Pertumbuhan Tanaman Pokok Sengon pada Beberapa Pola Agroforestri di RPH Jatirejo, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Sumber daya alam yang meliputi hutan, tanah, air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya merupakan salah satu modal dasar dalam pembangunan.
Hal ini dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dengan
tetap memperhatikan kelestariannya. Salah satu kegiatan dalam pemanfaatan
sumber daya alam adalah dengan memanfaatkan hutan untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Namun dalam kenyataannya, kapasitas hutan terhadap segala
aspek kehidupan semakin menurun.
Laju kerusakan hutan di Indonesia semakin meningkat yang dibuktikan
dari penurunan luas kawasan hutan alam dari 130.509.671 ha menjadi 60 juta ha
dengan laju deforestasi yang mencapai 1,3 juta ha dalam dua tahun terakhir ini
(Kurniawansyah 2012). Salah satu pihak yang juga merasakan kondisi tersebut
adalah Perhutani. Lahan hutan Perhutani sebagian besar berada di sekitar wilayah
masyarakat miskin yang tidak memiliki lahan. Kondisi ini memicu peningkatan
perambahan hutan seperti pencurian kayu, bahkan konversi lahan hutan menjadi
lahan budidaya tanaman pertanian. Konflik pengelolaan lahan hutan antara pihak
Perhutani dengan masyarakat memerlukan sebuah solusi. Oleh karena itu perlu
dilakukan rekonstruksi ulang dan penataan kembali manajemen pengelolaan
hutan, minimal dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Salah satu
kegiatan yang dilakukan Perhutani untuk mengurangi konflik tersebut adalah
menerapkan pengelolaan hutan dengan mengikutsertakan masyarakat sekitar
hutan. Pola pengelolaan hutan yang dikembangkan oleh Perhutani seperti pada
RPH Jatirejo, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri adalah Pengelolaan Hutan
Bersama Masyarakat (PHBM).
Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam PHBM adalah dengan
penerapan sistem agroforestri. Sistem ini menggambarkan hutan yang multifungsi
sesuai dengan tuntutan jaman dan kebutuhan. Dengan agroforestri, dapat
menyediakan lahan bagi masyarakat untuk ditanami tanaman pertanian, sehingga
diharapkan dapat mengurangi kerusakan dan tekanan masyarakat terhadap hutan.

2

Selain itu, masyarakat juga akan bertanggung jawab untuk memelihara tanaman
pokok, sehingga tercipta keseimbangan terhadap kelestarian hutan dan
kesejahteraan masyarakat. Di samping keuntungan yang lebih tinggi, masyarakat
juga akan memperoleh hasil produk panenan yang lebih beragam serta dapat
mengurangi resiko kerugian akibat gagal panen satu macam komoditas tertentu.
Sistem agroforestri memiliki karakter yang berbeda dan unik dibandingkan
dengan sistem pertanian monokultur. Adanya beberapa komponen berbeda yang
saling berinteraksi dalam satu sistem (pohon, tanaman, dan/atau ternak) membuat
sistem ini memiliki karakteristik yang unik dalam hal jenis produk, waktu untuk
memperoleh produk dan orientasi penggunaan produk. Karaktertistik agroforestri
yang demikian, sangat mempengaruhi fungsi sosial-ekonomi dari sistem
agroforestri.
Agroforestri merupakan sebuah pola penanaman yang mencoba meniru
alam. Pola penanaman yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan membuat
ekositem menjadi lebih stabil. Kestabilan ini ditunjukkan dari interaksi antar
tanaman, daur hara tertutup, dan interaksi positif dalam pembagian sumberdaya.
Upaya konservasi terhadap tata air dan tanah akan meminimalisir terjadinya erosi
dan kesinambungan produksi menjadi manfaat lebih dari penerapan sistem ini.
Dalam skala makro, pola agroforestri menjanjikan sebuah solusi untuk mencegah
laju deforestasi dan degradasi lahan serta memperbaiki kualitas lahan jika
dibandingkan dengan pola tanaman yang homogen seperti persawahan. Dalam
pola persawahan input hara hanya diperoleh dari pemberian pupuk buatan,
sedangkan tanaman tidak berkontribusi sebagaimana dalam sistem agroforestri.
Dalam agroforestri, suplai unsur hara bisa dilakukan secara mandiri oleh tanaman
penyusunnya dengan memanfaatkan ranting, dedaunan, bunga, maupun buah yang
jatuh dari tanaman pokok (Mahendra 2009). Dengan demikian akan tercipta
keseimbangan antara taraf hidup masyarakat dengan kelestarian lingkungan
Pola agroforestri yang berbeda memungkinkan terjadinya perbedaan
respon bagi pertumbuhan tanaman pokok. Hal ini disebabkan masing-masing
individu tanaman pada sistem agroforestri berinteraksi yang bisa berdampak
positif maupun negatif. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian mengenai
pertumbuhan tanaman pokok terhadap berbagai pola agroforestri, sehingga dapat

3

diketahui pola agroforestri atau kombinasi tanaman yang terbaik untuk
dikembangkan berdasarkan pertumbuhan tanaman pokok yang terbaik.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kombinasi pola
agroforestri dan sistem pengelolaan lahan, serta interaksi antara jenis tanaman
agroforestri terhadap pertumbuhan tanaman pokok sengon.
1.3 Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mempertimbangkan
pola agroforestri yang tepat terutama dalam pemilihan jenis tanaman yang sesuai
dan menguntungkan dalam upaya meningkatkan nilai ekonomis dan produktivitas
tegakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agroforestri
Menurut Nair (1987) dalam Hairiah et al. (2003), agroforestri adalah
sistem penggunaan lahan terpadu, yang memiliki aspek sosial dan ekologi,
dilaksanakan melalui pengkombinasian pepohonan dengan tanaman pertanian
dan/atau ternak (hewan), baik secara bersama-sama atau bergiliran, sehingga dari
satu unit lahan tercapai hasil total nabati atau hewan yang optimal dalam arti
berkesinambungan. Selain itu, Huxley (1999) diacu dalam Hairiah et al. (2003)
menyatakan

agroforestri

adalah

sistem

penggunaan

lahan

yang

mengkombinasikan tanaman berkayu (pepohonan, perdu, bambu, rotan dan
lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula dengan rerumputan
(pasture), kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya (lebah, ikan)
sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara tanaman berkayu
dengan komponen lainnya.
Dari beberapa definisi yang telah dikutip, agroforestri merupakan suatu
istilah baru dari praktek-praktek pemanfaatan lahan tradisional yang memiliki ciriciri antara lain (Andayani 2005): 1) budidaya tanaman menetap pada sebidang
lahan; 2) mengkombinasikan pertanaman semusim dan tahunan secara
berdampingan atau berurutan, tanpa atau dengan pemeliharaan ternak; 3)
menerapkan pengusahaan yang sedapat mungkin tergabungkan dengan kebiasaan
petani setempat dalam hal budidaya tanaman; 4) merupakan sistem pemanfaatan
lahan, dimana pertanaman petanian, perhutanan, dan atau peternakan menjadi
komponen, baik secara struktur maupun fungsi.
Agroforestri menitikberatkan pada dua karakter pokok yang umum dipakai
pada seluruh bentuk agroforestri yang membedakan dengan sistem penggunaan
lahan lainnya (Lundgren 1982, diacu dalam Hairiah 2003), yaitu: 1) adanya
pengkombinasian yang terencana/disengaja dalam satu bidang lahan antara
tumbuhan berkayu (pepohonan), tanaman pertanian dan/atau ternak/hewan baik
secara bersamaan (pembagian ruang) ataupun bergiliran (bergantian waktu), 2)
adanya interaksi ekologis dan/atau ekonomis yang nyata/jelas, baik positif

5

maupun negatif antara komponen-komponen sistem yang berkayu maupun tidak
berkayu.
Ciri penting agroforestri yang dikemukakan oleh Lundgren dan Raintree
(1982) diacu dalam Hairiah (2003) antara lain: 1) agroforestri biasanya tersusun
dari dua jenis tanaman atau lebih (tanaman dan/atau hewan), paling tidak satu di
antaranya tumbuhan berkayu; 2) siklus sistem agroforestri selalu lebih dari satu
tahun; 3) ada interaksi (ekonomi dan ekologi) antara tanaman berkayu dengan
tanaman tidak berkayu; 4) selalu memiliki dua macam produk atau lebih (multi
product), misalnya pakan ternak, kayu bakar, buah-buahan, obat-obatan; 5)
minimal mempunyai satu fungsi pelayanan jasa, misalnya pelindung angin,
penaung, penyubur tanah, dan peneduh; 6) sistem agroforestri yang paling
sederhanapun secara

biologis

maupun ekonomis

jauh

lebih

kompleks

dibandingkan dengan sistem budidaya monokultur. Berdasarkan uraian tersebut
maka sasaran pokok agroforestri meliputi: mengoptimumkan produksi gabungan
pertanian-perhutanan dengan atau tanpa peternakan, memperbaiki lahan usaha,
serta membuka kesempatan atau lapangan kerja khususnya bagi masyarakat
setempat.
Andayani (2005) menyatakan bahwa, agroforestri dapat diartikan sebagai
suatu bentuk kolektif dari sebuah sistem nilai masyarakat yang berkaitan dengan
model-model penggunaan lahan lestari. Oleh karena itu, agroforestri dalam bentuk
implementasinya dapat berbentuk seperti: 1) agrisilvikultur (penggunaan lahan
secara sadar dan dengan pertimbangan yang masak untuk memproduksi sekaligus
hasil-hasil pertanian dari hutan); 2) sylvopastural (sistem pengelolaan hutan
dimana hutan dikelola untuk menghasilkan kayu sekaligus juga untuk memelihara
ternak); 3) agrosylvo-pastoral (sistem dimana lahan dikelola untuk memproduksi
hasil pertanian dan hasil kehutanan secara bersamaan dan sekaligus memelihara
hewan ternak); 4) multipurpose forest tree production system (sistem dimana
berbagai jenis kayu ditanam dan dikelola, tidak saja untuk menghasilkan kayu
tetapi juga dedaunan dan buah-buahan yang dapat digunakan sebagai bahan
makanan manusia maupun dijadikan makanan ternak).
Pada

dasarnya

agroforestri

merupakan

pola

pertanaman

yang

memanfaatkan sinar matahari dan tanah yang berlapis-lapis untuk meningkatkan

6

produktivitas lahan. Namun, sebenarnya pola tanam agroforestri sendiri tidak
sekedar untuk meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga melindungi lahan
dari kerusakan dan mencegah penurunan kesuburan tanah melalui mekanisme
alami.
Penerapan agroforestri dapat memberikan manfaat yang besar bagi para
pemilik lahan. Menurut Wiersum (1980) diacu dalam Matatula (2009)
mengemukakan, keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan teknik
agroforestry yaitu sebagai berikut: 1) keuntungan ekologis, yaitu penggunaan
sumber daya yang efisien baik dalam pemanfaatan sinar matahari, air dan unsur
hara di dalam tanah; 2) keuntungan ekonomis, yaitu total produksi yang
dihasilkan lebih tinggi sebagai akibat dari pemanfaatan lahan yang lebih efisien;
3) keuntungan sosial, yaitu memberikan kesempatan kerja sepanjang tahun.
Keberhasilan penerapan agroforestri menuntut adanya pemahaman yang
mendalam tentang komponen yang terlibat dalam agroforestri, serta interaksi
komponen tersebut. Interaksi antar komponen tersebut, atau dengan kata lain
“interaksi antara pohon dengan tanaman semusim atau dengan pohon lainnya”,
merupakan satu aspek yang tidak mudah dikaji.

Interaksi antar komponen-

komponen tersebut, antara lain (Hairiah et al. 2002): 1) interaksi positif
(peningkatan produksi satu jenis tanaman diikuti oleh peningkatan produksi
tanaman lainnya); 2) interaksi netral (kedua tanaman tidak saling mempengaruhi,
peningkatan produksi tanaman semusim tidak mempengaruhi produksi pohon atau
peningkatan produksi pohon tidak mempengaruhi produksi tanaman semusim); 3)
interaksi negatif (peningkatan produksi satu jenis tanaman diikuti oleh penurunan
produksi tanaman lainnya, ada kemungkinan pula terjadi penurunan produksi
keduanya).
2.2 Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen)
2.2.1 Klasifikasi dan Penyebaran
Sengon termasuk suku Fabaceae, keluarga petai-petaian. Di Indonesia,
sengon memiliki beberapa nama daerah seperti berikut : jeunjing, jeunjing laut
(Sunda), kalbi, sengon landi, sengon laut, atau sengon sabrang (Jawa), seja
(Ambon), sikat (Banda), tawa (Ternate), dan gosui (Tidore). Klasifikasi ilmiah
tanaman sengon:

7

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Bangsa

: Fabales

Suku

: Fabaceae

Marga

: Paraserianthes

Jenis

: falcataria
Sengon merupakan tanaman asli Indonesia, Papua Nugini, Kepulauan

Solomon dan Australia (Soerianegara dan Lemmens 1993, diacu dalam
Krisnawati 2011). Tegakan alam sengon di Indonesia ditemukan tersebar di
bagian timur (Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua) dan di perkebunan di Jawa
(Martawijaya et al. 1989). Di Maluku, tegakan sengon alam dapat ditemukan di
Pulau Taliabu, Mangolle, Sasan, Obi, Bacan, Halmahera, Seram dan Buru. Di
Papua, sengon alam ditemukan di Sorong, Manokwari, Kebar, Biak, Serui, Nabire
dan Wamena. Selain itu, sengon juga ditanam di Jawa (Martawijaya et al. 1989).
2.2.2 Deskripsi Botani
Pohon berukuran sedang sampai besar, tinggi dapat mencapai sekitar
30‒45 m, tinggi batang bebas cabang 20 m. Tidak berbanir, kulit licin, berwarna
kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter batang sekitar 70‒80 cm. Kulit batang
berwarna putih keabu-abuan, tidak beralur, tidak mengelupas dan batangnya tidak
berbanir (Martawijaya et al. 1989). Kerapatan tajuk tergolong jarang. Berat jenis
kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV‒V.
Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan panjang sekitar
23‒30 cm . Anak daunnya kecil-kecil, banyak dan perpasangan, terdiri dari 15‒20
pasang pada setiap sumbu (tangkai), berbentuk lonjong (panjang 6‒12 mm, lebar
3‒5 mm) dan pendek ke arah ujung. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau
pupus dan tidak berbulu sedangkan permukaan daun bagian bawah lebih pucat
dengan rambut-rambut halus (Soerianegara dan Lemmens 1993 dan Arche et al.
1998, diacu dalam krisnawati 2011). Sengon memiliki akar tunggang yang cukup
kuat menembus ke dalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun
dan tidak menonjol ke permukaan tanah.

8

Bunga sengon tersusun dalam malai berukuran panjang 12 mm, berwarna
putih kekuningan dan sedikit berbulu, berbentuk seperti saluran atau lonceng.
Bunga biseksual, terdiri dari bunga jantan dan bunga betina. Buah sengon
berbentuk polong, pipih, tipis, tidak bersekat-sekat dan berukuran panjang 10‒13
dan lebar 2 cm. Setiap polong buah berisi 15‒20 biji. Biji sengon berbentuk pipih,
lonjong, tidak bersayap, berukuran panjang 6 mm, berwarna hijau ketika masih
muda dan berubah menjadi kuning sampai coklat kehitaman jika sudah tua, agak
keras dan berlilin.
Sengon mulai berbunga pada umur 3 tahun setelah tanam. Djogo (1997)
diacu dalam Krisnawati (2011) melaporkan, waktu berbunga adalah sekitar
Oktober‒Januari. Secara umum, buah sengon akan masak sekitar 2 bulan setelah
berbunga. Tanaman sengon sehat berumur 5–8 tahun dapat menghasilkan benih
sekitar 12.000 butir per ha. Seribu butir benih sengon diperkirakan memiliki berat
sekitar 16–26 g (Soerianegara dan Lemmens 1993, diacu dalam Krisnawati 2011).
2.2.3 Syarat Ekologi
Sengon dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah kering,
tanah lembab dan bahkan di tanah yang mengandung garam dan asam selama
drainasenya cukup (Soerianegara dan Lemmens 1993, diacu dalam Krisnawati
2011). Di Jawa, sengon dilaporkan dapat tumbuh di berbagai jenis tanah kecuali
tanah grumusol (Charomaini dan Suhaendi 1997, diacu dalam Krisnawati 2011).
Sengon termasuk jenis pionir yang dapat tumbuh di hutan primer, hutan
hujan dataran rendah sekunder dan hutan pegunungan, padang rumput dan di
sepanjang pinggir jalan dekat laut. Di habitat alaminya di Papua, sengon
berasosiasi dengan jenis-jenis seperti Agathis labillardieri, Celtis spp., Diospyros
spp., Pterocarpus indicus, Terminalia spp. dan Toona sureni (Soerianegara dan
Lemmens 1993, diacu dalam Krisnawati 2011).
Di habitat alaminya, curah hujan tahunan berkisar antara 2000–2700 mm,
kadang-kadang sampai 4000 mm dengan periode musim kering lebih dari 4 bulan.
Curah hujan untuk pertumbuhan optimalnya adalah 2000–3500 mm per tahun.
Suhu optimal untuk pertumbuhan sengon adalah 22–29°C dengan suhu
maksimum 30–34°C dan suhu minimum 20–24°C (Soerianegara dan Lemmens

9

1993, diacu dalam Krisnawati 2011). Selama bulan kering, jumlah hari hujan
minimal yang diperlukan adalah 15 hari.
Sengon tumbuh baik pada ketinggian 1600 m dpl, kadang-kadang sampai
ketinggian 3.300 m dpl. Di Papua, sengon dapat tumbuh di daerah yang rendah
pada ketinggian 55 m dpl di Manokwari (Charomaini dan Suhaendi 1997, diacu
dalam Krisnawati 2011).
2.2.4 Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan tanaman bertujuan untuk memperoleh hasil
tanaman atau tegakan yang berkualitas sesuai dengan tujuan pengelolaan. Adapun
kegiatan dalam pemeliharaan tanaman meliputi :
1. Penyiangan
Tanaman sengon harus dibebaskan dari gulma. Gulma dan tanaman
terpengaruh secara negatif oleh interaksi dalam bentuk penurunan kegiatan
pertumbuhan termasuk peristiwa alelopati. Anino (1997) diacu dalam Krisnawati
et al. (2011) menyatakan, penyiangan harus dilakukan secara rutin pada dua bulan
pertama, setelah itu secara periodik 3 bulanan. Selama satu tahun pertama pohon
harus bersih dari alang-alang paling tidak 2 m di sekitar pohon.
2. Pemupukan
Untuk meningkatkan pertumbuhan sengon, setiap anakan perlu diberikan
pupuk sekitar 100 gram NPK, baik pada saat penanaman maupun setelahnya.
Menurut Santoso (1992) untuk mendapatkan produksi yang sesuai harapan, pada
saat tanaman sengon berumur sekitar 4 bulan perlu diberi pupuk Urea 40 kg, ZA
80 kg, TSP 120 kg dan KCl 160 kg tiap ha. Cara pemupukan yaitu dengan
meletakkan pupuk dalam lubang sedalam 5‒10 cm di sekeliling batang pada batas
proyeksi tajuk tanaman (Indriyanto 2008). Pemupukan diulangi lagi pada awal
tahun ke dua dengan takaran yang sama.
3. Pendangiran
Menurut Hartini dan Anna (2010), pendangiran merupakan kegiatan
penggemburan tanah disekitar tanaman dalam upaya memperbaiki sifat fisik tanah
(aerasi tanah). Pendangiran dilakukan setelah penyiangan dengan meninggikan
tanah di sekitar tanaman pokok agar air tidak tergenang.

10

4. Penyulaman
Penyulaman tanaman merupakan kegiatan penanaman kembali pada bekas
tanaman yang mati/diduga akan mati dan rusak sehingga terpenuhi jumlah
tanaman normal dalam satuan luas tertentu sesuai jarak tanamnya (Hartini &
Anna 2010). Menurut Indriyanto (2008), penyulaman dilakukan apabila
persentase hidup tanaman kurang dari 80%. Penyulaman pertama dilakukan satu
bulan setelah penanaman. Penyulaman kedua dilakukan setelah satu tahun
penanaman. Pada tahun berikutnya tidak perlu dilakukan penyulaman karena
tanaman susulan akan tertinggal pertumbuhannya.
5. Pemangkasan
Menurut Hartini dan Anna (2010), pemangkasan cabang adalah kegiatan
pembuangan cabang bagian bawah untuk memperoleh batang bebas cabang yang
tinggi. Pohon sengon memiliki kecenderungan untuk tumbuh menggarpu,
sehingga pemangkasan sangat diperlukan pada tahap awal perkembangan pohon.
Pemangkasan biasanya dilakukan selama dua tahun pertama mulai dari enam
bulan, setelah itu pada interval enam bulan sampai umur 2 tahun (Soerianegara
dan Lemmens 1993, diacu dalam Krisnawati 2011). Pemangkasan lebih baik
dikerjakan pada waktu cabang pohon masih kecil, untuk mencegah terjadinya luka
yang terlalu lebar. Intensitas pemangkasan cabang setiap kali melakukan
pemangkasan sebesar 30% dari tajuk (Kosasih et al. 2002, diacu dalam Indriyanto
2008).
6. Penjarangan
Penjarangan adalah tindakan pengurangan jumlah batang persatuan luas
untuk mengatur kembali ruang tumbuh pohon dalam rangka mengurangi
persaingan antar pohon. Pohon yang dipilih untuk dijarangi adalah pohon yang
terkena hama, cacat, miskin riap dan tertekan. Secara umum untuk jenis pohon
yang cepat tumbuh dilakukan penjarangan pertama kali pada umur 3‒4 tahun,
sedangkan jenis pohon yang lambat tumbuh penjarangan pertama kali dilakukan
pada umur 5‒10 tahun (Indriyanto 2008).
7. Pengendalian Hama dan Penyakit
Salah satu ancaman utama hama yang menyerang tanaman sengon di
Indonesia adalah hama penggerek batang (Xystrocera festiva) (Nair dan Sumardi
2000, diacu dalam Krisnawati 2011). Xystrocera festiva mulai menyerang

11

tanaman umur 3 tahun dan apabila dibiarkan, dalam waktu 2 sampai 5 tahun
kemudian, seluruh tanaman akan punah. Pengendalian hama X. festiva dapat
dilakukan dengan penebangan atau penjarangan pada pohon yang terserang untuk
mencegah dan menekan penyebaran hama.
Penyakit yang menyerang tanaman sengon antara lain: 1) jamur upas
(Upasia salmonicolor), pengendaliannya dengan eradikasi, pembakaran atau
pemangkasan tanaman yang diserang; 2) penyakit akar merah, penyebabnya jamur
Ganoderma pseudofereum, umumnya jamur tumbuh pada tanah basah dan pH
6,0–7,0. Pengendaliannya dapat dengan fungisida Ganocide atau Calixin CP, atau
membakar tanaman yang sakit sampai ke akarnya dan sisa akar di lubang tanam
dibersihkan (Rahayu 1999); 3) penyakit karat puru juga menyerang bibit di
persemaian dan tanaman sengon sampai umur 5 tahun. Bagian tanaman yang
diserang daun dan dahan. Gangguan penyakit ini dapat mengakibatkan kematian
pohon. Anino (1997) diacu dalam Krisnawati (2011) menyatakan bahwa penyakit
karat puru berhasil dikendalikan dengan menghentikan penanaman sengon pada
lokasi di atas ketinggian 250 m dpl. Selain itu juga dapat dikendalikan dengan
pemangkasan dan pembakaran bagian-bagian pohon yang terinfeksi.
2.2.5 Teknik Silvikultur
Benih sengon dapat dengan mudah dikeringkan hingga kadar air mencapai
8‒10%. Benih yang sudah kering dapat disimpan selama 1,5 tahun pada suhu
4‒8°C tanpa kehilangan viabilitas dan laju perkecambahan masih tetap tinggi
sekitar 70‒90% (Soerianegara dan Lemmens 1993, diacu dalam Krisnawati 2011).
Untuk periode waktu yang lebih lama, Parrotta (1990) diacu dalam Krisnawati
(2011), menganjurkan untuk menyimpan benih dalam wadah tertutup dan
ditempatkan dalam ruang penyimpan yang dingin pada suhu 3–5°C. Sebelum
penyemaian, benih harus direndam dalam air mendidih selama 1–3 menit
kemudian dipindahkan ke dalam air dingin selama 24 jam. Perlakuan yang tepat
dapat menghasilkan daya perkecambahan yang tinggi sekitar 80–100% dalam
waktu 10 hari.

12

2.2.6 Karakteristik Kayu dan Kegunaan
Kayu teras sengon berwarna putih sampai coklat muda pucat atau kuning
muda sampai coklat kemerahan. Pada pohon yang masih muda, warna kayu teras
dan kayu gubal tidak begitu jelas perbedaannya (berwarna pucat), tetapi pada
kayu yang lebih tua perbedaannya cukup jelas (Soerianegara dan Lemmens 1993,
diacu dalam Krisnawati 2011). Serat kayunya lurus dan teksturnya cukup kasar
tetapi seragam.
Kayu sengon dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti bahan
konstruksi ringan (misalnya langit-langit, interior, dan perabotan), bahan kemasan
ringan (misalnya kotak cerutu dan rokok, serta peti kayu), korek api, sepatu kayu,
alat musik, mainan dan sebagainya. Kayu sengon juga dapat digunakan untuk
bahan baku kayu lapis, serta cocok untuk bahan papan partikel. Selain itu,
menurut Soerianegara dan Lemmens (1993), kayu ini juga banyak digunakan
untuk bahan baku pulp untuk membuat kertas. Sebagai jenis pengikat nitrogen,
sengon juga ditanam untuk tujuan reboisasi dan penghijauan guna meningkatkan
kesuburan tanah (Heyne 1987, diacu dalam Krisnawati 2011). Daun dan cabang
yang jatuh akan meningkatkan kandungan nitrogen, bahan organik dan mineral
tanah (Orwa et al. 2009, diacu dalam Krisnawati 2011).
Sengon sering ditumpangsarikan dengan tanaman pertanian seperti jagung
dan buah-buahan (Charomaini dan Suhaendi 1997). Sengon sering pula ditanam
di pekarangan untuk persediaan bahan bakar (arang) dan daunnya dimanfaatkan
untuk pakan ternak. Di Ambon (Maluku), kulit pohon sengon kadang-kadang
digunakan secara lokal sebagai pengganti sabun (Soerianegara dan Lemmens
1993, diacu dalam Krisnawati 2011).

BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Desember 2011 sampai Januari 2012.
Lokasi penelitian yaitu di RPH Jatirejo, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu,
Kabupaten Kediri. Kondisi tegakan penelitian pada 3 (tiga) pola agroforestri di
RPH Jatirejo disajikan pada Gambar 1.

A

B

C
Gambar 1 Kondisi tegakan penelitian pada 3 (tiga) pola agroforestri di RPH Jatirejo: (A) Pola agroforestri 1; (B) Pola agroforestri 2; (C) Pola agroforestri 3
3.2 Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lahan garapan petani
agroforestri (pesanggem) dengan tanaman pokok sengon yang berumur 2 tahun.
Sedangkan alat yang digunakan dalam penelitian adalah phiband (pita diameter),
haga hypsometer, kompas, patok, tali rafia atau tambang, golok atau parang, tally

14

sheet, ring tanah, cangkul spiracle densiometer, kantong plastik, alat tulis, lembar
kuisioner, alat hitung, kamera digital dan komputer.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan terdiri dari dari data primer dan data sekunder.
Data primer meliputi pengukuran secara langsung dimensi tanaman pokok, sifat
fisik dan kimia tanah, serta sistem pengelolaan lahan yang dilakukan oleh masingmasing petani pada beberapa pola yang dikaji. Sistem pengelolaan lahan yang
yang dikaji menekankan pada aspek kegiatan pemeliharaan (penyiangan,
pendangiran, pemangkasan, dan pemupukan) melalui wawancara semi terstruktur.
Metode pengambilan data primer meliputi:
3.3.1 Pengambilan Data Dimensi Tanaman Pokok
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik plot sampling
pada masing-masing lahan petani agroforestri. Plot sampling yang digunakan
berbentuk lingkaran dengan ukuran jari-jari 8,92 m dengan jarak antar plot 100 m
(Siswanto 2008). Pola yang diteliti sebanyak tiga jenis pola agroforestri, dengan
dua buah plot pada masing-masing pola agroforestri.
Dimensi tanaman pokok yang diamati adalah tinggi total, tinggi bebas
cabang, Live Crown Ratio (LCR), diameter, panjang dan lebar tajuk pohon.
Tinggi pohon diukur menggunakan haga hypsometer dan diameter pohon diukur
menggunakan pita diameter (phiband). Panjang dan lebar tajuk diukur dengan pita
meter pada proyeksi tajuk pohon yang diamati dan arah proyeksi tajuk diamati
dengan menggunakan kompas, azimuth proyeksi tajuk yang diukur adalah
penyimpangannya dari arah utara. Panjang tajuk merupakan tajuk terpanjang dari
pohon sengon yang diukur pada garis proyeksinya yang tegak lurus ke tanah.
Lebar tajuk merupakan tajuk terlebar dari pohon sengon yang garis proyeksinya
tegak lurus dengan garis imajiner dari proyeksi tajuk terpanjang yang sudah
diukur (Wijayanto & Rifa’i 2010). Ilustrasi pengukuran tajuk pohon disajikan
pada Gambar 2.

15

Tajuk pohon

Batang pohon

Garis

Tajuk
terpanjang

Tajuk terlebar
Proyeksi tajuk

Gambar 2 Proyeksi tajuk pohon (Wijayanto dan Rifa’i 2010)
3.3.2 Pengambilan Data Biofisik Lingkungan
Data yang dikumpulkan meliputi: sifat fisik dan kimia tanah, suhu dan
kelembaban, serta persentase penutupan tajuk. Kombinasi berbagai pola
agroforestri dan kondisi tegakan diamati secara langsung bersamaan dengan
pengambilan data primer. Metode pengambilan data biofisik lingkungan meliputi:
1. Tanah
Pegukuran dilakukan terhadap sifat fisik dan sifat kimia tanah. Pengukuran
sifat fisik tanah dilakukan menggunakan metode tanah tidak terusik dengan
menggunakan ring tanah. Pengambilan contoh tanah untuk sifat fisik ini dilakukan
di plot pengamatan pada kelerengan datar.
Sifat fisik tanah yang diamati antara lain tekstur tanah, berat isi, ruang pori
dan kadar air contoh tanah. Cara pengambilan contoh tanah utuh (Balai Penelitian
Tanah 2004). Pertama lapisan tanah diratakan dan dibersihkan dari serasah serta
bahan organik lainnya, kemudian tabung diletakkan tegak lurus dengan
permukaan tanah. Tabung ditekan sampai 3/4 bagiannya masuk ke dalam tanah.
Tabung lainnya diletakkan tepat diatas tabung pertama, kemudian ditekan kembali
sampai bagian bawah dari tabung ini masuk ke dalam tanah ± 1 cm. Tanah di
sekitar tabung digali dengan sekop. Tanah dikerat dengan pisau sampai hampir
mendekati bentuk tabung. Tabung kedua dipisahkan dengan hati-hati, kemudian
tanah yang berlebihan pada bagian atas dan bawah tabung dibersihkan.
Selanjutnya tabung ditutup dengan tutup plastik dan diberi label.

16

Sifat kimia tanah seperti pH, KTK, dan beberapa unsur hara makro dan
mikro diamati dengan cara mengambil contoh tanah komposit menggunakan
metode yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanah (2004). Titik
pengambilan contoh tanah individu yang dilakukan yaitu secara sistematik dengan
permulaan acak sebanyak 5 titik. Permukaan tanah dibersihkan dari rumput, batu,
atau kerikil, dan sisa-sisa tanaman atau bahan organik segar atau serasah. Tanah
tersebut dicangkul sedalam lapisan olah (20 cm). Berat contoh tanah yang diambil
adalah 500 g dari setiap petak pengamatan. Setelah itu, campur dan aduk contoh
tanah individu tersebut dalam satu tempat (ember atau hamparan plastik),
kemudian ambil kira-kira 1 kg, dan dimasukkan ke dalam kantong plastik.
Selanjutnya beri label yang berisi keterangan: tanggal dan kode pengambilan
(nama pengambil), nomor contoh tanah, lokasi (desa/kecamatan/kabupaten), dan
kedalaman contoh tanah. Ilustrasi titik pengambilan contoh tanah komposit secara
sistematik (zig-zag) sebanyak lima titik disajikan pada Gambar 3.

1

2
3

4

5

Gambar 3 Titik pengambilan contoh tanah komposit
2. Suhu, kelembaban, dan presentase penutupan tajuk
Suhu dan kelembaban diukur dengan menggunakan alat termometer bola
basah dan termometer bola kering dengan meletakkan alat tersebut di tengahtengah tegakan sampling, digantungkan pada pohon karena alat tidak boleh
terkena cahaya matahari secara langsung. Pengamatan dilakukan selama empat
hari berturut-turut pada saat pagi hari pukul 07.00‒08.00, siang hari pada pukul
12.00‒13.00, dan pada sore hari pada pukul 16.00‒17.00, dengan selang waktu
setiap 10 menit sekali, sehingga dalam sehari dilakukan pengukuran sebanyak 21
kali pada ketiga pola agroforestri.

17

Pengukuran persentase penutupan tajuk dilakukan untuk mengetahui
besarnya cahaya matahari yang tertahan oleh tajuk dan yang dapat menembus ke
tanah. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan spiracle densiometer pada
jarak 30‒45 cm dari badan dengan ketinggian sejajar lengan. Titik pengukuran
ditetapkan secara acak sebanyak 4 titik yang mewakili, pada 4 arah mata angin.
Masing-masing kotak dihitung persentase bayangan langit yang tertangkap pada
cermin kemudian dilakukan pembobotan. Kriteria pembobotan yang dilakukan
antara lain: terbuka penuh memiliki bobot 4 (100%), bobot 3 (75%), bobot 2
(50%), bobot 1 (25%), bobot 0 (tidak ada bayangan langit yang bisa dilihat).
Bobot rata-rata pada masing-masing pola agroforestri dihitung dengan
rumus:
Ti= T1+T2+T3+...+Tn x 1.04
N
Ti : Keterbukaan tajuk
Tn : Bobot pada masing-masing titik
pengukuran
N

: Jumlah titik pengukuran

1,04: Faktor koreksi
Persentase penutupan tajuk (T) pada masing-masing lokasi dihitung dengan
rumus: T = 100-Ti (Supriyanto dan Irawan 2001).
3.3.3 Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder dikumpulkan dari instansi-instansi pemerintah terkait
berupa kondisi sosial ekonomi masyarakat, kondisi biofisik lingkungan (iklim,
curah hujan, kelerengan, dan lain-lain). Selain itu juga dilakukan studi pustaka
dari buku, jurnal, dan hasil penelitian untuk memperoleh data pendukung lain
yang berhubungan dengan penelitian.
3.4 Analisis Data
Data yang diperoleh mengenai pengukuran dimensi pohon dianalisa secara
deskripif terhadap pertumbuhan tanaman pokok sengon hubungannya dengan pola
agroforestri dan teknik pengelolaan yang dikembangkan.

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Letak Geografis dan Administratif
Secara geografis RPH Jatirejo yang termasuk ke dalam Bagian Hutan
Pare-Besowo

terletak

pada

7⁰44’10”LS‒7⁰58’28”LS

dan

5⁰22’15”BT–

5⁰32’12”BT. Secara administratif, wilayah ini terletak di Desa Gadungan,
Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, tepatnya di sebelah timur wilayah
Kabupaten Kediri. Kelompok hutan Gadungan memiliki luas 3372,4 ha,
sedangkan khusus wilayah pengelolaan RPH Jatirejo memiliki luas 2194,9 ha
(SPH III Jombang 2004). Batas-batas wilayah Desa Gadungan meliputi: sebelah
Utara dibatasi oleh Desa Tertek, Kecamatan Pare; sebelah Selatan dibatasi oleh
Desa Sidomulyo, Kecamatan Puncu; sebelah Timur dibatasi oleh Desa Krenceng,
Kecamatan Kepung; sebelah Barat dibatasi oleh Desa Gedangsewu, kecamatan
Pare.
4.2 Topografi, Hidrologi, Iklim dan Tanah
Keadaan topografi pada kelompok hutan Gadungan pada umumnya datar
dengan kemiringan 0‒8%. Jurang-jurang tidak dijumpai walaupun keadaan tanah
sebenarnya menunjukkan adanya terjadi jurang. Ketinggian tempat mencapai 250
meter di atas permukaan laut. Topografi pada wilayah ini meliputi: berbukit
dengan luas 74 ha dan landai/datar dengan luas 3627,2 ha (SPH III Jombang
2004).
Pada wilayah ini, sumber mata air terletak pada ketinggian 225‒275 m dpl.
Menurut metode perhitungan Schmidt dan Ferguson, wilayah ini memiliki tipe
iklim D, dengan rata-rata curah hujan 1887 mm/tahun, rata-rata jumlah bulan
basah 6 bulan/tahun, dan rata-rata bulan kering 5,2 bulan/tahun.
Secara fisik tanah pada kelompok hutan ini sebagian besar terdiri dari
tanah pasir lepas berwarna hitam. Jenis tanah berdasarkan Peta Tanah Tinjau
Bagian Hutan Pare-Besowo tahun 2000, kelompok hutan Gadungan didominasi
oleh tanah regosol coklat kekelabuan sedikit komplek regosol kelabu dan litosol.
Secara umum sifat-sifat tanah tersebut yaitu memiliki tekstur tanah berlempung
warna kelabu, struktur agak gumpal dan konsisten agak lekat, jika turun hujan

19

akan mudah tererosi, serta horison tanah tidak tampak jelas (SPH III Jombang
2004).
4.3 Kondisi Sosial Ekonomi
Pengelolaan Sumber Daya Hutan (SDH) berlandaskan pada 3 aspek, yaitu
aspek, sosial, ekonomi, dan ekologi.

Pengelolaan SDH harus mampu

menyeimbangkan antara keberlanjutan fungsi dan manfaat hutan untuk
kesejahteraan masyarakat. Beberapa aspek sosial yang menggambarkan kondisi
pada daerah ini antara lain (SPH III Jombang 2004):
a. Kependudukan
Masalah kependudukan yang mencakup antara lain jumlah, komposisi, dan
penyebaran penduduk, serta kualitas penduduk merupakan salah satu masalah
sosial yang dihadapi dalam proses pembangunan termasuk pembangunan
kehutanan. Peningkatan jumlah penduduk yang tinggi menuntut penyediaan
lapangan kerja yang tinggi.
Pertambahan jumlah penduduk akan meningkatkan konsumsi pangan,
angkatan kerja, konsumsi kayu bakar, dan konsumsi kayu pertukangan serta
menurunkan rasio lahan/orang. Hal ini dapat mencerminkan bahwa adanya
pertumbuhan penduduk berpengaruh negatif terhadap pembangunan kehutanan.
Peningkatan angkatan kerja dan penurunan rasio lahan/orang akan mengakibatkan
peningkatan angka kemiskinan di pedesaan. Akumulasi dari peningkatan
konsumsi kayu bakar, konsumsi kayu pertukangan, dan angka kemiskinan di
pedesaan akan berakibat pada meningkatnya luas tanaman gagal, penggembalaan
ternak dan pencurian kayu yang pada akhirnya akan menurunkan kapasitas dan
potensi hutan.
Berdasarkan data Desa Gadungan (2010), jumlah penduduk Desa
Gadungan adalah 15.770 orang, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 7985
orang dan perempuan sebanyak 7895 orang, dan 4734 kepala keluarga. Persentase
perkembangan penduduk dibanding tahun sebelumnya untuk laki-laki dalah 2%
dan perempuan 1%. Jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) 15639 orang dan
Warga Negara Asing (WNA) 1 orang. Angka pertumbuhan penduduk di sekitar
kawasan hutan tersebut dapat digunakan untuk memprediksi jumlah penduduk
pada tahun-tahun yang akan datang, sehingga strategi penegelolaan SDH yang

20

diterapkan tepat. Secara umum penduduk desa Gadungan beragama Islam (11.707
orang), Kristen 1280 orang, Katholik 207 orang, Hindu 162 orang, dan Aliran
kepercayaan lainnya 25 orang.
b. Mata Pencaharian Penduduk
Mata pencaharian penduduk berhubungan erat dengan pola kehidupan
sehari-hari dari penduduk tersebut. Mata pencaharian penduduk pada Desa
Gadungan disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Mata pencaharian penduduk Desa Gadungan (Desa Gadungan 2010)
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Jenis pekerjaan
Petani
Buruh tani
PNS
Pengrajin industri rumaha tangga
Pedagang keliling
Peternak
Montir
Dokter swasta
TNI
POLRI
Pensiunan PNS/TNI/POLRI
Pengusaha kecil dan menengah
Jasa pengobatan alternatif
Pengusaha besar
Karyawan perusahaan swasta
Sopir
Tukang becak
Tukang ojek
Tukang cukur
Tukang batu/kayu
Notaris

Laki-laki
829
1453
158
174
37
78
9
1
15
23
106
234
2
3
475
132
21
29
17
276
-

Perempuan
25
1257
79
12
51
1
78
5
1

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar mata
pencaharian penduduk di Desa Gadungan adalah bertani. Hal ini menunjukkan
bahwa ketergantungan terhadap lahan pertanian masih tinggi. Tekanan terhadap
kawasan hutan akan semakin meningkat akibat semakin bertambahnya jumlah
penduduk sedangkan luas lahan pertanian tetap bahkan semakin berkurang.
c. Kepemilikan Tanah
Pada daerah agraris, tingkat pemenuhan kebutuhan hidup atau tingkat
kesejahteraan masyarakat sangat tergantung pada luas tanah produktif yang
dimilki. Luas pemilikan lahan penduduk di Desa Gadungan, meliputi: tanah

21

kering (pemukiman 97 ha; pekarangan 172 ha; tegal/ladang 355,64 ha), tanah
hutan (hutan produksi seluas 568 ha) (Desa Gadungan 2010).
Masyarakat jarang membudidayakan hijauan makanan ternak. Untuk
mencukupi kebutuhan makanan ternak, masyarakat banyak yang memanfaatkan
daun sengon, dan kerusakan yang terparah dari pengambilan daun terjadi pada
RPH Jatirejo.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5. 1 Pertumbuhan Dimensi Tanaman Paraserianthes falcataria
Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan tanaman pokok P. falcataria
pada 3 (tiga) pola agroforestri menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang hampir
seragam dan tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu signifikan baik dalam hal
tinggi total maupun diameter batangnya. Layout kombinasi tanaman pada masingmasing pola agroforestri disajikan pada Lampiran 1. Rata-rata pertumbuhan
dimensi tanaman P. falcataria pada 3 (tiga) pola agroforestri disajikan pada Tabel
2.
Tabel 2 Rata-rata pertumbuhan tanaman P. falcataria pada 3 (tiga) pola agroforestri diRPH Jatirejo
Rata-rata Tinggi (T)
Rata-rata diameter
(cm)
Total (m)
Bebas cabang (m)
1
AF1
11,93
8,79
10,07
2
AF2
11,25
8,41
9,78
3
AF3
12,00
8,92
10,63
AF1 = sengon+mindi+cabai+jagung; AF2 = sengon+mindi+jagung+singkong; AF3 =
sengon+mindi+cabai+jagung+nanas
No

Pola Agroforestri

Dalam penerapan sistem agroforesti terdapat interaksi yang bersifat positif
dan negatif. Interaksi positif terjadi apabila terdapat peningkatan produksi suatu
jenis tanaman diikuti oleh peningkatan produksi tanaman yang lainnya (Hairiah et
al. 2002). Interaksi positif ini ditunjukkan pada pola AF3. Pola ini memiliki
kombinasi jumlah tanaman yang paling banyak dibanding pola lain. Pola AF3
memiliki rata-rata pertumbuhan yang paling baik dibandingkan pola lainnya,
dengan rata-rata tinggi 12 m dan rata-rata diameter 10,63 m.
Pada pola AF3, banyaknya jumlah tanaman tumpang sari tidak
menimbulkan dampak negatif pada pertumbuhan tanaman pokok. Kegiatan
pemupukan yang lebih intensif menyebabkan tanaman pokok memperoleh
masukan nutrisi yang cukup, sehingga keberadaan jumlah tanaman tumpang sari
yang lebih banyak justru akan menambah asupan unsur hara bagi tanaman pokok.
Hal ini dikarenakan tanaman pokok sengon hanya mengandalkan pemupukan

23

yang diberikan pada tanaman semusim. Selain itu, menurut hasil penelitian
Priyardashini (2011), populasi makrofauna tanah (cacing tanah) lebih besar pada
tegakan yang multistrata. Populasi makrofauna tersebut juga dipengaruhi oleh
masukan bahan organik. Serasah merupakan sumber bahan organik dan energi
bagi makrofauna tanah, khususnya cacing tanah. Peningkatan aktivitas cacing
tanah akan meningkatkan pori makro tanah yang baik bagi proses infiltrasi air.
Wolf dan Snyder (2003) diacu dalam Priyardashini (2011) menyatakan, pori
makro sangat berguna untuk mempertukarkan udara dan menginfiltrasikan air
dengan baik, serta mendrainasekan kelebihan air. Tingginya populasi dan aktivitas
makrofauna tanah ini juga dapat menjadi faktor pendukung kesuburan tanah pada
pola AF3.
Berdasarkan hasil penelitian, pola AF2 menunjukkan interaksi yang
negatif dengan rata-rata pertumbuhan yang paling rendah dibandingkan pola
agroforestri lainnya. Menurut Mahendra (2009), interaksi negatif yang terjadi
pada sistem agroforestri dapat berupa kompetisi yang tidak sehat dalam
memperebutkan unsur hara, cahaya matahari, air, serta ruang tumbuh. Akibatnya,
salah satu tanaman bisa tertekan bahkan mati karena pengaruh tanaman lainnya.
Rendahnya intensitas pemupukan dapat diduga menjadi salah satu faktor
penyebab terhambatnya pertumbuhan, karena pada pola ini yang diberi pupuk
hanya tanaman jagung saja. Sifat tanaman singkong yang rakus akan unsur hara
terutama unsur P dan K dapat mengakibatkan defisiensi unsur hara bagi tanaman
pokok. Penggunaan K oleh ubi kayu berfungsi untuk pembentukan gula dan
kandungan patinya.
5.2 Persentase Penutupan Tajuk
Selain H2O, CO2, unsur hara, dan suhu, cahaya juga merupakan faktor
yang mempengaruhi fotosintesis dan juga merupakan salah satu faktor pembatas
dalam pertumbuhan. Cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya
fotosintesis, sementara fotosintesis merupakan proses yang menjadi kunci dapat
berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam tanaman. Tempat utama
terjadinya fotosintesis adalah pada daun atau tajuk. Dalam penerapan sistem
agroforestri, cahaya merupakan faktor pembatas utama dalam pertumbuhan dan
produktivitas tanaman semusim karena adanya pengaruh naungan.

24

Radiasi cahaya rendah mengakibatkan laju fotosintesis rendah sehingga
biomassa juga rendah dan akhirnya hasil tanaman rendah (Purnomo 2005).
Persentase penutupan tajuk tergantung pada jumlah pohon dan tipe kerapatan
tajuk. Kerapatan tajuk sengon tergolong tajuk ringan (jarang). Pohon dengan tajuk
jarang sangat baik bila dipadukan dengan tanaman tumpangsari, karena tanaman
di strata di bawahnya masih mendapat suplai cahaya (Mahendra 2009). Hasil
penelitian terhadap beberapa pola agroforestri menunjukkan adanya perbedaan
persentase penutupan tajuk. Rata-rata ukuran tajuk tanaman P. falcataria pada
masing-masing pola agroforestri disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Rata-rata ukuran tajuk tanaman P. falcataria pada 3 (tiga) pola agroforestri di RPH Jatirejo
Rata-rata
Persentase
Rata-rata lebar
Live Crown
panjang tajuk
penutupan tajuk
tajuk (m)
Ratio (%)
(m)
(%)
AF1
4,57
3,38
42,95
26,32
AF2
3,26
2,31
32,83
25,24
AF3
3,30
2,33
34,88
25,67
AF1 = sengon+mindi+cabai+jagung; AF2 = sengon+mindi+jagung+singkong; AF3 =
sengon+mindi+cabai+jagung+nanas
Pola
Agroforestri

Produksi tanaman budidaya pada dasarnya tergantung pada efisiensi
sistem fotosintesis. Cahaya yang dapat dipergunakan untuk fotosintesis adalah
cahaya yang mempunyai panjang gelombang antara 400–700 nm. Cahaya itu
kemudian disebut sebagai radiasi aktif untuk fotosintesis. Tanaman yang
memperoleh pencahayaan dibawah optimum, produksi biomassa akan menjadi
rendah meskipun faktor pertumbuhan lain optimum.
Persentase penutupan tajuk menggambarkan besarnya cahaya yang masuk
pada tegakan. Berdasarkan data hasil pengukuran, pola AF1 menunjukkan
persentase penutupan tajuk terbesar yaitu 42,95%. Nilai tersebut menunjukkan
besarnya cahaya matahari yang tertahan oleh tajuk. Hal ini berarti cahaya
matahari yang sampai ke tanah dan yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman
tumpang sari adalah sebesar 57,05%. Tajuk pohon yang terlalu lebat
menyebabkan cahaya matahari tidak sampai ke strata di bawahnya yang menjadi
tempat tumbuh tanaman pertanian (Mahendra 2009). Rata-rata lebar dan panjang
tajuk yang paling tinggi, menyebabkan luasan penyerapan cahaya matahari lebih

25

banyak pada tanaman pokok di pola ini. Pada keadaan ternaungi spektrum cahaya
yang aktif dalam proses fotosintesis (400‒700 nm) menurun.
Pola agroforestri AF2 memilki persentase penutupan tajuk yang paling
rendah, yaitu 32,83%, sehingga cahaya matahari yang sampai ke tanah memiliki
persentase yang paling besar, yaitu sebesar 67,17%. Tingginya persentase
keterbukaan tajuk pada pola ini juga dipengaruhi oleh tingginya tindakan
pemangkasan yang hanya menyisakan 2‒3 ranting tiap pohon. Kondisi seperti ini
dapat mengoptimalkan pemanfaatan cahaya matahari oleh tanaman semusim
dalam berlangsungnya proses fotosintesis. Rata-rata lebar dan panjang tajuk pada
pola ini juga menunjukkan nilai yang paling kecil dibandingkan dengan pola lain,
sehingga juga dapat mengurangi luasan penyerapan cahaya matahari pada
tanaman pokok untuk fotosintesis (Rifa’i 2010). Hal ini dapat terjadi sebagai
dampak dari terhambatnya pertumbuhan tanaman pokok sengon akibat
pemupukan yang kurang intensif dan dengan tingginya persaingan unsur hara
yang kebanyakan diserap oleh tanaman singkong. Menurut Gardner et al. (1991),
untuk memperoleh laju pertumbuhan tanaman budidaya yang maksimum, harus
terdapat cukup banyak daun dalam tajuk untuk menyerap sebagian besar radiasi
matahari yang jatuh ke atas tajuk tanaman.
5.3 Suhu dan Kelembaban
Menurut Badan Kerjasama Ilmu Tanah BKSPTN (1991), secara langsung
suhu mempengaruhi fotosintesis tumbuhan, absorpsi air, serta transpirasi.
Persentase penutupan tajuk menggambarkan besarnya cahaya yang masuk,
sehingga jika cahaya merupakan pembatas, maka suhu memberikan pengaruh
yang kecil terhadap proses fotosintesis. Kondisi ini dapat dialami pada tanaman
pertanian di pola AF1 yang memperoleh asupan cahaya paling rendah
dibandingkan dengan pola lain.
Pengaruh suhu terhadap transpirasi yaitu pada suhu yang rendah maka
jumlah transpirasi akan rendah, dan sebaliknya (Badan Kerjasama Ilmu Tanah
BKSPTN 1991). Data hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada 3 (tiga) pola
agroforestri disajikan pada Tabel 4.

26

Tabel 4 Rata-rata suhu dan kelembaban pada 3 (tiga) pola agroforestri di RPH
Jatirejo
Pola Agroforestri
RH (%)
Rata-rata Suhu (⁰C)
AF1
25,13
74
AF2
25,72
75
AF3
25,33
67
AF1 = sengon+mindi+cabai+jagung; AF2 = sengon+mindi+jagung+singkong; AF3 =
sengon+mindi+cabai+jagung+nanas

Secara umum kondisi suhu dan kelembaban masing-masing tegakan
memilki nilai yang tidak jauh berbeda. Menurut Soekotjo (1976) diacu dalam
anonim (2011), pertumbuhan diameter batang tergantung pada kelembaban nisbi,
permukaan tajuk, iklim dan kondisi tanah. Tingginya suhu udara akan
meningkatkan laju transpirasi yang biasanya ditandai dengan turunnya
kelembaban udara relatif. Apabila hal seperti ini cukup lama berlangsung, maka
dapat menyebabkan keseimbangan air tanaman terganggu dan dapat menurunkan
pertumbuhan tanaman termasuk diameter tanaman seperti yang terjadi pada pola
AF2.
5.4 Parameter Tanah
Tanah merupakan kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang
tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan
organik, air, dan udara dan merupakan media tumbuh tanaman (Hardjowigeno
2003). Menurut Hanafiah (2005), tanah sebagai media tumbuh memiliki 4 fungsi
utama antara lain: sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran,
penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, unsur hara), penyedia kebutuhan
sekunder tanaman (hormon, vitamin, enzim), serta sebagai habitat biota tanah.
Sifat fisik tanah berhubungan dengan kesesuaian tanah untuk berbagai
penggunaan, yang meliputi: penetrasi akar, sirkulasi air dan udara, dan
kemampuan tanah dalam menyimpan air. Peranan sifat fisik tersebut tergantung
dari jumlah, ukuran, dan komposisi partikel masing-masing tanah. Hasil analisis
sifat fisik tanah pada tiga pola agroforestri disajikan pada Tabel 5.

27

Tabel 5 Hasil analisis sifat fisik tanah pada 3 (tiga) pola agroforestridi RPH
Jatirejo
Tekstur

Kadar Air (%
Volume) pada
Air
BD
PR
Pasir
Debu
Liat
Pf
Tersedia
No Lokasi
3
(g/cm ) (%)
(%)
Pf
Pf
....................(%)..................
2,54
4,2
1
AF1
84,26
7,35
8,39
1,09
58,77 36,21 22,51
13,70
2
AF2
75,90
17,51
6,59
1,37
48,34 35,96 24,33
11,63
3
AF3
81,69
11,61
6,70
1,40
47,08 33,95 24,49
9,46
AF1 = sengon+mindi+cabai+jagung; AF2 = sengon+mindi+jagung+singkong; AF3 =
sengon+mindi+cabai+jagung+nanas

Tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap kemampuan daya serap
air,ketersediaan air di dalam tanah, besar aerasi, infiltrasi dan laju pergerakan air.
Dengan demikian secara tidak langsung tekstur tanah jugadapat mempengaruhi
perkembangan perakaran dan pertumbuhan tanaman serta efisiensi dalam
pemupukan.
Tanah dengan kandungan debu tinggi memiliki kombinasi yang baik
antara permukaan tanah dan ukuran pori-pori tanah. Secara umum tanah tersebut
mengandung unsur hara yang lebih besar karena fraksi debu berasal dari mineral
feldspar dan mika yang sifatnya cepat lapuk tergolong lebih cepat dibanding pasir
(Foth 1984).
Bulk Density (BD) merupakan berat suatu massa tanah per satuan volume
tertentu termasuk ruang porinya. BD merupakan petunjuk kepadatan tanah
(Hardjowigeno 2003). Semakin tinggi nilai BD, semakin padat suatu tanah. Hal
ini ditunjukkan oleh kondisi tanah di pola AF3 yang memiliki nilai BD tertinggi.
Pada pola ini dapat diartikan bahwa kemampuan tanah untuk meneruskan air atau
ditembus akar tanaman makin sulit. Salah satu faktor yang mempengaruhi
tingginya nilai BD pada lokasi ini yaitu adanya pemadatan tanah akibat aktivitas
hewan yang mencari makan, sehingga dapat mengakibatkan peningkatan
kepadatan tanah walaupun pengaruhnya tidak terlalu besar. Lee (1990) diacu
dalam Dirjen Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial menyatakan, kondisi
seperti ini dapat mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air dengan
tertutupnya pori-pori tanah. Berkurangnya pori-pori tanah yang umumnya
disebabkan oleh pemadatan tanah, menyebabkan menurunnya infiltrasi. Tanah

28

dengan BD tinggi dapat menurunkan laju pergerakan air di dalam tanah dan aerasi
tanah juga menjadi rendah.
Nilai porositas tanah tertinggi terdapat pada pola AF1 yaitu 58,77%. Jika
nilai porositasnya tinggi maka nilai BD akan semakin rendah. Porositas
merupakan proporsi ruang pori (ruang kosong total) dalam satuan volume tanah
yang dapat ditempati oleh air dan udara (Hanafiah 2005). Tanah yang
porositasnya tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut memiliki ruang pori yang
cukup untuk pergerakan air dan udara keluar masuk tanah. Kondisi ini didukung
dengan tingginya kandungan fraksi pasir, sehingga akar mudah untuk berpenetrasi
serta air dan udara untuk bersikulasi. Selain itu, kondisi ini juga dapat
mengakibatkan kapasitas infiltrasi yang tinggi sehingga tercipta drainase dan
aerasi yang baik. Fraksi liat yang tinggi menyebabkan air tidak mudah hilang,
sehingga meningkatkan air tersedia dalam tanah. Hubungan nilai BD dengan
porositas dan air tesedia dalam tanah pada tiga pola agroforestri di RPH Jatirejo
disajikan pada Gambar 4.
Persentase (%)

70
60
50

Porositas

40
30
20

Ai

Dokumen yang terkait

Pertumbuhan Tanaman Pokok Sengon pada Beberapa Pola Agroforestri di RPH Jatirejo, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri