik budidaya secara vertikultur, di antaranya sebagai berikut. a) Populasi tanaman per satuan luas lebih banyak karena tanaman disusun ke atas
dengan tingkat kerapatan yang dapat diatur sesuai keperluan. b) Media tanam yang disterilisasi meminimalkan risiko serangan hama dan
penyakit sehingga mengurangi biaya untuk pengendalian hama dan penyakit.
Universitas Sumatera Utara

15 c) Kehilangan pupuk oleh guyuran air hujan dapat dikurangi karena jumlah
media tanam yang sudah ditentukan hanya berada di sekitar perakaran tanaman di dalam wadah terbatas. d) Perlakuan penyiangan gulma sangat berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali karena sedikit media tanam terbuka yang memungkinkan media tanam tersebut ditumbuhi gulma. e) Berbagai bahan di sekitar rumah seperti karung bekas, batang bambu, pipa peralon, dan bekas gelas air mineral dapat dimanfaatkan sebagai wadah budi daya vertikultur. f) Tempat dibangunnya bangunan vertikultur menampilkan nilai estetika, atau dapat dikatakan sebagai tanaman hias. g) Bangunan vertikultur dapat dipindah-tempatkan ke tempat yang diinginkan, terutama untuk vertikultur dengan konstruksi yang dapat dipindah-pindahkan.
Di samping banyaknya nilai kelebihan, teknik budidaya vertikultur ini pun memiliki beberapa kelemahan, diantaranya sebagai berikut. a) Investasi atau biaya awal yang diperlukan cukup tinggi karena harus membuat
srtruktur bangunan khusus dan penyiapan media tanam. b) Oleh karena jarak tanamnya rapat, tercipta suatu kondisi kelembapan udara
yang tinggi. Hal ini menyebabkan tanaman rentan terhadap serangan penyakit akibat cendawan (Andoko, 2004).
Teknik vertikultur bisa dikembangkan dengan menggunakan rak, menyusun batako di pojok tembok atau lainnya. Sementara, sebagai wadah tanaman, bisa digunakan gelas plastik dari air kemasan, botol bekas sampai kemasan tetrapak. Dengan teknik vertikultur, maka setiap rumah tangga bisa
Universitas Sumatera Utara

16 memproduksi sayuran organik secara mandiri. Selain itu, kesehatan juga bisa diupayakan dengan herbal yang ditumbuhkan sendiri. Rumah juga lebih indah berkat tanaman hias (Kompas, 2011).
Dalam mengembangkan usahatani kegiatan utama yang dilakukan adalah peningkatan produksi barang pertanian yang dihasilkan petani, meningkatkan produktivitas pertanian serta mendorong pengembangan komoditas yang sesuai dengan potensi wilayah. Peningkatan produksi pertanian apabila ingin meningkatkan pendapatan petani merupakan keharusan dalam pembangunan pertanian (Hanani, 2003).
2.1.3 Penelitian Sebelumnya Tegalbero Camp yang merupakan model pertanian terpadu yang
mewadahi perkebunan, pertanian, perikanan, dan peternakan (buntaninak) pada tahun 2010 menerapkan pertanian vertikultur dengan 300 lonjor paralon PVC setinggi masing-masing 2 meter. Untuk komoditi bawang merah, dalam satu tonggak paralon menghasilkan 4 kilogram bawang merah, dengan harga bawang merah sekitar Rp 15.000,- per kilogram dan biaya paralon Rp 20.000,- per tonggak ditambah biaya pupuk dan perawatan, pendapatan Rp 60.000,- per tonggak masih menguntungkan (Mahmudi, 2010).
Vertikultur adalah media pertanaman dengan cara bertingkat. Dengan membuat rak bertingkat dari kayu/bambu/besi/paralon, kita dapat menanam tanaman di pekarangan sempit bahkan tidak ada. Bahan yang digunakan untuk pembuatan vertikultur ini beragam. Ada kayu, bambu, paralon, dan besi. Untuk pembuatan vertikultur yang murah biasanya menggunakan kayu. Hanya
Universitas Sumatera Utara

17 mengeluarkan biaya Rp 250.000,- sudah dapat membuat vertikultur. Sedangkan yang termahal adalah dengan menggunakan besi, dapat menghabiskan hingga Rp500.000,- Apabila masih mahal, kita dapat menanamnya di polibag atau pot. Untuk satu polibag yang berukuran 3 kg, hanya mengeluarkan Rp 5.000,- saja. Itu sudah termasuk 1 kg pupuk kandang, 2 kg sub soil (tanah dan sekam), serta 2 bibit caisim (Sinar tani, 2012).
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Analisis Usahatani
Ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memeperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif apabila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki (yang dikuasai) sebaik-baiknya, dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihi mesukan (input) (Seokartawi, 1995).
Biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani. Biaya usahatani biasanya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Biaya tetap (Fixed cost) Biaya yang relative jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi
yang diperoleh banyak atau sedikit. Jadi besarnya biaya ini tidak dipengaruhi/bergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh. Contohnya biaya tetap ialah sewa tanah, pajak, alat pertanian.
2. Biaya Variabel (Variabel cost)
Universitas Sumatera Utara

18 Biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Contohnya untuk biaya vaiabel ini ialah sarana produksi. Kalau menginginkan produksi yang tinggi, maka tenaga kerja perlu ditambah, sehingga biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang dinginkan (Soekartawi, 2003). Menurut Soekartawi dalam Yanti (2011) Dalam usaha tani, petani akan memperoleh penerimaan dan pendapatan penerimaan usaha tani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Pernyataan ini dapat ditulis sebagai berikut: TR = Y.Py Dimana : TR = Total Penerimaan Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani Py = Harga Y Pendapatan adalah suatu ukuran balas jasa terhadap faktor-faktor produksi yang ikut dalam proses produksi. Pengukuran pendapatan untuk tiap-tiap jenis faktor produksi yang ikut dalam usahatani tergantung pada tujuannya. Pada akhirnya para petani dari setiap usahataninya mengharapkan pendapatan yang disebut dengan pendapatan usahatani. Pendapatan usahatani adalah selisih antara total revenue (TR) deangan total cost (TC) atau dapat ditulikan dengan rumus sebagai berikut : I = TR-TC Dimana : I = Income (Pendapatan)
Universitas Sumatera Utara

19
TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya)
Kelayakan usahatani digunakan untuk melihat seberapa jauh suatu usaha layak untuk diusahakan. Kelayakan usahatani dapat diketahui dengan menggunakan beberapa criteria investasi. Kriteria investasi. Kriteria investasi yang umum dikenal antara lain BEP dan R/C (Kasmir dan Jakfar, 2003).
R/C adalah singkatan dari return cost ratio. R/C juga dikenal sebagai perbandingan atau nisbah antara penerimaan dan biaya. Secara matematik, pernyataan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:
Penerimaan R/C Ratio = Total Biaya Produksi
2.2.2 Analisis SWOT SWOT adalah singkatan dari lingkungan Internal Streight dan Weaknesses
serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats yang dihadapi. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal Peluang (opportunities) dan Ancaman (threats) dengan faktor internal Kekuatan (strengths) dan Kelemahan (weaknesses) (Rangkuti, 1997).
Analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengembilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan (Rangkuti, 1997).
Universitas Sumatera Utara

20
Analisa SWOT dibuat dalam bentuk matriks. Matriks ini menggambarkan dengan jelas peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dalam perusahaandan disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini menghasilkanempat set alternatif strategis, yaitu: 1. Strategi SO (Strenghts-Opportunities)
Strategi berdasarkan jalan pemikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan dengan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. 2. Strategi ST (Strenghts-Threats)
Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman. 3. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities)
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. 4. Strategi WT (Weaknesses-Threats)
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensive dan berusaha meminimalkan kelemahanyang ada serta menghindari ancaman.

IFAS
EFAS
OPPORTUNITIES (O) • Tentukan faktor
kekuatan eksternal

STRENGHTS (S) • Tentukan faktor
kekuatan internal
STRATEGI SO Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1878 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 495 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 437 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 262 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 578 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 506 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 320 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 494 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 588 23