Mekanisme Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran Pada Hotel Pardede Medan

TUGAS AKHIR
PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI
MEKANISME PERHITUNGAN DAN PEMBAYARAN PAJAK
RESTORAN
PADA HOTEL PARDEDE MEDAN

O
L
E
H
NAMA
NIM

: LUSIANA VERONICA PURBA
: 082600049

Untuk memenuhi salah satu syarat
Menyelesaikan Studi pada Program Studi Diploma III
Administrasi Perpajakan

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PERSETUJUAN
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI INI
DISETUJUI UNTUK DI PRESENTASIKAN
O
L
E
H
Nama

: LUSIANA VERONICA PURBA

Nim

: 082600049

Prog. Studi

: D-III Administrasi Perpajakan

Judul

: Mekanisme Perhitungan dan Pembayaran
Pajak Restoran Pada Hotel Pardede Medan

Ketua Prodip III

Dosen Pembimbing

Supervisor Lapangan

Adm. Perpajakan

(Drs Alwi H Batubara,M.Si) (Prof.Dr.Erika Revida,MS) (Gudman Lubis)
Nip.195608311986011001

Nip.196208211987012001

Nip.580110874007 T

Diketahui
Dekan FISIP USU

(Prof.Dr.Badaruddin,M.Si)
Nip.09680521992031002

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri
1.2 Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri
1.3 Uraian Teoritis
1.4 Dasar Hukum Pemunutan Pajak Restoran
1.5 Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri
1.6 Metode Praktik Kerja Lapangan Mandiri
1.7 Analisis dan Evaluasi
1.8 Metode Pengumpulan Data Praktik Kerja Lapangan Mandiri
BAB II GAMBARAN UMUM HOTEL PARDEDE INTERNASIONAL
MEDAN
2.1 Sejarah Singkat Perusahaan
2.2 Struktur Organisasi
2.3 Uraian Tugas
BAB III GAMBARAN DATA PAJAK RESTORAN
3.1 Defenisi Pajak
3.2 Sumber Pendapatan Daerah
3.3 Fungsi Pajak
3.4 Jenis Pajak
3.5 Objek, Subjek, dan Wajib Pajak Restoran
3.6 Dasar Hukum Pemungutan Pajak Restoran
3.7 Dasar Pengenaan, Tarif, dan Tata Cara Perhitungan Pajak Restoran
3.8 Pembayaran dan Penagihan Pajak Restoran
BAB IV ANALISA DAN EVALUASI
4.1 Pendaftaran dan Pelaporan
4.2 Mekanisme Perhitungan Pajak Restoran
4.3 Mekanisme Pembayaran Pajak Restoran
4.4 Hambatan Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Pemerintah adalah entitas masyarakat dalam suatu negara yang diberi

kewenangan untuk menjalankan pemerintahan. Pelaksanaan pemerintah hanya
dapat dilaksanakan dengan adanya beberapa unsur pendukung, Salah satunya
adalah tersedianya dana yang memadai. Sebab tanpa dukungan dana,semua
program pemerintah tidak akan dapat dilaksanakan dan itu berarti fungsi
pemerintah dalam suatu negara tidak berjalan secara optimal.
Dana yang diperoleh negara merupakan penerimaan yang dipergunakan
untuk menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Anggaran
tersebut merupakan uraian pembiayaan yang dipergunakan penyelenggaraan
pemerintah dan keperluan pembangunan. Biaya pembangunan digunakan untuk
membangun sarana dan prasarana yang berkaitan dengan pelayanan publik.
(Mustaqiem,2008:1)
Salah satu cara bagi pemerintah untuk menghimpun dana bagi
pembangunan adalah melalui pemungutan pajak. Hasil pemungutan pajak
dikumpulkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan
termasuk pendapatan rutin khususnya disektor bukan migas. Pajak mempunyai
kontribusi yang sangat besar untuk membiayai anggaran bagi penyelenggara
pemerintah, pelayanan umum dan pembangunan.

Universitas Sumatera Utara

Dari sekian banyak pajak yang dipungut di negara kita salah satu pajak
yang diandalkan untuk menghasilkan dana anggaran adalah pajak restoran. Objek
pajak restoran adalah setiap pelayanan yang disediakan dengan pembayaran di
restoran termasuk bar, kafe, rumah makan, buffet, kantin, kedai nasi/kopi, dan
meliputi penjualan makanan dan minuman di tempat yang disertai tempat
penyantapan maupun diantar dan dibawa pulang (take away).
Subjek pajak restoran adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
pembayaran kepada restoran. Sedangkan objek pajak restoran adalah pelayanan
yang disediakan restoran dengan pembayaran.
1. Pelayanan usaha jasa boga katering
2. Pelayanan yang disediakan oleh restoran atau rumah makan yang
peredarannya tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan oleh peraturan
daerah.
Dasar pengenaan pajak restoran adalah jumlah pembayaran yang
dilakukan kepada restoran. Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau
seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan barang dan jasa sebagai
pembayaran kepada pemilik restoran. Tarif pajak restoran yang paling tinggi
sebesar 10% dan ditetapkan dengan peraturan daerah atas Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Pajak restoran yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat restoran
berlokasi. Besarnya pokok pajak restoran yang terutang dihitung dengan cara
mengalikan tarif pajak restoran yang paling tinggi 10% dengan dasar pengenaan

Universitas Sumatera Utara

pajak, yaitu jumlah yang diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas
penyerahan barang dan atau jasa sebagai pembayaran kepada pemilik restoran.
Proses pemungutan pajak yaitu : pajak dikutip di bank atau tempat yang
telah ditentukan oleh Menteri Keuangan sebagai tempat pembayaran untuk
menambah anggaran berikutnya apabila tidak mencapai target atau realisasi yang
diharapkan.
Hambatan Pemungutan Pajak :
-

Perlawanan Pasif
Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak yang dapat disebabkan antara
lain :
a) Perkembangan intelektual dan moral masyarakat.
b) Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat.
c) Sistem control yang tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan
baik.

-

Perlawanan Aktif
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara
langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak
yaitu :
a) Tax Avoidence, usaha untuk meringankan beban pajak dengan tidak
melanggar Undang-Undang.

Universitas Sumatera Utara

b) Tax Evasion, usaha untuk meringankan beban pajak dengan cara
melanggar Undang-Undang (menggelapkan pajak).
Berdasarkan kondisi tersebut penulis akan melakukan Praktik Kerja
Lapangan Mandiri (PKLM) dengan judul “Mekanisme Perhitungan dan
Pembayaran Pajak Restoran Pada Hotel Pardede Medan”.
1.2. Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Tujuan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Adapun tujuan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) ini adalah :
a. Untuk mengetahui Mekanisme Perhitungan dan Pembayaran Pajak
Restoran pada Hotel Pardede Medan.
b. Untuk mengetahui besarnya tarif pajak yang digunakan dalam perhitungan
pajak restoran pada Hotel Pardede Medan.
c. Untuk mengetahui kendala-kendala yang terjadi dalam perhitungan dan
pembayaran pajak restoran pada Hotel Pardede Medan.
d. Untuk mengetahui jumlah pembayaran pajak restoran 5 (lima) tahun
terakhir.
Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) adalah :
a. Bagi Mahasiswa
1. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman kerja pada suatu instansi
swasta dalam hal ini Hotel Pardede Medan.

Universitas Sumatera Utara

2. Mengaplikasikan disiplin ilmu yang telah dipelajari khususnya tentang
pajak daerah dan retribusi daerah dalam mengatasi permasalahan yang
timbul selama PKLM.
3. Meningkatkan

profesionalisme,

memperluas

wawasan

dan

memantapkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam
menerapkan ilmunya khususnya di bidang perpajakan.
4. Untuk menciptakan dan mengembangkan rasa tanggung jawab serta
kedisiplinan.
b. Bagi Hotel Pardede
1. Untuk memperoleh masukan, ide-ide, gagasan yang konstruktif dari
Perguruan Tinggi untuk

lebih

memperbaiki

perhitungan dan

pembayaran pajak restoran.
2. Agar dapat digunakan untuk pengembangan ilmu dalam bidang
perpajakan khususnya Program Studi Diploma III Administrasi
Perpajakan pada Hotel Pardede Medan.
3. Meningkatkan hubungan baik dengan Universitas Sumatera Utara.
c. Bagi Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan
1. Meningkatkan hubungan kerjasama dengan instansi swasta dalam hal
ini Hotel Pardede Medan.

Universitas Sumatera Utara

2. Memberikan uji nyata atas disiplin ilmu yang telah disampaikan
selama perkuliahan.
3. Mendapat masukan dan sarana untuk perbikan dan penyempurnaan
kurikulum yang berlaku.
4. Mempromosikan sumber daya alam yang terdapat di Program Studi
Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sumatera Utara.
1.3. Uraian Teoritis
Defenisi Pajak berdasarkan pembagian isi teorinya :
1. Menurut Adriani (Mustaqiem 2008:43), pajak adalah iuran kepada negara
yang terutang oleh wajib pajak menurut peraturan-peraturan, dengan tidak
mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan gunanya
untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan
tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
2. Menurut N.J.Feldman (Mustaqiem 2008:1), pajak adalah prestasi yang
dipaksakan oleh dan terutang kepada penguasa (menurut norma-norma
yang ditetapkan secara umum). Tanpa ada kontraprestasi dan semata-mata
digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum.
Pajak Daerah yang selanjutnya disebut sebagai pajak adalah kontribusi
wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara

Universitas Sumatera Utara

langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan
dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kanting, warung,
bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering.
Retibusi daerah, yang selanjutnya disebut sebagai retribusi, adalah
pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang
khusunya disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk
kepentingan orang pribadi atau badan.
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah. Pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan
oleh restoran.
1.4. Dasar Hukum Pemungutan Pajak Restoran.
Dasar hukum pemungutan pajak restoran pada suatu kabupaten atau kota adalah
sebagaimana dibawah ini :
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 Tentang Pajak Daerah.
3. Peraturan Daerah Kabupaten / Kota dimaksud.

Universitas Sumatera Utara

1.5. Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Praktik kerja lapangan mandiri (PKLM) ini dilakukan pada Hotel Pardede Medan.
Penulis akan membahas secara rinci :
1. Mekanisme perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada hotel
pardede medan.
2. Kendala dalam perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada hotel
pardede medan.
3. Untuk mengetahui jumlah pembayaran pajak restoran selama 5 (lima)
tahun terakhir.
Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam PKLM adalah disini penulis akan
berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui hal yang berkaitan dengan
mekanisme perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada Hotel Pardede
Medan dan akan mencari data dan informasi yang berasal dari Hotel Pardede
Medan sebagai bahan referensi untuk mengetahui dan mendalami mekanisme
perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada Hotel Pardede Medan.
1.6. Metode Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Untuk mendapatkan dan mengumpulkan data serta informasi sesuai dengan
metode yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini penulis akan melakukan penentuan tempat Praktik Kerja
Lapangan Mandiri (PKLM), pengajuan judul, persetujuan judul oleh Ketua
Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan, mencari dan

Universitas Sumatera Utara

mengumpulkan bahan untuk pembuatan proposal dan melakukan
konsultasi dengan pihak Dosen yang bersangkutan.
2. Studi Literatur
Pada tahap ini dalam pencarian dan pengumpulan sumber-sumber pustaka
seperti Undang-Undang, buku-buku, majalah maupun literatur lain yang
berhubungan dengan perhitungan dan pembayaran pajak restoran.
3. Observasi Lapangan
Pada bagian ini penulis melakukan observasi lapangan di Hotel Pardede
Medan mengenai perhitungan dan pembayaran pajak restoran.
4. Pengumpulan Data
Penulis melakukan pengumpulan data mengenai mekanisme perhitungan
dan pembayaran pajak restoran pada Hotel Pardede Medan melalui :
a) Data Primer yaitu data yang diperoleh dari Hotel. Data primer ini dapat
diperoleh dari wawancara atau bisa dilakukan dengan mengajukan
daftar pertanyaan dan observasi lapangan.
b) Data Sekunder (bersumber dari buku-buku ilmiah, Undang-Undang
yang berhubungan dengan pajak restoran).
c) Data Dokumentasi

Universitas Sumatera Utara

1.7. Analisi dan Evaluasi
Setelah data yang diperlukan terkumpul secara lengkap maka dilakukan analisa
dan evaluasi terhadap data atau keterangan mengenai mekanisme perhitungan dan
pembayaran pajak restoran.
1.8. Metode Pengumpulan Data Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Adapun cara pengumpulan sumber-sumber data adalah sebagai berikut :
1. Daftar Wawancara (Interview Guide)
Yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada
pegawai yang dianggap mampu memberikan masukan data primer dan
informasi tentang mekanisme perhitungan dan pembayaran pajak restoran.
2. Data Observasi
Yaitu dengan melakukan pengamatan langsung atas kegiatan yang
dilakukan dalam pencatatan terhadap fenomena yang menjadi objek
penelitian.
3. Daftar Dokumentasi
Yaitu dengan mengumpulkan dokumen-dokumen yang berhubungan
dengan perhitungan dan pembayaran pajak restoran dan meminta berbagai
dokumen dari Hotel Pardede Medan.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
GAMBARAN UMUM HOTEL PARDEDE
INTERNASIONAL MEDAN
2.1.Sejarah Singkat Perusahaan
Adanya keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan
Republik Indonesia No. 101 September 1968, telah mendorong para pengusaha
Indonesia untuk mendirikan hotel-hotel, sebagai upaya mendorong kemajuan
pariwisata di Indonesia dan merupakan salah satu pendapatan negara yang cukup
potensial yang perlu ditingkatkan peranannya.
Berselang beberapa waktu kemudian, secara kebetulan Bapak TD.Pardede
bertemu dengan Bapak M.J.Prayogo (Waktu itu menjabat Konsul Jenderal
Pariwisata Perhubungan RI di Singapura), dan beliau menganjurkan agar
mendirikian usaha perhotelan yang bertaraf Internasional. Setelah mempelajari
dokumen-dokumen dari surat keputusan tersebut dan mendengar keteranganketerangan yang meyakinkan sehingga diambil kesimpulan membuka usaha
perhotelan sebagai tambahan bidang-bidang usahanya yang telah ada yakni
pertekstilan, perkebunan,pendidikan, kesehatan dan perikanan.
Pada tanggal 1 Mei 1970, Motel Danau Toba dan Copa Cabana Club
dibuka secara resmi untuk umum dengan manager pertama Drs.D.Silaen dan
asisten manager Zaman Ginting, BA. Kemudian pada 1 Juli 1970 diinstruksikan
oleh Bapak dan Ibu TD.Pardede untuk menyusun rencana pembuatan satu hotel
dengan kamar bertaraf Internasional yang diberi nama Hotel Danau Tobe
Internasional. Sambil menunggu selesainya proyek Hotel Danau Toba
Internasional, bapak TD.Pardede sebagai usahawan yang gigih dan berkemauan

Universitas Sumatera Utara

keras, mendirikan dan meresmikan hotel-hotel yang kecil dengan selalu
mempertahankan standard Internasional.
Pada tanggal 18 Maret 1971 dibuka dan diresmikanlah Pardede
Internasional Hotel yang terletak dijalan Ir.H.Juanda No 14 Medan dengan jumlah
kamar sebanyak 46 kamar. Dengan semakin banyaknya investasi asing dibidang
perminyakan dan perkebunan di Sumut, hotel yang baru diresmikan segera
mencapai occupancy rate (tingkat hunian kamar) yang tinggi.
Suatu prinsip yang dipuji dari bapak TD.Pardede dalam mendirikan dan
menjalankan usahanya dalam bidang perhotelan ini adalah : “Prinsip percaya diri
kepada diri sendiri dan percaya pada kekuatan sendiri”. Tenaga-tenaga staff dan
karyawan didatangkan dari pulau jawa pada waktu Hotel Danau Toba
Internasional yang saat ini masih mempunyai 200 kamar selesai didirikan dan siap
untuk dibuka, tenaga staff dan karyawan telah siap pula untuk Hotel tersebut.
Pada tanggal 10 Juni 1972 dibuka dan diresmikanlah Hotel Danau Toba
Internasional untuk umum dengan general Manager pertama Stanley J.Allison dari
London dan tenaga cook dari Jepang.
Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa sejak 1 Mei 1971 sampai
dengan 1973, Pardede Internasional Hotel Group sudah mempunyai cabangcabang-cabang (anak perusahaan), yaitu :
a. Hotel Danau Toba dan Copa Cabana Club
b. Hotel Danau Toba Mini
c. Restoran Internasional Loly Bri Club

Universitas Sumatera Utara

d. Pardede Internasional Hotel
e. Hotel Pardede Internasional Jakarta
f. New Belawan Internasional Hotel
g. Swimming Pool Club Hotel Danau Toba Internasional Hotel
h. Hotel Danau Toba Internasional Parapat
Bulan Oktober 1973 Drs.Rudolf M.Pardede (putra T.D.Pardede) kembali
dari pendidikannya di London dan ditetapkan menjadi Presiden Direktur
Internasional Hotel Group. Sebelum Hotel Danau Toba Internasional dibuka,
Hotel Danau Toba dan Pardede Internasional Hotel dibuka occupancynya turun
menjadi 60%. Hal ini disebabkan karena tamu-tamu lebih memilih hotel danau
toba internasional untuk penginapannya. Pada masa-masa permulaan ini terasa
adanya persaingan dikalangan sendiri, yaitu antara hotel-hotel yang terhimpun
dalam pardede internasional hotel group.
Saat ini pardede internasional group telah memiliki cabang-cabang di
Jakarta,Medan,Berastagi,Parapat,Tebing Tinggi,Belawan dan Aceh. Dengan
semakin banyaknya jumlah pemesanan kamar hotel maka Pardede Internasional
Hotel Medan menambah jumlah kamar hingga sampai saat ini sebanyak 165
kamar yang dilengkapi dengan AC,TV Colour, Parabola, Kulkas untuk masingmasing kamar. Dengan demikian Pardede Internasional hotel Medan di
klasifikasikan Hotel Bintang 3 (tiga)

Universitas Sumatera Utara

Disinilah pentingnya peran para pengusaha hotel, salah satunya yakni
Pardede Internasional hotel Group sebagai badan usaha yang menyediakan
fasilitas lainnya bagi para wisatawan.
Tabel 1. Daftar Kamar Hotel Pardede Internasional Medan
Tipe Kamar

Jumlah Kamar

Standard Room

3

Superior Room

45

Deluxe Room

64

Suite Room

5

Exbed Room

16

Cottage Suite

32

Cottage Standard

48

Sumber : Hasil Penelitian, 2011
Dengan demikian peneliti juga akan menyajikan latar belakang atau profil
bisnis Hotel Pardede Internasional Medan secara ringkas, yaitu sebagai berikut :
Nama Bisnis

: Hotel Pardede Internasional Medan

Misi

: Memuaskan pelanggan melalui pelayanan yang
sangat istimewa dengan menampilkan kualitas
produk yang baik serta menciptakan atmosfer yang
bersahabat, nyaman dan professional dan member
kesan “Your Paradise In Sumatera”

Visi

: Menjadi Hotel yang tetap terdepan dikelasnya.

Strategi bersaing/

Universitas Sumatera Utara

Strategi Generik
Yang digunakan sekarang

: Strategi diferensiasi yaitu dengan membuat harga
kamar yang sangat terjangkau untuk pelanggan
dengan menampilkan fasilitas yang terlengkap serta
di dukung oleh lokasi yang sangat strategis dan
pelataran parkir yang sangat luas.

Pesaing

: Seluruh Hotel yang ada di kota Medan

Faktor Lingkungan
Yang paling berpengaruh

: Faktor lingkungan yang paling berpengaruh antara
lain dari lingkungan makro yaitu situasu keamanan
kota Medan dan dari lingkungan mikro yaitu
tentunya pelanggan dan pesaing baru, misalnya
hotel berbintang lima.

2.2.Struktur Organisasi
Setiap perusahaan baik perusahaan pemerintah maupun swasta, pada
umumnya

memiliki

struktur

organisasi,

penyusunan

struktur

organisasi

merupakan langkah pertama dan tepat dalam memulai pelaksanaan kegiatan
dengan kata lain penyusunan struktur organisasi adalah langkah untuk
melaksanakan kegiatan yang terencana di suatu perusahaan. Dengan demikian
struktur organisasi akan memberikan gambaran maupun petunjuk tentang bagian
atau unit kerja serta pembagian kerja di suatu perusahaan, sekaligus memberikan
perintah dan wewenang terhadap unit organisasi.

Universitas Sumatera Utara

Selain itu struktur organisasi dapat merupakan petunjuk mengenai
tanggung jawab bagi setiap bawahan serta batasan wewenang dan fungsi
bahawan, sehingga dapat mempermudah dalam menentukan, mengarahkan dan
mengontrol pelaksanaan aktivitas-aktivitas perusahaan.
Struktur organisasi perusahaan tidak sama untuk setiap perusahaan,
karena struktur organisasi tergantung besar dan sifat kegiatan perusahaan. Jadi
berhasil tidaknya organisasi perusahaan dalam mencapai tujuan bukan saja
ditentukan dari struktur yang dibuat, tetapi tergantung pada pengendalian struktur
itu sesuai dengan tujuan yang dicapai. Suatu organisasi harus fleksibel karena
dipengaruhi ketidakpastian dimasa yang akan datang, sehingga harus ada
penyesuaian terhadap keadaan yang sedang dan akan dijalani. Sebab struktur
organisasi yang berbelit-belit dan tidak jelas akan dapat menimbulkan kegagalan
dalam mencapai tujuan perusahaan. Untuk mencapai tujuan organisasi harus
diperhatikan adalah pembagian tugas,karena kegiatan tidak dapat berjalan apabila
tidak terdapat pembagian tugas yang diuraikan secara jelas dan terperinci.
Pada perusahaan ini struktur organisasi yang dipakai adalah organisasi
garis dan staff, dimana wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada
kepala manajer lainnya baik pekerjaan pokok maupun pekerjaan bantuan. Adapun
struktur organisasi yang dimiliki dan dijalankan pada hotel pardede internasional
diuraikan sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

2.3. Adapun uraian tugas masing-masing adalah sebagai berikut :
a. General Manager
1) Menetapkan budget tahunan dari tiap-tiap departemen bersama-sama
Chief

Accounting, front office manager food

and

beverage

manager,house keeper manager.
2) Mengikuti atau mengadakan rapat tahunan untuk melihat sejauh mana
income yang diperoleh selama 1 bulan dan kendala-kendala apa yang
dihadapi dan perlu ditangani secepatnya.
3) Bekerjasama

dengan

departemen-departemen

yang

ada

untuk

menigkatkan pendapatan hotel.
4) Menandatangani kas untuk bank pembayaran,pembelian barang dan
kas bank penerimaan uang bersama-sama dengan chief accounting.
5) Mengambil keputusan dan kebijaksanaan sehubungan dengan rencana
dan tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.
6) Bertanggung jawab atas pelaksanaan pembinaan dan peningkatan mutu
karyawan di unit kerja.
b. Sekretaris atau Duty Manager
1) Melaksanakan tugas-tugas yang sangat prinsipil yang dibebankan
General Manager.

Universitas Sumatera Utara

2) Membantu general manager untuk mengambil tindakan kebijaksanaan
buat tugas dan tanggungjawab para manager atau kebijaksanaan
pengembangan SDM.
3) Melaksanakan tugas-tugas lain yang berhubungan dengan yang
ditugaskan oleh general manajer.
c. Chief Accounting
1) Menandatangani bukti kas bank penerimaan dan pengeluaran.
2) Menandatangani bon masuk barang-barang.
3) Memeriksa tugas-tugas yang dikerjakan bawahan.
4) Membuat laporan keuangan dan realisasi budget setiap akhir bulan.
5) Memberi

pengarahan

kepada

kru

yang

terkait

didalam

hal

meningkatkan disiplin dan kreativitas kerja sehingga tercapai tujuan
yang ditetapkan.
Chief accounting membawahi : General Cashier, Chief Store, Chief
Internal Control, Ass.Accounting, Cashier, Control/ nite Auditor,
Book Keeper.
d. Front Office Manager
1) Bertanggung jawab atas kelancaran di front office department sebagai
pusat kegiatan hotel.

Universitas Sumatera Utara

2) Memonitor situasi pengisian kamar, situasi reservation yang sudah
masuk.
3) Mencatat data, membuat statistic pengisian kamar.
4) Melaksanakan training secara terus menerus kepada kru dan mengatur
schedule kerja kru.
5) Memonitor dan melaporkan hasil operasi front office setiap hari
kepada Management Hotel.
Front Office manager membawahi : Ass.Reception, reception,
operator, bill captain, bill clerk, room boy.
e. Food and Beverage Manager
1) Bertanggung

jawab

untuk

merencanakan,

mengorganisir,

mengkoordinasikan semua kegiatan di food and beverage manager.
2) Mengadakan komunikasi, koordinasi dengan seluruh departemen yang
ada.
3) Memonitor semua penjualan minuman dan makanan dalam hal
pendapatan dan pengeluaran.
4) Menentukan cost and selling price dari makanan dan minuman.
5) Mengadakan renovasi-renovasi secara periodik dalam hal menu dan
drink list.

Universitas Sumatera Utara

6) Mengadakan evaluasi terhadap karyawan.
Food and beverage manager membawahi : Supervisor B/R. Supervisor
R/S, Supervisor Disco, Chief Cook/Kitchen, bartender, cook, waiter/s,
cook help, dishwasher.
f. House Keeper Manager
1) Bertanggung jawab atas segala masalah kebersihan dan kerusuhan
yang ada di dalam hotel, dapat dilaporkan kepada general manager.
2) Membimbing, melatih, mengarahkan seluruh staff dan karyawan house
keeping.
3) Mengadakan kerjasama yang baik dengan departemen-departemen
lainnya untuk mencapai sasaran kerja yang efektif.
4) Membuat anggaran tahunan untuk mengatasi pengeluaran di house
keeping.
5) Membuat daftar inventaris barang-barang di hotel.
House keeper membawahi : Ass.House keeper, Supervisor room boy,
supervisor linen, room boy/room maid, linen, houseman.
g. Chief Maintenance
1) Bertanggung jawab kepada Koordinator teknik.

Universitas Sumatera Utara

2) Merencanakan dan melaksanakan revisi ringan dan revisi besar mesinmesin.
3) Memeriksa langsung operasi mesin-mesin.
4) Menyusun laporan-laporan kerja setiap bagian.
5) Bertanggung jawab atas peralatan alat-alat dan lancarnya operasi
mesin-mesin.
Chief maintenance mambawahi : Supervisor otomat, supervisor
electronic, Supervisor civil, tukang otomat, tukang elektronik, tukang
civil.
h. Chief Security
1) Bertanggung jawab atas segala kejadian-kejadian yang terjadi di
lingkungan hotel.
2) Bertanggung jawab atas keamanan atau pengamanan personil,
material,operasional dan situasi di lingkungan hotel.
3) Mengadakan koordinasi kerja dengan departemen-departemen lainnya
guna menegakkan peraturan-peraturan yang dikeluarkan pimpinan.
Chief Security membawahi : Security, pengawas, satpam,time keeper.

Universitas Sumatera Utara

BAB III
GAMBARAN DATA PAJAK RESTORAN
3.1.Defenisi Pajak
Sebelum kita membahas mengenai gambaran data Pajak Restoran, maka
kita harus terlebih dahulu mengetahui tentang defenisi pajak. Adapun defenisi
pajak menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang perubahan ketiga
atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang ketentuan umum dan tatacara
perpajakan adalah sebagai berikut :
Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan
tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Sedangkan defenisi pajak berdasarkan pendapat beberapa ahli adalah :
1. Menurut Adriani, sebagaimana dikutip oleh Santoso Brotodihardjo, pajak
adalah iuran kepada negara yang terutang oleh wajib pajak menurut
peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali yang
langsung dapat ditunjuk dan gunanya untuk membiayai pengeluaranpengeluaran

umum

berhubungan

dengan

tugas

negara

untuk

menyelenggarakan pemerintahan. (Mustaqiem,2008:43)
2. Menurut N.J.Feldman, sebagaimana dikutip oleh Early Suandy, pajak
adalah prestasi yang dipaksakan oleh dan terutang kepada penguasa
(menurut norma-norma yang ditetapkan secara umum). Tanpa ada

Universitas Sumatera Utara

kontraprestasi dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaranpengeluaran umum. (Mustaqiem,2008:1)
Pajak Daerah yang selanjutnya disebut sebagai pajak adalah kontribusi
wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara
langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan
dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kanting, warung,
bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering.
Retibusi daerah, yang selanjutnya disebut sebagai retribusi, adalah
pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang
khusunya disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk
kepentingan orang pribadi atau badan.
Pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran.
(Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah).
3.2. Sumber Pendapatan Daerah
Dasar hukum sumber pendapatan daerah adalah Undang-Undang Nomor
25 Tahun 2999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah, maka penyelenggaraan pemerintah daerah dilakukan dengan memberikan
kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah. Pajak daerah
dan retribusi daerah merupakan salah satu pendapatan daerah yang penting guna

Universitas Sumatera Utara

membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan untuk
memantapkan Otonomi Daerah yang luas, dan bertanggung jawab.
Sumber Pendapatan Daerah berasal dari :
a.Pajak Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 pengertian pajak daerah
adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Jenis Pajak Provinsi terdiri dari :
1. Pajak Kenderaan Bermotor
2. Bea Balik Nama Kenderaan Bermotor
3. Pajak Bahan Bakar Kenderaan Bermotor
4. Pajak Air Permukaan dan
5. Pajak Rokok
Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas :
1. Pajak Hotel
2. Pajak Restoran
3. Pajak Hiburan
4. Pajak Reklame

Universitas Sumatera Utara

5. Pajak Penerangan Jalan
6. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
7. Pajak Parkir
8. Pajak Air Tanan
9. Pajak Sarang Burung Walet
10. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, dan
11. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
b.Retribusi Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 pengertian Retribusi
Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin
tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk
kepentingan orang pribadi atau badan.
3.3. Fungsi Pajak
Dalam kedudukannya pajak mempunyai dua fungsi yaitu :
1. Fungsi Budgeter : Pajak sebagai alat memasukkan uang kedalam kas
Negara untuk digunakan sebagai dana pembiayaan pengeluaran Negara.
2. Fungsi Reguler/ Mengatur : Pajak digunakan sebagai alat untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu diluar bidang keuangan. Pengaturan ini biasanya
ditujukan untuk mengatur sektor swasta misalnya :

Universitas Sumatera Utara

1) Pajak minuman keras ditinggikan agar rakyat (masyarakat) tidak
terlalu banyak menyukai minuman keras.
2) Pajak ekspor direndahkan/dihilangkan untuk merangsang banyaknya
ekspor.
3.4.Jenis Pajak
Pajak yag dipungut pemerintah dari rakyat memiliki jenis yang
pembagiannya dapat ditinjau dari berbagai segi yaitu :
1. Menurut Sifatnya :
a. Pajak Subjektif yaitu pajak yang memperhatkan keadaan
pribadi wajib pajak untuk menetapkan besarnya pajak yang
terutang.
b. Pajak Objektif yaitu pajak yang dalam pengenaannya hanya
memperhatikan sifat objek pajaknya saja.
2. Menurut Golongannya :
a. Pajak Langsung yaitu pajak yang pengenaannya terlebih dahulu di
daftar dengan memberikan nomor kohir (NPWP), yaitu pengenaannya
dilakukan secara berkala misalnya dikenakan untuk tiap-tiap tahun dan
pembebanannya tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain.
Contoh : PPh dan PBB

Universitas Sumatera Utara

b. Pajak Tidak Langsung yaitu pajak yang pengenaannya tidak didaftar
berdasarkan nomor kohir (NPWP) dan pengenaannya dilakukan secara
berkala serta pajak tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain.
Contohnya : Bea Materai, Pajak Penjualan, Cukai dan sebagainya.
3. Menurut Lembaga Pemungutannya
a. Pajak Negara/Pusat yaitu pajak yang dikelola atau pemungutannya
dilakukan oleh aparat pemerintah pusat untuk mengisi kas Negara.
b. Pelayanan yang disediakan oleh restoran atau rumah makan yang
pendapatan brutonya tidak melebihi batas Rp 600.000 (enam ratus ribu
rupiah) per bulan.
Subjek Pajak Restoran adalah orang pribai atau badan yang melakukan
pembayaran atas pelayanan restoran.
Wajib Pajak Restoran adalah jumlah pembayaran dilakukan kepada
restoran.
3.5. Objek, Subjek, dan Wajib Pajak Restoran
a. Objek Pajak Restoran
Objek pajak restoran adalah pelayanan yang disediakan restoran dengan
pembayaran. Termasuk dalam objek pajak restoran adalah :
Rumah makan,
Kafe,
Buffet,
Kantin,

Universitas Sumatera Utara

Kedai Nasi/Kopi
Bar/Sejenisnya
Pelayanan di restoran/rumah makan meliputi penjualan makanan dan atau
minuman

direstoran/rumah

makan,

termasuk

penyediaan

penjualan

makanan/minuman yang diantar/dibawa pulang.
c. Bukan Objek Pajak Restoran
1.Pelayanan usaha jasa boga atau catering dan
2.Pelayanan yang disediakan oleh restoran atau rumah makan yang
pendapatan brutonya tidak melebihi batas Rp 600.000 (enam ratus ribu
rupiah) per bulan.
Subjek pajak restoran adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
pembayaran atas pelayanan restoran.
Wajib pajak restoran adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada
restoran.
3.6. Dasar Hukum Pemungutan Pajak Restoran.
Dasar hukum pemungutan pajak restoran pada suatu kabupaten atau kota adalah
sebagaimana dibawah ini :
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 Tentang Pajak Daerah.
3. Peraturan Daerah Kabupaten / Kota dimaksud.

Universitas Sumatera Utara

3.7. Dasar Pengenaan, Tarif, dan Tata Cara Perhitungan Pajak Restoran
1. Dasar Pengenaan Pajak Restoran
Dasar pengenaan pajak restoran adalah jumlah pembayaran yang diterima
atau yang seharusnya diterima restoran. Jika pembayaran dipengaruhi oleh
hubungan istimewa harga jual atau pengganti dihitung atas dasar harga pasar yang
wajar pada saat pembelian makanan dan atau minuman. Contoh hubungan
istimewa adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan jasa restoran
dengan pengusaha restoran, baik langsung ataupun tidak langsung, berada
dibawah pemilikan atau penguasaan orang pribadi atau badan yang sama.
Pembayaran adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh subjek pajak
untuk harga jual baik jumlah uang yang dibayarkan maupun penggantian yang
seharusnya diminta wajib pajak sebagai penukaran atas pembelian makanan dan
atau minuman termasuk pula semua tambahan dengan nama apapun juga
dilakukan berkaitan dengan usaha restoran.
Contoh pembayaran, misalnya seseorang menikmati hidangan yang
disediakan oleh restoran ABC dengan melakukan pembayaran atas :
Makanan

Rp 260.000,00

Minuman

Rp

Jumlah

Rp 260.000,00

Servis Charge 10%

Rp 26.000,00

Jumlah Pembayaran

Rp 286.000,00

60.000,00

Pembayaran yang dimaksud adalah pembayaran sebelum dikenakan Pajak
Restoran, yaitu sebesar Rp 286.000,00

Universitas Sumatera Utara

2.Tarif Pajak Restoran
Tarif pajak restoran ditetapkan paling tinggi sebesarsepuluh persen dan
ditetapkan dengan peraturan daerha kabupaten/kota yang bersangkutan. Hal ini
dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada pemerintah kabupaten/kota
untuk menerapkan tariff pajak yang dipandang sesuai dengan kondisi masingmasing daerah kabupaten/kota. Dengan demikian, setiap daerah kabupaten/kota
lainnya, asalkan tidak melebihi dari sepuluh persen.
3.Tata Cara Perhitungan Pajak Restoran
Besarnya pokok pajak restoran yang terutang dihitung dengan cara
mangalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak. Secara umum perhitungan
pajak restoran adalah sesuai dengan rumus berikut :
Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
= Tarif Pajak x Jumlah Pembayaran yang dilakukan
kepada Restoran
Berdasarkan pembayaran yang dilakukan oleh subjek pajak kepada
restoran “ABC” pada poin a diatas dan apabila besarnya tariff pajak pada kota
tempat restoran “ABC” berlokasi ditetapkan sebesar sepuluh persen, dapat
dihitung besarnya pajak restoran yang terutang, yaitu sebesar : 10% x Rp
286.000,00 = Rp 28.600,00
4. Ketentuan
a) Undang-Undang NOmor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.

Universitas Sumatera Utara

b) Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 Tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah.
c) Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2001 tentang pembentukan
organisasi dan tata kerja dinas-dinas daerah di lingkungan pemerintah
kota medan.
d) Keputusan Walikota Medan Nomor 12 Tahun 2003 Tentang Pajak
Daerah Kota Medan.
3.8. Pembayaran dan Penagihan Pajak Restoran
Pajak restoran terutang dilunasi dalam jangka waktu yang ditentukan
dalam peraturan daerah, misalnya selambat-lambatnya pada tanggal 15 bulan
berikutnya dari masa pajak yang terutang setelah berakhirnya masa pajak.
Penentuan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak restoran
ditetapkan oleh Bupati/Walikota. Apabila kepada wajib pajak diterbitkan Surat
Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang
Bayar Tambahan, Surat Tagiahan Pajak Daerah, Surat Keputusan Pembetulan,
Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang menyebabkan jumlah
pajak yang harus dibawar bertambah, maka pajak restoran harus dilunasi paling
lambat satu bulan sejak tanggal diterbitkan.
Pembayaran pajak restoran yang terutang dilakukan ke kas daerah, bank,
atau tempat lain yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota sesuai waktu yang ditentukan
dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang
Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan dan Surat Tagihan

Universitas Sumatera Utara

Pajak Daerah. Apabila pembayaran pajak harus disetor ke kas daerah paling
lambat 1x24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh Bupati/Walikota.
Apabila tanggal jatuh tempo pembayaran pada hari libur, maka pembayaran
dilakukan pada hari kerja berikutnya.
Pembayaran pajak restoran dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak Daerah (SSPD). Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau lunas.
Kepada wajib pajak yang melakukan pembayaran pajak diberi tanda bukti
pembayaran pajak dan dicatat dalam buku penerimaan. Hal ini harus dilakukan
oleh petugas tempat pembayaran pajak diberikan tanda pembayaran pajak dan
dicatat didalam buku penerimaan. Hal ini harus dilakukan oleh petugas tempat
pembayaran pajak untuk tertib administrasi dan pengawasan penerimaan pajak.
Dengan demikian, pembayaran pajak akan mudah terpantau oleh petugas Dinas
Pendapatan Daerah. Disamping itu, bentuk, isi, ukuran buku penerimaan, dan
tanda bukti pembayaran pajak ditetapkan dengan keputusan Bupati/Walikota.
Dalam keadaan tertentu, Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk
dapat memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk mengangsur pembayaran
pajak restoran terutang dalam kurun waktu tertentu setelah memenuhi persyaratan
yang ditentukan. Pemberian persetujuan untuk mengangsur pambayaran pajak
diberikan atas permohonan wajib pajak. Angsuran pembayaran pajak yang
terutang harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga
sebesar dua persen sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar.
Selain

memberikan

persetujuan

mengangsur

pembayaran

pajak

bupati/walikota atau pejabar yang ditunjuk dapat memberikan persetujuan kepada

Universitas Sumatera Utara

wajib pajak untuk menunda pembayaran pajak terutang dalam kurun waktu
tertentu. Setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan pemberian persetujuan
untuk menunda pembayaran pajak diberikan atas permohonan wajib pajak,
dengan dikenakan bunga sebesar dua persen sebulan dari jumlah pajak yang
belum atau kurang dibayar. Persyaratan untuk dapat mengangsur atau menunda
pembayaran pajak serta tata cara pembayaran angsuran ditetapkan dengan
keputusan bupati/walikota.

Universitas Sumatera Utara

BAB IV
ANALISA DAN EVALUASI
Dengan Berkembang pesatnya masyarakat di kota Medan ini, mendorong
pengusaha untuk membuka banyak restoran yang sesuai dengan selera dan
keinginan masyarakat yang beraneka ragam tersebut. Dari sekian banyak restoran
yang ada di kota Medan, peneliti melakukan riset di beberapa restoran di kota
Medan khususnya restoran di Hotel Pardede Internasional Medan. Untuk lebih
mengetahui tentang restoran yang ada di Hotel Pardede Medan, data-datanya
adalah sebagai berikut:
4.1.Pendaftaran dan Pelaporan
Kegiatan pendaftaran dan pendataan di awali dengan datang langsung ke
Dinas Pendapatan Daerah sebelumn restoran beroperasi. Kemudian wajib pajak
dapat mengisi formulir pendaftaran dan pendataan dengan jelas, lengkap dan
dapat langsung di kembalikan kepada petugas setempat. Yang kemudian akan bisa
di keluarkan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah.
Wajib pajak restoran melaporkan kepada kepala dinas pendapatan daerah
kabupaten/kota. Mengisi Surat Pemberitahuan Pajak Daerah dengan jelas, lengkap
dan benar dan ditandatangani oleh pengusaha restoran. Dalam hal ini, Surat
Pemberitahuan Pajak Daerah disampaikan paling lama 15 hari setelah akhir masa
pajak.

Universitas Sumatera Utara

4.2.Mekanisme Perhitungan pajak restoran
Perhitungan pajak restoran pada praktiknya yang terdapat di hotel pardede
medan dihitung sebesar 10% dari sub total penjualan makanan dan minuman di
restoran untuk servis charge. Yang kemudian akan dikenakan pajak sebesar 10%
dari sub total ditambah dengan jumlah servis charge penjualan makanan dan
minuman, atau bisa juga dikenakan sebesar 11% dari sub total penjualan.
Sebagai contoh turut peneliti lampirkan contoh perhitungan pada salah
satu restoran di hotel pardede medan yaitu pada Bar restoran, sebagai berikut :
08/05/2011-01:02 pm
Panther Stout Jumbo
2*

60.800

121.000

Fresh Orange Juice
3*

25.500

76.500

Johnie Walker Red La
1*

95.000

95.000

24.500

24.000

Coca-cola
1*

Kentang Goreng
1*

23.500

23.500

-----------------------------------------------Sub Total (+/+)
Service Charge : 10%

340.500
34.050

Universitas Sumatera Utara

Tax

: 11%

Amount Paid

37.455
415.005

Data : Bar Restoran
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa besarnya tarif yang dikenakan pada
restaurant Bar adalah sebesar 10% dari sub total + Service Charge penjualan
makanan dan minuman.
4.3.Mekanisme Pembayaran Pajak Restoran
Mekanisme pembayaran pajak restoran pada restoran-restoran yang ada di
hotel pardede medan adalah setiap pembayaran yang dilakukan oleh subjek pajak
yang dalam hal ini adalah pembeli/pelanggan melalui bill atau yang biasa disebut
dengan bukti transaksi. Kemudian bill tersebut di totalkan per hari dari semua
makanan dan minuman yang terjual di restoran tersebut yang kemudian akan
masuk ke dalam catatan rincian laporan pajak pembangunan 1 (PB1), dalam
rincian laporan pajak pembangunan 1 tercatat semua transaksi selama satu bulan
penuh dari setiap bulannya dan catatan setiap bulan tersebut digabungkan menjadi
12 bulan atau setahun yang kemudian akan dijumlahkan beberapa besarnya pajak
restoran yang harus dibayar. Dari situ akan dilaporkan dan dimasukkan ke dalam
SPTPD (Surat Pemberitahuan Pajak Daerah). Setelah mengisi SPTPD tersebut
lalu pihak restoran yang dalam hal ini bersama dengan pihak hotel melaporkan
besarnya pajak terutang yang tertera dalam SPTPD dan membayar ke bank yang
di tunjuk oleh Bupati/Walikota sebagai tempat pembayaran pajak.
Sebagai bukti turut peneliti lampirkan rincian laporan pajak pembangunan
bulan Januari sampai dengan Mei 2011, sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

4.4.Hambatan Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran
Dalam penelitiannya, peneliti menemukan beberapa kendala yang terjadi
pada saat perhitungan dan pembayaran pajak restoran, yaitu sebagai berikut :
1. Kesalahan tulis pada saat perhitungan pajak restoran yang dilakukan
besarnya pajak terhutang.
2. Lambatnya pihak restoran memberikan data kepada accounting hotel
untuk pembayaran pajak terhutangnya.
3. Ketidaktahuan

pengusaha

terhadap

pengetahuan

perpajakan,

pengusaha tidak tahu untuk apa, bagaimana, kapan dan kepada siapa
pajak harus dibayarkan.
4. Rendahnya kerjasama antara pengusaha dengan fiskus. Hal ini
menyebabkan

terhambatnya

proses

pengurusan

administrasi

perpajakan.

Universitas Sumatera Utara

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.1.1.Mekanisme perhitungan pajak restoran yaitu :
a) 10% pemotongan dari sub total penjualan makanan dan minuman
untuk service charge.
b) 11% pemotongan dari sub total penjualan makanan dan minuman
untuk pajak, atau
c) 10% pemotongan dari sub total penjualan makanan dan minuman
ditambah dengan service charge.
5.1.2.Mekanisme pembayaran pajak restoran yaitu :
a) Setiap pembayaran yang dilakukan oleh subjek pajak yang dalam hal
ini adalah pembeli/pelanggan melalui bill atau yang biasa disebut
dengan bukti transaksi.
b) Kemudian bill tersebut di totalkan perhari dari semua makanan dan
minuman yang terjual di restoran tersebut yang kemudian akan masuk
kedalam catatan rincian laporan pajak pembangunan 1 (PB1), dalam
rincian laporan pajak pembangunan 1 tercatat semua transaksi selama
satu bulan penuh dari setiap bulannya dan catatan setiap bulan tersebut
digabungkan menjadi 12 bulan atau setahun yang kemudian akan di
jumlahkan berapa besarnya pajak restoran yang harus dibayar.

Universitas Sumatera Utara

c) Dari situ akan dilaporkan dan dimasukkan ke dalam SPTPD (Surat
Pemberitahuan Pajak Daerah).
d) Setelah mengisi SPTPD tersebut lalu pihak restoran yang dalam hal ini
bersama dengan pihak hotel melaporkan besarnya pajak terutang yang
tertera dalam SPTPD dan membayar ke bank yang ditunjuk oleh
Bupati/Walikota sebagai tempat pembayaran pajak.
5.1.3.Hambatan dalam pemungutan pajak restoran :
1. Ketidaktahuan pengusaha terhadap pengetahuan perpajakan pengusaha
tidak tahu untuk apa, bagaimana, kapan dan kepada siapa pajak harus
dibayarkan.
2. Rendahnya kerjasama antara pengusaha dengan fiskus.Hal ini
menyebabkan

terhambatnya

proses

pengurusan

administrasi

perpajakan.
5.2.Saran
1) Pemerintah harus membuat peraturan sedemikian rupa sehingga
mudah

dimengerti oleh pengusaha. Jika produk yang dibuat sulit

dimengerti oleh pengusah/masyarakat, maka secara otomatis akan
timbul satu bentuk perlawanan pajak dengan cara, bentuk dan dalihnya
bisa bermacam-macam. Pemerintah memberikan pengertian kepada
masyarakat,

memberikan

bimbingan

dan

penyuluhan

serta

menerbitkan buku-buku peraturan,prosedur dan perhitungan pajak.

Universitas Sumatera Utara

Selain itu juga diadakan seminar perpajakan dengan mengundang
pakar dalam bidang ini.
2) Bagi para tenaga kerja/pegawai di Kantor Pelayanan Pajak/Bank tetap
ramah dan sabar dalam menghadapi para wajib pajak yang ingin
mengurus kegiatan administrasi perpajakannya. Karena para wajib
pajak masih banyak yang belum mengerti tentang perpajakan dan
kalau misalnya wajib pajak/pengusaha ingin bertanya kepada pegawai
tidak canggung lagi sehingga kegiatan perpajakan akan lancar.
3) Dengan memperbanyak buku panduan perpajakan bagi masyarakat
dengan harga yang tidak terlalu mahal agar bisa terjangkau oleh
masyarakat dan diusahakan agar bahasa yang digunakan mudah
dimengerti oleh pembacanya.
4) Khususya di Kantor Pelayanan Pajak/Bank hendaknya dalam
menempatkan para pegawai sesuai dengan tingkat pendidikan,
pengalaman dan keterampilannya. Karena dengan hanya melihat
pendidikannya belumlah terjamin bahwa pegawai tersebut akan
mampu untuk melayani para wajib pajak dengan sempurna. Tetapi
dengan ditambah pengalaman dan keterampilan maka akan lebih
terjamin sama antara pegawai dengan wajib pajak.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA

Mustaqiem, 2008, Pajak Daerah, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia
Press, Yogyakarta.

Siahaan, Marihot P, 2005, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, PT Raja Grafindo
Persada Jakarta

Undang – undang No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah

Undang – undang No 32 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah

Undang – undang No 34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah

Peraturan Pemerintah No 65 Tahun 2001 Tentang Peraturan Pajak Daerah

Universitas Sumatera Utara