Pengaruh pemberian ZPT (Rootone-F) terhadap pertumbuhan stek Duabanga moluccana, Blume.

(1)

PERTUMBUHAN STEK Duabanga moluccana, Blume.

KAKA ENINDHITA PRAKASA

DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR


(2)

PERTUMBUHAN STEK Duabanga moluccana, Blume.

KAKA ENINDHITA PRAKASA

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan Pada Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR


(3)

(Rootone-F) Terhadap Pertumbuhan Stek Duabanga mollucana. Blume. Dibawah bimbingan Dr. Ir. Supriyanto

Ringkasan

Kebutuhan bahan baku kayu yang tinggi untuk menjalankan industri kehutanan menyebabkan para pengusaha kehutanan mulai beralih dari penggunaan kayu dari hutan alam ke hutan tanaman yang mengembangkan jenis - jenis cepat tumbuh. Duabanga moluccana

Blume, merupakan salah satu jenis pohon asli Indonesia yang cepat tumbuh dan memiliki karakteristik yang baik untuk bahan baku industri. Perbanyakan jenis D. mollucana selain dapat dilakukan melalui benih dapat juga dilakukan dengan perbanyakan vegetatif. Stek pucuk dan stek batang merupakan salah satu cara alternatif untuk memperoleh bibit unggul dalam jumlah yang memadai dalam waktu yang tepat. Penambahan zat pengatur tumbuh (Rootone - F) diharapkan dapat meningkatkan persentase berakar dan persentase hidup stek.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ZPT terhadap pertumbuhan stek pucuk dan stek batang bibit D. mollucana. Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan masukan dalam pengadaan bibit berkualitas dari kebun pangkas D. mollucana.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dengan sistem KOFFCO (Komatsu-Forda Fog Cooling System) di Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Kementrian Kehutanan, Gunung batu, Bogor, Jawa Barat selama bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2010. Bahan yang digunakan adalah pucuk dan batang bibit

Duabanga mollucana dari benih pohon plus (M07) di Kebun SEAMEO BIOTROP. ROOTONE-F, Dithane M45. sekam padi, cocopeat, dan zeolite. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor yang pertama adalah bahan stek yaitu pucuk dan batang , dan faktor kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh dari Rootone-F yaitu 0 ppm, 500ppm, 1000ppm, 1500ppm. Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah : (1) Persentase hidup, (2) Persentase berakar, (3) Jumlah akar, (4) Panjang akar, (5) Berat basah dan berat kering akar, (6) Berat bash dan berat kering pucuk, (7) Nisbah pucuk akar. Kemudian data yang diperoleh diolah dan dilakukan sidik ragam dan uji lanjut.

Hasil penelitian menunjukkan stek pucuk berpengaruh sangat nyata terhadap parameter (1) Persentase hidup, (2) Persentase berakar, (3) Jumlah akar, (4) Panjang akar, (5) Berat basah dan berat kering akar, (6) Berat basah dan berat kering pucuk, (7) Nisbah pucuk akar, sedang stek batang tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter tersebut diatas. Persentase berakar rata-rata pada stek pucuk 82% dan pada stek batang 0 %. Demikian juga konsentrasi hormon tidak berpengaruh nyata terhadap keberhasilan stek, karena stek pucuk tanpa hormon menghasilkan persentase berakar yang tinggi (77%), diikuti dengan konsentrasi 500 ppm (80%), 1500 ppm (83%), dan 1000 ppm (87%). Interaksi antara bahan stek dan konsentrasi ZPT tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter yang diukur karena stek batang pada semua konsentrasi ZPT tidak berakar, sementara itu stek pucuk pada semua konsentrasi ZPT tidak berbeda nyata sebagai akibat stek pucuk tanpa ZPT berakar dan memiliki persentase hidup yang tinggi (77%).


(4)

ON CUTTINGS OF DUABANGA MOLLUCANA BLUME By :

Kaka E. Prakasa and Supriyanto

INTRODUCTION Insufficient supply of raw materials to support wood based industries in Indonesia cause of the changes on orientation for wood supply from natural forest to plantation forest in developing fast growing tree species. Duabanga mollucana Blume, is an Indonesian native fast growing tree species that have good characteristic as raw materials for wood based industries. Vegetative propagation can be done to this species besides their ability to be propagated from seed. Shoot and stem cuttings are alternative ways to obtain qualified seedlings in appropriate amounts and timely manner. Plant growth regulator treatment was expected to increase cutting's survival rate and rooting percentage.

Objective of this research was to determine the effect of plant growth regulator on the growth of shoot and stem cutting of Duabanga moluccana. This research would be useful to provide information for the production for high quality seedlings.

MATERIAL AND METHOD This research was carried out on green house with KOFFCO system (Komatsu-Forda Fog Cooling System) at Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Gunung Batu, Bogor, West Java. from August to october 2010. Materials used in this research were shoot and stem of Duabanga seedlings from selected mother trees (M07) from SEAMEO BIOTROP, Rootone-F, Dithane M-45, rice husk, cocopeat, and zeolite. The experimental design in this research was completely randomized design with 2 factors and 3 replicates. The first factor was source of cutting material (shoot and stem) and the second factor was concentration of plant growth regulator (0 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, and 1500 ppm). Growth parameters observed were (1) survival rate, (2) rooting percentage, (3) number of roots, (4) root length, (5) root fresh weight and dry weight (6) shoot fresh weight and dry weight (7) shoot-root ratio. Data was processed with analysis of variance then followed by fisher's LSD test.

RESULT AND CONCLUSION Analysis of variance was conducted to explore the impact of all factors on growth parameters, shoot cutting was found to be the most significantly different related to each growth parameters observed; those were (1) survival rate, (2) rooting percentage, (3) number of roots, (4) root length, (5) root fresh weight and dry weight (6) shoot fresh weight and dry weight (7) shoot-root ratio , beside that, stem cuttings was not significantly different related to those growth parameters observed. Rooting percentage on shoot cuttings was 82% and stem cuttings was 0%. Plant growth regulator treatments were not significantly affected cuttings, because control (0 ppm) on shoot cuttings showed high rooting percentage value (77%), followed by 500 ppm (80%), 1500 ppm (83%), and 1000 ppm (87%). Interaction between source of materials and concentration of plant growth regulators was also not significantly related on each growth parameters observed because all of stem cutting could not survive during root primordial initiation, shoot cuttings was also not significantly different related to those growth parameters observed, because control (0 ppm) on shoot cuttings produced significant survival rate (77 %).


(5)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Pemberian ZPT (Rootone-F) Terhadap Pertumbuhan Stek Duabanga moluccana, Blume. adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing yang belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain, telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Januari 2011

Kaka Enindhita Prakasa NRP. E14204027


(6)

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Pengaruh Pemberian ZPT (Rootone-F) Terhadap Pertumbuhan Stek

Duabanga moluccana. Blume. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Skripsi ini mengemukakan upaya penulis dalam mencari alternatif produksi bibit Duabanga dan upaya untuk meningkatkan keberhasilan produksinya. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan produksi dalam pengadaan bibit Duabanga dan kegiatan konservasinya. Penulis mengharapkan kritik dan saran guna penyempurnaan karya ilmiah ini. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan teknologi perbanyakan tanaman kehutanan di Indonesia. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih kepada segala pihak yang ikut membantu dalam penyelesaian karya ilmiah ini.


(7)

Penyusunan skripsi ini yang tidak terlepas dari berbagai pihak yang telah ikut mendukung dan memberi bantuan. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Dr. Ir. Supriyanto selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu serta senantiasa selalu memberikan bimbingan, saran, dan koreksi kepada penulis sejak perencanaan praktek penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini.

2. Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, MSc dan Dr. Ir. Agus Hikmat, MS selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan yang bermanfaat bagi penulis.

3. Dr. Ir. Atok Subiakto, MSi. Atas fasilitas yang diberikan selama di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor .

4. Prof. Dr. Ir. Andry Indrawan, MS, Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana. MS. Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda. MSc., Dr. Ir. Siti Chalimah. MSi., Drs. Imam Mawardi. yang telah memberikan saran-saran yang membangun bagi penulis.

5. Bapak dan Ibu, serta Mas Dodik, Dani, Dina, dan seluruh keluarga besar atas doa restu, kesabaran dan dorongan moril maupun materilnya selama ini.

6. Segenap pegawai Fakultas Kehutanan IPB, terutama Tata Usaha Fakultas Kehutanan IPB dan KPAP Silvikultur.

7. Asep dan rekan-rekan di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor, Sarif Wahyudi dan rekan-rekan di persemaian PT.ATN atas bantuan yang diberikan selama percobaan.

8. Keluarga Besar Fahutan atas kebersamaan dan kekeluargaannya selama ini, terutama BDH 41.

9. Rekan-rekan di BTech, KPLI Bogor dan dev.blankonlinux.or.id atas dukungan dan doanya .

10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.


(8)

Penulis dilahirkan di Magetan pada tanggal 27 Juli 1986 sebagai putra kedua dari empat bersaudara dari keluarga Bapak Sri Margono dan Ibu Titik Marwati.

Pendidikan formal penulis dimulai pada tahun 1992 – 1997 di SD Negeri Jajar I Surakarta, kemudian dilanjutkan di SMP Negeri 2 Surakarta hingga lulus tahun 2001 pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke SMU Negeri 2 Surakarta dan lulus pada tahun 2004.

Tahun 2004, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui program Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan Departemen Silvikultur Program Studi Budidaya Hutan angkatan 41. Selama kuliah di IPB, penulis aktif di UKM MAX!! (2004–2007), dan Badan Eksekutif Mahasiswa (2005–2006) dan (2007–2008). Selain itu diluar kampus IPB penulis aktif di Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) cabang Bogor (2007– sekarang) dan sebagai ketua KPLI Bogor pada tahun 2009 - 2010. Pada tahun 2007 penulis melakukan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan di Cilacap – Baturraden Jawa Tengah dan Praktek Pengelolaan Hutan di KPH Getas Jawa Timur serta Praktek Kerja Lapangan di PT. TIMAH tbk pada tahun 2008.

Sebagai syarat dalam memperoleh gelar sarjana kehutanan pada Fakultas Kehutanan IPB, penulis melakukan praktek khusus berupa penelitian yang berjudul Pengaruh Pemberian ZPT (Rootone-F) Terhadap Pertumbuhan Stek


(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI...i

DAFTAR TABEL...iii

DAFTAR GAMBAR...v

DAFTAR LAMPIRAN...vi

I. PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Tujuan...2

1.3 Manfaat...2

II. TINJAUAN PUSTAKA ...3

2.1 Tinjauan Umum Duabanga (Duabanga moluccana Blume.)...3

2.1.1 Klasifikasi dan penyebaran...3

2.1.2 Ekologi, botani dan silvikultur...4

2.1.3 Prospek dan manfaat...5

2.2 Pembiakan Vegetatif Stek...5

2.2.1 Fungsi stek...7

2.2.2 Stek pucuk...8

2.3 Batang tanaman...8

2.4 Faktor Penentu Keberhasilan stek...10

2.4.1 Faktor internal ...10

2.4.2 Faktor eksternal ...12

2.5 Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) ...14

2.6 Sistem Perakaran Tanaman ...17

III. METODOLOGI...19

3.1 Waktu dan tempat...19

3.2 Bahan dan alat ...19


(10)

3.3.1 Parameter yang diukur...20

3.4 Metode Kerja ...21

3.4.1 Penyiapan media tanam...23

3.4.2 Penyiapan ZPT...23

3.4.3 Penyiapan bahan stek...23

3.4.4 Penanaman stek...24

3.4.5 Pemeliharaan ...24

3.4.6 Pengolahan data ...25

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...26

4.1 Hasil...26

4.1.1 Pengamatan visual...26

4.1.2 Pengamatan parameter pertumbuhan...27

4.2Pembahasan...42

4.2.1 Pengaruh bahan stek...43

4.2.2 Pengaruh konsentrasi hormon...45

4.2.3 Pengaruh interaksi bahan stek dan konsentrasi hormon...48

V. KESIMPULAN DAN SARAN...50

5.1 Kesimpulan...50

5.2 Saran...50


(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Keunggulan dan kelemahan perbanyakan dengan stek...7 2. Rekapitulasi hasil sidik ragam pengaruh perbedaan konsentrasi ZPT

terhadap stek pucuk dan stek batang...28 3. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

persentase hidup...29 4. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

persentase hidup...29 5. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap

persentase hidup...30 6. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

persentase berakar...31 7. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek terhadap persentase berakar...31 8. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap

persentase berakar...32 9. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

jumlah akar...33 10. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

jumlah akar...33 11. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap jumlah akar...34 12. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

panjang akar...35 13. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

panjang akar...35 14. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap panjang akar...36

15. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

bobot kering pucuk...37 16. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap bobot


(12)

17. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap

bobot kering pucuk...38 18. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

bobot kering akar...39 19. Hasil sidik ragam pengaruh bahan dan konsentrasi ZPT terhadap

bobot kering akar...39 20. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap parameter

bobot kering akar...40 21. Rekapitulasi data pengaruh bahan dan konsentrasi ZPT terhadap Nisbah

Pucuk Akar (NPA) ...41 22. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap

Nisbah Pucuk Akar (NPA)...41 23. hasil uji lanjut fisehr's LSD bahan stek pada parameter Nisbah Pucuk Akar


(13)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Daun, Bunga dan Buah Duabanga moluccana...5

2. Ilustrasi Koffco System (Subiakto. et al., 2007)...22

3. Perendaman stek Duabanga moluccana dengan ZPT (Rootone-F)...23

4. Penanaman stek batang dan stek pucuk Duabanga moluccana...24

5. Kondisi stek batang Duabanga moluccana pada 6 MST...26

6. Kondisi stek pucuk Duabanga moluccana pada 6 MST...27

7. Stek Pucuk Duabanga moluccana...34

8. Stek batang Duabanga moluccana yang mati dan tidak berakar...34

9. Perakaran stek pucuk Duabanga moluccana pada 3 MST...44


(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Rekapitulasi data pengamatan stek pucuk pada perlakuan ZPT 0 ppm...52

2. Rekapitulasi data pengamatan stek pucuk pada perlakuan ZPT 500 ppm...53

3. Rekapitulasi data pengamatan stek pucuk pada perlakuan ZPT 1000 ppm...54

4. Rekapitulasi data pengamatan stek pucuk pada perlakuan ZPT 1500 ppm...55

5. Rekapitulasi data pengamatan Stek Batang pada perlakuan ZPT 0 ppm...56

5. Rekapitulasi data pengamatan Stek Batang pada perlakuan ZPT 500 ppm...57

5. Rekapitulasi data pengamatan Stek Batang pada perlakuan ZPT 0 ppm...58


(15)

1.1 Latar Belakang

Industri kehutanan pernah menjadi salah satu kontributor terbesar dalam pembangunan ekonomi di Indonesia, namun hal itu sudah tidak terjadi lagi sejak kebutuhan bahan baku untuk menjalankan industri kehutanan tidak mampu memenuhi kapasitas industri yang dibutuhkan (Kewilaa, 2007). Berdasarkan data Departemen Kehutanan per Mei 2010 industri kayu lapis di pulau Jawa membutuhkan bahan baku 114.000 m3/bulan untuk memenuhi kapasitas produksinya, sedangkan kebutuhan Indonesia secara keseluruhan adalah 20.640.331 m3. Untuk menyikapi hal tersebut, banyak pengusaha mulai beralih dari penggunaan bahan baku industri dari hutan alam ke hutan tanaman yang mengembangkan jenis – jenis pohon cepat tumbuh seperti sengon dan saat sekarang banyak ditanam jenis jabon karena sengon banyak diserang penyakit karat puru.

Duabanga moluccana Blume, merupakan salah satu jenis pohon asli Indonesia yang cepat tumbuh dan memiliki karakteristik yang baik untuk bahan baku industri. Pohon ini memiliki ketinggian hingga 45 meter dan diameter hingga 100 cm (BPTH Bali dan Nusa Tenggara, 2009), disamping itu bentuk batangnya yang bulat dan lurus membuat jenis ini cocok untuk bahan baku berbagai industri kayu mulai dari bahan bangunan, kayu lapis, korek api, dan lain lain sehingga jenis ini sangat potensial untuk dibudidayakan.

Perbanyakan jenis D. moluccana dapat dilakukan melalui benih karena jenis ini tergolong mudah berkecambah. Persentase kecambah tanaman ini mencapai 87,5% (BPTH Bali dan Nusa Tenggara, 2009) namun kecambahnya sangat mudah terserang dumping off atau busuk akar. Dalam perbanyakan bibit melalui benih, terdapat beberapa permasalahan yang seringkali dijumpai dilapangan yaitu : (1) D. moluccana berbuah sepanjang tahun namun tingkat kemasakan buahnya tidak seragam. (2) Buah D.moluccana masak kemudian pecah di pohon sehingga untuk memanennya harus dilakukan pengunduhan secara


(16)

langsung ketika buah belum pecah (3) Benih D.moluccana tidak dapat disimpan terlalu lama karena benihnya bersifat rekalsitran. (4) Pada saat dikecambahkan jenis D. moluccana rentan terhadap serangan jamur Pythium yang menyebabkan lodoh, dan serangan ulat pemakan daun kecambah D.moluccana.

Perbanyakan vegetatif melalui stek batang dan pucuk merupakan salah satu cara alternatif yang dapat dilakukan untuk memperoleh bibit unggul dalam jumlah yang memadahi dan dalam waktu yang cepat, disamping itu tanaman hasil perbanyakan vegetatif seperti stek memiliki sifat yang sama dengan induknya. Perbanyakan bibit melalui teknik stek pada umumnya tidak memerlukan biaya yang besar sehingga lebih terjangkau dan dapat dilakukan sepanjang tahun. Keberhasilan stek dapat ditentukan oleh faktor internal (mutu fisiologi) dan faktor eksternal (lingkungan).

Penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) pada stek diharapkan dapat meningkatkan persentase hidup dan persentase berakar stek D. moluccana seerta untuk menstimulir perakaran apabila hormon endogen tidak tercukupi. Pada percobaan ini dilakukan stek pucuk dan stek batang bibit tanaman D. moluccana

dengan pemberian Rootone-F dengan beberapa konsentrasi yaitu 500 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm.

1.2 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ZPT terhadap pertumbuhan stek pucuk dan stek batang bibit D. moluccana.

1.3 Manfaat

Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan masukan dalam pengadaan bibit berkualitas dari kebun pangkas D. moluccana.


(17)

2.1 Tinjauan Umum Duabanga (Duabanga moluccana Blume.).

2.1.1 Klasifikasi dan penyebaran

Duabanga moluccana Blume. dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Plantamor, 2008) :

Kingdom : Tumbuhan tingkat tinggi

Sub-kingdom : Tracheobionta – Tanaman berpembuluh Super-divisi : Spermatophyta – Tanaman berbiji Divisi : Magnoliophyta – Tanaman berbunga Klas : Magnoliopsida – Berkeping dua / dikotil Sub-klas : Rosidae

Ordo : Myrtales

Famili : Soneratiaceae

Genus : Duabanga

Species : Duabanga moluccana, Blume

Allaby (1998) menyatakan Duabanga merupakan salah satu jenis pohon yang tersebar dari pegunungan Himalaya hingga New Guinea, tanaman ini memiliki percabangan monopodial dan penyerbukannya terjadi di malam hari dibantu oleh kelelawar, buahnya berbentuk kapsul. Duabanga menghasilkan kayu ringan berwarna pucat yang berharga.

Nama Duabanga diberikan oleh Francis Hamilton dari bahasa daerah Tripura yaitu Duyaabangga, pohon ini memiliki batang yang lurus setinggi 40 – 80 kaki atau sekitar 12 – 24 meter tumbuh lurus penuh atau membelah dari bawah. Percabangannya menyebar dan terkulai dari batangnya, memiliki susunan daun opposite, bunganya berbentuk lonceng tertutup 6 buah kelopak yang akan segera rontok, serta memiliki benang sari yang sangat banyak.


(18)

2.1.2 Ekologi, botani dan silvikultur a. Ekologi

Berdasarkan floristik melanesia, marga Duabanga terdiri dari D. grandiflora, D. moluccana, dan D. sonneratioides. D. grandiflora dan D. sonneratioides penyebarannya secara geografis terdapat di Malaysia Barat (Semenanjung Malaya), Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Nusa Tenggara. Sebaran

D. moluccana di Malaysia Timur, Sulawesi, kep. Maluku, Papua, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Khusus di Nusa Tenggara Barat di Gunung Tambora Pulau Sumbawa D.moluccana tumbuh secara homogen.

Duabanga moluccana tumbuh di hutan yang terbuka pada ketinggian 300-1200 mdpl, secara alami pertumbuhan yang baik adalah 400- 900 mdpl, pada kondisi hutan musim, dengan curah hujan rata-rata 2000-3500 mm/tahun, tipe iklim B-C menurut Schmidt dan Ferguson, rata rata suhu 27oC-32oC pada siang hari dan 15oC-24oC pada malam hari, kelembaban relatif pada musim kemarau 60% - 70%. Jenis ini termasuk intoleran (membutuhkan cahaya) untuk pertumbuhannya. Sumber benih Duabanga di wilayah BPTH Bali dan Nusa Tenggara di Wanariset Rarung Kabupaten Lombok Tengah Propinsi NTB.

b. Botani

Tinggi tanaman hingga 25- 45 m, diameter batang 70-100 cm, batang lurus dan bulat. Permukaan kulit tidak teratur, tetapi agak pecah dan bersisik, ciri pohon tua adalah kulit luar berwarna kelabu coklat muda dan memiliki lenti sel dengan warna coklat tua, kulit bagian dalam berserat halus getah berwarna kecoklatan pada bagian kambium sedikit berwama kemerahan. Banir batang rendah yaitu 50 cm dari permukaan tanah. Daun berbentuk bulat telur (ovate), panjang 9-14 cm, lebar 4-8 cm ujung daun runcing memanjang, dasar daun membulat. Tulang daun primer pada bagan bawah daun menonjol. Tulang daun sekunder terdiri dari 15-16 pasang dan membentuk sudut 60 terhadap tulang daun primernya dengan tulang daun tersier berbentuk jala.


(19)

c. Silvikultur

Buah Duabanga termasuk buah kapsul dan kemasakannya tidak seragam. Buahnya berkatup 4-8, biji banyak, warna coklat tua sampai hitam, panjang rata rata 2,65 cm. Benih sangat halus, albumen tidak ada, berekor di kedua ujungnya, berwama coklat muda sampai tua, panjang rata-rata 0,6 cm, lebar rata-rata 0,1 cm.

2.1.3 Prospek dan manfaat

Tanaman D. moluccana, Blume. memiliki berat jenis 0,39 (0,27-0,52), kelas awet IV -V dan kelas kuat III- IV, banyak digunakan untuk kayu pertukangan, veneer kayu lapis, pembuatan papan semen dan pulp. Kayu teras D.

molluccana berwarna kuning muda atau coklat kekuningan sedangkan kayu gubal berwarna lebih muda tetapi tidak ada batas yang jelas dengan kayu terasnya. Tekstur urat kayunya kasar dengan arah serat lurus atau terpadu padat seratnya.

2.2 Pembiakan vegetatif stek

Pembiakan vegetatif adalah salah satu cara memperbanyak tumbuhan tanpa menggunakan biji. Tumbuhan diperbanyak dari bagian-bagian vegetatif yakni akar, batang dan daun. Individu yang terbentuk memiliki sifat yang sama dengan induknya (Harahap, 1972). Pembiakan vegetatif (asexual propagation) melibatkan perbanyakan dari bagian-bagian vegetatif tanaman dan dimungkinkan


(20)

oleh karena adanya kemampuan dari bagian-bagian vegetatif untuk beregenerasi (Hartmann dan Kester, 1968) .

Menurut Harahap (1972), pembiakan vegetatif secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu :

(1) Allovegetative propagation, yaitu pembiakan vegetatif pada dua jenis genotip yang berbeda seperti pada sambungan dan okulasi.

(2) Autovegetative propagation, yaitu pembiakan vegetatif dari genotip yang sama seperti pada cangkok dan stek.

Dengan cara stek dan cangkok diusahakan agar terbentuk akar adventif pada pangkal stek dan bidang cangkok, sedangkan pada penyambungan atau tempel/okulasi tidak diperlukan terbentuknya akar adventif namun memiliki tanaman baru hasil dari menggabungkan sifat tanaman yang dikehendaki (Moko, 2004).

Stek dapat dibedakan berdasarkan bagian tanaman yang dijadikan bahan stek, yaitu stek akar, stek batang, stek pucuk, stek umbi dan sebagainya. Stek yang dilakukan pada bagian atas tanaman disebut stek pucuk dan stek batang, bertujuan untuk mengoptimalkan pembentukan sistem perakaran baru. Sementara stek yang dilakukan pada bagian bawah tanaman seperti stek akar, bertujuan untuk mengoptimalkan pembentukan sistem bagian atas tanaman. Stek daun bertujuan pembentukan sistem perakaran dan batang tanaman (Rochiman dan Hardjadi, 1973; Hartmann dan Ketser, 1983).


(21)

Tabel 1. Keunggulan dan kelemahan perbanyakan dengan stek.

Keunggulan Kelemahan

• Menghasilkan pertumbuhan bibit yang homogen dengan jumlah dan waktu yang diinginkan, serta tahan terhadap hama dan penyakit.

• Dapat digunakan untuk

menganalisa tempat tumbuh.

• Dapat digunakan untuk

menghasilkan bibit dengan mutu genetik yang sama dengan induknya

• Dapat ditanam pada permukaan air tanah yang dangkal, karena tanaman hasil stek tidak memiliki akar tunggang

• Penyetekan dapat dilakukan secara

berulang, konsisten serta

berkelanjutan

• Sederhana dan murah

• Pembentukan akar pada stek cenderung lebih lama.

• Perakaran dangkal dan tidak ada akar tunggang, saat terjadi angin kencang tanaman menjadi mudah roboh.

• Apabila musim kemarau panjang, tanaman menjadi tidak tahan kekeringan

Sumber : Rochimi(2008).

2.2.1 Fungsi stek

Teknik perbanyakan vegetatif tanaman mempunyai peranan penting dalam program pembangunan hutan tanaman (Moko, 2004 dalam Rochimi, 2008). Menurut Wright (1962) dalam Husnaeni (1996), pembiakan vegetatif dalam rangka pemuliaan pohon berfungsi untuk :

(1) Pembiakan secara besar-besaran, misalnya dengan stek.

(2) Mempermudah dan memperlancar penyerbukan terkontrol pada kebun benih.

(3) Memperlancar produksi buah pada pohon-pohon kerdil. (4) Menentukan variasi genetik suatu jenis pohon.

(5) Melindungi atau memelihara plasma nutfah yang unggul untuk percobaan persilangan.

(6) Memperoleh tanaman yang mempunyai sifat genetik yang identik dengan induknya.


(22)

2.2.2 Stek pucuk

Stek pucuk adalah sebuah metode yang penting dalam perbanyakan tanaman hutan. Stek pucuk merupakan sebuah teknik perbanyakan vegetatif sederhana yang dapat diterapkan pada jenis tanaman pohon. Pada dasarnya teknik stek pucuk dikembangkan dari teknik stek batang yang telah diaplikasikan secara luas pada tanaman hutan seperti pada famili Dipterocarpaceae, Morus alba, Peronema canescens dan Pterocarpus indicus.(Subiakto, 2007).

Teknik yang tergolong sederhana namun dapat digunakan untuk produksi masal bibit secara vegetatif adalah teknik stek pucuk (Kantarli, 1993; Zabala, 1993, dalam Subiakto 2007). Untuk perbanyakan secara masal jenis-jenis pohon hutan, stek pucuk merupakan teknik penting karena sederhana dan telah diaplikasikan pada skala operasional pembangunan hutan tanaman (Subiakto, 2007).

2.3 Batang tanaman

Tjitrosoepomo (2000) menyatakan bahwa batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang amat penting, mengingat tempat serta kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan. Batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan

Pada umumnya batang memiliki sifat-sifat berikut:

(1) Umumnya berbentuk bulat panjang seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk lain. Akan tetapi selalu bersifat aktinomorf, artinya dapat dengan sejumlah bidang dibagi menjadi dua bagian setangkup.

(2) Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku, dan pada buku-buku inilah terdapat daun.

(3) Tumbuhnya biasanya ke atas, menuju cahaya atau matahari (bersifat fototrop atau heliotrop),

(4) Selalu bertambah panjang di ujungnya. Oleh sebab itu sering dikatakan, bahwa batang mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas.

(5) Bercabang dan selama hidupnya tumbuhan tidak digugurkan, kecuali kadang-kadang cabang atau ranting yang kecil.


(23)

(6) Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek, misalnya rumput atau batang yang masih muda.

Sebagai bagian tubuh tumbuhan batang memiliki tugas untuk :

(1) Mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada di atas tanah, yaitu: daun, bunga, dan buah.

(2) Dengan percabangannya memperluas bidang asimilasi, dan menempatkan bagian-bagian tumbuhan di dalam ruang sedemikian rupa, hingga dari segi kepentingan tumbuhan bagian-bagian tadi terdapat dalam posisi yang paling menguntungkan

(3) Jalan pengangkutan air dan zat-zat makanan dari bawah ke atas dan jalan pengangkutan hasil-hasil asimilasi dari atas ke bawah.

(4) Menjadi tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan. Batang tumbuhan dapat dibedakan seperti berikut :

(1) Batang basah (herbaceus), yaitu batang yang lunak dan berair, misalnya pada bayam (Amaranthus spinosus L.), krokot (Portulaca oleracea L.). (2) Batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang biasa keras dan kuat, karena

sebagian besar terdiri atas kayu, yang terdapat pada pohon-pohon (arbores) dan semak-semak (frutices) pada umumnya. Pohon adalah tumbuhan yang tinggi besar, batang berkayu dan bercabang jauh dari permukaan tanah, sedangkan semak adalah tumbuhan yang tak seberapa besar, batang berkayu, bercabang-cabang dekat dengan permukaan tanah atau mungkin didalam tanah.

(3) Batang rumput (calmus), yaitu batang yang tidak keras, mempunyai ruas-ruas yang nyata dan seringkali beronga misalnya pada padi (Oryza sativa L.) dan rumput (Gramineae) pada umumnya.

(4) Batang mendong (calamus), seperti batang rumput, tetapi mempunyai ruas-ruas yang lebih panjang, misalnya pada mendong (Fimbristylis globulosa Kunth.).


(24)

2.4 Faktor Penentu Keberhasilan stek 2.4.1 Faktor internal

(1) Jenis tanaman

Jenis tanaman berpengaruh terhadap kemampuan stek menghasilkan akar dan tunas baru (Kramer dan Kozlowski, 1960). Proses perakaran pada stek tergantung dari spesies. Ada spesies yang mudah berakar cukup dengan air saja, tetapi banyak pula yang susah berakar walaupun dengan perlakuan yang khusus (Kusumo,1984. dalam Irwanto, 2003 ).

(2) Bahan stek

Kandungan nutrisi di bahan stek harus cukup, terutama persediaan karbohidrat dan nitrogen sangat mempengaruhi perkembangan akar dan tunas stek, Pada rasio C/N yang tinggi akan mempercepat pembentukan akar primordial, sedangkan rasio C/N yang rendah akan pembentukan tunas (Kramer dan Kozlowski, 1960). Daun muda dan tunas aktif dapat berperan mendorong inisiasi akar (Salisbury dan Ross, 1995).

(3) Ketersediaan air

Kehilangan air akibat pemisahan bahan stek dengan pohon induk dapat diatasi dengan memaksimalkan kelembaban udara di lingkungan sekitar bahan tanaman, misalnya peletakan bahan stek di bawah sungkup, pengurangan dan pengendalian suhu seperti memberikan naungan yang cukup terhadap sinar matahari, dan pengurangan permukaan transpirasi dengan cara memotong daun-daun stek, serta menutup ujung-ujung daun-daun dengan lilin (Kramer dan Kozlowski, 1960). Perbedaan tekanan uap daun dan udara pada stek harus dijaga serendah mungkin agar pembentukan akar berlangsung dengan optimal (Subiakto et al.,

2005).

(4) Hormon endogen

Hormon endogen hanya diproduksi oleh bagian-bagian tertentu tanaman. Apabila pada suatu tanaman dilakukan stek, maka suplai hormon dari induk akan terputus. Keberadaan hormon endogen terutama auksin diperlukan dalam


(25)

pembentukan akar dan pembelahan sel lainnya. Jika kandungan hormon endogen mencukupi, maka hormon eksogen tidak perlu diberikan (Kramer dan Kozlowski, 1960).

(5) Umur dan tipe bahan stek

Kemampuan membentuk akar dari stek dipengaruhi umur bahan stek yang bergantung pada umur pohon induk. Stek dari tanaman yang lebih muda akan lebih mudah berakar dibanding dengan tanaman yang lebih tua. Namun, apabila stek tersebut terlalu muda dan lunak, maka proses transpirasi menjadi sangat cepat dan akhirnya stek menjadi kering dan mati (Rochiman dan Harjadi, 1973).

Selain itu, jenis bahan stek dari jaringan tanaman yang masih muda lebih mudah diperbanyak dan lebih cepat terbentuk akar apabila dibandingkan dengan jaringan tanaman yang sudah tua. Semakin tua jaringan tanaman, maka semakin menurun kemampuan untuk berakar pada banyak jenis tanaman (Moko, 2004). Menurut Hartmann dan Kester (1968), bahan stek yang gagal tumbuh diakibatkan oleh :

a) Adanya penambahan produksi senyawa inhibitor yang muncul secara alami pada bagian tunas dan terangkut dalam reaksi metabolik menuju daerah perakaran

b) Pengurangan senyawa fenolik yang bersifat kofaktor auksin dalam proses inisiasi akar

c) Adanya rintangan struktur anatomi batang.

Terkait pada cincin sklerenkima kontinyu yang melingkar antara floem dan korteks tempat akar terbentuk, akan mempengaruhi dan menghalangi pembentukan akar. Kondisi daun pada cabang yang hendak diambil sebaiknya berwarna hijau tua. Dengan demikian seluruh daun dapat melakukan fotosintesis yang akan menghasilkan zat makanan dan karbohidrat. Pada proses berikut, zat ini akan disimpan dalam organ penyimpanan, antara lain di batang. Karbohidrat pada batang ini penting sebagai sumber energi yang dibutuhkan pada waktu pembentukan akar baru (Prastowo et al., 2006).


(26)

(6) Kehadiran virus penyakit

Kehadiran virus penyakit mampu menghambat dan mengurangi persentase berakar dan jumlah akar yang dibentuk (Kramer dan Kozlowski, 1960). Pada saat pengambilan bahan stek, pohon induk harus dalam keadaan sehat dan tidak sedang bertunas agar pertumbuhan stek menjadi tidak terhambat (mati atau merana).

Salah satu jenis penyakit yang sering menyerang batang adalah penyakit defisiensi nitrogen. Tanda-tanda penyakit ini adalah warna daun agak kekuningan. Kandungan nitrogen yang sangat kurang akan menyulitkan akar untuk terbentuk dan tunas-tunas yang tumbuh biasanya sangat lemah, berwarna hijau kekuningan. Oleh karena itu, cabang yang dipilih sebaiknya berwarna kehijauan. Cara melihat warna cabang tersebut adalah dengan mengelupas kulit ari cabang (Wudianto, 1996).

2.4.2 Faktor eksternal (1) Suhu

Menurut (Kramer dan Kozlowski, 1960) menyatakan bahwa, suhu udara yang tepat untuk merangsang pembentukan akar primordial untuk setiap jenis tanaman berbeda- beda. Kisaran suhu lingkungan yang baik untuk merangsang pembentukan akar adalah 21 - 27° C (70 – 80 °F). Pada umumnya suhu yang optimum digunakan adalah 29°C, sedangkan suhu media sekitar 24°C, karena pada kisaran suhu tersebut terjadi pembagian sel dalam daerah perakaran yang distimulir. Suhu rendah mampu membantu terbentuknya jaringan kalus dan suhu yang tinggi dapat membantu pertumbuhan akar (Rochiman dan Harjadi, 1973).

(2) Kelembaban udara

Kelembaban udara yang tinggi akan menghambat laju evapotranspirasi stek, mencegah stek dari kekeringan dan kematian sebelum stek mampu membentuk akar (Rochiman dan Harjadi, 1973). Kelembaban di dalam media stek harus tinggi dan dipertahankan mendekati 90 %, agar tidak terjadi transpirasi yang besar pada stek (Irwanto, 2003). Menurut Yasman dan Smits (1986), kelembaban


(27)

pada stek harus diusahakan konstan di atas 90%, terutama sebelum stek berakar.

(3) Intensitas cahaya

Cahaya berfungsi untuk pembentukan auksin dan karbohidrat (proses fotosintesis). Namun, cahaya yang diperlukan untuk proses sintesis stek dapat meningkatkan perbedaan tekanan uap air dan udara. Apabila kebutuhan cahaya telah mencukupi, cahaya dapat berpengaruh menghambat pembentukan akar. Pada stek yang diberi perlindungan akan berakar lebih banyak daripada stek yang menerima cahaya matahari langsung ( Subiakto et al., 2005).

Pengaturan intensitas cahaya dapat dilakukan melalui pengaturan intensitas naungan (Kramer dan Kozlowski, 1960). Ruangan untuk penyetekan diusahakan memiliki intensitas cahaya sekitar 5 – 12 % (Moko, 2004). Sungkup plastik umum digunakan untuk meningkatkan kelembaban sehingga meminimumkan perbedaan tekanan uap daun dan udara (Subiakto et al., 2005).

(4) Media perakaran

Menurut Kramer dan Kozlowski (1960), lingkungan perakaran atau media tumbuh ideal adalah media yang dapat memberikan porositas yang cukup dengan kemampuan drainase yang baik, serta bebas dari hama penyakit, sedangkan pH yang baik adalah berkisar antara pH 7 (netral).

Rochiman dan Harjadi (1973) menyatakan bahwa media perakaran diusahakan menggunakan bahan yang dapat mengikat air dalam waktu lama agar kelembaban media tetap terjaga. Media dengan aerasi baik penting untuk pembentukan akar. Sedangkan pembentukan suberin (gabus) dan kambium memerlukan oksigen yang banyak. Menurut Prastowo et al., (2006), syarat media tumbuh yang baik adalah ringan, murah, mudah didapat, porus (gembur) dan subur (kaya unsur hara). Media yang yang digunakan untuk penyetekan diusahakan lembut, beraerasi baik dan steril. Media yang baik tersebut antara lain vermikulit, perlit, gambut dan pasir. Selain itu, media yang berasal dari sabut kelapa dan sekam padi sangat cocok untuk pertumbuhan stek (Moko, 2004).


(28)

Wiguna (2007) mengungkapkan, cocopeat mempunyai kemampuan menahan air cukup tinggi sampai 73 %. Pemberian air yang berlebih akan menyebabkan media terlalu lembab sehingga dapat menyebabkan busuk akar. Oleh sebab itu, dalam penggunaan media cocopeat biasanya dicampur dengan media tanam lain yang daya ikat airnya tidak terlalu tinggi. Cocopeat mempunyai banyak kandungan hara essensial seperti Kalsium, Magnesium, Kalium, Natrium dan Fosfor .

(5) Teknik penyiapan stek

Dalam penyiapan bahan pada pembiakan vegetatif stek beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah perlakuan sebelum pengambilan stek, waktu pengambilan stek, pemotongan stek dan pelukaan, penggunaan dan pemberian zat pengatur tumbuh, serta kebersihan dan pemeliharaan (Rochiman dan Harjadi, 1973). Hal ini terkait pada keberhasilan pertumbuhan akar stek dengan faktor mekanis (Kramer dan Kozlowski, 1960).

2.5 Zat Pengatur Tumbuh

Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon . Hormon adalah molekul-molekul yang kegiatannya mengatur reaksi-reaksi metabolik penting. Molekul-molekul tersebut dibentuk di dalam organisme dengan proses metabolik dan tidak berfungsi didalam nutrisi (Heddy, 1986).

Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsi sebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan. Apabila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, maka sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai berekspresi, dari sudut pandang evolusi, hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri tumbuh-tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya (Rochimi, 2008).

Hormon dibedakan menjadi dua tipe, yaitu hormon endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan dapat diganti dengan pemberian zat-zat


(29)

tertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan hormon eksogen yang diberikan dari luar sistem individu. Hormon eksogen ini lebih dikenal sebagai zat pengatur tumbuh (Irwanto, 2003).

Zat pengatur tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah (< 1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pengaturan pertumbuhan ini dilakukan dengan cara pembentukan hormon-hormon yang sama, mempengaruhi sintesis hormon, perusakan translokasi atau dengan cara perubahan tempat pembentukan hormon (Wattimena, 1992).

Aplikasi zat pengatur tumbuh dalam pertanian modern mencakup pengamanan hasil, memperbesar ukuran dan meningkatkan kualitas produk (misalnya dalam teknologi semangka tanpa biji), atau menyeragamkan waktu berbunga (misalnya dalam aplikasi etilena untuk penyeragaman pembungaan tanaman buah musiman), untuk menyebut beberapa contohnya. Sejauh ini dikenal sejumlah golongan zat yang dianggap sebagai fitohormon, yaitu auksin, sitokinin, giberilin atau asam giberelat (GA), etilena, asam absisat (ABA), asam jasmonat, steroid (brasinosteroid), salisilat dan poliamina (Rochimi, 2008).

Auksin adalah suatu hormon yang bersifat merangsang pembelahan sel di bagian tanaman yang masih aktif membelah diri seperti ujung akar atau pucuk (Weaver, 1983). Auksin dapat ditemukan di seluruh jaringan tanaman yang tertranslokasikan dari jaringan-jaringan yang masih meristematik, seperti pada titik-titik pertumbuhan antara lain koleoptil, tunas, ujung daun dan ujung akar (Devlin, 1975 dalam Rochimi, 2008). Secara umum, auksin berfungsi dalam pemanjangan sel dan pembesaran jaringan, pembelahan sel (pembentukan kalus), Pembentukan tunas adventif, menghambat pembentukan tunas adventif dan tunas aksiler serta embriogenesis pada kultur suspensi. Pada konsentrasi auksin yang rendah dapat merangsang pembentukan akar adventif, namun pada konstrasi yang tinggi justru terjadi pembentukan kalus sedangkan pembentukan akar gagal terjadi (Pierik, 1997 dalam Raharjo, 2004).


(30)

Pada konsentrasi auksin yang rendah dapat merangsang pembentukan akar adventif, namun pada konstrasi yang tinggi justru terjadi pembentukan kalus sedangkan pembentukan akar gagal terjadi (Pierik, 1997 dalam Raharjo, 2004). Terdapat beberapa jenis auksin yang secara luas digunakan adalah Indole Acetic Acid (IAA), Indole Butiric Acid (IBA) dan Napthalene Acetic Acid (NAA). Jenis auksin yang dipergunakan secara luas dan merupakan bahan terbaik dibanding jenis auksin lain adalah IBA (Hartmann dan Kester, 1997).

Rootone-F merupakan zat pengatur tumbuh yang bukan termasuk hormon. Zat pengatur tumbuh ini terdiri atas lima macam senyawa yang menjadi bahan aktifnya, yaitu :

a. Naphtalene acetamide (NAD) sebanyak 0,067%

b. Methy-1-Naphteleneacetic acid (MNAA) sebanyak 0,033% c. Methyle-1-Naptheleneacetamide (MNDA) sebanyak 0,013% d. Indole-3-butyric acid (IBA) sebanyak 0,057%

e. Tetramethylthiuram disulfide (Thiram) sebanyak 4,00

Campuran tersebut tidak dapat disebut auksin sintetik maupun alamiah, karena kehadiran Thiram yang justru lebih banyak dibanding dengan NAD, MNAA, MNAD dan IBA. Keempat bahan aktif yang pertama tampak berasosiasi dengan auksin sintetik dan Thiram berfungsi sebagai fungisida. NAD, MNAA dan MNAD merupakan turunan IAA, sedangkan IBA sudah lama diketahui memiliki aktivitas serupa dengan IAA (Manurung, 1987).

Kusumo (1984) dalam Irwanto (2003) menyatakan cara pemberian zat pengatur tumbuh untuk perakaran stek atau cangkok, misalnya dengan pasta , bentuk larutan encer, bentuk larutan pekat, pemberian dengan tepung, dan penyemprotan. Dari cara - cara tersebut, pemberian dengan larutan encer dianggap cara yang paling efektif. Faktor-faktor yang turut mempengaruhi keberhasilan pemberian zat pengatur tumbuh tersebut antara lain:


(31)

a) Kondisi pohon induk seperti umur, kesuburan dan bagian stek yang diambil.

b) Faktor dalam seperti rhizokalin dan zat makanan organik.

2.6 Sistem Perakaran Tanaman

Akar merupakan organ vegetatif utama yang memasok air, mineral dan bahan-bahan yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Gardner et al., 1991). Akar merupakan bagian bawah dari sumbu tanaman dan berkembang di bawah pemukaan tanah, namun terdapat akar yang mampu tumbuh di luar tanah (Hidayat, 1995).

Menurut Weaver (1976) dalam Gardner et al., (1991), fungsi akar adalah : (1) penyerapan; (2) penambahan (anchorage); (3) penyimpanan; (4) transpor dan (5) pembiakan (propagation). Akar-akar berperan aktif dalam mengambil zat makanan (nutrisi) dan air, menyimpan karbohidrat hasil fotosintesa, memproduksi hormon serta menyalurkan kembali hasil-hasil tersebut ke seluruh komponen tanaman (Djapilus, 1990).

Pembentukan akar terjadi karena adanya pergerakan ke bawah dari auksin, karbohidrat dan rooting cofactor (zat-zat yang berinteraksi dengan auksin yang mengakibatkan perakaran) baik dari tunas maupun daun. Zat-zat ini akan menstimulir pembentukan akar. Proses pembentukan bakal akar berawal dengan pembelahan sel-sel meristem yang terletak di antara atau di luar jaringan pembuluh, kemudian memanjang membentuk kembali lebih banyak sel-sel yang berkembang menjadi bakal akar yang disebut akar morfologi atau akar primordial. Sebagian dari sel yang membelah atau membentuk ujung akar (root tip) yang tumbuh terus melewati korteks dan epidermis dan akan muncul di bagian stek atau cangkok menjadi akar adventif atau akar lateral (Rochiman dan Harjadi, 1973).

Menurut Gardner et al., (1991), pembentukan akar lateral tersebut dikendalikan secara genetik maupun dipengaruhi lingkungan. Kendali genetik merupakan akibat tiga faktor :


(32)

a) Produksi penghambat -β pada ujung akar yang berhubungan dengan dominansi ujung

b) Produksi bahan penggiat pertumbuhan pada pucuk yang ditranspor ke akar (misalnya auksin, tiamin, asam nikotinat dan adenin)

c) Suatu keseimbangan atau interaksi antara bahan penghambat pertumbuhan dan bahan penggiat pertumbuhan.


(33)

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan ruang KOFFCO Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, dan laboratorium Silvikultur SEAMEO BIOTROP, Bogor Jawa barat selama 3 bulan dari bulan Agustus hingga bulan November 2010.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah pucuk dan batang bibit tanaman D. moluccana . berumur tiga bulan yang disemaikan dari benih pohon plus (M07) di Kebun SEAMEO BIOTROP. Zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah ROOTONE-F dengan zat aktif sebagai berikut :

a) 1 – Naphthaleneacematide (0,06 %)

b) 2 – Methyl – 1 – Naphthaleneacetic Acid (0,033 %) c) 3 – Methyl – 1 – Naphthaleneacematide (0,013 %) d) Indole – 3 – Butiryc Acid (0,057 %)

e) Thiram (Tetramethyl thiuram disulfida) (4,000 %)

Untuk mencegah pertumbuhan jamur selama masa aklimatisasi stek digunakan fungisida Dithane M-45. Media perakaran yang digunakan adalah campuran antara sekam padi dengan cocopeat dengan perbandingan 1:2.(v/v) dan zeolite (sebagai penutup alas).

Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : Gunting Stek, Ember Plastik, kotak propagasi, Potray (45 bibit), sendok, gelas ukur, sprayer, timbangan digital, oven, mistar ukur, dan alat tulis.

3.3 Rancangan Percobaan

Untuk mengetahui pengaruh kosentrasi zat pengatur tumbuh (Rootone-F) dan bahan stek, digunakan rancangan percobaan acak lengkap pola faktorial 2 x 4 dengan 3 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 10 unit ulangan. Dalam


(34)

percobaan ini terdapat 8 satuan percobaan dan setiap satuan percobaan terdiri atas 30 stek.

Perlakuan yang digunakan adalah : Faktor A : Bahan stek

a1 : Pucuk

a2 : Batang

Faktor B : Konsentrasi ZPT b1 : Konsentrasi 0 ppm b2 : Konsentrasi 500 ppm b3 : Konsentrasi 1000 ppm b4 : Konsentrasi 1500 ppm

Perendaman bahan stek dilakukan selama 15 menit

Model umum percobaan faktorial dalam rancangan acak lengkap adalah sebagai berikut :

Yijk = μ + αi + βj + (αβ)ij + ∑ijk keterangan :

Yijk : Nilai pengamatan

μ : Nilai rata-rata pengamatan

αi : Pengaruh perlakuan zat pengatur tumbuh Rootone – F taraf ke-i βj : Pengaruh perlakuan diameter bahan stek batang taraf ke-j

(αβ)ij : Pengaruh interaksi dosis zat pengatur tumbuh Rootone - F taraf ke-i dengan diameter bahan stek batang ke-j

∑ijk : Galat percobaan

3.3.1 Parameter yang diukur

Parameter yang diukur dalam percobaan ini meliputi : a) Persentase berakar

Persentase berakar=Jumlah stek yang berakar Jumlah stek yang ditanam×100

b) Persentase hidup

Persentase hidup=Jumlah stek yang bertahan Jumlah stek yang ditanam×100


(35)

c) Jumlah akar

Jumlah akar primer dihitung secara manual diakhir pengamatan. d) Bobot kering akar

Diukur dengan cara menimbang akar stek setelah dilakukan pengovenan dengan suhu 70 oC selama 48 jam, pemilihan suhu 70oC agar kandungan nitrogen tidak menguap

e) Bobot kering pucuk

Diukur dengan cara menimbang pucuk stek setelah dilakukan pengovenan dengan suhu 70 oC selama 48 jam

f) Panjang akar

Panjang akar dihitung dengan cara mengukur panjang akar terpanjang pada setiap stek pada 8 minggu setelah tanam (MST) dengan menggunakan penggaris.

g) Nisbah pucuk akar

Nisbah pucuk akar dihitung berdasarkan perbandingan antara bobot kering pucuk dengan bobot kering akar.

NPA=bobot kering pucuk bobot kering akar 3.4 Metode Kerja

Percobaan ini dilakukan pada KOFFCO system ( Komatsu FORDA Fog Coolling System), yaitu sebuah sistem lingkungan terkendali yang telah disesuaikan untuk kebutuhan stek tanaman. Sistem KOFFCO terdiri dari rumah kaca dengan pengontrol suhu elektronik yang terhubung dengan Nozzle / Air Cooler untuk melakukan pengkabutan sehingga suhu ruangan dapat terjaga pada kisaran 29 – 30 oC dengan kelembaban relatif (RH > 95%). selain itu didalamnya juga terdapat shading net yang berguna untuk menjaga kebutuhan cahaya stek pucuk dan stek batang (5000 – 10.000 lux). Stek ditanam pada potray yang dimasukan kedalam kotak propagasi yang terbuat dari bahan PVC transparan.


(36)

(37)

3.4.1 Penyiapan media tanam

Media tanam stek disiapkan dengan mencampur 2 bagian cocopeat dengan 1 bagian sekam padi (2:1, v/v) kemudian disterilisasi dengan menggunakan

autoclav pada suhu 120 oC dengan tekanan 1,5 bar uap selama 1 jam. Media tanam yang telah siap dimasukkan kedalam potray yang telah dicuci dengan air mengalir, kemudian dimasukan ke dalam kotak propagasi yang di bagian dasarnya telah diberi zeolite yang telah dicuci dengan air bersih secara merata. Selanjutnya media di aklimatisasi dalam ruang KOFFCO selama 2 hari.

3.4.2 Penyiapan ZPT

Rootone-F ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik, dengan bobot masing – masing 0.5 gr , 1 gr dan 1,5gr kemudian dilarutkan dalam 100 ml akuades sehingga diperoleh konsentrasi ZPT 500 ppm, 1000 ppm, dan 1500 ppm.

3.4.3 Penyiapan bahan stek

Bahan stek dibuat dari bibit Duabanga yang telah berumur sekitar 3 bulan dari benih pohon plus (M07) di kebun SEAMEO BIOTROP. Bahan dipilih yang telah berkayu dan berdiameter sekitar 0.5 cm. Kemudian dipotong bagian pucuk sepanjang 5 - 10 menggunakan gunting stek dengan menyisakan daun 3-4 helai yang kemudian dipotong dan disisakan sepertiga panjang daun untuk mengurangi transpirasi pada bahan. Bahan stek batang sepanjang 5-10 cm dipotong dari bagian bawah stek pucuk, kemudian daun yang ada di bersihkan. Bahan stek pucuk dan bahan stek batang berasal dari bibit yang sama.


(38)

Untuk menjaga agar bahan stek tetap segar maka bahan stek dimasukkan kedalam ember plastik yang berisi air. Bahan stek kemudian direndam pada larutan ZPT (Rootone-F) konsentrasi 500 ppm, 1000 ppm, dan 1500 ppm selama 15 menit, kecuali pada kontrol (0 ppm) langsung ditanam. Kegiatan penyiapan bahan stek dilakukan pada pukul 08.00 – 09.00 untuk mengindari suhu yang berlebihan.

3.4.4 Penanaman stek

Penanaman stek pucuk dan stek batang pada media yang telah disiapkan dilakukan sekitar pukul 10.00 – 11.00, dengan terlebih dahulu dibuat lubang tanam agar bahan tidak mengalami kerusakan akibat gesekan vertikal dengan media.

3.4.5 Pemeliharaan

Pemeliharaan stek berupa penyiraman yang dilakukan setiap 3 hari sekali dengan menyemprotkan air menggunakan sprayer. Pencegahan jamur dan bakteri dilakukan dengan penyemprotan fungisida Dithane M-45.

Gambar 4. Penanaman stek batang dan stek pucuk Duabanga moluccana


(39)

3.4.6 Pengolahan data

Hasil pengukuran dicatat dalam tallysheet yang telah disiapkan kemudian dipindah dalam aplikasi spreadsheet untuk pengolahan data lebih lanjut. Pengolahan data dengan menggunakan aplikasi R dan pembuatan laporan dilakukan dengan menggunakan openoffice.org 3.1


(40)

4.1 Hasil

4.1.1 Pengamatan visual

Pengamatan visual terhadap stek pucuk dan stek batang pada berbagai konsentrasi hormon dengan sistem Koffco adalah sebagai berikut

– Daun pada stek pucuk mulai rontok pada hari ke 3 namun tidak layu.

– Batang mulai berwarna kecoklatan mulai pada pengamatan 2 MST.

– Pembentukan pucuk baru terjadi pada 2 MST sampai 3 MST.

– Melalui hasil sampling pemunculan akar mulai nampak pada pengamatan 3 MST.

– Akar primordial muncul pada stek pucuk sekitar 1 cm dari pangkal stek.

– Sungkup kotak propagasi dibuka maksimum selama 3 menit karena jika lebih dari 3 menit daun akan layu. Untuk itu penyiraman harus dilakukan secara hati-hati dengan hanya membuka sebagian sungkup atau tutup kotak propagasi. Ketika bibit disapih di polybag harus disungkup terlebih dahulu selama 1 minggu setelah penyapihan.

– Gejala serangan cendawan mulai muncul pada pada pengamatan 3 MST yang ditandai dengan pemunculan hifa, serangan cendawan dapat dihilangkan dengan fungisida jenis dithane M-45 pada dosis 1 gr/2 liter air.

– Secara umum kondisi stek pucuk dan stek batang pada umur 6 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Gambar 5.


(41)

Berdasarkan pengamatan visual di atas maka hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembibitan menggunakan stek pucuk ataupun batang jenis Duabanga atau Benuang adalah iklim mikro di dalam sungkup dan kebersihan sungkup yang harus dijaga dengan baik. Selama proses inisiasi akar tidak dilakukan pemupukan karena akan merangsang pertumbuhan cendawan atau patogen yang lain.

4.1.2 Pengamatan parameter pertumbuhan

Pengamatan terhadap parameter pertumbuhan stek D. moluccana

menunjukkan pertumbuhan stek pucuk lebih baik dibandingkan dengan bahan yang berasal dari batang, sedangkan penggunaan ZPT dengan beberapa konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan stek.

Hasil sidik ragam dari setiap parameter yang diamati menunjukkan bahwa bahan stek mempengaruhi pertumbuhan stek, sedangkan pemberian zat pengatur tumbuh tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan stek, demikian juga interaksi antara bahan dan ZPT (Tabel 2).


(42)

Tabel 2. Rekapitulasi hasil sidik ragam pengaruh perbedaan konsentrasi ZPT terhadap stek pucuk dan stek batang.

Parameter Sumber Keragaman Interaksi Bahan dan ZPT

Bahan Konsentrasi ZPT

% Hidup” *** ns ns

% Berakar” *** ns ns

Jumlah akar *** ns ns

Panjang akar *** ns ns

Bobot kering pucuk *** ns ns

Bobot kering akar *** ns ns

Nisbah pucuk akar *** ns Ns

a. Persentase hidup

Persentase hidup merupakan perbandingan antara jumlah stek bibit

Duabanga moluccana yang hidup hingga akhir masa pengamatan (8 MST) dengan seluruh bahan stek yang ditanam. Salah satu tanda yang menunjukkan adanya proses keberhasilan stek pucuk adalah munculnya tunas baru, yang terjadi pada 2 minggu setelah tanam.

Kemampuan stek pucuk untuk bertahan hidup lebih tinggi daripada stek batang. Persentase hidup stek pucuk yang terbesar terdapat pada konsentrasi ZPT 1000 ppm yaitu 87 %, sedangkan persentase hidup terendah terdapat pada konsentrasi ZPT 0 ppm yaitu 77%.

Kemampuan stek pucuk untuk mempertahankan hidup lebih tinggi daripada stek batang. Pada stek batang seluruh stek tidak mampu mempertahankan hidupnya hingga masa akhir pengamatan atau 8 MST, sehingga persentase hidup stek batang menjadi 0% (Tabel 3).


(43)

Tabel 3. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap persentase hidup

Bahan

stek Ulangan

Konsentrasi ZPT (ppm) 0 (%) 500 (%) 1000 (%) 1500 (%)

Total Rata – rata

Pucuk

1 70 90 100 80 340 85

2 80 70 80 100 330 82,5

3 80 80 80 70 310 77,5

Sub total 230 240 260 250 980 245

Rata – rata 77 80 87 83 81.75

Batang

1 0 0 0 0 0 0

2 0 0 0 0 0 0

3 0 0 0 0 0 0

Sub total 0 0 0 0 0 0

Rata – rata 0 0 0 0 0

Total 230 240 260 250 980 245

Rata – rata 38 40 43 42 163 41

Hasil perhitungan sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT dapat dibaca pada Tabel 4

Tabel 4. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap persentase hidup

Sumber variasi Db JK JKT F hitung Pr(>F)

Ulangan 2 0.0251 0.0125 0.5033 0.6150

Bahan 1 8.1748 8.1748 328.2049 4.092e-11 **

ZPT 3 0.0367 0.0122 0.4905 0.6945

Bahan x ZPT 3 0.0367 0.0122 0.4905 0.6945

Galat 14 0.3487 0.0249

Keterangan : ** berbeda sangat nyata pada uji F taraf 0.01

Sidik ragam pada Tabel 4 menunjukkan bahwa bahan stek berpengaruh sangat nyata terhadap persentase hidup stek pucuk dan stek batang. Untuk mengetahui bahan stek yang paling cocok untuk menghasilkan bibit Duabanga maka dilakukan uji fisher's LSD (Tabel 5)


(44)

Tabel 5 : Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap persentase hidup

Bahan Rata - rata

Pucuk 1.17 a

Batang 0 b

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.01

Hasil uji fisher's LSD (Tabel 5) menunjukkan bahwa persentase hidup stek pucuk lebih tinggi daripada stek batang. Dengan demikian bahan stek pucuk lebih baik daripada bahan stek batang untuk jenis Duabanga.

b. Persentase berakar

Kemampuan stek untuk berakar merupakan kunci keberhasilan dalam produksi bibit baik dari pucuk maupun batang. Jika bahan stek tersebut mampu menghasilkan perakaran baru maka diharapkan stek tersebut akan tumbuh dan berkembang seperti halnya bibit yang berasal dari benih. Persentase berakar merupakan perbandingan keseluruhan stek Duabanga yang hidup dan berakar dengan seluruh stek yang ditanam. Pada stek pucuk keseluruhan stek yang hidup berakar dengan baik, sehingga nilainya sama dengan persentase hidup, sedangkan pada stek batang mengalami kegagalan untuk mempertahankan hidup hingga masa pengamatan selesai (8 MST) (Tabel 5).

Tabel 6 menunjukkan bahwa stek pucuk Duabanga yang berakar dapat terjadi karena hormon endogen (0 ppm) atau karena hormon eksogen (500, 1000, 1500). Persentase berakar stek pucuk pada berbagai konsentrasi ZPT adalah 77% sampai dengan 87%. dosis ZPT optimal untuk stek pucuk Duabanga adalah 1000 ppm karena pada dosis 1500 telah bersifat inhibitor. Hasil pada Tabel 6 juga menunjukkan bahwa stek batang dari bibit yang berumur 3 bulan tidak mampu menginduksi akar primordial walaupun telah menggunakan ZPT 500, 1000, dan 1500 ppm, ketidakberhasilan stek batang untuk menghasilkan akar primordial diduga karena ketidakcukupan kandungan nitrogen dalam stek batang tersebut.


(45)

Tabel 6. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap persentase berakar

Bahan

stek Ulangan

Konsentrasi ZPT (ppm) 0

(%)

500 (%)

1000 (%)

1500 (%)

Total Rata – rata

Pucuk

1 70 90 100 80 340 85

2 80 70 80 100 330 82,5

3 80 80 80 70 310 77,5

Sub total 230 240 260 250 980 245

Rata – rata 77 80 87 83 81.75

Batang

1 0 0 0 0 0 0

2 0 0 0 0 0 0

3 0 0 0 0 0 0

Sub total 0 0 0 0 0 0

Rata – rata 0 0 0 0 0

Total 230 240 260 250 980 245

Rata – rata 38 40 43 42 163 41

Tabel 7. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek terhadap persentase berakar

Sumber variasi Db JK JKT F hitung Pr(>F)

Ulangan 2 0.0251 0.0125 0.5033 0.6150

Bahan 1 8.1748 8.1748 328.2049 4.092e-11 **

ZPT 3 0.0367 0.0122 0.4905 0.6945

Bahan x ZPT 3 0.0367 0.0122 0.4905 0.6945

Galat 14 0.3487 0.0249

Keterangan : ** berbeda sangat nyata pada uji F taraf 0.01

Hasil sidik ragam pada Tabel 7 menunjukkan perbedaan yang sangat nyata terhadap faktor bahan stek. Untuk mengetahui beda nilai terkecil pada bahan stek dilakukan uji fisher's LSD (Tabel 8).


(46)

Tabel 8. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap persentase Berakar

Bahan Rata - rata

Pucuk 1.17 a

Batang 0 b

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.01

Dari uji lanjut (Tabel 8) dapat dilihat rata-rata persentase berakar pada stek pucuk berbeda nyata terhadap persentase berakar stek batang.

c. Jumlah akar

Jumlah akar merupakan gambaran kemampuan ZPT dalam menginduksi dan menggandakan sel – sel meristematik akar untuk tumbuh dan berkembang menjadi akar yang berfungsi untuk menopang pertumbuhan bibit menyerap unsur hara dan air yang terdapat pada media tumbuh.

Jumlah akar yang dihitung dalam percobaan ini adalah jumlah akar primer yang tumbuh pada setiap stek Duabanga. Jumlah akar tersebut dihitung pada pada akhir pengamatan (8 MST).

Jumlah akar yang terbentuk menunjukkan respon stek terhadap zat pengatur tumbuh yang diberikan, pada pemberian konsentrasi ZPT pada stek yang semakin meningkat, pada stek pucuk menunjukkan besarnya jumlah akar yang juga relatif meningkat . Jumlah akar yang terbanyak diperoleh pada konsentrasi ZPT 1000 ppm adalah 15.57 helai, sedangkan jumlah akar terendah terdapat pada konsntrasi ZPT 500 ppm yaitu 10.37 helai. Pada stek batang jumlah akar tidak dapat di hitung karena seluruh bahan gagal dalam mempertahankan hidupnya sebelum berakar hingga akhir pengamatan (Tabel 9).


(47)

Tabel 9. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap jumlah akar.

Bahan

Stek Ulangan

Konsentrasi ZPT (ppm)

0 500 1000 1500

Total Rata – rata

Pucuk 1 12.4 11.3 20 13 56.70 14.18

2 9.4 9.7 12.5 14.9 46.50 11.63

3 20.4 10.1 14.2 9.5 54.20 13.55

Sub total 42.20 31.10 46.70 37.40 157.40 39.35

Rata – rata 14.07 10.37 15.57 12.47 52.47 13.12

Batang 1 0 0 0 0 0 0.00

2 0 0 0 0 0 0.00

3 0 0 0 0 0 0.00

Sub total 0 0 0 0 0 0.00

Rata – rata 0 0 0 0 0 0.00

Total 42.20 31.10 46.70 37.40 157.40 39.35

Rata – rata 7.03 5.18 7.78 6.23 26.23 6.56

Tabel 9 menunjukkan akar yang tumbuh pada stek pucuk baik tanpa ZPT maupun dengan ZPT tetap menghasilkan jumlah akar yang hampir sama (10 sampai dengan 15 helai), keberhasilan pertumbuhan akar pada kontrol (0 ppm) diduga karena ujung koleoptil pucuk duabanga secara aktif menghasilkan auksin IAA yang bergerak ke arah bawah (basipetal) untuk menginduksi pembentukan akar primordial. Hasil sidik ragam (Tabel 10) menunjukkan bahwa bahan stek berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah akar yang dibentuk.

Tabel 10. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap jumlah akar

Sumber variasi Db JK JKT F hitung Pr(>F)

Ulangan 2 7 3.53 0.4714 0.6337

Bahan 1 1032.28 1032.28 137.7414 1.243e-08 **

ZPT 3 22.34 7.45 0.9934 0.4245

Bahan x ZPT 3 22.34 7.45 0.9934 0.4245

galat 14 104.92 7.49


(48)

Untuk mengetahui bahan stek yang terbaik untuk induksi jumlah akar dilakukan uji lanjut fisher's LSD (Tabel 11).

Tabel 11. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruhbahan stek terhadap jumlah akar

Bahan Rata - rata

Pucuk 13.12 a

Batang 0 b

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.01

Dari uji lanjut Tabel 11 dapat dilihat bahwa jumlah akar pada stek pucuk berbeda nyata dibandingkan dengan stek batang. Hal ini berarti stek pucuk akan memproduksi akar lebih banyak daripada stek batang.

d. Panjang akar

Panjang akar yang terbentuk memperlihatkan respon stek terhadap gravitropisme dan menunjukkan kemampuan ZPT dalam menjalankan perannya pada stek sebagai zat pengatur tumbuh atau telah menjadi faktor penghambat pada pertumbuhan akar. Panjang akar diukur pada 8 MST atau pada akhir pengamatan.

Gambar 7. Stek Pucuk Duabanga moluccana

Gambar 8. Stek batang Duabanga moluccana yang mati dan tidak berakar


(49)

Tabel 12. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap panjang akar

Bahan

Stek Ulangan

Konsentrasi ZPT (ppm)

Total Rata – rata 0 (cm) 500 (cm) 1000 (cm) 1500 (cm)

Pucuk

1 11.45 16.5 16.9 15.1 59.95 14.99

2 15.8 11.8 16.4 15.8 59.80 14.95

3 16.5 13.3 15 13.2 58.00 14.50

Sub total 43.75 41.60 48.30 44.10 177.75 44.44

Rata – rata 14.58 13.87 16.10 14.70 59.25 14.81

Batang

1 0 0 0 0 0 0

2 0 0 0 0 0 0

3 0 0 0 0 0 0

Sub total 0 0 0 0 0 0

Rata – rata 0 0 0 0 0 0

Total 43.75 41.60 48.30 44.10 177.75 44.44

Rata – rata 7.29 6.93 8.05 7.35 29.63 79.41

Pada Tabel 12 menunjukkan bahwa panjang akar dipengaruhi oleh ZPT yang diberikan pada saat induksi akar primordial. Pada konsentrasi 1500 ppm yang diberikan ZPT Rootone-F bersifat menghambat pertumbuhan akar dengan panjang akar rata-rata 14.70 cm. Sementara itu stek pucuk Duabanga yang tanpa diberi ZPT (0 ppm) juga menghasilkan panjang akar yang sangat baik. Hal ini diduga ada peran dari ZPT endogen yang mampu memperpanjang akar.

Tabel 13. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap panjang akar

Sumber variasi Db JK JKT F hitung Pr(>F)

Ulangan 2 0.29 0.15 0.0649 0.9375

Bahan 1 1316.46 1316.46 580.2316 8.528e-13 **

ZPT 3 3.93 1.31 0.5768 0.6397

Bahan x ZPT 3 3.93 1.31 0.5768 0.6397

galat 14 31.76 2.27

Keterangan : ** berbeda sangat nyata pada uji F taraf 0.01

Pada stek pucuk rata – rata panjang akar terpanjang terdapat pada konsentrasi ZPT 1000 ppm dengan nilai 16.10 cm, sedangkan panjang rata-rata


(50)

terpendek terdapat pada konsentrasi ZPT 500 ppm dengan nilai 13.87 cm. Pada stek batang panjang akar tidak dapat dilakukan pengukuran karena seluruh stek batang tidak mampu untuk bertahan hidup dan berakar hingga 8MST atau akhir masa pengamatan (Tabel 13).

Pada sidik ragam (Tabel 13) diketahui bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata antara panjang akar stek pucuk dan stek batang, untuk mengetahui bahan stek yang terbaik maka dilakukan uji beda nilai terkecil pada stek pucuk dan stek batang maka dilakukan uji lanjut fisher's LSD (Tabel 14)

Tabel 14. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap panjang akar

Bahan Rata - rata

Pucuk 14.81 a

Batang 0 b

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.01

Dari uji lanjut Tabel 14 menunjukkan bahwa panjang akar pada stek pucuk berbeda nyata dengan panjang akar pada stek batang, dapat dilihat nilai rata - rata panjang akar pada stek pucuk berbeda nyata dibandingkan dengan panjang akar pada stek batang.

e. Bobot kering

Bobot kering tanaman merupakan keberhasilan interaksi antara faktor lingkungan dengan fisiologi stek yang telah berakar. Hal ini terjadi karena perakaran stek telah berkembang dan berfungsi dengan baik untuk membantu proses fotosintesis bibit dari stek yang pada gilirannya hasil fotosintesis (fotosintat) di distribusikan untuk pembentukan jaringan dan organ tanaman. Dalam hal ini bobot kering dibagi menjadi 2 bagian yaitu bobot kering pucuk dan bobot kering akar. besarnya biomassa yang terdapat pada tanaman tersebut, parameter ini diukur pada akhir pengamatan (8 MST).


(51)

f. Bobot kering pucuk

Besarnya total biomassa yang terbentuk di pucuk dipengaruhi oleh jumlah daun, pemanjangan dan penambahan diameter pada stek. Pada stek pucuk rata – rata bobot kering pucuk terbesar diperoleh pada konsentrasi ZPT 1500 ppm sebesar 1.11 gr, sedangkan bobot kering rata-rata terkecil terdapat pada konsentrasi ZPT 500 ppm yaitu sebesar 0.93 gr (Tabel 15).

Pada stek batang pengukuran parameter bobot kering pucuk tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat stek batang yang mampu bertahan hidup hingga akhir masa pengukuran.

Tabel 15. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap bobot kering pucuk

Bahan

Stek Ulangan

Konsentrasi ZPT (ppm)

Total Rata – rata 0 (gr) 500 (gr) 1000 (gr) 1500 (gr)

Pucuk

1 0.26 0.33 0.38 0.42 1.39 0.35

2 0.36 0.31 0.36 0.40 1.43 0.36

3 0.36 0.29 0.33 0.28 1.28 0.32

Sub total 0.98 0.93 1.08 1.11 4.10 1.02

Rata – rata 0.33 0.31 0.36 0.37 1.37 0.34

Batang

1 0 0 0 0 0 0.00

2 0 0 0 0 0 0.00

3 0 0 0 0 0 0.00

Sub total 0 0 0 0 0 0.00

Rata – rata 0 0 0 0 0 0.00

Total 0.98 0.93 1.08 1.11 4.10 20.53

Rata – rata 0.49 0.47 0.54 0.55 2.05 3.42

Untuk mengetahui pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap bobot kering pucuk dilakukan sidik ragam (Tabel 16).


(52)

Tabel 16. Hasil sidik ragam pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap bobot kering pucuk

Sumber variasi Db JK JKT F hitung Pr(>F)

Ulangan 2 0.0358 0.0179 0.8207 0.4602

Bahan 1 10.2398 10.2398 469.7225 3.609e-12 **

ZPT 3 0.0942 0.0314 1.4411 0.273

Bahan x ZPT 3 0.0942 0.0314 1.4411 0.273

galat 14 0.3052 0.0218

Keterangan : ** berbeda sangat nyata pada uji F taraf 0.01

Pada sidik ragam Tabel 16 diketahui bahwa bahan stek berpengaruh sangat nyata terhadap pembentukan bobot kering pucuk. Untuk mengetahui pengaruh bahan stek terhadap pembentukan biomassa pucuk maka dilakukan uji lanjut fisher's LSD (Tabel 17)

Tabel 17. Hasil uji lanjut fisher's LSD pengaruh bahan stek terhadap bobot kering pucuk

Bahan Rata - rata

Pucuk 1.31a

Batang 0 b

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0.01

Dari uji lanjut (Tabel 17) dapat dilihat bahwa bobot kering pucuk pada stek yang berasal dari stek pucuk memiliki berat kering pucuk yang lebih baik daripada berat kering pucuk pada stek batang. Hal ini berarti stek pucuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik karena primordial pucuk tinggal melanjutkan pembelahan sel meristematik untuk menjadi jaringan dan organ-organ pertumbuhan seperti daun dan batang.

g. Bobot kering akar

Besarnya total biomassa yang terbentuk pada akar dipengaruhi oleh jumlah akar dan panjang akar yang terbentuk selama masa pertumbuhan stek. Pada stek pucuk diperoleh bobot kering akar terbesar terdapat pada konsentrasi ZPT 1000 ppm sebesar 0.0405 gr, sedangkan bobot terkecil terdapat pada konsentrasi ZPT 1500 ppm dengan bobot 0.0265 gr (Tabel 18).


(53)

Pada stek batang pengukuran parameter panjang akar tidak dapat dilakukan karena hingga akhir masa pengukuran tidak terdapat stek batang yang mampu berakar karena tidak ada stek batang yang mampu bertahan hidup.

Tabel 18. Rekapitulasi data pengaruh bahan stek dan konsentrasi ZPT terhadap bobot kering akar

Bahan

Stek Ulangan

Konsentrasi ZPT (ppm)

0 (gr) 500 (gr) 1000 (gr) 1500 (gr)

Total Rata – rata

Pucuk 1 0.02776 0.03377 0.04913 0.03125 0.14 0.04

2 0.03273 0.02666 0.04527 0.0268 0.13 0.03

3 0.04026 0.02481 0.02715 0.02134 0.11 0.03

Sub total 0.10 0.09 0.12 0.08 0.39 0.10

Rata – rata 0.0336 0.0284 0.0405 0.0265 0.13 0.03

Batang 1 0 0 0 0 0 0.00

2 0 0 0 0 0 0.00

3 0 0 0 0 0 0.00

Sub total 0 0 0 0 0 0.00

Rata – rata 0 0 0 0 0 0.00

Total 0.10 0.09 0.12 0.08 0.39 20.53

Rata – rata 0.05 0.04 0.06 0.04 0.19 3.42

Tabel 19. Hasil sidik ragam pengaruh bahan dan konsentrasi ZPT terhadap bobot kering akar

Sumber variasi Db JK JKT F hitung Pr(>F)

Ulangan 2 0.0000514 0.0000257 0.9054 0.4268

Bahan 1 0.0062381 0.0062381 219.8146 5.94E-010 **

ZPT 3 0.0001775 0.0000592 2.0847 0.1483

Bahan:ZPT 3 0.0001775 0.0000592 2.0847 0.1483

galat 14 0.0003973 0.0000284

Keterangan : ** berbeda sangat nyata pada uji F taraf 0.01

Pada sidik ragam (Tabel 19) diketahui bahwa bahan stek berpengaruh sangat nyata terhadap bobot kering akar. Untuk mengetahui bahan stek yang terbaik maka dilakukan uji fisher's LSD (Tabel 20)


(1)

Lampiran 3. Rekapitulasi data pengamatan Pucuk pada perlakuan ZPT 1000 ppm

Nomor

ulangan

Panjang akar (Cm)

Jumlah akar

(n)

Berat basah pucuk

(gr)

Berat basah akar

(gr)

Berat kering pucuk

(gr)

Berat kering akar

(gr)

1-1 9 9 1.78 1.09 0.5141 0.0726

1-2 25 13 1.48 0.88 0.3216 0.0538

1-3 16 7 1.05 0.34 0.2198 0.0223

1-4 19 12 2.34 1.67 0.5875 0.1238

1-5 25 50 0.93 0.24 0.1534 0.0117

1-6 23 18 2 0.8 0.4021 0.0367

1-7 10 13 2.55 0.25 0.4211 0.0155

1-8 8 35 2.04 1.31 0.436 0.075

1-9 16 12 1.07 0.46 0.3022 0.0212

1-10 18 31 1.65 1.17 0.4599 0.0587

Total 169 200 16.89 8.21 3.8177 0.4913

Rata-rata 16.9 20 1.689 0.821 0.38177 0.04913

2-1 19 33 3.87 1.51 0.7258 0.0634

2-2 21 20 2.18 1.66 0.5124 0.0831

2-3 17 3 1.48 0.39 0.2927 0.0155

2-4 23 19 1.64 1.15 0.425 0.0531

2-5 0 0 0 0 0 0

2-6 22 15 1.64 0.98 0.3412 0.0385

2-7 25 17 1.8 1.74 0.3774 0.0646

2-8 24 9 2.23 1.76 0.5346 0.0994

2-9 0 0 0 0 0 0

2-10 13 9 1.7 0.83 0.4087 0.0351

Total 164 125 16.54 10.02 3.6178 0.4527

Rata-rata 16.4 12.5 1.654 1.002 0.36178 0.04527

3-1 11 13 1.97 0.35 0.2662 0.0101

3-2 16 10 2.29 0.51 0.4129 0.0206

3-3 27 28 2.9 1.05 0.6068 0.0488

3-4 0 0 0 0 0 0

3-5 12 17 1.86 0.41 0.402 0.0217

3-6 21 24 2.14 1.15 0.4779 0.0543

3-7 22 11 1.92 0.49 0.3083 0.0188

3-8 0 0 0 0 0 0

3-9 20 20 1.66 1.14 0.5834 0.0557

3-10 21 19 1.36 1.03 0.2641 0.0415

Total 150 142 16.1 6.13 3.3216 0.2715


(2)

58

Lampiran 4. Rekapitulasi data pengamatan Pucuk pada perlakuan ZPT 1500 ppm

Nomor ulangan

Panjang akar (Cm)

Jumlah akar

(n)

Berat basah pucuk

(gr)

Berat basah akar

(gr)

Berat kering pucuk

(gr)

Berat kering akar

(gr)

1-1 18 19 2.79 0.92 0.7701 0.0388

1-2 13 13 2.75 0.83 0.6759 0.0361

1-3 18 21 3.17 0.72 0.6807 0.0281

1-4 0 0 0 0 0 0

1-5 22 26 1.97 1.1 0.3559 0.0445

1-6 0 0 0 0 0 0

1-7 21 22 3.34 1.22 0.6115 0.041

1-8 19 12 1.89 0.68 0.4288 0.0209

1-9 21 11 2.15 1.18 0.368 0.0448

1-10 19 6 1.63 1.37 0.2878 0.0583

Total 151 130 19.69 8.02 4.1787 0.3125

Rata-rata 15.1 13 1.969 0.802 0.41787 0.03125

2-1 7 15 1.82 0.26 0.282 0.0098

2-2 24 16 1.71 1.47 0.3806 0.0652

2-3 12 22 2.58 0.67 0.5248 0.0207

2-4 24 10 2.14 0.53 0.3943 0.0171

2-5 19 29 2.39 0.64 0.4421 0.0212

2-6 9 13 2.55 0.78 0.4879 0.032

2-7 11 10 2.1 0.45 0.3473 0.0165

2-8 4 6 1.54 0.21 0.1818 0.0074

2-9 23 14 2.42 0.9 0.4567 0.0295

2-10 25 14 2.16 1.27 0.5177 0.0486

Total 158 149 21.41 7.18 4.0152 0.268

Rata-rata 15.8 14.9 2.141 0.718 0.40152 0.0268

3-1 3 9 1.56 0.11 0.3024 0.0024

3-2 24 20 2.61 1.06 0.4676 0.0373

3-3 30 23 1.72 0.41 0.3177 0.0149

3-4 24 12 2.24 1.4 0.4847 0.053

3-5 0 0 0 0 0 0

3-6 0 0 0 0 0 0

3-7 11 10 2.56 0.93 0.4953 0.0387

3-8 20 10 1.81 0.82 0.3545 0.0374

3-9 0 0 0 0 0 0

3-10 20 11 2.15 0.78 0.4343 0.0297

Total 132 95 14.65 5.51 2.8565 0.2134


(3)

Lampiran 5. Rekapitulasi data pengamatan Stek Batang pada perlakuan ZPT 0

ppm

Nomor ulangan

Panjang akar (Cm)

Jumlah akar

(n)

Berat basah pucuk

(gr)

Berat basah akar

(gr)

Berat kering pucuk

(gr)

Berat kering akar

(gr)

1-1 0 0 0 0 0 0

1-2 0 0 0 0 0 0

1-3 0 0 0 0 0 0

1-4 0 0 0 0 0 0

1-5 0 0 0 0 0 0

1-6 0 0 0 0 0 0

1-7 0 0 0 0 0 0

1-8 0 0 0 0 0 0

1-9 0 0 0 0 0 0

1-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 0 0 0 0 0 0

2-1 0 0 0 0 0 0

2-2 0 0 0 0 0 0

2-3 0 0 0 0 0 0

2-4 0 0 0 0 0 0

2-5 0 0 0 0 0 0

2-6 0 0 0 0 0 0

2-7 0 0 0 0 0 0

2-8 0 0 0 0 0 0

2-9 0 0 0 0 0 0

2-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 0 0 0 0 0 0

3-1 0 0 0 0 0 0

3-2 0 0 0 0 0 0

3-3 0 0 0 0 0 0

3-4 0 0 0 0 0 0

3-5 0 0 0 0 0 0

3-6 0 0 0 0 0 0

3-7 0 0 0 0 0 0

3-8 0 0 0 0 0 0

3-9 0 0 0 0 0 0

3-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0


(4)

60

Lampiran 5. Rekapitulasi data pengamatan Stek Batang pada perlakuan ZPT 500

ppm

Nomor

ulangan

Panjang akar (Cm)

Jumlah akar

(n)

Berat basah pucuk

(gr)

Berat basah akar

(gr)

Berat kering pucuk

(gr)

Berat kering akar

(gr)

1-1 0 0 0 0 0 0

1-2 0 0 0 0 0 0

1-3 0 0 0 0 0 0

1-4 0 0 0 0 0 0

1-5 0 0 0 0 0 0

1-6 0 0 0 0 0 0

1-7 0 0 0 0 0 0

1-8 0 0 0 0 0 0

1-9 0 0 0 0 0 0

1-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 0 0 0 0 0 0

2-1 0 0 0 0 0 0

2-2 0 0 0 0 0 0

2-3 0 0 0 0 0 0

2-4 0 0 0 0 0 0

2-5 0 0 0 0 0 0

2-6 0 0 0 0 0 0

2-7 0 0 0 0 0 0

2-8 0 0 0 0 0 0

2-9 0 0 0 0 0 0

2-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 0 0 0 0 0 0

3-1 0 0 0 0 0 0

3-2 0 0 0 0 0 0

3-3 0 0 0 0 0 0

3-4 0 0 0 0 0 0

3-5 0 0 0 0 0 0

3-6 0 0 0 0 0 0

3-7 0 0 0 0 0 0

3-8 0 0 0 0 0 0

3-9 0 0 0 0 0 0

3-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0


(5)

Lampiran 5. Rekapitulasi data pengamatan Stek Batang pada perlakuan ZPT 0

ppm

Nomor ulangan

Panjang akar (Cm)

Jumlah akar

(n)

Berat basah pucuk

(gr)

Berat basah akar

(gr)

Berat kering pucuk

(gr)

Berat kering akar

(gr)

1-1 0 0 0 0 0 0

1-2 0 0 0 0 0 0

1-3 0 0 0 0 0 0

1-4 0 0 0 0 0 0

1-5 0 0 0 0 0 0

1-6 0 0 0 0 0 0

1-7 0 0 0 0 0 0

1-8 0 0 0 0 0 0

1-9 0 0 0 0 0 0

1-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 0 0 0 0 0 0

2-1 0 0 0 0 0 0

2-2 0 0 0 0 0 0

2-3 0 0 0 0 0 0

2-4 0 0 0 0 0 0

2-5 0 0 0 0 0 0

2-6 0 0 0 0 0 0

2-7 0 0 0 0 0 0

2-8 0 0 0 0 0 0

2-9 0 0 0 0 0 0

2-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 0 0 0 0 0 0

3-1 0 0 0 0 0 0

3-2 0 0 0 0 0 0

3-3 0 0 0 0 0 0

3-4 0 0 0 0 0 0

3-5 0 0 0 0 0 0

3-6 0 0 0 0 0 0

3-7 0 0 0 0 0 0

3-8 0 0 0 0 0 0

3-9 0 0 0 0 0 0

3-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0


(6)

62

Lampiran 5. Rekapitulasi data pengamatan Stek Batang pada perlakuan ZPT 1500

ppm

Nomor

ulangan

Panjang akar (Cm)

Jumlah akar

(n)

Berat basah pucuk

(gr)

Berat basah akar

(gr)

Berat kering pucuk

(gr)

Berat kering akar

(gr)

1-1 0 0 0 0 0 0

1-2 0 0 0 0 0 0

1-3 0 0 0 0 0 0

1-4 0 0 0 0 0 0

1-5 0 0 0 0 0 0

1-6 0 0 0 0 0 0

1-7 0 0 0 0 0 0

1-8 0 0 0 0 0 0

1-9 0 0 0 0 0 0

1-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 0 0 0 0 0 0

2-1 0 0 0 0 0 0

2-2 0 0 0 0 0 0

2-3 0 0 0 0 0 0

2-4 0 0 0 0 0 0

2-5 0 0 0 0 0 0

2-6 0 0 0 0 0 0

2-7 0 0 0 0 0 0

2-8 0 0 0 0 0 0

2-9 0 0 0 0 0 0

2-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 0 0 0 0 0 0

3-1 0 0 0 0 0 0

3-2 0 0 0 0 0 0

3-3 0 0 0 0 0 0

3-4 0 0 0 0 0 0

3-5 0 0 0 0 0 0

3-6 0 0 0 0 0 0

3-7 0 0 0 0 0 0

3-8 0 0 0 0 0 0

3-9 0 0 0 0 0 0

3-10 0 0 0 0 0 0

Total 0 0 0 0 0 0