Kepadatan Tiram (Crassostrea cucullata Born 1778) pada Habitat Mangrove di Perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat

KEPADATAN TIRAM (Crassostrea cucullata Born 1778)
PADA HABITAT MANGROVE
DI PERAIRAN PANTAI MAYANGAN, JAWA BARAT

DINA ASRIYANTI

SKRIPSI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

Kepadatan Tiram (Crassostrea cucullata Born 1778) pada Habitat Mangrove di
Perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat

adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang
berasal atau dikutip dari karya ilmiah yang diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam tubuh tulisan dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir skripsi ini.

Bogor, September 2012

Dina Asriyanti
C24080041

ii

RINGKASAN

Dina Asriyanti. C24080041. Kepadatan Tiram (Crassostrea cucullata Born
1778) pada Habitat Mangrove di Perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat. Di
bawah bimbingan Etty Riani H. dan Fredinan Yulianda.

Tiram merupakan bivalvia yang hidup menempel pada akar mangrove
(Widiastuti 1998). Ekosistem hutan mangrove di perairan Pantai Mayangan terletak
pada kawasan sistem non muara sungai dan sistem muara sungai. Perbedaan letak
tersebut dan faktor lingkungan seperti kondisi fisika kimia perairan di wilayah
tersebut akan berpengaruh terhadap kepadatan tiram. Oleh sebab itu, diperlukan
informasi mengenai kepadatan tiram pada habitat mangrove agar pemanfaatan
sumberdaya tiram dapat dikelola secara lestari dan berkelanjutan. Tujuan penelitian
ini adalah mengkaji kepadatan tiram pada dua sistem habitat mangrove, yaitu sistem
non muara sungai dan sistem muara sungai serta membahas kesesuaian parameter
fisika kimia perairan terhadap populasi tiram.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Oktober 2011 dengan interval
waktu pengambilan contoh, setiap satu bulan sekali. Pengambilan tiram contoh
dilakukan di perairan Pantai Mayangan dengan dua stasiun pengambilan contoh
yaitu stasiun non muara sungai dan stasiun muara sungai, serta masing-masing
stasiun terdiri atas tiga substasiun dengan metode stratified random sampling.
Panjang tiram diukur menggunakan jangka sorong di Laboratorium Biologi Makro I,
Departemen MSP, FPIK, IPB.
Nilai panjang asimptotik tiram yang terdapat di stasiun non muara sungai
sebesar 121,59 mm dengan nilai koefisien pertumbuhan sebesar 1,2/bulan dan umur
teoritis sebesar -0,0895, sedangkan di stasiun muara sungai memiliki nilai panjang
asimptotik sebesar 108,46 mm dengan koefisien pertumbuhan sebesar 1,0/bulan dan
umur teoritis sebesar -1,4720. Kepadatan tiram tertinggi pada masing-masing stasiun
terjadi pada bulan Agustus dengan nilai 31±3,22 di stasiun non muara sungai dan
30±11,24 di stasiun muara sungai. Pola sebaran tiram berdasarkan analisis Indeks
Morisita adalah bersifat seragam. Kemudian, kondisi fisika kimia perairan di
wilayah perairan Pantai Mayangan masih mendukung kehidupan tiram.
Kepadatan tiram (Crassostrea cucullata) pada stasiun non muara sungai dan
stasiun muara sungai di perairan Pantai Mayangan, Subang termasuk dalam kategori
sedang. Kondisi fisika kimia perairan di wilayah perairan Pantai Mayangan, Subang
kurang sesuai, namun masih mendukung bagi kehidupan tiram.

iii

KEPADATAN TIRAM (Crassostrea cucullata Born 1778)
PADA HABITAT MANGROVE
DI PERAIRAN PANTAI MAYANGAN, JAWA BARAT

DINA ASRIYANTI
C24080041

SKRIPSI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
iv

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul

: Kepadatan Tiram (Crassostrea cucullata Born 1778) pada Habitat
Mangrove di Perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat

Nama

: Dina Asriyanti

NIM

: C24080041

Program Studi : Manajemen Sumber Daya Perairan

Menyetujui,
Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Ir. Etty Riani H., MS
NIP.19620812 198603 2 001

Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc
NIP. 19630731 198803 1 002

Mengetahui,
Ketua Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc
NIP. 19660728 199103 1 002

Tanggal Lulus : 08 Agustus 2012
v

PRAKATA

Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Kepadatan
Tiram (Crassostrea cucullata Born 1778) pada Habitat Mangrove di Perairan
Pantai Mayangan, Jawa Barat”. Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian
yang dilaksanakan pada bulan Mei - Oktober 2011. Skripsi ini merupakan salah satu
syarat untuk memperoleh gelar sarjana perikanan pada Departemen Manajemen
Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Etty Riani H., MS selaku
pembimbing pertama dan Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc selaku pembimbing
kedua, serta Ir. Agustinus M. Samosir, M.Phil selaku Komisi Pendidikan yang telah
banyak memberikan bimbingan, saran, nasehat, serta arahan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari
sempurna. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan ilmu pengetahuan penulis.
Namun, penulis mengharapkan hasil penelitian skripsi ini dapat memberikan
manfaat bagi pihak lain.

Bogor, September 2012

Penulis

vi

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1) Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-Nya.
2) Dr. Ir. Etty Riani H., MS. dan Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc. masing-masing
selaku pembimbing pertama dan pembimbing kedua skripsi yang telah banyak
memberikan bimbingan dan arahan selama pelaksanaan penelitian dan
penyusunan skripsi.
3) Dr. Ir. Isdradjad Setyobudiandi, M.Sc selaku dosen penguji tamu dan Ir.
Agustinus M. Samosir, M.Phil selaku ketua program studi yang telah
memberikan saran dalam penyusunan skripsi ini.
4) Ir. Gatot Yulianto, M.Si selaku pembimbing akademik atas dukungannya
kepada penulis selama menuntut studi di Departemen MSP.
5) Ahmad Zahid S.Pi, M.Si dan keluarga besar Pak Nita yang telah membantu
dalam proses pengambilan contoh di Pantai Mayangan.
6) Seluruh staf Tata Usaha dan civitas Departemen MSP terutama Mbak Widar
atas bantuan dan dukungannya.
7) Bapak Mukhaeri dan Ibu Sumarsih orang tua penulis yang tercinta atas semua
doa, nasehat, dukungan, cinta, dan kasih sayang kepada penulis.
8) Dwi Cahyanti Putri dan Retno Wulandari adik penulis yang tercinta atas semua
doa, semangat, kasih sayang, dan dukungannya kepada penulis.
9) Tanti, Niear, Yuni, Nisa, Ka’ Mila, dan Dara atas doa, dukungan, nasehat, dan
persahabatan yang tulus kepada penulis sewaktu di Pondok Citra Ayu.
10) Sahabat tercinta di MSP 45 (Dila, Kanti, Eka, Hendri, dan Rikza) atas doa,
dukungan, nasehat, dan persahabatan yang tulus kepada penulis.
11) Teman-teman Tim Mayangan MSP 45 (Gita, Intan, Dea, Rina, Vinni, Indah,
Putu, dan Sakina) atas bantuan, semangat, dukungan, dan nasehat selama
penelitian hingga penyusunan skripsi.
12) Teman-teman MSP 45 (Ibad, Yuli, Adit, Iman, Aang, Wening, Nimas, Precia,
Rani, Ennie, Tila, Fawzan, Nissa, dan lain-lain) serta MSP 44, 46, 47, dan
teman-teman lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
vii

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 11 Desember
1990 sebagai putri pertama dari tiga bersaudara dari pasangan
Bapak Mukhaeri dan Ibu Sumarsih. Pendidikan formal yang
pernah dijalani penulis berawal dari TK Aisyiah Rempoa (19951996), SDN 09 Pagi Bintaro (1996-2002), SMPN 29 Jakarta
(2002-2005), dan SMAN 29 Jakarta (2005-2008). Pada tahun
2008 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan
Seleksi Masuk IPB (USMI), kemudian diterima di Departemen Manajemen Sumber
Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Selain mengikuti perkuliahan, penulis berkesempatan menjadi Asisten Mata
Kuliah Ekosistem Perairan Pesisir (2011/2012), Asisten Mata Kuliah Dinamika
Populasi Ikan (2011/2012), dan Asisten Mata Kuliah Pengkajian Stok Ikan
(2011/2012). Penulis juga aktif di organisasi kemahasiwaan Himpunan Mahasiswa
Manajemen Sumber Daya Perairan (HIMASPER) sebagai anggota divisi
Kewirausahaan (2009-2010) dan sekretaris divisi Advokasi dan Keilmuan (20102011) serta turut aktif mengikuti seminar maupun berpartisipasi dalam berbagai
kepanitiaan di lingkungan kampus IPB.
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada program studi
Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor, penulis menyusun skripsi dengan judul “Kepadatan Tiram
(Crassostrea cucullata Born 1778) pada Habitat Mangrove di Perairan Pantai
Mayangan, Jawa Barat”.

viii

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ............................................................................................
xi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... …

xii

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................

xiii

1. PENDAHULUAN ........................................................................................
1.1. Latar Belakang.........................................................................................
1.2. Perumusan Masalah .................................................................................
1.3. Tujuan ......................................................................................................
1.4. Manfaat ....................................................................................................

1
1
1
2
3

2. TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................................
2.1. Aspek Biologi ..........................................................................................
2.1.1. Klasifikasi ....................................................................................
2.1.2. Morfologi .....................................................................................
2.1.3. Makanan ......................................................................................
2.1.4. Habitat .........................................................................................
2.2. Upaya Penangkapan ................................................................................
2.3. Pengaruh Faktor Fisika Kimia Air ..........................................................
2.3.1. Suhu .............................................................................................
2.3.2. Salinitas .......................................................................................
2.3.3. Kedalaman ...................................................................................
2.3.4. Kecerahan ....................................................................................
2.3.5. TDS (total dissolved solid) ..........................................................
2.3.6. TSS (total suspended solid) .........................................................
2.3.7. Tekstur substrat ...........................................................................
2.3.8. Derajat keasaman (pH) ................................................................
2.3.9. Oksigen terlarut ...........................................................................
2.3.10. Komposisi C-organik...................................................................

4
4
4
4
5
5
5
6
6
6
7
7
7
8
8
9
10
10

3. METODE PENELITIAN ...........................................................................
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ...................................................................
3.2. Alat dan Bahan ........................................................................................
3.3. Metode Kerja ...........................................................................................
3.3.1. Tiram ...........................................................................................
3.3.2. Suhu .............................................................................................
3.3.3. Salinitas .......................................................................................
3.3.4. Kedalaman ...................................................................................
3.3.5. Kecerahan ....................................................................................
3.3.6. TDS (total dissolved solid) ..........................................................
3.3.7. TSS (total suspended solid) .........................................................
3.3.8. Tekstur substrat ...........................................................................

11
11
12
13
13
13
13
14
14
14
15
15

ix

3.3.9. Derajat keasaman (pH) ................................................................
3.3.10. Oksigen terlarut ...........................................................................
3.3.11. Komposisi C-organik...................................................................
3.4. Analisa Data ............................................................................................
3.4.1. Kelompok Umur ..........................................................................
3.4.2. Kepadatan ....................................................................................
3.4.3. Pola sebaran populasi ..................................................................
3.4.4. Kecerahan ....................................................................................
3.4.5. TDS (total dissolved solid) ..........................................................
3.4.6. TSS (total suspended solid) .........................................................
3.4.7. Tekstur substrat ...........................................................................
3.4.8. Oksigen terlarut ...........................................................................
3.4.9. Rencana strategi pengelolaan ......................................................

15
16
16
17
17
17
18
19
19
19
20
20
20

4. HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................................
4.1. Kelompok Umur ......................................................................................
4.2. Kepadatan ................................................................................................
4.3. Pola Sebaran Populasi .............................................................................
4.4. Uji Kesamaan Habitat..............................................................................
4.5. Parameter Fisika Kimia Perairan .............................................................
4.6. Strategi Pengelolaan ................................................................................

22
22
24
27
28
29
32

5. KESIMPULAN DAN SARAN....................................................................
5.1. Kesimpulan ..............................................................................................
5.2. Saran ........................................................................................................

33
33
33

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

34

LAMPIRAN......................................................................................................

37

x

DAFTAR TABEL

Halaman
1. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan nilai
TSS ................................................................................................................
8
2. Jumlah kepadatan tiram (ind/m2) ...................................................................

25

3. Nilai Indeks Morisita (Id) dan hasil uji Chi-Square.......................................

27

4. Hasil pengukuran kedalaman (cm) perairan ..................................................

28

xi

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Skema perumusan masalah sumberdaya tiram ..............................................
2
2. Tiram (a) tampak ventral (b) tampak dorsal ..................................................

4

3. Segitiga Millar, Sumber: Brower dan Zarr 1977 ...........................................

9

4. Peta lokasi penelitian Pantai Mayangan, Subang, Jawa Barat .......................

11

5. Peta titik stasiun penelitian Pantai Mayangan, Subang, Jawa Barat ..............

12

6. Sebaran kelompok umur tiram (a) stasiun non muara sungai
(b) stasiun muara sungai ................................................................................

22

7. Grafik kepadatan tiram stasiun non muara sungai dan stasiun muara
sungai ............................................................................................................

26

8. Tipe pola dasar penyebaran spasial dari individu dalam suatu habitat ..........

28

9. Kondisi mangrove di perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat .......................

31

xii

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Data panjang (mm) tiram tiap bulan ...............................................................
38
2. Kelompok umur menggunakan FISAT II .......................................................

44

3. Nilai K, L∞, dan t0 berdasarkan FISAT II ......................................................

50

4. Dokumentasi penelitian ..................................................................................

52

5. Pengukuran parameter fisika kimia dan biologi perairan ...............................

53

6. Nilai parameter fisika kimia perairan..............................................................

54

xiii

1

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Perairan Pantai Mayangan terletak di Desa Mayangan, Kecamatan Legon
Kulon, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Perairan tersebut sebagian terdiri atas
kawasan hutan mangrove (Diskominfo Kabupaten Subang 2010). Hutan
mangrove merupakan ekosistem alamiah yang unik dan memiliki nilai ekologis
serta ekonomis yang tinggi. Ekosistem hutan mangrove dengan sifatnya yang khas
merupakan habitat yang baik bagi biota-biota yang terdapat di dalamnya, salah
satu biota tersebut adalah tiram.
Tiram merupakan jenis bivalvia yang hidup menempel pada akar mangrove
(Widiastuti 1998). Ekosistem hutan mangrove yang terdapat di perairan Pantai
Mayangan terletak di kawasan sistem non muara sungai dan sistem muara sungai.
Perbedaan letak tersebut akan berpengaruh terhadap kepadatan tiram yang hidup
pada akar mangrove. Selain itu, faktor lingkungan seperti pasang surut air laut
juga menyebabkan perlakuan yang berbeda terhadap sistem mangrove.
Keberadaan tiram dipengaruhi oleh kualitas air pada kawasan hutan
mangrove. Aktivitas masyarakat dalam kawasan perairan akan berpengaruh pada
penurunan kualitas air secara fisika, kimia, dan biologi. Hal ini dapat
menimbulkan tingkat frekuensi kehadiran tiram yang berbeda-beda.
Tiram memiliki nilai ekonomis karena masyarakat sekitar perairan Pantai
Mayangan memanfaatkan tiram untuk dijual maupun dikonsumsi pribadi.
Pemanfaatan tiram yang berlebih dapat diduga menyebabkan degradasi populasi
dan perubahan ukuran tubuh pada tiram. Namun, hingga saat ini belum ada
informasi mengenai kepadatan tiram pada habitat mangrove yang dipengaruhi
oleh sistem non muara sungai dan sistem muara sungai di perairan Pantai
Mayangan, sehingga perlu dilakukan penelitian terkait dengan hal tersebut.

1.2. Perumusan Masalah
Keberadaan habitat mangrove yang terdiri atas dua sistem, yaitu sistem non
muara sungai dan sistem muara sungai dapat mempengaruhi frekuensi kehadiran

2

tiram. Kemudian, aktivitas masyarakat sekitar perairan berpengaruh terhadap
komponen kualitas air. Komponen kualitas air akan mengalami penurunan jika
perairan tersebut mengalami pencemaran. Kondisi lingkungan perairan akan
memiliki pengaruh pada habitat tiram. Selain itu, masyarakat memanfaatkan tiram
untuk dijual maupun dikonsumsi pribadi. Pemanfaatan yang melebihi ambang
batas akan mengurangi jumlah populasi tiram. Skema perumusan masalah
sumberdaya tiram pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Sistem Non
Muara Sungai

Sistem Muara
Sungai

Ekosistem Mangrove

Hidrologi Estuari

Kondisi
Ekologis
Pantai
Mayangan

Parameter Fisika Kimia
Perairan:
Suhu, Salinitas, Kedalaman,
Kecerahan, TDS, TSS,
Tekstur Substrat, pH, DO,
C-organik

Parameter Biologi: Tiram
Kepadatan
Tiram

Gambar 1. Skema perumusan masalah sumberdaya tiram

1.3. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji populasi berdasarkan kepadatan
tiram pada dua sistem habitat mangrove, yaitu sistem non muara sungai dan
sistem muara sungai. Selain itu, juga untuk melihat kesesuaian parameter fisika
kimia perairan terhadap populasi tiram. Data yang diperoleh pada penelitian ini
diharapkan sebagai acuan bagi pengelolaan sumberdaya perikanan di Pantai
Mayangan, Subang, Jawa Barat.

3

1.4. Manfaat
Penelitian ini bermanfaat sebagai informasi bagi instansi terkait guna
pengelolaan pesisir Pantai Mayangan, Jawa Barat khususnya bidang perikanan.
Selain itu, sebagai sumber informasi bagi masyarakat mengenai kepadatan tiram
pada habitat mangrove di perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat.

4

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Aspek Biologi
2.1.1. Klasifikasi
Tiram merupakan jenis bivalva yang bernilai ekonomis. Tiram mempunyai
bentuk, tekstur, ukuran yang berbeda-beda (Gambar 2). Keadaan tersebut yang
mempengaruhi pertumbuhan tiram (Fisheries and Aquaculture Departement
2008). Klasifikasi tiram menurut Born (1778) in www.marinespecies.org adalah
sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Moluska

Kelas

: Bivalvia

Ordo

: Ostreoida

Famili

: Ostreidae

Genus

: Crassostrea

Spesies

: Crassostrea cucullata

(a)

(b)

Gambar 2. Tiram (a) tampak ventral (b) tampak dorsal
Sumber: Dokumentasi Pribadi 2011

2.1.2. Morfologi
Tiram memiliki morfologi bentuk cangkang yang tidak beraturan, kulit
tebal, dan tidak simetris (Nateewathana 1995). Spesies Crassostrea sp. hidup
berkelompok dan saling menempel satu sama lain serta melekat pada akar

5

mangrove. Ukuran maksimum tiram sebesar 4 cm, tetapi dapat mencapai 6-8 cm.
Tiram memiliki daging yang rendah kalori dan mengandung kalsium serta vitamin
A (Izwandy 2006). Menurut Delmendo (1989) nilai kandungan gizi tiram yaitu
energi 78 Kcal, protein 9,7 g, lemak 1,8 g, gula 5,0 g, kalsium 55 mg, besi 3,6 g,
vitamin A 55 IU, vitamin B1 0,16 mg, vitamin B2 0,32 mg, dan vitamin C 4 mg.

2.1.3. Makanan
Tiram mempunyai kebiasaan makan dengan menyaring makanan (filter
feeder), karena memiliki siphon yang pendek (Setyawati 1986 in Fitrianti 2003).
Kebiasaan makan tersebut menyebabkan tiram dapat menyerap sebagian besar air
dan kandungan-kandungan unsur didalamnya. Plankton yang terdapat di perairan
akan tersaring melalui mekanisme makan tiram tersebut. Tiram dapat dijadikan
bioindikator karena seluruh partikel-partikel yang terdapat di dalam perairan akan
tersaring (Suharyanto et al. 1996).

2.1.4. Habitat
Spesies Crassostrea sp. banyak ditemukan pada daerah intertidal dan
perairan dangkal. Daerah distribusi tiram meliputi perairan Indo-Pasifik mulai dari
Laut Merah dan Afrika Timur hingga Australia dan Jepang

(Duangdee dan

Yoosukh 1999). Tiram menempel pada akar mangrove (Widiastuti 1998). Spesies
mangrove yang umumnya bersimbiosis dengan tiram adalah Rhizopora sp. Jenis
mangrove Rhizopora sp. memiliki tipe akar tunjang. Spat merupakan media bagi
tiram untuk melekat pada akar mangrove. Jika tiram telah menempel pada akar
mangrove, maka sulit untuk dilepaskan dari akar mangrove.

2.2. Upaya Penangkapan
Masyarakat

pesisir

memanfaatkan tiram

pantai

untuk

di

wilayah

perairan

Pantai

dijual maupun dikonsumsi

Mayangan

pribadi. Proses

pengumpulan tiram yaitu menggunakan tangan dengan bantuan kapak untuk

6

memangkas akar mangrove. Cangkang tiram dibuka dengan menggunakan pisau
khusus.

2.3. Pengaruh Faktor Fisika Kimia Air
Kualitas air fisika dan kimia yang memiliki kaitan dengan kehidupan tiram
meliputi suhu, salinitas, kedalaman, kecerahan, TDS (total dissolved solid), TSS
(total suspended solid), tekstur substrat, derajat keasaman (pH), oksigen terlarut,
dan komposisi C-organik. Parameter tersebut merupakan faktor lingkungan yang
erat kaitannya terhadap distribusi dan keberadaan tiram di habitatnya (Widiastuti
1998).

2.3.1. Suhu
Suhu merupakan faktor yang banyak mendapat perhatian dalam pengkajian
kelautan. Data suhu dimanfaatkan untuk mempelajari gejala-gejala fisik di dalam
laut serta kaitannya dengan kehidupan hewan atau tumbuhan (Nontji 1993). Suhu
merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan dan distribusi benthos seperti
bivalvia (Odum 1998). Suhu yang baik untuk kelangsungan hidup tiram berkisar
25-30oC. Suhu air pada kisaran 27-31oC juga dianggap cukup layak untuk
kehidupan tiram (Winanto 2004).

2.3.2. Salinitas
Salinitas disebut sebagai kadar garam yang artinya adalah jumlah berat
semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air, biasanya dinyatakan
dalam satuan 0/00 (per mil, gram per liter) (Nontji 1993). Salinitas menunjukkan
jumlah ion-ion terlarut. Perubahan salinitas berpengaruh pada proses difusi dan
osmotik. Pola gradien salinitas bergantung pada musim, topografis, pasang surut
dan jumlah air tawar yang masuk (Nybakken 1992). Menurut Romimohtarto
(1985) variasi salinitas di Indonesia berkisar antara 15-32 0/00.

7

2.3.3. Kedalaman
Menurut Hakanson (1981) in Buchari (1998), kedalaman maksimum adalah
kedalaman yang memiliki nilai terbesar pada titik terdalam dari suatu danau, dan
dinyatakan dalam satuan meter. Selain kedalaman maksimum, terdapat kedalaman
rata-rata yang lebih informatif yang dapat digunakan untuk menggambarkan
produktivitas perairan. Perairan dengan kedalaman rata-rata rendah, cenderung
lebih produktif daripada perairan yang lebih dalam. Perairan yang dangkal
memiliki rasio antara daerah photik dan aphotik yang lebih besar, hal ini diduga
karena cahaya matahari dapat mencapai hingga ke dasar, sehingga fotosintesis
dapat terjadi dan kandungan oksigen besar.
Kedalaman yang berbeda memiliki pengaruh terhadap frekuensi kehadiran
tiram. Tiram dapat hidup pada kedalaman 80 cm hingga 200 cm. Pada kedalaman
tersebut, tiram hidup secara berkoloni.

2.3.4. Kecerahan
Partikel-partikel terlarut dalam lumpur menentukan kejernihan suatu
perairan. Semakin banyak partikel atau bahan organik terlarut, maka kekeruhan
akan meningkat. Kekeruhan atau konsentrasi bahan tersuspensi dalam perairan
akan menurunkan efisiensi makan dari organisme pemakan suspensi (Levinton
1982). Menurut Romimohtarto (1985) kekeruhan tidak hanya membahayakan
biota perairan, tetapi juga menyebabkan air tidak produktif karena menghalangi
masuknya sinar matahari untuk fotosintesis.
Kecerahan memiliki kaitan dengan kekeruhan dan TSS (total suspended
solid). Nilai pembacaan secchi disk untuk kecerahan akan tinggi jika kekeruhan
atau kandungan TSS-nya rendah, sebaliknya akan rendah jika perairan keruh atau
kandungan TSS-nya tinggi (Widigdo 2001 in Fitrianti 2003).

2.3.5. TDS (total dissolved solid)
Padatan terlarut total adalah bahan-bahan terlarut dan koloid yang berupa
senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain yang tidak tersaring pada kertas
saring berdiameter pori 0,45µm. TDS biasanya disebabkan oleh bahan anorganik

8

yang berupa ion-ion yang ditemukan di perairan. Nilai TDS perairan dipengaruhi
oleh pelapukan batuan, limpasan dari tanah, dan pengaruh antropogenik yang
berupa limbah domestik dan industri (Effendi 2007). Nilai TDS yang diperairan
alami biasanya adalah 0-1000 mg/l, sedangkan berdasarkan PP No. 82 tahun 2001
adalah kurang dari 1000 mg/l untuk golongan C (perikanan).

2.3.6. TSS (total suspended solid)
TSS atau padatan tersuspensi total adalah bahan-bahan organik yang
tersuspensi dan tidak terlarut dalam molekul air. Bahan yang berupa partikelpartikel tersuspensi atau koloid akan terfiltrasi melalui kertas saring (Michael
1994). Faktor yang dapat mempengaruhi nilai TSS diantaranya bahan organik
yang terdapat pada perairan. Proses pengukuran nilai TSS suatu perairan dapat
digabungkan dengan proses pengukuran nilai TDS. Metode yang digunakan pada
parameter TDS dan TSS adalah gravimetrik yang terdiri dari penyaringan,
penguapan, dan penimbangan. Nybakken (1992) in Efriyeldi (1999) menyatakan
bahwa pembentukan endapan mendapat pengaruh dari laut, karena air laut juga
mengandung cukup banyak materi tersuspensi. Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup No. 51 tahun 2004 menetapkan baku mutu kadar TSS sebesar 80 mg/l
untuk kehidupan biota laut. Nilai kesesuaian perairan untuk kepentingan
perikanan berdasarkan nilai TSS dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan nilai TSS
Nilai TSS (mg/l)

Pengaruh terhadap kepentingan perikanan

400

Tidak baik bagi kepentingan perikanan

Sumber: Alabaster dan Lloyd 1982 in Effendi 2007

2.3.7. Tekstur substrat
Substrat dasar atau tekstur tanah merupakan komponen yang sangat penting
bagi kehidupan organisme (Odum 1994). Substrat merupakan tempat hidup dan

9

tempat mencari makan bagi hewan epifauna maupun infauna (Fitrianti 2003).
Daerah estuari didominasi oleh substrat berlumpur yang berasal dari sedimen baik
dari masukan dari air tawar maupun air laut serta dari pembusukan serasah yang
jatuh ke dasar perairan. Substrat dasar perairan akan mempengaruhi kepadatan,
komposisi, dan distribusi tiram di suatu perairan. Pada umumnya substrat pada
dasar perairan merupakan kombinasi dari pasir, lumpur, dan tanah liat. Hasil
kombinasi tersebut akan menentukan tekstur substrat dengan cara menggunakan
segitiga Millar (Gambar 3).

Gambar 3. Segitiga Millar
Sumber: Brower dan Zarr 1977

2.3.8. Derajat keasaman (pH)
Derajat keasaman atau pH menunjukkan jumlah atau aktifitas ion hidrogen
di dalam perairan (Welch 1980 in Fitrianti 2003). Nilai pH berkisar dari 0 (sangat
asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalin). Nilai pH kurang dari 7
menunjukkan lingkungan yang asam, nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang
basa (alkalin), dan pH sama dengan 7 disebut netral. Menurut Sastrawijaya (1991)
adanya penambahan kadar organik ke dalam perairan akan menurunkan nilai air
pH yang disebabkan penguraian bahan organik tersebut menghasilkan CO2.

10

Menurut Romimohtarto (1985) pH air laut permukaan Indonesia pada umumnya
bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6,0-8,5. Perubahan pH dapat mempunyai
akibat buruk terhadap kehidupan biota laut. Menurut Winanto (2004), derajat
keasaman air yang layak untuk kehidupan tiram berkisar 7,8-8,6.

2.3.9. Oksigen terlarut
Oksigen terlarut (DO) adalah salah satu faktor penting dalam setiap sistem
perairan. DO (dissolved oxygen) merupakan kebutuhan dasar bagi organisme
akuatik termasuk bentos, karena digunakan untuk respirasi (Michael 1994).
Menurut Sastrawijaya (1991) kehidupan di air dapat bertahan jika ada oksigen
terlarut minimum sebanyak 4 mg/l, selebihnya tergantung kepada ketahanan
organisme, derajat keaktifan, kehadiran pencemar, temperatur air dan sebagainya.
Menurut Levinton (1982) jumlah oksigen terlarut meningkat sejalan dengan
menurunnya suhu dan menurun dengan naiknya salinitas.

2.3.10. Komposisi C-organik
Kandungan bahan organik terlarut maupun dalam sedimen mempengaruhi
pertumbuhan, kehadiran, dan kepadatan organisme (Levinton 1982). Nilai Corganik suatu perairan diperoleh dari substrat yang terkandung dalam perairan.
Komposisi C-organik merupakan kandungan bahan organik yang dapat
meningkatkan kesuburan bahan kimia, fisika maupun biologi tanah. Estuari
merupakan daerah yang memiliki sejumlah besar bahan organik (Nybakken
1992).

11

3. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Mei - Oktober 2011 selama enam
bulan di wilayah perairan Pantai Mayangan, Subang, Jawa Barat. Peta lokasi
penelitian dapat dilihat pada Gambar 4. Pengambilan contoh dilaksanakan satu
kali setiap bulan. Pengambilan contoh diambil dari dua stasiun dengan tiga kali
ulangan untuk setiap stasiun dengan metode stratified random sampling. Stasiun
satu merupakan stasiun kawasan mangrove yang lebih didominasi oleh sistem laut
(sistem non muara sungai) dengan titik koordinat yang ditentukan melalui GPS
(global positioning system) yaitu 6012’46,7” LS dan 107046’45,0” BT. Stasiun
dua merupakan stasiun kawasan mangrove yang lebih didominasi oleh sistem
muara sungai dengan titik koordinat 6012’46,8” LS dan 107047’46,0” BT
(Gambar 5).

Gambar 4. Peta lokasi penelitian Pantai Mayangan, Subang, Jawa Barat

12

Stasiun 1

Stasiun 2

Gambar 5. Peta titik stasiun penelitian Pantai Mayangan, Subang, Jawa Barat

Analisis mengenai parameter-parameter fisika kimia perairan dilakukan
secara in situ di atas kapal, tetapi untuk analisis TSS dan TDS dilakukan di
Laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen
Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Kemudian, untuk
analisis C-organik dilakukan di Laboratorium Rutin Ilmu Tanah, Departemen
Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Analisis contoh biota
tiram dilakukan di Laboratorium Biologi Makro 1, Departemen Manajemen
Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.

3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan yaitu transek kuadrat berukuran 1x1 m2, termometer
air raksa, refraktometer, kertas indikator pH, kertas label, eijkman grab, secchi
disk, kemmerer water sampler, kapak, botol BOD, botol sampel air berukuran 1 L,
vacuum pump, kertas saring, pipet, gelas ukur, gelas piala, labu erlenmeyer,
syringe, pinset, timbangan digital, plastik, tali berskala, jangka sorong, alat tulis,
koran, cool box, dan lemari pendingin. Bahan yang digunakan yaitu reagen untuk
titrasi DO (MnSO4, NaOHKI, H2SO4, Na-thiosulfat, dan amilum), untuk analisis

13

C-organik (kalium dikromat 1 N, H2SO4 pekat, asam phosphat pekat (85%),
difenilamin, ferosulfat, K2Cr2O7 1 N, FeSO4), air contoh, akuades, serta es batu.

3.3. Metode Kerja
3.3.1. Tiram
Pengambilan contoh tiram dilakukan di dua stasiun dengan tiga titik
substasiun pada masing-masing stasiun. Jarak antara titik-titik substasiun yaitu 1
meter. Kemudian transek kuadrat diletakkan pada luasan akar mangrove. Tiram
diambil menggunakan tangan dengan bantuan kapak untuk memangkas akar
mangrove. Penanganan tiram yang dilakukan yaitu tiram yang telah didapat,
dimasukkan dalam wadah dan diberi label. Setelah itu, dimasukkan ke dalam cool
box yang telah di beri es batu dan dilapisi koran. Penanganan lanjutan tiram
disimpan dalam lemari pendingin setelah sampai laboratorium.

3.3.2. Suhu
Data suhu diperoleh dengan menggunakan alat bantu termometer.
Termometer yang bagian atasnya telah diikat dengan tali dimasukkan ke dalam
kolom perairan, diamkan selama ± 3 menit, kemudian termometer ditarik ke
bagian permukaan, namun bagian bawah termometer masih berada dalam kolom
perairan guna mengurangi galat data. Selanjutnya, dilihat cairan raksa yang
menunjukkan angka data suhu.

3.3.3. Salinitas
Data salinitas diperoleh dengan menggunakan alat refraktometer. Sebelum
digunakan, refraktometer dapat dikalibrasi terlebih dahulu dengan cara ditetesi air
akuades, sehingga nilai awal salinitas di angka nol, setelah itu refraktometer siap
untuk digunakan. Ambil air dan teteskan sebanyak 1-2 tetes pada refraktometer,
kemudian refraktometer diarahkan ke sumber cahaya matahari, lalu dilihat tepat
pada kisaran nilai salinitas.

14

3.3.4. Kedalaman
Kedalaman perairan diukur dengan menggunakan tali dilengkapi pemberat
yang memiliki skala. Tali diturunkan ke dalam perairan hingga menyentuh dasar
perairan. Kemudian, angkat tali dan baca kedalaman perairan yang diperoleh
sesuai dengan skala yang dibuat dan dicatat hasilnya.

3.3.5. Kecerahan
Parameter kecerahan diukur dengan secchi disk. Keping secchi disk terdiri
atas dua bagian warna, yaitu warna hitam dan putih. Secchi disk yang telah
dikaitkan dengan tali yang berskala pada bagian atasnya diturunkan ke dalam
perairan, hingga bagian warna putih tidak terlihat secara visual (D1). Setelah itu,
secchi disk diangkat perlahan ke permukaan perairan hingga bagian warna putih
kembali terlihat secara visual (D2) dan dicatat hasilnya, kemudian dilakukan
perhitungan.

3.3.6. TDS (total dissolved solid)
Nilai TDS perairan ditentukan dengan pertama-tama yang dilakukan adalah
filter disiapkan dan direndam dalam akuades selama 24 jam lalu biarkan kering.
Mangkuk porselen bersih dipanaskan pada tanur 550 0C atau oven pada suhu 103105 0C selama 30 menit, kemudian didinginkan dalam desikator lalu ditimbang (D
mg). Peralatan penyaringan dengan vacuum pump dipasang. Air contoh dipipet
sebanyak 100 ml, lalu diaduk, kemudian disaring dengan peralatan filtrasi yang
telah disiapkan, setelah itu air yang telah tersaring dituang ke dalam mangkuk
porselen. Air dalam mangkuk tersebut diuapkan, mula-mula di atas kompor listrik
atau “hot plate” sampai agak kering, kemudian dimasukkan ke dalam oven 105 0C
selama 1 jam. Mangkuk dan residu selanjutnya didinginkan dalam desikator untuk
kemudian ditimbang.

15

3.3.7. TSS (total suspended solid)
Air contoh dimasukkan ke dalam botol contoh dengan ukuran 1 L. Setelah
itu, air contoh dimasukkan ke dalam cool box yang berisi es batu. Kemudian, air
contoh dibawa ke Laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan,
Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Air akuades sebanyak 25 ml disaring menggunakan gelas ukur ke dalam
kertas saring yang telah dipasang pada alat vacuum pump. Setelah itu, kertas
saring yang telah mengalami penyaringan dimasukkan ke dalam oven dengan
suhu 1000C selama 30 menit. Kemudian, kertas saring dikeluarkan dan diletakkan
ke dalam desikator, diamkan selama 15 menit. Selanjutnya, kertas saring
dikeluarkan dari wadah, lalu ditimbang beratnya menggunakan timbangan digital.
Lalu, kertas saring tersebut kembali dipasang pada alat vacuum pump, selanjutnya
dilakukan penyaringan kembali dengan menggunakan air contoh sebanyak 100
ml, setelah itu bilas dengan akuades sebanyak 100 ml dan kertas saring
dimasukkan ke dalam oven, didiamkan, terakhir ditimbang.

3.3.8. Tekstur substrat
Substrat setiap stasiun diambil meggunakan eijkman grab. Kemudian
dimasukkan ke dalam plastik. Setelah itu, dibawa ke Laboratorium Rutin Tanah,
Departemen Manajemen Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor untuk dilakukan analisis tekstur substrat.

3.3.9. Derajat keasaman (pH)
Kertas indikator pH merupakan alat yang digunakan untuk mengambil data
pH. Kertas indikator pH dicelupkan ke dalam perairan, diamkan ± 3 menit, lalu
angkat kertas indikator pH dari dalam perairan. Kemudian, dicocokkan dengan pH
indikator untuk mengetahui kisaran nilai pH yang diperoleh dari hasil pengukuran.

16

3.3.10. Oksigen terlarut
Pengambilan contoh air yang digunakan untuk analisis data oksigen terlarut
diambil secara in situ menggunakan kammerer water sampler. Air contoh diambil
pada kedalaman 50 cm dari permukaan kolom perairan. Kemudian, air contoh
dimasukkan ke dalam botol BOD dengan ukuran 125 ml dan diusahakan jangan
sampai terjadi bubbling, selanjutnya diteteskan MnSO4 sebanyak 20 tetes
menggunakan syringe dan NaOHKI sebanyak 20 tetes, biarkan beberapa menit
hingga mengendap. Setelah itu, ditetesi H2SO4 pekat sebanyak 20 tetes, kemudian
dikocok secara bolak-balik. Air contoh diambil sebanyak 25 ml ke labu
erlenmeyer untuk dititrasi dengan Na-thiosulfat hingga air contoh berubah warna
menjadi kuning muda, selanjutnya ditetesi amilum sebanyak 3 tetes, kemudian
dititrasi kembali menggunakan Na-thiosulfat hingga air contoh menjadi warna
bening.

3.3.11. Komposisi C-organik
Substrat dasar contoh diambil menggunakan eijkman grab pada masingmasing stasiun yang telah ditentukan. Substrat contoh dimasukkan ke dalam
plastik, kemudian dilakukan analisis komposisi C-organik di Laboratorium Rutin
Tanah, Departemen Manajemen Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Prosedur pertama analisis C-organik yaitu ditimbang sebanyak 1 gram
contoh tanah halus

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Kepadatan Tiram (Crassostrea cucullata Born 1778) pada Habitat Mangrove di Perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat